Friday, August 12, 2016

A Boy Who is Special

"Do you like football?"
Pria India warga negara Singapura itu bertanya pada bocah laki-laki di hadapannya. Anak itu memandangku.
"Kamu suka sepakbola?" Aku membantu menerjemahkannya.
"Iya." Jawabnya malu-malu.
"What club do you like?" Tanya pria itu dengan logat Hindi yang kental.
"eM-yU," jawab si bocah singkat, setelah kuterjemahkan lagi maksud pertanyaannya.
"Who's your favorite player?" Pria berambut tipis ini melanjutkan pertanyaannya.
Bocah ini menatapku lama. Seolah-olah ia minta jawaban dariku. Siapa pemain bola favoritmu di Manchester United?
"Semuanya..." Ia menjawab sebisanya.
"All of them." Aku menerjemahkan kembali ke pria India ini. Seorang dokter ahli perawatan paliatif di negerinya.
Pria ini tertawa terbahak-bahak mendengarkan jawaban anak kecil yang duduk di tempat tidurnya. Sebuah bed perawatan di ruang isolasi.
Umurnya 10 tahun. Beratnya hanya 15 kilogram. Kulitnya penuh dengan bekas cacar air yang mengering. Ia baru saja terdiagnosis HIV. Tidak hanya itu, pemeriksaan CT Scan kepalanya menunjukkan adanya gambaran abses (kumpulan nanah) dan sebaran bercak mencurigai infeksi jamur. Ia merasakan sakit kepala berminggu-minggu. Bola mata kanannya juga tidak bisa melirik ke kanan. Tidak enak rasanya. Sepanjang pembicaraanku dengannya, ia berkali-kali menggaruk kulitnya. Gatal sekali rupanya.

"Kamu mau apa sekarang?" tanyaku singkat.
Ia terdiam lagi beberapa saat. Tiba-tiba raut mukanya berubah. Kedua alisnya turun dan bibirnya terangkat. Butiran air mata mulai mengalir jatuh membasahi pipinya.
"Mau....pulang...." Ia terisak.
Tangan kanannya mengusap pipinya. Tangisannya makin keras. Kami yang mengelilinginya diam menatapnya.
"Kenapa?" suara seorang wanita memecah suasana. Ia seorang psikiater.
"Udah lama." Bocah ini menangisi lama perawatannya yang sudah mencapai 1 bulan. Siswa kelas 4 SD yang belum merasakan bangku sekolahnya di tahun ajaran baru. Sang psikiater mengusap punggungnya sambil menghiburnya. Layaknya seorang psikiater berpengalaman yang melakukan psikoterapi.

"Kata nenek, aku spesial." Bocah ini tersenyum. Ia mulai tenang.
"Iya, kamu memang spesial. Kamu spesial dengan keadaanmu saat ini." Psikiater di sebelahku ini ikut menimpali, sambil tersenyum juga.

"Dokter udah cerita apa tentang sakit kamu?" tanyaku membuka topik baru.
"Kata dokter..." ia menghela napasnya "aku harus minum obat seumur hidup." Sepertinya ia akan menangis kembali.

Seorang bocah polos yang mungkin tak pernah menyangka ia akan mendapatkan ujian berat untuk sisa hidupnya. Tertular virus HIV dari orangtuanya.

Tuesday, August 09, 2016

Superbug as Badbug: Dawn of Mankind


Sudah bisa nebak ya, judul tulisan ini terinspirasi dari "Batman v Superman: Dawn of Justice". Filem yang sepertinya menyedot penonton di akhir pekan ini. Siapa yang tidak kenal Superman dan Batman? Saya tidak akan membahas bedanya Superman klasik, The Death and Life of Superman, dan Man of Steel, atau Batman klasik dengan The Dark Knight. Tapi saya akan menceritakan Superbug. Apakah itu? Berkali-kali saya membahas bahayanya penggunaan antibiotik yang tidak sesuai tempatnya. Ya, kita sudah paham bahwa antibiotik hanya digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Padahal tidak semua penyakit disebabkan oleh bakteri. Infeksi virus justru mendominasi penyakit pada manusia, dan tentunya infeksi virus tidak memerlukan antibiotik.

Masalahnya adalah: banyak antibiotik diresepkan tidak pada tempatnya. Termasuk antibiotik yang diresepkan pada infeksi virus. Hal lainnya adalah penggunaan antibiotik spektrum luas pada infeksi bakteri yang sebenarnya tidak membutuhkan tipe antibiotik tersebut. Padahal bakteri adalah makhluk hidup yang punya prinsip bertahan. Jika ia diserang, maka secara alamiah bakteri berusaha bertahan. Fakta lainnya adalah mayoritas bakteri di tubuh manusia adalah penghuni alamiah yang tidak punya maksud jahat. Saya jelaskan di tulisan lama yang saya salinkan kembali di bawah.

########################

Selintas Kisah Bakteri dan Virus

Bakteri menghuni tubuh kita sejak beberapa saat kita terlahir ke dunia. Bayi yg lahir secara spontan (persalinan normal), melewati vagina sang ibu yang pastinya penuh dengan bakteri. Bayi yg dilahirkan dengan operasi sesar pun, ketika didekapkan ke dada ibunya atau dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD), segera "berkenalan" dengan bakteri-bakteri baik penghuni kulit ibu, dan terjadilah perpindahan ke tubuh bayi.

Bayi yg awalnya berada di dalam lingkungan steril di dalam rahim ibu, segera pindah ke dunia yg penuh dengan kuman tak terhingga.

Pastilah ini diciptakan Sang Pencipta dengan maksud.

Pada saat bayi berusia 7 hari, milyaran bakteri menjadi penghuni tetap hidung, mulut, kulit, dan ususnya. Apakah kemudian bayi menjadi sakit karenanya?

Kini diketahui bahwa tubub manusia adalah HUMAN MICROBIOME. Apa maksudnya? Ada kurang lebih 10 trilyun sel yg menyusun tubuh manusia, tetapi ada 100 trilyun bakteri yang menghuni tubuh kita! Tubuh manusia lebih merupakan kumpulan bakteri dibandingkan kumpulan sel. Lalu apakah kita menjadi sakit setiap waktu? Tentu saja tidak.

Lalu apakah penggunaan antibiotik berlebihan dan tidak pada tempatnya (digunakan utk infeksi virus) tidak berpotensi membunuh bakteri baik penghuni tubuh kita? Keseimbangan pun akan terganggu dan prinsip survival of the fittest akan membuat bakteri baik bertanya: mengapa kami dimusnahkan?
Lebih jauh lagi, SUPERBUG alias bakteri resisten antibiotik juga ikut tercipta. Masa depan umat manusia ikut terancam...

Sekarang..mari kita bicara tentang virus. Sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa virus bukanlah makhluk hidup. Virus "hanyalah" rangkaian materi genetik DNA/RNA yg dibungkus dengan protein dan polisakarida, yang HANYA bisa hidup di dalam makhluk hidup lainnya.

Jumlah virus di muka bumi amat sangat tak terhingga banyaknya. Virus ada di mana-mana. Tanpa disadari, setiap saat manusia menghirup dan menelan milyaran virus. Tapi apakah manusia menjadi sakit setiap waktu? Lagi-lagi tidak.

Virus menginfeksi tidak hanya manusia, tapi seluruh makhluk hidup di bumi. Bakteri pun diinfeksi oleh virus (virus yg menginfeksi bakteri dinamakan bakteriofag). Jumlah bakteriofag yg ada di lautan (saja), diperkirakan sebanyak 10 pangkat 30 (hitung sendiri ya..). Bila direntangkan rangkaian kepala sampai ekor bakteriofag ini, panjangnya (kalau tidak salah) sekitar 200 tahun cahaya. Ya, tak terbayangkan, jika kita masih ingat seberapa cepatnya kecepatan cahaya. Silakan buka www.virology.ws bila ingin mempelajari betapa luar biasanya virus. Profesor Vincent Racaniello dkk dari Columbia University menjelaskannya dengan mudah.

Kita sudah mengetahui bahwa mayoritas bakteri yang tinggal bersama kita tidak membahayakan, bahkan menguntungkan. Bakteri penghuni usus besar misalnya, membantu pencernaan kita setiap waktu dan berperan dalam pembentukan vitamin K.

Virus diketahui sebagai penyebab tersering penyakit infeksi pada manusia, termasuk anak. Jauh lebih sering dibandingkan dengan infeksi bakteri. Anak-anak adalah kelompok yg sangat sering sakit akibat infeksi virus. Sebagai contoh, dalam setahun seorang anak dapat mengalami 10-12 kali episode selesma (common cold). Apa artinya? Sebulan sekali! Apakah tiap bulan anak kena batuk pilek harus diberikan obat? Apakah tiap bulan kena batuk pilek anak harus dibawa ke dokter? Tentunya tidak. Sebutlah nama-nama seperti respiratory syncytial virus, influenza virus, parainfluenza virus, rinovirus, dan adenovirus sebagai penyebab tersering infeksi saluran napas pada anak. Total ada sekitar 200 strain virus yg bisa membuat common cold.

Inilah kabar buruk dan kabar baik tentang virus. Kabar buruknya adalah: biasanya hampir tidak ada obat yg dapat menyembuhkan infeksi virus lebih cepat. Kabar baiknya: sebagian besar infeksi virus biasanya sembuh sendiri tanpa obat-obatan.

Antibiotik tidak dapat membunuh virus, sehingga pastinya tidak membantu sama sekali membuat anak dengan infeksi virus sembuh lebih cepat.

###################

Di masa depan, munculnya Superbug ini diperkirakan dapat menyebabkan kematian yang melebihi akibat kanker. Maka, gunakan antibiotik sesuai tempatnya.

(Tulisan ini hanyalah pendahuluan. Belum membahas mekanisme terjadinya superbug, apa itu MRSA, dll. Semoga saya dimudahkan untuk membahasnya kelak)

Antibiotik boleh distop sebelum habis?

"Anak saya demam sudah 3 hari, disertai batuk-pilek. Lalu saya bawa berobat dan diberi antibiotik. Setelah 2 hari diminum, saya baca-baca lagi bahwa selesma (batuk-pilek) tidak butuh antibiotik. Boleh saya stop antibiotiknya?"

Ini prinsipnya:

- Antibiotik adalah untuk infeksi BAKTERI, bukan infeksi VIRUS. Maka seperti pernah saya sampaikan sebelumnya, selalu tanyakan ke dokter, apa diagnosisnya, dan apakah penyebabnya infeksi virus atau bakteri?

- Jika penyebabnya adalah infeksi bakteri, tentu antibiotik yang diberikan harus dihabiskan sesuai waktu yang dianjurkan. Mengapa? Dikhawatirkan jika AB dihentikan sebelum waktunya, maka bakteri-bakteri jahat penyebab penyakit sesungguhnya belum dihabisi semuanya,meskipun gejalanya sudah hilang (merasa sudah sembuh). Dikhawatirkan sebagian bakteri penyebab penyakit yang tersisa ini, akan memperkuat dirinya, bermutasi secara genetik dan menghasilkan keturunan-keturunan yang lebih kuat (kebal) dan tidak mempan dengan antibiotik sebelumnya. Jika di kemudian hari orang ini sakit dan membutuhkan antibiotik tersebut, maka penyakitnya sukar disembuhkan karena penyebabnya sulit diatasi.
Ini yang namanya resistensi antibiotik. Salah satu penyakit yang sering dijumpai dengan kasus ini adalah tuberkulosis (TB) paru yang kebal AB. Seharusnya obat anti TB diminum selama 6 bulan, tapi baru 2 bulan sudah merasa enakan, obat malah dihentikan dan berisiko menciptakan kuman kebal AB (multi drug resistant TB).

-Tapi jika ternyata penyebabnya adalah infeksi virus, maka AB dapat dihentikan.kapanpun. Tidak perlu khawatir terjadi resistensi, karena tidak ada bakteri jahat yang bisa dibuat resisten (kebal). Malah bisa membunuhi bakteri-bakteri baik di tubuh dan menyebabkan efek tidak diinginkan yang pernah dijelaskan di tulisan-tulisan sebelumnya.

Beberapa infeksi bakteri yang terjadi pada anak di kasus rawat jalan (bukan rawat inap): infeksi saluran kemih (ISK), pneumonia bakteri, strep throat, impetigo, disentri basiler dan amuba, dan demam tifoid. Selainnya kebanyakan adalah penyakit-penyakit akibat infeksi virus yang tidak butuh antibiotik.

The Story of Four

Satu

"Ibu kemana aja? Udah lama nggak kontrol. Waduh, beratnya kok makin turun Bu." Mulutku mencerocos menyambut seorang anak berusia 1 tahun yang masuk ke ruang praktik diantar ibunya. Bocah perempuan ini gagal tumbuh (failure to thrive). Nyaris masuk ke dalam kategori gizi buruk. Ia biasanya kontrol rutin memantau kenaikan berat badan anaknya. Tapi sudah hampir 2 bulan aku tak menjumpainya.
"Iya Dok, saya udah lama nggak kontrol," balas si Ibu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Anak pertama saya meninggal sebulan yang lalu. Kena DBD." Tangannya memegang gagang kacamatanya. Ia mengelap matanya yang basah.
Aku berhenti sejenak. Sepertinya aku mengambil sikap pembukaan yang salah. Ibu berjilbab lebar dan bergamis panjang ini baru saja kehilangan anak kebanggaannya yang sudah 19 tahun mendampingi hidupnya. Dan kini si bungsu yang bermasalah tumbuh-kembangnya harus kembali ditekuni. Ia berasal dari ekonomi kurang mampu tentunya.

Dua

Gadis berusia 10 tahun ini masuk ke ruang praktikku dengan dipapah ayahnya. Selang bening menjulur dari lubang hidung kirinya. Nasogastric tube (NGT) namanya. Selang ini berfungsi memasukkan makanan cair dan minuman langsung menuju lambung. Anak ini belum mampu menelan, maka NGT terpasang untuk memastikan asupan hariannya terpenuhi.
"Sebelumnya ia adalah gadis kecil yang normal. Sudah bersekolah di SD kelas 4, dan bisa belajar serta bermain layaknya anak-anak sebayanya. Beberapa pekan lalu badannya demam. Tak lama kemudian keluarlah bercak-bercak merah di seluruh tubuhnya. Ia kejang berulang. Kesadarannya tak pernah membaik sesudahnya. Sempat ia dirawat di ruang intensif (PICU). Sakitnya campak. Komplikasi ke otak." Ayahnya mengisahkan.

Kulihat gadis ini sadar penuh. Matanya bergerak mengeksplorasi ruangan. Tapi tatapannya kosong. Layaknya seorang bayi baru lahir. Kemampuannya dimulai lagi dari awal.

"Imunisasinya bagaimana? Tidak dapat imunisasi campak?" tanyaku spontan.
"Saya tidak tahu. Ibunya yang dulu mengurusi hal ini. Tapi ibunya sudah meninggal saat ia berusia balita." jawab Ayah. "Sakit gagal jantung." Ia melanjutkan.
Ayah ini ternyata seorang orangtua tunggal dengan 2 anak. Sehari-hari anak-anaknya dititipkan ke sang nenek jika ia bekerja.
"Bapak kerja apa?" tanyaku lagi.
"Loper koran," jawabnya.
Dan kini ia mempunyai pekerjaan baru: mengantar gadis kesayangannya kontrol rutin ke RS untuk mengganti NGT sekali dalam sepekan, dan melakukan fisioterapi di unit tumbuh-kembang.

Tiga

Gadis kecil berusia 5 tahun ini tersenyum padaku. Transfusi sel darah merah kantung keduanya sudah selesai diberikan semalam. Nilai hemoglobinnya 11. Kuraba perutnya. Teraba limpa yang membesar, mencapai pusar.
"Boleh pulang ya," kataku.
Senyumnya makin merekah. Bocah ini sakit talasemia mayor. Tiap satu sampai dua bulan sekali ia harus mendapatkan transfusi darah.
"Ayah dan Ibunya mana? Biasanya ditunggui mereka." Pandanganku mengarah ke sang nenek di sampingnya.
"Dokter nggak tahu ya?" tanya si Nenek terkejut.
"Kenapa Bu?" giliranku yang menatapnya heran.
"Ibunya kan sudah nggak ada. Hari ini pas 40 harinya." jawab Nenek.
Sesuatu terasa menyangkut di tenggorokanku. "Ibunya meninggal? Sakit apa?" Aku tak percaya. "Baru 2 bulan lalu saya ketemu Ibunya. Masih segar!"
Pikiranku menggambarkan sosok wanita muda berumur baru 30 tahun. Sosok ini tersenyum padaku. Senyum yang sama dengan gadis kecil di hadapanku. Kini ia tak mempunyai Ibu lagi. Dan ia tetap tersenyum padaku.

Empat

"Kemarin habis dirawat ya?" tanyaku. Kedua tanganku bergerak melakukan pemeriksaan pada seorang anak perempuan berumur 13 bulan di meja periksa. Kepalanya tampak membesar. Selapis perban menempel di kepalanya.
"Iya Dok, kemarin agak lama dirawatnya. Sekalian operasi pasang selang di kepala juga. Ada hidrosefalus ternyata." jawab si Ibu.
"Udah berapa kali ya dirawat di sini? Bolak balik masuk RS. Sakitnya banyak. Ini kan memang anak yang tidak diharapkan." Si Ibu terus berbicara.
"Maksud Ibu?" Aku tak paham.
"Iya, waktu hamil, ternyata Ibunya tidak ingin anak ini lahir. Dia minum jamu-jamuan supaya bayinya nggak lahir (hidup). Saya juga baru tahu pas udah beberapa bulan sama saya." jelas si Ibu.
Ternyata kedua orang di hadapanku adalah orangtua angkatnya. Mereka sudah mengadopsinya secara resmi. Kedua orang ini belum punya keturunan setelah sekian lama menikah. Dan anak yang mereka besarkan ternyata tidak sesehat yang dibayangkan. seorang anak dengan keterlambatan perkembangan dan beberapa masalah kesehatan.
"Ini tabungan Bapak-Ibu buat di akhirat kelak." aku menanggapinya.
"Aamiin." Sang Ayah menjawab.

It's Friday. And it's a good day.

Demam boleh mandi dong

Jadi...anak lagi demam boleh mandi ya, Ibu-ibu...

(Tadi niatnya cuma mau posting 1 kalimat singkat di atas itu saja, tapi bakal banyak yang baper kayanya, jadi harus saya jelaskan. Hehe)

Ini penjelasan dari beberapa sumber terpercaya:

How can I keep my child comfortable when she has a fever?

A 15-minute bath in lukewarm water may help bring your child’s fever down. Make sure the water doesn't get cold, and take her out if she starts to shiver. (sumber: http://www.m.webmd.com/children/guide/fever-care-young-children)

Should I give my baby a sponge bath or a drawn bath to lower his fever?

If fever-reducing medication isn't an option for your baby — because he doesn't take medicine very well, or you'd rather not give him any — a lukewarm bath or sponge bath won't hurt him, and it may help reduce his temperature. (Bathing a child with a fever was common practice before fever reducers were available.) Just make sure that the water is lukewarm to warm, not cool, because shivering can actually raise your baby's temperature rather than help bring it down. (sumber: http://www.babycenter.com/404_should-i-give-my-baby-a-sponge-bath-or-a-drawn-bath-to-lower_12357.bc)

Will a bath help bring down my baby's fever?

A: Although in the past many people gave feverish kids baths to lower their temperature, doctors now say this isn't the wisest thing to do. When your child is sick and may already have the chills, stripping him naked and getting him wet will just make him shiver. Instead, try giving a dose of acetaminophen like Tylenol (for babies under 6 months) or ibuprofen like Motrin (for babies 6 months or older) -- but never a combination of both -- and placing a cool washcloth on your child's head to bring his fever down. (sumber: http://www.parents.com/advice/babies/health/can-a-bath-reduce-a-fever/)

Pilih obat demam mana?

Obat penurun panas minum (oral) versus penurun panas lewat dubur (rektal/supositoria)

Benarkah antipiretik (obat penurun panas) parasetamol/asetaminofen rektal lebih cepat menurunkan suhu dibandingkan dengan oral?

Ibu Kartini* gelisah. Sudah 2 hari anaknya demam tinggi. Suhunya mencapai 40 derajat selsius. Jika tidur selalu mengigau. Masalahnya cuma satu: anak gadisnya yang berumur 2 tahun ini tidak mau minum obat! Tiap kali parasetamol disuapkan masuk ke dalam mulutnya, bocah kecil ini pasti meronta kuat! Kalaupun suapan parasetamol berhasil melalui rongga mulutnya, dalam hitungan beberapa detik obat antipiretik ini akan langsung menyembur keluar. Sengaja dilepehkan, atau dimuntahkan. Kekhawatiran Bu Kartini beralasan. Sudah 2 kali anaknya kejang demam. Wajar dong kalau ia harus memaksakan antipiretik masuk ke mulut sang putri. Hmmm, mengapa tidak menggunakan antipiretik rektal saja ya? Ia melirik parasetamol supositoria di lemari obat. Beberapa bulan lalu tetangganya pernah menyarankan pemakaian obat ini?

Pertanyaannya:
1. Benarkah parasetamol rektal lebih cepat menurunkan suhu dibandingkan dengan parasetamol oral?
2. Bolehkah menggunakan obat rektal pada anak di rumah?
3. Tepatkah pemikiran parasetamol rektal mampu mengurangi risiko kejang demam?

Ini faktanya. Saya simpulkan dari beberapa hasil bacaan jurnal penelitian meta-analisis (level tertinggi, mungkin analoginya sama dengan "sahih"), uji acak terkontrol atau randomized controlled trials (level di bawah meta-analisis, mungkin analoginya sama dengan "hasan"), dan kesimpulan di jurnal Pediatrics.

1. Semua kesimpulan yang ada menunjukkan: antipiretik oral dan rektal sama saja kemampuannya dalam menurunkan suhu, termasuk dalam kecepatan menurunkannya. Dengan kata lain: parasetamol rektal tidak lebih baik dibandingkan parasetamol oral dalam kesegeraan menurunkan suhu.

2. Antipiretik rektal boleh saja diberikan oleh orangtua. Tapi alasan penggunaan sesungguhnya adalah pada anak dengan penurunan kesadaran atau intra operasi (ini pastinya dirawat di RS), dan anak yang muntah berulang (penyakitnya memang disertai dengan gejala muntah).

Coba kita kembalikan pada beberapa prinsip demam:
- Demam tujuannya baik, yaitu membuat kuman cepat mati
- Antipiretik diberikan dengan tujuan BUKAN segera menurunkan demam, tetapi membuat anak lebih nyaman. Makanya antipiretik tidak disarankan pada anak demam yang masih aktif/tidak rewel
- Jangan bangunkan anak yang sedang tidur sekedar untuk mendapatkan antipiretik, hanya karena orangtua panik suhu anaknya demam (saat tidur)
- Memasukkan obat lewat dubur pastinya tidak nyaman untuk anak

Silakan simpulkan sendiri berdasarkan beberapa prinsip di atas :-)

3. Antipiretik sayangnya tidak dapat mencegah kejang demam. Ini MUNGKIN kabar BURUKnya. Tapi ingat: kejang demam hanya terjadi pada 4% anak demam (sebagian dengan kecenderungan genetik), dan alhamdulillah tidak merusak otak. Ini kabar BAIKnya :-)

Dan pastinya kejang demam sangat berbeda dengan infeksi otak (meningitis/ensefalitis) yang "merusak" otak, serta menyebabkan kematian. Pelajari lagi perbedaannya ya.

Semoga bermanfaat

*kesamaan nama hanyalah kesengajaan penulis yang ingin menggunakan nama ini sekarang :-)

Campak itu berbahaya!

Campak, bukanlah penyakit ringan!

Dalam sepekan terakhir, saya merawat sekitar 5 anak dengan sakit campak. Semuanya dirawat di ruang isolasi, dengan demam, kesulitan makan (nafsu makan menurun), dan diare atau sesak napas (pneumonia). Semuanya dirawat sampai diare atau sesak membaik, dan nafsu makan membaik juga. Untunglah tidak satupun mengalami komplikasi berat seperti pneumonia yang membutuhkan ventilator, diare berat yang menyebabkan kehilangan elektrolit banyak sampai kejang, dan penurunan kesadaran seperti ensefalitis. Tetapi tetap saja campak atau morbili (measles/rubella) bukanlah penyakit yang menyenangkan. Anak mengalami demam, batuk, pilek, dan matanya merah selama 3-5 hari, lalu muncullah ruam yang makin banyak, secara bertahap dari atas (wajah) sampai bawah. Anak masih bisa mengalami demam sampai 3 hari setelah ruam timbul. Mayoritas anak tampak lesu, tidak mau makan, dan berisiko tinggi kekurangan cairan (dehidrasi).

Campak disebabkan oleh virus. Makanya tidak ada pengobatan khusus yang mampu mempercepat penyembuhan sakit ini. Daya tahan tubuhlah yang memulihkan dirinya, seiring waktu. Untuk itu, upaya terbaik adalah mencegahnya, dengan vaksin campak, yang sudah diberikan sejak puluhan tahun silam.
Ketika saya tanya, sekitar 4 dari 5 anak ini tidak diimunisasi campak saat berusia 9 bulan. Alasannya kebetulan bukan karena orangtuanya tidak mau memberikan imunisasi (anti-vaksin), tetapi anaknya selalu ada kendala seperti demam atau sakit lainnya, sehingga imunisasi tertunda, dan akhirnya terlewat. Campak memang salah satu vaksin yang sangat rentan terlewat, karena diberikan pada usia 9 bulan, setelah sebelumnya imunisasi terakhir adalah DPT di usia 4 atau 6 bulan.  Di sisi lain, sakit ringan seperti batuk-pilek dan diare sebenarnya bukan halangan imunisasi, tetapi masih banyak orangtua yang belum paham hal ini.
Satu orang anak sudah diimunisasi, tetapi tetap sakit, karena ia sudah masuk usia pengulangan, tetapi belum dikerjakan. Ingat, vaksin campak diulang pada usia 2 tahun, dan 5-6 tahun.

Bukankah semua anak akan mengalami campak? Anak saya sudah diimunisasi campak, tetapI tetap sakit juga. Mengapa tetap harus diimunisasi?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sering sekali ditanyakan. Apa jawabannya? Campak adalah penyakit yang jarang dialami anak. Demam dengan ruam yang paling sering dialami adalah roseola, lalu diikuti rubella. Apa bedanya? Pernah saya bahas beberapa waktu lalu. Maka imunisasi campak dan MMR, sangatlah penting.

Beberapa waktu lalu, saya juga pernah posting bahwa campak adalah penyakit yang sangat ditakuti oleh orang-orang asing sejak puluhan tahun lalu. Ya, karena campak sudah memakan banyak korban nyawa. Ketika seseorang dinyatakan campak, maka ia harus diisolasi tidak berinteraksi dengan orang-orang lain sampai 4 hari sejak ruam muncul, agar tidak menular, dan virus diberi kesempatan terus berputar, sampai terjadi wabah.

Vaksin campak dan MMR terbukti berbahaya dan menyebabkan autisme?
Hehe, hoax ini sudah sering sekali dibahas. Kesimpulannya: ya tidak ada hubungan. Vaksin campak dan MMR sangat aman, efektif, dan tentunya tidak menyebabkan autisme :-)

A day in our life

"Papaa! Papa manaa??"
Anak kecil itu berteriak-teriak di lantai. Ia menangis meraung-raung. Mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Termasuk diriku, yang kebetulan memang berjalan menuju kamarnya.

"Kenapa?" tanyaku. "Loh, papanya mana?"

"Papanya barusan berangkat kerja, Dok. Neneknya sedang menuju kemari." Orangtua pasien di kamar sebelahnya menjawab pertanyaanku.
Di hadapanku adalah seorang gadis berusia 6 tahun dengan berat badan hanya 12 kg. Tulang berbalut kulit. Gizi buruk. Wajahnya yang tirus menampakkan sosok lebih tua dari usianya.

"Udah, jangan nangis. Yuk, naik ke atas," bimbingku menuju tempat tidurnya. Ia tampak enggan, tetapi pasrah.
Kuminta seorang koasisten menemaninya bermain. Gadis ini mengalami penyakit yang pastinya membuat kening berkerut orang yang mendengarnya. Ya, HIV positif. Awalnya ia seorang anak perempuan yang tumbuh dan berkembang secara wajar layaknya kawan-kawan sebayanya. Tapi setahun terakhir berat badannya alih-alih naik atau menetap, justru makin turun. Demam bolak-balik dialaminya. Lidahnya putih penuh dengan sariawan akibat infeksi jamur. Buang air besarnya kadang cair. Dan nafsu makannya jauh berkurang. Gambaran ronsen parunya penuh dengan perselubungan. Gizi buruk, pneumonia, curiga TB, dan tentunya... HIV positif.

Ibunya sudah meninggal dunia beberapa tahun sebelumnya. Kisah yang menjadi "petunjuk" khas buat kami yang mengarahkan pada diagnosis HIV. Tidak jelas sakitnya apa, dari keterangan ayahnya. Tapi pastinya HIV, karena inilah yang dialami si anak saat ini.

Kini gadis kecil tak tahu apa-apa ini harus berjuang melawan penyakitnya. Antiretroviral belum bisa segera dimulai. Semoga Allah memberikan kemenangan untuknya. Lalu hidupnya harus terus berjalan, jika ternyata ia bertahan.

---------------------------------------------------------------------

"Kontrol bayinya ya Bu?" tanyaku kepada seorang Ibu, sambil menatap bayi di atas meja periksa. "Ada keluhan?" Aku bertanya karena bayi ini lahir di RS luar. Pastinya ada sesuatu sampai dirujuk kemari.

"Iya, kata dokter saya sakit HIV. Trus bayinya disuruh kontrol." Ibu ini tampak polos. Sepertinya ia tidak terlalu paham apa HIV itu.

"Baru ketahuan pas mau lahiran ya?" aku menebaknya.
Si Ibu mengangguk.

"Suaminya mana, Bu?" tanyaku lagi.
"Sudah meninggal." jawabnya, lagi-lagi sesuai perkiraan.
"Ini anaknya, Bu?" tanyaku menatap seorang gadis remaja.
"Iya, ini anak pertama saya. Tapi Bapaknya beda."
Singkat cerita, ibu ini menikah 2 kali. Dari pernikahannya yang kedua, ia memperoleh 2 anak, termasuk bayi di hadapanku. Suami keduanya sudah meninggal. Tak perlu digali dalam apa penyebab kematiannya. Ia mantan pengguna narkoba. Pastinya HIV, dan ia menularkan ke istrinya, lalu si istri hamil dengan virus HIV memenuhi tubuhnya.

"Berapa umurmu?" tanyaku pada anak tertua Ibu ini.
"16 tahun", jawabnya.
"Suami Ibu sudah tidak ada, lalu Ibu dapat nafkah dari mana?" tanyaku lagi pada Ibu.
"Saya kerja, Dok," tiba-tiba anak gadisnya menjawab. "Saya kerja rumah tangga. Uangnya buat Ibu dan adik-adik saya. Adik bayi saya kan tidak boleh minum ASI. Jadi saya yang belikan susu untuk dia."

Gadis ini hanya menyelesaikan pendidikannya hingga SMP, lalu bekerja menjadi tulang punggung keluarganya. Ditambah lagi dengan kondisi Ibunya yang baru terdiagnosis HIV dan adiknya yang baru lahir. Adik lainnya bersekolah SD.

"Ibunya kerja juga, waktu belum melahirkan?"
"Saya kerja rumah tangga juga," jawab si Ibu.
"Sebulan dapat berapa?"
"600 ribu."
"Nggak nginap ya? Nyuci gosok aja?" tanyaku.
"Iya, kadang ngupas juga." jawabnya

Banyak kisah dari pasien-pasien dengan penyakit serupa. Kawan-kawan dan senior-senior saya di bidang ini memiliki jauh lebih banyak cerita. Yang bisa membuat kita senantiasa bersyukur. Dan lebih memaknai hidup ini.

Lagi-lagi campak

Lagi-lagi saya harus posting tentang penyakit campak, karena "badai" penyakit ini belum berakhir juga. Hampir separuh yang saya temui juga mengalami komplikasi pneumonia (radang paru-paru), mulai dari yang ringan sampai berat. Maka saya tidak bosannya menyampaikan kembali:

- Imunisasi campak tidak diberikan hanya sekali pada usia 9 bulan, tapi ada ulangannya pada usia 2 tahun. Jadi bagi para Ibu yang anak-anaknya belum mendapatkan imunisasi campak ulangan, maka segera kejar ketertinggalannya ini. Booster vaksin campak dapat dilakukan di usia berapapun.

- Yang sudah mendapatkan imunisasi MMR di usia 15 bulan, maka tidak perlu mendapatkan vaksin campak ulangan di usia 2 tahun (sesuai panduan imunisasi IDAI tahun 2014), tetapi ulangannya nanti di usia 5-6 tahun.

- Ulangan imunisasi campak ini penting, mengingat ada beberapa anak yang sudah mendapatkan imunisasi campak di usia 9 bulan, tetap sakit campak. Kemungkinan imunitas (kekebalan) yang dihasilkan pada usia 9 bulan sudah mulai menurun (waning), maka booster/ulangan dilakukan pada usia 2 tahun.

- Vaksin campak adalah vaksin yang efektif. Jadi kalau sudah diimunisasi di usia 9 bulan, risiko seorang anak mengalami sakit campak sangatlah kecil, sampai dilakukan ulangan lagi sesuai jadwal.

- Beberapa orangtua mengatakan: anak saya tetap sakit campak, meskipun sudah diimunisasi campak. Maka penjelasan saya: satu, banyak orangtua berpikir anaknya sakit campak, padahal yang dialaminya adalah roseola/rubella/infeksi virus selain campak. Jadi jangan sampai kena campak. Dua, vaksin campak efektif, tetapi tidak ada vaksin yang 100% efektif. Maka ada sebagian kecil anak yang tetap sakit, sedangkan sebagian besar yang sudah diimunisasi tidak sakit.

- Lalu ada lagi yang mengatakan: anak-anak teman saya tidak diimunisasi, tapi tidak sakit. Maka jawaban saya: alhamdulillah mereka tidak sakit. Dalam teori imunologi dan epidemiologi, mereka bisa jadi mendapatkan manfaat dari tingginya cakupan imunisasi di masyarakat, yaitu memperoleh herd immunity (imunitas lingkungan). Mereka memperoleh manfaat dari banyaknya anak di lingkungan mereka yang tidak sakit karena sudah diimunisasi. Tapi jangan ikut-ikutan tidak diimunisasi ya :-)

- Ada berita anak yang meninggal setelah diimunisasi. Benarkah?
Ternyata fakta tidak menunjukkan kematiannya akibat langsung vaksin (tidak/belum terbukti).

Ini contoh analisisnya

Saya salinkan berita dari detikcom. Tanggapan saya: kronologi kejadian yang ada makin menguatkan dugaan bahwa bukan vaksin penyebab kematiannya. Karena demam yang kadang disebabkan pasca pemberian vaksin DPT kombo seharusnya tidak berlangsung lama, tapi maksimal 1-2 hari saja. Lebih dari itu (dan anak dalam berita ini demamnya berhari-hari) kemungkinan ada penyakit infeksi lain, misalnya saja DBD yang menjadi syok, lalu menyebabkan kematian.
Saya turut berduka cita juga.

Rabu 18 May 2016, 21:18 WIB
Puskesmas Pasar Rebo Bantah Ada Malapraktik di Kematian Bayi 5 Bulan
Nugroho Tri Laksono - detikNews
Puskesmas Pasar Rebo Bantah Ada Malapraktik di Kematian Bayi 5 Bulan
Foto: Thinkstock
Jakarta - Suasana duka menyelimuti kediaman Razqa Alkhalifi Pamuji, bayi mungil yang meninggal dunia secara tidak wajar. Razqa tewas usai melakukan imunisasi DPT di Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta Timur. Tak henti-hentinya pula Ajeng Sri Septiani (29) sang ibu menangisi kepergian anaknya yang masih berumur 5 bulan.

Sebelum meninggal dunia, anak bungsu pasangan Agung Pamuji (27) dan Ajeng Sri Septiani (29) melakukan imunisasi DPT ketiga di Puskesmas Pasar Rebo, pada hari Rabu lalu (11/5). Usai diimunisasi, demam Razqa tak kunjung turun hingga lima hari. Orang tuanya pun kembali merujuk ke puskesmas tersebut meski sempat dilarikan ke klinik Sri Sukamto.

Ayah korban Agung Pamuji mengatakan ada dugaan malapraktik saat melakukan imunisasi tersebut karena setelah menjalani imunisasi korban mengalami demam dan panasnya mencapai 38 derajat. Awalnya kondisi tersebut dinilai wajar oleh dirinya sebab demam tersebut terjadi karena efek samping dari melakukan imunisasi.

"Karena biasanya deman itu hanya berlangsung dua hari namun ini hampir seminggu," ujar Agung ayah korban kepada detikcom di kediamannya, Jalan Mawar Raya, RT 12/10 Kelurahan Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (18/5/2016).

Sementara itu Kepala Puskesmas Pasar Rebo, Maryati menepis kematian Rizqa dikarenakan adanya malapraktik. Pasalnya dalam hal ini pihaknya telah melakukan proses imunisasi sesuai dengan prosedur. Dengan kondisi tersebut pihaknya menganjurkan untuk melakukan tes darah pada keesok harinya, Senin (16/5).

"Tetapi pasien tidak datang pada hari itu, pasien datang di hari Rabu dalam keadaan kritis. Saat datang pasien dalam kondisi sesak nafas, pucat dan tak sadarkan diri. Oleh karena itu pihaknya langsung merujuk pasien ke Rumah Sakit Harapan Bunda namun nyawanya sudah tak dapat diselamatkan," kata Maryati, di Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Razqa mengehembuskan nafas terkahirnya pada pukul 07.30 WIB Rabu pagi. Usai berunding dengan sejumlah anggota kepolisian yang datang kerumah kediaman korban, akhirnya keluarga memutuskan untuk langsung memberangkatkan balita Razqa ke tempat peristirahatan terakhir di TPU Kalisari, Jakarta Timur.

(imk/imk)

http://m.detik.com/news/berita/3213686/puskesmas-pasar-rebo-bantah-ada-malapraktik-di-kematian-bayi-5-bulan

Beda infeksi virus dengan bakteri

Bagaimana membedakan infeksi virus dengan infeksi bakteri?

Posting saya pekan lalu tentang antibiotik bukanlah obat demam lagi-lagi mengundang pertanyaan: bagaimana membedakan infeksi bakteri dengan virus? Mengingat antibiotik diberikan untuk infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Sebenarnya pembahasan hal ini sudah pernah saya tulis, tapi tak apa-apa, saya coba paparkan lagi dalam bentuk poin-poin.

- Cara paling ideal membedakan keduanya tentu dengan melihat langsung mikroorganisme penyebabnya dengan mikroskop, yaitu virus atau bakteri. Tapi ini perkara yang tidak mudah, tidak bisa dikerjakan di semua tempat, mahal, dan banyak kendala lainnya. Tapi pada sebagian kecil kasus, "menangkap" dan mengidentifikasi kuman harus dilakukan. Misalnya dengan melakukan pemeriksaan kultur (biakan) dari darah (atau urin, dan cairan tubuh lainnya), pemeriksaan langsung (dahak untuk mencari kuman TB), atau biopsi jaringan tubuh.

- Pada sebagian besar kasus, mengetahui apakah infeksinya virus atau bakteri ialah dengan mengetahui apa diagnosisnya? Seringkali dengan wawancara (anamnesis) dan pemeriksaan fisik saja, diagnosis sudah dapat diketahui. Jika belum, pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan radiologi dilakukan. Makanya penting sekali keluar dari ruang dokter, seseorang tahu apa diagnosisnya. Bagaimana caranya? Ya tanya ke dokternya. Diagnosis haruslah dalam bahasa medis, seperti beberapa yang saya tulis di gambar. Tidak boleh ada diagnosis "geje" alias ga jelas seperti "radang tenggorokan", "flek paru", "tampek", dan sejenisnya.
Mengetahui bahasa medis ini akan diperjelas lagi dengan membaca-bacanya di situs terpercaya seperti www.medscape.com, www.webmd.com, dan www.mayoclinic.com
Apabila ada ketidaksesuaian antara diagnosis dengan terapi, maka tanyakan ke dokter yang memeriksa. Jangan bertanya ke dokter online. Hehe :-D

- Masih ada beberapa penyakit yang belum dijelaskan di gambar ini. Tapi saya berusaha menyampaikan yang tersering saja. Supaya tidak terlalu bingung, kapan antibiotik perlu diberikan dan kapan tidak.

Semoga bermanfaat

Infeksi virus kok dikasih antibiotik?

"Anak saya dikasih antibiotik? Bukankah sakitnya karena virus? Kok dapat antibiotik?" tanya seorang Ibu, sambil menatap putrinya yang berusia 4 tahun. Ingus kental berwarna hijau kekuningan. Matanya merah. Sudah 4 hari suhunya di atas 38 derajat selsius.
"Iya, untuk mencegah infeksi bakteri," jawab seseorang di hadapannya.

Pernah mendapatkan situasi serupa? Ketika antibiotik diberikan dengan alasan "mencegah infeksi bakteri". Ketika ingus dan lendir sudah berubah warna, dari bening dan encer menjadi kental dan kehijauan. Seingat saya, dulu saya pernah punya pemahaman yang mirip. Apabila ingus sudah mengental dan berwarna, maka tandanya sudah terjadi infeksi bakteri. Ternyata saya salah. Selama ingus masih diproduksi, apakah kental sampai membuat hidung mampet, atau masih encer meskipun sudah berwarna, maka jika diagnosisnya adalah infeksi saluran napas atas yakni common cold atau selesma dan/atau influenza, maka tetaplah infeksi virus yang tidak membutuhkan antibiotik. Tidak butuh antibiotik sama sekali!
Penjelasan di gambar yang ada menyimpulkan keterlibatan sel-sel darah putih sebagai penyebab ingus mengental dan berwarna. Dan ini bukti bahwa sistem imun alias daya tahan tubuh kita bekerja dengan baik! Maka bersyukurlah.
Lagipula, keberadaan bakteri baik penghuni saluran napas adalah hal yang wajar. Dan mereka tidak membuat sakit. Penyebab sakitnya adalah virus. Dan infeksi virus jelas tidak butuh antibiotik.

Lalu kapan antibiotik diberikan pada infeksi saluran napas atas? Panduan (guideline) yang saya sertakan gambarnya di bawah menyebutkan 3 kondisi yang dipertimbangkan pemberian antibiotik, yaitu: otitis media akut.(infeksi telinga tengah), sinusitis (jarang sekali dipikirkan pada balita), dan radang tenggorokan akibat bakteri streptokokus (strep throat). Perbedaan ketiganya bisa dibaca di situs kesehatan seperti www.milissehat.web.id

Maka jika diagnosis anak Anda tidak masuk dalam ketiga hal ini, tanyakan kembali: perlukah antibiotik? Meskipun "sekedar" sebagai "pencegahan" saja.

Nah, ngomong-ngomong tentang antibiotik sebagai pencegahan atau profilaksis ini, bahasannya tersendiri. Apakah perlu pasca sunatan/sirkumsisi diberikan antibiotik? Luka jahitan diberikan antibiotik sesudahnya? Bahkan perlukah pemberian antibiotik pasca operasi sesar? Hmmm, mudah-mudahan diberikan kemudahan membahasnya kelak.

Monday, August 08, 2016

Infeksi virus kok dikasih antibiotik?

"Anak saya dikasih antibiotik? Bukankah sakitnya karena virus? Kok dapat antibiotik?" tanya seorang Ibu, sambil menatap putrinya yang berusia 4 tahun. Ingus kental berwarna hijau kekuningan. Matanya merah. Sudah 4 hari suhunya di atas 38 derajat selsius.
"Iya, untuk mencegah infeksi bakteri," jawab seseorang di hadapannya.

Pernah mendapatkan situasi serupa? Ketika antibiotik diberikan dengan alasan "mencegah infeksi bakteri". Ketika ingus dan lendir sudah berubah warna, dari bening dan encer menjadi kental dan kehijauan. Seingat saya, dulu saya pernah punya pemahaman yang mirip. Apabila ingus sudah mengental dan berwarna, maka tandanya sudah terjadi infeksi bakteri. Ternyata saya salah. Selama ingus masih diproduksi, apakah kental sampai membuat hidung mampet, atau masih encer meskipun sudah berwarna, maka jika diagnosisnya adalah infeksi saluran napas atas yakni common cold atau selesma dan/atau influenza, maka tetaplah infeksi virus yang tidak membutuhkan antibiotik. Tidak butuh antibiotik sama sekali!
Penjelasan di gambar yang ada menyimpulkan keterlibatan sel-sel darah putih sebagai penyebab ingus mengental dan berwarna. Dan ini bukti bahwa sistem imun alias daya tahan tubuh kita bekerja dengan baik! Maka bersyukurlah.
Lagipula, keberadaan bakteri baik penghuni saluran napas adalah hal yang wajar. Dan mereka tidak membuat sakit. Penyebab sakitnya adalah virus. Dan infeksi virus jelas tidak butuh antibiotik.

Lalu kapan antibiotik diberikan pada infeksi saluran napas atas? Panduan (guideline) yang saya sertakan gambarnya di bawah menyebutkan 3 kondisi yang dipertimbangkan pemberian antibiotik, yaitu: otitis media akut.(infeksi telinga tengah), sinusitis (jarang sekali dipikirkan pada balita), dan radang tenggorokan akibat bakteri streptokokus (strep throat). Perbedaan ketiganya bisa dibaca di situs kesehatan seperti www.milissehat.web.id

Maka jika diagnosis anak Anda tidak masuk dalam ketiga hal ini, tanyakan kembali: perlukah antibiotik? Meskipun "sekedar" sebagai "pencegahan" saja.

Nah, ngomong-ngomong tentang antibiotik sebagai pencegahan atau profilaksis ini, bahasannya tersendiri. Apakah perlu pasca sunatan/sirkumsisi diberikan antibiotik? Luka jahitan diberikan antibiotik sesudahnya? Bahkan perlukah pemberian antibiotik pasca operasi sesar? Hmmm, mudah-mudahan diberikan kemudahan membahasnya kelak.

Analisis terhadap vaksin palsu

Terkait pemberitaan vaksin palsu yang terus berkembang, dan menjadi bahan diskusi di masyarakat, ada beberapa hal PENTING yang harus saya sampaikan:

1. Pemberitaan yang ada dari semua media, baik televisi, surat kabar, media online, dan bahan berbagi di media sosial, kecenderungannya secara keseluruhan--menurut saya--membuat masyarakat jadi lebih resah, dibandingkan dengan menenangkan masyarakat. Wajar. Sangat wajar bahkan. Kasus ini harus diusut tuntas dan seluruh pelakunya dihukum berat, karena sudah membahayakan banyak nyawa. Agar tidak terulang lagi!

Yang saya sayangkan adalah: pihak berwenang,khususnya kepolisian, belum mengumumkan hasil final dari investigasi mereka, tapi media-media terus mengulang-ulangnya, dan menimbulkan berbagai asumsi dan prasangka di masyarakat.
Adakah korban dari vaksin palsu? Berapa banyak? Mana saja RS dan klinik yang menjadi pelanggan tetap produk berbahaya ini? Berapa perkiraan jumlah dosis vaksin yang sudah beredar? Ke seluruh Indonesia atau hanya beberapa tempat saja?

Apa jawabannya? Belum ada! Belum ada laporan resminya. Lalu bagaimana reaksi masyarakat? Jangan-jangan selama ini anak saya yang dapat vaksin palsu? Perlu diulang tidak imunisasinya? Jangan-jangan anak saya kemarin dirawat di RS karena vaksin palsu? Bahkan sampai: saya tidak mau mengimunisasi anak saya lagi!

Sejak berkecimpung di dunia edukasi kesehatan masyarakat satu dekade terakhir, dan menulis buku bertema vaksin, saya berinteraksi dengan banyak media. Media punya pengaruh dalam membawakan opini terkait isu-isu kesehatan, sedangkan kesehatan menyangkut urusan nyawa. Hidup dan matinya seseorang! Apabila opini yang dibawakannya salah, fatal akibatnya! Dan ini berlaku untuk urusan vaksin. Vaksin berbeda dengan obat pada umumnya. Vaksin diberikan pada orang sehat, bukan untuk orang sakit. Kenapa? Karena vaksin dimasukkan ke dalam tubuh justru untuk mencegah seseorang agar tidak sakit. Agar anak-anak tidak terkena penyakit fatal yang bisa berujung pada kematian, seperti campak, tetanus, difteri, pertusis, dll. Vaksin pun telah terbukti memusnahkan penyakit cacar (bukan cacar air ya) dari muka bumi di tahun 1977, dan disusul oleh polio saat ini.
Maka....berkurangnya jumlah orang yang mendapatkan vaksin, berdampak memunculkan kembali wabah penyakit berbahaya, dan bisa meningkatkan angka kematian!

Ini yang coba digambarkan dalam ilustrasi yang saya ambil dari jurnal Sari Pediatri tahun 2000, dari sebuah tulisan Prof. Dr. dr. Sri Rezeki H, Sp.AK. Sebenarnya yang diceritakan dalam gambar tersebut adalah dampak dari KIPI (kejadian ikutan pasca imunisasi) yang umumnya ringan, tapi sering membuat orangtua khawatir. Demam, nyeri di bekas suntikan, dan bengkak sesaat jika teknik menyuntik kurang tepat. Tapi analoginya yang saya ambil, yaitu opini yang meresahkan masyarakat tentang vaksin, sama saja bisa mengurangi jumlah orangtua yang mau anaknya diimunisasi, dan berisiko meningkatkan penyakit. Penyakit akan sulit dimusnahkan!

Lha, tapi kalau vaksinnya palsu, gimana? Malah justru membahayakan anak yang diimunisasi, kan? Benar. Tapi kembali lagi pada banyaknya asumsi dan pertanyaan yang belum terjawab, dari penanganan kasus sejauh ini. Apakah mayoritas vaksin yang beredar palsu? Saya berani menjawabnya: insya Allah tidak. Mayoritas vaksin yang masuk ke tubuh anak-anak Anda, saya yakini asli. Saya sudah menjelaskan di status beberapa hari lalu, bahwa vaksin di Puskesmas dan Posyandu masuk melalui jalur resmi dari pemerintah. Lalu pemasok vaksin di sebagian besar tempat di negeri ini, seharusnya menggunakan distributor resmi. Baik vaksin impor, maupun produk PT Bio Farma.

Kejadian vaksin palsu ini tidak terelakkan mengandung banyak hikmah. Yaitu agar diusut tuntas semua pelakunya, dan tidak boleh terulang lagi di masa depan. Dan masyarakat akan lebih kritis terhadap dokter dan petugas kesehatan lain yang memberikan vaksin pada anak-anaknya. Silakan, itu hak Anda selaku konsumen kesehatan. Orangtua berhak tahu produk vaksin yang didapatkan, nomor batch/lot-nya, tanggal kadaluwarsa, dan VVM-nya.

Sekian untuk saat ini. Insya Allah akan saya lanjutkan dengan:
2. Bagaimana media melakukan framing berita yang menghubungkan kejadian anak meninggal (diduga karena vaksin, padahal sebenarnya bukan) dengan vaksin palsu saat ini
3. Bagaimana kelompok "antivaksin" berespon terhadap kejadian ini, dan bagaimana menghadapi mereka
4. Bagaimana mengenali kemasan vaksin dan apa yang harus Anda tanyakan kepada petugas kesehatan

Semoga Allah mudahkan.

Arifianto
Dokter spesialis anak, edukator kesehatan di Yayasan Orangtua Peduli (YOP), penulis buku Pro Kontra Imunisasi, dan dokter praktik di Jakarta
---------------------------------------------------------------------

Kausalitas dan Koinsidensi: Bagaimana Framing Media terhadap Pemberitaan Vaksin Palsu

Baik, saya lanjutkan tulisan saya tadi pagi. Kemarin, seusai tayangan talkshow live di Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne, saya mendapatkan beberapa informasi adanya media yang menghubungkan antara kejadian seorang anak meninggal setelah sebelumnya diimunisasi DPT di sebuah Puskesmas di Jakarta, dengan kasus vaksin palsu ini. Opini yang saya tangkap setidaknya ada dua: (1) anak tersebut meninggal karena vaksinnya palsu, atau (2) investigasi terhadap vaksin palsu muncul setelah kasus anak meninggal pasca imunisasi.

Ini tanggapan saya:

- Kasus yang terjadi hampir 2 bulan lalu, dan hanya diangkat oleh sebagian kecil media saja, setelah ditelusuri, ternyata tidak terjadi tepat beberapa saat setelah imunisasi. Jadi anak itu sebelumnya diimunisasi DPT, lalu demam, tapi berkepanjangan mencapai sekitar 7 hari. Orangtuanya membawa anaknya ke dokter di Puskesmas, lalu dokter membolehkannya pulang, tetapi minta segera kontrol jika masih demam. Sayangnya anak tersebut tidak kontrol, dan dikabarkan meninggal beberapa hari sesudahnya. Ada media yang memuat keterangan dari pihak orangtua saja (only covering one side), dan orangtua sepertinya yakin anaknya meninggal karena vaksin. Ini asumsi yang diperoleh masyarakat yang membaca berita tersebut. Tapi media yang melakukan "covering both sides" dan mewawancara pihak Puskesmas juga (saya juga mendapatkan broadcast dari kawan dokter, yang didapatkannya langsung dari pihak Puskesmas), menceritakan kronologi lengkap.seperti di atas. Dari urutan kejadiannya, saya jadi makin tidak yakin bahwa vaksin penyebab kematian anak tersebut. Mengapa? Karena KIPI vaksin DPT kombo tidak selama itu. Demam pasca imunisasi DPT tidak lama, paling lama 1-2 hari. Pada kasus anak ini, mencapai berhari-hari (sekitar 7 hari). Maka saya meyakini adanya infeksi penyebab meninggalnya anak ini. Misalnya saja Dengue Shock Syndrome (DBD yang menjadi syok), yang ditandai dengan demam selama itu. Memang pembuktian pastinya adalah dengan otopsi, yang tidak dilakukan. Dan disayangkan orangtua tidak membawa anaknya kontrol ke dokter, padahal sudah diminta, menurut keterangan yang ada.

Loh, anak sakit kok diimunisasi? Anak yang sedang demam, apalagi demamnya tinggi, tentu tidak diimunisasi. Ditunda dulu biasanya. Kemungkinan pada saat imunisasi, si anak belum demam. Jadi dokter bisa saja menilai kondisi anak sedang sehat, maka diimunisasi. Tapi di luar dugaan, ada KOINSIDENSI, alias kebetulan, atau ada hal lain yang terjadi pada saat bersamaan. Yaitu virus Dengue misalnya, sedang berada di dalam tubuh anak, dan dalam perjalanannya menyebabkan demam dan berujung pada kematian. Nah, hal-hal yang sifatnya koinsidensi seperti ini, kadang dianggap sebagai KAUSALITAS, yaitu ada hubungan sebab-akibat. Padahal faktanya tidak.
Kesimpulannya, tidak ada kausalitas antara vaksin dengan kematian, yang ada adalah kausalitas antara virus lain dengan kematian. Dan kausalitas memang harus dibuktikan. Harus diinvestigasi. Biasanya melewati prosedur otopsi, yang seringkali dihindari oleh masyarakat Indonesia.

Sayangnya, ketika kausalitas tidak terbukti, dan yang lebih mungkin adalah koinsidensi, media justru malah "menghakimi". Masyarakat pun menjadi panik. Sebagiannya malah menyebarkannya di media sosial. Di saat kasus vaksin palsu sedang berkembang, kasus lama ini menyeruak kembali, dan malah dicoba dihubung-hubungkan. Akhirnya bisa kembali pada kekhawatiran saya di tulisan pertama pagi ini: banyak orang jadi enggan mengimunisasi anak-anaknya, lalu terjadi wabah, dan--naudzubillah--angka kematian meningkat.

Mari lebih bijak menyikapi berita. Media pun jangan makin buat resah masyarakat.

Insya Allah bersambung dengan "menyikapi para antivaksin" dan "agar lebih tenang dan yakin diimunisasi".

Arifianto

Kelompok Antivaksin dan Vaksin Palsu


Beberapa hari lalu, seorang kawan menuliskan di dalam statusnya, bahwa kelompok antivaksin ikut "bertepuk tangan" dengan kasus vaksin palsu yang menjadi pemberitaan utama media saat ini. Kurang-lebih itu opini yang saya tangkap. Ketika saya mengaminkan pendapat ini dan ikut membagikannya, beberapa reaksi dari kawan-kawan saya yang "antivaksin" bermunculan. Mereka menyatakan tidak menyukai adanya kasus vaksin palsu ini, dan berharap kasus ini juga dituntaskan. Mereka tidak menginginkan adanya anak-anak yang menjadi korban dari vaksin palsu. Saya lalu menyadari bisa jadi melakukan kesalahan, yaitu: menggeneralisasi kelompok antivaksin. Tidak semuanya lantas merasa "tuh kan, mending nggak usah diimunisasi". Mereka juga berempati terhadap kegelisahan orangtua yang anak-anaknya rutin diimunisasi. Tetapi saya tidak memungkiri, ada juga kawan-kawan antivaksin yang terus mengumbar berita menyeramkan tentang vaksin palsu ini. Sayangnya berdasarkan asumsi. Yang jika dikaitkan dengan fakta, belum tentu benar. Makanya saya maklum teman-teman "provaksin" merasa geram dengan kelompok antivaksin, dan generalisasi pun tak terhindarkan.

Saya membagi kelompok antivaksin menjadi dua: yang memilih tidak mengimunisasi anak-anaknya, tetapi mereka tidak memengaruhi kawan-kawan lain agar mengikuti pilihan mereka; dan yang memilih tidak mau memberikan vaksin pada anak-anaknya, serta secara aktif terus menyebarkan pemahaman bahwa vaksin itu berbahaya, tidak aman, haram,syubhat, dan hal-hal negatif lainnya. Alhamdulillah saya tetap berusaha menjaga pertemanan dengan mereka, termasuk pada kelompok kedua, meskipun dalam diskusi-diskusi (saya kadang dikatakan berdebat, bukan berdiskusi) di media sosial, saya menangkap kegeraman mereka pada komentar-komentar saya. Saking panasnya diskusi, sampai ada yang melontarkan "tuduhan" bahwa kelompok provaksin (saya tentu dianggap mewakilinya) menganggap masalah perbedaan pendapat dalam hal vaksin ini adalah persoalan ushul, alias pokok (dalam bidang agama). Saya geli membacanya. Kok bisa berpikir seperti itu? Perbedaan pandangan ini adalah hal yang sifatnya "cabang" atau furu'. Maka sedih sekali saya, jika sesama umat Islam "berkelahi" di media sosial karena urusan berbeda pendapat tentang vaksin.

Woles aja lagi.... Saya tetap berusaha memberikan argumentasi ilmiah pentingnya vaksin, keamanan, dan kehalalannya. Berdiskusi seru di dunia maya boleh saja. Tapi saat bertemu di dunia nyata, ukhuwwah tetap terjaga. Saya pribadi tak pernah membedakan pasien-pasien saya, lalu lantas menolak mereka yang tidak mau diimunisasi. Saya tetap harus berlaku profesional dan adil sebagai dokter, dan sebagai muslim. Tapi satu hal memang yang saya selalu berusaha keras menyampaikannya: saya tidak tinggal diam melihat para antivaksin memengaruhi orang-orang lain agar mengikuti sikap mereka. Saya tidak menginginkan angka kematian bertambah. Sudah cukup buat saya sehari hari melihat anak terbaring lemah karena campak, dan mengalami cacat permanen karena meningitis tuberkulosis. Selama kelompok antivaksin berusaha memengaruhi orang orang lain agar tidak mau diimunisasi, maka insya Allah saya akan terus mengampanyekan pentingnya imunisasi, demi kemaslahatan umat manusia.

Dan di saat kasus vaksin palsu ini merebak, jika ada kelompok antivaksin yang memanfaatkannya untuk menakut-nakuti masyarakat, maka kelompok provaksin akan terus menjelaskan "keep calm, and get vaccinated!"

Luka perlu antibiotik?

Lebaran adalah momen berkumpulnya anak-anak kecil, dengan segala kegembiraannya, tingkah polahnya, suka citanya bertemu dengan saudara-saudaranya yang lama tak dijumpai, lalu....brukk! Risiko kecelakaan kecil kadang tak terhindarkan. Jatuh, luka, dan menangis kencang! Wuaaa, darah mengalir deras, dengan luka gores, bahkan ada yang tersayat dan dibawa ke dokter untuk mendapatkan perawatan luka. Kadang "dioleh-olehi" dengan beberapa jahitan. Pertanyaannya: perlu dikasih antibiotik tidak ya?

Makin tingginya penggunaan antibiotik yang tidak pada tempatnya dan berujung pada terbentuknya bakteri-bakteri kebal (baca: resisten antibiotik), membuat penggunaan antibiotik menjadi sangat harus selektif dan berhati-hati. Salah satu penggunaan antibiotik yang masih dianggap berlebihan dan tidak pada tempatnya adalah pada luka sederhana (simple wound). Misalnya saja luka tergores yang cukup dibersihkan dengan air bersih, ditambahkan dengan antibiotik minum, yang "niatnya" untuk mencegah infeksi bakteri (profilaksis). Atau luka sayat yang dijahit, ternyata tidak harus mendapatkan antibiotik pencegahan, kecuali sudah jelas terjadi tanda-tanda infeksi (bengkak, nyeri, bernanah, dan demam). Atau ada faktor risiko yang dijelaskan dalam gambar di bawah (benda asing masuk ke dalam luka, luka yang kotor/terkena tanah yang sukar dibersihkan, gigitan manusia/hewan, luka tusuk di kaki, infeksi gigi, dan patah tulang/luka terbuka sampai jaringan otot).

Maka pada kebanyakan kasus luka sederhana, bahkan sampai dijahit sekalipun (sebatas kulit), antibiotik tidak diperlukan.

Selamat menikmati akhir liburan bersama anak-anak

Dokter mengobati orang, bukan hasil lab


- Dokter tidak mengobati hasil laboratorium/pemeriksaan penunjang lainnya. Tapi yang diobati adalah pasiennya (orangnya). Jika ada ketidaksesuaian antara hasil pemeriksaan penunjang dengan orangnya (klinis), maka dokter akan lebih mempertimbangkan pemeriksaan klinisnya

- Kadang pasien/konsumen kesehatan terburu-buru ingin memeriksakan lab/ronsen/penunjang lainnya, meskipun sebenarnya dokter belum meminta. Tak jarang pasien datang sudah membawa hasil lab langsung ke dokternya, dan "meminta" dokter mengobati/memberikan penanganan sesuai hasil lab tersebut. Padahal bisa saja kembali ke poin nomor satu di atas ya

- Nilai lekosit (sel darah putih) bisa naik akibat infeksi apapun (virus, bakteri) maupun non infeksi (keganasan/kanker, autoimun, kehamilan). Maka tidak bijak menentukan perlu tidaknya antibiotik semata dari hasil laboratorium.

Maka, semua kembali kepada: apa diagnosisnya? Jangan ragu tanyakan pada dokter: apa diagnosisnya (dalam bahasa medis, penjelasan dalam bahasa yang dimengerti)?

Tanya Jawab Diare pada Anak

Tanya: apakah antibiotik obat untuk diare?
Jawab: tergantung diagnosisnya. Mayoritas penyebab diare adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya, dan tentu sama sekali tidak butuh antibiotik. Bahkan sebagian diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri pun tidak butuh antibiotik.

Tanya: lalu apa obat diare?
Jawab: prinsipnya diare dan muntah adalah upaya tubuh untuk membuang apa yang harus dibuang, baik bakteri maupun virus. Maka biarkan tubuh membuangnya, yang penting selama proses pembuangan ini dehidrasi (kekurangan cairan) bisa dicegah.
Caranya gimana? Ya minum, minum, dan minum. Oralit atau cairan elektrolit lainnya lebih baik.

Tanya: tapi anak saya selalu muntah setiap dikasih minum
Jawab: berikan minum sedikit tapi sering. Dengan sendok. Supaya kalau mual, bisa dihentikan sementara.

Tanya: kalau masih muntah terus dan diare berlanjut?
Jawab: kembali ke prinsip apakah sudah terjadi dehidrasi? Kalau dehidrasi tak dapat dicegah dan anak makin lemas, tidak buang air kecil lebih dari 6-8 jam, dan cenderung tidur terus menerus, segera bawa ke dokter.

Tanya: bagaimana membedakan infeksi virus dengan bakteri pada diare?
Jawab: paling ideal adalah dengan pemeriksaan tinja di laboratorium. Tetapi secara umum dapat dibedakan dengan ada tidaknya darah di tinja. Selama tidak ada darah, dan anak tidak dehidrasi, maka tidak perlu buru buru membawa ke dokter, apalagi memberikan antibiotik. Bisa saja diare tanpa darah disebabkan oleh infeksi bakteri, dan sebaliknya diare berdarah disebabkan oleh virus. Jadi sebelum bisa membedakan apakah diarenya akibat virus atau bakteri, maka kembali ke prinsip:
- ada dehidrasi atau tidak?
- tahu cara pencegahan dan penanganan dehidrasi
- dianggap sebagai infeksi virus sebagai penyebab tersering

Minum antibiotik supaya cepat sembuh!

"Oke deh. Batuk-pilek alias selesma obatnya cuma SABAR. Tapi setelah 2 minggu anak saya batuk-pilek, terus dapat antibiotik, alhamdulillah langsung sembuh. Berarti kalau mau cepat sembuh bisa dengan minum obat dong?"

Pernah mengalami hal serupa? Dalam pengamatan saya, kondisi di atas namanya adalah koinsidens (coincidence) alias kebetulan. Lha kok bisa?

Ini alasannya:
- infeksi virus obatnya bukan antibiotik
- anak ini kebetulan pas minum antibiotik, pas saatnya sakitnya menyembuh. Jadi kebetulan terjadi di waktu bersamaan. Makanya dipikirkan adanya hubungan sebab-akibat. Padahal sepertinya tidak ada.
- penggunaan antibiotik terlalu sering dan tidak pada tempatnya meningkatkan risiko sakit. Lho kok bisa? Alasannya:
(1) antibiotik melawan bakteri. ketika ia masuk ke tubuh manusia dan tidak menemukan bakteri jahat untuk dilawan, maka yang diserangnya adalah bakteri baik di seluruh tubuh manusia, terutama di usus besar (koloni terbesar). Padahal bakteri baik ini menjaga tubuh kita tetap sehat. Walhasil terjadilah mencret (diare).
(2) bakteri baik tak berdosa yang diserang ini akan memperbaiki sistem pertahanannya, sehingga kelak di kemudian hari ketika ia diserang antibiotik, ia tidak mudah dikalahkan. Terciptalah bakteri super alias superbug, yang bisa jadi kebal terhadap berbagai macam antibiotik. Ketika bakteri ini berubah jadi jahat dan menyebabkan penyakit, maka antibiotik tidak mempan lagi. Risiko kematian meningkat!

Maka jangan lupa, tiap kali Anda berkunjung ke dokter, tanyakan 4 hal ini:
1. Apa diagnosis sakit saya/anak saya? (dalam bahasa medis, supaya bisa browsing di internet)
2. Jika penyebabnya infeksi, apakah virus atau bakteri? (atau jamur, amuba, dll)
3. Mengapa diberi antibiotik?
4. Apa saja tanda gawat darurat yang membuat saya/anak saya harus segera ke dokter/RS?

Selamat belajar! :-)

HFMD atau flu Singapur?

Berhubung HFMD lagi musim, dan banyak yang nanya, maka saya tulis sedikit saja:

- HFMD kepanjangannya adalah hand, foot, and mouth disease, alias penyakit tangan, kaki, dan mulut. Meskipun hanya tiga tempat yang disebutkan, kelainan kulit yang timbul bisa terlihat sampai ke selangkangan dan bagian tubuh lain.

- Banyak orang menyebutnya dengan flu Singapur. Aseli saya tidak tahu asal muasal sebutan ini. Kesannya jadi "serem". Bila ada yang mengatakan "wabah Flu Singapur", maka ada orangtua yang lalu berpikir untuk meliburkan anaknya dari sekolah agar tidak tertular, atau minta agar pihak sekolah menutup sekolahnya untuk sementara.
Hehe, sebenarnya faktanya tidak seseram ini, karena HFMD adalah penyakit ringan.

- Penyebab HFMD adalah infeksi virus, yaitu keluarga Enterovirus. Tersering adalah Coxsackie virus. Namanya infeksi.virus ya pastinya tidak butuh antibiotik. HFMD sembuh sendiri, tanpa perlu diberikan antivirus atau apapun itu namanya.

- Virus menyebar lewat bersin atau percikan ludah (bisa melalui penggunaan gelas/alat makan dan sikat gigi bersama), atau lewat tangan yang menyentuh objek yang terkontaminasi oleh tinja yang mengandung virus. Coxsackie virus ada di bintil/lenting yang ada di lapisan dalam mulut dan permukaan kulit lainnya, juga di dalam saluran cerna (makanya bisa menular lewat tinja).
Penularan termudah adalah di tempat-tempat yang "padat" penduduk anaknya, misalnya di daycare, TK, SD, dan tempat bermain (playground).

- Gejala awal bisa disertai demam (meskipun tidak harus), lalu muncul bintil/lenting yang makin banyak di sekitat mulut dan rongga mulut, telapak tangan, telapak kaki, siku, lutut (dan bagian dalamnya), bahkan sampai sekitar kemaluan dan lipat paha. Bintil dan lenting bisa menyebar sampai 7 hari, lalu perlahan menghilang.

- Bedakan dengan cacar air alias varisela ya. Cacar air menyebar hingga ke wajah dan kulit kepala, lalu punggung dan dada. HFMD tidak seluas ini penyebarannya.

- Bagaimana pencegahan terbaik? Rajin cuci tangan. Ya, ajarkan anak agar sering-sering mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas. Orangtua yang memegang anak yang sakit juga harus mencuci tangannya sebelum menyentuh anak lainnya.

- Umumnya usia maksimal 10 tahun yang bisa sakit. Orang dewasa tidak berisiko sakit.

- Tidak ada vaksin untuk HFMD

- Hampir tidak ada komplikasi, meskipun kepustakaan mencatat risiko meningitis atau ensefalitis yang sangat-sangat rendah.

- Sariawan akibat HFMD merajalela sehingga anak sukar makan dan minum? Pastikan anak banyak minum agar tidak dehidrasi. Boleh berikan es krim atau minuman dingin agar lebih nyaman. Demam dan nyeri-nyeri sendi sesaat bisa diredakan dengan parasetamol.

Jangan panik, banyak baca, sabar, dan semoga lekas sembuh!

HFMD atau flu Singapur?

Berhubung HFMD lagi musim, dan banyak yang nanya, maka saya tulis sedikit saja:

- HFMD kepanjangannya adalah hand, foot, and mouth disease, alias penyakit tangan, kaki, dan mulut. Meskipun hanya tiga tempat yang disebutkan, kelainan kulit yang timbul bisa terlihat sampai ke selangkangan dan bagian tubuh lain.

- Banyak orang menyebutnya dengan flu Singapur. Aseli saya tidak tahu asal muasal sebutan ini. Kesannya jadi "serem". Bila ada yang mengatakan "wabah Flu Singapur", maka ada orangtua yang lalu berpikir untuk meliburkan anaknya dari sekolah agar tidak tertular, atau minta agar pihak sekolah menutup sekolahnya untuk sementara.
Hehe, sebenarnya faktanya tidak seseram ini, karena HFMD adalah penyakit ringan.

- Penyebab HFMD adalah infeksi virus, yaitu keluarga Enterovirus. Tersering adalah Coxsackie virus. Namanya infeksi.virus ya pastinya tidak butuh antibiotik. HFMD sembuh sendiri, tanpa perlu diberikan antivirus atau apapun itu namanya.

- Virus menyebar lewat bersin atau percikan ludah (bisa melalui penggunaan gelas/alat makan dan sikat gigi bersama), atau lewat tangan yang menyentuh objek yang terkontaminasi oleh tinja yang mengandung virus. Coxsackie virus ada di bintil/lenting yang ada di lapisan dalam mulut dan permukaan kulit lainnya, juga di dalam saluran cerna (makanya bisa menular lewat tinja).
Penularan termudah adalah di tempat-tempat yang "padat" penduduk anaknya, misalnya di daycare, TK, SD, dan tempat bermain (playground).

- Gejala awal bisa disertai demam (meskipun tidak harus), lalu muncul bintil/lenting yang makin banyak di sekitat mulut dan rongga mulut, telapak tangan, telapak kaki, siku, lutut (dan bagian dalamnya), bahkan sampai sekitar kemaluan dan lipat paha. Bintil dan lenting bisa menyebar sampai 7 hari, lalu perlahan menghilang.

- Bedakan dengan cacar air alias varisela ya. Cacar air menyebar hingga ke wajah dan kulit kepala, lalu punggung dan dada. HFMD tidak seluas ini penyebarannya.

- Bagaimana pencegahan terbaik? Rajin cuci tangan. Ya, ajarkan anak agar sering-sering mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas. Orangtua yang memegang anak yang sakit juga harus mencuci tangannya sebelum menyentuh anak lainnya.

- Umumnya usia maksimal 10 tahun yang bisa sakit. Orang dewasa tidak berisiko sakit.

- Tidak ada vaksin untuk HFMD

- Hampir tidak ada komplikasi, meskipun kepustakaan mencatat risiko meningitis atau ensefalitis yang sangat-sangat rendah.

- Sariawan akibat HFMD merajalela sehingga anak sukar makan dan minum? Pastikan anak banyak minum agar tidak dehidrasi. Boleh berikan es krim atau minuman dingin agar lebih nyaman. Demam dan nyeri-nyeri sendi sesaat bisa diredakan dengan parasetamol.

Jangan panik, banyak baca, sabar, dan semoga lekas sembuh!

Bedak bagi Bayi

Bayi perlu diberi bedak tabur (talcum powder)? Jawabannya singkat: tidak. Pemberian bedak tabur berisiko menyebabkan terhirupnya partikel-partikel kecil bedak ke dalam saluran napas dan menyebabkan gangguan pernapasan, hingga kematian. Silakan lihat beberapa potongan gambar dan laporan kasus yang ada.

Bukankah bedak tabur dapat mengatasi gatal akibat biang keringat (heat rash)? Jawabannya: hindari terjadinya biang keringat dengan mengenakan pakaian tipis dan pendek pada anak, supaya tidak banyak berkeringat. Sering-sering juga mengganti baju anak.

Tapi boleh kan pakai minyak telon? Jawabannya: sudah banyak dibahas di komentar-komentar status sebelumnya, bagaimana pengalaman ibu-ibu dengan minyak telon. Ini adalah kebiasaan yang kebetulan ada di negara kita.
Tidak perlu khawatir bayi akan kembung jika tidak dibalurkan minyak telon. Bentuk perut bayi dan batita memang buncit, padahal bukan berarti "masuk angin".
Tapi bunyinya "dung-dung" jika diketuk? Ya iya lah. Usus kan isinya udara, jadi berbunyi jika diketuk.
Ya sudah, pakai minyak telon supaya hangat badannya. Hmmm, pakaikan saja pakaian tebal dan berlengan panjang jika khawatir kedinginan.

Sebagian anak bisa mengalami dermatitis kontak akibat paparan minyak dan kosmetik bayi apapun. Salah satunya minyak telon. Hindari penggunaan minyak telon jika justru menimbulkan masalah kulit anak seperti kering, kemerahan, dan gatal.

"Kok gigi anakku belum muncul?"

Sampai umur 1 tahun gigi bayi belum tumbuh! Apa yang harus dikhawatirkan?

- Umumnya gigi pertama anak sudah tumbuh selambatnya saat berusia 1 tahun (gigi pertama dapat tumbuh sejak usia 6 bulan). Tapi gigi pertama masih dikatakan wajar meskipun baru tumbuh selambat-lambatnya pada usia 18 bulan, seperti pada keterangan foto dari AAP di bawah.
Jadi pertumbuhan gigi yang harus dikhawatirkan adalah ketika sampai lebih dari usia 18 bulan, belum satu gigipun tumbuh.

- Banyak faktor yang menyebakan terlambatnya gigi pertama tumbuh (suatu kondisi yang jarang terjadi ya). Tapi kekurangan kalsium seperti yang dipikirkan banyak orang, tidak termasuk di dalamnya. Apabila terjadi kekurangan kalsium, maka tidak hanya pertumbuhan gigi yang terpengaruh. Beberapa kondisi yang dapat menunda pertumbuhan gigi pertama, seperti dijelaskan dalam gambar, seperti: hipotiroid, sindrom Down, Rickets, dan kelahiran prematur.

Silakan baca-baca lagi ya...

Sabar dan Gendong sebagai Obat

Selamat datang di musim batuk-pilek, alias selesma atau common cold. Ketiga anakku mengalaminya :-( Orang-orang dewasa di sekitarnya pun tertular. Demam, batuk, pilek, dan berhari-hari tidak sekolah. Musim ini tampaknya bermula selepas liburan akhir tahun kemarin. Apa yang harus dilakukan?

1. Berdoa kepada Allah agar diberikan kesabaran menghadapi anak-anak yang sakit (termasuk kita yang tertular), dan.memohon kesembuhan.

2. Memahami bahwa common cold adalah infeksi virus yang tentunya tidak membutuhkan antibiotik.

3. Mempelajari kapan harus ke dokter, yaitu ketika anak mengalami sesak napas (khawatir komplikasi pneumonia) dan dehidrasi. Maka obat terpenting adalah minum, minum, dan banyak minum agar tidak kekurangan cairan.

4. Paham bahwa demam, batuk, dan pilek adalah gejala, bukan penyakit. Maka tidak harus memberikan obat untuk semua gejala yang ada. Obat penurun panas hanya diberikan jika anak merasa tidak nyaman dan rewel. Obat batuk dan pilek tidak ada yang bermanfaat, bahkan berisiko efek samping. Inhalasi tidak diperlukan kecuali batuk atau sesak pada asma.

5. Menjadikan sabar dan gendong sebagai terapi yang tidak boleh dilupakan. Sabar menggendong anak semalaman, ketika ia rewel dan tak bisa tidur. Sepertinya tidak ada obat yang lebih manjur daripada sabar dan gendong.

(Kalau sabar dan sholat sudah pasti)

Pakai "tanganmeter" atau termometer?

Ibu-ibu ini (Bapak-bapak juga) memang harus selalu diingatkan, agar tidak pakai "tangan-meter" untuk menentukan anaknya sedang demam atau tidak. Karena berdasarkan pengamatan saya, penggunaan tangan-meter, alias meraba dahi/badan anak dan menyimpulkannya demam, tanpa termometer, sering menyebabkan "diagnosis" demam yang berlebihan, dan berujung pada pemberian obat penurun panas (antipiretik) yang sebenarnya tidak/belum perlu.

"Dok, anak saya sudah 3 hari demam. Nggak ada gejala lain. Makanya saya bawa ke dokter."
"Berapa suhunya?" tanya saya.
"Nggak diukur pakai termometer."
(*tepok jidat)

Lalu ada aja alasannya. Anaknya nggak bisa diam dan berontak kalau dimasukkan termometer ke ketiak lah. Termometernya pecah lah. Sampai memang nggak punya termometer. Hehe.

Atau sebaliknya. "Anak saya anget Dok. Suhunya 37 derajat. Jadi saya kasih parasetamol."
"37 derajat mah nggak demam, Bu. Di atas 38 baru demam," jawab saya lagi.

Padahal demam kita ketahui tujuannya baik: menciptakan suasana kondusif bagi tubuh agar virus dan bakteri tidak mudah berkembang biak. Dengan kata lain, demam bertujuan membuat tubuh kita lekas sembuh!

Don't treat low grade fever! Begitu nasihatnya. Antipiretik diberikan jika anak sudah menjadi rewel dan tidak nyaman karena demamnya.

Sunday, August 07, 2016

Apakah Rumah Sakit tempat yang aman buat anak?

Kadang saya menjumpai orangtua yang membawa anaknya berobat dan minta anaknya segera dirawat. Pendorong utamanya, menurut penilaian saya, adalah kepanikan orangtua. Padahal pemeriksaan saya menyimpulkan anaknya belum perlu dirawat. Tidak ada indikasi rawat, istilahnya. (Kalau pasien memang indikasi rawat, pasti dirawat. Kalau tidak indikasi rawat, perlukah dirawat?) Belum lagi, pasien-pasien yang masuk dari IGD, dan dokter jaga menjelaskan sebenarnya tidak perlu dirawat, tetapi orangtua tetap memaksa minta rawat.

Apa bahayanya RS? Bukankah justru anak menjadi aman dirawat di RS. Untuk apa RS diciptakan jika justru membahayakan?

Mungkin ini pertanyaan yang akan menyusul. Coba lihat, apa yang terjadi ketika seorang anak dirawat? Diambil darahnya, dipasang infus, dan diberikan obat-obatan secara rutin. Semua bermanfaat kan? Demi kesembuhan anak.
Dalam ilmu kedokteran, semua berbasis pada prinsip benefit versus risk, alias manfaat versus risiko (mudharat). Tidak ada yang 100% benefit, atau sebaliknya 100% risk. Semua selalu ditimbang. Ketika benefit melebihi (outweigh) risk, maka itu yang diambil. Tetapi ketika risk melebihi benefit, maka ya ditinggalkan.
Seorang anak yang masuk dengan syok DBD, atau kecelakaan lalu lintas dengan perdarahan hebat, atau meningitis/ensefalitis, dan ibu hamil dengan perdarahan, tentu harus dilakukan tindakan segera dan dilanjutkan dengan rawat inap. Diambil darahnya, diinfus, dan diberikan obat-obatan, termasuk kemungkinan antibiotik. Karena benefit nya jauh melebihi risikonya. Dan ini adalah tindakan menyelamatkan nyawa manusia, menghindarkan kematian.
Tetapi ketika seorang anak dengan demam 40 derajat selsius yang ternyata hanya common cold saja (tanpa pneumonia), atau muntah dan mencret yang tidak sampai dehidrasi, apakah tindakan rawat inap mempunyai benefit outweigh the risk?

Apa risiko yang bisa terjadi di ruang rawat inap? Sejak jarum infus masuk menembus kulit, maka saat itulah risiko kuman (bakteri) tak diinginkan bisa masuk ke dalam aliran darah. Lalu ketika seseorang masuk ke ruang rawat (bangsal), sekalipun di kelas VVIP, maka risiko terpapar dengan kuman (bakteri) RS yang bisa jadi sebagian sudah kebal antibiotik dan lebih "ganas" dibandingkan dengan kuman-kuman "rumahan" terjadi. Welcome to the jungle! Mungkin bisa diistilahkan seperti ini. Namanya infeksi nosokomial. Makanya jika Anda perhatikan, saat ini hampir di tiap ruangan RS tersedia handrub yang bisa digunakan oleh siapa saja termasuk pengunjung, agar tidak terjadi penyebaran kuman nosokomial dari satu tangan ke tangan lainnya. Pengunjung yang menjenguk keluarga atau kerabatnya yang sedang dirawat di RS pun belum berarti bebas dari terkena kuman RS ini. Termasuk saat mengantri panggilan dokter di ruang periksa, bisa saja terjadi penularan virus dari satu anak dengan penyakit tertentu, ke anak lain yang sebelumnya tidak mengalami penyakit tersebut. Jadi pulang dari RS bawa "oleh-oleh".

Lalu apa yang harus dilakukan? Berhenti mengunjungi RS? Tidak berobat ke dokter lagi? Menolak semua tindakan rawat inap? Tentu saja tidak. Semua kembali ke diagnosis. Apa diagnosis yang dialami anak kita? Jika memang terindikasi rawat, ya dirawat. Jika tidak perlu, ya tidak dirawat. Nah, nanti pas dirawat, bakal kena infeksi nosokomial dong? Kembalikan lagi ke prinsip benefit versus risk. RS pun punya komite infeksi RS yang berupaya seoptimal mungkin menghindari kejadian ini. Semua harm alias bahaya tambahan bagi pasien selalu diminimalisir. Jadi, kalau memang tidak perlu dirawat, bahkan tidak perlu ke RS, ya tidak udah minta dirawat.

Jadi orangtua yang rajin belajar. Tahu kapan harus ke dokter. Tahu apa saja tanda kegawatan pada anak. Bisa baca-baca di www.kidshealth.org, www.healthychildren.org, www.idai.or.id, www.cdc.gov, www.who.int, dan www.milissehat.web.id

Selamat belajar dan jadi smart patient :-)

Lebaran: Neraka bagi para Perokok Pasif


Lebaran adalah momen bertemunya banyak orang dalam satu waktu. Orang dewasa, lanjut usia, remaja, kanak-kanak, bayi dan balita saling bertemu dalam satu ruangan. Di rumah-rumah saudara untuk bersalam-salaman. Di tempat rekreasi mumpung lagi liburan. Atau di rumah makan dan restoran sambil melepas kebahagiaan. Ada satu hal yang saya amati terjadi di semua tempat ini: kumpulan orang-orang merokok.

Keluarga kami misalnya. Sambil menikmati buka puasa bersama untuk terakhir kalinya di Ramadhan kali ini, titik-titik kepulan asap rokok bermunculan di beberapa tempat di sebuah rumah makan. Posisi restoran ini memang di pinggir jalan, dan terbuka. Tidak ada tanda larangan merokok yang tampak. Maka saya tidak punya dasar hukum yang kuat untuk menegur mereka. Lain halnya dengan di dalam angkot, ketika berhadapan face-to-face dengan seorang perokok, mayoritas akan mematikan rokoknya ketika ditegur. Seorang keponakan saya yang berumur 10 bulan yang baru saja didiagnosis bronkiolitis terpaksa saya "usir" agar tidak berdekatan dengan para perokok cuek itu. Dalam hati pun saya menggerutu "la'natullah alaihim". Astaghfirullah. Demikian marahnya saya, tapi tak mampu mengubah keadaan.

Kondisi yang tak jauh berbeda berulang setelah shalat Ied berakhir. Sambil berjalan pulang, sebagian jama'ah laki-laki mulai menyalakan rokoknya. Tak ayal asap mereka ikut dinikmati oleh orang-orang lain yang berjalan di belakangnya. Orang-orang yang belum tentu sehari-harinya menghirup asap rokok. Bahkan bisa jadi tidak sama sekali. Tapi momen bertemunya orang banyak ini membuat mereka yang tak pernah menghirup asap rokok, anak-anak dengan asma, dan orang tua dengan penyakit paru terpaksa menghirup asap rokok orang lain. Situasi yang akan dijumpai juga di pemakaman saat kunjungan ziarah kubur meningkat, di tempat rekreasi, dan banyak tempat umum lainnya.

Zalim? Ya, mereka menzalimi orang lain. Mereka menzalimi para perokok pasif. Banyak yang berharap bulan Ramadhan lalu menjadi waktu yang tepat untuk berhenti merokok. Ketika merokok membatalkan puasa, dan mereka mampu menghentikan rokoknya. Mengapa kebiasaan ini tidak berlanjut untuk seterusnya, setelah Ramadhan berakhir? Semoga saja jumlah perokok terus menurun pasca Ramadhan kali ini.

Friday, August 05, 2016

Persiapan sebelum sunat

Hayoo, siapa yang mau disunat habis lebaran? Ya, kebetulan libur lebaran kali ini bersamaan dengan kenaikan kelas. Pastinya sudah ada beberapa yang berencana dikhitan alias disunat sebelum tahun ajaran baru dimulai. Naahh, apa saja yang harus orangtua ketahui sebelum khitan atau sirkumsisi dilakukan? Mau pake teknik apa ya: biasa (konvensional), kauter, atau klamp? Lalu bius lokal atau bius umum? Daannn... setelah khitan, haruskah minum antibiotik?

Ada beberapa teknik sirkumsisi yang sering digunakan, antara lain: "konvensional" atau manual, kauter, dan klamp. Teknik konvensional adalah metode yang sudah dijalankan selama puluhan tahun, termasuk yang kita sebagai Ayah saat ini alami saat masih kecil dulu (kecuali ada yang baru disunat pas SMP ya... Hehe). Yakni dengan menggunting kulup penis, dan membuangnya, sehingga "kepala" penis (glans) terlihat, dilanjutkan dengan memberikan beberapa jahitan. Teknik ini adalah yang terbanyak dipakai, dan paling aman. Karena bisa dikerjakan pada semua kondisi, sesuai kondisi penis yang beragam. Mungkin sebagian orangtua khawatir metode ini lebih sakit dan berisiko perdarahan lebih banyak. Padahal jika anestesi atau bius bekerja baik, metode apapun tidak terasa menyakitkan.

Teknik lainnya adalah menggunakan alat kauter, yang sering disalahnamakan dengan laser. Padahal tidak ada laser yang digunakan sama sekali dalam metode ini. Saya pribadi kurang menyukai teknik ini, karena membakar jaringan dan luka pasca sunatnya terlihat sebagai luka bakar ringan. Perdarahan memang minimal, tetapi hasilnya sangat bergantung pada keterampilan operator khitan. Risiko memotong terlalu panjang atau pendek (kulit kulup) yang memengaruhi estetis penis, bahkan sampai fungsinya, memang tergantung jam terbang dan skill operator, pada teknik apapun.
Metode terakhir yang cukup banyak digunakan saat ini adalah dengan bantuan klem/klamp. Teknik ini juga banyak digunakan di negara maju. Tetapi harus menyesuaikan alat dengan ukuran penis. Operator yang mahir menggunakan teknik ini, dapat menghasilkan hasil yang baik.

Lalu bagaimana dengan teknik pembiusan, cukupkah dengan lokal, atau harus umum? Kekhawatiran ini terutama pada sirkumsisi yang dilakukan pada usia bayi. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, termasuk risiko anestesinya. Silakan pelajari. Tapi secara umum, anestesi lokal sudah cukup, termasuk pada bayi baru lahir yang disunat.

Antibiotik, perlukah diberikan pasca sirkumsisi? Mungkin ada beberapa yang mengalami diberikan antibiotik untuk diminum selama 3 hari setelah khitan. Alasannya untuk mencegah infeksi. Masalah ini memang cukup menjadi perdebatan, antara literatur Amerika dengan Australia misalnya. Tapi prinsipnya adalah:
- tindakan sunat dilakukan dengan sangat memperhatikan sterilitas alat. Perhatikan saja para operator khitan dan asistennya. Mereka menggunakan sarung tangan steril, jarum sekali pakai, benang jahit steril, dan semua alat seperti gunting, pinset, dan pemegang jarum sudah disterilkan terlebih dahulu. Lapangan operasi pun akan dibersihkan dengan povidon iodin sebagai antiseptik terlebih dulu. Maka risiko kontaminasi kuman "nebeng" dan membuat sakit menjadi sangat kecil
- tindakan sirkumsisi tidak melibatkan jaringan dalam tubuh yang terkontaminasi bakteri tubuh, misalnya usus dan saluran kemih, atau melibatkan organ dalam yang vital seperti otak dan jantung. Tapi hanya sebatas kulit sampai selaput lendir (mukosa). Maka antibiotik sebagai pencegahan (profilaksis) tidak diperlukan.
- hal yang menjadi perhatian adalah perawatan luka setelah sirkumsisi. Kuman penyebab infeksi potensial masuk di tahap ini. Sebagian referensi menyebutkan hanya perlunya tindakan pembersihan rutin saja, makanya luka pasca khitan tidak ditutup kassa. Sebagian lagi menganjurkan penggunaan salep antibiotik.
Pengalaman pribadi saya untuk anak laki-laki saya yang dikhitan di usia 1,5 bulan, tidak menggunakan antibiotik sama sekali, termasuk salep antibiotik. Begitu juga dengan pasien-pasien bayi lain yang disunat di tempat praktik kami (thanks to my sista, dr. Ardiana Kusumaningrum as the operator, although unfortunately she has retired circumcizing (?) :-) ). Antibiok salep tidak rutin diberikan pasca sunat, kecuali ada tanda-tanda infeksi.

Terakhir, bagi yang balitanya belum dikhitan, jangan menarik-narik kulup dengan tujuan membersihkan sampai lapisan di bawahnya ya. Malah menyakitkan dan berisiko infeksi. Bersihkan saja kulitnya sambil mandi, dengan air biasa. Daripada pusing-pusing, sunat saja sekalian. Hehe.
Silakan baca lebih lanjut tentang sirkumsisi di www.milissehat.web.id

Lagi-lagi tentang antibiotik

"Oke deh. Batuk-pilek alias selesma obatnya cuma SABAR. Tapi setelah 2 minggu anak saya batuk-pilek, terus dapat antibiotik, alhamdulillah langsung sembuh. Berarti kalau mau cepat sembuh bisa dengan minum obat dong?"

Pernah mengalami hal serupa? Dalam pengamatan saya, kondisi di atas namanya adalah koinsidens (coincidence) alias kebetulan. Lha kok bisa?

Ini alasannya:
- infeksi virus obatnya bukan antibiotik
- anak ini kebetulan pas minum antibiotik, pas saatnya sakitnya menyembuh. Jadi kebetulan terjadi di waktu bersamaan. Makanya dipikirkan adanya hubungan sebab-akibat. Padahal sepertinya tidak ada.
- penggunaan antibiotik terlalu sering dan tidak pada tempatnya meningkatkan risiko sakit. Lho kok bisa? Alasannya:
(1) antibiotik melawan bakteri. ketika ia masuk ke tubuh manusia dan tidak menemukan bakteri jahat untuk dilawan, maka yang diserangnya adalah bakteri baik di seluruh tubuh manusia, terutama di usus besar (koloni terbesar). Padahal bakteri baik ini menjaga tubuh kita tetap sehat. Walhasil terjadilah mencret (diare).
(2) bakteri baik tak berdosa yang diserang ini akan memperbaiki sistem pertahanannya, sehingga kelak di kemudian hari ketika ia diserang antibiotik, ia tidak mudah dikalahkan. Terciptalah bakteri super alias superbug, yang bisa jadi kebal terhadap berbagai macam antibiotik. Ketika bakteri ini berubah jadi jahat dan menyebabkan penyakit, maka antibiotik tidak mempan lagi. Risiko kematian meningkat!

Maka jangan lupa, tiap kali Anda berkunjung ke dokter, tanyakan 4 hal ini:
1. Apa diagnosis sakit saya/anak saya? (dalam bahasa medis, supaya bisa browsing di internet)
2. Jika penyebabnya infeksi, apakah virus atau bakteri? (atau jamur, amuba, dll)
3. Mengapa diberi antibiotik?
4. Apa saja tanda gawat darurat yang membuat saya/anak saya harus segera ke dokter/RS?

Selamat belajar! :-)

Tuesday, August 02, 2016

The "grok-grok" story

"Bayi saya pilek. Umurnya baru 1 bulan." Ibu muda ini membawa bayinya yang tidak terlihat pilek sama sekali di hadapanku.
"Pilek atau grok-grok, Bu?" tanyaku.
"Iya, ada bunyi grok-grok. Sudah 2 minggu seperti ini. Dikasih obat apa ya?" tanya si Ibu.

Di lain waktu....

"Bayi saya sering terdengar napasnya berbunyi grok-grok. Kata orang, waktu lahir tidak disedot sampai bersih ya lendirnya?"

Di tempat lain....

"Bayi saya berbunyi grok-grok. Dia tidak dapat ASI, tapi susu formula. Harus diganti ya susunya. Katanya bisa jadi alergi susu sapi."

Faktanya....

Bunyi grok-grok ternyata wajar dan sering sekali dijumpai pada bayi, khususnya dalam 6 bulan pertama usianya. Sebabnya adalah bayi cenderung bernapas lewat hidung saja (nose-breather). Maka jika ada ludah yang banyak di rongga mulut dan tidak langsung ditelan, bunyi grok-grok terdengar sembari bernapas. Kadang juga terdapat ingus atau lendir di dalam lubang hidung bayi, dan terdengarlah bunyi grok-grok ini. Padahal air liur yang banyak, ingus dan lendir di dalam hidung sering didapatkan pada bayi sehat. Bayi kadang tidak mau langsung menelan ludahnya. Lingkungan berdebu juga merangsang produksi lendir di dalam hidung, meskipun bayi tidak pilek. Ditambah lagi saluran napas bayi yang masih kecil (sempit), menambah kerasnya volume grok-grok. Seiring waktu, diameter saluran napas melebar, kemampuan koordinasi menelan ludah membaik, dan bunyi grok-grok pun menghilang.

Bunyi "berisik" ini dikhawatirkan jika disertai dengan:
- sesak napas, yaitu frekuensi napas lebih dari 60x/menit disertai tarikan di sela-sela iga
- adanya napas cuping hidung
- bibir menjadi biru (sianosis)
- anak tampak lemas, dan banyak tidur
- bunyi menetap lebih dari 6 bulan, dan dicurigai laringomalasia

Jadi....berbeda dengan pilek (selesma), dan juga bukan alergi protein susu sapi ya. Apalagi lendir yang tidak disedot saat lahir. Kejauhan waktunya soalnya, dengan peristiwa saat baru lahir. Lagipula lendir bayi baru lahir ya ditelan sendiri oleh bayinya :-)

Monday, August 01, 2016

"Mama, Bantu Aku agar Dapat Memberikan ASI..."

"Ini apa Bu?" tanyaku sambil menunjuk botol berisi susu bayi saat melakukan kunjungan rutin ke ibu pasca persalinan. Pertanyaan yang sering kuajukan. Jawabannya kebanyakan adalah "susu formula". Sebagian kecilnya adalah ASI perah. Lalu apa masalahnya? Ya, pastinya pertanyaan yang timbul kemudian adalah: kok tidak diberikan ASI saja?

Saya memperhatikan salah satu faktor keberhasilan menyusui secara eksklusif adalah dukungan orang-orang sekitar. Dalam hal ini yang tersering adalah suami, dan.... ibu, baik kandung maupun mertua. Tidak jarang ketika saya menanyakan kenapa buru-buru diberikan susu formula, yang menjawab justru bukan si Ibu, tetapi sang nenek.
"Kasihan Dok, bayinya rewel. ASI nya juga belum keluar." Begitu jawab Nenek. Seringkali saya menatap si Ibu yang terdiam saja, seolah-olah ia tahu bahwa ia seharusnya tak melakukan itu, tetapi dorongan dari orang lain agar segera memberikan susu formula lebih kuat. Apalagi anak pertama, cucu pertama, dan semuanya menjadi yang pertama. Bahagia, bingung, dan sedih, mungkin semuanya bercampur jadi satu. Teori sudah dibekali. Segala persiapan kelahiran dan perlengkapan bayi tersedia. Tetapi, ASI yang belum keluar hingga hari kedua.... Duhh, kok masukan dari yang lain beda-beda ya? Suami bisa saja terus menyemangati istrinya agar bersabar dan terus menyusui saja. Mama atau mama mertua bisa saja berpandangan sebaliknya. Masukan dari para penjenguk pun berbeda-beda. Jadi, ikut mana??

Sebagai dokter di kota besar, saya memperhatikan dorongan terkuat seringkali berasal dari sang Nenek, alias mamanya ibu, atau mama mertua. Suami pun kadang kalah. Hehe. Sorry to say, tapi mungkin ini subjektivitas saya ya. Maka.... mempersiapkan diri sang Nenek untuk menyambut kelahiran cucunya, termasuk dalam memberikan ASI eksklusif pun jadi sangat penting, sejak si Ibu masih hamil. Teori menyusui pun tidak hanya perlu ditularkan pada suami, tetapi juga bagi Eyang Putri dan Eyang Kakung. Sehingga jika harus menghadapi saat-saat ASI belum keluar atau masih sedikit hingga 2-3 hari pasca persalinan, maka Mbah Uti akan berkata, "Ayo Nak, semangat. Susui terus sesering mungkin. Insya Allah hari ini ASI akan keluar dan makin banyak. Aku yakin itu!"