Tuesday, August 09, 2016

The Story of Four

Satu

"Ibu kemana aja? Udah lama nggak kontrol. Waduh, beratnya kok makin turun Bu." Mulutku mencerocos menyambut seorang anak berusia 1 tahun yang masuk ke ruang praktik diantar ibunya. Bocah perempuan ini gagal tumbuh (failure to thrive). Nyaris masuk ke dalam kategori gizi buruk. Ia biasanya kontrol rutin memantau kenaikan berat badan anaknya. Tapi sudah hampir 2 bulan aku tak menjumpainya.
"Iya Dok, saya udah lama nggak kontrol," balas si Ibu. Matanya mulai berkaca-kaca. "Anak pertama saya meninggal sebulan yang lalu. Kena DBD." Tangannya memegang gagang kacamatanya. Ia mengelap matanya yang basah.
Aku berhenti sejenak. Sepertinya aku mengambil sikap pembukaan yang salah. Ibu berjilbab lebar dan bergamis panjang ini baru saja kehilangan anak kebanggaannya yang sudah 19 tahun mendampingi hidupnya. Dan kini si bungsu yang bermasalah tumbuh-kembangnya harus kembali ditekuni. Ia berasal dari ekonomi kurang mampu tentunya.

Dua

Gadis berusia 10 tahun ini masuk ke ruang praktikku dengan dipapah ayahnya. Selang bening menjulur dari lubang hidung kirinya. Nasogastric tube (NGT) namanya. Selang ini berfungsi memasukkan makanan cair dan minuman langsung menuju lambung. Anak ini belum mampu menelan, maka NGT terpasang untuk memastikan asupan hariannya terpenuhi.
"Sebelumnya ia adalah gadis kecil yang normal. Sudah bersekolah di SD kelas 4, dan bisa belajar serta bermain layaknya anak-anak sebayanya. Beberapa pekan lalu badannya demam. Tak lama kemudian keluarlah bercak-bercak merah di seluruh tubuhnya. Ia kejang berulang. Kesadarannya tak pernah membaik sesudahnya. Sempat ia dirawat di ruang intensif (PICU). Sakitnya campak. Komplikasi ke otak." Ayahnya mengisahkan.

Kulihat gadis ini sadar penuh. Matanya bergerak mengeksplorasi ruangan. Tapi tatapannya kosong. Layaknya seorang bayi baru lahir. Kemampuannya dimulai lagi dari awal.

"Imunisasinya bagaimana? Tidak dapat imunisasi campak?" tanyaku spontan.
"Saya tidak tahu. Ibunya yang dulu mengurusi hal ini. Tapi ibunya sudah meninggal saat ia berusia balita." jawab Ayah. "Sakit gagal jantung." Ia melanjutkan.
Ayah ini ternyata seorang orangtua tunggal dengan 2 anak. Sehari-hari anak-anaknya dititipkan ke sang nenek jika ia bekerja.
"Bapak kerja apa?" tanyaku lagi.
"Loper koran," jawabnya.
Dan kini ia mempunyai pekerjaan baru: mengantar gadis kesayangannya kontrol rutin ke RS untuk mengganti NGT sekali dalam sepekan, dan melakukan fisioterapi di unit tumbuh-kembang.

Tiga

Gadis kecil berusia 5 tahun ini tersenyum padaku. Transfusi sel darah merah kantung keduanya sudah selesai diberikan semalam. Nilai hemoglobinnya 11. Kuraba perutnya. Teraba limpa yang membesar, mencapai pusar.
"Boleh pulang ya," kataku.
Senyumnya makin merekah. Bocah ini sakit talasemia mayor. Tiap satu sampai dua bulan sekali ia harus mendapatkan transfusi darah.
"Ayah dan Ibunya mana? Biasanya ditunggui mereka." Pandanganku mengarah ke sang nenek di sampingnya.
"Dokter nggak tahu ya?" tanya si Nenek terkejut.
"Kenapa Bu?" giliranku yang menatapnya heran.
"Ibunya kan sudah nggak ada. Hari ini pas 40 harinya." jawab Nenek.
Sesuatu terasa menyangkut di tenggorokanku. "Ibunya meninggal? Sakit apa?" Aku tak percaya. "Baru 2 bulan lalu saya ketemu Ibunya. Masih segar!"
Pikiranku menggambarkan sosok wanita muda berumur baru 30 tahun. Sosok ini tersenyum padaku. Senyum yang sama dengan gadis kecil di hadapanku. Kini ia tak mempunyai Ibu lagi. Dan ia tetap tersenyum padaku.

Empat

"Kemarin habis dirawat ya?" tanyaku. Kedua tanganku bergerak melakukan pemeriksaan pada seorang anak perempuan berumur 13 bulan di meja periksa. Kepalanya tampak membesar. Selapis perban menempel di kepalanya.
"Iya Dok, kemarin agak lama dirawatnya. Sekalian operasi pasang selang di kepala juga. Ada hidrosefalus ternyata." jawab si Ibu.
"Udah berapa kali ya dirawat di sini? Bolak balik masuk RS. Sakitnya banyak. Ini kan memang anak yang tidak diharapkan." Si Ibu terus berbicara.
"Maksud Ibu?" Aku tak paham.
"Iya, waktu hamil, ternyata Ibunya tidak ingin anak ini lahir. Dia minum jamu-jamuan supaya bayinya nggak lahir (hidup). Saya juga baru tahu pas udah beberapa bulan sama saya." jelas si Ibu.
Ternyata kedua orang di hadapanku adalah orangtua angkatnya. Mereka sudah mengadopsinya secara resmi. Kedua orang ini belum punya keturunan setelah sekian lama menikah. Dan anak yang mereka besarkan ternyata tidak sesehat yang dibayangkan. seorang anak dengan keterlambatan perkembangan dan beberapa masalah kesehatan.
"Ini tabungan Bapak-Ibu buat di akhirat kelak." aku menanggapinya.
"Aamiin." Sang Ayah menjawab.

It's Friday. And it's a good day.

No comments: