Monday, August 08, 2016

Tanya Jawab Diare pada Anak

Tanya: apakah antibiotik obat untuk diare?
Jawab: tergantung diagnosisnya. Mayoritas penyebab diare adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya, dan tentu sama sekali tidak butuh antibiotik. Bahkan sebagian diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri pun tidak butuh antibiotik.

Tanya: lalu apa obat diare?
Jawab: prinsipnya diare dan muntah adalah upaya tubuh untuk membuang apa yang harus dibuang, baik bakteri maupun virus. Maka biarkan tubuh membuangnya, yang penting selama proses pembuangan ini dehidrasi (kekurangan cairan) bisa dicegah.
Caranya gimana? Ya minum, minum, dan minum. Oralit atau cairan elektrolit lainnya lebih baik.

Tanya: tapi anak saya selalu muntah setiap dikasih minum
Jawab: berikan minum sedikit tapi sering. Dengan sendok. Supaya kalau mual, bisa dihentikan sementara.

Tanya: kalau masih muntah terus dan diare berlanjut?
Jawab: kembali ke prinsip apakah sudah terjadi dehidrasi? Kalau dehidrasi tak dapat dicegah dan anak makin lemas, tidak buang air kecil lebih dari 6-8 jam, dan cenderung tidur terus menerus, segera bawa ke dokter.

Tanya: bagaimana membedakan infeksi virus dengan bakteri pada diare?
Jawab: paling ideal adalah dengan pemeriksaan tinja di laboratorium. Tetapi secara umum dapat dibedakan dengan ada tidaknya darah di tinja. Selama tidak ada darah, dan anak tidak dehidrasi, maka tidak perlu buru buru membawa ke dokter, apalagi memberikan antibiotik. Bisa saja diare tanpa darah disebabkan oleh infeksi bakteri, dan sebaliknya diare berdarah disebabkan oleh virus. Jadi sebelum bisa membedakan apakah diarenya akibat virus atau bakteri, maka kembali ke prinsip:
- ada dehidrasi atau tidak?
- tahu cara pencegahan dan penanganan dehidrasi
- dianggap sebagai infeksi virus sebagai penyebab tersering

Minum antibiotik supaya cepat sembuh!

"Oke deh. Batuk-pilek alias selesma obatnya cuma SABAR. Tapi setelah 2 minggu anak saya batuk-pilek, terus dapat antibiotik, alhamdulillah langsung sembuh. Berarti kalau mau cepat sembuh bisa dengan minum obat dong?"

Pernah mengalami hal serupa? Dalam pengamatan saya, kondisi di atas namanya adalah koinsidens (coincidence) alias kebetulan. Lha kok bisa?

Ini alasannya:
- infeksi virus obatnya bukan antibiotik
- anak ini kebetulan pas minum antibiotik, pas saatnya sakitnya menyembuh. Jadi kebetulan terjadi di waktu bersamaan. Makanya dipikirkan adanya hubungan sebab-akibat. Padahal sepertinya tidak ada.
- penggunaan antibiotik terlalu sering dan tidak pada tempatnya meningkatkan risiko sakit. Lho kok bisa? Alasannya:
(1) antibiotik melawan bakteri. ketika ia masuk ke tubuh manusia dan tidak menemukan bakteri jahat untuk dilawan, maka yang diserangnya adalah bakteri baik di seluruh tubuh manusia, terutama di usus besar (koloni terbesar). Padahal bakteri baik ini menjaga tubuh kita tetap sehat. Walhasil terjadilah mencret (diare).
(2) bakteri baik tak berdosa yang diserang ini akan memperbaiki sistem pertahanannya, sehingga kelak di kemudian hari ketika ia diserang antibiotik, ia tidak mudah dikalahkan. Terciptalah bakteri super alias superbug, yang bisa jadi kebal terhadap berbagai macam antibiotik. Ketika bakteri ini berubah jadi jahat dan menyebabkan penyakit, maka antibiotik tidak mempan lagi. Risiko kematian meningkat!

Maka jangan lupa, tiap kali Anda berkunjung ke dokter, tanyakan 4 hal ini:
1. Apa diagnosis sakit saya/anak saya? (dalam bahasa medis, supaya bisa browsing di internet)
2. Jika penyebabnya infeksi, apakah virus atau bakteri? (atau jamur, amuba, dll)
3. Mengapa diberi antibiotik?
4. Apa saja tanda gawat darurat yang membuat saya/anak saya harus segera ke dokter/RS?

Selamat belajar! :-)

HFMD atau flu Singapur?

Berhubung HFMD lagi musim, dan banyak yang nanya, maka saya tulis sedikit saja:

- HFMD kepanjangannya adalah hand, foot, and mouth disease, alias penyakit tangan, kaki, dan mulut. Meskipun hanya tiga tempat yang disebutkan, kelainan kulit yang timbul bisa terlihat sampai ke selangkangan dan bagian tubuh lain.

- Banyak orang menyebutnya dengan flu Singapur. Aseli saya tidak tahu asal muasal sebutan ini. Kesannya jadi "serem". Bila ada yang mengatakan "wabah Flu Singapur", maka ada orangtua yang lalu berpikir untuk meliburkan anaknya dari sekolah agar tidak tertular, atau minta agar pihak sekolah menutup sekolahnya untuk sementara.
Hehe, sebenarnya faktanya tidak seseram ini, karena HFMD adalah penyakit ringan.

- Penyebab HFMD adalah infeksi virus, yaitu keluarga Enterovirus. Tersering adalah Coxsackie virus. Namanya infeksi.virus ya pastinya tidak butuh antibiotik. HFMD sembuh sendiri, tanpa perlu diberikan antivirus atau apapun itu namanya.

- Virus menyebar lewat bersin atau percikan ludah (bisa melalui penggunaan gelas/alat makan dan sikat gigi bersama), atau lewat tangan yang menyentuh objek yang terkontaminasi oleh tinja yang mengandung virus. Coxsackie virus ada di bintil/lenting yang ada di lapisan dalam mulut dan permukaan kulit lainnya, juga di dalam saluran cerna (makanya bisa menular lewat tinja).
Penularan termudah adalah di tempat-tempat yang "padat" penduduk anaknya, misalnya di daycare, TK, SD, dan tempat bermain (playground).

- Gejala awal bisa disertai demam (meskipun tidak harus), lalu muncul bintil/lenting yang makin banyak di sekitat mulut dan rongga mulut, telapak tangan, telapak kaki, siku, lutut (dan bagian dalamnya), bahkan sampai sekitar kemaluan dan lipat paha. Bintil dan lenting bisa menyebar sampai 7 hari, lalu perlahan menghilang.

- Bedakan dengan cacar air alias varisela ya. Cacar air menyebar hingga ke wajah dan kulit kepala, lalu punggung dan dada. HFMD tidak seluas ini penyebarannya.

- Bagaimana pencegahan terbaik? Rajin cuci tangan. Ya, ajarkan anak agar sering-sering mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas. Orangtua yang memegang anak yang sakit juga harus mencuci tangannya sebelum menyentuh anak lainnya.

- Umumnya usia maksimal 10 tahun yang bisa sakit. Orang dewasa tidak berisiko sakit.

- Tidak ada vaksin untuk HFMD

- Hampir tidak ada komplikasi, meskipun kepustakaan mencatat risiko meningitis atau ensefalitis yang sangat-sangat rendah.

- Sariawan akibat HFMD merajalela sehingga anak sukar makan dan minum? Pastikan anak banyak minum agar tidak dehidrasi. Boleh berikan es krim atau minuman dingin agar lebih nyaman. Demam dan nyeri-nyeri sendi sesaat bisa diredakan dengan parasetamol.

Jangan panik, banyak baca, sabar, dan semoga lekas sembuh!

Bedak bagi Bayi

Bayi perlu diberi bedak tabur (talcum powder)? Jawabannya singkat: tidak. Pemberian bedak tabur berisiko menyebabkan terhirupnya partikel-partikel kecil bedak ke dalam saluran napas dan menyebabkan gangguan pernapasan, hingga kematian. Silakan lihat beberapa potongan gambar dan laporan kasus yang ada.

Bukankah bedak tabur dapat mengatasi gatal akibat biang keringat (heat rash)? Jawabannya: hindari terjadinya biang keringat dengan mengenakan pakaian tipis dan pendek pada anak, supaya tidak banyak berkeringat. Sering-sering juga mengganti baju anak.

Tapi boleh kan pakai minyak telon? Jawabannya: sudah banyak dibahas di komentar-komentar status sebelumnya, bagaimana pengalaman ibu-ibu dengan minyak telon. Ini adalah kebiasaan yang kebetulan ada di negara kita.
Tidak perlu khawatir bayi akan kembung jika tidak dibalurkan minyak telon. Bentuk perut bayi dan batita memang buncit, padahal bukan berarti "masuk angin".
Tapi bunyinya "dung-dung" jika diketuk? Ya iya lah. Usus kan isinya udara, jadi berbunyi jika diketuk.
Ya sudah, pakai minyak telon supaya hangat badannya. Hmmm, pakaikan saja pakaian tebal dan berlengan panjang jika khawatir kedinginan.

Sebagian anak bisa mengalami dermatitis kontak akibat paparan minyak dan kosmetik bayi apapun. Salah satunya minyak telon. Hindari penggunaan minyak telon jika justru menimbulkan masalah kulit anak seperti kering, kemerahan, dan gatal.

"Kok gigi anakku belum muncul?"

Sampai umur 1 tahun gigi bayi belum tumbuh! Apa yang harus dikhawatirkan?

- Umumnya gigi pertama anak sudah tumbuh selambatnya saat berusia 1 tahun (gigi pertama dapat tumbuh sejak usia 6 bulan). Tapi gigi pertama masih dikatakan wajar meskipun baru tumbuh selambat-lambatnya pada usia 18 bulan, seperti pada keterangan foto dari AAP di bawah.
Jadi pertumbuhan gigi yang harus dikhawatirkan adalah ketika sampai lebih dari usia 18 bulan, belum satu gigipun tumbuh.

- Banyak faktor yang menyebakan terlambatnya gigi pertama tumbuh (suatu kondisi yang jarang terjadi ya). Tapi kekurangan kalsium seperti yang dipikirkan banyak orang, tidak termasuk di dalamnya. Apabila terjadi kekurangan kalsium, maka tidak hanya pertumbuhan gigi yang terpengaruh. Beberapa kondisi yang dapat menunda pertumbuhan gigi pertama, seperti dijelaskan dalam gambar, seperti: hipotiroid, sindrom Down, Rickets, dan kelahiran prematur.

Silakan baca-baca lagi ya...

Sabar dan Gendong sebagai Obat

Selamat datang di musim batuk-pilek, alias selesma atau common cold. Ketiga anakku mengalaminya :-( Orang-orang dewasa di sekitarnya pun tertular. Demam, batuk, pilek, dan berhari-hari tidak sekolah. Musim ini tampaknya bermula selepas liburan akhir tahun kemarin. Apa yang harus dilakukan?

1. Berdoa kepada Allah agar diberikan kesabaran menghadapi anak-anak yang sakit (termasuk kita yang tertular), dan.memohon kesembuhan.

2. Memahami bahwa common cold adalah infeksi virus yang tentunya tidak membutuhkan antibiotik.

3. Mempelajari kapan harus ke dokter, yaitu ketika anak mengalami sesak napas (khawatir komplikasi pneumonia) dan dehidrasi. Maka obat terpenting adalah minum, minum, dan banyak minum agar tidak kekurangan cairan.

4. Paham bahwa demam, batuk, dan pilek adalah gejala, bukan penyakit. Maka tidak harus memberikan obat untuk semua gejala yang ada. Obat penurun panas hanya diberikan jika anak merasa tidak nyaman dan rewel. Obat batuk dan pilek tidak ada yang bermanfaat, bahkan berisiko efek samping. Inhalasi tidak diperlukan kecuali batuk atau sesak pada asma.

5. Menjadikan sabar dan gendong sebagai terapi yang tidak boleh dilupakan. Sabar menggendong anak semalaman, ketika ia rewel dan tak bisa tidur. Sepertinya tidak ada obat yang lebih manjur daripada sabar dan gendong.

(Kalau sabar dan sholat sudah pasti)

Pakai "tanganmeter" atau termometer?

Ibu-ibu ini (Bapak-bapak juga) memang harus selalu diingatkan, agar tidak pakai "tangan-meter" untuk menentukan anaknya sedang demam atau tidak. Karena berdasarkan pengamatan saya, penggunaan tangan-meter, alias meraba dahi/badan anak dan menyimpulkannya demam, tanpa termometer, sering menyebabkan "diagnosis" demam yang berlebihan, dan berujung pada pemberian obat penurun panas (antipiretik) yang sebenarnya tidak/belum perlu.

"Dok, anak saya sudah 3 hari demam. Nggak ada gejala lain. Makanya saya bawa ke dokter."
"Berapa suhunya?" tanya saya.
"Nggak diukur pakai termometer."
(*tepok jidat)

Lalu ada aja alasannya. Anaknya nggak bisa diam dan berontak kalau dimasukkan termometer ke ketiak lah. Termometernya pecah lah. Sampai memang nggak punya termometer. Hehe.

Atau sebaliknya. "Anak saya anget Dok. Suhunya 37 derajat. Jadi saya kasih parasetamol."
"37 derajat mah nggak demam, Bu. Di atas 38 baru demam," jawab saya lagi.

Padahal demam kita ketahui tujuannya baik: menciptakan suasana kondusif bagi tubuh agar virus dan bakteri tidak mudah berkembang biak. Dengan kata lain, demam bertujuan membuat tubuh kita lekas sembuh!

Don't treat low grade fever! Begitu nasihatnya. Antipiretik diberikan jika anak sudah menjadi rewel dan tidak nyaman karena demamnya.

Sunday, August 07, 2016

Apakah Rumah Sakit tempat yang aman buat anak?

Kadang saya menjumpai orangtua yang membawa anaknya berobat dan minta anaknya segera dirawat. Pendorong utamanya, menurut penilaian saya, adalah kepanikan orangtua. Padahal pemeriksaan saya menyimpulkan anaknya belum perlu dirawat. Tidak ada indikasi rawat, istilahnya. (Kalau pasien memang indikasi rawat, pasti dirawat. Kalau tidak indikasi rawat, perlukah dirawat?) Belum lagi, pasien-pasien yang masuk dari IGD, dan dokter jaga menjelaskan sebenarnya tidak perlu dirawat, tetapi orangtua tetap memaksa minta rawat.

Apa bahayanya RS? Bukankah justru anak menjadi aman dirawat di RS. Untuk apa RS diciptakan jika justru membahayakan?

Mungkin ini pertanyaan yang akan menyusul. Coba lihat, apa yang terjadi ketika seorang anak dirawat? Diambil darahnya, dipasang infus, dan diberikan obat-obatan secara rutin. Semua bermanfaat kan? Demi kesembuhan anak.
Dalam ilmu kedokteran, semua berbasis pada prinsip benefit versus risk, alias manfaat versus risiko (mudharat). Tidak ada yang 100% benefit, atau sebaliknya 100% risk. Semua selalu ditimbang. Ketika benefit melebihi (outweigh) risk, maka itu yang diambil. Tetapi ketika risk melebihi benefit, maka ya ditinggalkan.
Seorang anak yang masuk dengan syok DBD, atau kecelakaan lalu lintas dengan perdarahan hebat, atau meningitis/ensefalitis, dan ibu hamil dengan perdarahan, tentu harus dilakukan tindakan segera dan dilanjutkan dengan rawat inap. Diambil darahnya, diinfus, dan diberikan obat-obatan, termasuk kemungkinan antibiotik. Karena benefit nya jauh melebihi risikonya. Dan ini adalah tindakan menyelamatkan nyawa manusia, menghindarkan kematian.
Tetapi ketika seorang anak dengan demam 40 derajat selsius yang ternyata hanya common cold saja (tanpa pneumonia), atau muntah dan mencret yang tidak sampai dehidrasi, apakah tindakan rawat inap mempunyai benefit outweigh the risk?

Apa risiko yang bisa terjadi di ruang rawat inap? Sejak jarum infus masuk menembus kulit, maka saat itulah risiko kuman (bakteri) tak diinginkan bisa masuk ke dalam aliran darah. Lalu ketika seseorang masuk ke ruang rawat (bangsal), sekalipun di kelas VVIP, maka risiko terpapar dengan kuman (bakteri) RS yang bisa jadi sebagian sudah kebal antibiotik dan lebih "ganas" dibandingkan dengan kuman-kuman "rumahan" terjadi. Welcome to the jungle! Mungkin bisa diistilahkan seperti ini. Namanya infeksi nosokomial. Makanya jika Anda perhatikan, saat ini hampir di tiap ruangan RS tersedia handrub yang bisa digunakan oleh siapa saja termasuk pengunjung, agar tidak terjadi penyebaran kuman nosokomial dari satu tangan ke tangan lainnya. Pengunjung yang menjenguk keluarga atau kerabatnya yang sedang dirawat di RS pun belum berarti bebas dari terkena kuman RS ini. Termasuk saat mengantri panggilan dokter di ruang periksa, bisa saja terjadi penularan virus dari satu anak dengan penyakit tertentu, ke anak lain yang sebelumnya tidak mengalami penyakit tersebut. Jadi pulang dari RS bawa "oleh-oleh".

Lalu apa yang harus dilakukan? Berhenti mengunjungi RS? Tidak berobat ke dokter lagi? Menolak semua tindakan rawat inap? Tentu saja tidak. Semua kembali ke diagnosis. Apa diagnosis yang dialami anak kita? Jika memang terindikasi rawat, ya dirawat. Jika tidak perlu, ya tidak dirawat. Nah, nanti pas dirawat, bakal kena infeksi nosokomial dong? Kembalikan lagi ke prinsip benefit versus risk. RS pun punya komite infeksi RS yang berupaya seoptimal mungkin menghindari kejadian ini. Semua harm alias bahaya tambahan bagi pasien selalu diminimalisir. Jadi, kalau memang tidak perlu dirawat, bahkan tidak perlu ke RS, ya tidak udah minta dirawat.

Jadi orangtua yang rajin belajar. Tahu kapan harus ke dokter. Tahu apa saja tanda kegawatan pada anak. Bisa baca-baca di www.kidshealth.org, www.healthychildren.org, www.idai.or.id, www.cdc.gov, www.who.int, dan www.milissehat.web.id

Selamat belajar dan jadi smart patient :-)

Lebaran: Neraka bagi para Perokok Pasif


Lebaran adalah momen bertemunya banyak orang dalam satu waktu. Orang dewasa, lanjut usia, remaja, kanak-kanak, bayi dan balita saling bertemu dalam satu ruangan. Di rumah-rumah saudara untuk bersalam-salaman. Di tempat rekreasi mumpung lagi liburan. Atau di rumah makan dan restoran sambil melepas kebahagiaan. Ada satu hal yang saya amati terjadi di semua tempat ini: kumpulan orang-orang merokok.

Keluarga kami misalnya. Sambil menikmati buka puasa bersama untuk terakhir kalinya di Ramadhan kali ini, titik-titik kepulan asap rokok bermunculan di beberapa tempat di sebuah rumah makan. Posisi restoran ini memang di pinggir jalan, dan terbuka. Tidak ada tanda larangan merokok yang tampak. Maka saya tidak punya dasar hukum yang kuat untuk menegur mereka. Lain halnya dengan di dalam angkot, ketika berhadapan face-to-face dengan seorang perokok, mayoritas akan mematikan rokoknya ketika ditegur. Seorang keponakan saya yang berumur 10 bulan yang baru saja didiagnosis bronkiolitis terpaksa saya "usir" agar tidak berdekatan dengan para perokok cuek itu. Dalam hati pun saya menggerutu "la'natullah alaihim". Astaghfirullah. Demikian marahnya saya, tapi tak mampu mengubah keadaan.

Kondisi yang tak jauh berbeda berulang setelah shalat Ied berakhir. Sambil berjalan pulang, sebagian jama'ah laki-laki mulai menyalakan rokoknya. Tak ayal asap mereka ikut dinikmati oleh orang-orang lain yang berjalan di belakangnya. Orang-orang yang belum tentu sehari-harinya menghirup asap rokok. Bahkan bisa jadi tidak sama sekali. Tapi momen bertemunya orang banyak ini membuat mereka yang tak pernah menghirup asap rokok, anak-anak dengan asma, dan orang tua dengan penyakit paru terpaksa menghirup asap rokok orang lain. Situasi yang akan dijumpai juga di pemakaman saat kunjungan ziarah kubur meningkat, di tempat rekreasi, dan banyak tempat umum lainnya.

Zalim? Ya, mereka menzalimi orang lain. Mereka menzalimi para perokok pasif. Banyak yang berharap bulan Ramadhan lalu menjadi waktu yang tepat untuk berhenti merokok. Ketika merokok membatalkan puasa, dan mereka mampu menghentikan rokoknya. Mengapa kebiasaan ini tidak berlanjut untuk seterusnya, setelah Ramadhan berakhir? Semoga saja jumlah perokok terus menurun pasca Ramadhan kali ini.

Friday, August 05, 2016

Persiapan sebelum sunat

Hayoo, siapa yang mau disunat habis lebaran? Ya, kebetulan libur lebaran kali ini bersamaan dengan kenaikan kelas. Pastinya sudah ada beberapa yang berencana dikhitan alias disunat sebelum tahun ajaran baru dimulai. Naahh, apa saja yang harus orangtua ketahui sebelum khitan atau sirkumsisi dilakukan? Mau pake teknik apa ya: biasa (konvensional), kauter, atau klamp? Lalu bius lokal atau bius umum? Daannn... setelah khitan, haruskah minum antibiotik?

Ada beberapa teknik sirkumsisi yang sering digunakan, antara lain: "konvensional" atau manual, kauter, dan klamp. Teknik konvensional adalah metode yang sudah dijalankan selama puluhan tahun, termasuk yang kita sebagai Ayah saat ini alami saat masih kecil dulu (kecuali ada yang baru disunat pas SMP ya... Hehe). Yakni dengan menggunting kulup penis, dan membuangnya, sehingga "kepala" penis (glans) terlihat, dilanjutkan dengan memberikan beberapa jahitan. Teknik ini adalah yang terbanyak dipakai, dan paling aman. Karena bisa dikerjakan pada semua kondisi, sesuai kondisi penis yang beragam. Mungkin sebagian orangtua khawatir metode ini lebih sakit dan berisiko perdarahan lebih banyak. Padahal jika anestesi atau bius bekerja baik, metode apapun tidak terasa menyakitkan.

Teknik lainnya adalah menggunakan alat kauter, yang sering disalahnamakan dengan laser. Padahal tidak ada laser yang digunakan sama sekali dalam metode ini. Saya pribadi kurang menyukai teknik ini, karena membakar jaringan dan luka pasca sunatnya terlihat sebagai luka bakar ringan. Perdarahan memang minimal, tetapi hasilnya sangat bergantung pada keterampilan operator khitan. Risiko memotong terlalu panjang atau pendek (kulit kulup) yang memengaruhi estetis penis, bahkan sampai fungsinya, memang tergantung jam terbang dan skill operator, pada teknik apapun.
Metode terakhir yang cukup banyak digunakan saat ini adalah dengan bantuan klem/klamp. Teknik ini juga banyak digunakan di negara maju. Tetapi harus menyesuaikan alat dengan ukuran penis. Operator yang mahir menggunakan teknik ini, dapat menghasilkan hasil yang baik.

Lalu bagaimana dengan teknik pembiusan, cukupkah dengan lokal, atau harus umum? Kekhawatiran ini terutama pada sirkumsisi yang dilakukan pada usia bayi. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, termasuk risiko anestesinya. Silakan pelajari. Tapi secara umum, anestesi lokal sudah cukup, termasuk pada bayi baru lahir yang disunat.

Antibiotik, perlukah diberikan pasca sirkumsisi? Mungkin ada beberapa yang mengalami diberikan antibiotik untuk diminum selama 3 hari setelah khitan. Alasannya untuk mencegah infeksi. Masalah ini memang cukup menjadi perdebatan, antara literatur Amerika dengan Australia misalnya. Tapi prinsipnya adalah:
- tindakan sunat dilakukan dengan sangat memperhatikan sterilitas alat. Perhatikan saja para operator khitan dan asistennya. Mereka menggunakan sarung tangan steril, jarum sekali pakai, benang jahit steril, dan semua alat seperti gunting, pinset, dan pemegang jarum sudah disterilkan terlebih dahulu. Lapangan operasi pun akan dibersihkan dengan povidon iodin sebagai antiseptik terlebih dulu. Maka risiko kontaminasi kuman "nebeng" dan membuat sakit menjadi sangat kecil
- tindakan sirkumsisi tidak melibatkan jaringan dalam tubuh yang terkontaminasi bakteri tubuh, misalnya usus dan saluran kemih, atau melibatkan organ dalam yang vital seperti otak dan jantung. Tapi hanya sebatas kulit sampai selaput lendir (mukosa). Maka antibiotik sebagai pencegahan (profilaksis) tidak diperlukan.
- hal yang menjadi perhatian adalah perawatan luka setelah sirkumsisi. Kuman penyebab infeksi potensial masuk di tahap ini. Sebagian referensi menyebutkan hanya perlunya tindakan pembersihan rutin saja, makanya luka pasca khitan tidak ditutup kassa. Sebagian lagi menganjurkan penggunaan salep antibiotik.
Pengalaman pribadi saya untuk anak laki-laki saya yang dikhitan di usia 1,5 bulan, tidak menggunakan antibiotik sama sekali, termasuk salep antibiotik. Begitu juga dengan pasien-pasien bayi lain yang disunat di tempat praktik kami (thanks to my sista, dr. Ardiana Kusumaningrum as the operator, although unfortunately she has retired circumcizing (?) :-) ). Antibiok salep tidak rutin diberikan pasca sunat, kecuali ada tanda-tanda infeksi.

Terakhir, bagi yang balitanya belum dikhitan, jangan menarik-narik kulup dengan tujuan membersihkan sampai lapisan di bawahnya ya. Malah menyakitkan dan berisiko infeksi. Bersihkan saja kulitnya sambil mandi, dengan air biasa. Daripada pusing-pusing, sunat saja sekalian. Hehe.
Silakan baca lebih lanjut tentang sirkumsisi di www.milissehat.web.id

Lagi-lagi tentang antibiotik

"Oke deh. Batuk-pilek alias selesma obatnya cuma SABAR. Tapi setelah 2 minggu anak saya batuk-pilek, terus dapat antibiotik, alhamdulillah langsung sembuh. Berarti kalau mau cepat sembuh bisa dengan minum obat dong?"

Pernah mengalami hal serupa? Dalam pengamatan saya, kondisi di atas namanya adalah koinsidens (coincidence) alias kebetulan. Lha kok bisa?

Ini alasannya:
- infeksi virus obatnya bukan antibiotik
- anak ini kebetulan pas minum antibiotik, pas saatnya sakitnya menyembuh. Jadi kebetulan terjadi di waktu bersamaan. Makanya dipikirkan adanya hubungan sebab-akibat. Padahal sepertinya tidak ada.
- penggunaan antibiotik terlalu sering dan tidak pada tempatnya meningkatkan risiko sakit. Lho kok bisa? Alasannya:
(1) antibiotik melawan bakteri. ketika ia masuk ke tubuh manusia dan tidak menemukan bakteri jahat untuk dilawan, maka yang diserangnya adalah bakteri baik di seluruh tubuh manusia, terutama di usus besar (koloni terbesar). Padahal bakteri baik ini menjaga tubuh kita tetap sehat. Walhasil terjadilah mencret (diare).
(2) bakteri baik tak berdosa yang diserang ini akan memperbaiki sistem pertahanannya, sehingga kelak di kemudian hari ketika ia diserang antibiotik, ia tidak mudah dikalahkan. Terciptalah bakteri super alias superbug, yang bisa jadi kebal terhadap berbagai macam antibiotik. Ketika bakteri ini berubah jadi jahat dan menyebabkan penyakit, maka antibiotik tidak mempan lagi. Risiko kematian meningkat!

Maka jangan lupa, tiap kali Anda berkunjung ke dokter, tanyakan 4 hal ini:
1. Apa diagnosis sakit saya/anak saya? (dalam bahasa medis, supaya bisa browsing di internet)
2. Jika penyebabnya infeksi, apakah virus atau bakteri? (atau jamur, amuba, dll)
3. Mengapa diberi antibiotik?
4. Apa saja tanda gawat darurat yang membuat saya/anak saya harus segera ke dokter/RS?

Selamat belajar! :-)

Tuesday, August 02, 2016

The "grok-grok" story

"Bayi saya pilek. Umurnya baru 1 bulan." Ibu muda ini membawa bayinya yang tidak terlihat pilek sama sekali di hadapanku.
"Pilek atau grok-grok, Bu?" tanyaku.
"Iya, ada bunyi grok-grok. Sudah 2 minggu seperti ini. Dikasih obat apa ya?" tanya si Ibu.

Di lain waktu....

"Bayi saya sering terdengar napasnya berbunyi grok-grok. Kata orang, waktu lahir tidak disedot sampai bersih ya lendirnya?"

Di tempat lain....

"Bayi saya berbunyi grok-grok. Dia tidak dapat ASI, tapi susu formula. Harus diganti ya susunya. Katanya bisa jadi alergi susu sapi."

Faktanya....

Bunyi grok-grok ternyata wajar dan sering sekali dijumpai pada bayi, khususnya dalam 6 bulan pertama usianya. Sebabnya adalah bayi cenderung bernapas lewat hidung saja (nose-breather). Maka jika ada ludah yang banyak di rongga mulut dan tidak langsung ditelan, bunyi grok-grok terdengar sembari bernapas. Kadang juga terdapat ingus atau lendir di dalam lubang hidung bayi, dan terdengarlah bunyi grok-grok ini. Padahal air liur yang banyak, ingus dan lendir di dalam hidung sering didapatkan pada bayi sehat. Bayi kadang tidak mau langsung menelan ludahnya. Lingkungan berdebu juga merangsang produksi lendir di dalam hidung, meskipun bayi tidak pilek. Ditambah lagi saluran napas bayi yang masih kecil (sempit), menambah kerasnya volume grok-grok. Seiring waktu, diameter saluran napas melebar, kemampuan koordinasi menelan ludah membaik, dan bunyi grok-grok pun menghilang.

Bunyi "berisik" ini dikhawatirkan jika disertai dengan:
- sesak napas, yaitu frekuensi napas lebih dari 60x/menit disertai tarikan di sela-sela iga
- adanya napas cuping hidung
- bibir menjadi biru (sianosis)
- anak tampak lemas, dan banyak tidur
- bunyi menetap lebih dari 6 bulan, dan dicurigai laringomalasia

Jadi....berbeda dengan pilek (selesma), dan juga bukan alergi protein susu sapi ya. Apalagi lendir yang tidak disedot saat lahir. Kejauhan waktunya soalnya, dengan peristiwa saat baru lahir. Lagipula lendir bayi baru lahir ya ditelan sendiri oleh bayinya :-)

Monday, August 01, 2016

"Mama, Bantu Aku agar Dapat Memberikan ASI..."

"Ini apa Bu?" tanyaku sambil menunjuk botol berisi susu bayi saat melakukan kunjungan rutin ke ibu pasca persalinan. Pertanyaan yang sering kuajukan. Jawabannya kebanyakan adalah "susu formula". Sebagian kecilnya adalah ASI perah. Lalu apa masalahnya? Ya, pastinya pertanyaan yang timbul kemudian adalah: kok tidak diberikan ASI saja?

Saya memperhatikan salah satu faktor keberhasilan menyusui secara eksklusif adalah dukungan orang-orang sekitar. Dalam hal ini yang tersering adalah suami, dan.... ibu, baik kandung maupun mertua. Tidak jarang ketika saya menanyakan kenapa buru-buru diberikan susu formula, yang menjawab justru bukan si Ibu, tetapi sang nenek.
"Kasihan Dok, bayinya rewel. ASI nya juga belum keluar." Begitu jawab Nenek. Seringkali saya menatap si Ibu yang terdiam saja, seolah-olah ia tahu bahwa ia seharusnya tak melakukan itu, tetapi dorongan dari orang lain agar segera memberikan susu formula lebih kuat. Apalagi anak pertama, cucu pertama, dan semuanya menjadi yang pertama. Bahagia, bingung, dan sedih, mungkin semuanya bercampur jadi satu. Teori sudah dibekali. Segala persiapan kelahiran dan perlengkapan bayi tersedia. Tetapi, ASI yang belum keluar hingga hari kedua.... Duhh, kok masukan dari yang lain beda-beda ya? Suami bisa saja terus menyemangati istrinya agar bersabar dan terus menyusui saja. Mama atau mama mertua bisa saja berpandangan sebaliknya. Masukan dari para penjenguk pun berbeda-beda. Jadi, ikut mana??

Sebagai dokter di kota besar, saya memperhatikan dorongan terkuat seringkali berasal dari sang Nenek, alias mamanya ibu, atau mama mertua. Suami pun kadang kalah. Hehe. Sorry to say, tapi mungkin ini subjektivitas saya ya. Maka.... mempersiapkan diri sang Nenek untuk menyambut kelahiran cucunya, termasuk dalam memberikan ASI eksklusif pun jadi sangat penting, sejak si Ibu masih hamil. Teori menyusui pun tidak hanya perlu ditularkan pada suami, tetapi juga bagi Eyang Putri dan Eyang Kakung. Sehingga jika harus menghadapi saat-saat ASI belum keluar atau masih sedikit hingga 2-3 hari pasca persalinan, maka Mbah Uti akan berkata, "Ayo Nak, semangat. Susui terus sesering mungkin. Insya Allah hari ini ASI akan keluar dan makin banyak. Aku yakin itu!"

Wednesday, July 27, 2016

Inpirasi Pagi ini

Gadis berusia 6 tahun itu terbaring lemah di hadapanku. Berat badannya tidak mencapai 10 kilogram. Tulang-tulang iganya terlihat jelas. Sosoknya adalah tulang terbungkus kulit. Mengingatkan orang-orang yang melihatnya pada gambar foto bocah-bocah di Somalia dan Etiopia beberapa tahun silam. Gizi buruk. Ia sakit HIV. Tertular dari ibunya yang sudah lebih dulu meninggal dunia. Ayahnya entah berada di mana. Ia kini dirawat oleh kakak dari almarhumah ibunya. Bolak-balik kontrol ke RS untuk.mendapatkan obat antivirus HIV dan obat anti tuberkulosis (TB). Penyakit tersering yang menyertai HIV.

"Anaknya dirawat lagi ya Bu. Beratnya makin turun. Kondisinya pun butuh pemantauan sementara di RS," kusampaikan pada seorang wanita yang menemani bocah ini. Kutatap lagi wajah si anak yang tak pernah tersenyum.
"Saya bilang dulu sama Uwa'-nya ya Dok. Saya nggak bisa tanggung jawab kalau ada apa-apa sama anak ini," jawab perempuan berusia 40-an tahun di hadapanku ini.
"Ibu siapanya?" tanyaku heran.
"Saudaranya," jawabnya singkat, sambil tersenyum.
Aku sudah biasa melihat ekspresi wajah seperti ini. Ada yang disembunyikan.
"Tetangganya ya?" tebakku.
"Nggak dekat juga sih, Dok. Beda kelurahan." Ia mengakuinya.
"Ibu kok mau ngurusin anak ini?" tanyaku lagi. "Kan nggak ada hubungan saudara apapun."
"Kasihan aja, Dok. Lillaahi ta'ala." Jawabnya.

"Ibu kerja apa?" tanyaku lagi, penasaran. Sambil menuliskan resep dan instruksi rawat. "Anaknya berapa?"
"Saya jualan nasi uduk. Anak saya dua, yang satu SMA, dan lainnya SD. Saya udah nggak punya suami. Udah beberapa tahun." Ia kembali tersenyum.
"Kalau anak ini dirawat, siapa yang nungguin?" tanyaku.
"Saya. Uwa'-nya repot, nggak bisa nungguin. Jadi saya yang menemani anak ini." Jelasnya.
"Ibu nggak bisa kerja dong." Tanggapku.
"Nggak apa-apa," jawabnya singkat sambil tersenyum.

Saturday, March 19, 2016

Lagi-lagi tentang Rokok!

Mereka yang tinggal di Jakarta dan di kota-kota besar lainnnya, wajar di hari libur mencari tempat berlibur di luar kota. Anak-anak juga perlu dikenalkan dengan... lingkungan outdoor yang penuh dengan tanaman rimbun dan hewan liar. Buat saya, masalahnya hanya satu ketika mengunjungi tempat-tempat wisata outdoor ini: orang-orang yang bebas merokok. Tanpa peduli orang-orang lain di sekitarnya mengisap asap rokok dengan seluruh racunnya. Mereka para perokok adalah orang-orang yang jelas menzalimi orang-orang lain. Dalam hati saya membatin, tidakkah mereka menyadari dosa yang sedang mereka lakukan? Apakah mereka orang-orang yang tidak mengimani adanya hari Akhir?
Saya sepakat seluruh orang yang terlibat dalam rokok ini adalah orang-orang zalim. Mulai dari produsen yang konon orang-orang terkaya di negeri ini, para perokok, semua orang yang terlibat dalam iklan rokok mulai dari perusahaan advertising, sampai bintang iklannya, lalu karyawan perusahaan rokok, dan para penjualnya.
Lalu muncullah komentar ini. Kalau pabrik rokok ditutup, bagaimana dengan ribuan karyawannya? Mereka adalah kelompok ekonomi lemah yang harus menghidupi istri dan anak-anaknya. Lihat juga para penjual rokok asongan, bagaimana dengan penghasilan pas-pasan yang mereka dapatkan untuk menyambung hidupnya sehari-hari?
Saya akan menanggapinya: jika sudah jelas riba itu haram, apakah hidup harus terus dalam jeratan riba? Lalu jika sudah jelas mengenakan jilbab itu wajib hukumnya, apakah harus menunggu sampai "terjilbabi dulu hatinya", baru menjilbabi tampilan luarnya?
Allah sudah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya, termasuk hewan yang melata di tanah dan burung yang keluar dari sarangnya. Apakah manusia tidak yakin dengan jaminan rezeki dari sumber-sumber halal yang sudah Allah berikan?
Lalu saya menengok pasien-pasien kecil saya yang berkali-kali dirawat dengan pneumonia. Menderita dengan sesak napasnya. Dan ketika saya tanya, apakah ada yang merokok di rumah? Mayoritas jawabannya seragam: iya, ada yang merokok. Apakah ayahnya, kakeknya, pamannya, atau yang lainnya. Kalau mereka para perokok ini lalu dicekik lehernya dan merasakan sesak naps seperti yang dialami anak-anak penderita pneumonia ini, apakah mereka mau?
Berhentilah merokok sekarang!

Anak sedang batuk-pilek tidak boleh minum es?

Anak lagi demam-batuk-pilek alias selesma nggak boleh minum es? Benerr?? Kata siapa?
Bayangin aja... Anak umur 3 tahun lagi demam. Ingusnya meler. Batuk grok-g...rok. Tapi nggak sesak kok. Makan susah. Kayanya mulutnya pahit. Masuk makanan "hoekk". Disuruh minum air putih nggak mau. Pas ditanya, "Mau es krim?" Langsung matanya berbinar-binar. "Mau, mau," gitu katanya.
Di tempat lain. Anak umur 4 tahun. Batuk, sakit menelan, dan ada sariawan beberapa buah di lidah dan langit-langitnya. Masuk makanan dikit bilang perih. Minum air hangat nggak enak. Pas ke dokter, disuruh makan es krim dan minum air dingin. "Kan enak, Bu. Adem gitu. Coba Ibu lagi sariawan dan disuruh makan es krim. Enak kan??" gitu kata Pak Dokter.
Ini faktanya:
- Common cold alias selesma, lalu influenza (flu), sama-sama disebabkan oleh infeksi virus. Berarti bukan gara-gara minum es atau makan gorengan, kan? smile emoticon
- Anak sakit flu dan CC butuh banyak asupan cairan. Kalau dengan makan es krim dan minum dingin, dia dapat banyak asupan cairan, kenapa tidak? Bagus dong. Justru menghindari dehidrasi. Demam kan meningkatkan risiko dehidrasi.
- Nanti "radang" dong tenggorokannya karena minum air es? Hehe, kata siapa? Anaknya punya alergi minuman/makanan dingin? Ketika mengonsumsi jenis makan/minuman tersebut timbul reaksi tidak nyaman? Kalau tidak ada, ya mengapa khawatir? smile emoticon
Lagi-lagi, penyebab sakitnya kan infeksi.
Ada yang mau menambahkan?

DeBeDe versus Tipes

Musim DBD belum berakhir. Banyak orangtua yang khawatir menghadapi anaknya demam, dan langsung membawanya ke dokter, untuk memastikan kemung...kinan sakit demam berdarah. Lalu pertanyaan "kalau tipes enggak ya, Dok?" juga terlontar. Bagaimana membedakan keduanya?
- Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) sama-sama disebabkan oleh infeksi VIRUS Dengue. Kalau demam tifoid disebabkan oleh infeksi BAKTERI Salmonella typhi.
Jadi infeksi VIRUS tidak butuh antibiotik, dan infeksi BAKTERI butuh antibiotik.
- DD/DBD ditandai dengan demam 2 sampai 7 hari yang umumnya tidak disertai batuk pilek sama sekali (pilek.hampir tidak pernah, batuk masih mungkin meskipun jarang). Jadi fokus infeksinya tidak jelas.
Dema tifoid ditandai dengan demam yang lebih lama dari 7 hari. Artinya: kalau demamnya belum seminggu, ya sangat kecil kemungkinan demam tifoid. Tidak perlu berpikir anak sakit tifoid jika demam belum 7 hari.
Tifoid juga mirip dengan infeksi virus Dengue, jarang sekali disertai dengan batuk atau pilek. Selain demam, yang cukup dominan adalah gejala saluran cerna seperti sakit perut, mual, muntah, dan diare atau sebaliknya sembelit.
- Bagaimana membedakan DD dan DBD? Pada keduanya terjadi penurunan nilai trombosit (trombositopenia) sampai di bawah 100.000 per mikroliter. Yang membedakan adalah: pada DD tidak terjadi peningkatan nilai hematokrit, sedangkan pada DBD terjadi peningkatan nilai hematokrit (hemokonsentrasi). Jadi pada kecurigaan DD/DBD, jangan hanya trombositnya yang diperhatikan, lihat juga hematokrit dan leukositnya (leukosit sering sekali turun juga).
- Mungkinkah DD/DBD dan demam tifoid terjadi bersamaan? Kan bisa saja, anak demam tiga hari ternyata trombosit turun dan tas Widal-nya positif.
Jawabannya: kecil sekali kemungkinannya. Dari perjalanan penyakitnya saja sudah berbeda. DD/DBD demamnya maksimal 7 hari, dan tifoid justru lebih dari 7 hari.
Lalu Widal positif bisa terjadi pada orang sehat sekalipun. Uji Widal hanya mendeteksi pernah adanya kuman Salmonella dalam tubuh seseorang, tetapi belum tentu menandakan orang tersebut sedang sakit akibat bakteri Salmonella.
Jadi, berhati-hatilah dalam menginterpretasi hasil Widal. (Saya juarang sekali periksakan Widal, meskipun curiga tifoid)
- Bagaimana dengan gejala tipes, apakah.perlu diobati?
Gejala tipes seharusnya tidak boleh disebutkan lagi. Karena ini salah satu "diagnosis" tidak jelas. Harus tegas! Demam tifoid atau bukan!
Sama halnya dengan bilang: flek paru dan radang tenggorokan. Sama-sama tidak jelas. Harus tegas: TB atau bukan? Kalau bukan ya apa? Pneumonia? Juga tegas strep throat atau bukan? Atau common cold?
Segini dulu aja. Baca-baca lagi dari Medscape, Kidshealth, WHO, Mayoclinic, dan Milissehat ya.

"Anak saya demamnya tinggi, sampai 39,5 derajat selsius, tapi tangan dan kakinya dingin. Kenapa-kenapa nggak ya, Dok?"

Pernah mengajukan pertanyaan di atas? Ini... jawabannya.
Demam adalah respon tubuh menghadapi kuman yang masuk. "Termostat" alias pengatur suhu yang berpusat di hipotalamus otak kita mengaturnya dengan cara meningkatkan "set point" tubuh, lalu naiklah suhu tubuh. Seiring meningkatnya suhu tubuh, badan kadang menggigil, tangan dan kaki teraba dingin. Ini adalah upaya tubuh mencegah keluarnya panas berlebihan, yaitu dengan menyempitkan pembuluh darah di tangan dan kaki, sehingga teraba dingin. Sedangkan pusat tubuh tetap teraba panas, makanya terukur sebagai demam di termometer.

Ketika suhu sudah mencapai puncaknya, maka tubuh akan otomatis menurunkan demam, dan pembuluh-pembuluh darah di tangan dan kaki kembali melebar, sehingga teraba demam juga. Anak bisa berkeringat seiring turunnya demam.
Kesimpulannya: kondisi yang ditanyakan di atas adalah WAJAR.
Yang dikhawatirkan pada demam, seiring naiknya suhu, sebenarnya bukanlah kejang, tapi risiko dehidrasi, yaitu kehilangan cairan tubuh. Makin tinggi suhu, maka makin tinggi risiko keluarnya cairan tubuh. Maka banyak minum menjadi solusi pada kondisi demam.
Eits, tapi selalu ada perkecualian untuk tiap kondisi. Syok (kekurangan oksigen di jaringan tubuh) pun ditandai dengan terabanya ekstremitas (lengan-tangan dan tungkai-kaki) yang dingin. Tapi berbeda tentunya antara teraba dingin pada demam yang wajar dan syok pada kondisi Demam Berdarah Dengue. Selain teraba dingin, anak yang syok tampak lemah, sedikit pipisnya, dan nadi teraba lemah serta cepat.
Salah satu referensi: http://clinicalpediatrics.com/Fever.html

Friday, January 22, 2016

Sedikit penjelasan tentang media sel dalam vaksin

Sulit untuk menjelaskan secara singkat. Bisa saja disalahpahami, khususnya bagi mereka yang memang dari awal sudah punya kerangka berpikir menolak imunisasi, atau vaksin itu haram! Apapun yang sudah dijelaskan, maka tidak akan menerimanya dan berpendapat "ah, yang bicara kan kelompok pro-vaksinasi, jadi ya wajar begitu pendapatnya." Anyway, saya coba jelaskan.
1. Vaksin adalah produk biologis. Diciptakan sekedar untuk merangsang terbentuknya sistem imunitas (daya tahan tubuh) terhadap kuman tertentu/spesifik. Maka proses pembuatannya menggunakan kuman (virus/bakteri) yang dibiakkan dalam media biologis pula, agar bisa diperbanyak sebaik mungkin.
2. Virus berbeda dengan bakteri. Virus bukanlah makhluk hidup. Virus butuh media sel hidup agar bisa diperbanyak untuk keperluan pembuatan vaksin massal. Dalam hal vaksin polio dan rotavirus, sel-sel yang diambil dari ginjal kera digunakan sebagai media tempat virus polio/rotavirus bisa diperbanyak.
Jadi ini sel dari ginjal kera ya. Bukan ginjal keranya.
3. Setelah virus berhasil diperbanyak, maka yang digunakan sebagai bahan vaksin yang nantinya akan masuk ke tubuh manusia adalah virusnya. Bukan sel-sel ginjal keranya!
4. Tidak semua vaksin virus menggunakan media sel ginjal kera dalam pembuatannya. Sebagai contoh, vaksin hepatitis B dan HPV menggunakan teknik rekayasa genetik DNA rekombinan (tidak pakai sel ginjal kera sama sekali). Vaksin campak dan influenza dibuat menggunakan media telur (tidak pakai sel ginjal kera). Vaksin MMR dan cacar air (varisela) tidak pakai sel ginjal kera juga.
5. Vaksin bakteri tidak menggunakan media sel hidup, karena bakteri sendiri adalah makhluk hidup yang bisa hidup independen, meskipun berada di luar sel hidup. Makanya bisa dibuat menggunakan media agar di laboratorium. Yang digunakan juga tidak selamanya bakteri secara utuh. Misalnya vaksin tetanus dan difteri hanya toksinnya. Vaksin PCV dan Hib dari polisakarida dinding selnya. Dst...
6. Bagi pembaca yang mungkin tidak punya latar belakang ilmu alam (IPA) atau tidak pernah bekerja di laboratorium, bisa jadi sulit memahaminya.
Segini dulu ya

Campak dan Teror Bom





Pada bulan Desember 2014, sebanyak 40 orang di negara bagian California dinyatakan positif mengidap suatu penyakit yang sangat menular. Ternyata mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu pernah mengunjungi Disneyland setempat baru-baru itu. Dalam waktu singkat, penyakit ini mewabah dan menyebar ke setidaknya 6 negara bagian di Amerika Serikat. Wabah baru dinyatakan berakhir setelah pihak-pihak kesehatan bekerja keras menghentikan wabah tersebut. Pada 27 April 2015, wabah akhirnya dinyatakan berakhir.
Berselang setahun kemudian, di akhir tahun 2015, otoritas kesehatan di Sydney, Australia, mengeluarkan peringatan serupa akan risiko terjadinya wabah penyakit serupa. Alasannya adalah seorang warga lokal diketahui mengalami penyakit ini setelah mengunjungi pusat kesehatan di tanggal 28 dan 30 November. Sebelumnya pada tanggal 26 dan 27, ia sempat mengunjungi pusat perbelanjaan di kota. Artinya ia sempat berada di tengah keramaian orang banyak. Potensi menular ke orang-orang lain. Ya, satu orang saja mengalami sakit ini, maka gegerlah seluruh kota.
Di antara kedua kejadian tersebut, seorang mahasiswa di Universitas California di Berkeley diketahui mengalami penyakit yang sama. Pihak kampus segera memberitakan kabar ini ke seluruh pihak, dan meminta orang-orang lain yang mengalami kecurigaan penyakit serupa agar menghubungi pihak kesehatan. Mahasiswa yang sakit dikarantina dan tidak boleh berhubungan dengan aktivitas perkuliahan, sampai masa penularannya dinyatakan berakhir.
Apakah penyakit yang demikian membuat khawatir warga di AS dan Australia? Ya, campak, alias measles atau rubeola. Campak penyakit berbahaya? Anda mungkin menganggap saya berlebihan. Tapi inilah faktanya. Campak sesungguhnya bukanlah penyakit ringan. Campak adalah penyakit yang sangat menular dan berisiko memiliki komplikasi pneumonia (radang paru-paru), diare yang cenderung menyebabkan dehidrasi berat, sampai radang selaput otak, yang semuanya berakhir dengan kematian!
Bukankah semua anak akan mengalami campak? Demam yang disertai dengan ruam-ruam merah? Tidak, ini adalah pandangan yang salah! Penyakit demam disertai ruam pada anak tersering adalah roseola, bukan campak. Saat ini, penyakit campak sudah sangat jauh berkurang dibandi dengan seratus tahun silam. Imunisasi campak (dan MMR) terbukti efektif mengurangi angka penyakit dan kematian akibat campak di seluruh dunia. Campak memang ditandai dengan demam dan ruam. Tapi demamnya lebih lama, mencapai 3-7 hari, disertai batuk, pile, dan mata merah, serta ruam yang awalny muncul di hari ketiga sampai kelima. Ketika ruam memudar, bekas kehitaman masih dijumpai di kulit.
Kesalahan persepsi campak sebagai roseola atau rubella yang dikenal juga sebagai "tampek" atau "sarampak" membuat banyak orangtua tidak mengenalinya. Banyak juga yang berkata, "Anak saya sudah kena campak kok, meskipun sudah diimunisasi campak", atau "anak saya tidak perlu lagi diimunisasi campak, karena dia sudah kena campak sebelumnya". Faktanya anak-anak yang sudah diimunisasi campak akan sangat jarang mengalami campak, dan banyak orangtua yang berpikir anaknya sudah sakit campak (padahal sesungguhnya roseola atau rubella yang dialaminya) lalu tidak mengimunisasikan campak ke anaknya, akhirnya mengalami komplikasi fatal akibat campak di kemudian hari.
Dari semua vaksin yang diberikan gratis oleh pemerintah, saya mengamati dalam praktik sehari-hari, campak adalah imunisasi yang paling sering terlewatkan. Alasan tersering adalah anak berulang kali sakit batuk pilek, sehingga petugas di Puskesmas menunda imunisasinya. Padahal imunisasi BCG, Polio, dan DPT-Hib-Hepatitis B-nya lengkap. Ketika anak berusia lebih dari 6 bulan, wajar sekali jika selesma sering melandanya. Keadaan ini diperburuk dengan pandangan sebagian kalangan masyarakat yang menolak imunisasi dengan berbagai alasan. Maka wajar saja sampai saat ini kasus campak masih sering dijumpai di masyarakat Indonesia. Hampir setiap hari kasus baru campak didapati di Puskesmas dan RS. Angka rawat inap dan kematian akibat campak masih sulit ditekan.
Silakan lihat poster-poster peringatan penyakit campak yang ada di sini. Sebagiannya berasal dari awal tahun 1900-an di AS. Sejak satu abad silam, mereka sudah paham benar bahayanya campak. Siapa saja yang sakit campak harus dikarantina alias diisolasi! Jangan sampai wabah terjadi dan memakan banyak korban. Siapa yang melanggar aturan ini akan mendapatkan sanksi dari pemerintah. Vaksin campak dan MMR memang baru dikembangkan secara serius pada tahun 1950-an.
Maka mendengar tagar ‪#‎KamiTidakTakut‬ dengan bom teroris beberapa hari lalu.membuat saya teringat dengan peringatan bahayanya campak. Masyarakat Indonesia dikatakan unik karena justru mendatangi lokasi korban bom, ketika orang-orang Barat mungkin justru berlarian menghindarinya ketika menghadapi kondisi serupa. Maka saya tidak menginginkan tagar serupa berlaku untuk penyakit campak. Masyarakat Indonesia harus paham campak tidaklah sama dengan "tampak". Bahkan ketika Anda atau anak Anda dicurigai sakit campak sejak di rumah, maka hindarilah mengantri dokter di ruang tunggu yang sama dengan pasien-pasien lainnya. Selama menunggu giliran dipanggil masuk ke ruang dokter, maka sepanjang waktu itu virus campak bisa menular ke semua orang di sekitarnya.
Penulis adalah seorang dokter anak dan sudah menulis buku "Orangtua Cermat, Anak Sehat"dan "Pro Kontra Imunisasi".

Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?

 (tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...