Wednesday, June 29, 2005

Menangis Saja Tak Bisa, Apalagi Tertawa

Begitulah kira-kira judul sebuah artikel berita di harian Pos Kota Selasa 28 Juni ini. Seorang wanita muda berusia 23 tahun menunjukkannya padaku, saat praktik sore di LKC kemarin. Isinya menceritakan satu kasus busung lapar yang ditemukan di Bekasi. Tidak hanya itu penyakit yang diderita bocah perempuan berusia dua tahun dua bulan dalam berita ini, anak yang berat badannya hanya 4,5 kilogram ini juga menderita hidrosefalus sejak lahir. Inilah kisah nyata yang dialami perempuan yang menyodorkan potongan koran itu padaku. Dan si bocah terbaring di tempat periksa di hadapanku.

"Waktu itu pintu rumah diketok-ketok. Ada wartawan Pos Kota yang datang. Saya hanya memakai daster saja. Saat mereka mau memotret, saya bilang mau ganti baju dulu. Mereka bilang tidak usah, Bu. Nanti yang masuk cuma gambar anaknya saja. Eh, ternyata foto saya juga masuk. Mereka bohong, " komentar si ibu yang memakai kerudung itu menunjukkan fotonya di koran. Aku hanya tersenyum geli melihat kepolosannya.
"Setelah itu ada banyak wartawan yang datang ke rumah. Kemarin sebelum saya ke sini, diwawancara dulu oleh TransTV, untuk acara 'Jeritan Hati'."
"Untuk yang akan diputar kapan, Bu?" tanyaku.
"Nggak tahu, tapi sepertinya cepat, tidak lama."
"Mereka kasih uang ke Ibu, nggak?" tanyaku lagi.
"Enggak."
"Tahu nggak, Bu," timpalku, "Mereka justru dapat duit dari Ibu lho. Ya, mereka kan jual berita yang memuat Ibu, dan dapat duit dari situ. Tapi mereka nggak kasih duit ke Ibu."

Sekilas kubaca berita yang dimuat di Pos Kota itu memang berkesan 'tidak cerdas'. Ya... khas Pos Kota dan koran-koran semacamnya lah. Dari paragraf pembukanya saja sudah merendahkan. Kurang lebih bunyinya 'malang benar nasib keluarga ini', dan seterusnya (aku tidak bisa mencari link berita ini di website-nya Pos Kota). Mengenai keadaan si balita yang 'tidak bisa menangis, apalagi tertawa' ini, bukan akibat busung laparnya, melainkan hidrosefalus-nya. Dan sebagian penderita hidrosefalus yang tidak disertai gizi buruk pun mengalami keadaan ini, akibat kerusakan di saraf otaknya. Makanya berita di koran ini yang intinya pada kasus gizi buruk jadi berkesan agak menyesatkan. Belum lagi nama si balita dan ayahnya yang salah ditulis.

"Dulu waktu dia dioperasi hidrosefalus di RSUD Bekasi, juga didatangi oleh RCTI. Tapi juga tidak diberikan bantuan," cerita si Ibu lagi.
Mungkin waktu itu memang hanya liputan saja, karena beberapa pasien kami di LKC yang menjalani operasi juga didanai oleh program-program macam Indosiar Peduli Kasih dan Jalinan Kasih RCTI.
"Yang mengoperasi dulu siapa, Bu?" tanyaku lebih lanjut. Si balita memang telah dua kali menjalani operasi untuk hidrosefalusnya, dan satu kali pembukaan selang di kepalanya. Berat badan lahirnya cukup baik, meskipun lahir prematur melalui operasi cesaria, karena janinnya kembar. Sang kembaran meninggal dalam kandungan. Dan sampai umur satu tahunan berat badannya masih normal, kemudian mengalami penurunan drastis. Nampaknya hidrosefalusnya lah salah satu pencetus gizi buruknya.
"Dokternya baik sekali, " komentar si Ibu akan dokter bedah saraf yang pernah mengoperasi anaknya, "waktu saya nangis karena bosan berada di rumah sakit terus-terusan. Terus dia nanya, Ibu kenapa menangis? Dia juga menanyakan Ibu butuh apa. Saya jadi curhat sama dia. Dokternya juga cerita, kalau dia mu'allaf, ikut istrinya yang hajjah."
"Ibu lulusan apa?"
"SMA. Suami saya lulusan SD. Dia cuma bisanya (jadi buruh) bangunan aja. Saya sendiri sudah kenyang di berbagai tempat. Di pabrik, jadi pelayan di Pizza Hut. Pernah juga ditawari kerja di RSUD Bekasi karena saya lama menunggu anak dirawat di sini. Bagian laundry-nya. Tapi saya tolak."
"Terus kenapa berhenti? Kan gajinya lumayan," tanyaku.
"Ya ngurus anak," jawabnya singkat.

"Dulu ketemu suami di mana, Bu?" sambungku mencari bahan pembicaraan, sambil menunggu si anak dinaikkan ke ruang rawat inap kami di lantai dua.
"Wah, dulu kami di kampung. Aneh deh. Nikahnya nggak pakai pacaran dulu."
"Lho, kok aneh?" timpalku, "teman-teman saya di LKC juga kebanyakan nikah tanpa pacaran," lanjutku ngalor-ngidul.
"Ih, dokter, jadi buat saya curhat aja."
Hehehe, tampaknya aku pandai membuat wanita mencurahkan isi hatinya

Inilah kasus gizi buruk kedua dari pinggiran Jakarta yang kami rawat. Yang pertama dari daerah Ciputat, sudah lebih dari dua pekan dirawat. Kasus dalam ceritaku ini berasal dari Bekasi. Menambah deretan kisah busung lapar di kawasan Jabotabek.

Banyak media massa yang memberitakan lambannya pemerintah menangani masalah ini. Makanya banyak lembaga swadaya masyarakat semacam Dompet Dhuafa yang berinisiatif menangani busung lapar. ACT dan LKC sebagai jejaring Dompet Dhuafa bekerja sama memberikan penanganan langsung terhadap penderita gizi buruk yang ditemui. Sebenarnya pasien yang kami tangani ini mendapat jaminan Gakin dari RSUD Bekasi, sehingga bisa berobat untuk penyakitnya. Anak ini pun bisa dioperasi dua kali di RS ini atas jaminan Gakin. Tapi kami tetap merasa perlu untuk begerak membantunya.

Sebuah tulisan di Kompas bertajuk 'Busung Lapar Bukan Kecelakaan'. Isinya menceritakan anggaran kesehatan pemerintah yang tidak mencukupi itu pun, masih ditambah dengan pelaksanaan program promotif dan preventif yang tidak seharusnya. Kejadian gizi buruk ini adalah dampak jangka panjang daripadanya. Dalam tulisan lain pun, audit biaya pada jaminan kesehatan masyarakat miskin juga menjadi masalah.

Gizi buruk bukanlah penyakit infeksi. Melainkan suatu keadaan yang sebenarnya sudah lama ada, namun tersembunyi dari liputan media massa. Akibat rendahnya pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat kita akan gizi yang harus diberikan pada anak-anaknya, meskipun secara ekonomi berkemampuan, akibat kemiskinan rakyat yang tidak mampu, tidak mau, dan tidak mau tahu untuk membeli makanan tinggi protein, dan akibat pemerintah yang tidak pernah menjadikan sektor kesehatan dan pendidikan sebagai prioritas. Lihat saja berapa besar anggaran kesehatan dan pendidikan dalam APBN. Aku masih ingat kasus gizi buruk yang merebak pasca krisis ekonomi tahun 1997. Media massa mem-blow up-nya. Kemudian pemberitaan kasus ini hilang. Padahal sampai tahun 2002 saat aku masih menjalani pendidikan kedokteran di UI, masih bisa kujumpai kasus gizi buruk di bangsal rawat Anak RSCM.

Behkan satu jam sebelum pasien ini tiba di LKC, ada bayi kecil lainnya berusia enam bulan dengan gizi buruk juga, yang datang dengan keadaan gawat darurat: kejang yang kemudian dicurigai sebagai ensefalitis setelah kami rujuk ke RS Fatmawati, dan harus masuk High Care Unit (HCU) yang biayanya Rp. 80 ribu semalam. Padahal sebelumnya ia pernah berobat ke RS, namun karena dalam sehari sudah keluar Rp. 300 ribu, bayi dari ayah yang bekerja sebagai pengamen jalanan ini minta pulang saja. Keadaan si anak semakin buruk, dan dibawalah ke LKC.

Jika melintas di jalanan Sudirman-Thamrin, dari kaca jendela Patas AC 76 sulit kutemukan mobil yang tidak mewah. Tentunya dalam sehari bisa puluhan ribu mobil yang melintas. Artinya puluhan ribu orang Jakarta berpenghasilan dan berpendidikan menengah ke atas. Namun di luar itu, berkali-kali lipat lagi hanya mampu makan sekali dua kali sehari, tidak mampu berobat ke RS, dan meregang nyawanya akibat mati sakit.

Arifianto,
Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC)
Jl. Ir. H. Juanda no.34,
Ciputat Megamal D-01
Ciputat 15412
(021) 7416262

No comments: