Sunday, May 24, 2015

Mengapa jangan puyer?

Sepertinya untuk sebagian orangtua puyer masih menjadi obat andalan yang diharapkan bisa diresepkan oleh dokter saat berobat. Kalau obatnya sirup, ngapain musti ke dokter spesialis anak? Kan bisa beli sendiri di apotek. Kadang tanpa resep bahkan. Sudah berobat ke bidan dan dokter di Puskesmas belum sembuh juga, masa' berobat ke dokter spesialis masih dikasih obat sirup juga?
(Diriku yang kadang bingung menghadapi orangtua yang "memaksa" minta obatnya berupa puyer racikan, supaya anaknya cepat sembuh)
Apa pelajaran yang bisa diambil?
1. Edukasi dan kampanye rational use of medicine (RUM) yang pertama kali digulirkan WHO harus terus dikerjakan
2. Edukasi bahwa memang berobat ke dokter pastinya supaya anaknya cepat sembuh (siapa orangtua yang tidak ingin anaknya cepat sembuh), tetapi yang terpenting menjelaskan bahwa tiap penyakit punya "perjalanan alamiah"-nya sendiri-sendiri, sehingga lama sembuhnya bervariasi. Maka bersabarlah...
3. Jangan memiliki pola pikir "pulang dari dokter harus bawa obat". Kalau tidak bawa obat ya tidak sembuh. Tapi mengubah pola pikir jadi "nasihat dan penjelasan dokter mengenai diagnosis dan terapi penyakit adalah bentuk obat juga".

No comments: