Showing posts with label bayi. Show all posts
Showing posts with label bayi. Show all posts

Sunday, January 24, 2021

Bayi Mulai Susah Makan? Bayangkan: Seandainya Kita Menjadi Dia, Mengapa Mulai Susah Makan?

Kapan bayi mulai susah makan? Padahal awal awal #MPASImasih semangat makannya. Disuguhkan apa saja mau. Biasanya, pada usia 8-10 bulan, mulailah si bayi susah makan. Alias tidak makan seperti biasanya. Entah porsi makannya yang berkurang, hanya beberapa suap saja. Atau makannya tidak semangat, jadi sering diemut. Atau tidak mau makan nasi. Maunya makan “cemilan”. Padahal karbohidrat kan nggak melulu nasi ya? Hehe.


Susah makan saya amati ada 2: pada anak sakit, dan anak sehat. Anak sakit wajar saja makannya susah. Tapi begitu sehat, nafsu makan kembali seperti semula. Tapi kalau anak sehat, kok bisa susah makan ya? Perlu ke dokter? Jawabannya: pada sebagian besar kasus, tidak perlu. Maka amati bagaimana pertumbuhannya di 
#grafikpertumbuhan alias #growthchart. Kalau masih bagus, anak masih tumbuh, meskipun #pickyeater, maka tidak perlu khawatir. Tapi tetap ANALISIS: kenapa anaknya jadi picky eater. Pastinya bukan karena tumbuh gigi lho ya. Pahami juga prinsip responsive feeding WHO, yaitu salah satu dalam empat prinsip pemberian #MPASI pada anak, sesuai panduan @who , salah satunya adalah “properly fed”, yaitu dengan metode #responsivefeeding. Dari 5 poin yang ada, kita bisa lihat poin pertama dan terakhir mengharuskan “pendamping” makan ikut terlibat aktif dalam memberikan makan bayi/anak. Maka konsep “makan berjamaah” yang saya tuliskan dalam feed 2 hari lalu, cukup relevan dengan prinsip responsive feeding ini. 
Maka jadikan saat makan bayi/anak menyenangkan, karena pendamping ikut terlihat makan, berada dalam posisi “sejajar” dengan bayi/anak, sama-sama duduk dan memegang sendok, bahkan dengan menu yang relatif sama apabila bayi sudah lebih besar, dan ajak bicara dengan ekspresi wajah dan suara menyenangkan dan bersemangat.

Tapi, kadang, namanya orangtua, ada aja yang nggak puas. Pokoknya: anak saya harus mau makan seperti dulu lagi. Gampang makannya.

Andaikan bayi-bayi yang umurnya belum 1 tahun ini bisa bicara, mereka pasti akan ngomong: “Bu, aku maunya makan ini. Aku nggak mau makan itu. Aku bosan!” Atau: “aku maunya pegang sendok sendiri. Aku nggak mau disuapi!” Atau: “Aku nggak mau makan dicampur semua jadi satu. Rasanya sama saja bagiku. Meskipun aku tahu masakannya selalu berganti dan enak. Aku maunya dipisah-pisah. Kan aku bosaaann.”. Atau, “aku maunya makanan persis sama dengan Ayah dan Ibu. Aku nggak mau dibedakan! Aku nggak mau bubur tim. Memangnya nggak boleh ya?”. Atau ia akan mengambil HP, membuka aplikasi, dan memesan menu di G*-food atau G**b-food sesuai keinginannya 😁

“Dok, anak saya susah makan. Ada vitamin penambah nafsu makan buat anak saya?”
Ini adalah pertanyaan yang (sejujurnya) saya hindari. Kenapa? Karena memang nggak ada yang namanya “vitamin penambah nafsu makan”. Anak-anak yang susah makan ya dievaluasi dan dianalisis: kenapa susah makan? Jadi harus BERPIKIR. Silakan tanya kepada para konsultan nutrisi anak, tidak ada yang meresepkan “vitamin” penambah nafsu makan. Tapi kalau mau tetap dikasih “resep” untuk penambah nafsu makan anak, boleh juga. Ini saya kasih.

Resepnya dari guru saya, dr. Purnamawati, Sp.A(K):
1. Lapar.
2. Enak.

Iya, supaya anak mau makan dan nafsunya tinggi, maka berikan makan ketika ia lapar, dan makanannya harus enak! Setuju kan? Ini pun sejalan dengan Sunnah Rasulullah. 
Makanya dalam konsep “properly fed” dalam pemberian MPASI dari WHO, bayi/anak harus dikenalkan rasa lapar dan kenyang sesuai prinsip #responsivefeeding
Makanan juga harus enak. Enak menurut si bayi/anak lho ya. Kadang sang pembuat masakan sudah merasa masakan yang dibuatnya enak, karena selalu variatif. Tapi bagi si bayi: kok dicampur terus sih 😢 Kok bentuknya tim campur “gado-gado” 😓 Aku kan bosan. 
Ngomong ngomong, vitamin itu sebenarnya apa? Memangnya nggak penting. Nah, wajib baca ya di http://milissehatyop.org/caping-16-obat-nafsu-makan-apa-ya/
Tulisan guru saya. Singkat kok.

Friday, January 22, 2021

Apakah Bayi ASI Eksklusif Bisa Gagal Tumbuh?

Pernah punya pengalaman mendapatkan bayi yang pertumbuhannya tidak baik? Padahal sang Ibu merasa ASI-nya cukup. Pipis bayi banyak. Bayi juga tampak puas saja. Tidak rewel. Tapi dokter bilang, beratnya kurang. Aduh, gimana ya? Nanti malah disuruh minum susu formula..


Pertama, bayi bisa mengalami gagal tumbuh atau failure to thrive (ada juga yang menyebutnya weight/growth faltering), dan sayangnya sang ibu tidak menyadarinya sedini mungkin. Ya, saya mengamati beberapa Ibu merasa sudah memberikan ASInya dengan baik, dan tentunya ASI terus diproduksi, tetapi ternyata berat badan bayinya tidak naik dalam satu bulan pertama (bahkan lebih), atau malahan turun dari berat lahir. Apakah ASInya yang “salah”? Atau ibunya yang salah? Saya tidak mau menggunakan kata salah. Ternyata pengetahuan ibunya yang kurang dalam memahami manajemen laktasi, dan tidak memantau berat dan panjang badan bayi si kurva pertumbuhan. Jadi ada dua hal penting di sini: manajemen laktasi, dan pemantauan tumbuh-kembang sejak lahir. Ya, idealnya semua ibu, bahkan sejak masih hamil anak pertama, punya bekal kedua ilmu ini. Bukankah sejak hamil, semua ibu dibekali dengan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)? Pelajari dan pahami seluruh isi buku ini dengan baik! Plot berat, panjang badan, dan lingkar kepala bayi sejak lahir dan tiap bulan ke depannya. Bayi baru lahir memiliki waktu kontrol saat berusia setidaknya satu minggu, dan saat berusia satu bulan. Tenaga kesehatan seharusnya mampu mendeteksi sedini mungkin berat badan yang tidak naik, dan mengevaluasi penyebabnya, serta mencarikan solusinya. Buku KIA juga memberikan informasi tentang laktasi.




Lalu, kalau memang sudah terjadi gagal tumbuh, apa yang harus dilakukan? Kadang masalah ini terjadi bukan di anak pertama atau kedua, tetapi di anak ketiga, misalnya. Si Ibu tidak pernah punya masalah menyusui saat anak pertama dan kedua, sehingga tidak menyadari ketika anak ketiga atau keempatnya mengalami gangguan pertumbuhan. Langkah pertama tentunya mengevaluasi penyebab masalah, dan mayoritas adalah ASI yang ternyata tidak cukup bagi kebutuhan bayi untuk tumbuh. 
Lanjutan di gambar ya, mulai nomor 2 dst. Lebih detil ada di buku #MakanTepatTumbuhSehat. Pesan ke Admin buku di Whatsapp 081315453731









Thursday, March 08, 2018

Bakteri adalah hadiah terbaik Ibu untuk bayinya

Apa “hadiah” pertama seorang ibu kepada bayi yang baru dilahirkannya?
Bakteri. Ya, bakteri. 

Pernahkah Anda merenung, mengapa bayi dilahirkan dengan cara yang Anda ketahui seperti saat ini? Ya, melalui vagina yang kita pahami penuh dengan kolonisasi berbagai bakteri, kadang ditambah dengan kotoran (baca: feses) dari usus besar Ibu. Mengapa bayi harus lahir dengan cara “tidak bersih” seperti ini? Sang Pencipta pasti punya maksud.

Di dalam rahim Ibu yang sangat terjaga, bayi berada dalam lingkungan yang hampir steril. Saya katakan hampir steril, karena ternyata tidak 100% bebas kuman. Masih ada sedikit bakteri berada di lingkungan yang berisi bayi yang berenang dalam cairan ketuban yang terbungkus erat selaput ketuban. Ketika saat persalinan tiba, selaput ketuban pecah dan bersamaan dengan mengalirnya cairan ketuban keluar, maka masuklah bakteri-bakteri baik dari jalan lahir yang sangat banyak jumlahnya. Bakteri yang sehari-harinya menghuni vagina Ibu menjadi penghuni tubuh bayi, melapisi seluruh permukaan kulit bayi mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan tertelan masuk sampai ke saluran cerna bayi. Bahkan materi feses atau tinja ibu pun tidak jarang ikut terlibat, masuk ke tubuh bayi. Puluhan trilyun bakteri menjadi penghuni tubuh seorang makhluk yang sebelumnya berada dalam kondisi hampir suci. Bakteri yang dominan berasal dari vagina dan usus besar Sang Ibu.

Kondisi ini berlanjut dengan bayi yang diletakkan segera di dada Ibu untuk inisiasi menyusu dini. Bakteri di kulit Ibu pun segera bergerak ke tubuh bayi baru lahir ini, memperkaya variasi jenis kuman baik di tubuh bayi. Bayi lalu mendapatkan air susu Ibu (ASI), yang kandungannya pun tidak lepas dari bakteri-bakteri baik seperti Bifidobacterium lactis dan Bacteroides. Bahkan ASI pengandung HMO (human milk oligosaccharides) yang merupakan makanan bakteri-bakteri baik ini, sehingga koloni kuman ini tetap dapat hidup dalam saluran cerna bayi.

Apa arti semua ini? Ya, bakteri-bakteri baik yang senantiasa diwariskan dari generasi ke generasi ini, dari nenek ke ibu, ibu ke anak-anaknya, dan terus ke cucu-cucunya, adalah bagian tak terpisahkan dari hidup manusia yang menemani tubuh sepanjang hayatnya, dan tentunya punya berbagai manfaat untuk menjaga kesehatan dan kelangsungan hidup manusia. 

Lalu, bagaimana apabila bayi lahir secara operasi sesar dan bahkan tidak mendapatkan ASI (dengan berbagai alasan medis)? 
Ya, secara alamiah jenis dan jumlah kuman yang didapatkan bayi di awal kehidupannya berbeda dengan yang lahir normal melalui vagina dan berlanjut dengan menyusu ke ibu. Pada proses operasi sesar, paparan pertama kuman baik adalah ketika kulit perut Ibu disayat, dan masuklah kuman dari udara di ruang operasi dan kulit perut ibu. Jenis bakterinya bisa jadi tidak sama dengan bakteri pada persalinan normal. Bayi yang minum susu formula juga tidak mendapatkan sekitar 700 spesies mikroba yang ada dalam ASI.

Lalu apakah bayi-bayi yang terlahir dengan operasi sesar dan tidak mendapatkan ASI akan lebih buruk kondisi kesehatannya karena tidak mendapatkan human microbiome penting di awal kehidupannya? Beberapa penelitian berskala besar dan penting memang menunjukkan adanya hubungan antara rendahnya jumlah bakteri baik penghuni tubuh alias human microbiome di awal kehidupan bayi dengan meningkatnya risiko asma, diabetes melitus tipe 1, penyakit seliak, dan obesitas. Meskipun keempat masalah kesehatan ini tidak semata-mata muncul akibat satu faktor penyebab saja. Dan tidak berarti juga bahwa tindakan operasi sesar lebih buruk daripada persalinan normal, atau susu formula “haram”. Karena pemberiannya tentu atas indikasi medis. Tindakan pembedahan kaisar terbukti menyelamatkan banyak nyawa atas indikasi medis yang tepat, dan susu formula boleh diberikan dengan indikasi medis tepat pula. Tetapi tidak dielakkan, bahwa persalinan normal yang berlanjut dengan kontak kulit segera ke Ibu dan berlanjut dengan pemberian ASI jauh memberikan manfaat dengan keberadaan human microbiome ini. Salah satu warisan manusia dari generasi ke generasi sejak keberadaan manusia di muka bumi ini.

Mengapa saya menaruh perhatian khusus terhadap hal ini? Tidak lepas dari maraknya penggunaan antibiotik yang tidak tepat beberapa dekade terakhir. Infeksi virus pun “dihantam” dengan antibiotik, sehingga potensial membunuh bakteri-bakteri penghuni tubuh kita yang bahkan berfungsi sebagai penjaga tubuh manusia, bisa menghadang bakteri-bakteri “jahat” penyebab penyakit alias patogen. Maka penggunaan antibiotik yang bijak dan sesuai indikasi penting dalam menjaga keberadaan dan peran human microbiome tubuh kita.

(Artikel bagus yang saya rekomendasikan di https://blogs.scientificamerican.com/guest-blog/shortchanging-a-babys-microbiome/)








Monday, January 29, 2018

Kalau bayi hidungnya mampet, boleh nggak ya disedot pakai mulut orangtuanya?


Tanggapan pertama saya biasanya: idih, jorok! Hehe 😀 Iya kan, bayangkan aja, ingus si bayi dihisap oleh mulut bapak atau ibunya. Di ingus anak banyak kumannya. Di mulut orangtuanya banyak kumannya. Saya sih nggak pernah melakukan hal serupa pada ketiga anak saya.

Tapi kan kasihan, Dok. Anaknya susah napas. Rewel. Nangis aja semalaman. Masa dibiarkan aja? Begitu biasanya tanggapan para orangtua. Saya jadi ingat perkataan guru saya yang kurang lebih: "nggak ada bayi sampai meninggal gara-gara hidungnya mampet!" Iya, bener juga. Meskipun kedua lubang hidung tersumbat sempurna, bayi akan bernapas lewat mulut. Oksigen tetap masuk ke paru-paru. Lalu saya menambahkan: "yang ada adalah anak meninggal karena paru-parunya yang mampet". Alias pneumonia (radang paru-paru, pernah saya jelaskan di tulisan yang lain).

Lalu bagaimana mengatasi hidung tersumbat akibat pilek pada bayi? Kalau disedot dengan alat seperti pada gambar, bagaimana?

Ada beberapa alat penyedot/pengisap lendir yang dijual di pasaran. Baik seperti pada gambar, atau suction bulb berupa balon kecil untuk mengisap ingus/lendir dari hidung. Sebenarnya bisa-bisa saja. Tapi anak belum tentu nyaman diperlakukan seperti ini. Kadang kalau anak berontak/tidak kooperatif, bisa menimbulkan gesekan dan luka di dinding dalam hidung. Niat awalnya baik, malah berisiko melukai anak.

Bagaimana dengan tetes hidung yang isinya garam fisiologis (NaCl0,9%)? Ada juga yang bentuknya semprot hidung. Lagi-lagi, bisa juga digunakan. Tapi kebanyakan bayi tidak nyaman dimasukkan cairan ke dalam hidungnya. Malah jadi nangis karena kesal/sebal. Niat awalnya baik, tapi belum tentu bayinya lebih nyaman.

Kalau diuap dengan air panas, kadang dicampur dengan minyak kayu putih, gimana? Pertama, belum tentu juga melegakan napas anak. Kedua, risiko tercebur ke dalam baskom air panas dan anak bisa luka bakar! Harus ekstra hati-hati dan tak boleh mengantuk karena semalaman tak tidur si kecil rewel.

Atau menggunakan balsem dan minyak telon untuk menghangatkan dada, boleh kan? Siapa tahu ingusnya jadi encer juga? Boleh saja, asal anak tidak alergi dengan bahan-bahan tersebut.

Diuap saja di tempat praktik dokter dengan alat inhalasi. Gimane? Hehe, nggak perlu serepot itu. Lagipula terapi inhalasi kan ditujukan untuk serangan asma (sudah beberapa kali saya bahas).

O iya, hampir lupa. Menyedot ingus menggunakan mulut orangtuanya juga meningkatkan risiko sakit jadi makin lama lho. Kok bisa? Ya, ketika ayah/ibu menyedot ingus anaknya, maka virus di saluran napas anak bisa pindah ke saluran napas orangtuanya, karena posisi mereka sangat berdekatan. Orangtua menghirup napas dekat saluran napas anak.belum lagi kalau si bayi bersin dan batuk. Awalnya orangtua belum sakit, akhirnya ketularan deh pilek dari anaknya. Seharusnya si anak saatnya pulih dengan sendirinya dari pileknya, tertular lagi dari orangtuanya yang baru kena pilek. Bolak-balik-bolak-balik-bolak-balik-dst. Ping pong! Nggak kelar kelar. Kita pahami bahwa yang membuat selesma seorang anak lama tak kunjung kelar ya ping pong ini.
Sekarang ngaku aja deh, siapa yang pernah melakukan hal serupa? Hehe 🙂

Terus apa dong?? Ini nggak boleh, itu nggak perlu! 

Sabar, sabar. Yang penting kita paham prinsip kapan bayi harus dibawa ke dokter? Yaitu ketika sesak napas, frekuensi napas lebih dari 60x/menit saat tenang, disertai tarikan di seluruh sela iga. Artinya sudah terjadi peradangan sampai jaringan paru (pneumonia). Bukan sekedar pilek meler selesma biasa.

Posisikan bayi dengan gendong tegak, supaya ingusnya turun ke bawah. Biasanya ditelan bayi tanpa kita lihat tentunya. Dan terus susui bayi agar tak dehidrasi. Ujung-ujungnya memang digendong juga. Hehe. Iya kan, terapi terbaik adalah SABAR dan GENDONG.

Cepat sehat ya yang bayinya lagi pada mampet hidungnya...

(Foto diambil dari http://asibayi.com/wp-content/uploads/2014/06/pigeon-tube-nasal-aspirator.jpg)



Monday, January 08, 2018

Tiga Kecerewetan Saya

Ada 3 hal yang sering saya komentari dari Ibu-ibu yang kontrol bawa bayinya untuk kunjungan pertama pasca lahiran:

1. "Kenapa bayinya pakai gurita*? Ibu, sekarang tahun 2017, bukan tahun 1977. Bayi jaman sekarang udah nggak pakai gurita lagi...."

Biasanya si Ibu senyum-senyum aja, trus lilitan kain yang rapat menyelubungi seluruh dada dan perut bayi itu dibuka, supaya saya bisa periksa bayinya. Ada juga ibu yang nyeletuk: disuruh sama ibu saya (baca: nenek si bayi). Atau: biar hangat, Dok, dan nggak kembung perutnya, atau semacamnya. Saya lagi-lagi harus meluruskan mitos "perut kembung" pada bayi.

2. "Bedaknya cemong amat, Bu." 

Ini juga biasanya ditanggapi dengan senyum si Ibu. "Nggak usah pakai bedak ya, Bu. Apalagi sampai kebanyakan gini. Tebell benerr," lanjut saya sambil menunjukkan kepulan bedak di sekujur punggung, dada, dan perut bayi, sampai daerah lipat paha dan bokong. Biasanya ketahuan setelah guritanya dibuka. Kasihan bayinya, dalam hati saya. Udah dipakaikan gurita, pakai bedak tabur pula.
"Nanti bedaknya bisa masuk saluran napas," tambah saya. 

Bahaya bedak tabur (talcum powder) sudah saya bahas di posting tahun lalu.

3. "Bayinya masih kuning ya, Bu. Tapi kuning yang masih wajar. Namanya kuning fisiologis. Insya Allah akan berkurang di usianya sampai 2 minggu," jelas saya.

"Jadi dijemur aja ya, Dok?" tanya si Ibu.

"Dijemur itu bisa menghilangkan kuning, Bu. Karena mengubah warna kuning menjadi hitam! Alias bayinya jadi item! Kan kasihan..." saya melanjutkan.

Ini biasanya si Ibu ketawa-ketawa, sama suaminya dan seluruh anggota keluarga yang menemani. Yang ngikut satu rombongan. Hehe.

"Jangan dijemur, Bu, nanti jadi gosong. Boleh dibawa ke luar rumah untuk dapat matahari pagi, tapi nggak usah ditelanjangi bayinya, trus dibolak-balik. Emangnya ikan asin. Hehee," saya jelaskan sambil becanda dikit.

Tentang menjemur bayi yang sempat "kontroversial" di wall saya, silakan cari sendiri status lama saya ya.

Itu 3 "syair lagu" yang sering saya ulang-ulang. Ibu-ibu yang pernah ketemu saya di Poli mungkin masih ingat. Belum lagi ocehan tambahan saya seperti: "apaan ni, Bu? pake peniti sama kayu ditusukkan di baju bayi?" Belum lagi yang pake gunting. Sereemm. Takut ketusuk ke bayinya. Katanya namanya bangle. Saya musti kasih ceramah dikit bahwa muslim tidak boleh pakai jimat semacamnya (ini pernah saya posting juga beberapa tahun lalu). 

Dan "atraksi" andalan saya di tiap kontrol pertama adalah menggendong si bayi seperti di foto. Si ibu dan yang menemani biasanya takut saya akan menjatuhkan bayinya. Hehe, tenang aja. Cara memeriksa seperti itu memudahkan saya melihat sampai ke punggung bayi.

(Keterangan foto: anak pertama saya yang digendong oleh dokter obgyn kami, beberapa tahun lalu. Saya belajar menggendong bayi dengan gaya keren ini dari beliau 😁)

*gurita: kain yang dililitkan dI sekujur tubuh bayi, biasanya berwarna putih, mungkin maksudnya seperti korset untuk ibu pasca melahirkan ya?



Sunday, January 07, 2018

Bayi dalam kandungan itu ya pasti minum air ketuban

Bayi dalam kandungan itu ya pasti minum air ketuban

Hayo ibu-ibu, saya mau tanya. Siapa yang bayinya dulu "minum air ketuban"? Ya, Ibu yang di sebelah situ angkat tangan. Bayinya katanya minum air ketuban ya? Jadinya lahirnya nggak nangis, biru, trus akhirnya dirawat. Alhamdulillah sekarang sudah sehat ya bayinya, Bu.

Nah, Ibu yang di situ juga ngacung. Katanya bayinya juga dulu minum air ketuban, trus nggak dibersihkan ya napasnya pas baru lahir? Makanya sekarang napasnya sering bunyi grok-grok.

Hayo, ibu-ibu yang lain nggak pada angkat tangan. Bayinya sekarang baik baik aja kok. Berarti nggak pada minum air ketuban ya? Hehe. Ibu-ibu, coba saya tanya. Waktu dalam kandungan dulu, bayi adanya di dalam rahim kan? Dikelilingi oleh air ketuban, berada di dalam kantong amnion. Air ketuban ini nama lainnya cairan amnion. Nah, apa salah satu aktivitas janin dalam kandungan? Coba baca gambar dari babycenter di bawah: "your baby regularly swallows amniotic fluid...". Iya, benar. Bayi minum air ketuban selama masih dalam kandungan. Jadi, semua anak Ibu ya pernah minum air ketuban.

Mungkin yang harus diluruskan adalah istilah tersebut. Bayinya lahir, lalu pernapasannya bermasalah karena air ketuban. Istilah ini lebih tepat diarahkan ke "aspirasi mekonium", yaitu bayi yang sudah keburu buang air besar (mekonium) sebelum atau sesaat/setelah lahir, sehingga mekonium nya masuk ke saluran napas (aspirasi), bukan tertelan masuk lambung. Nah, aspirasi mekonium memang bisa buat kondisi gawat darurat pada bayi baru lahir, sampai kadang membutuhkan ventilator.
Atau mungkin istilah "keminum" air ketuban itu berhubungan dengan ketuban pecah dini, yang meningkatkan berbagai risiko seperti infeksi sampai "gawat janin". Padahal nggak berhubungan dengan "minum air ketuban" yang sudah dilakukan bayi sejak dalam kandungan.

Lalu, kalau pas bayinya udah lahir, dan dia minum air ketuban, gimana? Ya nggak papa. Kan diminum masuk lambung, bukan masuk paru-paru. Bayi yang lahir menangis kencang juga tak perlu disedot lendir di rongga mulut dan hidungnya.

Semoga nggak salah istilah lagi ya. Minum = cairan dll masuk ke lambung/saluran cerna. Aspirasi = cairan dll tsb masuk ke saluran napas, sampai paru-paru.

Para dokter obgyn dipersilakan menambahi dan mengoreksi. O iya, tentang bunyi grok-grok pada bayi sampai usianya 6 bulan itu tidak ada hubungannya dengan sedot-menyedot lendir pasca lahir ya. Noisy baby ini sudah saya jelaskan dalam posting beberapa tahun silam. Silakan cari.

(Gambar ilustrasi janin diambil dari mom.girlstalkinsmack.com/image/062013/19/91726883.jpg)



Memangnya bayi harus pakai minyak telon?


"Bu, bayinya pakai minyak telon ya?" tanya saya, menunjuk pada kulit dada, perut, dan punggung yang kering. Bayi di hadapan saya ini umurnya 2 bulan. Tampak aktif. Datang untuk kunjungan imunisasi.

"Iya," jawab si Ibu. 

"Kenapa pakai minyak telon?" tanya saya lagi.

"Supaya hangat. Dan nggak kembung," jawabnya.

(Saya mau nambahin jawaban lagi: disuruh neneknya. Tapi nggak tega. Sudah cukup lah, saya "dimusuhi" para nenek :-D )

Biasanya saya akan mengembalikan lagi pertanyaannya: memangnya kalau nggak dikasih minya telon, bakalan kembung? Kalau nggak dikasih minyak telon, nanti kedinginan? Atau alasan lain seperti: enak Dok, baunya. Bau bayi...

Penggunaan minyak pada bayi, sejak bayi baru lahir bahkan, memang adalah tradisi. Pemberian minyak telon, dan sebagian kecil lainnya minyak kayu putih, adalah kebiasaan yang sudah turun temurun dilakukan pada bayi-bayi kita. Rasanya kurang lengkap jika tidak memberikan minyak telon setelah bayi dimandikan dan dipakaikan baju. Mari kita kupas satu satu.

- Benarkah pemberian minyak telon bisa mencegah bayi kembung? Maka jawaban saya: definisi kembung pada bayi itu subjektif. Apa ciri ciri bayi kembung? Perut buncit? Bunyi "dung dung" ketika diketuk perutnya?
Ketahuilah bahwa struktur perut bayi dan balita memang tampak buncit, tapi tidak berarti "kembung" penyakit. Lah, kan bunyinya dung dung saat diketok. Wajar dong. Apa isi lambung? Air (susu), makanan, dan udara. Bayi masih sering menangis, kan? Campuran semua itu menciptakan bunyi "dung dung" yang wajar pada bayi.
Yang tidak wajar adalah: ketika perut membuncit, disertai muntah hijau berulang, akibat sumbatan saluran cerna.

- Minyak telon dan sejenisnya bisa memberikan kehangatan. Iya, bisa saja. Tapi jika khawatir bayi kedinginan, mengapa tidak memakaikan baju hangat saja? Lengan panjang, dan celana panjang. Tapi jangan salah, kadang orangtua mempunyai kekhawatiran berlebihan. Justru bayi senang dengan cuaca dingin. Ia akan banyak berkeringat ketika memakai pakaian dalam dan luar (2 lapis). Bayi yang mempunyai kecenderungan "biang keringat" akan menjadi tidak nyaman karena gatal akibat beruntusan. Si bayi lebih senang memakai pakaian tanpa lengan, tapi orangtua dan neneknya (maaf ya nenek, lagi lagi :-)) khawatir bayinya "masuk angin" dan memaksakan menggunakan baju tebal dan minyak telon.

- Tidak jarang saya menjumpai bayi bayi dengan dermatitis kontak (alergi kulit, akibat teriritasi/hipersensitif) akibat minyak telon. Kulit bayi jadi kering, merah, bahkan sampai mudah luka. Semata mata akibat bayi "tidak cocok" dengan penggunaan minyak, atau kosmetik bayi lain. Padahal niat orangtuanya baik, tapi bayinya yang tidak cocok.

Jadi... tidak perlu khawatir lagi ya jika tidak pakai minyak, bedak, atau apapun setelah bayi mandi. "Ritual"-nya cukup: mandi, boleh pakai sabun dan sampo bayi, lalu... langsung pakai baju aja. Nggak usah ditambahi macam macam.

Selamat merawat bayi Anda 😁



Tuesday, October 17, 2017

Bayi baru lahir sudah ada giginya, normalkah?

"Anak saya baru berusia 2 bulan, namun sudah tumbuh 4 gigi. Menurut teman-teman saya, hal ini dikarenakan anak saya kelebihan kalsium. Benarkah demikian?"

Kondisi ini namanya neonatal teeth, yaitu gigi yang sudah tumbuh sejak usia 1 bulan (saat lahir, belum tampak giginya). Bedakan dengan natal teeth, yaitu gigi sudah tumbuh sejak bayi lahir. Keadaan ini sangat jarang terjadi, karena umumnya gigi pertama tumbuh saat bayi berusia 6-12 bulan. Baik natal maupun neonatal teeth biasanya tidak memiliki akar gigi yang kokoh, sehingga dikhawatirkan mudah tanggal dengan sendirinya dan berisiko masuk ke dalam saluran napas bayi tanpa disadari. Kadang-kadang ibu juga mengalami masalah saat menyusui bayinya, karena bayi cenderung menggigit puting payudara ibu dan melukainya, atau gigi bayi menggesek lidahnya sendiri. Dokter gigi sering menyarankan untuk mencabut gigi bayi sesegera mungkin, untuk menghindari risiko-risiko yang sudah disebutkan. Kondisi ini juga tidak berhubungan dengan kelebihan konsumsi kalsium ibu saat hamil atau menyusui. Konsultasikan ke dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak (Sp.KGA) untuk masalah serupa.

Monday, August 08, 2016

Bedak bagi Bayi

Bayi perlu diberi bedak tabur (talcum powder)? Jawabannya singkat: tidak. Pemberian bedak tabur berisiko menyebabkan terhirupnya partikel-partikel kecil bedak ke dalam saluran napas dan menyebabkan gangguan pernapasan, hingga kematian. Silakan lihat beberapa potongan gambar dan laporan kasus yang ada.

Bukankah bedak tabur dapat mengatasi gatal akibat biang keringat (heat rash)? Jawabannya: hindari terjadinya biang keringat dengan mengenakan pakaian tipis dan pendek pada anak, supaya tidak banyak berkeringat. Sering-sering juga mengganti baju anak.

Tapi boleh kan pakai minyak telon? Jawabannya: sudah banyak dibahas di komentar-komentar status sebelumnya, bagaimana pengalaman ibu-ibu dengan minyak telon. Ini adalah kebiasaan yang kebetulan ada di negara kita.
Tidak perlu khawatir bayi akan kembung jika tidak dibalurkan minyak telon. Bentuk perut bayi dan batita memang buncit, padahal bukan berarti "masuk angin".
Tapi bunyinya "dung-dung" jika diketuk? Ya iya lah. Usus kan isinya udara, jadi berbunyi jika diketuk.
Ya sudah, pakai minyak telon supaya hangat badannya. Hmmm, pakaikan saja pakaian tebal dan berlengan panjang jika khawatir kedinginan.

Sebagian anak bisa mengalami dermatitis kontak akibat paparan minyak dan kosmetik bayi apapun. Salah satunya minyak telon. Hindari penggunaan minyak telon jika justru menimbulkan masalah kulit anak seperti kering, kemerahan, dan gatal.

Tuesday, August 02, 2016

The "grok-grok" story

"Bayi saya pilek. Umurnya baru 1 bulan." Ibu muda ini membawa bayinya yang tidak terlihat pilek sama sekali di hadapanku.
"Pilek atau grok-grok, Bu?" tanyaku.
"Iya, ada bunyi grok-grok. Sudah 2 minggu seperti ini. Dikasih obat apa ya?" tanya si Ibu.

Di lain waktu....

"Bayi saya sering terdengar napasnya berbunyi grok-grok. Kata orang, waktu lahir tidak disedot sampai bersih ya lendirnya?"

Di tempat lain....

"Bayi saya berbunyi grok-grok. Dia tidak dapat ASI, tapi susu formula. Harus diganti ya susunya. Katanya bisa jadi alergi susu sapi."

Faktanya....

Bunyi grok-grok ternyata wajar dan sering sekali dijumpai pada bayi, khususnya dalam 6 bulan pertama usianya. Sebabnya adalah bayi cenderung bernapas lewat hidung saja (nose-breather). Maka jika ada ludah yang banyak di rongga mulut dan tidak langsung ditelan, bunyi grok-grok terdengar sembari bernapas. Kadang juga terdapat ingus atau lendir di dalam lubang hidung bayi, dan terdengarlah bunyi grok-grok ini. Padahal air liur yang banyak, ingus dan lendir di dalam hidung sering didapatkan pada bayi sehat. Bayi kadang tidak mau langsung menelan ludahnya. Lingkungan berdebu juga merangsang produksi lendir di dalam hidung, meskipun bayi tidak pilek. Ditambah lagi saluran napas bayi yang masih kecil (sempit), menambah kerasnya volume grok-grok. Seiring waktu, diameter saluran napas melebar, kemampuan koordinasi menelan ludah membaik, dan bunyi grok-grok pun menghilang.

Bunyi "berisik" ini dikhawatirkan jika disertai dengan:
- sesak napas, yaitu frekuensi napas lebih dari 60x/menit disertai tarikan di sela-sela iga
- adanya napas cuping hidung
- bibir menjadi biru (sianosis)
- anak tampak lemas, dan banyak tidur
- bunyi menetap lebih dari 6 bulan, dan dicurigai laringomalasia

Jadi....berbeda dengan pilek (selesma), dan juga bukan alergi protein susu sapi ya. Apalagi lendir yang tidak disedot saat lahir. Kejauhan waktunya soalnya, dengan peristiwa saat baru lahir. Lagipula lendir bayi baru lahir ya ditelan sendiri oleh bayinya :-)

Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?

 (tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...