Wednesday, February 01, 2006

A Day in The Life (It’s an Ordinary Day… just Like Any Other Days)

I read the news today oh boy,

about a kucky man who made the grade,

and though the news was rather sad,

well I just had to laugh,

I saw the photograph…


Woke up, fell out of bed,

dragged a comb across my head,

found my way downstairs and drank a cup,

and looking up I noticed I was late…


Potongan syair lagu The Beatles, yang menginspirasi judul di atas.


Ya… itu memang satu hari yang biasa saja dalam hidupku. Bangun pagi, belum sempat menikmati istirahat panjang setelah pulang agak larut, kemudian pagi harinya diminta menggantikan dinas teman sejawat. Untungnya tidak perlu waktu lama untuk menerobos Pasar Ciputat yang belum begitu macet. Kadang stres juga menyetir sendirian melewati jalanan ini.


Hari bergulir agak siang. Seorang ibu berumur 38 tahun masuk ruang periksa. Senyum kecil merekah di wajahnya yang terbalut kerudung. Ia mengenaliku, begitupun sebaliknya. Berarti dalam satu kunjungan, aku yang memeriksanya, mungkin. Kupastikan melalui layar monitor mencari namaku dalam kunjungan terdahulu.


Ada keluhan apa, Bu?” kata-kata sakti pembuka anamnesis* terucap.

Kepalanya sakit. Kuminta perawat untuk memeriksa tekanan darahnya: 110/70. Normal. Kubaca catatan rekam mediknya di komputer: tidak ada riwayat hipertensi. Apakah ibu pakai kacamata, tanyaku. Tidak, jawabnya.

Mungkin saya masih sedih setelah anak laki-laki saya meninggal,” ujarnya. Ekspresi wajahnya mulai berubah. Tampak beberapa tahun lebih tua.

O, ya?” nada bertanya yang kadang terdengar agak melecehkan.

Iya, Dok, yang meninggal di LKC tiga bulan yang lalu.”

Aku berpikir keras, berusaha mengingat-ingat. Kutunjukkan ekspresi wajah seolah-olah aku ingat, padahal tidak. Siapa ya? Aku familiar sekali dengan wajah sang ibu. Tapi… sudahlah.

Sekarang anaknya yang ada berapa?”

Dua. Laki-laki semua.”

Tuh, alhamdulillah masih ada dua, laki semua pula,” maksudku untuk menghiburnya.

Kuberi saran bahwa keluhan nyeri kepalanya adalah akibat stres pikiran, dan untuk meredakannya adalah dengan menenangkan pikirannya yang masih bersedih, sambil menyerahkan kertas resep berisi obat pereda nyeri yang diminum jika perlu saja. Yee… itu sih semua orang juga tahu, batinku.


Aku bermaksud memanggil pasien berikutnya. Catatan rekam mediknya belum terdokumentasi dalam sistem jaringan komputer, masih tertulis di kertas status pasien biasa.

Suami saya, Dok. Dia sakit kepala, tapi tidak bisa datang,” ibu di hadapanku otomatis menyahut, seolah-olah tahu aku akan memanggil nama suaminya.

Aku agak kecewa, karena ada riwayat hipertensi tertulis di rekam mediknya. Seharusnya ia datang untuk memeriksakan tekanan darahnya. Bisa saja nyerinya berhubungan dengan tekanan darahnya.

Dia sakit sekali, sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saya nggak bisa membawanya. Boleh minta obatnya kan, Dok?” si Ibu memohon.

Sebenarnya aku tidak setuju. Menurutku jika hanya sekedar sakit kepala, setelah minum obat pereda nyeri, ia pasti dapat memaksakan diri untuk datang ke LKC.

Ongkosnya mahal, Dok,” lagi-lagi si Ibu mampu menebak isi kepalaku. “Dari rumah ke sini naik angkot Rp 2500. Pulang-pergi Rp 5000. Belum ongkos ojeknya. Dari rumah ke luar harus naik ojek, karena agak jauh.”

Aku kembali tertegun. Ini hal yang biasa, sebenarnya. Banyak orang yang sakit (bukan sekdar batuk-pilek, atau nyeri kepala biasa) dan harus memeriksakan diri ke Puskesmas atau layanan kesehatan lainnya, namun dengan alasan tidak punya ongkos, mereka datang dalam keadaan penyakit lanjut.

Kasihan, Dok. Bapaknya sakit. Siapa yang cari uang dalam keadaan seperti ini. Cobaan apa lagi yang saya terima ini…” Bulir-bulir air mata mengalir turun dari kedua kelopak matanya. Suaranya bergetar.


Duh… jangan sampai ibu ini menyesali nasibnya. Hidup dalam kemiskinan, ditinggal mati anak laki-laki tertuanya, plus kepala keluarga yang tidak produktif dalam mencari nafkah akibat sakit.

Jangan nangis ya, Bu. Sabar ya, Bu. Kutunjukkan empatiku padanya. Banyak orang yang sama susahnya dengan ibu, batinku. Ibu tidak sendirian. Malah ada yang lebih susah dari ibu. Tentu saja ini tidak kuucapkan. Kuakhiri dialog dengan memberikan resep juga untuk suaminya.


Hari yang biasa bagiku di sini. Berhadapan dengan kaum dhu’afa dengan segala persoalan hidupnya. Mungkin sebuah acara di Trans TV yang judulnya menurutku amat berkesan tidak mensyukuri nikmat akan berucap: “Kejamnya Dunia”.


Tidak sampai selang sejam, seorang ibu berusia awal tiga puluhan masuk menggendong seorang bayi, dan anak perempuan berumur empat tahun berjalan lincah di sisinya.

Pemandangannya tidak biasa. Si bayi tergeletak lemah dengan selang tipis menjulur keluar dari salah satu sisi lubang hidungnya. Namanya naso gastric tube (NGT) atau “pipa” hidung-lambung, sebuah selang elastis yang dimasukkan dari lubang hidung terus mencapai lambung. Fungsi utamanya untuk memasukkan makanan cair atau obat pada pasien yang kesadarannya menurun, dapat juga menguji adanya perdarahan atau zat racun dalam saluran cerna dan “membilasnya”.

Aku membaca catatan rekam medik, yang terakhir menunjukkan “datang untuk mengganti NGT”. Ternyata balita yang sudah berumur 14 bulan ini didiagnosis oleh dokter anak “mengalami” ensefalitis (aku tidak boleh menuliskan “menderita”, karena akan dimarahi jika ketahuan seorang dosen Ilmu kedokteran komunitas masa kuliah dulu), suatu peradangan dalam jaringan otak, dapat disebabkan oleh virus, bakteri, atau penyebab lainnya. Tidak ditulis dalam statusnya. Yang jelas kesadarannya tidak membaik sampai saat ini, sehingga si anak tidak mampu menerima respon dari lingkungan luar, sekalipun untuk refleks sederhana seperti menelan makanan atau minum melalui mulutnya. Itu alasan NGT senantiasa terpasang, dan diganti setiap dua minggu sekali, menghindari kolonisasi bakteri penyebab penyakit dalam selangnya.

Jujur saja, aku yang sudah terbiasa melihat pasien sakit berat, masih merasa kasihan melihatnya. Kuminta ia bergeser ke meja tindakan, dengan bantuan seorang perawat, selang hidung-lambungnya diganti dengan yang baru. Si anak menangis karena merasa tidak nyaman. Refleks nyerinya masih bekerja dengan baik. Agak sulit juga memasang NGT pada batita yang kesadarannya sukar diuji. Kekhawatiran terbesar adalah selang salah masuk ke batang paru-parunya, dan mampu menyebabkan kekurangan oksigen berujung pada kematian. Tetapi ada prosedur yang dapat mencegah kesalahan ini.

Anaknya masih belum bisa apa-apa ya, Bu?” tatapku pada si ibu yang tingginya kira-kira sepuluh sentimeter lebih rendah. “Maksudnya jika dimasukkan makan ke dalam mulutnya, ia akan mengecap-ngecap merasakan ada sesuatu.”

Kadang-kadang bisa,” jawabnya singkat sambil menunduk, terus menatap anaknya. Melihat ukuran sang anak, lebih kecil dari batita seusianya.

Dapatnya susu apa, Bu?”

LLM,” lagi-lagi masih menundukkan kepalanya, tidak menatapku.

Ibu tolong lihat saya dong, kok nunduk terus,” ucapku halus. Maksudku ingin menangkap perasaan si ibu secara penuh. Jika dia mengalami suatu masalah dengan si anak, keluarkanlah semuanya saat ini juga. Aku ingin menangani semua kasus yang kuhadapi secara menyeluruh. Apakah ibu ini memang pemalu.


Ternyata si anak pernah dirawat sampai satu bulan di sebuah RS swasta dan pemerintah. Tidak ada perkembangan yang berarti selama perawatan, hanya saja kesadarannya sedikit lebih membaik. Ia boleh dibawa pulang dengan NGT senantiasa terpasang untuk memastikan asupan makanan terus masuk. Berat badannya hanya 5,6 kg dengan umur 1 tahun 2 bulan. Gizi buruk tentunya.

Aku penasaran dan memeriksa beberapa refleks lainnya. Kuarahkan lampu senter menyorot kedua bola matanya secara bergantian. Negatif. Tidak ada refleks cahaya sama sekali. Pupilnya tidak mengecil. Kemungkinan besar si anak juga mengalami kebutaan.

Bu, anaknya bisa mendengar suara ibu, tidak? Misalnya kalau dipanggil ia akan merespon.” Aku tidak langsung menyampaikan hasil pemeriksaanku barusan, melainkan mengajukan pertanyaan lain.

Sang ibu—masih menundukkan kepalanya—tampak ragu-ragu. “Kadang-kadang bisa,” jawabnya. Ia tampaknya ingin menanyakan maksud pertanyaanku.

Bu, sepertinya anaknya juga tidak bisa melihat. Barusan saya tes pakai cahaya, tidak ada responnya.”

Deg, kata-kata ini meluncur begitu saja dari mulutku. Sudah menjadi kebiasaanku menyampaikan keadaan pasien sejelas mungkin pada dirinya atau keluarganya, tentu dengan cara sehalus mungkin, melihat situasi dan kondisi. Aku berasumsi si ibu sudah tahu keadaan anaknya sejak dirawat sebulan lamanya dari dokter-dokter spesialis anaknya, termasuk kemungkinan buta dan tulinya. Seharusnya dokter yang dulu merawat sudah menyampaikannya.


Bener, Dok?” suaranya bergetar. Kali ini menatapku. Matanya merah, seolah-olah mulai meleleh, dan mengalirlah air matanya. Hidungnya pun memerah. Ia kembali menunduk, dan mengeratkan dekapannya pada si anak. Seolah-olah sang anak akan pergi meninggalkannya.


Oh, tidak, lagi-lagi aku membuat dua orang menangis hari ini. My fault, yes, it’s my fault. But she should’ve known this from her paediatricians. How come they didn’t tell her before? Or maybe she has already known, but my statement emphasized her worriness. Her belief for so long, that her daughter would be just fine.


Sudahlah, sekalian saja kusampaikan semuanya.

Bu, dulu kata dokter anaknya, dia dapat pulih seperti sediakala tidak?”

Saya nggak nanya,” jawabnya.

Iya, Bu, kalau menurut saya, sepertinya akan sangat sulit untuk kembali pulih seperti anak-anak sehat lainnya,” jelasku jujur. Ia harus tahu sejak saat ini, daripada kesedihan berlarut di kemudian hari. “Tapi lebih pastinya, ibu konsultasi saja dengan dokter spesialis anaknya,” seraya kubuatkan lembar konsultasi bagi relawan dokter spesialis anak di sini, “ini saya buatkan pengantarnya. Yang penting untuk saat ini, dia mendapatkan makanan cukup, dijaga kesehatannya jangan sampai sakit. Perkiraan saya tadi belum tentu benar, lho. Anak-anak ibu yang lain tidak ada yang mengalami sakit seperti ini kan?”

Ternyata tidak ada riwayat penyakit serupa pada kakak-kakaknya. Balita dengan ensefalitis (aku kurang yakin juga dengan diagnosisnya) ini adalah anak ketiga, dengan dua anak pertama yang sehat-sehat.


Selanjutnya si anak dipindahkan ke meja konsultasi gizi, mengingat adanya penyerta gizi buruk, yang perlu mendapatkan penanganan tersendiri. Dari anamnesis dengan ibu ahli gizi kami, diketahui bahwa suaminya adalah sopir pribadi. Selama ini susu masih mampu terbeli dari penghasilan suaminya.


Bandingkan saja dengan pasien berikutnya hari itu. Seorang ibu yang mengeluh panas-dingin sehabis kehujanan, ketika sedang mencari kayu. Ya, mencari kayu bakar. Ia bekerja sebagai seorang pencari kayu bakar. Inilah member LKC, dengan segala kedhu’afan yang dimilikinya. Wajar saja ia diterima sebagai anggota dan mendapatkan pelayanan kesehatan gratis 100% jika sakit (ongkos transportasi ke rumah tidak ditanggung).


Menjelang waktu dzuhur, seorang bayi lain datang dengan sumbing bibir dan langit-langit (labiopalatoschizis). Ia member baru, belum pernah memeriksakan diri sebelumnya ke LKC. Apa lagi maksud kedatangannya selain meminta bantuan untuk operasi bibir sumbing gratis.


Bayi berusia 7 bulan ini mempunyai berat badan bagus, bahkan cenderung agak obese. Anaknya pun sangat ceria, dan kooperatif saat diperiksa. Aku menjelaskan untuk operasi, dokter bedah plastik di sini mensyaratkan berat badan minimal 10 kg. Artinya kurang empat kilogram lagi untuk si kecil. Masalah yang ada sekarang adalah: si bayi menghabiskan cukup banyak susu bubuk SGM 2. Satu kotak bisa ludes dalam dua hari saja. Penghasilan si ayah berbadan lebih tinggi dan lebih besar dariku yang berprofesi sebagai satpam di sebuah yayasan Islam terkemuka di Jakarta Selatan sebesar Rp 300 per bulan tidak mampu menanaggungnya (ini kalimat majemuk banget ya, tidak mengikuti kaidah ekonomi kata!). Dengan berat hati aku menyampaikan bahwa LKC tidak mampu menanggung semua biaya member, misalnya dalam pengusahaan susu. Kasus yang lebih umum, jika tidak ada ASKES GAKIN dan SKTM, LKC tidak akan mampu membiayai operasi seluruh member-nya di RS rujukan. Sayang sekali dulu si ibu yang sempat mampu memerah susunya untuk ditampung dalam botol dengan dot khusus ini sudah ‘kering’ ASI-nya. Padahal menurutku, ASI yang berdasarkan pada prinsip ‘on-demand’ ini tidak akan kering selama ibu rajin memerah dengan teknik yang benar, sepenuh hati. Ya, bandingkan saja dengan gaji si ayah yang habis untuk membelikan susu salah satu anaknya, dari empat anak yang dimilikinya.


There are times I find it hard to sleep at night
We are living through such troubled times
And every
child that reaches out for someone to hold
For one moment they become my own


And how can I pretend that I don't know what's going on?
When every second, and every minute another soul is gone?
And I believe that in my life I will see (oh yea) an end to hopelessness, of giving up, of suffering


If we all stand together this one time
Then no one wil be left behind
Stand up for life
Stand up and hear me sing
Stand up for love


Aku cukup terkesan dengan lagu hits yang dinyanyikan Destiny’s Child ini. Pertama kali melihat klip videonya sebagai lagu tema “Peduli Kasih Indosiar”. Setiap menyaksikan di TV, atau mendengar lantunan syair dan iramanya di radio dalam mobil, aku terbayang pada pasien-pasien kecilku di LKC yang bernasib kurang-lebih sama dengan mereka yang ditayangkan dalam video tema.


Yeah… if we all stand up together for love, then no one will be left behind. I’ve passed so many ordinary days with hopeless and suffered people, so that I’m afraid I’ll lose my empathy, and judge those as ordinary things not to be worried. Too many poor people in this country. Too many hopelessness and suffering around me. But the deepest side of my heart isn’t dead already.


It’s just a day in the life. And I’ll still go through these days. With love and care to others. Hopefully.


Menulis dalam mood sehabis bertemu lagi dengan kasus bayi dengan bibir sumbing yang menderita bronkopneumonia berulang, kemarin lusa. Menyaksikan ekspresi kesedihan dari sang ibu, serta kasih sayang tulus dari sang ayah mengajak komunikasi anaknya yang cacat, memberikan perasaan syukur atas nikmat Alloh yang luar biasa.


There are places I remember, all my life

Though some have changed

Some forever not for better

Some have gone, and some remain…


Though I know I’ll never lose affection

For people and things that went before

I know I’ll often stop and think about them

In My Life.. I Love Them All (The Beatles).


*dialog antara dokter dengan pasien untuk mengeksplorasi keluhan dan mencapai suatu kesimpulan diagnosis

Sunday, January 22, 2006

Complications: A Surgeon's Notes on an Imperfect Science by Atul Gawande

This is the BEST non-fiction book I've ever read!!

Inilah buku yang menjelaskan sisi-sisi manusiawi kehidupan seorang dokter (ya.. Dokter juga Manusia :-) Bahwa dokter adalah manusia biasa yang bisa berbuat kesalahan, segala keterampilan yang Dokter peroleh adalah melalui pengulangan yang membutuhkan jam terbang, dan 'lahan berlatih' seorang dokter adalah Manusia juga! Inilah yang membedakan profesi dokter dari lainnya. Namun tidak berarti buku yang ditulis oleh seorang dokter ini lantas membenarkan tindakan malpraktik. Enaknya, aku akan mulai mengutip beberapa isi buku yang sangat menarik ini.

Atul Gawande adalah seorang dokter bedah umum (general surgeon) berkebangsaan Amrik, juga seorang penulis di majalah kenamaan "The New Yorker". Jika sempat membuka situs majalah internet Slate.Com, Anda juga akan menemukan beberapa tulisannya. Berbekal pengalaman sehari-harinya, khususnya pada masa-masa residensi (sekolah spesialisasi), ia banyak memaparkan ilustrasi dari kasus-kasus bedah.

Membaca Pendahuluan-nya saja, Anda akan langsung tertarik untuk tidak menghentikan membaca buku ini. Penulis memulai cerita dengan satu kasus bedah yang ia dapatkan di masa residensinya. Dan ia menulis, "Aku sadar, ilmu kedokteran merupakan sesuatu yang aneh yang kadang merisaukan. Taruhannya begitu tinggi, kewenangan yang diambil begitu besar. Kami cekoki orang dengan obat, kami masukkan jarum dan slang ke tubuh mereka, kami kutak-katik mereka secara fisik, biologis, dan kimiawi, kami buat mereka berbaring tak sadar, lalu membukakan tubuhnya untuk dilihat semua orang.... maka akan tampak betapa kacau, tak pasti, dan juga mencengangkannya ilmu kedokteran itu."

Dan Atul Gawande meneruskannya dengan ilutrasi kasus seorang anak dengan massa tumor di daerah dada yang membuatnya sesak napas, dan para dokter menghadapi dilema pilihan tindakan apa yang akan dikerjakannya. Ya: DILEMA. Suatu hal yang jamak dalam dunia mayoritas abu-abu ini (bukan hitam-putih).

Bagian 1 buku ini (judul besarnya: "Kekhilafian") menggambarkan betapa mudah seorang dokter berbuat salah, dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, tak lupa kisah nyata yang bisa diambil pelajarannya.

Dr Atul Gawande menceritakan pengalaman pertamanya memasang infus vena sentral pada seorang pasien, mulai dari tidak bisa menemukan bagian ini, sampai ia menjadi demikian mahir dan harus mengajarkan pada orang lain. Ia menulis: "ada yang berbeda di kedokteran: orang berlatih dengan manusia!" Bagi Anda yang kebetulan pernah menjalani masa-masa pendidikan kedokteran, pastinya kadang Anda akan tersenyum sendiri, mengingat-ingat pengalaman pertama mengerjakan suatu tindakan pada pasien, atau bagaimana teknik berbicara dengan mereka.

Pernahkah Anda berobat ke sebuah RS, dan harus menghadapi kenyataan yang melayani Anda adalah seorang ko ass (mahasiswa kedokteran), atau seorang residen (bukannya dang dokter spesialis senior)? Betapa kecewanya Anda. Sudah membayar mahal untuk sebuah layanan kesehatan bermutu, dihadapkan pada sebuah tindakan 'eksperimental'. Apa-apaan ini?

Lagi-lagi Dr Gawande memberikan argumentasinya yang sangat tajam: "Inilah kenyataan yang tidak enak tentang pengajaran... hak pasien untuk mendapatkan layanan yang terbaik harus diutamakan di atas tujuan mendidik para calon ahli. Kita menginginkan layanan yang sempurna tanpa latihan. Tetapi, setiap orang akan menghadapi bahaya bila tak ada seorang pun dilatih untuk jadi ahli di masa depan. Maka, pembelajaran berlangsung secara sembunyi-sembunyi,..."

Masih banyak argumen telak lain yang disampaikan Dokter Spesialis Bedah sekaligus peneliti di Brigham Women Hospital ini. Namun tidak berarti isi buku ini melulu 'membela' dokter. Dr Gawande juga memaparkan kisah beberapa sejawatnya yang tidak boleh ditolerir kesalahannya. Dalam hal ini, pembaca akan melihat dalam proses penulisan buku, Atul Gawande mengadakan interaksi langsung dengan tokoh-tokoh yang disebutkannya, dan mengadakan pembicaraan intim dengan mereka.

Penulis juga memaparkan mengenai malpraktik. Ia punya argumentasi menarik akan dampak tuntutan malpraktik: "Masalah yang lebih berat tentang tuntutan malpraktik adalah bahwa dengan memerkarakan kesalahan ini, para dokter menjadi enggan membuka diri kepada publik. Sistem yang menyimpang ini membuat pasien dan dokter berada pada sisi yang berlawanan, dan mendorong kedua pihak untuk mengajukan pandangan yang semakin saling menjauh tentang suatu kejadian. Dengan demikian, bila terjadi sesuatu yang buruk, hampir mustahil dokter akan bicara kepada pasien dengan jujur tentang kesalahannya."

Buku ini juga menyimpulkan penulis seorang dokter yang cerdas dan banyak membaca. Banyak sekali kutipan dari jurnal-jurnal kedokteran bergengsi, dipaparkan dengan bahasa yang memudahkan semua orang memahaminya. Referensinya sangat kuat dan mampu membuat hubungan antara satu sumber dengan sumber lainnya dalam membahas sesuatu. Tidak sedikit hal baru yang aku dapatkan setelah membaca buku ini. Misalnya teknik kolesistektomi (tidak penting bagi seorang dokter (umum) untuk mengetahui teknik ini, lagipula aku tidak pernah ikut operasinya di masa ko asistensi dulu), ilmu terkini mengenai nyeri (pain), rasa mual (nausea), wajah merona (blushing), dan operasi pintas lambung (mungkin teknik ini sampai sekarang belum dilakukan di Indonesia). Beberapa yang kusebutkan terakhir terdapat di Bagian 2: Misteri. Di sini penulis menjelaskan beberapa hal yang sampai saat ini masih menjadi misteri dalam ilmu kedokteran, namun upaya mengatasinya dan penelitiannya masih terus berlangsung. Inilah kehebatan ilmu pengetahuan yang tak pernah berhenti mencari dan mencari. Dan kita akan dihadapkan dengan susunan kalimat yang sangat enak dibaca, menceritakan keterbatasan dokter dalam mengatasi misteri-misteri ini. Pembaca pun akan menjadi maklum dengan keterbatasan dokter, sekaligus menghargai upaya mereka.

Bagian ketiga (terakhir) berjudul: Ketidakpastian. Pembaca akan mendapatkan kisah sesungguhnya akan autopsi mayat (membuatku ingin menuliskan blog tentang autopsi di Indonesia), pilihan akan suatu tindakan yang diserahkan pada pasien (baca: informed consent--maksudnya pasien diberikan penjelasan akan suatu tindakan medis yang akan dilakukan, dan setelah pasien paham, ia punya kebebasan untuk menerima atau menolaknya), dan kasus fasiitis nekrotikans yang tidak pernah terlintas di pikiranku (sebagai diagnosis banding selulitis). Dan membuatku ingin membaca bukunya Jay Katz: "The Silent World of Doctor and Patient" (kalau pasien berhadapan denganku, mereka akan menemukan dokter yang sama sekali tidak silent, alias cerewet! Hehehe

Inilah bagian penutup yang cantik. Betapa penulis sangat piawai dalam menentukan urutan-urutan isi bukunya. Bagian ini membuatku--sebagai seorang dokter--berpikir, bahwa di jaman perlindungan hak konsumen, mudahnya tuntutan malpraktik, tidak sedikitnya dokter yang belum memahami pentingnya komunikasi dengan pasien, serta pasien yang diberi kebebasan untuk memilih, Dokter tetap punya hak untuk 'memaksa' pasien, memilihkan tindakan yang terbaik baginya, pada kasus-kasus yang sangat dilematis dan dapat mengancam hidup pasien, meskipun pasien mempunyai pilihan yang lain.

Masih banyak hal menarik lain yang bisa diungkapkan, namun tidak akan utuh jika tidak membaca langsung buku ini dari awal sampai akhir.

Image hosting by Photobucket

Bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat indah. Pilihan katanya baik, enak dibaca, mudah dipahami, meskipun harus menjelaskan permasalahan dalam kedokteran yang mengandung banyak istilah asing. Tampak sekali Dr. Gawande adalah seorang penulis piawai. Meskipun buku yang kubaca ini adalah edisi terjemahan berjudul: "Komplikasi, Drama di Ujung Pisau Bedah: Sebuah Catatan tentang Ilmu yang tak Sempurna", terbitan Penerbit Serambi (www.serambi.co.id).

Sebuah buku terjemahan yang enak dibaca memang tak lepas dari kemahiran penerjemahnya, ialah dr. Zunilda Sadikin Bustami, MS, SpFK, dosen Farmakologi-ku di FKUI.

Tidak sabar rasanya menunggu Atul Gawande menuliskan buku lanjutannya (meskipun ini bukan buku yang dirancang berseri). Atau kapan akan terbit buku serupa yang relevan dengan kondisi Indonesia. Ada yang mau mulai menulisnya?

PS: Penerbit sama sekali tidak membayarku untuk menulis resensi ini

Friday, January 06, 2006

Voltus V dan Kecepatan Warp

Tatoe arashi ga futou tomo.. Tatoe oo nami ateru tomo.. Kogida sou tatakai no umi he.. Tobikomou tatakaino uzu he..

Belum mengenal potongan syair lagu di atas? Bagaimana dengan ini:

“Voltus Lima sahabat kita semua.. Lima pemuda yang gagah perkasa.. Sangat disukai anak-anak semua.. Dengan robot tempur perkasa Voltus Lima..”

Beberapa dari kita pasti pernah familiar dengan kalimat-kalimat tersebut. Lets say.. sekitar 20 tahun yang lalu. Dinyanyikan oleh Sanggar Cerita Shangrila dalam kaset-kaset cerita anak-anaknya. Dan kita lebih ingat lagi dengan tokoh yang dimaksudkan: Voltus V (baca: voltus five). Robot raksasa bentukan dari lima pesawat tempur, dengan lima orang jagoan berkostum merah-biru-hijau-kuning-pink. Khas Jepang banget deh.

Image hosted by Photobucket.com

Bukan itu yang demikian berkesan buatku. Tapi kenangan masa kecilnya. Inilah sesuatu yang berharga. Kadang manusia membayar harga mahal untuk sebuah kenangan.

Sebagai seorang anak kecil yang dibesarkan di sebuah sudut Jakarta di awal tahun ’80-an, menonton film-film kartun Jepang adalah kebiasaan sehari-hari. Pulang sekolah (baca: TK), ganti baju, pergi ke rumah teman, putar video-nya. Hari ini episode 1, besok episode 2, dan seterusnya sampai habis. Voltus Five adalah salah satu yang paling berkesan buatku. Mengapa? Karena ia termasuk yang paling awal kulihat, paling banyak episodenya, ditonton beramai-ramai, dan warna-warni kostum serta imajinasinya itu yang membuatku sedemikian membekas. Aku bahkan masih menyimpan poster kertasnya, bonus dari majalah Bobo.

Kini dua puluh tahun berselang, aku membangkitkan kenangan masa kecilku ini. Aku membeli satu keping DVD yang berisi 40 episodenya sekitar enam bulan lalu (thanks to DivX technology that compressed all the episodes to one single DVD) via internet seharga Rp 40 ribu. Perasaan yang membuncah ketika mendengar Kenichi berseru: “V TOGETHER.. LET’S VOLT IN,” sambil menekankan telunjuknya pada tombol panel, dan seketika itu kelima pesawat tempur membentuk formasi, dan siap menyatu menjadi tubuh raksasa mecha Voltus V.

Film yang diputar di stasiun TV Jepang pada 1977-78 ini banyak dipuji karena isi ceritanya yang ‘agak’ berbobot. Bukan melulu perang-perangan antara robot jagoan dan monster, terus si jagoan mengeluarkan senjata pamungkas ‘TENKUU KEN’, dan monsternya hancur berkeping-keping. Tapi ada kisah persahabatan dan kasih ayah pada anak-anaknya yang mengharukan. Pada episode-episode awal, kita bisa melihat konflik yang terjadi antara dua tokoh utama, kemudian episode-episode yang menceritakan masing-masing karakter, sampai pada episode-episode akhir yang menunjukkan film ini dibuat dengan pengetahuan teknik cukup memadai. Inilah yang sedikit aku tekankan dalam resensi ini.

Image hosted by Photobucket.com

Voltus V menceritakan planet rekaan bernama Boazan dengan jarak 14 ribu tahun cahaya dari bumi (bayangkan saja, sudah dipikirkan sampai sini). Dengan kecepatan maksimal Mach 20, tentu saja Voltus V tidak akan mencapai planet ini di akhir episodenya. Untungnya ada Solar Bird yang bisa melakukan kecepatan Warp untuk mencapai Boazan. Aha, pastinya pencipta kisah ini penggemar berat Star Trek juga. Menggunakan konsep Einstein mengenai kesatuan ruang-waktu, dengan cara menyatukan dua titik yang terpisah di dalam kesatuan dimensi ini, melalui lubang cacing (wormhole) Voltus V bisa mencapai Boazan dalam hitungan menit dengan selamat. Tidak hancur berkeping-keping setelah melewati Lubang Hitam (Black Hole). Meski konsep milik Stephen Hawking ini sudah dibantah tahun lalu melalui penelitian terbaru. Andaikan pengarang buku The Physics of Star Trek menyaksikan anime ini, pastinya dia akan menambahkan daftar kritikan atas kesalahan-kesalahan teknis konsep fisika yang dibuat.

Yaa… tentu saja, Prof. Lawrence M. Krauss tidak setuju laser yang ditembakkan oleh phaser milik Kenichi dkk bisa terlihat mata, kecuali melalui medium ruang gelap tanpa cahaya.

Bagaimanapun, tayangan yang membangkitkan kenangan masa kecil ini tetap tidak tertandingi untukku.

Image hosted by Photobucket.com

Sunday, December 25, 2005

Be Critical with Your O B G Y N

(I have changed the previous title--"Don't be fooled by you OBGYN") Sebelumnya—bagi yang belum paham—OBGYN dibaca o bi ji wai en, seperti membaca abjad dalam bahasa Inggris, adalah kepanjangan dari obstetri ginekologi (kebidanan dan kandungan). Singkatan ini menunjuk pada dokter spesialis obsgin (SpOG), dokter spesialis kebidanan dan kandungan. (Cara penyebutan o bi ji wai en yang mengarah pada SpOG pertama kali kudengar dari episode pertama film seri pemenang Emmy Award 2005, LOST)

So, have we been fooled by them, then? Sekali lagi, supaya tidak dianggap sebagai anti teman sejawat dari obsgin, saya mulai dengan sebuah ilustrasi.

Awalnya bermula dari pertanyaan seorang yang sudah kuanggap sebagai Tante sendiri. Hamil 10 minggu, dilakukan pemeriksaan serologi TORCH, didapatkan positif pada imunoglobulin G (IgG) Rubella dan Toksoplasma dengan nilai tertentu (tidak kuingat). Ia mendatangi dua dokter obsgin pada waktu yang berlainan. Dokter pertama menyarankan minum antibiotika golongan aminoglikosida setelah lewat trimester pertama (14 minggu), dengan indikasi yang menurutku sama sekali tidak jelas. Dokter kedua yang dikunjungi empat minggu sesudahnya menyarankan hal yang sama, ditambah—obat yang sudah kita prediksi—isoprinosine.

Singkatnya, menanggapi hal ini, kulampirkan potongan e-mail-ku untuknya.

TORCH kepanjangan dari Toxoplasma Other infection Rubella Cytomegalovirus and Herpesvirus. Ialah beberapa mikroorganisme yang bila menginfeksi manusia dapat menimbulkan penyakit. Prinsip uji TORCH adalah reaksi ANTIGEN-ANTIBODI. Jadi bila hasil uji positif terhadap salah satu mikroorganisme tadi, artinya PERNAH terjadi infeksi. Misalnya kalau Rubella positif, artinya ANTIGEN Rubella pernah masuk ke tubuh, dan tubuh kita berespon dengan membentuk ANTIBODI terhadap Rubella ini. Maka Rubella-nya positif. Prinsipnya sama dengan IMUNISASI menggunakan kuman yang dilemahkan, polio misalnya. Kuman polio yang dilemahkan masuk ke tubuh kita, maka tubuh akan membentuk antibodi, sehingga bila tubuh terinfeksi polio di masa datang, kita sudah punya antibodi untuk melawannya.

Nah.. dari hasil uji ini, yang dibedakan adalah jenis ANTIBODINYA, apakah IgG atau IgM. IgG menunjukkan pernah terjadi infeksi lama, dan tubuh kita membuat antibodinya. Sedangkan IgM menunjukkan infeksi baru. IgG yang positif dari hasil darah ibu tidak perlu dikhawatirkan. Sedangkan IgM yang positif, dilihat kadarnya seberapa tinggi. Ini pun bisa jadi sesuatu yang tidak membahayakan pula.

Masalahnya, sering terjadi MISINTERPRETASI yang besar mengenai hasil tes ini. Banyak masyarakat, khususnya ibu hamil yang berpandangan, jika uji TORCH mereka ada yang POSITIF, maka janin yang mereka kandung terancam cacat bawaan. Padahal kalau kita paham prinsip antigen-antibodi, tentunya ini adalah pemikiran yang salah ya. Kecuali si Ibu, misalnya benar-benar kena Rubella saat hamil trimester pertama (ada kelainan kulit seperti cacar air). Nah.. kesalahpahaman dan ketakutan ini bisa menjurus pada peresepan obat-obatan macam IMUNOMODULATOR (untuk meningkatkan imunitas/daya tahan tubuh) atau ANTIVIRUS (padahal virusnya udah nggak ada). Salah satu imunomodulator tersering adalah ISOPRINOSIN yang harganya lumayan muahal. Padahal obat jenis ini tidak terbukti khasiatnya dari penelitian. Negara maju sudah tidak menggunakan obat ini. Saya saja sampai susah mencari sumbernya di Google dengan mengetikkan keyword ini.

Saya lampirkan beberapa tulisan yang cukup menjelaskan. Kalau ada yang ingin didiskusikan, please feel free to contact me.

TORCH tests
Certain infections called TORCH ( which stands for TOxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus and Herpes) , may be a cause for a single miscarriage, but are NOT a cause for repeated miscarriages. While a number of specialists will do these tests, and even start treatment based on the results, these tests are not worthwhile for most patients. A positive TORCH test simply means the patient has positive antibody levels against that particular infection. Thus, a positive Toxo IgG test means that the patient has anti-toxoplasmosis antibodies which protect her against a repeat toxoplasmosis infection. This means a positive test is actually a good sign and suggests that the patient is protected against that infection because she has been exposed to that infection in the past. Unfortunately, many doctors do not know how to interpret these results and scare the patient into thinking that the positive test result means she has an active infection which can cause her to miscarry again. In fact, some doctors will even attempt to "treat" the "infection" ! This wastes time and causes needless distress. If your doctor asks you do a TORCH test after a miscarriage, you should refuse and find a better doctor!

Kelanjutan isi e-mail disampaikan di bagian tulisan paling bawah.


Mengapa mengangkat kasus ini? Karena dalam sebuah milis, aku jadi tahu bahwa tidak sedikit ibu hamil yang mengalami salah paham akan uji TORCH ini, dan banyak pula yang mengkonsumsi isoprinosine dalam kehamilannya. Bahkan Prof. Iwan menyebut isoprinosine sebagai obat bohong. Tidak ada kegunaannya sama sekali. Termasuk anjuran yang diberikan bagi ‘Tante’-ku ini. Lalu dengan antibiotika golongan aminoglikosidanya? Apa indikasinya? Memangnya ada infeksi bakteri dalam tubuhnya? Mungkin nilai hitung leukosit-nya tinggi. Tapi ini tidak bisa jadi patokan sama sekali jika klinis baik. Hitung leukosit dan laju endap darah meningkat pada kehamilan normal. Ini dibuktikan sendiri pada rekan kerjaku yang melahirkan bayinya sama sekali tanpa masalah.

Dalam sebuah panduan yang cukup baik, dijelaskan bahwa bagi seorang wanita yang belum pernah hamil sebelumnya, cukup mengadakan kunjungan sebanyak sepuluh kali ke dokter obsginnya, dan wanita yang pernah melahirkan dengan cukup tujuh kunjungan, semuanya pada kasus biasa (bukan kasus khusus), lengkap dengan rincian pemeriksaan apa saja yang akan dilakukan dokter.

Tentu saja ini akan sangat cost effective, dan edukatif bagi si konsumen kesehatan. Pasien tidak sekedar merasa menjadi objek dokternya saja, tetapi juga menjadi subjek kesehatan, mitra kesehatan sang dokter, karena merasa cukup jelas dengan perlakuan dokter terhadap dirinya. Tidak asal nrimo saja.

But.. ehem, not all doctors, especially here in Indonesia where most of the health services are one-way-pattern (doctor-to-patient-only), like this ‘style’. Bisa mengurangi penghasilan. Huehehe.

Ini ga nyambung, hanya teringat dengan pengalaman waktu stase obsgin di IGD RSCM lantai 3 pas tingkat IV dan VI. Anggap aja ending story.

Wanita itu terbaring pasrah di meja pemeriksaan. Baru saja ia tiba di IGD Kebidanan dengan keluhan ‘air-air’-nya keluar beberapa jam sebelumnya, berwarna hijau tua. Ketubannya pecah. The water broke. Hamil anak pertama, posisi lintang, denyut jantung bayi mulai melambat. Gawat janin! Indikasi sectio caesaria cito. Harus segera dioperasi untuk mengeluarkan bayinya.

Persiapkan masuk kamar operasi yang steril. Lepas semua pakaiannya! Ya, lepaskan pakaiannya, ganti dengan pakaian kamar operasi. Harus dilakukan segera, sambil memasang selang infus, kateter, oksigen. Tapi harus dilepas di sini?! Di tengah kerumunan tiga orang residen obsgin, dua orang ko ass tingkat VI, dua orang ko ass tingkat IV, dan satu bidan. Separohnya pun laki-laki. Namanya orang mau melahirkan, tentu hanya bisa pasrah saja diperlakukan apapun. Yang penting nyawa si ibu dan bayinya selamat. Walaupun perasaan risih diperlakukan seperti itu pastinya ada. Tidak etis, batinku dalam hati. Selalu ada cara lain yang lebih baik. Misalnya menyerahkannya pada seorang perawat perempuan untuk mengurus hal seperti ini; menyediakannya ruang khusus untuk berganti pakaian. Aku pun bersumpah, jangan sampai istri, adik, kerabat dekat, atau akhwat-akhwat muslimah yang terhormat itu harus melahirkan di tempat seperti ini…

Tapi jangan digeneralisir juga ya… Hanya ingin mengeluarkan sedikit isi kepala yang terpendam.

Lanjutan potongan isi e-mail:

Kurniati, 15 Dec 2004 07:54:11 WIB

Dokter Yth, Sekarang saya sedang hamil 4 bulan. Pada bulan ke2 kehamilan saya melakukan tes TORCH dgn hasil sbb: CMV IgG +850 CMV IgM -0.1 RUbella IgG +350 Rubella IgM -0.35 Toxo IgG & IgM - Bagaimana dgn hasil tes saya tersebut ? Apakah hasil IgG CMV dan Rubella terlalu tinggi ? Apakah yang harus saya lakukan ? Apakah perlu meminum Isoprinosine dan Valtrex ? Apakah obat tersebut tidak berbahaya bagi janin ? Maaf bila pertanyaannya banyak. Mohon saran dan penjelasannya.Terima kasih. Kurniati

Ibu Kurniati Yth, Terima kasih atas konsultasinya, dari data yang diberikan oleh ibu saya berpendapat bahwa saat ini sedang tidak terjadi infeksi pada tubuh ibu, IgG(+) dan IgM (-), ini menandakan bahwa ibu sebelum pernah terkena infeksi TORCH ini, sekarang tubuh ibu sudah memiliki antibodinya, jadi tidak usah khawatir. Mungkin yang belum ada antibodinya adalah toxoplasma, ini juga tidak menjadi masalah karena IgM (-) berarti ibu tidak sedang terkena infeksi Toksoplasma. Mengenai obat Isoprinosin dan Valtrex sebetulnya tidak perlu sekali harus diminum tapi silakan saja diteruskan, karena obat tersebut tidak akan mengganggu kehamilannya selama dosis yang diminum sesuai instruksi dokter. Demikian, terima kasih. (dr xxxxx SpOG, RSxx xxxxxxx, Jkt)

KOMENTAR: mengenai tanggapan dokternya ISOPRINOSINE dan VALTREX ga usah dipegang

The Test

How is it used?

Blood may be tested from either the mother or the newborn infant to determine if the illness observed in the newborn is caused by infection with one of the pathogens included in the panel. A blood test can determine if the person has had a recent infection, a past infection, or has never been exposed to the virus. Patients with recent infection with one of the TORCH agents will have IgM antibody to the specific agent, and those with a past infection will have an IgG antibody, which is life-long. If neither immunoglobulin is detectable, there has been no infection with these microorganisms.

When is it ordered?

The test is ordered if a pregnant woman is suspected of having any of the TORCH infections. Rubella infection during the first 16 weeks of pregnancy presents major risks for the unborn baby. If a pregnant woman has a rash and other symptoms of rubella, laboratory tests are required to make the diagnosis. A physician cannot tell if a person has rubella by their clinical appearance since other infections may look the same. Women infected with toxoplasma or CMV may have flu-like symptoms that are not easily differentiated from other illnesses. Antibody testing will help the physician diagnose an infection that may be harmful to the unborn baby.

The test may be ordered on the newborn if the infant shows any signs suggestive of these infections, such as exceptionally small size relative to the gestational age, deafness, mental retardation, seizures, heart defects, cataracts, enlarged liver or spleen, low platelet level, or jaundice.

What does the test result mean?

Results are usually given as positive or negative, indicating the presence or absence of IgG and IgM antibodies for each of the infectious agents. Presence of IgM antibodies in the newborn indicates high likelihood of infection with that organism. IgM antibodies produced in the mother cannot cross the placenta so presence of this type of antibody strongly suggests an active infection in the infant. Presence of IgG and absence of IgM antibody in the infant may reflect passive transfer of maternal antibody to the baby and does not indicate active infection in the baby.

Likewise, the presence of IgM antibody in the pregnant woman suggests a new infection with the virus or parasite. Further testing must be done to confirm these results since IgM antibody may be present for other reasons. IgG antibody in the pregnant woman may be a sign of past infection with one of these infectious agents. By testing a second blood sample drawn two weeks later, the level of antibody can be compared. If the second blood draw shows an increase in IgG antibody, it may indicate a recent infection with the infectious agent.

Is there anything else I should know?

Use of the TORCH panel to diagnose these infections is becoming less common since more specific and sensitive tests to detect infection are available. Relying on the presence of antibodies may delay the diagnosis since it takes days to weeks for the antibodies to be produced. Detection of the antigen or growing the microorganism in culture can be done earlier in the infectious process and are more specific.

Saturday, December 24, 2005

Salah Makan

Laki-laki bertubuh gempal dan berkumis hitam itu menyapaku saat masuk ke ruang praktik. Pria yang biasa kulihat dan saling bertegur sapa ketika melintas masuk ke tempat kerja ini minta dibuatkan surat rujukan untuk istrinya yang berobat ke RS kemarin. Rujukan ini berguna untuk mendapatkan penggantian uang dari perusahaan.

"Istrinya sakit apa, Pak?" tanyaku
"Keracunan makanan, Dok," jawabnya.
"Memangnya makan apa?" tanyaku lagi.
"Kemarin dia salah makan. Dia minum baygon."

Ada-ada saja. Keracunan baygon. Intoksikasi organofosfat. Upaya bunuh diri tentunya. Suicidal intention. Masalah rumah tangga, mungkin? Aku tak ingin mengeksplorasi lebih jauh. Ini urusan pribadinya. Lagipula ada karyawan lain yang juga berobat di ruangan ini. Aku tak ingin cerita ini menyebar ke seantero kantor.

Jadi teringat masa-masa ko ass dulu. Ironis sekali melihat orang yang berupaya bunuh diri dengan minum racun insektisida golongan organofosfat ini. Mungkin hampir setiap minggu selalu ada kasus ini di Instalasi Gawat Darurat RS manapun. Biasanya ceritanya hampir sama. Si pelaku membulatkan tekad untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum obat nyamuk cair. Saat masuk beberapa tenggak ke dalam dalam kerongkongannya, ia merasakan panas dan rasa terbakar luar biasa, sehingga mengerang kesakitan, dan tidak menghabiskan isi minumannya. Segeralah ia dibawa kerabatnya ke IGD RS. Dipasanglah selang menuju lambung lewat lubang hidung untuk membilas isi lambungnya, memastikan racun dibersihkan. Dalam pemasangan nasogastric tube ini, tentu rasanya sangat tidak nyaman. Belum lagi berpuluh-puluh ampul sulfas atropin yang dimasukkan lewat selang infus. Berapa pula rupiah yang harus habis?

Sudah susah-susah pengen mati, eh malah nggak kesampaian. Jadi sakit pula. Masuk rumah sakit pula. Keluar uang pula. Malah tambah susah, kan?

Memangnya mati itu gampang? Akhirnya bisa disimpulkan kematian itu mahal harganya, bukan? Kenapa nggak pilih cara mati yang lebih cepat saja, misalnya memasukkan moncong pistol ke dalam mulut atau mengarahkannya tepat ke otak, dan.. DOR!

Tapi harga pistol kan mahal. Mendapatkannya juga susah dari segi hukum.

Makanya.. jangan bunuh diri

--biasa, ini sesi ga nyambung:
kasus aneh yg didapat dlm 2 minggu ini:
- Buerger Disease: kelainan vaskuler yg dirujuk ke Bedah Vaskuler. Untung pasiennya ngasih tahu gw diagnosisnya apa? kalo enggak.. waa mana gw tau. ujung2nya musti browsing di Google
- bayi makrosomia dari ibu DM tipe 1 yang humerus dekstranya 'terpaksa' harus mengalami fraktur akibat distosia bahu dan ditilong pas persalinan. udah gitu sempet didiagnosis Erb Palsy pula. bodohnya...

Tuesday, December 06, 2005

the antibiotics thing

Good Doctor, Bad Doctor.

Bagaimanakah dokter yang baik menurut Anda? Ia menebar senyum sejak Anda membuka pintu ruang praktiknya, serentak berdiri sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman, meluangkan waktu yang cukup untuk mendengarkan segala keluhan, seraya melakukan pemeriksaan fisik yang teliti, dan berujung pada menulis di atas kertas resep, dan menyerahkannya pada Anda. Keluhannya sih mungkin ringan, hanya batuk-pilek dengan sedikit demam sudah tiga hari tak kunjung mereda. Dokter yang ramah dan baik hati ini menuliskan dua macam antibiotika dalam resepnya: amoksisilin 500 mg dan kotrimoxazol 480 mg dalam sediaan paten. “Ingat ya, harus dihabiskan antibiotikanya,” pesannya sebelum si pasien meninggalkan ruangan.

Common colds diberikan antibiotika? Sampai dua macam pula. Merek-nya paten pula. Tapi dokternya baik sih.. Jarang lho dapat dokter ramah dan baik hari seperti itu. Apapun obatnya, akan kubeli. Hey, belum tentu si dokter bekerja sama dengan perusahaan farmasi untuk mengeruk komisi obat paten lho! (well, meskipun tetap ada kemungkinan sih) Bisa saja memang si dokter ramah ini kurang updated ilmunya. Jadi memberikan obat dengan ilmu sepuluh tahun lalu, padahal dunia kedokteran terus berkembang…

Lalu dengan dokter satu ini: sejak Anda masuk ke dalam ruangannya, wajahnya datar-datar saja. Ia tidak banyak bicara, hanya mendengarkan keluhan Anda, memeriksa seperlunya, bertanya seperlunya, dan menuliskan resep sambil memberitahukan cara penggunaannya. Yang jelas si dokter satu ini paham betul dengan penggunaan obat secara rasional. Termasuk antibiotika, ia tidak akan meresepkannya jika dinilai tidak perlu. Kadang-kadang si pasien sampai merengek minta diberikan antibiotika padahal hanya luka tergores saja di lututnya. Ia paham betul dengan ‘parahnya’ penggunaan antibiotika di Indonesia. Ia tidak ingin memperkeruh kondisi ini.

Kedua contoh di atas bukanlah contoh yang ideal, bukan? Kita mengharapkan dokter ramah dan baik hati terhadap pasiennya, namun juga rasional dalam memberikan obat, plus updated ilmunya. Itu dokter yang bagus. Pasiennya banyak, sampai mengantrinya pun berjam-jam. Obatnya cocok! Minimal ada satu antibiotika pada kunjungan pertama. Alhamdulillah sih seringnya langsung sembuh. Kalau ke dokter lain belum tentu obatnya cocok.

Beberapa hari lalu, sambil menyetir sendirian malam-malam pulang dari tempat kerja (one thing I really enjoyed, driving alone at night, but I think having ‘someone’ right beside me while driving must be much more enjoyable, there’s someone to talk with… but the time hasn’t come yet—sorry nih OOT) dan mendengarkan sebuah radio swasta ibukota, si penyiar dalam obrolannya di sela-sela lagu menceritakan, “Gue mau cerita nih tentang dokter gue. Gue memang terkenal bandel kalau disuruh minum obat. Disuruh minum antibiotika sampai habis, begitu badan gue merasa enakan, gue stop obatnya. Akibatnya saudara-saudara? Sekarang gue disuruh minum sampai tiga macam antibiotika kalau sakit, karena gue udah kebal sama antibiotika. Makanya gue harus minum tiga macam untuk membunuh semua virus sampai tuntas.”

Dengan nada bangga si penyiar menceritakan pengalamannya. Dokternya yang dibanggakannya ini memberikan kombinasi antibiotika menyadari resistensi obat yang ada (memangnya sudah dibuktikan dengan uji kultur darah?). Ia pun salah menyebutkan kata ‘virus’. Antibiotika untuk memubuh bakteri, Mas, bukan virus! Ini si penyiar memang tidak begitu mau tahu ilmunya, atau si dokter telah (maaf) ‘membodohi’ pasiennya, dengan entengnya mengkombinasi antibiotika, tanpa memberikan edukasi yang baik. Jadi instead of keep giving multiple antibiotics, yang lebih penting adalah mendiagnosis dengan tepat penyakitnya, dan memberikan edukasi agar mampu menjaga kesehatan agar tidak mudah sakit.

Dalam kesempatan kali ini saya tidak akan membeberkan teori antibiotika dan resistensinya, juga data-data kuantitatif antibiotics abuse di Indonesia. Singkatnya, Indonesia adalah negara dengan pola konsumsi antibiotika tidak rasional. Dokter mudah merasa khawatir dengan penyakit pasiennya, maka mudahnya, berikan saja antibiotika sebagai ‘obat dewa’, mampu ‘menyembuhkan semua penyakit’. Ditambah mahalnya ongkos pemeriksaan penunjang, maka dokter di Indonesia cenderung terjebak pada pola terapetik farmasi. Sekali datang, langsung obati, mudah-mudahan ‘cespleng’! Penekanan pada aspek kuratif (pengobatan), bukan preventif (pencegahan). Konsumen kesehatan menambah parahnya kondisi ini dengan mereka yang meminta antibiotika ke dokter, padahal dokter belum tentu ingin meresepkan. Khawatir ‘tidak laku’, maka dokter memenuhi permintaan pasien.

Ironic, isn’t it?

Inilah yang akhirnya menyebabkan SUPERBUGS: bakteri resisten terhadap golongan antibiotika spektrum luas. Kalau kumannya sudah begini, mau diobati dengan apa lagi? Saya ingat dengan kisah sedih kawan SMU saya, anaknya yang berumur 1 minggu dirawat di sebuah RS pemerintah dengan mendapat tiga macam antibiotika spektrum luas!! Saya khawatir kuman penyebabnya tidak berasal dari lingkungan alamiah si anak, melainkan didapat dari RS selama perawatan. Namanya infeksi nosokomial. Semacam oleh-oleh dari RS jika dirawat. Seseorang dirawat, keadaannya bukannya membaik, melainkan mendapat infeksi bakteri baru dari RS yang resisten dengan berbagai macam antibiotika.

Udahan dulu deh…

Ini lagi ga nyambung: laporan jaga semalam di LKC:

- satu pasien dengan penurunan kesadaran suspek CVD stroke hemoragik GCS 3, diobservasi aja, alhamdulillah paginya bisa respon suara, jadinya GCS 15! (kayanya gue yang salah nilai GCS pas masuk deh) Cuma ada parese nervus VII aja sih, ga ada hemiparesis.

- Dua pasien kebidanan: satu wanita 35 tahun dengan G2P1A0 lahir spontan jam 23-an, dan satu wanita 31 tahun dengan G9P7A1 (grande multipara boo) partus spontan abis sholat subuh. Sempat bikin panik karena ada hysterical reaction (‘Dokter Apin harap turun ke ruang Bidan CITO’) dibilangnya pingsan. Untuk ga ada apa-apa. Semua bayi AS-nya bagus dan BL normal.

- Bolak-bolak nelepon perawat rujukan di RSCM gara-gara ga dapat kamar untuk satu bayi BBLR preterm 32 minggu dengan hiperbilirubinemia, dan satu lagi member baru anak 2,5 tahun dengan KEP suspek meningitis khawatir ada dekomp juga. Cari ruangan di Harkit ga dapet, cari ke Fatmawati ga dapet juga. Ya beginilah kondisi RS kita, seringkali pasien ditolak, ga tau memang penih ruangannya di RS rujukan, atau memang nolak pasien GAKIN (mudah-mudahan yang terakhir ini engga. Kalau ketahuan Bu Menteri bisa jadi kasus lagi. Hehehe)

Siap-siap berangkat lagi tiga jam dari sekarang. Ngantuk euy

Monday, December 05, 2005

Boobies!!

Okay, from the beginning, I have to tell you that I’m not going to write pornography or related. It’s just a title… hopefully an ‘eye-catching’ one, that’s going to attract you all to read my post. In the end, you’ll find some additional new knowledge about breast cancer. For those who haven’t had the information, of course.

Judul ini persis sama dengan tulisan yang saya temukan siang tadi dari penelusuran terhadap beberapa blogspot kedokteran. Tepatnya di Grahamazon dot com, yang memandu Ronde Besar Medscape pekan lalu (semua dokter dan mahasiswa kedokteran tingkat klinik pastinya familiar dengan istilah Ronde Besar). Coba simak kalimat-kalimat berikut.

“It’s not everyday that you’re told by a woman to look at her chest. In fact, unless you’re learning how to do a female breast exam, it’s generally not kosher. And so it was, that last Monday I palpated my first breasts. (This post is totally gonna nail me by porn-blocking software.)”

Mengingat jarangnya saya menulis blog, karena seringkali tidak ada ide, membaca blog milik Mr. Graham Walker yang mengisahkan hari-harinya menjadi mahasiswa kedokteran di Stanford University ini (ia masih mahasiswa tahun ketiga), memberikan ide bagi saya untuk sedikit bercerita masa-masa kuliah di FKUI dulu.

Pertama kali kami mempelajari teknik pemeriksaan payudara, yakni metode SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) atau Breast Self Examination (BSE) ini adalah dalam sebuah mata kuliah Patologi Anatomi tingkat tiga (saya merasa kagum juga masih mengingatnya, berarti ini kebetulan saya masuk kuliah, karena masa-masa tingkat dua dan tiga adalah saat-saat saya sering cabut kuliah). Hanya melalui ilustrasi dari tayangan proyektor LCD saja. Saya juga ingat sang dosen memelesetkan menjadi ‘Periksa Payudara oleh Suami’. Tidak masalah, bukan?

“My friend Heather decides to go first, and before I have time to blink, *woah*, there’s two big breasts staring right back at me. Heather started out saying “Fantastic!” after the instructor raised her arms in response to Heather’s request, but the instructor reminded us that “breasts are not fantastic. They are healthy or normal.”

Kemudian di tingkat IV, saat berada di Bagian Bedah, untuk pertama kali kami melakukannya langsung terhadap pasien di IRNA A RSCM. Kelompok kecil kami terdiri dari empat orang pria ganteng (hueek, hueekk): aku, Aria, Ardath, dan Onny. Berhubung F-4 sedang menjadi idola saat itu, kami menjuluki diri kami F-Se (hueekk, pret, dut, cuih, hehehe… beneran lho, kelompok lain nggak ada yang satu kelompok cowok semua). Dr. Sastiono Spesialis Bedah Anak membimbing kami melakukannya pada seorang ibu yang bersedia menjadi volunteer. Eitss.. ga boleh mikir ngeres.

“I’m being overly cautious at this point, trying not to say qualifying words like “fantastic” or “excellent,” so I end up just saying “okay,” and “healthy,” about 50 times. She finds it amusing; I let out a nervous laugh, and try to continue, still in hypersensitivity mode.”

Yang terakhir saat berada di Bagian Bedah tingkat VI, kami benar-benar bisa ‘puas’ melatih kemahiran melakukan breast exam ini di Poliklinik Bedah RSU Tangerang. Inspeksi dan palpasi, inspeksi dan palpasi. Hampir setiap harinya selalu ada lebih dari satu orang pasien baru dengan keluhan benjolan di payudara. Sebagai ko-ass, sebelum diperiksa langsung oleh spesialis bedah, semua pasien baru harus melewati kami.

Sangat alamiah dan manusiawi, semua perempuan yang harus ‘merelakan’ dilihat auratnya yang vital ini oleh dokter laki-laki akan merasa risih dan tidak nyaman. Begitulah yang kualami saat memeriksa mereka (secara teori, bahkan pasien harus diperiksa dalam beberapa posisi berbaring dan duduk, betapa tidak nyamannya!). Belum lagi wajah ‘dokter muda’ yang masih culun-culun dan membuat orang berpikir “Are you really a doctor here?” Maka dari itu, saya menyarankan semua wanita yang merasa memiliki benjolan tidak wajar di payudaranya untuk tidak datang ke dokter laki-laki (detilnya bisa dibaca di akhir tulisan).

Semua benjolan pada payudara atau breast lumps, adalah suatu keadaan yang mengharuskan setiap wanita yang mengalaminya datang ke dokter, karena bisa merupakan suatu keadaan dini dari keganasan (kanker). Meskipun beberapa kemungkinan (diagnosis banding) yang ada antara lain: fibroadenoma mammae (FAM—pada wanita muda, bukan kanker), kista, mastitis (biasanya pada ibu menyusui), dan papiloma.

Dalam kenyataan sehari-hari, tidak semua wanita Indonesia menyadari hal ini. Dari pengalaman klinikku selama setahun terakhir, ada yang menyadari benjolan yang terus membesar dan dibiarkan saja, dengan alasan ekonomi khawatir harus dioperasi (dari pemeriksaan fisik dan usia sepertinya sih giant FAM, tapi tetap saja harus dioperasi, kebetulan juga si ibu ini dari sosioekonomi-pendidikan menengah ke bawah); ada juga yang menyadarinya sangat dini dan langsung minta diperiksa (memang FAM dan sudah dioperasi dengan biaya dua jutaan setahun lalu); ada yang sekedar galactocele pada ibu yang memberikan ASI; ada juga yang memang terbukti Ca (kanker) dan menjalani seri radioterapi di RSCM; dan ada juga yang menyadarinya dari pemeriksaan suami (lucu juga ya, yang bersangkutan tidak pernah merasakannya, malahan si suami. Inilah maksud pelesetan kepanjangan SADARI. Jangan berpikir vulgar lho!).

Mengapa mendeteksi kanker payudara sedini mungkin menjadi amat penting? Data menunjukkan kematian akibat kanker payudara ini menduduki tempat kedua dalam kasus keganasan di Indonesia, persentasenya sebesar 11,22%. Survei terakhir di dunia menunjukkan tiap tiga menit ditemukan penderita kanker payudara, dan setiap 11 menit ditemukan seorang perempuan meninggal akibat kanker payudara.

Bagaimana cara mendeteksi dini penyakit ini? Teknik SADARI atau BSE bisa menjadi sebuah jawabannya. Meskipun dalam sebuah publikasi, Journal of The National Cancer Institute terbitan awal Oktober 2002, dan penelitian dari Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle dalam penelitiannya yang melibatkan 266.064 pekerja pabrik di Shanghai dan membagi atas kelompok BSE dan kontrol, menunjukkan tidak ada perbedaan kejadian kematian akibat kanker payudara antara dua kelompok ini. Namun di tengah pro-kontra pentingnya metode SADARI ini, tetap dianjurkan untuk melakukan SADARI, sebaiknya ditambah dengan pemeriksaan oleh dokter dan melalui pemeriksaan mamografi (rontgen terhadap payudara). Setidaknya untuk negara miskin macam kita yang pastinya sulit untuk melakukan mamografi rutin (belum lagi ditambah rasa risih melakukannya, misalnya saja operator mesin radiologinya laki-laki?).

Mulai usia berapa sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan payudara ini? American Cancer Society merekomendasikan mulai umur 20 tahun, setiap tiga tahun sekali, sampai usia 40 tahun, dan sesudahnya sekali dalam setahun. Meskipun sebelum umur 20 tahun masih bisa dijumpai benjolan pada payudara, namun potensi keganasannya amat minim. Sebuah situs yang menjelaskan lengkap masalah breast cancer ini adalah Mayo Clinic.

Beberapa ilustrasi mengenai teknik SADARI atau BSE dapat dilihat di sini, sini, situ, dan masih banyak lagi.

Ada beberapa tips dari saya mengenai pemeriksaan ini di layanan kesehatan terdekat.

Pertama, periksakanlah ke dokter wanita, sebisa mungkin! Syari’ah menjelaskan bahwa aurat wanita hanya boleh dilihat laki-laki dalam tingkat kedaruratan tinggi, yakni menyangkut nyawa, dan tidak ada dokter wanita. Kondisi darurat ini pun sifatnya sementara. So… jika Anda mencurigai adanya benjolan di payudara, dan ingin memeriksakannya ke dokter (tidak mesti ke dokter spesialis bedah, dokter (umum) pun bisa), berusahalah untuk mencari dokter wanita. Tentunya tidak nyaman juga kan kalau yang memeriksa dokter laki-laki. Ya… ini juga dari pengalaman saya memeriksa pasien wanita.

Kedua, pelajari terlebih dahulu teknik-teknik pemeriksaan payudara ini, seperti telah banyak saya lampirkan link-link di atas, mulai dari SADARI, sampai prosedur mamografi, USG payudara, biopsi, dan lainnya. Apalagi jika sampai mendapatkan vonis dari dokter bedah untuk dilakukan pembedahan, meskipun untuk kasus-kasus benjolan jinak, dokter bedah yang paling ahli sekalipun harusnya tetap melakukan pemeriksaan penunjang seperti mamografi ini. Harus dipahami dulu rasa tidak nyaman ketika payudara digencet oleh alat mamografi.

Sangat disarankan untuk membuka semua link yang ada, untuk mendapatkan informasi lebih utuh.

Ini ga nyambung: Apin-lagi-seneng-banget-hari-ini-dapat-kabar-seorang-kliennya-dengan-infertilitas-primer-selama-bertahun-tahun-plus-kista-ovarium-juga-tiba-tiba-beberapa-minggu-setelah-mengadopsi-anak-langsung-ketahuan-positif-hamil. Memang-ga-nyambung-sih-antara-‘mancing’-punya-anak-dengan-akhirnyabisahamiljuga. Tapi-ini-benar-benar-terjadi-pada-beberapa-orang. Keturunan-memang-rahasia-Alloh.

Tuesday, November 15, 2005

How to Get RICH EASILY (from) Being A Doctor

Sebenarnya udah lamaaa banget ingin menulis hal ini. Cuma baru sekarang jari-jarinya mau bergerak.

Dokter adalah profesi yang banyak berinteraksi dengan berbagai macam karakter manusia. Baik terhadap pasiennya (baca: klien kesehatan), sesama profesinya, maupun dengan kawan-kawan non profesinya. Pengalamanku selama setahun lebih sedikit menjalani profesi ini, khususnya sebagai dokter sebuah perusahaan swasta yang kadang harus berurusan dengan kertas-kertas klaim penggantian biaya pengobatan karyawannya, membuatku mengenal sebagian karakter sesama teman sejawat, yang mendorongku menuliskan topik ini.

Kasus A, seorang laki-laki berusia 30 tahun datang berobat ke sebuah klinik swasta yang bernamakan pemiliknya di bilangan Pamulang, dengan keluhan buang-buang air sejak 6 jam yang lalu. Frekuensi BAB cair mencapai 12 kali, kini tanpa ampas sama sekali, dengan muntah mencapai 4 kali. Masih mau minum, namun merasa lemas terutama setelah BAB. Dari pemeriksaan dokter, didapatkan tekanan darah normal, dan isi nadi cukup. Hanya dehidrasi ringan tampaknya. Namun... bagaimana kalau kita rawat saja laki-laki ini. Alasannya agar bisa diobservasi diarenya, khawatir jatuh ke dehidrasi. Ia tampaknya juga tidak akan keberatan. Bukankah keputusan di tangan dokter? Obatnya apa ya?? Bagaimana kalau kita berikan ANTIBIOTIKA intravena (diberikan melalui selang infus), plus botol infus dong tentunya. Walaupun panduan penatalaksanaan diare tidak menyebutkan pemberian antibiotika pada diare yang tidak dicurigai karena bakteri. Toh ia akan terima saja semua keputusan dokter. Hmm, sekarang apa ya pilihan antibiotikanya? Ahaa! Kebetulan, kemarin ada perusahaan farmasi yang menawarkan komisi kalau kita meresepkan obatnya. Memang mahal sih.. Melihat pasien ini cuma seorang sopir taksi. Tapi lumayan boo... Kan biayanya akan diganti oleh perusahaannya. OK berikan saja.

Kemudian pria muda ini hanya membutuhkan 1 hari rawat inap (yang sebetulnya tidak perlu, karena tidak memenuhi indikasi rawat inap) saja--tampaknya penyakitnya akibat salah makan saja, jadi ya sembuh sendiri--dengan biaya mencapai Rp 500 ribu. Kok mahal sekalee?? Iya lah, kan sudah di-bom dengan antibiotika berspektrum luas yang harga per botolnya Rp 150 ribu.

Kubaca jelas nama si dokter di salinan kuitansinya. Mudah-mudahan aku tidak bersu'udzon dengannya... Astaghfirulloh...

Kasus B, anak perempuan berumur 2 tahun dengan demam tinggi sejak kemarin. Si kecil tampak lemah, tidak mau makan, maunya minuuumm terus, sejak pagi tidak mau diajak bercanda. Bawa saja ke IGD RS di bilangan Ciputat sono dikit. Baiklah, pemeriksaan fisik tidak mengarah ke penyakit lain kecuali observasi febris (demam) dengan gajala common colds (batuk-pilek). Tapi kok demamnya 'mengkhawatirkan' ya? Mencapai 39 derajat selsius. Kita periksa darah dan kencing saja. Hasilnya pun normal. Tapi si orangtua masih khawatir dengan keadaan anaknya. Sudahlah, daripada repot-repot menjelaskan pada mereka perihal anaknya yang butuh observasi demamnya saja, mending dirawat saja. Orangtua tidak panik, obat bisa diresepkan. Betul ga? Andaikan si orangtua tahu panduan tata laksana demam. Itu contoh kecil saja, 'modus' tersering bagaimana 'uang tambahan' bisa masuk saku dokter. Lho, kok uang tambahan? Iya, kalau boleh dibagi-bagi, pemasukan utama adalah biaya jasa konsultasi. Dokter adalah profesi, sama dengan pengacara, insinyur, dan lain-lain, yang khususnya dihargai dari kemampuannya sebagai seorang konsultan. Masalahnya, dokter di Indonesia kurang 'dihargai' dari sisi jasa konsultasi ini. Ya, maksudnya dihargai dalam arti harga sesungguhnya Di sebuah jaringan klinik terkenal di Jakarta saja, jasa konsultasi dokter (umum) dihargai 'hanya' Rp 7000. Itupun yang masuk ke kantong dokter masih sepersekian persen lagi. Namun karena jumlah pasien dalam sehari bisa mencapai puluhan orang, akumulasi dari ongkos ini (plus dari obat) mencapai hasil yang... agak lumayan lah. Salah satu dampak buruk jumlah pasien yang banyak adalah waktu layanan konsultasi minim, sehingga dokter tampak kurang berkompeten dalam memberikan jasa konsultasi dan pemeriksaan. Akibatnya? Klien merasa sah-sah saja membayar 'murah'? Toh cuma dilayani 5 menit kemudian disuruh langsung ke apotek?! Bagi yang ‘beruntung’ bisa berpraktik di RS Swasta besar dan mahal, jasa konsultasi akan dihargai lebih pula. Dokter (umum) bisa mendapatkan Rp 75 ribu sampai Rp 150 ribu rupiah untuk setiap konsultasi, dan dokter spesialis bisa mendapatkan Rp 150 ribu sampai Rp 250 ribu rupiah. Berarti yang mendapatkan di bawah ini tergolong kurang beruntung ya? Hehehe Hey, namun jangan salah. Seorang sejawat dokter spesialis anak yang 'beruntung' ini dikenal sangat idealis dan rasional dalam melayani pasien-pasiennya. Tidak rugi mengeluarkan biaya besar untuk mendapatkan jasa konsultasinya. Perhatiannya benar-benar dicurahkan dalam menangai setiap kliennya secara individual. Bahkan tidak jarang ia tidak meresepkan apa-apa untuk pasiennya. Mengapa? Karena ia tahu bahwa kondisi kliennya memang tidak butuh intervensi obat. Malahan orangtua yang memaksa dokter untuk memberikan obat. Masa anak balita dengan demam 3 hari tidak mendapatkan obat apa-apa, hanya disuruh kompres hangat dan minum air putih yang banyak? Karena memang panduan tata laksana demam terbaru menyarankan hal ini.

Eits, mulai muter-muter. Kita balik lagi ke uang tambahan. Ya.. jadinya untuk mendapatkan penghasilan memadai (iya dong, dokter kan sekolahnya minimal 6 tahun, belum kalau lulusan FK swasta harus membayar mahal dengan waktu lulus bisa lebih dari 6 tahun.. jadinya harus 'balik modal' lah), dokter diberikan celah lain. Yaitu dari komisi dari perusahaan farmasi. Ini sudah menjadi rahasia umum, melihat regulasi peraturan perusahaan farmasi di Indonesia yang memungkinkan celah ini. Padahal jelas-jelas dalam Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI), hal ini dilarang bagi dokter.

'Modus' kedua adalah merawatinapkan pasien. Jadi pasien yang seharusnya tidak perlu dirawat inap, diminta rawat inap oleh dokternya. Ini dapat terjadi baik di RS pemerintah maupun swasta. Lumayan.. ada ongkos kamar harian, jasa visite dokter dan dokter spesialis, biaya tindakan, belum termasuk obat-obatan yang kalau tidak diberikan obat suntik (yang harganya lebih mahal), tidak 'afdhol' rasanya. Minimal diinfus lah, meskipun pasien masih bisa makan-minum. Masa masuk RS nggak diinfus?

Inilah sebagian kasus yang dapat diceritakan. Masih banyak contoh kasus lain, namun.. segini dulu deh. Bingung buat penutup... Intinya: bekalilah diri Anda dengan informasi penyakit Anda sebanyak-banyaknya sebelum berobat ke dokter. Setiap hari bisa online browsing dan ikutan milis, masa nggak bisa cari informasi kesehatan yang bejibun jumlahnya di dunia maya?!

-yang nulis bebas bicara soalnya dapat penghasilan dari uang gaji, bukan jasa per pasien dan komisi dari perusahaan obat. Hehehe.
Astaghfirullah, banyak membicarakan teman sejawat sendiri. Harus banyak introspeksi diri juga

Friday, August 19, 2005

Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

As a medical doctor, you wouldn't know what kind of people you would meet the day you had practice.

Perempuan berusia 38 tahun itu masuk ruang praktik dengan ekspresi wajah biasa.
"Ada keluhan apa, Bu?" tanyaku.
"Badan saya lemas terus hari-hari belakangan ini. Tidak ada gairah," paparnya, berhenti sejenak, "jantung juga sering berdebar-debar."
"O ya?" timpalku.
"Ya..." suaranya mulai bergetar. Wajahnya setengah menunduk. "Saya korban kebakaran waktu itu. Anak saya terbakar. Hangus jadi abu."
Ia mulai terisak pelan. Menangis perlahan. Tapi tidak lama. Sekitar semenit. Aku hanya terus menatapnya. Tak tahu harus bagaimana menanggapinya. Jangan sampai perasaannya semakin terluka dengan pertanyaan mengenai kejadian.
Wanita di hadapanku ini mulai tenang.
"Kebakaran yang kapan, Bu?" dalam hati aku merasa malu tidak tahu dengan bencana yang terjadi masih di sekitar Jakarta.
"Tanggal 16 kemarin. Dua puluh rumah habis terbakar." Isaknya sudah terkendali. Suaranya terdengar tegar.
Sambil diselingi pertanyaan mengenai keluhannya, ia memaparkan kisah sedihnya. Kejadian yang terjadi sehari menjelang peringatan 60 kemerdekaan
itu terjadi di Kebayoran Lama. Satu-satunya korban meninggal adalah balita berusia tiga tahun. Anak ketiga dari perempuan yang juga member LKC cabang Cipulir ini. Sehari-harinya ia bekerja sebagai kuli cuci. Saat kejadian, ia sedang mengerjakan kegiatan ini, sedangkan satu-satunya anaknya yang masih tinggal bersamanya tidur dalam buaian di lantai dua.
"Ia habis menangis, minta uang untuk nonton topeng monyet," kenangnya, "sekarang saya makan juga tidak nafsu. Masih teringat dengan dia. Biasanya kita makan berdua. Saya makan nasi sisa dari piringnya."
Ibu dengan tiga anak ini memang tinggal hanya dengan anak bungsunya. Anak pertamanya dibawa suaminya yang sudah tidak tinggal serumah. Anak keduanya berada di sebuah pesantren di Jawa Tengah.
"Sebentar lagi Ibu juga akan ketemu dengan anak yang tinggal di pesantren kan?" aku mencari topik pembicaraan yang kiranya dapat menenangkan hatinya.
"Iya, bulan depan ia akan pulang.
"
Kuajukan satu pertanyaan yang aku yakin mengetahui jawabannya, "Waktu kejadian, yang pertama kali datang memberikan bantuan siapa?"
"Dari PKS. Istrinya Pak--sebut saja--Fahmi yang terus menemani saya. Ia yang menyuapi saya. Bilang 'Ibu, jangan nangis terus'."
PKS memang hampir selalu menjadi yang pertama datang di setiap bencana apapun di ibukota.
"Iya, Ibu harus makan. Badan ibu lemas karena tidak mau makan. Ibu juga tidak boleh menyiksa diri sendiri, kan?" lanjutku.
Aku menyimpulkan ia mengalami stres pasca trauma. Jujur, aku menilai ibu ini sangat tabah. Tidak banyak ekspresi kesedihan yang keluar saat berbincang denganku. Atau mungkin air matanya sudah habis dalam tiga hari ini.
"Sekarang Ibu sudah ikhlas, kan?" aku mengakhiri pembicaraan.
"Iya, saya ikhlas, ridho. Anak kan yang punya Alloh. Kembalinya ke Alloh."
"Saya senang sekali dengar jawaban dari Ibu. Yang penting Ibu sudah ikhlas. Insya Alloh akan dapat ganti yang lebih baik." Aku terharu mendengar jawaban tulus dan tabah Ibu ini. Subhanalloh.
"Terima kasih, Dok."

"Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?" (ar-Rahmaan)

Rabu kemarin, hari libur memperingati Kemerdekaan RI, aku bertemu dengan pria itu. Laki-laki menjelang 40 tahun, yang datang ke LKC karena keluhan nyeri perut hebatnya. Ia dalam perjalanan menuju kampungnya di Sumatra Barat. Kesana kemari ia mencari dana untuk ongkos pulang dirinya, istri, dan ketiga anak kecilnya. Entah bagaimana, di tengah perjalanan, ia mengeluh penyakitnya kambuh, dan orang yang ditemuinya di jalan menunjukkan LKC.

Saat memeriksanya, tak henti-hentinya ia memanggilku, sekedar ingin memegang tanganku. Ia tampaknya ketakutan sekali dirinya akan pergi meninggalkan alam ini. Matanya gelap, keluhnya. Sambil mencium tanganku, mulutnya terus mengucapkan doa untukku, agar Tuhan membalas kebaikanku. Aku hanya menatapnya, sambil memintanya agar terus beristighfar. Menenangkannya, bahwa hanya Alloh-lah yang mampu mengangkat segala penyakit. Memintalah pada-Nya.

Setelah satu suntikan Tramadol masuk, pria yang mengaku ingin diberi kesempatan pulang kampung untuk mencium kaki ibunya dan meminta diberi waktu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya ini, menjadi lebih tenang.

"Sudah tidak sakit kan, Pak? Sudah tidak gelap kan, matanya?
"Sudah, Dok."

Bapak yang memegang surat keterangan miskin dari RS setempat di Sumbar ini kemudian melanjutkan perjalanannya. Mencari ongkos pulang, tidak tahu darimana lagi bisa mendapatkannya. Kami hanya bisa memberikan bantuan untuk mengurangi sakitnya saja. Padahal sebenarnya hanya member yang bisa mendapatkan pelayanan di LKC.

Kisah sedih kaum dhu'afa yang kutemui tidak sebatas di sini saja. Seorang ibu muda membawa anaknya kemarin ke Gerai Sehat Cipulir, cabang dari LKC. Penyakitnya ringan, hanya batuk pilek.

"Namanya Bella," tatap si ibu ke gadis kecilnya yang cantik, "ada kisah dari namanya."
"Waktu itu sudah ada orang yang mau (mengambilnya). Karena waktu itu saya tidak punya uang. Untung ada yang mau membiayainya. Jadinya sampai saat ini Bella masih bersama sama. Jadi banyak yang nge-bela-in dia. Makanya dikasih nama Bella."

Jadi ingat cerita Sayekti dan Hanafi, ibu yang terpaksa anaknya ditahan RS, karena tidak sanggup membiayai persalinannya. Hanya saja ibunda Bella ini hampir 'menjual' anaknya, karena tidak punya biaya untuk membesarkannya. Untung saja hal ini tidak terjadi. Betapa dhu'afa-nya mereka.

"Memangnya suami ibu kerja apa?" tanyaku penasaran
"Dia tidak bertanggung jawab. Sering pergi meninggalkan rumah. Kerjanya jadi calo."

Masih ada lagi ibu yang membawa anak gadisnya datang dengan batuk yang tak kunjung sembuh. Kebiasaanku menemui anak usia sekolah yang datang berobat, kutebak saat ini ia kelas berapa.

"Berarti sekarang kelas 2 SMP ya?" tebakku.
"Nggak Dok, sudah tidak sekolah. Tidak ada biaya," jelas ibunya.
"Tapi SD lulus kan?" selidikku.
"Sempat sampai kelas 6 SD, tapi untuk ujian tidak ada biaya, jadinya berhenti."
Ya Alloh, di pinggiran Jakarta saja masih ada anak yang tidak bisa menyelesaikan SD-nya karena masalah biaya. Kemanakah aliran dana kompensasi BBM?
"Anak ibu ada berapa?"
"Lima."
"Tapi adik-adiknya masih sekolah semua kan?"
"Ya, itupun ditanggung orang lain. Alhamdulillah," cerita ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini. Suaminya bekerja sebagai sopir angkot. Sehari kadang hanya bisa membawa Rp 15 ribu. Ia pun khawatir penghasilannya akan semakin merosot, dengan rencana pemerintah menaikkan BBM menjadi Rp 4000 per liternya.

Jum'at itu aku merenung di shaf kedua masjid sebuah bilangan Cipulir. Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?

Saat jaga malamnya, cerita memilukan masih terus mengalir. Pasangan suami-istri yang bekerja sebagai penjual buah pinang membawa anak gadisnya yang sudah sangat pucat. Dari tampilan klinisnya, kemungkinan kadar hemoglobinnya mungkin sudah di bawah lima. Ia sangat kekurangan oksigen. Gadis berumur 24 tahun yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini datang dalam keadaan demikian lemahnya. Untung saja seorang kerabatnya bekerja sebagai perawat di LKC, sehingga bisa membawanya ke sini.

Untung saja orang-orang ini menemukan LKC. Tempat mereka yang dhu'afa dan miskin papa bisa mendapatkan pelayanan kesehatan gratis, tanpa biaya, sejak awal sampai akhir. Berapa banyak nyawa yang bisa tertolong jika layanan kesehatan macam ini tersebar di ribuan tempat di negara ini?

Inilah negara kita. Negara yang aneh (mengutip istilah yang sering diucapkan Tora, Aming, dkk di Extravaganza). Di mana kesehatan seharusnya menjadi tanggungan pemerintah sepenuhnya. Di mana anggaran kesehatan demikian rendahnya, dibandingkan anggaran untuk ekonomi dan politik. Tapi justru layanan kesehatan yang langsung menyentuh dan bantuannya terasakan oleh masyarakat nyata diberikan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) swasta, macam LKC, Dompet Dhu'afa, PKPU, BSMI, MER-C, DSPU, DSUQ, dan lain-lain.

Negara yang aneh.

Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?

 (tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...