Thursday, August 20, 2015

Seputar Penis Bayi dan Balita

Anda baru saja memiliki bayi laki-laki, padahal tiga anak sebelumnya adalah perempuan. Bingung dengan organ pembeda di kemaluan kakak-kakaknya? Bertanya saja pada sang ayah. Hehehe, belum tentu ia pun fasih merawat penis bayinya.

Berikut adalah beberapa hal yang sering ditanyakan dan jawabannya.

1. Menyunat bayi saat baru lahir? Ah tidak! Tidak tega. Kakek-neneknya pun tidak setuju. Kasihan, masih kecil, kata mereka. Ayahnya saja disunat saat kelas 4 SD. (Ngomong-ngomong, pada usia berapa Anda dikhitan?) Nanti saja saat sudah mengerti dan bisa memutuskan sendiri. Sekaligus bisa diadakan "selametan", kata Ayahnya.
Mana yang lebih baik sebenarnya, menyunat saat masih bayi kecil atau menunggu besar saja?
Khitan atau sunat alias sirkumsisi tidak hanya sekedar tindakan medis yang memiliki manfaat pada laki-laki. Tapi ada latar belakang budaya (siapa yang disunat menjelang SMP, orang Padang, Sunda, atau Jawa?  ), agama, dan tentunya indikasi medis. Penelitian yang cukup kuat menunjukkan sirkumsisi pada usia bayi (sebelum satu tahun) terbukti mengurangi risiko infeksi saluran kemih (ISK). Saya menjelaskan lebih detil di buku saya "Orangtua Cermat, Anak Sehat". Ya, salah satu faktor risiko ISK adalah mengumpulnya bakteri di bawah kulit kulup penis, ditambah faktor lainnya seperti penggunaan popok sekali pakai, yang masuk melalui uretra ke dalam kandung kemih. Nah, sirkumsisi atau khitan membuang kulit kulup penis (foreskin) ini, sehingga risiko ISK menjadi jauh lebih minimal.
Ada kawan yang mengkhitan bayinya sebelum meninggalkan tempat bersalin saat baru lahir, ada yang mengkhitan pada usia bayinya beberapa bulan setelah si bayi mengalami ISK dan diobati, dan anak laki-laki saya sendiri dikhitan saat usianya belum genap 2 bulan.

2. Apakah harus dengan bius umum (tindakan sirkumsisi pada bayi), atau boleh dengan bius lokal? Ada dokter yang tidak mengijinkan bius/anestesi lokal ketika mengkhitan bayi, karena alasannya masih kecil.
Hmmm, sebenarnya tidak ada masalah dengan menyunat bayi, bahkan sejak baru lahir, dengan tindakan bius lokal. Bahkan berdasarkan pengalaman, tindakan pembiusan umum lebih "ribet", karena harus memeriksakan laboratorium lengkap sebelum obat-obat anestesi dimasukkan, ada juga yang meminta pemeriksaan ronsen dada (terjadi paparan radiasi sinar X), dan tentunya biaya yang lebih mahal.

3. Penis bayi kan cenderung sempit kulupnya, sehingga tidak bisa ditarik dan terlihat "kepala"-nya (glans penis). Apakah ini tergolong fimosis? Lalu haruskan rutin ditarik kulupnya saat membersihkannya sambil mandi atau ketika mencebokinya?
Jawaban yang pertama adalah: kalau begitu semua penis bayi fimosis dong?? Padahal seiring bertambahnya usia, foreskin akan melebar dan makin longgar, sehingga bisa ditarik dengan relatif mudah (bagi yang belum disunat).

Bagaimana membedakannya dengan fimosis?

Mari kita lanjutkan.. Umumnya bayi laki-laki terlahir dengan kulup penis (foreskin) yang relatif sempit, sehingga tidak dapat ditarik sampai terlihat seluruh "kepala"-nya (glans penis). Kecuali bayi yang terlahir dengan kelainan seperti hipospadia.
Nah, tentunya tidak semudah itu menyimpulkan seorang bayi fimosis, bukan? Ada yang menyebutkan fimosis jika seiring usia foreskin tetap sulit untuk ditarik sampai membebaskan glans. Ada juga yang mengatakan fimosis ketika ujung penis sering menggelembung terlebih dulu ketika bayi pipis, karena sempitnya ruang untuk memancarkan air seni secara langsung. Dan diagnosis fimosis makin menguat ketika bayi mengalami ISK, apalagi sampai berulang.


Apakah orangtua harus rutin membersihkan glans penis, dengan cara menarik foreskin semaksimal mungkin, untuk mengurangi risiko berkumpulnya bakteri dalam jangka panjang? Ini yang ditanyakan mereka yang belum mau mengkhitan bayinya.
Tidak, jawabannya adalah tidak. Membersihkan penis bayi ya biasa saja, dengan mengalirkan air. Menceboki saat baru pipis dan selagi mandi. Tidak perlu menarik-narik foreskin. Tindakan ini berisiko melukai glans dan foreskin, karena memaksanya meregang. Gesekan dan iritasi bisa terjadi, dan infeksi justru makin mungkin timbul akibat luka. Salah satunya adalah balanitis (peradangan di foreskin dan berpotensi menjadi infeksi bakteri).

Ada yang menanyakan: ia melihat butiran seperti lemak putih/kekuningan di bawah foreskin, dan terjadi berulang-ulang. Apakah ini smegma?
Betul, produk alamiah foreskin ini adalah suatu hal yang wajar ditemui. Pada tindakan sirkumsisi, sebelum memotong foreskin, smegma harus dibersihkan sampai bersih benar, baru foreskin dipotong.

Segini dulu ya

No comments: