Saturday, March 19, 2016

"Anak saya demamnya tinggi, sampai 39,5 derajat selsius, tapi tangan dan kakinya dingin. Kenapa-kenapa nggak ya, Dok?"

Pernah mengajukan pertanyaan di atas? Ini... jawabannya.
Demam adalah respon tubuh menghadapi kuman yang masuk. "Termostat" alias pengatur suhu yang berpusat di hipotalamus otak kita mengaturnya dengan cara meningkatkan "set point" tubuh, lalu naiklah suhu tubuh. Seiring meningkatnya suhu tubuh, badan kadang menggigil, tangan dan kaki teraba dingin. Ini adalah upaya tubuh mencegah keluarnya panas berlebihan, yaitu dengan menyempitkan pembuluh darah di tangan dan kaki, sehingga teraba dingin. Sedangkan pusat tubuh tetap teraba panas, makanya terukur sebagai demam di termometer.

Ketika suhu sudah mencapai puncaknya, maka tubuh akan otomatis menurunkan demam, dan pembuluh-pembuluh darah di tangan dan kaki kembali melebar, sehingga teraba demam juga. Anak bisa berkeringat seiring turunnya demam.
Kesimpulannya: kondisi yang ditanyakan di atas adalah WAJAR.
Yang dikhawatirkan pada demam, seiring naiknya suhu, sebenarnya bukanlah kejang, tapi risiko dehidrasi, yaitu kehilangan cairan tubuh. Makin tinggi suhu, maka makin tinggi risiko keluarnya cairan tubuh. Maka banyak minum menjadi solusi pada kondisi demam.
Eits, tapi selalu ada perkecualian untuk tiap kondisi. Syok (kekurangan oksigen di jaringan tubuh) pun ditandai dengan terabanya ekstremitas (lengan-tangan dan tungkai-kaki) yang dingin. Tapi berbeda tentunya antara teraba dingin pada demam yang wajar dan syok pada kondisi Demam Berdarah Dengue. Selain teraba dingin, anak yang syok tampak lemah, sedikit pipisnya, dan nadi teraba lemah serta cepat.
Salah satu referensi: http://clinicalpediatrics.com/Fever.html

No comments: