Sunday, June 23, 2019

Apakah Cedera Kepala Anak Harus di-CT Scan?

Dua pekan terakhir, ketika ronde rutin di pagi hari, kami mendapati kasus-kasus #cederakepala sedang-berat yang membutuhkan pemeriksaan #CTScankepala. Tapi pada anak-anak, yang lebih sering terjadi adalah cedera kepala ringan. Misalnya bayi yang tanpa sengaja terjatuh karena luput dari pengawasan orangtuanya, atau anak-anak yang terpeleset karena baru bisa berjalan, dan terbentur sisi meja dan jatuh membentur lantai. Kapan harus khawatir dan CT Scan kepala diperiksakan? Kutipan sebagian dari isi buku #MakanTepatTumbuhSehat ini menjelaskannya.
.
Kami yang mendalami bidang saraf anak menggunakan skor #PECARN, yang membagi kategori usia < 2 tahun* dan usia 2 tahun atau lebih**.
Pada usia < 2 tahun, CT Scan kepala dilakukan apabila kesadaran menurun dengan “skor koma Glasgow” (GCS) 14 atau kurang, atau dengan perubahan tingkat kesadaran atau terjadi patah/fraktur tulang tengkorak. Atau CT Scan kepala dipertimbangkan pada adanya lebam di bagian sisi kepala belakang/samping/atas, atau sempat hilang kesadaran > 5 detik, atau mekanisme cedera cukup berat, atau orangtua merasa anaknya berlaku tidak wajar setelah cedera.
Pada anak > 2 tahun, CT Scan kepala dikerjakan apabila kesadaran menurun dengan “skor koma Glasgow” (GCS) 14 atau kurang, atau dengan perubahan tingkat kesadaran anak, atau ada patah dasar tengkorak. Atau CT dipertimbangkan pada riwayat kehilangan kesadaran, atau riwayat muntah (ini dokter yang menentukan ya), atau mekanisme cedera berat, atau nyeri kepala hebat.
.
Prinsip penting lain adalah: OBSERVASI. Adakah perburukan kondisi dan gejala seiring berjalannya waktu?
Penjelasan bagi orangtua selengkapnya di buku #OrangtuaCermatAnakSehat dan “Makan Tepat Tumbuh Sehat”.


Kuning pada Bayi, Kebiasaan Menjemurnya, dan Kesalahpahaman Menganggapnya Penyakit

Pernah mengalami bayi Anda “disinar” karena #kuning? Sedih ya, terpisah dari bayi yang baru saja dilahirkan, selama beberapa jam tiap harinya. Dan tentunya tujuan terapi sinar biru alias #fototerapi beralasan, yaitu mencegah kadar #bilirubin darah tinggi menembus sawar darah-otak yang berisiko cacat permanen (ensefalopati #hiperbilirubinemia). Tapi sebenarnya berapa angka yang seharusnya dilakukan fototerapi? Bilirubin 20 mg/dl? 15 mg/dl? Atau berapa tepatnya?


Sebelumnya kita coba renungkan, mengapa bayi harus sampai mengalami kuning? Segala sesuatu pasti ada tujuannya, bukan? Dan mayoritas bayi mengalami kuning di awal kehidupannya, memang karena fungsi hatinya yang masih berkembang, tetapi apakah karena itu saja? Apalagi kalau sampai ada risiko yang “menakutkan”! Ya, mungkin analoginya sama dengan #demam, dianggap berbahaya dan menjadi lawan, padahal ilmu pengetahuan membuktikan manfaat dan kebaikannya.

Ternyata kuning pada bayi baru lahir pun ada tujuannya. Meskipun masih menjadi perdebatan, beberapa pakar menyimpulkan keadaan bilirubin darah yang lebih tinggi dari seharusnya pada bayi baru lahir disinyalir sebagai #antioksidan (silakan baca di http://www.thematrona.com/…/the-physiologic-role-of-bilirub…). Ya, pada hakikatnya seorang bayi yang baru dilahirkan mengalami "perpindahan dunia". Dari alam rahim yang tenang, penuh perlindungan dari berbagai kuman, dan steril, menuju alam baru yang "penuh tantangan". (Filosofi menangis pada bayi baru lahir adalah sedih atau kaget ketika berpindah dunianya. Tapi kalau bayi lahir tidak menangis, maka dokter atau bidannya yang nangis. 😅) Kadar bilirubin yang secara alamiah meningkat selama 2 minggu pertama dinilai menjadi antioksidan terhadap stres oksidatif akibat udara panas/dingin, mulainya bernapas (bayi menangis adalah bentuk usaha napas pertamanya), dan mulainya kegiatan baru seperti menyusu. .
Tentunya kadar bilirubin darah ada ambang maksimalnya. Silakan cek grafik di gambar dan penjelasannya. Lebih detil di buku Orangtua Cermat, Anak Sehat dan #BertemanDenganDemam.

Kesimpulannya: kalau #kuning fisiologis yang tidak membutuhkan terapi sinar biru atau #fototerapi, maka hal terpenting adalah memastikan kecukupan minum/ASI bayinya. Nggak perlu dijemur-jemur, khawatir terbakar kulitnya (#sunburn).



Mengenai kapan harus dilakukan fototerapi bisa cek di www.bilitool.org.

Jadi sepakat ya? Bahwa "menjemur bayi" alias: sengaja menelanjangi bayi (biasanya hanya menyisakan popoknya saja) dan "menjemurnya" di pangkuan ibu, lalu si bayi dibolak-balikkan, adalah kebiasaan yang tidak saya setujui, karena berisiko membakar kulit bayi (sunburn).

Lalu apakah tidak baik membawa bayi/anak berjalan-jalan di pagi hari, untuk mendapatkan sinar matahari?


Kalau ini tidak masalah, anak mendapatkan udara pagi yang masih relatif lebih bersih dari polutan, dan kandungan vitamin D (sinar matahari membantu mengubah pro-vitamin D di dalam tubuh menjadi vitamin D)

Bila bayi/anak pilek, tidak bolehkah menjemurnya?

Lagi-lagi bukan menjemur seperti definisi di atas ya, tetapi membawanya keluar rumah, mendapatkan kehangatan cahaya matahari, mengeluarkan dari pengapnya ruangan di rumah yang mungkin penuh dengan virus (karena banyak yang sedang batuk-pilek). Ini silakan saja. Meskipun batuk pilek alias #selesma sebenarnya tidak perlu “dijemur” seperti ini juga. Yang penting pastikan bayi tidak kekurangan cairan, dan selesma adalah infeksi #virus yang sembuh dengan sendirinya.
Juga jangan lupa: bedakan dengan bayi grok-grok alias noisy breathing yang bukan kondisi penyakit, alias wajar sampai 6 bulan (saya sudah pernah bahas, silakan cari). Ini jelas bukan selesma.

Bukankah terapi sinar (fototerapi) untuk bayi kuning di RS menggunakan sinar ultraviolet, sama halnya dengan sinar matahari? Mengapa tidak sama dengan menjemur bayi di bawah matahari?


Ya, memang dengan sinar UV, tapi dengan panjang gelombang tertentu.
Penelitian di sebuah tempat di Afrika yang dipublikasikan di jurnal AAP tahun 2014 menyimpulkan bisa menggunakan sinar matahari, tetapi dengan filtrasi (penyaringan) menggunakan alat eksperimental.



Jadi Apa yang dikhawatirkan? Ya betul: kulit terbakar sinar #ultraviolet. Apa saja yang perlu diketahui? Silakan baca referensi yang sangat baik ini dari Kidshealth ini. Selamat membaca artikel lengkapnya di http://m.kidshealth.org/…/firstaid_…/outdoor/sun_safety.html


“Penyakit kuning pada bayi”. Kata “penyakit” ini jujur mengganggu saya. Apakah #kuning alias #jaundice atau #ikterus pada newborn suatu penyakit? Saya pernah beberapa kali menjelaskan topik serupa (dan dibahas lebih detil di buku #BertemanDenganDemam). Maka, menjawab pertanyaan ini, sama halnya dengan menanggapi pertanyaan: “Dok, apakah bayi saya “tongue-tie”?” Atau, “Saya khawatir bayi saya “lip-tie”.”
Tanggapan saya? —> “Bu, semua bayi manusia ya terlahir dengan tongue-tie dan lip-tie!” So, what? Coba perhatikan “tali” yang menghubungkan dasar rongga mulut dengan lidah bayi Anda. Itu tongue tie, kan? Juga “tali” yang menghubungkan gusi atas dengan bibir atas bayi Anda. Itu lip tie kan? Jadi? Harus diinsisi? 😓.

Persepsi yang salah, tentu harus diluruskan. Mayoritas bayi terlahir dengan kuning selama beberapa minggu di awal kehidupannya, dan itu wajar. COMMON. Begitu juga mayoritas tongue-tie dan lip-tie pada bayi ya tidak perlu diinsisi. Jadi: sesuatu yang wajar alias common jangan dibuat jadi tidak wajar. Kondisi yang tidak perlu diterapi ya tidak perlu diobati. Keadaan yang nggak perlu diinsisi ya ngapain diinsisi. 😅.

Tentunya ada dong, kondisi minoritas alias jarang yang membutuhkan terapi. Ada kondisi kuning patologis yang butuh #fototerapi. Keadaan yang berisiko menjadi “kern icterus” dan tentunya sangat berbahaya, dan ini bisa dikenali dengan nilai bilirubin di atas ambang normal. (Ada di postingan lama saya, silakan cek). Bilirubin ada 2: direk dan indirek. Pada newborn, yang meningkat adalah bilirubin indirek, dan ini wajar, sampai batas tertentu yang membutuhkan terapi sinar (misalnya bilirubin total > 18 mg/dl pada usia > 5 hari, pada bayi usia kehamilan > 35 minggu tanpa faktor risiko). Juga apabila bilirubin direk > 20% dari total, ini tidak wajar. Namanya #kolestasis. Mikirnya lain lagi, bukan terapi sinar, tetapi mencari penyebab di “intra-hepatik” atau “ekstra-hepatik”.


Lalu tentang “TT” dan “LT”. Ada juga kondisi yang cukup jarang pada tongue tie yang butuh diinsisi, yaitu memang mengganggu proses menyusui, membuat gagal tumbuh, meskipun sudah diperbaiki dengan BENAR manajemen laktasinya.

Jadi, jangan dibolak balik ya. Yang jarang jadi dibuat sering, dan yang wajar jadi dianggap penyakit 😊. .
Apa contoh lainnya? Infeksi saluran napas atas berulang akibat infeksi virus, kok dikasih antibiotik 😓

Sunday, May 19, 2019

Sariawan itu obatnya apa? Nistatin? Emangnya #sariawan itu penyakit akibat infeksi #jamur? Kan nistatin obat jamur. Bener nggak sih?

Ternyata tidak pada sebagian besar kasus. Infeksi jamur penyebab sariawan terjadi pada anak-anak dengan daya tahan tubuh menurun, seperti mereka yang sakit leukemia (kanker sel darah putih) dan mendapatkan kemoterapi. Atau anak-anak dengan HIV/AIDS. Kecuali bayi baru lahir sampai usia sekitar 1-2 bulan, kadang kena oral thrush akibat infeksi jamur #Candida, dan ini kondisi yang seringkali nggak butuh #antijamur juga, akan sembuh sendiri, mengingat kondisi sistem imun bayi yang sedang berkembang. Tapi bedakan juga lho ya, dengan bekas susu/ASI di rongga mulut bayi. Bekas susu mudah dibersihkan, sedangkan #oralthrush sulit.

Lalu apa penyebab tersering sariawan pada anak?

Seperti yang ada di foto-foto, secara umum sariawan atau stomatitis (sores) dibagi 3: cold #sores, canker sores, dan herpangina. Letak #coldsores biasanya di bibir dan gusi, mengumpul, dan kadang luka/koreng jika akan membaik. Penyebabnya adalah virus herpes simpleks (HSV). Sembuh sendiri dalam 3-4 minggu. Canker sores lokasinya lebih ke dalam lagi, bukan di permukaan bibir, tapi di pangkal bibir dekat gusi, dan bisa sampai ke langit-langit. bentuknya bisa lebih putih, yang kadang dipikirkan sebagai infeksi jamur, padahal bukan. Penyebab canker sores lebih variatif dan belum jelas benar, bisa karena trauma gigitan, pasta gigi, kekurangan vitamin B12/asam folat/seng/besi, hipersensitif terhadap makanan tertentu, kebersihan mulut, stres psikologis, sampai "bakat" alias keturunan (ada kaitannya dengan sistem imun juga).




Ada lagi #herpangina. Salah satu sariawan yang paling sering pada anak balita, dan penyebabnya sama dengan #HFMD. Seperti yang bisa dilihat di gambar, sariawan ini bentuknya kecil-kecil dengan diameter sekitar 2-3 mm, gejala awalnya bisa berupa demam, sakit tenggorok, dan anak tidak mau makan. Lalu muncullah sariawan yang cukup menyakitkan rasanya ini. Makin susah makan deh si anak.



Penyebabnya adalah infeksi virus #Coxsackie, bukan jamur atau virus herpes. Jadi obatnya ya bukan antijamur seperti nistatin. Obatnya apa? Satu: sabar 😅 Dua: gendong 😁 Nggak ada obat khususnya 😁 Nggak perlu antivirus, gom, albotil, gentian violet, dll. Mau kasih es krim ke anaknya? Boleh. Yang penting anak cukup cairan dan tidak dehidrasi.

Virus ini dan golongan  enterovirus lainnya juga menyebabkan HFMD yang dikenal juga sebagai "flu Singapur" (sudah pernah saya bahas ya...). Penularannya lewat percikan liur, tinja, dan kontak langsung dengan objek yang terpapar virus ini. Jelas okeh?

Pemberian minuman dingin, pokoknya yang adem-adem bisa membantu menyamankan (biasanya saya menyarankan anak mengemut es batu, atau sekalian saja makan es krim. Hmmm, enaakk). Yang penting: anak tidak boleh dehidrasi. Yang paling dikhawatirkan adalah kekurangan cairan. Jadi, perbanyak saja minum dan cairan.

Lidah putih pada bayi harus dikasih #antijamur?

"Dok, bayi saya lidahnya berwarna putih. Harus dibersihkan, tidak?" tanya seorang mahmud. Eh, mamah muda, maksudnya. Seorang Ibu beranak satu, tepatnya.

"Bayinya minum apa, Bu?" tanyaku.

"ASI eksklusif," jawabnya.

"ASI warnanya apa?" tanyaku lagi.

"Putih," jawabnya lagi.

"Jadi wajar nggak, kalau lidah bayi Ibu warnanya jadi putih?" tanyaku lagi dan lagi.

Si Ibu diem aja.

"Kalau lidahnya warna cokelat, atau stroberi, berarti ASI Ibu rasa..." sambungku.

Si Ibu diem aja, lagi.

"Dok, bayi saya lidahnya putih. Harus dibersihkan dengan kassa dan air putih ya, tiap habis minum? Bayi saya ASI eksklusif," seorang Ibu bertanya.

Nah... sebenarnya lidah berwarna putih, baik pada bayi yang hanya dapat ASI eksklusif, atau dengan susu formula, haruskah dibersihkan tiap kali terlihat putih? Dengan kassa misalnya. Atau air putih? Bener nggak, kalau tidak dibersihkan nanti jadi infeksi jamur??

Ada yang namanya "thrush", yaitu infeksi #jamur Candida albicans di rongga mulut bayi, dan ada yang namanya bekas susu/ASI (milk residue/coating) di lidah bayi. Kedua hal ini sebaiknya bisa dibedakan oleh para Ibu, baik mahmud, maupun mamah-mamah yang nggak muda lagi 😅



Bekas susu biasanya hanya terdapat di lidah, berwarna putih, dan mudah dibersihkan dengan kassa. Tentunya ini berbeda sekali dengan #thrush yang sukar dibersihkan dengan kassa (tidak lepas), dan biasanya tidak hanya berlokasi di lidah saja, tetapi bisa menyebar sampai bibir, bagian dalam pipi, gusi, dan langit-langit. Jamur Candida sebenarnya penghuni normal rongga mulut (dan saluran cerna) kita, dan umumnya tidak berbahaya. Pada bayi yang sistem kekebalan tubuhnya sedang berkembang, jamur jadi lebih mudah berkembang biak. Pemberian obat antijamur seperti nistatin atau mikonazol dilakukan hanya jika bayi mengalami keluhan seperti minumnya berkurang karena nyeri akibat sariawan jamurnya. Artinya: TIDAK SEMUA lidah putih harus diobati, apalagi kalau ternyata hanya bekas susu saja.

Bagaimana cara mencegahnya? Beberapa upaya dan faktor risiko yang ada seperti:
- membersihkan botol susu sebaik mungkin
- bayi prematur lebih berisiko mengalami thrush
- bayi yang mengonsumsi antibiotik juga menyebabkan bakteri baik di rongga mulut berkurang, dan infeksi jamur meningkat
- infeksi jamur di payudara Ibu juga bisa pindah ke bayi saat menyusui

Terakhir, jadinya perlukah rutin membersihkan lidah bayi setelah menyusui, sekedar untuk menghilangkan bekas susu? Jawabannya ternyata tidak. Tiap menyusui kan aliran susu membersihkan bekas susu juga. Jadi tidak perlu memberikan air putih setelah menyusui.

Terbang bersama bayi dan balita, apa saja yang harus dipersiapkan?

Lebaran nanti mau mudik naik pesawat? Pertama kali pula membawa bayi! Apa yang dikhawatirkan ya? Gimana kalau nanti pas di dalam pesawat bayinya nangis kencang dan mengganggu penumpang lain? Kan dianjurkan menyusui untuk menurunkan tekanan di dalam rongga telinga tengah. Nah, kalau bayinya tidur gimana? Perlu nggak sih pakai penutup telinga alias ear muff? Ini beberapa pertanyaan yang sering diajukan orangtua. Bagaimana jawabannya?

Pesan awal: kita bisa saja menjadi orangtua yang membawa segerombolan bayi dan anak yang bisa rewel sewaktu-waktu, atau sebaliknya, mendapatkan penumpang di sebelah kita membawa bayi/anak yang menangis kencang. Maka, saling berempati ya.


Ketika pesawat lepas landas dan naik terus ke ketinggian, tekanan udara turun. Sebaliknya, ketika pesawat mendarat, tekanan udara naik, dan bisa menekan salah satu sisi gendang telinga, dan menyebabkan nyeri. Bayi kadang tiba-tiba menangis kencang ketika tekanan udara kabin meningkat saat pesawat akan mendarat. Tuba Eustachius, saluran yang menghubungkan saluran napas atas dengan bagian dalam telinga tengah, berupaya mengatur tekanan selama perbedaan ketinggian. Pada anak, bentuk saluran ini relatif lebih landai (dan akan meninggi seiring bertambahnya usia). Apabila bayi dan anak sedang pilek dan mengalami sumbatan lendir/ingus, maka lebih mudah tertekan dan nyeri. Saya jelaskan lebih lanjut di bab #otitismedia di buku #BertemanDenganDemam.

Apa yang bisa orangtua lakukan sebelum dan selama bayi dan anak di dalam pesawat?
- Banyak minum. Menelan membuka #tubaEustachius, sekaligus mencairkan lendir/ingus/dahak yang kental karena udara di dalam kabin yang kering. Bayi dan anak yang sedang sakit #selesma alias #commoncold berisiko lebih mengalami nyeri telinga. Pada bayi, khususnya yang masih mendapatkan ASI saja, upaya menelan dengan menyusui tentunya. Bagaimana kalau menggunakan susu formula dan botol? Siapkan satu botol berisi susu dengan beberapa disposable liners. Pada anak > 3 tahun, boleh mengunyah permen karet atau menghisap permen, atau makan apapun. Kita sebagai orang dewasa juga terbantu dengan menguap. 
- Tetap terjaga saat takeoff (lepas landas) dan landing (mendarat). Karena ketika tidur, upaya menelan dikhawatirkan berkurang, dan meningkatkan risiko nyeri telinga. 



Bagaimana kalau bayi menangis terus tanpa sebab jelas? Cari tahu dulu: takut mendengar suara mesin menderu? Lapar/haus? Popoknya basah? Silau karena window shade terbuka? Atau bosan? (Siap-siap siapkan #sabardangendong di dalam pesawat ya). Sabar juga kalau ada penumpang lain yang menatap sinis. Perangkat perang, eh, pengganti popok juga harus siap dan praktis digunakan. Di mana tempatnya? Paha papanya aja ya. Jangan lupa bawa mainan, buku cerita, atau apapun untuk mengalihkan perhatian anak yang mulai bosan.
.
Bagaimana dengan keamanan tempat duduk ber-seat belt? Kalau anak bayi kan biasanya hanya diberikan satu belt tambahan yang mengikat di pangkuan orangtuanya. Di Amerika misalnya, FAA (Federal Aviation Administration) punya child restraint system yang bentuknya mirip carseat. Tapi di Indonesia, sejauh yang saya amati, belum menggunakan ini (ada netizens yang punya pengalaman?)
.
Terakhir: perlukah penutup telinga? Dari beberapa bacaan yang saya dapatkan di kidshealth, healthychildren, dan webmd, tidak ada yang menyarankannya.
.
Jadi, selamat mudik dengan bayi dan bocils Anda ya. Have a safe flight!

Saturday, March 10, 2018

Apakah anak yang sedang mengalami diare tidak boleh minum susu?

Apakah anak yang sedang mengalami diare tidak boleh minum susu?

Ini prinsipnya:

- Mayoritas diare pada anak disebabkan oleh infeksi virus (misalnya rotavirus). Sebagian kecil lainnya adalah infeksi bakteri, infeksi parasit, intoleransi laktosa, dan keracunan makanan.

- Diare adalah upaya tubuh untuk membuang semua penyebab tersebut. Maka biarkan tubuh mengeluarkannya lewat diare atau muntah, tapi jangan sampai terjadi dehidrasi.
Maka penanganan utama diare adalah: cairan! Ya, berikan cairan sebanyak-banyaknya alias berikan anak minum sesering mungkin. 

- Anak yang diare seringkali merasa mual juga dan nafsu minum serta makannya turun. Maka berikan minuman atau makanan yang ia sukai. Anak yang masih mendapatkan ASI tentu diteruskan ASI-nya. Tapi anak yang sudah tidak minum ASI dan maunya susu, bagaimana? Atau maunya teh manis? Bahkan es krim?

Kembali pada prinsip apa penyebab diare dan terapi cairan untuk mencegah dehidrasi. Bila diare disebabkan oleh infeksi virus, tentu tidak ada pantangan makan atau minum. Yang penting anak mau minum, meskipun sedikit-sedikit, tapi sering.

- Sebagian kecil penyebab diare adalah intoleransi laktosa. Yaitu kekurangan enzim laktase yang mampu memecah laktosa pada susu menjadi glukosa dan galaktosa, sehingga laktosa tidak dicerna di usus halus, dan menuju ke usus besar, menyebabkan produksi gas berlebih, kembung, mual, kram perut, dan diare.

Pada diare yang disebabkan oleh intoleransi laktosa, susu dan produknya tentu dihindari. Diare akibat infeksi virus bisa saja menyebabkan intoleransi laktosa, tapi tidak sering. Ketika anak diare justru maunya minum susu yang biasa dia minum (kalau susunya diganti jenis lain, free lactose atau low lactose yang berbeda rasa, malah anaknya menolak), maka pemberian susu tersebut dapat diteruskan. Tidak perlu diencerkan atau diganti merek lain. Karena prinsipnya mencegah dehidrasi. Tetapi jika keluhan anak justru makin bertambah, misalnya muncul sakit perut, kembung, dan makin sering BAB-nya, maka susu dapat dihentikan dan dicari minuman lain.

- Apa minuman yang bisa diberikan? Yang terbaik tentunya larutan gula-garam seperti oralit. Tapi jika anak menolak, boleh berikan kuah sup, sari buah, dan minuman selain soda dan kafein, untuk menjaga kecukupan cairan.
Kenali tanda dehidrasi seperti anak tidak pipis lebih dari 6 jam. Ketahui kapan harus ke dokter.

- Bagaimana dengan alergi susu? Bukankah susu dihindari saat diare karena alasan ini?
Seperti sudah dijelaskan, alasannya lebih ke arah intoleransi laktosa, bukan alergi susu sapi. Mekanismenya pun berbeda. Tanda dan gejalanya juga. Perlu ada topik khusus yang membahas alergi susu sapi. Tapi umumnya anak yang sebelumnya tidak memiliki alergi susu sapi, maka susu dan produknya tetap dapat diberikan saat diare.




The Story of Short: Kisah tentang Anak Pendek (not exactly a short story)

Saya mau tanya dulu, kalau pergi ke Posyandu, Puskesmas, bidan, atau dokter untuk kunjungan rutin imunisasi, yang diperiksa dari bayinya apa saja? Berat badan pastinya. Tinggi badan rutin diperiksa juga? Lalu ketika anak datang ke dokter karena sakit, untuk konsultasi, selain berat badan, apakah tinggi badan rutin diukur juga? Pentingkah memantau tinggi badan anak?

Coba perhatikan buku kesehatan ibu dan anak (KIA) edisi tahun 2016 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hal-hal yang harus dipantau dari anak balita sudah cukup lengkap: berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, bahkan indeks massa tubuh pun harus dicatat dan diplot ke kurva dalam tiap kunjungan ke fasilitas kesehatan. Semua parameter ini menandakan status gizi seorang anak yang masih melalui fase tumbuh dan kembang. Tidak cukup hanya memantau berat badan anak untuk menentukan gizinya baik atau tidak. Tinggi badan pun menentukan kecukupan nutrisi anak. Bagaimana perasaan orangtua ketika anaknya gemuk, tapi lebih pendek dibandingkan semua teman sebayanya? Atau bayangkan juga ketika mereka masuk usia remaja bahkan dewasa kelak. Perawakan pendek alias stunting bahkan menjadi indikator yang rutin dipantau dalam survei kesehatan nasional suatu negara, dan dibandingkan dengan negara-negara lain. Beda ya pastinya, ketika rata-rata tinggi badan penduduk suatu negara lebih baik daripada negara lain. Nah, apa sih perawakan pendek alias short stature itu?

Short stature adalah tinggi badan anak yang berada di bawah persentil 3 atau minus 2 Z-score di kurva pertumbuhan (growth chart). Apa pula artinya ini? Silakan browsing tentang growth chart atau cari sekilas di arsip timeline saya. Nah, ketika secara objektif anak dikategorikan pendek menurut kurva pertumbuhan, maka harus ditentukan, apakah termasuk perawakan pendek yang normal (wajar/fisiologis), atau abnormal? Termasuk fisiologis jika dikategorikan familial short stature (memang keturunannya pendek/genetik) atau constitutional delay (sekarang pendek, nanti ketika menjelang/saat sudah pubertas menjadi tinggi sama halnya dengan kawan-kawan sebayanya). Bagaimana membedakan kedua hal ini? Menggunakan bone age (foto ronsen telapak tangan untuk melihat usia tulang) salah satunya. Jika memang dokter menyimpulkan anak Bapak/Ibu masuk ke dalam perawakan pendek fisiologis ini, maka jangan berkecil hati.

Apakah tidak ada usaha yang bisa dilakukan untuk menaikkan tinggi badan anak kita? Berenang misalnya? Atau minum “susu tinggi kalsium” seperti kata iklan? 😁

Sampai saat ini, saya belum menemukan literatur yang cukup "sahih" menjelaskan hubungan antara renang dan tinggi badan, sehingga saya tidak dapat menjawabnya. Terlepas dari hal ini, berenang adalah olahraga yang sangat baik bagi anak kita. Tetapi jika sudah merutinkan anak berenang dan belum mendapatkan kenaikan tingginya menyamai kawan-kawannya, ya jangan berkecil hati bila pendeknya memang familial. Pastikan nutrisi anak yang seimbang sudah terpenuhi. Jangan sekedar mengandalkan minum susu saja. 

Minum susu tinggi kalsium bisa buat badan tambah tinggi? Kata iklan, anak yang lebih pendek, lalu dia minum susu tinggi kalsium, dan bertambahlah tingginya menyamai kawannya yang sebelumnya lebih tinggi. 

Hehe, memangnya tinggi badan hanya dipengaruhi oleh asupan kalsium semata? Tentu saja tidak. Faktor genetik (keturunan) sangat berpengaruh. Jika ayah-ibu anak ini memang memiliki perawakan pendek (short stature), tentunya sangat wajar jika anak mereka ternyata lebih pendek dari kawan-kawan sebayanya. Meskipun si anak sudah minum tinggi kalsium setiap hari.

Malahan, bisa jadi anak ini mengalami efek samping kebanyakan minum susu. Misalnya, makannya kurang karena sudah kenyang dengan susu. Lalu risiko anemia defisiensi besi karena asupan kalsium yang tinggi mengurangi penyerapan zat besi di saluran cerna. Dan risiko sembelit.

Jadi, kalau orangtuanya pendek, tapi sudah cukup nutrisi, tidak ada penyakit kronis pada anak, dan anak masuk dalam kategori stunting saat ini, apakah akan pendek seterusnya sampai dewasa nanti, dan tidak ada yang bisa dilakukan? Kalau pendeknya constitutional delay, oke deh masih bisa berharap tinggi belakangan alias late bloomer. Tapi kalau masuk kategori familial short stature?

Saat ini para ahli juga mengenal terminologi “secular trend in growth and puberty”. Salah satunya adalah usia menstruasi awal (menarche) anak perempuan yang makin muda dari dekade ke dekade berikutnya. Di abad ke-18 misalnya, laporan yang ada menunjukkan usia menarche anak sekitar 14 tahun. Saat ini, usia 10 tahunan sudah banyak anak perempuan yang mengalami menarche, dan salah satunya berhubungan dengan indeks massa tubuhnya (status gizi). Usia menarche anak juga lebih cepat kadang-kadang, dibandingkan usia menarche ibunya dulu. Tinggi badan pun sama. Tidak jarang kita lihat anak-anak yang tinggi badannya lebih tinggi dari kedua orangtuanya saat sudah masuk usia remaja, meskipun kadang kedua orangtuanya masuk dalam kategori pendek. Berbagai faktor seperti nutrisi dan pengaruh lingkungan, serta tentunya kadar hormon berpengaruh dalam teori “secular trend” ini. 

Semoga saja kelak anak-anak yang saat ini pendek bisa mencapai tinggi yang sama dengan kawan-kawan sebayanya. Tetapi pastikan tidak ada penyakit yang memengaruhi tinggi badan anak, dan pantau teratur tingginya. Konsultasikan ke dokter anak jika ada keraguan.

(Gambar diambil dari: http://3.bp.blogspot.com/-BcE4B3-tDxo/VKaQF04GM3I/AAAAAAAAAyQ/8MQ7WjYjUhM/s1600/height.jpg)




Thursday, March 08, 2018

Bakteri adalah hadiah terbaik Ibu untuk bayinya

Apa “hadiah” pertama seorang ibu kepada bayi yang baru dilahirkannya?
Bakteri. Ya, bakteri. 

Pernahkah Anda merenung, mengapa bayi dilahirkan dengan cara yang Anda ketahui seperti saat ini? Ya, melalui vagina yang kita pahami penuh dengan kolonisasi berbagai bakteri, kadang ditambah dengan kotoran (baca: feses) dari usus besar Ibu. Mengapa bayi harus lahir dengan cara “tidak bersih” seperti ini? Sang Pencipta pasti punya maksud.

Di dalam rahim Ibu yang sangat terjaga, bayi berada dalam lingkungan yang hampir steril. Saya katakan hampir steril, karena ternyata tidak 100% bebas kuman. Masih ada sedikit bakteri berada di lingkungan yang berisi bayi yang berenang dalam cairan ketuban yang terbungkus erat selaput ketuban. Ketika saat persalinan tiba, selaput ketuban pecah dan bersamaan dengan mengalirnya cairan ketuban keluar, maka masuklah bakteri-bakteri baik dari jalan lahir yang sangat banyak jumlahnya. Bakteri yang sehari-harinya menghuni vagina Ibu menjadi penghuni tubuh bayi, melapisi seluruh permukaan kulit bayi mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan tertelan masuk sampai ke saluran cerna bayi. Bahkan materi feses atau tinja ibu pun tidak jarang ikut terlibat, masuk ke tubuh bayi. Puluhan trilyun bakteri menjadi penghuni tubuh seorang makhluk yang sebelumnya berada dalam kondisi hampir suci. Bakteri yang dominan berasal dari vagina dan usus besar Sang Ibu.

Kondisi ini berlanjut dengan bayi yang diletakkan segera di dada Ibu untuk inisiasi menyusu dini. Bakteri di kulit Ibu pun segera bergerak ke tubuh bayi baru lahir ini, memperkaya variasi jenis kuman baik di tubuh bayi. Bayi lalu mendapatkan air susu Ibu (ASI), yang kandungannya pun tidak lepas dari bakteri-bakteri baik seperti Bifidobacterium lactis dan Bacteroides. Bahkan ASI pengandung HMO (human milk oligosaccharides) yang merupakan makanan bakteri-bakteri baik ini, sehingga koloni kuman ini tetap dapat hidup dalam saluran cerna bayi.

Apa arti semua ini? Ya, bakteri-bakteri baik yang senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi ini, dari nenek ke ibu, ibu ke anak-anaknya, dan terus ke cucu-cucunya, adalah bagian tak terpisahkan dari hidup manusia yang menemani tubuh sepanjang hayatnya, dan tentunya punya berbagai manfaat untuk menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup manusia. 

Lalu, bagaimana apabila bayi lahir secara operasi sesar dan bahkan tidak mendapatkan ASI (dengan berbagai alasan medis)? 
Ya, secara alamiah jenis dan jumlah kuman yang didapatkan bayi di awal kehidupannya berbeda dengan yang lahir normal melalui vagina dan berlanjut dengan menyusu ke ibu. Pada proses operasi sesar, paparan pertama kuman baik adalah ketika kulit perut Ibu disayat, dan masuklah kuman dari udara di ruang operasi dan kulit perut ibu. Jenis bakterinya bisa jadi tidak sama dengan bakteri pada persalinan normal. Bayi yang minum susu formula juga tidak mendapatkan sekitar 700 spesies mikroba yang ada dalam ASI.

Lalu apakah bayi-bayi yang terlahir dengan operasi sesar dan tidak mendapatkan ASI akan lebih buruk kondisi kesehatannya karena tidak mendapatkan human microbiome penting di awal kehidupannya? Beberapa penelitian berskala besar dan penting memang menunjukkan adanya hubungan antara rendahnya jumlah bakteri baik penghuni tubuh alias human microbiome di awal kehidupan bayi dengan meningkatnya risiko asma, diabetes melitus tipe 1, penyakit seliak, dan obesitas. Meskipun keempat masalah kesehatan ini tidak semata-mata muncul akibat satu faktor penyebab saja. Dan tidak berarti juga bahwa tindakan operasi sesar lebih buruk daripada persalinan normal, atau susu formula “haram”. Karena pemberiannya tentu atas indikasi medis. Tindakan pembedahan kaisar terbukti menyelamatkan banyak nyawa atas indikasi medis yang tepat, dan susu formula boleh diberikan dengan indikasi medis tepat pula. Tetapi tidak dielakkan, bahwa persalinan normal yang berlanjut dengan kontak kulit segera ke Ibu dan berlanjut dengan pemberian ASI jauh memberikan manfaat dengan keberadaan human microbiome ini. Salah satu warisan manusia dari generasi ke generasi sejak keberadaan manusia di muka bumi ini.

Mengapa saya menaruh perhatian khusus terhadap hal ini? Tidak lepas dari maraknya penggunaan antibiotik yang tidak tepat beberapa dekade terakhir. Infeksi virus pun “dihantam” dengan antibiotik, sehingga potensial membunuh bakteri-bakteri penghuni tubuh kita yang bahkan berfungsi sebagai penjaga tubuh manusia, bisa menghadang bakteri-bakteri “jahat” penyebab penyakit alias patogen. Maka penggunaan antibiotik yang bijak dan sesuai indikasi penting dalam menjaga keberadaan dan peran human microbiome tubuh kita.

(Artikel bagus yang saya rekomendasikan di https://blogs.scientificamerican.com/guest-blog/shortchanging-a-babys-microbiome/)








Ketika anak sakit dan dokter tidak memberikan obat

Tidak memberikan obat saat anak sakit TIDAK SAMA dengan membiarkan saja...
.
"Jadi dibiarin aja Dok, kalau anak batuk-pilek?"
"Kata dokter, anak sakit batuk-pilek nggak perlu minum obat. Jadi dibiarin aja? Sembuh sendiri?"
"Anaknya demam dan nggak rewel. Katanya nggak perlu buru-buru dikasih obat penurun panas. Jadi dibiarin aja, trus panasnya turun sendiri?"
.
Kalimat-kalimat pertanyaan di atas sering sekali saya terima. "Jadi kalau anak sakit, dibiarkan saja?" Kadang tampak tak percaya, saat mengajukan pertanyaan ini. Hehe. Dokternya tega banget ya, masa anak sakit dibiarkan saja? Nggak dikasih obat? Mungkin ini yang ada di benak sebagian orangtua.
.
Kita kembalikan lagi pada: apa diagnosisnya? Baru kita beralih pada: apa terapinya? Jangan dibalik, diagnosis belum terjawab, langsung diberikan terapi. Nah, seperti sudah sering kita bahas, maka kita paham bahwa:
- Batuk pilek alias selesma/common cold nggak ada obatnya. (Obatnya sabar dan gendong kan? Hehe) Nggak perlu obat batuk maupun obat pilek.
- Demam nggak perlu buru-buru dikasih obat, kalau anaknya tidak rewel.
.
Lalu anaknya dibiarkan saja, sampai sembuh sendiri? Ya tidak juga! Kita tetap memastikan anak tidak dehidrasi dengan terus memberikan minum. Kita melakukan observasi untuk memantau ada tidaknya tanda-tanda kegawatan lain seperti sesak napas. Dan kita membekali diri dengan ilmu! Supaya kita tahu kapan harus ke dokter lagi, dan kapan bisa ditangani saja di rumah, dengan bekal ilmu. Tentunya tidak sama dengan membiarkan saja, bukan? Observasi, atau istilah kerennya "wait and see approach", adalah bagian dari terapi juga. Tidak melulu dengan "harus dikasih obat", kalau memang tidak perlu obat yang harus dikonsumsi.
.
Jadi, ketika ada yang bertanya: "apa obatnya common cold?"
"Ya common sense." 
.
Setuju? 😊
.
(Gambar diambil dari www.nps.org.au/__data/assets/image/0008/285794/Use-common-sense-MI-edit.png)




Thursday, February 15, 2018

Anak batuk pilek boleh diuap pakai air panas?

“Kata Dokter, batuk pilek alias selesma nggak perlu obat kan. Terus, boleh nggak kalau saya uap pakai air panas aja? Supaya dahaknya encer dan ingusnya mudah dikeluarkan?” tanya seorang Ibu.
“Ibu boleh-boleh aja melakukan hal itu. Tapi saya tidak merekomendasikan. Bayangkan aja kalau pas anaknya diuap dengan posisi wajah menghadap ke baskom berisi air panas. Pas Ibunya lagi mengantuk, bagaimana? Anak sakit kan biasanya rewel. Orangtua ikutan lelah menjaga anaknya. Pas lagi ngantuk, anaknya dipaksakan untuk “diterapi uap”, eehh, bisa kecebur ke air panas kan! Malah jadi luka bakar. Awalnya anaknya cuma batuk-pilek aja, malah berakhir jadi luka bakar. Lagipula, kalaupun diuap dengan air panas, apakah anaknya kemudian akan segera membaik? Kan penyebabnya virus. Mungkin bisa aja nyaman sesaat. Trus kemudian hidungnya mampet lagi dan batuknya tetap berdahak. Apakah dahaknya kemudian lebih encer dan anaknya bisa “hoek-cuih” buang dahak seperti orang dewasa? Enggak kan. Mau kental ataupun encer, dahak akan ditelan juga. Nggak masuk saluran napas kok. Kan obat terbaiknya ada dua: #SABAR dan #GENDONG 😊. Nggak perlu diuap pake minyak kayu putih juga. Pernah merasakan tidak? Malah makin perih matanya. Anak bisa jadi makin nggak nyaman, padahal niat orangtuanya baik.”
Udah jelas ya jadinya? 😊
(Posisi menggendong tegak menguntungkan bayi bisa menelan dahak dan ingus lebih mudah dengan bantuan gravitasi, dibandingkan dengan posisi telentang. Makanya tidak ada yang mengalahkan sabar dan gendong 😁.




(Sumber gambar: https://i.ytimg.com/vi/mBcPzD6B7Fw/hqdefault.jpg)

Apa saja kandungan vaksin difteri (vaksin Td)?

Tulisan ini khusus membahas kandungan vaksin Td seperti dalam gambar, yaitu yg isinya kombinasi antara vaksin tetanus dan vaksin difteri dalam satu sediaan. Adapun vaksin difteri tersedia dalam beberapa sediaan, seperti vaksin kombo DPT, DPT+Hib+HepB, DPaT, DPaT+Hib+polio, dll.

Saya jelaskan komposisi vaksin Td produksi salah satu BUMN kita: Bio Farma. 

Secara umum, vaksin terdiri atas dua kandungan: bahan aktif dan bahan tambahan. Bahan aktif vaksin Td adalah: vaksin tetanus dan vaksin difteri. Tujuan bahan aktif tentunya menciptakan kekebalan terhadap penyakit tetanus dan difteri. Jadi orang yang mendapatkan imunisasi Td diharapkan tidak akan pernah mengalami sakit tetanus dan difteri sama sekali.
Bahan tambahan yang terkandung dalam vaksin Td sesuai informasi dalam kemasan adalah: aluminium fosfat dan timerosal. Apakah itu?

Sebelumnya saya jelaskan dulu bahwa kandungan aktif vaksin Td bukanlah bakteri tetanus dan difteri secara utuh, tetapi toksin (racun)nya, yaitu “toksoid difteri yang dimurnikan” dan “toksoid tetanus yang dimurnikan”. Penyakit tetanus disebabkan oleh bakteri Clostridium tetani, dan penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Tepatnya: yang membuat penyakit pada tubuh manusia bukanlah bakterinya langsung, tetapi toksin (racun) yang dihasilkannya. Untuk itu, ilmuwan sejak abad ke-19 sudah mengembangkan vaksin difteri dan tetanus menggunakan toksin yang dilemahkan (toksoid), dan di awal abad ke-20 terciptalah vaksin difteri dan tetanus yang terbukti efektif dan menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.

Apakah aluminium fosfat itu? Dengar kata aluminium, apa yang terlintas di pikiran Anda? Ya, bahan pembuat panci kok dimasukkan ke dalam tubuh manusia? 😅 Bahan ini adalah ajuvan vaksin, yaitu zat yang dapat meningkatkan respons imun tanpa harus menyuntikkan vaksin dalam volume banyak ke tubuh. Bayangkan saja, kok dosis vaksin difteri bayi dan dewasa yang disuntikkan ke tubuh sama-sama 0,5 ml saja? Ini karena adanya ajuvan. Dan tidak semua vaksin mengandung aluminium sebagai ajuvan, hanya beberapa saja. Aluminium sebagai ajuvan sudah digunakan selama 80 tahun terakhir dan terbukti aman. Di sisi lain, aluminium ternyata ada di mana-mana, dan merupakan unsur ketiga terbanyak di bumi! Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan menelan 10 miligram aluminium. Susu formula mengandung sampai 30 miligram aluminium. Aluminium dalam vaksin yang disuntikkan sampai bayi berusia 6 bulan sebanyak 4 miligram, jauh lebih sedikit daripada yang terkandung dalam ASI! 

Jadi cukup jelas ya. Vaksin itu harus aman dan efektif (mencegah penyakit). Ajuvan menunjang efektivitas vaksin dalam membentuk respon imun, dan terbukti aman selama puluhan tahun.

Terakhir, kandungan timerosal yang dikenal sebagai merkuri atau raksa sebagai logam berat. Serem ya dengernya? Logam berat disuntikkan ke dalam tubuh! 😱
Timerosal dalam vaksin ini (tidak semua vaksin mengandung timerosal) berfungsi sebagai pengawet yang bermanfaat mencegah kontaminasi bakteri dan jamur. Satu botol/vial vaksin Td kan bisa diberikan untuk 10 orang (10 dosis), maka ketika jarum steril baru masuk menembus karet penutup botol vaksin, lebih dari sekali (ingat, jarumnya pasti selalu jarum baru sekali pakai yang dijamin steril), maka adanya risiko kontaminasi kuman sekecil apapun dari luar terkurangi dengan adanya timerosal dalam vaksin. Penggunaan timerosal sudah dilakukan selama puluhan tahun dan terbukti aman.

Tapi kan ini merkuri. Merkuri! Berbahaya lho... 🤔 Ada yang menghubungkannya dengan autis bahkan! 😓
Ternyata tidak, timerosal sudah dibuktikan tidak berhubungan dengan autism. Lalu ada lagi pembagian etil merkuri dan metil merkuri. Timerosal adalah etil merkuri yang berbeda dengan metil merkuri yang terdapat dalam ikan-ikan laut yang tercemar logam berat.
Selengkapnya tentang timerosal sudah saya bahas di fanpage @bukuprokontraimunisasi





Apakah vaksin efektif dalam mencegah penyakit? Bagaimana membuktikannya?



Tahu foto apa ini? Ini adalah hasil pemeriksaan darah seorang anak yang diperiksakan:
- apakah ia memiliki virus hepatitis B di dalam tubuhnya (terinfeksi)? Yaitu dengan pemeriksaan HBsAg.
- apakah ia memiliki kekebalan terhadap virus hepatitis B? Yaitu dengan pemeriksaan Anti HBs. 

Apa hasilnya? HBsAg-nya negatif, artinya ia tidak punya virus dalam tubuhnya. Dan Anti HBs-nya positif, artinya anak ini punya kekebalan untuk TIDAK terinfeksi virus hepatitis B sepanjang hidupnya! Dan tahukah Anda, apa yang membuat Anti HBs anak ini positif? Ya, vaksin hepatitis B sejak beberapa jam kelahirannya!

Mengapa saya periksakan dua hal ini ke pasien saya? Karena anak ini terlahir dari ibu yang positif terinfeksi virus hepatitis B. Maka tugas saya selalu dokter adalah: MENGUPAYAKAN bayinya tidak terinfeksi hepatitis B, yang berpotensi menjadi kanker hati dan sirosis di usia dewasanya. Saya memberikan DUA upaya perlindungan: imunisasi hepatitis B (vaksin) dan pemberian imunoglobulin hepatitis B (HBIg). 

Apa sebenarnya penyakit hepatitis B? Sepenting apa sampai harus diberikan dalam 12 jam setelah lahir? Belajar yuk 😊

Virus hepatitis B (VHB)—seperti namanya—spesifik menyerang organ hati. Sebagian besar orang yang terinfeksi virus hepatitis B tidak mengalami gejala penyakit sampai bertahun-tahun setelah pertama kali virus masuk ke dalam tubuh orang tersebut. Mayoritas orang terdiagnosis hepatitis B dalam bentuk sakit kuning (hepatitis), sirosis hati, atau kanker hati (karsinoma hepatoselular). Penyakit hepatitis B ditularkan melalui kontak dengan darah orang yang terinfeksi hepatitis B sebelumnya, misalnya melalui transfusi darah, penggunaan obat suntik (narkoba), pemakaian tato di kulit, bayi baru lahir yang tertular ibunya, dan hubungan seks. Kadang penularan bisa melalui cara yang tak terduga seperti penggunaan bersama pisau cukur, sikat gigi, atau handuk. Satu milliliter darah seseorang yang terinfeksi virus hepatitis B bisa mengandung satu milyar virus. Virus ini juga dapat berada pada suatu benda (objek) selama 7 hari, meskipun tidak berada di dalam darah. Akibat risiko penularan yang kadang tidak terduga dan mayoritas penderitanya tidak menunjukkan gejala awal, maka vaksin hepatitis B penting diberikan di Indonesia.

Awalnya vaksin hepatitis B hanya diberikan pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi tertular virus hepatitis B, misalnya tenaga kesehatan di RS, pasien cuci darah (dialisis), dan pengguna narkoba suntik. Tetapi karena penularan juga terjadi pada kelompok masyarakat tidak berisiko, maka strategi yang digunakan di AS pada tahun 1980-an ini tidak berhasil. Insidens (angka kejadian) hepatitis B tidak berubah meskipun imunisasi sudah 10 tahun berjalan. Maka strategi diganti menjadi memberikan imunisasi hepatitis B pada bayi sejak baru lahir. Apabila program imunisasi ini berjalan baik dan cakupannya tinggi, maka diharapkan hepatitis B musnah dalam satu sampai dua generasi mendatang.

Bagaimanakah gejalanya?
Pada bayi dan anak-anak, infeksi hepatitis B tidak bergejala, tetapi pada 7 dari 10 remaja dan dewasa yang mengalaminya, terdapat gejala-gejala seperti: demam, nyeri sendi dan perut, mual, muntah, tidak nafsu makan, air seni berwarna gelap, dan kulit serta mata berwarna kuning.

Bagaimana vaksin hepatitis B dibuat?
Upaya menemukan HBsAg memiliki sejarah berliku. Perkembangan bioteknologi mengantarkan pada pembuatan vaksin hepatitis B yang digunakan saat ini, yaitu menggunakan teknologi DNA rekombinan. Rekayasa genetika ini diawali oleh penemuan enzim yang dapat "memotong" DNA yang dihasilkan oleh bakteri Eschericia coli, oleh Herbert Boyer. Di sisi lain, Stanley Cohen menemukan "plasmid", yaitu DNA berbentuk lingkaran (sirkular) yang membawa gen untuk resistensi antibiotik. Plasmid ternyata mudah dipindahkan dari satu bakteri ke bakteri lainya, trrmasuk untuk memimdahkan gen resistensi antibiotik. Cohen kemudian menggunakan enzim temuan Boyer untuk memotong plasmid yang berisi gen resisten antibiotik dan memasukkan gen yang berisi resistensi terhadap antibitoik lain, lalu menyambung kembali DNA plasmid sehingga utuh seperti sebelumnya. Plasmid kini berisi gen yang resisten terhadap dua jenis antibiotik. Cohen memasukkan plasmid tersebut ke dalam bakteri lainnya dan berhasil menciptakan bakteri baru yang resisten terhadap dua jenis antibiotik. Hasil eksperimen ini membuat Boyer dan Cohen menyimpulkan bahwa gen apapun, termasuk gen manusia, dapat dimasukkan ke dalam plasmid bakteri. Ketika bakteri memperbanyak dirinya, maka protein yang dibawanya, termasuk protein manusia, akan ikut diperbanyak juga. Bakteri dapat mejadi pabrik mini yang memproduksi berbagai jenis komponen tubuh manusia. Inilah cikal bakal rekayasa genetik yang ikut digunakan dalam pembuatan vaksin hepatitis B.

Mengapa bayi saya segera harus mendapatkan imunisasi hepatitis B setelah lahir, meskipun saya jelas tidak terinfeksi virus hepatitis B?

Data statistik di AS menunjukkan tiap tahun 18.000 anak terinfeksi hepatitis B sebelum usia 10 tahun. Makin muda usia seseorang terkena hepatitis B, maka makin besar risiko mengalami kanker hati atau sirosis hati di kemudian hari. Apakah sebagian besar anak ini terinfeksi dari ibunya saat proses persalinan? Ternyata separuhnya terinfeksi dari ibunya, tetapi selebihnya dapat terinfeksi dari orang lain atau anggota keluarga lain, dengan cara tidak terduga seperti yang sudah dijelaskan. Orang-orang yang menularkan ini pun mayoritas tidak menunjukkan gejala. Fakta ini menekankan pentingnya imunisasi hepatitis B dan waktunya adalah segera (dalam 12 jam) setelah bayi lahir.

Sekitar 95% infeksi VHB di Asia ditransmisikan secara vertikal dari ibu hamil ke bayi yang dilahirkannya, sedangkan 5% sisanya ditularkan pada masa kehamilan (sebelum proses persalinan). Proses penularan ini harus segera diputusdengan pemberian imunisasi hepatitis B pada usia kurang dari 12 jam sejakbayi dilahirkan (didahului dengan suntikan vitamin K untuk mencegah komplikasi perdarahan).Pemberian imunisasi dini ini juga dapat mencegah bayi dari terinfeksi oleh orang-orang yang tidak diketahui statusinfeksinya kelak setelah pulang ke rumah. Imunisasi hepatitis B kedua diberikan saat bayi berusia 1 bulan, dilanjutkan dengan imunisasi ketiga saat berusia 6 bulan. Sekitar 95 dari 100 orang yang mendapatkan imunisasi hepatitis B lengkap akan terhindar dari infeksi VHB. Apabila sebelum persalinan ibu sudah diketahui terinfeksi VHB, maka saat bayi lahir juga diberikan imunoglobulin G (HBIg).

Data WHO mencatat 240 juta penduduk di seluruh dunia hidup dengan hepatitis B kronik dan 600.000 orang meninggal akibat komplikasinya setiap tahun. Di Amerika Serikat, mayoritas penderita mendapatkan infeksi VHB saat masih anak-anak. Sekitar 90% anak-anak ini akan mengalami infeksi kronik, dan 1 dari 4 akan mengalami komplikasi termasuk kanker.

Pengobatan terhadap anak yang terinfeksi VHB juga masih kurang efektif, misalnya dengan interferon atau analog nukleotida. Di Indonesia, salah satu masalah terbesar adalah pemberian imunisasi hepatitis B pertama pada usia kurang dari 12 jam sering ditunda. Misalnya karenaalasan tidak siap atau HBsAg ibu negatif. Padahal ibu dengan HBsAg negatif belum tentu tidak mengidap hepatitis B. Bisa terjadi occult hepatitis B, yaitu orang dengan HBsAg negatif, dapat menunjukkan anti HBc positif pada pemeriksaan lanjut.Pada kondisi ini, sebenarnya orang tersebut telah mengidap penyakit hepatitis B. Inilah alasan pentingnya imunisasi hepatitis B pada usia kurang dari 12 jam pertama, tanpa melihat status HBsAg ibu.

Pada anak yang dilahirkandari ibu hamil dengan HBsAg positif dan mendapatkan imunoglobulin dalam waktu kurang dari 12 jam, dilanjutkan/dibarengi dengan imunisasi hepatitis B, maka tingkat keberhasilan pencegahan infeksi VHB dapat mencapai 95-97%. Satu hal yang harus diingat adalah kurang dari 5% penularan dapat terjadi dalam kandungan (sebelum persalinan), sehingga idealnya semua ibu hamil diperiksa status HBsAg-nya.

Seberapa menularkah hepatitis B?
Apabila 10 orang sehat (belum pernah diimunisasi hepatitis B dan tidak terinfeksi VHB) tinggal satu rumah dengan orang yang terinfeksi VHB, maka diperkirakan 4 dari 10 orang sehat ini akan terinfeksi.

Apakah vaksin hepatitis B efektif?

Efektivitas vaksin dalam mencegah infeksi VHB adalah 90-95%. Memori sistem imun menetap minimal sampai 15 tahun pasca imunisasi, namun secara teoritis bisa sampai seumur hidup, sehingga pada anak secara umum tidak dianjurkan untuk imunisasi booster setelah berusia lebih dari 6 bulan. 

Manfaat Imunisasi Hepatitis B
1. Mengurangi kematian akibat komplikasi VHB
2. Mencegah kanker hati dan sirosis (gagal) hati
3. Mencegah penularan terhadap orang lain

Selengkapnya di buku Pro Kontra Imunisasi yang saya tulis.