Posts

Showing posts from May, 2015

Sekilas Kejang Demam

Akhir pekan lalu, dalam satu hari saya mendapatkan 3 anak berusia 2-4 tahun yang datang ke IGD dengan kejang demam. Semuanya dirujuk untuk dirawat. Berbahayakah kejang demam? Apakah harus dirawat? 1. Secara garis besar, ada 2 kondisi yang ditandai dengan kejang disertai demam, yaitu: - kejang demam, yang umumnya tidak merusak otak sama sekali, dan - infeksi susunan saraf pusat (SSP), yang sering saya bahasakan sebagai "infeksi otak", dan sangat potensial merusak otak 2. Apa bedanya? Kejang demam adalah kejang yang disebabkan oleh demamnya (suhu > 38 derajat selsius). Sedangkan infeksi SSP yang ditandai dengan kejang dan demam, penyebab kejangnya adalah infeksi kuman (virus/bakteri/lainnya) di dalam SSP. Infeksi ini juga ditandai dengan gejala demam. 3. Bagaimana membedakannya? Kejang demam paling lama berhenti sendiri dalam 15 menit (jarang sekali sampai selama ini). Setelah kejang anakpun kembali sadar dengan sendirinya. Pada infeksi SSP seperti meningitis dan

Tiga Alasan Menolak Imunisasi

Bila merunut pada alasan mengapa orangtua tidak mau anaknya diimunisasi, sebenarnya pemikiran "anti-imunisasi" atau "anti-vaksin" bukanlah satu-satunya penyebab. Saya menyimpulkan ada tiga hal utama yang saya jumpai di ruang praktik. 1. Orangtua khawatir anaknya mengalami demam setelah diimunisasi. Faktor ini pula yang masuk dalam analisis survei Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 oleh Kemenkes, yang saya kutip di buku saya "Pro Kontra Imunisasi". Pada kenyataannya,  kadang orangtuanya bersedia anaknya diimunisasi, tetapi sang nenek yang tidak mau dengan alasan ini (mungkin karena si ibu bekerja ya, jadinya si nenek yang harus menghadapi rewelnya cucu ketika demam. Hehe). Padahal faktanya demam belum tentu terjadi setelah imunisasi (hanya imunisasi DPT yang paling tinggi potensi demam pasca imunisasi, meskipun tidak selalu, dan ini hanya satu dari sekian banyak vaksin lain yang jarang "buat demam"). Demam yang terjadi juga biasanya h

Alhamdulillah alaa kulli haal

Mungkin saat ini Anda sedang sedih karena anak Anda sedang mengalami demam sudah dua hari. Suhunya mencapai 40 derajat selsius. Ia terbaring lemah, tidak mau makan. Dokter barusan menyatakan harus dirawat inap. Anda pun berpikir "pindahkan saja penyakit anakku ini. Biar aku saja yang mengalaminya". Ya Tuhan, kenapa anakku harus sakit? Mungkin pikiran ini terlintas di dalam benak. Cobalah mampir ke tempat kami di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Anda dapat menjumpai seorang anak perempuan berusia 10 tahun dengan berat badan hanya 15 kg. Ya, gizi buruk. Awalnya ia mengalami tuberkulosis (TB) paru yang putus pengobatannya. Ibunya telah meninggal beberapa tahun lalu. Ayahnya sibuk mencari nafkah sebagai kuli bangunan, sehingga kadang sulit mencari waktu untuk kontrol berobat anak semata wayangnya. Selama menunggui anaknya dirawat di RS, si ayah tidak bekerja. Sewa kontrakan rumahnya sudah 2 bulan tidak dibayar. Temui juga seorang gadis berusia 8 tahun dengan gizi buruk lainny

Mengapa jangan puyer?

Sepertinya untuk sebagian orangtua puyer masih menjadi obat andalan yang diharapkan bisa diresepkan oleh dokter saat berobat. Kalau obatnya sirup, ngapain musti ke dokter spesialis anak? Kan bisa beli sendiri di apotek. Kadang tanpa resep bahkan. Sudah berobat ke bidan dan dokter di Puskesmas belum sembuh juga, masa' berobat ke dokter spesialis masih dikasih obat sirup juga? (Diriku yang kadang bingung menghadapi orangtua yang "memaksa" minta obatnya berupa puyer racikan, sup aya anaknya cepat sembuh) Apa pelajaran yang bisa diambil? 1. Edukasi dan kampanye rational use of medicine (RUM) yang pertama kali digulirkan WHO harus terus dikerjakan 2. Edukasi bahwa memang berobat ke dokter pastinya supaya anaknya cepat sembuh (siapa orangtua yang tidak ingin anaknya cepat sembuh), tetapi yang terpenting menjelaskan bahwa tiap penyakit punya "perjalanan alamiah"-nya sendiri-sendiri, sehingga lama sembuhnya bervariasi. Maka bersabarlah... 3. Jangan memiliki pola p

Sedikit tentang diare

Sebagai panduan sesuai guideline WHO dan yg biasa saya praktikkan: bila diarenya akut dan tidak disertai darah (berlendir sekalipun), maka umumnya tidak butuh antibiotik. Tapi bila diare disertai darah (namanya disentri), dipikirkan kemungkinan disebabkan oleh bakteri/amuba dan antibiotik dipertimbangkan. Sebenarnya perlu/tidaknya pemberian antibiotik bukanlah hal  yg paling urgen, tetapi yg paling urgen adlh: dehidrasi atau tidak? Makanya semua orangtua harus mengenali tanda-tanda dehidrasi dan penanganannya. Kalau boleh berbagi pengalaman di lapangan, anak-anak yang dirawat di RS dengan dehidrasi sekalipun mayoritas penyebabnya adalah virus yang sama sekali tidak butuh antibiotik dan anak sembuh tanpa antibiotik. Mayoritas hasil pemeriksaan analisis tinja pada pasien-pasien diare anak di RS juga hasilnya tidak dicurigai infeksi bakteri. Selamat belajar

Mengapa saya masuk ke dunia edukasi kesehatan masyarakat

Salah satu alasan yang membuat saya tertarik untuk masuk ke dunia edukasi konsumen kesehatan (dalam hal ini orangtua pasien) adalah: orangtua yang tidak paham dasar ilmu kesehatan anak berpotensi "menzalimi" anaknya. Lho kok bisa? Bayangkan ketika anak demam tiga hari, disertai batuk-pilek, dan diagnosis sebenarnya adalah selesma (common cold), yang kita sepakati akan sembuh seiring waktu. Tapi orangtua yang panik, khawatir anaknya mengalami demam berdarah, lalu berinisiatif  memeriksakan darah anaknya ke laboratorium, hasilnya? Anak harus ditusuk jarum, disakiti, padahal tidak seharusnya ia diperiksakan darahnya. Contoh lain adalah salah satu orangtua, misalnya si ibu, sudah cukup paham dasar ilmu kesehatan anak, karena sudah ikut milis kesehatan semacam Milissehat Sehat  ( http://groups.yahoo.com/group/sehat ), rajin baca www.milissehat.web.id , dan pernah ikut  Pesat LimabelasJakarta , sehingga tidak mudah panikan dan tahu kapan harus ke dokter. Tapi sang suami tidak

A note from a journalist

Yang saya tahu, jurnalis atau wartawan itu ada dua: yang meliput langsung ke lapangan dan menuangkan hasil pengamatannya ke dalam tulisan dan yang sekedar "manteng" di depan monitor dan mengutip sana sini hasil bacaannya untuk dijadikan tulisan. Tipe yang pertama adalah yang saya gunakan saat menulis buku kedua saya: Pro Kontra Imunisasi. Saya tidak sekedar manteng di depan komputer mencari bahan tulisan, atau baca buku dan jurnal saja, tapi saya harus bertindak sebagai seora ng "real journalist". Karena ini yang diajarkan saat saya masih aktif di lembaga jurnalistik mahasiswa saat kuliah kedokteran dulu. Maka saya menyambangi PT Bio Farma di Bandung untuk melihat langsung proses pembuatan vaksin dan mewawancarai vaksinolog senior di situ. Saya mendatangi Badan POM RI di Percetakan Negara untuk mewawancarai seorang Deputinya untuk mendapatkan informasi bagaimana vaksin sampai bisa beredar di Indonesia. Saya mendatangi Subdit Imunisasi Kementerian Kesehatan untuk

Kisah Rokok

Satu hal yang tidak saya suka dari angkutan umum adalah potensi adanya orang merokok di dalamnya. Tapi seringkali saya tidak punya pilihan, sehingga menjadikan kendaraan ini sebagai sarana transportasi sehari-hari. Berbagai upaya sudah saya lakukan ketika menjumpai para perokok di dalam angkutan ini, mulai dari membuka seluruh jendela di bagian belakang secara mendadak untuk menunjukkan ketidaksukaan saya, menegurnya langsung, sampai turun dari angkot. Alhamdulillah tidak sam pai terjadi kekerasan fisik sejauh ini. Dari komentar status yang saya unggah beberapa waktu lalu, kaum ibu ternyata kesulitan mendapatkan tanggapan mematikan rokok dari orang-orang yang ditegurnya. Mungkin para pria perokok ini meremehkan para wanita yang menegurnya? Di sisi lain saya sering mendapatkab ibu-ibu yang membawa anak-anaknya di dalam angkot tampak cuek saja duduk bersama para penumpang pria perokok lain. Saya menilai mereka sudah terbiasa dengan asap rokok di rumahnya, mungkin dari suaminya sendir

Di balik kuning, demam, batuk, pilek, diare

Batuk, pilek, mencret, bahkan sampai kuning pada bayi dan "tali lidah" pun ternyata Allah ciptakan bukan tanpa tujuan. Kadang kita mengeluhkan ketika diri kita atau anak kita sakit. Demam hingga anak rewel dan tak kunjung tidur semalaman. Pilek dan hidung mampet sampai bayi gelisah tidurnya. Batuk sehingga si kecil terjaga semalaman. Sedih sekali. Mengapa Allah ciptakan semua penyakit ini? Bahkan ketika bayi baru lahir sekalipun, ada sebagian yang mengalami kuning. Saya yaki n ada di antara Ibu/Bapak yang pernah bayinya mendapatkan terapi sinar (fototerapi), karena kadar bilirubin darahnya melampaui batas. Jika tidak "disinar", maka bilirubin akan melampaui ambangnya dan masuk menembus sawar darah-otak, menyebabkan kejang alias kern icterus! Bayi berisiko cacat permanen. Tahukah Anda, ternyata kuning pada bayi baru lahir pun ada tujuannya. Meskipun masih menjadi perdebatan, beberapa pakar menyimpulkan keadaan bilirubin darah yang lebih tinggi dari seharusnya

Susu dan Sembelit

Hari ini saja saya sudah mendapatkan dua anak yang mengalami kesulitan buang air besar sejak berbulan-bulan lamanya. Menanggapi kasus-kasus semacam ini, yang ke rap kali dihadapi dokter anak, pertanyaan pertama saya biasanya adalah: berapa banyak anaknya minum susu dalam sehari? Tidak mengejutkan sebenarnya, jawabannya adalah: rata-rata lebih dari 1 liter dalam sehari. Anak-anak ini tidak jarang memiliki status gizi yang baik. Bukankah asumsi sebagian orangtua adalah berikan susu yang banyak agar kebutuhan nutrisi anak tercapai? Bukankah iklan-iklan di TV menunjukkan anak-anak yang rajin minum susu menjadi sehat dan cerdas? Tapi pernahkah mereka menjumpai fakta yang kami hadapi: anak-anak yang selalu kesakitan tiap buang air besar. Anak-anak ini kadang bahkan cukup konsumsi sayur dan buahnya. Minum air putih pun banyak. Tapi buang air besar hanya 2 - 3 kali seminggu dengan perjuangan keras. Mengedan dan menangis. Mereka pun menjadi takut pup dan makin menahan pup karena tidak ingin

Telaten Memantau Bayi Prematur

Hamil dan melahirkan merupakan pengalaman paling berkesan yang dialami setiap ibu. Bayi yang terlahir merah, menangis kuat, bergerak aktif adalah penghapus seluruh keletihan yang dialami selama 9 bulan mengandung. Tetapi bagaimana bila bayi terlahir prematur? Bayi yang harus terlahir dengan usia kehamilan belum genap 37 minggu ini umumnya memiliki paru-paru yang belum “matang” untuk menghirup oksigen secara sempurna di dunia luar rahim. Bisa jadi, bayi lahir tidak menangis, sesak napas, dan segera membutuhkan alat bantu napas canggih. Apakah kondisi ini selalu terjadi pada bayi prematur? Adakah masalah-masalah kesehatan lain yang bisa timbul? Definisi Bayi Prematur Prematuritas didefinisikan sebagai kelahiran seorang bayi yang usia gestasinya (kandungan ibu) belum mencapai 37 minggu. Sedangkan bayi cukup bulan adalah bayi yang terlahir pada usia gestasi 37 sampai 42 minggu, dengan mayoritas persalinan cukup bulan pada usia gestasi rata-rata 40 minggu. Definisi prematur sehar

How I practice

Sebagai seorang tenaga medis yg memiliki praktik mandiri, saya menyediakan layanan kesehatan sesuai spesialisasi yg dimiliki. Tak terkecuali layanan imunisasi. Memang saya tidak mem-"posting" daftar harga vaksin yg kami sediakan. Karena buat kami, layanan kesehatan spesialis anak adalah layanan integral: mencakup penegakan diagnosis dan terapi anak sakit, penilaian pertumbuhan dan perkembangan, nutrisi sejak lahir, dan kelengkapan imunisasi. Maka kalaupun kami "jualan", yg ka mi jual adalah layanan kesehatannya. Bukan "jualan" spesifik produk tertentu, misal produk vaksin, atau suplementasi zat besi, sebagai contoh. Sekalipun harga produk vaksin yg kami jual sama murahnya, bahkan lebih murah dibandingkan tempat lain, tetap saja kami memilih untuk tidak mem-posting hal ini. Biarlah konsumen kesehatan sendiri yg menilainya. Maka tidak heran banyak orangtua yg memang memilih untuk mendatangi bila ingin berkonsultasi panjang lebar kondisi anaknya. Tapi u

A cancer story

Saat praktik sore kemarin, seorang Ibu bertanya: apa gejala neuroblastoma? Mengapa ia tiba-tiba bertanya seperti itu? Ternyata ada seorang anak yang sedang sakit neuroblastoma dan kisahnya banyak dibicarakan di media sosial. Saya sendiri belum pernah dengar kisahnya. Kabarnya orangtua si anak membawanya hingga ke Guangzhou (koreksi bila saya salah) untuk pengobatan. Saat membuka laman Facebook semalam, saya mendapatkan berita gadis kecil ini ternyata sudah meninggal karena sakitnya. Mendengar kata neuroblastoma dari Ibu kemarin, yang terlintas di pikiran saya adalah: ini adalah salah satu keganasan (kanker) pada anak yang umum kami jumpai sehari-hari, khususnya saat masih menjalankan pendidikan spesialisasi anak dan bertugas di divisi hematologi anak. Ternyata, buat masyarakat umum, mungkin penyakit ini dianggap langka dan unik, sedangkan bagi para dokter anak, neuroblastoma dan beberapa jenis kanker anak lain adalah kasus yang biasa. Pikiran saya lalu melayang pada pasien-pasien

A blogger

Sekitar 7 tahun yang lalu, ketika Facebook dan Twitter belum ada, saya sudah menggeluti blogspot. Tepatnya sejak 10 tahun silam (ini blog pertama saya:  http://spaceodyssey.blogspot.com/ ). Saat itu isu kontroversi imunisasi belum seramai sekarang. Pada tahun 2007, sebuah majalah Islam mengangkat topik ini dan membuat saya bereaksi dengan mengirimkan surat pembaca (sayangnya saya belum membuat salinan pemindaian edisi tersebut). Saya pun lalu menulis tanggapan terhadap kontroversi imunisasi saat itu di blog awal tahun 2008:  http://arifianto.blogspot.com/…/mengapa-tidak-mau-memberika… Sekarang sudah cukup banyak dokter yang dikenal masyarakat sebagai pakar dalam hal ini. Alhamdulillah...

Bayi Grok-grok

Sambil menatap wajah si bungsu yang baru tertidur, saya mendengar bunyi napasnya yang agak mendengkur "grok-grok". Lalu teringatlah saya pada satu pertanyaan ya ng sangat sering diajukan orangtua. Bahkan kadang mereka membawa bayinya menemui saya hanya untuk menanyakan hal ini. "Napas anak saya berbunyi "grok-grok". Apakah ini?" Orangtua kadang menganggap bayinya dengan kondisi ini sebagai sakit pilek, sehingga mereka datang ke dokter untuk minta obat, bahkan "diuap". Benarkah ini? Jika di dekat saya buku hijau "Orangtua Cermat Anak Sehat" tergeletak, maka saya akan membukakan salah satu halamannya dan membacakan "senjata andalan" saya. "Bu, bayinya tidak sakit sama sekali. Ia tidak sedang pilek. Maka tidak perlu obat, disedot ingusnya dengan mulut Ibu (ada lho yang seperti ini, dan walhasil tidak ada ingus yang keluar), apalagi diuap (diterapi inhalasi). Saya juga tidak curiga bayinya alergi susu sapi, sehingga I

DeBeDe atau Tipes?

Katanya Demam Berdarah Dengue alias DBD sedang mewabah ya? Bagaimana dengan "tipes" alias demam tifoid? Karena kabarnya ada beberapa yang dirawat akibat DBD dan  demam tifoid bersamaan. Mungkinkah? Ini pertanyaan favorit saya buat para Koas yang sedang menjalankan rotasi di bagian Anak. Apa pasalnya? Beberapa orang bercerita dirinya didiagnosis DBD dan tifoid bersamaan gara-gara: tes Widal! Banyak orang familiar dengan pemeriksaan laboratorium satu ini. Katanya kalau Widal-nya positif, berarti sakitnya tipes. Ketahuilah bahwa diagnosis demam tifoid dipastikan dengan beberapa hal: 1. Gejala. Ya, namanya saja demam tifoid, jadi yang sedang sakit pasti bergejala demam. Nah, demamnya seperti apa? Ada yang bilang seperti "step ladder", jadi makin lama hari sakitnya, maka ambang suhunya makin tinggi. Tapi ternyata tidak harus seperti ini. Yang menjadi kata kunci demam tifoid adalah: demamnya mininal 7 hari! Beda kan dengan DBD yang sudah bisa dicurigai sejak demam

Sabar dan Gendong, Obatnya Batuk-Pilek pada Anak

Semua orangtua pernah mendapatkan anaknya mengalami selesma alias batuk pilek. Mayoritas berakhir dalam waktu yang tidak lama, sekitar semingguan. Tapi sebagian  lainnya bertahan hingga berminggu-minggu, bahkan melampaui angka 1 bulan. Orangtua yang awalnya paham bahwa selesma dibiarkan saja dan akan sembuh dengan sendirinya, tidak perlu minum obat apapun, toh infeksi virus yang ringan, menjadi khawatir. Apalagi kata orang, batuk yang dibiarkan lama bisa jadi "paru-paru basah", flek, pneumonia, dan bronkitis. Mulailah mereka membawa anaknya ke dokter. Sebagian khawatir akan kemungkinan TB, sehingga dilakukan foto ronsen dan tes Mantoux. Sebagian lagi curiga alergi atau asma, maka diberikanlah obat-obatan asma dan alergi. Masih tak kunjung sembuh juga. TB bukan, alergi bukan, asma juga tidak. Lalu apa? Infeksi virus ping-pong ternyata. Ya, awalnya si anak sakit, lalu bapak-ibunya tertular, lalu di sekolah teman-temannya juga sakit. Lengkap sudah. "Ibu mau anaknya se

Fakta Batuk dan Penanganannya

Image

Fakta Demam dan Penanganannya

Image

Mengenal Demam

Mengenal Diare

Mengenal Batuk-Pilek

Kisah Batuk

Image
"Dok, anak saya sudah 2 bulan batuk. Saya sudah membawanya ke 2 dokter anak, diberi puyer racikan, sirup antibiotik, dan diuap. Tapi kok masih belum sembuh juga ?" "Katanya batuk yang lama dan tidak diobati bisa jadi flek ya?" "Anak saya keluar cairan dari telinganya. Saya ditegur. Katanya gara-gara saya tidak mengobati batuk-pilek anak saya." "Anak saya muntah tiap habis batuk. Saya tidak tega melihatnya. Apakah tidak ada obat untuk mengatasi hal ini?" Tidak bisa dipungkiri, batuk adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seorang anak. Keluhan ini juga yang membuat orangtua sering membawa anaknya ke dokter. Apa yang seharusnya dilakukan? Sebelum kita membahas berbagai jenis batuk pada anak, pahamilah dulu bahwa BATUK bukanlah PENYAKIT. Batuk adalah gejala yang diciptakan oleh tubuh untuk mengeluarkan benda asing berupa virus/bakteri/debu dalam lendir/dahak dari dalam tubuh. Apa artinya? Ya, batuk adalah bagian dari sistem PERTAHANAN t

Merokok Menyebabkan Anemia!

Percaya dengan pernyataan di atas? Selama ini bahaya rokok dikaitkan dengan efek langsung dari kandungan asapnya yang terhirup masuk  ke dalam saluran napas, baik oleh si perokoknya langsung, perokok pasif, second-hand atau third hand smoker. Tapi ada efek tidak langsung lain yang sering saya temui di lapangan. Anemia, yang didefinisikan sebagai kadar hemoglobin darah di bawah 11 mg/dL, adalah kondisi yang dialami oleh banyak anal Indonesia. Jenis yang tersering dialami oleh anak Indonesia, maupun anak-anak di dunia, adalah anemia defisiensi besi. Jadi penyebab utama anemia pada anak di dunia adalah kekurangan zat besi, yang sebenarnya didapatkan dari makanan sehari-hari. Dengan kata lain, kondisi ini sangat terkait dengan asupan nutrisi. Berdasarkan pengamatan sehari-hari, apalagi pada kelompok masyarakat menengah ke bawah, saya memperkirakan sekurang-kurangnya 50 persen anak balita yang saya temui mengalami anemia. Kembali ke masalah nutrisi, sumber makanan kaya zat besi teruta