Dokter mengobati orang, bukan hasil lab


- Dokter tidak mengobati hasil laboratorium/pemeriksaan penunjang lainnya. Tapi yang diobati adalah pasiennya (orangnya). Jika ada ketidaksesuaian antara hasil pemeriksaan penunjang dengan orangnya (klinis), maka dokter akan lebih mempertimbangkan pemeriksaan klinisnya

- Kadang pasien/konsumen kesehatan terburu-buru ingin memeriksakan lab/ronsen/penunjang lainnya, meskipun sebenarnya dokter belum meminta. Tak jarang pasien datang sudah membawa hasil lab langsung ke dokternya, dan "meminta" dokter mengobati/memberikan penanganan sesuai hasil lab tersebut. Padahal bisa saja kembali ke poin nomor satu di atas ya

- Nilai lekosit (sel darah putih) bisa naik akibat infeksi apapun (virus, bakteri) maupun non infeksi (keganasan/kanker, autoimun, kehamilan). Maka tidak bijak menentukan perlu tidaknya antibiotik semata dari hasil laboratorium.

Maka, semua kembali kepada: apa diagnosisnya? Jangan ragu tanyakan pada dokter: apa diagnosisnya (dalam bahasa medis, penjelasan dalam bahasa yang dimengerti)?

Comments

hani said…
anak saya waktu umur 5 bulan pernah opname karena nilai leukosit tinggi (15.400). Menurut dokter anak yang memeriksa, nilai leukosit tinggi pasti karena infeksi bakteri. Kalau infeksi virus, nilai leukosit tidak tinggi.

saya jadi bingung
JM PRAMESWARI said…
Anak saya didiagnosa demam tyfoid dok, tapi nilai leukositnya justrujustru hanya 2000. Apakah memang ada hubungannya dengan demamnya atau infeksi yang lain?

Popular posts from this blog

Sariawan itu obatnya apa? Nistatin? Emangnya #sariawan itu penyakit akibat infeksi #jamur? Kan nistatin obat jamur. Bener nggak sih?

Selamat Merokok!

Demam lebih dari 3 hari harus diperiksakan ke laboratorium?