Friday, April 03, 2015

Belajar dari Orangtua Shalih

Menjadi seorang dokter anak adalah sebuah nikmat untuk saya. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari saya bertemu dengan anak-anak yang sakit dalam berbagai bentuk. Mulai dari yang paling ringan, sekedar batuk-pilek saja, sampai dengan yang berat, semacam infeksi susunan saraf pusat atau radang paru-paru berat yang membutuhkan perawatan di ruang rawat intensif. Tidak hanya ini, kondisi keseharian anak-anak ini pun bermacam-macam. Tidak sedikit yang berasal dari keluarga miskin papa, sehingga ketika menghadapi anaknya yang harus dirawat, orangtuanya harus meninggalkan pekerjaannya untuk sementara dan otomatis kehilangan sumber penghasilannya, yang sebenarnya dalam kondisi sehari-harinya pun belum tentu mencukupi untuk hidup esok hari. Kondisi ini kadang diperumit dengan anak-anak mereka yang mengalami keterlambatan perkembangan atau palsi serebral. Mereka harus disuapi, dimandikan, diawasi sepanjang waktu, kadang mengalami episode kejang berulang, yang semuanya membutuhkan banyak waktu dan perhatian. Kondisi ini berlangsung bertahun-tahun, karena anak-anak ini memanh tidak dapat berkembang layaknya anak-anak normal lainnya. Semua ini selalu membuat saya bersyukur dengan kondisi yang saya dan keluarga alami. Kami memiliki anak-anak yang sehat tidak kurang suatu apa pun.
Hal lain yang membuat saya bersyukur adalah beberapa orangtua pasien yang saya jumpai. Ya, mereka memberikan banyak pelajaran kepada saya selaku sesama orangtua. Mereka adalah para orangtua yang shalih. Ada beberapa kisah.
Beberapa tahun yang lalu saat masih menjalani pendidikan spesialisasi, saya merawat seorang anak berusia 2 tahun dengan kanker di otaknya. Awalnya gadis kecil ini secara bertahap menurun kemampuan berjalannya. Singkat cerita, tumor ganas menghuni lokasi yang dekat dengan batang otaknya, dan ia dirawat di ruang rawat intensif dengan bantuan ventilator karena tumot menekan batang otak yang merupakan pusat napas.
Ibu gadis kecil ini adalah seorang hafidzah--hafal Quran 30 juz. Ayah si gadis adalah pria shalih yang meskipun tidak berlatar pendidikan khusus agama, tetapi kadang menjadi imam shalat berjamaah di masjid dengan hafalan Quran yang cukup baik. Allah memang mengasihi hamba-hamba-Nya yang shalih dan mengujinya. Saya terkesan dengan ketabahan dan kepasrahan mereka menghadapi anak tercintanya, hingga sang gadis menemui ajalnya. Tidak ada kesedihan berlebihan atau penyesalan menghadapi ujian itu. Hanya ayat-ayat Quran yang senantiasa terlantun dari lisan sang Ayah saat menemani gadis ciliknya. Bocah ini meninggal di hari Jumat. A good day to die.
Beberapa pekan lalu, saya menjumpai lagi pasangan orangtua shalih. Curahan hati sang bunda saya ceritakan di bawah. Saya sudah mendapatkan ijin darinya. Yang membuat saya terkesan adalah kepasrahan total sang bunda ketika saya harus menceritakan hasil CT Scan putrinya. Wahai Ibu, saya belajar banyak dari Ibu dan suami. Semoga Allah memberikan kesembuhan untuk ananda dan mengangkat derajat Ibu dan keluarga. Terima kasih atas pelajaran yang sudah diberikan kepada saya, akan arti hidup yang sesungguhnya adalah penyerahan diri kepada Allah semata.
Inilah curahan hatinya...
"Sofiyyah Qurrota Aini
Dalam nama ada doa, begitu juga dengan namamu,kami berharap engkau menjadi perempuan seperti Sofiyyah binti Huyay.ummul mukminin dari kalangan yahudi yang mungil, cantik dan cerdas.lalu menjadi penyejuk mata ummi dan abah.
"Aini tau ga? Kamu itu Hadiah terindah dari Allah", itulah yang selalu kubisikkan padamu di malam-malam kau jelang berbaring.dan matamu yang indah akan berkejab kejab dengan sesungging senyum yang lebar.aku tau kamu bahagia.
Seperti namamu, engkau menjadi anak yg mungil,cantik,cerdas, ceria dan sholehah. Bukan hanya yg ummi rasakan, tapi juga dirasakanoleh teman dan guru-gurumu.harapan besar terbentang di hadapanmu. Apalagi ketika 3 bulan lalu kau meminta untuk tidak meneruskan sekolah. "Aini mau apa?",tanyaku. "Aku mau belajar tahfidz dan bahasa arab aja Mi". Jawabmu tegas.
Dan seperti di sekolah TK dan SD mu,di tempat kau mondok pun engkau jadi penyejuk mata ustadz dan ustadzahmu.
Namun itu semua hanya berlangsung sekitar 3minggu. Bermula ketika muntahmu makin menghebat dan fisikmu yang semakin melemah."ada apa dengan anakku?dokter hanya mendiagnosis dia menderita gastritis dan typhus,tp kenapa kondisinya semkin melemah? Semakin sering tidur? Penglihatan yang kabur dan gelisah setiap malam.ada apa dengan dirimu cintaku?.tapi, subhanallah, tak pernah ku dengar satu kata keluhan pun dari bibirmu.kau hanya meringkuk sambil memeluk kedua lututmu."pusing nak?",dan kau hanya mengangguk.
Atau kau pijat pijat sendiri tangan dan kakimu. "Kenapa mba?pegel ya?",dankamu hanya menjawab "iya". Ketika setiap malam kau gelisah tidak bisa tidur dan ummi berusaha nemenin,kamu cuma bilang,"ummi ga usah bangun, tidur aja". Pada umurmu yang baru 7 tahun,kau simpan sendiri penderitaan sakitmu.Subhanallah
3 minggu sudah sejak vonis itu ummi dan abah dengar. Medulla Blastoma. Nama asing yang meluluhkan lantakkan hati ummi dan abah. Mengguncang gunung harapan, mengaburkan mimpi indah dan menciptakan sungai sungai di kedua mata kami.
Sofiyyah Qurrota Aini
Perempuan mungil,cantik dan cerdas penyejuk mata kami. Engkau memang hadiah terindah dari Allah. Tiap kali ummi membopongmu,menyuapimu,memandikanmu,menyelimutimu, ummi rasakan kebahagiaan dibalik hati ummi yang menangis. Engkaulah anak pilihan Allah di antara jutaan anak lain di dunia ini.Allah pilihkan engkau untuk menjadi ladang pahala ummi dan abah.Allah pilihkan engkau untuk mengajari ummi dan abah arti kesabaran dan keikhlasan.Engkau memang bukan milik kami,engkau hanya titipan yang harus kami jaga demi kebahagiaan akhirat kami.
Ketegaranmu adalah ketegaran kami juga nak.
Perjuangan kita di dunia ini baru dimulai nak ,mari kita berjuang bersama-sama untuk meraih janji Allah terhadap orang-orang yang sabar.Surga Firdaus.
Amiin.."

No comments: