Monday, September 10, 2007
Dapatkah Kita Melintasi Ruang dan Waktu (Time Travel)?
'HEROES' season one has just ended (TransTV broadcasted the series in Indonesia). One of the character, Hiro Nakamura, has the ability to transport himself and the person he touches to different place and time. In other word, he can travel through space and time? Is this possible according to science?
In my childhood reading-and-watching experiences, I-like Hiro in the 'HEROES' series-was raised by Superman comics and movies, Star Trek TV series and movies, Star Wars (actually I watched the saga seriously in my college years), and other American-fantasy goodies. Then I had a big crush in physics, starting from my junior high study. At that time, I've dreamt that someday I would enroll to MIT and master physics. when I was in senior high school, I studied hard to pass the final exam and enter ITB. Though in real life now, I'm a medical doctor. I bought Stephen Hawking's "A Brief History of Time" in my first grade in senior high, and finished reading it in my third grade. I read quantum mechanics, relativity theory, and sort of things. Two years ago, my dear auntie brought me Brian Greene's "The Fabric of the Cosmos" from Boston, after I read TIME Magazine that announced it as a recommended book for physics lover, then I asked my aunt to buy it for me.
Dalam salah satu bab, Brian Greene, ilmuwan teori adidawai (superstring theory), yang dikatakan sebagai satu kandidat terkuat teori yang akan menjadi "Theory of Everything" menyimpulkan bahwa teleportasi (teleport: istilah ini dikenalkan oleh Star Trek, ada yang sudah membaca "Fisika Star Trek"-nya Lawrence Krauss?) melintasi ruang dan waktu adalah hal yang mustahil (dikaitkan dengan fisika yang masih diakui sampai saat ini, hello Newton, hai Einstein). Pengarang buku legendaris 'The Elegant Universe' (gw belum punya bukunya, ada ga ya di QB World, Aksara, Kinokuniya atau Times?) ini menjelaskan bahwa upaya men-teleportasi satu partikel sudah dapat dilakukan. Inipun bukan dalam konteks menghilangkan satu partikel, kemudian secara tiba-tiba memunculkannya di tempat lain (kaget deh ogut kalo tiba-tiba lihat si Hiro Nakamura pop up suddenly from nowhere), seperti impian Michael Crichton dalamTIMELINE. Tetapi di suatu tempat lain, sudah ada partikel yang disiapkan. Begitu disiapkan suatu partikel untuk diteleportasikan, partikel di tempat lain akan mengubah susunan proton-elektron-nya menjadi mirip, serupa dengan partikel yang 'diteleportasikan'. Jadi membuat fotokopi partikel, bukan memindahkan dan memunculkannya secara tiba-tiba di tempat lain. Biarlah DeLorean dalam "Back to The Future"-nya Steven Spielberg menjadi angan-angan saja (huhh, I really missed its trilogy).
Lalu, mungkinkah seseorang kembali ke masa lalu, menemui pasangan pria-wanita yang kelak akan menikah dan menjadi orangtuanya, dan mencegah supaya mereka tidak menjadi menikah? Jawabannya adalah ketika seseorang melintasi waktu menuju masa lalu, ia akan masuk ke semesta lain (konsep parallel universe). Yaitu fotokopi/salinan persis sama dari alam semesta ini, menemui orang-orang yang sama. Ia bisa saja mencegah pernikahan orangtuanya, atau bahkan membunuh ayahnya sendiri sebelum dirinya dilahirkan. Namun jika ia kembali ke waktu asalnya (masa kini), ia tetap akan menemui keadaan yang tidak berubah. Karena dimensi masa lalu dan masa kini adalah semesta yang berbeda. Makanya film masa kecil di RCTI semacam Voyager, Quantum Leap, dll tidak pernah menunjukkan sejarah yang bisa diutak-atik.
Bagaimana dengan teori wormhole, yang katanya jika kita bisa mampu masuk ke dalam 'lubang cacing' di dalam blackhole, atau setidaknya mampu meniru membuat wormhole ini, kita bisa menembus ruang dan waktu? Professor Greene menjelaskannya secara gamblang di buku ini. Atau jika kita mampu bergerak 99,999999999% mendekati kecepatan cahaya, kita mampu memperlambat waktu? Ini benar secara teori Relativitas Umum-nya Einstein lho.. Hey, mendekati kecepatan cahaya saja hampir mustahil, apalagi melewati speed of light (bye, bye warp speed).Masih ada lagi tentang 'parallel universe' etc yang dijelaskan oleh Brian Greene dengan superstring-nya. Mau lihat film-film dokumenter yang diambil dari bukunya 'The Elegant Universe', dan dipandu sendiri oleh si pengarang? Semuanya bisa di-download gratis di internet.
Tunggu saja sampai Doraemon membawakan 'Pintu Kemana Saja' yang keluar dari Kantong Ajaib-nya. Atau masuk ke mesin waktu di laci meja belajarnya Nobita. Saya pasti tidak akan berani masuk ke dalamnya.
Yak, kembali ke kehidupan nyata. Belajar biostatistika supaya nanti bisa ngerjakan tesis.
Arifianto, MD (I still love physics)
Sunday, August 19, 2007
Iryu Team Medical Dragon (part two)

Demikianlah percakapan Akira Kato, wanita muda yang berambisi menjadi profesor bedah jantung.
Yak, begitulah saudara-saudaraku sejawat dokter. Siapapun yang ingin mengubah suatu sistem, harus menjadi bagian di dalamnya (baca: jadi staf atau konsulen.. hehehe).
Tak pelak, menonton Iryu Team Medical Dragon, memberikan gambaran banyak sekali kemiripan sistem kedokteran di Indonesia dengan Jepang. Khususnya dalam hal kultur feodalisme. Tapi jangan bahas dalam segi teknologi ya, pastinya Indonesia kalah jauh.
Susunan alur ceritanya oke. Khas ‘dorama’ Jepang. ‘Manga’ based pula. Ilustrasi musiknya top. Sound dan special effect-nya tertata rapi. Belum penjelasan ilmiahnya yang gambling dan rasional, serta mudah dipahami awam. Pasti banyak yang pengen jadi dokter bedah setelah nonton filem ini. Ingat ya: jadi dokter niatnya cuma satu: nolong orang. Bukan untuk materi (uang). Film ini belum ada di TV Indonesia. Bisa di-download gratis dengan torrent. Sebelas episode.
This TV series reminds me of my-surgeon-wanting-to-be (urologist, specially—but I can’t afford the living cost to fund during the residency education), or wish of being a cardiologist (not cardiac surgery, but I didn’t dare to face the qualification, and the fact now is… very few alumni of my almamater are accepted as the residents here). And it ends up being a pediatric resident. Why aren’t there any movies about pediatrics? Or maybe I’ll make one, if there’re producers offering me to make one, and targeting to reach the highest rating among the sinetrons. Hehehe.
Enough for the bull shit about sinetrons.
Iryu Team Medical Dragon

Ijyuuin-sensei, seorang residen di bagian Bedah Toraks sebuah RS fiktif dalam film serial TV “Iryu Team Medical Dragon” merenungi dirinya. Sebuah kondisi yang secara umum menggambarkan satu bagian kecil dari kehidupan dunia kedokteran di seluruh dunia. Indonesia pun termasuk salah satu bagiannya.
Film ini menceritakan dua karakter utama. Karakter pertama adalah seorang dokter bedah yang ”surgeon-born-to-be” namun sangat idealis dengan keadaan yang secara bertolak belakang dengan keinginannya (kurang-lebih digambarkan dalam paragraph awal tulisan ini), sehingga ia dikucilkan dari pergaulan profesinya, dan memutuskan untuk berhenti dari profesinya.Karakter kedua adalah seorang asisten profesor bedah toraks wanita yang sangat berambisius menjadi profesor, sehingga merekrut si karakter pertama untuk melakukan prosedur bedah ”BATISTA” yang sangat fenomenal dalam dunia bedah jantung, dan bila prosedur ini berhasil dilakukan di bawah bimbingannya, ia akan dipastikan menjadi profesor.
Film ini menonjolkan dunia kedokteran Jepang yang feodal. Kata-kata dan keinginan seorang profesor tidak bisa dibantah oleh juniornya, meskipun hal itu tidak tepat secara medis, atau berpotensi membahayakan nyawa pasien. Sehingga salah satu pesan film drama terbaik Jepang ini adalah: utamakan pasien.
Surgical skill level doesn’t matter.. it’s just an “awaiting-death” patientTo not affect insurance rating, doctors still have to treat hopeless patients. Even if no treatment to avoid the increase of hospital’s death toll, the patient is transferred here to the patient’s family, dying in a well-equipped hospital, they will accept it more easily. In other words, this is a patient whose life does not matter. As long we follow standard procedure, the outcome of operation is unimportant.
Kalimat-kalimat di atas juga sedikit-banyak menggambarkan dunia kedokteran yang ternyata tidak banyak berbeda di semua negara di dunia. Yakni RS rujukan nasional identik dengan kasus-kasus “berat”, dan seringkali dokter langsung menyimpulkan “pasien ini sudah sukar untuk dikembalikan ke keadaan awalnya”. Dokter menjadi agak putus asa, dan kadang kurang optimal bertindak untuk keberhasilan tindakan mediknya. Apalagi di negara kita yang tidak mengenal asuransi kesehatan untuk semua. No money, no cure. Tidak ada uang, tidak ada kesembuhan.
Sebuah film drama yang menjadi otokrotik bagi seluruh dokter yang konsisten dalam menjalankan profesinya. Lengkap dengan bumbu humor khas Jepang, karakter-karakter menarik para dokternya, dan penjelasan ilmiah secara sistematis terhadap semua kasus bedah yang disajikan. Episode pertama menampilkan tindakan bedah terhadap tamponade jantung dengan cara menyedot darah yang memenuhi rongga perikardium, namun tidak mencari penyebab sumber perdarahannya. Sehingga jantung pasien pun berhenti berdenyut. Dokter dengan santainya menyatakan “operasi berhasil, namun nyawa pasien tidak berhasil kita selamatkan”. Karena sejak awal operator bedah, seperti kasus-kasus yang biasa ia hadapi, menganggap ini adalah kasus “awaiting-death”. Karakter utama film ini turun tangan mencari sumber perdarahan, menekannya sehingga perdarahan berhenti, dan melakukan kompresi jantung sampai aktivitas listrik muncul dan jantung kembali berdenyut spontan. Nyawa pasien pun terselamatkan.
Skenario yang sangat baik di episode perdana serial ini. Dilanjutkan dengan kasus pneumotoraks yang ditangani dengan menusukkan patahan bolpoint ke sela iga pasien menembus ruang pleura.
The movie that reminds my wish to be a surgeon. But now I’m already starting to prepare my pediatric residentship, and I should be a pediatrician someday.
Maybe I’ll write my stories during my “life as a pediatric-resident”, and a biography-based book will be published someday.
Cheers…
Friday, June 15, 2007
Kalau Anak Diare, Boleh Tidak Dikasih Antibiotika dan Antidiare?
Kedua, secara umum diare dibagi dua: diare akut dan diare kronik. Diare akut berlangsung di bawah 14 hari, sedangkan diare kronik lebih dari 14 hari. Ada juga istilah diare persisten, yang hampir mirip dengan diare kronik.
Ketiga, anak diare biasanya disertai mual-muntah. Ini adalah hal yang umum terjadi, dan tidak butuh penanganan khusus. Artinya tidak butuh obat mual-muntah. Saya jelaskan di bawah.
OK, yang kita bahas di sini adalah diare akut tanpa penyulit. Artinya bukan disentri (diare disertai darah), diare kronik/persisten, atau diare dengan dehidrasi berat (di sini saya tidak menjelaskan macam-macam kategori dehidrasi, bisa ditemui di banyak sumber di internet).
SATU HAL PENTING: diare sebenarnya adalah mekanisme pertahanan tubuh juga. Kok bisa? Ya, diare membuang semua virus dan bakteri yang mengganggu sistem pencernaan kita. Begitu juga dengan muntah. Makanya kalau penyakitnya belum keluar semua, kemudian diare di-STOP, atau muntah di-STOP, bisa-bisa si kuman muter-muter aja di saluran cerna, berkembang biak lebih banyak, dan bisa mengakibatkan penyakit bertambah berat. PRINSIPNYA: cegah dehidrasi.
Kalau anak diare, khususnya bayi dan balita, biasanya orangtua panik. Apalagi kalau disertai mual-muntah. Langsung deh pada hari itu, hari pertama-kedua diare, si anak dibawa ke dokter. Jreeenngg... apakah yang dokter berikan?
ORALIT! Yak, inilah obat utama dan andalan untuk semua diare. Jadi jangan lupa, kalau anak diare: minum ORALIT. Inipun tidak perlu pergi ke dokter, karena oralit bisa dibeli secara bebas. Prinsipnya adalah anak harus banyak minum dan makan, jika oralit belum/tidak tersedia. Minum apa saja boleh... termasuk susu. Lho, kok susu? Ya iya dong, kan diarenya bukan karena susu (intoleransi laktosa). Jadi nggak perlu susunya diganti susu LLM (low lactose milk).
Trus bagaimana dengan antibiotika? Pada anak, diare sebagian besar disebabkan oleh Rotavirus, yang akan sembuh dengan sendirinya, antara 2 sampai 7 hari. Jadi ya... didiamkan saja anaknya. Kok tega banget sih anak mencret-muntah didiamkan aja, nggak dikasih obat? Nggak dikasih antibiotika? Ya iya dong, dikasih antibiotika malah bisa memperparah diare. Berhubung tidak ada bakteri jahat yang harus dibunuh (kan akibat virus, bukan bakteri), jadinya si antibiotika membunuh bakteri baik. Makanya ada yang namanya antibiotic-associated-diarrhea.
Antibiotika hanya diberikan pada disentri, kolera dengan dehidrasi BERAT, dan penyakit lain seperti pneumonia.
Trus... kalau antidiare dan antimuntah? Hmmm.... saya tidak akan menyebut merek dagangnya. Tapi menyebut isinya saja (coba Ibu-ibu, Bapak-bapak, dilihat obat mencret-muntah anaknya isinya apa).
Ada yang istilahnya adsorben, macamnya: kaolin-pektin, attapulgite, smectite, karbon, dan kolestiramin. Obat-obat ini digunakan karena mampu mengikat dan menonaktifkan racun (toksin) bakteri atau bahan kimia lainnya yang menyebabkan diare, dan kemampuannya untuk "melindungi" mukosa usus halus. Penelitian tidak menunjukkan kegunaan obat jenis ini.
Obat antimuntah seperti chlorpromazine, metoclopramide, dan domperidone malah dapat menimbulkan efek mengantuk, gangguan keseimbangan, dan berinteraksi secara kimiawi dengan oralit. Muntah akan berhenti dengan sendirinya jika diare hilang.
Obat antimotilitas, misalnya: loperamide, hyoscine, dll diberikan untuk mengurangi gerakan usus, sehingga tinja tidak cair, dan diare mereda. Padahal ini dapat menyebabkan ileus paralitik (usus berhenti bergerak/berkontraksi sama sekali), dan berakibat mengancam nyawa (kematian). Penyakit pun tidak bisa dikeluarkan jika usus tidak mau mengeluarkan.
Ada beberapa obat lain yang saya dapati dalam survei yang saya lakukan: ada nifuroxazide (antibiotika), ini juga tidak perlu, dan ada juga antijamur. Padahal diare yang timbul akibat jamur hanya pada anak dengan gangguan sistem daya tahan tubuh (HIV/AIDS, lupus, kanker, terapi steroid jangka panjang).
Sudah cukup paham Bapak dan Ibu? Anak mencret dan muntah: jangan panik dulu, pikirkan penyebabnya (kebanyakan makan sambel kali...), amati anaknya: ada dehidrasi/tidak. Masih mau minum kan? Nggak terlalu lemes kan? Mau makan walau sedikit tapi sering kan? Masih ada pipisnya kan? Masih mau netek kan? Berarti sekedar diare akut. Delapan puluh persen akan sembuh sendiri.
sumber: The Treatment of Diarrhoea, a manual for physicians and other senior health workers, WHO 2005.
Wednesday, June 13, 2007
Kalo Berobat ke Dokter Pulangnya Pasti Bawa Obat
Kita sakit, trus kita berobat ke dokter, pulangnya harus bawa obat, atau minimal dikasih resep. Iya nggak sih?
Ya iya dong. Masak udah jauh-jauh datang ke dokter, keluar ongkos, waktu kepake, keluar dari ruang dokter nggak dikasih obat?
Misalnya kita demam dari semalam, badan panas dingin, menggigil, nggak masuk kerja hari ini, udah minum parasetamol sih, ada stoknya di rumah, trus sorenya berobat ke dokter. Setelah diperiksa, dokternya bilang: ini demam baru hari kedua, tidak ada tanda-tanda penyakit spesifik lain, paling mungkin ini infeksi virus aja. Sudah ada obat penurun demam di rumah kan ya? Pake itu aja. Saya nggak ngasih obat lagi. Nggak perlu antibiotika dll. Minum air yang banyak, kompres pake air hangat supaya demamnya turun, kita observasi sampai lusa. OKeh?
Udah deh, gitu aja, dokternya nggak ngasih obat. Cuma kasih nasehat aja. Padahal ongkos konsultasinya aja Rp 50 rebu.
Padahal saudara-saudara, tidak semua kunjungan ke dokter harus berakhir dengan dikasih resep. Kalau cuma sakit demam baru tiga hari, batuk-pilek, mencret alias diare, ini mah kaga perlu obat. Istirahat aja dulu, minum yang banyak. Kalo diare nggak perlu minum obat macam-macam antidiare-antibiotika (diare baru 1-2 hari tanpa darah, dan warna tinja biasa aja). Minum aja oralit. Ini kan juga nggak perlu ke dokter.
Jadi jangan ngambek ya kalau dokternya nggak kasih resep obat, cuma kasih nasihat aja. Pemberian obat yang tidak sesuai indikasi justru meningkatkan risiko efek samping, dan interaksi obat kalau obatnya lebih dari dua macam.
Kan ente-ente pade punya akses internet, silakan browsing dulu di internet kira-kira ini masuk kategori sakit apa. Perlu ke dokter nggak, atau perlu obat nggak?
Nasihat dokter itu obat juga lho. Makanya konsultasinya aja dihargai mahal. Hehehe...
kalo yg mau kasih komen, berhubung shoutbox-nya lagi error, ke http://drarifianto.multiply.com aja isi shoutbox di situ
apin lagi nulis dikit, dikejar menyelesaikan penelitian sebelum mulai kuliah PPDS
Friday, March 23, 2007
Layanan Kesehatan Mahal dan Tidak Berkualitas
Berapa jumlah uang yang harus Anda keluarkan dalam satu kali kunjungan ke dokter spesialis di Jakarta dan sekitarnya? Mungkin tergantung spesialisasi dokternya. Kita ambil spesialisasi anak. Berdasarkan pengamatan saya memantau klaim resep di lebih dari satu perusahaan, tarif konsultasi dokter spesialis anak (DSA) antara Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu. Ada sebagian kecil yang mencapai Rp 300 ribu untuk konsultasi saja. Belum termasuk resepnya. Total sekali berobat, biaya yang harus dikeluarkan untuk anak kita yang hanya sakit batuk-pilek-demam mencapai Rp 150 ribu sampai Rp 300 ribu. Padahal mungkin obatnya hanya puyer dua macam, ditambah sirup dua macam juga (satunya antibiotika, satunya lagi vitamin-penambah nafsu makan dan semacamnya—yang sebenarnya dua-duanya tidak perlu diberikan sama sekali).
Bayangkan saja yang berobat adalah karyawan Anda yang berprofesi sebagai sopir taksi, dengan penghasilan per hari antara Rp 15 – 30 ribu rupiah, dikali 20 hari kerja, dengan plafon maksimal penggantian rawat jalan untuk anak sebesar Rp 750 ribu per tahun. Hasilnya? Dua sampai tiga kali berobat, Anda tidak akan mendapatkan penggantian untuk anak yang sakit. Jadi boleh sakit, maksimal tiga kali setahun. Tidak boleh masuk rawat inap!
Bagaimana pelayanan yang Anda dapatkan dengan mengeluarkan biaya sebanyak itu? Dokternya tidak menjelaskan anak Anda sakit apa (karena ketika saya tanya: “Pak, kemarin dokternya bilang anaknya sakit apa?”, dia hanya menggelengkan kepala), plus memberikan obat yang kalau ditelusuri resepnya berisi empat sampai delapan jenis obat, untuk anak Anda yang baru berumur dua tahun! Maukah Anda minum 10 macam obat tiga kali sehari?
Anak muntah? Anda pun bisa jadi muntah.
Atau begini. Anda punya dokter langganan dekat rumah yang biaya berobatnya murah-meriah. Sekali berobat batuk-pilek, dengan Rp 40 sampai Rp 70 ribu, dapat obat juga. Tambahan lagi: cocok! Dua tiga hari, anak Anda sembuh. Dokternya pun ramah dan sabar. Tapi ketika saya telusuri apa isi resepnya: obat penurun panas yang tidak boleh diberikan pada anak di bawah 12 tahun, antibiotika yang sangat dibatasi penggunaannya karena dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan tulang panjang, dan obat maag-muntah yang sama sekali tidak perlu.
Dokternya oke, tapi isi resepnya tidak oke.
Kemarin seorang sejawat yang sudah belasan tahun bergerak di dunia asuransi kesehatan mengeluh, bahwa rumah sakit cenderung menaikkan biaya pengobatan jika mengetahui konsumennya diasuransikan. Toh diganti asuransi. Ketar-ketirlah perusahaan asuransi, berpikir bagaimana supaya biaya penggantian pengobatan ditekan serendah mungkin.
Hari ini sejawat lain curhat. Rumah sakit tempatnya bekerja meminta seluruh dokter yang berpraktik melayani minimal 40 pasien. Padahal teman saya ini sengaja membatasi jumlah psien, agar setiap pasien mendapatkan konsultasi memuaskan. Bayangkan saja: dua jam untuk 40 pasien!
Beberapa waktu lalu saya menghadari simposium besar di jantung kota, dihadiri ratusan dokter dari berbagai penjuru, di sebuah hotel mewah. Pembicaranya tidak sedikit yang guru besar, profesor, dan konsultan sub super spesialis. Puluhan perusahaan farmasi menjajakan produknya pada dokter calon marketer (pemasar) handal.
Seorang guru besar berbicara: dalam penelitian ini, penggunaan probiotik terbukti mampu mengurangi lamanya diare, ditambah juga mampu merangsang sistem daya tahan tubuh! Kesimpulan: probiotik diberikan pada diare?
Seorang konsulen muda tidak kalah juga: pemberian probiotik terbukti mempercepat penyembuhan pada diare akibat pemberian antibiotika. Kesimpulan: berikan probiotik pada pasien Anda? Atau mending jangan berikan antibiotika jika tidak pada tempatnya, sehingga tidak akan diare?
Lainnya sub spesialis yang saya bingung menangkap kesimpulan dari ceramahnya: pada anak, probiotik juga terbukti mengurangi lamanya sakit diare.
Semuanya menggunakan data-data penelitian.
Yang saya pertanyakan: sahih-kah penelitiannya? Apakah penelitian itu berdasarkan evidence based? Atau hanya satu-dua penelitian tunggal dengan sampel populasi terbatas? Bagaimana dengan penelitian di Indonesia?
Ratusan dokter hampir dipastikan akan mengikuti apa yang menjadi kesimpulan para pembicara. Nyatakan dengan tegas: probiotik diberikan atau tidak pada diare? Karena WHO, AAP, AAFP, CDC tidak menyatakan perlunya pemberian bahan ini.
Itu hanya satu contoh. Saya tidak membahas spesifik masalah probiotik di sini. Belum lagi jenis golongan antihipertensi apa yang akan dokter resepkan.
Pada hari kedua, sambil berjalan menuju ruang seminar, seorang pegawai dari perusahaan farmasi menghampiri saya.
“Dok, sudah pernah pakai produk kami?”
“Belum.”
“Dokter praktik di RS mana?”
“Saya buka praktik di rumah.”
“Ooo, di rumah ya. Dispensing (menjual obat) tidak?”
“???”
Kapankah konsumen kesehatan Indonesia mendapatkan layanan kesehatan murah dan berkualitas?
Have a nice weekend.
Thursday, March 01, 2007
Dok, Imunisasinya Entar Aja ya!
"Anak saya baru 6 bulan. Sekarang kan harus imunisasi campak. Berarti nanti umur 9 bulan imunisasi campak lagi, tidak?"
"Oeeekk... oeeekk.."
"Aduh, jangan dorong-dorong dong. Nanti jatuh nih!"
"Pak, saya udah nunggu dari tadi.. kok nggak dipanggil sih?"
Demikianlah lintasan kalimat-kalimat yang berseliweran di Posyandu RT-ku, saat pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Campak (Crash Program), Polio, dan Pemberian Vitamin A bagi bayi dan balita. Sejak 20 Februari hingga 20 Maret nanti, Departemen Kesehatan mencanangkan program wajib imunisasi terhadap kedua penyakit di atas bagi seluruh anak usia 0 sampai 59 bulan di seantero Pulau Jawa. Tidak luput juga di daerah tempat tinggalku di bilangan Kramat Jati, Jakarta Timur. Bersama ibu-ibu kader Posyandu dan seorang bidan swasta, aku dan istri ikut terlibat dalam memberikan suntikan vaksin campak.
Terbayang ya bagaimana kondisi Posyandu kami hari Selasa lalu dari ilustrasi kalimat-kalimat di atas. Lebih dari 400 balita datang pada hari itu, selama lebih dari 4 jam pelaksanaan PIN. Posyandu yang mengambil tempat di rumah Bapak Ketua RT itu penuh sesak dengan ibu-ibu yang menggendong dan menggandeng anak-anak mereka.
Apa sih gunanya vaksinasi campak?
Penyakit campak atau measles dalam bahasa Inggris, disebabkan oleh virus Rubeola yang masuk ke dalam tubuh (bedakan dengan Rubella atau campak Jerman). Tandanya berupa bintik-bintik kemerahan seluruh tubuh yang menonjol, khasnya dimulai dari belakang telinga. Seringkali disalahartikan dengan tampek yang terminologinya mengarah pada Roseola, atau rash (kemerahan) 'biang keringat' (miliaria). Adanya gejala tambahan seperti demam, pembesaran kelenjar getah bening belakang telinga, bercak putih di bagian dalam pipi dan lidah, bila berkomplikasi dapat menimbulkan penyakit serius seperti pneumonia (radang jaringan paru), diare berat, sampai radang selaput otak, yang semuanya berpotensi menyebabkan kematian. Departemen Kesehatan dalam situsnya menjelaskan dalam setiap tahunnya tercatat 777 ribu kematian akibat campak di seluruh dunia, dengan 15%-nya 'disumbangkan' oleh Indonesia. Imunisasi tambahan (crash program) di luar imunisasi rutin (usia 9 bulan) dapat menurunkan angka kematian hingga 48%.
Lalu bagaimana kalau anak sedang sakit batuk-pilek, boleh diimunisasi campak, tidak?
Batuk-pilek bukanlah kontra indikasi imunisasi, baik campak, maupun imunisasi-imunisasi lain pada umumnya, sekalipun imunisasi DPT yang menimbulkan demam. Hal ini masih banyak disalahpahami oleh petugas kesehatan sekalpiun, termasuk dokter, bidan, dan dokter spesialis anak yang tidak berani memberikan vaksinasi/imunisasi jika seorang anak sedang batuk-pilek. Padahal keadaan seperti demam ringan, diare tanpa dehidrasi, dan riwayat kejang demam sekalipun bukan kontra indikasi imunisasi. Yang tidak boleh diimunisasi adalah demam lebih dari 40-41 derajat selsius, anak dengan kondisi daya tahan tubuh terganggu (HIV-AIDS, kanker/keganasan), dan alergi terhadap zat yang terdapat dalam vaksin (sangat jarang sekali).
Jadi... apa alasan untuk menunda imunisasi jika sekedar sakit ringan? Padahal kerugian akibat imunisasi terlambat dan tidak tepat waktu (kalau setiap bulan kena batuk-pilek, apalagi cuaca seperti ini, kapan diimunisasinya?) jauh lebih berat. Lihat saja dampak campak pada balita.
Lalu bagaimana jika jarak vaksinasi terlalu dekat? Misalnya sekarang usia 8 atau 10 bulan ikutan PIN Campak, padahal umur 9 bulan dapat juga di Posyandu (di Jakarta umumnya tiap tanggal 27 setiap bulannya). Measles vaccine adalah virus campak yang dilemahkan. Artinya mengandung virus hidup. Secara garis besar, ada dua jenis vaksin: mengandung kuman mati (misalnya DPT, Hepatitis B) dan mengandung kuman hidup (BCG, Campak, Polio, Varisela/cacar air). Keterangan lengkapnya tidak dijelaskan pada tulisan ini. Center for Disease Control (CDC) Amerika Serikat memberikan keterangan jarak antar pemberian vaksin 'hidup' sekurang-kurangnya 4 minggu. O ya, jangan lupa, prinsip dasar vaksinasi/imunisasi adalah memberikan antigen (kuman) untuk merangsang antibodi (daya tahan tubuh). Lengkapnya tidak dijelaskan di sini (mungkin bisa lewat ceramah tatap muka ya? Hehehe).
Kesimpulannya adalah: pemberian vaksin campak yang berdekatan minimal 4 minggu, dianggap sebagai booster (penguat) dosis kekebalan tubuh yang sudah ada sebelumnya. Namun untuk kondisi pemberian vaksin campak yang terkandung dalam 'paket' MMR (measles mumps rubella) umur 12-18 bulan, jarak untuk mendapatkan campak sesudahnya (via PIN Campak) minimal 6 bulan. Makanya dalam form isian campak yang kami isi kemarin, ada pernyataan: kapan terakhir mendapatkan imunisasi campak?
Mudah-mudahan tidak bingung dan dapat dipahami oleh petugas kesehatan lainnya.
Begitulah sekilas saja tentang campak. Berada di tengah-tengah kerumunan ibu-ibu dan anak-anak yang tidak mengantri dengan tertib, kesulitan menjaga posisi jarum yang ditarik oleh lengan si anak ketika merasa kesakitan.... oaaa... menangislah mereka, sehingga tetesan polio dan vitamin A mudah masuk. Hehehe.
Nggak kapok deh melayani suntik campak. Enam bulan lalu di pedalaman kelapa sawit nun jauh di Muaro Jambi sana, dan kini di tengah-tengah kepungan busway ibukota.
Friday, February 23, 2007
Here... Back to Jakarta!
Sementara... Anda bisa mengikuti topik-topik kesehatan yang kami sampaikan secara bergantian dengan beberapa dokter lainnya, di Radio Utan Kayu 89,2 FM, tiap Sabtu jam 7.30 - 8.30, dalam rubrik "Keluarga SEHAT".
Dan... jangan lupa: SUKESKAN PIN CAMPAK, POLIO, dan pemberian VITAMIN A bagi bayi, balita, dan anak usia sekolah, selama 20 Februari - 20 Maret 2007 di seantero DKI, Jabar, Jateng, Jatim. Sampai ketemu di Posyandu kami tanggal 27 Feb 07: RT 3 RW 1. (kelurahan mana kecamatan mana hayoo??) :-)
The End of A Journey (Jambi part Two)
Wednesday, May 17, 2006
The Beginning of A Journey (Jambi part One)


Setelah hampir sebulan tidak menulis di sini, akhirnya ada kesempatan juga. Ceritanya kami sedang mampir sebentar ke Jakarta, setelah mengikuti pelatihan satu minggu di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) prop. Jambi, untuk dokter dan dokter gigi PTT angkatan 41 dan 35, yang memilih propinsi Jambi untuk lokasi PTT-nya. FYI, PTT atau pegawai tidak tetap adalah program pemerintah (dalam hal ini dilaksanak oleh Depkes) untuk semua dokter dan dokter gigi Indonesia yang ingin mendapatkan surat ijin praktik (SIP), sejak tahun 1991. Sebelumnya namanya Inpres atau WKS (wajib kerja sarjana). Bisa dikatakan inilah masa bakti wajib bagi dokter/dokter gigi. Dan pelaksanaannya bisa ditunda, misalnya ketika seorang dokter/gigi ingin mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) langsung setelah jadi dokter. FYI lagi, lebih dari 30 persen teman seangkatanku di FKUI sudah menjadi peserta PPDS. Aku masih harus banyak menabung untuk bisa melanjutkan spesialisasi
Singkatnya, sepuluh hari setelah melaksanakan pernikahan, aku dan istri segera meluncur ke Kota Jambi untuk menjalankan tugas sebagai dokter/dokter gigi PTT Pusat. Selama seminggu, 32 orang dokter/dokter gigi mengikuti pelatihan pra PTT yang diadakan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Propinsi Jambi, untuk kemudian disebar ke sepuluh kabupaten/kota di propinsi Jambi, mulai dari Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Bungo, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Sarolangun, Batanghari, Kerinci, Merangin, dan Tebo. Silakan lihat peta untuk detil lengkapnya. Aku sendiri dan istri memilih dan ditempatkan di Kabupaten Muaro Jambi bersama tujuh orang dokter lainnya, dari berbagai almamater seperti UNISSULA Semarang, UNAIR Surabaya, UNAND Padang, UNSRI Palembang, UMY Yogyakarta, USAKTI Jakarta, dan YARSI Jakarta. Sebelum melaksanakan tugas di Puskesmas yang harus ditempuh menggunakan kendaraan offroad 4 WD (kebayang kan gimana akses menuju lokasi Puskesmas-nya? Hehehe), kami pulang sebentar ke Jakarta mengambil beberapa barang yang tertinggal.
Okeh, sekian untuk saat ini. Siap-siap untuk menjalankan tugas di Puskesmas yang relatif sepi pengunjung (karena memang terletak di daerah terpencil di Kabupaten Muaro Jambi), selama enam bulan ini tidak ada dokter/dokter giginya (penduduk sekitar berobat ke mantri/perawat yang menjabat sebagai kepala Puskesmas, dan kebetulan istrinya pun seorang bidan), mempersiapkan segala program preventif dan promotif (Puskesmas dibentuk bukan untuk kuratif/pengobatan semata, tetapi lebih pada aspek pencegahan penyakit dan penyuluhan hidup sehat), berpetualang menjelajah daerah-daerah yang terletak agak ke pedalaman dengan dikelilingi hutan kelapa sawit, memancing di pinggiran sungai Batanghari, mengemudi ambulans Puskesmas Keliling (Pusling) melewati jalan rusak dengan lobang mencapai 30 cm, dan tenang hidup berumah tangga alias cuci-masak-membersihkan rumah sendiri sebagai pasangan suami istri yang baru belajar. Hehehe.
Belum kebayang kapan bisa online lagi dan kirim tulisan ke MP. Mohon doanya
dr Arifianto
drg Ratna Sari
Thursday, April 13, 2006
Perlukah Suplementasi AA/DHA dalam Susu Formula? (Iklan Produk Kesehatan yang Menyesatkan part 2)

Mohon maaf kalau tulisan ini jadinya seperti artikel semi ilmiah. Hanya berusaha menyumbangkan sedikit informasi yang saya punya sebelum meninggalkan Jakarta menuju lokasi tanpa koneksi internet sama sekali (listrik dan telepon saja belum tahu ada/tidaknya).
Maraknya iklan susu formula di mana-mana: TV, majalah, koran mendorongku menelusuri lebih lanjut, perlukah suplementasi AA/DHA dalam susu formula. Tujuan tulisan ini adalah menekankan tidak ada yang mampu menggantikan ASI dalam enam bulan pertama kehidupan bayi.
Susu formula dibuat dengan berusaha meniru semirip mungkin kandungan yang ada dalam ASI, untuk memenuhi segala kebutuhan nutrisi bayi: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Sebagian besar formula ini diambil dari susu sapi, yang dinilai kandungannya hampir menyerupai air susu manusia, dan mampu memenuhi kebutuhan gizi bayi. Sebagian kecil adalah susu kedelai.
Ada satu kandungan dalam ASI yang tidak terdapat dalam susu formula kebanyakan, yaitu AA/DHA. Berbagai penelitian menunjukkan bayi yang mendapatkan ASI sampai usia satu tahun memiliki perkembangan otak lebih baik dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI. Kandungan yang menentukan ini adalah asam arakidonat (arachidonic acid/AA) dan asam dokosaheksaenoat (docosahexaenoic acid/DHA), suatu asam lemak tak jenuh ganda rantai panjang (long chain polyunsaturated fatty acids/PUFA), yang merupakan batu bata utama pembangun jaringan saraf di retina (saraf mata) dan otak. Mengetahui hal ini, para peneliti biokimia berlomba-lomba memasukkan AA dan DHA dalam kandungan susu formula, dan melihat dampaknya apakah menyerupai keuntungan bayi yang mendapatkan ASI.
Sebuah tulisan dalam jurnal Nutrition Noteworthy tahun 2002 yang berjudul: “Finding the Magic Formula: Should Polyunsaturated Fatty Acids be Used to Supplement Infant Formula” yang ditulis Mailan Cao menjelaskan tiga hal utama yang menjadi indikator utama outcome (keluaran) suplementasi AA/DHA ini, mengingat tidak semua hal yang terbukti di laboratorium (in vitro) atau hewan percobaan, lantas sama efeknya ketika diterapkan pada manusia.
- Suplementasi AA/DHA dan kadarnya dalam asam lemak plasma (darah)
Setelah dibuktikan aman untuk dikonsumsi tubuh manusia, peneliti ingin membutikan apakah suplementasi AA/DHA dapat diserap tubuh sama halnya kandungan dalam ASI, melihat bukti kadar AA/DHA dalam tubuh bayi yang mendapatkan susu formula tanpa suplementasi AA/DHA lebih rendah dibandingkan dengan yang mendapatkan ASI.
Ternyata terbukti, suplementasi AA/DHA meningkatkan kadarnya dalam plasma darah, membran sel darah merah (eritrosit), dan jaringan korteks otak, dalam jumlah menyerupai yang mendapatkan ASI. ARTINYA: suplementasi AA/DHA mampu diserap tubuh dengan baik. NAMUN ini sama sekali tidak menunjukkan dampaknya dalam perkembangan saraf otak dan ketajaman penglihatan.
- Suplementasi AA/DHA dan Pengaruhnya dalam (Fungsi) Ketajaman Penglihatan
Sebuah penelitian ‘meta-analisis’ menunjukkan adanya peningkatan fungsi penglihatan pada bayi yang mendapatkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA dibandingkan yang mendapatkan susu formula biasa, dengan melihat indikator perilaku dan elektrofisiologi mata pada bayi berumur 2 dan 4 bulan. Beberapa penelitian terdahulu tidak menunjukkan adanya perbedaan.
- Suplementasi AA/DHA dan Perkembangan Kecerdasan/Perilaku
Inilah KUNCI dari impian semua peneliti mengenai suplementasi AA/DHA: mampukah menyamai dampaknya dalam meningkatkan kecerdasan bayi, layaknya bayi yang mendapatkan ASI? Ternyata dari berbagai penelitian: belum terbukti. Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya, dan diteruskan sampai usia 1 tahun, memiliki kecerdasan lebih daripada yang mendapatkan susu formula dengan AA/DHA sekalipun.
Beberapa kendala juga menghadang model penelitian ini. Antara lain jenis uji yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan adalah: Bayley Mental Development Index (MDI) dan the Psychomotor Developmental Index (PDI). Berbagai penelitian menunjukkan hasil berbeda-beda, ada yang menggambarkan hasil signifikan pemberian suplementasi AA/DHA, dan sebagian lain tidak ada bedanya. Belum lagi pengaruh sosioekonomi responden yang mempengaruhi uji statistik. Kadar AA, DHA, dan asam lemak lain semacam ALA dan LA juga bervariasi antar penelitian. Sampai perbedaan genetik dan lingkungan di berbagai belahan dunia tempat penelitian dilakukan (Amerika Utara, Australia, dan Eropa). Juga terkadang jumlah sampel terlalu sedikit, umur bayi yang terlalu dini untuk dilakukan pengujian, dan jangka waktu penelitian yang seharusnya cukup panjang, sehingga dapat dilihat dampaknya hingga usia remaja dan dewasa.
Pada akhirnya penelitian mengenai dampak suplementasi AA/DHA masih terus dikembangkan, dan belum berakhir.
Bagaimana dengan pemasarannya di negara kita? Berbagai iklan dan informasi yang tidak jarang datang dari dokter spesialis anak sendiri seolah-olah mengklaim perannya signifikan dalam meningkatkan kecerdasan bayi.
Di AS, Food and Drug Administration (FDA) atau serupa Badan POM-nya Indonesia, memberikan ijin kepada dua perusahaan: Abbott Laboratories dan Mead Johnson Nutritionals untuk mengedarkan susu formula dengan suplementasi AA/DHA kepada khalayak sejak awal 2002. Harganya 15-20% persen lebih mahal dibandingkan dengan susu formula tanpa suplementasi, dan ini pun memberikan keuntungan kepada dua perusahaan tersebut untuk membiayai penelitian mengenai AA/DHA.
American Council on Science and Health memiliki pandangan ”the current data has not consistently shown that supplementation of formulas with DHA and AA has a lasting beneficial effect on infant development” juga hal lain seperti keamanan menambahkan asam lemak dalam susu formula belum teruji.
Pada akhirnya keputusan berpulang pada tangan si konsumen. Apakah akan memberikan susu formula dengan suplementasi AA/DHA atau tidak. Yang penting adalah memberikan ASI Eksklusif selagi mampu. Sejak masa kehamilan, persiapkan diri sebaik mungkin dengan pengetahuan menyusui bayi secara optimal. Menjelang persalinan, jika Anda berencana melahirkan di Rumah Bersalin atau Rumah Sakit, bukan di rumah, mintalah kamar rawat gabung. Anda bisa bersama bayi Anda sejak lahir hingga saatnya pulang, tanpa dipisahkan sedikit pun dari sisi sang ibu. Satu hal yang sangat sulit dilakukan di kota besar seperti Jakarta. Begitu bayi lahir, segera dekatkan ke payudara ibu, untuk early latch-on—menyusui dini—dengan teknik yang telah Anda ketahui baik. Sehingga dipastikan kemampuan Ibu untuk menyusui bayinya penuh sangat baik. Maka tidak ada alasan lagi: “ASI saya tidak keluar”, dan harus memberikan susu formula pada bayi.
Dukungan dari keluarga juga sangat penting. Tidak sedikit alasan ibu memberikan susu formula pada bayinya yang mendapatkan ASI dengan baik adalah: khawatir ASI tidak cukup. Pembahasan ASI sangat panjang, tidak dalam bahasan ini.
cisauk, 7 hari menjelang hari-H
Ratna Sari dan Arifianto: Sebuah Undangan Pernikahan

Penyatuan dua hamba Allah dalam bahtera pernikahan
putri kedua Kel. Kolonel Cpl (Purn) H. Didi Sadikin, SIP
putra pertama Kel. Ir. H. Riyanto Marosin
Akad nikah
Jum'at, 21 April 2006 pukul 8.00 WIB
Masjid Agung At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Resepsi pernikahan
Jum'at, 21 April 2006 pukul 19.00 - 21.00 WIB
Gedung Pewayangan Kautaman, Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Terima kasih
Silakan melihat peta lokasi dan mengisi buku tamu di http://ratna-apin.uni.cc dan melihat yang lainnya di Multiply
Saturday, April 01, 2006
Iklan Produk Kesehatan yang Menyesatkan (1)
Pernah seorang pasien datang kepadaku dan menyatakan bahwa ia sudah sangat mengurangi konsumsi gulanya. Apa pasalnya? Ia khawatir akan mengalami hal serupa iklan sebuah pemanis buatan bebas gula (maaf, sengaja tidak menyebutkan merek dan menulis link website-nya) yang marak mengisi jeda acara televisi akhir-akhir ini: kehilangan penglihatan alias kebutaan, sampai kehilangan nyawa orang yang kita cintai, gara-gara mengkonsumsi gula!
Oh my God! Sedemikian hebatkah efek iklan tersebut, sampai orang yang menyaksikannya pun ketakutan dalam mengkonsumsi gula?!
Inilah yang membuatku cukup kesal. Karena informasi yang disampaikan si pembuat iklan itu tidak utuh. Atau memang sengaja dibuat tidak utuh?
Iklan tersebut ditujukan khususnya bagi penderita Diabetes Mellitus (DM) atau kencing manis saja. Bukan untuk semua orang sehat yang boleh saja mengkonsumsi gula sesukanya. Perlu Anda ketahui, orang yang mengalami DM perlu mendapat pembatasan gula, dalam hal ini sukrosa, yang dapat meningkatkan kadar gula darah. Diabetes mellitus adalah penyakit rusaknya sel-sel beta pankreas yang menghasilkan insulin, berakibat pada kadar gula darah tubuh tidak terkontrol. Secara umum, kerusakan sel pankreas ini dibagi dua: (1) bawaan sejak lahir atau DM tipe 1, sehingga kadar insulin tubuh senantiasa di bawah nilai normal, maka si penderita membutuhkan suntikan insulin seumur hidup; (2) diperoleh saat dewasa atau DM tipe 2, akibat kerusakan "relatif" sel beta pankreas pada orang dengan faktor risiko.
Insulin berfungsi mengatur kadar gula darah. Jumlahnya yang kurang menyebabkan kadar gula darah melambung tinggi. Yang dikhawatirkan dari DM adalah komplikasinya di seluruh bagian tubuh, mulai dari mata (kerusakan retina, kebutaan), jantung (aterosklerosis, penyempitan pembuluh darah jantung), ginjal (gagal ginjal kronik sehingga harus ditransplantasi), saraf (neuropati, kesemutan, nyeri hebat, rasa baal), infeksi (luka sukar sembuh, sampai jaringan mati yang harus diamputasi), dan masih banyak lagi.
Maka untuk mencegah komplikasi yang ditimbulkan dari DM, seorang penderita harus mampu menjaga kadar gula darahnya dalam ambang normal, dengan cara minum obat atau mendapatkan suntikan insulin, menjaga pola makan sesuai diet yang dianjurkan ahli gizi, dan aktivitas seimbang, termasuk olahraga yang sangat penting, serta gaya hidup sehat lainnya.
Naahh... bagaimana dengan orang yang tidak menderita DM, atau tidak mempunyai faktor risiko DM: bolehkah mengkonsumsi gula sebebasnya? Apakah konsumsi gula berlebih berisiko menimbulkan penyakit DM? Apakah orang tanpa faktor risiko harus mengganti gulanya dengan pemanis rendah kalori atau bebas gula (sukrosa), seperti saran iklan tersebut?
Tentu saja tidak! Konsumsi gula berlebih pada orang tanpa faktor risiko tidak berisiko menimbulkan DM di kemudian hari. Pola makan tinggi gula disebutkan dalam situs produsen pengiklan ini sebagai salah satu faktor risiko DM. Padahal sepanjang pengatahuan yang kudapatkan sejak di bangku kuliah, sampai memeriksa ulang informasi terbaru di internet: konsumsi gula bukanlah faktor risiko DM!
Menurut Konsensus Pengelolaan Diabetes Melitus tipe 2 di Indonesia tahun 2002 yang dikeluarkan Perhimpunan Endrokinologi Indonesia (PERKENI), disebutkan faktor risiko DM adalah:
1. Usia > 45 tahun
2. Berat badan lebih: > 110 % BB idaman, atau IMT > 23 kg/m2
3. Hipertensi (>= 140/90 mmHg)
4. Riwayat DM pada garis keturunan
5. Riwayat abortus/keguguran berulang, melahirkan bayi cacat, atau BB lahir bayi > 4000 gram
6. Kolesterol HDL <= 35 mg/dl dan/atau trigliserida >= 250 mg/dl
Anda tidak mempunyai faktor risiko ini? Tidak perlu mengganti gula Anda!
Gula atau glukosa adalah salah satu zat esensial dalam kehidupan manusia. Wikipedia menjelaskan bahwa glukosa adalah salah satu karbohidrat terpenting yang menjadi sumber energi dan metabolisme sel. Pastinya di masa sekolah dulu, ketika upacara bendera pagi hari, pernah terasakan oleh Anda tiba-tiba berkeringat dingin dan kepala sangat pusing saat berdiri, dikarenakan lupa sarapan. Anda pun menuju ruang UKS, dan mendapatkan segelas teh manis. Apa rasanya? Luar biasa, semua rasa tidak nyaman itu lenyap dalam sekejap. Semua akibat gula yang dikandung dalam teh manis itu. Juga jika Anda tidak sempat makan cukup sebelum beraktivitas, konsumsi makanan atau minuman yang manis membuat cadangan energi tubuh cukup untuk membakar kalori seharian.
Inilah fungsi gula bagi kehidupan manusia: sebagai sumber energi. Otak yang kekurangan glukosa dalam beberapa jam akan mengalami kerusakan.
Beralih pada bagaimana cara pengiklanan di televisi: menurutku produsen pengiklan ini telah melanggar Kode Etik Periklanan Televisi (sayangnya belum menemukan referensinya di internet), dan Undang-undang Perlindungan Konsumen bab 4 pasal 17 ayat 1c: Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang: memuat informasi yang keliru, salah, atau tidak tepat mengenai barang dan/atau jasa. Bagaimana menurut Anda?
Kini, untuk apa harus takut mengkonsumsi gula biasa? Tidak perlu mengganti gula Anda, bukan? Anda tidak akan kehilangan penglihatan Anda saat bercengkerama dengan pasangan, dan Ibu Anda masih dapat meniup lilin ulang tahunnya setahun mendatang.
Masih ada beberapa topik bertajuk "Iklan Produk Kesehatan yang Menyesatkan" (makanya saya tulis "bagian" 1), yang saya rencanakan untuk membahasnya, seperti:
- iklan susu tinggi kalsium bagi manula yang mengalami osteoporosis (padahal kadar estrogen yang seharusnya memetabolisme kalsium sudah jauh berkurang secara alamiah seiring usia)
- iklan susu formula bagi bayi di bawah 6 bulan yang seharusnya masih mendapatkan ASI eksklusif, telah melanggar Kode Etik Internasional Pemasaran Pengganti ASI
- iklan susu formula kaya tambahan yang diklaim mampi meningkatkan kecerdasan yang mahal harganya, dan menimbulkan efek samping sukar buang air besar
- masih ada ide lagi?
* gambar diambil hanya untuk sekedar ilustrasi, dari sini
Wednesday, March 22, 2006
Bagaimana Dokter 'Membodohi' Pasien

Tulisan ini sebenarnya menceritakan tentang penyakit tuberkulosis paru (TB paru) atau TBC paru.
"Bu, anaknya kena flek paru ya. Ini saya obati. Minum obatnya harus sampai enam bulan, tidak boleh putus," kata seorang DSA (dokter spesialis anak).
"Kata dokter anaknya sakit apa?" tanyaku.
"Flek paru," jawab si ibu.
"Oo.. TBC," timpalku lagi, dengan nada santai.
"Haa, TBC? Masa' sih, Dok?" si ibu kaget. Mukanya agak memerah.
"Iya, flek paru itu ya TBC," jawabku, lagi-lagi dengan nada santai.
Di bawah aku ambil persis dari situsnya IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia):
Banyak sekali anak-anak yang divonis sebagai ΄flek paru΄ dan harus menjalani ΄hukuman΄ minum obat jangka lama, paling tidak hingga 6 bulan. Jika ditanyakan kepada orangtuanya apa yang dimaksud flek paru? Biasanya orangtua pasien tidak tahu, Bila ditanya lebih lanjut apakah anaknya mendapat obat yang membuat air seninya berwarna merah? Jika jawabnya "Ya" kemungkinan besar yang dimaksudkan sebagal ΄flek paru΄ adalah tuberkulosis/TB paru atau saat ini disebut TB saja.
Mengapa dokter tidak menyatakan sebagai TB? Sebagian kalangan di masyarakat beranggapan bahwa TB bukan penyakit yang ΄bergengsi΄, Beda misalnya dengan penyakit jantung yang dianggap lebih ΄terhormat΄, Sebagian pasien tidak berkenan jika dinyatakan sakit TB. Khawatir pasien tidak dapat menerima, dokter berusaha menyamarkan penyakitnya dengan istilah flek paru. Saat ini umumnya pasien sudah berpikiran terbuka dan dapat menerima jika dinyatakan sakit TB. Sebaiknya dokter berterus terang menyatakan sakit TB tanpa menyamarkan dengan istilah flek paru yang justru tidak mendidik pasien.
Itulah sekilas tulisan dr. Darmawan Budi S, SpA(K) yang berjudul "΄Flek Paru΄ Istilah yang Rancu: Informasi Singkat Tentang Tuberkulosis (TB) Anak". Tulisan ini kemudian mendorongku untuk tidak 'membodohi' pasien dengan istilah 'flek paru'. Kalau memang TB ya katakan saja TB. Jaman telah berubah. Pasien cukup kritis untuk mengetahui diagnosis pasti penyakitnya. Bahkan tidak jarang, penjelasan yang tidak utuh menciptakan terapi tidak adekuat. Istilah 'flek' yang kurang menakutkan, membuat pasien tidak patuh meminum obatnya. Ah, toh cuma 'flek' ini. Padahal TB harus diobati minimal enam bulan, tanpa adanya putus obat yang berisiko menciptakan resistensi kuman Mycobacterium tuberculosis penyebab TB. Penderita TB yang sudah resisten (kebal) terhadap obat jauh lebih membahayakan, baik bagi dirinya sendiri (risiko perberatan dan komplikasi penyakit) maupun orang lain (jika menularkan).
Hal lain adalah: cukup sukar mendiagnosis TB pada Anak, dibandingkan dengan pada dewasa. Dengan ilmu kedokteran yang terus berkembang, dokter dan dokter spesialis anak yang tidak memperbaharui ilmunya, seringkali menggunakan perangkat yang tidak tepat dalam mendiagnosis TB pada Anak. Berlandaskan pada keluhan tidak spesifik (batuk lama, padahal seringkali batuk akibat alergi, bukan infeksi, berat badan sukar naik, dan demam hilang-timbul), ditambah gambaran Rontgen penuh 'flek' (sukar membedakan gambarannya dengan batuk-pilek biasa), langsung saja dokter mendiagnosis TB dan mengobatinya. Padahal obat TB Anak yang terdiri atas tiga kombinasi obat berbeda mempunyai efek samping, dan harus dimetabolisme di hati dan ginjal. Jika penggunaannya tidak tepat, bisa menimbulkan efek samping yang lebih buruk dibandingkan keuntungannya minum obat.
Setidaknya dokter di Indonesia bisa menggunakan panduan berikut yang mudah diakses di situs GERDUNAS TBC (Gerakan Terpadu Penanggulangan TBC Nasional) mengenai alur deteksi dini dan rujukan TB pada Anak.
Hal-hal yang mencurigakan TBC :
1. Mempunyai sejarah kontak erat dengan penderita TBC yang BTA positif
2. Terdapat reaksi kemerahan lebih cepat (dalam 3-7 hari) setelah imunisasi
3. Berat badan turun tanpa sebab jelas atau tidak naik dalam 1 bulan
4. Sakit dan demam lama atau berulang, tanpa sebab yang jelas.
5. Batuk-batuk lebih dari 3 minggu.
6. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang spesifik.
7. Skrofuloderma.
8. Konjungtivitis fliktenularis.
9. Tes tuberkulin yang positif (>10 mm).
Dengan setidaknya tiga dari gejala di atas, seorang anak boleh memulai terapi obatnya.
Tidak semua dokter dan dokter spesialis anak mengetahui dan mau menggunakan panduan ini. Masih banyak yang lebih mengandalkan pada pembacaan Rontgen satu posisi saja misalnya, tanpa melakukan tes tuberkulin (uji Mantoux). Padahal panduan ini disusun mengadaptasi WHO yang merancangnya khusus untuk dapat digunakan di negara berkembang, melalui berbagai penelitian dan pengujian lapangan.
Hal terakhir yang tidak kalah penting adalah: obat TB GRATIS di semua Puskesmas. Ya, gratis boo, gretong, free. Tidak harus berobat ke dokter spesialis yang meresepkan obat paten dengan harga di atas seratus ribu rupiah sekali datang. Padahal penyakit ini terutama ditemukan pada sosioekonomi menengah ke bawah, yang sangat pikir-pikir kalau mau berobat. Ketiadaan biaya malah membuat sesorang tidak berobat, karena tidak mengetahui program pemerintah yang menggratiskan obat TB di seluruh Puskesmas di Indonesia, dan menimbulkan komplikasi berat seperti meningitis, TB tulang, TB milier, dan lainnya yang dapat mengancam nyawa.
Selengkapnya mengenai TB dapat dibaca di situs WHO dan TB Indonesia.
Menyambut hari TB sedunia 24 Maret ini.
Sunday, March 12, 2006
Mengakhiri Kemiskinan

We Can End Poverty by 2025… and CHANGE THE WORLD FOREVER
Hehehe, kaya judul lagunya Eric Clapton ya? Itulah yang tertulis dalam sampul belakang buku yang akan kuresensi berikut. Masuk ke dalam angkot, cari tempat duduk di pojok belakang, langsung buka bukunya, dan mataku menyusuri rangkaian ratusan kata di tiap halaman. Inilah buku yang ingin kubaca selama ini, setelah membaca resensi singkatnya dalam sajian utama Majalah TIME beberapa bulan silam. Salah satu kesempatanku membaca buku adalah saat berada di dalam angkot. Jika di rumah, waktuku habis untuk online di depan komputer, atau di luar rumah saat menyetir mobil tentu tidak mungkin. Kadang bisa juga ketika tidak ada pasien pas dinas shift malam. Siapa sangka menemukan buku ini di atas meja teman sejawatku, dr. Jumpa. Tidak kusia-siakan untuk segera meminjamnya.
Buku ini mencerahkan! Itu komentar singkatku. Mulai dari sampul depannya yang cukup sederhana, namun mengena: penonjolan pada kata-kata judul “THE END OF POVERTY, HOW WE CAN MAKE IT HAPPEN IN OUR LIFETIME, JEFFREY SACHS, FOREWORD BY BONO” yang dicetak dalam warna hitam dan merah saja, pembaca langsung mendapatkan salah satu daya tarik buku ini adalah pengantar yang ditulis oleh vokalis legendaris U2.
Paragraf pertama dalam “Introduction” pun cukup jelas: “This book is about ending poverty in our time. It is not a forecast. I am not predicting what will happen, only explaining what can happen… Our generation can choose to end that extreme poverty by the year 2025.” Cukup mengena, bukan?
Buku ini disusun berdasarkan pengalaman sang penulis, Jeffrey D. Sachs, konsultan Bank Dunia (World Bank) dan konsultan khusus bagi Sekjen PBB Kofi Annan, serta seorang profesor ekonomi, yang telah memberikan ‘pengobatan’ bagi banyak ‘pasiennya’ di seluruh dunia. Lihatlah judul-judul babnya. Pengalaman apa yang ia dapatkan dari Bolivia, Polandia, Russia, Cina, India, dan kemiskinan sistemik di benua Afrika.
Jujur saja, aku belum selesai membaca buku ini. Tapi ada beberapa bagian yang menurutku sangat menarik, dan menjelaskan ke dalam ‘golongan’ manakah si penulis? Sama saja dengan pakar ekonomi asing—terutama AS—yang selalu memiliki kepentingan terselubung di semua negara berkembang? Atau seorang yang memang benar-benar idealis, tulus sepenuh hati ingin menolong orang lain.
Bab pertama bertajuk “A Global Family Portrait” (lagi-lagi jadi ingat lagunya Pink). Diawali dengan kisah kemelaratan luar biasa di Malawi, Afrika. Jeffrey D. Sachs memotret satu desa yang hampir musnah akibat AIDS. Ia menemui seorang nenek yang menampung belasan yatim-piatu. Orangtua mereka telah mati akibat penyakit AIDS. Belum lagi penyakit lainnya: malaria. Seorang wanita menggendong cucunya yang dijangkiti penyakit gigitan nyamuk ini, berjalan kaki 10 kilometer menuju RS setempat. Setibanya di sini, tidak ada obat anti malaria yang tersedia. Dengan cucunya mengalami demam tinggi, mereka berdua berjalan kembali pulang. Berikutnya Sachs menuturkan gamblang epidemi AIDS di sini, serta solusi mudah yang bisa dilakukan. Berlanjut ke Bangladesh, dengan kisah sedih kemiskinannya.
Cerita menggembirakan segera dapat kita baca melalui kisah India: “Center of an Export Services Revolution”. Melalui ilustrasi seorang pegawai wanita muda berusia 25 tahun yang bekerja di perusahaan IT, dengan penghasilan 250 – 500 dolar sebulan (sama dengan pendapatan dokter baru lulus di Jakarta, FYI). Dalam bab terpisah: “India’s Market Reforms: The Triumph of Hope over Fear”, pembaca mengetahui jelas rahasia kebangkitan ekonomi negara Bollywood ini mulai tahun 1994. Padahal di tahun 1978, penulis masih mendapati India sebagai satu negara miskin “berat”. Perdana menteri India, Dr. Manmohan Singh, ahli ekonomi yang pernah mendapat pendidikan di Cambridge dan Oxford, dengan kebijakan ekonominya, serta India Institue of Technology (IIT) memegang peran penting ini (kalau ITB/UI masih ga, ya? Hehehe). Begitu dengan kisah Cina dengan keberhasilannya.
Satu pemikiran menarik penulis dalam bab ini adalah: “Progress is hard enough to achieve in the world without being perceived as a danger. One of the ironies of the recent success of India and China is the fear that engulfed the United States that success in these two countries comes at the expense of the United States. These fears are fundamentally wrong and, even worse, dangerous. They are wrong because the world is not a zero-sum-struggle in which one country’s gain is another’s loss, but is rather a positive-sum opportunity in which improving technologies and skills can raise living standards around the world.”
Kalimat ini membuatku yakin penulis termasuk golongan Amerika yang ‘hanif’. Berbeda dengan ketakutan Amerika selama ini yang menganggap India dan Cina adalah ancaman besar mereka.
Tidak cukup di sini. Dalam bab empat: “Clinical Economics”, Mr. Sachs menyebutkan IMF sama dengan penilaian kita selama ini: Dalam seperempat abad terakhir, negara miskin mendatangkan “dokter uang dunia”, IMF, untuk meminta bantuan. “The main IMF prescription has been budgetary belt tightening for patients much too poor to own belts. IMF-led austerity has frequently led to riots, coups, and the collapse of public service”!. Hahaha, kena kau, IMF. Penulis tampa takut-takut menerangkan gamblang banyak kesalahan IMF dan AS dalam buku ini. Sesuatu yang kita semua setujui.
Bagiku sebagai seorang dokter, bab ini juga menerangkan sesuatu yang sangat menarik. Jeffrey Sachs telah mengembangkan model ekonomi pembangunan baru: clinical economics, melihat kesamaan antara praktik ekonomi pembangunan (development economics) dengan praktik kedokteran (clinical medicine). Ia belajar banyak dari istrinya seorang dokter spesialis anak. Ini pulalah, yang memberi ciri khas bagi bukunya. Untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi—khususnya kemiskinan—suatu negara, harus melihat semua aspek yang mungkin terlibat. Layaknya seorang dokter dalam menangani pasien-pasiennya.
Inilah “some lessons of clinical medicine”:
· The human body is a complex system. Paduan antara sistem saraf, sirkulasi, pernapasan, pencernaan, endokrin, imun, reproduksi, de el el. Seringkali penasehat ekonomi melupakan semua faktor yang mungkin berperan dalam kemiskinan dan masalah ekonomi negaranya. Bagaimanakah sistem transportasinya, model pemerintahannya, jaringan komunikasinya, penegakan hukunya, pertahanan nasionalnya, sistem perpajakannya, dsb.
· Complexity requires a differential diagnosis. Seorang anak dengan demam tinggi, penyebabnya bisa dari infeksi, trauma, autoimun, kanker, keracunan, dll. Namun selalu ada prioritas kemungkinannya, tidak semuanya dianggap sama. Begitu juga dengan negara. IMF memfokuskan pada isu-isu yang sempit seperti korupsi, membatasi usaha swasta, defisit anggaran, dan kepemilikan sumber-sumber negara. Dan menyamakan semua negara, dengan melakukan saran untuk memotong pajak, meliberalisasi perdagangan, dan memprivatisasi milik negara (salah satu hal menyedihkan untukku di Indonesia adalah privatisasi RS pemerintah. Hiks, kemana orang miskin bisa berobat?) IMF tidak melihat bidang agronomi, iklim, penyakit, isu gender, dan lainnya.
· All medicine is family medicine (sesuatu yang dokter Indonesia juga sering melupakannya). Tidak cukup mengobati penyakit seorang anak, dengan melupakan kemiskinan yang diderita orangtuanya, cukupkah asupan makanan bergizinya, apakah orangtuanya bermasalah secara sosial, dll. Bagaimana mungkin negara seperti Ghana akan lepas dari lilitan kemiskinan jika masih menghadapi sanksi perdagangan internasional (begitu juga dengan Irak. Sachs juga mengkritisi pemerintahan Bush yang memerangi “terorisme”, tapi melupakan perang terhadap kemiskinan yang bisa menjadi benih-benih terorisme).
· Monitoring and evaluation are essential to successful treatment. IMF atau World Bank seringkali mendikte suatu negara untuk mengikuti programnya, tanpa mengevaluasi kemudian apakah programnya tersebut cocok untuk negara bersangkutan.
· Medicine is a profession, and as a profession requires strong norms, ethics, and codes of conduct.
Bagaimana dengan Indonesia? Penulis tidak menyinggung sama sekali negara ini. (Meskipun sudah kucari dalam indeks. Mungkin Mr. Sachs belum pernah menangani Indonesia sebagai salah satu “pasien”-nya, atau tidak ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari negara ini!) Padahal dalam edisi TIME yang membahas khusus buku ini, beberapa foto diambil dari Indonesia. Seingatku gambar dua anak jalanan yang tertidur pulas di lantai stasiun Senen, dan seorang pemulung di atas gunung sampah.
Dalam rubrik Ragam Majalah SAKSI edisi 9 Maret 2006, wartawan jurnalisme investigatif Rizky Ridyasmara—veteran SABILI—menulis dengan gamblang, hal-hal yang menurutku penyebab bangkrutnya Indonesia, dan curamnya jurang pemisah dan kesenjangan antara si Kaya dan si Miskin. Bagian dari rentetan perampokan kekayaan negara oleh konspirasi jahat pejabat dan pengusaha negeri ini. Berawal sejak Soeharto berkuasa, dimulailah proses pembangkrutan negara kaya raya ini, hingga menjadi salah satu negara miskin dunia saat ini.
Pada November 1967, beberapa bulan setelah Soeharto berkuasa, presiden mengutus tim ekonomi kepresidenan—populer disebut Mafia Berkeley—ke Jenewa untuk menemui sejumlah konglomerat Yahudi seperti Rockefeller, dan menggadaikan kekayaan alam Indonesia kepada jaringan korporasi Yahudi dunia. Di sinilah untuk pertama kalinya, emas, perak, timah, nikel, minyak dan gas bumi, semen, dan sebagainya jatuh ke tangan asing. Tahun 1970, oil boom dan industrialisasi besar-besaran mengejar pertumbuhan ekonomi dan melupakan pemerataan, digerakkan oleh utang luar negeri, menumbuhkan satu kelompok masyarakat Indonesia yang sangat kaya, dan memelaratkan rakyat banyak. Berpusat di Cendana, kelompok yang terdiri dari kolusi birokrat dan teknokrat korup, dengan pengusaha Cina yang dimanjakan rezim berkuasa, memunculkan istilah Kelompok “Ali-Baba”. Petinggi TNI/Polri digunakan sebagai penjaga stabilitas dan keamanan rezim, untuk menindas setiap suara kritis dari rakyat. Pada tahun 1980-an, tercatat 300 grup bisnis konglomerat, dengan 224 grup dimiliki pengusaha non pribumi, dan sisanya 76 grup oleh pribumi. Di mana-mana terlihat pembangunan, dengan landasan tidak kokoh karena berasal dari utang!
Kejadian ini berlanjut terus sampai terjadi krisis ekonomi tahun 1997, yang disinyalir kuat akibat ulah konglomerat Yahudi George Soros, yang tiba-tiba memborong mata uang dolar AS dari seluruh pasar uang Asia. Di tahun 1998, Soeharto yang tidak mampu mengeluarkan Indonesia dari krisis, menyerahkan penyelesaiannya pada IMF. Lembaga sokongan Yahudi ini menemukan bahwa pemerintah punya utang luar negeri sebesar 60 miliar dolar, sedangkan di luar negeri, para konglomerat berutang lebih besar: 75 miliar dolar!
Seorang teman menceritakan data GAIKINDO tahun lalu menyebutkan penjualan mobil di Indonesia adalah yang tertinggi di Indonesia. Apa artinya? Masih banyak orang kaya di negeri ini. Namun lebih banyak lagi golongan ekonomi sengsaranya. Teringat pula siaran di TV pagi ini, Pilkada di Papua kemarin terhambat di Timika, karena banyak warga setempat yang mencari tumpahan emas di sekitar Freeport. Negara mana selain Indonesia yang penduduk lokalnya bergelimpangan di bawah garis kemiskinan, di tengah-tengah lautan emas milik mereka, yang dibawa pergi ribuan kilometer ke negara asing, akibat ulah segelintir pejabat masa Soeharto!
Buku ini sangat perlu untuk dibaca oleh seluruh ahli ekonomi negara kita tercinta. Meskipun aplikasinya pastinya akan sangat sukar, you know, tahu lah negeri seperti apa kita ini. But let’s not being always pessimistic. Tak sabar menunggu keluarnya edisi terjemahan buku ini (atau sudah ada yang tahu?). Meskipun bahasa Inggrisnya cukup mudah, tapi tetap saja bagiku, menyelesaikan membaca buku ini butuh waku yang sangat lama. Hehehe.
Sachs marries storytelling with acute analysis to explain why, over the past 200 years, wealth and poverty have diverged and evolved across the planet, and why the poorest nations have been so markedly unable to escape the trap of poverty.
The End of Poverty is a Roadmap to a More Prosperous and SECURE WORLD…Friday, March 10, 2006
Dokter Siprofloksasin
Karena tidak sependapat dengan kalian
Mudah memberikan Ciprofloxacin
Untuk infeksi bakteri yang masih sensitif terhadap antibiotika lini pertama
Atau untuk infeksi yang sebenarnya mayoritas akibat virus
Bahkan untuk keadaan yang sebenarnya mungkin tidak membutuhkan antibiotika sama sekali
Ngeri aku membayangkan kemungkinan resistensi yang bisa terjadi
Belum lagi efek sampingnya...
... dan kontra indikasinya
Ngeri deh
mengenang kecenderungan beberapa jenis dokter yang mudah memberikan antibiotika (AB) bukan lini pertama tanpa indikasi. Padahal kontra indikasinya cukup mengerikan: tidak boleh diberikan pada anak/remaja pada masa pertumbuhan, serta pada ibu hamil dan menyusui! Karena menghambat pembentukan lempeng epifisis tulang panjang. Teringat pada ibu yang diberikan AB jenis ini tanpa indikasi (cuma common colds saja, akibat virus), dan ternyata kemudian diketahui ia sedang hamil trimester pertama!
Juga sebagian mantri/bidan yang berpraktik layaknya dokter (ilegal), memberikan antibiotika jenis ini pada balita, tanpa pernah belajar farmakologinya.
Tadinya mau kasih judul: "Dokter Antibiotika". Tapi ga jadi deh. Penunjukan Sipro hanya sekedar untuk simbolisasi saja. Bukannya saya anti Sipro.
Indonesia, Tanah Airku, Tanah Tumpah Darahku.
Monday, March 06, 2006
Curhat tentang Teman Sejawat dan RS
Awalnya seorang teman dekat yang sudah kukenal sejak SD kelas 4 (tetangga seberang blok, teman main Street Fighter 2 di Nintendo, partner lomba cerdas tangkas P4 pas SMP, dan kakak kelas beda setahun di SMU) dinyatakan mengalami Diabetes Mellitus (DM) tipe 2. Pada umur yang sangat muda (belum genap 27 tahun), akibat obesitas yang diidapnya (berat badan lebih dari 100 kg dengan tinggi badan tidak mencapai 170 cm). Ia harus masuk RS dengan keluhan badan sangat melas. Sebuah RS swasta kecil di bilangan... ah, jangan disebut, nanti langsung ketahuan, dan saya bisa kena damprat.
Di suatu bakda subuh di masjid komplek rumahku, mertua temanku ini (yang kebetulan tetangga depan rumah. Artinya: pasangan suami-istri ini awalnya adalah tetangga seberang blok!) menghampiriku dan menanyakan beberapa hal tentang penyakit menantunya. Aku memutuskan untuk pergi menjenguknya.
Seperti biasa, jika menjenguk seseorang di RS, aku akan segera menghampiri ruang perawat dan meminta untuk melihat status pasien (rekam medik), untuk mengetahui riwayat penyakit pasien, diagnosis, hasil pemeriksaan laboratorium, dan perkembangannya sampai saat ini. Dan tentu saja ini selalu berhasil, kadang tanpa harus menyebutkan identitasku sebagai seorang dokter.
Tapiiii... di RS ini, sebuah RS swasta kecil dengan tabung oksigen di kamar temanku yang sudah kehilangan bola indikatornya, pasiennya kebanyakan golongan menengah ke bawah (dengan biaya perawatan yang tentu saja bukan level kelas mereka, namanya juga RS swasta), dan perawat yang tidak selalu siap sedia di ruangannya, AKU TIDAK DIIJINKAN MELIHAT STATUS PASIEN!!! Alasannya: kebijakan rumah sakit.
Setahuku (sayangnya aku belum mengeceknya lagi di buku pasal-pasal) status catatan rekam medik pasien adalah hak pasien dan keluarganya, untuk dapat diakses. Artinya keluarga boleh membaca rekam mediknya. Karena berkeras melihat status pasien dengan memperkenalkan diri sebagai keluarganya (iya, keluarga satu bangsa), perawat menawarkan aku bertemu dengan dokter jaga. Tentu saja aku menerimanya. Yang penting aku dapat penjelasan mengenai si pasien.
Dipanggillah si dokter jaga. Seorang dokter perempuan berjilbab yang kutaksir umurnya tidak jauh berbeda denganku, dan tidak kukenal. Pastinya beda almamater denganku. Dia bertanya dengan detil:
"Bapak siapa?"
"Saya keluarganya."
"Keluarga apanya ya?"
"Yaa.. sebenarnya temannya. Saya tetangga Pak Widi. Boleh saya melihat status pasien?"
"Di sini kita tidak mengizinkan untuk melihat status pasien."
"Saya dokter."
"Kalau begitu seharusnya mengerti, dong."
Walaahh.. RS macam apa ini? Peraturan macam apa? Ketika menjenguk saudara iparku di sebuah RS swasta kelas menengah di bilangan Jakarta Selatan, aku diizinkan melihat status pasien, meski akhirnya tetap harus bertemu juga dengan dokter jaga. Tapi tetap saja aku boleh melihat status pasien, dan bisa berdiskusi dengannya.
Saat menengok Tanteku yang terbaring sakit di RSUD besar di Kota Bogor, hanya bermodal senyum dan kalimat, "Maaf Pak, boleh saya melihat statusnya Bu Elok?", si perawat langsung menyodorkan status pasien untuk kulihat. Tanpa bertanya-tanya apa aku dokter atau bukan, apa keperluanku dsb.
Justru inilah yang mengundang curiga: sebuah RS yang tidak mengijinkan status pasiennya dilihat, sekalipun oleh pasien atau keluarganya. Jangan-jangan si Direktur khawatir ada tindakan dokternya yang menyalahi SOP medis, dan diketahui keluarga, sehingga memudahkan untuk dituntut. Kalau memang tidak ada kejanggalan atau kesalahan, untuk apa ditutup-tutupi? Toh tujuan melihat status semata-mata untuk mengetahui keadaan sebenarnya dari si pasien.
Karena tidak diijinkan melihat status, akhirnya aku bertanya-tanya saja langsung pada si dokter jaga.
"Diagnosis masuknya apa?" Kutanyakan supaya aku yakin bahwa ini adalah DM dengan komplikasi, sehingga masuk indikasi rawat inap.
"Curiga Ketoasidosis."
"Saya lihat pas jenguk tadi, Pak Widi tampak mengantuk terus. Diberi obat tidur minor tranquilizer ya?" setelah kutanyakan mengenai perkembangan gula darah hariannya, dan kebetulan aku sangat kenal dengan sang SpPD dan kecenderungannya yang sangat mungkin untuk memberikan obat jenis ini.
"Ya, dapat alprazolam." Sebenarnya yang disebutkan si dokter jaga adalah merek dagangnya. Yang jelas aku kurang setuju dengan pemberian sedatif ini, karena menyamarkan keadaan umum pasien (masking), sehingga sulit dinilai apakah ini akibat DM-nya, atau bukan. Hal ini juga bisa membuat pasien lebih lama dirawat, padahal mungkin seharusnya sudah keluar dari indikasi rawat inap.
Di akhir pembicaraan, aku meminta nomor HP si dokter jaga.
"Boleh saya meminta nomor HP-nya, Dok?"
"Untuk apa ya?"
"Kebetulan saya kerja di perusahaan tidak jauh dari sini. Banyak karyawan saya ketika jatuh sakit langsung datang dan dirawat di sini. Saya tidak punya kontak dengan dokter di sini. Seandainya saya punya, tentunya lebih enak, ketika ada karyawan saya yang dirawat."
"Maaf, langsung saja telepon ke RS kalau begitu." Tampak sekali resistensi darinya. Aku minta pendekatan personal antar satu dokter umum ke dokter umum lainnya, tapi ia tampak sangat berhati-hati. Emangnya gw mau ngapain sih? Ngajuin kasus malpraktik teman sejawat sendiri?
Okay, aku tidak berhasil menjalin persahabatan dengannya.
"O iya, minggu lalu ada anak dari karyawan saya yang dirawat di sini, kok boleh ya saya melihat statusnya?" Kebetulan sekali aku pernah berhasil melihat status pasien, ketika aku menjenguk seseorang yang dirawat di kelas 3.
"O.. itu seharusnya tidak boleh."
Well, itu sekelumit tentang RS yang membuatku amat kesal dengan pelayanannya yang tidak memuaskan. Istri temanku yang juga temanku sejak SMP dan tetangga depan rumah ini juga mengeluhkan sikap kritisnya bertanya-tanya pada perawat dan dokter spesialisnya, dan mendapat tanggapan kurang simpatik. Mungkin mereka terbiasa dengan pasien sosioekonomi menengah ke bawah yang nrimo saja. Padahal suami-istri ini adalah alumni ITB-IPB yang merasa hal biasa ketika ingin mengetahui keadaan persis kesehatannya.
Berikutnya menyangkut dokter yang merawatnya, kebetulan orang yang sudah aku, adikku, dan ayah-ibuku kenal baik, karena pernah berobat dengannya, dan pernah mendapat tutorial mahasiswa.
Untuk ini aku beristighar, astaghfirullooh a' adziim. Niatku semata-mata agar semua dokter di Indonesia memberikan layanan terbaiknya untuk kepentingan konsumen. Mampu memberikan penjelasan ketika pasien bertanya. Minimal memberitahu apa diagnosisnya, dan apa obat yang diberikan, apa tujuannya, dan bagaimana perkembangan hariannya.
Mungkin memang sudah menjadi karakter si dokter ini untuk sedikit bicara. Orangtua pasien pernah bercerita denganku, ketika ia bertanya bagaimana keadaan anaknya.
"Pokoknya tenang aja ya, Bu, kan sedang diobati."
Singkat, tanpa kejelasan.
Sampai aku berhasil membuka statusnya dan mengetahui anak perempuan berusia 13 tahun itu menderita hipertensi dan dugaan glomerulonefritis akut.
Itulah pertama kalinya aku melakukan suatu tindakan yang menurutku--jarang dilakukan dokter di Indonesia--akibat budaya feodal dan senioritas antara dokter spesialis-dokter umum, dosen-mahasiswa.
Aku mengirimi di dokter spesialis secarik surat.
Bingung dan harus berpikir agak lama ketika aku akan menggerakkan ujung pulpenku, di sebuah kertas berkop nama perusahaan tempatku berpraktik. Pasien adalah keluarga karyawan. Aku khawatir sekali kata-kataku akan terdengar kurang sopan, terhadap orang yang pernah menjadi salah seorang pengajarku. Yang jelas ia pastinya tidak ingat denganku, satu dari sekian ribu orang yang pernah menjadi mahasiswa FKUI.
Akhirnya kesimpulan isi surat itu hanyalah: agar dokter bisa menjelaskan pada keluarga pasien bagaimana perkembangan si anak saat dokter visite. Cukup sopan, bukan? Dan tujuan tercapai.
Alhamdulillah, memang ada hasilnya. Beberapa hari kemudian muncul angka-angka seluruh hasil lab yang diperlihatkan untukku, dan permintaannya untuk bertemu denganku. Namun sulit karena jadwalnya bentrok. Ia praktik, aku juga praktik. Namun bisa juga: aku pengecut! Tidak berani, atau segan bertemu dengannya. Beraninya hanya lewat surat antar teman sejawat. Kalau ketemuan langsung... gimana gitu lho junior dengan senior. Meskipun aku sama sekali tidak tertarik dengan bidang spesialisasinya, dan tidak perlu khawatir ketika mendaftar jadi residen nanti untuk harus bertemu dengannya.
Kebiasaan mengirim surat ini aku lanjutkan setelah menjenguk temanku yang mengalami DM. Kebetulan dokter yang merawatnya sama. Aku menulis pandanganku bahwa alprazolam bisa menimbulkan masking effect, dan bertanya kapan temanku ini boleh pulang. Biasa lah, diskusi ilmiah antar dokter. Sama seperti yang diajarkan pada semua mahasiswa kedokteran saat presentasi kasus. Ketika kita semua telah menjadi dokter, tentu kebiasaan ini tidak boleh berhenti, bukan? Sekalipun terhadap senior.
Memang kemudian keluarga temanku memutuskan untuk tidak memberikan suratku ini pada si dokter.
Beberapa hari kemudian terdengarlah kabar mengejutkan (sekaligus sangaat menggelikan). Bapak si pasien anak, salah seorang karyawan perusahaan tempatku bekerja, melapor padaku. Dalam konsultasi lanjutan pasca pulang dari rawat inap, karyawanku ini ditanya dokter.
"Bapak, kenapa waktu itu dokter perusahaan Bapak sampai datang kemari?" sambil menunjukkan suratku yang masih disimpannya setelah berminggu-minggu. Ia kurang suka sampai ada dokter luar datang 'mengintervensi' pasiennya. Hal yang aku tidak sepakat. Hal ini justru membuka peluang adanya second opinion dari teman sejawat lain, sesuatu yang positif. Diskusi bisa mengoreksi kesalahan-kesalahan kita, jika memang ada, bukan? Tidak ada dokter yang sempurna. Tidak ada manusia sempurna. Dokter adalah profesi yang diciptakan untuk bekerja dalam tim.
"Itu dokter perusahaan saya, Pak. Dia hanya ingin tahu kondisi anak saya."
Diskusi pun berlanjut seru. Aku tidak bisa menceritakannya dalam bentuk dialog. Intinya si karyawan yang kebetulan salah seorang pimpinan dari sekian ratus pekerja ini dengan tegas menegur si dokter.
"Saya hanya ingin tahu. Sudah empat hari dirawat, kok anak saya belum ada perubahan. Harusnya Dokter introspeksi, dong."
Ia bercerita dengan semangat, bahwa so dokter sampai berkeringat mendapat teguran keras dengannya. Perawat hanya berdiri di ruangan sekian lama, menatapi perbincangan seru itu.
Mudah-mudahan saja si dokter mengintrospeksi dirinya, setelah mendapat teguran keras dari seorang pasien yang berani. Agar di lain waktu ia lebih ramah dan berempati pada pasien, mau menjelaskan apa diagnosisnya, dan semua tindakan yang dilakukan, serta perkembangan harian pasien. Bukankah dokter seperti ini akan dicintai pasien, dan pasiennya akan bertambah banyak?
Sekian dulu. Yang terpenting adalah mengintrospeksi diriku sendiri.
Semoga di masa depan komunikasi dokter-pasien jauh lebih baik. Konsumen kesehatan adalah mitra terbaik pemberi layanan jasa. Tanpa pasien, apalah artinya dokter?
Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?
(tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...
-
Pernah menjumpai bercak kemerahan, cenderung berwarna oranye (merah-)?bata) di popok bayi Anda? Bahkan muncul berulang kali! 😱 Normalkah ha...
-
Ternyata tidak pada sebagian besar kasus. Infeksi jamur penyebab sariawan terjadi pada anak-anak dengan daya tahan tubuh menurun, seperti m...
-
Pertama, kita harus tahu dulu apa definisi diare. Diare atau gastroenteritis akut adalah buang air besar lebih dari tiga kali dalam 24 jam, ...