Sunday, August 07, 2016

Apakah Rumah Sakit tempat yang aman buat anak?

Kadang saya menjumpai orangtua yang membawa anaknya berobat dan minta anaknya segera dirawat. Pendorong utamanya, menurut penilaian saya, adalah kepanikan orangtua. Padahal pemeriksaan saya menyimpulkan anaknya belum perlu dirawat. Tidak ada indikasi rawat, istilahnya. (Kalau pasien memang indikasi rawat, pasti dirawat. Kalau tidak indikasi rawat, perlukah dirawat?) Belum lagi, pasien-pasien yang masuk dari IGD, dan dokter jaga menjelaskan sebenarnya tidak perlu dirawat, tetapi orangtua tetap memaksa minta rawat.

Apa bahayanya RS? Bukankah justru anak menjadi aman dirawat di RS. Untuk apa RS diciptakan jika justru membahayakan?

Mungkin ini pertanyaan yang akan menyusul. Coba lihat, apa yang terjadi ketika seorang anak dirawat? Diambil darahnya, dipasang infus, dan diberikan obat-obatan secara rutin. Semua bermanfaat kan? Demi kesembuhan anak.
Dalam ilmu kedokteran, semua berbasis pada prinsip benefit versus risk, alias manfaat versus risiko (mudharat). Tidak ada yang 100% benefit, atau sebaliknya 100% risk. Semua selalu ditimbang. Ketika benefit melebihi (outweigh) risk, maka itu yang diambil. Tetapi ketika risk melebihi benefit, maka ya ditinggalkan.
Seorang anak yang masuk dengan syok DBD, atau kecelakaan lalu lintas dengan perdarahan hebat, atau meningitis/ensefalitis, dan ibu hamil dengan perdarahan, tentu harus dilakukan tindakan segera dan dilanjutkan dengan rawat inap. Diambil darahnya, diinfus, dan diberikan obat-obatan, termasuk kemungkinan antibiotik. Karena benefit nya jauh melebihi risikonya. Dan ini adalah tindakan menyelamatkan nyawa manusia, menghindarkan kematian.
Tetapi ketika seorang anak dengan demam 40 derajat selsius yang ternyata hanya common cold saja (tanpa pneumonia), atau muntah dan mencret yang tidak sampai dehidrasi, apakah tindakan rawat inap mempunyai benefit outweigh the risk?

Apa risiko yang bisa terjadi di ruang rawat inap? Sejak jarum infus masuk menembus kulit, maka saat itulah risiko kuman (bakteri) tak diinginkan bisa masuk ke dalam aliran darah. Lalu ketika seseorang masuk ke ruang rawat (bangsal), sekalipun di kelas VVIP, maka risiko terpapar dengan kuman (bakteri) RS yang bisa jadi sebagian sudah kebal antibiotik dan lebih "ganas" dibandingkan dengan kuman-kuman "rumahan" terjadi. Welcome to the jungle! Mungkin bisa diistilahkan seperti ini. Namanya infeksi nosokomial. Makanya jika Anda perhatikan, saat ini hampir di tiap ruangan RS tersedia handrub yang bisa digunakan oleh siapa saja termasuk pengunjung, agar tidak terjadi penyebaran kuman nosokomial dari satu tangan ke tangan lainnya. Pengunjung yang menjenguk keluarga atau kerabatnya yang sedang dirawat di RS pun belum berarti bebas dari terkena kuman RS ini. Termasuk saat mengantri panggilan dokter di ruang periksa, bisa saja terjadi penularan virus dari satu anak dengan penyakit tertentu, ke anak lain yang sebelumnya tidak mengalami penyakit tersebut. Jadi pulang dari RS bawa "oleh-oleh".

Lalu apa yang harus dilakukan? Berhenti mengunjungi RS? Tidak berobat ke dokter lagi? Menolak semua tindakan rawat inap? Tentu saja tidak. Semua kembali ke diagnosis. Apa diagnosis yang dialami anak kita? Jika memang terindikasi rawat, ya dirawat. Jika tidak perlu, ya tidak dirawat. Nah, nanti pas dirawat, bakal kena infeksi nosokomial dong? Kembalikan lagi ke prinsip benefit versus risk. RS pun punya komite infeksi RS yang berupaya seoptimal mungkin menghindari kejadian ini. Semua harm alias bahaya tambahan bagi pasien selalu diminimalisir. Jadi, kalau memang tidak perlu dirawat, bahkan tidak perlu ke RS, ya tidak udah minta dirawat.

Jadi orangtua yang rajin belajar. Tahu kapan harus ke dokter. Tahu apa saja tanda kegawatan pada anak. Bisa baca-baca di www.kidshealth.org, www.healthychildren.org, www.idai.or.id, www.cdc.gov, www.who.int, dan www.milissehat.web.id

Selamat belajar dan jadi smart patient :-)

No comments: