<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038</id><updated>2012-01-19T01:06:19.743-08:00</updated><category term='asianotik'/><category term='puyer'/><category term='dokter fisika'/><category term='audit medik'/><category term='atul gawande'/><category term='andrea hirata'/><category term='batuk'/><category term='better'/><category term='medical drama'/><category term='polifarmasi'/><category term='nyeri pada anak'/><category term='sistem rujukan'/><category term='kanker anak'/><category term='imunisasi vaksinasi halal'/><category term='campak'/><category term='time travel'/><category term='PJB'/><category term='obesitas'/><category term='pwqpizj'/><category term='iryu'/><category term='ppds anak'/><category term='hiv/aids anak'/><category term='specialistic mindset'/><category term='ASD'/><category term='muhammad yunus grameen bank'/><title type='text'>A Doctor's Journal</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>69</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-1518129774289496168</id><published>2010-07-19T00:10:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T00:14:22.596-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='obesitas'/><title type='text'>Obesitas Mengintai Anakku...</title><content type='html'>Tulisan lain juga yang pernah dimuat di Femina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.femina-online.com/issue/issue_detail.asp?id=617&amp;amp;cid=2&amp;amp;views=27" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this)," rel="nofollow" target="_blank"&gt;&lt;span&gt;http://www.femina-online.c&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;om/issue/issue_detail.asp?&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;id=617&amp;amp;cid=2&amp;amp;views=27&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor nutrisi menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan anak di Indonesia. Di satu sisi, banyak anak menderita kekurangan nutrisi, di sisi lain, banyak pula anak yang kelebihan kalori atau obesitas. Keduanya sama-sama mengalami kondisi tidak sehat. Dari penelitian yang dilakukan Masyarakat Pediatri Indonesia pada anak-anak sekolah dasar di 10 kota besar di Indonesia 2002-2005, angka obesitas rata-rata tergolong tinggi, 10%-12,2%. Penelitian serupa yang dilakukan pada anak-anak sekolah dasar di Jakarta pada 2006, malah menunjukkan angka mengejutkan, 9,8% hingga 37%. Masalah obesitas ini tampaknya tidak hanya terjadi di Indonesia. Badan Kesehatan Dunia, WHO, bahkan sudah menetapkan obesitas sebagai epidemik global yang harus segera diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, masih ada pola pikir yang keliru dari para orang tua. Anak yang gendut, montok, dan berpipi chubby masih menjadi kebanggaan sebagian besar orang tua. Padahal, menurut para ahli kesehatan dunia, anak yang obesitas terancam sederet penyakit berat di masa mereka dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTOR GENETIS ATAU POLA MAKAN?&lt;br /&gt;Melia (32) cemas bukan main. Anaknya, Jerry (8), tak bisa bergaul dengan teman sebayanya. Penyebabnya, Jerry kerap menjadi sasaran ledekan temannya karena bentuk tubuhnya. Beratnya mencapai 60 kilogram, dengan tinggi badan 148 cm. “Waktu Jerry berusia 2 tahun, posturnya masih bagus. Sejak ia dititipkan di rumah neneknya, berat badannya melambung. Ia terlalu dimanjakan neneknya, makan apa saja dibolehkan. Dari kecil, porsi makan Jerry dibiasakan sebesar orang dewasa,” kenang Melia, yang pernah ‘menitipkan’ anaknya selama 2 tahun kepada orang tua untuk kuliah ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus Jerry termasuk salah satu kasus obesitas pada anak. Menurut ilmu kedokteran, anak yang mengalami obesitas mempunyai kemungkinan 78% obesitas berlanjut pada saat remaja, dan 25%-50% pada saat dewasa. Seperti yang dikatakan ahli gizi, dr. Carmelita Ridwan, SpGK dari Klinik Primavita, Jakarta, “Orang dewasa yang obesitas mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kelebihan berat badan. Antara lain, diabetes melitus, hipertensi, hipokolesterol, stroke, penyakit jantung koroner, kanker usus besar dan payudara, serta risiko kematian dini bila mengalami kegemukan saat remaja dibandingkan dengan orang dewasa yang mengalami obesitas saat dewasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Arifianto dari Yayasan Orang Tua Peduli, membenarkan hal tersebut. Ia menambahkan, penyakit-penyakit lain karena kondisi obesitas, antara lain saluran napas, asma, sleep apnea (gangguan tidur), dan gangguan ortopedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa, sih, seorang anak dikatakan obesitas? Cara paling mudah, yakni dengan melihat grafik berat badan yang ada di kartu kesehatan anak. Jika berat anak berdasarkan usia masih berada dalam garis hijau, berarti masih proporsional. Jika sudah di atas garis hijau, berarti menunjukkan kelebihan berat badan yang patut diwaspadai. Definisi WHO menghitung obesitas berdasarkan body mass index (BMI). Rumusnya, berat badan dibagi tinggi badan kuadrat (kg/m²). Disebut obesitas bila dilihat dalam tabel Z score, berdasarkan usia, didapat hasil di atas 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, sejak kapan seorang anak bisa mengalami obesitas? Dokter Arifianto mengatakan, “Bayi baru lahir yang beratnya di atas 4 kilogram bisa dibilang overweight. Jika dirunut, pasti ada yang salah dengan ibunya. Bayi overweight biasanya karena ibunya menderita diebetes melitus tipe 2. Namun, sekarang ada pergeseran tren. Banyak bayi lahir dengan berat di atas 4 kilogram, tapi ibunya tidak terbukti diabetes. Belum ada penelitian lebih lanjut tentang fenomena ini,” ungkapnya. Lebih lanjut, dr. Arifianto menguraikan, anak yang obesitas dari usia 6 bulan, diprediksi akan obesitas pada usia 3 tahun. Anak yang obesitas pada usia 3 tahun, kemungkinan besar akan obesitas di usia remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik dr. Arifianto maupun dr. Carmelita mengatakan, faktor genetis memegang peranan dalam menyebabkan obesitas pada anak. Akan tetapi, faktor lingkungan amat besar pengaruhnya. “Kalau faktor lingkungan tidak mencetus, harusnya, meskipun ada faktor genetis, tidak sampai overweight,” ucap dr. Arifianto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter Carmelita menambahkan, persisnya berapa persen faktor genetis ini berpengaruh, belum diketahui. Tetapi, ada yang menyebut, angkanya kurang lebih 30%. Sisanya, karena faktor lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lingkungan yang dimaksud, kata dr. Carmelita, antara lain pola makan yang mengonsumsi makanan tinggi kalori, misal junk food (burger, french fries, nugget, sosis, dan lainnya), minuman kotak/botol, minuman cepat saji dari sachet, camilan kue dan biskuit manis, serta pola makan yang kurang mengonsumsi buah dan sayur. “Kalau anak makan di restoran fast food, sudah pasti minyaknya banyak. Belum lagi minumnya soda yang bergula tinggi. Terus sayurnya mana? Padahal, sayur dan buah dalam piramida makanan adalah tingkat yang paling besar kedua setelah golongan serealia,” kata dr. Carmelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dr. Carmelita menyarankan, konsumsi sayuran harus selalu ada di menu makan. Begitu juga buah. “Buah yang baik adalah buah potong atau yang di-blender. Bukan hanya sari buah yang berasal dari konsentrat dan tambahan gula,” tutur dr. Carmelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WASADA SEJAK ANAK BERUSIA ENAM BULAN&lt;br /&gt;Bagaimana cara mengantisipasi agar anak terhindar dari obesitas? Jawabannya lagi-lagi soal pola makan. Kebiasaan keluarga, pengetahuan serta kepedulian orang tua sangat berperan. “Orang tua harus membiasakan anak makan sayuran dan buah. Untuk itu, orang tua harus memberi contoh. Sebab, anak meniru kebiasaan orang tuanya,” saran dr. Carmelita. Selain itu, orang tua juga sebaiknya membatasi stok jajanan yang terlalu manis, serta snack yang mengandung MSG. Sebagai gantinya, lebih baik menyediakan makanan buatan sendiri, seperti cocktail buah, puding, atau bubur kacang hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah kebiasaan pola makan ini, idealnya, menurut pendapat dr. Arifianto, sudah harus dibentuk sejak anak mulai dikenalkan makanan pendamping ASI (MPASI) di usia 6 bulan. Di usia ini, aktivitas makan bagi anak adalah proses belajar, mengenal berbagai bentuk, tekstur, dan rasa makanan, tanpa perlu sedikit pun memberi tambahan gula atau garam. “Anak belum perlu diberi makan banyak atau nasi 3 kali sehari. Sumber nutrisi utama anak masih dari ASI,” jelas dr. Arifianto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan memanjakan dan membebaskan anak memilih makanan dan jajanan yang disukai, bukanlah cara bijak. Bukan anak yang menentukan apa yang dimakan, melainkan orang tua. Sayangnya, umumnya para orang tua punya ketakutan berlebihan, jika anak rewel karena permintaan yang tak dituruti atau tak doyan makan sama sekali. Ditambah lagi, adanya dorongan ketidak puasan melihat anak tetangga yang lebih gemuk. Menurut dr. Arifianto, ada fenomena orang tua lebih senang pada anak yang gemuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal ketidaktegaan ini diakui oleh Rika Martini, ibu dari Azka (4). Menurut Rika, Azka sering minta makan lebih banyak dari yang diberikan. “Kalau Azka minta nambah makan, masa saya larang, kasihan, ‘kan? Biasanya, malah baby sitter-nya yang tega melarang Azka nambah makan,” ujar Rika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi kebiasaan Puti Dewi Oka, ibu dari Redfan (2). Sebagai wirausaha yang punya bisnis sendiri di rumah, kepraktisan terkadang menjadi nomor satu. “Nutrisi memang penting, tetapi menyediakan makanan bernutrisi sehari-hari sangatlah sulit. Apalagi saat di rumah tak ada pembantu yang memasak. Menu anak sama dengan menu untuk orang tuanya, hanya dibuat tidak pedas saja. Kadang-kadang anak menolak sayur. Jadi, kalau dia maunya nasi putih saja, ya, dituruti, yang penting Redfan mau makan,” ujar Puti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisilia Pujiastuti (32) juga pernah menghadapi masalah anak yang tidak mau makan. “Usia 14-16 bulan, Damai pernah susah makan. Saya sampai pusing memilihkan makanan untuknya. Saya sadari, kalau dalam fase itu kita salah mengambil keputusan, mungkin bisa berakibat fatal. Seperti cerita teman saya, ketika dalam fase tersebut anaknya tidak mau makan, dia memberikan fast food. Akhirnya, anak jadi ketagihan sampai sekarang,” ucap Sisil. Pada saat itu, Sisil membelikan Damai sebuah buku dari karakter di serial Sesame Street, Elmo, yang bertema healthy habit, tentang makanan sehat. Perlahan-lahan, Damai pun mau makan sayuran lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENGARUH TELEVISI DAN VIDEO GAME&lt;br /&gt;Obesitas timbul karena asupan energi dari makanan dan minuman melebihi energi yang dikeluarkan untuk beraktivitas. Dalam hal ini, berlaku hukum termodinamika. “Kalori yang masuk harus sama dengan kalori yang keluar. Obesitas itu akibat dari ketidakseimbangan energi,” kata dr. Arifianto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kebiasaan dan pola makan itu, ada faktor penting yang menyebabkan obesitas, yakni kurangnya aktivitas fisik yang membakar kalori. Penelitian di negara maju mendapatkan hubungan antara aktivitas fisik yang rendah dengan obesitas. Keberadaan televisi dan video game yang menjadi ‘berhala’ baru anak zaman sekarang, banyak dituding sebagai faktor pembawa obesitas. Penelitian yang pernah dilakukan oleh G.D. Kopelman terhadap anak Amerika pada tahun 2000 menunjukkan, mereka yang menonton televisi 5 jam per hari mempunyai risiko obesitas sebesar 5,3 kali lebih besar dibanding mereka yang nonton televisi 2 jam per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungannya? “Anak jadi malas bergerak karena keasyikan nonton teve. Apalagi, kebanyakan iklan di teve isinya menyuruh anak-anak jajan yang tak sehat,” kata dr. Arifianto. Idealnya, menonton teve cukup 2 jam saja sehari. Belum lagi, jika anak sudah mulai kecanduan video game dan internet, aktivitas fisiknya makin jauh berkurang. Untuk anak yang obesitas bahkan disarankan menonton teve kurang dari sejam per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengurangi kebiasaan menonton teve ini memang sangat sulit. Hal ini diakui Rika. Selain di sekolah, Azka jarang main di luar rumah. “Azka lebih suka main di kamar bersama mainannya atau nonton VCD. Malah, kalau sedang susah makan, baby sitter biasanya sengaja memutarkan VCD agar Azka mau makan,” jelasnya.&lt;br /&gt;Masalah yang hampir sama juga dihadapi Melia. Meski sudah mengurangi jam menonton teve, setiap akhir pekan, Jerry lebih senang menghabiskan waktu untuk main game ketimbang diajak main ke tempat wisata. “Hari Minggu, Jerry bisa 5 jam main PS atau game komputer,” ujar Melia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan saat ini yang tidak memungkinkan anak-anak bermain di luar rumah, harus diakui, juga menjadi salah satu pemicu aktivitas anak lari ke televisi. Padahal, anak butuh ruang gerak untuk bermain dengan teman sepermainannya. Hal ini bisa disiasati, misalnya dengan mengikutsertakan anak dalam klub olahraga, atau les menari. Cara lain, “Joging di pagi atau sore hari, mengajak anak membantu beres-beres rumah, juga bisa menjadi alternatif murah dan menyehatkan,” kata dr. Carmelita, memberi saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan lain yang membuat penurunan aktivitas anak adalah kenyamanan sarana transportasi. Coba diingat, berapa jam dalam sehari anak Anda berjalan kaki? “Orang tua cenderung mengantar anak sekolah dengan mobil, turun langsung di depan gerbang sekolah. Padahal, ada baiknya membiarkan anak jalan kaki setidaknya 15 menit dari jarak mobil ke sekolah,” kata dr. Arifianto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anak-anak yang sudah telanjur mengalami obesitas? “ Hal yang perlu dilakukan adalah konseling gizi. Hitung berat badan ideal dan kebutuhan kalorinya. Perlu dijaga agar tidak mengonsumsi makanan yang mengandung kalori tinggi, memperbanyak sayur dan buah. Selain itu, aktivitas fisik juga harus diperbanyak. Usahakan agar berat badan anak tidak bertambah, dipertahankan hingga sesuai dengan usia yang seharusnya,” dr. Arifianto menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, kecuali ada hal-hal khusus, misalnya anak yang obesitas disertai penyakit tertentu. “Kalaupun harus turun berat badan, penurunan tidak boleh drastis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ficky Yusrini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari femina 19 / 2010]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-1518129774289496168?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/1518129774289496168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=1518129774289496168' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/1518129774289496168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/1518129774289496168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2010/07/obesitas-mengintai-anakku.html' title='Obesitas Mengintai Anakku...'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-8500386420397474748</id><published>2010-07-19T00:09:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T00:10:32.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='batuk'/><title type='text'>Batuk Mengamuk</title><content type='html'>Salah satu tulisan yang mengambil narasumber saya di Femina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.femina-online.com/issue/issue_detail.asp?id=646&amp;amp;cid=2&amp;amp;views=27" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this)," rel="nofollow" target="_blank"&gt;&lt;span&gt;http://www.femina-online.c&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;om/issue/issue_detail.asp?&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;id=646&amp;amp;cid=2&amp;amp;views=27&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuk seperti polusi, ada di mana-mana. Di negara empat musim misalnya, batuk terkait dengan musim tertentu. Pada musim semi, batuk terjadi akibat tebaran serbuk bunga. Pada musim dingin, batuk juga terjadi karena banyaknya kasus influenza. Di negara tropis seperti Indonesia, batuk bisa terjadi sepanjang tahun. Cermati batuk yang Anda alami, supaya penanganannya tepat dan tak berlebihan, seperti yang diungkapkan dr. Arifianto dari RSCM dan Yayasan Orang Tua Peduli berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERSEDAK, ALERGI ATAU PENYAKIT?&lt;br /&gt;Batuk, sama halnya seperti lendir yang keluar dari hidung, bersin, air mata yang mengalir ketika mata terkena debu, bahkan kotoran yang keluar dari telinga, merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menghalangi dan mengeluarkan penyebab penyakit (virus, bakteri, kuman), serta benda asing lainnya (debu, kotoran, makanan). Ketika benda asing tersebut masuk, saraf akan memberi sinyal pada otot tubuh untuk mengeluarkan ‘benda’ tersebut. Maka, terjadilah batuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau Anda mengalami batuk, jangan dulu panik kalau-kalau Anda kena flu, atau lainnya. Batuk itu ternyata alami, kok. Batuk tanpa disertai demam atau sesak napas biasanya terjadi karena tersedak, terkena asap rokok, atau alergi. Batuk timbul akibat terangsangnya reseptor batuk yang tersebar di banyak lokasi tubuh, mulai dari saluran napas (hidung, trakea, bronkus), sampai di luar lokasi saluran napas (lambung dan telinga). Batuk pada luar lokasi saluran napas, misalnya, bisa terjadi ketika seseorang sedang membersihkan telinga dengan kapas telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di sisi lain, batuk juga menjadi tanda atau gejala dari suatu penyakit tertentu. Infeksi virus seperti influenza misalnya, juga memiliki gejala batuk. Bahkan, infeksi bakteri tuberkulosis, infeksi saluran napas seperti pneumonia, juga bergejala batuk. Batuk juga bisa berarti adanya keganasan/kanker yang mendorong reseptor batuk di batang paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda perlu curiga bahwa batuk yang Anda alami merupakan gejala dari penyakit ketika batuk tersebut disertai tanda lain, seperti sesak napas atau demam. Sesak napas (dyspnea) dapat timbul oleh beberapa sebab, seperti asma, penggumpalan darah pada paru-paru, atau pneumonia. Sementara demam, terjadi karena zat-zat yang merangsang hipotalamus (pusat pengendalian suhu tubuh dan sekresi hormon) menghasilkan pirogen (zat penyebab demam). Bila terjadi infeksi atau zat asing masuk ke dalam tubuh, maka sistem pertahanan tubuh akan melepaskan pirogen. Pelepasan pirogen ini memicu produksi prostaglandin E2 (molekul lemak yang berfungsi sebagai hormon, berperan dalam pengaturan detak jantung), yang kemudian meningkatkan temperatur. Pada penyakit tuberkulosis misalnya, Anda akan mengalami demam di malam hari dan batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batuk karena alergi merujuk pada reaksi hipersensitivitas yang dimunculkan oleh tubuh. Hipersensitivitas pada setiap orang ini berbeda-beda kadarnya. Sebagai contoh, jika A terpapar 100 debu, maka akan muncul reaksi alergi seperti batuk. Sementara pada B, baru terpapar 10 debu saja sudah langsung batuk-batuk, ditambah bersin-bersin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda justru harus khawatir ketika ada benda asing masuk ke dalam tubuh dan tubuh tidak memberikan reaksi. Itu tandanya sistem pertahanan tubuh Anda gagal merespons atau menghalau ‘musuh’ ini, dr. Arifianto menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OBAT BATUK, KAPAN PERLU?&lt;br /&gt;Tidak ada orang yang betah mengalami batuk-batuk selama berhari-hari. Leher rasanya tidak nyaman, belum lagi orang-orang di sekitar, rata-rata menjauh karena tidak ingin udara di sekitar mereka tercemar. Tak heran, kalau leher gatal, rasanya ingin, deh, cepet-cepet minum obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kini, setelah Anda tahu bahwa batuk tak selamanya tanda suatu penyakit, Anda perlu mengubah cara menanganinya. Dalam kasus alergi, yang perlu dilakukan adalah mengenali pencetusnya dan menghindari supaya tidak timbul gejala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau alergi karena debu atau tungau, ya, Anda harus rajin membersihkan rumah. Pada batuk yang penyebabnya adalah infeksi bakteri seperti tuberkulosis dan pneumonia, maka obatnya adalah antibiotika. Nah, pada influenza yang penyebabnya adalah infeksi virus, batuk ini tidak perlu diobati, karena bisa sembuh sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan obat batuk yang sangat beragam jenisnya, dan mudah ditemui di apotek maupun toko obat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat batuk masuk dalam kategori over the counter drug, atau dengan kata lain, obat bebas. Menurut dr. Arifianto, produsen obat memang menciptakan label obat batuk untuk berbagai jenis batuk, seperti batuk berdahak, batuk kering, dan batuk alergi. “Padahal, obat ini sama saja, tujuannya adalah untuk menghentikan batuk, kata dr. Arifianto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat anti batuk yang mengandung zat antitusif ditujukan untuk menekan refleks batuk, sehingga setelah minum obat, batuk diharapkan berhenti. Padahal, batuk yang terjadi adalah karena tubuh berusaha mengeluarkan lendir serta bakteri/virus/debu yang masuk. “Dengan adanya zat antitusif, pengeluaran ‘benda berbahaya’ ini akhirnya ikut dihambat. Akibatnya, justru virus/bakteri tersebut masuk ke saluran napas, napas menjadi sesak dan pemulihan penyakit jadi lebih lama, dr. Arifianto menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumsi obat penekan refleks batuk disarankan pada keadaan-keadaan tertentu, misalnya batuk-batuk yang terkait penyakit kanker. Seperti batuk lainnya, batuk jenis ini juga terjadi karena refleks. Obat batuk yang mengandung antitusif akan berperan menekan reseptor batuk. Sehingga, penderita kanker tidak perlu terbatuk-batuk, dan diharapkan akan merasa lebih ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain antitusif, Anda mengenal jenis obat batuk mukolitik dan ekspektoran, keduanya merupakan pengencer dahak. Dalam beberapa penelitian yang ditujukan pada anak-anak, ternyata tidak ada bedanya antara anak yang mendapatkan obat batuk ekspektoran dan yang tidak. Yang terjadi justru efek samping obat, serta risiko polifarmasi (mengonsumsi beberapa jenis obat yang sebenarnya tidak perlu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, yang perlu dilakukan ketika Anda mengalami batuk adalah mengatasi penyebabnya, bukan mengatasi batuknya. Bayangkan ketika Anda mengalami batuk, pilek, panas, dan diare, lalu Anda dengan bebasnya mengonsumsi berbagai obat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yaitu obat batuk, obat pilek, obat penurun panas dan obat antidiare. Padahal, penyebabnya ‘hanyalah’ infeksi virus yang akan sembuh sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika batuk disertai demam, yang diizinkan adalah memberi antipiretik (penurun panas) ketika suhu telah mencapai di atas 38,5º C. Setelah itu, minum air putih banyak-banyak untuk mengencerkan dahak. Bila batuk belum juga mereda atau menimbulkan sesak napas dan mengi (khas asma), hubungi dokter untuk mengetahui penyebabnya secara pasti. Jika telah diketahui penyebabnya, dokter akan memberikan antibiotik untuk penyakit tuberkulosis misalnya, atau inhalasi pada asma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Prilia Herawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dari femina 26 / 2010]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-8500386420397474748?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/8500386420397474748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=8500386420397474748' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/8500386420397474748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/8500386420397474748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2010/07/batuk-mengamuk.html' title='Batuk Mengamuk'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-2781836708223613676</id><published>2010-02-05T02:01:00.000-08:00</published><updated>2010-02-05T03:00:03.394-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PJB'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ASD'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asianotik'/><title type='text'>"Flek Paru" yang ternyata Sakit Jantung</title><content type='html'>Bingung membaca judul di atas? Anda mungkin akan berpikir topik salah diagnosis yang akan saya ceritakan. Tidak sepenuhnya salah, namun tidak 100 persen tepat.&lt;br /&gt;Saya akan memulai cerita dari beberapa kasus yang saya temui di poliklinik jantung anak dalam beberapa minggu terakhir.&lt;br /&gt;Beberapa penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak memang tidak terdiagnosis sejak lahir. Sayangnya tidak semua orangtua memahami hal ini, sehingga tidak jarang beberapa kasus PJB non sianotik (tidak menimbuhkan keluhan "biru" pada anak) baru disampaikan dokter pada orangtua, setelah bertahun-tahun mereka melakukan kunjungan pemeriksaan kesehatan rutin ke dokter, dan tidak pernah mendapatkan pernyataan "anak Anda tampaknya mengalami PJB", berdasarkan bunyi jantung yang didengarkan dengan sangat cermat melalui alat sederhana bernama stetoskop itu.&lt;br /&gt;Secara umum PJB dapat dibagi menjadi golongan sianotik (muncul keluhan biru mulai dari sekitar mulut, sampai telapak tangan dan kaki, seringkali disertai sesak napas dan penampilan anak yang menunjukkan kondisi gawat darurat) dan non sianotik. Cukup mudah untuk mencurigai PJB pada jenis sianotik, namun bagaimana dengan golongan non sianotik? Tiga jenis kelainan PJB non sianotik terbanyak adalah duktus arteriosus persisten (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;browsing&lt;/span&gt; saja: PDA/&lt;span style="font-style: italic;"&gt;persistent ductus arteriosus&lt;/span&gt;), defek septum ventrikel (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;keywords&lt;/span&gt;: VSD/&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ventricular septal defect&lt;/span&gt;), dan defek septum atrial (cari di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;search engine&lt;/span&gt;: ASD/&lt;span style="font-style: italic;"&gt;atrial septal defect&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;Pada bayi baru lahir sampai dengan usia sekitar delapan minggu, tahanan pembuluh darah yang menuju paru (dari jantung) masih cukup tinggi, sehingga adanya "kebocoran" (sebenarnya istilah ini kurang tepat, karena tiga kelainan PDA-VSD-ASD terjadi bukan akibat bocor, tetapi adanya celah yang seharusnya (sudah) menutup saat bayi lahir) yang menyebabkan adanya aliran/pirau dari bagian kiri ke kanan jantung, tidak akan menyebabkan bunyi "bising", akibat tidak adanya turbulensi. Ini prinsip fisikanya: (1) bising jantung terdengar hanya bila terjadi turbulensi; (2) pirau dari kiri ke kanan yang diimbangi oleh tahanan pembuluh paru yang masih tinggi tidak akan menyebabkan turbulensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paham?? Well... singkat cerita, tahanan pembuluh darah yang menuju paru baru turun pada usia sekitar 8 sampai 12 minggu, sehingga timbul perbedaan tekanan yang cukup bermakna untuk menimbulkan turbulensi dan bermanifestasi sebagai bising jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud saya adalah: bayi baru lahir yang tidak memiliki keluhan sama sekali, tanpa kelainan bunyi jantung, dan dokter segera menyatakan "bayi Anda sehat, tidak ada kelainan, dan semua organnya normal", belum tentu tidak memiliki kelainan jantung bawaan, karena jenis PJB non sianotik bisa jadi paling cepat terdeteksi pada usia 12 minggu, karena bising jantung (murmur) baru dapat didengarkan dengan cermat pada saat ini, tergantung seberapa kecil celahnya. Lho, kok bukan seberapa besar? Semakin besar celah, bisa jadi semakin sulit bising terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;One point I'd like to emphasize is&lt;/span&gt;: dokter harus melakukan pemeriksaan fisik jantung dengan cermat, yang kadang-kadang cukup sulit (anak menangis, tidak bisa diam, telinga dokternya belum dibersihkan, hehe), untuk dapat menemukan PJB ini. Satu kasus yang saya temukan beberapa hari silam adalah: usia 15 tahun yang baru diketahui mengalami ASD sekundum, karena keluhan yang tidak berhubungan dengan PJB sebenarnya. Anak ini memiliki perawakan normal (artinya gizinya baik), IQ &lt;span style="font-style: italic;"&gt;superb&lt;/span&gt; (dia juara olimpiade sains), dan tidak pernah diketahui mengalami PJB sebelumnya. Kebetulan saja dokter yang memeriksanya terakhir kali adalah ahli jantung yang mendengarkan bising yang haammpiirr tidak terdengar, dan segera dilakukan ekokardiografi pada hari itu juga, dan... hasilnya ASD sebesar beberapa belas milimeter, ia sebaiknya segera mencari waktu untuk menutup celah di antara kedua serambi jantungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang ingin saya sampaikan adalah: pada pemeriksaan foto rontgen dada ketiga jenis PJB asianotik/non sianotik tadi, dapat dijumpai gambaran pembuluh darah paru yang meningkat, khususnya pada jenis ASD. Hampir semua kasus ASD yang kami temui pernah mendapatkan pengobatan anti tuberkulosis (OAT), karena didiagnosis dokternya sebagai "flek paru" dan diobati sebagai tuberkulosis (TB) tentunya. Padahal si anak sama sekali tidak pernah terinfeksi kuman TB. Ini sebuah pelajaran lagi bagi dokter untuk lebih cermat dalam mendiagnosis TB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, itulah dua hal yang ingin saya sampaikan. Mudah-mudahan tidak bingung memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ditulis di tengah-tengah keributan kamar PPDS dan upaya untuk berkonsentrasi penuh dengan otak mengantuk&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-2781836708223613676?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/2781836708223613676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=2781836708223613676' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2781836708223613676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2781836708223613676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2010/02/flek-paru-yang-ternyata-sakit-jantung.html' title='&quot;Flek Paru&quot; yang ternyata Sakit Jantung'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-2092386631858857562</id><published>2009-10-23T02:03:00.000-07:00</published><updated>2009-10-23T02:04:17.290-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sistem rujukan'/><title type='text'>Carut-marutnya sistem rujukan kita (2)</title><content type='html'>Kembali lagi... Hampir 9 jam berlalu meninggalkan IGD OBGYN dengan sepasang bayi gemelli 1000 dan 1150 gram yang masih terengah-engah menghirup oksigen dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;continuous positive airway pressure&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;NeoPuff single nasal prong&lt;/span&gt; seadanya--karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;neonatal intensive care unit (NICU) &lt;/span&gt;penuh--dan beberapa bayi kurang bugar lainnya. Heran memang, semua persalinan kurang bulan dirujuk kemari. Padahal RSUD dan RS swasta dengan fasilitas neonatologi tersedia di banyak titik ibukota. Angka kelahiran bayi prematur menjadi tinggi di rumah sakit ini. Inilah yang akan kubahas sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain datang dari laporan jaga pagi ini. Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang, yang dirujuk dari sebuah RSUD besar di Jakarta, dengan keterangan diare akut dehidrasi berat. Penilaian dokter jaga saat pasien tiba di IGD memang dehidrasi ringan sedang. Lalu, sekalipun pasien datang ke RS pertama dengan dehidrasi berat, apakah mereka tidak dapat menanganinya? Tidak ada fasilitas? Hmmm, RSUD ini adalah layanan kesehatan sekunder, bukan primer seperti Puskesmas. Seharusnya tenaga medis dan paramedis yang ada bisa menanganinya dulu. Nilai status dehidrasi, pasang infus, resusitasi cairan, dan lakukan pemantauan. Tidak semudah membalikkan telapak tangan memang, tetapi ini standar prosedur standar di mana-mana. Atau mungkin ada alasan lain sehingga harus merujuk ke layanan tersier di tempatku bekerja? Tenaga kesehatan yang bertugas malam itu sedang kehilangan beberapa orang karena alpa? Keluarga pasien tidak mempercayai kompetensi penanganan kedaruratan di RS tersebut? Pasiennya tidak membawa uang sepeser pun plus belum punya jaminan kesehatan semacam SKTM/GAKIN/JAMKESMAS? Atau... rujuk saja ke eR-eS-Ce-eM, pasti ditangani. Ya, jika Anda beruntung tidak mendapati kami dua dokter jaga menghadapi belasan pasien dengan ancaman gagal napas tiga di antaranya. Anda datang, dan temui kami melakukan intubasi dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bagging&lt;/span&gt; dengan ekspresi tertuju penuh pada manusia sekarat di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem rujukan menjadi tidak berjalan baik. Pasien yang seharusnya dapat ditangani di layanan kesehatan sekunder, harus dioper ke tingkat di atasnya yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;overload&lt;/span&gt;. Itulah juga yang mungkin terjadi pada bayi-bayi seribuan gram (kurang-lebih) yang harus merasakan pompaan oksigen dari perasan tanganku. Jika saja antenatal care berjalan adekuat, ibu-ibu miskin tidak akan mengalami infeksi dalam kehamilan, tekanan darah tidak terkontrol, dan defisiensi asupan nutrisi yang melahirkan bayi-bayi bertingkat morbiditas tinggi, sekalipun berhasil dipertahankan berminggu-minggu di NICU. Semua orang berpikir, pasti ada tempat di RS ini. Semua pun melempar kemari. Dan... hadapilah kenyataan, kami tidak bisa optimal mempertahankan kelangsungan hidup bayi kecil Anda, karena semua tempat terisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak PR di bidang layanan kesehatan bangsa ini. Harus selalu ada orang-orang yang berusaha memperbaikinya. Mereka yang memiliki kompetensi tentunya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-2092386631858857562?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/2092386631858857562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=2092386631858857562' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2092386631858857562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2092386631858857562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2009/10/carut-marutnya-sistem-rujukan-kita-2.html' title='Carut-marutnya sistem rujukan kita (2)'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-2907153032441163023</id><published>2009-10-22T05:48:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T06:14:12.221-07:00</updated><title type='text'>Carut-marutnya sistem rujukan kita</title><content type='html'>Yah, Menkes baru telah dilantik. Tapi saya tidak ingin membahas masalah ini. I don't know her already. Laporan jaga pagi dua hari terakhir, dengan moderator sang bintang iklan imunisasi (Dr STP) Depkes-IDAI, menunjukkan keprihatinannya mengenai buruknya model rujukan kesehatan di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak laki-laki, enam tahun, mengalami demam sejak dua minggu silam, pertama kali datang ke sebuah klinik, menemui dokter praktik, dan disimpulkanlah diagnosisnya: "sakit tipes". Rawatlah barang sehari-dua, pasang infus, suntik antibiotika, demam mulai reda, si anak pun pulang ke rumah. Tak sampai 24 jam berselang, demam kembali melanda. Kini saatnya mencari pertolongan dokter spesialis, demikian terlintas dalam benak sang ibu. Dokter sepesialis melakukan eksplorasi lebih dalam. Ini bukan tipes, begitu jelas dokter melihat hitungan sel darah putih yang mendekati 50.000. Ini kanker sel darah putih. Harus dirawat. Segera rujuk ke eR-eS-Ce-eM. Simpulan dokter spesialis yang begitu blak-blakan membuat orangtua takut. Apa lagi keluhanmu, Nak? Pandanganku kabur. Telingaku sakit. Si anak dibawa ke dokter spesialis mata. Katanya ada kelainan saraf mata akibat sel kanker. Keesokannya di ibu membawa ke dokter THT. Telinga anak ini banyak kotorannya. Banyak sekali masalah anakku ini. Ibu semakin khawatir. Akhirnya ia membawa anaknya setelah dua minggu lebih demam. Diagnosis di IGD: leukemia akut dengan hiperleukositosis dan sindrom lisis tumor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya satu contoh doctor shopping--atas inisiatif orangtua tentunya--dengan (mungkin) kelalaian menangkap masalah sejak anak pertama kali datang ke dokter, ditambah (mungkin lagi) komunikasi yang kurang informatif, sehingga orangtua terlambat membawa anaknya ke pusat rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak contoh lain seorang pasien berputar-putar membawa anaknya dari satu dokter ke dokter lain, tanpa informasi gamblang mengenai diagnosis penyakit anaknya, tanpa penekanan kapan harus dirujuk ke pusat yang lebih tinggi--jika memang perlu, dan akhirnya tiba di rumah sakit rujukan tempatku bekerja, dengan kondisi berat. Terlambat. Kami hanya mendapatkan tubuh yang telah diacak-acak sebelumnya. Tidak banyak yang bisa kami lakukan, meskipun bekerja dengan fasilitas terlengkap dan pakar ahli terbanyak di seantero negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana solusinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;bersambung, harus segera tiba di IGD untuk menangkap bayi-bayi yang keluar dari rahim ibu-ibu yang dirujuk dari berbagai sudut Jabodetabek&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-2907153032441163023?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/2907153032441163023/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=2907153032441163023' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2907153032441163023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2907153032441163023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2009/10/carut-marutnya-sistem-rujukan-kita.html' title='Carut-marutnya sistem rujukan kita'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-3020842115510867980</id><published>2009-08-18T05:15:00.000-07:00</published><updated>2009-08-18T05:16:45.744-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dokter fisika'/><title type='text'>17 Agustus 2009 + 1</title><content type='html'>Membaca &lt;a href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/08/18/headline/index.html"&gt;Koran Tempo edisi khusus&lt;/a&gt; hari ini sungguh menarik. Isinya menceritakan kisah para ilmuwan muda Indonesia, mayoritas di bidang fisika-kimia-biologi, yang sukses di luar negeri. Menempuh pendidikan di luar, melakukan penelitian di luar, dan mendapatkan penghargaan terutama di luar negeri. Sebagai orang yang pernah bercita-cita menjadi ilmuwan fisika, tiap kali membaca kisah orang-orang ini membuat saya iri pada mereka. Mungkin saja saya bisa menjadi sangat profesional seperti mereka jika saya tetap pada cita-cita awal ini. Suatu kejadian menjelang kelulusan dari SMA-lah yang membuat saya mengalihkan pilihan ke kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga orang yang dimuat profilnya cukup saya kenal. Tidak hanya mendalami sains, mereka semua juga aktivis da'wah. Dua dari mereka bertetangga tidak jauh di komplek seberang tempat tinggal ayah-ibu saya, dan satu orangnya pernah berinteraksi cukup dekat dengan saya, ketika saya berusaha mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan pasca sarjana di luar lewat bantuannya. Namun saya gagal, sehingga saya mendaftar pendidikan spesialisasi di UI, dan alhamdulillah diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup jarang media massa mengangkat profil dokter yang penghargaannya setara dengan para ilmuwan muda yang diangkat dalam koran Tempo ini. Mungkin memang sangat sulit menemukan profil-profil dokter semacam ini. Dokter adalah profesi. Berinteraksi langsung dengan manusia. Orientasinya menukar jasa dengan sejumlah uang. Materi. Mereka bukanlah ahli teori yang berkutat dalam kesunyian di dalam laboratorium, menemukan sebuah piranti kasat mata, yang menjadi dasar penggerak sebuah mesin atau komputer. Dokter adalah biasa-biasa saja. Ribuan dokter tersebar di negeri ini. Sebagian besarnya bertumpuk di kota-kota. Bersaing mendapatkan pasien. Tidak banyak pelajaran menarik yang bisa diambil. Pelajaran yang ada adalah: ketidakpuasan pasien terhadap dokternya, gugatan malpraktik, dokter pelit bicara, meresepkan terlalu banyak obat, merasa dirinya lebih tahu dari pasiennya, dan setumpuk hal kurang simpatik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari yang lalu, seorang kawan menelepon dari pelosok Lampung. Pasiennya di ambang maut. Perutnya buncit kebanyakan cairan, napasnya sesak, suhunya 40 derajat selsius. Ia meminta saran adakah tindakan lain yang dapat ia lakukan, setelah menceritakan kondisi pasien dan tindakan yang sudah ia lakukan. Adakah pemeriksaan analisis gas darah? Tidak ada, rumah sakitnya hanya dapat melakukan pemeriksaan darah tepi saja. Lagipula kalaupun hasil pemeriksaan menunjukkan darah yang asam, ia tidak punya natrium bikarbonat. Percuma saja. Bahkan sungkup oksigen pun tidak ada, hanya kanul nasal yang terpasang di kedua lubang hidung si pasien. Saya jadi malu, terbiasa dengan berbagai pemeriksaan penunjang, membuat saya sulit berpikir, apa lagi saran yang bisa saya berikan. Semua yang ia lakukan sudah maksimal. Obat furosemid sudah disuntikkan. Monitor balans cairan akan ia kerjakan. Baiklah Mbak, demikian kata saya, jelaskan saja pada orangtuanya berapa lama lagi waktu si anak akan bertahan. Tak disangka, keesokan paginya, kakak kelasku ini menelepon, mengabari bahwa si pasien masih bertahan, dan siap ditransportasi ke RSUD yang akan menempuh lima jam perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter-dokter yang ikhlas bekerja seperti ini di pelosok masih banyak. Mereka hampir tak pernah diangkat media. Saya pribadi sangat menghargai mereka. Mereka adalah dokter-dokter sesungguhnya. Sementara saya tinggal di ibukota, menempuh pendidikan lanjutan dengan segala peralatan canggih yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah pahlawan sesungguhnya.&lt;br /&gt;Dan saya juga akan tetap mengagumi semua fisikawan Indonesia dengan karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apin. Siap-siap jaga malam di IGD: teater kehidupan manusia yang amat lemah di hadapan Penciptanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-3020842115510867980?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/3020842115510867980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=3020842115510867980' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/3020842115510867980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/3020842115510867980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2009/08/17-agustus-2009-1.html' title='17 Agustus 2009 + 1'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-4949206985288524542</id><published>2009-06-19T00:27:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T00:57:29.899-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='campak'/><title type='text'>Miskin dan Bodoh</title><content type='html'>Ya, ia orang miskin. Bodoh pula. Datang tengah malam, membawa anak perempuannya yang berumur 2 tahun, dalam keadaan sesak dan kesadaran menurun. Celana anak kecil itu basah oleh air kencing. Ruam kemerahan menyelimuti hampir seluruh tubuhnya. Morbili, batinku. Anak ini terkena campak. Sesak napasnya sangat mungkin akibat pneumonia, salah satu infeksi tersering yang merupakan komplikasi campak. Aku harus menganamnesis lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera setelah kami nilai tanda vitalnya, memberikan oksigen, menuliskan resep dan merencanakan pemeriksaan penunjang, ibunya yang berumur empat puluh tahunan bertanya, "kira-kira anak saya bisa dirawat jalan, tidak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demamnya sudah berlangsung satu mingguan. Ruam muncul dari atas ke bawah dalam tiga hari terakhir. Hari ini ketika si anak tampak semakin lemah, orangtuanya baru membawanya ke Puskesmas yang segera merujuknya ke RS. Mereka tahu anaknya sakit. Anaknya butuh perawatan. Tapi mereka miskin. Mereka takut tidak bisa membiayai pengobatan di RS. Walaupun mereka memiliki KTP DKI, tetapi mereka tidak punya SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). Andaikan Puskesmas tidak merujuk ke RS, si ayah pastinya tidak akan membawa anaknya menemuiku. Ia juga terlalu bodoh untuk mengetahui anaknya dalam ancaman kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari sebelumnya, seorang balita berumur satu tahun juga kuterima dalam keadaan dehidrasi berat. Sudah satu minggu ia mengalami diare. Orangtuanya belum membawa anaknya berobat kemana-mana. Kudapatkan ia tampak lemah dan mengantuk, bernapas cepat, dan tidak dapat kuraba nadi di tangannya. Tidak kutemui ekspresi wajah panik pada sang ibu. Bocah malang ini dibawa ke IGD RS kami karena paginya si  paman datang mengunjungi keponakannya, menemui anak itu dalam keadaan lemah. Kebetulan si paman adalah petugas kebersihan di kamar operasi RS kami. Gemas batinku melihat orangtua ini. Tapi harus kumaklumi. Ia miskin, dan mungkin bodoh juga, untuk mengetahui ancaman kematian anaknya. Kami harus melakukan pungsi intraoseus karena perawat paling mahir pun tidak mendapatkan akses venanya. Alhamdulillah sampai hari ini kondisinya stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kasus anak pertama. Saat ini ia sudah berada di bangsal. Beberapa kali ia terbatuk dan mengeluarkan dua ekor cacing Askariasis seukuran kelingking orang dewasa. Pernahkah Anda membayangkan menemui keadaan ini di Jakarta? Sangat buruk pastinya kebersihan lingkungan rumah anak ini. Berat badan bocah berumur dua tahun ini juga hanya delapan kilogram. Bukan gizi buruk memang. Tapi ia gagal tumbuh. Ditambah perkembangan terlambat. Ia tidak mendapatkan imunisasi campak. Sekarang ia terkena komplikasinya: pneumonia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari berturut-turut setelahnya, saat laporan jaga pagi, selalu ada pasien campak baru yang datang dalam klinis pneumonia. Salah satunya dalam perawatan ventilator di ICU saat ini. Ternyata Jakarta belum bebas campak. Padahal belum tiga tahun berselang, aku turut serta dalam PIN campak yang seharusnya meningkatnya cakupan imunisasi campak di seluruh DKI. Atau ternyata banyak orangtua tidak membawa anaknya ke Posyandu? Ataukah mereka justru menghindari imunisasi, seperti yang dilakukan sebagian orangtua di Indonesia? Entahlah, apa sebenarnya alasan mereka. Tapi yang tampak di depan mataku adalah tiga orang anak dengan nyawa terancam karena tidak diimunisasi campak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-4949206985288524542?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/4949206985288524542/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=4949206985288524542' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/4949206985288524542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/4949206985288524542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2009/06/miskin-dan-bodoh.html' title='Miskin dan Bodoh'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-5762929075203352870</id><published>2008-10-29T20:28:00.000-07:00</published><updated>2008-11-02T21:52:31.700-08:00</updated><title type='text'>Doctor to The Poor (Part one)</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa yang Dokter Bisa Lakukan dalam Menangani Masalah Kemiskinan: Sebuah Pengalaman Pribadi (bagian 1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang membaca posting saya sebelumnya, pasti bisa menebak bahwa tulisan ini terinspirasi dari buku "&lt;a href="http://www.amazon.com/Banker-Poor-Micro-Lending-Against-Poverty/dp/1586481983/ref=sr_1_2?ie=UTF8&amp;amp;s=books&amp;amp;qid=1225432850&amp;amp;sr=1-2"&gt;Banker to The Poor&lt;/a&gt;"-nya Prof. Muhammad Yunus. Anda tidak salah. Buku ini sangat inspiratif bagi saya. Untuk itu, saya ingin berbagi pengalaman saya yang baru menjalani profesi dokter selama empat tahun ini, yang sekiranya relevan dengan ide-ide Muhammad Yunus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat bersyukur dengan pengalaman profesi saya yang sebenarnya masih sangat sedikit ini. Lulus dari fakultas kedokteran empat tahun silam, saya belum memiliki rencana spesifik, akan menjadi &lt;a href="http://arifianto.blogspot.com/2004_10_01_archive.html"&gt;dokter seperti apa saya&lt;/a&gt;. Beberapa jenis pekerjaan telah saya coba: menerima tawaran untuk melamar sebagai dokter di sebuah perusahaan asuransi, menjadi dokter jaga di klinik 24 jam, namun hanya bertahan tidak lebih dari 48 jam, dan selebihnya ditawari kakak-kakak kelas. Pekerjaan yang cukup lama bertahan adalah menjadi dokter pemeriksa di sebuah perusahaan taksi dan dokter jaga di &lt;a href="http://arifianto.blogspot.com/2005/02/lkc-layanan-kesehatan-cuma-cuma-satu.html"&gt;Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC)&lt;/a&gt;, klinik khusus untuk dhu'afa. Dua pekerjaan ini membiasakan saya berinteraksi dengan pasien yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Dua tempat ini juga mengasah kemampuan saya berinteraksi dengan pasien, membuat pola dan teknik komunikasi yang khas dan individual antara dokter-pasien, dan mendapatkan penghasilan tetap tentunya. Cerita-cerita berkesan tentang dua tempat ini ada di arsip blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah lulus, saya juga bertemu kembali dengan &lt;a href="http://www.sehatgroup.web.id/CV_Purnamawati.htm"&gt;guru saya&lt;/a&gt; di fakultas kedokteran. Interaksi dengan beliau mengharuskan saya melatih diri memberikan banyak ceramah kesehatan bagi masyarakat non medis. Tidak sampai satu tahun berselang, saya dan istri menggali pengalaman baru sebagai dokter dan dokter gigi program tidak tetap (PTT) di propinsi Jambi. Hanya enam bulan, cukup singkat memang. Kini, empat tahun pasca lulus dari FK, saya kembali menjalani pendidikan sebagai peserta program pendidikan dokter spesialis anak di almamater S1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar pertama saya lahir dari pengalaman bekerja di LKC. Buat saya, lembaga ini tidak sekedar memberikan dana berobat bagi masyarakat dhu'afa yang butuh pengobatan namun tidak punya uang, tetapi juga berusaha memberdayakan mereka, lepas dari segala kekurangan sistem yang ada. Penjaringan anggota dilakukan dari survei tim LKC langsung ke rumah-rumah mereka yang mengajukan keanggotaan. Segera setelah disetujui, anggota memiliki hak untuk mendapatkan layanan kesehatan secara gratis, sama sekali tidak dipungut biaya, dengan mendatangi LKC. Dari berbagai penjuru Jabodetabek, bahkan beberapa dari luar wilayah ini, termasuk luar Jawa, kaum dhu'afa datang untuk mendapatkan layanan kesehatan umum, gigi, kebidanan dan kandungan, pemeriksaan laboratorium dan radiologi, serta obat langsung dari apotek LKC. Tak dapat dipungkiri, kesannya memang dominan kuratif: kalau sakit ya baru datang untuk berobat. Beberapa yang harus dirujuk ke RS, misalnya harus mendapatkan kemoterapi, dilakukan operasi besar hingga amputasi sekalipun, dan konsultasi ke subspesialis, diantarkan langsung menggunakan ambulans LKC, dan diurusi Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) atau Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS)-nya. Setidaknya LKC membantu mengadvokasi masyarakat untuk mendapatkan SKTM/JAMKESMAS dari pemerintah ini. Untuk menghindari kesan kuratif, LKC juga memiliki banyak program di bidang promotof/preventif. Lembaga ini memiliki banyak desa binaan dan memberikan supervisi bagi pos-pos kesehatan mandiri yang memiliki dana untuk memberdayakan masyarakat setempat di bidang kesehatan, misalnya dalam hal revitalisasi Posyandu, membentuk kader-kader pemberantas tuberkulosis (TB), dan penanganan gizi buruk. Inilah beberapa kegiatan yang saya tahu hingga saya meninggalkan LKC 1,5 tahun silam. Saya bercerita di sini berdasarkan pengalaman pribadi, tidak mewakili lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran berharga yang ingin saya bagi adalah: kekuatan dana zakat-infak-sodaqoh yang dikelola secara amanah dan profesional, ternyata dengan cukup efisien mampu memberikan kontribusi menyehatkan masyarakat miskin secara optimal. Dana tidak sekedar digunakan untuk membiayai pengobatan orang sakit, tapi juga memberdayakan mereka saat sehat, sebelum jatuh sakit. Lembaga-lembaga seperti LKC sebenarnya sudah lahir di banyak tempat saat ini. Namun yang memiliki jam terbang dan diversifikasi program seperti LKC belum banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari sini, ada beberapa hal yang menurut saya bisa dokter lakukan untuk membantu masyarakat miskin di bidang kesehatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memberikan pendidikan kesehatan bagi masyarakat non medis, misalnya penyuluhan kesehatan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Saya dan istri memahami, penghasilan keluarga tidak dapat digantungkan semata dari menjalankan profesi medis ini. Kami bukanlah tipe orang yang "ngoyo", berusaha mendapatkan semaksimal mungkin dari praktik dokter-dokter gigi saja. Orangtua kami telah mengamanahkan anak-anaknya menjadi profesional medis untuk dapat membantu orang lain. Konsekuensinya: berprofesi harus seimbang dunia-akhirat. Tiap pasien harus dilayani dengan baik: tidak hanya diobati penyakitnya, tetapi diberikan pencerdasan agar ketika menghadapi kondisi penyakit serupa, bisa menangani terlebih dahulu sendiri di rumah. Pasien diberitahu kapan harus ke dokter. Kalau memang tidak perlu ke dokter, ya tidak perlu ke dokter. Rugi dong dokternya? Insya Alloh tidak. Kadang saya geli juga dengan istri saya. Ia demikian semangatnya menjelaskan bahwa sikat gigi itu penting, menunjukkan dengan model gigi bagaimana cara menyikat gigi, dan bahwa gigi pasiennya tidak perlu dicabut, tapi bisa dirawat dulu. Tapi si pasien sudah tidak sabar ingin giginya dicabut, dan tampak bosan dengan penyuluhan istri saya. Tidak mudah memang mengubah pola pikir masyarakat yang ingin datang ke dokter, dapat obat, terus sembuh. Kalau dokternya tidak manjur, ya pindah ke dokter lain. Kalau tidak dapat obat, tidak bakalan sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking tertariknya dengan urusan suluh-menyuluh, istri saya pernah merancang program yang ia namakan "Dana Sehat", yaitu warga RT/RW mengumpulkan iuran Rp 3.000 per kepala keluarga per bulan, dan dananya diolah untuk diwujudkan menjadi buletin kesehatan dan pemeriksaan-pemeriksaan preventif kesehatan lainnya dengan harga sangat murah. Niatnya menciptakan masyarakat yang sehat. Puskesmas setempat yang seharusnya banyak menjalankan program preventif-promotif ini tidak banyak berperan. Puskesmas nyatanya lebih tendensius di bidang kuratif: mengobati yang sakit. Namun para petinggi masyarakat di lingkungan rumah kami kurang menanggapinya. Ini tantangan sesungguhnya. Kami hanya single fighter. Perjalanan untuk mewujudkan cita-cita kami masih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi program lain istri saya dengan semangatnya yang tak pernah padam: Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) Mandiri. Yaitu menawarkan ke sekolah-sekolah yang ada satu paket perawatan gigi lengkap dengan biaya wajar, dengan menitikberatkan pada upaya promotif-preventif. Tidak berbeda dengan UKGS yang diadakan Puskesmas. Namun karena terbatasnya cakupan Puskesmas ke sekolah swasta, upaya ini harus dilakukan. Rencana ini timbul dengan pengalaman istri saya menjalankan UKGS bermodalkan poster pemberian di hampir semua SD di kawasan transmigrasi pelosok Kabupaten Muara Jambi saat PTT. Ketika Puskesmas kebanyakan hanya memberikan penyuluhan saja untuk menggugurkan kewajiban dari Dinas Kesehatan Kabupaten, dan dianggap telah menjalankan program, istri saya memberikan bonus bagi seluruh sekolah: pemeriksaan gigi gratis plus pencabutan gigi susu, dan sikat gigi massal. Petugas Puskesmas lain agak sulit mengikuti istri saya yang terlalu rajin ini. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara lain meningkatkan penghasilan keluarga, jika tidak dapat mengandalkan income dari praktik kedokteran? Investasi di bidang ekonomi lainnya. Yang penting halal dan sesuai syari'ah. Lagi-lagi motornya istri saya, yang menggemari investasi sejak mahasiswa. Sampai sekarang ia masih berjualan pulsa elektrik sebagai hobi dan memudahkan kami mengisi ulang pulsa. Ia juga menjalankan usaha makanan franchise bermodal kecil selama setahunan ini. Kami juga sedang menggemari &lt;a href="http://www.therichgame.com/"&gt;Aidil Akbar&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://richgame.blogspot.com/2008/01/saksikan-acara-baru-perfect-number-di.html"&gt;Perfect Number&lt;/a&gt;-nya. Saat ini, semangat yang ada adalah mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya di bidang investasi. Bukankah sembilan dari sepuluh sahabat Rasululluah saw yang dijamin masuk surga adalah pedagang? Mengapa umat Islam dari profesi manapun kemudian tidak berani berdagang? Dengan tidak mengabaikan kode etik profesi tentunya: tidak menjalin kolusi dengan farmasi, tidak membohongi pasien dengan diagnosis tidak jelas (kalau tidak tahu atau tidak yakin, ya bilang saja tidak tahu, tapi berjanji untuk mencarikan jawabannya), dan berani tidak melubangi kantong pasien dengan resep obat yang tidak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menanamkan pemahaman pola penggunaan obat yang rasional, yaitu menghindari praktik polifarmasi (meresepkan lebih dari dua obat, yang sebenarnya tidak perlu) dan penggunaan antibiotika yang tidak rasional&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Polifarmasi berdampak pada kemungkinan interaksi obat yang berpotensi membahayakan tubuh, padahal seringkali dokter tidak memahami interaksi obat-obatan yang diresepkannya. Mereka hanya mengikuti resep turun-temurun dari para pendahulunya: puyer/kapsul campur untuk diare, puyer untuk batu-pilek, kapsul campur untuk demam, dsb. Apoteker lalu tidak meneliti lebih jauh kemungkinan interaksi yang dapat terjadi, dan asisten apoteker lalu meraciknya mengikuti instruksi. Dampak lain tentunya pada biaya obat yang mahal. Bayangkan saja jika resep yang mahal ini diresepkan ke pasien-pasien kurang mampu, karena dokter kurang pede untuk meresepkan seminimal mungkin obat, khawatir obatnya tidak cespleng dan pasiennya tidak lekas sembuh, apalgi kabur ke dokter lain. Biaya pengobatan mahal ini lebih berguna ditabung untuk pendidikan anak-anaknya atau membeli bahan pangan bergizi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun dengan antibiotika. Jangan ragu untuk tidak meresepkan antibiotika sama sekali, kalau penyakitnya akibat infeksi virus, atau pilihlah antibiotika dengan spektrum sesempit mungkin sesuai panduan (guidelines) penyakitnya. Kekurangpercayadirian dokter membuat mudahnya mereka meresepkan antibiotika spektrum luas sebagai pilihan pertama. Lagi-lagi dampak negatifnya akan sama seperti paragraf di atas, baik bagi pasien miskin ataupun kaya.&lt;br /&gt;Dalam satu sesi ceramah di sebuah universitas di tepi Jakarta, mendampingi pembicara dari Kanada, sehingga saya harus berbicara dalam dua bahasa, seorang panelis bertanya, apakah saya hanya akan jadi pahlawan kesiangan, memaparkan fakta polifarmasi dan penggunaan antibiotika yang berlebihan, sedangkan saya berdiri sebagai pembicara seolah-olah hanya menampilkan masalah, tanpa melakukan sesuatu untuk mengatasinya? Saya terkejut sekaligus geli dengan pertanyaan spontan dosen bertitel pascasarjana itu. Satu-dua orang dokter yang berusaha bersikap idealis, tidak melakukan praktik polifarmasi dan meresepkan antibiotika dengan hati-hati, mungkin tidak akan membuat perbaikan bermakna. Untuk itu perlu adanya ajakan dari satu dokter ke dokter lain, yang diharapkan terus bergulir seperti bola salju, hingga akhirnya semakin banyak dokter akan memiliki kesadaran dan pemahaman untuk bersikap rasional dalam melakukan peresepan. Namun penelitian menunjukkan bahwa dokter adalah salah satu profesi yang paling sulit mengubah pola praktik yang sudah turun-temurun berjalan di Indonesia ini. Seorang sejawat saya yang pernah menjadi staf pengajar untuk pendidikan spesialis dengan pesimis mengatakan bahwa karena sulit mengubah perilaku dokter yang dididiknya (baru kelihatan ketika sudah lulus dan berpraktik sebagai dokter spesialis), ia memutuskan untuk mengajar saja pasien-pasiennya supaya pintar. Mengerti ilmu kesehatan. Konsumen kesehatan adalah dokter bagi dirinya sendiri dan keluarganya. Setidaknya inilah yang dokter bisa lakukan: memberikan pendidikan kesehatan bagi masyarakat awam (non medis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, pengalaman memberikan ceramah kesehatan ini juga sangat menyenangkan. Atas bimbingan dan kesempatan yang diberikan guru saya di milis sehat, saya bisa merasakan pengalaman memberikan ceramah mulai dari orangtua-orangtua muda berlatar pendidikan sarjana di Jakarta dan sekitarnya, ceramah bagi ibu-ibu pengajian di beberapa masjid, pelatihan bagi dokter dan tenaga medis di perusahaan di luar kota, hingga terbang ke Surabaya dan pembangkit listrik di Paiton, Probolinggo. Kesannya sama: mereka semua antusias dengan materi-materi kesehatan yang kami berikan. Mereka butuh. Mereka juga berpotensi menjadi agen perubahan yang akan menularkan "virus of the mind" ini ke kerabat-kerabat terdekatnya. Umumnya mereka berpendidikan dan berpenghasilan menengah ke atas. Setelah mendapatkan ceramah, sangat mungkin pos pengeluaran mereka di bidang kesehatan akan berkurang, karena mereka telah tahu bagaimana layanan kesehatan yang rasional. Andaikan saja masyarakat yang miskin dan awam kesehatan mendapatkan pencerdasa-pencerdasan semacam ini. Mereka tidak perlu khawatir uang mereka yang pas-pasan akan habis untuk biaya berobat ke dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;belum kelar... ada usulan untuk sambungannya? Mungkin saya akan sedikit bercerita tentang program dokter keluarga yang diterapkan oleh Bupati/Walikota Bontang, Kalimantan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-5762929075203352870?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/5762929075203352870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=5762929075203352870' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/5762929075203352870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/5762929075203352870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2008/10/doctor-to-poor.html' title='Doctor to The Poor (Part one)'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-4187741339450417755</id><published>2008-10-29T19:49:00.000-07:00</published><updated>2008-10-30T14:08:26.470-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='muhammad yunus grameen bank'/><title type='text'>Bank Kaum Miskin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_SPEOSl7F2Hw/SQkpfh3iV3I/AAAAAAAAAAk/sOrHrQzY3uE/s1600-h/yunus_big.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 176px; height: 256px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_SPEOSl7F2Hw/SQkpfh3iV3I/AAAAAAAAAAk/sOrHrQzY3uE/s320/yunus_big.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262783261203126130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya mendengar nama &lt;a href="http://muhammadyunus.org/"&gt;Muhammad Yunus&lt;/a&gt; sebagai peraih Nobel Perdamaian tahun 2006 adalah ketika mengikuti pelatihan ESQ Eksekutif, atas dorongan dan motivasi dari istri saya tercinta, di akhir tahun 2006. Dorongan untuk segera membaca buku tentangnya langsung muncul begitu melihatnya di salah satu tumpukan di toko buku, tak lama setelah berbincang-bincang dengan seorang senior yang menyebut-nyebut namanya lagi.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya belum selesai membacanya. Sangat inspiratif. Sang profesor ahli ekonomi ini menceritakan kisah bagaimana ia memulai &lt;a href="http://www.grameen-info.org/"&gt;Grameen Bank&lt;/a&gt;, yang kini telah mengangkat jutaan manusia dari lembah kemiskinan, dengan pinjaman usaha yang diberikannya. Sudah banyak resensi mengenai buku ini di &lt;a href="http://www.marjinkiri.com/pages/resensi.htm"&gt;berbagai media&lt;/a&gt;. Silakan membacanya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya kutipkan sebagian isi halamannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Sufiya Begum mendapat 2 sen sehari. Kenyataan ini mengejutkan saya. Di ruang kuliah saya berteori mengenai jumlah miliaran dolar, tapi di sini, di hadapan mata saya, masalah hidup-mati ditentukan oleh sejumlah recehan. Ini tidak benar. Mengapa perkuliahan di kampus tidak mencerminkan kenyataan hidup yang dihadapi Sufiya? Saya marah, marah pada diri sendiri, marah pada Fakultas Ekonomi saya dan pada ribuan profesor pintar yang tidak pernah mencoba membahas masalah ini dan mengatasinya. Tampak oleh saya sistem ekonomi yang ada sekarang membuat kepastian mutlak bahwa penghasilan Sufiya akan dibiarkan selamanya berada pada tingkat yang sedemikian rendah, sehingga dia tidak akan pernah menabung sesen pun, apalagi berinvestasi untuk meningkatkan basis ekonominya...."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pikiran ini sudah terlintas di dalam kepala seorang mantan dekan Fakultas Ekonomi Universitas Chittagong, Bangladesh, lebih dari 30 tahun silam. Lintasan pikiran seorang idealis. Seseorang yang peka perasaannya terhadap segala sesuatu yang ditangkap oleh indera penglihatannya, dan segera bergerak untuk memberikan solusinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Akal sehat saya tidak akan membiarkan masalah ini berlangsung terus. Saya ingin membantu 42 orang pekerja keras ini, yang sehat dan tidak cacat. Saya terus memikirkan masalah ini berputar-putar, seperti anjing mencari tulang. Orang-orang seperti Sufiya miskin bukan karena bodoh atau malas. Mereka bekerja sepanjang hari, menggarap pekerjaan fisik yang rumit. Mereka miskin karena lembaga-lembaga finansial di negeri ini tidak membantu mereka memperluas basis ekonominya. Tidak ada struktur finansial formal yang tersedia untuk melayani kredit kaum miskin..."&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gagasan-gagasan alumni Vanderbilt University ini menabrak pakem-pakem teori ekonomi yang berlaku kebanyakan, dan kenyataan investasi yang ada di hampir seluruh belahan dunia. Namun keberanian dan kerja kerasnya telah disyukuri oleh banyak "mantan" orang miskin di seluruh dunia. Pantaslah ia diganjar Nobel Perdamaian. &lt;a href="http://www.marjinkiri.com/"&gt;Penerbit&lt;/a&gt; yang menerjemahkan buku ini pun tak salah menyematkan pesan di sampul belakang buku: "wajib dibaca oleh setiap akademisi, aktivis, dan pengambil kebijakan". Anda juga tentunya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terjemahan buku yang pertama kali diterbitkan tahun 1997 ini enak dibaca. &lt;a href="http://www.marjinkiri.com/"&gt;Penerbit&lt;/a&gt; telah memilihkan penerjemah yang profesional. Ini resensi buku tentang ekonomi &lt;a href="http://arifianto.blogspot.com/2006/03/mengakhiri-kemiskinan.html"&gt;kedua&lt;/a&gt; yang saya buat di blog ini. Lebih lengkap tentang Muhammad Yunus dan Grameen Bank dapat dengan mudah Anda temui di search engine manapun. Program pemerintah yang banyak diiklankan di TV akhir-akhir ini, yaitu &lt;a href="http://www.pnpm-mandiri.org/"&gt;PNPM Mandiri&lt;/a&gt;, sepertinya memiliki konsep serupa dengan yang sudah dipraktikkan oleh Grameen Bank.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-4187741339450417755?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/4187741339450417755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=4187741339450417755' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/4187741339450417755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/4187741339450417755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2008/10/bank-kaum-miskin.html' title='Bank Kaum Miskin'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_SPEOSl7F2Hw/SQkpfh3iV3I/AAAAAAAAAAk/sOrHrQzY3uE/s72-c/yunus_big.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-2277210773155554963</id><published>2008-09-13T01:13:00.000-07:00</published><updated>2008-10-04T06:54:04.498-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='better'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='atul gawande'/><title type='text'>Ditonjok Pasien</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_SPEOSl7F2Hw/SMt25XZmNcI/AAAAAAAAAAc/07qDmjFo3Jg/s1600-h/41emUVPjHYL._SL500_BO2,204,203,200_PIsitb-dp-500-arrow,TopRight,45,-64_OU01_AA240_SH20_.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_SPEOSl7F2Hw/SMt25XZmNcI/AAAAAAAAAAc/07qDmjFo3Jg/s320/41emUVPjHYL._SL500_BO2,204,203,200_PIsitb-dp-500-arrow,TopRight,45,-64_OU01_AA240_SH20_.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5245416918909072834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Ini salah dokter. Dokter mencabut alat tanpa seijin saya!”&lt;/span&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Duk! Bogem mentah mendarat tepat di ubun-ubun pria di sebelahku. Ia terhuyung sedikit ke belakang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Refleks, aku mendorong laki-laki peninju menjauhi pria tadi. Kupegangi erat-erat kedua lengannya agar ia tidak merangsek ke depan. Pria yang terkena bogem di belakangku mulai bergerak ke penyerangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gawat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Sabar, Pak, sabar. Tenang!” kataku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gerakan keduanya terhenti. Aku khawatir sekali. Laki-laki yang kuhadang ini adalah ayah pasien yang baru saja meninju dokter yang ikut merawat anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anaknya baru saja kami nyatakan meninggal, setelah resusitasi yang cukup melelahkan selama lebih dari 30 menit. Melakukan kompresi jantung di tengah siang bulan puasa, ventilasi tekanan positif yang membuat kram tangan, dan percobaan intubasi yang gagal melulu. Kondisi anaknya memang kurang bagus. Kesadarannya tidak pernah pulih, pasca pemasangan ventilator berhari-hari, ditambah “bonus” sepsis. Si bocah mengalami gagal napas siang itu. Orangtuanya tidak terima. Dalam keadaan kalut, ia menyerang dan menyalahkan dokter bedahnya. Singkat cerita, si ayah memeluk dokter yang baru saja dipukulnya. Ia menerima kematian putrinya. Namun apakah cerita akan berakhir di sini? Akankah ia melancarkan tuntutan ke rumah sakit?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya mengalami sendiri kisah di atas. Salah satu bagian dari buku “Better” membahas dengan baik malpraktik dalam esai “The Malpractice Mess”. Pembahasan yang belum pernah kubaca dari sisi analisis manapun, khususnya di Indonesia. Saya tidak akan membahas topik ini di sini. Silakan baca sendiri buku asli atau terjemahannya, atau di majalah “The New Yorker” edisi 2006. Yang jelas, sebagian besar dokter sepakat, bahwa tuntutan malpraktik, di Indonesia khususnya, berakar dari komunikasi dokter-pasien yang kurang baik. Sama halnya dengan ilustrasi di atas, menurut saya. Semua tindakan yang dilakukan terhadap pasien adalah sesuai &lt;i&gt;standard of procedure&lt;/i&gt;, namun penjelasan yang kurang terhadap orangtua membuat tuntutan mungkin saja diajukan. Apalagi pada pasien-pasien yang dirawat di unit rawat intensif, keputusan dokter untuk meneruskan resusitasi atau tidak harus benar-benar disampaikan pada keluarga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saya jadi ingat sebuah kasus. Seorang anak perempuan berumur 3 tahun dengan gagal ginjal kronik, sesak napas, edema paru, tak respon dengan pemberian diuretik sampai dosis yang dimungkinkan, tidak dapat dilakukan hemodialisis karena tidak ada alat yang sesuai ukuran anak-anak, dan kontraindikasi relatif untuk pemasangan dialisis peritoneal karena trombositopenia—sel-sel pembeku darahnya hanya 25 ribu per mikroliter—sehingga pemasangan CAPD berisiko tinggi menimbulkan perdarahan, akhirnya diputuskan untuk pemasangan ventilator.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orangtuanya mampu secara finansial. Cerdas pula. Pertanyaan-pertanyaannya ke tim dokter mengesankan seolah-olah ia pernah mampir kuliah di fakultas kedokteran. Harus sangat berhati-hati jika berbicara dengan pasien seperti ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Apa yang akan dokter lakukan, jika ini adalah anak Dokter?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dokter spesialis anak konsultan dengan uban hampir memenuhi kepalanya ini tak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. “Saya akan menghentikan ventilatornya dan berserah pada Tuhan.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anak ini masih bisa bernapas spontan. Cairan masuk-keluar selalu dihitung tiap beberapa jam. Balans cairannya harus negatif. Tidak perlu melakukan pengambilan sampel darah berulang kali untuk pemeriksaan diagnostik. Jika terjadi perburukan, henti napas misalnya, tidak perlu dilakukan kompresi dada yang berisiko mematahkan tulang rusuknya. Biarkan ia meninggal dengan tenang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orangtuanya setuju. Dibuktikan dengan tanda tangan di dalam lembar status rekam medik. Komunikasi berjalan baik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Pada kondisi seperti ini, yang kita lakukan adalah &lt;i&gt;to care&lt;/i&gt;, bukan &lt;i&gt;to cure&lt;/i&gt;,” jelasnya pada kami, para residen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kasus lain yang agak sukar kulupakan adalah pasien kecilku dengan sirosis bilier. Sejak usia beberapa minggu, ia sudah kuning. Bukan kuning fisiologis, yang seharusnya sudah menghilang. Bukan pula &lt;i&gt;breastmilk jaundice&lt;/i&gt; ataupun &lt;i&gt;breastfeeding jaundice&lt;/i&gt;. Matanya kuning, tinjanya berwarna pucat, dan urinnya seperti warna the. Perutnya juga terus membuncit. Jawaban yang ia dapatkan dari dokter anak pertama adalah, “tidak apa-apa, dijemur saja, nanti juga hilang sendiri.” Padahal saat itu umurnya sudah mendekati dua bulan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di usia empat bulan, orangtuanya membawa ke dokter anak lain. “Ini atresia bilier. Seharusnya dilakukan operasi sebelum usianya dua bulan. Sekarang sudah terlambat. Tanda-tanda awal sirosis sudah terjadi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hingga kini orangtuanya tidak pernah terpikir untuk menuntut dokter anak pertama. Mungkin karena ia hanya lulusan SMP, dan hanya bekerja sebagai sopir pribadi bos perusahaan, tak terpikir olehnya untuk melakukan hal itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i&gt;Doctor is not a job, but it is a profession&lt;/i&gt;”. Begitu senior saya pernah menasihati kami. Dokter itu harus care dengan pasien-pasiennya. Belajar yang baik, supaya tidak ada ilmu yang terlewatkan. Bekerja teliti, jangan sampai hal-hal terkecil luput. Setiap hembusan napas adalah demi kepentingan orang lain. Ibadah yang kelak akan diganjar pahala oleh Alloh. Namun bisa menjadi dosa jika tidak mau menangani pasien dengan benar. Masalah bayaran? Lagi-lagi Atul Gawande menjelaskannya dengan sangat menarik dalam bab bukunya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Apabila profesi dokter adalah bisnis yang murni menukar jasa dengan uang, jika tidak ada bedanya dengan menjual mobil, lantas mengapa memilih pendidikan kedokteran selama dua belas tahun (enam tahun untuk kuliah S1 dan profesi, enam tahun lagi untuk spesialisasi termasuk tesis S2—apin), bukan malah misalnya sekolah bisnis dua tahun? Alasannya pasti karena setidaknya para dokter masih termotivasi oleh harapan untuk melakukan pekerjaan yang bermakna dan terhormat bagi masyarakat”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;Maka sekarang saya agak heran, jumlah adik-adik kelas saya yang menjadi mahasiswa kedokteran dua kali lipat lebih banyak dibandingkan jaman saya dulu, 10 tahun yang lalu ketika saya masuk FK. Sekarang ada mahasiswa reguler, kelas khusus (“dokter daerah” dengan ratusan juta rupiah dibayar di muka), dan internasional (yang uang masuknya puluhan ribu dolar). Uang SPP semesteran mahasiswa reguler saja 15 kali lipat dibandingkan bayaran saya dulu. Sungguh bersyukur saya bisa mengenyam pendidikan “jaman dulu”. Belum lagi &lt;i&gt;skill&lt;/i&gt; dokter yang akan semakin terbatas karena harus bersaing dengan jumlah mahasiswa yang semakin banyak, sedangkan jumlah pasiennya segitu-gitu saja. Saingan lainnya adalah jumlah dokter yang sedang menempuh spesialisasi semakin banyak. Lebih banyak jumlah dokter dan mahasiswa kedokteran dibandingkan jumlah pasien di RS pendidikan. Apakah rasional jika masih ada orangtua yang menyekolahkan anaknya di FK dengan harapan jadi orang kaya kelak? Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-2277210773155554963?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/2277210773155554963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=2277210773155554963' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2277210773155554963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2277210773155554963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2008/09/ditonjok-pasien.html' title='Ditonjok Pasien'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_SPEOSl7F2Hw/SMt25XZmNcI/AAAAAAAAAAc/07qDmjFo3Jg/s72-c/41emUVPjHYL._SL500_BO2,204,203,200_PIsitb-dp-500-arrow,TopRight,45,-64_OU01_AA240_SH20_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-3806416328988478109</id><published>2008-05-23T19:41:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T19:42:44.703-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hiv/aids anak'/><title type='text'>such a short age (2)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Ibu mana yang tak sedih kehilangan anak satu-satunya? Putra semata wayangnya baru saja meninggal dunia karena HIV. Ya, HIV/AIDS. Kerusakan jaringan paru yang luas akibat pneumonia yang diduga akibat infeksi Pneumocytis carinii atau tuberkulosis membuat si bocah berumur dua tahun ini mengalami gagal napas. Ruang ICU penuh. Ia hanyalah satu dari sekian ribu warga &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt; yang menggunakan fasilitas GAKIN. Mau pindah ke ICU RS mana lagi? Setelah tiga jam berjuang menghadapi sakaratul maut di ruang bangsal dengan fasilitas seadanya, seluruh otot pernapasannya kelelahan. Berhenti napas. Anak kecil dengan hasil pemeriksaan penyaring ELISA yang hasilnya reaktif itu meninggal tadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Sang Ibu sendiri baru tahu anaknya HIV positif setelah membuka amplop hasil pemeriksaan. Ia sama sekali tidak tahu, penyebab demam dan diare kronik pada putranya adalah infeksi virus nista itu. Artinya dia sendiri juga seharusnya HIV positif. Dari mana si balita mendapatkan HIV kalau bukan dari ibunya? Berarti suaminya yang meninggal dua tahun silam dengan mulut penuh bercak putih itu akibat HIV/AIDS juga? Suaminya adalah pengguna narkoba suntik. Si istri baru tahu kebiasaan biadab suaminya itu setelah menikah. Tapi ia sama sekali tidak tahu kalau si suami akan meninggalkan warisan anak dengan HIV di tubuhnya. Juga HIV di tubuhnya sendiri, mungkin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Kini ia telah menjadi janda. Seorang janda dengan kemungkinan besar HIV di tubuhnya. Ia baru saja kehilangan harta terbesarnya di dunia, putra yang amat dikasihinya selama ini. Apa yang harus dilakukannya setelah ini? Di usia yang masih sangat muda, yang masih butuh seseorang yang mengasihi dan dikasihi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Kisah semacam ini menimpa banyak anak dan wanita di seluruh dunia. Transmisi virus HIV yang ditularkan dari ibu pada anaknya. Di sisi lain sudah kulihat sendiri anak-anak kecil dengan jumlah limfosit T (CD4) yang sangat rendah akibat supresi HIV, yang sudah ditinggal mati orangtuanya yang mantan AIDS, dan kini mereka dibesarkan kakek-neneknya. Bocah-bocah lucu yang harus minum anti retroviral seumur hidupnya, dan keluar-masuk rumah sakit dengan berbagai penyakit infeksi dan masalah gizi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Lalu apa yang masih dimiliki si ibu tadi? Aku yakin, ia masih memiliki iman. Alloh akan memberikannya kehidupan yang lebih baik setelah ini. Insya Alloh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;Jadi pengen nulis tentang HIV/AIDS pada anak kalo pas lagi senggang nanti…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-3806416328988478109?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/3806416328988478109/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=3806416328988478109' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/3806416328988478109'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/3806416328988478109'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2008/05/such-short-age-2.html' title='such a short age (2)'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-1487884153546360844</id><published>2008-05-23T19:38:00.000-07:00</published><updated>2008-05-23T19:40:33.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kanker anak'/><title type='text'>such a short age (1)</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Setelah menjalani hampir 6 bulan mendalami dasar-dasar metodologi penelitian, komputer statistik, dan semacamnya—yang sepertinya sudah 80% hilang dari kepala, tiga bulan pertama rotasi modul saya adalah di bangsal non infeksi. Hampir 90% kasusnya adalah keganasan pada anak. Angka kematian cukup tinggi, melihat prognosis kanker secara umum yang tidak begitu baik, meski dengan pengobatan kemoterapi dini. Kematian menjadi suatu hal yang biasa bagi kami di sini. Saya ingat pertama kali memberi kabar kepada pasangan suami-istri yang baru memiliki satu anak, bahwa anak mereka satu-satunya memiliki leukemia mieloblastik akut. Tentu saja mereka langsung menangis. Diagnosis ditegakkan setelah saya melakukan aspirasi sumsum tulang saya yang pertama. Tindakan ini cukup menyakitkan untuk di anak. Saya harus menembus tulang rawannya di tonjolan krista iliaka posterior superior menggunakan besi berujung tajam seukuran pena besar. Singkat cerita si anak menjalani seri kemoterapi untuk AML M1-nya. Belum selesai satu seri, ia mengalami aplasia. Sel darah putihnya jatuh ke angka di bawah 1000, setelah di awal penyakit angkanya mencapai hampir 100.000. ia masuk ke ruang isolasi. Aplasia adalah keadaan yang bisa diramalkan dalam kemoterapi untuk AML M1. Keuntungannya adalah prognosis kelak akan lebih baik. Meskipun di sisi lain sistem pertahanan tubuhnya menjadi amat tertekan, sehingga mudah terkena infeksi. Kemoterapi memang ibarat pedang bermata dua. Total perawatannya hampir satu bulan, namun seri kemoterapi belum bisa dilengkapi. Si anak mengalami melena. Orangtuanya menyerah, dan minta pulang paksa. Supervisor kami sudah menjelaskan langsung kepada pasangan suami-istri ini alangkah berisikonya membawa pulang anak mereka saat itu. Mereka tetap bersikeras.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Satu bulan kemudian, si anak masuk instalasi gawat darurat dengan keadaan yang cukup menyedihkan. Wajahnya bengkak dan lebam di sana-sini akibat perdarahan bawah kulit. Darah segar mengalir dari kedua lubang hidungnya. Trombositnya turun di bawah angka 50.000, seperti dugaan semula. Kelenjar getah beningnya membesar di hampir seluruh daerah yang dapat diraba. Hati dan limpanya juga teraba membesar. Padahal “bom” kemoterapi beberapa minggu silam telah mengecilkan semua pembesaran organ itu. Tak sampai dua minggu di bangsal perawatan, sehabis sholat subuh, telepon saya berbunyi. Si anak meninggal. Ayahnya menangis mengikhlaskan kepergian anak satu-satunya. Persis seperti saat mendengar bahwa anaknya menderita leukemia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Kematian menjadi hal yang biasa bagi kami. Amat biasa bahkan. Sebagai rumah sakit rujukan nasional, anak-anak dengan berbagai jenis keganasan yang mereka miliki datang dari berbagai penjuru negeri. Masih sedikit memang rumah sakit yang mampu memberikan fasilitas kemoterapi. Sebelum bekerja sebagai residen di RS ini, saya sudah cukup sering menghadapi kematian. Kalau sudah letih, saya bisa tidur beberapa meter di bekas bed pasien yang meninggal. Tanpa ada perasaan apa-apa. Tapi ketika mulai lagi bekerja di RS yang pernah mendidik saya selama beberapa tahun, saya hampir saja menangis ketika menghadapi kematian pasien yang pertama, setelah sekian lama. Salah satu kesedihan saya waktu itu adalah diagnosis belum tegak benar, karena masih menunggu hasil pemeriksaan apusan sediaan sumsum tulang di bawah mikroskop, dan pasien sempat mengalami kegagalan sirkulasi (syok hipovolemik) sebelum meninggal. Saya merasa bertanggung jawab sehingga bocah perempuan berusia 3 tahun itu—yang lagi-lagi merupakan anak satu-satunya dari orangtuanya—mengalami tahapan menuju syok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya ingat betul percakapan saya dengan orangtua pasien pertama saya di bangsal non infeksi, ketika menunjukkan kasir pembayaran pemeriksaan bone marrow aspiration.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;“Nama saya Arifianto, hampir sama dengan nama anak Bapak.” Saya memperkenalkan diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;“Mudah-mudahan si A nanti bisa jadi dokter seperti dokter Arif.” Balas si Bapak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam hati saya berkata, andaikan saja Alloh mengijinkan si anak memiliki cukup umur di dunia ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Ternyata Alloh menakdirkannya di dunia dalam waktu yang cukup singkat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Semoga Alloh mengampuni dosa seluruh orangtua yang bersabar menghadapi ujian anak-anaknya yang menderita kanker.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-1487884153546360844?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/1487884153546360844/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=1487884153546360844' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/1487884153546360844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/1487884153546360844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2008/05/such-short-age-1.html' title='such a short age (1)'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-8726495302233786793</id><published>2008-03-30T23:46:00.000-07:00</published><updated>2008-03-30T23:54:56.787-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ppds anak'/><title type='text'>Resident Story--The Beginning</title><content type='html'>I am a resident in pediatrics--eight months down, three more years to go. I'm not allowed to make excuses. If my senior resident needs something done, I can't say, "But I haven't had my lunch," or, "I'm still working on another patient." With 180-hour workweeks and many nights without sleep during the night shift, I'm also trying to learn to be a pediatrician. And my weight has already decreased 4 kilos within two months.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;--have to give thesis presentation next week, many stories to tell, and urge to read Atul Gawande's "Better". Has anyone?--&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-8726495302233786793?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/8726495302233786793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=8726495302233786793' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/8726495302233786793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/8726495302233786793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2008/03/resident-story-beginning.html' title='Resident Story--The Beginning'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-3160951611513394722</id><published>2008-01-18T21:38:00.000-08:00</published><updated>2008-01-19T01:57:47.697-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='imunisasi vaksinasi halal'/><title type='text'>Mengapa Tidak Mau Memberikan Imunisasi?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Seorang sejawat mengirimkan e-mail di bawah ini: &lt;/span&gt;“kalau bisa Anda buat tulisan tentang pentingnya imunisasi/vaksinasi karena sekarang mulai banyak keluarga muslim yang tidak mau anaknya divaksinasi dan lebih memilih "bahan-bahan" alternatif sperti beberapa merek yang sudah banyak bereder melalui sistem MLM di kalangan tertentu, walaupun saya tahu persis produk-produk tersebut belum ada penelitian Randomized Controlled Trials-nya. Ini potensi destruktifnya &lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; besar sekali untuk potensi generasi di masa yang akan datang.. Mereka bahkan sdh ada yg meminta utk diadakan semacam penyuluhan untuk menginformasikan tentang bahaya/tidak perlunya vaksinansi, di antara argumennya ialah bahwa vaksin itu buatan Yahudi/strategi Amerika utk meracuni anak-anak muslim...”&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Baiklah kawan, saya coba memberikan pendapat saya. Sebuah buku yang (ternyata) ditulis oleh seorang dokter (si penulis tidak menyebutkan dengan tegas bahwa ia dokter, setelah menelusuri profilnya di internet baru saya tahu) memberikan keterangan seperti ini: “Vaksinasi bisa menghancurkan sistem kekebalan tubuh kita. &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Para&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt; ahli klinis yang meneliti penyakit sebelum dan sesudah vaksinasi menyimpulkan bahwa vaksin dapat melemahkan sistem imun. Akibat buruk suntikan vaksin bisa terus berlanjut. Dalam kasus-kasus tertentu yang buruk, suntikan vaksin itu malah bisa membunuh orang yang diberi suntikan. Beberapa ahli juga mengatakan kalau vaksin justru melemahkan upaya tubuh untuk bereaksi secara normal terhadap penyakit. Bahkan, ia berpotensi juga memunculkan penyakit autoimun. Terdapat beberapa penyakit autoimun, di antaranya: sindrom Guillain Barre, trombositopenia, dan artritis.” Padahal beberapa halaman sebelumnya penulis menyebutkan, “sistem imun adalah upaya silaturahmi yang bertugas untuk mengembangkan suatu pola interaksi yang sehat. Hal ini dapat diamati pada proses vaksinasi, yaitu pada saat sebagian eleman mikroba patogen (penyebab penyakit) yang telah dilemahkan atau bagian yang tidak berbahaya diperkenalkan ke dalam tubuh sebagai faktor “pengingat” bagi sistem imun”. Pernyataannya kontradiktif, di bagian akhir buku penulis mengajak pembaca untuk tidak memberikan imunisasi, tetapi di halaman pembuka, ia menjelaskan imunisasi memberikan pola interaksi yang sehat dalam tubuh. &lt;i style=""&gt;Anyway&lt;/i&gt;, saya setuju dengan 90% isi bukunya, hanya statement tentang imunisasi dan beberapa hal kecil lain saja yang saya tidak sepakat. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Juga hal-hal yang disebut di atas seperti Guillain Barre syndrome, trombositopenia, dan artritis, disebut sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau post vaccination adverse event, yang relatif jarang terjadi, jarang sekali yang fatal, dan dijelaskan oleh dokter sebelum tindakan imunisasi dilakukan, sehingga mendapat persetujuan tindakan dari orangtua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Bukan hal baru bagi dokter dan pasien, bahwa sebagian dokter tidak mau memberikan imunisasi bagi pasien-pasiennya. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt; yang tidak mau memberikan vaksin jenis tertentu saja, ada yang menunda memberikan vaksin tertentu sampai umur lewat dari usia yang direkomendasikan, dan ada yang tidak mau memberikan semua jenis vaksin. Padahal jelas sekali, di seluruh dunia vaksinasi/imunisasi telah terbukti mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat penyakit infeksi tertentu. Sebut saja cacar (variola, bukan cacar air atau varisela) yang telah musnah dari permukaan bumi sejak tahun 1970-an, padahal sebelumnya penyakit ini telah merenggut jutaan nyawa. Sebut lagi penyakit infeksi lain seperti cacar (measles) yang memiliki komplikasi meningitis (radang selaput otak) dan pneumonia (radang jaringan paru) yang mematikan. Juga ada difteri, pertusis, tetanus, polio, dan lain-lain—&lt;i style=""&gt;name it&lt;/i&gt; deh, semua vaksin yang ada—yang membuat kita hampir tidak pernah menemui kasus ini di keseharian. Padahal beberapa dekade silam ketakutan besar menimpa orangtua yang khawatir anaknya terkena penyakit-penyakit ini. Lalu mengapa dokter tidak memberikan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt; beberapa alasan dalam analisis pribadi saya. Pertama, sebuah isu massal menyebutkan bahwa vaksinasi adalah konspirasi Yahudi melemahkan daya tahan anak-anak berbagai umat. Toh sudah diberi vaksinasi campak, cacar air, BCG, masih bisa juga terkena campak, cacar air, dan tuberkulosis! Ya, tidak ada satupun vaksin memiliki efek protektif mencapai 100%. Semua dokter yang lulus dari fakultas kedokteran negeri ini juga tahu. Sebagai contoh, vaksinasi BCG memiliki efektivitas perlindungan terhadap TBC sebanyak 0 sampai 80%. Artinya, anak yang sudah diimunisasi BCG sangat mungkin terinfeksi TBC dan menjadi sakit di negara endemik TBC ini. Tetapi, BCG terbukti sangat efektif mencegah komplikasi TBC seperti TB milier dan meningitis TB. Vaksin-vaksin lain seperti DPT, Hepatitis B, campak, dsb memiliki angka efektifitas yang lebih tinggi dibandingkan BCG. Bayangkan saja kalau tidak ada vaksinasi campak. Padahal Depkes mencatat 30 ribu anak &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style=""&gt; meninggal per tahunnya akibat komplikasi campak (pneumonia, meningitis). Sampai-sampai diadakan PIN Campak bulan Februari tahun lalu di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=""&gt;. Vaksinasi campak jauh mengurangi angka kesakitan dan kematian ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Banyak orangtua juga membuktikan anak-anak mereka tidak ada satupun yang sakit-sakitan, dan selalu sehat, padahal tidak ada yang diimunisasi barang seorang pun. Hal ini tentunya sangat mungkin. Dalam konsep epidemiologi klinik, satu anak yang tidak diimunisasi polio misalnya, tapi ia adalah &lt;i style=""&gt;carrier&lt;/i&gt; (pembawa) virus polio, dapat menginfeksi seluruh anak lain yang berada di lingkungannya yang tidak mendapatkan imunisasi polio. Ini adalah hipotesis terjadinya heboh polio di Sukabumi tahun 2003 silam. Makanya seluruh anak dalam satu komunitas harus divaksinasi, tanpa kecuali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Alasan kedua, di dalam vaksin juga disinyalir terdapat zat-zat haram, seperti babi, janin manusia yang diaborsi, dll. Selengkapnya bisa melihat ke &lt;a href="http://www.halal-guide.com/"&gt;www.halal-guide.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya coba menyalin kandungan vaksin yang saya ambil dari kemasannya langsung. Ini daftarnya, sesuai merek dagang (beda pabrik bisa beda pengawet):&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Infanrix-Hib (GSK), yaitu vaksin &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;DaPT-Hib&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dalam satu sediaan (kombo), atau Tetract-Hib (DPT-Hib): isinya toksoid difteri, toksoid tetanus, dan tiga antigen pertusis yang dimurnikan dalam garam aluminium. Juga mengandung polisakarida kapsuler polyribosylribitol-fosfat (PRP) dari Hib. Toksin D dan T diperoleh dari kultur bakteri yang didetoksifikasi dan dimurnikan. Komponen seluler/aseluler P juga diperoleh dari bakteri B. pertusis. Kemudian semuanya diformulasikan dalam garam fisiologis, dan diawetkan dengan 2-fenoksietanol (alkohol). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Act-Hib (Aventis), isinya &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Hib&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; saja: mengandung polisakarida Hib yang terkonjugasi dengan protein tetanus, dan pengawet Trometamol dan Sukrosa, dilarutkan dengan Natrium klorida. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Varilrix (GSK), yaitu vaksin &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;varisela&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;/cacar air: virus varisela-zoster strain &lt;/span&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;OKA&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style=""&gt; hidup yang dilemahkan, dikultur dalam sel diploid manusia MRC5.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Engerix-B (GSK), yaitu vaksin &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;hepatitis B&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;: antigen permukaan virus yang dimurnikan diolah dengan teknik DNA rekombinan, dimasukkan dalam aluminium hidroksida. Antigen dihasilkan melalui kultur sel kapang/yeast (Saccharomyces cerevisiae). Tidak ada satupun sel manusia hidup yang digunakan dalam pembuatannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;MMR-II (MSD), yaitu vaksin kombo &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;MMR&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;: virus campak hidup yang dilemahkan dikultur dalam sel embrio ayam; virus mumps hidup juga dikultur dalam embrio ayam; virus rubella hidup dikultur dalam sel diploid manusia. Tidak mengandung pengawet. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Havrix 720 (GSK), yaitu vaksin &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;hepatitis A&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; mati yang diawetkan dengan formalin, dimasukkan dalam aluminium hidroksida, dan dipropagasi dalam sel diploid manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Typhim Vi, yaitu vaksin &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;tifoid&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, dari polisakarida S. Typhi, diawetkan dengan fenol dan larutan buffer yang mengandung NaCl, disodium fosfat, monosodium fosfat, dan air.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Saya masih belum bisa mendapatkan daftar isi kemasan produk Biofarma seperti BCG, Hepatitis B, polio, DPT, dan campak. Mudah-mudahan segera bisa dilengkapi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Kira-kira komponen mana dari zat-zat di atas yang berpotensi membahayakan tubuh dan mengandung bahan haram? Saya belum menemukan bukti sahih. Semua obat yang diproses secara kimia di pabrik seharusnya mendapatkan perlakuan yang sama halnya dengan kepedulian terhadap imunisasi ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Memang negara kita sangat bermasalah dalam status kehalalan obat-obatan dan kosmetika. Andaikan saja bisa mencontoh Malaysia, yang berusaha memproduksi sendiri vaksin halal. Maka saat ini, saya merujuk pada keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di sini (terlalu panjang jika disalin ulang): &lt;a href="http://www.halalguide.info/content/view/120/397/"&gt;http://www.halalguide.info/content/view/120/397/&lt;/a&gt; atau &lt;a href="http://www.halalguide.info/content/view/120/55/"&gt;http://www.halalguide.info/content/view/120/55/&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Analoginya bisa dipakai untuk seluruh jenis vaksin lain (BTW, vaksin IPV yang disebut dalam fatwa ini tidak digunakan secara luas di Indonesia, yang digunakan adalah OPV). Lebih lengkap lagi tentang imunisasi juga bisa dilihat di blog Bu Lita di &lt;a href="http://lita.inirumahku.com/"&gt;http://lita.inirumahku.com&lt;/a&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Surat pembaca saya tentang kontroversi halal imunisasi ini pernah dimuat Majalah Hidayatullah edisi November 2007. Sayangnya tidak ada soft copy-nya di web, dan belum saya salin ulang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pro dan kontra terhadap imunisasi atau vaksinasi tidak akan pernah berakhir. Saya bersyukur ada komunitas seperti milis SEHAT (&lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/sehat"&gt;http://groups.yahoo.com/group/sehat&lt;/a&gt;) yang selalu mendiskusikan dan memberikan informasi terkini tentang imunisasi dan kesehatan secara umum yang sahih (tidak semua informasi kesehatan di internet terbukti sahih secara &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;evidence based medicine&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;). Silakan juga buka &lt;a href="http://www.sehatgroup.web.id/"&gt;www.sehatgroup.web.id&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sekian dulu. Wallahu a’lam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(apin, masih bisa banyak nulis sebelum mulai rotasi bangsal non infeksi. Junior oohh… junior)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-3160951611513394722?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/3160951611513394722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=3160951611513394722' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/3160951611513394722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/3160951611513394722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2008/01/mengapa-tidak-mau-memberikan-imunisasi.html' title='Mengapa Tidak Mau Memberikan Imunisasi?'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-8318588938315091539</id><published>2008-01-17T18:58:00.000-08:00</published><updated>2008-01-18T01:56:09.518-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='specialistic mindset'/><title type='text'>Kalau Anak Sakit, Berobat ke Dokter Anak atau ke Dokter (Umum)?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Pertanyaan ini saya baca di sebuah buku yang diterbitkan oleh sebuah tabloid anak ternama ibukota. Menarik sekali. Salah satu bagian buku itu menulis: “Apakah anak harus dibawa ke dokter spesialis anak (dr, SpA) ataukah cukup ke dokter umum (dr,) saja?” Jawaban di buku: “bila di sekitar rumah ada dokter spesialis anak (DSA) atau kita membayar dokter yang lebih memahami penyakit anak, sebaiknya anak dibawa ke dokter spesialis anak saja. Sebab, DSA lebih memahami masalah penyakit pada anak, karena mereka sudah dibekali ilmu lebih banyak dibandingkan dokter umum biasa. Diharapkan, dengan pemahaman yang lebih tinggi, anak bisa tertangani lebih baik”. Dst dst.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Bagaimana menurut Anda jawaban di atas? Ini pendapat saya pribadi. Dokter menjalani pendidikan selama 6 tahun mulai dari ilmu kedokteran dasar sampai penerapannya pada manusia, dan tata laksana penyakit-penyakitnya. Termasuk ilmu kesehatan anak. Jawaban di atas agak klise (&lt;i style=""&gt;ngambang&lt;/i&gt;) menurut saya. Karena bisa saja orang memahami bahwa dokter (umum) kurang tepat dalam menangani masalah kesehatan anak. Bawa saja langsung ke spesialis. Lalu apa yang sudah dipelajari dokter umum enam tahun lamanya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Dokter spesialis dibentuk untuk menangani kasus-kasus yang tidak dapat ditangani oleh dokter (umum). Artinya, dokter memiliki kompetensi dasar untuk semua kasus, mulai dari kasus kesehatan anak, penyakit dalam, kebidanan-kandungan, bedah, dst. Namun ada kasus-kasus rujukan yang harus ditangani oleh dokter spesialis. Makanya setiap profesi memiliki standar kompetensinya masing-masing. Jika dokter umum melakukan hal-hal di luar standar kompetensinya, maka bisa terjerat pasal dalam Undang-undang Praktik Kedokteran tahun 2004. Mayoritas kasus kesehatan anak di masyarakat adalah penyakit harian (common problems) seperti demam, batuk-pilek, mencret/diare, dan masih banyak lagi yang tentunya cukup ditangani dokter umum. Namun jika ada masalah kecurigaan penyakit jantung bawaan, gangguan perkembangan, keganasan, dan banyak kasus rujukan lain, tentu prosedurnya adalah dokter merujuk ke dokter spesialis. Tapi tak dapat dielakkan memang di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; konsumen kesehatan bisa memilih untuk datang langsung ke dokter spesialis tanpa melalui dokter umum terlebih dahulu. Beda dengan di negara-negara maju. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dengan kata lain, mekanisme &lt;i style=""&gt;referral system&lt;/i&gt; (rujukan) memang belum berjalan di negara kita. Pun tak dapat dipungkiri apa yang tertanam dalam pemahaman masyarakat perkotaan umumnya adalah, datangi langsung dokter yang sesuai dengan spesialistiknya, tanpa harus ke dokter umum terlebih dahulu, jika mampu (bayarnya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sampai-sampai guru-guru yang mendidik calon dokter anak di sekolah saya bilang, ”Jangan sampai kamu nanti lulus cuma jadi spesialis batuk pilek mencret”. Itupun juga &lt;i style=""&gt;ngobatinnya&lt;/i&gt; masih &lt;i style=""&gt;nggak&lt;/i&gt; benar, timpal guru saya yang lain. Sakit ringan diresepkan antibiotika tidak sesuai indikasi. Dalam hati saya pun membalasnya, habis mau gimana lagi, yang datang ke dokter anak kebanyakan memang kasusnya batuk pilek mencret.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Lalu kalau anak sakit gigi, apakah langsung ke dokter gigi anak (drg, SpKGA) atau cukup ke dokter gigi umum (drg,) saja? Buku itu menjawab: “sebaiknya ke dokter gigi anak, karena mereka dibekali pengetahuan mengenai spesifikasi pertumbuhan dan perawatan gigi anak. Pendidikan spesialis dijalani selama 3-4 tahun bla bla bla”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Lagi-lagi, ini opini saya pribadi. Melihat istri saya yang dokter gigi umum, saya jadi tahu persis kemampuan seorang dokter gigi (umum) dalam menangani kasus-kasus gigi anak. Pengalaman menata laksana ratusan siswa SD dalam UKGS di beberapa sekolah di pelosok Sumatera saat PTT, dan menghadapi pasien-pasien anak di bawah lima tahun di praktik rumah, membuat saya memahami kompetensi mereka. Tetapi tentu saja, selalu ada kasus-kasus yang harus ditangani SpKGA. Dokter gigi harus merujuk kasus-kasus ini ke sejawat spesialis mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Those are all my personal opinion. Saya sama sekali tidak mengajak pembaca untuk menjauhi dokter spesialis dalam kunjungan pertama. It’s all up to you. Yang saya ajak adalah agar para pasien (baca: konsumen kesehatan) menjaga dokter tetap bertindak rasional. Tidak jarang pasien minta diberikan obat padahal dokter merasa tidak perlu. Cukup sering konsumen kesehatan minta resep antibiotika padahal dokter sudah menjelaskan bukan indikasinya. Khawatir kehilangan pasien, dokter pun kadang “tunduk” pada keinginan kliennya ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Pelajari dasar-dasar ilmu kesehatan dengan baik. Ajak diskusi dokter anak dengan bekal ilmu ini. Alasan lain pentingnya mempelajari dasar-dasar ilmu kesehatan ini adalah orangtua menjadi tahu, kapan sih harus ke dokter. Pada akhirnya, konsumen kesehatan memahami bahwa batuk-pilek, mencret, demam tanpa gejala berat, dan masih banyak penyakit lain sebenarnya tidak perlu dibawa ke dokter sama sekali. Ke dokter umum sekalipun. Just wait and observe, gejalanya akan self limiting (hilang sendiri). Ini sudah terbukti pada banyak sekali orangtua yang memiliki kemauan kuat belajar ilmu kesehatan, dan mempraktikannya pada diri sendiri dan keluarganya. Mudah-mudahan layanan kesehatan negara kita menjadi lebih baik kelak. Amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(btw, yang nulis sedang menempuh pendidikan untuk jadi dokter spesialis anak, hehehe)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-8318588938315091539?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/8318588938315091539/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=8318588938315091539' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/8318588938315091539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/8318588938315091539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2008/01/kalau-anak-sakit-berobat-ke-dokter-anak.html' title='Kalau Anak Sakit, Berobat ke Dokter Anak atau ke Dokter (Umum)?'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-2619327478215535122</id><published>2008-01-17T04:22:00.000-08:00</published><updated>2008-01-17T04:29:48.209-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='audit medik'/><title type='text'>Perlukah Audit Medik?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Beberapa hari yang lalu, seorang ayah dari bocah 18 bulan yang pernah saya temui di tempat praktik menelepon. Anak laki-lakinya ini tiba-tiba saja muntah berturut-turut sampai empat kali, hingga tidak tersisa makanan di dalam lambungnya, dan yang keluar hanya cairan kuning saja. Ia panik, dan segera menghubungi ponsel saya, menanyakan apa yang sedang terjadi pada anaknya, apa yang harus ia lakukan, dan bisakah ia menemui saya hari itu. Setelah mendengar keterangannya, saya minta ia mengobservasi muntah anaknya, dan sebisa mungkin memberikan larutan elektrolit tiap habis muntah. Saya katakan ini bukan suatu kegawatdaruratan, dan kemungkinan terbesar adalah infeksi virus seperti gastroenteritis virus, atau &lt;i style=""&gt;food poisoning&lt;/i&gt;. Tak lama berselang, sebuah SMS darinya muncul di ponsel saya, yang menyatakan bahwa anaknya masih terus-menerus muntah, tidak mau minum apapun, dan seperti setengah sadar. Karena harus segera pergi ke tempat tugas, saya balas saja, “Kalau Bapak khawatir anaknya mengalami dehidrasi berat, bawa saja ke RS”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Sore hari pulang dari RS, si Bapak kembali meng-SMS: “Dok, anak saya dirawat di RS, dan sedang diperiksa darahnya di laboratorium”. Saya segera balas, dirawat dengan indikasi apa, belum kena infus &lt;/span&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;&lt;span style=""&gt;?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Cerita berlanjut. Saat ini ia masih mengalami perawatan hari ke-3. Sudah tidak muntah-muntah lagi, tanpa demam, dan segar bugar ingin segera pulang. Masalahnya adalah, dokter yang merawat mendapatkan hasil uji Widal-nya (yang saya tidak tahu untuk apa diperiksa, tapi saya pikir RS ini punya kebijakan untuk memeriksakan lengkap lab darah tanpa alasan jelas) dengan titer positif yang cukup signifikan. Si bocah masih dirawat dengan selang infus menancap yang berulang-kali lepas, dan dua jenis antibiotika diberikan lewat infus dan minum biasa. Ini semua cerita dari sang ayah. Saya sama sekali belum melihat kondisi anak secara langsung. Diagnosis perawatannya adalah tifoid, yang anehnya menurut saya, tanpa demam sama sekali, dan keadaan klinis si anak tidak sesuai dengan diagnosis. Sebagai dokter, saya selalu menekankan pada diri sendiri untuk tidak mengobati hasil lab. Yang dihadapi oleh dokter adalah si manusia sakit, bukan hasil laboratoriumnya. Semua keadaan yang tidak sesuai antara klinis dan hasil pemeriksaan penunjang harus dihadapi dengan tanda tanya besar, dan segera dicaritahu jawaban definitifnya. Satu hal yang jelas, pemeriksaan Widal memiliki sensitifitas yang rendah di negara endemik tifoid ini. Kalau memenuhi kriteria klinis untuk demam tifoid, ya periksa saja kultur feses atau darahnya (&lt;i style=""&gt;gal culture&lt;/i&gt;). Ini adalah pemeriksaan &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;baku&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style=""&gt; emas untuk tifoid, dibandingkan Widal. Kecuali si dokter tidak mendapatkan ilmu seperti ini di bangku kuliah spesialiasinya. Keadaan janggal lainnya adalah indikasi memberikan cairan dan obat lewat selang infus, padahal si anak memiliki toleransi makan dan minum yang sangat baik. Saya benar-benar tidak habis pikir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Jujur saja, satu pertanyaan lalu muncul di benak saya: apakah memang profesi dokter diciptakan untuk saling membenci dan berprasangka buruk satu sama lain, karena dalam menghadapi satu pasien saja bisa berlainan &lt;i style=""&gt;assessment&lt;/i&gt; dan tata laksananya? Kita semua lulus dari fakultas kedokteran yang menggunakan buku ajar dan referensi yang kurang lebih sama. Mudah-mudahan kondisi dokter di dunia nyata seperti ini bukan didorong oleh motivasi mendapatkan keuntungan dari memberikan obat tanpa alasan jelas, karena si dokter akan mendapatkan kompensasi materi dari peresepan obat ini. Atau memanfaatkan kepanikan orangtua yang seharusnya mau belajar mengenai dasar-dasar kesehatan, sehingga kasus tanpa indikasi rawat inap pun dirawat juga. Lihat saja laporan dari berbagai negara tingginya angka kematian akibat infeksi nosokomial di RS, karena pasien mendapatkan obat yang seharusnya tidak ia dapatkan, dan dipasang selang infus yang berpotensi iatrogenik memasukkan kuman langsung ke jalur peredaran darah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Teman saya mengomentari isi pikiran ini dengan: “makanya harus dilakukan audit medik. Selama tidak ada audit medik, kejadian seperti ini akan terus berlangsung”. Ya, tentu saja kawanku, dan nanti para konsumen kesehatan akan menguak dugaan-dugaan malpraktik lewat cara ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Daripada pusing memikirkan perselisihan dan saling tikam antar dokter (dengan maksud yang baik atau tidak, entahlah), saya mengajak seluruh konsumen kesehatan yang tidak memiliki latar belakang ilmu kesehatan untuk lebih peduli dan mau menggali informasi kesehatan lebih dalam. Jadilah pasien yang aktif, selalu kritis terhadap tindakan dokter. Sangat mudah saat ini mendapatkan informasi mengenai apa itu infeksi, kapan antibiotika harus diberikan, apa saja indikasi rawat inap, dan kapan saya harus ke dokter.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Dalam sebuah sesi ceramah, seorang peserta pernah bertanya pada saya, setelah saya memberikan kuliah mengenai apa itu layanan kesehatan terbaik: “Apakah Anda hanya ingin menjadi pahlawan kesiangan?”. Membeberkan semua cerita ini, mengeluhkan kondisi teman-teman sejawat, memposisikan diri mampu menjadi &lt;i style=""&gt;role model&lt;/i&gt; bagi konsumen, namun hanya sebatas ini saja?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Perjalanan masih panjang. Guru saya bilang, “It takes two to tango”. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=""&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;span style=""&gt; kemitraan yang baik antara dokter dan konsumen kesehatannya. Tentunya setelah konsumen mengetahui hak.. dan kewajibannya. Guru besar medikolegal juga berpesan agar para dokter spesialis tidak sekedar mengurusi hal-hal klinis saja, tapi ada yang terjun ke masyarakat membenahi masalah ini. Pastinya ada orang-orang seperti ini di berbagai pelosok negeri. Butuh napas panjang, perencanaan matang, semangat untuk tidak mudah berputus asa, dan tentu saja dukungan dari konsumen kesehatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-2619327478215535122?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/2619327478215535122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=2619327478215535122' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2619327478215535122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2619327478215535122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2008/01/perlukah-audit-medik.html' title='Perlukah Audit Medik?'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-5834748711754904698</id><published>2008-01-16T19:42:00.000-08:00</published><updated>2008-01-16T19:46:44.377-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puyer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='polifarmasi'/><title type='text'>Salahnya Puyer</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Terinspirasi dari laporan jaga harian pagi ini…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Kasus syok anafilaktik yang diduga akibat alergi obat. Anak umur 5 tahun. Sebelumnya pasien hanya sakit ringan, batuk pilek saja. Pergi ke dokter, diberi resep puyer, dan ditebus obatnya. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;lima&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; macam obat yang tercantum, termasuk dua jenis antibiotika tablet yang digerus dan dicampur ke dalam puyer. Dua jam setelah minum puyer, anak mulai lemas, hilang kesadaran, dan dibawa ke RS. Diagnosisnya syok anafilaktik. Pertanyaannya: obat mana yang menimbulkan reaksi alergi berat?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style=""&gt;Meneketehe&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;. Inilah dilema memberikan puyer. Terlepas dari masalah di atas, puyer tidak memiliki dasar ilmiah. Lihatlah ke semua negara lain, termasuk negara tetangga atau negara yang lebih miskin di belahan Afrika, tidak ada satupun yang memberikan obat dalam bentuk puyer. Bayangkan saja, beberapa jenis obat, digerus dalam satu wadah/&lt;i style=""&gt;lumpang&lt;/i&gt;, kemudian dikerok dengan kertas, dan dibagi-bagi ke beberapa lembaran kertas puyer dengan mata telanjang. Yakin bahwa tiap kertas puyer memiliki dosis miligram yang sama? Diberikan ke anak kecil pula (tentu saja, namanya juga puyer), yang dosisnya harus benar-benar akurat. Penyimpangan dosis sebesar sekian miligram dapat menimbulkan efek samping dan keracunan obat. Belum lagi potensi interaksi kimiawi/farmasetik antar obat yang dicampur dalam satu sediaan. Bisa jadi mengurangi potensi obat, sehingga pemberian obat tidak memberikan efek (lalu untuk apa diberi obat), atau menyebabkan potensi efek samping dan toksisitasnya meningkat. Yang timbul adalah penyakit baru gara-gara minum puyer. Kemudian lumpang yang belum bersih benar digunakan lagi untuk mencampur obat-obatan baru dari pasien lain. Logikanya adalah sangat mungkin tercampur dengan serbuk sisa obat-obatan sebelumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Penyakit apa sih memangnya yang harus diberi obat sedemikian banyak? Batuk-pilek akibat infeksi virus? &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; sembuh sendiri. Paling diberi parasetamol/asetaminofen kalau ada demam di atas 38,5 derajat selsius. Butuh antibiotika? &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; infeksi virus, bukan bakteri. Lalu obatnya apa? &lt;i style=""&gt;Wait and observe… until recovery&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;Kalau anak memang butuh obat, ya jangan minta puyer. Minta saja sirup dengan sendok/pipet takarnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-5834748711754904698?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/5834748711754904698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=5834748711754904698' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/5834748711754904698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/5834748711754904698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2008/01/salahnya-puyer.html' title='Salahnya Puyer'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-8509093222611403991</id><published>2007-11-13T06:04:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T06:07:01.534-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyeri pada anak'/><title type='text'>NYERI</title><content type='html'>Bagaimanakah nyeri dalam pandangan seorang anak? Pastinya sesuatu yang tidak menyenangkan bukan. Orang dewasa saja tidak mau merasakan nyeri, apalagi anak kecil. Sakit, tidak nyaman, takut, ingin segera melepaskan diri. Kurang-lebih inilah arti nyeri bagi semua makhluk hidup. Yakni ketika saraf-saraf nyeri yang tersebar di seluruh tubuh kita terangsang oleh stimulus, maka rangsang ini akan diteruskan melalui suatu jalur nyeri yang oleh otak direspon sebagai sesuatu yang harus dihindari. Lari. Melarikan diri dari rasa nyeri. Korteks adrenal akan melepaskan hormon adrenergik. Trying to survive. Escaping from pain..&lt;br /&gt;Masalah nyeri cukup menggangguku belakangan ini. Pasien-pasien anak yang menderita keganasan (kanker) sistem darah (hemopoetik), sebut saja leukemia, dengan gambaran hasil laboratorium darah yang hiperleukositosis (kadar sel darah putih yang tinggi, di atas 50000/mikroliter), harus mendapatkan pemantauan darah tepi lengkap dan analisis gas darah, sekurang-kurangnya sekali dalam tiap 24 jam. Sekurang-kurangnya. Artinya pemeriksaan bisa dilakukan lebih dari sekali sehari jika memang diperlukan. Hiperleukositosis pada pasien leukemia bisa menimbulkan kegawatan yang timbul mendadak sewaktu-waktu.&lt;br /&gt;Pengambilan darah tepi lengkap dan analisis gas darah pun dilakukan di dua tempat yang berbeda. Darah tepi lengkap menggunakan sampel darah vena yang relatif lebih mudah diambil, daripada analisis gas darah yang dialmbil dari sampel darah... arteri. Bukan ini saja, mengambil darah pada anak-anak juga tentunya lebih sukar daripada orang dewasa. Belum pada mereka yang gemuk sehingga lebih menyulitkan melihat pembuluh vena, dan mereka yang pembuluh darahnya kolaps akibat syok.&lt;br /&gt;Ambil contoh: anak batita berumur 2 tahun dengan leukemia limfositik akut, harus diperiksa darahnya tiap 12 jam, dengan satu kali pengambilan mendapatkan sekaligus darah arteri dan vena. Jika gagal, darah harus diambil di 2 tempat yang berbeda. Dalam 24 jam ia bisa mendapatkan empat kali tusukan jarum. Tiap bekas tusukan juga biasanya menimbulkan bengkak dan lebam yang bertahan berhari-hari kemudian. Jika disentuh, nyeri rasanya. Artinya tidak bisa mengambil darah di tempat yang sama pada kesempatan berikutnya. Semua lokasi tubuh mulai dari pergelangan tangan, lengan bawah, lipatan lengan, punggung kaki, selangkangan, bahkan kepala, berpotensi menjadi tempat tusukan. Dan perlu ditegaskan, semua ini demi kebaikan si pasien tentunya.&lt;br /&gt;Tapi apa arti semua ini bagi seorang anak kecil? Sakit. Sakit yang luar biasa.&lt;br /&gt;Mendengar derap langkah kaki dokter atau suster dari kejauhan, si anak mulai gelisah. Melihat wajah dokter atau perawat yang tampak menjulang tinggi di hadapannya, anak pun langsung menangis, merengek, rewel, memohon-mohon agar tidak ditusuk."Jangan Dok.. jangan disuntik. Nggak mau disuntik lagi. Sakit.. sakit!"Meski dokter sama sekali tidak bermaksud mengambil darahnya. Ia hanya ingin memeriksa rutin tekanan darah, frekuensi nadi dan napas, serta suhu badan. Tapi trauma mendalam yang telah terpancang dalam benak sang anak membuatnya ketakutan setengah mati.&lt;br /&gt;Wajar. Sangat wajar tentu saja. Ini tidak hanya berlaku bagi anak dengan keluhan seperti ini. Tapi semua anak yang harus dipasangi infus ketika menjalani perawatan di RS, anak yang infusnya lepas dan harus dipasang lagi, dan semua berkenaan dengan suntik-menyuntik anak.&lt;br /&gt;Seorang teman dokter yang anak balitanya pernah menjalani operasi di sebuah RS rujukan utama di Jakarta mengeluhkan perlakuan yang dialami anaknya ketika harus dibius. Si anak yang secara otomatis ketakutan meronta saat akan mendapatkan anestesi, harus dipegangi beberapa orang sekaligus, dibentak dan diancam supaya tidak bergerak, sehingga dapat dilakukan pembiusan. Wajar bukan jika si anak ketakutan? Teman saya ini pun sempat membandingkan dengan keadaan di RS Singapura, ketika membawa anaknya untuk pembedahan yang kedua kalinya (hasil operasi pertama kurang memuaskan). Ia benar-benar mendapatkan perlakuan yang berbeda di sini. Anak dibawa ke sebuah ruang yang sama sekali tidak akan membuatnya berpikir sedang berada di RS, dan pembiusan dengan mudah dilakukan tanpa perlawanan. Tidak heran banyak orang lebih senang berobat ke luar negeri.&lt;br /&gt;Saya pun bertanya-tanya, bagaimana seharusnya seorang dokter menangani rasa takut dan trauma yang timbul pada seorang anak yang sering berhadapan dengan prosedur medik. Kadang dokter yang berada di bawah tekanan pekerjaan, khususnya di RS pendidikan dengan pemantauan ketat dari dokter senior dan dokter konsultan yang tidak mau tahu, semua hasil pemeriksaan penunjang harus ada ketika dibutuhkan, padahal untuk mendapatkan hasil pemeriksaan laboratorium atau radiologi ini tidak mudah. Anak-anak seringkali memberontak, berteriak, dan melakukan tindakan yang membuat dokter atau perawat emosional juga, karena tidak kooperatif. Ya, tentu saja karena mereka tidak tahu. They're just kids!&lt;br /&gt;Hal ini saya alami juga ketika harus memberikan vaksinasi pada bayi dan anak-anak. Kadang anak-anak yang tertinggal beberapa imunisasinya, harus melakukan catch up, dan dalam satu kali kunjungan bisa mendapatkan sampai empat tusukan sekaligus! Imunisasi simultan lebih baik dibandingkan dengan anak harus datang tiap bulan untuk disuntik.&lt;br /&gt;I'm still learning how to handle with the pain and needle related-psychological trauma in children.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-8509093222611403991?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/8509093222611403991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=8509093222611403991' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/8509093222611403991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/8509093222611403991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/11/nyeri.html' title='NYERI'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-4788480900978787670</id><published>2007-10-22T18:51:00.000-07:00</published><updated>2007-10-22T18:55:00.990-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='andrea hirata'/><title type='text'>LASKAR PELANGI dan SANG PEMIMPI</title><content type='html'>Baru saja menyelesaikan membaca Sang Pemimpi, bagian kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. setelah menyelesaikan membaca jilid pertama Laskar Pelangi tentunya. Tak sengaja menemukan buku-buku ini di rumah sepupu istriku saat Ramadhan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some of the best books I've ever read. Banyak sekali bagian dari buku pertama yang ingin kuceritakan, yang mengandung banyak pelajaran hidup. Pendidikan: inilah kata kunci penulis yang menumpahkan kisah hidupnya di buku-buku ini. Memotivasiku untuk tidak menyesali pilihan telah mengambil pendidikan spesialisasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.friendster.com/profiles/arifianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs resmi Andrea Hirata: www.sastrabelitong.multiply.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-4788480900978787670?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/4788480900978787670/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=4788480900978787670' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/4788480900978787670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/4788480900978787670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/10/laskar-pelangi-dan-sang-pemimpi.html' title='LASKAR PELANGI dan SANG PEMIMPI'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-2953846158634716677</id><published>2007-09-10T03:22:00.000-07:00</published><updated>2007-09-12T01:03:32.007-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='time travel'/><title type='text'>Dapatkah Kita Melintasi Ruang dan Waktu (Time Travel)?</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Can We Travel Through Space and Time?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;'&lt;a href="http://www.nbc.com/Heroes/"&gt;HEROES&lt;/a&gt;' season one has just ended (TransTV broadcasted the series in Indonesia). One of the character, &lt;a href="http://www.heroestheseries.com/"&gt;Hiro Nakamura&lt;/a&gt;, has the ability to transport himself and the person he touches to different place and time. In other word, he can travel through space and time? Is this possible according to science?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In my childhood reading-and-watching experiences, I-like Hiro in the 'HEROES' series-was raised by Superman comics and movies, Star Trek TV series and movies, Star Wars (actually I watched the saga seriously in my college years), and other American-fantasy goodies. Then I had a big crush in physics, starting from my junior high study. At that time, I've dreamt that someday I would enroll to MIT and master physics. when I was in senior high school, I studied hard to pass the final exam and enter ITB. Though in real life now, I'm a medical doctor. I bought Stephen Hawking's "&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/A_Brief_History_of_Time"&gt;A Brief History of Time&lt;/a&gt;" in my first grade in senior high, and finished reading it in my third grade. I read quantum mechanics, relativity theory, and sort of things. Two years ago, my dear auntie brought me Brian Greene's "&lt;a href="http://drarifianto.multiply.com/reviews/item/5"&gt;The Fabric of the Cosmos&lt;/a&gt;" from Boston, after I read TIME Magazine that announced it as a recommended book for physics lover, then I asked my aunt to buy it for me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu bab, &lt;a href="http://superstringtheory.com/people/bgreene.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Brian Greene&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, ilmuwan teori adidawai (superstring theory), yang dikatakan sebagai satu kandidat terkuat teori yang akan menjadi "Theory of Everything" menyimpulkan bahwa teleportasi (teleport: istilah ini dikenalkan oleh Star Trek, ada yang sudah membaca "Fisika Star Trek"-nya Lawrence Krauss?) melintasi ruang dan waktu adalah hal yang mustahil (dikaitkan dengan fisika yang masih diakui sampai saat ini, hello Newton, hai Einstein). Pengarang buku legendaris '&lt;a href="http://www.pbs.org/wgbh/nova/elegant/greene.html"&gt;The Elegant Universe&lt;/a&gt;' (gw belum punya bukunya, ada ga ya di QB World, Aksara, Kinokuniya atau Times?) ini menjelaskan bahwa upaya men-teleportasi satu partikel sudah dapat dilakukan. Inipun bukan dalam konteks menghilangkan satu partikel, kemudian secara tiba-tiba memunculkannya di tempat lain (kaget deh ogut kalo tiba-tiba lihat si Hiro Nakamura pop up suddenly from nowhere), seperti impian Michael Crichton dalamTIMELINE. Tetapi di suatu tempat lain, sudah ada partikel yang disiapkan. Begitu disiapkan suatu partikel untuk diteleportasikan, partikel di tempat lain akan mengubah susunan proton-elektron-nya menjadi mirip, serupa dengan partikel yang 'diteleportasikan'. Jadi membuat fotokopi partikel, bukan memindahkan dan memunculkannya secara tiba-tiba di tempat lain. Biarlah DeLorean dalam "Back to The Future"-nya Steven Spielberg menjadi angan-angan saja (huhh, I really missed its trilogy).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mungkinkah seseorang kembali ke masa lalu, menemui pasangan pria-wanita yang kelak akan menikah dan menjadi orangtuanya, dan mencegah supaya mereka tidak menjadi menikah? Jawabannya adalah ketika seseorang melintasi waktu menuju masa lalu, ia akan masuk ke semesta lain (konsep parallel universe). Yaitu fotokopi/salinan persis sama dari alam semesta ini, menemui orang-orang yang sama. Ia bisa saja mencegah pernikahan orangtuanya, atau bahkan membunuh ayahnya sendiri sebelum dirinya dilahirkan. Namun jika ia kembali ke waktu asalnya (masa kini), ia tetap akan menemui keadaan yang tidak berubah. Karena dimensi masa lalu dan masa kini adalah semesta yang berbeda. Makanya film masa kecil di RCTI semacam Voyager, Quantum Leap, dll tidak pernah menunjukkan sejarah yang bisa diutak-atik.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan teori wormhole, yang katanya jika kita bisa mampu masuk ke dalam 'lubang cacing' di dalam blackhole, atau setidaknya mampu meniru membuat wormhole ini, kita bisa menembus ruang dan waktu? Professor Greene menjelaskannya secara gamblang di buku ini. Atau jika kita mampu bergerak 99,999999999% mendekati kecepatan cahaya, kita mampu memperlambat waktu? Ini benar secara teori Relativitas Umum-nya Einstein lho.. Hey, mendekati kecepatan cahaya saja hampir mustahil, apalagi melewati speed of light (bye, bye warp speed).Masih ada lagi tentang 'parallel universe' etc yang dijelaskan oleh Brian Greene dengan superstring-nya. Mau lihat film-film dokumenter yang diambil dari bukunya 'The Elegant Universe', dan dipandu sendiri oleh si pengarang? Semuanya bisa di-download gratis di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu saja sampai Doraemon membawakan 'Pintu Kemana Saja' yang keluar dari Kantong Ajaib-nya. Atau masuk ke mesin waktu di laci meja belajarnya Nobita. Saya pasti tidak akan berani masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yak, kembali ke kehidupan nyata. Belajar biostatistika supaya nanti bisa ngerjakan tesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://arifianto.2ya.com"&gt;Arifianto, MD&lt;/a&gt; (I still love physics)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-2953846158634716677?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/2953846158634716677/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=2953846158634716677' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2953846158634716677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/2953846158634716677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/09/dapatkah-kita-melintasi-ruang-dan-waktu.html' title='Dapatkah Kita Melintasi Ruang dan Waktu (Time Travel)?'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-5680920850363081026</id><published>2007-08-19T07:41:00.000-07:00</published><updated>2007-08-19T07:44:51.357-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pwqpizj'/><title type='text'>Iryu Team Medical Dragon (part two)</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_SPEOSl7F2Hw/RshXOAzCUnI/AAAAAAAAAAU/73amZvDBwUg/s1600-h/iryu7bh.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5100422476240933490" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_SPEOSl7F2Hw/RshXOAzCUnI/AAAAAAAAAAU/73amZvDBwUg/s320/iryu7bh.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“There are many patients under my care who have died. Patients who were be able to be saved if they weren’t at this university hospital. I don’t want patients to die unnecessarily anymore. I will change the university hospital”“That’s why you want to be a professor?”“You can’t change this rotten organization, unless you’re at the top of it. Just stating it’s dirty or rotten, won’t change anything”&lt;br /&gt;Demikianlah percakapan Akira Kato, wanita muda yang berambisi menjadi profesor bedah jantung.&lt;br /&gt;Yak, begitulah saudara-saudaraku sejawat dokter. Siapapun yang ingin mengubah suatu sistem, harus menjadi bagian di dalamnya (baca: jadi staf atau konsulen.. hehehe).&lt;br /&gt;Tak pelak, menonton Iryu Team Medical Dragon, memberikan gambaran banyak sekali kemiripan sistem kedokteran di Indonesia dengan Jepang. Khususnya dalam hal kultur feodalisme. Tapi jangan bahas dalam segi teknologi ya, pastinya Indonesia kalah jauh.&lt;br /&gt;Susunan alur ceritanya oke. Khas ‘dorama’ Jepang. ‘Manga’ based pula. Ilustrasi musiknya top. Sound dan special effect-nya tertata rapi. Belum penjelasan ilmiahnya yang gambling dan rasional, serta mudah dipahami awam. Pasti banyak yang pengen jadi dokter bedah setelah nonton filem ini. Ingat ya: jadi dokter niatnya cuma satu: nolong orang. Bukan untuk materi (uang). Film ini belum ada di TV Indonesia. Bisa di-download gratis dengan torrent. Sebelas episode.&lt;br /&gt;This TV series reminds me of my-surgeon-wanting-to-be (urologist, specially—but I can’t afford the living cost to fund during the residency education), or wish of being a cardiologist (not cardiac surgery, but I didn’t dare to face the qualification, and the fact now is… very few alumni of my almamater are accepted as the residents here). And it ends up being a pediatric resident. Why aren’t there any movies about pediatrics? Or maybe I’ll make one, if there’re producers offering me to make one, and targeting to reach the highest rating among the sinetrons. Hehehe.&lt;br /&gt;Enough for the bull shit about sinetrons.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-5680920850363081026?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/5680920850363081026/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=5680920850363081026' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/5680920850363081026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/5680920850363081026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/08/iryu-team-medical-dragon-part-two.html' title='Iryu Team Medical Dragon (part two)'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_SPEOSl7F2Hw/RshXOAzCUnI/AAAAAAAAAAU/73amZvDBwUg/s72-c/iryu7bh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-1800932421927876063</id><published>2007-08-19T07:33:00.000-07:00</published><updated>2007-08-19T07:40:43.583-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='iryu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='medical drama'/><title type='text'>Iryu Team Medical Dragon</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_SPEOSl7F2Hw/RshV9AzCUmI/AAAAAAAAAAM/Kr0uhJPViFo/s1600-h/iryu7bh.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5100421084671529570" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_SPEOSl7F2Hw/RshV9AzCUmI/AAAAAAAAAAM/Kr0uhJPViFo/s320/iryu7bh.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Why do I work at this hospital for?Everything right up to medical procedures is decided by the professor… Rather than patients, we are more eager in pleasing the professor… Rather than surgical procedures, we prescribe medicines from friendly pharmaceutical companies or senior doctors’ preferences. Is this really what it means to be a doctor?Actually I want to take chances…&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Ijyuuin-sensei, seorang residen di bagian Bedah Toraks sebuah RS fiktif dalam film serial TV “Iryu Team Medical Dragon” merenungi dirinya. Sebuah kondisi yang secara umum menggambarkan satu bagian kecil dari kehidupan dunia kedokteran di seluruh dunia. Indonesia pun termasuk salah satu bagiannya.&lt;br /&gt;Film ini menceritakan dua karakter utama. Karakter pertama adalah seorang dokter bedah yang ”surgeon-born-to-be” namun sangat idealis dengan keadaan yang secara bertolak belakang dengan keinginannya (kurang-lebih digambarkan dalam paragraph awal tulisan ini), sehingga ia dikucilkan dari pergaulan profesinya, dan memutuskan untuk berhenti dari profesinya.Karakter kedua adalah seorang asisten profesor bedah toraks wanita yang sangat berambisius menjadi profesor, sehingga merekrut si karakter pertama untuk melakukan prosedur bedah ”BATISTA” yang sangat fenomenal dalam dunia bedah jantung, dan bila prosedur ini berhasil dilakukan di bawah bimbingannya, ia akan dipastikan menjadi profesor.&lt;br /&gt;Film ini menonjolkan dunia kedokteran Jepang yang feodal. Kata-kata dan keinginan seorang profesor tidak bisa dibantah oleh juniornya, meskipun hal itu tidak tepat secara medis, atau berpotensi membahayakan nyawa pasien. Sehingga salah satu pesan film drama terbaik Jepang ini adalah: utamakan pasien.&lt;br /&gt;Surgical skill level doesn’t matter.. it’s just an “awaiting-death” patientTo not affect insurance rating, doctors still have to treat hopeless patients. Even if no treatment to avoid the increase of hospital’s death toll, the patient is transferred here to the patient’s family, dying in a well-equipped hospital, they will accept it more easily. In other words, this is a patient whose life does not matter. As long we follow standard procedure, the outcome of operation is unimportant.&lt;br /&gt;Kalimat-kalimat di atas juga sedikit-banyak menggambarkan dunia kedokteran yang ternyata tidak banyak berbeda di semua negara di dunia. Yakni RS rujukan nasional identik dengan kasus-kasus “berat”, dan seringkali dokter langsung menyimpulkan “pasien ini sudah sukar untuk dikembalikan ke keadaan awalnya”. Dokter menjadi agak putus asa, dan kadang kurang optimal bertindak untuk keberhasilan tindakan mediknya. Apalagi di negara kita yang tidak mengenal asuransi kesehatan untuk semua. No money, no cure. Tidak ada uang, tidak ada kesembuhan.&lt;br /&gt;Sebuah film drama yang menjadi otokrotik bagi seluruh dokter yang konsisten dalam menjalankan profesinya. Lengkap dengan bumbu humor khas Jepang, karakter-karakter menarik para dokternya, dan penjelasan ilmiah secara sistematis terhadap semua kasus bedah yang disajikan. Episode pertama menampilkan tindakan bedah terhadap tamponade jantung dengan cara menyedot darah yang memenuhi rongga perikardium, namun tidak mencari penyebab sumber perdarahannya. Sehingga jantung pasien pun berhenti berdenyut. Dokter dengan santainya menyatakan “operasi berhasil, namun nyawa pasien tidak berhasil kita selamatkan”. Karena sejak awal operator bedah, seperti kasus-kasus yang biasa ia hadapi, menganggap ini adalah kasus “awaiting-death”. Karakter utama film ini turun tangan mencari sumber perdarahan, menekannya sehingga perdarahan berhenti, dan melakukan kompresi jantung sampai aktivitas listrik muncul dan jantung kembali berdenyut spontan. Nyawa pasien pun terselamatkan.&lt;br /&gt;Skenario yang sangat baik di episode perdana serial ini. Dilanjutkan dengan kasus pneumotoraks yang ditangani dengan menusukkan patahan bolpoint ke sela iga pasien menembus ruang pleura.&lt;br /&gt;The movie that reminds my wish to be a surgeon. But now I’m already starting to prepare my pediatric residentship, and I should be a pediatrician someday.&lt;br /&gt;Maybe I’ll write my stories during my “life as a pediatric-resident”, and a biography-based book will be published someday.&lt;br /&gt;Cheers…&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-1800932421927876063?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/1800932421927876063/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=1800932421927876063' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/1800932421927876063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/1800932421927876063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/08/iryu-team-medical-dragon.html' title='Iryu Team Medical Dragon'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_SPEOSl7F2Hw/RshV9AzCUmI/AAAAAAAAAAM/Kr0uhJPViFo/s72-c/iryu7bh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-4752116443300580704</id><published>2007-06-15T00:59:00.000-07:00</published><updated>2007-06-15T01:01:28.859-07:00</updated><title type='text'>Kalau Anak Diare, Boleh Tidak Dikasih Antibiotika dan Antidiare?</title><content type='html'>Pertama, kita harus tahu dulu apa definisi diare. Diare atau gastroenteritis akut adalah buang air besar lebih dari tiga kali dalam 24 jam, dan konsistensi tinja lebih lembek atau berair. Tapi ada juga lho orang yang punya kebiasaan sehari BAB sampai 4x, tapi tidak lembek/cair. Ini juga tidak termasuk diare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, secara umum diare dibagi dua: diare akut dan diare kronik. Diare akut berlangsung di bawah 14 hari, sedangkan diare kronik lebih dari 14 hari. Ada juga istilah diare persisten, yang hampir mirip dengan diare kronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, anak diare biasanya disertai mual-muntah. Ini adalah hal yang umum terjadi, dan tidak butuh penanganan khusus. Artinya tidak butuh obat mual-muntah. Saya jelaskan di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, yang kita bahas di sini adalah diare akut tanpa penyulit. Artinya bukan disentri (diare disertai darah), diare kronik/persisten, atau diare dengan dehidrasi berat (di sini saya tidak menjelaskan macam-macam kategori dehidrasi, bisa ditemui di banyak sumber di internet).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SATU HAL PENTING: diare sebenarnya adalah mekanisme pertahanan tubuh juga. Kok bisa? Ya, diare membuang semua virus dan bakteri yang mengganggu sistem pencernaan kita. Begitu juga dengan muntah. Makanya kalau penyakitnya belum keluar semua, kemudian diare di-STOP, atau muntah di-STOP, bisa-bisa si kuman muter-muter aja di saluran cerna, berkembang biak lebih banyak, dan bisa mengakibatkan penyakit bertambah berat. PRINSIPNYA: cegah dehidrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau anak diare, khususnya bayi dan balita, biasanya orangtua panik. Apalagi kalau disertai mual-muntah. Langsung deh pada hari itu, hari pertama-kedua diare, si anak dibawa ke dokter. Jreeenngg... apakah yang dokter berikan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORALIT! Yak, inilah obat utama dan andalan untuk semua diare. Jadi jangan lupa, kalau anak diare: minum ORALIT. Inipun tidak perlu pergi ke dokter, karena oralit bisa dibeli secara bebas. Prinsipnya adalah anak harus banyak minum dan makan, jika oralit belum/tidak tersedia. Minum apa saja boleh... termasuk susu. Lho, kok susu? Ya iya dong, kan diarenya bukan karena susu (intoleransi laktosa). Jadi nggak perlu susunya diganti susu LLM (low lactose milk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus bagaimana dengan antibiotika? Pada anak, diare sebagian besar disebabkan oleh Rotavirus, yang akan sembuh dengan sendirinya, antara 2 sampai 7 hari. Jadi ya... didiamkan saja anaknya. Kok tega banget sih anak mencret-muntah didiamkan aja, nggak dikasih obat? Nggak dikasih antibiotika? Ya iya dong, dikasih antibiotika malah bisa memperparah diare. Berhubung tidak ada bakteri jahat yang harus dibunuh (kan akibat virus, bukan bakteri), jadinya si antibiotika membunuh bakteri baik. Makanya ada yang namanya antibiotic-associated-diarrhea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antibiotika hanya diberikan pada disentri, kolera dengan dehidrasi BERAT, dan penyakit lain seperti pneumonia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus... kalau antidiare dan antimuntah? Hmmm.... saya tidak akan menyebut merek dagangnya. Tapi menyebut isinya saja (coba Ibu-ibu, Bapak-bapak, dilihat obat mencret-muntah anaknya isinya apa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang istilahnya adsorben, macamnya: kaolin-pektin, attapulgite, smectite, karbon, dan kolestiramin. Obat-obat ini digunakan karena mampu mengikat dan menonaktifkan racun (toksin) bakteri atau bahan kimia lainnya yang menyebabkan diare, dan kemampuannya untuk "melindungi" mukosa usus halus. Penelitian tidak menunjukkan kegunaan obat jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat antimuntah seperti chlorpromazine, metoclopramide, dan domperidone malah dapat menimbulkan efek mengantuk, gangguan keseimbangan, dan berinteraksi secara kimiawi dengan oralit. Muntah akan berhenti dengan sendirinya jika diare hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat antimotilitas, misalnya: loperamide, hyoscine, dll diberikan untuk mengurangi gerakan usus, sehingga tinja tidak cair, dan diare mereda. Padahal ini dapat menyebabkan ileus paralitik (usus berhenti bergerak/berkontraksi sama sekali), dan berakibat mengancam nyawa (kematian). Penyakit pun tidak bisa dikeluarkan jika usus tidak mau mengeluarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa obat lain yang saya dapati dalam survei yang saya lakukan: ada nifuroxazide (antibiotika), ini juga tidak perlu, dan ada juga antijamur. Padahal diare yang timbul akibat jamur hanya pada anak dengan gangguan sistem daya tahan tubuh (HIV/AIDS, lupus, kanker, terapi steroid jangka panjang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah cukup paham Bapak dan Ibu? Anak mencret dan muntah: jangan panik dulu, pikirkan penyebabnya  (kebanyakan makan sambel kali...), amati anaknya: ada dehidrasi/tidak. Masih mau minum kan? Nggak terlalu lemes kan? Mau makan walau sedikit tapi sering kan? Masih ada pipisnya kan? Masih mau netek kan? Berarti sekedar diare akut. Delapan puluh persen akan sembuh sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: The Treatment of Diarrhoea, a manual for physicians and other senior health workers, WHO 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-4752116443300580704?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/4752116443300580704/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=4752116443300580704' title='26 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/4752116443300580704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/4752116443300580704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/06/kalau-anak-diare-boleh-tidak-dikasih.html' title='Kalau Anak Diare, Boleh Tidak Dikasih Antibiotika dan Antidiare?'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-3778927579289056045</id><published>2007-06-13T22:41:00.000-07:00</published><updated>2007-06-13T23:02:01.531-07:00</updated><title type='text'>Kalo Berobat ke Dokter Pulangnya Pasti Bawa Obat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-size:130%;" &gt;Each visit to doctor ends with prescriptions&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sakit, trus kita berobat ke dokter, pulangnya harus bawa obat, atau minimal dikasih resep. Iya nggak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya iya dong. Masak udah jauh-jauh datang ke dokter, keluar ongkos, waktu kepake, keluar dari ruang dokter nggak dikasih obat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya kita demam dari semalam, badan panas dingin, menggigil, nggak masuk kerja hari ini, udah minum parasetamol sih, ada stoknya di rumah, trus sorenya berobat ke dokter. Setelah diperiksa, dokternya bilang: ini demam baru hari kedua, tidak ada tanda-tanda penyakit spesifik lain, paling mungkin ini infeksi virus aja. Sudah ada obat penurun demam di rumah kan ya? Pake itu aja. Saya nggak ngasih obat lagi. Nggak perlu antibiotika dll. Minum air yang banyak, kompres pake air hangat supaya demamnya turun, kita observasi sampai lusa. OKeh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah deh, gitu aja, dokternya nggak ngasih obat. Cuma kasih nasehat aja. Padahal ongkos konsultasinya aja Rp 50 rebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal saudara-saudara, tidak semua kunjungan ke dokter harus berakhir dengan dikasih resep. Kalau cuma sakit demam baru tiga hari, batuk-pilek, mencret alias diare, ini mah kaga perlu obat. Istirahat aja dulu, minum yang banyak. Kalo diare nggak perlu minum obat macam-macam antidiare-antibiotika (diare baru 1-2 hari tanpa darah, dan warna tinja biasa aja). Minum aja oralit. Ini kan juga nggak perlu ke dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jangan ngambek ya kalau dokternya nggak kasih resep obat, cuma kasih nasihat aja. Pemberian obat yang tidak sesuai indikasi justru meningkatkan risiko efek samping, dan interaksi obat kalau obatnya lebih dari dua macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kan ente-ente pade punya akses internet, silakan browsing dulu di internet kira-kira ini masuk kategori sakit apa. Perlu ke dokter nggak, atau perlu obat nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat dokter itu obat juga lho. Makanya konsultasinya aja dihargai mahal. Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;kalo yg mau kasih komen, berhubung shoutbox-nya lagi error, ke &lt;a href="http://drarifianto.multiply.com"&gt;http://drarifianto.multiply.com&lt;/a&gt; aja isi shoutbox di situ&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;apin lagi nulis dikit, dikejar menyelesaikan penelitian sebelum mulai kuliah PPDS&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-3778927579289056045?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/3778927579289056045/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=3778927579289056045' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/3778927579289056045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/3778927579289056045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/06/kalo-berobat-ke-dokter-pulangnya-pasti.html' title='Kalo Berobat ke Dokter Pulangnya Pasti Bawa Obat'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-6644201480849985428</id><published>2007-03-23T00:23:00.000-07:00</published><updated>2007-03-23T00:29:09.986-07:00</updated><title type='text'>Layanan Kesehatan Mahal dan Tidak Berkualitas</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berapa jumlah uang yang harus Anda keluarkan dalam satu kali kunjungan ke dokter spesialis di Jakarta dan sekitarnya&lt;/span&gt;? Mungkin tergantung spesialisasi dokternya. Kita ambil spesialisasi anak. Berdasarkan pengamatan saya memantau klaim resep di lebih dari satu perusahaan, tarif konsultasi dokter spesialis anak (DSA) antara Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu. Ada sebagian kecil yang mencapai Rp 300 ribu untuk konsultasi saja. Belum termasuk resepnya. Total sekali berobat, biaya yang harus dikeluarkan untuk anak kita yang hanya sakit batuk-pilek-demam mencapai Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu. Padahal mungkin obatnya hanya puyer dua macam, ditambah sirup dua macam juga (satunya antibiotika, satunya lagi vitamin-penambah nafsu makan dan semacamnya—yang sebenarnya dua-duanya tidak perlu diberikan sama sekali). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bayangkan saja yang berobat adalah karyawan Anda yang berprofesi sebagai sopir taksi&lt;/span&gt;, dengan penghasilan per hari antara Rp 15 – 30 ribu rupiah, dikali 20 hari kerja, dengan plafon maksimal penggantian rawat jalan untuk anak sebesar Rp 750 ribu per tahun. Hasilnya? Dua sampai tiga kali berobat, Anda tidak akan mendapatkan penggantian untuk anak yang sakit. Jadi boleh sakit, maksimal tiga kali setahun. Tidak boleh masuk rawat inap!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana pelayanan yang Anda dapatkan dengan mengeluarkan biaya sebanyak itu?&lt;/span&gt; Dokternya tidak menjelaskan anak Anda sakit apa (karena ketika saya tanya: “Pak, kemarin dokternya bilang anaknya sakit apa?”, dia hanya menggelengkan kepala), plus memberikan obat yang kalau ditelusuri resepnya berisi empat sampai delapan jenis obat, untuk anak Anda yang baru berumur dua tahun! Maukah Anda minum 10 macam obat tiga kali sehari? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Anak muntah? Anda pun bisa jadi muntah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Atau begini. Anda punya dokter langganan dekat rumah yang biaya berobatnya murah-meriah. Sekali berobat batuk-pilek, dengan Rp 40 sampai Rp 70 ribu, dapat obat juga. Tambahan lagi: cocok! Dua tiga hari, anak Anda sembuh. Dokternya pun ramah dan sabar. Tapi ketika saya telusuri apa isi resepnya: obat penurun panas yang tidak boleh diberikan pada anak di bawah 12 tahun, antibiotika yang sangat dibatasi penggunaannya karena dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan tulang panjang, dan obat maag-muntah yang sama sekali tidak perlu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dokternya oke, tapi isi resepnya tidak oke&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kemarin seorang sejawat yang sudah belasan tahun bergerak di dunia asuransi kesehatan mengeluh, bahwa rumah sakit cenderung menaikkan biaya pengobatan jika mengetahui konsumennya diasuransikan. Toh diganti asuransi. Ketar-ketirlah perusahaan asuransi, berpikir bagaimana supaya biaya penggantian pengobatan ditekan serendah mungkin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hari ini sejawat lain curhat. Rumah sakit tempatnya bekerja meminta seluruh dokter yang berpraktik melayani minimal 40 pasien. Padahal teman saya ini sengaja membatasi jumlah psien, agar setiap pasien mendapatkan konsultasi memuaskan. Bayangkan saja: dua jam untuk 40 pasien!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Beberapa waktu lalu saya menghadari simposium besar di jantung kota, dihadiri ratusan dokter dari berbagai penjuru, di sebuah hotel mewah. Pembicaranya tidak sedikit yang guru besar, profesor, dan konsultan sub super spesialis. Puluhan perusahaan farmasi menjajakan produknya pada dokter calon &lt;span style="font-style: italic;"&gt;marketer&lt;/span&gt; (pemasar) handal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seorang guru besar berbicara: dalam penelitian ini, penggunaan probiotik terbukti mampu mengurangi lamanya diare, ditambah juga mampu merangsang sistem daya tahan tubuh! Kesimpulan: probiotik diberikan pada diare?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Seorang konsulen muda tidak kalah juga: pemberian probiotik terbukti mempercepat penyembuhan pada diare akibat pemberian antibiotika. Kesimpulan: berikan probiotik pada pasien Anda? Atau mending jangan berikan antibiotika jika tidak pada tempatnya, sehingga tidak akan diare?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Lainnya sub spesialis yang saya bingung menangkap kesimpulan dari ceramahnya: pada anak, probiotik juga terbukti mengurangi lamanya sakit diare.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Semuanya menggunakan data-data penelitian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang saya pertanyakan: sahih-kah penelitiannya? Apakah penelitian itu berdasarkan &lt;i&gt;evidence based&lt;/i&gt;? Atau hanya satu-dua penelitian tunggal dengan sampel populasi terbatas? Bagaimana dengan penelitian di Indonesia?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Ratusan dokter hampir dipastikan akan mengikuti apa yang menjadi kesimpulan para pembicara. Nyatakan dengan tegas: probiotik diberikan atau tidak pada diare? Karena &lt;a href="http://www.who.int/"&gt;WHO&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.aap.org/"&gt;AAP&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.aafp.org/"&gt;AAFP&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.cdc.gov/"&gt;CDC&lt;/a&gt; tidak menyatakan perlunya pemberian bahan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Itu hanya satu contoh. Saya tidak membahas spesifik masalah probiotik di sini. Belum lagi jenis golongan antihipertensi apa yang akan dokter resepkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Pada hari kedua, sambil berjalan menuju ruang seminar, seorang pegawai dari perusahaan farmasi menghampiri saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Dok, sudah pernah pakai produk kami?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Belum.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Dokter praktik di RS mana?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Saya buka praktik di rumah.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“Ooo, di rumah ya. &lt;i&gt;Dispensing&lt;/i&gt; (menjual obat) tidak?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;“???”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kapankah konsumen kesehatan Indonesia mendapatkan layanan kesehatan murah dan berkualitas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Have a nice weekend.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;Arifianto, Maret 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-6644201480849985428?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/6644201480849985428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=6644201480849985428' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/6644201480849985428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/6644201480849985428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/03/layanan-kesehatan-mahal-dan-tidak.html' title='Layanan Kesehatan Mahal dan Tidak Berkualitas'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-1018770469143452423</id><published>2007-03-01T00:23:00.000-08:00</published><updated>2007-03-01T01:04:11.661-08:00</updated><title type='text'>Dok, Imunisasinya Entar Aja ya!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Dok, anak saya lagi batuk-pilek. Imunisasi campaknya entar aja ya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Anak saya baru 6 bulan. Sekarang kan harus imunisasi campak. Berarti nanti umur 9 bulan imunisasi campak lagi, tidak?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Oeeekk... oeeekk.."&lt;br /&gt;"Aduh, jangan dorong-dorong dong. Nanti jatuh nih!"&lt;br /&gt;"Pak, saya udah nunggu dari tadi.. kok nggak dipanggil sih?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah lintasan kalimat-kalimat yang berseliweran di Posyandu RT-ku, saat pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Campak (Crash Program), Polio, dan Pemberian Vitamin A bagi bayi dan balita. Sejak 20 Februari hingga 20 Maret nanti, Departemen Kesehatan mencanangkan program wajib imunisasi terhadap kedua penyakit di atas bagi seluruh anak usia 0 sampai 59 bulan di seantero Pulau Jawa. Tidak luput juga di daerah tempat tinggalku di bilangan Kramat Jati, Jakarta Timur. Bersama ibu-ibu kader Posyandu dan seorang bidan swasta, aku dan istri ikut terlibat dalam memberikan suntikan vaksin campak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbayang ya bagaimana kondisi Posyandu kami hari Selasa lalu dari ilustrasi kalimat-kalimat di atas. Lebih dari 400 balita datang pada hari itu, selama lebih dari 4 jam pelaksanaan PIN. Posyandu yang mengambil tempat di rumah Bapak Ketua RT itu penuh sesak dengan ibu-ibu yang menggendong dan menggandeng anak-anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih gunanya vaksinasi campak?&lt;br /&gt;Penyakit campak atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;measles&lt;/span&gt; dalam bahasa Inggris, disebabkan oleh virus Rubeola yang masuk ke dalam tubuh (bedakan dengan Rubella atau campak Jerman). Tandanya berupa bintik-bintik kemerahan seluruh tubuh yang menonjol, khasnya dimulai dari belakang telinga. Seringkali disalahartikan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tampek&lt;/span&gt; yang terminologinya mengarah pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Roseola&lt;/span&gt;, atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;rash&lt;/span&gt; (kemerahan) 'biang keringat' (miliaria). Adanya gejala tambahan seperti demam, pembesaran kelenjar getah bening belakang telinga,  bercak putih di bagian dalam pipi dan lidah, bila berkomplikasi dapat menimbulkan penyakit serius seperti pneumonia (radang jaringan paru), diare berat, sampai radang selaput otak, yang semuanya berpotensi menyebabkan kematian. Departemen Kesehatan dalam situsnya menjelaskan dalam setiap tahunnya tercatat 777 ribu kematian akibat campak di seluruh dunia, dengan 15%-nya 'disumbangkan' oleh Indonesia. Imunisasi tambahan (crash program) di luar imunisasi rutin (usia 9 bulan) dapat menurunkan angka kematian hingga 48%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana kalau anak sedang sakit batuk-pilek, boleh diimunisasi campak, tidak?&lt;br /&gt;Batuk-pilek bukanlah kontra indikasi imunisasi, baik campak, maupun imunisasi-imunisasi lain pada umumnya, sekalipun imunisasi DPT yang menimbulkan demam. Hal ini masih banyak disalahpahami oleh petugas kesehatan sekalpiun, termasuk dokter, bidan, dan dokter spesialis anak yang tidak berani memberikan vaksinasi/imunisasi jika seorang anak sedang batuk-pilek. Padahal keadaan seperti demam ringan, diare tanpa dehidrasi, dan riwayat kejang demam sekalipun bukan kontra indikasi imunisasi. Yang tidak boleh diimunisasi adalah demam lebih dari 40-41 derajat selsius, anak dengan kondisi daya tahan tubuh terganggu (HIV-AIDS, kanker/keganasan), dan alergi terhadap zat yang terdapat dalam vaksin (sangat jarang sekali).&lt;br /&gt;Jadi... apa alasan untuk menunda imunisasi jika sekedar sakit ringan? Padahal kerugian akibat imunisasi terlambat dan tidak tepat waktu (kalau setiap bulan kena batuk-pilek, apalagi cuaca seperti ini, kapan diimunisasinya?) jauh lebih berat. Lihat saja dampak campak pada balita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana jika jarak vaksinasi terlalu dekat? Misalnya sekarang usia 8 atau 10 bulan ikutan PIN Campak, padahal umur 9 bulan dapat juga di Posyandu (di Jakarta umumnya tiap tanggal 27 setiap bulannya). Measles vaccine adalah virus campak yang dilemahkan. Artinya mengandung virus hidup. Secara garis besar, ada dua jenis vaksin: mengandung kuman mati (misalnya DPT, Hepatitis B) dan mengandung kuman hidup (BCG, Campak, Polio, Varisela/cacar air). Keterangan lengkapnya tidak dijelaskan pada tulisan ini. Center for Disease Control (CDC) Amerika Serikat memberikan keterangan jarak antar pemberian vaksin 'hidup' sekurang-kurangnya 4 minggu. O ya, jangan lupa, prinsip dasar vaksinasi/imunisasi adalah memberikan antigen (kuman) untuk merangsang antibodi (daya tahan tubuh). Lengkapnya tidak dijelaskan di sini (mungkin bisa lewat ceramah tatap muka ya? Hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya adalah: pemberian vaksin campak yang berdekatan minimal 4 minggu, dianggap sebagai booster (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;penguat&lt;/span&gt;) dosis kekebalan tubuh yang sudah ada sebelumnya. Namun untuk kondisi pemberian vaksin campak yang terkandung dalam 'paket' MMR (measles mumps rubella) umur 12-18 bulan, jarak untuk mendapatkan campak sesudahnya (via PIN Campak) minimal 6 bulan. Makanya dalam form isian campak yang kami isi kemarin, ada pernyataan: kapan terakhir mendapatkan imunisasi campak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan tidak bingung dan dapat dipahami oleh petugas kesehatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sekilas saja tentang campak. Berada di tengah-tengah kerumunan ibu-ibu dan anak-anak yang tidak mengantri dengan tertib, kesulitan menjaga posisi jarum yang ditarik oleh lengan si anak ketika merasa kesakitan.... oaaa... menangislah mereka, sehingga tetesan polio dan vitamin A mudah masuk. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak kapok deh melayani suntik campak. Enam bulan lalu di pedalaman kelapa sawit nun jauh di Muaro Jambi sana, dan kini di tengah-tengah kepungan busway ibukota.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-1018770469143452423?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/1018770469143452423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=1018770469143452423' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/1018770469143452423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/1018770469143452423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/03/dok-imunisasinya-entar-aja-ya.html' title='Dok, Imunisasinya Entar Aja ya!'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-1441616237340969451</id><published>2007-02-23T20:44:00.000-08:00</published><updated>2007-02-23T20:51:26.256-08:00</updated><title type='text'>Here... Back to Jakarta!</title><content type='html'>Kembali ke Jakarta, menjalani kehidupan penuh rutinitas kerja, menambah ilmu-ilmu dan pengalaman baru, melanjutkan hidup sebagai seorang profesional, berhadapan dengan pasien (baca: klien kesehatan), memberikan ceramah di berbagai kota, mengisi acara talkshow kesehatan di sebuah radio, mengerjakan sebuah penelitian, de el el de el el.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara... Anda bisa mengikuti topik-topik kesehatan yang kami sampaikan secara bergantian dengan beberapa dokter lainnya, di Radio Utan Kayu 89,2 FM, tiap Sabtu jam 7.30 - 8.30, dalam rubrik "Keluarga SEHAT".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan... jangan lupa: SUKESKAN PIN CAMPAK, POLIO, dan pemberian VITAMIN A bagi bayi, balita, dan anak usia sekolah, selama 20 Februari - 20 Maret 2007 di seantero DKI, Jabar, Jateng, Jatim. Sampai ketemu di Posyandu kami tanggal 27 Feb 07: RT 3 RW 1. (kelurahan mana kecamatan mana hayoo??) :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-1441616237340969451?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/1441616237340969451/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=1441616237340969451' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/1441616237340969451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/1441616237340969451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/02/here-back-to-jakarta.html' title='Here... Back to Jakarta!'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-7788286048207445942</id><published>2007-02-23T20:40:00.000-08:00</published><updated>2007-02-23T20:44:28.580-08:00</updated><title type='text'>The End of A Journey (Jambi part Two)</title><content type='html'>Sebenarnya sudah kembali ke Jakarta sejak akhir Oktober lalu. Menyelesaikan tepat enam bulan masa bakti di Puskesmas di pelosok kabupaten Muaro Jambi, bersama istri tercinta. Banyak sekali cerita dan pengalaman yang bisa diambil pelajarannya. ..... (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-7788286048207445942?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/7788286048207445942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=7788286048207445942' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/7788286048207445942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/7788286048207445942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2007/02/end-of-journey-jambi-part-two.html' title='The End of A Journey (Jambi part Two)'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-114792232475642439</id><published>2006-05-17T20:11:00.000-07:00</published><updated>2006-05-17T20:33:30.766-07:00</updated><title type='text'>The Beginning of A Journey (Jambi part One)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/1600/Image%28227%29.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/320/Image%28227%29.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/1600/DSC00200.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/320/DSC00200.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah hampir sebulan tidak menulis di sini, akhirnya ada kesempatan juga. Ceritanya kami sedang mampir sebentar ke Jakarta, setelah mengikuti pelatihan satu minggu di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) prop. Jambi, untuk dokter dan dokter gigi PTT angkatan 41 dan 35, yang memilih propinsi Jambi untuk lokasi PTT-nya. FYI, PTT atau pegawai tidak tetap adalah program pemerintah (dalam hal ini dilaksanak oleh Depkes) untuk semua dokter dan dokter gigi Indonesia yang ingin mendapatkan surat ijin praktik (SIP), sejak tahun 1991. Sebelumnya namanya Inpres atau WKS (wajib kerja sarjana). Bisa dikatakan inilah masa bakti wajib bagi dokter/dokter gigi. Dan pelaksanaannya bisa ditunda, misalnya ketika seorang dokter/gigi ingin mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) langsung setelah jadi dokter. FYI lagi, lebih dari 30 persen teman seangkatanku di FKUI sudah menjadi peserta PPDS. Aku masih harus banyak menabung untuk bisa melanjutkan spesialisasi &lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/smile.png" /&gt; Ada yang mau jadi sponsor biaya untukku? Hehehe &lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/shade.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkatnya, sepuluh hari setelah melaksanakan pernikahan, aku dan istri segera meluncur ke Kota Jambi untuk menjalankan tugas sebagai dokter/dokter gigi PTT Pusat. Selama seminggu, 32 orang dokter/dokter gigi mengikuti pelatihan pra PTT yang diadakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Propinsi Jambi, untuk kemudian disebar ke sepuluh kabupaten/kota di propinsi Jambi, mulai dari Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Bungo, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Sarolangun, Batanghari, Kerinci, Merangin, dan Tebo. Silakan lihat peta untuk detil lengkapnya. Aku sendiri dan istri memilih dan ditempatkan di Kabupaten Muaro Jambi bersama tujuh orang dokter lainnya, dari berbagai almamater seperti UNISSULA Semarang, UNAIR Surabaya, UNAND Padang, UNSRI Palembang, UMY Yogyakarta, USAKTI Jakarta, dan YARSI Jakarta. Sebelum melaksanakan tugas di Puskesmas yang harus ditempuh menggunakan kendaraan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;offroad&lt;/span&gt; 4 WD (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kebayang&lt;/span&gt; kan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gimana&lt;/span&gt; akses menuju lokasi Puskesmas-nya? Hehehe), kami pulang sebentar ke Jakarta mengambil beberapa barang yang tertinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okeh, sekian untuk saat ini. Siap-siap untuk menjalankan tugas di Puskesmas yang relatif sepi pengunjung (karena memang terletak di daerah terpencil di Kabupaten Muaro Jambi), selama enam bulan ini tidak ada dokter/dokter giginya (penduduk sekitar berobat ke mantri/perawat yang menjabat sebagai kepala Puskesmas, dan kebetulan istrinya pun seorang bidan), mempersiapkan segala program preventif dan promotif (Puskesmas dibentuk bukan untuk kuratif/pengobatan semata, tetapi lebih pada aspek pencegahan penyakit dan penyuluhan hidup sehat), berpetualang menjelajah daerah-daerah yang terletak agak ke pedalaman dengan dikelilingi hutan kelapa sawit, memancing di pinggiran sungai Batanghari, mengemudi ambulans Puskesmas Keliling (Pusling) melewati jalan rusak dengan lobang mencapai 30 cm, dan tenang hidup berumah tangga alias cuci-masak-membersihkan rumah sendiri sebagai pasangan suami istri yang baru belajar. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum kebayang kapan bisa online lagi dan kirim tulisan ke MP. Mohon doanya &lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/teeth.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dr Arifianto&lt;br /&gt;drg Ratna Sari&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-114792232475642439?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/114792232475642439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=114792232475642439' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114792232475642439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114792232475642439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/05/beginning-of-journey-jambi-part-one.html' title='The Beginning of A Journey (Jambi part One)'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-114498810667731152</id><published>2006-04-13T20:45:00.000-07:00</published><updated>2006-04-13T21:15:22.270-07:00</updated><title type='text'>Perlukah Suplementasi AA/DHA dalam Susu Formula? (Iklan Produk Kesehatan yang Menyesatkan part 2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/1600/babybottle.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/320/babybottle.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Mohon maaf kalau tulisan ini jadinya seperti artikel semi ilmiah. Hanya berusaha menyumbangkan sedikit informasi yang saya punya sebelum meninggalkan Jakarta menuju lokasi tanpa koneksi internet sama sekali (listrik dan telepon saja belum tahu ada/tidaknya).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Maraknya iklan susu formula di mana-mana: TV, majalah, koran mendorongku menelusuri lebih lanjut, perlukah suplementasi AA/DHA dalam susu formula. Tujuan tulisan ini adalah menekankan &lt;b&gt;tidak ada yang mampu menggantikan ASI dalam enam bulan pertama kehidupan bayi&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Susu formula dibuat dengan berusaha meniru semirip mungkin kandungan yang ada dalam ASI, untuk memenuhi segala kebutuhan nutrisi bayi: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Sebagian besar formula ini diambil dari susu sapi, yang dinilai kandungannya hampir menyerupai air susu manusia, dan mampu memenuhi kebutuhan gizi bayi. Sebagian kecil adalah susu kedelai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Ada satu kandungan dalam ASI yang tidak terdapat dalam susu formula kebanyakan, yaitu AA/DHA. Berbagai penelitian menunjukkan bayi yang mendapatkan ASI sampai usia satu tahun memiliki perkembangan otak lebih baik dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI. Kandungan yang menentukan ini adalah &lt;b&gt;asam arakidonat (arachidonic acid/AA) &lt;/b&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dan &lt;b&gt;asam dokosaheksaenoat (docosahexaenoic acid/DHA)&lt;/b&gt;, suatu asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang (long chain polyunsaturated fatty acids/PUFA), yang merupakan batu bata utama pembangun jaringan saraf di retina (saraf mata) dan otak. Mengetahui hal ini, para peneliti biokimia berlomba-lomba memasukkan AA dan DHA dalam kandungan susu formula, dan melihat dampaknya apakah menyerupai keuntungan bayi yang mendapatkan ASI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Sebuah &lt;b&gt;&lt;a href="http://repositories.cdlib.org/uclabiolchem/nutritionnoteworthy/vol5/iss1/art1"&gt;tulisan&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; dalam jurnal &lt;b&gt;Nutrition Noteworthy&lt;/b&gt; tahun 2002 yang berjudul: “&lt;b&gt;Finding the Magic Formula: Should Polyunsaturated Fatty Acids be Used to Supplement Infant Formula&lt;/b&gt;” yang ditulis Mailan Cao menjelaskan tiga hal utama yang menjadi indikator utama &lt;i&gt;outcome&lt;/i&gt; (keluaran) suplementasi AA/DHA ini, mengingat tidak semua hal yang terbukti di laboratorium (in vitro) atau hewan percobaan, lantas sama efeknya ketika diterapkan pada manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Suplementasi      AA/DHA dan kadarnya dalam asam lemak plasma (darah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Setelah dibuktikan aman untuk dikonsumsi tubuh manusia, peneliti ingin membutikan apakah suplementasi AA/DHA dapat diserap tubuh sama halnya kandungan dalam ASI, melihat bukti kadar AA/DHA dalam tubuh bayi yang mendapatkan susu formula tanpa suplementasi AA/DHA lebih rendah dibandingkan dengan yang mendapatkan ASI.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Ternyata terbukti, suplementasi AA/DHA meningkatkan kadarnya dalam plasma darah, membran sel darah merah (eritrosit), dan jaringan korteks otak, dalam jumlah menyerupai yang mendapatkan ASI. ARTINYA: suplementasi AA/DHA mampu diserap tubuh dengan baik. NAMUN ini sama sekali tidak menunjukkan dampaknya dalam perkembangan saraf otak dan ketajaman penglihatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Suplementasi      AA/DHA dan Pengaruhnya dalam (Fungsi) Ketajaman Penglihatan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Sebuah penelitian ‘meta-analisis’ menunjukkan adanya peningkatan fungsi penglihatan pada bayi yang mendapatkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA dibandingkan yang mendapatkan susu formula biasa, dengan melihat indikator perilaku dan elektrofisiologi mata pada bayi berumur 2 dan 4 bulan. Beberapa penelitian terdahulu tidak menunjukkan adanya perbedaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0in;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Suplementasi      AA/DHA dan Perkembangan Kecerdasan/Perilaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Inilah KUNCI dari impian semua peneliti mengenai suplementasi AA/DHA: mampukah menyamai dampaknya dalam meningkatkan kecerdasan bayi, layaknya bayi yang mendapatkan ASI? Ternyata dari berbagai penelitian: &lt;b&gt;belum terbukti&lt;/b&gt;. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya, dan diteruskan sampai usia 1 tahun, memiliki kecerdasan lebih daripada yang mendapatkan susu formula dengan AA/DHA sekalipun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Beberapa kendala juga menghadang model penelitian ini. Antara lain jenis uji yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan adalah: Bayley Mental Development Index (MDI) dan the Psychomotor Developmental Index (PDI). Berbagai penelitian menunjukkan hasil berbeda-beda, ada yang menggambarkan hasil signifikan pemberian suplementasi AA/DHA, dan sebagian lain tidak ada bedanya. Belum lagi pengaruh sosioekonomi responden yang mempengaruhi uji statistik. Kadar AA, DHA, dan asam lemak lain semacam ALA dan LA juga bervariasi antar penelitian. Sampai perbedaan genetik dan lingkungan di berbagai belahan dunia tempat penelitian dilakukan (Amerika Utara, Australia, dan Eropa). Juga terkadang jumlah sampel terlalu sedikit, umur bayi yang terlalu dini untuk dilakukan pengujian, dan jangka waktu penelitian yang seharusnya cukup panjang, sehingga dapat dilihat dampaknya hingga usia remaja dan dewasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Pada akhirnya penelitian mengenai dampak suplementasi AA/DHA masih terus dikembangkan, dan belum berakhir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Bagaimana dengan pemasarannya di negara kita?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt; Berbagai iklan dan informasi yang tidak jarang datang dari dokter spesialis anak sendiri seolah-olah mengklaim perannya signifikan dalam meningkatkan kecerdasan bayi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Di AS, Food and Drug Administration (FDA) atau serupa Badan POM-nya Indonesia, memberikan ijin kepada dua perusahaan: Abbott Laboratories dan Mead Johnson Nutritionals untuk mengedarkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA kepada khalayak sejak awal 2002. Harganya 15-20% persen lebih mahal dibandingkan dengan susu formula tanpa suplementasi, dan ini pun memberikan keuntungan kepada dua perusahaan tersebut untuk membiayai penelitian mengenai AA/DHA.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;American Council on Science and Health memiliki pandangan ”&lt;b&gt;the current data has not consistently shown that supplementation of formulas with DHA and AA has a lasting beneficial effect on infant development&lt;/b&gt;” juga hal lain seperti keamanan menambahkan asam lemak dalam susu formula belum teruji. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Pada akhirnya keputusan berpulang pada tangan si konsumen. Apakah akan memberikan susu formula dengan suplementasi AA/DHA atau tidak. Yang penting adalah memberikan ASI Eksklusif selagi mampu. Sejak masa kehamilan, persiapkan diri sebaik mungkin dengan pengetahuan menyusui bayi secara optimal. Menjelang persalinan, jika Anda berencana melahirkan di Rumah Bersalin atau Rumah Sakit, bukan di rumah, mintalah kamar rawat gabung. Anda bisa bersama bayi Anda sejak lahir hingga saatnya pulang, tanpa dipisahkan sedikit pun dari sisi sang ibu. Satu hal yang sangat sulit dilakukan di kota besar seperti Jakarta. Begitu bayi lahir, segera dekatkan ke payudara ibu, untuk &lt;i&gt;early latch-on&lt;/i&gt;—menyusui dini—dengan teknik yang telah Anda ketahui baik. Sehingga dipastikan kemampuan Ibu untuk menyusui bayinya penuh sangat baik. Maka &lt;b&gt;tidak ada alasan lagi&lt;/b&gt;: “ASI saya tidak keluar”, dan harus memberikan susu formula pada bayi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;Dukungan dari keluarga juga sangat penting. Tidak sedikit alasan ibu memberikan susu formula pada bayinya yang mendapatkan ASI dengan baik adalah: khawatir ASI tidak cukup. Pembahasan ASI sangat panjang, tidak dalam bahasan ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:11;"  &gt;Kecerdasan bayi tidak hanya monopoli ASI dengan AA/DHA-nya saja. Tapi juga stimulasi eksternal, dari lingkungan, melalui rangsangan yang diberikan Papa-Mamanya, dengan percakapan verbal, pengenalan media visual, dan perhatian penuh orangtua terhadap perkembangan kecerdasan anak. Apalah artinya anak dengan asupan AA/DHA baik, tapi tidak pernah dirangsang kemampuan verbal dan visual oleh orangtuanya. Bisa jadi akan lebih buruk dibandingkan dengan anak yang tidak pernah mendapatkan ASI atau susu formula, tetapi ibunya mampu memberikan perhatian penuh terhadap stimulasi kecerdasan buah hatinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cisauk, 7 hari menjelang hari-H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-114498810667731152?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/114498810667731152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=114498810667731152' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114498810667731152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114498810667731152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/04/perlukah-suplementasi-aadha-dalam-susu.html' title='Perlukah Suplementasi AA/DHA dalam Susu Formula? (Iklan Produk Kesehatan yang Menyesatkan part 2)'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-114497924482456572</id><published>2006-04-13T18:39:00.000-07:00</published><updated>2006-04-13T20:40:38.966-07:00</updated><title type='text'>Ratna Sari dan Arifianto: Sebuah Undangan Pernikahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/1600/logosmall.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/320/logosmall.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="home"&gt;      &lt;p class="contenttop"&gt;Penyatuan dua hamba Allah dalam bahtera pernikahan&lt;/p&gt;      &lt;p class="name"&gt;&lt;a href="http://friendster.com/profiles/ratnasari00"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;drg. Ratna Sari (Ratna)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="family"&gt;putri kedua Kel. Kolonel Cpl (Purn) H. Didi Sadikin, SIP&lt;/p&gt;      &lt;p class="name"&gt;&lt;a href="http://friendster.com/profiles/arifianto"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dr. Arifianto (Apin)&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="family"&gt;putra pertama Kel. Ir. H. Riyanto Marosin&lt;/p&gt;      &lt;p class="ctitle"&gt;Akad nikah&lt;/p&gt;      &lt;p class="ctext"&gt;Jum'at, 21 April 2006 pukul 8.00 WIB&lt;/p&gt;      &lt;p class="ctext"&gt;Masjid Agung At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII)&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-weight: bold;" class="ctitle"&gt;Resepsi pernikahan&lt;/p&gt;      &lt;p style="font-weight: bold;" class="ctext"&gt;Jum'at, 21 April 2006 pukul 19.00 - 21.00 WIB&lt;/p&gt;      &lt;p class="ctext"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gedung Pewayangan Kautaman&lt;/span&gt;, Taman Mini Indonesia Indah (TMII)&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt; Mohon Doa Keberkahannya, agar dimudahkan dan dilancarkan hingga hari-H nanti, dan sesudahnya. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan melihat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;peta lokasi &lt;/span&gt;dan mengisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;buku tamu&lt;/span&gt; di &lt;a href="http://ratna-apin.uni.cc"&gt;http://ratna-apin.uni.cc&lt;/a&gt; dan melihat yang lainnya di &lt;a href="http://drarifianto.multiply.com/calendar/item/10003"&gt;Multiply&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-114497924482456572?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/114497924482456572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=114497924482456572' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114497924482456572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114497924482456572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/04/ratna-sari-dan-arifianto-sebuah.html' title='Ratna Sari dan Arifianto: Sebuah Undangan Pernikahan'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-114395032482848170</id><published>2006-04-01T19:54:00.000-08:00</published><updated>2006-04-01T19:58:59.580-08:00</updated><title type='text'>Iklan Produk Kesehatan yang Menyesatkan (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Aduuhh... maafkan daku yang sering sekali menggunakan kata "membodohi", "menyesatkan", etc. dalam judul berkenaan dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: trebuchet ms;"&gt;medicine-related-topics&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;. Habisnya sukar mencari pilihan kata lain. Seorang teman sejawat sampai memberi masukan bahwa orang yang "memvonis" orang lain "bodoh", maka dia sendiri "bodoh". &lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/bat.png" /&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, motivasi lain adalah supaya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;eye-catching&lt;/span&gt; saja. Jujur! Hehehe &lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/tongue.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah seorang pasien datang kepadaku dan menyatakan bahwa ia sudah sangat mengurangi konsumsi gulanya. Apa pasalnya? Ia khawatir akan mengalami hal serupa iklan sebuah pemanis buatan bebas gula (maaf, sengaja tidak menyebutkan merek dan menulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;link website&lt;/span&gt;-nya) yang marak mengisi jeda acara televisi akhir-akhir ini: kehilangan penglihatan alias kebutaan, sampai kehilangan nyawa orang yang kita cintai, gara-gara mengkonsumsi gula!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh my God! Sedemikian hebatkah efek iklan tersebut, sampai orang yang menyaksikannya pun ketakutan dalam mengkonsumsi gula?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang membuatku cukup kesal. Karena informasi yang disampaikan si pembuat iklan  itu tidak utuh. Atau memang sengaja dibuat tidak utuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan tersebut ditujukan khususnya bagi penderita &lt;a href="http://mayoclinic.com/health/diabetes/DA00114"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diabetes Mellitus&lt;/span&gt; (DM)&lt;/a&gt; atau kencing manis saja. Bukan untuk semua orang sehat yang boleh saja mengkonsumsi gula sesukanya. Perlu Anda ketahui, orang yang mengalami DM perlu mendapat pembatasan gula, dalam hal ini sukrosa, yang dapat meningkatkan kadar gula darah. Diabetes mellitus adalah penyakit &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;rusaknya sel-sel beta pankreas yang menghasilkan insulin&lt;/span&gt;, berakibat pada kadar gula darah tubuh tidak terkontrol. Secara umum, kerusakan sel pankreas ini dibagi dua: (1) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bawaan sejak lahir&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DM tipe 1&lt;/span&gt;, sehingga kadar insulin tubuh senantiasa di bawah nilai normal, maka si penderita membutuhkan suntikan insulin seumur hidup; (2) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;diperoleh saat dewasa&lt;/span&gt; atau &lt;a href="http://mayoclinic.com/health/type-2-diabetes/DS00585/DSECTION=3"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DM tipe 2&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, akibat kerusakan "relatif" sel beta pankreas pada orang dengan &lt;a href="http://mayoclinic.com/health/type-2-diabetes/DS00585/DSECTION=4"&gt;faktor risiko&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Insulin berfungsi mengatur kadar gula darah. Jumlahnya yang kurang menyebabkan kadar gula darah melambung tinggi. Yang dikhawatirkan dari DM adalah &lt;a href="http://mayoclinic.com/health/type-2-diabetes/DS00585/DSECTION=7"&gt;komplikasinya&lt;/a&gt; di seluruh bagian tubuh, mulai dari &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mata&lt;/span&gt; (kerusakan retina, kebutaan), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;jantung&lt;/span&gt; (aterosklerosis, penyempitan pembuluh darah jantung), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ginjal&lt;/span&gt; (gagal ginjal kronik sehingga harus ditransplantasi), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;saraf&lt;/span&gt; (neuropati, kesemutan, nyeri hebat, rasa baal), &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;infeksi&lt;/span&gt; (luka sukar sembuh, sampai jaringan mati yang harus diamputasi), dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk mencegah komplikasi yang ditimbulkan dari DM, seorang penderita harus mampu menjaga kadar gula darahnya dalam ambang normal, dengan cara minum obat atau mendapatkan suntikan insulin, menjaga pola makan sesuai diet yang dianjurkan ahli gizi, dan aktivitas seimbang, termasuk olahraga yang sangat penting, serta gaya hidup sehat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naahh... bagaimana dengan orang yang tidak menderita DM, atau tidak mempunyai faktor risiko DM: bolehkah mengkonsumsi gula sebebasnya? &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah konsumsi gula berlebih berisiko menimbulkan penyakit DM&lt;/span&gt;? Apakah orang tanpa faktor risiko harus mengganti gulanya dengan pemanis rendah kalori atau bebas gula (sukrosa), seperti saran iklan tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak! Konsumsi gula berlebih pada orang tanpa faktor risiko tidak berisiko menimbulkan DM di kemudian hari. Pola makan tinggi gula disebutkan dalam situs produsen pengiklan ini sebagai salah satu faktor risiko DM. Padahal sepanjang pengatahuan yang kudapatkan sejak di bangku kuliah, sampai memeriksa ulang informasi terbaru di internet: konsumsi gula bukanlah faktor risiko DM!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus tipe 2&lt;/span&gt; di Indonesia tahun 2002 yang dikeluarkan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perhimpunan Endrokinologi Indonesia&lt;/span&gt; (PERKENI), disebutkan faktor risiko DM adalah:&lt;br /&gt;1. Usia &gt; 45 tahun&lt;br /&gt;2. Berat badan lebih: &gt; 110 % BB idaman, atau IMT &gt; 23 kg/m2&lt;br /&gt;3. Hipertensi (&gt;= 140/90 mmHg)&lt;br /&gt;4. Riwayat DM pada garis keturunan&lt;br /&gt;5. Riwayat abortus/keguguran berulang, melahirkan bayi cacat, atau BB lahir bayi &gt; 4000 gram&lt;br /&gt;6. Kolesterol HDL &lt;= 35 mg/dl dan/atau trigliserida &gt;= 250 mg/dl&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak mempunyai faktor risiko ini? Tidak perlu mengganti gula Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gula atau glukosa adalah salah satu zat esensial dalam kehidupan manusia. &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Glucose"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt; menjelaskan bahwa glukosa adalah salah satu karbohidrat terpenting yang menjadi sumber energi dan metabolisme sel. Pastinya di masa sekolah dulu, ketika upacara bendera pagi hari, pernah terasakan oleh Anda tiba-tiba berkeringat dingin dan kepala sangat pusing saat berdiri, dikarenakan lupa sarapan. Anda pun menuju ruang UKS, dan mendapatkan segelas teh manis. Apa rasanya? Luar biasa, semua rasa tidak nyaman itu lenyap dalam sekejap. Semua akibat gula yang dikandung dalam teh manis itu. Juga jika Anda tidak sempat makan cukup sebelum beraktivitas, konsumsi makanan atau minuman yang manis membuat cadangan energi tubuh cukup untuk membakar kalori seharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah fungsi gula bagi kehidupan manusia: sebagai sumber energi. Otak yang kekurangan glukosa dalam beberapa jam akan mengalami kerusakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih pada bagaimana cara pengiklanan di televisi: menurutku produsen pengiklan ini telah melanggar Kode Etik Periklanan Televisi (sayangnya belum menemukan referensinya di internet), dan &lt;a href="http://www.asiamaya.com/undang-undang/konsumen/asiamaya_uu_perlindungan_konsumen_bab4.htm"&gt;Undang-undang Perlindungan Konsumen&lt;/a&gt; bab 4 pasal 17 ayat 1c: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;memuat informasi yang keliru, salah, atau tidak tepat mengenai barang                dan/atau jasa. &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bagaimana menurut Anda?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Kini, untuk apa harus takut mengkonsumsi gula biasa? Tidak perlu mengganti gula Anda, bukan? Anda tidak akan kehilangan penglihatan Anda saat bercengkerama dengan pasangan, dan Ibu Anda masih dapat meniup lilin ulang tahunnya setahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial,helvetica;"&gt;Masih ada beberapa topik bertajuk "Iklan Produk Kesehatan yang Menyesatkan" (makanya saya tulis "bagian" 1), yang saya rencanakan untuk membahasnya, seperti:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial,helvetica;"&gt;- iklan susu tinggi kalsium bagi manula yang mengalami osteoporosis (padahal kadar estrogen yang seharusnya memetabolisme kalsium sudah jauh berkurang secara alamiah seiring usia)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial,helvetica;"&gt;- iklan susu formula bagi bayi di bawah 6 bulan yang seharusnya masih mendapatkan ASI eksklusif, telah melanggar Kode Etik Internasional Pemasaran Pengganti ASI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial,helvetica;"&gt;- iklan susu formula kaya tambahan yang diklaim mampi meningkatkan kecerdasan yang mahal harganya, dan menimbulkan efek samping sukar buang air besar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family: arial,helvetica;"&gt;- masih ada ide lagi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* gambar diambil hanya untuk sekedar ilustrasi, dari &lt;a href="http://drarifianto.multiply.com/journal/www.cnn.com/HEALTH/9607/31/nfm/sweeteners/"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-114395032482848170?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/114395032482848170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=114395032482848170' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114395032482848170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114395032482848170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/04/iklan-produk-kesehatan-yang.html' title='Iklan Produk Kesehatan yang Menyesatkan (1)'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-114308452999932904</id><published>2006-03-22T19:19:00.000-08:00</published><updated>2006-03-22T19:28:50.326-08:00</updated><title type='text'>Bagaimana Dokter 'Membodohi' Pasien</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/1600/tb6284_large.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/320/tb6284_large.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Tulisan ini sebenarnya menceritakan tentang penyakit &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tuberkulosis paru (TB paru)&lt;/span&gt; atau TBC paru.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bu, anaknya kena flek paru ya. Ini saya obati. Minum obatnya harus sampai enam bulan, tidak boleh putus," kata seorang DSA (dokter spesialis anak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kata dokter anaknya sakit apa?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Flek paru," jawab si ibu.&lt;br /&gt;"Oo.. TBC," timpalku lagi, dengan nada santai.&lt;br /&gt;"Haa, TBC? Masa' sih, Dok?" si ibu kaget. Mukanya agak memerah.&lt;br /&gt;"Iya, flek paru itu ya TBC," jawabku, lagi-lagi dengan nada santai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah aku ambil persis dari situsnya &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.idai.or.id/web/topik/detil.asp?IDtopics=70"&gt;IDAI&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; (Ikatan Dokter Anak Indonesia)&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Banyak sekali anak-anak yang divonis sebagai ΄flek paru΄ dan harus menjalani ΄hukuman΄ minum obat jangka lama, paling tidak hingga 6 bulan. Jika ditanyakan kepada orangtuanya apa yang dimaksud flek paru? Biasanya orangtua pasien tidak tahu, Bila ditanya lebih lanjut apakah anaknya mendapat obat yang membuat air seninya berwarna merah? Jika jawabnya "Ya" kemungkinan besar yang dimaksudkan sebagal ΄flek paru΄ adalah tuberkulosis/TB paru atau saat ini disebut TB saja.&lt;/span&gt;  &lt;b style="font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt;Mengapa dokter tidak menyatakan sebagai TB?&lt;/b&gt; &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt; Sebagian kalangan di masyarakat beranggapan bahwa TB bukan penyakit yang ΄bergengsi΄, Beda misalnya dengan penyakit jantung yang dianggap lebih ΄terhormat΄, Sebagian pasien tidak berkenan jika dinyatakan sakit TB. Khawatir pasien tidak dapat menerima, dokter berusaha menyamarkan penyakitnya dengan istilah flek paru. Saat ini umumnya pasien sudah berpikiran terbuka dan dapat menerima jika dinyatakan sakit TB. Sebaiknya &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dokter berterus terang menyatakan sakit TB&lt;/span&gt; tanpa menyamarkan dengan istilah flek paru yang justru &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;tidak mendidik pasien&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekilas tulisan dr. Darmawan Budi S, SpA(K) yang berjudul "&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;΄Flek Paru΄ Istilah yang Rancu: Informasi Singkat Tentang Tuberkulosis (TB) Anak"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;. Tulisan ini kemudian mendorongku untuk tidak 'membodohi' pasien dengan istilah 'flek paru'. Kalau memang TB ya katakan saja TB. Jaman telah berubah. Pasien cukup kritis untuk mengetahui diagnosis pasti penyakitnya. Bahkan tidak jarang, penjelasan yang tidak utuh menciptakan terapi tidak adekuat. Istilah 'flek' yang kurang menakutkan, membuat pasien tidak patuh meminum obatnya. Ah, toh cuma 'flek' ini. Padahal TB harus diobati minimal enam bulan, tanpa adanya putus obat yang berisiko menciptakan resistensi kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab TB. Penderita TB yang sudah resisten (kebal) terhadap obat jauh lebih membahayakan, baik bagi dirinya sendiri (risiko perberatan dan komplikasi penyakit) maupun orang lain (jika menularkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain adalah: cukup sukar mendiagnosis TB pada Anak, dibandingkan dengan pada dewasa. Dengan ilmu kedokteran yang terus berkembang, dokter dan dokter spesialis anak yang tidak memperbaharui ilmunya, seringkali menggunakan perangkat yang tidak tepat dalam mendiagnosis TB pada Anak. Berlandaskan pada keluhan tidak spesifik (batuk lama, padahal seringkali batuk akibat alergi, bukan infeksi, berat badan sukar naik, dan demam hilang-timbul), ditambah gambaran Rontgen penuh 'flek' (sukar membedakan gambarannya dengan batuk-pilek biasa), langsung saja dokter mendiagnosis TB dan mengobatinya. Padahal obat TB Anak yang terdiri atas tiga kombinasi obat berbeda mempunyai efek samping, dan harus dimetabolisme di hati dan ginjal. Jika penggunaannya tidak tepat, bisa menimbulkan efek samping yang lebih buruk dibandingkan keuntungannya minum obat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya dokter di Indonesia bisa menggunakan panduan &lt;a href="http://www.tbcindonesia.or.id/images/upload/bukupedoman_PDF/bukupedoman.pdf"&gt;berikut&lt;/a&gt; yang mudah diakses di situs &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.tbcindonesia.or.id/index.php"&gt;GERDUNAS TBC&lt;/a&gt; (Gerakan Terpadu Penanggulangan TBC Nasional) mengenai alur deteksi dini dan rujukan TB pada Anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Hal-hal yang mencurigakan TBC :&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;1. Mempunyai sejarah kontak erat dengan penderita TBC yang BTA positif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;2. Terdapat reaksi kemerahan lebih cepat (dalam 3-7 hari) setelah imunisasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; dengan BCG.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;3. Berat badan turun tanpa sebab jelas atau tidak naik dalam 1 bulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt; meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;failure to thrive&lt;/span&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;4. Sakit dan demam lama atau berulang, tanpa sebab yang jelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;5. Batuk-batuk lebih dari 3 minggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;6. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang spesifik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;7. Skrofuloderma.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;8. Konjungtivitis fliktenularis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style=""&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;9. Tes tuberkulin yang positif (&gt;10 mm).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:10;"  &gt;10. Gambaran foto rontgen sugestif TBC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan setidaknya tiga dari gejala di atas, seorang anak boleh memulai terapi obatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua dokter dan dokter spesialis anak mengetahui dan mau menggunakan panduan ini. Masih banyak yang lebih mengandalkan pada pembacaan Rontgen satu posisi saja misalnya, tanpa melakukan tes tuberkulin (uji Mantoux). Padahal panduan ini disusun mengadaptasi &lt;a href="http://www.who.int/tb/en/"&gt;WHO&lt;/a&gt; yang merancangnya khusus untuk dapat digunakan di negara berkembang, melalui berbagai penelitian dan pengujian lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;obat TB GRATIS di semua Puskesmas&lt;/span&gt;. Ya, gratis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;boo, gretong, free&lt;/span&gt;. Tidak harus berobat ke dokter spesialis yang meresepkan obat paten dengan harga di atas seratus ribu rupiah sekali datang. Padahal penyakit ini terutama ditemukan pada sosioekonomi menengah ke bawah, yang sangat pikir-pikir kalau mau berobat. Ketiadaan biaya malah membuat sesorang tidak berobat, karena tidak mengetahui program pemerintah yang menggratiskan obat TB di seluruh Puskesmas di Indonesia, dan menimbulkan komplikasi berat seperti meningitis, TB tulang, TB milier, dan lainnya yang dapat mengancam nyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selengkapnya mengenai TB dapat dibaca di situs &lt;a href="http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs104/en/index.html"&gt;WHO&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://www.tbcindonesia.or.id/pdf/tbfactsheetindonesia.pdf"&gt;TB Indonesia&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut &lt;a href="http://www.who.int/mediacentre/events/2006/world.tb.day/en/index.html"&gt;hari TB sedunia&lt;/a&gt; &lt;a href="http://www.tbcindonesia.or.id/module/article.php?articleid=94"&gt;24 Maret&lt;/a&gt; ini.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-114308452999932904?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/114308452999932904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=114308452999932904' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114308452999932904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114308452999932904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/03/bagaimana-dokter-membodohi-pasien.html' title='Bagaimana Dokter &apos;Membodohi&apos; Pasien'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-114222769441869270</id><published>2006-03-12T21:20:00.000-08:00</published><updated>2006-03-12T21:28:20.950-08:00</updated><title type='text'>Mengakhiri Kemiskinan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/1600/the_end_of_poverty_sachs.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/3945/612/400/the_end_of_poverty_sachs.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;We Can End Poverty by 2025… and CHANGE THE WORLD FOREVER&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Hehehe, kaya judul lagunya Eric Clapton ya? Itulah yang tertulis dalam sampul belakang buku yang akan kuresensi berikut. Masuk ke dalam angkot, cari tempat duduk di pojok belakang, langsung buka bukunya, dan mataku menyusuri rangkaian ratusan kata di tiap halaman. Inilah buku yang ingin kubaca selama ini, setelah membaca resensi singkatnya dalam sajian utama Majalah TIME beberapa bulan silam. Salah satu kesempatanku membaca buku adalah saat berada di dalam angkot. Jika di rumah, waktuku habis untuk &lt;i&gt;online&lt;/i&gt; di depan komputer, atau di luar rumah saat menyetir mobil tentu tidak mungkin. Kadang bisa juga ketika tidak ada pasien pas dinas &lt;i&gt;shift&lt;/i&gt; malam. Siapa sangka menemukan buku ini di atas meja teman sejawatku, dr. Jumpa. Tidak kusia-siakan untuk segera meminjamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Buku ini mencerahkan! Itu komentar singkatku. Mulai dari sampul depannya yang cukup sederhana, namun mengena: penonjolan pada kata-kata judul “&lt;a href="http://www.penguin.co.uk/nf/Book/BookDisplay/0,,0_0141018666,00.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; background-color: rgb(255, 255, 102);"&gt;THE END OF POVERTY, HOW WE CAN MAKE IT HAPPEN IN OUR LIFETIME, JEFFREY SACHS, FOREWORD BY BONO&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;” yang dicetak dalam warna hitam dan merah saja, pembaca langsung mendapatkan salah satu daya tarik buku ini adalah pengantar yang ditulis oleh vokalis legendaris U2. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Paragraf pertama dalam “Introduction” pun cukup jelas: “This book is about ending poverty &lt;b&gt;in our time&lt;/b&gt;. It is not a forecast. I am not predicting what will happen, only explaining what can happen… Our generation can choose to end that extreme poverty by the year 2025.” Cukup mengena, bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Buku ini disusun berdasarkan pengalaman sang penulis, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jeffrey D. Sachs&lt;/span&gt;, konsultan Bank Dunia (World Bank) dan konsultan khusus bagi Sekjen PBB Kofi Annan, serta seorang profesor ekonomi, yang telah memberikan ‘pengobatan’ bagi banyak ‘pasiennya’ di seluruh dunia. Lihatlah judul-judul babnya. Pengalaman apa yang ia dapatkan dari Bolivia, Polandia, Russia, Cina, India, dan kemiskinan sistemik di benua Afrika. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Jujur saja, aku belum selesai membaca buku ini. Tapi ada beberapa bagian yang menurutku sangat menarik, dan menjelaskan ke dalam ‘golongan’ manakah si penulis? Sama saja dengan pakar ekonomi asing—terutama AS—yang selalu memiliki kepentingan terselubung di semua negara berkembang? Atau seorang yang memang benar-benar idealis, tulus sepenuh hati ingin menolong orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Bab pertama bertajuk “A Global Family Portrait” (lagi-lagi jadi ingat lagunya Pink). Diawali dengan kisah kemelaratan luar biasa di Malawi, Afrika. Jeffrey D. Sachs memotret satu desa yang hampir musnah akibat AIDS. Ia menemui seorang nenek yang menampung belasan yatim-piatu. Orangtua mereka telah mati akibat penyakit AIDS. Belum lagi penyakit lainnya: malaria. Seorang wanita menggendong cucunya yang dijangkiti penyakit gigitan nyamuk ini, berjalan kaki 10 kilometer menuju RS setempat. Setibanya di sini, tidak ada obat anti malaria yang tersedia. Dengan cucunya mengalami demam tinggi, mereka berdua berjalan kembali pulang. Berikutnya Sachs menuturkan gamblang epidemi AIDS di sini, serta solusi mudah yang bisa dilakukan. Berlanjut ke Bangladesh, dengan kisah sedih kemiskinannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Cerita menggembirakan segera dapat kita baca melalui kisah India: “Center of an Export Services Revolution”. Melalui ilustrasi seorang pegawai wanita muda berusia 25 tahun yang bekerja di perusahaan IT, dengan penghasilan 250 – 500 dolar sebulan (sama dengan pendapatan dokter baru lulus di Jakarta, FYI). Dalam bab terpisah: “India’s Market Reforms: The Triumph of Hope over Fear”, pembaca mengetahui jelas rahasia kebangkitan ekonomi negara Bollywood ini mulai tahun 1994. Padahal di tahun 1978, penulis masih mendapati India sebagai satu negara miskin “berat”. Perdana menteri India, Dr. Manmohan Singh, ahli ekonomi yang pernah mendapat pendidikan di Cambridge dan Oxford, dengan kebijakan ekonominya, serta India Institue of Technology (IIT) memegang peran penting ini (kalau ITB/UI masih ga, ya? Hehehe). Begitu dengan kisah Cina dengan keberhasilannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Satu pemikiran menarik penulis dalam bab ini adalah: “Progress is hard enough to achieve in the world without being perceived as a danger. One of the ironies of the recent success of India and China is &lt;b&gt;the fear that engulfed the United States that success in these two countries comes at the expense of the United States&lt;/b&gt;. These fears are &lt;u&gt;fundamentally wrong&lt;/u&gt; and, even worse, dangerous. They are wrong because the world is not a zero-sum-struggle in which one country’s gain is another’s loss, but is rather a positive-sum opportunity in which improving technologies and skills can raise living standards around the world.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Kalimat ini membuatku yakin penulis termasuk golongan Amerika yang ‘&lt;i&gt;hanif&lt;/i&gt;’. Berbeda dengan ketakutan Amerika selama ini yang menganggap India dan Cina adalah ancaman besar mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Tidak cukup di sini. Dalam bab empat: “Clinical Economics”, Mr. Sachs menyebutkan IMF sama dengan penilaian kita selama ini: Dalam seperempat abad terakhir, negara miskin mendatangkan “dokter uang dunia”, IMF, untuk meminta bantuan. “The main IMF prescription has been budgetary belt tightening for patients much too poor to own belts. IMF-led austerity has frequently led to riots, coups, and the collapse of public service”!. Hahaha, kena kau, IMF. Penulis tampa takut-takut menerangkan gamblang banyak kesalahan IMF dan AS dalam buku ini. Sesuatu yang kita semua setujui.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Bagiku sebagai seorang dokter, bab ini juga menerangkan sesuatu yang sangat menarik. Jeffrey Sachs telah mengembangkan model ekonomi pembangunan baru: &lt;b&gt;&lt;i&gt;clinical economics&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, melihat kesamaan antara praktik ekonomi pembangunan (development economics) dengan praktik kedokteran (clinical medicine). Ia belajar banyak dari istrinya seorang dokter spesialis anak. Ini pulalah, yang memberi ciri khas bagi bukunya. Untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi—khususnya kemiskinan—suatu negara, harus melihat semua aspek yang mungkin terlibat. Layaknya seorang dokter dalam menangani pasien-pasiennya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Inilah “&lt;b&gt;&lt;i&gt;some lessons of clinical medicine&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;”:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.2in; text-indent: -0.2in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Symbol;font-size:10;"  &gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;The human body is a complex system. Paduan antara sistem saraf, sirkulasi, pernapasan, pencernaan, endokrin, imun, reproduksi, de el el. Seringkali penasehat ekonomi melupakan semua faktor yang mungkin berperan dalam kemiskinan dan masalah ekonomi negaranya. Bagaimanakah sistem transportasinya, model pemerintahannya, jaringan komunikasinya, penegakan hukunya, pertahanan nasionalnya, sistem perpajakannya, dsb.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.2in; text-indent: -0.2in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Symbol;font-size:10;"  &gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Complexity requires a differential diagnosis. Seorang anak dengan demam tinggi, penyebabnya bisa dari infeksi, trauma, autoimun, kanker, keracunan, dll. Namun selalu ada prioritas kemungkinannya, tidak semuanya dianggap sama. Begitu juga dengan negara. IMF memfokuskan pada isu-isu yang sempit seperti korupsi, membatasi usaha swasta, defisit anggaran, dan kepemilikan sumber-sumber negara. Dan menyamakan semua negara, dengan melakukan saran untuk memotong pajak, meliberalisasi perdagangan, dan memprivatisasi milik negara (salah satu hal menyedihkan untukku di Indonesia adalah privatisasi RS pemerintah. Hiks, kemana orang miskin bisa berobat?) IMF tidak melihat bidang agronomi, iklim, penyakit, isu gender, dan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.2in; text-indent: -0.2in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Symbol;font-size:10;"  &gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;All medicine is family medicine (sesuatu yang dokter Indonesia juga sering melupakannya). Tidak cukup mengobati penyakit seorang anak, dengan melupakan kemiskinan yang diderita orangtuanya, cukupkah asupan makanan bergizinya, apakah orangtuanya bermasalah secara sosial, dll. Bagaimana mungkin negara seperti Ghana akan lepas dari lilitan kemiskinan jika masih menghadapi sanksi perdagangan internasional (begitu juga dengan Irak. Sachs juga mengkritisi pemerintahan Bush yang memerangi “terorisme”, tapi melupakan perang terhadap kemiskinan yang bisa menjadi benih-benih terorisme).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.2in; text-indent: -0.2in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Symbol;font-size:10;"  &gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Monitoring and evaluation are essential to successful treatment. IMF atau World Bank seringkali mendikte suatu negara untuk mengikuti programnya, tanpa mengevaluasi kemudian apakah programnya tersebut cocok untuk negara bersangkutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.2in; text-indent: -0.2in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-family:Symbol;font-size:10;"  &gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Medicine is a profession, and as a profession requires strong norms, ethics, and codes of conduct.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Bagaimana dengan Indonesia? Penulis tidak menyinggung sama sekali negara ini. (Meskipun sudah kucari dalam indeks. Mungkin Mr. Sachs belum pernah menangani Indonesia sebagai salah satu “pasien”-nya, atau tidak ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari negara ini!) Padahal dalam edisi TIME yang membahas khusus buku ini, beberapa foto diambil dari Indonesia. Seingatku gambar dua anak jalanan yang tertidur pulas di lantai stasiun Senen, dan seorang pemulung di atas gunung sampah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Dalam rubrik Ragam Majalah &lt;a href="http://www.majalahsaksi.com/"&gt;SAKSI&lt;/a&gt; edisi 9 Maret 2006, wartawan jurnalisme investigatif Rizky Ridyasmara—veteran SABILI—menulis dengan gamblang, hal-hal yang menurutku penyebab bangkrutnya Indonesia, dan curamnya jurang pemisah dan kesenjangan antara si Kaya dan si Miskin. Bagian dari rentetan perampokan kekayaan negara oleh konspirasi jahat pejabat dan pengusaha negeri ini. Berawal sejak Soeharto berkuasa, dimulailah proses pembangkrutan negara kaya raya ini, hingga menjadi salah satu negara miskin dunia saat ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Pada November 1967, beberapa bulan setelah Soeharto berkuasa, presiden mengutus tim ekonomi kepresidenan—populer disebut Mafia Berkeley—ke Jenewa untuk menemui sejumlah konglomerat Yahudi seperti Rockefeller, dan menggadaikan kekayaan alam Indonesia kepada jaringan korporasi Yahudi dunia. Di sinilah untuk pertama kalinya, emas, perak, timah, nikel, minyak dan gas bumi, semen, dan sebagainya jatuh ke tangan asing. Tahun 1970, &lt;i&gt;oil boom&lt;/i&gt; dan industrialisasi besar-besaran mengejar pertumbuhan ekonomi dan melupakan pemerataan, digerakkan oleh utang luar negeri, menumbuhkan satu kelompok masyarakat Indonesia yang sangat kaya, dan memelaratkan rakyat banyak. Berpusat di Cendana, kelompok yang terdiri dari kolusi birokrat dan teknokrat korup, dengan pengusaha Cina yang dimanjakan rezim berkuasa, memunculkan istilah Kelompok “Ali-Baba”. Petinggi TNI/Polri digunakan sebagai penjaga stabilitas dan keamanan rezim, untuk menindas setiap suara kritis dari rakyat. Pada tahun 1980-an, tercatat 300 grup bisnis konglomerat, dengan 224 grup dimiliki pengusaha non pribumi, dan sisanya 76 grup oleh pribumi. Di mana-mana terlihat pembangunan, dengan landasan tidak kokoh karena berasal dari utang!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Kejadian ini berlanjut terus sampai terjadi krisis ekonomi tahun 1997, yang disinyalir kuat akibat ulah konglomerat Yahudi George Soros, yang tiba-tiba memborong mata uang dolar AS dari seluruh pasar uang Asia. Di tahun 1998, Soeharto yang tidak mampu mengeluarkan Indonesia dari krisis, menyerahkan penyelesaiannya pada IMF. Lembaga sokongan Yahudi ini menemukan bahwa pemerintah punya utang luar negeri sebesar 60 miliar dolar, sedangkan di luar negeri, para konglomerat berutang lebih besar: 75 miliar dolar!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Seorang teman menceritakan data GAIKINDO tahun lalu menyebutkan penjualan mobil di Indonesia adalah yang tertinggi di Indonesia. Apa artinya? Masih banyak orang kaya di negeri ini. Namun lebih banyak lagi golongan ekonomi sengsaranya. Teringat pula siaran di TV pagi ini, Pilkada di Papua kemarin terhambat di Timika, karena banyak warga setempat yang mencari tumpahan emas di sekitar Freeport. Negara mana selain Indonesia yang penduduk lokalnya bergelimpangan di bawah garis kemiskinan, di tengah-tengah lautan emas milik mereka, yang dibawa pergi ribuan kilometer ke negara asing, akibat ulah segelintir pejabat masa Soeharto! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;Buku ini sangat perlu untuk dibaca oleh seluruh ahli ekonomi negara kita tercinta. Meskipun aplikasinya pastinya akan sangat sukar, &lt;i&gt;you know&lt;/i&gt;, tahu lah negeri seperti apa kita ini. But let’s not being always pessimistic. Tak sabar menunggu keluarnya edisi terjemahan buku ini (atau sudah ada yang tahu?). Meskipun bahasa Inggrisnya cukup mudah, tapi tetap saja bagiku, menyelesaikan membaca buku ini butuh waku yang sangat lama. Hehehe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;Sachs marries storytelling with acute analysis to explain why, over the past 200 years, wealth and poverty have diverged and evolved across the planet, and why the poorest nations have been so markedly unable to escape the trap of poverty.&lt;/p&gt;  &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); background-color: rgb(255, 255, 255);font-size:130%;" &gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10;"  &gt;The End of Poverty is a Roadmap to a More Prosperous and SECURE WORLD…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-114222769441869270?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/114222769441869270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=114222769441869270' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114222769441869270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114222769441869270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/03/mengakhiri-kemiskinan.html' title='Mengakhiri Kemiskinan'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-114200815128174505</id><published>2006-03-10T08:24:00.000-08:00</published><updated>2006-03-10T08:29:12.326-08:00</updated><title type='text'>Dokter Siprofloksasin</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;lucida sans unicode&amp;quot;,lucida;"&gt;Maafkan aku wahai sejawat-sejawatku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;lucida sans unicode&amp;quot;,lucida;"&gt;Karena tidak sependapat dengan kalian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;lucida sans unicode&amp;quot;,lucida;"&gt;Mudah memberikan &lt;a href="http://www.medicastore.com/med/caridatapilih.php?pilih=1&amp;offset=15&amp;amp;cari=ciprofloxacin&amp;pos=2&amp;amp;UID=20060310230950222.124.50.136"&gt;Ciprofloxacin&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;lucida sans unicode&amp;quot;,lucida;"&gt;Untuk infeksi bakteri yang masih sensitif terhadap antibiotika lini pertama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;lucida sans unicode&amp;quot;,lucida;"&gt;Atau untuk infeksi yang sebenarnya mayoritas akibat virus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;lucida sans unicode&amp;quot;,lucida;"&gt;Bahkan untuk keadaan yang sebenarnya mungkin tidak membutuhkan antibiotika sama sekali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;lucida sans unicode&amp;quot;,lucida;"&gt;Ngeri aku membayangkan kemungkinan resistensi yang bisa terjadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;lucida sans unicode&amp;quot;,lucida;"&gt;Belum lagi efek sampingnya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;lucida sans unicode&amp;quot;,lucida;"&gt;... dan kontra indikasinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;lucida sans unicode&amp;quot;,lucida;"&gt;Ngeri deh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot;;"&gt;mengenang kecenderungan beberapa jenis dokter yang mudah memberikan antibiotika (AB) bukan lini pertama tanpa indikasi. Padahal &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;kontra indikasinya cukup mengerikan&lt;/span&gt;: tidak boleh diberikan pada anak/remaja pada masa pertumbuhan, serta pada &lt;span style="font-weight: bold; text-decoration: underline;"&gt;ibu hamil dan menyusui&lt;/span&gt;! Karena menghambat pembentukan lempeng epifisis tulang panjang. Teringat pada ibu yang diberikan AB jenis ini tanpa indikasi (cuma common colds saja, akibat virus), dan ternyata kemudian diketahui ia sedang hamil trimester pertama!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot;;"&gt;Juga sebagian mantri/bidan yang berpraktik layaknya dokter (ilegal), memberikan antibiotika jenis ini pada balita, tanpa pernah belajar farmakologinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya mau kasih judul: "Dokter Antibiotika". Tapi ga jadi deh. Penunjukan Sipro hanya sekedar untuk simbolisasi saja. Bukannya saya anti Sipro.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot;;"&gt;Indonesia, Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-114200815128174505?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/114200815128174505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=114200815128174505' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114200815128174505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114200815128174505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/03/dokter-siprofloksasin.html' title='Dokter Siprofloksasin'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-114169522520313386</id><published>2006-03-06T17:30:00.000-08:00</published><updated>2006-03-06T17:35:32.973-08:00</updated><title type='text'>Curhat tentang Teman Sejawat dan RS</title><content type='html'>Sudah lama ingin menumpahkan kekesalan ini dalam tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya seorang teman dekat yang sudah kukenal sejak SD kelas 4 (tetangga seberang blok, teman main Street Fighter 2 di Nintendo, partner lomba cerdas tangkas P4 pas SMP, dan kakak kelas beda setahun di SMU) dinyatakan mengalami Diabetes Mellitus (DM) tipe 2. Pada umur yang sangat muda (belum genap 27 tahun), akibat obesitas yang diidapnya (berat badan lebih dari 100 kg dengan tinggi badan tidak mencapai 170 cm). Ia harus masuk RS dengan keluhan badan sangat melas. Sebuah RS swasta kecil di bilangan... ah, jangan disebut, nanti langsung ketahuan, dan saya bisa kena damprat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di suatu bakda subuh di masjid komplek rumahku, mertua temanku ini (yang kebetulan tetangga depan rumah. Artinya: pasangan suami-istri ini awalnya adalah tetangga seberang blok!) menghampiriku dan menanyakan beberapa hal tentang penyakit menantunya. Aku memutuskan untuk pergi menjenguknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, jika menjenguk seseorang di RS, aku akan segera menghampiri ruang perawat dan meminta untuk melihat status pasien (rekam medik), untuk mengetahui riwayat penyakit pasien, diagnosis, hasil pemeriksaan laboratorium, dan perkembangannya sampai saat ini. Dan tentu saja ini selalu berhasil, kadang tanpa harus menyebutkan identitasku sebagai seorang dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapiiii... di RS ini, sebuah RS swasta kecil dengan tabung oksigen di kamar temanku yang sudah kehilangan bola indikatornya, pasiennya kebanyakan golongan menengah ke bawah (dengan biaya perawatan yang tentu saja bukan level kelas mereka, namanya juga RS swasta), dan perawat yang tidak selalu siap sedia di ruangannya, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;AKU TIDAK DIIJINKAN MELIHAT STATUS PASIEN&lt;/span&gt;!!! Alasannya: kebijakan rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahuku (sayangnya aku belum mengeceknya lagi di buku pasal-pasal) &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;status catatan rekam medik pasien adalah hak pasien dan keluarganya&lt;/span&gt;, untuk dapat diakses. Artinya keluarga boleh membaca rekam mediknya. Karena berkeras melihat status pasien dengan memperkenalkan diri sebagai keluarganya (iya, keluarga satu bangsa), perawat menawarkan aku bertemu dengan dokter jaga. Tentu saja aku menerimanya. Yang penting aku dapat penjelasan mengenai si pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipanggillah si dokter jaga. Seorang dokter perempuan berjilbab yang kutaksir umurnya tidak jauh berbeda denganku, dan tidak kukenal. Pastinya beda almamater denganku. Dia bertanya dengan detil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak siapa?"&lt;br /&gt;"Saya keluarganya."&lt;br /&gt;"Keluarga apanya ya?"&lt;br /&gt;"Yaa.. sebenarnya temannya. Saya tetangga Pak Widi. Boleh saya melihat status pasien?"&lt;br /&gt;"Di sini kita tidak mengizinkan untuk melihat status pasien."&lt;br /&gt;"Saya dokter."&lt;br /&gt;"Kalau begitu seharusnya mengerti, dong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaahh.. RS macam apa ini? Peraturan macam apa? Ketika menjenguk saudara iparku di sebuah RS swasta kelas menengah di bilangan Jakarta Selatan, aku diizinkan melihat status pasien, meski akhirnya tetap harus bertemu juga dengan dokter jaga. Tapi tetap saja aku boleh melihat status pasien, dan bisa berdiskusi dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menengok Tanteku yang terbaring sakit di RSUD besar di Kota Bogor, hanya bermodal senyum dan kalimat, "Maaf Pak, boleh saya melihat statusnya Bu Elok?", si perawat langsung menyodorkan status pasien untuk kulihat. Tanpa bertanya-tanya apa aku dokter atau bukan, apa keperluanku dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru inilah yang mengundang curiga: sebuah RS yang tidak mengijinkan status pasiennya dilihat, sekalipun oleh pasien atau keluarganya. Jangan-jangan si Direktur khawatir ada tindakan dokternya yang menyalahi SOP medis, dan diketahui keluarga, sehingga memudahkan untuk dituntut. Kalau memang tidak ada kejanggalan atau kesalahan, untuk apa ditutup-tutupi? Toh tujuan melihat status semata-mata untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari si pasien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tidak diijinkan melihat status, akhirnya aku bertanya-tanya saja langsung pada si dokter jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diagnosis masuknya apa?" Kutanyakan supaya aku yakin bahwa ini adalah DM dengan komplikasi, sehingga masuk indikasi rawat inap.&lt;br /&gt;"Curiga Ketoasidosis."&lt;br /&gt;"Saya lihat pas jenguk tadi, Pak Widi tampak mengantuk terus. Diberi obat tidur &lt;span style="font-style: italic;"&gt;minor tranquilizer&lt;/span&gt; ya?" setelah kutanyakan mengenai perkembangan gula darah hariannya, dan kebetulan aku sangat kenal dengan sang SpPD dan kecenderungannya yang sangat mungkin untuk memberikan obat jenis ini.&lt;br /&gt;"Ya, dapat alprazolam." Sebenarnya yang disebutkan si dokter jaga adalah merek dagangnya. Yang jelas aku kurang setuju dengan pemberian sedatif ini, karena menyamarkan keadaan umum pasien (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;masking&lt;/span&gt;), sehingga sulit dinilai apakah ini akibat DM-nya, atau bukan. Hal ini juga bisa membuat pasien lebih lama dirawat, padahal mungkin seharusnya sudah keluar dari indikasi rawat inap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir pembicaraan, aku meminta nomor HP si dokter jaga.&lt;br /&gt;"Boleh saya meminta nomor HP-nya, Dok?"&lt;br /&gt;"Untuk apa ya?"&lt;br /&gt;"Kebetulan saya kerja di perusahaan tidak jauh dari sini. Banyak karyawan saya ketika jatuh sakit langsung datang dan dirawat di sini. Saya tidak punya kontak dengan dokter di sini. Seandainya saya punya, tentunya lebih enak, ketika ada karyawan saya yang dirawat."&lt;br /&gt;"Maaf, langsung saja telepon ke RS kalau begitu." Tampak sekali resistensi darinya. Aku minta pendekatan personal antar satu dokter umum ke dokter umum lainnya, tapi ia tampak sangat berhati-hati. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Emangnya gw&lt;/span&gt; mau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngapain&lt;/span&gt; sih? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ngajuin&lt;/span&gt; kasus malpraktik teman sejawat sendiri?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Okay&lt;/span&gt;, aku tidak berhasil menjalin persahabatan dengannya.&lt;br /&gt;"O iya, minggu lalu ada anak dari karyawan saya yang dirawat di sini, kok boleh ya saya melihat statusnya?" Kebetulan sekali aku pernah berhasil melihat status pasien, ketika aku menjenguk seseorang yang dirawat di kelas 3.&lt;br /&gt;"O.. itu seharusnya tidak boleh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Well&lt;/span&gt;, itu sekelumit tentang RS yang membuatku amat kesal dengan pelayanannya yang tidak memuaskan. Istri temanku yang juga temanku sejak SMP dan tetangga depan rumah ini juga mengeluhkan sikap kritisnya bertanya-tanya pada perawat dan dokter spesialisnya, dan mendapat tanggapan kurang simpatik. Mungkin mereka terbiasa dengan pasien &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sosioekonomi&lt;/span&gt; menengah ke bawah yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nrimo&lt;/span&gt; saja. Padahal suami-istri ini adalah alumni ITB-IPB yang merasa hal biasa ketika ingin mengetahui keadaan persis kesehatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya menyangkut dokter yang merawatnya, kebetulan orang yang sudah aku, adikku, dan ayah-ibuku kenal baik, karena pernah berobat dengannya, dan pernah mendapat tutorial mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ini aku beristighar, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;astaghfirullooh a' adziim&lt;/span&gt;. Niatku semata-mata agar semua dokter di Indonesia memberikan layanan terbaiknya untuk kepentingan konsumen. Mampu memberikan penjelasan ketika pasien bertanya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Minimal memberitahu apa diagnosisnya, dan apa obat yang diberikan, apa tujuannya, dan bagaimana perkembangan hariannya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin memang sudah menjadi karakter si dokter ini untuk sedikit bicara. Orangtua pasien pernah bercerita denganku, ketika ia bertanya bagaimana keadaan anaknya.&lt;br /&gt;"Pokoknya tenang aja ya, Bu, kan sedang diobati."&lt;br /&gt;Singkat, tanpa kejelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai aku berhasil membuka statusnya dan mengetahui anak perempuan berusia 13 tahun itu menderita hipertensi dan dugaan glomerulonefritis akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pertama kalinya aku melakukan suatu tindakan yang menurutku--jarang dilakukan dokter di Indonesia--akibat budaya feodal dan senioritas antara dokter spesialis-dokter umum, dosen-mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengirimi di dokter spesialis secarik surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung dan harus berpikir agak lama ketika aku akan menggerakkan ujung pulpenku, di sebuah kertas berkop nama perusahaan tempatku berpraktik. Pasien adalah keluarga karyawan. Aku khawatir sekali kata-kataku akan terdengar kurang sopan, terhadap orang yang pernah menjadi salah seorang pengajarku. Yang jelas ia pastinya tidak ingat denganku, satu dari sekian ribu orang yang pernah menjadi mahasiswa FKUI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kesimpulan isi surat itu hanyalah: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;agar dokter bisa menjelaskan pada keluarga pasien bagaimana perkembangan si anak saat dokter visite&lt;/span&gt;. Cukup sopan, bukan? Dan tujuan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, memang ada hasilnya. Beberapa hari kemudian muncul angka-angka seluruh hasil lab yang diperlihatkan untukku, dan permintaannya untuk bertemu denganku. Namun sulit karena jadwalnya bentrok. Ia praktik, aku juga praktik. Namun bisa juga: aku pengecut! Tidak berani, atau segan bertemu dengannya. Beraninya hanya lewat surat antar teman sejawat. Kalau ketemuan langsung... gimana gitu lho junior dengan senior. Meskipun aku sama sekali tidak tertarik dengan bidang spesialisasinya, dan tidak perlu khawatir ketika mendaftar jadi residen nanti untuk harus bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan mengirim surat ini aku lanjutkan setelah menjenguk temanku yang mengalami DM. Kebetulan dokter yang merawatnya sama. Aku menulis pandanganku bahwa alprazolam bisa menimbulkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;masking effect&lt;/span&gt;, dan bertanya kapan temanku ini boleh pulang. Biasa lah, diskusi ilmiah antar dokter. Sama seperti yang diajarkan pada semua mahasiswa kedokteran saat presentasi kasus. Ketika kita semua telah menjadi dokter, tentu kebiasaan ini tidak boleh berhenti, bukan? Sekalipun terhadap senior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kemudian keluarga temanku memutuskan untuk tidak memberikan suratku ini pada si dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian terdengarlah kabar mengejutkan (sekaligus sangaat menggelikan). Bapak si pasien anak, salah seorang karyawan perusahaan tempatku bekerja, melapor padaku. Dalam konsultasi lanjutan pasca pulang dari rawat inap, karyawanku ini ditanya dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak, kenapa waktu itu dokter perusahaan Bapak sampai datang kemari?" sambil menunjukkan suratku yang masih disimpannya setelah berminggu-minggu. Ia kurang suka sampai ada dokter luar datang 'mengintervensi' pasiennya. Hal yang aku tidak sepakat. Hal ini justru membuka peluang adanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;second opinion&lt;/span&gt; dari teman sejawat lain, sesuatu yang positif. Diskusi bisa mengoreksi kesalahan-kesalahan kita, jika memang ada, bukan? Tidak ada dokter yang sempurna. Tidak ada manusia sempurna. Dokter adalah profesi yang diciptakan untuk bekerja dalam tim.&lt;br /&gt;"Itu dokter perusahaan saya, Pak. Dia hanya ingin tahu kondisi anak saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi pun berlanjut seru. Aku tidak bisa menceritakannya dalam bentuk dialog. Intinya si karyawan yang kebetulan salah seorang pimpinan dari sekian ratus pekerja ini dengan tegas menegur si dokter.&lt;br /&gt;"Saya hanya ingin tahu. Sudah empat hari dirawat, kok anak saya belum ada perubahan. Harusnya Dokter introspeksi, dong."&lt;br /&gt;Ia bercerita dengan semangat, bahwa so dokter sampai berkeringat mendapat teguran keras dengannya. Perawat hanya berdiri di ruangan sekian lama, menatapi perbincangan seru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan saja si dokter mengintrospeksi dirinya, setelah mendapat teguran keras dari seorang pasien yang berani. Agar di lain waktu ia lebih ramah dan berempati pada pasien, mau menjelaskan apa diagnosisnya, dan semua tindakan yang dilakukan, serta perkembangan harian pasien. Bukankah dokter seperti ini akan dicintai pasien, dan pasiennya akan bertambah banyak? &lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/wink.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dulu. Yang terpenting adalah mengintrospeksi diriku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga di masa depan komunikasi dokter-pasien jauh lebih baik. Konsumen kesehatan adalah mitra terbaik pemberi layanan jasa. Tanpa pasien, apalah artinya dokter?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-114169522520313386?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/114169522520313386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=114169522520313386' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114169522520313386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/114169522520313386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/03/curhat-tentang-teman-sejawat-dan-rs.html' title='Curhat tentang Teman Sejawat dan RS'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-113885072358112621</id><published>2006-02-01T19:23:00.000-08:00</published><updated>2006-02-01T19:25:23.930-08:00</updated><title type='text'>A Day in The Life (It’s an Ordinary Day… just Like Any Other Days)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;I read the news today oh boy,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;about a kucky man who made the grade,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;and though the news was rather sad, &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;well I just had to laugh,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;h1 class="western" lang=""&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;I saw the photograph…&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Woke up, fell out of bed,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;dragged a comb across my head,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;found my way downstairs and drank a cup,&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;and looking up I noticed I was late… &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Potongan syair lagu The Beatles, yang menginspirasi judul di atas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ya… itu memang satu hari yang biasa saja dalam hidupku. Bangun pagi, belum sempat menikmati istirahat panjang setelah pulang agak larut, kemudian pagi harinya diminta menggantikan dinas teman sejawat. Untungnya tidak perlu waktu lama untuk menerobos Pasar Ciputat yang belum begitu macet. Kadang stres juga menyetir sendirian melewati jalanan ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hari bergulir agak siang. Seorang ibu berumur 38 tahun masuk ruang periksa. Senyum kecil merekah di wajahnya yang terbalut kerudung. Ia mengenaliku, begitupun sebaliknya. Berarti dalam satu kunjungan, aku yang memeriksanya, mungkin. Kupastikan melalui layar monitor mencari namaku dalam kunjungan terdahulu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada keluhan apa, Bu?” kata-kata sakti pembuka anamnesis* terucap.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kepalanya sakit. Kuminta perawat untuk memeriksa tekanan darahnya: 110/70. Normal. Kubaca catatan rekam mediknya di komputer: tidak ada riwayat hipertensi. Apakah ibu pakai kacamata, tanyaku. Tidak, jawabnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mungkin saya masih sedih setelah anak laki-laki saya meninggal,” ujarnya. Ekspresi wajahnya mulai berubah. Tampak beberapa tahun lebih tua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;O, ya?” nada bertanya yang kadang terdengar agak melecehkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Iya, Dok, yang meninggal di LKC tiga bulan yang lalu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku berpikir keras, berusaha mengingat-ingat. Kutunjukkan ekspresi wajah seolah-olah aku ingat, padahal tidak. Siapa ya? Aku familiar sekali dengan wajah sang ibu. Tapi… sudahlah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sekarang anaknya yang ada berapa?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dua. Laki-laki semua.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tuh, alhamdulillah masih ada dua, laki semua pula,” maksudku untuk menghiburnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kuberi saran bahwa keluhan nyeri kepalanya adalah akibat stres pikiran, dan untuk meredakannya adalah dengan menenangkan pikirannya yang masih bersedih, sambil menyerahkan kertas resep berisi obat pereda nyeri yang diminum jika perlu saja. Yee… itu sih semua orang juga tahu, batinku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku bermaksud memanggil pasien berikutnya. Catatan rekam mediknya belum terdokumentasi dalam sistem jaringan komputer, masih tertulis di kertas status pasien biasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Suami saya, Dok. Dia sakit kepala, tapi tidak bisa datang,” ibu di hadapanku otomatis menyahut, seolah-olah tahu aku akan memanggil nama suaminya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku agak kecewa, karena ada riwayat hipertensi tertulis di rekam mediknya. Seharusnya ia datang untuk memeriksakan tekanan darahnya. Bisa saja nyerinya berhubungan dengan tekanan darahnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;“&lt;span lang=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Dia sakit sekali, sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saya &lt;i&gt;nggak&lt;/i&gt; bisa membawanya. Boleh minta obatnya kan, Dok?” si Ibu memohon.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebenarnya aku tidak setuju. Menurutku jika hanya sekedar sakit kepala, setelah minum obat pereda nyeri, ia pasti dapat memaksakan diri untuk datang ke LKC.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ongkosnya mahal, Dok,” lagi-lagi si Ibu mampu menebak isi kepalaku. “Dari rumah ke sini naik angkot Rp 2500. Pulang-pergi Rp 5000. Belum ongkos ojeknya. Dari rumah ke luar harus naik ojek, karena agak jauh.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku kembali tertegun. Ini hal yang biasa, sebenarnya. Banyak orang yang sakit (bukan sekdar batuk-pilek, atau nyeri kepala biasa) dan harus memeriksakan diri ke Puskesmas atau layanan kesehatan lainnya, namun dengan alasan tidak punya ongkos, mereka datang dalam keadaan penyakit lanjut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kasihan, Dok. Bapaknya sakit. Siapa yang cari uang dalam keadaan seperti ini. Cobaan apa lagi yang saya terima ini…” Bulir-bulir air mata mengalir turun dari kedua kelopak matanya. Suaranya bergetar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Duh… jangan sampai ibu ini menyesali nasibnya. Hidup dalam kemiskinan, ditinggal mati anak laki-laki tertuanya, plus kepala keluarga yang tidak produktif dalam mencari nafkah akibat sakit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jangan nangis ya, Bu. Sabar ya, Bu. Kutunjukkan empatiku padanya. Banyak orang yang sama susahnya dengan ibu, batinku. Ibu tidak sendirian. Malah ada yang lebih susah dari ibu. Tentu saja ini tidak kuucapkan. Kuakhiri dialog dengan memberikan resep juga untuk suaminya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hari yang biasa bagiku di sini. Berhadapan dengan kaum dhu’afa dengan segala persoalan hidupnya. Mungkin sebuah acara di Trans TV yang judulnya menurutku amat berkesan tidak mensyukuri nikmat akan berucap: “Kejamnya Dunia”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tidak sampai selang sejam, seorang ibu berusia awal tiga puluhan masuk menggendong seorang bayi, dan anak perempuan berumur empat tahun berjalan lincah di sisinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Pemandangannya tidak biasa. Si bayi tergeletak lemah dengan selang tipis menjulur keluar dari salah satu sisi lubang hidungnya. Namanya &lt;i&gt;naso gastric tube&lt;/i&gt; (NGT) atau “pipa” hidung-lambung, sebuah selang elastis yang dimasukkan dari lubang hidung terus mencapai lambung. Fungsi utamanya untuk memasukkan makanan cair atau obat pada pasien yang kesadarannya menurun, dapat juga menguji adanya perdarahan atau zat racun dalam saluran cerna dan “membilasnya”. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku membaca catatan rekam medik, yang terakhir menunjukkan “datang untuk mengganti NGT”. Ternyata balita yang sudah berumur 14 bulan ini didiagnosis oleh dokter anak “mengalami” ensefalitis (aku tidak boleh menuliskan “menderita”, karena akan dimarahi jika ketahuan seorang dosen Ilmu kedokteran komunitas masa kuliah dulu), suatu peradangan dalam jaringan otak, dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau penyebab lainnya. Tidak ditulis dalam statusnya. Yang jelas kesadarannya tidak membaik sampai saat ini, sehingga si anak tidak mampu menerima respon dari lingkungan luar, sekalipun untuk refleks sederhana seperti menelan makanan atau minum melalui mulutnya. Itu alasan NGT senantiasa terpasang, dan diganti setiap dua minggu sekali, menghindari kolonisasi bakteri penyebab penyakit dalam selangnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jujur saja, aku yang sudah terbiasa melihat pasien sakit berat, masih merasa kasihan melihatnya. Kuminta ia bergeser ke meja tindakan, dengan bantuan seorang perawat, selang hidung-lambungnya diganti dengan yang baru. Si anak menangis karena merasa tidak nyaman. Refleks nyerinya masih bekerja dengan baik. Agak sulit juga memasang NGT pada batita yang kesadarannya sukar diuji. Kekhawatiran terbesar adalah selang salah masuk ke batang paru-parunya, dan mampu menyebabkan kekurangan oksigen berujung pada kematian. Tetapi ada prosedur yang dapat mencegah kesalahan ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anaknya masih belum bisa apa-apa ya, Bu?” tatapku pada si ibu yang tingginya kira-kira sepuluh sentimeter lebih rendah. “Maksudnya jika dimasukkan makan ke dalam mulutnya, ia akan mengecap-ngecap merasakan ada sesuatu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kadang-kadang bisa,” jawabnya singkat sambil menunduk, terus menatap anaknya. Melihat ukuran sang anak, lebih kecil dari batita seusianya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dapatnya susu apa, Bu?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;LLM,” lagi-lagi masih menundukkan kepalanya, tidak menatapku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ibu tolong lihat saya dong, kok nunduk terus,” ucapku halus. Maksudku ingin menangkap perasaan si ibu secara penuh. Jika dia mengalami suatu masalah dengan si anak, keluarkanlah semuanya saat ini juga. Aku ingin menangani semua kasus yang kuhadapi secara menyeluruh. Apakah ibu ini memang pemalu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ternyata si anak pernah dirawat sampai satu bulan di sebuah RS swasta dan pemerintah. Tidak ada perkembangan yang berarti selama perawatan, hanya saja kesadarannya sedikit lebih membaik. Ia boleh dibawa pulang dengan NGT senantiasa terpasang untuk memastikan asupan makanan terus masuk. Berat badannya hanya 5,6 kg dengan umur 1 tahun 2 bulan. Gizi buruk tentunya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku penasaran dan memeriksa beberapa refleks lainnya. Kuarahkan lampu senter menyorot kedua bola matanya secara bergantian. Negatif. Tidak ada refleks cahaya sama sekali. Pupilnya tidak mengecil. Kemungkinan besar si anak juga mengalami kebutaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bu, anaknya bisa mendengar suara ibu, tidak? Misalnya kalau dipanggil ia akan merespon.” Aku tidak langsung menyampaikan hasil pemeriksaanku barusan, melainkan mengajukan pertanyaan lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sang ibu—masih menundukkan kepalanya—tampak ragu-ragu. “Kadang-kadang bisa,” jawabnya. Ia tampaknya ingin menanyakan maksud pertanyaanku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bu, sepertinya anaknya juga tidak bisa melihat. Barusan saya tes pakai cahaya, tidak ada responnya.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Deg, kata-kata ini meluncur begitu saja dari mulutku. Sudah menjadi kebiasaanku menyampaikan keadaan pasien sejelas mungkin pada dirinya atau keluarganya, tentu dengan cara sehalus mungkin, melihat situasi dan kondisi. Aku berasumsi si ibu sudah tahu keadaan anaknya sejak dirawat sebulan lamanya dari dokter-dokter spesialis anaknya, termasuk kemungkinan buta dan tulinya. Seharusnya dokter yang dulu merawat sudah menyampaikannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bener, Dok?” suaranya bergetar. Kali ini menatapku. Matanya merah, seolah-olah mulai meleleh, dan mengalirlah air matanya. Hidungnya pun memerah. Ia kembali menunduk, dan mengeratkan dekapannya pada si anak. Seolah-olah sang anak akan pergi meninggalkannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oh, tidak, lagi-lagi aku membuat dua orang menangis hari ini. My fault, yes, it’s my fault. But she should’ve known this from her paediatricians. How come they didn’t tell her before? Or maybe she has already known, but my statement emphasized her worriness. Her belief for so long, that her daughter would be just fine.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sudahlah, sekalian saja kusampaikan semuanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bu, dulu kata dokter anaknya, dia dapat pulih seperti sediakala tidak?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya nggak nanya,” jawabnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;“&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Iya, Bu, kalau menurut saya, sepertinya akan sangat sulit untuk kembali pulih seperti anak-anak sehat lainnya,” jelasku jujur. Ia harus tahu sejak saat ini, daripada kesedihan berlarut di kemudian hari. “Tapi lebih pastinya, ibu konsultasi saja dengan dokter spesialis anaknya,” seraya kubuatkan lembar konsultasi bagi relawan dokter spesialis anak di sini, “ini saya buatkan pengantarnya. Yang penting untuk saat ini, dia mendapatkan makanan cukup, dijaga kesehatannya jangan sampai sakit. Perkiraan saya tadi belum tentu benar, lho. Anak-anak ibu yang lain tidak ada yang mengalami sakit seperti ini kan?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ternyata tidak ada riwayat penyakit serupa pada kakak-kakaknya. Balita dengan ensefalitis (aku kurang yakin juga dengan diagnosisnya) ini adalah anak ketiga, dengan dua anak pertama yang sehat-sehat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Selanjutnya si anak dipindahkan ke meja konsultasi gizi, mengingat adanya penyerta gizi buruk, yang perlu mendapatkan penanganan tersendiri. Dari anamnesis dengan ibu ahli gizi kami, diketahui bahwa suaminya adalah sopir pribadi. Selama ini susu masih mampu terbeli dari penghasilan suaminya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bandingkan saja dengan pasien berikutnya hari itu. Seorang ibu yang mengeluh panas-dingin sehabis kehujanan, ketika sedang mencari kayu. Ya, mencari kayu bakar. Ia bekerja sebagai seorang pencari kayu bakar. Inilah member LKC, dengan segala kedhu’afan yang dimilikinya. Wajar saja ia diterima sebagai anggota dan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis 100% jika sakit (ongkos transportasi ke rumah tidak ditanggung).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Menjelang waktu dzuhur, seorang bayi lain datang dengan sumbing bibir dan langit-langit (&lt;i&gt;labiopalatoschizis&lt;/i&gt;). Ia &lt;i&gt;member&lt;/i&gt; baru, belum pernah memeriksakan diri sebelumnya ke LKC. Apa lagi maksud kedatangannya selain meminta bantuan untuk operasi bibir sumbing gratis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Bayi berusia 7 bulan ini mempunyai berat badan bagus, bahkan cenderung agak &lt;i&gt;obese&lt;/i&gt;. Anaknya pun sangat ceria, dan kooperatif saat diperiksa. Aku menjelaskan untuk operasi, dokter bedah plastik di sini mensyaratkan berat badan minimal 10 kg. Artinya kurang empat kilogram lagi untuk si kecil. Masalah yang ada sekarang adalah: si bayi menghabiskan cukup banyak susu bubuk SGM 2. Satu kotak bisa ludes dalam dua hari saja. Penghasilan si ayah berbadan lebih tinggi dan lebih besar dariku yang berprofesi sebagai satpam di sebuah yayasan Islam terkemuka di Jakarta Selatan sebesar Rp 300 per bulan tidak mampu menanaggungnya (ini kalimat majemuk banget ya, tidak mengikuti kaidah ekonomi kata!). Dengan berat hati aku menyampaikan bahwa LKC tidak mampu menanggung semua biaya member, misalnya dalam pengusahaan susu. Kasus yang lebih umum, jika tidak ada ASKES GAKIN dan SKTM, LKC tidak akan mampu membiayai operasi seluruh member-nya di RS rujukan. Sayang sekali dulu si ibu yang sempat mampu memerah susunya untuk ditampung dalam botol dengan dot khusus ini sudah ‘kering’ ASI-nya. Padahal menurutku, ASI yang berdasarkan pada prinsip ‘on-demand’ ini tidak akan kering selama ibu rajin memerah dengan teknik yang benar, sepenuh hati. Ya, bandingkan saja dengan gaji si ayah yang habis untuk membelikan susu salah satu anaknya, dari empat anak yang dimilikinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;There are times I find it hard to sleep at night&lt;br /&gt;We are living through such troubled times&lt;br /&gt;And every &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;child&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Tahoma, sans-serif;"&gt;&lt;i&gt; that reaches out for someone to hold&lt;br /&gt;For one moment they become my own&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And how can I pretend that I don't know what's going on?&lt;br /&gt;When every second, and every minute another soul is gone?&lt;br /&gt;And I believe that in my life I will see (oh yea) an end to hopelessness, of giving up, of suffering&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If we all stand together this one time&lt;br /&gt;Then no one wil be left behind&lt;br /&gt;Stand up for life&lt;br /&gt;Stand up and hear me sing&lt;br /&gt;Stand up for love&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku cukup terkesan dengan lagu hits yang dinyanyikan Destiny’s Child ini. Pertama kali melihat klip videonya sebagai lagu tema “Peduli Kasih Indosiar”. Setiap menyaksikan di TV, atau mendengar lantunan syair dan iramanya di radio dalam mobil, aku terbayang pada pasien-pasien kecilku di LKC yang bernasib kurang-lebih sama dengan mereka yang ditayangkan dalam video tema.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yeah… if we all stand up together for love, then no one will be left behind. I’ve passed so many ordinary days with hopeless and suffered people, so that I’m afraid I’ll lose my empathy, and judge those as ordinary things not to be worried. Too many poor people in this country. Too many hopelessness and suffering around me. But the deepest side of my heart isn’t dead already.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;It’s just a day in the life. And I’ll still go through these days. With love and care to others. Hopefully.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span lang=""&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;Menulis dalam &lt;i&gt;mood&lt;/i&gt; sehabis bertemu lagi dengan kasus bayi dengan bibir sumbing yang menderita bronkopneumonia berulang, kemarin lusa. Menyaksikan ekspresi kesedihan dari sang ibu, serta kasih sayang tulus dari sang ayah mengajak komunikasi anaknya yang cacat, memberikan perasaan syukur atas nikmat Alloh yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;There are places I remember, all my life&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Though some have changed&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Some forever not for better&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Some have gone, and some remain…&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Though I know I’ll never lose affection&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;For people and things that went before&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;I know I’ll often stop and think about them&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;In My Life.. I Love Them All (The Beatles).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang=""&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*dialog antara dokter dengan pasien untuk mengeksplorasi keluhan dan mencapai suatu kesimpulan diagnosis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-113885072358112621?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/113885072358112621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=113885072358112621' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113885072358112621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113885072358112621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/02/day-in-life-its-ordinary-day-just-like.html' title='A Day in The Life (It’s an Ordinary Day… just Like Any Other Days)'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-113799675303084717</id><published>2006-01-22T21:11:00.000-08:00</published><updated>2006-01-22T22:12:33.570-08:00</updated><title type='text'>Complications: A Surgeon's Notes on an Imperfect Science by Atul Gawande</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;" lucida="" sans="" unicode="" lucida="" weight="" bold=""&gt;This is the BEST non-fiction book I've ever read!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" trebuchet="" ms=""&gt;Inilah buku yang menjelaskan sisi-sisi manusiawi kehidupan seorang dokter (ya.. Dokter juga Manusia :-) Bahwa dokter adalah manusia biasa yang bisa berbuat kesalahan, segala keterampilan yang Dokter peroleh adalah melalui pengulangan yang membutuhkan jam terbang, dan 'lahan berlatih' seorang dokter adalah Manusia juga! Inilah yang membedakan profesi dokter dari lainnya. Namun tidak berarti buku yang ditulis oleh seorang dokter ini lantas membenarkan tindakan malpraktik. Enaknya, aku akan mulai mengutip beberapa isi buku yang sangat menarik ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;" trebuchet="" ms=""&gt;Atul Gawande&lt;/span&gt;&lt;span style="" trebuchet="" ms=""&gt; adalah seorang dokter bedah umum (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;general surgeon&lt;/span&gt;) berkebangsaan Amrik, juga seorang penulis di majalah kenamaan "&lt;a href="http://www.newyorker.com/"&gt;The New Yorker&lt;/a&gt;". Jika sempat membuka situs majalah internet &lt;a href="http://www.slate.com/"&gt;Slate.Com&lt;/a&gt;, Anda juga akan menemukan beberapa tulisannya. Berbekal pengalaman sehari-harinya, khususnya pada masa-masa residensi (sekolah spesialisasi), ia banyak memaparkan ilustrasi dari kasus-kasus bedah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" trebuchet="" ms=""&gt;Membaca Pendahuluan-nya saja, Anda akan langsung tertarik untuk tidak menghentikan membaca buku ini. Penulis memulai cerita dengan satu kasus bedah yang ia dapatkan di masa residensinya. Dan ia menulis, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku sadar, ilmu kedokteran merupakan sesuatu yang aneh yang kadang merisaukan. Taruhannya begitu tinggi, kewenangan yang diambil begitu besar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Kami cekoki orang dengan obat, kami masukkan jarum dan slang ke tubuh mereka, kami kutak-katik mereka secara fisik, biologis, dan kimiawi, kami buat mereka berbaring tak sadar, lalu membukakan tubuhnya untuk dilihat semua orang&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;.... maka akan tampak &lt;/span&gt;betapa kacau, tak pasti, dan juga mencengangkannya ilmu kedokteran itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Atul Gawande meneruskannya dengan ilutrasi kasus seorang anak dengan massa tumor di daerah dada yang membuatnya sesak napas, dan para dokter menghadapi dilema pilihan tindakan apa yang akan dikerjakannya. Ya: DILEMA. Suatu hal yang jamak dalam dunia mayoritas abu-abu ini (bukan hitam-putih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian 1 buku ini (judul besarnya: "Kekhilafian") menggambarkan betapa mudah seorang dokter berbuat salah, dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, tak lupa kisah nyata yang bisa diambil pelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Atul Gawande menceritakan pengalaman pertamanya memasang infus vena sentral pada seorang pasien, mulai dari tidak bisa menemukan bagian ini, sampai ia menjadi demikian mahir dan harus mengajarkan pada orang lain. Ia menulis: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"ada yang berbeda di kedokteran: orang berlatih dengan manusia!" &lt;/span&gt;Bagi Anda yang kebetulan pernah menjalani masa-masa pendidikan kedokteran, pastinya kadang Anda akan tersenyum sendiri, mengingat-ingat pengalaman pertama mengerjakan suatu tindakan pada pasien, atau bagaimana teknik berbicara dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda berobat ke sebuah RS, dan harus menghadapi kenyataan yang melayani Anda adalah seorang ko ass (mahasiswa kedokteran), atau seorang residen (bukannya dang dokter spesialis senior)? Betapa kecewanya Anda. Sudah membayar mahal untuk sebuah layanan kesehatan bermutu, dihadapkan pada sebuah tindakan 'eksperimental'. Apa-apaan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi Dr Gawande memberikan argumentasinya yang sangat tajam: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"Inilah kenyataan yang tidak enak tentang pengajaran... hak pasien untuk mendapatkan layanan yang terbaik harus diutamakan di atas tujuan mendidik para calon ahli. Kita menginginkan layanan yang sempurna tanpa latihan. Tetapi, setiap orang akan menghadapi bahaya bila tak ada seorang pun dilatih untuk jadi ahli di masa depan. Maka, pembelajaran berlangsung secara sembunyi-sembunyi,..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Masih banyak argumen telak lain yang disampaikan Dokter Spesialis Bedah sekaligus peneliti di Brigham Women Hospital ini. Namun tidak berarti isi buku ini melulu 'membela' dokter. Dr Gawande juga memaparkan kisah beberapa sejawatnya yang tidak boleh ditolerir kesalahannya. Dalam hal ini, pembaca akan melihat dalam proses penulisan buku, Atul Gawande mengadakan interaksi langsung dengan tokoh-tokoh yang disebutkannya, dan mengadakan pembicaraan intim dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis juga memaparkan mengenai malpraktik. Ia punya argumentasi menarik akan dampak tuntutan malpraktik: "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masalah yang lebih berat tentang tuntutan malpraktik adalah bahwa dengan memerkarakan kesalahan ini, para dokter menjadi enggan membuka diri kepada publik. Sistem yang menyimpang ini membuat pasien dan dokter berada pada sisi yang berlawanan, dan mendorong kedua pihak untuk mengajukan pandangan yang semakin saling menjauh tentang suatu kejadian. Dengan demikian, bila terjadi sesuatu yang buruk, hampir mustahil dokter akan bicara kepada pasien dengan jujur tentang kesalahannya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga menyimpulkan penulis seorang dokter yang cerdas dan banyak membaca. Banyak sekali kutipan dari jurnal-jurnal kedokteran bergengsi, dipaparkan dengan bahasa yang memudahkan semua orang memahaminya. Referensinya sangat kuat dan mampu membuat hubungan antara satu sumber dengan sumber lainnya dalam membahas sesuatu. Tidak sedikit hal baru yang aku dapatkan setelah membaca buku ini. Misalnya teknik kolesistektomi (tidak penting bagi seorang dokter (umum) untuk mengetahui teknik ini, lagipula aku tidak pernah ikut operasinya di masa ko asistensi dulu), ilmu terkini mengenai nyeri (pain), rasa mual (nausea), wajah merona (blushing), dan operasi pintas lambung (mungkin teknik ini sampai sekarang belum dilakukan di Indonesia). Beberapa yang kusebutkan terakhir terdapat di Bagian 2: Misteri. Di sini penulis menjelaskan beberapa hal yang sampai saat ini masih menjadi misteri dalam ilmu kedokteran, namun upaya mengatasinya dan penelitiannya masih terus berlangsung. Inilah kehebatan ilmu pengetahuan yang tak pernah berhenti mencari dan mencari. Dan kita akan dihadapkan dengan susunan kalimat yang sangat enak dibaca, menceritakan keterbatasan dokter dalam mengatasi misteri-misteri ini. Pembaca pun akan menjadi maklum dengan keterbatasan dokter, sekaligus menghargai upaya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga (terakhir) berjudul: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketidakpastian&lt;/span&gt;. Pembaca akan mendapatkan kisah sesungguhnya akan autopsi mayat (membuatku ingin menuliskan blog tentang autopsi di Indonesia), pilihan akan suatu tindakan yang diserahkan pada pasien (baca: informed consent--maksudnya pasien diberikan penjelasan akan suatu tindakan medis yang akan dilakukan, dan setelah pasien paham, ia punya kebebasan untuk menerima atau menolaknya), dan kasus fasiitis nekrotikans yang tidak pernah terlintas di pikiranku (sebagai diagnosis banding selulitis). Dan membuatku ingin membaca bukunya Jay Katz: "The Silent World of Doctor and Patient" (kalau pasien berhadapan denganku, mereka akan menemukan dokter yang sama sekali tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;silent&lt;/span&gt;, alias cerewet! Hehehe &lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/shade.png" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah bagian penutup yang cantik. Betapa penulis sangat piawai dalam menentukan urutan-urutan isi bukunya. Bagian ini membuatku--sebagai seorang dokter--berpikir, bahwa di jaman perlindungan hak konsumen, mudahnya tuntutan malpraktik, tidak sedikitnya dokter yang belum memahami pentingnya komunikasi dengan pasien, serta pasien yang diberi kebebasan untuk memilih, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dokter tetap punya hak untuk 'memaksa' pasien, memilihkan tindakan yang terbaik baginya, pada kasus-kasus yang sangat dilematis dan dapat mengancam hidup pasien, meskipun pasien mempunyai pilihan yang lain&lt;/span&gt;.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Masih banyak hal menarik lain yang bisa diungkapkan, namun tidak akan utuh jika tidak membaca langsung buku ini dari awal sampai akhir.&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/buku_komplikasi.gif" alt="Image hosting by Photobucket" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" trebuchet="" ms=""&gt;Bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat indah. Pilihan katanya baik, enak dibaca, mudah dipahami, meskipun harus menjelaskan permasalahan dalam kedokteran yang mengandung banyak istilah asing. Tampak sekali Dr. Gawande adalah seorang penulis piawai. Meskipun buku yang kubaca ini adalah edisi terjemahan berjudul: "Komplikasi, Drama di Ujung Pisau Bedah: Sebuah Catatan tentang Ilmu yang tak Sempurna", terbitan Penerbit Serambi (www.serambi.co.id). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" trebuchet="" ms=""&gt;Sebuah buku terjemahan yang enak dibaca memang tak lepas dari kemahiran penerjemahnya, ialah dr. Zunilda Sadikin Bustami, MS, SpFK, dosen Farmakologi-ku di FKUI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sabar rasanya menunggu Atul Gawande menuliskan buku lanjutannya (meskipun ini bukan buku yang dirancang berseri). Atau kapan akan terbit buku serupa yang relevan dengan kondisi Indonesia. Ada yang mau mulai menulisnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Penerbit sama sekali tidak membayarku untuk menulis resensi ini &lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/teeth.png" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-113799675303084717?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/113799675303084717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=113799675303084717' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113799675303084717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113799675303084717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/01/complications-surgeons-notes-on.html' title='Complications: A Surgeon&apos;s Notes on an Imperfect Science by Atul Gawande'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-113657067464109272</id><published>2006-01-06T09:52:00.000-08:00</published><updated>2006-01-06T10:04:35.030-08:00</updated><title type='text'>Voltus V dan Kecepatan Warp</title><content type='html'>&lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana;"&gt;Tatoe arashi ga futou tomo.. Tatoe oo nami ateru tomo.. Kogida sou tatakai no umi he.. Tobikomou tatakaino uzu he..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Belum mengenal potongan syair lagu di atas? Bagaimana dengan ini:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;“Voltus Lima sahabat kita semua.. Lima pemuda yang gagah perkasa.. Sangat disukai anak-anak semua.. Dengan robot tempur perkasa Voltus Lima..”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Beberapa dari kita pasti pernah familiar dengan kalimat-kalimat tersebut. &lt;i&gt;Lets say&lt;/i&gt;.. sekitar 20 tahun yang lalu. Dinyanyikan oleh Sanggar Cerita Shangrila dalam kaset-kaset cerita anak-anaknya. Dan kita lebih ingat lagi dengan tokoh yang dimaksudkan: Voltus V (baca: voltus five). Robot raksasa bentukan dari lima pesawat tempur, dengan lima orang jagoan berkostum merah-biru-hijau-kuning-pink. Khas Jepang banget deh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/voltus01.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Bukan itu yang demikian berkesan buatku. Tapi kenangan masa kecilnya. Inilah sesuatu yang berharga. Kadang manusia membayar harga mahal untuk sebuah kenangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Sebagai seorang anak kecil yang dibesarkan di sebuah sudut Jakarta di awal tahun ’80-an, menonton film-film kartun Jepang adalah kebiasaan sehari-hari. Pulang sekolah (baca: TK), ganti baju, pergi ke rumah &lt;a href="http://www.friendster.com/user.php?uid=13168011"&gt;teman&lt;/a&gt;, putar video-nya. Hari ini episode 1, besok episode 2, dan seterusnya sampai habis. Voltus Five adalah salah satu yang paling berkesan buatku. Mengapa? Karena ia termasuk yang paling awal kulihat, paling banyak episodenya, ditonton beramai-ramai, dan warna-warni kostum serta imajinasinya itu yang membuatku sedemikian membekas. Aku bahkan masih menyimpan poster kertasnya, bonus dari majalah Bobo.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Kini dua puluh tahun berselang, aku membangkitkan kenangan masa kecilku ini. Aku membeli satu keping DVD yang berisi 40 episodenya sekitar enam bulan lalu (&lt;i&gt;thanks to DivX technology that compressed all the episodes to one single DVD&lt;/i&gt;) via internet seharga Rp 40 ribu. Perasaan yang membuncah ketika mendengar &lt;a href="http://members.tripod.com/%7Evoltes_5/v5heroes.html"&gt;Kenichi&lt;/a&gt; berseru: “V TOGETHER.. LET’S VOLT IN,” sambil menekankan telunjuknya pada tombol panel, dan seketika itu kelima pesawat tempur membentuk formasi, dan siap menyatu menjadi tubuh raksasa &lt;i&gt;mecha&lt;/i&gt; Voltus V.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Film yang diputar di stasiun TV Jepang pada 1977-78 ini banyak dipuji karena isi ceritanya yang ‘agak’ berbobot. Bukan melulu perang-perangan antara robot jagoan dan monster, terus si jagoan mengeluarkan senjata pamungkas ‘&lt;a href="http://members.tripod.com/%7Evoltes_5/v5weapons.html"&gt;TENKUU KEN&lt;/a&gt;’, dan monsternya hancur berkeping-keping. Tapi ada kisah persahabatan dan kasih ayah pada anak-anaknya yang mengharukan. Pada episode-episode awal, kita bisa melihat konflik yang terjadi antara dua tokoh utama, kemudian episode-episode yang menceritakan masing-masing karakter, sampai pada episode-episode akhir yang menunjukkan film ini dibuat dengan pengetahuan teknik cukup memadai. Inilah yang sedikit aku tekankan dalam resensi ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/imagevoltesv45.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Voltus V menceritakan planet rekaan bernama &lt;a href="http://members.tripod.com/%7Evoltes_5/boazanianhistory.html"&gt;Boazan&lt;/a&gt; dengan jarak 14 ribu tahun cahaya dari bumi (bayangkan saja, sudah dipikirkan sampai sini). Dengan kecepatan maksimal &lt;a href="http://members.tripod.com/%7Evoltes_5/"&gt;Mach 20&lt;/a&gt;, tentu saja Voltus V tidak akan mencapai planet ini di akhir episodenya. Untungnya ada &lt;a href="http://members.tripod.com/%7Evoltes_5/v5story2.html"&gt;Solar Bird&lt;/a&gt; yang bisa melakukan kecepatan Warp untuk mencapai Boazan. Aha, pastinya &lt;a href="http://members.tripod.com/%7Evoltes_5/v5creator.html"&gt;pencipta&lt;/a&gt; kisah ini penggemar berat Star Trek juga. Menggunakan konsep Einstein mengenai kesatuan ruang-waktu, dengan cara menyatukan dua titik yang terpisah di dalam kesatuan dimensi ini, melalui lubang cacing (&lt;i&gt;wormhole&lt;/i&gt;) Voltus V bisa mencapai Boazan dalam hitungan menit dengan selamat. Tidak hancur berkeping-keping setelah melewati Lubang Hitam (&lt;i&gt;Black Hole&lt;/i&gt;). Meski konsep milik Stephen Hawking ini sudah dibantah tahun lalu melalui penelitian terbaru. Andaikan pengarang buku &lt;i&gt;The Physics of Star Trek&lt;/i&gt; menyaksikan &lt;i&gt;anime&lt;/i&gt; ini, pastinya dia akan menambahkan daftar kritikan atas kesalahan-kesalahan teknis konsep fisika yang dibuat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Yaa… tentu saja, Prof. Lawrence M. Krauss tidak setuju laser yang ditembakkan oleh &lt;i&gt;phaser&lt;/i&gt; milik Kenichi dkk bisa terlihat mata, kecuali melalui medium ruang gelap tanpa cahaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;"&gt;Bagaimanapun, tayangan yang membangkitkan kenangan masa kecil ini tetap tidak tertandingi untukku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/voltes6L.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-113657067464109272?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/113657067464109272/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=113657067464109272' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113657067464109272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113657067464109272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2006/01/voltus-v-dan-kecepatan-warp.html' title='Voltus V dan Kecepatan Warp'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-113555159482762816</id><published>2005-12-25T14:54:00.000-08:00</published><updated>2007-09-16T22:11:38.323-07:00</updated><title type='text'>Be Critical with Your O B G Y N</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(I have changed the previous title--"Don't be fooled by you OBGYN")&lt;/span&gt;  Sebelumnya—bagi yang belum paham—OBGYN dibaca &lt;i&gt;o bi ji wai en&lt;/i&gt;, seperti membaca abjad dalam bahasa Inggris, adalah kepanjangan dari obstetri ginekologi (kebidanan dan kandungan). Singkatan ini menunjuk pada dokter spesialis obsgin (SpOG), dokter spesialis kebidanan dan kandungan. (Cara penyebutan &lt;i&gt;o bi ji wai en&lt;/i&gt; yang mengarah pada SpOG pertama kali kudengar dari episode pertama film seri pemenang Emmy Award 2005, &lt;a href="http://www.abc.com/primetime/lost"&gt;LOST&lt;/a&gt;) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;So, have we been fooled by them, then?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt; Sekali lagi, supaya tidak dianggap sebagai anti teman sejawat dari obsgin, saya mulai dengan sebuah ilustrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Awalnya bermula dari pertanyaan seorang yang sudah kuanggap sebagai Tante sendiri. Hamil 10 minggu, dilakukan pemeriksaan serologi TORCH, didapatkan positif pada imunoglobulin G (IgG) Rubella dan Toksoplasma dengan nilai tertentu (tidak kuingat). Ia mendatangi dua dokter obsgin pada waktu yang berlainan. Dokter pertama menyarankan minum antibiotika golongan aminoglikosida setelah lewat trimester pertama (14 minggu), dengan indikasi yang menurutku sama sekali tidak jelas. Dokter kedua yang dikunjungi empat minggu sesudahnya menyarankan hal yang sama, ditambah—obat yang sudah kita prediksi—&lt;i&gt;isoprinosine&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Singkatnya, menanggapi hal ini, kulampirkan potongan &lt;i&gt;e-mail&lt;/i&gt;-ku untuknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;TORCH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt; kepanjangan dari &lt;b&gt;Toxoplasma Other infection Rubella Cytomegalovirus and Herpesvirus&lt;/b&gt;. Ialah beberapa mikroorganisme yang bila menginfeksi manusia dapat menimbulkan penyakit. Prinsip uji TORCH adalah reaksi &lt;b&gt;ANTIGEN-ANTIBODI&lt;/b&gt;. Jadi bila hasil uji positif terhadap salah satu mikroorganisme tadi, artinya PERNAH terjadi infeksi. Misalnya kalau Rubella positif, artinya ANTIGEN Rubella pernah masuk ke tubuh, dan tubuh kita berespon dengan membentuk ANTIBODI terhadap Rubella ini. Maka Rubella-nya positif. Prinsipnya sama dengan IMUNISASI menggunakan kuman yang dilemahkan, polio misalnya. Kuman polio yang dilemahkan masuk ke tubuh kita, maka tubuh akan membentuk antibodi, sehingga bila tubuh terinfeksi polio di masa datang, kita sudah punya antibodi untuk melawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah.. dari hasil uji ini, yang dibedakan adalah jenis ANTIBODINYA, apakah IgG atau IgM. IgG menunjukkan pernah terjadi infeksi lama, dan tubuh kita membuat antibodinya. Sedangkan IgM menunjukkan infeksi baru. &lt;b&gt;IgG yang positif dari hasil darah ibu tidak perlu dikhawatirkan&lt;/b&gt;. Sedangkan IgM yang positif, dilihat kadarnya seberapa tinggi. Ini pun bisa jadi sesuatu yang tidak membahayakan pula.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, sering terjadi &lt;b&gt;MISINTERPRETASI&lt;/b&gt; yang besar mengenai hasil tes ini. Banyak masyarakat, khususnya ibu hamil yang berpandangan, jika uji TORCH mereka ada yang POSITIF, maka janin yang mereka kandung terancam cacat bawaan. Padahal kalau kita paham prinsip antigen-antibodi, tentunya ini adalah pemikiran yang salah ya. Kecuali si Ibu, misalnya benar-benar kena Rubella saat hamil trimester pertama (ada kelainan kulit seperti cacar air). Nah.. kesalahpahaman dan ketakutan ini bisa menjurus pada peresepan obat-obatan macam IMUNOMODULATOR (untuk meningkatkan imunitas/daya tahan tubuh) atau ANTIVIRUS (padahal virusnya udah nggak ada). Salah satu imunomodulator tersering adalah &lt;a href="http://www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=175"&gt;ISOPRINOSIN&lt;/a&gt; yang harganya lumayan muahal. Padahal obat jenis ini tidak terbukti khasiatnya dari penelitian. Negara maju sudah tidak menggunakan obat ini. Saya saja sampai susah mencari sumbernya di Google dengan mengetikkan keyword ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lampirkan beberapa tulisan yang cukup menjelaskan. Kalau ada yang ingin didiskusikan, please feel free to contact me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.drmalpani.com/wasteful-infertility-tests.htm%29"&gt;TORCH tests&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Certain infections called TORCH ( which stands for TOxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus and Herpes) , may be a cause for a single miscarriage, but &lt;b&gt;are NOT a cause for repeated miscarriages&lt;/b&gt;. While a number of specialists will do these tests, and even start treatment based on the results, these tests are not worthwhile for most patients. A positive TORCH test simply means the patient has positive antibody levels against that particular infection. Thus, a positive Toxo IgG test means that the patient has anti-toxoplasmosis antibodies which protect her against a repeat toxoplasmosis infection. This means &lt;b&gt;a positive test is actually a good sign and suggests that the patient is protected against that infection because she has been exposed to that infection in the past&lt;/b&gt;. Unfortunately, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;many doctors do not know how to interpret these results and scare the patient into thinking that the positive test result&lt;/span&gt; means she has an active infection which can cause her to miscarry again. In fact, some doctors will even attempt to "treat" the "infection" ! This wastes time and causes needless distress. If your doctor asks you do a TORCH test after a miscarriage, you should refuse and find a better doctor!&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Kelanjutan isi e-mail disampaikan di bagian tulisan paling bawah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Mengapa mengangkat kasus ini? Karena dalam sebuah &lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/sehat"&gt;milis&lt;/a&gt;, aku jadi tahu bahwa tidak sedikit ibu hamil yang mengalami salah paham akan uji TORCH ini, dan banyak pula yang mengkonsumsi isoprinosine dalam kehamilannya. Bahkan &lt;a href="http://www.iwandarmansjah.web.id/"&gt;Prof. Iwan&lt;/a&gt; menyebut isoprinosine sebagai obat bohong. Tidak ada kegunaannya sama sekali. Termasuk anjuran yang diberikan bagi ‘Tante’-ku ini. Lalu dengan antibiotika golongan aminoglikosidanya? Apa indikasinya? Memangnya ada infeksi bakteri dalam tubuhnya? Mungkin nilai hitung leukosit-nya tinggi. Tapi ini tidak bisa jadi patokan sama sekali jika klinis baik. Hitung leukosit dan laju endap darah meningkat pada kehamilan normal. Ini dibuktikan sendiri pada rekan kerjaku yang melahirkan bayinya sama sekali tanpa masalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p  class="MsoBodyText" style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam sebuah &lt;a href="http://www.nice.org.uk/"&gt;panduan&lt;/a&gt; yang cukup baik, dijelaskan bahwa bagi seorang wanita yang belum pernah hamil sebelumnya, cukup mengadakan kunjungan sebanyak sepuluh kali ke dokter obsginnya, dan wanita yang pernah melahirkan dengan cukup tujuh kunjungan, semuanya pada kasus biasa (bukan kasus khusus), lengkap dengan rincian pemeriksaan apa saja yang akan dilakukan dokter.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;Tentu saja ini akan sangat &lt;i&gt;cost effective&lt;/i&gt;, dan edukatif bagi si konsumen kesehatan. Pasien tidak sekedar merasa menjadi objek dokternya saja, tetapi juga menjadi subjek kesehatan, mitra kesehatan sang dokter, karena merasa cukup jelas dengan perlakuan dokter terhadap dirinya. Tidak asal &lt;i&gt;nrimo&lt;/i&gt; saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;But&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;.. ehem, &lt;i&gt;not all doctors, especially here in Indonesia where most of the health services are &lt;a href="http://www.iwandarmansjah.web.id/popular.php?id=204"&gt;one-way-pattern&lt;/a&gt; (doctor-to-patient-only), like this ‘style’&lt;/i&gt;. Bisa mengurangi penghasilan. Huehehe.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ini &lt;i&gt;ga nyambung&lt;/i&gt;, hanya teringat dengan pengalaman waktu stase obsgin di IGD RSCM lantai 3 pas tingkat IV dan VI. Anggap aja &lt;i&gt;ending story&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Wanita itu terbaring pasrah di meja pemeriksaan. Baru saja ia tiba di IGD Kebidanan dengan keluhan ‘air-air’-nya keluar beberapa jam sebelumnya, berwarna hijau tua. Ketubannya pecah. &lt;i&gt;The water broke&lt;/i&gt;. Hamil anak pertama, posisi lintang, denyut jantung bayi mulai melambat. Gawat janin! Indikasi &lt;i&gt;sectio caesaria cito&lt;/i&gt;. Harus segera dioperasi untuk mengeluarkan bayinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p style="font-family: &amp;quot;trebuchet ms&amp;quot;;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Persiapkan masuk kamar operasi yang steril. Lepas semua pakaiannya! Ya, lepaskan pakaiannya, ganti dengan pakaian kamar operasi. Harus dilakukan segera, sambil memasang selang infus, kateter, oksigen. Tapi harus dilepas di sini?! Di tengah kerumunan tiga orang residen obsgin, dua orang ko ass tingkat VI, dua orang ko ass tingkat IV, dan satu bidan. Separohnya pun laki-laki. Namanya orang mau melahirkan, tentu hanya bisa pasrah saja diperlakukan apapun. Yang penting nyawa si ibu dan bayinya selamat. Walaupun perasaan risih diperlakukan seperti itu pastinya ada. Tidak etis, batinku dalam hati. Selalu ada cara lain yang lebih baik. Misalnya menyerahkannya pada seorang perawat perempuan untuk mengurus hal seperti ini; menyediakannya ruang khusus untuk berganti pakaian. Aku pun bersumpah, jangan sampai istri, adik, kerabat dekat, atau akhwat-akhwat muslimah yang terhormat itu harus melahirkan di tempat seperti ini…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style=""&gt;Tapi jangan digeneralisir juga ya… Hanya ingin mengeluarkan sedikit isi kepala yang terpendam.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;Lanjutan potongan isi e-mail:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Kurniati, 15 Dec 2004 07:54:11 WIB&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Dokter Yth, Sekarang saya sedang hamil 4 bulan. Pada bulan ke2 kehamilan saya melakukan tes TORCH dgn hasil sbb: CMV IgG +850 CMV IgM -0.1 RUbella IgG +350 Rubella IgM -0.35 Toxo IgG &amp;amp; IgM - Bagaimana dgn hasil tes saya tersebut ? Apakah hasil IgG CMV dan Rubella terlalu tinggi ? Apakah yang harus saya lakukan ? Apakah perlu meminum Isoprinosine dan Valtrex ? Apakah obat tersebut tidak berbahaya bagi janin ? Maaf bila pertanyaannya banyak. Mohon saran dan penjelasannya.Terima kasih. Kurniati &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Ibu Kurniati Yth, Terima kasih atas konsultasinya, dari data yang diberikan oleh ibu saya berpendapat bahwa saat ini sedang tidak terjadi infeksi pada tubuh ibu, IgG(+) dan IgM (-), ini menandakan bahwa ibu sebelum pernah terkena infeksi TORCH ini, sekarang tubuh ibu sudah memiliki antibodinya, jadi tidak usah khawatir. Mungkin yang belum ada antibodinya adalah toxoplasma, ini juga tidak menjadi masalah karena IgM (-) berarti ibu tidak sedang terkena infeksi Toksoplasma. Mengenai obat Isoprinosin dan Valtrex sebetulnya tidak perlu sekali harus diminum tapi silakan saja diteruskan, karena obat tersebut tidak akan mengganggu kehamilannya selama dosis yang diminum sesuai instruksi dokter. Demikian, terima kasih. (dr xxxxx SpOG, RSxx xxxxxxx, Jkt)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style="background: rgb(255, 255, 51) none repeat scroll 0% 50%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;a href="http://www.pdpersi.co.id/pdpersi/konsultasi/kandungan.php3?id=342"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;KOMENTAR&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;: mengenai tanggapan dokternya ISOPRINOSINE dan VALTREX ga usah dipegang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;The Test&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;How is it used?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Blood may be tested from either the mother or the newborn infant to determine if the illness observed in the newborn is caused by infection with one of the pathogens included in the panel. A blood test can determine if the person has had a recent infection, a past infection, or has never been exposed to the virus. Patients with recent infection with one of the TORCH agents will have IgM antibody to the specific agent, and those with a past infection will have an IgG antibody, which is life-long. If neither immunoglobulin is detectable, there has been no infection with these microorganisms. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;When is it ordered?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;The test is ordered if a pregnant woman is suspected of having any of the TORCH infections. Rubella infection during the first 16 weeks of &lt;a href="http://www.labtestsonline.org/understanding/conditions/pregnancy.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;pregnancy&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; presents major risks for the unborn baby. If a pregnant woman has a rash and other symptoms of rubella, laboratory tests are required to make the diagnosis. A physician cannot tell if a person has rubella by their clinical appearance since other infections may look the same. Women infected with toxoplasma or CMV may have flu-like symptoms that are not easily differentiated from other illnesses. Antibody testing will help the physician diagnose an infection that may be harmful to the unborn baby.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The test may be ordered on the newborn if the infant shows any signs suggestive of these infections, such as exceptionally small size relative to the gestational age, deafness, mental retardation, seizures, heart defects, cataracts, enlarged liver or spleen, low platelet level, or jaundice.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;What does the test result mean?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Results are usually given as positive or negative, indicating the presence or absence of IgG and IgM antibodies for each of the infectious agents. Presence of IgM antibodies in the newborn indicates high likelihood of infection with that organism. IgM antibodies produced in the mother cannot cross the placenta so presence of this type of antibody strongly suggests an active infection in the infant. Presence of IgG and absence of IgM antibody in the infant may reflect passive transfer of maternal antibody to the baby and does not indicate active infection in the baby.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 12pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Likewise, the presence of IgM antibody in the pregnant woman suggests a new infection with the virus or parasite. Further testing must be done to confirm these results since IgM antibody may be present for other reasons. IgG antibody in the pregnant woman may be a sign of past infection with one of these infectious agents. By testing a second blood sample drawn two weeks later, the level of antibody can be compared. If the second blood draw shows an increase in IgG antibody, it may indicate a recent infection with the infectious agent.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Is there anything else I should know?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=";font-family:Arial;font-size:100%;"  &gt;Use of the TORCH panel to diagnose these infections is becoming less common since more specific and sensitive tests to detect infection are available. Relying on the presence of antibodies may delay the diagnosis since it takes days to weeks for the antibodies to be produced. Detection of the antigen or growing the microorganism in culture can be done earlier in the infectious process and are more specific.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-113555159482762816?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/113555159482762816/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=113555159482762816' title='14 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113555159482762816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113555159482762816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/12/dont-be-fooled-by-your-o-b-g-y-n.html' title='Be Critical with Your O B G Y N'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-113548806947857757</id><published>2005-12-24T21:20:00.000-08:00</published><updated>2005-12-24T21:48:36.620-08:00</updated><title type='text'>Salah Makan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Laki-laki bertubuh gempal dan berkumis hitam itu menyapaku saat masuk ke ruang praktik. Pria yang biasa kulihat dan saling bertegur sapa ketika melintas masuk ke tempat kerja ini minta dibuatkan surat rujukan untuk istrinya yang berobat ke RS kemarin. Rujukan ini berguna untuk mendapatkan penggantian uang dari perusahaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;"Istrinya sakit apa, Pak?" tanyaku&lt;br /&gt;"Keracunan makanan, Dok," jawabnya.&lt;br /&gt;"Memangnya makan apa?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Kemarin dia salah makan. Dia minum baygon."&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;Ada-ada saja. Keracunan baygon. Intoksikasi organofosfat. Upaya bunuh diri tentunya. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;Suicidal intention&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;. Masalah rumah tangga, mungkin? Aku tak ingin mengeksplorasi lebih jauh. Ini urusan pribadinya. Lagipula ada karyawan lain yang juga berobat di ruangan ini. Aku tak ingin cerita ini menyebar ke seantero kantor.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;Jadi teringat masa-masa &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;ko ass&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt; dulu. Ironis sekali melihat orang yang berupaya bunuh diri dengan minum racun insektisida golongan organofosfat ini. Mungkin hampir setiap minggu selalu ada kasus ini di Instalasi Gawat Darurat RS manapun. Biasanya ceritanya hampir sama. Si pelaku membulatkan tekad untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum obat nyamuk cair. Saat masuk beberapa tenggak ke dalam dalam kerongkongannya, ia merasakan panas dan rasa terbakar luar biasa, sehingga mengerang kesakitan, dan tidak menghabiskan isi minumannya. Segeralah ia dibawa kerabatnya ke IGD RS. Dipasanglah selang menuju lambung lewat lubang hidung untuk membilas isi lambungnya, memastikan racun dibersihkan. Dalam pemasangan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;nasogastric tube&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt; ini, tentu rasanya sangat tidak nyaman. Belum lagi berpuluh-puluh ampul sulfas atropin yang dimasukkan lewat selang infus. Berapa pula rupiah yang harus habis?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;Sudah susah-susah &lt;i&gt;pengen&lt;/i&gt; mati, eh &lt;i&gt;malah&lt;/i&gt; nggak kesampaian. Jadi sakit pula. Masuk rumah sakit pula. Keluar uang pula. Malah tambah susah, kan?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;Memangnya mati itu gampang? Akhirnya bisa disimpulkan kematian itu mahal harganya, bukan? Kenapa nggak pilih cara mati yang lebih cepat saja, misalnya memasukkan moncong pistol ke dalam mulut atau mengarahkannya tepat ke otak, dan.. DOR!&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:16.5pt;"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:/DOCUME~1/user/LOCALS~1/Temp/msoclip1/01/clip_image001.png" href="http://images.multiply.com/common/smiles/unlove.png"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msoclip1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_i1025" height="22" width="22" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;Tapi harga pistol kan mahal. Mendapatkannya juga susah dari segi hukum.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;span trebuchet="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;Makanya.. jangan bunuh diri &lt;/span&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1026" type="#_x0000_t75" alt="" style="'width:23.25pt;height:16.5pt'"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:/DOCUME~1/user/LOCALS~1/Temp/msoclip1/01/clip_image003.png" href="http://images.multiply.com/common/smiles/bat.png"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/user/LOCALS%7E1/Temp/msoclip1/01/clip_image004.gif" trebuchet="" ms="=" shapes="_x0000_i1026" height="22" width="31" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 7pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span comic="" sans="" ms="&amp;quot;=&amp;quot;"&gt;--biasa, ini sesi ga nyambung:&lt;br /&gt;kasus aneh yg didapat dlm 2 minggu ini:&lt;br /&gt;- Buerger Disease: kelainan vaskuler yg dirujuk ke Bedah Vaskuler. Untung pasiennya ngasih tahu gw diagnosisnya apa? kalo enggak.. waa mana gw tau. ujung2nya musti browsing di Google&lt;br /&gt;- bayi makrosomia dari ibu DM tipe 1 yang humerus dekstranya 'terpaksa' harus mengalami fraktur akibat distosia bahu dan ditilong pas persalinan. udah gitu sempet didiagnosis Erb Palsy pula. bodohnya...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-113548806947857757?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/113548806947857757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=113548806947857757' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113548806947857757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113548806947857757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/12/salah-makan.html' title='Salah Makan'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-113392291476136184</id><published>2005-12-06T18:28:00.000-08:00</published><updated>2005-12-06T18:35:15.010-08:00</updated><title type='text'>the antibiotics thing</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Good Doctor, Bad Doctor&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Bagaimanakah dokter yang baik menurut Anda? Ia menebar senyum sejak Anda membuka pintu ruang praktiknya, serentak berdiri sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman, meluangkan waktu yang cukup untuk mendengarkan segala keluhan, seraya melakukan pemeriksaan fisik yang teliti, dan berujung pada menulis di atas kertas resep, dan menyerahkannya pada Anda. Keluhannya sih mungkin ringan, hanya batuk-pilek dengan sedikit demam sudah tiga hari tak kunjung mereda. Dokter yang ramah dan baik hati ini menuliskan dua macam antibiotika dalam resepnya: amoksisilin 500 mg dan kotrimoxazol 480 mg dalam sediaan paten. “Ingat ya, harus dihabiskan antibiotikanya,” pesannya sebelum si pasien meninggalkan ruangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Common colds diberikan antibiotika? Sampai dua macam pula. Merek-nya paten pula. Tapi dokternya baik sih.. Jarang lho dapat dokter ramah dan baik hari seperti itu. Apapun obatnya, akan kubeli. &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;Hey&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;, belum tentu si dokter bekerja sama dengan perusahaan farmasi untuk mengeruk komisi obat paten lho! (&lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;wel&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;l, meskipun tetap ada kemungkinan sih) Bisa saja memang si dokter ramah ini kurang &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;updated&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; ilmunya. Jadi memberikan obat dengan ilmu sepuluh tahun lalu, padahal dunia kedokteran terus berkembang…&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Lalu dengan dokter satu ini: sejak Anda masuk ke dalam ruangannya, wajahnya datar-datar saja. Ia tidak banyak bicara, hanya mendengarkan keluhan Anda, memeriksa seperlunya, bertanya seperlunya, dan menuliskan resep sambil memberitahukan cara penggunaannya. Yang jelas si dokter satu ini paham betul dengan penggunaan obat secara rasional. Termasuk antibiotika, ia tidak akan meresepkannya jika dinilai tidak perlu. Kadang-kadang si pasien sampai merengek minta diberikan antibiotika padahal hanya luka tergores saja di lututnya. Ia paham betul dengan ‘parahnya’ penggunaan antibiotika di Indonesia. Ia tidak ingin memperkeruh kondisi ini.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kedua contoh di atas bukanlah contoh yang ideal, bukan? Kita mengharapkan dokter ramah dan baik hati terhadap pasiennya, namun juga rasional dalam memberikan obat, &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;plus updated&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; ilmunya. Itu dokter yang bagus. Pasiennya banyak, sampai mengantrinya pun berjam-jam. Obatnya cocok! Minimal ada satu antibiotika pada kunjungan pertama. &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; sih seringnya langsung sembuh. Kalau ke dokter lain belum tentu obatnya cocok.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Beberapa hari lalu, sambil menyetir sendirian malam-malam pulang dari tempat kerja (&lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;one thing I really enjoyed, driving alone at night, but I think having ‘someone’ right beside me while driving must be much more enjoyable, there’s someone to talk with… but the time hasn’t come yet&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;—sorry nih OOT) dan mendengarkan sebuah radio swasta ibukota, si penyiar dalam obrolannya di sela-sela lagu menceritakan, “Gue mau cerita nih tentang dokter gue. Gue memang terkenal bandel kalau disuruh minum obat. Disuruh minum antibiotika sampai habis, begitu badan gue merasa &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;enakan&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;, gue stop obatnya. Akibatnya saudara-saudara? Sekarang gue disuruh minum sampai tiga macam antibiotika kalau sakit, karena gue &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;udah&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; kebal sama antibiotika. Makanya gue harus minum tiga macam untuk membunuh semua virus sampai tuntas.”&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dengan nada bangga si penyiar menceritakan pengalamannya. Dokternya yang dibanggakannya ini memberikan kombinasi antibiotika menyadari resistensi obat yang ada (memangnya sudah dibuktikan dengan uji kultur darah?). Ia pun salah menyebutkan kata ‘virus’. Antibiotika untuk memubuh bakteri, Mas, bukan virus! Ini si penyiar memang tidak begitu mau tahu ilmunya, atau si dokter telah (maaf) ‘membodohi’ pasiennya, dengan entengnya mengkombinasi antibiotika, tanpa memberikan edukasi yang baik. Jadi &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;instead of keep giving multiple antibiotics&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;, yang lebih penting adalah mendiagnosis dengan tepat penyakitnya, dan memberikan edukasi agar mampu menjaga kesehatan agar tidak mudah sakit.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Dalam kesempatan kali ini saya tidak akan membeberkan teori antibiotika dan resistensinya, juga data-data kuantitatif &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: georgia;"&gt;antibiotics abuse&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; di Indonesia. Singkatnya, Indonesia adalah negara dengan pola konsumsi antibiotika tidak rasional. Dokter mudah merasa khawatir dengan penyakit pasiennya, maka mudahnya, berikan saja antibiotika sebagai ‘obat dewa’, mampu ‘menyembuhkan semua penyakit’. Ditambah mahalnya ongkos pemeriksaan penunjang, maka dokter di Indonesia cenderung terjebak pada pola terapetik farmasi. Sekali datang, langsung obati, mudah-mudahan ‘cespleng’! Penekanan pada aspek kuratif (pengobatan), bukan preventif (pencegahan). Konsumen kesehatan menambah parahnya kondisi ini dengan mereka yang meminta antibiotika ke dokter, padahal dokter belum tentu ingin meresepkan. Khawatir ‘tidak laku’, maka dokter memenuhi permintaan pasien.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: georgia;"&gt;Ironic, isn’t it?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Inilah yang akhirnya menyebabkan SUPERBUGS: bakteri resisten terhadap golongan antibiotika spektrum luas. Kalau kumannya sudah begini, mau diobati dengan apa lagi? Saya ingat dengan kisah sedih kawan SMU saya, anaknya yang berumur 1 minggu dirawat di sebuah RS pemerintah dengan mendapat tiga macam antibiotika spektrum luas!! Saya khawatir kuman penyebabnya tidak berasal dari lingkungan alamiah si anak, melainkan didapat dari RS selama perawatan. Namanya infeksi nosokomial. Semacam oleh-oleh dari RS jika dirawat. Seseorang dirawat, keadaannya bukannya membaik, melainkan mendapat infeksi bakteri baru dari RS yang resisten dengan berbagai macam antibiotika.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Udahan dulu deh…&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Ini lagi ga nyambung: laporan jaga semalam di LKC:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;satu pasien dengan penurunan kesadaran suspek CVD stroke hemoragik GCS 3, diobservasi aja, alhamdulillah paginya bisa respon suara, jadinya GCS 15! (kayanya gue yang salah nilai GCS pas masuk deh) Cuma ada parese nervus VII aja sih, ga ada hemiparesis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;-&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Dua pasien kebidanan: satu wanita 35 tahun dengan G2P1A0 lahir spontan jam 23-an, dan satu wanita 31 tahun dengan G9P7A1 (grande multipara boo) partus spontan abis sholat subuh. Sempat bikin panik karena ada &lt;i&gt;hysterical reaction&lt;/i&gt; (‘Dokter Apin harap turun ke ruang Bidan CITO’) dibilangnya pingsan. Untuk ga ada apa-apa. Semua bayi AS-nya bagus dan BL normal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;-&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bolak-bolak nelepon perawat rujukan di RSCM gara-gara ga dapat kamar untuk satu bayi BBLR preterm 32 minggu dengan hiperbilirubinemia, dan satu lagi member baru anak 2,5 tahun dengan KEP suspek meningitis khawatir ada dekomp juga. Cari ruangan di Harkit ga dapet, cari ke Fatmawati ga dapet juga. Ya beginilah kondisi RS kita, seringkali pasien ditolak, ga tau memang penih ruangannya di RS rujukan, atau memang nolak pasien GAKIN (mudah-mudahan yang terakhir ini engga. Kalau ketahuan Bu Menteri bisa jadi kasus lagi. Hehehe)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;Siap-siap berangkat lagi tiga jam dari sekarang. Ngantuk &lt;i&gt;euy&lt;/i&gt;…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-113392291476136184?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/113392291476136184/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=113392291476136184' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113392291476136184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113392291476136184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/12/antibiotics-thing.html' title='the antibiotics thing'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-113380624968224955</id><published>2005-12-05T10:06:00.000-08:00</published><updated>2005-12-05T10:10:49.880-08:00</updated><title type='text'>Boobies!!</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Okay, from the beginning, I have to tell you that I’m not going to write pornography or related. It’s just a title… hopefully an ‘eye-catching’ one, that’s going to attract you all to read my post. In the end, you’ll find some additional new knowledge about breast cancer. For those who haven’t had the information, of course.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Judul ini persis sama dengan tulisan yang saya temukan siang tadi dari penelusuran terhadap beberapa blogspot kedokteran. Tepatnya di &lt;a href="http://www.grahamazon.com/2004/04/boobies/"&gt;Grahamazon dot com&lt;/a&gt;, yang memandu &lt;a href="http://www.medscape.com/viewarticle/517590"&gt;Ronde Besar Medscape&lt;/a&gt; pekan lalu (semua dokter dan mahasiswa kedokteran tingkat klinik pastinya familiar dengan istilah Ronde Besar). Coba simak kalimat-kalimat berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“It’s not everyday that you’re told by a woman to look at her chest. In fact, unless you’re learning how to do a female breast exam, it’s generally not kosher. And so it was, that last Monday I palpated my first breasts. (This post is totally gonna nail me by porn-blocking software.)”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Mengingat jarangnya saya menulis blog, karena seringkali tidak ada ide, membaca blog milik &lt;a href="http://www.grahamazon.com/about/"&gt;Mr. Graham Walker&lt;/a&gt; yang mengisahkan hari-harinya menjadi mahasiswa kedokteran di Stanford University ini (ia masih mahasiswa tahun ketiga), memberikan ide bagi saya untuk sedikit bercerita masa-masa kuliah di &lt;a href="http://www.fk.ui.ac.id/"&gt;FKUI&lt;/a&gt; dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali kami mempelajari teknik pemeriksaan payudara, yakni metode SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) atau Breast Self Examination (BSE) ini adalah dalam sebuah mata kuliah Patologi Anatomi tingkat tiga (saya merasa kagum juga masih mengingatnya, berarti ini kebetulan saya masuk kuliah, karena masa-masa tingkat dua dan tiga adalah saat-saat saya sering cabut kuliah). Hanya melalui ilustrasi dari tayangan proyektor LCD saja. Saya juga ingat sang dosen memelesetkan menjadi ‘Periksa Payudara oleh Suami’. Tidak masalah, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“My friend Heather decides to go first, and before I have time to blink, *woah*, there’s two big breasts staring right back at me. Heather started out saying “Fantastic!” after the instructor raised her arms in response to Heather’s request, but the instructor reminded us that “breasts are not fantastic. They are healthy or normal.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kemudian di tingkat IV, saat berada di Bagian Bedah, untuk pertama kali kami melakukannya langsung terhadap pasien di IRNA A RSCM. Kelompok kecil kami terdiri dari empat orang pria ganteng (hueek, hueekk): aku, Aria, Ardath, dan Onny. Berhubung F-4 sedang menjadi idola saat itu, kami menjuluki diri kami F-Se (hueekk, pret, dut, cuih, hehehe… beneran lho, kelompok lain nggak ada yang satu kelompok cowok semua). Dr. Sastiono Spesialis Bedah Anak membimbing kami melakukannya pada seorang ibu yang bersedia menjadi volunteer. Eitss.. ga boleh mikir ngeres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“I’m being overly cautious at this point, trying not to say qualifying words like “fantastic” or “excellent,” so I end up just saying “okay,” and “healthy,” about 50 times. She finds it amusing; I let out a nervous laugh, and try to continue, still in hypersensitivity mode.”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir saat berada di Bagian Bedah tingkat VI, kami benar-benar bisa ‘puas’ melatih kemahiran melakukan breast exam ini di Poliklinik Bedah RSU Tangerang. Inspeksi dan palpasi, inspeksi dan palpasi. Hampir setiap harinya selalu ada lebih dari satu orang pasien baru dengan keluhan benjolan di payudara. Sebagai ko-ass, sebelum diperiksa langsung oleh spesialis bedah, semua pasien baru harus melewati kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat alamiah dan manusiawi, semua perempuan yang harus ‘merelakan’ dilihat auratnya yang vital ini oleh dokter laki-laki akan merasa risih dan tidak nyaman. Begitulah yang kualami saat memeriksa mereka (secara teori, bahkan pasien harus diperiksa dalam beberapa posisi berbaring dan duduk, betapa tidak nyamannya!). Belum lagi wajah ‘dokter muda’ yang masih culun-culun dan membuat orang berpikir &lt;em&gt;“Are you really a doctor here?”&lt;/em&gt; Maka dari itu, saya menyarankan semua wanita yang merasa memiliki benjolan tidak wajar di payudaranya untuk tidak datang ke dokter laki-laki (detilnya bisa dibaca di akhir tulisan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua benjolan pada payudara atau &lt;a href="http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003155.htm"&gt;breast lumps&lt;/a&gt;, adalah suatu keadaan yang mengharuskan setiap wanita yang mengalaminya datang ke dokter, karena bisa merupakan suatu keadaan dini dari keganasan (kanker). Meskipun beberapa kemungkinan (diagnosis banding) yang ada antara lain: fibroadenoma mammae (FAM—pada wanita muda, bukan kanker), kista, mastitis (biasanya pada ibu menyusui), dan papiloma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataan sehari-hari, tidak semua wanita Indonesia menyadari hal ini. Dari pengalaman klinikku selama setahun terakhir, ada yang menyadari benjolan yang terus membesar dan dibiarkan saja, dengan alasan ekonomi khawatir harus dioperasi (dari pemeriksaan fisik dan usia sepertinya sih giant FAM, tapi tetap saja harus dioperasi, kebetulan juga si ibu ini dari sosioekonomi-pendidikan menengah ke bawah); ada juga yang menyadarinya sangat dini dan langsung minta diperiksa (memang FAM dan sudah dioperasi dengan biaya dua jutaan setahun lalu); ada yang sekedar galactocele pada ibu yang memberikan ASI; ada juga yang memang terbukti Ca (kanker) dan menjalani seri radioterapi di RSCM; dan ada juga yang menyadarinya dari pemeriksaan suami (lucu juga ya, yang bersangkutan tidak pernah merasakannya, malahan si suami. Inilah maksud pelesetan kepanjangan SADARI. Jangan berpikir vulgar lho!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa mendeteksi kanker payudara sedini mungkin menjadi amat penting? Data menunjukkan &lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2005/0506/kes1.html"&gt;kematian&lt;/a&gt; akibat kanker payudara ini menduduki &lt;a href="http://cybermed.cbn.net.id/detil.asp?kategori=Health&amp;newsno=2740"&gt;tempat kedua&lt;/a&gt; dalam kasus keganasan di Indonesia, persentasenya sebesar &lt;a href="http://www.litbang.depkes.go.id/Publikasi_BPPK/Maskes_BPPK/Triwulan1/Kanker.htm"&gt;11,22%&lt;/a&gt;. &lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2003/042/kes1.html"&gt;Survei terakhir&lt;/a&gt; di dunia menunjukkan tiap tiga menit ditemukan penderita kanker payudara, dan setiap 11 menit ditemukan seorang perempuan meninggal akibat kanker payudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara mendeteksi dini penyakit ini? Teknik SADARI atau BSE bisa menjadi sebuah jawabannya. Meskipun dalam sebuah &lt;a href="http://www.iptek.net.id/ind/berita/berita_lama_idx.php?id=103"&gt;publikasi&lt;/a&gt;, Journal of The National Cancer Institute terbitan awal Oktober 2002, dan penelitian dari Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle dalam penelitiannya yang melibatkan 266.064 pekerja pabrik di Shanghai dan membagi atas kelompok BSE dan kontrol, menunjukkan tidak ada perbedaan kejadian kematian akibat kanker payudara antara dua kelompok ini. Namun di tengah &lt;a href="http://www.mayoclinic.com/health/breast-self-exam/WO00026"&gt;pro-kontra&lt;/a&gt; pentingnya metode SADARI ini, tetap dianjurkan untuk melakukan SADARI, sebaiknya ditambah dengan pemeriksaan oleh dokter dan melalui pemeriksaan mamografi (rontgen terhadap payudara). Setidaknya untuk negara miskin macam kita yang pastinya sulit untuk melakukan mamografi rutin (belum lagi ditambah rasa risih melakukannya, misalnya saja operator mesin radiologinya laki-laki?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai &lt;a href="http://www.mayoclinic.com/health/breast-self-exam/WO00026"&gt;usia berapa&lt;/a&gt; sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan payudara ini? American Cancer Society merekomendasikan mulai umur 20 tahun, setiap tiga tahun sekali, sampai usia 40 tahun, dan sesudahnya sekali dalam setahun. Meskipun sebelum umur 20 tahun masih bisa dijumpai benjolan pada payudara, namun potensi keganasannya amat minim. Sebuah situs yang menjelaskan lengkap masalah breast cancer ini adalah &lt;a href="http://www.mayoclinic.com/health/breast-cancer/BR99999"&gt;Mayo Clinic&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ilustrasi mengenai teknik SADARI atau BSE dapat dilihat di &lt;a href="http://www.medformation.com/ac/crswa.nsf/wha/wha_selfexam_art.htm"&gt;sini&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.umm.edu/ency/article/breast_lump_self_exam_overview_001993.htm"&gt;sini&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.sweetlyremembered.com/womens_breast_chart.htm"&gt;situ&lt;/a&gt;, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tips dari saya mengenai pemeriksaan ini di layanan kesehatan terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, periksakanlah ke dokter wanita, sebisa mungkin! &lt;a href="http://www.syariahonline.com/konsultasi/?act=view&amp;id=6368"&gt;Syari’ah&lt;/a&gt; menjelaskan bahwa aurat wanita hanya boleh dilihat laki-laki dalam tingkat kedaruratan tinggi, yakni menyangkut nyawa, dan tidak ada dokter wanita. Kondisi darurat ini pun sifatnya sementara. So… jika Anda mencurigai adanya benjolan di payudara, dan ingin memeriksakannya ke dokter (tidak mesti ke dokter spesialis bedah, dokter (umum) pun bisa), berusahalah untuk mencari dokter wanita. Tentunya tidak nyaman juga kan kalau yang memeriksa dokter laki-laki. Ya… ini juga dari pengalaman saya memeriksa pasien wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pelajari terlebih dahulu teknik-teknik pemeriksaan payudara ini, seperti telah banyak saya lampirkan link-link di atas, mulai dari SADARI, sampai &lt;a href="http://www.mayoclinic.com/health/breast-lump/WO00031"&gt;prosedur mamografi, USG payudara, biopsi, dan lainnya&lt;/a&gt;. Apalagi jika sampai mendapatkan vonis dari dokter bedah untuk dilakukan pembedahan, meskipun untuk kasus-kasus benjolan jinak, dokter bedah yang paling ahli sekalipun harusnya tetap melakukan pemeriksaan penunjang seperti mamografi ini. Harus dipahami dulu rasa tidak nyaman ketika payudara digencet oleh alat mamografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disarankan untuk membuka semua link yang ada, untuk mendapatkan informasi lebih utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:85%;"&gt;Ini ga nyambung: Apin-lagi-seneng-banget-hari-ini-dapat-kabar-seorang-kliennya-dengan-infertilitas-primer-selama-bertahun-tahun-plus-kista-ovarium-juga-tiba-tiba-beberapa-minggu-setelah-mengadopsi-anak-langsung-ketahuan-positif-hamil. Memang-ga-nyambung-sih-antara-‘mancing’-punya-anak-dengan-akhirnyabisahamiljuga. Tapi-ini-benar-benar-terjadi-pada-beberapa-orang. Keturunan-memang-rahasia-Alloh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-113380624968224955?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/113380624968224955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=113380624968224955' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113380624968224955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113380624968224955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/12/boobies_05.html' title='Boobies!!'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-113211559937538149</id><published>2005-11-15T20:27:00.000-08:00</published><updated>2005-11-15T20:33:19.393-08:00</updated><title type='text'>How to Get RICH EASILY (from) Being A Doctor</title><content type='html'>Sebenarnya udah lamaaa banget ingin menulis hal ini. Cuma baru sekarang jari-jarinya mau bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter adalah profesi yang banyak berinteraksi dengan berbagai macam karakter manusia. Baik terhadap pasiennya (baca: klien kesehatan), sesama profesinya, maupun dengan kawan-kawan non profesinya. Pengalamanku selama setahun lebih sedikit menjalani profesi ini, khususnya sebagai dokter sebuah perusahaan swasta yang kadang harus berurusan dengan kertas-kertas klaim penggantian biaya pengobatan karyawannya, membuatku mengenal sebagian karakter sesama teman sejawat, yang mendorongku menuliskan topik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus A, seorang laki-laki berusia 30 tahun datang berobat ke sebuah klinik swasta yang bernamakan pemiliknya di bilangan Pamulang, dengan keluhan buang-buang air sejak 6 jam yang lalu. Frekuensi BAB cair mencapai 12 kali, kini tanpa ampas sama sekali, dengan muntah mencapai 4 kali. Masih mau minum, namun merasa lemas terutama setelah BAB. Dari pemeriksaan dokter, didapatkan tekanan darah normal, dan isi nadi cukup. Hanya dehidrasi ringan tampaknya. Namun... bagaimana kalau kita rawat saja laki-laki ini. Alasannya agar bisa diobservasi diarenya, khawatir jatuh ke dehidrasi. Ia tampaknya juga tidak akan keberatan. Bukankah keputusan di tangan dokter? Obatnya apa ya?? Bagaimana kalau kita berikan ANTIBIOTIKA intravena (diberikan melalui selang infus), plus botol infus dong tentunya. Walaupun panduan penatalaksanaan diare tidak menyebutkan pemberian antibiotika pada diare yang tidak dicurigai karena bakteri. Toh ia akan terima saja semua keputusan dokter. Hmm, sekarang apa ya pilihan antibiotikanya? Ahaa! Kebetulan, kemarin ada perusahaan farmasi yang menawarkan komisi kalau kita meresepkan obatnya. Memang mahal sih.. Melihat pasien ini cuma seorang sopir taksi. Tapi lumayan boo... Kan biayanya akan diganti oleh perusahaannya. OK berikan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pria muda ini hanya membutuhkan 1 hari rawat inap (yang sebetulnya tidak perlu, karena tidak memenuhi indikasi rawat inap) saja--tampaknya penyakitnya akibat salah makan saja, jadi ya sembuh sendiri--dengan biaya mencapai Rp 500 ribu. Kok mahal sekalee?? Iya lah, kan sudah di-bom dengan antibiotika berspektrum luas yang harga per botolnya Rp 150 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca jelas nama si dokter di salinan kuitansinya. Mudah-mudahan aku tidak bersu'udzon dengannya... Astaghfirulloh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus B, anak perempuan berumur 2 tahun dengan demam tinggi sejak kemarin. Si kecil tampak lemah, tidak mau makan, maunya minuuumm terus, sejak pagi tidak mau diajak bercanda. Bawa saja ke IGD RS di bilangan Ciputat sono dikit. Baiklah, pemeriksaan fisik tidak mengarah ke penyakit lain kecuali observasi febris (demam) dengan gajala common colds (batuk-pilek). Tapi kok demamnya 'mengkhawatirkan' ya? Mencapai 39 derajat selsius. Kita periksa darah dan kencing saja. Hasilnya pun normal. Tapi si orangtua masih khawatir dengan keadaan anaknya. Sudahlah, daripada repot-repot menjelaskan pada mereka perihal anaknya yang butuh observasi demamnya saja, mending dirawat saja. Orangtua tidak panik, obat bisa diresepkan. Betul ga? Andaikan si orangtua tahu panduan &lt;a href="http://www.sehatgroup.web.id/artikel/1082.asp?FNM=1082"&gt;tata laksana demam&lt;/a&gt;. Itu contoh kecil saja, 'modus' tersering bagaimana 'uang tambahan' bisa masuk saku dokter. Lho, kok uang tambahan? Iya, kalau boleh dibagi-bagi, pemasukan utama adalah biaya jasa konsultasi. Dokter adalah profesi, sama dengan pengacara, insinyur, dan lain-lain, yang khususnya dihargai dari kemampuannya sebagai seorang &lt;strong&gt;konsultan&lt;/strong&gt;. Masalahnya, dokter di Indonesia kurang '&lt;strong&gt;dihargai&lt;/strong&gt;' dari sisi jasa konsultasi ini. Ya, maksudnya dihargai dalam arti harga sesungguhnya  Di sebuah jaringan klinik terkenal di Jakarta saja, jasa konsultasi dokter (umum) dihargai 'hanya' Rp 7000. Itupun yang masuk ke kantong dokter masih sepersekian persen lagi. Namun karena jumlah pasien dalam sehari bisa mencapai puluhan orang, akumulasi dari ongkos ini (plus dari obat) mencapai hasil yang... agak lumayan lah. Salah satu &lt;strong&gt;dampak buruk&lt;/strong&gt; jumlah pasien yang banyak adalah &lt;strong&gt;waktu layanan konsultasi minim&lt;/strong&gt;, sehingga dokter tampak kurang berkompeten dalam memberikan jasa konsultasi dan pemeriksaan. Akibatnya? Klien merasa sah-sah saja membayar 'murah'? Toh cuma dilayani 5 menit kemudian disuruh langsung ke apotek?!  Bagi yang ‘beruntung’ bisa berpraktik di RS Swasta besar dan mahal, jasa konsultasi akan dihargai lebih pula. Dokter (umum) bisa mendapatkan Rp 75 ribu sampai Rp 150 ribu rupiah untuk setiap konsultasi, dan dokter spesialis bisa mendapatkan Rp 150 ribu sampai Rp 250 ribu rupiah. Berarti yang mendapatkan di bawah ini tergolong kurang beruntung ya? Hehehe  Hey, namun jangan salah. Seorang sejawat dokter spesialis anak yang 'beruntung' ini dikenal sangat idealis dan rasional dalam melayani pasien-pasiennya. Tidak rugi mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan jasa konsultasinya. Perhatiannya benar-benar dicurahkan dalam menangai setiap kliennya secara individual. Bahkan tidak jarang ia tidak meresepkan apa-apa untuk pasiennya. Mengapa? Karena ia tahu bahwa kondisi kliennya memang tidak butuh intervensi obat. Malahan orangtua yang memaksa dokter untuk memberikan obat. Masa anak balita dengan demam 3 hari tidak mendapatkan obat apa-apa, hanya disuruh kompres hangat dan minum air putih yang banyak? Karena memang panduan tata laksana demam terbaru menyarankan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eits, mulai muter-muter. Kita balik lagi ke uang tambahan. Ya.. jadinya untuk mendapatkan penghasilan memadai (iya dong, dokter kan sekolahnya minimal 6 tahun, belum kalau lulusan FK swasta harus membayar mahal dengan waktu lulus bisa lebih dari 6 tahun.. jadinya harus 'balik modal' lah), dokter diberikan celah lain. Yaitu dari komisi dari perusahaan farmasi. Ini sudah menjadi rahasia umum, melihat regulasi peraturan perusahaan farmasi di Indonesia yang memungkinkan celah ini. Padahal jelas-jelas dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), hal ini dilarang bagi dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Modus' kedua adalah merawatinapkan pasien. Jadi pasien yang seharusnya tidak perlu dirawat inap, diminta rawat inap oleh dokternya. Ini dapat terjadi baik di RS pemerintah maupun swasta. Lumayan.. ada ongkos kamar harian, jasa visite dokter dan dokter spesialis, biaya tindakan, belum termasuk obat-obatan yang kalau tidak diberikan obat suntik (yang harganya lebih mahal), tidak 'afdhol' rasanya. Minimal diinfus lah, meskipun pasien masih bisa makan-minum. Masa masuk RS nggak diinfus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebagian kasus yang dapat diceritakan. Masih banyak contoh kasus lain, namun.. segini dulu deh. Bingung buat penutup... Intinya: &lt;strong&gt;bekalilah diri Anda dengan informasi penyakit Anda sebanyak-banyaknya sebelum berobat ke dokter&lt;/strong&gt;. Setiap hari bisa online browsing dan ikutan milis, masa nggak bisa cari informasi kesehatan yang bejibun jumlahnya di dunia maya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-yang nulis bebas bicara soalnya dapat penghasilan dari uang gaji, bukan jasa per pasien dan komisi dari perusahaan obat. Hehehe.&lt;br /&gt;Astaghfirullah, banyak membicarakan teman sejawat sendiri. Harus banyak introspeksi diri juga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-113211559937538149?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/113211559937538149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=113211559937538149' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113211559937538149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/113211559937538149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/11/how-to-get-rich-easily-from-being.html' title='How to Get RICH EASILY (from) Being A Doctor'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-112451006276641821</id><published>2005-08-19T18:43:00.000-07:00</published><updated>2007-04-13T07:32:40.842-07:00</updated><title type='text'>Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?</title><content type='html'>&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;As a medical doctor, you wouldn't know what kind of people you would meet the day you had practice&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;Perempuan berusia 38 tahun itu masuk ruang praktik dengan ekspresi wajah biasa.&lt;br /&gt;"Ada keluhan apa, Bu?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Badan saya lemas terus hari-hari belakangan ini. Tidak ada gairah," paparnya, berhenti sejenak, "jantung juga sering berdebar-debar."&lt;br /&gt;"O ya?" timpalku.&lt;br /&gt;"Ya..." suaranya mulai bergetar. Wajahnya setengah menunduk. "Saya korban kebakaran waktu itu. Anak saya terbakar. Hangus jadi abu."&lt;br /&gt;Ia mulai terisak pelan. Menangis perlahan. Tapi tidak lama. Sekitar semenit. Aku hanya terus menatapnya. Tak tahu harus bagaimana menanggapinya. Jangan sampai perasaannya semakin terluka dengan pertanyaan mengenai kejadian.&lt;br /&gt;Wanita di hadapanku ini mulai tenang.&lt;br /&gt;"Kebakaran yang kapan, Bu?" dalam hati aku merasa malu tidak tahu dengan bencana yang terjadi masih di sekitar Jakarta.&lt;br /&gt;"Tanggal 16 kemarin. Dua puluh rumah habis terbakar." Isaknya sudah terkendali. Suaranya terdengar tegar.&lt;br /&gt;Sambil diselingi pertanyaan mengenai keluhannya, ia memaparkan kisah sedihnya. &lt;a href="http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/08/tgl/16/time/143612/idnews/423402/idkanal/10"&gt;Kejadian&lt;/a&gt; yang terjadi sehari menjelang peringatan 60 kemerdekaan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;itu terjadi di Kebayoran Lama. Satu-satunya korban meninggal adalah balita berusia tiga tahun. Anak ketiga dari perempuan yang juga &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;member&lt;/span&gt; &lt;a href="http://www.lkc.or.id/"&gt;LKC&lt;/a&gt; cabang Cipulir ini. Sehari-harinya ia bekerja sebagai kuli cuci. Saat kejadian, ia sedang mengerjakan kegiatan ini, sedangkan satu-satunya anaknya yang masih tinggal bersamanya tidur dalam buaian di lantai dua.&lt;br /&gt;"Ia habis menangis, minta uang untuk &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;nonton&lt;/span&gt; topeng monyet," kenangnya, "sekarang saya makan juga tidak nafsu. Masih teringat dengan dia. Biasanya kita makan berdua. Saya makan nasi sisa dari piringnya."&lt;br /&gt;Ibu dengan tiga anak ini memang tinggal hanya dengan anak bungsunya. Anak pertamanya dibawa suaminya yang sudah tidak tinggal serumah. Anak keduanya berada di sebuah pesantren di Jawa Tengah.&lt;br /&gt;"Sebentar lagi Ibu juga akan ketemu dengan anak yang tinggal di pesantren kan?" aku mencari topik pembicaraan yang kiranya dapat menenangkan hatinya.&lt;br /&gt;"Iya, bulan depan ia akan pulang.&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;Kuajukan satu pertanyaan yang aku yakin mengetahui jawabannya, "Waktu kejadian, yang pertama kali datang memberikan bantuan siapa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;"Dari PKS. Istrinya Pak--sebut saja--Fahmi yang terus menemani saya. Ia yang menyuapi saya. Bilang 'Ibu, jangan nangis terus'."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;a href="http://www.pks-jaksel.or.id"&gt;PKS&lt;/a&gt; memang hampir selalu menjadi yang pertama datang di setiap bencana apapun di ibukota.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;"Iya, Ibu harus makan. Badan ibu lemas karena tidak mau makan. Ibu juga tidak boleh menyiksa diri sendiri, kan?" lanjutku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;Aku menyimpulkan ia mengalami stres pasca trauma. Jujur, aku menilai ibu ini sangat tabah. Tidak banyak ekspresi kesedihan yang keluar saat berbincang denganku. Atau mungkin air matanya sudah habis dalam tiga hari ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;"Sekarang Ibu sudah ikhlas, kan?" aku mengakhiri pembicaraan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;"Iya, saya ikhlas, ridho. Anak kan yang punya Alloh. Kembalinya ke Alloh."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;"Saya senang sekali dengar jawaban dari Ibu. Yang penting Ibu sudah ikhlas. Insya Alloh akan dapat ganti yang lebih baik." Aku terharu mendengar jawaban tulus dan tabah Ibu ini. &lt;/span&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic;font-family:'trebuchet ms';" &gt;Subhanalloh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;"Terima kasih, Dok."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;"Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?" (ar-Rahmaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;Rabu kemarin, hari libur memperingati Kemerdekaan RI, aku bertemu dengan pria itu. Laki-laki menjelang 40 tahun, yang datang ke LKC karena keluhan nyeri perut hebatnya. Ia dalam perjalanan menuju kampungnya di Sumatra Barat. Kesana kemari ia mencari dana untuk ongkos pulang dirinya, istri, dan ketiga anak kecilnya. Entah bagaimana, di tengah perjalanan, ia mengeluh penyakitnya kambuh, dan orang yang ditemuinya di jalan menunjukkan LKC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memeriksanya, tak henti-hentinya ia memanggilku, sekedar ingin memegang tanganku. Ia tampaknya ketakutan sekali dirinya akan pergi meninggalkan alam ini. Matanya gelap, keluhnya. Sambil mencium tanganku, mulutnya terus mengucapkan doa untukku, agar Tuhan membalas kebaikanku. Aku hanya menatapnya, sambil memintanya agar terus beristighfar. Menenangkannya, bahwa hanya Alloh-lah yang mampu mengangkat segala penyakit. Memintalah pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah satu suntikan Tramadol masuk, pria yang mengaku ingin diberi kesempatan pulang kampung untuk mencium kaki ibunya dan meminta diberi waktu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya ini, menjadi lebih tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah tidak sakit kan, Pak? Sudah tidak gelap kan, matanya?&lt;br /&gt;"Sudah, Dok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak yang memegang surat keterangan miskin dari RS setempat di Sumbar ini kemudian melanjutkan perjalanannya. Mencari ongkos pulang, tidak tahu darimana lagi bisa mendapatkannya. Kami hanya bisa memberikan bantuan untuk mengurangi sakitnya saja. Padahal sebenarnya hanya &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;member&lt;/span&gt; yang bisa mendapatkan pelayanan di LKC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;Kisah sedih kaum dhu'afa yang kutemui tidak sebatas di sini saja. Seorang ibu muda membawa anaknya kemarin ke Gerai Sehat Cipulir, cabang dari LKC. Penyakitnya ringan, hanya batuk pilek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Namanya Bella," tatap si ibu ke gadis kecilnya yang cantik, "ada kisah dari namanya."&lt;br /&gt;"Waktu itu sudah ada orang yang mau (mengambilnya). Karena waktu itu saya tidak punya uang. Untung ada yang mau membiayainya. Jadinya sampai saat ini Bella masih bersama sama. Jadi banyak yang nge-&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;bela&lt;/span&gt;-in dia. Makanya dikasih nama Bella."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ingat cerita &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Sayekti dan Hanafi&lt;/span&gt;, ibu yang terpaksa anaknya ditahan RS, karena tidak sanggup membiayai persalinannya. Hanya saja ibunda Bella ini hampir 'menjual' anaknya, karena tidak punya biaya untuk membesarkannya. Untung saja hal ini tidak terjadi. Betapa dhu'afa-nya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya suami ibu kerja apa?" tanyaku penasaran&lt;br /&gt;"Dia tidak bertanggung jawab. Sering pergi meninggalkan rumah. Kerjanya jadi calo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;Masih ada lagi ibu yang membawa anak gadisnya datang dengan batuk yang tak kunjung sembuh. Kebiasaanku menemui anak usia sekolah yang datang berobat, kutebak saat ini ia kelas berapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berarti sekarang kelas 2 SMP ya?" tebakku.&lt;br /&gt;"Nggak Dok, sudah tidak sekolah. Tidak ada biaya," jelas ibunya.&lt;br /&gt;"Tapi SD lulus kan?" selidikku.&lt;br /&gt;"Sempat sampai kelas 6 SD, tapi untuk ujian tidak ada biaya, jadinya berhenti."&lt;br /&gt;Ya Alloh, di pinggiran Jakarta saja masih ada anak yang tidak bisa menyelesaikan SD-nya karena masalah biaya. Kemanakah aliran dana kompensasi BBM?&lt;br /&gt;"Anak ibu ada berapa?"&lt;br /&gt;"Lima."&lt;br /&gt;"Tapi adik-adiknya masih sekolah semua kan?"&lt;br /&gt;"Ya, itupun ditanggung orang lain. Alhamdulillah," cerita ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini. Suaminya bekerja sebagai sopir angkot. Sehari kadang hanya bisa membawa Rp 15 ribu. Ia pun khawatir penghasilannya akan semakin merosot, dengan rencana pemerintah menaikkan BBM menjadi Rp 4000 per liternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:'trebuchet ms';"&gt;Jum'at itu aku merenung di shaf kedua masjid sebuah bilangan Cipulir. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat jaga malamnya, cerita memilukan masih terus mengalir. Pasangan suami-istri yang bekerja sebagai penjual buah pinang membawa anak gadisnya yang sudah sangat pucat. Dari tampilan klinisnya, kemungkinan kadar hemoglobinnya mungkin sudah di bawah lima. Ia sangat kekurangan oksigen. Gadis berumur 24 tahun yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini datang dalam keadaan demikian lemahnya. Untung saja seorang kerabatnya bekerja sebagai perawat di LKC, sehingga bisa membawanya ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja orang-orang ini menemukan LKC. Tempat mereka yang dhu'afa dan miskin papa bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis, tanpa biaya, sejak awal sampai akhir. Berapa banyak nyawa yang bisa tertolong jika layanan kesehatan macam ini tersebar di ribuan tempat di negara ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah negara kita. Negara yang aneh (mengutip istilah yang sering diucapkan Tora, Aming, dkk di Extravaganza). Di mana kesehatan seharusnya menjadi tanggungan pemerintah sepenuhnya. Di mana anggaran kesehatan demikian rendahnya, dibandingkan anggaran untuk ekonomi dan politik. Tapi justru layanan kesehatan yang langsung menyentuh dan bantuannya terasakan oleh masyarakat nyata diberikan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) swasta, macam LKC, Dompet Dhu'afa, PKPU, BSMI, MER-C, DSPU, DSUQ, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara yang aneh.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-112451006276641821?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/112451006276641821/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=112451006276641821' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/112451006276641821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/112451006276641821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/08/maka-nikmat-tuhanmu-yang-manakah-yang.html' title='Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-112304195005544959</id><published>2005-08-02T20:59:00.000-07:00</published><updated>2005-08-02T21:05:50.070-07:00</updated><title type='text'>Setiap Pasien adalah Sebuah Pelajaran</title><content type='html'>&lt;div class="itemshadow"&gt;&lt;div class="itembox"&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt;Tiba-tiba pintu ruang praktik menjeblak terbuka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;“Dok, tolong! Kenapa anak saya ini?” Wanita berusia menjelang tiga puluhan tahun itu berlari menggendong anaknya. Menghampiriku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Anak perempuan kecil dalam gendongannya tampak kaku dengan mata setengah terbuka. Kadua kakinya bergerak-gerak teratur. Terdengar rintihan pelan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;“Ya Alloh, astaghfirulloh, kenapa kau, Nak..” tangis ibunya yang tengah hamil 32 minggu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Jari telunjuk dan tengah perempuan ini terjepit erat di antara gigi-geligi anaknya yang baru berusia 15 bulan. Ia khawatir anaknya yang tengah kejang tanpa sadar menggigit lidahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;“Tenang Bu, tenang. Ia kejang karena demam. Tidak akan lama berhenti sendiri,” sahutku berusaha menenangkannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Otakku terus berputar. Tenang Pin, tenang, ujarku menenangkan diri sendiri. Aku tidak suka keadaan ini. Selama ini jika menghadapi pasien kejang, selalu tersedia obat kegawatdaruratan untuk menghentikan kejangnya. Tabung diazepam rektal satu buah. Tapi di klinik kecil tempatku bekerja ini, obat itu tidak tersedia. Poliklinik salah satu pool perusahaan taksi ini memang tidak dipersiapkan untuk keadaan gawat seperti ini. Tak ada cara lain. Aku yakin dengan diagnosisku, dan berdasarkan teori, kejangnya akan segera berhenti. Amati saja keadaan anak ini. Miringkan posisi tubuhnya agar jika muntah tidak masuk ke saluran napasnya. Hitung berapa lama kejangnya. Pastikan tidak terjadi keadaan kekurangan oksigen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Sekitar 15 menit sebelumnya, sepasang suami-istri membawa anak perempuannya yang berumur 15 bulan, dengan keluhan demam tinggi sejak siang hari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;“Tadi diukur di rumah, suhunya 40 derajat selsius,” kisah si istri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Aku senang mendengarnya. Kenapa? Karena ibu ini tampaknya memiliki pengetahuan yang cukup, sehingga merasa perlu untuk menggunakan termometer dalam mengukur suhu tubuh. Hasilnya tentu objektif. Kita tahu persis apakah seseorang demam atau tidak. Tidak bisa mengandalkan perabaan tangan di dahi yang sangat subjektif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Menghadapi klien seperti ini, membuatku senang dan perlu untuk mengedukasinya. Meluangkan waktu sedikit lebih lama untuk memberikan informasi, apa yang orangtua harus lakukan jika menghadapi anaknya demam. Bukan sekedar mendengarkan keluhan, dan menuliskan resep, selesai! Hmm, &lt;i&gt;I’m not that type of doctor&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Kebetulan sekali di mejaku tersedia lembaran-lembaran mading edukasi untuk orangtua. Isinya mengenai ‘demam’, dan ‘kejang demam’. Apa yang harus orangtua pahami mengenai kedua kondisi ini, dan apa yang harus mereka lakukan jika menghadapinya pada anak mereka. &lt;i&gt;Thanks to&lt;/i&gt; milis SEHAT yang telah menyediakan bahan mading ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Aku minta mereka untuk memfotokopinya, segera mengembalikannya padaku, dan mempelajarinya di rumah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Si Kecil di hadapanku memang tampak lemas. Ia menggigil. Aku tegaskan pada orangtuanya, bahwa keadaan yang perlu diperhatikan saat ini jika sampai terjadi kejang. Aku tak pernah menyangka jika 15 menit kemudian ini akan terjadi. Tepat di hadapanku. Dan aku tak punya obat yang tepat untuk mengatasi keadaan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Alhamdulillah, tak sampai lima menit, kejang mereda dengan sendirinya. Namun si Ibu justru bertambah keras tangisnya. Apa yang terjadi? Kedua jari tangan kanannya yang dimasukkan ke dalam mulut si kecil, tidak bisa dikeluarkan. Gigitan si anak selama hampir lima menit membuatnya kesakitan. Wanita ini menangis sejadi-jadinya, meluapkan rasa sakitnya tergigit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;“Aduh, Nak, tangan Ibu dilepaskan dong,” erangnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;“Sini Bu, ganti saja dengan kapas perban ini,” sodorku. Sebenarnya tidak boleh memasukkan benda apapun ke dalam mulut anak yang kejang. Dikhawatirkan justru jalan napasnya akan tersumbat. Kejadian lidah tergigit sangat kecil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Si ibu menatapku dengan ragu. Ia memang kesakitan luar biasa. Tapi ia lebih khawatir lidah anaknya akan tergigit. Inilah kasih seorang ibu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Dalam waktu kejangnya ini, ayahnya mengurus transportasi yang bisa membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Minimal untuk mendapatkan diazepam rektal &lt;i&gt;lah&lt;/i&gt;. Observasi selama beberapa saat, sambil memasang selang oksigen pada si anak. Setelah kendaraan operasional pool siap, mereka menuju RS terdekat. Aku harus menyelesaikan beberapa pasien dulu, untuk kemudian menyusul mereka ke RS.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;“Tadi waktu sudah di atas motor untuk dibawa pulang, saya melihatnya kejang. Padahal di luar itu gelap. Segera saja saya berlari membawanya kembali ke dalam,” kisah si Ibu padaku di ruang Gawat Darurat RS. Si Kecil sudah sadar. Ia menangis keras. Sudah masuk diazepam rektal satu tabung, untuk mengantisipasi terjadinya kejang ikutan. Walaupun kemungkinannya sangat kecil pada kejang demam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;“Diminta rawat inap, Dok,” lapor si Ayah padaku sambil membawa secarik kertas bertuliskan rincian uang muka yang harus dibayar. Besarnya Rp. 250 ribu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Aku menggelengkan kepala tidak setuju. “Tidak perlu rawat inap,” jawabku singkat. Kejang demam memang tidak perlu dirawat. Hanya saja orangtua harus dibekali pengetahuan penanganannya, dan mereka sudah punya bahan tertulisnya. Mereka juga harus tetap tenang dan rasional menghadapi keadaan yang tampaknya menakutkan ini, padahal tergolong penyakit ringan yang tidak menyebabkan kerusakan otak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Jangan sampai mereka juga ‘memperkaya’ RS ini, untuk kondisi yang sama sekali tidak perlu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Jujur, harus kukatakan, inilah yang terjadi di dunia kedokteran. Banyak uang masuk ke RS, melalui rawat inap, untuk penyakit-penyakit yang tidak diindikasikan rawat. Mereka memanfaatkan ketidaktahuan dan kepanikan pasien yang meminta rawat inap. Bisa jadi juga karena dokter atau RS-nya ‘nakal’. Ya, darimana RS swasta dapat untung kalau tidak ada pasiennya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Kebetulan sebagai dokter perusahaan, aku biasa memantau klaim penggantian yang masuk dari karyawan sakit dan dirawat. Sebagian besar dari RS swasta kecil ini, karena lokasinya yang dekat dengan &lt;i&gt;pool&lt;/i&gt; taksi kami. Sering sekali penyakit-penyakit tanpa indikasi rawat yang akhirnya dirawatinapkan. Toh, biayanya akan diganti oleh perusahaan. Mungkin begitu pikir mereka. Aku sampai hapal dokter mana saja yang biasa bermain ‘tidak cantik’ ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Ayah si anak hanyalah seorang pegawai bengkel. Tempat kerjanya pun bukan di pool kami. Hanya saja lokasi klinik pool yang terdekat dari rumahnya adalah di tempatku. Sehingga untuk meminta pinjaman uang, prosedurnya agak rumit. Untuk membayar uang muka saja ia tidak sanggup. Untungnya ia berhasil dimotivasi untuk tidak perlu rawat inap. Bekal pengetahuan dan ketenangan adalah yang terpenting. Jika panik, hubungi saja dokter pool.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Sambil menyetir mobil pulang ke rumah, aku merenung. Kasus ini sangat ‘menarik’. Ketika aku membawa bahan dengan topik kejang demam, ada seorang anak yang mengalami kejang demam tepat di hadapanku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa melainkan mengamatinya hingga berakhir, dan menenangkan orangtuanya. Belum pernah aku menghapi keadaan ‘tidak berdaya’ ini. Apakah ini pelajaran yang Alloh berikan khusus untukku, dengan mendatangkan pasangan suami-istri dan anaknya yang sakit padaku? Dalam pikiran seorang dokter, &lt;i&gt;every patient is a lesson&lt;/i&gt;. Astaghfirullah, masak sedangkal ini aku menjadikan mereka sekedar bahan pelajaran? Aku memang senang berpikir ilmiah. &lt;i&gt;But being a doctor isn’t just a scientist. They are the people who understand other people’s suffer, pain, and give them help. Being emphatic, not symphatetic&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman';"&gt;&lt;span style="font-family:arial, helvetica;font-size:85%;"&gt;Kalau diperhatikan, selama hampir setahun ini, orang-orang yang aku hadapi adalah mereka dari golongan dhu’afa, berpenghasilan dan berpendidikan rendah. Ini tampaknya pelajaran kemanusiaan yang Alloh berikan padaku. Dengan menjadi dokter. Profesi yang sangat aku hindari saat selepas SMU.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-112304195005544959?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/112304195005544959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=112304195005544959' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/112304195005544959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/112304195005544959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/08/setiap-pasien-adalah-sebuah-pelajaran.html' title='Setiap Pasien adalah Sebuah Pelajaran'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-112227200320006058</id><published>2005-07-24T22:02:00.000-07:00</published><updated>2005-07-24T23:13:23.236-07:00</updated><title type='text'>Detik-detik yang Sangat Berharga di Madrasah Malam</title><content type='html'>Sujud di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mihrab&lt;/span&gt;, istighfar di penghujung malam, dan air mata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;munajat&lt;/span&gt; merupakan ciri khas orang-orang mukmin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jika ahli dunia mengira, bahwa surganya terletak pada materi, wanita, dan gedung yang mewah, maka sesungguhnya surga orang mukmin terletak pada mihrabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneladani Siroh Nabawiyah (perjalanan hidup Nabi) Rasululloh saw., kita akan menemukan beberapa tahapan dalam perjalanan da'wah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu literatur yang sangat baik menjelaskan hal ini adalah buku karangan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban&lt;/span&gt;, berjudul "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manhaj Haraki, Strategi Pergerakan dan Perjuangan Politik dalam Sirah Nabi saw&lt;/span&gt;." Yang akan dipaparkan di sini adalah salah satu karakteristik pada periode kedua--&lt;span style="font-style: italic;"&gt;jahriyatud da'wah wa sirriyatut tandzim&lt;/span&gt;--"Berda'wah secara Terang-terangan dan Merahasiakan Struktur Organisasi", yaitu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menekankan Aspek Spiritual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan pembinaan, tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya dalam jiwa, selain daripada menekankan ibadah, ketaatan, dan amalan-amalan sunnah. Ibadahlah yang menghubungkan hati dengan Alloh, meneguhkan jiwa dalam menghadapi segala penderitaan, lulus menghadapi fitnah, dan teguh di atas jalan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah tahapan ibadah, tabattul, qiyamul lail...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Bazzar meriwayatkan dari Muhammad bin Aqil bin Jabir, ia berkata, "Quraisy bermusyawarah di Darun Nadwah. Berkatalah sebagian mereka, '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berilah nama kepada orang ini (Nabi saw.) dengan suatu nama yang akan menghalangi orang darinya&lt;/span&gt;.'&lt;br /&gt;Sebagian mereka berkata, '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tukang ramal&lt;/span&gt;.' Sebagian yang lain menjawab, '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dia bukan tukang ramal&lt;/span&gt;.'&lt;br /&gt;Yang lain berkata, '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang gila&lt;/span&gt;.' Sekelompok yang lain menukas, '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dia bukan orang gila&lt;/span&gt;.'&lt;br /&gt;Sebagian mereka berkata, '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tukang sihir&lt;/span&gt;.' Sebagian yang lain membantah, '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dia bukan tukang sihir&lt;/span&gt;.'&lt;br /&gt;Kemudian orang-orang musyrik itu bubar dalam keadaan demikian. Mendengar peristiwa ini, Nabi saw. langsung berselimut dan berkemul dalam pakaiannya. Kemudian Jibril datang kepada beliau dan berseru, '&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wahai orang-orang yang berselimut, wahai orang-orang yang berkemul&lt;/span&gt;...!'" --&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir, Surat Al-Muzammil, III/562&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Imam Ahmad meriwayatkan perkataan Aisyah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radhiyallahu 'anha&lt;/span&gt;, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesungguhnya Alloh mewajibkan qiyamul lail pada awal surat ini. Kemudian Rasulullah saw. dan para sahabatnya melaksanakannya selama satu tahun sampai kaki-kaki mereka bengkak. Alloh menahan penutup surat itu di langit selama dua belas bulan, kemudian Alloh menurunkan keringanan di akhir surat sehingga qiyamul lail menjadi sunnah setelah diwajibkan&lt;/span&gt;." --Ibid., III/564&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah (untuk sholat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya), (Yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan, bacalah al-qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya, Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya, bangun di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya, kamu pada waktu siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)&lt;/span&gt;" (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;al-Muzammil [73]: 1-7&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh malam kecuali sedikit darinya harus dipergunakan untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;qiyamul lail&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Qiyamul lail itu sendiri bukanlah sasaran dan bukan pula hukuman Alloh terhadap hamba-Nya, tetapi merupakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tarbiyah imaniyah&lt;/span&gt; 'pembinaan keimanan' untuk mewujudkan hubungan yang kuat dengan Alloh. Ia adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Sarana untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dzikrullah, tabattul&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tawakkal&lt;/span&gt; kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. dialah Rabb masyrik dan maghrib, tiada ilah melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung&lt;/span&gt;" (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;al-Muzammil [72]: 8-9&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dzikrullah, tabattul, tawakkal, dan ibadah kepada-Nya adalah senjata satu-satunya dalam pertarungan. Ialah yang membekali kaum mu'minin dengan kesabaran dalam menghadapi cobaan, penyiksaan, dan penghinaan. Ialah senjata satu-satunya dalam periode ini, periode yang tidak membolehkan konfrontasi langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan, dan beri tangguhlah mereka barang sebentar&lt;/span&gt;" (&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;al-Muzammil [73]: 10-11&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Para penyeru di jalan Alloh sangat memerlukan senjata ini, dalam menjalankan tugas da'wah yang selalu menghadapi berbagai rintangan dan gangguan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jika pada tahapan seperti ini gerakan Islam tidak memperhatikan aspek ibadah, aspek ruhiyah, qiyamul lail yang rutin dan berkesinambungan, dan dauroh-dauroh secara berulang-ulang untuk "hidup terus", pasti akan menyaksikan para prajuritnya berjatuhan satu demi satu dan rontok oleh benturan tribulasi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;qiyamul lail hanya menjadi sekedar teori yang tidak dapat diaplikasi, apabila simpanan hafalan al-qur'an para &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;ikhwah da'iyah&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; sangat minim&lt;/span&gt;. Sebab, ikhwah yang tidak memiliki hafalan al-Qur'an, kecuali beberapa ayat, akan terpaksa mengulang-ulang ayat tersebut di dalam shalatnya. lantas bagaimana ia akan melaksanakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;qiyamul lail&lt;/span&gt;? Bagaimana hatinya akan tergerak dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;khusyu&lt;/span&gt;'? Bagaimana ia akan merasakan lezatnya taat dan ibadah jika kelezatan al-Qur'an tidak terintegrasi dalam hatinya, serta memenuhi kehidupan, ruh, pendengaran, dan penglihatannya? Sampai "cahaya" al-Qur'an memancar dengan deras dari hatinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada masa-masa sekarang ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;qiyamul lail&lt;/span&gt; di kalangan para pemuda dan aktivis Islam menjadi acara bulanan, musiman, atau tahunan. Itu pun berjalan denga surat-surat pendek. Sesungguhnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;manhaj tarbiyah&lt;/span&gt; yang harus diterapkan pada para pemuda di tingkat permulaan adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;manhaj Qur'ani&lt;/span&gt; sebagaimana kami sebutkan di atas. Tidaklah cukup al-Qur'an ini hanya dijadikan sebagai pokok pangkal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;manhaj&lt;/span&gt; secara keseluruhan dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tsaqafah&lt;/span&gt; (pengetahuan) yang disajikan kepada para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ikhwah&lt;/span&gt;. Tetapi di samping itu, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;hafalan al-Qur'an juga harus dijadikan sebagai sasaran utama di antara sasaran manhaj&lt;/span&gt;, terutama bagi ikhwan dan akhwat yang masih muda dan memiliki kemampuan hafalan secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Manhaj tarbiyah harokiyah&lt;/span&gt; yang dibuat oleh jama'ah harus berhasil membuat para pemuda hapal banyak dari ayat-ayat al-Qur'an tatkala mereka memasuki usia dua puluh tahun, sehingga menjadi bekalnya dalam ketaatan, gerakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tahajjud&lt;/span&gt;, dan ibadah. Pada saat itu, ia akan merasakan lezatnya ibadah, taat, dan qiyamul lail, menikmati lezatnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dzikir&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tawakkal&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain itu, manhaj tarbiyah pada tahapan ini juga harus menekankan dzikrullah, tahlil (membaca laa ilaaha il), takbir, tahmid, tasbih, shalawat kepada Nabi saw., membaca wirid yang ma'tsur dan dzikir-dzikir secara mutlak, berkesinambungan, siang dan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesungguhnya pemuda muslim yang menjalani masa mudanya dengan tekun beribadah dan taat, rutin, dan kontinu untuk membaca al-Qur'an; kedua kakinya letih karena qiyamul lail, dzikrullah di tempat sunyi hingga kedua matanya meneteskan air mata, hatinya selalu terpaut dengan masjid, selalu membasahi bibirnya dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;adzkar&lt;/span&gt; dan ayat-ayat al-Qur'an siang dan malam, hati, dan pikirannya dibentuk oleh al-Qur'an, adalah pemuda ideal yang harus diwujudkan oleh gerakan Islam. Jika masalah ini tidak mendapatkan perhatian yang memadai, maka akan mengakibatkan bangunan menjadi rapuh dan rontok oleh pukulan-pukulan pertama para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;thaghut&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itulah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;manhajul bina&lt;/span&gt;' 'sistem pembinaan' pertama melalui surat al-Muzammil. Panasnya konfrontasi dengan para thaghut akan mencair di hadapan kehangatan ibadah dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tabattul&lt;/span&gt; kepada Alloh, serta keyakinan akan pertolongan Alloh dan pembalasan-Nya kepada orang-orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair Iqbal menuturkan pengalamannya dalam bait-bait syair berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku menangis manakala malam hari menurunkan tirai kegelapannya, dan manusia lelap dalam tidurnya, sedang air mataku bercucuran dengan derasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jiwaku terbakar oleh kesedihan dan kepedihan, dan kalimat yang menghiburku dalam kegelapan malam adalah 'Ya Qayyum'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku bagaikan lilin, aku bermandikan air mata, di kegelapan malam aku nyalakan pelitaku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leramaian orang-orang adalah berkat cahayaku yang meneranginya, aku pancarkan cahayaku (buat mereka), sedang diriku sendiri terbakar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; --Diwanul Asrar war Rumuuz, hlm. 79&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesungguhnya peran da'wah Islam di masa sekarang, tidak akan meraih keberhasilannya sebelum para da'inya menyalakan pelita mereka di malam hari. Cahaya da'wahnya tidak akan mampu mengusir kegelapan jahiliyah abad dua puluh satu selama pengembannya tidak menjadikan 'Yaa Qayyuum' sebagai wirid mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami katakan hal ini bukan untuk pertama kalinya, melainkan sebagai petikan dari wasiat (pesan) Imam al-Banna ketika berbicara di hadapan pada da'i. Beliau mengatakan:&lt;br /&gt; "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Detik-detik malam hari itu sangat berharga, maka janganlah kamu menyia-nyiakan dengan kelalaian&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sesungguhnya pembelaan terhadap da'wah bukan dengan cara menebarkan banyak kalimat yang melembutkan hati, akan tetapi dengan mengumandangkan seruan nasihat untuk kembali kepada tradisi ulama terdahulu (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;salaf&lt;/span&gt;). Manakala hati telah menjadi bersih berkat taubat, dan himbauan ini telah terdengar oleh orang yang menaatinya, maka akan terpecahkanlah kesulitan masa sekarang akibat kelalaian yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wallahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Maraji':&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Ahmad ar-Rasyid, Pelembut Hati (Ar-Raqa'iq), Robbani Press, 2003&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban, Manhaj Haraki, Strategi Pergerakan dan Perjuangan Politik dalam Sirah Nabi saw, Robbani Press, Agustus 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;--menyambut Munas PKS 27-31 Juli 2005 di Jakarta&lt;br /&gt; PROFIL KADER PKS 2009:&lt;br /&gt; (1) Kokoh dan Mandiri&lt;br /&gt; (2) Dinamis, kreatif, dan inovatif&lt;br /&gt; (3) Spesialis yang berwawasan global&lt;br /&gt; (4) Murobbi produktif&lt;br /&gt; (5) Mahir beramal jama'i&lt;br /&gt; (6) Pelopor pengubahan&lt;br /&gt; (7) Kepemimpinan masyarakat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-112227200320006058?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/112227200320006058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=112227200320006058' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/112227200320006058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/112227200320006058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/07/detik-detik-yang-sangat-berharga-di.html' title='Detik-detik yang Sangat Berharga di Madrasah Malam'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-112010864076128385</id><published>2005-06-29T22:07:00.000-07:00</published><updated>2005-06-29T22:17:20.770-07:00</updated><title type='text'>Menangis Saja Tak Bisa, Apalagi Tertawa</title><content type='html'>Begitulah kira-kira judul sebuah artikel berita di harian Pos Kota Selasa 28 Juni ini. Seorang wanita muda berusia 23 tahun menunjukkannya padaku, saat praktik sore di &lt;a href="http://www.lkc.or.id"&gt;LKC&lt;/a&gt; kemarin. Isinya menceritakan satu kasus busung lapar yang ditemukan di Bekasi. Tidak hanya itu penyakit yang diderita bocah perempuan berusia dua tahun dua bulan dalam berita ini, anak yang berat badannya hanya 4,5 kilogram ini juga menderita hidrosefalus sejak lahir. Inilah kisah nyata yang dialami perempuan yang menyodorkan potongan koran itu padaku. Dan si bocah terbaring di tempat periksa di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu itu pintu rumah diketok-ketok. Ada wartawan Pos Kota yang datang. Saya hanya memakai daster saja. Saat mereka mau memotret, saya bilang mau ganti baju dulu. Mereka bilang tidak usah, Bu. Nanti yang masuk cuma gambar anaknya saja. Eh, ternyata foto saya juga masuk. Mereka bohong, " komentar si ibu yang memakai kerudung itu menunjukkan fotonya di koran. Aku hanya tersenyum geli melihat kepolosannya.&lt;br /&gt;"Setelah itu ada banyak wartawan yang datang ke rumah. Kemarin sebelum saya ke sini, diwawancara dulu oleh TransTV, untuk acara 'Jeritan Hati'."&lt;br /&gt;"Untuk yang akan diputar kapan, Bu?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Nggak tahu, tapi sepertinya cepat, tidak lama."&lt;br /&gt;"Mereka kasih uang ke Ibu, nggak?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Enggak."&lt;br /&gt;"Tahu nggak, Bu," timpalku, "Mereka justru dapat duit dari Ibu lho. Ya, mereka kan jual berita yang memuat Ibu, dan dapat duit dari situ. Tapi mereka nggak kasih duit ke Ibu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas kubaca berita yang dimuat di Pos Kota itu memang berkesan 'tidak cerdas'. Ya... khas Pos Kota dan koran-koran semacamnya lah. Dari paragraf pembukanya saja sudah merendahkan. Kurang lebih bunyinya 'malang benar nasib keluarga ini', dan seterusnya (aku tidak bisa mencari link berita ini di website-nya &lt;a href="http://www.poskota.co.id"&gt;Pos Kota&lt;/a&gt;). Mengenai keadaan si balita yang 'tidak bisa menangis, apalagi tertawa' ini, bukan akibat busung laparnya, melainkan hidrosefalus-nya. Dan sebagian penderita hidrosefalus yang tidak disertai gizi buruk pun mengalami keadaan ini, akibat kerusakan di saraf otaknya. Makanya berita di koran ini yang intinya pada kasus gizi buruk jadi berkesan agak menyesatkan. Belum lagi nama si balita dan ayahnya yang salah ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu waktu dia dioperasi hidrosefalus di RSUD Bekasi, juga didatangi oleh RCTI. Tapi juga tidak diberikan bantuan," cerita si Ibu lagi.&lt;br /&gt;Mungkin waktu itu memang hanya liputan saja, karena beberapa pasien kami di LKC yang menjalani operasi juga didanai oleh program-program macam Indosiar Peduli Kasih dan Jalinan Kasih RCTI.&lt;br /&gt;"Yang mengoperasi dulu siapa, Bu?" tanyaku lebih lanjut. Si balita memang telah dua kali menjalani operasi untuk hidrosefalusnya, dan satu kali pembukaan selang di kepalanya. Berat badan lahirnya cukup baik, meskipun lahir prematur melalui operasi cesaria, karena janinnya kembar. Sang kembaran meninggal dalam kandungan. Dan sampai umur satu tahunan berat badannya masih normal, kemudian mengalami penurunan drastis. Nampaknya hidrosefalusnya lah salah satu pencetus gizi buruknya.&lt;br /&gt;"Dokternya baik sekali, " komentar si Ibu akan dokter bedah saraf yang pernah mengoperasi anaknya, "waktu saya nangis karena bosan berada di rumah sakit terus-terusan. Terus dia nanya, Ibu kenapa menangis? Dia juga menanyakan Ibu butuh apa. Saya jadi curhat sama dia. Dokternya juga cerita, kalau dia mu'allaf, ikut istrinya yang hajjah."&lt;br /&gt;"Ibu lulusan apa?"&lt;br /&gt;"SMA. Suami saya lulusan SD. Dia cuma bisanya (jadi buruh) bangunan aja. Saya sendiri sudah kenyang di berbagai tempat. Di pabrik, jadi pelayan di Pizza Hut. Pernah juga ditawari kerja di RSUD Bekasi karena saya lama menunggu anak dirawat di sini. Bagian laundry-nya. Tapi saya tolak."&lt;br /&gt;"Terus kenapa berhenti? Kan gajinya lumayan," tanyaku.&lt;br /&gt;"Ya ngurus anak," jawabnya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu ketemu suami di mana, Bu?" sambungku mencari bahan pembicaraan, sambil menunggu si anak dinaikkan ke ruang rawat inap kami di lantai dua.&lt;br /&gt;"Wah, dulu kami di kampung. Aneh deh. Nikahnya nggak pakai pacaran dulu."&lt;br /&gt;"Lho, kok aneh?" timpalku, "teman-teman saya di LKC juga kebanyakan nikah tanpa pacaran," lanjutku ngalor-ngidul.&lt;br /&gt;"Ih, dokter, jadi buat saya curhat aja."&lt;br /&gt;Hehehe, tampaknya aku pandai membuat wanita mencurahkan isi hatinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kasus gizi buruk kedua dari pinggiran Jakarta yang kami rawat. Yang pertama dari daerah Ciputat, sudah lebih dari dua pekan dirawat. Kasus dalam ceritaku ini berasal dari Bekasi. Menambah deretan kisah busung lapar di kawasan Jabotabek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak media massa yang memberitakan lambannya pemerintah menangani masalah ini. Makanya banyak lembaga swadaya masyarakat semacam &lt;a href="http://www.dompetdhuafa.or.id"&gt;Dompet Dhuafa &lt;/a&gt;yang berinisiatif menangani busung lapar. &lt;a href="http://act.dompetdhuafa.or.id"&gt;ACT&lt;/a&gt; dan LKC sebagai jejaring Dompet Dhuafa bekerja sama memberikan penanganan langsung terhadap penderita gizi buruk yang ditemui. Sebenarnya pasien yang kami tangani ini mendapat jaminan Gakin dari RSUD Bekasi, sehingga bisa berobat untuk penyakitnya. Anak ini pun bisa dioperasi dua kali di RS ini atas jaminan Gakin. Tapi kami tetap merasa perlu untuk begerak membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tulisan di Kompas bertajuk &lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0506/06/swara/1789761.htm"&gt;'Busung Lapar Bukan Kecelakaan'&lt;/a&gt;. Isinya menceritakan anggaran kesehatan pemerintah yang tidak mencukupi itu pun, masih ditambah dengan pelaksanaan program promotif dan preventif yang tidak seharusnya. Kejadian gizi buruk ini adalah dampak jangka panjang daripadanya. Dalam tulisan lain pun, &lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0506/15/opini/1817829.htm"&gt;audit biaya pada jaminan kesehatan masyarakat miskin &lt;/a&gt;juga menjadi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gizi buruk bukanlah penyakit infeksi. Melainkan suatu keadaan yang sebenarnya sudah lama ada, namun tersembunyi dari liputan media massa. Akibat rendahnya pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat kita akan gizi yang harus diberikan pada anak-anaknya, meskipun secara ekonomi berkemampuan, akibat kemiskinan rakyat yang tidak mampu, tidak mau, dan tidak mau tahu untuk membeli makanan tinggi protein, dan akibat pemerintah yang tidak pernah menjadikan sektor kesehatan dan pendidikan sebagai prioritas. Lihat saja berapa besar anggaran kesehatan dan pendidikan dalam APBN. Aku masih ingat kasus gizi buruk yang merebak pasca krisis ekonomi tahun 1997. Media massa mem-blow up-nya. Kemudian pemberitaan kasus ini hilang. Padahal sampai tahun 2002 saat aku masih menjalani pendidikan kedokteran di UI, masih bisa kujumpai kasus gizi buruk di bangsal rawat Anak RSCM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Behkan satu jam sebelum pasien ini tiba di &lt;a href="http://www.lkc.or.id"&gt;LKC&lt;/a&gt;, ada bayi kecil lainnya berusia enam bulan dengan gizi buruk juga, yang datang dengan keadaan gawat darurat: kejang yang kemudian dicurigai sebagai ensefalitis setelah kami rujuk ke RS Fatmawati, dan harus masuk High Care Unit (HCU) yang biayanya Rp. 80 ribu semalam. Padahal sebelumnya ia pernah berobat ke RS, namun karena dalam sehari sudah keluar Rp. 300 ribu, bayi dari ayah yang bekerja sebagai pengamen jalanan ini minta pulang saja. Keadaan si anak semakin buruk, dan dibawalah ke LKC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika melintas di jalanan Sudirman-Thamrin, dari kaca jendela Patas AC 76 sulit kutemukan mobil yang tidak mewah. Tentunya dalam sehari bisa puluhan ribu mobil yang melintas. Artinya puluhan ribu orang Jakarta berpenghasilan dan berpendidikan menengah ke atas. Namun di luar itu, berkali-kali lipat lagi hanya mampu makan sekali dua kali sehari, tidak mampu berobat ke RS, dan meregang nyawanya akibat mati sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arifianto,&lt;br /&gt;Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC)&lt;br /&gt;Jl. Ir. H. Juanda no.34,&lt;br /&gt;Ciputat Megamal D-01&lt;br /&gt;Ciputat 15412&lt;br /&gt;(021) 7416262&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-112010864076128385?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/112010864076128385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=112010864076128385' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/112010864076128385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/112010864076128385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/06/menangis-saja-tak-bisa-apalagi-tertawa.html' title='Menangis Saja Tak Bisa, Apalagi Tertawa'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-111980050199945711</id><published>2005-06-26T08:37:00.000-07:00</published><updated>2005-06-26T08:58:30.670-07:00</updated><title type='text'>Coba-coba pakai 'Mandarin Design'</title><content type='html'>Ini asli langsung copy-paste aja dari &lt;a href="http://www.mandarindesign.com/"&gt;Mandarin Design&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-align:justify;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="float:left;color:#C30;font-size:100px;line-height:80px;padding-top:1px;padding-right:5px;font-family: times;"&gt;F&lt;/span&gt;ull instructions&lt;br /&gt;for making the first letter big are in the Drop Cap copy and paste style tutorial. For this one we forced the first big letter to span more than five lines. The font-size is adjusted to exactly 100 pixels while the line height is 80 pixels. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trus ini juga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.mandarindesign.com/images/rand5.jpg"   style="border:1px solid black;" border="0" width="50" height="50"&gt; &lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.mandarindesign.com/images/rand8.jpg"   style="border:1px solid black;" border="0" width="50" height="50"&gt; &lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.mandarindesign.com/images/rand9.jpg"   style="border:1px solid black;" border="0" width="50" height="50"&gt; &lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.mandarindesign.com/images/rand8.jpg"   style="border:1px solid black;" border="0" width="50" height="50"&gt; &lt;br /&gt;&lt;img src="http://www.mandarindesign.com/images/rand5.jpg"   style="border:1px solid black;" border="0" width="50" height="50"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumayan... Hmmm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;MARQUEE style="width:300px;background:firebrick;color:black;" scrolldelay="200" behavior="scroll" DIRECTION="down"&gt;&lt;br /&gt;This text scrolls up. &lt;br /&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi niy?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;marquee style="width:300px;background:white;font-size:large;color:firebrick;"&gt;&lt;br /&gt;This text is a simple scrolling&lt;br /&gt;marquee that only works in Internet Explorer and Mozilla. &lt;br /&gt;It's simple HTML, no script needed. &lt;br /&gt;&lt;/marquee&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, aneh jadinya??!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="width:100%;color:green;background:black;padding-top:3px;font-family:Georgia,Times;font-size:54px;font-weight:bold;line-height:1em;padding-bottom:5px;" onClick="top.location.href='http://www.mandarindesign.com/';"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span title="Link to Home" onmouseover="this.style.color='white';" onmouseout="this.style.color='green';"&gt;MandarinDesign&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:geneva,arial;color:green;font-size:12px;font-weight:bold;padding-left:5px;"&gt;BLOG&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="width:100%;background:green;text-align:center;font-size:small;font-family:system,geneva;font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;"For People Who Make Mistakes" ...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udah ah, tidur dulu aja..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-111980050199945711?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/111980050199945711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=111980050199945711' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/111980050199945711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/111980050199945711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/06/coba-coba-pakai-mandarin-design.html' title='Coba-coba pakai &apos;Mandarin Design&apos;'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-111567818765644482</id><published>2005-05-09T15:32:00.000-07:00</published><updated>2005-05-09T15:38:12.786-07:00</updated><title type='text'>The Fabric of The Cosmos: Space, Time, and The Texture of Reality</title><content type='html'>Awalnya membaca resensi buku ini di TIME edisi Maret kalau tidak salah. Edisi tersebut meresensi beberapa buku bestseller tahun 2004, yang awalnya hanya terbit edisi hardcover-nya saja, namun kini sudah ada paperback edition-nya. Tentunya lebih murah. Ada lima buku yang diresensi seingatku. Selain buku ini, sisanya novel fiksi. Kebetulan Tante ada kunjungan beberapa hari ke Amrik awal April kemarin, sekalian saja minta dibelikan. Sepertinya ia membelinya di Barnes and Noble dilihat dari plastik pembungkusnya yang diantar langsung oleh Om ke rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini secara umum berisi tentang fisika, suatu hal yang menarik minatku sejak SMP (dulu pernah bercita-cita masuk MIT, tapi tidak kesampaian :(). Kalau melihat dari koleksi buku-buku fisika populerku, mulai dari tiga buku tulisan Stephen Hawking (salah satunya tentunya “Riwayat Sang Kala”—terjemahan “A Brief History of Time” yang pernah menjadi international bestseller), seri terjemahan ‘for beginners’ yang memuat tema biografi Newton, Hawking, Teori Kuantum, sampai Chaos Theory (salah satu ide dalam Jurassic Park-nya Michael Crichton), dan beberapa buku astronomi-kosmologi Carl Sagan, orang tentunya mengira aku adalah penggemar fisika. Ya, sekedar suka dan punya minat saja, tapi tidak jago (dulu waktu kelas 3 SMU pengen banget ikut seleksi TOFI, tapi ga kepilih :(). Hanya seorang pemuda yang masih suka terbawa dengan khayalan masa kecilnya (penggemar serial TV Star Trek—dan punya buku terjemahan Fisika Star Trek-nya Lawrence M. Krauss, suka juga dengan Trilogi Star Wars serta film-film fiksi ilmiahnya Steven Spielberg macam “Close Encounters of The Third Kind” dan “E.T” serta “A.I”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Fabric of The Cosmos yang juga national bestseller ini (belum international bestseller macam “Da Vinci Code” lho) mungkin bisa disetarakan dengan ‘A Brief History of Time’-nya versi awal Milenium, dan Brian Greene juga bisa disejajarkan dengan Stephen Hawking. Dengan bahasa yang mudah dipahami oleh awam dan analoginya menggunakan tokoh-tokoh dalam serial TV populer (The Simpsons, The X-Files), buku ini memang benar-benar ditujukan untuk kalangan masyarakat umum, yang bahkan buta fisika sama sekali sebelumnya. Sampai saat ini aku belum selesai membaca buku setebal 569 halaman (termasuk indeks) ini. Tapi dari 100-an halaman yang sudah kubaca, isinya menjelaskan perkembangan ilmu fisika mulai dari jaman fisika klasiknya Newton, dilanjutkan oleh Einstein, Mekanika Kuantum, sampai akhirnya Superstring Theory. Greene yang juga seorang pakar teori adidawai (superstring) ini benar-benar mampu memaparkan ilustrasi yang sangat logis, sehingga pembaca dapat memahami (dalam bahasa Inggris tentunya :)). Fenomena satu keadaan pun dijabarkan mengikuti perkembangan teori fisika. Misalnya bagaimana perbedaan pandangan Newton dan Einstein terhadap sebuah ember yang terikat dalam seutas tali, dan dibiarkan berputar dalam ruang kosong. Newton menanggap ruang dan waktu adalah keadaan terpisah yang statis, dan Einstein memandangnya satu kesatuan space-time. Sampai akhirnya penulis menyimpulkan teori mana yang berlaku saat ini, dengan bukti-bukti ilmiah dan pemahaman logika sederhana yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dari beberapa babnya, ada beberapa judul yang cukup menarik para penggemar fiksi ilmiah. Semisal “Teleporters and Time Machines—Traveling Through Space and Time” (jadi ingat novel Timeline-nya Michael Crichton, yang mesin waktunya bisa men-scan manusia jadi semacam gambaran *.jpeg, dan mengirimnya melintasi waktu), dan menantang logika macam “Is Space a Human Abstraction or a Physical Entity”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Overall, buku ini sangat menarik dan mencerdaskan. Aku masih berharap ada penerbit yang mau menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia (atau sudah ada yang sedang dalam proses ini?). Dari harganya pun lumayan murah, $ US 15.95 dengan stiker 20% off di sampulnya. Setidaknya aku menganggap buku ini birthday present dua hari lagi :). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup, aku kutipkan sedikit pertanyaan menarik dari Brian Greene, yang profilnya bisa dicari di Google: “What is reality? We humans only have access to the internal experiences of perception and thought, so how can we be sure they truly reflect an external world?” Well, bagiku, sebagian jawabannya ada dalam otak kita. The mysterious brain. Lihat saja dalam VCD BBC Series’ “Brain Story”-nya Prof. Susan Greenfield (ini harus diresensi secara terpisah tampaknya :)). Ilmu manusia memang hanya seujung celupan jari ke dalam lautan ilmu Alloh yang tidak terhingga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/fabriccosmos.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://drarifianto.multiply.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-111567818765644482?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/111567818765644482/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=111567818765644482' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/111567818765644482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/111567818765644482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/05/fabric-of-cosmos-space-time-and.html' title='The Fabric of The Cosmos: Space, Time, and The Texture of Reality'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-111567793484401768</id><published>2005-05-09T15:29:00.000-07:00</published><updated>2005-05-09T15:32:14.853-07:00</updated><title type='text'>Sakaratul Maut</title><content type='html'>Pernahkah Anda mendampingi seseorang yang sedang menghadapi ajalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah, dan cukup sering, mendampingi mereka yang menghadapi saat-saat terakhir hidupnya, karena sakit yang dialami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya menghadapi kematian seperti ini saat masih kuliah dulu. Ketika dinas di bangsal atau Instalasi Gawat Darurat RS, pemandangan ini mulai menjadi sesuatu yang harus dibiasakan. Bahkan akhirnya menjadi sangat biasa. Dan seringkali—khawatirnya—membuat kita sebagai seorang muslim menjadi terlupa kan satu aspek paling penting: mengingat kematian. Dzikrul Maut. Penghancur segala kesenangan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang paling dikhawatirkan. Ketika melihat orang sekarat dan meninggal menjadi suatu hal yang biasa, dzikrul maut bisa menjadi terlupakan. Padahal sepatutnya orang-orang yang dekat dengan kematian inilah yang paling mudah diingatkan akan kematian, yang kelak akan menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ibaratnya sama dengan para penggali kubur. Dalam sehari bisa jadi mereka berulang kali memasukkan jasad kaku tak bernyawa, menjadikannya sebagai rutinitas belaka. Atau bagi mereka di kamar jenazah dan bagian Kedokteran Forensik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami melewati stase Forensik saat ko ass, tugas yang minimal dikerjakan saat jaga malam adalah menerima mayat yang masuk ke Ruang Jenazah RSCM, dan mencatat semua luka-lukanya. Tak jarang di antara kami mengerjakannya dengan perasaan dingin, tanpa perasaan sama sekali bahkan, menghadapi tubuh kaku yang masih segar. Meneliti setiap inci tubuh telanjang itu, membolak-balikkannya, dan sesekali menggoreskan pena di atas clipboard sambil mengeluh dalam hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huh, mengganggu tidurku saja”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali tak terlintas dalam pikiran, mereka dahulunya adalah manusia sama seperti kita, dan kelak kita pun akan menjadi sama seperti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saking biasanya kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah pula saat aku masih mahasiswa tk. V di RSU Tangerang, saat itu Sabtu siang, seharusnya aku sudah bisa menikmati istirahat di kamar ko ass Rumah Mahasiswa FKUI. Tapi keadaan yang aku hadapi saat itu berkata sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasien wanita tua yang tidak sadar selama berhari-hari sejak aku menginjakkan kakiku di bangsal perawatan Penyakit Dalam, mengalami henti napas. Ia meninggal. Sesuai standar penanganan, aku harus melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) terhadapnya. Melakukan kompresi dada, sambil sesekali memberikan napas buatan lewat oxygen mask. Sungguh melelahkan, melakukan hal itu hingga belasan menit, belum bisa dihentikan, karena EKG masih menunjukkan aktivitas listrik jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kusadari aku ngedumel dalam hati. Astaghfirullah, aku lupa akan dzikrul maut. Karena aku mulai terbiasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar dua minggu lalu, selama dua malam berturut-turut, aku mendapat giliran jaga malam di LKC. Dan lumayan, tiga kematian dalam dua hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah cukup lama tidak menemui kematian, kini aku menghadapinya lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelumnya, seorang perempuan muda yang mengalami komplikasi di paru-parunya—salah satu bagian paru-parunya sudah tidak berfungsi lagi—akibat TB paru, mengalami gagal napas. Kami membuat analisa, tampaknya inilah masa-masa terakhir hidupnya. Tidak ada yang bisa kami lakukan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda pernah menyaksikan orang yang mengalami sakaratul maut dalam keadaan sesak napas, tampaknya sangat berat sekali. Seluruh otot napas tambahannya bekerja. Napasnya memburu, tidak habis-habisnya berusaha mengkompensasi kebutuhan oksigen. Berat sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduuuhh, mendingan mati saja daripada merasakan seperti ini… Capeek..,” erangnya. Astaghfirullah. Aku berdoa kepada Alloh agar menjauhkan dari sekarat seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lainnya adalah seorang pria tua yang kesadarannya menurun, dengan muntah dan BAB darah. Hemoglobinnya rendah. Ia meninggal saat sedang menjalani transfusi kantong darah pertamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam terakhir, kembali waktu istirahatku diusik oleh kedatangan pria usia 30-an dengan kesadaran menurun dan sesak napas. Wajah dan tubuhnya tampak sianosis, membiru, menunjukkan kadar oksigen yang jauh berkurang. Tekanan darahnya sangat rendah. Ia mengalami syok. Segera kami melakukan tindakan pemberian cairan via infus, sambil memastikan diagnosis pada riwayat kelainan katup jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya yang tampak tidak begitu panik aku berikan penjelasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah masalah yang sering dihadapi dokter. Akibat komunikasi yang kurang baik, atau informed consent, seringkali keluarga pasien menyalahkan jika orang yang mereka cintai meninggal akhirnya. Apalagi terhadap pasien-pasien LKC yang seluruhnya adalah dhu’afa dan mengenyam pendidikan sangat rendah. Harus diberikan penjelasan sampai benar-benar mengerti. Suaminya saat ini sangat kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, tolong dibimbing suaminya. Asyhadu allaa ilaaha illallah, laa ilaa ha illallah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tidak berkerudung yang membawa anak-anaknya yang masih kecil ini tampak ragu membacakan kalimat-kalimat ini di samping telinga suaminya. Suaranya sangat lirih, menyerupai bisikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sih ini Ibu, suaminya sedang sekarat kok ragu-ragu untuk dibimbing, gerutuku dalam hati. Aku benar-benar ingin bisa memanfaatkan momen ini sebagai dzikrul maut bagiku, dan membimbing orang lain sesuai Sunnah Rasul dalam menghadapi orang yang sekarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa upaya telah dilakukan. Konsul ke seniorku yang di Penyakit Dalam. Mengguyur dengan NaCl 0,9%, memasukkan dobutamin, oksigen senantiasa terpasang… Ia masih tampak sesak. Ya Alloh, berat sekali orang yang sekarat dalam keadaan sesak napas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kateter urin harus dipasang, agar imbang cairan bisa diukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama kemudian, pasien yang telah bertahun-tahun menderita kelainan jantung ini tiba-tiba memaksakan diri untuk bangkit. Ajaib, keadaan yang sewajarnya tidak terjadi. Ia malah kemudian terus mengoceh dan minta selang kencingnya dilepaskan sambil terus memprotes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Alloh, ampun Dok, tolong dilepas, pegal sekali rasanya,” keluh laki-laki ini sambil berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kira-kira lebih dari sejam ia terus mengeluhkan masalah ini. Aneh juga, tadi dikira sudah hampir ‘pergi’, eh, kini malah ;menyusahkan’ saja. Astaghfirullah, kembali aku beristighfar. Luruskan niatmu menolong orang. Sudah konsekuensinya jaga malam tidak tidur karena pasien. Memang ini sudah tugasmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik terus berjalan. Sampai akhirnya ia tiba-tiba tidak sanggup lagi berdiri. Laki-laki ini berusaha keras agar matanya tidak terpejam, dan memaksakan untuk duduk. Tetapi kondisinya memang sudah lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba napasnya berhenti. O oh, saatnya RJP. Oke, kita mulai bagging dan kompresi dada. Tanpa aku ingat, si perawat membawakan set intubasi. A ha, mari amalkan ilmu ACLS-mu. Kucoba berulang kali memasukkan endotracheal tube ke dalam trakea pasien, mencoba mencari epiglotisnya. Jelas terlihat, tetapi ternyata mandrain-nya tidak ada! Lagi-lagi masuk esofagus, dan selalu regurgitasi tiap kali kompresi dada. Aduh, aspirasi nih. Suction… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha kami tidak mengembalikan pasien. Alloh telah memanggilnya. Meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil, para pengamen cilik jalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Alloh, dengan keadaan seperti apa kelak aku menghadapi sakaratul mautku nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ingat dengan do’a yang dibaca tiap habis sholat, …“Allohumma hawwin ‘alaina fii sakaarootil mauut, wannajaati minannaar, wal ‘afwi ‘indal hisab”…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan do’a Rabithah …”wa amithaa ‘alasysyahaadati fii sabiilik”… Ya Alloh, matikan kami dalam syahid di jalan-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak salah, pernah membaca hadits yang menceritakan bahwa saat seseorang menghadapi sakaratul maut-nya, maka syaitan akan berusaha mengajaknya kembali kepada kekafiran. Sehingga orang yang sholeh selama hidupnya pun akan bisa terbongkar pertahanan keimanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari potongan hadits keempat dalam hadits ‘Arbain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Alloh, Dzat yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya setiap kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta (dari siku sampai ke ujung jari). Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga di antara kalian yang beramal dengan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dia dan neraka hanya sehasta. Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli surga, maka ia pun masuk surga (Riwayat Bukhari-Muslim) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Alloh swt. memberikan husnul khotimah untuk kita semua. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://drarifianto.multiply.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8779038-111567793484401768?l=arifianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arifianto.blogspot.com/feeds/111567793484401768/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8779038&amp;postID=111567793484401768' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/111567793484401768'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8779038/posts/default/111567793484401768'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arifianto.blogspot.com/2005/05/sakaratul-maut.html' title='Sakaratul Maut'/><author><name>arifianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11689828462899292740</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/71-4044.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8779038.post-111346070155994569</id><published>2005-04-13T23:34:00.000-07:00</published><updated>2005-04-18T00:16:12.283-07:00</updated><title type='text'>Catatan Perjalanan Nias: 30 Maret -7 April 2005</title><content type='html'>Kembali terjadi bencana alam di negeri ini. Senin malam 28 Maret lalu, gempa tektonik berkekuatan 8,4-8,6 SR mengguncang Kepulauan Nias di Sumatra Utara dan Pulau Simeuleu di NAD. Aku mengetahui berita ini Selasa paginya di televisi selepas jogging, sesuatu yang amat jarang kulakukan. Segera browsing di situs earthquake.usgs.gov setelah membaca detik dot com, dan memang getaran ini terdeteksi hingga di Amrik sono. Dalam hati sempat terlintas, sepertinya sebentar lagi akan ada yang meminta aku segera pergi ke lokasi bencana. Ya, tiga bulan sebelumnya aku sempat diminta pergi ke NAD tiga hari setelah tsunami. Dan… aku melewati lebih kurang 10 hari melintasi Lhokseumawe-Banda Aceh sebagai tim kesehatan sebuah LSM. Kini, tiga bulan berselang, bencana kembali terjadi, firasat aku akan segera menuju lokasi bencana menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga. Sekitar pukul 10.00 aku menerima SMS dari LKC, tempat aku bekerja sebagai dokter praktik, menanyakan apakah aku bersedia pergi sebagai relawan medis ke lokasi bencana di Nias. Koordinator Layanan Luar Gedung lembaga ini juga menanyakan apakah aku bisa mencari seorang kawan dokter lagi yang bisa diajak ikut serta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, pergilah aku dan dr. Anjas Asmara, sejawat sejak melewati masa-masa studi di FKUI selama 6 tahun ke Medan, Sumatra Utara, untuk kemudian menuju Pulau Nias. Setelah malamnya aku masih sempat dinas di LKC. Inginnya bisa istirahat agar paginya memiliki cukup energi untuk melakukan perjalanan. Tapi seorang pasien dengan muntah darah cukup menghabiskan waktu, sehingga tidak sempat beristirahat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu pagi 30 Maret, aku, Anjas, dan Adi seorang perawat LKC, menuju bandara Soekarno-Hatta, untuk lepas landas ke Medan. Sebelumnya, minum klorokuin dua tablet dulu, karena Nias endemi malaria. Sesampainya di Bandara Polonia pukul 09.00, menunggu sebentar jemputan dari kawan-kawan ACT—Aksi Cepat Tanggap—DD Republika, yang mengirim kami bertiga ke tempat ini. Sebenarnya LKC hanyalah lembaga yang menyalurkan tenaga kesehatan saja, sedangkan ACT-lah yang memiliki core competence untuk disaster management. Jadi kami bergerak selaku ACT-Medis. Sebuah mobil kijang ACT dengan plat B menjemput kami hampir sejam sesudahnya. Ikun dan Pak Hendra, dua orang anggota ACT yang sudah berangkat dari Jakarta sehari sebelumnya, menjemput kami. Kami bertiga sudah bertemu saat penanganan bencana di Aceh sejak berangkat dari Jakarta. Pengemudi mobil ini adalah sopir handal dari Medan, Bapak Yono, yang setia menemani kami sejak dari Aceh. Dua orang penumpang lainnya adalah relawan ACT Medan yang bertugas di Sigli dalam program WAKALA (Wanita Kepala Keluarga), ialah Lita, seorang akhwat lulusan Sastra Arab USU. Dia ditemani adiknya Yeni yang masih kuliah di Akuntansi Univ. Muhammadiyah Medan. Dua orang akhwat Padang ini kebetulan lahir dan besar di Nias. Kedua orangtua mereka pun berada di sini. Sejak kejadian bencana dua malam sebelumnya, mereka belum berhasil mengontak sang ayah-ibu. Tapi mereka optimis kedua orangtuanya di Kota Gunung Sitoli selamat dari bencana. Tujuan kami membawa mereka juga untuk mengatasi kendala bahasa dan lokasi nantinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/apindkkedited.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10.00 segera kami melaju ke arah Sibolga dengan kecepatan tinggi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan laut menuju Pulau Nias. Aku benar-benar menikmati perjalanan darat ini. Inilah untuk pertama kalinya aku melintasi daratan Sumatra Utara. Mulai dari ibukota Medan, terus ke arah Selatan, melewati Danau Toba yang subhanalloh indahnya, lika-liku Tarutung menuju Sibolga yang medannya lumayan berat. Kami harus melewati jalan sempit dengan tikungan terjal diapit jurang dan pegunungan selama hampir dua jam. Sampai salah seorang dari anggota rombongan harus mengeluarkan isi lambungnya (not me, of course). Di daerah Tapanuli dan Batak Karo kami melihat banyak kuburan-kuburan Kristen yang besar-besar di kiri-kanan jalan, gereja-gereja yang dapat ditemui pada hampir setiap kilometernya, dan melewati satu upacara tradisional kematian penduduk Batak Kristen di salah satu tepi jalan, yang tentunya tidak dapat kita temui di kota seperti Jakarta. Sangat menarik. Sampai akhirnya kami tiba agak terlambat dari waktu yang direncanakan sebelumnya, sekitar pukul 19.30 di Sibolga. Kami berencana mengejar keberangkatan kapal laut jam 20.00 dari Pelabuhan Sibolga menuju Pulau Nias, dengan membawa satu mobil kijang yang kami harapkan bisa diangkut dengan kapal feri. Namun ternyata Alloh berkehendak lain. Tidak ada kapal feri yang berlabuh malam itu. Karena situasi bencana yang cukup dahsyat, transportasi laut ke Pulau Nias juga mengalami masalah. Setelah sedikit berembuk, kami putuskan untuk menaiki kapal penumpang saja, yang tidak bisa mengangkut mobil. Terpaksa Pak Yono dan mobilnya harus ditinggal di Sibolga dan kembali ke kantor ACT Medan. Kami mendapatkan tiket keberangkatan kapal kayu—istilah kapal penumpang yang menuju Nias, dan memang benar-benar terbuat dari kayu—yang dijadwalkan berangkat pukul 01.00 dini hari. Tapi katanya kapal akan berangkat jam 23.00, sehingga waktu menunggunya semakin singkat. Adanya sisa waktu ini kami manfaatkan untuk bebelanja kebutuhan pribadi, karena berdasarkan informasi yang kami dapatkan, sulit sekali mendapatkan beras dan bahan bakar di Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapal laut ternyata mengalami keterlambatan keberangkatan. Aku sempat khawatir kapal ini tidak jadi berangkat, karena hingga pukul 01.00 masih belum berlayar juga. Sampai-sampai satu rombongan penumpang beretnis Cina meninggalkan kapal ini untuk mencari kapal lain yang katanya pergi lebih dulu. Informasi apakah kapal ini akan berangkat atau tidak benar-benar tidak jelas. Rombongan kami sendiri awalnya tidak mendapatkan ‘kursi’ di kapal ini, meskipun telah membayar karcis normal. Jadi penumpang yang menaiki kapal ini tampaknya memang sedikit melebihi muatan. Dengan adanya sekelompok orang yang pindah dari kapal ini, tanpa pikir panjang kami segera menempati jatah mereka untuk bisa berbaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sekitar pukul 03.00 kapal kayu ini berangkat. Inilah pengalaman pertamaku naik kapal kayu. Kendaraan ini adalah kapal yang sepenuhnya terbuat dari kayu, tapi cukup besar. Memuat penumpang sekitar 200-an orang. Ruangan terdiri atas ruang atas dan bawah, berupa bilik-bilik tidur berukuran kira-kira satu meter kali 175 cm yang dibatasi dengan nomor di kiri-kanan sisi kapal. Jadi untuk duduk tegak saja sulit di bilik-bilik ini, yang memang khusus dirancang untuk tidur saja, dengan risiko menyenggol penumpang lainnya di sebelah kita. Normalnya kapal memang berlayar malam hari, dan sampai di Pelabuhan Gunung Sitoli, Nias keesokan paginya. Jadi apalagi yang bisa dilewati si kapal penumpang seperti ini selain tidur saja? Di tengah lautan Samudera Hindia ini, goncangan ombak juga sangat terasa. Jadi posisi berbaring jauh lebih nyaman dibandingkan duduk, apalagi berdiri. Khususnya sangat terasa bagi mereka yang mabuk laut. Yah, sesekali terdengar suara orang muntah di satu sisi kapal. Benar-benar perjalanan pertama yang mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama kami di kapal ini ada serombongan Polisi BRIMOB berpangkat paling rendah, sekitar 20 orang. Tampaknya mereka diperbantukan dalam bencana di Pulau Nias. Terkadang lantunan lagu-lagu Peterpan dan Doddy Dores terdengar keras dari speaker dan TV karaoke dalam kapal. Hiburan yang tidak begitu menyenangkan. Dan yang paling membuatku muak dan mual adalah: asap rokok yang dihembuskan di mana-mana. Baik oleh penumpang pria maupun polisi-polisi prajurit itu. Hanya bisa bersabar dan beristighfar saja. Kapal ini juga memuat banyak karung beras di dek bawah. Apakah beras-beras ini memang ditujukan sebagai bantuan untuk bencana di sini, atau memang sengaja akan ditimbun dulu, wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati perjalanan tanpa banyak hal yang bisa dibincangkan, sampailah kami di Pulau Nias pukul 12.00. Tetapi kapal tidak bisa segera merapat. Hujan pun turun cukup deras. Dari kejauhan, kami melihat pinggiran pantai pelabuhan Gunung Sitoli yang subhanalloh indahnya. Dasarnya masih tampak biru, meskipun ada sedikit sampah yang mengambang. Sama sekali tidak bisa dibandingkan pelabuhan Tanjung Priok saat aku pernah mengunjungi Kepulauan Seribu. Sampai akhirnya pukul 13.00 kami merapat, dan ditimpa derasnya hujan, kami menurunkan muatan kami yang agak banyak, baik bekal pribadi maupun obat-obatan yang dibawa dari LKC Ciputat, dengan harus memasuki kapal kayu lain yang merapat di sebelahnya. Di pelabuhan cukup banyak tentara yang terlihat. Mereka berasal dari BRIMOB, ZENI, dan AL. Setelah mendapatkan ojek ‘kereta’, sebutan untuk sepeda motor di sini, untuk mengangkut kami, dan becak kayuh untuk mengangut barang-barang bawaan, kami menuju lokasi rumah Lita, sekitar pukul 13.30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Gunung Sitoli, kehancuran tampak di mana-mana. Sebuah masjid dengan kubah hijau yang besar ambruk ke tanah. Pendopo di kanan jalan hanya tampak atap besanya saja. Sebuah bangunan pertokoan hampir rata dengan tanah, padahal katanya sebelumnya itu adalah bangunan delapan lantai. Masya Alloh, aku tidak bisa membayangkan jika bencana seperti ini menimpa pusat kota Jakarta. Na’uudzu billaahi min dzaalika. Melewati sebuah jembatan besar di Jl. Sudirman, kehancuran besar-besaran tampak lebih nyata. Hanya satu traktor sebagai alat berat yang bekerja mengangkat puing-puing. Upaya pencarian korban baik hidup maupun mati akan sangat sulit dan lama di tengah-tengah kehancuran seperti ini. Bangunan-banguan besar dan banyak, kekurangan alat berat, mempersulit evakuasi korban. Bau mayat masih belum begitu menyengat untuk ukuranku yang pernah terbiasa satu bulan lamanya di Bagian Forensik RSCM. Namun penduduk yang melintas sebagian mengenakan masker. Relawan-relawan dari berbagai LSM lokal maupun asing banyak terlihat. Tidak kalah banyaknya tentara yang memanggul AK-47. Mengevakuasi korban menggunakan AK-47? Oh, ternyata, kabarnya SBY datang ke Nias siang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/masihadamayatlagicopy.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira sejak kemudian sampailah kami di rumah orangtua Lita dan Yeni, setelah sebelumnya sempat singgah di kedai milik abang mereka, Bang Mendra. Ternyata kedua orangtua Lita sudah tidak berada di rumah, yang untungnya selamat dari bencana. Ayah-Ibu Lita ternyata baru saja meninggalkan pulau menuju Medan, untuk bertemu dengan kedua putrinya. Ya, tanpa kami sadari, sebenarnya kami berpapasan di pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang dihuni orangtua Lita dan Yeni adalah sebuah rumah petak dengan satu ruang tamu, satu kamar tidur, dan kamar mandi sekaligus tempat mencuci. Rumah kontrakan ini berukuran kira-kira delapan kali 2,5 meter persegi, berada satu deret dengan sekitar total 10 rumah kontrakan berukuran sama lainnya. Semua rumah ini kosong ditinggalkan penghuninya yang mengungsi. Hanya rumah-rumah di seberang jalan yang masih dihuni. Lokasi perumahan ini tepat berbatasan dengan pantai, kira-kira hanya 10 meter dari laut. Jadi, kami sempat membayangkan jika tsunami menerjang, segera tersapulah kami! Tepat sekitar lima meter di hadapan perumahan ini, terdapat sebuah gedung sekolah swasta yang separuhnya sudah ambruk, dan tanah di depannya jelas tampak terbelah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/banguanruntuhdpnrumahcopy.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore harinya kami menjamak sholat dzuhur dan ashar. Untuk berwudhu, kami harus menggunakan kamar mandi milik tetangga yang memiliki sumur. Karena rumah yang kami tempati ini menggunakan air PAM, sedangkan instalasi air dan listrik tidak berfungsi sama sekali. Untuk mandi, kami bisa menimba air terlebih dahulu di sebuah sumur milik penduduk yang sebagian dinding ruangannya sudah roboh, namun untungnya sumur tidak tertimbun. Dalam keadaan seperti ini, penduduk desa saling membantu satu sama lain. Siapa saja boleh mengambil air dari sumur ini. Kami bisa mandi menggunakan air sumur, setelah menimba dan membawa air dengan ember, berjalan kaki sekitar 20 meter. Suara helikopter Chinook milik Singapura dan helikopter lain milik PBB tidak henti-hentinya mengusik keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya kami semua—laki-laki—beristirahat di lantai ruang tamu, dengan sedikit kekhawatiran jika terjadi gempa besar susulan. Alhamdulillah kami bisa menikmati nasi yang beras dan minyak tanahnya, serta sedikit lauk-pauk, telah kami bawa sejak dari Sibolga. Malam tanpa listrik sama sekali. Langit begitu indah dengan taburan bintangnya yang tampak jelas. Sesuatu yang tidak dapat ditemui di Jakarta. Mudah-mudahan tidak ada nyamuk malaria yang menggigit kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum’at, 1 April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, semalam kami semua bisa beristirahat dengan baik. Walaupun sempat satu kali kami merasakan gempa ringan, mungkin sekitar 3-4 SR. Sholat subuh kami pun agak terlambat. Paginya kami kembali bisa menikmati sarapan, yang dimasak oleh kakak-beradik Lita-Yeni. Banyak kisah beredar. Lita menceritakan satu keluarga orang Padang yang seluruhnya meninggal terhimpit bangunan rumahnya. Anak yang selamat karena ia sedang kuliah di UISU. Pak Hendra yang kembali dari berjalan-jalan maghrib sebelumnya mengabarkan satu keluarga yang ditemuinya di tenda pengungsi daerah alun-alun dekat pendopo. Ia menemui seorang ibu dengan bayinya yang berumur 10 hari, dengan total enam anaknya, belum mendapatkan makanan. Padahal ini adalah pusat kota, dengan banyak LSM berkumpul. Apa saja yang telah mereka lakukan? Mungkinkah demikian sulitnya bantuan makanan sampai ke kota ini? Bagaimana dengan berton-ton beras yang kami lihat di kapal kayu? Ditimbun saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Mendra datang dengan membawa cerita yang tidak kalah serunya. Kota ini memang sedang mengalami krisis bahan pangan. Gudang beras dijaga tentara bersenjata lengkap, karena khawatir akan dijarah warga. Warga kota tidak membutuhkan pakaian, mereka butuh makanan! Di tengah-tengah masyarakat juga telah tersiar berita, bahwa menurut BMG Jepang, bentuk Pulau Nias ini mirip jamur jika dilihat dari dasar laut. Ditopang oleh ‘tiang’. Jika terjadi satu kali lagi gempa berkekuatan besar seperti sebelumnya, dikhawatirkan ‘tiang’ ini akan patah, dan Nias terperosok ke dalam lautan, tenggelam! Kini posisi Pulau Nias sudah miring. Jadi satu ujungnya semakin tenggelam ke dalam lautan, sedangkan satu ujung lainnya mendangkal. Sehingga kapal-kapal tidak bisa mendekat ke pesisir pantai, karena akan menabrak bebatuan karang pantai yang relatif meninggi. Kabar seperti inilah yang membuat banyak warga memutuskan untuk meninggalkan Nias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan rintik-rintik terus membasahi. Kami membahas bagaimana cara ideal mendistribusikan beras di sini. Kami memutuskan untuk bergerak aktif ke kantong-kantong penduduk muslim yang bisa dijangkau melalui jalan darat dari daerah ini. Kami memang belum membawa bantuan pangan, karena masih tertahan di Sibolga, menunggu transportasi yang mampu membawa bantuan berton-ton beratnya. Setidaknya kami saat ini membawa obat-obatan, sehingga minimal kami bisa melakukan pengobatan di desa-desa yang membutuhkan. Pukul 10.00 kami berangkat dengan menggunakan mobil carteran L-300 dari penduduk setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ACT telah mendapatkan lokasi sebagai posko tetap, yakni di Jl. Patimura, tidak jauh dari kantor DPD PKS. Beberapa terpal yang kami bawa sejak perjalanan Medan-Sibolga disusun menjadi sebuah tenda. Kami berhenti sebentar di Posko untuk mendapatkan relawan lokal yang bersedia menjadi pemandu perjalanan. Sempat pula kami mengambil gambar sesosok mayat yang tertindih separuh tubuhnya di pinggir jalan tidak jauh dari posko. Diiring rintik hujan, kami menuju ke lokasi pertama, di Desa Foa, sekitar 10 km dari Gn. Sitoli. Membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mencapai tempat ini. Di tengah-tengah perjalanan, kami melewati sebuah lokasi wisata indah, yakni Pantai Lao Maru. Tepat di salah satu sudut pesisir pantai, di tebing yang cukup curam, sebagian jalan menjadi sangat sempit, karena sebagiannya runtuh akibat gempa. Lintasan ini hanya bisa dilewati satu mobil saja. Cukup riskan. Bila tidak hati-hati, akan jatuh ke kedalaman yang cukup tinggi. Pemandangan di daerah ini luar biasa indahnya. Namun kini keadaannya sangat sepi. Entah dengan sebelum gempa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan menuju Foa ini, terlihat jelas kerusakan banguan yang merata. Tempat-tempat ibadah, baik masjid maupun gereja, tidak luput dari kehancuran. Sekitar pukul 11, kami tiba di lokasi pertama, yakni Desa Tete Hesi, Kecamatan Gido. Lokasi ini bisa dikatakan terbagi dua, yakni penduduk yang mayoritas Kristen, dan mayoritas Islam. Tokoh masyarakat muslim yang kami temui menekankan agar kami melakukan pengobatan di kedua daerah, agar tidak terjadi kecemburuan masyarakatnya. Maka sekitar pukul 11.15, kami melakukan pengobatan pertama di desa berpenduduk mayoritas Nasrani. Kendala utama dalam melakukan pengobatan tentunya adalah bahasa. Peran penerjemah lokal, seperti Lita dan relawan pria lokal yang kami bawa, menjadi sangat penting. Anjas melakukan satu tindakan wound toilet di sini. Sebagian besar penduduk mengeluh jantungnya selalu berdebar-debar sejak kejadian gempa. Tepat satu jam, kami segera pamitan, karena mengejar waktu sholat Jum’at. Kami bergegas menuju masjid di perkampungan pesantren Hidayatullah, Desa Siwalabanua. Untuk mencapai tempat wudhu saja, di sebuah mata air kecil, kami harus menuruni dataran curam yang cukup licin, dengan kemiringan sekitar 45 derajat, 10 meter ke bawah, untuk kemudian bergegas naik lagi. Di dalam ‘masjid’ yang sangat sederhana, sholat Jum’at sudah dimulai. Aku tidak sempat mengikuti khutbah Jum’at. Jumlah jama’ahnya sekitar 20 orang saja. Selepas Jum’atan, kami menggelar pengobatan di depan ruang kelas berukuran delapan kali enam meter persegi yang berperan sebagai masjid. Lagi-lagi Anjas cukup ‘beruntung’ mendapatkan tindakan jahit-menjahit, bahkan sampai dua pasien. Salah satunya luka robek di kepala, dengan dasar luka jaringan lunak. Anjas sudah khawatir saja, tengkorak orang ini tidak menyatu sempurna. Segera saja ia menjahitnya, dibantu Adi. Sekitar dua jam kami melakukan pengobatan di tempat ini. Masyarakatnya lebih baik dalam berbahasa Indonesia. Selepasnya, pimpinan pesantren menjamu kami dengan nasi, mie, tempe, dan air putih hangat. Aku sangat terkesan dengan para asatidz di sini, khas Hidayatullah. Mereka bisa merintis sebuah pusat Islam di daerah yang mayoritas non muslim. Pimpinannya adalah seorang pria Jawa yang sebelumnya lama tinggal di Bengkulu, dan baru dua tahun ditugaskan di pesantren ini. Pesantren ini sendiri baru dirintis dan berdiri tahun 1998. Subhanalloh, perjuangan para da’I Hidayatullah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/pasiennyaanjascopy.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 15.30 sampai 17.30 kami meneruskan pengobatan di Desa Umene Satua. Rasanya pasien di sini tidak habis-habisnya. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa sebagian obat esensial telah habis terpakai. Kami sempat mengunjungi satu masjid lagi, tapi tidak bisa memberikan kontribusi apa-apa, karena persediaan obat sudah tidak memadai lagi. Kami hanya bisa menjanjikan kepada penduduk setempat, bahwa kami akan kembali. Kesimpulan yang kami dapatkan di sini, sebagian besar pasien mengeluhkan sakit ‘jantung’, maksudnya mereka selalu berdebar-debar sejak kejadian gempa. Hal ini aku interpretasikan sebagai semacam stres pasca trauma. Kasus hipertensi juga cukup banyak di sini. Sepertinya hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan kaum pria yang mayoritas perokok berat, dan mengkonsumsi makanan tinggi garam. Ketika aku minta agar mereka mengurangi konsumsi garam, ternyata sulit juga, karena makanan yang tersedia sebagian besar adalah ikan asin sebagai lauk. Penyakit-penyakit tertentu yang membutuhkan terapi jangka panjang di Puskesmas pun, tidak dapat ditindaklanjuti dengan baik, karena Puskesmas yang juga ditinggalkan petugasnya. Menjelang maghrib kami kembali ke Posko di kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini juga kami bertemu dengan kawan-kawan Kepanduan PKS DPW Sumut dan Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI) Sumut, bersama seorang relawan dari Portal Infaq yang sempat kami temui dalam perjalanan pesawat Jakarta-Medan. Seharusnya rombongan ini telah berangkat sejak hari Rabu menggunakan helikopter. Namun Alloh bekehendak lain. Mereka justru menempuh perjalanan laut menggunakan kapal ikan yang berkapasitas kecil, mengangkut sekitar belasan orang, dan mampu membawa muatan total sampai 10 ton. Lama perjalanan mereka 12 jam, diterpa hempasan ombak yang keras terasa, dan dilewati dengan kepasrahan total kepada Alloh saja. Khususnya bagi mereka yang tidak biasa menempuh perjalanan laut, dan tidak bisa berenang! Mereka membawa satu buah gen-set. Sehingga malam itu, kantor DPD PKS Kabupaten Nias di Gunung Sitoli adalah satu dari sedikit bangunan yang bersinar terang oleh cahaya lampu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai hari ini, transportasi menuju pulau masih demikian sulitnya, sampai-sampai bantuan yang disalurkan swadaya masyarakat seperti PKS menggunakan kapal yang disewa sendiri selama satu bulan, dengan segala keterbatasannya. Pemerintah tampaknya tidak berpikir untuk memudahkan transportasi penyakuran bantuan ke Nias. Justru transportasi udara banyak datang dari asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami tidur beratapkan terpal dan beralaskan tikar di posko. Mudah-mudahan kondisi badanku senantiasa terjaga sampai akhir tugas kami di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 2 April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Lita&lt;br /&gt;Persediaan obat menipis, bantuan sembako masih tertahan di Sibolga, entah kapan bisa mencapai Pulau ini. Kabarnya beras beberapa ton, minyak goreng, dan beberapa kebutuhan pokok lain sudah dimasukkan ke dalam truk, tinggal dibawa oleh kapal feri menuju Nias. Tapi sampai hari ini masih belum bisa berangkat juga. Sehingga praktis tidak ada kegiatan yang bisa kami lakukan hari ini. Dengan semangat juang, Lita berangkat seorang diri menuju Medan untuk menemui kedua orangtuanya yang seharusnya sudah berada di sini, sekaligus membeli obat-obatan yang sudah habis. Mantan caleg PKS yang mewakili Pulau Nias untuk daerah pemilihan Sumut ini adalah akhwat tangguh bertenaga ikhwan. Berbekal sebuah ransel 60 liter, satu tas jinjing, dan rompi ACT, anak kelima dari tujuh bersaudara ini diantar abangnya, Bang Mendra, menuju bandara. Sebagai seorang relawan, Lita berpikir selayaknya ia bisa mendapatkan transportasi gratis keluar pulau untuk mendapatkan bantuan. Namun hari itu ia tidak berhasil mendapatkan penerbangan bebas biaya. Lita harus membayar 500 ribu rupiah untuk sebuah tiket pesawat Merpati, yang ternyata diganti dengan pesawat Angkatan berkapasitas 10 orang. Tampaknya ada deal-deal bisnis antara perusahaan penerbangan Merpati dengan Angkatan Darat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Medan sekitar pukul 14.00, dengan keluwesannya bergaul, Lita mendapatkan kenalan baru di Polonia, yang menjanjikannya pesawat gratis kembali ke Medan sore itu. Tapi karena belanjaan yang cukup banyak, khususnya obat-obatan, ia baru menyelsaikan berbelanja pukul 18.00. Bawaan yang sangat banyak ini dibawanya dengan becak motor menuju rumahnya. Sempat juga Lita bertemu dengan kawan-kawan KKI Medan. Malam harinya Lita berhasil bertemu dengan kedua orangtuanya, yang ternyata baru tiba dari Sibolga. Alhamdulillah mereka selamat. Hanya saja sang Bunda kurang sehat, karena harus tidur di luar rumah bersama pengungsi lain malam-malam sebelumnya. Kisah Lita selanjutnya diteruskan esok hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, Adi, Anjas, Ikun, dan Pak Hendra praktis tidak memiliki kegiatan berarti sejak pagi hingga siang itu. Kecuali menunggu Lita kembali dari Medan membawa obat-obatan. Kebetulan kawan-kawan BSMI pusat datang siang harinya, bersama ketua umumnya dr. Basuki S, SpBO, dan beberapa dokter lainnya dari Aceh dan Surabaya. Aku berkenalan dengan sejawat dari FK Unair yang seangkatan, dr. Fahmi. Mereka mendapatkan rumah sangat berdekatan dengan posko kami, sebagai sekretariat BSMI di Nias. Rombongan ini tiba dengan pesawat dari Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksodus Besar-besaran&lt;br /&gt;Untung bagiku, sore harinya ada sebuah peristiwa besar yang bisa aku ikuti. Eksodus besar-besaran penduduk Nias ke luar pulau! Pak Hendra yang mendapatkan informasi ini, sekaligus menunggu bantuan yang akan disalurkan Elshinta, mendahului menuju Pelabuhan G. Sitoli bersama Bapak Yorhamun dengan ‘kereta’ alias motor. Beberapa SMS ditujukan bagiku dan Ikun, meminta agar kami dapat meliput peristiwa ini. Kami berdua bergegas menumpang mobil angkutan umum menuju pelabuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://i2.photobucket.com/albums/y26/foxapin11/Eksoduscopy.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa, pelabuhan begitu ramai sora itu. Sebuah kapal kayu dengan jenis sama seperti yang kutumpangi dalam perjalanan Sibolga-Nias, nyaris tenggelam di dermaga karena kelebihan penumpang! Ribuan orang lainnya yang tidak memiliki tiket dengan tidak sabar berusaha memasuki kapal feri besar, Jatra III dari Jakarta, yang memuat puluhan mobil dari berbagai lembaga pembawa bantuan. Termasuk dua mobil ambulans BSMI yang diangkutnya. Berbekalkan sebuah kamera digital Sony Cybershot, handycam Mini DV Sony, dan kamera otomatis berlensa tele Canon, aku dan Ikun mengambil dokumentasi sebanyak-banyaknya. Kami sempat berbincang-bincang dengan beberapa pengungsi. Mereka tidak memiliki biaya sama sekali untuk melakukan perjalanan, sehingga berusaha mencari tumpangan gratis keluar pulau. Isu akan terjadinya gempa susulan yang akan menenggelamkan Nias membulatkan tekad meninggalkan pulau ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali ibu-ibu yang membawa anaknya, ditingkahi suara tangisan tidak mengerti, mengiringi pengungsian besar-besaran itu. Setelah semua mobil dan kendaraan bermotor, termasuk alat berat, dikeluarkan dari feri, ribuan orang berlarian merangsek memasuki kapal. Dengan membawa handycam, aku ikuti rombongan ini sampai dalam dek kapal, merekam ekspresi kepanikan dalam wajah para pengungsi. Sampai-sampai jembatan kapal hampir diangkat, aku berlari keluar dari kapal, agar tidak ikut terbawa. Antrian motor di luar yang menunggu diijinkan masuk, dan penduduk yang tidak henti-hentinya berusaha memasuki kapal, terus berlangsung sampai pukul 18.00. Kami berdua akhirnya memutuskan meninggalkan pelabuhan. Semoga mereka semua selamat tiba di tempat tujuan di Sibolga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya kami kembali beristirahat di tenda Posko. Terdengar suara anak-anak batuk dari kemah kecil dekat terpal kami. Kemah kecil berukuran sekitar 1,5 kali 1,5 meter persegi ini ditinggali Bapak Yorhamun, relawan kami dari Waspada Peduli Umat yang merelakan madrasahnya sebagai posko, bersama istri dan tiga anaknya yang balita. Semoga anak-anak kecil ini sehat-sehat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad, 3 April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Lita Episode 2&lt;br /&gt;Pagi harinya, Lita mencarikan kontrakan untuk kedua orangtuanya, dengan bantuan biaya dari ACT. Tidak banyak waktu yang ia habiskan bersama ayah-ibunya. Ia harus segera kembali bekerja. Jam 10.00, Pak Hendra menghubungi untuk segera kembali ke Nias. Dengan membawa barang yang sangat banyak untuk dibawa seorang diri, sebuah box besar berisi obat-obatan seberat kira-kira 20 kg, dan satu tas carrier, Lita berangkat menggunakan taksi menuju Polonia. Hanya keyakinan atas pertolongan Alloh sajalah yang menguatkan akhwat ini untuk membawa bantuan yang demikian banyak. Jam 13.00, dengan seseorang yang baru dikenalnya, Lita mengangkasa dengan pesawat CASA TNI AL. Sebelumnya barang bawaan Lita yang terlalu banyak ini sempat dipermasalahkan sebelum naik pesawat. Tetapi ia bersikeras bantuan ini untuk pengobatan. Lagi-lagi di pesawat ia mendapatkan kenalan baru yang menjanjikan akan membantu, jika ada relawan ACT yang membutuhkannya. Jam 14.30 Lita sampai di bandara Binaka, Nias. Selanjutnya ia segera kembali ke Posko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu juga, sambil menunggu kedatangan Lita, kami berbincang-bincang dengan seorang pria Nias di Posko. Ia menjelaskan bahwa Nias adalah pulau yang cukup besar. Panjang pulau ini sekitar 200 km, dan lebarnya antara 80 sampai 120 km. Kami banyak menyebut-nyebut lokasi yang cukup banyak dihuni umat Islam, namun masih sulit dijangkau hingga saat itu, yakni Lahewa di sebelah utara pulau, dan Teluk Dalam di selatan. Jumlah penduduk beragama Islam di pulau ini tidak sampai 10 persen, dan banyak di antara mereka yang menjadi korban. Pria ini juga menjelaskan bahwa Nias adalah daerah yang terdiri dari beragam etnis pendatang sejak dahulu kala. Bugis, Makasar, Aceh, Padang, Cina dan lainnya. Nama marga di pulau ini juga khas, seperti Zebua, Harefa, Zega. Lita pernah menjelaskan bahwa marga asli Nias tidak ada yang berakhiran konsonan, semuanya vokal. Begitu juga dengan kata-katanya. Kata serapan konsonan akan dibuat menjadi vokal, misalnya mobil menjadi mobi. Satu hal yang unik bagiku adalah cara mereka mengucapkan huruf f dan r. Seperti aksen Prancis. Mereka juga tampaknya tidak mengenal huruf p. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pukul 10.13, terjadi gempa yang cukup besar dan lama, sekitar 1 menit. Getarannya sangat terasa. Untungnya tidak ada barang yang jatuh atau bangunan roboh. Kami sedang berada di Posko. Di jalanan tampak sedikit kepanikan. Orang-orang sebagian berlarian, para pengendara motor menghentikan kendaraannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 10.20, mobil truk tanki air dari PAM datang. Sejak kedatanganku di pulau ini, air dan listrik masih belum berfungsi. Untuk mandi pagi, aku dan kawan-kawan sengaja berjalan agak jauh ke rumah Lita, untuk mengambil air sumur. Dan.. cukup mandi sekali saja sehari. Mobil berhenti tepat di sekretariat BSMI, sekitar 15 meter dari posko kami. Anak-anak perempuan, laki-laki, semuanya mengambil ember dan alat apapun yang bisa menampung air, bolak-balik dari posko ke mobil tanki, menampung air yang dikucurkan dari selang besar. Mereka tampak kepayahan ketika membawa ember menuju rumahnya, namun ekspresi kepuasaan terlihat di wajah. Subhanalloh, inilah rasanya kondisi sulit air. Sekitar 20 menitan mobil memberikan airnya bagi penduduk sekitar yang berdatangan dari segala penjuru, kemudian pergi menuju daerah lain, agar pembagian air merata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu kami menjama’ sholat dzuhur dan ashar di Panti Asuhan Al-Washliyah, sekitar 500 meter dari posko kami. Berangkat menggunakan satu becak kayuh dinaiki berempat, sempat becak ini terjungkal. Untungnya tidak ada yang terluka. Kami hanya tertawa saja membayangkan kekonyolan ini. Tidak tega juga sih, melihat para pengayuh becak di kota ini. Medannya sangat berliku-liku, naik-turun, dengan para pengemudi yang kurus-kurus dan selalu tampak kepayahan. Cukup nyaman beristirahat di ruang sholat panti asuhan ini, sambil berkenalan dengan anak-anak SD penghuni panti, sedikit belajar bahasa Nias dengan mereka. Mereka suka sekali difoto. Setelah Lita datang, kami mengadakan pengobatan di satu daerah saja, tidak jauh dari desa yang kami kunjungi dua hari lalu, sampai maghrib tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini gen-set sudah menyala di posko kami, sehingga lapangan madrasah yang kami tinggali cukup terang. Kami tidak perlu lagi menumpang di tempat lain untuk men-charge batere HP. Tapi instalasi air masih belum berfungsi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 4 April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini Pak Hendra harus kembali ke Jakarta, membawa laporan, dan foto-foto yang belum dicetak dalam rol-rol film kamera otomatis. Ia meminta Lita mengurus keberangkatannya, sedangkan Lita juga harus mengurus adiknya Yeni, yang harus kembali ke Medan untuk mengurusi ayah-ibunya. Dengan mengendarai motor, Lita dan Yeni berangkat ke rumah mereka untuk mengemas pakaian orangtuanya. Mereka kemudian menuju bandara. Atas bantuan Bayu, seorang polisi muda baik hati yang dikenal Lita saat di Polonia, Pak Hendra berangkat ke Medan menggunakan pesawat polisi. Yeni berangkat menggunakan pesawat AL atas bantuan Pak Firman, kenalan Lita yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, Lita kembali menemui sedikit masalah. Ia pulang mengendarai motor sendirian. Di tengah-tengah perjalanan, motornya berhenti karena kehabisan bensin. Untungnya ia berhasil mendapatkan tumpangan untuk minta diantar mendapatkan bensin lima liter. Lita harus mengangkat ember berisi bensin seorang diri. Kemudian ia kembali ke DPD PKS, dan bertemu dengan seorang wanita yang menceritakan desanya sebagian terendam air, dan sebagian lagi belum pernah mendapatkan bantuan. Sore harinya ia menuju posko ACT dan menekankan agar ACT bisa membantunya, dengan membawa peta Nias. Lita bersikeras agar kami semua bisa pergi ke Teluk Dalam yang jaraknya “hanya” 120 km saja. Padahal saat itu untuk mencapai Teluk Dalam di Kabupaten Nias Selatan, belum bisa ditempuh melalui perjalanan darat biasa, setidaknya menggunakan mobil. Akhwat yang pernah berkampanye puluhan kilometer jauhnya menggunakan motor saat Pemilu tahun lalu itu mengatakan kami semua bisa menggunakan beberapa motor untuk mencapai Teluk Dalam bersamanya. Tapi karena pertimbangan lokasi yang terlalu jauh, memakan waktu, dan medan yang berat, rencana itu diurungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu juga, setelah kepergian Pak Hendra dan Lita ke bandara, kami mengadakan pengobatan ke arah utara, sampai 12 km dari Gunung Sitoli, kalau sebelumnya kami mengarah ke selatan ke Desa Foa, 16 km dari Gn. Sitoli. Inilah medan tersulit yang aku rasakan setelah beberapa hari berada di sini. Menggunakan minibus Suzuki Carry lama dengan pengemudi lokal, kami melewati sekurangnya dua jembatan kayu dan dua jembatan beraspal dengan patahan jalan yang cukup besar. Salah satunya patah tepat di antara jalan mendaki beraspal yang menghubungkan dengan jembatan kayu. Sehingga ban mobil sulit mendapatkan pijakan. Untuk melintasi jembatan ini, kami dibantu beberapa penduduk setempat yang mengatur gundukan tanah, batu-batuan, dan pasir di dalam patahan, sehingga bisa dilewati mobil. Itupun harus didorong juga. Sungguh menegangkan. Belum lagi jalanan desa yang berkerikil dan berlubang-lubang, sejak sebelum gempa. Ditambah lagi satu bagian jalan yang terbelah cukup besar di tengah-tengah jalan. Hanya pengemudi handal saja yang bisa melewati tipe jalanan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menghabiskan hari ini dengan pengobatan di dua tempat sampai sore hari. Desa Mboe, yang kami kunjungi pertama kali, sudah mendapatkan bantuan medis asing beberapa hari sebelumnya. Kemudian kami lanjutkan ke Kec. Tuhemberua, dan Desa Afiat. Lagi-lagi kendala terbesar kami adalah penduduk yang sebagian besar tidak bisa berbahasa Indonesia. Keluhan mereka sama: jantung berdebar-debar, batuk-pilek, lemah, dan gatal-gatal. Pasien yang kami tangani total kira-kira mencapai 200-an. Ingin sekali kami bisa memberikan bantuan makanan ke daerah-daerah ini. Mereka lebih butuh makanan, dibandingkan obat-obatan. Namun apa daya, bantuan makanan kami belum tiba. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini mobil tanki air tidak datang. Persediaan air di Posko kami menipis. Malamnya kami berempat, aku, Ikun, Lita, dan Anjas mendiskusikan apa yang bisa kami lakukan esok hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, 5 April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam masih terdengar suara anak kecil terbatuk-batuk dari kemah kecil keluarga Pak Yorhamun.
