Wednesday, May 13, 2015
Kisah Batuk
"Dok, anak saya sudah 2 bulan batuk. Saya sudah membawanya ke 2 dokter anak, diberi puyer racikan, sirup antibiotik, dan diuap. Tapi kok masih belum sembuh juga?"
"Katanya batuk yang lama dan tidak diobati bisa jadi flek ya?"
"Anak saya keluar cairan dari telinganya. Saya ditegur. Katanya gara-gara saya tidak mengobati batuk-pilek anak saya."
"Anak saya muntah tiap habis batuk. Saya tidak tega melihatnya. Apakah tidak ada obat untuk mengatasi hal ini?"
Tidak bisa dipungkiri, batuk adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seorang anak. Keluhan ini juga yang membuat orangtua sering membawa anaknya ke dokter. Apa yang seharusnya dilakukan?
Sebelum kita membahas berbagai jenis batuk pada anak, pahamilah dulu bahwa BATUK bukanlah PENYAKIT. Batuk adalah gejala yang diciptakan oleh tubuh untuk mengeluarkan benda asing berupa virus/bakteri/debu dalam lendir/dahak dari dalam tubuh. Apa artinya? Ya, batuk adalah bagian dari sistem PERTAHANAN tubuh kita.
Lalu pahami juga bahwa obat-obatan yang ditujukan untuk meredakan batuk pada anak ternyata tidak terbukti efektif! Bahkan cenderung memiliki efek samping. Apa obat batuk paling manjur? Banyak minum jawabannya.
Apa penyebab tersering batuk pada anak?
Anda memiliki dua orang balita. Minggu lalu si sulung pulang sekolah membawa oleh-oleh batuk. Pekan ini si bungsu mulai batuk juga. Tidak berhenti di sini, Anda pun mulai merasakan tidak nyaman di tenggorokan. Apa penyebab batuk ping-pong yang hampir tiap bulan dialami anak-anak ini? Tidak lain dan tidak bukan: infeksi VIRUS yang akan SEMBUH SENDIRI seiring waktu. Ya. Infeksi virus jelas sama sekali tidak membutuhkan antibiotik.
Anda memiliki dua orang balita. Minggu lalu si sulung pulang sekolah membawa oleh-oleh batuk. Pekan ini si bungsu mulai batuk juga. Tidak berhenti di sini, Anda pun mulai merasakan tidak nyaman di tenggorokan. Apa penyebab batuk ping-pong yang hampir tiap bulan dialami anak-anak ini? Tidak lain dan tidak bukan: infeksi VIRUS yang akan SEMBUH SENDIRI seiring waktu. Ya. Infeksi virus jelas sama sekali tidak membutuhkan antibiotik.
Lalu bagaimana mengobatinya?
Jika dibuat daftar, berikut adalah penyebab batuk pada anak:
1. Selesma/common cold (rinovirus, adenovirus, RSV, dll)
2. Flu (virus influenza)
3. Alergi
4. Asma
5. Post-viral cough
6. Aspirasi benda asing
7. Pneumonia (virus/bakteri/jamur)
8. Bronkiolitis (RSV)
9. Pertusis (bakteri)
10. Croup
11. Tuberkulosis/TB (bakteri)
12. Psikogenik/stres psikologis
13. Dan lain-lain
2. Flu (virus influenza)
3. Alergi
4. Asma
5. Post-viral cough
6. Aspirasi benda asing
7. Pneumonia (virus/bakteri/jamur)
8. Bronkiolitis (RSV)
9. Pertusis (bakteri)
10. Croup
11. Tuberkulosis/TB (bakteri)
12. Psikogenik/stres psikologis
13. Dan lain-lain
Saya tidak akan membahas semua itu, tapi yang sering terjadi saja.
Pertama, selesma. Ya ternyata penyebab tersering batuk pada anak adalah selesma yang MURNI disebabkan oleh infeksi virus. Ada sekitar lebih dari 100 jenis virus yang dapat menyebabkan selesma. Sayangnya: selesma tidak ada obat anti-virus-nya. Ya, tidak ada satupun obat yang efektif dapat menyembuhkan selesma, padahal ini adalah penyebab tersering batuk pada anak. Kabar baiknya adalah: penyakit ini ringan dan sembuh sendiri seiring daya tahan tubuh (waktu).
Dulu pernah diusahakan menciptakan suatu vaksin yang dapat mencegah penyakit ini. Sayangnya tidak berhasil. Apa sebabnya? Terlalu banyak virus yang dapat menyebabkan common cold, dan uji klinisnya selalu gagal.
Apakah vaksin flu yang masuk dalam jadwal rutin imunisasi pada anak dapat membantu mengurangi terjadinya selesma? Ternyata tidak. Ya, jelas saja, vaksin flu membantu mencegah sakit influenza (penyebabnya HANYA VIRUS influenza saja) berat yang bisa menjadi pneumonia, tapi tidak mencegah selesma, karena virusnya beda.
Apakah vaksin flu yang masuk dalam jadwal rutin imunisasi pada anak dapat membantu mengurangi terjadinya selesma? Ternyata tidak. Ya, jelas saja, vaksin flu membantu mencegah sakit influenza (penyebabnya HANYA VIRUS influenza saja) berat yang bisa menjadi pneumonia, tapi tidak mencegah selesma, karena virusnya beda.
Apakah obat-obatan pereda gejala seperti antitusif (penekan refleks batuk) dan pengencer dahak (mukolitik) dapat membantu meredakan gejala? Silakan baca tulisan terdahulu saya tentang batuk-pilek.
Sampai kapan selesma dapat berlangsung? Kalau sudah batuk dan pilek lebih dari seminggu, bukankah harus ke dokter?
Ya, umumnya selesma sembuh sendiri dalam 1-2 minggu. Dengan syarat: TIDAK ADA orang lain di sekitarnya yang sakit selesma juga. Masalahnya adalah, pada kebanyakan kasus tidak seperti ini. Ambil contoh, anak kita yang berusia 4 tahun mendapatkan selesma dari kawannya di sekolah. Tidak lama kemudian, adiknya yang berumur 2 tahun tertular juga. Si kakak sudah hilang demamnya dan mulai mereda batuk-pileknya, eh si adik mulai mengalami demam. Lusanya si ayah dan ibu yang ikutan selesma. Satu rumah sakit selesma! Ketika si kakak seharusnya sudah sembuh, jadi berkepanjangan karena virus dari adik dan ayah-ibu kembali menyerang dirinya. Batuk pun berkepanjangan menjadi 2-3 minggu, bahkan 1 bulan. Kedua orangtua sudah bolak-balik ke dokter dengan sekian obat yang saya ceritakan di awal kisah 3 hari yang lalu. Tapi kok tidak sembuh juga? Jelas saja, virusnya masih ada dan berputar-putar di rumah. Antibiotik yang diberikan tidak mempan, karena yang seharusnya dibunuh adalah virus, bukan bakteri. Malahan anak mendapatkan antibiotik yang seharusnya tidak ia dapatkan. Inhalasi alias terapi uap yang isinya obat asma pun tidak manjur, karena memang si anak tidak sakit asma.
Ya, umumnya selesma sembuh sendiri dalam 1-2 minggu. Dengan syarat: TIDAK ADA orang lain di sekitarnya yang sakit selesma juga. Masalahnya adalah, pada kebanyakan kasus tidak seperti ini. Ambil contoh, anak kita yang berusia 4 tahun mendapatkan selesma dari kawannya di sekolah. Tidak lama kemudian, adiknya yang berumur 2 tahun tertular juga. Si kakak sudah hilang demamnya dan mulai mereda batuk-pileknya, eh si adik mulai mengalami demam. Lusanya si ayah dan ibu yang ikutan selesma. Satu rumah sakit selesma! Ketika si kakak seharusnya sudah sembuh, jadi berkepanjangan karena virus dari adik dan ayah-ibu kembali menyerang dirinya. Batuk pun berkepanjangan menjadi 2-3 minggu, bahkan 1 bulan. Kedua orangtua sudah bolak-balik ke dokter dengan sekian obat yang saya ceritakan di awal kisah 3 hari yang lalu. Tapi kok tidak sembuh juga? Jelas saja, virusnya masih ada dan berputar-putar di rumah. Antibiotik yang diberikan tidak mempan, karena yang seharusnya dibunuh adalah virus, bukan bakteri. Malahan anak mendapatkan antibiotik yang seharusnya tidak ia dapatkan. Inhalasi alias terapi uap yang isinya obat asma pun tidak manjur, karena memang si anak tidak sakit asma.
Lalu apa obatnya? Sabar. Ini obatnya.
Benarkah bila batuk yang berkepanjangan ini bisa jadi pneumonia? Atau "flek" paru?
Apakah selesma alias batuk pilek infeksi saluran napas akut atas akibat infeksi virus yang tidak diobati dapat berlanjut menjadi pneumonia?
Kita kenali dulu, apa itu pneumonia? Yaitu peradangan di jaringan paru-paru, tepatnya di alveoli (kantong-kantong udara kecil tempat bertukarnya gas oksigen masuk ke pembuluh darah), sehingga alveoli terisi cairan.
(Anyway, mungkin ini asal muasal istilah paru-paru basah. Padahal paru-paru kering enak dimakan rasanya).
Akibatnya pertukaran oksigen terganggu dan anak mengalami sesak napas. Ya, jadi beberapa kesimpulan:
- Selesma adalah ISPA atas, dan pneumonia adalah ISPA bawah
- Gejala pneumonia adalah sesak napas. Terlihat dari tarikan dalam di sela-sela iga, napas cepat, dan napas cuping hidung. Kondisi ini tidak dijumpai pada selesma/common cold
(Anyway, mungkin ini asal muasal istilah paru-paru basah. Padahal paru-paru kering enak dimakan rasanya).
Akibatnya pertukaran oksigen terganggu dan anak mengalami sesak napas. Ya, jadi beberapa kesimpulan:
- Selesma adalah ISPA atas, dan pneumonia adalah ISPA bawah
- Gejala pneumonia adalah sesak napas. Terlihat dari tarikan dalam di sela-sela iga, napas cepat, dan napas cuping hidung. Kondisi ini tidak dijumpai pada selesma/common cold
Pneumonia memang berawal dari ISPA atas. Anak mengalami selesma terlebih dahulu. Dalam 1-2 hari atau bisa juga lebih dari 1 minggu kemudian, anak mengalami sesak napas. Saat inilah anak dicurigai terkena pneumonia.
Jadi...selesma memang bisa berlanjut menjadi pneumonia. Tapi tidak semua selesma akan menjadi pneumonia. Dan ini tidak ada hubungannya dengan "diobati" atau tidak. (Lagipula apa obatnya selesma yang merupakan infeksi virus yang sembuh sendiri?)
Selesma yang berlangsung berminggu-minggu bisa saja tidak akan pernah menjadi pneumonia. Dan selesma yang berlangsung 1-2 hari bisa saja menjadi pneumonia.
Selesma yang berlangsung berminggu-minggu bisa saja tidak akan pernah menjadi pneumonia. Dan selesma yang berlangsung 1-2 hari bisa saja menjadi pneumonia.
Kesimpulannya: kenali gejala pneumonia. Kalau jelas selesma ya ditangani sebagai selesma. Kalau diagnosisnya pneumonia ya diobati sebagai pneumonia.
Badan kesehatan dunia alias WHO memang menganjurkan pemberian antibiotik pada pneumonia, meskipun tidak semua penyebab pneumonia adalah infeksi bakteri. Tetapi karena pada kondisi fasilitas kesehatan terbatas sulit membedakan pneumonia virus dengan bakteri, dan angka kematian akibat pneumonia cukup tinggi, maka pemberian antibiotik dibenarkan.
Apa saja memangnya kuman tersering penyebab pneumonia?
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pneumonia seringkali berawal dari infeksi saluran napas akut seperti selesma. Maka virusnya pun sama: rinovirus, adenovirus, dan RSV. Kita pahami bahwa infeksi virus, pneumonia sekalipun, sembuh dengan sendirinya dan tanpa antibiotik. Nah, pada kasus pneumonia berat yang merenggut banyak nyawa, antibiotik diberikan karena kemungkinan infeksi bakteri sebagai penyebab. Kuman terseringnya adalah Haemophilus influenzae tipe b (Hib) dan streptokokus pneumoniae alias pneumokokus. Obatnya tentu pemberian antibiotik. Menyadari pneumonia adalah penyakit infeksi yang menyebabkan kematian paling sering pada balita (bersama dengan diare), maka upaya pencegahan harus dilakukan. Salah satunya adalah pemberian imunisasi Hib yang alhamdulillah sudah tercakup dalam program imunisasi cuma-cuma dari pemerintah (kombinasi dengan vaksin DPT dan hepatitis B). Vaksin lainnya adalah pneumokokus konjugat (PCV) yang sayangnya masih mahal harganya (belum disubsidi pemerintah) dan serotipe kuman yang terkandung di dalam vaksin masih kadang diperdebatkan efektivitasnya.
Penyebab lain yang patut dipertimbangkan di masa ketika jumlah orangtua yang menolak anak-anaknya diimunisasi adalah pertusis. Ya pertusis alias batuk rejan kini diduga mengalami peningkatan kasus dan komplikasinya adalah pneumonia yang berujung kematian. Padahal penyakit ini bisa dicegah dengan vaksin DPT. Obat pertusis adalah antibiotik golongan makrolid.
Lalu bagaimana dengan kecurigaan batuk kronik lain akibat asma dan alergi? Apa petunjuk yang dapat mengarahkannya?
Merokok Menyebabkan Anemia!
Percaya dengan pernyataan di atas? Selama ini bahaya rokok dikaitkan dengan efek langsung dari kandungan asapnya yang terhirup masuk ke dalam saluran napas, baik oleh si perokoknya langsung, perokok pasif, second-hand atau third hand smoker. Tapi ada efek tidak langsung lain yang sering saya temui di lapangan.
Anemia, yang didefinisikan sebagai kadar hemoglobin darah di bawah 11 mg/dL, adalah kondisi yang dialami oleh banyak anal Indonesia. Jenis yang tersering dialami oleh anak Indonesia, maupun anak-anak di dunia, adalah anemia defisiensi besi. Jadi penyebab utama anemia pada anak di dunia adalah kekurangan zat besi, yang sebenarnya didapatkan dari makanan sehari-hari. Dengan kata lain, kondisi ini sangat terkait dengan asupan nutrisi.
Berdasarkan pengamatan sehari-hari, apalagi pada kelompok masyarakat menengah ke bawah, saya memperkirakan sekurang-kurangnya 50 persen anak balita yang saya temui mengalami anemia.
Kembali ke masalah nutrisi, sumber makanan kaya zat besi terutama didapatkan dari hewan, misalnya daging merah (red meat) dari sapi/kambing, dan hati ayam. Dan...umumnya harga daging lebih mahal daripada ikan dan sayuran. Sepanjang pengamatan saya, mayoritas masyarakat kurang mampu di negeri ini menomorduakan konsumsi daging. Mereka lebih mampu membeli sayur, telur, dan ikan. Tidak heran banyak anak Indonesia mengalami anemia.
Kembali ke masalah nutrisi, sumber makanan kaya zat besi terutama didapatkan dari hewan, misalnya daging merah (red meat) dari sapi/kambing, dan hati ayam. Dan...umumnya harga daging lebih mahal daripada ikan dan sayuran. Sepanjang pengamatan saya, mayoritas masyarakat kurang mampu di negeri ini menomorduakan konsumsi daging. Mereka lebih mampu membeli sayur, telur, dan ikan. Tidak heran banyak anak Indonesia mengalami anemia.
"Bu, anaknya mengalami " anemia" karena kurang makan daging." Saya jelaskan pada si Ibu apa anemia itu dan hubungannya dengan daging.
"Ya elah Dokter. Boro-boro makan daging. Paling dapat jatah daging kurban setahun sekali udah alhamdulillah." tanggap si Ibu polos.
"Bu, suaminya merokok tidak?" tanyaku.
"Iya Dok. Sehari bisa sampai sebungkus." Ia menceritakan kebiasaan suaminya yang hanya seorang buruh bangunan.
"Bu, bayangkan seandainya sebulan aja uang yang bapaknya pakai buat beli rokok dipakai untuk beli daging, mungkin anak Ibu nggak anemia seperti sekarang."
"Ya elah Dokter. Boro-boro makan daging. Paling dapat jatah daging kurban setahun sekali udah alhamdulillah." tanggap si Ibu polos.
"Bu, suaminya merokok tidak?" tanyaku.
"Iya Dok. Sehari bisa sampai sebungkus." Ia menceritakan kebiasaan suaminya yang hanya seorang buruh bangunan.
"Bu, bayangkan seandainya sebulan aja uang yang bapaknya pakai buat beli rokok dipakai untuk beli daging, mungkin anak Ibu nggak anemia seperti sekarang."
Inilah fenomena yang bisa dijumpai pada cukup banyak pria berkeluarga di kalangan ekonomi menengah ke bawah. Uangnya dihamburkan untuk beli rokok, sedangkan anak-anaknya kurang gizi dan mengalami anemia.
Sedih.
Friday, April 03, 2015
Pemberian Suplemen dan Antibiotik
Dok, anak saya usianya
hampir 5 tahun, tapi malas mengunyah sehingga setiap kali makan bisa
sampai satu jam. Dia pun enggan minum susu. Padahal saya sudah berusaha
telaten menyuapi dan rajin mengingatkan untuk minum susu. Untuk
meningkatkan staminanya, saya berikan dia biofos, madu, dan sari kurma.
Benarkah tindakan saya ini?
Sejak kecil anak saya juga sering batuk, Dok. Mungkinkah ini pengaruh dari asma yang saya idap? Jika batuknya agak berat, dokter selalu memberi antibiotik. Apa pemberian antibiotik suatu keharusan atau adakah cara lain? Terima kasih.
Retno, Bojonegoro
Ibu Retno, ada empat hal yang akan saya jawab. Pertama, anak Ibu sudah cukup besar, bukan bayi lagi. Coba amati mengapa ia membutuhkan waktu makan yang lama dan mengunyah lambat. Kondisi tersering adalah anak bosan makan nasi. Orangtua pun cenderung memberi label anak “susah makan” karena tidak mau makan nasi (mengingat nasi adalah makanan utama kebanyakan orang Indonesia).
Sebagian anak adalah pemilih makanan (picky eater), maka orangtua harus menyesuaikan keinginan dan selera makan anak, tanpa mengurangi kualitas nutrisinya. Tawarkan jenis makanan pengganti karbohidrat yang variatif, misalnya beras merah, kentang, gandum, jagung, dan sagu. Jangan lupa, lauk berupa protein dan lemak, serta pendamping sayur dan buah di tiap porsi makan.
Satu hal penting yang perlu kita pahami, minum susu tidaklah wajib. Maka jangan paksa anak untuk minum susu tiap hari bila ia tidak menyukainya. Susu dibutuhkan sebagai sumber kalsium, dan Ibu dapat mengganti kalsium dari sumber makanan hewani lainnya. Pemberian makanan yang bervariasi diharapkan dapat meningkatkan selera makan anak.
Kedua, penyebab batuk berulang harus ditelusuri, salah satunya dengan konsultasi ke dokter. Asma mungkin saja salah satu penyebabnya, namun orangtua yang asma tidak secara langsung menurunkannya pada anak. Apa ada orang dewasa yang merokok di sekeliling anak? Faktor ini sering terlupakan sebagai penyebab batuk anak, yaitu sebagai second-hand bahkan third-hand smoker.
Ketiga, sampai saat ini belum ada satu pun suplemen yang terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh atau stamina anak. Prinsipnya, berikan makanan sesuai kebutuhan nutrisi anak, yang mencakup makronutrien (karbohidrat, protein, dan lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral). Ibu bisa membuka situs www [dot] choosemyplate [dot] gov untuk melihat contoh-contohnya.
Yakinlah, selama anak Ibu tidak mengalami penyakit yang menekan daya tahan tubuh seperti HIV, leukemia, dan kanker lain, atau minum obat-obatan steroid jangka panjang, maka daya tahan anak baik-baik saja. Sering mengalami batuk pilek tidak berarti daya tahan tubuh lemah. Anak yang sudah bersekolah jadi sering sakit karena tertular infeksi virus berulang dari kawan-kawannya. Perlu diingat, infeksi virus dapat sembuh sendiri seiring waktu.
Terakhir, antibiotik hanya diberikan untuk mengatasi infeksi bakteri. Sebagian besar penyakit infeksi pada manusia, termasuk anak-anak, disebabkan infeksi virus yang sama sekali tidak membutuhkan antibiotik. Pemberian antibiotik berulang justru dapat membunuh bakteri-bakteri baik di tubuh anak dan menjadikannya makin rentan sakit. Batuk “agak berat” belum tentu butuh antibiotik, apabila penyebabnya bukan infeksi bakteri. Ibu bisa mempelajari masalah bahaya antibiotik di situs www [dot] react-yop [dot] or [dot] id, www [dot] milissehat [dot] web [dot] id, dan blog saya, www [dot] arifianto [dot] blogspot [dot] com.
*Rubrik ini diasuh oleh dr. Arifianto, SpA atau akrab dipanggil Dokter Apin. Ia juga menulis buku "Orangtua Cermat Anak Sehat" dan Buku Pro Kontra Imunisasi
Sejak kecil anak saya juga sering batuk, Dok. Mungkinkah ini pengaruh dari asma yang saya idap? Jika batuknya agak berat, dokter selalu memberi antibiotik. Apa pemberian antibiotik suatu keharusan atau adakah cara lain? Terima kasih.
Retno, Bojonegoro
Ibu Retno, ada empat hal yang akan saya jawab. Pertama, anak Ibu sudah cukup besar, bukan bayi lagi. Coba amati mengapa ia membutuhkan waktu makan yang lama dan mengunyah lambat. Kondisi tersering adalah anak bosan makan nasi. Orangtua pun cenderung memberi label anak “susah makan” karena tidak mau makan nasi (mengingat nasi adalah makanan utama kebanyakan orang Indonesia).
Sebagian anak adalah pemilih makanan (picky eater), maka orangtua harus menyesuaikan keinginan dan selera makan anak, tanpa mengurangi kualitas nutrisinya. Tawarkan jenis makanan pengganti karbohidrat yang variatif, misalnya beras merah, kentang, gandum, jagung, dan sagu. Jangan lupa, lauk berupa protein dan lemak, serta pendamping sayur dan buah di tiap porsi makan.
Satu hal penting yang perlu kita pahami, minum susu tidaklah wajib. Maka jangan paksa anak untuk minum susu tiap hari bila ia tidak menyukainya. Susu dibutuhkan sebagai sumber kalsium, dan Ibu dapat mengganti kalsium dari sumber makanan hewani lainnya. Pemberian makanan yang bervariasi diharapkan dapat meningkatkan selera makan anak.
Kedua, penyebab batuk berulang harus ditelusuri, salah satunya dengan konsultasi ke dokter. Asma mungkin saja salah satu penyebabnya, namun orangtua yang asma tidak secara langsung menurunkannya pada anak. Apa ada orang dewasa yang merokok di sekeliling anak? Faktor ini sering terlupakan sebagai penyebab batuk anak, yaitu sebagai second-hand bahkan third-hand smoker.
Ketiga, sampai saat ini belum ada satu pun suplemen yang terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh atau stamina anak. Prinsipnya, berikan makanan sesuai kebutuhan nutrisi anak, yang mencakup makronutrien (karbohidrat, protein, dan lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral). Ibu bisa membuka situs www [dot] choosemyplate [dot] gov untuk melihat contoh-contohnya.
Yakinlah, selama anak Ibu tidak mengalami penyakit yang menekan daya tahan tubuh seperti HIV, leukemia, dan kanker lain, atau minum obat-obatan steroid jangka panjang, maka daya tahan anak baik-baik saja. Sering mengalami batuk pilek tidak berarti daya tahan tubuh lemah. Anak yang sudah bersekolah jadi sering sakit karena tertular infeksi virus berulang dari kawan-kawannya. Perlu diingat, infeksi virus dapat sembuh sendiri seiring waktu.
Terakhir, antibiotik hanya diberikan untuk mengatasi infeksi bakteri. Sebagian besar penyakit infeksi pada manusia, termasuk anak-anak, disebabkan infeksi virus yang sama sekali tidak membutuhkan antibiotik. Pemberian antibiotik berulang justru dapat membunuh bakteri-bakteri baik di tubuh anak dan menjadikannya makin rentan sakit. Batuk “agak berat” belum tentu butuh antibiotik, apabila penyebabnya bukan infeksi bakteri. Ibu bisa mempelajari masalah bahaya antibiotik di situs www [dot] react-yop [dot] or [dot] id, www [dot] milissehat [dot] web [dot] id, dan blog saya, www [dot] arifianto [dot] blogspot [dot] com.
*Rubrik ini diasuh oleh dr. Arifianto, SpA atau akrab dipanggil Dokter Apin. Ia juga menulis buku "Orangtua Cermat Anak Sehat" dan Buku Pro Kontra Imunisasi
Belajar dari Orangtua Shalih
Menjadi seorang dokter anak adalah sebuah nikmat untuk saya. Bagaimana
tidak? Hampir setiap hari saya bertemu dengan anak-anak yang sakit dalam
berbagai bentuk. Mulai dari yang paling ringan, sekedar batuk-pilek
saja, sampai dengan yang berat, semacam infeksi susunan saraf pusat atau
radang paru-paru berat yang membutuhkan perawatan di ruang rawat
intensif. Tidak hanya ini, kondisi keseharian anak-anak ini pun
bermacam-macam. Tidak sedikit yang berasal dari keluarga miskin papa,
sehingga ketika menghadapi anaknya yang harus dirawat, orangtuanya harus
meninggalkan pekerjaannya untuk sementara dan otomatis kehilangan
sumber penghasilannya, yang sebenarnya dalam kondisi sehari-harinya pun
belum tentu mencukupi untuk hidup esok hari. Kondisi ini kadang
diperumit dengan anak-anak mereka yang mengalami keterlambatan
perkembangan atau palsi serebral. Mereka harus disuapi, dimandikan,
diawasi sepanjang waktu, kadang mengalami episode kejang berulang, yang
semuanya membutuhkan banyak waktu dan perhatian. Kondisi ini berlangsung
bertahun-tahun, karena anak-anak ini memanh tidak dapat berkembang
layaknya anak-anak normal lainnya. Semua ini selalu membuat saya
bersyukur dengan kondisi yang saya dan keluarga alami. Kami memiliki
anak-anak yang sehat tidak kurang suatu apa pun.
Hal lain yang membuat saya bersyukur adalah beberapa orangtua pasien yang saya jumpai. Ya, mereka memberikan banyak pelajaran kepada saya selaku sesama orangtua. Mereka adalah para orangtua yang shalih. Ada beberapa kisah.
Beberapa tahun yang lalu saat masih menjalani pendidikan spesialisasi, saya merawat seorang anak berusia 2 tahun dengan kanker di otaknya. Awalnya gadis kecil ini secara bertahap menurun kemampuan berjalannya. Singkat cerita, tumor ganas menghuni lokasi yang dekat dengan batang otaknya, dan ia dirawat di ruang rawat intensif dengan bantuan ventilator karena tumot menekan batang otak yang merupakan pusat napas.
Ibu gadis kecil ini adalah seorang hafidzah--hafal Quran 30 juz. Ayah si gadis adalah pria shalih yang meskipun tidak berlatar pendidikan khusus agama, tetapi kadang menjadi imam shalat berjamaah di masjid dengan hafalan Quran yang cukup baik. Allah memang mengasihi hamba-hamba-Nya yang shalih dan mengujinya. Saya terkesan dengan ketabahan dan kepasrahan mereka menghadapi anak tercintanya, hingga sang gadis menemui ajalnya. Tidak ada kesedihan berlebihan atau penyesalan menghadapi ujian itu. Hanya ayat-ayat Quran yang senantiasa terlantun dari lisan sang Ayah saat menemani gadis ciliknya. Bocah ini meninggal di hari Jumat. A good day to die.
Beberapa pekan lalu, saya menjumpai lagi pasangan orangtua shalih. Curahan hati sang bunda saya ceritakan di bawah. Saya sudah mendapatkan ijin darinya. Yang membuat saya terkesan adalah kepasrahan total sang bunda ketika saya harus menceritakan hasil CT Scan putrinya. Wahai Ibu, saya belajar banyak dari Ibu dan suami. Semoga Allah memberikan kesembuhan untuk ananda dan mengangkat derajat Ibu dan keluarga. Terima kasih atas pelajaran yang sudah diberikan kepada saya, akan arti hidup yang sesungguhnya adalah penyerahan diri kepada Allah semata.
Inilah curahan hatinya...
"Sofiyyah Qurrota Aini
Dalam nama ada doa, begitu juga dengan namamu,kami berharap engkau menjadi perempuan seperti Sofiyyah binti Huyay.ummul mukminin dari kalangan yahudi yang mungil, cantik dan cerdas.lalu menjadi penyejuk mata ummi dan abah.
"Aini tau ga? Kamu itu Hadiah terindah dari Allah", itulah yang selalu kubisikkan padamu di malam-malam kau jelang berbaring.dan matamu yang indah akan berkejab kejab dengan sesungging senyum yang lebar.aku tau kamu bahagia.
Seperti namamu, engkau menjadi anak yg mungil,cantik,cerdas, ceria dan sholehah. Bukan hanya yg ummi rasakan, tapi juga dirasakanoleh teman dan guru-gurumu.harapan besar terbentang di hadapanmu. Apalagi ketika 3 bulan lalu kau meminta untuk tidak meneruskan sekolah. "Aini mau apa?",tanyaku. "Aku mau belajar tahfidz dan bahasa arab aja Mi". Jawabmu tegas.
Dan seperti di sekolah TK dan SD mu,di tempat kau mondok pun engkau jadi penyejuk mata ustadz dan ustadzahmu.
Namun itu semua hanya berlangsung sekitar 3minggu. Bermula ketika muntahmu makin menghebat dan fisikmu yang semakin melemah."ada apa dengan anakku?dokter hanya mendiagnosis dia menderita gastritis dan typhus,tp kenapa kondisinya semkin melemah? Semakin sering tidur? Penglihatan yang kabur dan gelisah setiap malam.ada apa dengan dirimu cintaku?.tapi, subhanallah, tak pernah ku dengar satu kata keluhan pun dari bibirmu.kau hanya meringkuk sambil memeluk kedua lututmu."pusing nak?",dan kau hanya mengangguk.
Atau kau pijat pijat sendiri tangan dan kakimu. "Kenapa mba?pegel ya?",dankamu hanya menjawab "iya". Ketika setiap malam kau gelisah tidak bisa tidur dan ummi berusaha nemenin,kamu cuma bilang,"ummi ga usah bangun, tidur aja". Pada umurmu yang baru 7 tahun,kau simpan sendiri penderitaan sakitmu.Subhanallah
3 minggu sudah sejak vonis itu ummi dan abah dengar. Medulla Blastoma. Nama asing yang meluluhkan lantakkan hati ummi dan abah. Mengguncang gunung harapan, mengaburkan mimpi indah dan menciptakan sungai sungai di kedua mata kami.
Sofiyyah Qurrota Aini
Perempuan mungil,cantik dan cerdas penyejuk mata kami. Engkau memang hadiah terindah dari Allah. Tiap kali ummi membopongmu,menyuapimu,memandikanmu,menyelimutimu, ummi rasakan kebahagiaan dibalik hati ummi yang menangis. Engkaulah anak pilihan Allah di antara jutaan anak lain di dunia ini.Allah pilihkan engkau untuk menjadi ladang pahala ummi dan abah.Allah pilihkan engkau untuk mengajari ummi dan abah arti kesabaran dan keikhlasan.Engkau memang bukan milik kami,engkau hanya titipan yang harus kami jaga demi kebahagiaan akhirat kami.
Ketegaranmu adalah ketegaran kami juga nak.
Perjuangan kita di dunia ini baru dimulai nak ,mari kita berjuang bersama-sama untuk meraih janji Allah terhadap orang-orang yang sabar.Surga Firdaus.
Amiin.."
Hal lain yang membuat saya bersyukur adalah beberapa orangtua pasien yang saya jumpai. Ya, mereka memberikan banyak pelajaran kepada saya selaku sesama orangtua. Mereka adalah para orangtua yang shalih. Ada beberapa kisah.
Beberapa tahun yang lalu saat masih menjalani pendidikan spesialisasi, saya merawat seorang anak berusia 2 tahun dengan kanker di otaknya. Awalnya gadis kecil ini secara bertahap menurun kemampuan berjalannya. Singkat cerita, tumor ganas menghuni lokasi yang dekat dengan batang otaknya, dan ia dirawat di ruang rawat intensif dengan bantuan ventilator karena tumot menekan batang otak yang merupakan pusat napas.
Ibu gadis kecil ini adalah seorang hafidzah--hafal Quran 30 juz. Ayah si gadis adalah pria shalih yang meskipun tidak berlatar pendidikan khusus agama, tetapi kadang menjadi imam shalat berjamaah di masjid dengan hafalan Quran yang cukup baik. Allah memang mengasihi hamba-hamba-Nya yang shalih dan mengujinya. Saya terkesan dengan ketabahan dan kepasrahan mereka menghadapi anak tercintanya, hingga sang gadis menemui ajalnya. Tidak ada kesedihan berlebihan atau penyesalan menghadapi ujian itu. Hanya ayat-ayat Quran yang senantiasa terlantun dari lisan sang Ayah saat menemani gadis ciliknya. Bocah ini meninggal di hari Jumat. A good day to die.
Beberapa pekan lalu, saya menjumpai lagi pasangan orangtua shalih. Curahan hati sang bunda saya ceritakan di bawah. Saya sudah mendapatkan ijin darinya. Yang membuat saya terkesan adalah kepasrahan total sang bunda ketika saya harus menceritakan hasil CT Scan putrinya. Wahai Ibu, saya belajar banyak dari Ibu dan suami. Semoga Allah memberikan kesembuhan untuk ananda dan mengangkat derajat Ibu dan keluarga. Terima kasih atas pelajaran yang sudah diberikan kepada saya, akan arti hidup yang sesungguhnya adalah penyerahan diri kepada Allah semata.
Inilah curahan hatinya...
"Sofiyyah Qurrota Aini
Dalam nama ada doa, begitu juga dengan namamu,kami berharap engkau menjadi perempuan seperti Sofiyyah binti Huyay.ummul mukminin dari kalangan yahudi yang mungil, cantik dan cerdas.lalu menjadi penyejuk mata ummi dan abah.
"Aini tau ga? Kamu itu Hadiah terindah dari Allah", itulah yang selalu kubisikkan padamu di malam-malam kau jelang berbaring.dan matamu yang indah akan berkejab kejab dengan sesungging senyum yang lebar.aku tau kamu bahagia.
Seperti namamu, engkau menjadi anak yg mungil,cantik,cerdas, ceria dan sholehah. Bukan hanya yg ummi rasakan, tapi juga dirasakanoleh teman dan guru-gurumu.harapan besar terbentang di hadapanmu. Apalagi ketika 3 bulan lalu kau meminta untuk tidak meneruskan sekolah. "Aini mau apa?",tanyaku. "Aku mau belajar tahfidz dan bahasa arab aja Mi". Jawabmu tegas.
Dan seperti di sekolah TK dan SD mu,di tempat kau mondok pun engkau jadi penyejuk mata ustadz dan ustadzahmu.
Namun itu semua hanya berlangsung sekitar 3minggu. Bermula ketika muntahmu makin menghebat dan fisikmu yang semakin melemah."ada apa dengan anakku?dokter hanya mendiagnosis dia menderita gastritis dan typhus,tp kenapa kondisinya semkin melemah? Semakin sering tidur? Penglihatan yang kabur dan gelisah setiap malam.ada apa dengan dirimu cintaku?.tapi, subhanallah, tak pernah ku dengar satu kata keluhan pun dari bibirmu.kau hanya meringkuk sambil memeluk kedua lututmu."pusing nak?",dan kau hanya mengangguk.
Atau kau pijat pijat sendiri tangan dan kakimu. "Kenapa mba?pegel ya?",dankamu hanya menjawab "iya". Ketika setiap malam kau gelisah tidak bisa tidur dan ummi berusaha nemenin,kamu cuma bilang,"ummi ga usah bangun, tidur aja". Pada umurmu yang baru 7 tahun,kau simpan sendiri penderitaan sakitmu.Subhanallah
3 minggu sudah sejak vonis itu ummi dan abah dengar. Medulla Blastoma. Nama asing yang meluluhkan lantakkan hati ummi dan abah. Mengguncang gunung harapan, mengaburkan mimpi indah dan menciptakan sungai sungai di kedua mata kami.
Sofiyyah Qurrota Aini
Perempuan mungil,cantik dan cerdas penyejuk mata kami. Engkau memang hadiah terindah dari Allah. Tiap kali ummi membopongmu,menyuapimu,memandikanmu,menyelimutimu, ummi rasakan kebahagiaan dibalik hati ummi yang menangis. Engkaulah anak pilihan Allah di antara jutaan anak lain di dunia ini.Allah pilihkan engkau untuk menjadi ladang pahala ummi dan abah.Allah pilihkan engkau untuk mengajari ummi dan abah arti kesabaran dan keikhlasan.Engkau memang bukan milik kami,engkau hanya titipan yang harus kami jaga demi kebahagiaan akhirat kami.
Ketegaranmu adalah ketegaran kami juga nak.
Perjuangan kita di dunia ini baru dimulai nak ,mari kita berjuang bersama-sama untuk meraih janji Allah terhadap orang-orang yang sabar.Surga Firdaus.
Amiin.."
Bagaimana membentuk habit agar tidak mudah memberikan antibiotik?
Saya terinspirasi untuk menulis ini selagi membaca buku How to Master
Your Habits tulisan Ustadz Felix Y. Siauw. Habits alias kebiasaan,
ternyata memegang peran penting dalam kehidupan kita. Bahkan habits, yg
dibentuk oleh latihan (exercise) dan pengulangan (repetition), dapat
mengendalikan hidup kita. Salah satunya adalah habit dalam peresepan
obat oleh dokter.
Kita tahu mayoritas dokter di Indonesia masih mudah meresepkan antibiotik (AB), meskipun bisa jadi tidak ada indikasinya. Batuk pilek karena infeksi virus diberi AB. Diare tanpa darah karena infeksi virus diberikan AB. Demam lebih dari 3 hari karena infeksi virus, diresepkan AB juga. Apa kira-kira alasan dokter yg meresepkan?
"Kuman di Indonesia sebagai negara berkembang berbeda dengan kuman di negara maju. Di sini banyak infeksi bakteri, jadi harus diberi AB."
"Waduh, Indonesia beda dengan luar negeri. Sudah banyak kuman yg kebal karena pemberian AB selama ini, nanti tidak sembuh kalau tidak dikasih AB."
Dan masih banyak alasan lainnya. Begitu juga dengan pasiennya sendiri, terkadang bila tidak diresepkan AB, malah meminta. "Saya sudah berobat ke bidan, ke dokter 2 kali, tapi kok anak saya masih belum sembuh batuknya. Saya sekarang ke dokter spesialis kok sama saja, tidak dikasih AB." (Padahal dari dokter dan bidan sebelumnya malah sudah diberi AB segala rupa tapi belum sembuh juga. Ya iyalah, banyak yg batuk pilek di rumahnya jadi mudah tertular dan belum sembuh).
Seorang kawan bahkan pernah memberikan sarannya pada saya, yg kurang lebih seperti ini: "Pin, nanti kalo ente di RSUD, tidak sama dengan pasien-pasien yg kelasnya menengah ke atas. Kalo pasien dirawat dan tidak dapat AB, bisa makin lama pulihnya."
Well, let's see. I have my own "habit". Not just a habit, of course. But how to make a diagnosis and treat patient, based on years of training, facing patients, and SHOULD BE based on Evidence-based guidelines, of course.
Habit yg dibentuk atas kepercayaan terhadap guidelines, EBM, dan jam terbang pemantauan pasien dengan terapi yg sudah diberikan tentunya berbeda dengan habit mudahnya memberi AB karena ke-tidak-pede-an bila tidak meresepkannya.
Contoh lain adalah diagnosis menentukan perlu tidaknya cek laboratorium. Tentunya tidak semua demam lebih dari 3 hari harus dicek lab, bukan? Karena tidak semua demam lebih dari 3 hari dicurigai DBD.
Saya tipe orang yg mudah percaya dengan teori yg diberikan. Bukankah dokter harus percaya dengan teori yg didapatkannya saat belajar? Bukankah guideline dan EBM disusun berdasarkan banyak penelitian dan dapat dikritisi setting penelitiannya, untuk dapat dicocokkan dengan ke-mampu-laksana-annya di tempat praktik kita? Selama bertahun-tahun saya mencoba "mempercayai" guidelines dan melaksanakannya. Kalau tidak butuh AB ya jangan diberikan. Ini habit yg coba dibentuk.
Saya lalu coba menerapkannya di setting tempat dg banyak pasien low-socioeconomic class seperti di RSUD. Hey, ternyata sama saja. Mau pasiennya kaya atau miskin, kumannya sepertinya sama saja. Jadi semua back to guidelines. Habit yg dibentuk sesuai guidelines akan melahirkan outcome sesuai yg diperkirakan. Pasien tidak lebih lama juga length of stay di RS. Sembuhnya sama juga. Well, meskipun harus diakui, ada sebagian kecil kasus yg di luar dugaan. Nggak nyangka kalo ini DBD, padahal awalnya batuk pilek. Atau ternyata infeksi bakteri yg butuh AB, padahal awalnya yakin banget infeksi virus. Kasus-kasus "kecolongan" seperti ini tentunya jarang. Berlaku hukum percaya dulu dengan yg mayoritas, baru ke yg minoritas.
Sebaliknya, habit yg dibentuk untuk mudah meresepkan AB untuk kasus-kasus yg sebenarnya infeksi virus akan melahirkan outcome "pasien susah sembuh bila tidak dapat AB". Patokan ini berlaku juga untuk pasien ya: jangan minta AB kalo tidak terindikasi. Makanya, belajar dulu mengenai AB.
Mohon maaf bila tidak berkenan. Mohon koreksi
Kita tahu mayoritas dokter di Indonesia masih mudah meresepkan antibiotik (AB), meskipun bisa jadi tidak ada indikasinya. Batuk pilek karena infeksi virus diberi AB. Diare tanpa darah karena infeksi virus diberikan AB. Demam lebih dari 3 hari karena infeksi virus, diresepkan AB juga. Apa kira-kira alasan dokter yg meresepkan?
"Kuman di Indonesia sebagai negara berkembang berbeda dengan kuman di negara maju. Di sini banyak infeksi bakteri, jadi harus diberi AB."
"Waduh, Indonesia beda dengan luar negeri. Sudah banyak kuman yg kebal karena pemberian AB selama ini, nanti tidak sembuh kalau tidak dikasih AB."
Dan masih banyak alasan lainnya. Begitu juga dengan pasiennya sendiri, terkadang bila tidak diresepkan AB, malah meminta. "Saya sudah berobat ke bidan, ke dokter 2 kali, tapi kok anak saya masih belum sembuh batuknya. Saya sekarang ke dokter spesialis kok sama saja, tidak dikasih AB." (Padahal dari dokter dan bidan sebelumnya malah sudah diberi AB segala rupa tapi belum sembuh juga. Ya iyalah, banyak yg batuk pilek di rumahnya jadi mudah tertular dan belum sembuh).
Seorang kawan bahkan pernah memberikan sarannya pada saya, yg kurang lebih seperti ini: "Pin, nanti kalo ente di RSUD, tidak sama dengan pasien-pasien yg kelasnya menengah ke atas. Kalo pasien dirawat dan tidak dapat AB, bisa makin lama pulihnya."
Well, let's see. I have my own "habit". Not just a habit, of course. But how to make a diagnosis and treat patient, based on years of training, facing patients, and SHOULD BE based on Evidence-based guidelines, of course.
Habit yg dibentuk atas kepercayaan terhadap guidelines, EBM, dan jam terbang pemantauan pasien dengan terapi yg sudah diberikan tentunya berbeda dengan habit mudahnya memberi AB karena ke-tidak-pede-an bila tidak meresepkannya.
Contoh lain adalah diagnosis menentukan perlu tidaknya cek laboratorium. Tentunya tidak semua demam lebih dari 3 hari harus dicek lab, bukan? Karena tidak semua demam lebih dari 3 hari dicurigai DBD.
Saya tipe orang yg mudah percaya dengan teori yg diberikan. Bukankah dokter harus percaya dengan teori yg didapatkannya saat belajar? Bukankah guideline dan EBM disusun berdasarkan banyak penelitian dan dapat dikritisi setting penelitiannya, untuk dapat dicocokkan dengan ke-mampu-laksana-annya di tempat praktik kita? Selama bertahun-tahun saya mencoba "mempercayai" guidelines dan melaksanakannya. Kalau tidak butuh AB ya jangan diberikan. Ini habit yg coba dibentuk.
Saya lalu coba menerapkannya di setting tempat dg banyak pasien low-socioeconomic class seperti di RSUD. Hey, ternyata sama saja. Mau pasiennya kaya atau miskin, kumannya sepertinya sama saja. Jadi semua back to guidelines. Habit yg dibentuk sesuai guidelines akan melahirkan outcome sesuai yg diperkirakan. Pasien tidak lebih lama juga length of stay di RS. Sembuhnya sama juga. Well, meskipun harus diakui, ada sebagian kecil kasus yg di luar dugaan. Nggak nyangka kalo ini DBD, padahal awalnya batuk pilek. Atau ternyata infeksi bakteri yg butuh AB, padahal awalnya yakin banget infeksi virus. Kasus-kasus "kecolongan" seperti ini tentunya jarang. Berlaku hukum percaya dulu dengan yg mayoritas, baru ke yg minoritas.
Sebaliknya, habit yg dibentuk untuk mudah meresepkan AB untuk kasus-kasus yg sebenarnya infeksi virus akan melahirkan outcome "pasien susah sembuh bila tidak dapat AB". Patokan ini berlaku juga untuk pasien ya: jangan minta AB kalo tidak terindikasi. Makanya, belajar dulu mengenai AB.
Mohon maaf bila tidak berkenan. Mohon koreksi
Tulisan yang tak saya masukkan ke dalam buku Pro Kontra Imunisasi
Pada
bulan Januari 1925, wabah difteri merebak di Alaska. Beberapa anak suku
Inuit di Nome, Alaska terdiagnosis difteri, penyakit mematikan yang
masih cukup banyak menjangkiti warga di berbagai belahan dunia.
Satu-satunya upaya mengatasi difteri adalah menyuntikkan anti-toksin
kepada seluruh penderitanya. Tanpa obat ini, difteri akan makin menyebar
luas dan menginfeksi lebih banyak orang, membahayakan seluruh penduduk
Nome. Telegraf permohonan bantuan dikirimkan ke berbagai kota di sekitar
yang mungkin menyediakan anti-toksin, tetapi hanya satu RS di
Anchorage, berjarak 1.000 mil dari Nome, yang menyediakan obat ini.
Kendala terbesar adalah transportasi. Kereta api hanya mampu membawa
obat-obatan sampai kota Nenana. Perjalanan udara yang seharusnya menjadi
andalan selanjutnya harus terhenti di hanggar pesawat, akibat cuaca
ganas di musim dingin. Jalan keluarpenyaluran anti-toksin dari Nenana ke
Nome (sejauh 674 mil) harus segera ditemukan.
Tersebutlah nama Balto, seekor anjing Siberian husky yang namanya dikenal saat ini sebagai sosok yang berhasil membawa anti-toksin difteri hingga ke Nome. Ya, akhirnya diputuskan upaya tercepat dan paling memungkinkan membawa anti-toksin menggunakan pasukan anjing (dog sled team). Lebih dari 20 orang pengendali anjing dan pasukan anjing-anjingnya terlibat dalam perjalanan heroik ini. Membawa paket anti-toksin difteri, mereka melawan dinginnyadatarankutub utarayang dapat mencapai minus 40 derajat fahrenheit, ditambah dengan kuatnya hembusan angin dingin yang dengan mudahnya melumpuhkan pasukan anjing dan pengendalinya.
Pada tanggal 1 Februari 1925, paket berisi anti-toksin diserahkan untuk yang terakhir kalinya kepada Gunnar Kassen di desa Bluff. Pasukan anjing Kassen dipimpin oleh anjing bernama Balto, yang harus berhasil mencapai Nome dan menyerahkan paket dalam keadaan baik. Di dalam perjalananmenuju titik akhir, pasukan Balto menghadapi suhu ekstrem minus 50 derajat dan harus melawan angin berkecepatan 50 mph. Kassen tak mampu menentukan arah perjalanan. Dalam kondisi kritis, Balto mampu menentukan arah perjalanan dengan tepat mengikuti nalurinya. Setelah melalui perjalanan melelahkan selama 20 jam, Balto berhasil mencapai tujuanpada tanggal 2 Februari. Anti-toksin difteri mencapai tujuan dengan selamat setelah 7 hari meninggalkan Anchorage dan 127,5 jam pasca keberangkatan dari Nenana.
Kisah heroik Balto menunjukkan upaya penyelamatan nyawa manusia menggunakan vaksin dan anti-toksin sebagai salah satu keberhasilan besar manusia di bidang kemanusiaan. Berbagai upaya telah dikerahkan oleh banyak orang di berbagai negara, termasuk Indonesia, selama puluhan tahun, untuk mendukung keberhasilan program imunisasi. Karena mereka semua memahami: imunisasi terbukti menyelamatkan nyawa.
Simak kisah Ewan McGregor melintasi berbagai belahan dunia untuk mengantarkan vaksin polio, bagaimana polio akhirnya dapat dimusnahkan dari bumi Indonesia, dan pengakuan seorang muslim Nigeria yang menyesal telah menolak imunisasi hanya di Buku Pro Kontra Imunisasi
Arifianto, Juli 2014
Tersebutlah nama Balto, seekor anjing Siberian husky yang namanya dikenal saat ini sebagai sosok yang berhasil membawa anti-toksin difteri hingga ke Nome. Ya, akhirnya diputuskan upaya tercepat dan paling memungkinkan membawa anti-toksin menggunakan pasukan anjing (dog sled team). Lebih dari 20 orang pengendali anjing dan pasukan anjing-anjingnya terlibat dalam perjalanan heroik ini. Membawa paket anti-toksin difteri, mereka melawan dinginnyadatarankutub utarayang dapat mencapai minus 40 derajat fahrenheit, ditambah dengan kuatnya hembusan angin dingin yang dengan mudahnya melumpuhkan pasukan anjing dan pengendalinya.
Pada tanggal 1 Februari 1925, paket berisi anti-toksin diserahkan untuk yang terakhir kalinya kepada Gunnar Kassen di desa Bluff. Pasukan anjing Kassen dipimpin oleh anjing bernama Balto, yang harus berhasil mencapai Nome dan menyerahkan paket dalam keadaan baik. Di dalam perjalananmenuju titik akhir, pasukan Balto menghadapi suhu ekstrem minus 50 derajat dan harus melawan angin berkecepatan 50 mph. Kassen tak mampu menentukan arah perjalanan. Dalam kondisi kritis, Balto mampu menentukan arah perjalanan dengan tepat mengikuti nalurinya. Setelah melalui perjalanan melelahkan selama 20 jam, Balto berhasil mencapai tujuanpada tanggal 2 Februari. Anti-toksin difteri mencapai tujuan dengan selamat setelah 7 hari meninggalkan Anchorage dan 127,5 jam pasca keberangkatan dari Nenana.
Kisah heroik Balto menunjukkan upaya penyelamatan nyawa manusia menggunakan vaksin dan anti-toksin sebagai salah satu keberhasilan besar manusia di bidang kemanusiaan. Berbagai upaya telah dikerahkan oleh banyak orang di berbagai negara, termasuk Indonesia, selama puluhan tahun, untuk mendukung keberhasilan program imunisasi. Karena mereka semua memahami: imunisasi terbukti menyelamatkan nyawa.
Simak kisah Ewan McGregor melintasi berbagai belahan dunia untuk mengantarkan vaksin polio, bagaimana polio akhirnya dapat dimusnahkan dari bumi Indonesia, dan pengakuan seorang muslim Nigeria yang menyesal telah menolak imunisasi hanya di Buku Pro Kontra Imunisasi
Arifianto, Juli 2014
Korban Serangan Iklan
Orang Indonesia tidak bisa lepas dari kudapan. Bahkan, kita orang
dewasa, menggemari jajanan, apa pun jenisnya. Hidup tanpa jajan, rasanya
seperti misi yang mustahil. Kita kerap menilai jajanan kemasan pabrikan
lebih aman dan sehat. Padahal, menurut dokter spesialis anak, dr.
Arifianto SpA, tidak demikian. Kalaupun jenis makanan itu aman,
menggunakan gula, garam, pewarna, dan pengawet sesuai dengan batas yang
ditentukan, makanan itu bisa disebut ‘safe’, tapi belum tentu ‘healthy’.
Untuk itu, kita perlu menelisik lebih jauh, apa sebetulnya yang disebut jajanan sehat. Para praktisi kedokteran merujuk pola makan yang baik menurut food plate (di situs choosemyplate dot gov), yaitu makanan yang seimbang karbohidrat kompleks, protein, sayuran, dan buah.
Buat anak-anak, ada meal time dan snack time. “Snack time sehat itu berupa jajanan rendah kalori dan tinggi serat. Ujung-ujungnya banyak sayur dan buah juga. Memang itu diet yang benar,” jelas dr. Arifianto, yang mengatakan, gemuk dan kurusnya anak belum tentu karena faktor makanan, bisa juga karena faktor genetis.
Mengenai berapa banyak dan berapa kali sehari anak mengonsumsi snack, dr. Arifianto berpendapat, “Prinsipnya, tiga kali makan, dua kali camilan. Tapi, namanya anak, dia makan kalau dia lapar. They eat what they see. Bisa jadi makan snack-nya cuma sekali karena keasyikan main. Selama kurva berat/tinggi badannya mengikuti kurva standar WHO, dia tumbuh normal.”
Hal yang patut diwaspadai juga, menurut dr. Arifianto, adalah keberadaan iklan makanan yang berkali-kali muncul di layar televisi. Jingle-nya yang catchy langsung ‘kena’ di kepala anak. “Selain kebijakan pengawasan makanan, mungkin perlu ada kebijakan penayangan iklan yang berkaitan dengan makanan. Jangan cuma iklan rokok yang diatur. Ada iklan seperti jelly, sosis, dan snack-snack kemasan yang ditayangkan ke anak-anak. Banyak dari makanan itu tinggi gula, pengawet, dan garam,” cetus dr. Arifianto.
Ditambahkannya, jika mengonsumsi makanan itu, sebaiknya sesekali saja. Tapi, praktiknya untuk anak-anak memang susah. Apalagi di mana-mana lihat iklan. Tak heran jika saat ini angka obesitas dan penyakit degeneratif terus meningkat. “Dengan menerapkan pola makan dan jajan sehat pada anak, diharapkan di masa mendatang penderita penyakit degeneratif menurun.”
Sekarang, tantangannya bisakah kita, orang tua, mengubah paradigma dan gaya makannya? Sebab, harus diakui, orang tua juga bisa disebut sebagai korban dari serangan asing yang masuk lewat media, yang membuat kebanyakan pola makan dan kudapan kita jauh dari sehat. Sulit untuk mengubah begitu saja.
Untuk menerapkan pola makan sehat di keluarga, tentu harus dimulai dari kita. Para orang tua haruslah menjadi role model bagi anaknya. “Kalau anak makanannya diatur, disuruh-suruh, tetapi orang tuanya makan mi instan, fast food, dan gorengan, percuma saja. Jika orang tuanya bagus pola makannya, anak tidak akan terpengaruh dengan beragam jajanan tidak sehat yang dijajakan di luar,” ujar dr. Arifianto.
Langkah awal untuk memulai hidup sehat adalah dengan memahami, seperti apa gaya hidup sehat itu. Selain mengenali jenis makanan sehat, kebersihan juga harus menjadi bagian dari gaya hidup. “Jika sulit menemukan jenis jajanan sehat, tidak ada cara lain kecuali membawa bekal sendiri dari rumah,” ujar dr. Arifianto.
Tulisan ini adalah sub artikel dari Majalah Femina edisi 8 Februari 2014 dengan topik "Jajanan Sekolah Sehat", hasil wawancara Ficky Yusrini dengan saya.
Untuk itu, kita perlu menelisik lebih jauh, apa sebetulnya yang disebut jajanan sehat. Para praktisi kedokteran merujuk pola makan yang baik menurut food plate (di situs choosemyplate dot gov), yaitu makanan yang seimbang karbohidrat kompleks, protein, sayuran, dan buah.
Buat anak-anak, ada meal time dan snack time. “Snack time sehat itu berupa jajanan rendah kalori dan tinggi serat. Ujung-ujungnya banyak sayur dan buah juga. Memang itu diet yang benar,” jelas dr. Arifianto, yang mengatakan, gemuk dan kurusnya anak belum tentu karena faktor makanan, bisa juga karena faktor genetis.
Mengenai berapa banyak dan berapa kali sehari anak mengonsumsi snack, dr. Arifianto berpendapat, “Prinsipnya, tiga kali makan, dua kali camilan. Tapi, namanya anak, dia makan kalau dia lapar. They eat what they see. Bisa jadi makan snack-nya cuma sekali karena keasyikan main. Selama kurva berat/tinggi badannya mengikuti kurva standar WHO, dia tumbuh normal.”
Hal yang patut diwaspadai juga, menurut dr. Arifianto, adalah keberadaan iklan makanan yang berkali-kali muncul di layar televisi. Jingle-nya yang catchy langsung ‘kena’ di kepala anak. “Selain kebijakan pengawasan makanan, mungkin perlu ada kebijakan penayangan iklan yang berkaitan dengan makanan. Jangan cuma iklan rokok yang diatur. Ada iklan seperti jelly, sosis, dan snack-snack kemasan yang ditayangkan ke anak-anak. Banyak dari makanan itu tinggi gula, pengawet, dan garam,” cetus dr. Arifianto.
Ditambahkannya, jika mengonsumsi makanan itu, sebaiknya sesekali saja. Tapi, praktiknya untuk anak-anak memang susah. Apalagi di mana-mana lihat iklan. Tak heran jika saat ini angka obesitas dan penyakit degeneratif terus meningkat. “Dengan menerapkan pola makan dan jajan sehat pada anak, diharapkan di masa mendatang penderita penyakit degeneratif menurun.”
Sekarang, tantangannya bisakah kita, orang tua, mengubah paradigma dan gaya makannya? Sebab, harus diakui, orang tua juga bisa disebut sebagai korban dari serangan asing yang masuk lewat media, yang membuat kebanyakan pola makan dan kudapan kita jauh dari sehat. Sulit untuk mengubah begitu saja.
Untuk menerapkan pola makan sehat di keluarga, tentu harus dimulai dari kita. Para orang tua haruslah menjadi role model bagi anaknya. “Kalau anak makanannya diatur, disuruh-suruh, tetapi orang tuanya makan mi instan, fast food, dan gorengan, percuma saja. Jika orang tuanya bagus pola makannya, anak tidak akan terpengaruh dengan beragam jajanan tidak sehat yang dijajakan di luar,” ujar dr. Arifianto.
Langkah awal untuk memulai hidup sehat adalah dengan memahami, seperti apa gaya hidup sehat itu. Selain mengenali jenis makanan sehat, kebersihan juga harus menjadi bagian dari gaya hidup. “Jika sulit menemukan jenis jajanan sehat, tidak ada cara lain kecuali membawa bekal sendiri dari rumah,” ujar dr. Arifianto.
Tulisan ini adalah sub artikel dari Majalah Femina edisi 8 Februari 2014 dengan topik "Jajanan Sekolah Sehat", hasil wawancara Ficky Yusrini dengan saya.
Thursday, November 20, 2014
Mitos dan Fakta Seputar Tuberkulosis pada Anak
Hari ini sy mau berbagi ttg MITOS dan FAKTA seputar tuberkulosis (#TB) pada anak.
MITOS #1: Flek paru sama dengan #TB. Faktanya: tidak ada diagnosis yg namanya flek paru! Harus tegas dlm mendiagnosis. TB atau bukan TB?
Tidak jarang sy ketemu orangtua yg anaknya didiagnosis "flek paru", tapi dapatnya obat #TB selama 6 bulan! Ketika sy tanya: diagnosisnya?
Orangtua menjawab: "flek paru, kata dokternya."
"Nggak dibilang #TB? Karena ini obat TB," kata saya.
"Anak sy TB, Dok?" malah ortu bingung.
Inilah pentingnya "kejujuran" dlm memberitahu diagnosis: #TB atau bukan? Jangan khawatir orangtua jd merasa buruk dg "stigma vonis" TB.
Justru dg keterusterangan diagnosis, orangtua jd tahu harus patuh minum obat (jika memang benar #TB) atau second opinion bila ragu diagnosis.
MITOS #2: anak yg tidur di depan kipas angin atau di lantai berisiko kena #TB. Faktanya: hehehe tentu saja tidak. Apa penyebab TB?
#TB disebabkan oleh masuknya bakteri Mycobacterium tuberculosis ke dlm saluran napas anak, bukan dari kipas angin Jd TB adlh Infeksi bakteri
Yg dapat menularkan #TB adlh org dewasa yg membatukkan kuman. Jd kalo ada anak didiagnosis TB, HARUS DICARI siapa dewasa penularnya!
MITOS #3: anak yg batuk >2 minggu dicurigai #TB. Faktanya: batuk bukanlah gejala utama TB pd anak. Beda dg dewasa yg gejala utamanya batuk
Inilah keluhan yg membuat orangtua tidak jarang ke dokter dan minta anaknya langsung dironsen. Padahal belum tentu perlu! #TB.
#TB pd anak lebih sulit didiagnosis, krn tdk ada gejala khas. Utk itu dibuatlah sistem skoring yg menggabungkan gejala, ronsen, dan Mantoux.
Batuk lama pd anak justru sering disebabkan oleh kasus ringan seperti commoncold berulang yg akan sembuh sendiri. Atau asma dan alergi. #TB.
Maka faktor kecurigaan terbesar #TB pd anak adlh: apakah tinggal 1 rumah dg dewasa penderita TB? Bila tidak, jd ragu memang.
Kecuali pd kasus #TB berat seperti meningitis (radang selaput otak), TB milier (kerusakan paru luas), dan spondilitis (tulang belakang).
MITOS #4: anak2 yg berat badannya kurang dan kurus harus dites Mantoux utk deteksi #TB. Faktanya: hehehe, gimana yg kurus bawaan genetik ya?
Berat badan kurang bisa saja dianggap salah satu gejala #TB pd anak, tapi yg sesungguhnya dimaksud adlh gagal tumbuh (failure to thrive).
Di dlm sistem skoring #TB pd anak, berat yg dianggap bermakna adlh gizi buruk. Nilainya pun tidak sebesar adanya kontak dewasa dan Mantoux +.
Untuk itu, sudah bukan saatnya lg "memvonis" anak2 yg tidak gemuk, susah makan dan batuk2 sbg curiga #TB dam harus dironsen dan tes Mantoux.
MITOS #5: Gambaran foto ronsen yg banyak "flek" alias bercak putihnya dicurigai #TB. Faktanya: sudah dijelaskan di twit sebelumnya, Bahwa ronsen dada yg sugestif #TB sekalipun (kecuali TB milier ya), nilainya cuma 1 dlm sistem skoring TB pd anak.
Anak yg sedang batuk pilek alias selesma biasa, ketika dironsen dadanya, bisa lebih "ramai" gambarannya dibandingkan yg sakit TB beneran.
Untuk itu gambaran ronsen tidak terlalu jadi andalan, kecuali #TB milier yg jarang pd anak, tidak seperti dewasa (menambahkan cek dahak).
MITOS #6: anak yg batuk2 > 2 minggu, BB susah naik, dan banyak berKERINGAT MALAM dicurigai #TB. Faktor: kalau pd dewasa, bisa jd curiga TB.
Tapi pd anak: tentu beda. Lihat saja sistem skoring #TB anak: keringat malam tidak dimasukkan ke dalamnya. Mengapa anak banyak berkeringat?
Salah satunya adlh meningkatnya kadar hormon pertumbuhan (growth hormone) khususnya malam hari, shg bbrp anak banyak berkeringat malam.
MITOS #7: pembesaran kelenjar getah bening (KGB) leher pd anak mengarah pd kecurigaan#TB.
Faktanya: KGB leher dimiliki oleh semua manusia. Ada yg teraba dan ada
yg tidak. Pd anak dikatakan membesar jika diameter
benjolan > 1 cm. Umumnya KGB leher dapat diraba pd anak sehat. KGB
leher dapat membesar akibat berbagai sebab, misalnya pd infeksi
virus sehari-hari seperti selesma (common cold) yg sembuh sendiri. #TB. Kadang KGB pd anak yg selesma, rubella dan berbagai infeksi virus lain
dapat membesar > 1 cm dan tidak mengecil saat anak sdh sehat. #TB, Kecurigaan pembesaran KGB leher akibat #TB
pd anak biasanya jumlahnya bbrp buah dan sebagian menyatu
(berkonfluens). Dan disertai tanda lain Yaitu disertai kriteria dlm
sistem skoring misalnya ada kontak dg
penderita dewasa dan Mantoux +. Kadang biopsi dibutuhkan pd bbrp kasus #TB. Jadi tidak semua pembesaran KGB leher pd anak harus dicurigai #TB kan? Bedakan jg dengan keganasan (kanker) bila teraba keras dan progresif.
MITOS #8: apabila ada anak balita tetangga yg diketahui minum obat #TB (berarti sakit kan ya?), hati-hati ia dapat menularkan ke anak kita!
Faktanya: anak-anak, apalagi balita tidak dapat menularkan #TB ke orang lain. Mengapa? (1) anak2 belum pandai membatukkan dahak.
(2) kalaupun dahak dapat dikeluarkan, jumlah kuman di dlm dahaknya sangat sedikit, karena lokasi kuman yg tidak dekat dg reseptor batuk.
Jadi kalau cari sumber kuman #TB, carilah pd orang dewasa, bukan anak2.
(Di sisi lain belum tentu anak yg minum obat itu positif TB, bukan?)
Diambil dari Twitter@dokterapin
MITOS #1: Flek paru sama dengan #TB. Faktanya: tidak ada diagnosis yg namanya flek paru! Harus tegas dlm mendiagnosis. TB atau bukan TB?
Tidak jarang sy ketemu orangtua yg anaknya didiagnosis "flek paru", tapi dapatnya obat #TB selama 6 bulan! Ketika sy tanya: diagnosisnya?
Orangtua menjawab: "flek paru, kata dokternya."
"Nggak dibilang #TB? Karena ini obat TB," kata saya.
"Anak sy TB, Dok?" malah ortu bingung.
Inilah pentingnya "kejujuran" dlm memberitahu diagnosis: #TB atau bukan? Jangan khawatir orangtua jd merasa buruk dg "stigma vonis" TB.
Justru dg keterusterangan diagnosis, orangtua jd tahu harus patuh minum obat (jika memang benar #TB) atau second opinion bila ragu diagnosis.
MITOS #2: anak yg tidur di depan kipas angin atau di lantai berisiko kena #TB. Faktanya: hehehe tentu saja tidak. Apa penyebab TB?
#TB disebabkan oleh masuknya bakteri Mycobacterium tuberculosis ke dlm saluran napas anak, bukan dari kipas angin Jd TB adlh Infeksi bakteri
Yg dapat menularkan #TB adlh org dewasa yg membatukkan kuman. Jd kalo ada anak didiagnosis TB, HARUS DICARI siapa dewasa penularnya!
MITOS #3: anak yg batuk >2 minggu dicurigai #TB. Faktanya: batuk bukanlah gejala utama TB pd anak. Beda dg dewasa yg gejala utamanya batuk
Inilah keluhan yg membuat orangtua tidak jarang ke dokter dan minta anaknya langsung dironsen. Padahal belum tentu perlu! #TB.
#TB pd anak lebih sulit didiagnosis, krn tdk ada gejala khas. Utk itu dibuatlah sistem skoring yg menggabungkan gejala, ronsen, dan Mantoux.
Batuk lama pd anak justru sering disebabkan oleh kasus ringan seperti commoncold berulang yg akan sembuh sendiri. Atau asma dan alergi. #TB.
Maka faktor kecurigaan terbesar #TB pd anak adlh: apakah tinggal 1 rumah dg dewasa penderita TB? Bila tidak, jd ragu memang.
Kecuali pd kasus #TB berat seperti meningitis (radang selaput otak), TB milier (kerusakan paru luas), dan spondilitis (tulang belakang).
MITOS #4: anak2 yg berat badannya kurang dan kurus harus dites Mantoux utk deteksi #TB. Faktanya: hehehe, gimana yg kurus bawaan genetik ya?
Berat badan kurang bisa saja dianggap salah satu gejala #TB pd anak, tapi yg sesungguhnya dimaksud adlh gagal tumbuh (failure to thrive).
Di dlm sistem skoring #TB pd anak, berat yg dianggap bermakna adlh gizi buruk. Nilainya pun tidak sebesar adanya kontak dewasa dan Mantoux +.
Untuk itu, sudah bukan saatnya lg "memvonis" anak2 yg tidak gemuk, susah makan dan batuk2 sbg curiga #TB dam harus dironsen dan tes Mantoux.
MITOS #5: Gambaran foto ronsen yg banyak "flek" alias bercak putihnya dicurigai #TB. Faktanya: sudah dijelaskan di twit sebelumnya, Bahwa ronsen dada yg sugestif #TB sekalipun (kecuali TB milier ya), nilainya cuma 1 dlm sistem skoring TB pd anak.
Anak yg sedang batuk pilek alias selesma biasa, ketika dironsen dadanya, bisa lebih "ramai" gambarannya dibandingkan yg sakit TB beneran.
Untuk itu gambaran ronsen tidak terlalu jadi andalan, kecuali #TB milier yg jarang pd anak, tidak seperti dewasa (menambahkan cek dahak).
MITOS #6: anak yg batuk2 > 2 minggu, BB susah naik, dan banyak berKERINGAT MALAM dicurigai #TB. Faktor: kalau pd dewasa, bisa jd curiga TB.
Tapi pd anak: tentu beda. Lihat saja sistem skoring #TB anak: keringat malam tidak dimasukkan ke dalamnya. Mengapa anak banyak berkeringat?
Salah satunya adlh meningkatnya kadar hormon pertumbuhan (growth hormone) khususnya malam hari, shg bbrp anak banyak berkeringat malam.
MITOS #7: pembesaran kelenjar getah bening (KGB) leher pd anak mengarah pd kecurigaan
MITOS #8: apabila ada anak balita tetangga yg diketahui minum obat #TB (berarti sakit kan ya?), hati-hati ia dapat menularkan ke anak kita!
Faktanya: anak-anak, apalagi balita tidak dapat menularkan #TB ke orang lain. Mengapa? (1) anak2 belum pandai membatukkan dahak.
(2) kalaupun dahak dapat dikeluarkan, jumlah kuman di dlm dahaknya sangat sedikit, karena lokasi kuman yg tidak dekat dg reseptor batuk.
Jadi kalau cari sumber kuman #TB, carilah pd orang dewasa, bukan anak2.
(Di sisi lain belum tentu anak yg minum obat itu positif TB, bukan?)
Diambil dari Twitter
Wednesday, November 12, 2014
Flek paru sama dengan tuberkulosis?
“Anak saya sudah tiga minggu batuk dan belum sembuh. Pekan lalu ke dokter dan diminta rontgen paru. Hasilnya dikatakan flek paru. Selama sakit, anak saya tidak mau makan, berat badannya turun, dan sejak bayi keringatnya banyak sekali di malam hari. Dokter tersebut mengatakan anak saya harus minum obat selama enam bulan karena flek parunya. Saya ragu dengan diagnosis ini, karena itu saya datang ke Dokter untuk minta second opinion.”
Kisah-kisah serupa tidak jarang disampaikan di ruang praktik dokter anak. Banyak orangtua yang menghadapi kenyataan anaknya terkena “flek paru” dan harus minum obat tanpa putus dalam waktu tidak sebentar. Gejala-gejala yang diutarakan, seperti batuk yang tak kunjung sembuh, anak tampak kurus dan beratnya turun, nafsu makannya berkurang, dan kadang disertai keringat malam. Apakah ini semua gejala yang mengarah kepada flek paru?
Penegakan Diagnosis
Ada beberapa hal yang perlu kita pahami. Pertama, diagnosis seharusnya dinyatakan dalam bahasa medis kepada siapa pun, termasuk pasien atau konsumen kesehatan yang tidak mempunyai latar belakang kedokteran/kesehatan. Flek paru bukanlah diagnosis, melainkan ungkapan yang sudah lazim digunakan (entah sejak kapan) untuk menunjukkan adanya gambaran foto rontgen dada yang “ramai” akan flek atau bercak putih. Normalkah kondisi foto seperti ini?
Istilah “flek paru” mengesankan kondisi yang tidak normal dan tidak seharusnya ada di hasil rontgen. Padahal paru-paru manusia dipenuhi pembuluh darah dan kelenjar getah bening yang menghasilkan gambaran putih ketika disorot sinar-X. Selain itu, kondisi foto paru yang penuh “flek” bisa terjadi pada banyak hal, mulai dari paru-paru normal, orang yang sedang selesma (common cold), pneumonia, tuberkulosis (TB) paru, sampai kanker paru.
Nah, penggunaan istilah flek paru biasanya dibarengi anjuran minum obat selama enam bulan, yang tidak lain adalah obat TB. Untuk itu, sebaiknya dokter menyampaikan dengan tegas, TB atau bukan. Tidak perlu menyembunyikan diagnosis TB ke dalam ungkapan flek paru.
Kedua, bagaimana diagnosis TB pada anak ditegakkan? Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menular melalui saluran napas, yaitu ketika penderita TB batuk dan menyebarkan kuman penyebab TB lewat percikan dahaknya.
Anak dapat terinfeksi TB ketika orang dewasa menularkan kuman TB kepadanya. Ingat: hanya orang dewasa yang dapat menularkan TB kepada anak. Anak-anak tidak dapat menularkan TB kepada anak-anak lainnya, karena mereka belum mampu membuang dahak lewat batuk seperti orang dewasa mengeluarkan dahaknya. Kalaupun dahak dapat dikeluarkan secara “tepat”, jumlah bakteri yang terkandung di dalam dahak anak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kandungan kuman TB dalam dahak orang dewasa. Alasan ini menentukan kemampuan menginfeksinya menjadi sangat berkurang.
Hal penting lainnya, saat anak dicurigai TB, wajib dicari tahu siapa orang dewasa yang menjadi sumber infeksinya. Sulit memercayai diagnosis TB, apabila anak yang dicurigai sakit TB itu tidak pernah mempunyai kontak dengan orang dewasa yang dicurigai TB pula.
Mendiagnosis TB Dewasa dan Anak
Mendiagnosis TB pada anak jauh lebih sulit dibandingkan mendiagnosis penyakit ini pada orang dewasa. Pada orang dewasa, jika ditemukan batuk selama lebih dari dua minggu, disertai atau tidak gejala lain, lalu dahak si penderita diperiksa dan positif mengandung kuman TB (disebut juga basil tahan asam atau BTA), maka terdiagnosislah TB.
Namun pada anak, batuk bukanlah gejala utama TB. Berat badan yang turun dalam waktu singkat dapat terjadi pada kondisi sakit ringan seperti selesma. Keluar keringat pada malam hari merupakan hal wajar yang dialami balita karena tingginya kadar growth hormone yang memacu produksi keringat.
Karena itu para ahli di seluruh dunia telah mengupayakan berbagai metode untuk memudahkan diagnosis TB pada anak. Salah satunya, sistem skoring yang ditampilkan dalam tabel. Jumlah minimal 6 dari poin-poin yang ada menyimpulkan seorang anak terdiagnosis TB dan harus mendapatkan pengobatan selama 6 bulan. Melihat kriteria diagnosis yang ada, adanya kontak TB (dewasa) yang BTA-nya positif dan pemeriksaan Mantoux yang positif menempati nilai tertinggi. Hasil rontgen sugestif TB sekalipun, ternyata nilainya hanya 1.
Penting sekali memahami bahwa mendiagnosis TB pada anak tidak sama halnya dengan dewasa. Jangan mudah memberi vonis TB pada anak berdasarkan batuk lama dan berat yang irit naiknya. Jangan pula gunakan kata “flek paru” untuk menyatakan TB. Overdiagnosis TB, yaitu mendiagnosis dan mengobati TB pada anak yang sebenarnya tidak sakit TB, berpotensi menempatkan anak pada risiko efek samping obat TB dan resistensi antibiotik. Sebaliknya, underdiagnosis TB atau tidak mendiagnosis TB pada anak yang sebenarnya sakit TB, memungkinkan timbulnya TB berat, seperti meningitis (radang selaput otak) yang angka kematiannya tinggi.
Kisah-kisah serupa tidak jarang disampaikan di ruang praktik dokter anak. Banyak orangtua yang menghadapi kenyataan anaknya terkena “flek paru” dan harus minum obat tanpa putus dalam waktu tidak sebentar. Gejala-gejala yang diutarakan, seperti batuk yang tak kunjung sembuh, anak tampak kurus dan beratnya turun, nafsu makannya berkurang, dan kadang disertai keringat malam. Apakah ini semua gejala yang mengarah kepada flek paru?
Penegakan Diagnosis
Ada beberapa hal yang perlu kita pahami. Pertama, diagnosis seharusnya dinyatakan dalam bahasa medis kepada siapa pun, termasuk pasien atau konsumen kesehatan yang tidak mempunyai latar belakang kedokteran/kesehatan. Flek paru bukanlah diagnosis, melainkan ungkapan yang sudah lazim digunakan (entah sejak kapan) untuk menunjukkan adanya gambaran foto rontgen dada yang “ramai” akan flek atau bercak putih. Normalkah kondisi foto seperti ini?
Istilah “flek paru” mengesankan kondisi yang tidak normal dan tidak seharusnya ada di hasil rontgen. Padahal paru-paru manusia dipenuhi pembuluh darah dan kelenjar getah bening yang menghasilkan gambaran putih ketika disorot sinar-X. Selain itu, kondisi foto paru yang penuh “flek” bisa terjadi pada banyak hal, mulai dari paru-paru normal, orang yang sedang selesma (common cold), pneumonia, tuberkulosis (TB) paru, sampai kanker paru.
Nah, penggunaan istilah flek paru biasanya dibarengi anjuran minum obat selama enam bulan, yang tidak lain adalah obat TB. Untuk itu, sebaiknya dokter menyampaikan dengan tegas, TB atau bukan. Tidak perlu menyembunyikan diagnosis TB ke dalam ungkapan flek paru.
Kedua, bagaimana diagnosis TB pada anak ditegakkan? Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menular melalui saluran napas, yaitu ketika penderita TB batuk dan menyebarkan kuman penyebab TB lewat percikan dahaknya.
Anak dapat terinfeksi TB ketika orang dewasa menularkan kuman TB kepadanya. Ingat: hanya orang dewasa yang dapat menularkan TB kepada anak. Anak-anak tidak dapat menularkan TB kepada anak-anak lainnya, karena mereka belum mampu membuang dahak lewat batuk seperti orang dewasa mengeluarkan dahaknya. Kalaupun dahak dapat dikeluarkan secara “tepat”, jumlah bakteri yang terkandung di dalam dahak anak jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kandungan kuman TB dalam dahak orang dewasa. Alasan ini menentukan kemampuan menginfeksinya menjadi sangat berkurang.
Hal penting lainnya, saat anak dicurigai TB, wajib dicari tahu siapa orang dewasa yang menjadi sumber infeksinya. Sulit memercayai diagnosis TB, apabila anak yang dicurigai sakit TB itu tidak pernah mempunyai kontak dengan orang dewasa yang dicurigai TB pula.
Mendiagnosis TB Dewasa dan Anak
Mendiagnosis TB pada anak jauh lebih sulit dibandingkan mendiagnosis penyakit ini pada orang dewasa. Pada orang dewasa, jika ditemukan batuk selama lebih dari dua minggu, disertai atau tidak gejala lain, lalu dahak si penderita diperiksa dan positif mengandung kuman TB (disebut juga basil tahan asam atau BTA), maka terdiagnosislah TB.
Namun pada anak, batuk bukanlah gejala utama TB. Berat badan yang turun dalam waktu singkat dapat terjadi pada kondisi sakit ringan seperti selesma. Keluar keringat pada malam hari merupakan hal wajar yang dialami balita karena tingginya kadar growth hormone yang memacu produksi keringat.
Karena itu para ahli di seluruh dunia telah mengupayakan berbagai metode untuk memudahkan diagnosis TB pada anak. Salah satunya, sistem skoring yang ditampilkan dalam tabel. Jumlah minimal 6 dari poin-poin yang ada menyimpulkan seorang anak terdiagnosis TB dan harus mendapatkan pengobatan selama 6 bulan. Melihat kriteria diagnosis yang ada, adanya kontak TB (dewasa) yang BTA-nya positif dan pemeriksaan Mantoux yang positif menempati nilai tertinggi. Hasil rontgen sugestif TB sekalipun, ternyata nilainya hanya 1.
Penting sekali memahami bahwa mendiagnosis TB pada anak tidak sama halnya dengan dewasa. Jangan mudah memberi vonis TB pada anak berdasarkan batuk lama dan berat yang irit naiknya. Jangan pula gunakan kata “flek paru” untuk menyatakan TB. Overdiagnosis TB, yaitu mendiagnosis dan mengobati TB pada anak yang sebenarnya tidak sakit TB, berpotensi menempatkan anak pada risiko efek samping obat TB dan resistensi antibiotik. Sebaliknya, underdiagnosis TB atau tidak mendiagnosis TB pada anak yang sebenarnya sakit TB, memungkinkan timbulnya TB berat, seperti meningitis (radang selaput otak) yang angka kematiannya tinggi.
Benarkah antibiotik yang dikonsumsi HARUS dihabiskan?
Benarkah antibiotik yang dikonsumsi HARUS dihabiskan?
Ya benar, BILA penyebab infeksinya adalah BAKTERI, bukan virus. Contohnya adalah infeksi saluran kemih akibat bakteri Eschericia coli. Antibiotik (AB) harus diminum selama 7 hari. Tetapi baru minum 2 hari keluhan sudah hilang dan AB distop. Padahal tidak semua bakterinya sudah mati. Nah, bakteri yang tersisa ini, meskipun tidak menyebabkan keluhan lagi, berpotensi memperbarui pertahanan dirinya menjadi bakteri "mutan" yang kebal alias resisten terhadap AB sebelumnya. Kelak, bila sekelompok bakteri E.coli generasi baru ini memperbanyak keturunannya dan menyebabkan sakit, mereka tidak akan mempan dengan AB generasi sebelumnya. Cilaka lah...
Contoh lain adalah pada sakit tuberkulosis alias TB yang harus minum kombinasi 2 sampai 4 antibiotik dalam kurun waktu 6 bulan. Kebanyakan setelah minum AB selama 2-4 minggu, penderita merasa sudah sehat, dan ada sebagian kecil yang menghentikan sendiri AB-nya. Padahal...bakteri Mycobacterium tuberculosis masih ada yang tersisa dan memperbanyak diri sebagai kuman yang "multi-drug resistant" atau MDR! Kalau sampai TB-nya kambuh dan MDR, waduh... angka kematiannya tinggi dan susah diobati! Belum kalau kuman-kuman MDR menyebar dan tertular ke orang sehat yang belum pernah sakit TB sebelumnya! Naudzubillah.
Ini adalah akibat dari penggunaan AB yang tidak rasional pada infeksi bakteri.
Nah. Pertanyaannya sekarang: bagaimana bila sakitnya karena infeksi virus seperti selesma/common cold dan diare akut tanpa darah, tapi diobati dengan AB. Haruskah dihabiskan AB-nya?
kita pahami bahwa bakteri yang resisten dan tidak mempan dengan berbagai jenis antibiotik berpotensi membahayakan umat manusia. Kami para dokter melihat ancaman ini salah satunya di ruang rawat intensif (ICU) dan ICU bayi baru lahir (NICU). Pasien yang sudah terbaring lemah karena mengalami sakit berat (makanya dirawat di ICU/NICU) dan menurun daya tahan tubuhnya positif terjangkit dengan bakteri yang resisten dengan antibiotik yang awalnya sudah diberikan. Kondisi pasien tidak kunjung membaik, dokter kebingungan mencari antibiotik yang "mempan", dan angka kematian di ICU/NICU meningkat. Superbug semacam inilah yang menjadi mimpi buruk bagi semua tenaga kesehatan di RS.
Kita kembali dulu ke pertanyaan di awal. Seorang anak mengalami infeksi virus semisal adenovirus, rinovirus, RSV, dan influenza yang menyebabkan infeksi saluran napas atas, atau infeksi rotavirus yang menyebabkan diare. Lalu dokter memberikannya AB. Antibiotik ini masuk ke dalam tubuh dan mencari: mana ya bakteri jahat yang bisa dibunuh? Lah, nggak ketemu. Kan si anak sakit akibat infeksi virus. Sehingga AB bertemulah dengan bakteri baik yang menghuni tubuh kita (silakan baca posting-an saya tentang diare), sang HUMAN MICROBIOME. Dibunuhlah si bakteri baik ini, yang paling sering di usus besar. Awalnya anak hanya batuk-pilek, gara-gara diberi AB, malah ditambah sakitnya menjadi mencret akibat dibunuhnya bakteri baik di usus.
Ini satu hal akibat buruk antibiotik yang digunakan secara tidak rasional.
Efek lainnya adalah: bakteri merupakan makhluk hidup yang secara alamiah berusaha bertahan hidup (survival of the fittest) dengan mekanisme memperbaiki pertahanan tubuhnya dan membentuk bakteri mutan generasi baru. "Saya kan bakteri baik, kok dibunuh dengan AB. Salah apa saya?" Mekanisme ini dapat mengganggu keseimbangan flora normal tubuh dan dapat menciptakan bakteri jahat. Khawatirnya, bakteri ini adalah salah satu bakteri resisten. Cilaka lagi ya...
Jadi kalau infeksinya karena virus dan diberi AB ya tidak perlu dihabiskan AB-nya. Kan infeksinya virus, AB-nya masuk dan mencari-cari mana ya bakteri jahat yang harus kubasmi? Daripada malah berlanjut membunuh bakteri baik ya dihentikan AB-nya. Tapi kalau karena infeksi bakteri ya harus diminum sesuai anjuran dokter.
So...ujung-ujungnya balik ke diagnosis. Lihat lagi posting saya tentang Tanya 3 Hal. "Dok, apa diagnosis anak saya (dalam bahasa medis, supaya kita juga bisa cross check di internet browser)?"
"Apakah karena infeksi bakteri sehingga harus diberi AB? Berapa lama harus diminum? Kalau masih demam juga setelah 3 hari minum harus diteruskan? Antibiotiknya tergolong spektrum sempit atau luas (apa pula ini ya? Hehe)"
Kalau infeksi saluran kemih ya diobati dengan AB.
Pneumonia berat ya diobati dengan AB.
Sepsis ya wajib dikasih AB.
Tuberkulosis malah harus 6 bulan AB-nya.
Strep throat juga pakai AB.
Difteri dan pertusis juga dikasih AB.
Baca-baca lagi ya...
Ya benar, BILA penyebab infeksinya adalah BAKTERI, bukan virus. Contohnya adalah infeksi saluran kemih akibat bakteri Eschericia coli. Antibiotik (AB) harus diminum selama 7 hari. Tetapi baru minum 2 hari keluhan sudah hilang dan AB distop. Padahal tidak semua bakterinya sudah mati. Nah, bakteri yang tersisa ini, meskipun tidak menyebabkan keluhan lagi, berpotensi memperbarui pertahanan dirinya menjadi bakteri "mutan" yang kebal alias resisten terhadap AB sebelumnya. Kelak, bila sekelompok bakteri E.coli generasi baru ini memperbanyak keturunannya dan menyebabkan sakit, mereka tidak akan mempan dengan AB generasi sebelumnya. Cilaka lah...
Contoh lain adalah pada sakit tuberkulosis alias TB yang harus minum kombinasi 2 sampai 4 antibiotik dalam kurun waktu 6 bulan. Kebanyakan setelah minum AB selama 2-4 minggu, penderita merasa sudah sehat, dan ada sebagian kecil yang menghentikan sendiri AB-nya. Padahal...bakteri Mycobacterium tuberculosis masih ada yang tersisa dan memperbanyak diri sebagai kuman yang "multi-drug resistant" atau MDR! Kalau sampai TB-nya kambuh dan MDR, waduh... angka kematiannya tinggi dan susah diobati! Belum kalau kuman-kuman MDR menyebar dan tertular ke orang sehat yang belum pernah sakit TB sebelumnya! Naudzubillah.
Ini adalah akibat dari penggunaan AB yang tidak rasional pada infeksi bakteri.
Nah. Pertanyaannya sekarang: bagaimana bila sakitnya karena infeksi virus seperti selesma/common cold dan diare akut tanpa darah, tapi diobati dengan AB. Haruskah dihabiskan AB-nya?
kita pahami bahwa bakteri yang resisten dan tidak mempan dengan berbagai jenis antibiotik berpotensi membahayakan umat manusia. Kami para dokter melihat ancaman ini salah satunya di ruang rawat intensif (ICU) dan ICU bayi baru lahir (NICU). Pasien yang sudah terbaring lemah karena mengalami sakit berat (makanya dirawat di ICU/NICU) dan menurun daya tahan tubuhnya positif terjangkit dengan bakteri yang resisten dengan antibiotik yang awalnya sudah diberikan. Kondisi pasien tidak kunjung membaik, dokter kebingungan mencari antibiotik yang "mempan", dan angka kematian di ICU/NICU meningkat. Superbug semacam inilah yang menjadi mimpi buruk bagi semua tenaga kesehatan di RS.
Kita kembali dulu ke pertanyaan di awal. Seorang anak mengalami infeksi virus semisal adenovirus, rinovirus, RSV, dan influenza yang menyebabkan infeksi saluran napas atas, atau infeksi rotavirus yang menyebabkan diare. Lalu dokter memberikannya AB. Antibiotik ini masuk ke dalam tubuh dan mencari: mana ya bakteri jahat yang bisa dibunuh? Lah, nggak ketemu. Kan si anak sakit akibat infeksi virus. Sehingga AB bertemulah dengan bakteri baik yang menghuni tubuh kita (silakan baca posting-an saya tentang diare), sang HUMAN MICROBIOME. Dibunuhlah si bakteri baik ini, yang paling sering di usus besar. Awalnya anak hanya batuk-pilek, gara-gara diberi AB, malah ditambah sakitnya menjadi mencret akibat dibunuhnya bakteri baik di usus.
Ini satu hal akibat buruk antibiotik yang digunakan secara tidak rasional.
Efek lainnya adalah: bakteri merupakan makhluk hidup yang secara alamiah berusaha bertahan hidup (survival of the fittest) dengan mekanisme memperbaiki pertahanan tubuhnya dan membentuk bakteri mutan generasi baru. "Saya kan bakteri baik, kok dibunuh dengan AB. Salah apa saya?" Mekanisme ini dapat mengganggu keseimbangan flora normal tubuh dan dapat menciptakan bakteri jahat. Khawatirnya, bakteri ini adalah salah satu bakteri resisten. Cilaka lagi ya...
Jadi kalau infeksinya karena virus dan diberi AB ya tidak perlu dihabiskan AB-nya. Kan infeksinya virus, AB-nya masuk dan mencari-cari mana ya bakteri jahat yang harus kubasmi? Daripada malah berlanjut membunuh bakteri baik ya dihentikan AB-nya. Tapi kalau karena infeksi bakteri ya harus diminum sesuai anjuran dokter.
So...ujung-ujungnya balik ke diagnosis. Lihat lagi posting saya tentang Tanya 3 Hal. "Dok, apa diagnosis anak saya (dalam bahasa medis, supaya kita juga bisa cross check di internet browser)?"
"Apakah karena infeksi bakteri sehingga harus diberi AB? Berapa lama harus diminum? Kalau masih demam juga setelah 3 hari minum harus diteruskan? Antibiotiknya tergolong spektrum sempit atau luas (apa pula ini ya? Hehe)"
Kalau infeksi saluran kemih ya diobati dengan AB.
Pneumonia berat ya diobati dengan AB.
Sepsis ya wajib dikasih AB.
Tuberkulosis malah harus 6 bulan AB-nya.
Strep throat juga pakai AB.
Difteri dan pertusis juga dikasih AB.
Baca-baca lagi ya...
Mengapa kampanye penggunaan antibiotik yang rasional tidak hanya ditujukan kepada tenaga medis, tetapi juga kepada masyarakat awam?
Saya dan kawan-kawan masuk ke dalam "dunia" edukasi kesehatan untuk masyarakat sejak hampir 10 tahun silam. Sebagai dokter, kami memutuskan untuk memilih masyarakat awam atau konsumen kesehatan sebagai target edukasi kami, khususnya orangtua. Topik-topik yang kami berikan adalah dasar-dasar ilmu kesehatan yang kami tahu dokter pun diajarkan saat masih duduk di bangku kuliah. Tetapi penyajiannya kami buat agar mudah dipahami mereka yang tidak punya latar belakang medis. Sudah ada guru-guru kami para staf pengajar di fakultas Kedokteran yang mendidik para dokter. Maka harus ada pula yang "mendidik" konsumen kesehatan. Nah, antibiotik adalah salah satu hal yang harus dipahami oleh para konsumen kesehatan. Mengapa? Karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat sudah terjadi di seluruh dunia dan sedemikian kompleksnya, sehingga berbalik mengancam kesehatan manusia. Maka semua elemen harus dilibatkan untuk menangani masalah ini. Tidak hanya penyedia layanan kesehatannya saja, tetapi juga konsumennya.
Ini alasannya mengapa penggunaan yang rasional (tepat indikasi dan kegunaan) harus dipahami oleh masyarakat. Mengajari dokter agar dapat meresepkan antibiotik secara rasional saja tidak cukup, konsumen pun harus diajari. Di sinilah kami mengambil peran. Saling melengkapi.
Dan kampanye ini pun berlangsung di seluruh dunia. Pernyataan berikut saya ambil dari film yang menceritakan bahayanya resistensi antibiotik akibat penggunaannya yang tidak rasional: "Resistance".
"Antibiotics were first massed-produced in the 1940s. Their ability to fight and kill bacteria revolutionized medicine and had profound effects on everything from agriculture to war. After less than 80 years, however, these miracle drugs are failing. Resistant infections kill hundreds of thousands of people around the world each year, and there are now dozens of so-called Superbugs each with its own challenges and costs. How did this happen?"
-resistancethefilm [dot] com
Ini alasannya mengapa penggunaan yang rasional (tepat indikasi dan kegunaan) harus dipahami oleh masyarakat. Mengajari dokter agar dapat meresepkan antibiotik secara rasional saja tidak cukup, konsumen pun harus diajari. Di sinilah kami mengambil peran. Saling melengkapi.
Dan kampanye ini pun berlangsung di seluruh dunia. Pernyataan berikut saya ambil dari film yang menceritakan bahayanya resistensi antibiotik akibat penggunaannya yang tidak rasional: "Resistance".
"Antibiotics were first massed-produced in the 1940s. Their ability to fight and kill bacteria revolutionized medicine and had profound effects on everything from agriculture to war. After less than 80 years, however, these miracle drugs are failing. Resistant infections kill hundreds of thousands of people around the world each year, and there are now dozens of so-called Superbugs each with its own challenges and costs. How did this happen?"
-resistancethefilm [dot] com
Tanyakan TIGA Hal ini ke Dokter Anda!
Satu hal yang seringkali saya tidak bisa jawab adalah ketika orangtua membawa anaknya berobat ke dokter lain, lalu ia bertanya hal-hal seputar kondisi anaknya via SMS/WA/messenger/e-mail:
"Anak saya sakit apa menurut Dokter?"
"Apakah saya perlu meminumkan obatnya?"
"Apakah anak saya perlu dibawa lagi ke Dokter?"
Jawaban saya singkat saja: "mengapa Ibu/Bapak bertanya ke saya? Kenapa tidak bertanya ke dokter yang memeriksa anak Ibu? Saya kan tidak periksa anaknya."
Atau: "maaf saya tidak bisa jawab karena tidak periksa anaknya".
Maaf...
Saya jadi bertanya lagi, kenapa Bapak/Ibu tidak menanyakan hal-hal tersebut ke dokternya saat masih di ruang periksa?
Dokternya tidak ramah? (ah, masa sih?)
Waktu konsultasi terlalu singkat? Atau apa?
Ada satu solusi yang mungkin bisa mengatasinya, yaitu: tanyakan tiga hal ini ke dokter Anda saat di ruang periksa, atau singkatnya " Tanya 3" (T3). Saya terjemahkan dari kampanye "ask 3 questions"
1. Apa diagnosis anak saya?
2. Apa pengobatan yang diberikan?
3. Kapan saya harus khawatir dan segera kembali membawanya ke dokter?
Ini penjelasannya:
1. Mintalah diagnosis dokter dalam BAHASA MEDIS, bukan bahasa semacam "radang tenggorok", "flek", "paru-paru basah", dan "tampek". Apakah: diare akut, selesma, flu, TB, pneumonia, bronkiolitis, dll.
Khawatir pasien tidak paham dengan istilah medis berbahasa latin ini? Ini manfaatnya:
Satu, penjelasan dokter mengenai diagnosis dalam memudahkan pasien mencari informasi lebih lanjut akan penyakitnya di media semacam internet. Pasien dapat menggali sendiri informasi yang tidak didapatkannya di ruang periksa karena keterbatasan waktu.
Kedua, dokter tetap menjelaskan diagnosis ini dalam bahasa yang mudah dipahami pasien tentunya.
2. Dokter tidak sekedar menulis resep, tetapi juga menjelaskan apa saja obat yang diberikan, dosis, cara pakai, dan kemungkinan efek sampingnya. Bahkan, dalam banyak kasus yang saya hadapi sehari-hari dan tidak ada obat yang diresepkan pada akhirnya, NASEHAT MEDIS saja adalah salah satu bentuk TERAPI.
Kunjungan ke dokter tidak harus selalu berakhir dengan peresepan obat, bukan?
3. Nah, ini tidak kalah penting. Kadang hal ini juga terlewat saat konsultasi dengan dokter. Inilah pentingnya orangtua mempelajari dasar-dasar penyakit anak, minimal kondisi-kondisi gawat darurat pada anak. Medianya sudah banyak, bukan? Buku, situs internet, dll.
Semoga bermanfaat.
"Anak saya sakit apa menurut Dokter?"
"Apakah saya perlu meminumkan obatnya?"
"Apakah anak saya perlu dibawa lagi ke Dokter?"
Jawaban saya singkat saja: "mengapa Ibu/Bapak bertanya ke saya? Kenapa tidak bertanya ke dokter yang memeriksa anak Ibu? Saya kan tidak periksa anaknya."
Atau: "maaf saya tidak bisa jawab karena tidak periksa anaknya".
Maaf...
Saya jadi bertanya lagi, kenapa Bapak/Ibu tidak menanyakan hal-hal tersebut ke dokternya saat masih di ruang periksa?
Dokternya tidak ramah? (ah, masa sih?)
Waktu konsultasi terlalu singkat? Atau apa?
Ada satu solusi yang mungkin bisa mengatasinya, yaitu: tanyakan tiga hal ini ke dokter Anda saat di ruang periksa, atau singkatnya " Tanya 3" (T3). Saya terjemahkan dari kampanye "ask 3 questions"
1. Apa diagnosis anak saya?
2. Apa pengobatan yang diberikan?
3. Kapan saya harus khawatir dan segera kembali membawanya ke dokter?
Ini penjelasannya:
1. Mintalah diagnosis dokter dalam BAHASA MEDIS, bukan bahasa semacam "radang tenggorok", "flek", "paru-paru basah", dan "tampek". Apakah: diare akut, selesma, flu, TB, pneumonia, bronkiolitis, dll.
Khawatir pasien tidak paham dengan istilah medis berbahasa latin ini? Ini manfaatnya:
Satu, penjelasan dokter mengenai diagnosis dalam memudahkan pasien mencari informasi lebih lanjut akan penyakitnya di media semacam internet. Pasien dapat menggali sendiri informasi yang tidak didapatkannya di ruang periksa karena keterbatasan waktu.
Kedua, dokter tetap menjelaskan diagnosis ini dalam bahasa yang mudah dipahami pasien tentunya.
2. Dokter tidak sekedar menulis resep, tetapi juga menjelaskan apa saja obat yang diberikan, dosis, cara pakai, dan kemungkinan efek sampingnya. Bahkan, dalam banyak kasus yang saya hadapi sehari-hari dan tidak ada obat yang diresepkan pada akhirnya, NASEHAT MEDIS saja adalah salah satu bentuk TERAPI.
Kunjungan ke dokter tidak harus selalu berakhir dengan peresepan obat, bukan?
3. Nah, ini tidak kalah penting. Kadang hal ini juga terlewat saat konsultasi dengan dokter. Inilah pentingnya orangtua mempelajari dasar-dasar penyakit anak, minimal kondisi-kondisi gawat darurat pada anak. Medianya sudah banyak, bukan? Buku, situs internet, dll.
Semoga bermanfaat.
Mengenal sosok di dalam badut yang kita temui di pinggir jalan
Bekerja di sebuah RSUD memungkinkan saya menemui banyak orang dari berbagai kalangan, yaitu para orangtua yang membawa anak-anaknya berobat. Kadang sambil menulis status dan resep, saya mengobrolkan hal-hal yang tidak terkait dengan kondisi penyakit anak mereka.
"Ini anak ke berapa, Bu?"
"Anak kedua. Anak pertama saya sudah kuliah." Sang Ibu menyebutkan nama sebuah sekolah tinggi yang cukup diminati di Jakarta. Anak pertamanya masih menempuh pendidikan diploma 3 di institusi pendidikan itu.
"Nggak apa-apa ibunya jadi badut, yang penting anaknya bisa kuliah," si Ibu menambahkan.
"Ah, Ibu bisa aja," saya menanggapi. Apa pula maksudnya ibu ini menyebutkan dirinya badut. Ia mempunyai sifat dan perilaku seperti badut?
Mungkin merasa saya tidak mengerti maksudnya, ia meneruskan, "Iya, saya bekerja sebagai badut di Taman Mini."
Saya memandangnya lagi. Seorang ibu berusia paruh paya yang mengenakan jilbab. Saya menggali ceritanya lagi. Ia dan beberapa temannya bekerja dalam beberapa shift. Kostumnya pun ada beberapa macam. Tugasnya adalah menghibur anak-anak. Penghasilan mereka berasal dari orang-orang yang sukarela memberikan uangnya. Apabila sedang tidak bekerja sebagai badut, ia berdagang asongan minuman. Alhamdulillah, anak pertamanya bisa menempuh pendidikan hingga bangku kuliah.
"Anak kedua. Anak pertama saya sudah kuliah." Sang Ibu menyebutkan nama sebuah sekolah tinggi yang cukup diminati di Jakarta. Anak pertamanya masih menempuh pendidikan diploma 3 di institusi pendidikan itu.
"Nggak apa-apa ibunya jadi badut, yang penting anaknya bisa kuliah," si Ibu menambahkan.
"Ah, Ibu bisa aja," saya menanggapi. Apa pula maksudnya ibu ini menyebutkan dirinya badut. Ia mempunyai sifat dan perilaku seperti badut?
Mungkin merasa saya tidak mengerti maksudnya, ia meneruskan, "Iya, saya bekerja sebagai badut di Taman Mini."
Saya memandangnya lagi. Seorang ibu berusia paruh paya yang mengenakan jilbab. Saya menggali ceritanya lagi. Ia dan beberapa temannya bekerja dalam beberapa shift. Kostumnya pun ada beberapa macam. Tugasnya adalah menghibur anak-anak. Penghasilan mereka berasal dari orang-orang yang sukarela memberikan uangnya. Apabila sedang tidak bekerja sebagai badut, ia berdagang asongan minuman. Alhamdulillah, anak pertamanya bisa menempuh pendidikan hingga bangku kuliah.
Kemarin kami sekeluarga berkendaraan melewati jalan-jalan di seputaran Taman Mini. Kebetulan kami tinggal tidak jauh dari tempat wisata ini. Di sekitar lampu merah dekat terowongan, tidak jauh dari pintu masuk Taman Mini, beberapa orang yang mengenakan kostum boneka Winnie the Pooh, Doraemon, Angry Birds, dan Hello Kitty melambai-lambaikan tangannya kepada para pengendara yang terhenti sejenak menunggu lampu hijau menyala. Mereka hanya menyapa dari sisi jalan, tidak berusaha menghampiri kendaraan untuk meminta uang layaknya pengemis. Mungkin sebagian orang berpikir badut-badut ini hanyalah ingin menghibur anak-anak yang berada di dalam mobil saja, tetapi mereka sebenarnya sedang mencari nafkah.
Anak bungsu saya kebetulan sangat menyukai Doraemon. Ketika jendela mobil dibuka dan selembar uang disodorkan kepada badut berkostum Doraemon, tampaklah sesosok ibu berjilbab dari balik lubang angin kostum tersebut mengucapkan terima kasih. Mungkin saja ini ibu dari pasien yang pernah saya temui di RS. Atau bisa jadi sosok-sosok lain di dalam kostum badut ini sesungguhnya adalah para ibu, bukan kaum pria saja.
Terima kasih sudah menghibur anak-anak kami, ibu-ibu berkostum badut.
Anak diare tidak boleh makan sayur? Kapan harus pakai antibiotik?
Benarkah bila anak diare tidak boleh makan sayur dan susunya harus diencerkan?
Beberapa hari terakhir kasus diare lebih sering saya jumpai di poliklinik. Di IGD dan ruang rawat pun, rasanya tiada hari tanpa diare. Bila seluruh orangtua yang datang membawa anaknya yang diare dan ditanyakan: apa yang paling mereka inginkan, jawaban utamanya kemungkinan cuma satu: agar diarenya cepat mampet! Bagaimana cara mempercepat penyembuhan pada diare? Jujur, saya tidak tahu jawabannya. Jadi apabila orangtua bertanya pada saya: apa obatnya agar diare cepat berhenti? Maka jawab saya: tidak tahu.
Diare atau mencret alias muntaber (muntah dan berak-berak) adalah ketika konsistensi tinja lebih cair dan lebih banyak air dibandingkan dengan ampasnya. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari infeksi, keracunan makanan, alergi makanan, hingga intoleransi laktosa. Jadi tidak semua penyebab diare adalah sama. Tetapi, PENYEBAB TERSERING diare pada anak adalah INFEKSI VIRUS.
Apa saja hal-hal yang harus orangtua kenali dari diare?
1. Pada hakekatnya, diare (dengan atau tanpa muntah) adalah upaya tubuh untuk mengeluarkan hal-hal yang seharusnya tidak masuk ke dalam tubuh, misalnya virus dan bakteri. Ini pula mungkin sebabnya tidak ada obat yang efektif menghentikan diare, dan memang diare tidak perlu distop! Karena diare adalah bentuk pertahanan tubuh mengeluarkan kuman. TETAPI, dalam proses mengeluarkan kuman inilah anak dapat mengalami DEHIDRASI alias kekurangan cairan tubuh, bahkan bisa berujung pada kematian. Maka, pada diare, hal TERPENTING adalah mencegah dan mengatasi dehidrasi. Bukan menyetop diare atau muntahnya. Caranya: ya kasih minum, minum, dan minum. Bila tidak terkejar dari minum dan anak sangat sulit diberi minum, pemberian cairan lewat selang lambung (NGT) dan infus mungkin diperlukan.
2. Bolehkah memberi obat penghenti diare pada anak, semisal: kaolin dan pektin, atapulgit, dihidrosmektin, dan loperamid? Jawabannya: mulai dari tidak perlu (karena tidak bermanfaat) sampai tidak boleh (karena efek samping yang membahayakan). Lalu apa obatnya? Cairan, utamanya larutan gula-garam semisal oralit dan cairan rehidrasi oral (CRO) lain yang ujung-ujungnya berakhiran "lyte". Bukankah anak tidak suka karena rasanya aneh? Ya berikan sedikit-sedikit dengan sendok. Tidak suka juga! Perbanyak terus minumnya, yang masih dapat ASI diteruskan ASI-nya.
Tapi anaknya tidak mau makan karena muntah dan mual? Kalaupun menolak makanan sesuap pun, perbanyak terus minumnya. Karena anak yang dehidrasi cenderung lebih haus. Kecuali dehidrasi berat yang sudah sulit minum dan harus dirawat di RS.
Perlukah pemberian probiotik? Sampai saat ini, selain CRO, terapi yang direkomendasikan oleh WHO adalah suplementasi zinc (seng) untuk diare akut. Probiotik belum masuk rekomendasi WHO untuk pengobatan diare akut yang utamanya disebabkan oleh infeksi virus. Probiotik mungkin bermanfaat untuk diare yang disebabkan oleh pemberian antibiotik (antibiotic associated diarrhea).
2. Kata nenek, kalau diare tidak boleh makan sayur. Dan kalau minum susu harus diganti dg yang low lactose milk (LLM) atau free lactose (FL). Kalau masih diberikan susu dan sayurnya diteruskan, maka diarenya berkepanjangan. Padahal anaknya maunya minum susu dan masih mau makan sayur.
Ada yang pernah dengar pernyataan di atas?
Jadi... kalau anak sedang diare itu... tetap boleh diberikan makan sayur dan diteruskan pemberian susunya.
Loh, bukannya nanti tambah mencret? Ingat, di awal posting sebelumnya, saya sampaikan bahwa mayoritas diare akut pada anak disebabkan oleh infeksi virus, bukan intoleransi laktosa atau malabsorpsi karbohidrat/lemak/protein. Bahasan tentang intoleransi, malabsorpsi, dan alergi makanan tidak saya sampaikan di sini, secara umum diarenya melanjut (bukan akut).
Perhatikan, pada anak yang diare, bukan sekedar risiko dehidrasi yang terjadi, tetapi juga malnutrisi (kekurangan zat gizi). Kita perhatikan anak-anak yang diare susah sekali makannya. Bisa karena mual, atau nafsu makan memang turun. Apabila anak-anak ini sudah susah makan/minum dan masih ditambah adanya pantangan makan dari orangtua, bayangkan makin sedikit nutrisi yang mereka dapatkan. Maunya makan nasi, dipaksa makan bubur. Maunya minum susu dan tidak mau air putih, dilarang minum susu. Maunya makan sayur dan sop, dipantang. Jadi, ubahlah paradigma lama ini.
Tentu halnya berbeda ya bila anaknya diare karena intoleransi laktosa. Tapi ciri-cirinya kan beda dengan diare akibat rotavirus.
Kapan diare diberikan antibiotik?
Salah satu yg kadang membuat saya sedih adalah beberapa kali saya mendapatkan anak yang mengalami diare akut, apapun penyebabnya, langsung diresepkan antibiotik oleh dokter. Biasanya jenisnya cotrimoksasol.
Apa kira-kira alasannya?
Perlu ditegaskan lagi bahwa mayoritas diare akut pada anak (dewasa sebenarnya juga kurang lebih sama) yang disebabkan oleh infeksi adalah karena infeksi virus, bukan bakteri. Mayoritas penyebab diare akut pada anak adalah rotavirus, dan sebagian kecil lain seperti norovirus dan adenovirus. Tentunya antibiotik tidak diperlukan. Justru pemberian antibiotik pada diare akibat infeksi virus dapat mematikan bakteri baik di dalam usus besar kita.
Analogi yang diajarkan guru saya adalah: antibiotiknya masuk dan mencari-cari mana bakteri yang bisa dibunuh? Eh, ketemunya bakteri baik. Jadi dibunuhlah si bakteri baik ini dan yang terjadi adalah: diare berkepanjangan. Maka dikenal istilah: antibiotic associated diarrhea (AAD).
Tubuh kita ternyata adalab kebun binatang raksasa. Jumlah bakteri baik penghuni tubuh kita bahkan lebih banyak 10 kali lipat dari jumlah sel penyusun tubuh! Ilmuwan menyebutnya sebagai HUMAN MICROBIOME. Dan sebagian besar bakteri baik penghuni tubuh kita ini bersemayam di usus.
Allah memang menciptakan segala sesuatu dengan tujuan. Termasuk kenapa bakteri baik ini harus ada. Kita sudah belajar biologi sejak SMP dan tahu bakteri Eschericia coli penghuni usus kita ini berfungsi membantu produksi vitamin K dan menjaga pencernaan tetap sehat.
Lalu bagaimana mengetahui diarenya karena infeksi bakteri, bukan infeksi virus?
(bersambung?)
Beberapa hari terakhir kasus diare lebih sering saya jumpai di poliklinik. Di IGD dan ruang rawat pun, rasanya tiada hari tanpa diare. Bila seluruh orangtua yang datang membawa anaknya yang diare dan ditanyakan: apa yang paling mereka inginkan, jawaban utamanya kemungkinan cuma satu: agar diarenya cepat mampet! Bagaimana cara mempercepat penyembuhan pada diare? Jujur, saya tidak tahu jawabannya. Jadi apabila orangtua bertanya pada saya: apa obatnya agar diare cepat berhenti? Maka jawab saya: tidak tahu.
Diare atau mencret alias muntaber (muntah dan berak-berak) adalah ketika konsistensi tinja lebih cair dan lebih banyak air dibandingkan dengan ampasnya. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari infeksi, keracunan makanan, alergi makanan, hingga intoleransi laktosa. Jadi tidak semua penyebab diare adalah sama. Tetapi, PENYEBAB TERSERING diare pada anak adalah INFEKSI VIRUS.
Apa saja hal-hal yang harus orangtua kenali dari diare?
1. Pada hakekatnya, diare (dengan atau tanpa muntah) adalah upaya tubuh untuk mengeluarkan hal-hal yang seharusnya tidak masuk ke dalam tubuh, misalnya virus dan bakteri. Ini pula mungkin sebabnya tidak ada obat yang efektif menghentikan diare, dan memang diare tidak perlu distop! Karena diare adalah bentuk pertahanan tubuh mengeluarkan kuman. TETAPI, dalam proses mengeluarkan kuman inilah anak dapat mengalami DEHIDRASI alias kekurangan cairan tubuh, bahkan bisa berujung pada kematian. Maka, pada diare, hal TERPENTING adalah mencegah dan mengatasi dehidrasi. Bukan menyetop diare atau muntahnya. Caranya: ya kasih minum, minum, dan minum. Bila tidak terkejar dari minum dan anak sangat sulit diberi minum, pemberian cairan lewat selang lambung (NGT) dan infus mungkin diperlukan.
2. Bolehkah memberi obat penghenti diare pada anak, semisal: kaolin dan pektin, atapulgit, dihidrosmektin, dan loperamid? Jawabannya: mulai dari tidak perlu (karena tidak bermanfaat) sampai tidak boleh (karena efek samping yang membahayakan). Lalu apa obatnya? Cairan, utamanya larutan gula-garam semisal oralit dan cairan rehidrasi oral (CRO) lain yang ujung-ujungnya berakhiran "lyte". Bukankah anak tidak suka karena rasanya aneh? Ya berikan sedikit-sedikit dengan sendok. Tidak suka juga! Perbanyak terus minumnya, yang masih dapat ASI diteruskan ASI-nya.
Tapi anaknya tidak mau makan karena muntah dan mual? Kalaupun menolak makanan sesuap pun, perbanyak terus minumnya. Karena anak yang dehidrasi cenderung lebih haus. Kecuali dehidrasi berat yang sudah sulit minum dan harus dirawat di RS.
Perlukah pemberian probiotik? Sampai saat ini, selain CRO, terapi yang direkomendasikan oleh WHO adalah suplementasi zinc (seng) untuk diare akut. Probiotik belum masuk rekomendasi WHO untuk pengobatan diare akut yang utamanya disebabkan oleh infeksi virus. Probiotik mungkin bermanfaat untuk diare yang disebabkan oleh pemberian antibiotik (antibiotic associated diarrhea).
2. Kata nenek, kalau diare tidak boleh makan sayur. Dan kalau minum susu harus diganti dg yang low lactose milk (LLM) atau free lactose (FL). Kalau masih diberikan susu dan sayurnya diteruskan, maka diarenya berkepanjangan. Padahal anaknya maunya minum susu dan masih mau makan sayur.
Ada yang pernah dengar pernyataan di atas?
Jadi... kalau anak sedang diare itu... tetap boleh diberikan makan sayur dan diteruskan pemberian susunya.
Loh, bukannya nanti tambah mencret? Ingat, di awal posting sebelumnya, saya sampaikan bahwa mayoritas diare akut pada anak disebabkan oleh infeksi virus, bukan intoleransi laktosa atau malabsorpsi karbohidrat/lemak/protein. Bahasan tentang intoleransi, malabsorpsi, dan alergi makanan tidak saya sampaikan di sini, secara umum diarenya melanjut (bukan akut).
Perhatikan, pada anak yang diare, bukan sekedar risiko dehidrasi yang terjadi, tetapi juga malnutrisi (kekurangan zat gizi). Kita perhatikan anak-anak yang diare susah sekali makannya. Bisa karena mual, atau nafsu makan memang turun. Apabila anak-anak ini sudah susah makan/minum dan masih ditambah adanya pantangan makan dari orangtua, bayangkan makin sedikit nutrisi yang mereka dapatkan. Maunya makan nasi, dipaksa makan bubur. Maunya minum susu dan tidak mau air putih, dilarang minum susu. Maunya makan sayur dan sop, dipantang. Jadi, ubahlah paradigma lama ini.
Tentu halnya berbeda ya bila anaknya diare karena intoleransi laktosa. Tapi ciri-cirinya kan beda dengan diare akibat rotavirus.
Kapan diare diberikan antibiotik?
Salah satu yg kadang membuat saya sedih adalah beberapa kali saya mendapatkan anak yang mengalami diare akut, apapun penyebabnya, langsung diresepkan antibiotik oleh dokter. Biasanya jenisnya cotrimoksasol.
Apa kira-kira alasannya?
Perlu ditegaskan lagi bahwa mayoritas diare akut pada anak (dewasa sebenarnya juga kurang lebih sama) yang disebabkan oleh infeksi adalah karena infeksi virus, bukan bakteri. Mayoritas penyebab diare akut pada anak adalah rotavirus, dan sebagian kecil lain seperti norovirus dan adenovirus. Tentunya antibiotik tidak diperlukan. Justru pemberian antibiotik pada diare akibat infeksi virus dapat mematikan bakteri baik di dalam usus besar kita.
Analogi yang diajarkan guru saya adalah: antibiotiknya masuk dan mencari-cari mana bakteri yang bisa dibunuh? Eh, ketemunya bakteri baik. Jadi dibunuhlah si bakteri baik ini dan yang terjadi adalah: diare berkepanjangan. Maka dikenal istilah: antibiotic associated diarrhea (AAD).
Tubuh kita ternyata adalab kebun binatang raksasa. Jumlah bakteri baik penghuni tubuh kita bahkan lebih banyak 10 kali lipat dari jumlah sel penyusun tubuh! Ilmuwan menyebutnya sebagai HUMAN MICROBIOME. Dan sebagian besar bakteri baik penghuni tubuh kita ini bersemayam di usus.
Allah memang menciptakan segala sesuatu dengan tujuan. Termasuk kenapa bakteri baik ini harus ada. Kita sudah belajar biologi sejak SMP dan tahu bakteri Eschericia coli penghuni usus kita ini berfungsi membantu produksi vitamin K dan menjaga pencernaan tetap sehat.
Lalu bagaimana mengetahui diarenya karena infeksi bakteri, bukan infeksi virus?
(bersambung?)
Tanya jawab seputar pemberian obat penurun panas (antipiretik)
1. Benarkah antipiretik diberikan bila suhu badan anak di atas 38 derajat selsius?
Ya, obat pereda demam atau antipiretik semacam parasetamol dapat diberikan ketika anak demam, yaitu suhunya di atas 38. Tetapi banyak ahli bersepakat saat ini pemberian antipiretik sebenarnya lebih bertujuan untuk membuat anak merasa nyaman (tidak rewel), bukan segera menurunkan suhu badan. Artinya: katakanlah suhu anak 39 derajat selsius, tetapi masih bisa bermain dan berjalan-jalan, tidak rewel, maka tidak perlu buru-buru memberikan antipiretik. Toh demam diciptakan untuk memerangi infeksi agar cepat sembuh.
2. Bukankah bila tidak segera diberikan antipiretik, anak akan berisiko mengalami kejang demam?
Untungnya tidak. Tidak ada hubungan antara tingginya suhu tubuh dengan risiko kejang demam. Kejang demam (KD) hanya dialami oleh mereka yg memiliki "bakat" untuk terjadi KD. Bila tidak punya "bakat", suhu di atas 40 derajat selsius pun tidak menjadi KD. Lagipula, kejang demam (bukan meningitis/ensefalitis ya) tidak merusak otak.
Fakta lainnya adalah: antipiretik tidak dapat mencegah terjadinya KD pd mereka yg mempunyai bakat.
3. Bagaimana bila anak tidak mau minum antipiretik saat demam? Haruskah kita memaksanya?
Wah, hal yg serupa ternyata juga terjadi pada anak-anak saya. Jika dipaksa minum, malah dimuntahkan. Lalu ia menangis karena kesal. Terjadilah perang kecil. Hehe. Buat saya, filosofi anak menolak minum obat penurun panas adalah: ia menolak (tanpa disadarinya) tubuhnya segera dinyamankan dengan minum obat. Meskipun seringkali juga antipiretik tidak berhasil menurunkan suhu dan menyamankan anak. Toh, tanpa diberikan antipiretik apapun, tubuh akan menurunkan sendiri suhu tubuhnya. Kita memiliki termostat di hipotalamus yg mengatur suhu tubuh tidak " bablas" ketinggian. Pada suhu maksimal tertentu, tubuh akan menurunkan sendiri demamnya.
Yah...akhirnya selama demam dan ia tidak nyaman plus tidak mau minum obat, kita nyamankan dengan cara menggendongnya, memeluknya, membacakannya cerita, dan memastikan cukup minum. Karena yg dikhawatirkan pd demam sesungguhnya adalah dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) karena terbuang oleh panas.
Ya, obat pereda demam atau antipiretik semacam parasetamol dapat diberikan ketika anak demam, yaitu suhunya di atas 38. Tetapi banyak ahli bersepakat saat ini pemberian antipiretik sebenarnya lebih bertujuan untuk membuat anak merasa nyaman (tidak rewel), bukan segera menurunkan suhu badan. Artinya: katakanlah suhu anak 39 derajat selsius, tetapi masih bisa bermain dan berjalan-jalan, tidak rewel, maka tidak perlu buru-buru memberikan antipiretik. Toh demam diciptakan untuk memerangi infeksi agar cepat sembuh.
2. Bukankah bila tidak segera diberikan antipiretik, anak akan berisiko mengalami kejang demam?
Untungnya tidak. Tidak ada hubungan antara tingginya suhu tubuh dengan risiko kejang demam. Kejang demam (KD) hanya dialami oleh mereka yg memiliki "bakat" untuk terjadi KD. Bila tidak punya "bakat", suhu di atas 40 derajat selsius pun tidak menjadi KD. Lagipula, kejang demam (bukan meningitis/ensefalitis ya) tidak merusak otak.
Fakta lainnya adalah: antipiretik tidak dapat mencegah terjadinya KD pd mereka yg mempunyai bakat.
3. Bagaimana bila anak tidak mau minum antipiretik saat demam? Haruskah kita memaksanya?
Wah, hal yg serupa ternyata juga terjadi pada anak-anak saya. Jika dipaksa minum, malah dimuntahkan. Lalu ia menangis karena kesal. Terjadilah perang kecil. Hehe. Buat saya, filosofi anak menolak minum obat penurun panas adalah: ia menolak (tanpa disadarinya) tubuhnya segera dinyamankan dengan minum obat. Meskipun seringkali juga antipiretik tidak berhasil menurunkan suhu dan menyamankan anak. Toh, tanpa diberikan antipiretik apapun, tubuh akan menurunkan sendiri suhu tubuhnya. Kita memiliki termostat di hipotalamus yg mengatur suhu tubuh tidak " bablas" ketinggian. Pada suhu maksimal tertentu, tubuh akan menurunkan sendiri demamnya.
Yah...akhirnya selama demam dan ia tidak nyaman plus tidak mau minum obat, kita nyamankan dengan cara menggendongnya, memeluknya, membacakannya cerita, dan memastikan cukup minum. Karena yg dikhawatirkan pd demam sesungguhnya adalah dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) karena terbuang oleh panas.
4. Benarkah pemberian antipiretik dari dubur dibolehkan, apabila anak tidak mau minum obat? Dan benarkah pemberian antipiretik supositoria ini lebih cepat meredakan demam?
Inilah yg namanya FEVER PHOBIA! Takut ya sama demam? Hehe.
Seingat saya, penelitian menunjukkan pemberian antipiretik lewat dubur (supositoria) tidak lebih efektif dibandingkan dengan obat minum dalam meredakan demam. Selain itu, kebanyakan anak tidak suka dan mengalami trauma psikologis bila diberikan obat lewat dubur. Lalu kapan obat seperti ini dapat diberikan? Misalnya pd anak-anak dengan hiperpireksia yg dirawat di RS, dengan kecurigaan infeksi susunan saraf pusat, dan/atau ada kontraindikasi pemberian obat minum, padahal tingginya suhu harus diatasi.
Inilah yg namanya FEVER PHOBIA! Takut ya sama demam? Hehe.
Seingat saya, penelitian menunjukkan pemberian antipiretik lewat dubur (supositoria) tidak lebih efektif dibandingkan dengan obat minum dalam meredakan demam. Selain itu, kebanyakan anak tidak suka dan mengalami trauma psikologis bila diberikan obat lewat dubur. Lalu kapan obat seperti ini dapat diberikan? Misalnya pd anak-anak dengan hiperpireksia yg dirawat di RS, dengan kecurigaan infeksi susunan saraf pusat, dan/atau ada kontraindikasi pemberian obat minum, padahal tingginya suhu harus diatasi.
5. Saat anak saya tidur, saya meraba dahinya panas sekali. Lalu saya ukur suhunya 40°C! Bolehkah saya membangunkannya supaya dia minum obat? Atau saya masukkan obat dr dubur saja? Saya takut anak saya kejng saat tidur...
Sudah kita bahas alasan-alasan sebelumnya ya Anak yg sedang demam karena sakit cenderung kurang istirahat karena tidak nyaman badannya. Maka ketika ia sedang tidur, jangan dibangunkan hanya "sekedar" untuk memaksanya minum obat. Biarkan ia beristirahat. Toh artinya ia sedang tidak rewel juga kan.
Sudah kita bahas alasan-alasan sebelumnya ya Anak yg sedang demam karena sakit cenderung kurang istirahat karena tidak nyaman badannya. Maka ketika ia sedang tidur, jangan dibangunkan hanya "sekedar" untuk memaksanya minum obat. Biarkan ia beristirahat. Toh artinya ia sedang tidak rewel juga kan.
6. Benarkah pemberian ibuprofen lebih baik dlm meredakan demam dibandingkan dengan parasetamol?
Ternyata tidak juga. Malah ibuprofen lebih cenderung memberikan efek samping mengiritasi lambung. Parasetamol juga bukannya tanpa risiko. Pemberian yg overdosis dapat merusak hati (liver).
7. Benarkah dosis obat parasetamol diberikan sesuai usia yg tertera di kemasan obat?
Ternyata seharusnya tidak seperti ini! Dosis obat, termasuk parasetamol, diberikan sesuai berat badan, bukan usia. Bisa saja seorang anak mengalami overweight atau sebaliknya underweight, sehingga beratnya tidak sama dengan anak-anak sebayanya. Bisa saja obat yg diberikan malah underdosis atau bahkan overdosis. Sepatutnya orangtua tahu cara menghitung dosis obat secara sederhana, misalnya saja dosis parasetamol adalah 10 sampai 15 miligram per kilogram berat badan per kali pemberian. Lalu tinggal dikonversi kepada mililiter yg berlaku di sediaan obat.
Ternyata seharusnya tidak seperti ini! Dosis obat, termasuk parasetamol, diberikan sesuai berat badan, bukan usia. Bisa saja seorang anak mengalami overweight atau sebaliknya underweight, sehingga beratnya tidak sama dengan anak-anak sebayanya. Bisa saja obat yg diberikan malah underdosis atau bahkan overdosis. Sepatutnya orangtua tahu cara menghitung dosis obat secara sederhana, misalnya saja dosis parasetamol adalah 10 sampai 15 miligram per kilogram berat badan per kali pemberian. Lalu tinggal dikonversi kepada mililiter yg berlaku di sediaan obat.
Semoga bermanfaat.
Leukosit tinggi! Apa yang ditakutkan?
"Dok, anak saya tinggi lekositnya. 22 ribu. Saya sudah ke dokter anak lain sebelumnya dan diresepkan antibiotik. Apakah harus diminum?" Ibu di hadapan saya bertanya dengan wajah yang panik.
"Ngomong-ngomong, apa keluhan anaknya Bu?" tanyaku. Ia lalu menjelaskan bahwa anaknya sudah demam 3 hari dan batuk-batuk. Anaknya masih relatif aktif. Tetapi karena demamnya belum pernah selama ini, ia lalu membawa anaknya ke dokter dekat rumah dan diperiksakan darahnya. Hasilnya: lekosit tinggi dan diresepkan antibiotik.
"Ibu sudah bertanya ke dokter sebelumnya, apa alasannya diberikan antibiotik?" tanyaku lagi.
"Sudah, karena lekositnya tinggi." jawabnya
Di lain cerita, ada lagi yang mengeluhkan: "Dok, anak saya demam dan diare sudah 4 hari. Lekositnya 40 ribu. Saya sudah ke dokter di RS dan disarankan untuk dirawat, untuk mendapatkan infus antibiotik. Kata dokter, lekosit setinggi ini harus mendapatkan antibiotik suntik."
Benarkah demikian? Lekosit tinggi berarti infeksi bakteri, dan bakteri harus dibunuh dengan antibiotik? Lalu makin tinggi nilai lekosit, maka makin membahayakan tubuh, sehingga harus dirawat dan mendapat antibiotik suntik?
Ada beberapa hal yang ingin saya komentari.
Pertama, dokter mengobati pasien (baca: orang alias manusia), bukan mengobati hasil laboratorium. Maka yang harus dinilai pertama kali dan yang paling utama adalah: bagaimana keadaan klinis pasien? Tampak sakit berat? Masih aktif, walau lebih lemah? Masih bisa minum? Frekuensi pipis masih normal? Nah, pemeriksaan laboratorium dibutuhkan sebagai penunjang. Untuk makin meyakinkan apa sebenarnya diagnosis pasien. Bahkan, apabila wawancara terhadap pasien ditambah dengan pemeriksaan fisiknya sudah cukup untuk menyimpulkan diagnosis, maka pemeriksaan laboratorium tidak perlu dilakukan. Satu lagi, apabila ada ketidakcocokan antara kondisi klinis pasien dengan hasil laboratorium, maka yang lebih dipercaya adalah orangnya, bukan labnya. Ini yang saya pelajari dari guru-guru saya. Diagnosis adalah formulasi dari anamnesis (wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang). Terapi ditentukan oleh diagnosis. Apabila infeksi bakteri, maka membutuhkan antibiotik, dan bila infeksi virus, maka tidak butuh.
Kedua, sayangnya nilai leukosit seringkali tidak mampu membedakan antara infeksi virus dengan bakteri. Nilai lekosit tinggi yang mencapai puluhan ribu bisa disebabkan oleh baik infeksi virus maupun bakteri.
Beberapa pemeriksaan tambahan memang bisa dilakukan untuk membantu membedakan, misalnya hitung jenis yang segmenter, c-reactive protein (CRP), dan prokalsitonin (PCT). Tapi tetap saja masing-masing mempunyai keterbatasannya dan klinis adalah nomor 1.
Ketiga, kembali lagi kepada prinsip mengapa lekosit naik pada infeksi? Leukosit atau sel darah putih dibentuk sebagai tentara pertahanan tubuh kita. Jadi bila tubuh kita diserang kuman, maka sangat wajar tentaranya keluar dalam jumlah banyak untuk memerangi musuh. Lekosit yang naik justru menandakan sistem imun kita masih bekerja.
Terakhir, ada kondisi-kondisi tertentu lekosit yang tinggi menandakan kegawatdaruratan. Namanya: hiperlekositosis. Nilai lekosit naik melebihi 100 ribu sel per mikroliter. Klinis pasiennya dicurigai mengalami leukemia atau kanker sel darah putih. Maka jumlah lekosit yang sangat tinggi ini sesungguhnya didominasi oleh lekosit muda (blast) yang abnormal, alias sel kanker. Tentunya kondisi pasien tidak semata dengan lekosit tinggi saja, tetapi ada pucat disertai hemoglobin yang turun, pembesaran hati dan/atau limpa, dan trombosit turun juga. Ada penekanan terhadap sumsum tulang yang membuat semua fungsi produksi sel darah menurun. Kondisi hiperlekositosis adalah keadaan gawat darurat yang harus segera ditangani.
Jadi, tidak semua lekosit yang tinggi harus dianggap infeksi bakteri kan?
Catatan: ada pula yang mendefisinikan hiperlekositosis sebagai nilai lekosit di atas 50 ribu. Lagi-lagi, yang terpenting adalah: bagaimana kondisi klinis pasien
"Ngomong-ngomong, apa keluhan anaknya Bu?" tanyaku. Ia lalu menjelaskan bahwa anaknya sudah demam 3 hari dan batuk-batuk. Anaknya masih relatif aktif. Tetapi karena demamnya belum pernah selama ini, ia lalu membawa anaknya ke dokter dekat rumah dan diperiksakan darahnya. Hasilnya: lekosit tinggi dan diresepkan antibiotik.
"Ibu sudah bertanya ke dokter sebelumnya, apa alasannya diberikan antibiotik?" tanyaku lagi.
"Sudah, karena lekositnya tinggi." jawabnya
Di lain cerita, ada lagi yang mengeluhkan: "Dok, anak saya demam dan diare sudah 4 hari. Lekositnya 40 ribu. Saya sudah ke dokter di RS dan disarankan untuk dirawat, untuk mendapatkan infus antibiotik. Kata dokter, lekosit setinggi ini harus mendapatkan antibiotik suntik."
Benarkah demikian? Lekosit tinggi berarti infeksi bakteri, dan bakteri harus dibunuh dengan antibiotik? Lalu makin tinggi nilai lekosit, maka makin membahayakan tubuh, sehingga harus dirawat dan mendapat antibiotik suntik?
Ada beberapa hal yang ingin saya komentari.
Pertama, dokter mengobati pasien (baca: orang alias manusia), bukan mengobati hasil laboratorium. Maka yang harus dinilai pertama kali dan yang paling utama adalah: bagaimana keadaan klinis pasien? Tampak sakit berat? Masih aktif, walau lebih lemah? Masih bisa minum? Frekuensi pipis masih normal? Nah, pemeriksaan laboratorium dibutuhkan sebagai penunjang. Untuk makin meyakinkan apa sebenarnya diagnosis pasien. Bahkan, apabila wawancara terhadap pasien ditambah dengan pemeriksaan fisiknya sudah cukup untuk menyimpulkan diagnosis, maka pemeriksaan laboratorium tidak perlu dilakukan. Satu lagi, apabila ada ketidakcocokan antara kondisi klinis pasien dengan hasil laboratorium, maka yang lebih dipercaya adalah orangnya, bukan labnya. Ini yang saya pelajari dari guru-guru saya. Diagnosis adalah formulasi dari anamnesis (wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang). Terapi ditentukan oleh diagnosis. Apabila infeksi bakteri, maka membutuhkan antibiotik, dan bila infeksi virus, maka tidak butuh.
Kedua, sayangnya nilai leukosit seringkali tidak mampu membedakan antara infeksi virus dengan bakteri. Nilai lekosit tinggi yang mencapai puluhan ribu bisa disebabkan oleh baik infeksi virus maupun bakteri.
Beberapa pemeriksaan tambahan memang bisa dilakukan untuk membantu membedakan, misalnya hitung jenis yang segmenter, c-reactive protein (CRP), dan prokalsitonin (PCT). Tapi tetap saja masing-masing mempunyai keterbatasannya dan klinis adalah nomor 1.
Ketiga, kembali lagi kepada prinsip mengapa lekosit naik pada infeksi? Leukosit atau sel darah putih dibentuk sebagai tentara pertahanan tubuh kita. Jadi bila tubuh kita diserang kuman, maka sangat wajar tentaranya keluar dalam jumlah banyak untuk memerangi musuh. Lekosit yang naik justru menandakan sistem imun kita masih bekerja.
Terakhir, ada kondisi-kondisi tertentu lekosit yang tinggi menandakan kegawatdaruratan. Namanya: hiperlekositosis. Nilai lekosit naik melebihi 100 ribu sel per mikroliter. Klinis pasiennya dicurigai mengalami leukemia atau kanker sel darah putih. Maka jumlah lekosit yang sangat tinggi ini sesungguhnya didominasi oleh lekosit muda (blast) yang abnormal, alias sel kanker. Tentunya kondisi pasien tidak semata dengan lekosit tinggi saja, tetapi ada pucat disertai hemoglobin yang turun, pembesaran hati dan/atau limpa, dan trombosit turun juga. Ada penekanan terhadap sumsum tulang yang membuat semua fungsi produksi sel darah menurun. Kondisi hiperlekositosis adalah keadaan gawat darurat yang harus segera ditangani.
Jadi, tidak semua lekosit yang tinggi harus dianggap infeksi bakteri kan?
Catatan: ada pula yang mendefisinikan hiperlekositosis sebagai nilai lekosit di atas 50 ribu. Lagi-lagi, yang terpenting adalah: bagaimana kondisi klinis pasien
Croup: Apakah Itu?
Kemarin, untuk kedua kalinya saya mendapatkan kasus croup. Apa pula itu? Saya belum mendapatkan padanannya dalam bahasa Indonesia. Seorang anak laki-laki berusia 1 tahun datang dengan batuk yang terdengar "menggonggong" dan terlihat lebih sesak sejak malam sebelumnya. Anaknya masih aktif, mau makan dan minum, dan mengalami batuk pilek sejak tiga hari sebelumnya. Kebetulan tidak ada demam, tetapi napasnya terlihat cepat.
Bronkiolitis. Diagnosis ini yang terlintas di "snap judgement" saya. Memeriksa anak tidak semudah orang dewasa yang kooperatif. Kadang urutan pemeriksaan dari anamnesis, lalu pemeriksaan fisik di tempat tidur tidak selalu berjalan mulus. Anak yang sesak jangan sampai dibuat menangis, karena akan mengacaukan penilaian hitung frekuensi napasnya dan melihat tarikan dinding dadanya. Apabila direbahkan di tempat pemeriksaan, anak hampir dipastikan akan menangis.
Untuk itu, sambil bertanya-tanya kepada orangtuanya, anak diminta untuk dibukakan bajunya, agar dapat dilihat gerakan napasnya. Mendengarkan bunyi napas dengan stetoskop pun dilakukan sambil menghampiri anak yang masih digendong. Ternyata rapid assessment saya salah. Saya tidak mendengarkan bunyi mengi (wheezing) ataupun ronki. Anak mulai terbatuk-batuk sambil menangis, karena takut diperiksa. Barking cough. Ini croup.
Pemeriksaan lain tidak menunjukkan adanya masalah. Rongga mulutnya lapang, tidak ada "radang tenggorokan". Kelenjar getah bening leher tidak teraba membesar. Tidak ada alasan untuk menyimpulkan ini adalah infeksi bakteri yang membutuhkan antibiotik.
Edukasi kepada orangtua dilakukan sambil sama-sama membacahttp://m.kidshealth.org/ parent/infections/lung/ croup.html dari ponsel. Artikel ini meyakinkan kepada orangtua bahwa croup murni disebabkan oleh virus (parainfluenza/RSV) dan tidak butuh antibiotik. Karena croup yang dialami anak ini ringan, maka tidak membutuhkan obat tambahan seperti steroid atau inhalasi adrenalin. Gejala diharapkan mereda dalam 3-7 hari mendatang.
diambil dari Fanpage Orangtua Cermat, Anak Sehat di https://www.facebook.com/pages/Orangtua-Cermat-Anak-Sehat/
Bronkiolitis. Diagnosis ini yang terlintas di "snap judgement" saya. Memeriksa anak tidak semudah orang dewasa yang kooperatif. Kadang urutan pemeriksaan dari anamnesis, lalu pemeriksaan fisik di tempat tidur tidak selalu berjalan mulus. Anak yang sesak jangan sampai dibuat menangis, karena akan mengacaukan penilaian hitung frekuensi napasnya dan melihat tarikan dinding dadanya. Apabila direbahkan di tempat pemeriksaan, anak hampir dipastikan akan menangis.
Untuk itu, sambil bertanya-tanya kepada orangtuanya, anak diminta untuk dibukakan bajunya, agar dapat dilihat gerakan napasnya. Mendengarkan bunyi napas dengan stetoskop pun dilakukan sambil menghampiri anak yang masih digendong. Ternyata rapid assessment saya salah. Saya tidak mendengarkan bunyi mengi (wheezing) ataupun ronki. Anak mulai terbatuk-batuk sambil menangis, karena takut diperiksa. Barking cough. Ini croup.
Pemeriksaan lain tidak menunjukkan adanya masalah. Rongga mulutnya lapang, tidak ada "radang tenggorokan". Kelenjar getah bening leher tidak teraba membesar. Tidak ada alasan untuk menyimpulkan ini adalah infeksi bakteri yang membutuhkan antibiotik.
Edukasi kepada orangtua dilakukan sambil sama-sama membacahttp://m.kidshealth.org/
diambil dari Fanpage Orangtua Cermat, Anak Sehat di https://www.facebook.com/pages/Orangtua-Cermat-Anak-Sehat/
Wednesday, September 24, 2014
Stop Merokok Demi Anak
Ingin tahu apa lagi kejahatan rokok? Simak tulisan berikut yang memuat wawancara dengan saya di http://health.detik.com/read/2014/03/24/105635/2534413/763/terpapar-residu-asap-rokok-ayahnya-bayi-ini-meninggal-kena-pneumonia
Terpapar Residu Asap Rokok Ayahnya, Bayi Ini Meninggal Kena Pneumonia
M Reza Sulaiman - detikHealth
Senin, 24/03/2014 11:07 WIB
M Reza Sulaiman - detikHealth
Senin, 24/03/2014 11:07 WIB
Jakarta, Jangankan menghirup asap rokok, menghirup residu atau endapan racun dari asap rokok juga berbahaya bagi anak. Seorang mantan perokok aktif mengaku telah mengalaminya sendiri, sang anak meninggal meski ia selalu merokok di luar rumah.
Pengakuan tersebut disampaikan seorang pria di sebuah forum online. Pria yang menggunakan akun 05072013 tersebut mengisahkan, anaknya meninggal akibat pneumonia atau radang paru-paru akut di usia yang masih sangat muda, yakni 1 tahun. Sama seperti kisah tentang Keanu, pengakuan pria ini juga tersebar luas di jejaring sosial.
"Gua mantan perokok gan (perokok aktif selama 18 thn). Anak gua cewek hanya bisa genap usianya 1 tahun 10 hari, wafat di vonis radang paru-paru akut (pneumonia) krn ayahnya ngerokok. bukan ngerokok di sebelah anaknya (gua klo ngerokok pasti keluar rumah), tetapi menghirup racun-racun nikotin dari baju ayahnya saat kondisi menggendongnya setelah barusan merokok :sedih," demikian kutipan pengakuan sang ayah, yang kepada detikHealth tidak bersedia mengungkapkan identitas aslinya.
Kisah-kisah semacam ini dinilai tidak terlalu mengejutkan bagi dokter yang juga penulis buku kesehatan anak, dr Arifianto, SpA. Menurut dokter yang akrab disapa dr Apin ini, orang tua yang merokok tetap membuat anak berisiko terkena penyakit paru-paru meski sudah membatasi untuk tidak merokok di dalam rumah.
"Asap rokok itu efeknya sampai 10 meter. Jadi walaupun di luar rumah tetap ada risiko asap masuk ke dalam," kata dr Apin saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Senin (24/3/2014).
Risiko tersebut merupakan efek dari residu racun rokok, yang menempel di baju maupun benda, gorden, seprai, dan sebagainya. Seseorang yang terpapar racun rokok dengan cara demikian disebut sebagai third hand smoker. Bahayanya sama seperti second hand smoker, yang oleh orang awam sering disebut perokok pasif.
"Tetap saja (berisiko) biar merokok di kantor atau di perjalanan tetapi baru masuk rumah langsung peluk, gendong, atau cium anak tanpa mandi, bersih-bersih dan sikat gigi dahulu," ungkap dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi perokok pada tahun 2007, 2010, dan 2013 berturut-turut meningkat dari 34,2%; 34,7% dan akhirnya 36,3%. Tak hanya itu, dari 92 juta orang perokok pasif, 43 juta di antaranya anak-anak dan yang paling menyedihkan dan memprihatinkan adalah 11,4 juta dari anak-anak ini masih berusia balita.
Sebuah kisah tentang campak
Setelah beberapa bulan tidak menjumpai kasus campak, kemarin saya mendapatinya lagi. Seorang anak berusia 15 bulan yang memeluk ibunya erat. Ia tampak lemah, dengan ruam merah di sekujur tubuhnya. Anak ini memang belum diimunisasi campak saat berusia 9 bulan, bukan karena menolak, tapi ibunya beralasan si ayah mengalami stroke sehingga ia sibuk mengurus ayah dan kurang memperhatikan imunisasi anaknya.
Namun bagaimanapun juga, tidak sepatutnya virus campak menjangkiti anak ini. Apabila cakupan imunisasi campak sudah tinggi, herd immunity yg terbentuk seharusnya melindungi anak-anak yang belum diimunisasi.
Banyak orangtua juga menganggap campak sebagai penyakit ringan. Mereka mengira semua anak akan terkena campak dengan sendirinya. Ketika seorang anak mengalami demam yang berakhir dengan ruam di seluruh badan, orangtua menyimpulkan ini adalah campak. Penyakit ringan. Toh anaknya justru makin aktif setelah ruam muncul dan demam reda. Mereka salah. Ini bukan campak. Kemungkinan ini roseola (eksantema subitum) yang merupakan penyakit ringan dan tanpa komplikasi. Virusnya berbeda dengan campak. Sebagian orang menyebutnya dengan "tampek". Atau mungkin anak-anak ini mengalani rubella, yang jarang menimbulkan komplikasi pada anak.
Ketahuilah bahwa campak penyakit berat. Campak sering menimbulkan komplikasi pneumonia dan ensefalitis, yang berakhir dengan kematian. Kadang-kadang sebagian penderitanya juga mengalami ketulian dan kebutaan (akibat keratitis) sebagai "oleh-olehnya". Dan pada kondisi yang sangat jarang, campak menimbulkan subacute sclerosing panencephalitis atau SSPE. Simaklah kisah di sini:http://www.vaccinestoday.eu/vaccines/how-measles-can-change-a-life/Orangtua ini mengisahkan anaknya yang mengalami SSPE, lebih dari 10 tahun setelah sang anak terkena campak di usia yang sangat muda: 6 bulan, ketika belum masuk usia untuk diimunisasi campak. Selama bertahun-tahun anak ini hidup sehat dan normal, tiba-tiba di suatu saat ia mengalami kejang berulang dan kini hidup dalam kondisi vegetatif: seperti tumbuhan.
Orangtua harus mempelajari gejala-gejala campak. Bagaimanapun juga, program imunisasi campak yang dilakukan sejak tahun 1982 telah berhasil menurunkan kasus campak, sehingga campak sudah jarang ditemui. Riskesdas 2013 menunjukkan cakupan imunisasi campak sebesar 82,1%. Angka yang harus dinaikkan hingga melebihi 90%. Data WHO di bulan November 2013 mencatat lebih dari 6.300 kasus campak sepanjang 2013. Angka yang masih sangat tinggi di Indonesia.
Maka jangan makin bebani penderitaan masyarakat dengan menolak imunisasi dan mengampanyekan penolakannya. Jangan mengajak-ajak orang lain untuk tidak mengimunisasi anaknya. Jangan menjadi beban, jadilah pemecah masalah. Tidak mengimunisasi anak bukan saja merugikan diri sendiri, tetapi juga membahayakan orang-orang di sekitarnya.
diambil dari wall Facebook saya beberapa bulan silam
Subscribe to:
Posts (Atom)
Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?
(tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...
-
Pernah menjumpai bercak kemerahan, cenderung berwarna oranye (merah-)?bata) di popok bayi Anda? Bahkan muncul berulang kali! 😱 Normalkah ha...
-
Pertama, kita harus tahu dulu apa definisi diare. Diare atau gastroenteritis akut adalah buang air besar lebih dari tiga kali dalam 24 jam, ...
-
Ternyata tidak pada sebagian besar kasus. Infeksi jamur penyebab sariawan terjadi pada anak-anak dengan daya tahan tubuh menurun, seperti m...


