Posts

Showing posts from December, 2015

Cuci tangan dan antibiotik

Image
Pekan kepedulian antibiotik (antibiotic awareness week) memang baru berakhir kemarin. Tapi semangat untuk tetap menjalankan pesan-pesannya jangan sampai padam. Misalnya saja yang sudah dibuatkan oleh WHO, bagi para petugas kesehatan. Meskipun khusus ditujukan bagi para health workers, tapi pesan ini bisa dikerjakan oleh banyak kalangan. 1. Cuci tangan adalah kebiasaan yang sangat penting. Periha ... l hand hygiene ini ternyata terbukti ampuh menyelamatkan nyawa. Kok bisa? Satu poin penting yang sering kita bahas terkait antibiotik adalah kuman (bakteri) yang sudah resisten alias kebal terhadap antibiotik jenis tertentu. Tangan yang terkontaminasi bakteri resisten bisa menjadi media perantara pindahnya kuman dari satu orang ke orang lainnya. Misalnya saja sehabis bersentuhan dengan pasien yang di kulitnya terdapat bakteri stafilokokus yang sudah resisten terhadap beberapa jenis antibiotik, lalu petugas kesehatan ini tidak mencuci tangannya lalu menangani pasien lainnya, maka pasien la

Rubella jangan dianggap biasa saja

Akhir-akhir ini tulisan saya banyak berkisah tentang penolakan terhadap imunisasi. Mudah-mudahan saja yang baca tidak bosan. Alasannya memang 1 bulan terakhir kasus-kasus yang saya temui terkait dengan penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Misalnya saja satu kisah seorang ibu dengan 5 anak. Ia dan suaminya yang sudah paruh baya membawa anak kelimanya yang masih batita. Rubella. Itu diagnosisnya ketika saya melihat ruam-ruam merah di kulitnya. Saya jelaskan bahwa penyak ... it ini tidak membahayakan si anak. "Imunisasinya lengkap?" tanya saya. Pertanyaan ini mulai otomatis terlontar ketika berhadapan dengan ibu-ibu berhijab dan bergamis lebar (mohon maaf, tidak bermaksud menggeneralisir). Si ibu mulai tersenyum salah tingkah, sambil melirik suaminya. "Anak ini tidak diimunisasi sejak lahir." Jawaban yang paling tidak saya harapkan hari itu. Jadi dari kelima anaknya, empat orang yang teratas sudah menjalani imunisasi rutin. Tapi si batita yang berjarak ja

Kehilangan satu nyawa sudah terlalu banyak untuk kami

Buat kami para dokter, kehilangan satu saja nyawa pasien yang diamanahkan kepada kami untuk merawatnya, adalah kehilangan yang besar. Satu nyawa sudah terlalu banyak untuk kami. Itu sebabnya kami demikian gigih mengampanyekan upaya pencegahan penyakit bagi masyarakat. Imunisasi adalah salah satunya. Karena kami paham benar bahwa imunisasi sudah mencegah kehilangan banyak nyawa. ... Kami melihat sendiri betapa menderitanya mereka yang kejang-kejang menahan sakit di sekujur tubuhnya karena tetanus. Padahal penyakit ini bisa dicegah dengan vaksin. Kami membayangkan penderitaan mereka yang mengalami tetanus berat sampai membutuhkan alat bantu napas (ventilator) atay tak sadarkan diri, ketika kami merawat mereka. Kami mengetahui penderitaan anak-anak yang mengalami difteri hingga harus dilubangi saluran napas atasnya (lewat bagian bawah leher, yaitu trakeostomi), padahal penyakit ini bisa dicegah dengan vaksin. Bayangkan juga kesusahan keluarga yang harus menemani anaknya dirawat s

Tanya-jawab kontroversi vaksin MMR dan autisme

-- Apakah vaksin menyebabkan autisme? Singkatnya: tidak. Karena sudah banyak sekali penelitian yang membuktikannya. Misalnya saja penelitian-penelitian yang dilakukan oleh CDC untuk membuktikan tidak adanya hubungan antara MMR dengan autisme. 1. Penelitian berjudul “A Population-Based Study of Measles, Mumps, and Rubella Vaccination and Autism” oleh Kohort dipublikasikan oleh Jurnal New England Journal of Medicine (Nov 2002; 347:1477-82). Penelitian yang dilakukan di Danish Study, Denmark ini memantau lebih dari 500 ribu anak selama 7 tahun lebih dan tidak menemukan hubungan antara Vaksin MMR dan autisme. 2. Penelitian berjudul “Age at First Measles-Mumps-Rubella Vaccination in Children With Autism and School-Matched Control Subjects: A Population-Based Study in Metropolitan Atlanta” ini dipublikasikan oleh Jurnal Pediatrics (Feb 2004; 113(2):259-66) sebagai studi kasus-kontrol. Dalam penelitian ini, data diambil melalui Metropolitan Atlanta Developmental Disablities Surveillance P

Demam lebih dari 3 hari harus diperiksakan ke laboratorium?

Image
Topik ini sepertinya sudah lebih dari sekali saya bahas, dalam thread yang berbeda. Tapi tak apalah, karena masih banyak yang bingung juga. Demam yang didefinisikan sebagai suhu tubuh lebih dari 38 derajat selsius, adalah salah satu penyebab tersering orangtua membawa anaknya ke dokter. Makanya dalam beberapa tulisan terdahulu, saya menyebutkan istilah "fever phobia". Nah, lalu bagaimana dengan demam yang cenderung suhunya berkisar di atas 39 derajat selsius dan tidak disertai gejala penyerta lain? Tidak ada batuk, pilek, atau diare. Ya, kalau sejak awal demam disertai batuk dan pilek, kita sudah dapat memperkirakan penyakitnya adalah selesma (common cold) dan seharusnya tidak ada kekhawatiran lebih lanjut (ingat, selama tidak disertai tanda kegawatan ya!). Lalu bagaimana dengan demam yang tidak jelas diagnosisnya ini? Perlukah dibawa segera ke dokter? Kapan? Apakah patokannya " tepat 3 hari" alias 72 jam? Dan haruskah segera diperiksakan laboratorium? Demam den

Perlukah pemberian obat cacing sebagai pencegahan cacingan pada anak?

Ya, mungkin kita teringat saat masih SD dulu, ada slogan yang menyebutkan "minumlah obat cacing tiap 6 bulan untuk mencegah cacingan". Lalu saya juga teringat suatu saat ketika guru menyuruh kami mengumpulkan contoh tinja yang diambil di rumah, untuk dibawa ke sekolah, sebagai bentuk pendataan angka kecacingan (infeksi cacing pada anak) saat itu. Masih berlakukah slogan itu untuk anak-anak kita saat ini? Pe ... rlukah kita rutin memberikan obat cacing bagi anak-anak kita yang masih belum mengenal pentingnya kebersihan? Anak-anak yang cenderung memasukkan tangannya ke dalam mulut saat bermain, tanpa mencuci tangan terlebih dulu? Saya lalu melakukan penelusuran ke beberapa sumber. Kesimpulannya: - Saat ini masih ada daerah-daerah di Indonesia yang dianggap endemis kecacingan (angka penderita cacingan nya tinggi), dan ada yang sudah tidak endemis lagi. Silakan tanyakan ke Puskesmas setempat, masuk ke dalam kategori apa daerah Anda. Jakarta sendiri, tempat saya tinggal, tid

Inilah 3 kesalahan yang bisa terjadi ketika membaca petunjuk penggunaan parasetamol bagi anak!

Image
Hampir semua orangtua tahu apa yang namanya obat penurun panas alias antipiretik bagi anaknya. Salah satunya adalah parasetamol atau asetaminofen. Bisa dikatakan, antipiretik adalah adalah satu "obat wajib" yang harus tersedia di rak obat di rumah. Orang dewasa pun menggunakannya. Siapa yang anaknya tidak pernah mengalami demam? Parasetamol dalam sediaan cair pun menjadi bekal tiap orangtua di rumah. Tapi apakah semua orangtua tahu cara pakainya? Cukup dengan membaca saja petunjuk penggunaan di kemasan karton atau botol kaca/plastik yang ada? Warung serba ada di pinggir jalan pun menjual bebas obat ini, tanpa membutuhkan resep dokter. Coba simak botol atau karton kemasan parasetamol di rak obat Anda. Benarkah aturan pakai parasetamol seperti di bawah ini? Di bawah 2 tahun: gunakan parasetamol drops 2-6 tahun: gunakan parasetamol syrup Di atas 6 tahun: gunakan parasetamol forte Ada tiga (3) hal yang harus dipahami semua orangtua sebelum menggunakan parasetamol. 1.