Sunday, May 24, 2015

Kisah Rokok

Satu hal yang tidak saya suka dari angkutan umum adalah potensi adanya orang merokok di dalamnya. Tapi seringkali saya tidak punya pilihan, sehingga menjadikan kendaraan ini sebagai sarana transportasi sehari-hari. Berbagai upaya sudah saya lakukan ketika menjumpai para perokok di dalam angkutan ini, mulai dari membuka seluruh jendela di bagian belakang secara mendadak untuk menunjukkan ketidaksukaan saya, menegurnya langsung, sampai turun dari angkot. Alhamdulillah tidak sampai terjadi kekerasan fisik sejauh ini.
Dari komentar status yang saya unggah beberapa waktu lalu, kaum ibu ternyata kesulitan mendapatkan tanggapan mematikan rokok dari orang-orang yang ditegurnya. Mungkin para pria perokok ini meremehkan para wanita yang menegurnya? Di sisi lain saya sering mendapatkab ibu-ibu yang membawa anak-anaknya di dalam angkot tampak cuek saja duduk bersama para penumpang pria perokok lain. Saya menilai mereka sudah terbiasa dengan asap rokok di rumahnya, mungkin dari suaminya sendiri atau ayah/mertuanya. Jadi mereka tidak sensitif dengan asap mematikan yang sangat potensial membunuh orang-orang yang menghisap asapnya. Bukankah kasus kanker paru lebih banyak terjadi pada perokok pasif dibandingkan dengan perokok aktif?
Di ruang praktik pun saya menjumpai keadaan serupa. Bayi-bayi yang sejak usia sangat muda sudah mengalami batuk kronik karena perokok di rumahnya. Siapakah dia? Tidak lain ayahnya sendiri. Sang ibu hanya menjawab dengan pandangan lesu ketika saya memintanya untuk menegur suaminya agar berhenti merokok.
"Susah Dok, padahal udah saya bilangin."
"Ayolah Pak, berhenti merokok. Udah punya anak sekarang. Sudah jadi ayah...." bujuk saya bila si bapak kebetulan menemani anak dan istrinya. Dan si bapak hanya tersenyum simpul.
Mengingat sulitnya menghadapi perusahaan rokok yang sudah menggurita di negara ini, baik lewat peraturan perundangan yang ada dan iklan-iklannya yang masif, ditambah sangat banyaknya jumlah penduduk perokok, maka sebagai perokok pasif, lakukan apapun yang kita bisa. Bukankah merokok adalah suatu kezaliman, baik terhadap dirinya sendiri yang merusak kesehatannya dan bagi orang lain di sekitarnya? Dan tidakkah seharusnya kezaliman dihentikan semampu kita?

No comments: