The “Last Wish” Project

Apabila Anda ditanya: “if you knew that you’re going to die tomorrow, what would be your last wish”? Saya yakin Anda akan menjawab: banyak beristighfar, berdoa agar mendapatkan husnul khotimah, meminta maaf pada semua orang, melunasi hutang-hutang, dan senantiasa berzikir. Sebenarnya jawabannya kurang tepat, karena yang ditanya adalah “apa harapan terakhir”.

Bagaimana jika yang ditanya adalah seorang anak berusia 3 tahun dengan leukemia akut yang tak respon dengan kemoterapi berulang? Ia sudah menghabiskan berbulan-bulan waktunya di RS, dengan pengambilan darah berulang, rambut rontok, mual dan muntah tak terhitung, dan mulai terbiasa dengan rasa nyeri. Jawabannya adalah: ingin pergi ke Taman Mini Indonesia Indah. Sepupunya mengatakan TMII adalah tempat hiburan menyenangkan, sedangkan ia belum pernah mengunjunginya, karena ia tinggal selama ini di pelosok Banten dan berada di Jakarta karena dirujuk untuk keperluan kemoterapi.

Lalu apa jawaban seorang anak 5 tahun dengan tumor otak yang berlokasi dekat batang otak dan sewaktu-waktu bisa menekan pusat napasnya dan... berhentilah ia bernapas? Sementara kedua tungkainya sudah tak mampu berjalan. Ternyata ia menjawab ingin bertemu dengan penyanyi idolanya, karena selama ini waktunya di RS sebagian dihabiskan dengan menonton kanal YouTube yang menayangkan selebritas cantik ini.

Seorang gadis berusia 13 tahun dengan Tuberkulosis diseminata* juga ditanya apa yang ia inginkan? Kondisinya terbaring lemah dengan oksigen melilit hidungnya, napas tersengal, dengan kuman TB yang menggerogoti paru-paru, masuk ke cairan otak, dan menimbulkan perlengketan di ususnya. Ia menjawab: ingin punya handphone yang bisa memutar video ceramah agama dan murottal. Ayahnya yang bekerja sebagai buruh bangunan dan ibunya yang baru pulih dari stroke tidak punya ponsel. Apalagi smartphone.

Lain lagi jawaban seorang ibu berusia 56 tahun dengan kanker leher rahim stadium 4. Ia ditemani oleh putri semata wayangnya selama menjalani perawatan di RS selama ini. Padahal sang putri pun sebenarnya punya rencana sendiri: segera menikah. Dan tentu jawaban ibu yang kondisinya sudah tak memungkinkan untuk dibawa-bawa ke luar RS ini adalah: ingin menghadiri pernikahan putrinya di gedung dengan ratusan tamu undangan, bersanding di depan dengan calon menantu dan besannya.

Wajarkah jika semua orang ini memiliki harapan terakhirnya masing-masing? Konsep Paliatif memungkinkannya, meskipun sebagian dianggap tidak memungkinkan untuk dibawa-bawa ke luar RS dengan kondisi kesehatannya. Padahal ilmu kedokteran pun belum mampu memulihkannya sampai ke kondisi sembuh seperti sebelumnya. Maka sebagian harapan terakhir ini bisa dipenuhi dengan persiapan matang melibatkan dukungan penuh keluarga.

Tiap orang ingin mati dalam keadaan bahagia dan “bermartabat”. To die in dignity. Maka tanyakan apa keinginan mereka yang belum terpenuhi, dan berusaha mewujudkannya.

Keterangan foto: mengenang gadis dalam kisah ketiga yang baru saja meninggalkan dunia ini. Terima kasih donatur yang sudah membelikan smartphone untuknya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan keteguhan dalam keimanan.

*TB diseminata/disseminated TB: TB yang mengenai lebih dari satu organ, biasanya kuman menyebar lewat aliran darah.

Comments

Popular posts from this blog

Sariawan itu obatnya apa? Nistatin? Emangnya #sariawan itu penyakit akibat infeksi #jamur? Kan nistatin obat jamur. Bener nggak sih?

Selamat Merokok!

Demam lebih dari 3 hari harus diperiksakan ke laboratorium?