Tuesday, August 09, 2016

Lagi-lagi campak

Lagi-lagi saya harus posting tentang penyakit campak, karena "badai" penyakit ini belum berakhir juga. Hampir separuh yang saya temui juga mengalami komplikasi pneumonia (radang paru-paru), mulai dari yang ringan sampai berat. Maka saya tidak bosannya menyampaikan kembali:

- Imunisasi campak tidak diberikan hanya sekali pada usia 9 bulan, tapi ada ulangannya pada usia 2 tahun. Jadi bagi para Ibu yang anak-anaknya belum mendapatkan imunisasi campak ulangan, maka segera kejar ketertinggalannya ini. Booster vaksin campak dapat dilakukan di usia berapapun.

- Yang sudah mendapatkan imunisasi MMR di usia 15 bulan, maka tidak perlu mendapatkan vaksin campak ulangan di usia 2 tahun (sesuai panduan imunisasi IDAI tahun 2014), tetapi ulangannya nanti di usia 5-6 tahun.

- Ulangan imunisasi campak ini penting, mengingat ada beberapa anak yang sudah mendapatkan imunisasi campak di usia 9 bulan, tetap sakit campak. Kemungkinan imunitas (kekebalan) yang dihasilkan pada usia 9 bulan sudah mulai menurun (waning), maka booster/ulangan dilakukan pada usia 2 tahun.

- Vaksin campak adalah vaksin yang efektif. Jadi kalau sudah diimunisasi di usia 9 bulan, risiko seorang anak mengalami sakit campak sangatlah kecil, sampai dilakukan ulangan lagi sesuai jadwal.

- Beberapa orangtua mengatakan: anak saya tetap sakit campak, meskipun sudah diimunisasi campak. Maka penjelasan saya: satu, banyak orangtua berpikir anaknya sakit campak, padahal yang dialaminya adalah roseola/rubella/infeksi virus selain campak. Jadi jangan sampai kena campak. Dua, vaksin campak efektif, tetapi tidak ada vaksin yang 100% efektif. Maka ada sebagian kecil anak yang tetap sakit, sedangkan sebagian besar yang sudah diimunisasi tidak sakit.

- Lalu ada lagi yang mengatakan: anak-anak teman saya tidak diimunisasi, tapi tidak sakit. Maka jawaban saya: alhamdulillah mereka tidak sakit. Dalam teori imunologi dan epidemiologi, mereka bisa jadi mendapatkan manfaat dari tingginya cakupan imunisasi di masyarakat, yaitu memperoleh herd immunity (imunitas lingkungan). Mereka memperoleh manfaat dari banyaknya anak di lingkungan mereka yang tidak sakit karena sudah diimunisasi. Tapi jangan ikut-ikutan tidak diimunisasi ya :-)

- Ada berita anak yang meninggal setelah diimunisasi. Benarkah?
Ternyata fakta tidak menunjukkan kematiannya akibat langsung vaksin (tidak/belum terbukti).

Ini contoh analisisnya

Saya salinkan berita dari detikcom. Tanggapan saya: kronologi kejadian yang ada makin menguatkan dugaan bahwa bukan vaksin penyebab kematiannya. Karena demam yang kadang disebabkan pasca pemberian vaksin DPT kombo seharusnya tidak berlangsung lama, tapi maksimal 1-2 hari saja. Lebih dari itu (dan anak dalam berita ini demamnya berhari-hari) kemungkinan ada penyakit infeksi lain, misalnya saja DBD yang menjadi syok, lalu menyebabkan kematian.
Saya turut berduka cita juga.

Rabu 18 May 2016, 21:18 WIB
Puskesmas Pasar Rebo Bantah Ada Malapraktik di Kematian Bayi 5 Bulan
Nugroho Tri Laksono - detikNews
Puskesmas Pasar Rebo Bantah Ada Malapraktik di Kematian Bayi 5 Bulan
Foto: Thinkstock
Jakarta - Suasana duka menyelimuti kediaman Razqa Alkhalifi Pamuji, bayi mungil yang meninggal dunia secara tidak wajar. Razqa tewas usai melakukan imunisasi DPT di Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta Timur. Tak henti-hentinya pula Ajeng Sri Septiani (29) sang ibu menangisi kepergian anaknya yang masih berumur 5 bulan.

Sebelum meninggal dunia, anak bungsu pasangan Agung Pamuji (27) dan Ajeng Sri Septiani (29) melakukan imunisasi DPT ketiga di Puskesmas Pasar Rebo, pada hari Rabu lalu (11/5). Usai diimunisasi, demam Razqa tak kunjung turun hingga lima hari. Orang tuanya pun kembali merujuk ke puskesmas tersebut meski sempat dilarikan ke klinik Sri Sukamto.

Ayah korban Agung Pamuji mengatakan ada dugaan malapraktik saat melakukan imunisasi tersebut karena setelah menjalani imunisasi korban mengalami demam dan panasnya mencapai 38 derajat. Awalnya kondisi tersebut dinilai wajar oleh dirinya sebab demam tersebut terjadi karena efek samping dari melakukan imunisasi.

"Karena biasanya deman itu hanya berlangsung dua hari namun ini hampir seminggu," ujar Agung ayah korban kepada detikcom di kediamannya, Jalan Mawar Raya, RT 12/10 Kelurahan Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (18/5/2016).

Sementara itu Kepala Puskesmas Pasar Rebo, Maryati menepis kematian Rizqa dikarenakan adanya malapraktik. Pasalnya dalam hal ini pihaknya telah melakukan proses imunisasi sesuai dengan prosedur. Dengan kondisi tersebut pihaknya menganjurkan untuk melakukan tes darah pada keesok harinya, Senin (16/5).

"Tetapi pasien tidak datang pada hari itu, pasien datang di hari Rabu dalam keadaan kritis. Saat datang pasien dalam kondisi sesak nafas, pucat dan tak sadarkan diri. Oleh karena itu pihaknya langsung merujuk pasien ke Rumah Sakit Harapan Bunda namun nyawanya sudah tak dapat diselamatkan," kata Maryati, di Puskesmas Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Razqa mengehembuskan nafas terkahirnya pada pukul 07.30 WIB Rabu pagi. Usai berunding dengan sejumlah anggota kepolisian yang datang kerumah kediaman korban, akhirnya keluarga memutuskan untuk langsung memberangkatkan balita Razqa ke tempat peristirahatan terakhir di TPU Kalisari, Jakarta Timur.

(imk/imk)

http://m.detik.com/news/berita/3213686/puskesmas-pasar-rebo-bantah-ada-malapraktik-di-kematian-bayi-5-bulan

2 comments:

Ratna ika said...

Campak sma cacar air sma gak dok?

Ratna ika said...

Campak sma cacar air sma gak dok?