Showing posts with label antibiotik. Show all posts
Showing posts with label antibiotik. Show all posts

Friday, January 19, 2018

Apakah sabun antiseptik lebih baik dibandingkan sabun biasa?


“Hati-hati main di lantai, Nak. Banyak bakteri berbahaya yang bisa buat sakit.” Sang Ibu mengingatkan putranya yang berusia 5 tahun. Sepertinya pesan yang disampaikan berulang kali oleh iklan sudah merasuk mantap ke dalam konsep berpikirnya. Bakteri itu berbahaya, dan bisa buat sakit. “Nanti cuci tangan pakai sabun antiseptik ya.” Ibunya menambahkan.

Di tempat lain.
“Sabun hebat melindungi dari kuman yang kuat. Sebelum antibiotik, bantu cegah dengan sabun antiseptik.” Sayup-sayup terdengar suara ini dari televisi. Sambil mengiris bawang di dapur, Ibu mendengarkan pesan komersial ini berulang kali. Ia juga teringat iklan yang lain. Anak-anak berisiko terpapar dengan berbagai kuman pembuat sakit berhari-hari. Di tubuh, di tangan, penuh dengan berbagai kuman termasuk bakteri yang dikesankan sebagai tokoh jahat. Maka sabun antiseptik mampu mencegah berbagai risiko penyakit ini. Masalahnya adalah: benarkah fakta ini? Benarkah sabun antiseptik yang digunakan sehari-hari untuk mandi atau mencuci tangan, dan bisa dibeli bebas di toko terbukti efektif mengurangi kejadian penyakit seperti infeksi saluran napas dan infeksi saluran cerna? Atau kembali ke prinsip pertanyaan: apakah bakteri yang sehari-hari berinteraksi dengan tubuh kita, termasuk anak-anak kita, adalah bakteri jahat pembuat sakit?

Apabila kita coba telusuri berbagai referensi (beberapa saya sampaikan di akhir tulisan), maka kita akan mendapati fakta “mengejutkan” akhir-akhir ini: sabun antiseptik tidak terbukti efektif mencegah penyakit seperti yang banyak dipercaya, bahkan memiliki beberapa risiko buruk bagi kesehatan. Badan pengawas obat dan makanan (POM) Amerika Serikat (FDA) sudah mengeluarkan rilisnya beberapa tahun lalu bahwa perusahaan-perusahaan produsen sabun antiseptik diminta mengevaluasi kembali produknya, sebelum dinyatakan masih layak diteruskan produksinya atau tidak. Apa saja yang perlu diketahui tentang sabun antiseptik?

- Sabun antiseptik, atau antibakterial/antimikrobial, adalah sabun yang ditambahkan bahan antibakteri seperti triclosan dan/atau triclocarban (bahan-bahan lain tidak dibahas di sini). Maka baca kemasan produk yang disebut mengandung antiseptik, baik pada sabun cair/batang, pasta gigi, sampo, larutan pel, matras, karpet, sampai peralatan dapur sehari-hari.

- Kembali dulu kepada prinsip bahwa MAYORITAS bakteri di alam semesta adalah BAIK. Bakteri yang membuat sakit hanyalah sedikit sekali dari semua bakteri yang ada. Sejak manusia lahir, maka bakteri menghuni seluruh tubuh manusia, dengan jumlah yang diperkirakan 10x lipat lebih banyak dari jumlah sel penyusun tubuh. Jadi bakteri baik mendampingi manusia sepanjang hidupnya di dunia. Penggunaan antibiotik yang ditujukan khusus untuk membunuh bakteri jahat, secara tidak tepat, berpotensi membunuh bakteri-bakteri baik di tubuh kita dan lingkungan tempat tinggal kita. Di sisi lain, mayoritas penyakit pada anak dan dewasa disebabkan oleh infeksi virus yang tidak membutuhkan antibiotik. Maka ketika iklan gencar “menyosialisasikan” kata kuman, maka harus diperjelas:
- Virus?
- Bakteri baik penghuni tubuh (komensal) atau lingkungan sekitar?
- Atau bakteri jahat pembuat sakit (patogen)?
Agar jelas kapan butuh antibiotik (baca: antiseptik) dan kapan tidak.

- Apa penyebab tersering selesma dan flu? Virus kan. Tidak perlu antibiotik. Apa penyebab tersering diare? Virus lagi. Tidak perlu antibiotik. Kecuali selesma/flu yang menjadi pneumonia dan diare disertai darah (disentri).

- FDA menyimpulkan dari hasil kajiannya bahwa penggunaan sabun antiseptik TIDAK TERBUKTI lebih baik dari sabun biasa non-antiseptik dalam mencegah penyakit infeksi yang sering disebutkan. Lalu bagaimana cara mencegah infeksi akibat berbagai virus dan bakteri yang ditransmisikan lewat tangan kita? Ya cuci tangan dengan air mengalir, selama 20 detik, cukup dengan sabun biasa. Cuci tangan dibuktikan sebagai salah satu langkah terbaik dalam mencegah berbagai penyakit infeksi saluran napas dan saluran cerna.

- Hand sanitizer yang misalnya mengandung alkohol 60 persen dan sabun antiseptik khusus di RS tidak masuk dalam definisi sabun antiseptik yang dijual bebas di pasaran dan diiklankan bebas di berbagai media. Pencegahan infeksi di RS dengan 6 langkah cuci tangan sangat penting dalam mencegah infeksi nosokomial yang berpotensi membahayakan nyawa, apalagi dengan ancaman berbagai bakteri resisten antibiotik di RS.

- Apa hal yang sering dikhawatirkan terhadap penggunaan sabun antiseptik berlebihan? Ya betul, risiko terjadinya resistensi antibiotik. Ketika antiseptik (baca: antibiotik) ikut mematikan bakteri-bakteri baik di kulit, maka lama kelamaan akan terbentuk bakteri resisten (mekanismenya panjang dan rumit), dan menambah daftar panjang resistensi antibiotik yang dibentuk oleh penggunaan antibiotik tidak rasional (antibiotik untuk infeksi virus, antibiotik spektrum luas untuk infeksi bakteri yang hanya membutuhkan spektrum sempit). Kekhawatiran ini memang masih kontroversial, karena bukti jelas bahwa penggunaan triclosan/triclocarban berhubungan langsung dengan resistensi antibiotik belum utuh, tetapi hipotesis banyak mengkhawatirkan risiko ini. Selain itu lembaga konsumen di Eropa ada yang menyatakan bahwa kandungan triclosan/triclocarban di bawah 0,3 persen masih dianggap aman. Unilever sendiri yang dianggap produsen nomor 1 dunia dalam produk perawatan tubuh harian, menyatakan akan menarik triclosan/triclocarban dalam seluruh produknya paling lambat akhir tahun 2018. Mari kita lihat buktinya nanti.

- Kandungan antiseptik dalam sabun diteliti dalam eksperimen hewan memengaruhi fungsi endokrin, misalnya terhadap hormon tiroid. Ada yang mengkhawatirkan risiko jangka panjang berupa infertilitas, pubertas dini, obesitas, dan kanker. Penelitian lain menunjukkan penggunaan triclosan yang sering berhubungan dengan meningkatnya risiko alergi. Mungkin ini disebabkan karena berkurangnya paparan terhadap bakteri, yang sebenarnya dibutuhkan dalam pembentukan sistem imun dan fungsinya. Bahan antiseptik ini ternyata bisa melewati lapisan kulit, dan ada penelitian yang menunjukkan triclosan terdeteksi dalam urin/air seni. Dalam skala besar di lingkungan, triclosan yang larut lewat akumulasi di aliran air ke tanah melalui saluran pembuangan air, akhirnya dapat mengganggu kemampuan fotosintesis ganggang. 

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Ya, rajin mencuci tangan dan mandi cukup menggunakan sabun biasa saja. 

Beberapa referensi:
https://www.fda.gov/ForConsumers/ConsumerUpdates/ucm378393.htm
https://m.huffpost.com/us/entry/14046710
https://www.smithsonianmag.com/science-nature/five-reasons-why-you-should-probably-stop-using-antibacterial-soap-180948078/
https://www.unilever.com/about/innovation/Our-products-and-ingredients/Your-ingredient-questions-answered/Triclosan-and-triclocarban.html







Tuesday, January 16, 2018

Infeksi Virus atau Bakteri?


Dua hari ini si kecil demam. Suhunya 39 derajat selsius, dan hidungnya mampet. Hampir sepanjang hari ia batuk. Ibu membawanya ke dokter dan mendapatkan obat. Ternyata salah satunya antibiotik. Haruskah diminum? 


Masih ingat kapan pertama kali anak Anda mengalami demam? Saat masih bayi? Apa perasaan Anda saat itu? Panik, bingung, atau tetap tenang sambil berpikir langkah pertama yang harus dilakukan? Sebagian dari Anda mungkin pergi ke dokter dan mendapatkan penjelasan sakitnya disebabkan oleh infeksi. Apakah infeksi itu? Yaitu masuknya kuman ke dalam tubuh, dan bisa menimbulkan sakit atau tidak. Tergantung dari daya tahan tubuh. Kuman atau mikroorganisme berukuran sangat kecil dan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, tetapi justru merupakan penghuni terbesar alam semesta ini. Jenisnya bermacam-macam, tetapi yang paling sering menyebabkan penyakit pada manusia adalah virus dan bakteri. Bagaimana membedakan keduanya?


Pertama, kita harus mengenali apakah virus dan bakteri itu. Bakteri adalah makhluk hidup bersel satu, yang ada di berbagai tempat di muka bumi. Di permukaan tanah hingga kedalamannya, di permukaan air hingga kedalaman laut, bahkan di udara. Tubuh makhluk hidup pun, termasuk manusia, dihuni oleh berbagai jenis bakteri. Para peneliti mendapatkan fakta jumlah bakteri penghuni tubuh manusia ternyata sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah sel penyusun tubuh manuaia! Jika ada 10 trilyun sel penyusun tubuh manusia, maka ada 100 trilyun bakteri penghuni tubuh manusia! Nah, dengan jumlah bakteri sebanyak ini, dan mendiami tubuh manusia sejak bayi dilahirkan dan menampakkan diri untuk pertama kalinya ke dunia ini, mengapa manusia jarang sakit? Karena bakteri-bakteri ini baik! Ya, mayoritas bakteri yang ada di dalam semesta, termasuk di tubuh manusia adalah penghuni “alami” dan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Keseimbangan bakteri di alam menjaga keseimbangan hidup makhluk hidup. Bakteri di usus besar manusia misalnya, menjaga agar saluran pencernaan kita bekerja baik, mampu mencerna makanan secara wajar, tidak sembelit, dan menghasilkan vitamin K yang berfungsi dalam pembekuan darah. Hanya kurang dari 10% bakteri yang dapat menyebabkan sakit pada manusia.

Berbeda halnya dengan virus. Virus sebenarnya bukan makhluk hidup, karena ia tidak dapat hidup mandiri di luar sel makhluk hidup. Virus ada di mana-mana, dan dapat menghuni seluruh sel hidup di alam, seperti tumbuhan, hewan, bahkan bakteri pun bisa dihinggapi oleh virus. Virus menyebabkan sakit pada manusia dengan cara mengambil alih fungsi sel di tubuh dan merusak kerjanya. Ternyata mayoritas penyakit pada manusia disebabkan oleh infeksi virus.


Kedua, untuk mengetahui apakah penyebab penyakit ini adalah virus atau bakteri tentunya dengan mengidentifikasi kuman penyebabnya. Misalnya dengan mengisolasi virus atau bakteri dari jaringan atau sel tubuh yang sakit, lalu mengenalinya di laboratorium. Tetapi ini tentunya bukan hal yang mudah, karena membiakkan virus dan bakteri bukan tindakan laboratorium yang sederhana, lalu sangat sedikit fasilitas laboratorium yang mampu melakukannya, dan membutuhkan biaya sangat tinggi serta seringkali menyakitkan bagi manusia (melakukan biopsi jaringan misalnya). Maka seiring perkembangan ilmu kedokteran selama berabad-abad dan makin banyaknya penyakit yang dikenali, mengetahui diagnosis suatu penyakit dapat menentukan apakah penyebabnya infeksi virus atau bakteri.

Sebagai contoh. Ketika seseorang didiagnosis selesma alias batuk dan pilek (seperti ilustrasi di awal tulisan) atau common cold, maka jelaslah bahwa penyebabnya infeksi virus. Selesma dan penyakit sejenisnya bernama influenza (flu) yang merupakan infeksi saluran napas atas, disebabkan oleh infeksi virus. Mungkinkah ternyata penyebabnya infeksi bakteri? Jika ternyata penyakit menjalar ke saluran napas dan menyebabkan pneumonia (radang paru), maka bisa jadi penyebabnya infeksi bakteri. Bagaimana membedakan selesma atau flu, dengan pneumonia? Ada tanda dan gejala yang bisa dibaca di banyak sumber, dan pemeriksaan dokter memastikan diagnosisnya. Maka jangan pernah lupa: tanyakan kepada dokter apa diagnosisnya (dalam bahasa medis/kedokteran, bukan bahasa awam). Pemberian terapi atau obat menyesuaikan dengan diagnosis. Ketidaksesuaian antara diagnosis dan terapi tentu dapat menimbulkan keraguan.


 Beberapa diagnosis penyakit tersering dan penyebabnya ada dalam gambar.


Ketiga, infeksi virus tidak diobati dengan antibiotik (antivirus pun diberikan hanya pada sebagian kecil penyakit berat). Umumnya daya tahan tubuh yang akan memulihkan penyakit akibat infeksi virus, seiring waktu. Infeksi bakterilah yang membutuhkan antibiotik. Apabila seseorang didiagnosis penyakitnya akibat infeksi virus lalu ia diberikan antibiotik, maka diagnosis atau terapinya harus dipertanyakan.


Keempat, kebanyakan penyakit akibat infeksi virus sifatnya ringan dan anak masih dapat beraktivitas atau tampak ceria. Sedangkan infeksi bakteri yang bergejala berat dan tidak segera diberikan antibiotik dapat berakibat fatal, bahkan kematian. Maka sebelum mengetahui apa diagnosis suatu penyakit, maka hal terpenting bagi seluruh orangtua adalah: mengenali tanda-tanda kegawatan yang mengharuskan segera ke dokter/rumah sakit. Misalnya:

- Sesak napas, ditandai dengan napas cepat lebih dari 50 kali per menit dan adanya tarikan di antara sela-sela iga
- Dehidrasi atau kekurangan cairan, yaitu lebih dari 6-8 jam anak tidak buang air kecil
- Demam di atas 39 derajat selsius dan anak cenderung lemah, serta tidak ada gejala-gejala pendampingnya
- Anak banyak tidur dan sukar dibangunkan
- Kejang untuk pertama kalinya dan berlangsung lebih dari 5 menit, dilanjutkan dengan penurunan kesadaran
- Perdarahan yang tidak kunjung berhenti

Maka di era informasi yang sangat mudah didapatkan lewat ponsel cerdas, bekalilah diri dengan ilmu kesehatan dari situs-situs terpercaya, seperti www.idai.or.id, www.milissehat.web.id, www.kidshealth.org dan www.who.int Selamat belajar!


Tulisan pernah dimuat di Rubrik Tumbuh Kembang Majalah Ummi yang ditulis oleh dr. Arifianto, Sp.A




Sunday, January 14, 2018

Apa sebenarnya “RUM” itu?


"Dok, minta rekomendasi dokter yang RUM dong!" 
Tidak jarang saya dimintai jawaban atas permintaan di atas. Memangnya apa definisi RUM? Idealis? Tidak pelit bicara? Tidak gampang kasih obat? Atau baik hati dan tidak sombong?

Rational use of medicine yang biasa disingkat RUM adalah terminologi yang dibuat oleh WHO sejak tahun 1985 dan mencakup definisi:

- pasien mendapatkan medikasi (tidak saya bilang obat ya, supaya kesannya ke dokter tidak harus pulang bawa obat) sesuai kebutuhan klinis alias diagnosisnya
- dosisnya sesuai kondisi individual
- lama pengobatan harus tepat
- biayanya paling murah!

Yuk kita kupas satu-satu, secara singkat saja

Definisi pertama mengharuskan kesesuaian antara DIAGNOSIS dan terapi. Artinya, kalau berobat dan dapat terapi, ya harus sesuai. Jangan sampai diagnosisnya A, dapat terapinya B. Makanya, biasakan bertanya ke dokter: apa diagnosisnya, ketika mendapat obat atau terapi lain. Kebiasaan ini juga membuat konsumen kesehatan bisa belajar lebih lanjut tentang diagnosis sakitnya, dan kesesuaian terapi. 

Hal lain adalah mendapatkan informasi diagnosis yang jelas dan tegas! Tidak ada lagi diagnosis "abu-abu" seperti "gejala tipes", "gejala DBD", "flek paru", "tampek", atau "radang tenggorokan". Tegas saja: tifoid atau bukan, DBD atau bukan, TB atau bukan, roseola atau rubella atau campak, dan strep throat atau bukan. 

Definisi kedua dan ketiga menunjukkan terapi itu sifatnya individual. Bahkan saudara kembar yang sakitnya sama pun bisa jadi obatnya berbeda. Pada anak, dosis obat ditentukan terutama dari berat badan, meskipun pada kemasan obat yang dijual bebas seperti parasetamol sirup misalnya, dituliskan dengan umur.

Pelajaran lainnya adalah tidak dibenarkan saling bertukar obat, khususnya untuk obat-obatan yang memang harus dengan resep dokter, antara satu orang dengan orang lainnya. Misalnya pada percakapan di bawah ini:

"Bu, saya udah 3 hari sakit gigi. Belum sempat ke dokter gigi. Enaknya minum obat apa ya?" tanya seorang Ibu ke Ibu lainnya, sambil menunggu anak mereka pulang sekolah.
"Kemarin saya sempat punya keluhan yang sama, Jeng. Lalu saya ke dokter gigi dan dikasih amoksisilin. Setelah dua hari minum obat dan enakan, saya stop antibiotiknya. Sekarang masih ada sisa, buat Jeng aja. Siapa tahu enakan habis minum amoksisilin punya saya," Si Ibu di sebelahnya menanggapi.

Hayo... silakan evaluasi, apa saja kesalahan dalam percakapan di atas? Yak, betul! Tidak menghabiskan antibiotik atas petunjuk dokter, dan bertukar obat sembarangan. Padahal antibiotik lho!

Definisi terakhir menunjukkan bahwa obat yang paling murah belum tentu tidak berkualitas. Ya,obat generik pun sama kualitasnya dengan obat bermerek. Maka dokter yang mengikuti prinsip RUM akan memberikan obat generik.

Ada RUM, ada juga IRUM, alias irrational use of medicine. Nah, contoh-contoh IRUM ini banyak sekali. Sebagian sudah pernah dibahas.

Tinggal sesuaikan dengan prinsip-prinsip yang ada saja kan? 😊



Tuesday, August 09, 2016

Superbug as Badbug: Dawn of Mankind


Sudah bisa nebak ya, judul tulisan ini terinspirasi dari "Batman v Superman: Dawn of Justice". Filem yang sepertinya menyedot penonton di akhir pekan ini. Siapa yang tidak kenal Superman dan Batman? Saya tidak akan membahas bedanya Superman klasik, The Death and Life of Superman, dan Man of Steel, atau Batman klasik dengan The Dark Knight. Tapi saya akan menceritakan Superbug. Apakah itu? Berkali-kali saya membahas bahayanya penggunaan antibiotik yang tidak sesuai tempatnya. Ya, kita sudah paham bahwa antibiotik hanya digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Padahal tidak semua penyakit disebabkan oleh bakteri. Infeksi virus justru mendominasi penyakit pada manusia, dan tentunya infeksi virus tidak memerlukan antibiotik.

Masalahnya adalah: banyak antibiotik diresepkan tidak pada tempatnya. Termasuk antibiotik yang diresepkan pada infeksi virus. Hal lainnya adalah penggunaan antibiotik spektrum luas pada infeksi bakteri yang sebenarnya tidak membutuhkan tipe antibiotik tersebut. Padahal bakteri adalah makhluk hidup yang punya prinsip bertahan. Jika ia diserang, maka secara alamiah bakteri berusaha bertahan. Fakta lainnya adalah mayoritas bakteri di tubuh manusia adalah penghuni alamiah yang tidak punya maksud jahat. Saya jelaskan di tulisan lama yang saya salinkan kembali di bawah.

########################

Selintas Kisah Bakteri dan Virus

Bakteri menghuni tubuh kita sejak beberapa saat kita terlahir ke dunia. Bayi yg lahir secara spontan (persalinan normal), melewati vagina sang ibu yang pastinya penuh dengan bakteri. Bayi yg dilahirkan dengan operasi sesar pun, ketika didekapkan ke dada ibunya atau dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD), segera "berkenalan" dengan bakteri-bakteri baik penghuni kulit ibu, dan terjadilah perpindahan ke tubuh bayi.

Bayi yg awalnya berada di dalam lingkungan steril di dalam rahim ibu, segera pindah ke dunia yg penuh dengan kuman tak terhingga.

Pastilah ini diciptakan Sang Pencipta dengan maksud.

Pada saat bayi berusia 7 hari, milyaran bakteri menjadi penghuni tetap hidung, mulut, kulit, dan ususnya. Apakah kemudian bayi menjadi sakit karenanya?

Kini diketahui bahwa tubub manusia adalah HUMAN MICROBIOME. Apa maksudnya? Ada kurang lebih 10 trilyun sel yg menyusun tubuh manusia, tetapi ada 100 trilyun bakteri yang menghuni tubuh kita! Tubuh manusia lebih merupakan kumpulan bakteri dibandingkan kumpulan sel. Lalu apakah kita menjadi sakit setiap waktu? Tentu saja tidak.

Lalu apakah penggunaan antibiotik berlebihan dan tidak pada tempatnya (digunakan utk infeksi virus) tidak berpotensi membunuh bakteri baik penghuni tubuh kita? Keseimbangan pun akan terganggu dan prinsip survival of the fittest akan membuat bakteri baik bertanya: mengapa kami dimusnahkan?
Lebih jauh lagi, SUPERBUG alias bakteri resisten antibiotik juga ikut tercipta. Masa depan umat manusia ikut terancam...

Sekarang..mari kita bicara tentang virus. Sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa virus bukanlah makhluk hidup. Virus "hanyalah" rangkaian materi genetik DNA/RNA yg dibungkus dengan protein dan polisakarida, yang HANYA bisa hidup di dalam makhluk hidup lainnya.

Jumlah virus di muka bumi amat sangat tak terhingga banyaknya. Virus ada di mana-mana. Tanpa disadari, setiap saat manusia menghirup dan menelan milyaran virus. Tapi apakah manusia menjadi sakit setiap waktu? Lagi-lagi tidak.

Virus menginfeksi tidak hanya manusia, tapi seluruh makhluk hidup di bumi. Bakteri pun diinfeksi oleh virus (virus yg menginfeksi bakteri dinamakan bakteriofag). Jumlah bakteriofag yg ada di lautan (saja), diperkirakan sebanyak 10 pangkat 30 (hitung sendiri ya..). Bila direntangkan rangkaian kepala sampai ekor bakteriofag ini, panjangnya (kalau tidak salah) sekitar 200 tahun cahaya. Ya, tak terbayangkan, jika kita masih ingat seberapa cepatnya kecepatan cahaya. Silakan buka www.virology.ws bila ingin mempelajari betapa luar biasanya virus. Profesor Vincent Racaniello dkk dari Columbia University menjelaskannya dengan mudah.

Kita sudah mengetahui bahwa mayoritas bakteri yang tinggal bersama kita tidak membahayakan, bahkan menguntungkan. Bakteri penghuni usus besar misalnya, membantu pencernaan kita setiap waktu dan berperan dalam pembentukan vitamin K.

Virus diketahui sebagai penyebab tersering penyakit infeksi pada manusia, termasuk anak. Jauh lebih sering dibandingkan dengan infeksi bakteri. Anak-anak adalah kelompok yg sangat sering sakit akibat infeksi virus. Sebagai contoh, dalam setahun seorang anak dapat mengalami 10-12 kali episode selesma (common cold). Apa artinya? Sebulan sekali! Apakah tiap bulan anak kena batuk pilek harus diberikan obat? Apakah tiap bulan kena batuk pilek anak harus dibawa ke dokter? Tentunya tidak. Sebutlah nama-nama seperti respiratory syncytial virus, influenza virus, parainfluenza virus, rinovirus, dan adenovirus sebagai penyebab tersering infeksi saluran napas pada anak. Total ada sekitar 200 strain virus yg bisa membuat common cold.

Inilah kabar buruk dan kabar baik tentang virus. Kabar buruknya adalah: biasanya hampir tidak ada obat yg dapat menyembuhkan infeksi virus lebih cepat. Kabar baiknya: sebagian besar infeksi virus biasanya sembuh sendiri tanpa obat-obatan.

Antibiotik tidak dapat membunuh virus, sehingga pastinya tidak membantu sama sekali membuat anak dengan infeksi virus sembuh lebih cepat.

###################

Di masa depan, munculnya Superbug ini diperkirakan dapat menyebabkan kematian yang melebihi akibat kanker. Maka, gunakan antibiotik sesuai tempatnya.

(Tulisan ini hanyalah pendahuluan. Belum membahas mekanisme terjadinya superbug, apa itu MRSA, dll. Semoga saya dimudahkan untuk membahasnya kelak)

Antibiotik boleh distop sebelum habis?

"Anak saya demam sudah 3 hari, disertai batuk-pilek. Lalu saya bawa berobat dan diberi antibiotik. Setelah 2 hari diminum, saya baca-baca lagi bahwa selesma (batuk-pilek) tidak butuh antibiotik. Boleh saya stop antibiotiknya?"

Ini prinsipnya:

- Antibiotik adalah untuk infeksi BAKTERI, bukan infeksi VIRUS. Maka seperti pernah saya sampaikan sebelumnya, selalu tanyakan ke dokter, apa diagnosisnya, dan apakah penyebabnya infeksi virus atau bakteri?

- Jika penyebabnya adalah infeksi bakteri, tentu antibiotik yang diberikan harus dihabiskan sesuai waktu yang dianjurkan. Mengapa? Dikhawatirkan jika AB dihentikan sebelum waktunya, maka bakteri-bakteri jahat penyebab penyakit sesungguhnya belum dihabisi semuanya,meskipun gejalanya sudah hilang (merasa sudah sembuh). Dikhawatirkan sebagian bakteri penyebab penyakit yang tersisa ini, akan memperkuat dirinya, bermutasi secara genetik dan menghasilkan keturunan-keturunan yang lebih kuat (kebal) dan tidak mempan dengan antibiotik sebelumnya. Jika di kemudian hari orang ini sakit dan membutuhkan antibiotik tersebut, maka penyakitnya sukar disembuhkan karena penyebabnya sulit diatasi.
Ini yang namanya resistensi antibiotik. Salah satu penyakit yang sering dijumpai dengan kasus ini adalah tuberkulosis (TB) paru yang kebal AB. Seharusnya obat anti TB diminum selama 6 bulan, tapi baru 2 bulan sudah merasa enakan, obat malah dihentikan dan berisiko menciptakan kuman kebal AB (multi drug resistant TB).

-Tapi jika ternyata penyebabnya adalah infeksi virus, maka AB dapat dihentikan.kapanpun. Tidak perlu khawatir terjadi resistensi, karena tidak ada bakteri jahat yang bisa dibuat resisten (kebal). Malah bisa membunuhi bakteri-bakteri baik di tubuh dan menyebabkan efek tidak diinginkan yang pernah dijelaskan di tulisan-tulisan sebelumnya.

Beberapa infeksi bakteri yang terjadi pada anak di kasus rawat jalan (bukan rawat inap): infeksi saluran kemih (ISK), pneumonia bakteri, strep throat, impetigo, disentri basiler dan amuba, dan demam tifoid. Selainnya kebanyakan adalah penyakit-penyakit akibat infeksi virus yang tidak butuh antibiotik.

Beda infeksi virus dengan bakteri

Bagaimana membedakan infeksi virus dengan infeksi bakteri?

Posting saya pekan lalu tentang antibiotik bukanlah obat demam lagi-lagi mengundang pertanyaan: bagaimana membedakan infeksi bakteri dengan virus? Mengingat antibiotik diberikan untuk infeksi bakteri, bukan infeksi virus. Sebenarnya pembahasan hal ini sudah pernah saya tulis, tapi tak apa-apa, saya coba paparkan lagi dalam bentuk poin-poin.

- Cara paling ideal membedakan keduanya tentu dengan melihat langsung mikroorganisme penyebabnya dengan mikroskop, yaitu virus atau bakteri. Tapi ini perkara yang tidak mudah, tidak bisa dikerjakan di semua tempat, mahal, dan banyak kendala lainnya. Tapi pada sebagian kecil kasus, "menangkap" dan mengidentifikasi kuman harus dilakukan. Misalnya dengan melakukan pemeriksaan kultur (biakan) dari darah (atau urin, dan cairan tubuh lainnya), pemeriksaan langsung (dahak untuk mencari kuman TB), atau biopsi jaringan tubuh.

- Pada sebagian besar kasus, mengetahui apakah infeksinya virus atau bakteri ialah dengan mengetahui apa diagnosisnya? Seringkali dengan wawancara (anamnesis) dan pemeriksaan fisik saja, diagnosis sudah dapat diketahui. Jika belum, pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan radiologi dilakukan. Makanya penting sekali keluar dari ruang dokter, seseorang tahu apa diagnosisnya. Bagaimana caranya? Ya tanya ke dokternya. Diagnosis haruslah dalam bahasa medis, seperti beberapa yang saya tulis di gambar. Tidak boleh ada diagnosis "geje" alias ga jelas seperti "radang tenggorokan", "flek paru", "tampek", dan sejenisnya.
Mengetahui bahasa medis ini akan diperjelas lagi dengan membaca-bacanya di situs terpercaya seperti www.medscape.com, www.webmd.com, dan www.mayoclinic.com
Apabila ada ketidaksesuaian antara diagnosis dengan terapi, maka tanyakan ke dokter yang memeriksa. Jangan bertanya ke dokter online. Hehe :-D

- Masih ada beberapa penyakit yang belum dijelaskan di gambar ini. Tapi saya berusaha menyampaikan yang tersering saja. Supaya tidak terlalu bingung, kapan antibiotik perlu diberikan dan kapan tidak.

Semoga bermanfaat

Infeksi virus kok dikasih antibiotik?

"Anak saya dikasih antibiotik? Bukankah sakitnya karena virus? Kok dapat antibiotik?" tanya seorang Ibu, sambil menatap putrinya yang berusia 4 tahun. Ingus kental berwarna hijau kekuningan. Matanya merah. Sudah 4 hari suhunya di atas 38 derajat selsius.
"Iya, untuk mencegah infeksi bakteri," jawab seseorang di hadapannya.

Pernah mendapatkan situasi serupa? Ketika antibiotik diberikan dengan alasan "mencegah infeksi bakteri". Ketika ingus dan lendir sudah berubah warna, dari bening dan encer menjadi kental dan kehijauan. Seingat saya, dulu saya pernah punya pemahaman yang mirip. Apabila ingus sudah mengental dan berwarna, maka tandanya sudah terjadi infeksi bakteri. Ternyata saya salah. Selama ingus masih diproduksi, apakah kental sampai membuat hidung mampet, atau masih encer meskipun sudah berwarna, maka jika diagnosisnya adalah infeksi saluran napas atas yakni common cold atau selesma dan/atau influenza, maka tetaplah infeksi virus yang tidak membutuhkan antibiotik. Tidak butuh antibiotik sama sekali!
Penjelasan di gambar yang ada menyimpulkan keterlibatan sel-sel darah putih sebagai penyebab ingus mengental dan berwarna. Dan ini bukti bahwa sistem imun alias daya tahan tubuh kita bekerja dengan baik! Maka bersyukurlah.
Lagipula, keberadaan bakteri baik penghuni saluran napas adalah hal yang wajar. Dan mereka tidak membuat sakit. Penyebab sakitnya adalah virus. Dan infeksi virus jelas tidak butuh antibiotik.

Lalu kapan antibiotik diberikan pada infeksi saluran napas atas? Panduan (guideline) yang saya sertakan gambarnya di bawah menyebutkan 3 kondisi yang dipertimbangkan pemberian antibiotik, yaitu: otitis media akut.(infeksi telinga tengah), sinusitis (jarang sekali dipikirkan pada balita), dan radang tenggorokan akibat bakteri streptokokus (strep throat). Perbedaan ketiganya bisa dibaca di situs kesehatan seperti www.milissehat.web.id

Maka jika diagnosis anak Anda tidak masuk dalam ketiga hal ini, tanyakan kembali: perlukah antibiotik? Meskipun "sekedar" sebagai "pencegahan" saja.

Nah, ngomong-ngomong tentang antibiotik sebagai pencegahan atau profilaksis ini, bahasannya tersendiri. Apakah perlu pasca sunatan/sirkumsisi diberikan antibiotik? Luka jahitan diberikan antibiotik sesudahnya? Bahkan perlukah pemberian antibiotik pasca operasi sesar? Hmmm, mudah-mudahan diberikan kemudahan membahasnya kelak.

Monday, August 08, 2016

Luka perlu antibiotik?

Lebaran adalah momen berkumpulnya anak-anak kecil, dengan segala kegembiraannya, tingkah polahnya, suka citanya bertemu dengan saudara-saudaranya yang lama tak dijumpai, lalu....brukk! Risiko kecelakaan kecil kadang tak terhindarkan. Jatuh, luka, dan menangis kencang! Wuaaa, darah mengalir deras, dengan luka gores, bahkan ada yang tersayat dan dibawa ke dokter untuk mendapatkan perawatan luka. Kadang "dioleh-olehi" dengan beberapa jahitan. Pertanyaannya: perlu dikasih antibiotik tidak ya?

Makin tingginya penggunaan antibiotik yang tidak pada tempatnya dan berujung pada terbentuknya bakteri-bakteri kebal (baca: resisten antibiotik), membuat penggunaan antibiotik menjadi sangat harus selektif dan berhati-hati. Salah satu penggunaan antibiotik yang masih dianggap berlebihan dan tidak pada tempatnya adalah pada luka sederhana (simple wound). Misalnya saja luka tergores yang cukup dibersihkan dengan air bersih, ditambahkan dengan antibiotik minum, yang "niatnya" untuk mencegah infeksi bakteri (profilaksis). Atau luka sayat yang dijahit, ternyata tidak harus mendapatkan antibiotik pencegahan, kecuali sudah jelas terjadi tanda-tanda infeksi (bengkak, nyeri, bernanah, dan demam). Atau ada faktor risiko yang dijelaskan dalam gambar di bawah (benda asing masuk ke dalam luka, luka yang kotor/terkena tanah yang sukar dibersihkan, gigitan manusia/hewan, luka tusuk di kaki, infeksi gigi, dan patah tulang/luka terbuka sampai jaringan otot).

Maka pada kebanyakan kasus luka sederhana, bahkan sampai dijahit sekalipun (sebatas kulit), antibiotik tidak diperlukan.

Selamat menikmati akhir liburan bersama anak-anak

Minum antibiotik supaya cepat sembuh!

"Oke deh. Batuk-pilek alias selesma obatnya cuma SABAR. Tapi setelah 2 minggu anak saya batuk-pilek, terus dapat antibiotik, alhamdulillah langsung sembuh. Berarti kalau mau cepat sembuh bisa dengan minum obat dong?"

Pernah mengalami hal serupa? Dalam pengamatan saya, kondisi di atas namanya adalah koinsidens (coincidence) alias kebetulan. Lha kok bisa?

Ini alasannya:
- infeksi virus obatnya bukan antibiotik
- anak ini kebetulan pas minum antibiotik, pas saatnya sakitnya menyembuh. Jadi kebetulan terjadi di waktu bersamaan. Makanya dipikirkan adanya hubungan sebab-akibat. Padahal sepertinya tidak ada.
- penggunaan antibiotik terlalu sering dan tidak pada tempatnya meningkatkan risiko sakit. Lho kok bisa? Alasannya:
(1) antibiotik melawan bakteri. ketika ia masuk ke tubuh manusia dan tidak menemukan bakteri jahat untuk dilawan, maka yang diserangnya adalah bakteri baik di seluruh tubuh manusia, terutama di usus besar (koloni terbesar). Padahal bakteri baik ini menjaga tubuh kita tetap sehat. Walhasil terjadilah mencret (diare).
(2) bakteri baik tak berdosa yang diserang ini akan memperbaiki sistem pertahanannya, sehingga kelak di kemudian hari ketika ia diserang antibiotik, ia tidak mudah dikalahkan. Terciptalah bakteri super alias superbug, yang bisa jadi kebal terhadap berbagai macam antibiotik. Ketika bakteri ini berubah jadi jahat dan menyebabkan penyakit, maka antibiotik tidak mempan lagi. Risiko kematian meningkat!

Maka jangan lupa, tiap kali Anda berkunjung ke dokter, tanyakan 4 hal ini:
1. Apa diagnosis sakit saya/anak saya? (dalam bahasa medis, supaya bisa browsing di internet)
2. Jika penyebabnya infeksi, apakah virus atau bakteri? (atau jamur, amuba, dll)
3. Mengapa diberi antibiotik?
4. Apa saja tanda gawat darurat yang membuat saya/anak saya harus segera ke dokter/RS?

Selamat belajar! :-)

Friday, August 05, 2016

Lagi-lagi tentang antibiotik

"Oke deh. Batuk-pilek alias selesma obatnya cuma SABAR. Tapi setelah 2 minggu anak saya batuk-pilek, terus dapat antibiotik, alhamdulillah langsung sembuh. Berarti kalau mau cepat sembuh bisa dengan minum obat dong?"

Pernah mengalami hal serupa? Dalam pengamatan saya, kondisi di atas namanya adalah koinsidens (coincidence) alias kebetulan. Lha kok bisa?

Ini alasannya:
- infeksi virus obatnya bukan antibiotik
- anak ini kebetulan pas minum antibiotik, pas saatnya sakitnya menyembuh. Jadi kebetulan terjadi di waktu bersamaan. Makanya dipikirkan adanya hubungan sebab-akibat. Padahal sepertinya tidak ada.
- penggunaan antibiotik terlalu sering dan tidak pada tempatnya meningkatkan risiko sakit. Lho kok bisa? Alasannya:
(1) antibiotik melawan bakteri. ketika ia masuk ke tubuh manusia dan tidak menemukan bakteri jahat untuk dilawan, maka yang diserangnya adalah bakteri baik di seluruh tubuh manusia, terutama di usus besar (koloni terbesar). Padahal bakteri baik ini menjaga tubuh kita tetap sehat. Walhasil terjadilah mencret (diare).
(2) bakteri baik tak berdosa yang diserang ini akan memperbaiki sistem pertahanannya, sehingga kelak di kemudian hari ketika ia diserang antibiotik, ia tidak mudah dikalahkan. Terciptalah bakteri super alias superbug, yang bisa jadi kebal terhadap berbagai macam antibiotik. Ketika bakteri ini berubah jadi jahat dan menyebabkan penyakit, maka antibiotik tidak mempan lagi. Risiko kematian meningkat!

Maka jangan lupa, tiap kali Anda berkunjung ke dokter, tanyakan 4 hal ini:
1. Apa diagnosis sakit saya/anak saya? (dalam bahasa medis, supaya bisa browsing di internet)
2. Jika penyebabnya infeksi, apakah virus atau bakteri? (atau jamur, amuba, dll)
3. Mengapa diberi antibiotik?
4. Apa saja tanda gawat darurat yang membuat saya/anak saya harus segera ke dokter/RS?

Selamat belajar! :-)

Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?

 (tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...