Saturday, December 24, 2005

Salah Makan

Laki-laki bertubuh gempal dan berkumis hitam itu menyapaku saat masuk ke ruang praktik. Pria yang biasa kulihat dan saling bertegur sapa ketika melintas masuk ke tempat kerja ini minta dibuatkan surat rujukan untuk istrinya yang berobat ke RS kemarin. Rujukan ini berguna untuk mendapatkan penggantian uang dari perusahaan.

"Istrinya sakit apa, Pak?" tanyaku
"Keracunan makanan, Dok," jawabnya.
"Memangnya makan apa?" tanyaku lagi.
"Kemarin dia salah makan. Dia minum baygon."

Ada-ada saja. Keracunan baygon. Intoksikasi organofosfat. Upaya bunuh diri tentunya. Suicidal intention. Masalah rumah tangga, mungkin? Aku tak ingin mengeksplorasi lebih jauh. Ini urusan pribadinya. Lagipula ada karyawan lain yang juga berobat di ruangan ini. Aku tak ingin cerita ini menyebar ke seantero kantor.

Jadi teringat masa-masa ko ass dulu. Ironis sekali melihat orang yang berupaya bunuh diri dengan minum racun insektisida golongan organofosfat ini. Mungkin hampir setiap minggu selalu ada kasus ini di Instalasi Gawat Darurat RS manapun. Biasanya ceritanya hampir sama. Si pelaku membulatkan tekad untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum obat nyamuk cair. Saat masuk beberapa tenggak ke dalam dalam kerongkongannya, ia merasakan panas dan rasa terbakar luar biasa, sehingga mengerang kesakitan, dan tidak menghabiskan isi minumannya. Segeralah ia dibawa kerabatnya ke IGD RS. Dipasanglah selang menuju lambung lewat lubang hidung untuk membilas isi lambungnya, memastikan racun dibersihkan. Dalam pemasangan nasogastric tube ini, tentu rasanya sangat tidak nyaman. Belum lagi berpuluh-puluh ampul sulfas atropin yang dimasukkan lewat selang infus. Berapa pula rupiah yang harus habis?

Sudah susah-susah pengen mati, eh malah nggak kesampaian. Jadi sakit pula. Masuk rumah sakit pula. Keluar uang pula. Malah tambah susah, kan?

Memangnya mati itu gampang? Akhirnya bisa disimpulkan kematian itu mahal harganya, bukan? Kenapa nggak pilih cara mati yang lebih cepat saja, misalnya memasukkan moncong pistol ke dalam mulut atau mengarahkannya tepat ke otak, dan.. DOR!

Tapi harga pistol kan mahal. Mendapatkannya juga susah dari segi hukum.

Makanya.. jangan bunuh diri

--biasa, ini sesi ga nyambung:
kasus aneh yg didapat dlm 2 minggu ini:
- Buerger Disease: kelainan vaskuler yg dirujuk ke Bedah Vaskuler. Untung pasiennya ngasih tahu gw diagnosisnya apa? kalo enggak.. waa mana gw tau. ujung2nya musti browsing di Google
- bayi makrosomia dari ibu DM tipe 1 yang humerus dekstranya 'terpaksa' harus mengalami fraktur akibat distosia bahu dan ditilong pas persalinan. udah gitu sempet didiagnosis Erb Palsy pula. bodohnya...

2 comments:

Lakshmi Nawasasi said...

Itulah Pin .. seharusnya ada edukasi cara bunuh diri yang tepat dan benar :). Artinya bunuh diri yang langsung tek sek ... jadi jangan yang akhirnya mampir ke UGD atau gantung diri yang ga jadi buntutnya kan mencederai vertebra cervikal (mati ga hidup juga susah karena fungsi vegetatifnya lenyap). Saya pernah punya perawat, dia bunuh diri dengan cara yang maniz. Dia berbaring, sebelah kanannya ada surat wasiat, dua ikat kembang merah dan Alquran. Dia nyuntik dirinya sendiri pake trakium ... yaaa langsung bablas dan uenaaaak pasti rasanya karena ga terasa sakit dan dijamin mati ... hehe. Bunuh diri dimana-mana memang konyol, hanya orang pengecut yang mau melakukan. Ga berani menghadapi tantangan hidup, beraninya mati ... Iya kan Pin ; soal euthanasia juga kayaknya mirip-mirip tuh ... pendapatmu tentang euthanasia gimana ? Terutama buat penderita kanker end stage atau penyakit2 lain yang harapan hidupnya tipiiiiis sekali. Jika ada waktu ulas ya di blog mu ? Ok deh sukses ....

Dani Iswara said...

ttg hak mati..euthanasia..mestinya ada sih hak mati utk mendampingi hak hidup.. :)..tinggal peraturan dan kode etiknya aja..