Wednesday, December 09, 2015

Rubella jangan dianggap biasa saja

Akhir-akhir ini tulisan saya banyak berkisah tentang penolakan terhadap imunisasi. Mudah-mudahan saja yang baca tidak bosan. Alasannya memang 1 bulan terakhir kasus-kasus yang saya temui terkait dengan penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Misalnya saja satu kisah seorang ibu dengan 5 anak. Ia dan suaminya yang sudah paruh baya membawa anak kelimanya yang masih batita. Rubella. Itu diagnosisnya ketika saya melihat ruam-ruam merah di kulitnya. Saya jelaskan bahwa penyak...it ini tidak membahayakan si anak.
"Imunisasinya lengkap?" tanya saya. Pertanyaan ini mulai otomatis terlontar ketika berhadapan dengan ibu-ibu berhijab dan bergamis lebar (mohon maaf, tidak bermaksud menggeneralisir).
Si ibu mulai tersenyum salah tingkah, sambil melirik suaminya. "Anak ini tidak diimunisasi sejak lahir." Jawaban yang paling tidak saya harapkan hari itu.
Jadi dari kelima anaknya, empat orang yang teratas sudah menjalani imunisasi rutin. Tapi si batita yang berjarak jauh usianya dari kakak-kakaknya ini justru tidak diimunisasi.
"Ada yang sedang hamil muda di rumah?" tanya saya lagi. Pertanyaan standar tiap kali menghadapi pasien rubella.
"Kebetulan kakaknya yang paling besar sedang hamil beberapa minggu. Dan dia sering membantu mengasuh adiknya ini."
Jawaban kedua yang paling tidak ingin saya dengar hari itu. Saya langsung menyerocos menjelaskan risiko sindrom rubella kongenital yang menyebabkan cacat seumur hidup pada janin yang terinfeksi rubella saat ibunya hamil di tiga bulan pertama.
Respon pasangan suami-istri ini cukup cepat untuk memutuskan mereka akan segera mengejar ketinggalan imunisasi si bontot beberapa saat nanti. Respon akhir yang membuat saya senang. Setidaknya menetralisir dua "kabar buruk" sebelumnya.
Inilah fakta yang cukup banyak. Awalnya orangtua cukup rajin melengkapi imunisasi anak-anaknya. Tapi ketika anak mereka lahir dalam 2 tahun terakhir, kampanye hitam antivaksin masuk ke dalam telinga mereka dan membuatnya tidak masalah untuk tidak memberikan imunisasi bagi sang bayi.
Semoga tidak ada lagi kasus-kasus serupa. Kasus yang berisiko melahirkan bayi-bayi dengan cacat seumur hidup, semata-mata akibat fitnah terhadap imunisasi.

No comments: