Friday, January 22, 2016

Selalu Ada Cara untuk Mensyukuri Nikmat

Saya bersyukur bisa bertemu dengan anak laki-laki itu, di ruang praktik. Bocah berumur 6,5 tahun ini membawa dua buah buku berbahasa Inggris. "Our Body" salah satu judulnya. Anak kelas 1 SD sudah lancar membaca buku berbahasa Inggris? Batinku kagum. Teringat anak-anakku yang berusia tak jauh berbeda dengan anak ini, tapi dengan kemampuan membaca yang masih di bawahnya. Saya juga seringkali dibuat terkesan dengan anak-anak balita yang lancar bercakap-cakap dalam bahasa Inggris fasih. Saya sendiri sampai sekarang belum mengajarkan bahasa Inggris ke anak-anak. Kadang-kadang membaca linimasa teman-teman di Facebook yang mengisahkan kehebatan anak-anaknya membuat saya terus terkesan. Mulai dari hapalan Qur'an mereka, kemampuan matematika dan sainsnya, sampai keunggulan dalam sosialisasi di masyarakat.
"Umur berapa anaknya mulai bisa membaca?" tanya saya
"18 bulan," jawab si Ibu. Ia lalu menceritakan kemampuan anaknya yang unik dan ketertarikannya pada huruf dan angka, sehingga si bocah bisa membaca sendiri.
"Coba tanya ke dia, Dok, nanti mau kuliah di mana?" ajak si Ibu
Saya mengikuti ajakannya.
"Di University of Tokyo", jawab si anak mantap.
"Sudah pernah tes IQ?" tanya saya lagi.
"IQ-nya 136," jawab Ibu.
Anak laki-laki kelas 1 SD ini sudah punya tujuan di mana ia akan kuliah. Saya sendiri baru memantapkan akan mengambil S-1 di ITB dan melanjutkan ke MIT (Massachussets Institute of Technology) di usia SMU. Meskipun takdir mengantarkan saya menjadi dokter. Dua universitas impian saya tidak tercapai.
Saya kemudian teringat dengan anak-anak berkondisi berbeda dengan anak hebat ini. Anak-anak yang sehari-hari saya jumpai di ruang praktik. Mereka dengan keterlambatan perkembangan, palsi.serebral, sindrom Down, dan pasca meningitis/ensefalitis. Anak-anak yang hanya bisa terbaring telentang tanpa mampu tengkurap. Mereka yang tak mampu menjaga postur lehernya ketika badannya ditegakkan. Bocah-bocah dengan postur tubuh kaku. Mereka yang sepanjang hidupnya bergantung dengan orang lain. Susunan saraf pusatnya tidak normal layaknya anak-anak lain. Ukuran otaknya lebih kecil dibandingkan teman-teman sebayanya. Bahkan beberapa harus menghadapi kejang berulang yang hanya terkontrol dengan obat antikejang. Orangtua anak-anak ini tak terpikirkan anaknya akan bersekolah di mana dan apakah kelak bisa diajari membaca. Mereka berusaha semampunya mendampingi anak-anaknya menjalani fisioterapi, terapi sensori integrasi, terapi okupasi, sampai terapi wicara. Banyak juga yang nutrisinya tak tercukupi, sampai jatuh ke gizi buruk. Para orangtua dari anak-anak spesial ini harus mencari nafkah ekstra untuk ongkos transportasi pengobatan anak-anaknya, sambil mendampinginya sepanjang waktu.
---------------------------------------------------------------
"Anaknya dibawa fisioterapi rutin ya Bu." Seorang dokter mengajak ibu di hadapannya bercakap-cakap.
"Iya Dok, tapi jangan yang jauh-jauh ya. Saya tidak punya ongkos," jawab Ibu. Di meja periksa terbaring seorang anak perempuan berusia 10 tahun dengan ukuran tubuh serupa anak berusia 4 tahun. Kedua lengan dan kakinya kaku. Tanda si anak sudah bertahun-tahun mengalami palsi serebral, tapi kurang perawatannya.
"Ibu mertua saya bilang, taruh saja anak ini di panti asuhan." Ia melanjutkan. Matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi saya tidak mau. Meskipun pekerjaan saya hanya mengupas bawang tiap hari, tapi saya tetap ingin mengurus anak saya." Si.Ibu mulai menggendong anaknya. Ke mana-mana ia menggendong putrinya tercinta.
"Iya Bu. Ini tabungan Ibu untuk di akhirat kelak. Hidup di dunia nggak terasa, cuma sebentar saja," balas si dokter.
Selalu ada cara untuk mensyukuri nikmat.

No comments: