Thursday, August 20, 2015

Overdiagnosis alergi dan dermatitis atopi pada anak

Posting tadi pagi tentang baby acne dan milia ternyata memunculkan beberapa pertanyaan terkait alergi. Ternyata sulit ya membedakan kedua hal yang wajar itu pada bayi dengan alergi? Atau dalam pengalaman sehari-hari, tidak sedikit yang didiagnosis dokter sebagai alergi. Alergi itu sangat luas. Dan ada satu alergi yang secara spesifik saya tangkap dari semua komentar: alergi makanan. Lebih spesifik lagi: alergi susu. Hmmm, ternyata kurang spesifik: alergi protein susu sapi!

Yaa, alergi makanan itu sangat luas. Bagaimana mendiagnosisnya? Dengan "skin test" (Prick) alias uji kulit? Atau pemeriksaan darah (kadar IgE RAST)? Ternyata jawabannya adalah: kedua tes tersebut bukanlah uji yang paling akurat untuk menentukan diagnosis alergi makanan! Lalu apa tes alergi terbaik? Ialah uji "eliminasi-provokasi". Apa maksudnya? Ketika seorang anak "dieliminasi" makanan yang dicurigai mencetuskan alergi (misalnya saja makanan yang mengandung protein susu sapi) maka gejala-gejala yang nampak hilang. Dan ketika "diprovokasi" dengan bahan makanan serupa, maka gejala-gejalanya muncul kembali.

Ada beberapa artikel yang saya "capture" di bawah (ada di Facebook saya). Salah satunya menjelaskan bahwa anak-anak yang sudah didiagnosis alergi berdasarkan pemeriksaan laboratorium ataupun tes kulit, ketika dilakukan "eliminasi-provokasi", ternyata hasilnya berbeda. Anak tidak menunjukkan adanya alergi makanan. Fakta ini lalu memunculkan beberapa penelitian yang menyimpulkan: kemungkinan sudah terjadi overdiagnosis alergi pada anak.

(Lebih detil lagi harus dijelaskan perbedaan alergi yang IgE-mediated dan non-IgE-mediated, tapi saya putuskan untuk tidak saya bahas sekarang)
Lalu bagaimana jika alergi makanan ini bermanifestasi di kulit sebagai dermatitis atopi? Ingat, reaksi alergi makanan tidak "melulu" di kulit, tetapi bisa di saluran cerna (diare, muntah, BAB bercampur darah) dan saluran napas (ini salah satu yang paling ditakutkan: sesak napas!). Bagaimana membedakannya dengan baby acne dan milia yang sudah dibahas?

Nama lain dermatitis adalah eksim/eksema. Penyebab dermatitis atopi seringkali tidak diketahui, dan ini dapat menyulitkan, karena prinsip terpenting penanganan alergi adalah: hindari pencetusnya. Bagaimana pencetus dapat dihindari, jika dikenali pun tidak? Dalam banyak kasus, alergi makanan adalah tersangka utamanya. Sehingga orangtua memantang banyak jenis makanan bagi anaknya. Meskipun pada akhirnya disimpulkan alergi makanan ternyata bukan pencetus dermatitis atopinya.

Bagaimana membedakan dengan baby acne dan milia? Dermatitis atopi dapat terjadi di banyak lokasi, mulai dari wajah, lengan, tungkai, sampai perut dan punggung. Usia termuda adalah beberapa minggu sejak lahir. Jarang dipikirkan muncul sejak baru lahir. Dermatitis atopi juga cenderung gatal, sehingga pada anak yang lebih besar akan terlihat menggaruk.

Prinsip penanganan nomor 1 adalah sebisa mungkin mencari pencetusnya. Lalu pelembab dapat diberikan pada kulit yang kering, lokasi mudah terjadi dermatitis. Pada kondisi meradang dan membuat gatal, krim steroid dapat diberikan, misalnya hidrokotison. Anak yang senantiasa menggaruk dan berpotensi menjadi luka boleh diberikan antihistamin minum. Penanganan lain bisa dibaca di situs-situs kesehatan terpercaya.

1 comment:

Aisya Riza said...

Assalamualaikum. Dok, saya mau bertanya. Anak saya umur 2 tahun mengalami alergi berupa dermatitis atopi, gatal pada kulit, dan bintitan dimatanya. Oleh dokter diresepkan obat xyzal yg katanya untuk mencegah supaya alerginya tidak berkembang menjadi asma. Tapi saya jadi ragu untuk meminumkannya kepada anak saya karena setelah saya baca petunjuk pemakaian obatnya, obat ini digunakan untuk umur 6 tahun keatas.
Yang mau saya tanyakan perlukah saya berikan obat itu untuk anak saya dok? Betulkah kalau tidak minum obat xyzal ini, alergi anak saya bisa berkembang menjadi asma? Terima kasih sebelumnya dok.. :)