Wednesday, January 16, 2008

Salahnya Puyer

Terinspirasi dari laporan jaga harian pagi ini…

Kasus syok anafilaktik yang diduga akibat alergi obat. Anak umur 5 tahun. Sebelumnya pasien hanya sakit ringan, batuk pilek saja. Pergi ke dokter, diberi resep puyer, dan ditebus obatnya. Ada lima macam obat yang tercantum, termasuk dua jenis antibiotika tablet yang digerus dan dicampur ke dalam puyer. Dua jam setelah minum puyer, anak mulai lemas, hilang kesadaran, dan dibawa ke RS. Diagnosisnya syok anafilaktik. Pertanyaannya: obat mana yang menimbulkan reaksi alergi berat?

Meneketehe. Inilah dilema memberikan puyer. Terlepas dari masalah di atas, puyer tidak memiliki dasar ilmiah. Lihatlah ke semua negara lain, termasuk negara tetangga atau negara yang lebih miskin di belahan Afrika, tidak ada satupun yang memberikan obat dalam bentuk puyer. Bayangkan saja, beberapa jenis obat, digerus dalam satu wadah/lumpang, kemudian dikerok dengan kertas, dan dibagi-bagi ke beberapa lembaran kertas puyer dengan mata telanjang. Yakin bahwa tiap kertas puyer memiliki dosis miligram yang sama? Diberikan ke anak kecil pula (tentu saja, namanya juga puyer), yang dosisnya harus benar-benar akurat. Penyimpangan dosis sebesar sekian miligram dapat menimbulkan efek samping dan keracunan obat. Belum lagi potensi interaksi kimiawi/farmasetik antar obat yang dicampur dalam satu sediaan. Bisa jadi mengurangi potensi obat, sehingga pemberian obat tidak memberikan efek (lalu untuk apa diberi obat), atau menyebabkan potensi efek samping dan toksisitasnya meningkat. Yang timbul adalah penyakit baru gara-gara minum puyer. Kemudian lumpang yang belum bersih benar digunakan lagi untuk mencampur obat-obatan baru dari pasien lain. Logikanya adalah sangat mungkin tercampur dengan serbuk sisa obat-obatan sebelumnya.

Penyakit apa sih memangnya yang harus diberi obat sedemikian banyak? Batuk-pilek akibat infeksi virus? Kan sembuh sendiri. Paling diberi parasetamol/asetaminofen kalau ada demam di atas 38,5 derajat selsius. Butuh antibiotika? Kan infeksi virus, bukan bakteri. Lalu obatnya apa? Wait and observe… until recovery.

Kalau anak memang butuh obat, ya jangan minta puyer. Minta saja sirup dengan sendok/pipet takarnya.

14 comments:

dec_global said...

pak dokter...
saya tertarik dengan info tentang "salahnya puyer" begini pak dokter...
sekalian nanya kali ya...
anak saya umur 7 bulan beberapa hari yang lalu sakit (pilek , batuk dan matanya merah...seperti sakit mata juga )lalu,saya bawa ke dokter spesialis,karena info dari orang2 dokternya bagus..( tapi belum tahu juga bagus dari segi apa )makanya saya bawa ketempat beliau...kemudian setelah diperiksa saya diberi resep dan saya tebus... ternyata ada obat "puyer" disitu... sebenarnya apakah obat puyer itu memang sah untuk anak bayi seumur anak saya, yang saya takutkan terlalu banyak kandungan yang bla..bla..bla ( sepertyi yang bpk jelaskan diatas tadi )??
yang kedua, apa ada obat untuk penyakit seperti anak saya selain puyer...?? ( karena semua orang di daerah saya yang berobat ke dokter itu dengan sakit pilek juga kebanyakan diberi puyer juga dok...)

terima kasih ...
Dectrick

arifianto said...

Saya yakin diagnosis anak Bapak yg batu berumur 7 bulan adalah common cold akibat infeksi virus (silakan browsing di internet untuk informasi lengkap mengenai common cold ini). Sembuh sendiri, tanpa obat apapun. Diberi puyer? Apa isinya? Sudahkah meminta kopi resepnya? Kesimpulannya: obat saja tidak perlu, apalagi puyer yang biasanya isinya lebih dari dua macam. Silakan bergabung dengan milis SEHAT (http://groups.yahoo.com/group/sehat) untuk diskusi mendetail mengenai puyer.

Astri said...

terkadang alasan harga juga menjadi alasan memberikan puyer dibandingkan obat botol.
meskipun saya sendiri lebih senang memberi sirup.

HannY said...

Salam kenal pak dokter, wah saya sampai kaget mbaca "salahnya puyer". Saya baru tau dok. Tapi kadang2 serba salah juga... Klo ngga dikasih obat, keliatannya kyk ngebiarin'in anak sakit.

Kmaren ini anak saya jg sakit dok (12bulan), muntah, mencret air, lemes, panas tinggi - hasil diagnosa : radang tenggorokan, dikasih obat nya Puyer juga. Saya kasih, abis itu anak saya jadi tidur mulu, (kurleb dlm 1 -2 hari), dan susunya diganti dulu jadi yg free lactose. Dan abis itu udah mulai ceria lagi (total sakit dan pemberian obat = 6 hari) Dan sembuh.

Apa jadinya klo saya ga tebus puyer itu ? Bisa lebih lama sembuhnya, atau malah krn lemes n ga mau mimi susu (makan tetep mau) takutnya daya tahan tubuh makin lemah n kena sakit laen. Apa gak kesian dok ? Gak mau minum susu soalnya, stiap mimi susu, muntah terus.

Jadi bingung nih dok mau jadi orang tua bijak....

Mohon pencerahan lagi dok :)

anindy said...

slmt malam pak dokter, hanya ingin memberikan sedkit pendpt,dan mohon pencerahannya jika pendpt saya salah, Mengenai penjelasan pak dokter ttg bahaya puyer, kan mengacu pd cara pembuatan(pencampuran)nya dan efek samping dr obat2an yg dicampur tsb, nah bukankah utk memberikan resep, apapun resepnya baik puyer atau bukan,seorang dokter seharusnya memang sudah MENEGAKKAN DIAGNOSTIK (atas sakit atau keluhan yg diderita pasien dan kemudian MEMBERIKAN PENGOBATAN berdasarkan diagnostik yg ditegakkkannya dimana mereka dgn kapasitas keilmuannya sbg dokter sehrsnya sudah tahu betul baik buruknya akan penyakit dan obat2an yg diresepkannya krn mereka hrs bertanggung jawab atas tindakannya tsb, dan ketika kemudian sang dokter meminta apoteker utk mebuatkan resepnya maka sang APOTEKER jg hrs BERTANGGUNG JAWAB atas KEAMANAN PENYEDIAAN OBAT di APOTIKnya. dan kala dia, dengan kapsitas keilmuannya dalam bidang farmasi, meragukan dosis u/masing2 jenis obat yg diresepkan pasien, maka sang apoteker berhak dan WAJIB menanyakan ulang (dan bahkan mengembalikan resep tsb) kepada dokter yg membuat resep tsb. dan bukankah hal ini jg berlaku di PERUSAHAAN PEMBUAT OBAT?? dimana hrs ada yg bertanggung jwb atas keamanan penyediaan obat yg diproduksi, apakah perusahaan tsb telah melakukan sesuai standar yg ditetapkan atau tdk. Jadi bukankah yg hrs difokuskan disini sebenarnya adalah " bagaimana SAFETY TO PREPARE THE DRUG dipenuhi dg baik dan benar " krn obat apapun yg dibuat dgn standar yg buruk pasti akan membawa malapetaka kan, nah kalau soal salah/ kebanyakan obat sih .. nggak puyer juga bisa..., itu sih soal manusianya saja, jadi sbg pasien dan konsumen kita memang hrs lebih hati2 dan kritis atas semua yg kita konsumsi. so semua kembali pd setiap individu-individu yg terkait, bagaimana mereka menjalankan tanggung jawabnya. terima kasih.....salam..

marionette said...

wah

jadi merasa bersalah

waktu di puskesmas sayah sering banget kasih puyer

bahkan sebelum anamnesa,m tangans aya sudah muali menulis resep puyer kalo pasien anak

PCT, CTm, GG, ef, L Vitc vit Bc

hahahaha

jadi merasa tertampar

Nor Muchamad Ali Abdoloh said...

Wah sepertinya yg jadi tersangka adalah puyer untuk anak. Kalau untuk pasien dewasa dan bisa menelan, obat biasanya diberikan dalam bentuk kapsul. Bagaimana dengan kapsul? Wah kok cuma puyer yang disalahkan...

afiat said...

salam kenal mas, saya rasa kalau dokter2 ngasih puyer dengan aturan yang benar nggak perlu dipermasalahkan, toh nggak setiap saat obat syrup tersedia apalagi di daerah2 terpencil, so solusinya saya rasa butuh penyegaran kembali pada para dokter supaya tahu cara meresepkan puyer dan bagi apoteker atw asistennya di apotik ttg bgmn membuat puyer yg baik dan aman.

Zara said...

Pak dokter.....hanya mau memberikan pendapat....
mungkin disini ahli2 pharmacist yang da getol belajar farmakologi obat dan interaksinya berperan.......
namanya juga obat mungkin ada interaksi obat pas saat di gerus dengan obat lainnya.......
klo ga salah ga semua obat bisa di buat syrup.....klo ada juga mahal.....pasti kemampuan si pasien dalam hal materil juga perlu diperhatikan......
mungkin kerjasama antara dokter dan pharmacist di Indonesia kurang.......
makanya dalam kasus puyer Dokter yang jadi sorotan
TerimaKasih....salam

Ki Ageng Similikithi said...

Cerita tentang puyer memang terbatas terutama di Indonesia. Di negara2 lain tak banyak lagi dipakai. Di Jepang juga ada kebiasaan membuat puyer tetapi mereka lakukan dengan cara yang higienis sekali. Kita sering bilang ini adalah 'the art of compounding'. Tetapi sebenarnya adalah 'the misart of compounding" salam
Ki Ageng

Norhadijah said...

mmm... menurut saya tentang polemik puyer yan terjadi hanya karena kesalahan mekanisme kerja yang da di lapangan...
Sebaiknya tidak ada kata saling menyalahkan antara asisten apoteker, apoteker ataupun dokter...dan juga tidak ada yang salah dengan puyer..toh, dia benda mati.. koq sampai2 masyarakat jadi phobia dengan puyer..

Seharusnya ada kerjasama yang baik antara farmasis di Indonesia dengan dokter.. (Walaupun terkadang seorang farmasis tidak terlalu diperhatikan, meskipun begitu saat ini farmasis mencoba bangkit dan membuktikan eksistensi dirinya, dan hal itu perlu bantuan dari para dokter)..

Untuk sirup, masih ada koq di apotek&puskesmas sediaan sirup kering dan terkadang juga ada kok dokter yang meresepkan campuran puyer yang digabung dengan sirup kering, yang kemudian ditambah dengan air sehingga berbentuk sediaan sirup, yang artinya "apa bedanya antara sirup dan puyer"..

Boleh saya meminta pendapat anda sebagai seorang dokter tentang resep racikan..?.. Kan tidak hanya puyer yang diracik, bisa berupa sediaan kapsul, sirup, salep dan semuanya bukan hanya untuk anak keciltapi bisa juga untuk orang dewasa... Kalau anada bersedia silahkan kirim ke je.apt08@gmail.com

Biar saya lebih bisa belajar dan mendalami profesi yang akan saya hadapi..
Thanks b4

imami nur said...

salam kenal tuk pak dokter Arifianto..
Wah,saya setuju sekali dengan pendapat mba anindi..
masalahnya bukan di puyer tapi pengawasan tentang pembuatan sediaan puyer itu...
dalam hal ini menurut saya setiap profesi kesehatan harus merasa sejajar,sebagai mitra dan harus bekerja sama untuk kebaikan bersama juga terutama untuk kesembuhan pasien.
Puyer menurut saya tidak salah kok, hampir setiap obat paten juga terdapat beberapa campuran jenis obat yang dijadikan satu...cuma bedanya,di industri obat itu mungkin ya ada bagian yang mengontrol standar obat tsb.
Terus yang kedua,si pembuat resep puyer (dalam hal ini dokter,pasti tho???)ya harus dengan keikhlasan mengakui kesalahannya,kalau suatu saat ia memang salah meresepkan(Bagaimana dokter apakah sudah siap dikritik bila melakukan kesalahan?),misalnya resep itu tidak sesuai standar misalnya aturan dosis,sifat-sifat obat yang seharusnya tdk boleh dicampur,tapi malah dipuyerkan dsb(namanya jg manusia kan wajar klu khilaf),karena itu alangkah baiknya klu praktek dokter tidak langsung memberi puyer,tapi resep saja..
Apalagi profesi selain dokter,ya harusnya ditegaskan,untuk tdk boleh meresepkan,apalagi membuat puyer sendiri.
Dalam hal ini saya sering menyaksikan sendiri,di klinik or puskesmas,bahwa bidan dan mantri pun memberi puyer,wah bener gak itu?

akhirnya bisa juga said...

ass.
pak dokter ..
saya ingin tanya , sebenarnya yang berhak menulis resep itu siapa ?
kalo kita lihat di negara2 maju dokter itu hnya mendiagnosa apa penyakit dari pasien ?
dan yang menentukan obat apa, bentuk sediaan yang bagaimana dan dosis yang tepat adalah teman sejawat ( apoteker ) dari dokter itu sendiri ?
bagaimana itu pak dokter .. mohon penjelasan nya
terima kasih ..
wassalam

Me & My Sketckbook said...

pak dokter saya mau menanggapi, memang puyer itu salah satu bentuk sediaan yang masih digunakan di indonesia,
memang ada kekurangan dan kelebihannya, memang peresepan puyer khususnya untuk anak anak banyak diresepkan oleh dokter. Apoteker dalam peracikan resep sudah mempelajari ilmu yang berkaitan tentang obat, stabilitas dan inkompabilitasnya, jadi seharusnya apoteker tahu apa saja permasalahan2 dalam resep tersebut sehingga bisa menghubungi dokter apabila ada permasalahan dalam stabilitas, kompatibilitas dan dosis sebelum meraciknya. tapi memang di sini saya masih belum tahu di Indonesia bagaimana kualitas apoteker di sini. Apoteker meracik resep berdasarkan permintaan dokter, dan bisa diketahui bahwa puyer lebih tidak stabil daripada bentuk sediaan tablet. namun untuk anak khususnya bayi, memang tidak bisa dipungkiri bahwa peresepan obat untuk bayi ada dosis khususnya, dan sediaan yang khusus untuk bayi dosis harus diperhitungkan secara teliti, perlu kerjasama antara apoteker dan dokter.
oh iya soal kebersihan, di kampus saya diajarkan selalu menjaga kebersihan dalam peracikan, dan meracik resep tidak asal campur saja.. apoteker tidak diajarkan untuk 'kemproh'.setelah selesai meracik obat mortir dan stamper selalu dicuci dengan air dan sabun sampai bersih dan dikeringkan dengan lap bersih.
saya jujur sebagai mahasiswa farmasi jadi semakin tertantang untuk membuat sediaan yang dosisnya pas untuk bayi namun juga aman dan nyaman dipakai untuk bayi. terima kasih... artikel yang cukup menarik dan semakin membuat saya termotivasi untuk semakin mempelajari bidang pendidikan yang saya ambil ini...