Wednesday, March 22, 2006

Bagaimana Dokter 'Membodohi' Pasien


Tulisan ini sebenarnya menceritakan tentang penyakit tuberkulosis paru (TB paru) atau TBC paru.

"Bu, anaknya kena flek paru ya. Ini saya obati. Minum obatnya harus sampai enam bulan, tidak boleh putus," kata seorang DSA (dokter spesialis anak).

"Kata dokter anaknya sakit apa?" tanyaku.
"Flek paru," jawab si ibu.
"Oo.. TBC," timpalku lagi, dengan nada santai.
"Haa, TBC? Masa' sih, Dok?" si ibu kaget. Mukanya agak memerah.
"Iya, flek paru itu ya TBC," jawabku, lagi-lagi dengan nada santai.

Di bawah aku ambil persis dari situsnya IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia):

Banyak sekali anak-anak yang divonis sebagai ΄flek paru΄ dan harus menjalani ΄hukuman΄ minum obat jangka lama, paling tidak hingga 6 bulan. Jika ditanyakan kepada orangtuanya apa yang dimaksud flek paru? Biasanya orangtua pasien tidak tahu, Bila ditanya lebih lanjut apakah anaknya mendapat obat yang membuat air seninya berwarna merah? Jika jawabnya "Ya" kemungkinan besar yang dimaksudkan sebagal ΄flek paru΄ adalah tuberkulosis/TB paru atau saat ini disebut TB saja.
Mengapa dokter tidak menyatakan sebagai TB?
Sebagian kalangan di masyarakat beranggapan bahwa TB bukan penyakit yang ΄bergengsi΄, Beda misalnya dengan penyakit jantung yang dianggap lebih ΄terhormat΄, Sebagian pasien tidak berkenan jika dinyatakan sakit TB. Khawatir pasien tidak dapat menerima, dokter berusaha menyamarkan penyakitnya dengan istilah flek paru. Saat ini umumnya pasien sudah berpikiran terbuka dan dapat menerima jika dinyatakan sakit TB. Sebaiknya dokter berterus terang menyatakan sakit TB tanpa menyamarkan dengan istilah flek paru yang justru tidak mendidik pasien.

Itulah sekilas tulisan dr. Darmawan Budi S, SpA(K) yang berjudul "
΄Flek Paru΄ Istilah yang Rancu: Informasi Singkat Tentang Tuberkulosis (TB) Anak". Tulisan ini kemudian mendorongku untuk tidak 'membodohi' pasien dengan istilah 'flek paru'. Kalau memang TB ya katakan saja TB. Jaman telah berubah. Pasien cukup kritis untuk mengetahui diagnosis pasti penyakitnya. Bahkan tidak jarang, penjelasan yang tidak utuh menciptakan terapi tidak adekuat. Istilah 'flek' yang kurang menakutkan, membuat pasien tidak patuh meminum obatnya. Ah, toh cuma 'flek' ini. Padahal TB harus diobati minimal enam bulan, tanpa adanya putus obat yang berisiko menciptakan resistensi kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab TB. Penderita TB yang sudah resisten (kebal) terhadap obat jauh lebih membahayakan, baik bagi dirinya sendiri (risiko perberatan dan komplikasi penyakit) maupun orang lain (jika menularkan).

Hal lain adalah: cukup sukar mendiagnosis TB pada Anak, dibandingkan dengan pada dewasa. Dengan ilmu kedokteran yang terus berkembang, dokter dan dokter spesialis anak yang tidak memperbaharui ilmunya, seringkali menggunakan perangkat yang tidak tepat dalam mendiagnosis TB pada Anak. Berlandaskan pada keluhan tidak spesifik (batuk lama, padahal seringkali batuk akibat alergi, bukan infeksi, berat badan sukar naik, dan demam hilang-timbul), ditambah gambaran Rontgen penuh 'flek' (sukar membedakan gambarannya dengan batuk-pilek biasa), langsung saja dokter mendiagnosis TB dan mengobatinya. Padahal obat TB Anak yang terdiri atas tiga kombinasi obat berbeda mempunyai efek samping, dan harus dimetabolisme di hati dan ginjal. Jika penggunaannya tidak tepat, bisa menimbulkan efek samping yang lebih buruk dibandingkan keuntungannya minum obat.

Setidaknya dokter di Indonesia bisa menggunakan panduan berikut yang mudah diakses di situs GERDUNAS TBC (Gerakan Terpadu Penanggulangan TBC Nasional) mengenai alur deteksi dini dan rujukan TB pada Anak.

Hal-hal yang mencurigakan TBC :

1. Mempunyai sejarah kontak erat dengan penderita TBC yang BTA positif

2. Terdapat reaksi kemerahan lebih cepat (dalam 3-7 hari) setelah imunisasi dengan BCG.

3. Berat badan turun tanpa sebab jelas atau tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik (failure to thrive).

4. Sakit dan demam lama atau berulang, tanpa sebab yang jelas.

5. Batuk-batuk lebih dari 3 minggu.

6. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang spesifik.

7. Skrofuloderma.

8. Konjungtivitis fliktenularis.

9. Tes tuberkulin yang positif (>10 mm).

10. Gambaran foto rontgen sugestif TBC.

Dengan setidaknya tiga dari gejala di atas, seorang anak boleh memulai terapi obatnya.

Tidak semua dokter dan dokter spesialis anak mengetahui dan mau menggunakan panduan ini. Masih banyak yang lebih mengandalkan pada pembacaan Rontgen satu posisi saja misalnya, tanpa melakukan tes tuberkulin (uji Mantoux). Padahal panduan ini disusun mengadaptasi WHO yang merancangnya khusus untuk dapat digunakan di negara berkembang, melalui berbagai penelitian dan pengujian lapangan.

Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah: obat TB GRATIS di semua Puskesmas. Ya, gratis boo, gretong, free. Tidak harus berobat ke dokter spesialis yang meresepkan obat paten dengan harga di atas seratus ribu rupiah sekali datang. Padahal penyakit ini terutama ditemukan pada sosioekonomi menengah ke bawah, yang sangat pikir-pikir kalau mau berobat. Ketiadaan biaya malah membuat sesorang tidak berobat, karena tidak mengetahui program pemerintah yang menggratiskan obat TB di seluruh Puskesmas di Indonesia, dan menimbulkan komplikasi berat seperti meningitis, TB tulang, TB milier, dan lainnya yang dapat mengancam nyawa.

Selengkapnya mengenai TB dapat dibaca di situs WHO dan TB Indonesia.

Menyambut hari TB sedunia 24 Maret ini.

18 comments:

Tonang Dwi Ardyanto said...

Salam dr Arifianto, saya komentar sedikit.

Saya lebih suka memberi istilah "blanket policy" seperti pada kasus perbankan. Hampir sama dengan sering muncul istilah "gejala xxx". Dokternya paham tidak boleh menegakkan diagnosa tanpa pemeriksaan lengkap, sehingga menyebut "gejala". Sedangkan pasiennya pun sering berusaha mencari keyakinan "tapi baru gejala kan dok". Jadilah klop, blanket policy.

Para ekonom tahu persis, kebijakan blanket policy tidak sehat, apalagi para dokter bila diterapkan pada bidang kesehatan. Masalahnya, dalam hal apakah dokter benar-benar membodohi pasien? Atau sebaliknya pasienya yang memang masih "bodoh"? Bagi saya, yang bodoh adalah kita yang berdiam diri tidak meluruskan blanket policy tersebut. Tetapi - maaf - kita juga "bodoh" kalau tergesa-gesa menilaai salah satu dari dua pihak itu yang "bodoh" atau "membodohi" pihak lainnya.

Kita tidak boleh bodoh. Ya kita, siapapun kita adanya, bukan hanya dokter, bukan hanya pasien.

Salam,
tonang

triyana said...

salam dr Arifianto

Saya sependapat dengan dokter dengan istilah flek yang disamakan dengan TB paru. Saya memiliki pengalaman pribadi, anak saya penderita asma, sering kali batuk bila terpapar dingin, es, debu (alergen lain). Saat RO dinyatakan ada infiltrat pada kedua paru. Oleh dokter yang memeriksa disebut sebagai flek. setelah kami tanyakan lebih lanjut, dokter akhirnya mengatakan kemungkinan TB. Saya merasa dokter ini menganggap kami ini mungkin semua pasien tidak akan paham dengan istilah TB padahal sekarang informasi apapun sangat mudah dicari, via internet misalnya.
Akhirnya kami sebagai orang tua mencari second opinion dari dokter anak yang lain. Hasilnya? Belum dokter kedua justru mengatakan asma dan pneumonia, bingung neh jadinya.
Akhirnya kami memutuskan untuk tes TB dengan mantoux saja tanpa nasehat dokter. Memang belum terlaksana karena sangat sulit membujuk anak kami agar mau disuntik. Kami tidak ingin dia trauma. Kesimpulannya kadang penjelasan dari dokter kadang membingungkan, sampaikan saja pada pasien hal yang sebenarnya karena tidak semua pasien "bodoh".

Salam,
Triyana

arifianto said...

Kalau memang batuknya karena asma/alergi, untuk apa di tes Mantoux? TB paru yang perlu dibuktikan dengan tes Mantoux dicurigai terutama pada anak dengan kontak TBC BTA positif pada orang-orang dewasa terdekatnya. Misalnya orangtua atau saudara kandung yg tinggal satu rumah. 'Flek" pasti dijumpai pada gambaran paru normal, karena ini adalah corakan pembuluh darah. Bersyukurlah ada flek-nya, karena berarti pembuluh darahnya masih berfungsi :-)

dr. Rizky Perdana,SpPD said...

Saya akan mencoba menjelaskan istilah diagnosa Tb paru,mudah2n dapat dimengerti oleh teman sejawat sekalian:
Istilah-istilah TB Paru

TB paru :
- BTA (+), kultur (+), radiologis (+) dan klinis (+)
- BTA (-), kultur (-),radiologis (+) dan klinis (+)
Dan ada perbaikan setelah diterapi OAT

TB paru tersangka :
BTA (-), kultur (-), radiologis (+) dan klinis (+)
Dalam 2 bulan sudah harus ditentukan TB paru atau bukan

Bekas TB paru
Riwayat TB paru, radiologis bekas TB (+), stabil serial, BTA (-) dan kultur (-)

Penderita TB paru dengan dahak (+) dan BTA (+) :
- BTA (+) 2x
- BTA (+) 1x, radiologis (+)
- BTA (+) 1x, kultur (+)

Penderita TB paru dengan dahak (-) dan BTA (-) :
-BTA 3x (-), radiologis TB paru aktif  dapat langsung diterapi
-BTA 3x (-), kultur (+)  dapat langsung diterapi

Kasus Baru
-Belum pernah mendapat OAT
-Mendapat OAT kurang dari 1 bulan

Kasus Kambuh :
-Pernah dapat OAT  sembuh, kemudian aktif lagi

Kasus gagal :
-BTA (+) setelah OAT > 5 bulan
-Berhenti berobat setelah 1 – 5 bulan OAT dan BTA (+)

Kasus Kronik :
- BTA (+) setelah pengobatan ulang dengan pengawasan yang baik
Trims

Odie said...

Salam dokter,
Saya mau tanya apa yang dimaksud dengan TB Tulang?

babykoee said...

Ass... saya mau sedikit memberikan gambaran tentang TB.. Anak saya berumur 19 bulan sewaktu dinyatakan flek paru oleh dokter di RS Bekasi..., mulanya gejala anak saya kena diare dan dirawat selama 5 hari kemudian dari hasil pemeriksaan darah, rontgen dll anak saya langsung dinyatakan terkena flek paru/ TB dan harus minum obat selama 6 bulan. Krn saya merasa kasian pada anak yg harus minum obat tiap hari selama 6 bulan,akhirnya saya memutuskan untuk konsultasi lagi pada dokter SPA di hermina bekasi dengan melakukan tes MANTOUX dan ternyata hasilnya positif juga.. dengan rasa kecewa saya terpaksa memberikan obat selama 6 bulan kepada anak saya, setelah 2 bulan minum obat kami sekeluarga hijrah ke jambi dengan di beri rujukan oleh dokter untuk berobat di jambi, Nah.. sesampainya di jambi saya melanjutkan lagi konsul dengan dokter SPA di jambi krn ada rujukan tsb dan menyelesaikan minum obat dari bulan ke tiga hingga bulan ke 6 di jambi, di akhir masa obat dokter kembali memberikan rujukan untuk di rontgen dan cek darah kembali. Dan Hasil rontgen sbb : 1. indeks kardiotoraksi kurang dari 50%, 2. Tidak tampak pelebaran aorta maupun mediastinum superior, 3. Trakhea terletak di garis tengah, 4. Kedua hilus suram, 5. Masih tampak infiltrat perihiller paracardial, 6. Corakan bronkhovaskular paru meningkat. dan kesan akhir : Infiltrat paru (+)..??? dan untuk TES darahnya sbb : WBC 11.5, RBC 4.41. HGB 12.0. HCT 36.0. MCV 81. MCH 27.3. MCHC 33.5. RDW 12.3. PLT 232. MPV 7.4. PCT 0.172L. PDW 10.3. LYM% 39.3. MON% 14.4. NEU%42.6. EOS% 3.1. BAS% 0.6. ALY% 3.8. LIC% 6.3 DAN LED : 10 mm/1jam, 36 mm/2jam. DAN AKHIRNYA DOKTER MENGATAKAN UNTUK STOP MINUM OBATNYA KARENA ALASANNYA LAJU ENDAP DARAHNYA UDAH NORMAL. YANG SAYA BINGUNGKAN HASIL DI RONTGEN MASIH POSITIF..???? INI YG BIKIN SAYA BINGUNG DENGAN DOKTER2... KLO EMANG MASIH ADA KENAPA DISURUH STOP MINUM OBATNYA. SAYA BERTANYA LAGI AMA DOKTERNYA : APA PERLU ANAK SAYA UNTUK DI TES MAUNTOX LAGI?? KATANYA PERCUMAAA DI TES MAOUNTOX KLO UDAH PERNAH DI SUNTIK BCG DAN HASILNYA NANTI PASTI POSTIF.... ANG JADI PERTANYAAN SAYA SEKARANG.. SEBENARNYA ANAK SAYA BENAR KENA TBC ATAU TI DAK SIH..??? MOHON DOKTER2 DISINI MEMBERIKAN SARANNYA, SAYA SUDAH MENJELAJAHI INTERNET UNTUK MENCARI INFORMASI YANG AKURAT TENTANG TBC. ... APABILA PERLU SAYA AKAN KIRIM KAN SEMUA HASIL UJI LAB DAN DIAGNOSANYA DALAM BENTUK SCAN

Mama Rafayra said...

Gak sengaja de gugling ttg TBC tulang dan menemukan tulisan disini.

Kebetulan De mantan penderita TB dan baru aja nulis tentang TBC tulang secara lebih lengkap di blog.

Liat disini yah: http://www.masrafa.org/2008/09/03/tbc-tulang/

zalfaaisha said...

met malam dok....
anak saya baru berusia 7 bulan , berat badannya selama 3 bulan terakhir mengalami penurunan, terakhir di timbang hanya 6,1 kg, karena penasaran saya datang ke salah satu dokter spesialis yang dianggap bagus di daerah tempat sy tinggal,tanpa banyak bertanya lagi dokter menyuruh anak saya di test mantoux dan rontgen dan hasilnya baru diketahui 2 hari kemudian, terus terang saya bingung dengan cara dokter ini mendiagnosis, dia tidak menanyakan apa maksud saya datang, dia hanya melihat bb dan umur anak kemudian dia tanya apakah dirumah ada pembantu yang batuk, ya..saya jawab memang ada setelah tiu dia menyuruh tes mantoux dan rontgen....dan hasilnya dinyatakan positif plek paru..atau TBC, terus terang saya kaget dan merasa tidak enak, karena ingin tahu lebih banyak saya berusaha bertanya lebih lanjut...tp sayang dokternya jutex ,saya malah dimarahi, pertanyaan saya kalah penting dengan jam prakteknya yang akan berkurang klu melayani pertanyaan saya, saya sungguh kecewa, saya putuskan untuk pindah dokter...hanya maslahnya saya khawatir dengan pengobatan yang dilkaukan oleh dokter yang berbeda apakah akan menghambat pengobatan yang sedang berjalan, waktu 6 bulan adalah waktu yang lama, saya butuh keyakinan dengan saran atau nasehat dari dokter yang bisa di ajak kerja sama,saya kan bayar cukup mahal lo dan ga gratisan...., gmn menurut dokter arif??????

fitriyarahmawati said...

anak saya sejak bayi lahir sdh "berlangganan"dg dr SPA X,tiap kali priksa ISPA dokter hanya bilang anak saya baik2 aja tanpa dipriksa lbh lanjut,tau-tau....stlh usia anak saya 7,5 bl dokter br bilang anak sy kena TB.KENAPA????dokter br blg sekarang?????duh kecewanya saya ketika sy merasa dibohongi selama ini...

fitriyarahmawati said...

salam hangat to dokter2..
saya jg heran dg dokter yang merawat anak saya sejak bayi lahir,knp sudah mjd "langganan" cukup lama tp br MENGATAKAN anak saya kena TB stlh sy cukup "keras"dlm menanyakan apa yg terjadi dg anak saya.setiap anak sy batuk pilek/ISPA SELALU mengatakan anak saya BAIK-BAIK SAJA!apanya yang baik????????????????????lhawong anak saya kena TB kok bilang baik???tolong donk para dokter...sampaikan apa yang sebenarnya terjadi bila memang sdh diketahui atupun mash suspect,sehingga kamipun sbg orang tua pasien tidak DOWN ketika hrs mendengar DIAGNOSA yg ada.sekarang tdk ada pasien bodoh,tp kami takut dg info2 yg membodohi kami,yg pada akhirnya akan melunturkan semangat kami untuk selalu berkonsultasi dg dokter2.
trims

fitriyarahmawati said...

salam hangat to dokter2..
saya jg heran dg dokter yang merawat anak saya sejak bayi lahir,knp sudah mjd "langganan" cukup lama tp br MENGATAKAN anak saya kena TB stlh sy cukup "keras"dlm menanyakan apa yg terjadi dg anak saya.setiap anak sy batuk pilek/ISPA SELALU mengatakan anak saya BAIK-BAIK SAJA!apanya yang baik????????????????????lhawong anak saya kena TB kok bilang baik???tolong donk para dokter...sampaikan apa yang sebenarnya terjadi bila memang sdh diketahui atupun mash suspect,sehingga kamipun sbg orang tua pasien tidak DOWN ketika hrs mendengar DIAGNOSA yg ada.sekarang tdk ada pasien bodoh,tp kami takut dg info2 yg membodohi kami,yg pada akhirnya akan melunturkan semangat kami untuk selalu berkonsultasi dg dokter2.
trims

fitriyarahmawati said...

salam hangat to dokter2..
saya jg heran dg dokter yang merawat anak saya sejak bayi lahir,knp sudah mjd "langganan" cukup lama tp br MENGATAKAN anak saya kena TB stlh sy cukup "keras"dlm menanyakan apa yg terjadi dg anak saya.setiap anak sy batuk pilek/ISPA SELALU mengatakan anak saya BAIK-BAIK SAJA!apanya yang baik????????????????????lhawong anak saya kena TB kok bilang baik???tolong donk para dokter...sampaikan apa yang sebenarnya terjadi bila memang sdh diketahui atupun mash suspect,sehingga kamipun sbg orang tua pasien tidak DOWN ketika hrs mendengar DIAGNOSA yg ada.sekarang tdk ada pasien bodoh,tp kami takut dg info2 yg membodohi kami,yg pada akhirnya akan melunturkan semangat kami untuk selalu berkonsultasi dg dokter2.
trims

wee chan said...

Salam hangat dokter sekalian
Bagaimana cara membujuk pasien dewasa agarr tetap rutttin minum obat..truz tterang ssaya kualahan
Usia ayah saya 70 tthn...memang hsl diagnosa rontgen. Menunjukkkan addanya flek2..
Apkh settiap bercak menunjukkan indikasi TB???

Teh Siti said...

makasih infonya dok,
anak saya juga divonis flek paru ..hmmm sudah minum obat merah 9 bulan duh capek nya.... tapi sampai sekarang masih ada batuk-batuk mudah2an bukan karena flek paru (tbc)

maulida said...

dok, waktu anak saya berusia 20 hari dia dirawat dan di diagnosa broncho pneumonia, setelah pulang dari RS kata dokter tidak perlu ada pengobatan lagi. sekarang anak saya 13 bulan, 1 bulan yang lalu dia dirawat karena muntah2, tanpa panas pilek atau batuk, lalu dokter SPA minta pengechekan total, ROntgen ,check darah dan mantoux hasilnya rontgen BRoncho Pneumonia sama kaya dulu hasil cek darah dan mantoux (-) dan dokter bilang tidak perlu ada perawatan, lalu 3 hari yang lalu anak saya check lab dengan diagnosa thypus dan led 45, lalu sya minta dirawat di RS kemarin lagi berhubung dokter yang kemarin menanganinya cuti jadi dialihkan kedokter SPA yang lain, dokter meminta check total lagi, rontgen, dan cek darah, baru 1 hari belum ada perawatan LED sudah turun 35, dengan hasil rongten yang sama (rongten yang kemarin) dokter bilang flek, dan harus therapi 6 bulan, yang saya bingung dengan 1 hasil rongten kok dokter beda pendapat? kira2 therapi broncho pneumonia dengan flek sama tidak? bila perlu saya scan hasil rongten dan lab. mohon penjelasannya dok!

arifianto said...

Komentar saya untuk Maulida:
1. Pneumonia yang dialami usia 20 hari termasuk pneumonia neonatal, berbeda dengan pneumonia pada bayi > 1 bulan.

2. Yang sekarang apakah pneumonia atau TB paru? Kalo pneumonia, anaknya sesak. Kalo TB: diagnosis utamanya berdasarkan gejala. Mantoux dan Rontgen membantu diagnosis.

3. Minta third opinion saja ke dokter anak lain, atau ke SpA subspesialisasi paru anak.

Apin

Richard Wenin said...

Salam dok, saya punya pengalaman serupa, dari usia 18 Tahun saya mulai ganti dokter dari dokter anak ke dokter spesialis paru, saya sering tanya ke dokter spesialis paru saya saya ini kena penyakit apa dan beliau bilang tidak apa2 padahal saya diberi obat sejenis inhaler, seretide dan terakhir ini Turbuhaler Symbicort, ada 1 hal yang ingin saya tanyakan turbuhaler saya angka dosisnya tidak berubah dan obatnya tidak terasa padahal saya sudah memakainya sesuai petunjuk dokter saya yaitu putar ke kiri sampai berbunyi klik lalu putar ke kanan 1 kali baru dihirup, apa saya salah memakainya?mohon bantuannya

Richard Wenin said...

Salam dok, saya punya pengalaman serupa, dari usia 18 Tahun saya mulai ganti dokter dari dokter anak ke dokter spesialis paru, saya sering tanya ke dokter spesialis paru saya saya ini kena penyakit apa dan beliau bilang tidak apa2 padahal saya diberi obat sejenis inhaler, seretide dan terakhir ini Turbuhaler Symbicort, ada 1 hal yang ingin saya tanyakan turbuhaler saya angka dosisnya tidak berubah dan obatnya tidak terasa padahal saya sudah memakainya sesuai petunjuk dokter saya yaitu putar ke kiri sampai berbunyi klik lalu putar ke kanan 1 kali baru dihirup, apa saya salah memakainya?mohon bantuannya

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes