Showing posts with label bakteri. Show all posts
Showing posts with label bakteri. Show all posts

Thursday, March 08, 2018

Bakteri adalah hadiah terbaik Ibu untuk bayinya

Apa “hadiah” pertama seorang ibu kepada bayi yang baru dilahirkannya?
Bakteri. Ya, bakteri. 

Pernahkah Anda merenung, mengapa bayi dilahirkan dengan cara yang Anda ketahui seperti saat ini? Ya, melalui vagina yang kita pahami penuh dengan kolonisasi berbagai bakteri, kadang ditambah dengan kotoran (baca: feses) dari usus besar Ibu. Mengapa bayi harus lahir dengan cara “tidak bersih” seperti ini? Sang Pencipta pasti punya maksud.

Di dalam rahim Ibu yang sangat terjaga, bayi berada dalam lingkungan yang hampir steril. Saya katakan hampir steril, karena ternyata tidak 100% bebas kuman. Masih ada sedikit bakteri berada di lingkungan yang berisi bayi yang berenang dalam cairan ketuban yang terbungkus erat selaput ketuban. Ketika saat persalinan tiba, selaput ketuban pecah dan bersamaan dengan mengalirnya cairan ketuban keluar, maka masuklah bakteri-bakteri baik dari jalan lahir yang sangat banyak jumlahnya. Bakteri yang sehari-harinya menghuni vagina Ibu menjadi penghuni tubuh bayi, melapisi seluruh permukaan kulit bayi mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan tertelan masuk sampai ke saluran cerna bayi. Bahkan materi feses atau tinja ibu pun tidak jarang ikut terlibat, masuk ke tubuh bayi. Puluhan trilyun bakteri menjadi penghuni tubuh seorang makhluk yang sebelumnya berada dalam kondisi hampir suci. Bakteri yang dominan berasal dari vagina dan usus besar Sang Ibu.

Kondisi ini berlanjut dengan bayi yang diletakkan segera di dada Ibu untuk inisiasi menyusu dini. Bakteri di kulit Ibu pun segera bergerak ke tubuh bayi baru lahir ini, memperkaya variasi jenis kuman baik di tubuh bayi. Bayi lalu mendapatkan air susu Ibu (ASI), yang kandungannya pun tidak lepas dari bakteri-bakteri baik seperti Bifidobacterium lactis dan Bacteroides. Bahkan ASI pengandung HMO (human milk oligosaccharides) yang merupakan makanan bakteri-bakteri baik ini, sehingga koloni kuman ini tetap dapat hidup dalam saluran cerna bayi.

Apa arti semua ini? Ya, bakteri-bakteri baik yang senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi ini, dari nenek ke ibu, ibu ke anak-anaknya, dan terus ke cucu-cucunya, adalah bagian tak terpisahkan dari hidup manusia yang menemani tubuh sepanjang hayatnya, dan tentunya punya berbagai manfaat untuk menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup manusia. 

Lalu, bagaimana apabila bayi lahir secara operasi sesar dan bahkan tidak mendapatkan ASI (dengan berbagai alasan medis)? 
Ya, secara alamiah jenis dan jumlah kuman yang didapatkan bayi di awal kehidupannya berbeda dengan yang lahir normal melalui vagina dan berlanjut dengan menyusu ke ibu. Pada proses operasi sesar, paparan pertama kuman baik adalah ketika kulit perut Ibu disayat, dan masuklah kuman dari udara di ruang operasi dan kulit perut ibu. Jenis bakterinya bisa jadi tidak sama dengan bakteri pada persalinan normal. Bayi yang minum susu formula juga tidak mendapatkan sekitar 700 spesies mikroba yang ada dalam ASI.

Lalu apakah bayi-bayi yang terlahir dengan operasi sesar dan tidak mendapatkan ASI akan lebih buruk kondisi kesehatannya karena tidak mendapatkan human microbiome penting di awal kehidupannya? Beberapa penelitian berskala besar dan penting memang menunjukkan adanya hubungan antara rendahnya jumlah bakteri baik penghuni tubuh alias human microbiome di awal kehidupan bayi dengan meningkatnya risiko asma, diabetes melitus tipe 1, penyakit seliak, dan obesitas. Meskipun keempat masalah kesehatan ini tidak semata-mata muncul akibat satu faktor penyebab saja. Dan tidak berarti juga bahwa tindakan operasi sesar lebih buruk daripada persalinan normal, atau susu formula “haram”. Karena pemberiannya tentu atas indikasi medis. Tindakan pembedahan kaisar terbukti menyelamatkan banyak nyawa atas indikasi medis yang tepat, dan susu formula boleh diberikan dengan indikasi medis tepat pula. Tetapi tidak dielakkan, bahwa persalinan normal yang berlanjut dengan kontak kulit segera ke Ibu dan berlanjut dengan pemberian ASI jauh memberikan manfaat dengan keberadaan human microbiome ini. Salah satu warisan manusia dari generasi ke generasi sejak keberadaan manusia di muka bumi ini.

Mengapa saya menaruh perhatian khusus terhadap hal ini? Tidak lepas dari maraknya penggunaan antibiotik yang tidak tepat beberapa dekade terakhir. Infeksi virus pun “dihantam” dengan antibiotik, sehingga potensial membunuh bakteri-bakteri penghuni tubuh kita yang bahkan berfungsi sebagai penjaga tubuh manusia, bisa menghadang bakteri-bakteri “jahat” penyebab penyakit alias patogen. Maka penggunaan antibiotik yang bijak dan sesuai indikasi penting dalam menjaga keberadaan dan peran human microbiome tubuh kita.

(Artikel bagus yang saya rekomendasikan di https://blogs.scientificamerican.com/guest-blog/shortchanging-a-babys-microbiome/)








Friday, January 19, 2018

Apakah sabun antiseptik lebih baik dibandingkan sabun biasa?


“Hati-hati main di lantai, Nak. Banyak bakteri berbahaya yang bisa buat sakit.” Sang Ibu mengingatkan putranya yang berusia 5 tahun. Sepertinya pesan yang disampaikan berulang kali oleh iklan sudah merasuk mantap ke dalam konsep berpikirnya. Bakteri itu berbahaya, dan bisa buat sakit. “Nanti cuci tangan pakai sabun antiseptik ya.” Ibunya menambahkan.

Di tempat lain.
“Sabun hebat melindungi dari kuman yang kuat. Sebelum antibiotik, bantu cegah dengan sabun antiseptik.” Sayup-sayup terdengar suara ini dari televisi. Sambil mengiris bawang di dapur, Ibu mendengarkan pesan komersial ini berulang kali. Ia juga teringat iklan yang lain. Anak-anak berisiko terpapar dengan berbagai kuman pembuat sakit berhari-hari. Di tubuh, di tangan, penuh dengan berbagai kuman termasuk bakteri yang dikesankan sebagai tokoh jahat. Maka sabun antiseptik mampu mencegah berbagai risiko penyakit ini. Masalahnya adalah: benarkah fakta ini? Benarkah sabun antiseptik yang digunakan sehari-hari untuk mandi atau mencuci tangan, dan bisa dibeli bebas di toko terbukti efektif mengurangi kejadian penyakit seperti infeksi saluran napas dan infeksi saluran cerna? Atau kembali ke prinsip pertanyaan: apakah bakteri yang sehari-hari berinteraksi dengan tubuh kita, termasuk anak-anak kita, adalah bakteri jahat pembuat sakit?

Apabila kita coba telusuri berbagai referensi (beberapa saya sampaikan di akhir tulisan), maka kita akan mendapati fakta “mengejutkan” akhir-akhir ini: sabun antiseptik tidak terbukti efektif mencegah penyakit seperti yang banyak dipercaya, bahkan memiliki beberapa risiko buruk bagi kesehatan. Badan pengawas obat dan makanan (POM) Amerika Serikat (FDA) sudah mengeluarkan rilisnya beberapa tahun lalu bahwa perusahaan-perusahaan produsen sabun antiseptik diminta mengevaluasi kembali produknya, sebelum dinyatakan masih layak diteruskan produksinya atau tidak. Apa saja yang perlu diketahui tentang sabun antiseptik?

- Sabun antiseptik, atau antibakterial/antimikrobial, adalah sabun yang ditambahkan bahan antibakteri seperti triclosan dan/atau triclocarban (bahan-bahan lain tidak dibahas di sini). Maka baca kemasan produk yang disebut mengandung antiseptik, baik pada sabun cair/batang, pasta gigi, sampo, larutan pel, matras, karpet, sampai peralatan dapur sehari-hari.

- Kembali dulu kepada prinsip bahwa MAYORITAS bakteri di alam semesta adalah BAIK. Bakteri yang membuat sakit hanyalah sedikit sekali dari semua bakteri yang ada. Sejak manusia lahir, maka bakteri menghuni seluruh tubuh manusia, dengan jumlah yang diperkirakan 10x lipat lebih banyak dari jumlah sel penyusun tubuh. Jadi bakteri baik mendampingi manusia sepanjang hidupnya di dunia. Penggunaan antibiotik yang ditujukan khusus untuk membunuh bakteri jahat, secara tidak tepat, berpotensi membunuh bakteri-bakteri baik di tubuh kita dan lingkungan tempat tinggal kita. Di sisi lain, mayoritas penyakit pada anak dan dewasa disebabkan oleh infeksi virus yang tidak membutuhkan antibiotik. Maka ketika iklan gencar “menyosialisasikan” kata kuman, maka harus diperjelas:
- Virus?
- Bakteri baik penghuni tubuh (komensal) atau lingkungan sekitar?
- Atau bakteri jahat pembuat sakit (patogen)?
Agar jelas kapan butuh antibiotik (baca: antiseptik) dan kapan tidak.

- Apa penyebab tersering selesma dan flu? Virus kan. Tidak perlu antibiotik. Apa penyebab tersering diare? Virus lagi. Tidak perlu antibiotik. Kecuali selesma/flu yang menjadi pneumonia dan diare disertai darah (disentri).

- FDA menyimpulkan dari hasil kajiannya bahwa penggunaan sabun antiseptik TIDAK TERBUKTI lebih baik dari sabun biasa non-antiseptik dalam mencegah penyakit infeksi yang sering disebutkan. Lalu bagaimana cara mencegah infeksi akibat berbagai virus dan bakteri yang ditransmisikan lewat tangan kita? Ya cuci tangan dengan air mengalir, selama 20 detik, cukup dengan sabun biasa. Cuci tangan dibuktikan sebagai salah satu langkah terbaik dalam mencegah berbagai penyakit infeksi saluran napas dan saluran cerna.

- Hand sanitizer yang misalnya mengandung alkohol 60 persen dan sabun antiseptik khusus di RS tidak masuk dalam definisi sabun antiseptik yang dijual bebas di pasaran dan diiklankan bebas di berbagai media. Pencegahan infeksi di RS dengan 6 langkah cuci tangan sangat penting dalam mencegah infeksi nosokomial yang berpotensi membahayakan nyawa, apalagi dengan ancaman berbagai bakteri resisten antibiotik di RS.

- Apa hal yang sering dikhawatirkan terhadap penggunaan sabun antiseptik berlebihan? Ya betul, risiko terjadinya resistensi antibiotik. Ketika antiseptik (baca: antibiotik) ikut mematikan bakteri-bakteri baik di kulit, maka lama kelamaan akan terbentuk bakteri resisten (mekanismenya panjang dan rumit), dan menambah daftar panjang resistensi antibiotik yang dibentuk oleh penggunaan antibiotik tidak rasional (antibiotik untuk infeksi virus, antibiotik spektrum luas untuk infeksi bakteri yang hanya membutuhkan spektrum sempit). Kekhawatiran ini memang masih kontroversial, karena bukti jelas bahwa penggunaan triclosan/triclocarban berhubungan langsung dengan resistensi antibiotik belum utuh, tetapi hipotesis banyak mengkhawatirkan risiko ini. Selain itu lembaga konsumen di Eropa ada yang menyatakan bahwa kandungan triclosan/triclocarban di bawah 0,3 persen masih dianggap aman. Unilever sendiri yang dianggap produsen nomor 1 dunia dalam produk perawatan tubuh harian, menyatakan akan menarik triclosan/triclocarban dalam seluruh produknya paling lambat akhir tahun 2018. Mari kita lihat buktinya nanti.

- Kandungan antiseptik dalam sabun diteliti dalam eksperimen hewan memengaruhi fungsi endokrin, misalnya terhadap hormon tiroid. Ada yang mengkhawatirkan risiko jangka panjang berupa infertilitas, pubertas dini, obesitas, dan kanker. Penelitian lain menunjukkan penggunaan triclosan yang sering berhubungan dengan meningkatnya risiko alergi. Mungkin ini disebabkan karena berkurangnya paparan terhadap bakteri, yang sebenarnya dibutuhkan dalam pembentukan sistem imun dan fungsinya. Bahan antiseptik ini ternyata bisa melewati lapisan kulit, dan ada penelitian yang menunjukkan triclosan terdeteksi dalam urin/air seni. Dalam skala besar di lingkungan, triclosan yang larut lewat akumulasi di aliran air ke tanah melalui saluran pembuangan air, akhirnya dapat mengganggu kemampuan fotosintesis ganggang. 

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ya, rajin mencuci tangan dan mandi cukup menggunakan sabun biasa saja. 

Beberapa referensi:
https://www.fda.gov/ForConsumers/ConsumerUpdates/ucm378393.htm
https://m.huffpost.com/us/entry/14046710
https://www.smithsonianmag.com/science-nature/five-reasons-why-you-should-probably-stop-using-antibacterial-soap-180948078/
https://www.unilever.com/about/innovation/Our-products-and-ingredients/Your-ingredient-questions-answered/Triclosan-and-triclocarban.html







Tuesday, January 16, 2018

Infeksi Virus atau Bakteri?


Dua hari ini si kecil demam. Suhunya 39 derajat selsius, dan hidungnya mampet. Hampir sepanjang hari ia batuk. Ibu membawanya ke dokter dan mendapatkan obat. Ternyata salah satunya antibiotik. Haruskah diminum? 


Masih ingat kapan pertama kali anak Anda mengalami demam? Saat masih bayi? Apa perasaan Anda saat itu? Panik, bingung, atau tetap tenang sambil berpikir langkah pertama yang harus dilakukan? Sebagian dari Anda mungkin pergi ke dokter dan mendapatkan penjelasan sakitnya disebabkan oleh infeksi. Apakah infeksi itu? Yaitu masuknya kuman ke dalam tubuh, dan bisa menimbulkan sakit atau tidak. Tergantung dari daya tahan tubuh. Kuman atau mikroorganisme berukuran sangat kecil dan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, tetapi justru merupakan penghuni terbesar alam semesta ini. Jenisnya bermacam-macam, tetapi yang paling sering menyebabkan penyakit pada manusia adalah virus dan bakteri. Bagaimana membedakan keduanya?


Pertama, kita harus mengenali apakah virus dan bakteri itu. Bakteri adalah makhluk hidup bersel satu, yang ada di berbagai tempat di muka bumi. Di permukaan tanah hingga kedalamannya, di permukaan air hingga kedalaman laut, bahkan di udara. Tubuh makhluk hidup pun, termasuk manusia, dihuni oleh berbagai jenis bakteri. Para peneliti mendapatkan fakta jumlah bakteri penghuni tubuh manusia ternyata sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah sel penyusun tubuh manuaia! Jika ada 10 trilyun sel penyusun tubuh manusia, maka ada 100 trilyun bakteri penghuni tubuh manusia! Nah, dengan jumlah bakteri sebanyak ini, dan mendiami tubuh manusia sejak bayi dilahirkan dan menampakkan diri untuk pertama kalinya ke dunia ini, mengapa manusia jarang sakit? Karena bakteri-bakteri ini baik! Ya, mayoritas bakteri yang ada di dalam semesta, termasuk di tubuh manusia adalah penghuni “alami” dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Keseimbangan bakteri di alam menjaga keseimbangan hidup makhluk hidup. Bakteri di usus besar manusia misalnya, menjaga agar saluran pencernaan kita bekerja baik, mampu mencerna makanan secara wajar, tidak sembelit, dan menghasilkan vitamin K yang berfungsi dalam pembekuan darah. Hanya kurang dari 10% bakteri yang dapat menyebabkan sakit pada manusia.

Berbeda halnya dengan virus. Virus sebenarnya bukan makhluk hidup, karena ia tidak dapat hidup mandiri di luar sel makhluk hidup. Virus ada di mana-mana, dan dapat menghuni seluruh sel hidup di alam, seperti tumbuhan, hewan, bahkan bakteri pun bisa dihinggapi oleh virus. Virus menyebabkan sakit pada manusia dengan cara mengambil alih fungsi sel di tubuh dan merusak kerjanya. Ternyata mayoritas penyakit pada manusia disebabkan oleh infeksi virus.


Kedua, untuk mengetahui apakah penyebab penyakit ini adalah virus atau bakteri tentunya dengan mengidentifikasi kuman penyebabnya. Misalnya dengan mengisolasi virus atau bakteri dari jaringan atau sel tubuh yang sakit, lalu mengenalinya di laboratorium. Tetapi ini tentunya bukan hal yang mudah, karena membiakkan virus dan bakteri bukan tindakan laboratorium yang sederhana, lalu sangat sedikit fasilitas laboratorium yang mampu melakukannya, dan membutuhkan biaya sangat tinggi serta seringkali menyakitkan bagi manusia (melakukan biopsi jaringan misalnya). Maka seiring perkembangan ilmu kedokteran selama berabad-abad dan makin banyaknya penyakit yang dikenali, mengetahui diagnosis suatu penyakit dapat menentukan apakah penyebabnya infeksi virus atau bakteri.

Sebagai contoh. Ketika seseorang didiagnosis selesma alias batuk dan pilek (seperti ilustrasi di awal tulisan) atau common cold, maka jelaslah bahwa penyebabnya infeksi virus. Selesma dan penyakit sejenisnya bernama influenza (flu) yang merupakan infeksi saluran napas atas, disebabkan oleh infeksi virus. Mungkinkah ternyata penyebabnya infeksi bakteri? Jika ternyata penyakit menjalar ke saluran napas dan menyebabkan pneumonia (radang paru), maka bisa jadi penyebabnya infeksi bakteri. Bagaimana membedakan selesma atau flu, dengan pneumonia? Ada tanda dan gejala yang bisa dibaca di banyak sumber, dan pemeriksaan dokter memastikan diagnosisnya. Maka jangan pernah lupa: tanyakan kepada dokter apa diagnosisnya (dalam bahasa medis/kedokteran, bukan bahasa awam). Pemberian terapi atau obat menyesuaikan dengan diagnosis. Ketidaksesuaian antara diagnosis dan terapi tentu dapat menimbulkan keraguan.


 Beberapa diagnosis penyakit tersering dan penyebabnya ada dalam gambar.


Ketiga, infeksi virus tidak diobati dengan antibiotik (antivirus pun diberikan hanya pada sebagian kecil penyakit berat). Umumnya daya tahan tubuh yang akan memulihkan penyakit akibat infeksi virus, seiring waktu. Infeksi bakterilah yang membutuhkan antibiotik. Apabila seseorang didiagnosis penyakitnya akibat infeksi virus lalu ia diberikan antibiotik, maka diagnosis atau terapinya harus dipertanyakan.


Keempat, kebanyakan penyakit akibat infeksi virus sifatnya ringan dan anak masih dapat beraktivitas atau tampak ceria. Sedangkan infeksi bakteri yang bergejala berat dan tidak segera diberikan antibiotik dapat berakibat fatal, bahkan kematian. Maka sebelum mengetahui apa diagnosis suatu penyakit, maka hal terpenting bagi seluruh orangtua adalah: mengenali tanda-tanda kegawatan yang mengharuskan segera ke dokter/rumah sakit. Misalnya:

Sesak napas, ditandai dengan napas cepat lebih dari 50 kali per menit dan adanya tarikan di antara sela-sela iga
Dehidrasi atau kekurangan cairan, yaitu lebih dari 6-8 jam anak tidak buang air kecil
Demam di atas 39 derajat selsius dan anak cenderung lemah, serta tidak ada gejala-gejala pendampingnya
Anak banyak tidur dan sukar dibangunkan
Kejang untuk pertama kalinya dan berlangsung lebih dari 5 menit, dilanjutkan dengan penurunan kesadaran
Perdarahan yang tidak kunjung berhenti

Maka di era informasi yang sangat mudah didapatkan lewat ponsel cerdas, bekalilah diri dengan ilmu kesehatan dari situs-situs terpercaya, seperti www.idai.or.idwww.milissehat.web.idwww.kidshealth.org dan www.who.int Selamat belajar!


Tulisan pernah dimuat di Rubrik Tumbuh Kembang Majalah Ummi yang ditulis oleh dr. Arifianto, Sp.A




Tuesday, August 09, 2016

Superbug as Badbug: Dawn of Mankind


Sudah bisa nebak ya, judul tulisan ini terinspirasi dari "Batman v Superman: Dawn of Justice". Filem yang sepertinya menyedot penonton di akhir pekan ini. Siapa yang tidak kenal Superman dan Batman? Saya tidak akan membahas bedanya Superman klasik, The Death and Life of Superman, dan Man of Steel, atau Batman klasik dengan The Dark Knight. Tapi saya akan menceritakan Superbug. Apakah itu? Berkali-kali saya membahas bahayanya penggunaan antibiotik yang tidak sesuai tempatnya. Ya, kita sudah paham bahwa antibiotik hanya digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Padahal tidak semua penyakit disebabkan oleh bakteri. Infeksi virus justru mendominasi penyakit pada manusia, dan tentunya infeksi virus tidak memerlukan antibiotik.

Masalahnya adalah: banyak antibiotik diresepkan tidak pada tempatnya. Termasuk antibiotik yang diresepkan pada infeksi virus. Hal lainnya adalah penggunaan antibiotik spektrum luas pada infeksi bakteri yang sebenarnya tidak membutuhkan tipe antibiotik tersebut. Padahal bakteri adalah makhluk hidup yang punya prinsip bertahan. Jika ia diserang, maka secara alamiah bakteri berusaha bertahan. Fakta lainnya adalah mayoritas bakteri di tubuh manusia adalah penghuni alamiah yang tidak punya maksud jahat. Saya jelaskan di tulisan lama yang saya salinkan kembali di bawah.

########################

Selintas Kisah Bakteri dan Virus

Bakteri menghuni tubuh kita sejak beberapa saat kita terlahir ke dunia. Bayi yg lahir secara spontan (persalinan normal), melewati vagina sang ibu yang pastinya penuh dengan bakteri. Bayi yg dilahirkan dengan operasi sesar pun, ketika didekapkan ke dada ibunya atau dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD), segera "berkenalan" dengan bakteri-bakteri baik penghuni kulit ibu, dan terjadilah perpindahan ke tubuh bayi.

Bayi yg awalnya berada di dalam lingkungan steril di dalam rahim ibu, segera pindah ke dunia yg penuh dengan kuman tak terhingga.

Pastilah ini diciptakan Sang Pencipta dengan maksud.

Pada saat bayi berusia 7 hari, milyaran bakteri menjadi penghuni tetap hidung, mulut, kulit, dan ususnya. Apakah kemudian bayi menjadi sakit karenanya?

Kini diketahui bahwa tubub manusia adalah HUMAN MICROBIOME. Apa maksudnya? Ada kurang lebih 10 trilyun sel yg menyusun tubuh manusia, tetapi ada 100 trilyun bakteri yang menghuni tubuh kita! Tubuh manusia lebih merupakan kumpulan bakteri dibandingkan kumpulan sel. Lalu apakah kita menjadi sakit setiap waktu? Tentu saja tidak.

Lalu apakah penggunaan antibiotik berlebihan dan tidak pada tempatnya (digunakan utk infeksi virus) tidak berpotensi membunuh bakteri baik penghuni tubuh kita? Keseimbangan pun akan terganggu dan prinsip survival of the fittest akan membuat bakteri baik bertanya: mengapa kami dimusnahkan?
Lebih jauh lagi, SUPERBUG alias bakteri resisten antibiotik juga ikut tercipta. Masa depan umat manusia ikut terancam...

Sekarang..mari kita bicara tentang virus. Sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa virus bukanlah makhluk hidup. Virus "hanyalah" rangkaian materi genetik DNA/RNA yg dibungkus dengan protein dan polisakarida, yang HANYA bisa hidup di dalam makhluk hidup lainnya.

Jumlah virus di muka bumi amat sangat tak terhingga banyaknya. Virus ada di mana-mana. Tanpa disadari, setiap saat manusia menghirup dan menelan milyaran virus. Tapi apakah manusia menjadi sakit setiap waktu? Lagi-lagi tidak.

Virus menginfeksi tidak hanya manusia, tapi seluruh makhluk hidup di bumi. Bakteri pun diinfeksi oleh virus (virus yg menginfeksi bakteri dinamakan bakteriofag). Jumlah bakteriofag yg ada di lautan (saja), diperkirakan sebanyak 10 pangkat 30 (hitung sendiri ya..). Bila direntangkan rangkaian kepala sampai ekor bakteriofag ini, panjangnya (kalau tidak salah) sekitar 200 tahun cahaya. Ya, tak terbayangkan, jika kita masih ingat seberapa cepatnya kecepatan cahaya. Silakan buka www.virology.ws bila ingin mempelajari betapa luar biasanya virus. Profesor Vincent Racaniello dkk dari Columbia University menjelaskannya dengan mudah.

Kita sudah mengetahui bahwa mayoritas bakteri yang tinggal bersama kita tidak membahayakan, bahkan menguntungkan. Bakteri penghuni usus besar misalnya, membantu pencernaan kita setiap waktu dan berperan dalam pembentukan vitamin K.

Virus diketahui sebagai penyebab tersering penyakit infeksi pada manusia, termasuk anak. Jauh lebih sering dibandingkan dengan infeksi bakteri. Anak-anak adalah kelompok yg sangat sering sakit akibat infeksi virus. Sebagai contoh, dalam setahun seorang anak dapat mengalami 10-12 kali episode selesma (common cold). Apa artinya? Sebulan sekali! Apakah tiap bulan anak kena batuk pilek harus diberikan obat? Apakah tiap bulan kena batuk pilek anak harus dibawa ke dokter? Tentunya tidak. Sebutlah nama-nama seperti respiratory syncytial virus, influenza virus, parainfluenza virus, rinovirus, dan adenovirus sebagai penyebab tersering infeksi saluran napas pada anak. Total ada sekitar 200 strain virus yg bisa membuat common cold.

Inilah kabar buruk dan kabar baik tentang virus. Kabar buruknya adalah: biasanya hampir tidak ada obat yg dapat menyembuhkan infeksi virus lebih cepat. Kabar baiknya: sebagian besar infeksi virus biasanya sembuh sendiri tanpa obat-obatan.

Antibiotik tidak dapat membunuh virus, sehingga pastinya tidak membantu sama sekali membuat anak dengan infeksi virus sembuh lebih cepat.

###################

Di masa depan, munculnya Superbug ini diperkirakan dapat menyebabkan kematian yang melebihi akibat kanker. Maka, gunakan antibiotik sesuai tempatnya.

(Tulisan ini hanyalah pendahuluan. Belum membahas mekanisme terjadinya superbug, apa itu MRSA, dll. Semoga saya dimudahkan untuk membahasnya kelak)

Beda infeksi virus dengan bakteri

Bagaimana membedakan infeksi virus dengan infeksi bakteri?

Posting saya pekan lalu tentang antibiotik bukanlah obat demam lagi-lagi mengundang pertanyaan: bagaimana membedakan infeksi bakteri dengan virus? Mengingat antibiotik diberikan untuk infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Sebenarnya pembahasan hal ini sudah pernah saya tulis, tapi tak apa-apa, saya coba paparkan lagi dalam bentuk poin-poin.

- Cara paling ideal membedakan keduanya tentu dengan melihat langsung mikroorganisme penyebabnya dengan mikroskop, yaitu virus atau bakteri. Tapi ini perkara yang tidak mudah, tidak bisa dikerjakan di semua tempat, mahal, dan banyak kendala lainnya. Tapi pada sebagian kecil kasus, "menangkap" dan mengidentifikasi kuman harus dilakukan. Misalnya dengan melakukan pemeriksaan kultur (biakan) dari darah (atau urin, dan cairan tubuh lainnya), pemeriksaan langsung (dahak untuk mencari kuman TB), atau biopsi jaringan tubuh.

- Pada sebagian besar kasus, mengetahui apakah infeksinya virus atau bakteri ialah dengan mengetahui apa diagnosisnya? Seringkali dengan wawancara (anamnesis) dan pemeriksaan fisik saja, diagnosis sudah dapat diketahui. Jika belum, pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan radiologi dilakukan. Makanya penting sekali keluar dari ruang dokter, seseorang tahu apa diagnosisnya. Bagaimana caranya? Ya tanya ke dokternya. Diagnosis haruslah dalam bahasa medis, seperti beberapa yang saya tulis di gambar. Tidak boleh ada diagnosis "geje" alias ga jelas seperti "radang tenggorokan", "flek paru", "tampek", dan sejenisnya.
Mengetahui bahasa medis ini akan diperjelas lagi dengan membaca-bacanya di situs terpercaya seperti www.medscape.com, www.webmd.com, dan www.mayoclinic.com
Apabila ada ketidaksesuaian antara diagnosis dengan terapi, maka tanyakan ke dokter yang memeriksa. Jangan bertanya ke dokter online. Hehe :-D

- Masih ada beberapa penyakit yang belum dijelaskan di gambar ini. Tapi saya berusaha menyampaikan yang tersering saja. Supaya tidak terlalu bingung, kapan antibiotik perlu diberikan dan kapan tidak.

Semoga bermanfaat

Monday, August 08, 2016

Pakai "tanganmeter" atau termometer?

Ibu-ibu ini (Bapak-bapak juga) memang harus selalu diingatkan, agar tidak pakai "tangan-meter" untuk menentukan anaknya sedang demam atau tidak. Karena berdasarkan pengamatan saya, penggunaan tangan-meter, alias meraba dahi/badan anak dan menyimpulkannya demam, tanpa termometer, sering menyebabkan "diagnosis" demam yang berlebihan, dan berujung pada pemberian obat penurun panas (antipiretik) yang sebenarnya tidak/belum perlu.

"Dok, anak saya sudah 3 hari demam. Nggak ada gejala lain. Makanya saya bawa ke dokter."
"Berapa suhunya?" tanya saya.
"Nggak diukur pakai termometer."
(*tepok jidat)

Lalu ada aja alasannya. Anaknya nggak bisa diam dan berontak kalau dimasukkan termometer ke ketiak lah. Termometernya pecah lah. Sampai memang nggak punya termometer. Hehe.

Atau sebaliknya. "Anak saya anget Dok. Suhunya 37 derajat. Jadi saya kasih parasetamol."
"37 derajat mah nggak demam, Bu. Di atas 38 baru demam," jawab saya lagi.

Padahal demam kita ketahui tujuannya baik: menciptakan suasana kondusif bagi tubuh agar virus dan bakteri tidak mudah berkembang biak. Dengan kata lain, demam bertujuan membuat tubuh kita lekas sembuh!

Don't treat low grade fever! Begitu nasihatnya. Antipiretik diberikan jika anak sudah menjadi rewel dan tidak nyaman karena demamnya.

Friday, August 05, 2016

Lagi-lagi tentang antibiotik

"Oke deh. Batuk-pilek alias selesma obatnya cuma SABAR. Tapi setelah 2 minggu anak saya batuk-pilek, terus dapat antibiotik, alhamdulillah langsung sembuh. Berarti kalau mau cepat sembuh bisa dengan minum obat dong?"

Pernah mengalami hal serupa? Dalam pengamatan saya, kondisi di atas namanya adalah koinsidens (coincidence) alias kebetulan. Lha kok bisa?

Ini alasannya:
- infeksi virus obatnya bukan antibiotik
- anak ini kebetulan pas minum antibiotik, pas saatnya sakitnya menyembuh. Jadi kebetulan terjadi di waktu bersamaan. Makanya dipikirkan adanya hubungan sebab-akibat. Padahal sepertinya tidak ada.
- penggunaan antibiotik terlalu sering dan tidak pada tempatnya meningkatkan risiko sakit. Lho kok bisa? Alasannya:
(1) antibiotik melawan bakteri. ketika ia masuk ke tubuh manusia dan tidak menemukan bakteri jahat untuk dilawan, maka yang diserangnya adalah bakteri baik di seluruh tubuh manusia, terutama di usus besar (koloni terbesar). Padahal bakteri baik ini menjaga tubuh kita tetap sehat. Walhasil terjadilah mencret (diare).
(2) bakteri baik tak berdosa yang diserang ini akan memperbaiki sistem pertahanannya, sehingga kelak di kemudian hari ketika ia diserang antibiotik, ia tidak mudah dikalahkan. Terciptalah bakteri super alias superbug, yang bisa jadi kebal terhadap berbagai macam antibiotik. Ketika bakteri ini berubah jadi jahat dan menyebabkan penyakit, maka antibiotik tidak mempan lagi. Risiko kematian meningkat!

Maka jangan lupa, tiap kali Anda berkunjung ke dokter, tanyakan 4 hal ini:
1. Apa diagnosis sakit saya/anak saya? (dalam bahasa medis, supaya bisa browsing di internet)
2. Jika penyebabnya infeksi, apakah virus atau bakteri? (atau jamur, amuba, dll)
3. Mengapa diberi antibiotik?
4. Apa saja tanda gawat darurat yang membuat saya/anak saya harus segera ke dokter/RS?

Selamat belajar! :-)

Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?

 (tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...