Wednesday, May 20, 2015

Susu dan Sembelit

Hari ini saja saya sudah mendapatkan dua anak yang mengalami kesulitan buang air besar sejak berbulan-bulan lamanya. Menanggapi kasus-kasus semacam ini, yang kerap kali dihadapi dokter anak, pertanyaan pertama saya biasanya adalah: berapa banyak anaknya minum susu dalam sehari?
Tidak mengejutkan sebenarnya, jawabannya adalah: rata-rata lebih dari 1 liter dalam sehari. Anak-anak ini tidak jarang memiliki status gizi yang baik. Bukankah asumsi sebagian orangtua adalah berikan susu yang banyak agar kebutuhan nutrisi anak tercapai? Bukankah iklan-iklan di TV menunjukkan anak-anak yang rajin minum susu menjadi sehat dan cerdas? Tapi pernahkah mereka menjumpai fakta yang kami hadapi: anak-anak yang selalu kesakitan tiap buang air besar. Anak-anak ini kadang bahkan cukup konsumsi sayur dan buahnya. Minum air putih pun banyak. Tapi buang air besar hanya 2 - 3 kali seminggu dengan perjuangan keras. Mengedan dan menangis. Mereka pun menjadi takut pup dan makin menahan pup karena tidak ingin kesakitan. Alhasil tinja menjadi makin keras. Lingkaran setan. Mereka mengalami sembelit alias konstipasi fungsional.
Lalu apa hubungannya dengan konsumsi susu? Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencari jawabannya. Ada yang mengaitkan konstipasi dengan intoleransi laktosa. Beberapa menghubungkannya dengan alergi terhadap protein susu sapi, sehingga ada yang menyarankan susu kedelai. Tapi susu kedelai pun masih bisa membuat alergi.
Di balik semua ini: apakah susu merupakan sumber nutrisi wajib bagi anak? Bukankah susu justru dibatasi konsumsinya pada anak di atas 1 tahun?
Susu sebagai salah satu produk nutrisi yang dulu dianggap sebagai penyempurna makanan sehat (ingat 4 sehat 5 sempurna?) kini mengalami pergeseran paradigma. Mayoritas susu yang dikonsumsi di dunia berasal dari sapi, padahal tidak semua negara memiliki kantong-kantong peternakan sapi yang digunakan sebagai hewan perah. Konsep nutrisi seimbang yang kini dianut mayoritas negara maju adalah piramida makanan (food pyramid) yang menempatkan susu di bagian yang mendapatkan porsi kecil saja. Amerika Serikat mempunyai konsep food plate yang menempatkan susu di luar "plate"-nya. Padahal AS diketahui sebagai negara yang tampak kental kultur minum susunya. Apa artinya? Susu sebagai pelengkap. Bahkan yang ada adalah batasan maksimal konsumsi susu, yaitu 500 ml pada anak. Bolehkah anak berusia di atas 1 tahun tidak minum susu sama sekali? Mengapa tidak. (O iya, susu yang saya bicarakan di sini sejak kemarin bukan ASI ya)
Kembali kepada tujuan utama: mengapa harus minum susu? Untuk mendapatkan kalsium-nya terutama. Ingat ya, kalsium bisa didapatkan dari berbagai sumber makanan. Susu juga mengandung lemak dan sebagian diperkaya zat besi. Tapi tetap saja bukan sumber utamanya.
Dalam bahasan terdahulu dijelaskan bahwa penyebab sembelit akibat konsumsi susu dihubungkan dengan intoleransi laktosa atau alergi protein susu sapi.
Tidak sedikit anak yang dikurangi volume susunya langsung mengalami perbaikan konsistensi tinja menjadi tidak keras. Sembelit alias konstipasi teratasi! Tentunya dibarengi dengan makanan tinggi serat, banyak minum air, dan toilet training sedini mungkin. Bagaimana bila konstipasi tidak langsung teratasi? Kasihan kan lihat anak menderita kesakitan dan menangis saat BAB. Pencahar seperti laktulosa dapat diberikan untuk melunakkan tinja. Buat anak agar tidak trauma saat BAB dengan bantuan obat ini. Sambil mengurangi susu dan menjalankan saran lainnya. Setelah pup lancar, pencahar dihentikan bertahap.
Dampak buruk kelebihan susu lainnya adalah membuat anak kenyang dan malas makan. Anak boleh saja tampak gemuk, tapi tidak mau makan sayur dan buah yang tinggi serat, sehingga tinjanya keras. Terlalu banyak susu yang mengandung kalsium juga mengikat zat besi sehingga kurang optimal diserap di usus. Anak mengalami anemia defisiensi besi.
Belum lagi masalah gigi yang berkaries. Anak minum susu dengan dot sambil tidur, tidak gosok gigi, dan gula terus mengaliri gigi membentuk media yang kondusif bagi bakteri rongga mulut menghasilkan karies.
Orangtua tidak kalah pentingnya menjadi role model bagi anak-anaknya dalam hal gemar makan sayur dan buah. Prinsipnya: minumlah susu dengan bijak.

Telaten Memantau Bayi Prematur

Hamil dan melahirkan merupakan pengalaman paling berkesan yang dialami setiap ibu. Bayi yang terlahir merah, menangis kuat, bergerak aktif adalah penghapus seluruh keletihan yang dialami selama 9 bulan mengandung.
Tetapi bagaimana bila bayi terlahir prematur? Bayi yang harus terlahir dengan usia kehamilan belum genap 37 minggu ini umumnya memiliki paru-paru yang belum “matang” untuk menghirup oksigen secara sempurna di dunia luar rahim. Bisa jadi, bayi lahir tidak menangis, sesak napas, dan segera membutuhkan alat bantu napas canggih. Apakah kondisi ini selalu terjadi pada bayi prematur? Adakah masalah-masalah kesehatan lain yang bisa timbul?
Definisi Bayi Prematur
Prematuritas didefinisikan sebagai kelahiran seorang bayi yang usia gestasinya (kandungan ibu) belum mencapai 37 minggu. Sedangkan bayi cukup bulan adalah bayi yang terlahir pada usia gestasi 37 sampai 42 minggu, dengan mayoritas persalinan cukup bulan pada usia gestasi rata-rata 40 minggu.
Definisi prematur seharusnya dibedakan dengan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yaitu berat lahir di bawah 2.500 gram. Namun, nyatanya, bayi BBLR kerap pula disebut bayi prematur, karena memang kebetulan bayi-bayi BBLR sering terlahir kurang bulan/prematur. Sebagian bayi terlahir dengan BBLR, meskipun usia gestasinya cukup bulan. Bayi-bayi ini dinamakan kecil masa kehamilan (KMK) atau small for gestational age (SGA). Pembahasan bayi prematur dalam tulisan ini dibatasi untuk yang lahir kurang bulan (sebelum 37 minggu) dengan berat lahir sesuai usia gestasinya.
Prematuritas dan Masalah Fungsi Organ Tubuh
Allah menciptakan manusia, yang idealnya baru keluar dari kandungan setelah 37 minggu, bukan tanpa alasan. Rentang waktu tersebut dibutuhkan untuk mematangkan seluruh organ tubuhnya sehingga ketika terlahir nanti ia siap menghadapi dunia barunya. Bayi yang terlahir prematur tidak memiliki semua kematangan organ ini, tergantung seberapa muda bayi saat dilahirkan. Makin muda usia gestasinya, maka makin tidak siap fungsi optimal organ tersebut.
Karena kondisi tersebut, sering kali bayi-bayi prematur mengalami masalah-masalah berikut.
> Penyakit membran hialin/PMH (hyaline membrane disease atau respiratory distress syndrome)
Kondisi ini disebabkan oleh ketiadaan atau kekurangan surfaktan, yaitu senyawa yang dimiliki oleh paru-paru manusia yang berfungsi menjaga paru-paru agar tidak kolaps (menutup seluruhnya) saat membuang udara (buang napas atau ekspirasi). Bayi yang mengalami PMH akan tampak bernapas teratur dan normal selama beberapa saat setelah lahir, tetapi tidak lama kemudian akan makin sesak, terlihat tarikan kuat di antara sela-sela iga, dan bahkan bisa sampai biru karena kekurangan oksigen lanjut.
Bayi seperti ini harus mendapatkan penanganan alat bantu napas dari ventilator dan pemberian oksigen yang disesuaikan jumlahnya agar fungsi napasnya dialihkan kepada bantuan mesin (ventilator). Kondisi ini rentan dialami bayi prematur yang terlahir pada usia gestasi sebelum 32 minggu. Penanganannya adalah memberikan terapi surfaktan sintetis lewat selang bantu napas ketika bayi terbukti mengalami PMH. Angka kematian akibat PMH masih cukup tinggi karena sulit dan mahalnya harga surfaktan, dan tidak semua RS mempunyai ventilator khusus bayi dan tenaga yang terlatih merawatnya.
> Apnea dan bradikardia
Apnea adalah henti napas spontan yang dialami bayi prematur selama 20 detik atau lebih, dan kerap disertai dengan bradikardia, yaitu frekuensi nadi bayi menjadi lebih lambat dibandingkan sebelumnya (biasanya di bawah 100 kali per menit). Kondisi ini dikaitkan dengan kurang matangnya fungsi pernapasan di batang otak (susunan saraf pusat/SSP) sehingga kadang-kadang bayi “lupa” bernapas.
Apnea pada prematuritas harus dipastikan bukan merupakan kejang karena sebab tertentu; kekurangan gula darah/hipoglikemia, gangguan elektrolit, infeksi SSP (meningitis, ensefalitis), dan perdarahan otak. Penanganan terhadap apnea biasanya dengan memberikan kafein atau aminofilin/teofilin, dan pemantauan tanda-tanda vital bayi di NICU dengan monitor elektronik.
> Retinopathy of prematurity (ROP)
Kondisi ini disebabkan oleh retina (jaringan saraf mata yang berfungsi untuk melihat) belum terbentuk secara utuh/sempurna. Kondisi ROP dapat makin berat akibat penggunaan oksigen yang berlebihan melalui ventilator, atau konsentrasi oksigen tinggi lewat selang oksigen. Perkembangan terkini sangat menekankan kehati-hatian dalam memberikan oksigen, termasuk saat menolong bayi baru lahir yang tidak prematur sekalipun.
Pemantauan terhadap ROP dilakukan secara berkala hingga bayi melewati usia koreksi 40 minggu, sampai retina dinyatakan matur (matang). Upaya pemantauan dilakukan oleh dokter spesialis mata menggunakan alat khusus.
> Penyakit paru kronik (chronic lung disease atau bronchopulmonary dysplasia)
Yaitu bayi bergantung kepada terapi oksigen hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Bayi-bayi ini mengalami kesulitan bernapas ketika oksigen dilepas, atau nilai saturasi oksigen (kelarutan oksigen dalam darah) langsung turun saat terapi oksigen dihentikan. Padahal bayi-bayi ini sering kali dinyatakan sudah tidak perlu dirawat di RS sehingga mereka dipulangkan dengan oksigen yang masih terpasang dan dapat dibawa ke rumah.
Kondisi ini terjadi akibat perubahan struktur jaringan paru yang selama berminggu-minggu butuh beradaptasi dan mendapatkan terapi oksigen. Seiring bertambahnya usia bayi dan kematangan fungsi paru, diharapkan penggunaan oksigen dapat “disapih”.
> Gagal Tumbuh
Sejak lahir, pemantauan pertumbuhan bayi prematur (berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala) dilakukan menggunakan kurva Fenton atau kurva standar dari WHO, dengan memerhatikan usia koreksi (bukan usia aktual/kronologis). Misalnya, bayi yang terlahir prematur dengan usia gestasi 32 minggu, berarti “kurang” 8 minggu menuju usia cukup bulan (40 minggu). Maka, tiap kali dilakukan pemantauan pertumbuhan, usia yang diplot adalah usia koreksi (selalu dikurangi 8 minggu atau 2 bulan). Jika usia kronologis bayi 3 bulan, maka usia koreksinya 1 bulan. Jadi, berat badan, panjang badan, dan lingkar kepalanya diplot pada bayi usia 1 bulan.
Apabila berat dan/atau panjang badannya masih masuk ke dalam kurva (minimal persentil 3 atau minus 2 SD), disimpulkan kemungkinan pertumbuhannya normal. Artinya, nutrisi yang diberikan sudah mencukupi. Namun, bila tidak pernah memasuki tren pola pertumbuhan normal, perhatikan, apakah memang bayi prematur belum memasuki pola pertumbuhan sama dengan bayi yang tidak prematur (tetap dengan usia koreksi).
Evaluasi nutrisi harus dilakukan berkala pada bayi-bayi prematur ini agar tidak mengalami kondisi gagal tumbuh yang dapat berdampak pada perkembangan otak dan kemampuan tubuh mengatasi infeksi (sistem imun). Dengan berbagai keuntungannya, air susu ibu (ASI) tetap menjadi pilihan utama, meski sering kali perlu ditambah human milk fortifier (HMF) atau suplemen lainnya.
> Gangguan Pendengaran
Meski lahir prematur, bayi memiliki pendengaran sempurna. Itu sebabnya, ibu disarankan sering mengajak bicara bayi sejak masih dalam kandungan, karena janin sudah dapat mendengar.
Akan tetapi, bayi prematur berisiko terkena infeksi di dalam ruang rawat sehingga kerap diberi antibiotik yang terkadang berefek merusak fungsi pendengaran. Ia juga rentan mengalami hiperbilirubinemia (kadar bilirubin darah melebihi normal dan berisiko menembus sawar darah-otak) yang tampak sebagai gejala kuning sehingga membutuhkan terapi sinar. Kondisi hiperbilirubinemia juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran kelak. Untuk itu, bayi prematur disarankan rutin menjalani pemeriksaan fungsi pendengaran dengan uji otoacoustic emission (OAE) dan brainstem auditory evoked potentials (BAEP/BERA).
> Anemia Prematuritas
Kemampuan sumsum tulang bayi prematur dalam memproduksi sel darah merah (eritrosit) juga belum sebaik bayi cukup bulan, karena itu ia rentan mengalami anemia. Kondisi ini diperberat dengan adanya pengambilan darah berulang, infeksi, dan peningkatan kebutuhan oksigen. Untuk itu, perlu dilakukan pemantauan berkala terhadap kadar hemoglobin bayi dan pemberian suplemen zat besi saat usianya satu bulan.
Pentingnya Ketelatenan Orangtua
Semua bayi prematur yang pernah mengalami minimal salah satu kondisi di atas disebut bayi risiko tinggi. Setelah dirawat, baik pernah melewati NICU atau tidak, bayi-bayi berisiko tinggi harus mendapatkan pemantauan berkala di praktik dokter anak, klinik khusus bayi risiko tinggi, atau di pelayanan primer seperti puskesmas. Orangtua dari bayi prematur yang paham semua risiko tersebut dapat membantu dokter membuat “daftar tilik” atas hal-hal yang harus dipantau pada bayinya ketika kontrol.
Bayi-bayi prematur juga berisiko mengalami gangguan (keterlambatan) perkembangan dan kecerdasan di kemudian hari. Karena itu, pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap fungsi organ dan pertumbuhan (berat dan panjang badan), tapi juga pada tahapan-tahapan perkembangan yang seharusnya dapat dilalui sesuai usia koreksinya. Apabila telah melewati usia 6 bulan, 12 bulan, dan 18 bulan masih ada milestone perkembangan yang terlambat, maka harus dievaluasi penyebabnya.
Prematuritas dan berat lahir rendah juga dihubungkan dengan risiko darah tinggi (hipertensi) dan obesitas (kelebihan berat badan) di usia remaja dan dewasa, yang terkait dengan berbagai penyakit degeneratif. Ini artinya, pemantauan terhadap bayi prematur tak hanya dilakukan dalam beberapa tahun pertama, melainkan hingga belasan bahkan puluhan tahun kemudian.
Mengenali faktor risiko penting bagi seorang ibu agar dapat mencegah persalinan prematur. Apa saja?
Usia ibu hamil yang terlalu muda, atau sebaliknya terlalu tua. Usia optimal untuk hamil adalah 20 – 30 tahun.
Kehamilan kembar, baik kembar dua atau lebih. Ibu yang mengandung lebih dari satu bayi berisiko melahirkan bayi-bayi prematur.
Infeksi saat kehamilan, misalnya infeksi oleh sitomegalovirus (CMV), toksoplasma, infeksi menular seksual (HIV, hepatitis B), cacar air, rubella, dan radang tenggorok akibat streptokokus beta hemolitikus grup B. inilah pentingnya senantiasa mencuci tangan dan memasak makanan hingga matang (mencegah CMV), menghindari kontak dengan hewan piaraan yang kotor (toksoplasma), dan melengkapi imunisasi (cacar air, MMR) sebelum kehamilan.
Konsumsi alkohol dan merokok saat hamil.
Penyakit kronik, seperti hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes pada kehamilan. Inilah pentingnya memeriksakan kesehatan secara teratur saat hamil dan menjaga pola hidup sehat serta olahraga.
Riwayat persalinan prematur pada kehamilan sebelumnya.
Stres psikologis.
*Rubrik ini diasuh oleh dr. Arifianto, SpA atau akrab dipanggil Dokter Apin. Selain aktif berpraktik di RSUD Pasar Rebo, beliau juga menulis buku Orangtua Cermat, Anak Sehat" dan Buku Pro Kontra Imunisasi

Saturday, May 16, 2015

How I practice

Sebagai seorang tenaga medis yg memiliki praktik mandiri, saya menyediakan layanan kesehatan sesuai spesialisasi yg dimiliki. Tak terkecuali layanan imunisasi. Memang saya tidak mem-"posting" daftar harga vaksin yg kami sediakan. Karena buat kami, layanan kesehatan spesialis anak adalah layanan integral: mencakup penegakan diagnosis dan terapi anak sakit, penilaian pertumbuhan dan perkembangan, nutrisi sejak lahir, dan kelengkapan imunisasi. Maka kalaupun kami "jualan", yg kami jual adalah layanan kesehatannya. Bukan "jualan" spesifik produk tertentu, misal produk vaksin, atau suplementasi zat besi, sebagai contoh.
Sekalipun harga produk vaksin yg kami jual sama murahnya, bahkan lebih murah dibandingkan tempat lain, tetap saja kami memilih untuk tidak mem-posting hal ini. Biarlah konsumen kesehatan sendiri yg menilainya.
Maka tidak heran banyak orangtua yg memang memilih untuk mendatangi bila ingin berkonsultasi panjang lebar kondisi anaknya. Tapi untuk hal imunisasi, silakan. Posyandu dan Puskesmas pun menyediakan vaksin dengan kualitas yg baik.
Seandainya ini bisa dianggap sebagai suatu bentuk idealisme, maka inilah yg kami pilih.

A cancer story

Saat praktik sore kemarin, seorang Ibu bertanya: apa gejala neuroblastoma? Mengapa ia tiba-tiba bertanya seperti itu? Ternyata ada seorang anak yang sedang sakit neuroblastoma dan kisahnya banyak dibicarakan di media sosial. Saya sendiri belum pernah dengar kisahnya. Kabarnya orangtua si anak membawanya hingga ke Guangzhou (koreksi bila saya salah) untuk pengobatan. Saat membuka laman Facebook semalam, saya mendapatkan berita gadis kecil ini ternyata sudah meninggal karena sakitnya.
Mendengar kata neuroblastoma dari Ibu kemarin, yang terlintas di pikiran saya adalah: ini adalah salah satu keganasan (kanker) pada anak yang umum kami jumpai sehari-hari, khususnya saat masih menjalankan pendidikan spesialisasi anak dan bertugas di divisi hematologi anak. Ternyata, buat masyarakat umum, mungkin penyakit ini dianggap langka dan unik, sedangkan bagi para dokter anak, neuroblastoma dan beberapa jenis kanker anak lain adalah kasus yang biasa.
Pikiran saya lalu melayang pada pasien-pasien cilik dari kalangan ekonomi tidak mampu yang kami tangani di sebuah RS rujukan pusat di negeri ini. Kebanyakan datang dengan kondisi lanjut. Benjolan yang membesar di wajah, sekitar leher, dan perut yang membesar. Anak-anak ini lalu memburuk gizinya, dan kesulitan makan akibat besarnya tumor. Angka kematian pun tinggi, meskipun kemoterapi sudah dilakukan.
Saya pun jadi merenung, anak-anak penderita neuroblastoma yang kebanyakan miskin dan dari keluarga berlatar pendidikan rendah ini seringkali terlambat berobat ke fasilitas yang tepat karena tidak punya biaya. Jangankan berobat ke luat negeri, mereka yang tinggal di luar Jakarta apalagi luar Jawa, untuk mengakses RS Umum Daerahnya saja kesulitan. Belum lagi adanya mitos-mitos seputar sakit kanker ini.
Alangkah beruntungnya mereka bila sudah mendapatkan penanganan sedini mungkin, sehingga tidak datang dengan stadium lanjut, karena tidak khawatir dengan biayanya. Alangkah terbantunya mereka, bila mempunyai pengetahuan sedini mungkin tentang penyakit ini. Kendala lain adalah fasilitas kesehatan yang mampu menangani anak-anak dengan kanker masih sangat terbatas. Di Pulau Jawa saja terbatas di ibukota propinsi, apalagi di luar Jawa.
Saya lalu teringat dengan kawan-kawan saya di Komunitas Taufan , yang rutin menyambangi anak-anak penderita kanker pada anak di RS, dan tulus membantu mereka dari sisi-sisi yang belum terpenuhi dari Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pernahkah berpikir orangtua yabg harus menemani anaknya berobat ke luar pulau, sehingga harus meninggalkan pekerjaannya? Siapa lalu yang mencari nafkah? Pernahkah memikirkan makanan sehari-hari keluarga yang menunggui anaknya yang sakit ini? Mereka tetap harus makan dengan segala keterbatasan uang transpor yang dimiliki. Bagaimana dengan tempat tinggal mereka di Jakarta? Bagaimana dengan popok anaknya yang harus diganti tiap saat, susu dan makanan tambahan lainnya? Ini adalah sekelumit hal-hal non obat yang tidak menjadi tanggungan JKN.
Mbak NaNa Andriana dan Ibu Yanie Dewi adalah sedikit orang-orang yang memikirkannya, sehingga mereka membentuk Komunitas Taufan.
Tidak hanya mereka, masih ada yayasan-yayasan peduli kanker anak lain seperti: Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI), Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI), dan YKAKI yang besar perannya selama bertahun-tahun dalam membantu keluarga yang anaknya sakit kanker. Bahkan rumah singgah pun disediakan. Lalu ada Rumah Sehat Terpadu dan Lkc Dompet Dhuafa yang sudah lama ikut membantu anak-anak ini, mulai dari mendeteksi kasus sampai mendampingi penanganan dan perawatan di RS rujukan.
Pelajaran lain yang saya dapatkan adalah: peran media sosial cukup besar dalam memberi informasi terkait kanker pada anak bagi masyarakat. Mungkin apabila anak-anak dengan neuroblastoma yang berasal dari kalangan kurang mampu terekspos oleh media, mereka akan mendapatkan simpati besar dan bantuan dana dari masyarakat. Banyak di antara mereka yang kasusnya lebih berat, dan pastinya sangat layak untuk dibantu dari segi dana dan dukungan semangat.
Ayo kita bantu anak-anak penderita kanker yang berasal dari ekonomi tidak mampu.

A blogger

Sekitar 7 tahun yang lalu, ketika Facebook dan Twitter belum ada, saya sudah menggeluti blogspot. Tepatnya sejak 10 tahun silam (ini blog pertama saya: http://spaceodyssey.blogspot.com/). Saat itu isu kontroversi imunisasi belum seramai sekarang. Pada tahun 2007, sebuah majalah Islam mengangkat topik ini dan membuat saya bereaksi dengan mengirimkan surat pembaca (sayangnya saya belum membuat salinan pemindaian edisi tersebut). Saya pun lalu menulis tanggapan terhadap kontroversi imunisasi saat itu di blog awal tahun 2008: http://arifianto.blogspot.com/…/mengapa-tidak-mau-memberika…
Sekarang sudah cukup banyak dokter yang dikenal masyarakat sebagai pakar dalam hal ini. Alhamdulillah...

Wednesday, May 13, 2015

Bayi Grok-grok

Sambil menatap wajah si bungsu yang baru tertidur, saya mendengar bunyi napasnya yang agak mendengkur "grok-grok". Lalu teringatlah saya pada satu pertanyaan yang sangat sering diajukan orangtua. Bahkan kadang mereka membawa bayinya menemui saya hanya untuk menanyakan hal ini.
"Napas anak saya berbunyi "grok-grok". Apakah ini?"
Orangtua kadang menganggap bayinya dengan kondisi ini sebagai sakit pilek, sehingga mereka datang ke dokter untuk minta obat, bahkan "diuap". Benarkah ini?
Jika di dekat saya buku hijau "Orangtua Cermat Anak Sehat" tergeletak, maka saya akan membukakan salah satu halamannya dan membacakan "senjata andalan" saya.
"Bu, bayinya tidak sakit sama sekali. Ia tidak sedang pilek. Maka tidak perlu obat, disedot ingusnya dengan mulut Ibu (ada lho yang seperti ini, dan walhasil tidak ada ingus yang keluar), apalagi diuap (diterapi inhalasi). Saya juga tidak curiga bayinya alergi susu sapi, sehingga Ibu harus memantang makanan. Yang bayi Ibu alami adalah kondisi yang namanya "noisy baby"."
Apa pula itu?
Sambil menunjukkan halaman buku yang dimaksud, saya jelaskan.
1. Diameter saluran napas bayi saat baru lahir sampai usianya 6 bulan masih relatif sempit, sehingga udara yang melewati saluran napas ini, apalagi ditambah dengan adanya lendir, meskipun tidak banyak, akan menghasilkan suara nyaring, umumnya "grok-grok". Seiring bertambahnya usia, diameter saluran napas akan makin lebar dan bunyi ribut ini menghilang dengan sendirinya.
2. Bayi cenderung bernapas dengan hidung alias "nose breather". Kondisi ini makin memperjelas bunyi "grok-grok" yang ada, apalagi bila ada lendir.
3. Saluran napas bayi mudah bereaksi dengan benda asing yang ada, misalnya debu, asap rokok, dan alergen lainnya. Lendir adalah bagian dari sistem pertahanan tubuh.
4. Ibu hanya perlu khawatir bila "grok-grok" ini disertai sesak napas yang ditandai dengan otot-otot dinding dada bayi yang bekerja keras.
Jadi....masih ada yang dikhawatirkan dari bayi Anda yang napasnya berbunyi "grok-grok"?

DeBeDe atau Tipes?

Katanya Demam Berdarah Dengue alias DBD sedang mewabah ya? Bagaimana dengan "tipes" alias demam tifoid? Karena kabarnya ada beberapa yang dirawat akibat DBD dan demam tifoid bersamaan. Mungkinkah?
Ini pertanyaan favorit saya buat para Koas yang sedang menjalankan rotasi di bagian Anak. Apa pasalnya? Beberapa orang bercerita dirinya didiagnosis DBD dan tifoid bersamaan gara-gara: tes Widal!
Banyak orang familiar dengan pemeriksaan laboratorium satu ini. Katanya kalau Widal-nya positif, berarti sakitnya tipes. Ketahuilah bahwa diagnosis demam tifoid dipastikan dengan beberapa hal:
1. Gejala. Ya, namanya saja demam tifoid, jadi yang sedang sakit pasti bergejala demam. Nah, demamnya seperti apa? Ada yang bilang seperti "step ladder", jadi makin lama hari sakitnya, maka ambang suhunya makin tinggi. Tapi ternyata tidak harus seperti ini. Yang menjadi kata kunci demam tifoid adalah: demamnya mininal 7 hari! Beda kan dengan DBD yang sudah bisa dicurigai sejak demam 2 hari bahkan.
2. Penyakit tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Kita sudah paham bahwa yang namanya infeksi bakteri butuh antibiotik (DBD disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang tentunya tidak butuh antibiotik). Bakteri Salmonella ini masuk ke tubuh lewat makanan/minuman yang terkontaminasi Salmonella. Dan umumnya makanan pinggir jalan yang higienenya buruk yang berisiko menyebabkan tipes. Siapa yang biasa jajan makanan seperti ini? Anda dan saya tentunya. Hehe. Maksud saya, mungkinkah anak berumur 2 tahun atau lebih muda yang belum pernah jajan makanan seperti ini terkena demam tifoid? Inilah sebabnya tifoid umumnya menginfeksi anak besar udia SD ke atas. Evaluasi ulang bila seorang anak balita sampai didiagnosis tifoid.
3. Lalu bagaimana bisa memastikan diagnosis tifoid berdasarkan pemeriksaan darah? Dengan pemeriksaan Widal? Hmmm...
Jadi pemeriksaan laboratorium yang bertujuan menentukan kuman penyebab penyakit ada 2 cara: secara langsung menemukan kumannya dan yang secara tidak langsung.
Cara pertama adalah dengan pemeriksaan kultur (biakan) baik dari darah, air seni (urin), dan tinja (feses), maupun cairan tubuh lainnya. Jadi kuman dibiakkan dalam suatu media, dan ditunggu hingga beberapa hari untuk mendapatkan hasil apa sebenarnya bakteri penyebab penyakitnya. Inilah yang dilakukan pada kecurigaan demam tifoid, yaitu dengan pemeriksaan kultur darah/tinja/urin untuk mendapatkan si kuman Salmonella typhi. Sayangnya tidak semua RS punya fasilitas ini. Dan harganya juga tidak murah (tapi ditanggung BPJS Kesehatan lho...).
Cara kedua adalah dengan mendeteksi "jejak" keberadaan si kuman, yaitu dengan mengetahui adanya antibodi yang dihasilkan si antigen (kuman). Inilah Prinsip pemeriksaan seperti Widal, Tubex, TORCH, dan IgG-IgM Anti Dengue. Jadi ada risiko yang terdeteksi sebenarnya adalah "jejak" si kuman masa lampau, yang pernah masuk ke tubuh berbulan-bulan lalu. Bukan yang menyebabkan sakit saat ini.
Paham tidak sejauh ini? Mudah-mudahan tidak bingung.
Jadi bisa saja Widal-nya "positif", tapi sebenarnya tidak sakit tipes! Karena Widal ini menandakan berbulan-bulan lalu ia pernah kemasukan kuman tifoid, dan saat itu ia tidak sampai sakit. Sedangkan saat ini sakitnya bukan tifoid dari gejala-gejala yang ada.
Pelajarannya adalah: selalu berhati-hati dalam menginterpretasi pemeriksaan laboratorium yang menilai keberadaan kuman secara tidak langsung, termasuk Tubex (IgM Anti Salmonella) yang katanya lebih sensitif dan spesifik dari Widal. Pemeriksaan semacam TORCH pun juga.
Saya kadang mengajak kawan-kawan berdialog seperti ini: " dari kita semua yang ada di sini dalam kondisi sehat wal afiat, bila "iseng-iseng" dicek Widal-nya, bisa saja mayoritas "positif", padahal tidak satu pun yang demam tifoid. Mengapa? Karena kita semua pernah makan jajanan pinggir jalan yang terkontaminasi Salmonella, tetapi alhamdulillah tidak sakit, karena adanya antibodi yang melawan kuman. Dan "jejak" inilah yang terbaca sebagai Widal positif.
Sebagai kesimpulan, lessons learned-nya adalah:
1. Kembalikan kepada diagnosis berdasarkan tanda dan gejala yang dialami. Kalau demamnya baru 3 atau 5 hari, ya kemungkinan kecil, bahkan jangan pikirkan dulu, demam tifoid. Berpikir demam tifoid ya kalau demamnya sudah lebih dari 7 hari.
Bahkan kalau demam sudah 3 hari tapi jelas ada batuk pilek ya tidak usah juga berpikir DBD dan cek darah, karena diagnosisnya adalah selesma.
2. Setiap pemeriksaan laboratorium pastilah memiliki keterbatasan. Maka selalu kembalikan kepada diagnosis. Dokter tidak mengobati hasil laboratorium, tetapi dokter mengobati pasien.
Semoga bermanfaat

Sabar dan Gendong, Obatnya Batuk-Pilek pada Anak

Semua orangtua pernah mendapatkan anaknya mengalami selesma alias batuk pilek. Mayoritas berakhir dalam waktu yang tidak lama, sekitar semingguan. Tapi sebagian lainnya bertahan hingga berminggu-minggu, bahkan melampaui angka 1 bulan. Orangtua yang awalnya paham bahwa selesma dibiarkan saja dan akan sembuh dengan sendirinya, tidak perlu minum obat apapun, toh infeksi virus yang ringan, menjadi khawatir. Apalagi kata orang, batuk yang dibiarkan lama bisa jadi "paru-paru basah", flek, pneumonia, dan bronkitis.
Mulailah mereka membawa anaknya ke dokter. Sebagian khawatir akan kemungkinan TB, sehingga dilakukan foto ronsen dan tes Mantoux. Sebagian lagi curiga alergi atau asma, maka diberikanlah obat-obatan asma dan alergi. Masih tak kunjung sembuh juga. TB bukan, alergi bukan, asma juga tidak. Lalu apa? Infeksi virus ping-pong ternyata. Ya, awalnya si anak sakit, lalu bapak-ibunya tertular, lalu di sekolah teman-temannya juga sakit. Lengkap sudah.
"Ibu mau anaknya sembuh? Gampang Bu. Ibu taruh anaknya di suatu tempat yang tidak ada orang lain yang sakit batuk-pilek juga. Satu minggu aja. Nanti juga insya Allah sembuh sendiri." Kata dokter sambil tersenyum.
Ujung-ujungnya pasti orangtua bertanya, "Lalu apa obatnya??"
"Sabar," jawab dokter. "Obatnya adalah: sabar menunggu anak sembuh sendiri. Toh ini infeksi virus ringan yang hilang seiring waktu. Tapi ya harus sabar. Karena banyak orang di sekelilingnya yang sakit serupa dan bolak-balik menularkan."
Satu lagi. Anak seringkali mengalami demam saat selesma. Suhunya bisa mencapai 40 derajat selsius. Ia menjadi rewel. Sudah diberi obat penurun panas, hanya turun sedikit jadi 38,5. Itupun kalau mau diminum obatnya. Banyak yang langsung muntah saat ia dipaksa orangtuanya minum parasetamol. Makin stres si ayah-ibu. Semalaman tidak tidur. Maunya digendong saja. Ditaruh sebentar di kasur, langsung nangis lagi. Hidungnya mampet. Batuknya grok-grok.
"Jadi saya harus kasih obat apa?" tanya orangtua lagi.
"Anaknya nyaman dan anteng kalau digendong kan?" tanya dokter.
"Iya...."
"Ya itu obatnya: gendong!"
Ya, semalaman menggendong anak tentunya melelahkan. Harus masuk kerja pula pagi-pagi.
Nikmatilah! Tidak akan lama masa-masa ini Anda alami. Anda akan segera merindukannya ketika anak-anak besar

Fakta Batuk dan Penanganannya



Fakta Demam dan Penanganannya



Mengenal Demam


Mengenal Diare


Mengenal Batuk-Pilek


Kisah Batuk

"Dok, anak saya sudah 2 bulan batuk. Saya sudah membawanya ke 2 dokter anak, diberi puyer racikan, sirup antibiotik, dan diuap. Tapi kok masih belum sembuh juga?"
"Katanya batuk yang lama dan tidak diobati bisa jadi flek ya?"
"Anak saya keluar cairan dari telinganya. Saya ditegur. Katanya gara-gara saya tidak mengobati batuk-pilek anak saya."
"Anak saya muntah tiap habis batuk. Saya tidak tega melihatnya. Apakah tidak ada obat untuk mengatasi hal ini?"
Tidak bisa dipungkiri, batuk adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seorang anak. Keluhan ini juga yang membuat orangtua sering membawa anaknya ke dokter. Apa yang seharusnya dilakukan?
Sebelum kita membahas berbagai jenis batuk pada anak, pahamilah dulu bahwa BATUK bukanlah PENYAKIT. Batuk adalah gejala yang diciptakan oleh tubuh untuk mengeluarkan benda asing berupa virus/bakteri/debu dalam lendir/dahak dari dalam tubuh. Apa artinya? Ya, batuk adalah bagian dari sistem PERTAHANAN tubuh kita.
Lalu pahami juga bahwa obat-obatan yang ditujukan untuk meredakan batuk pada anak ternyata tidak terbukti efektif! Bahkan cenderung memiliki efek samping. Apa obat batuk paling manjur? Banyak minum jawabannya.
Apa penyebab tersering batuk pada anak?
Anda memiliki dua orang balita. Minggu lalu si sulung pulang sekolah membawa oleh-oleh batuk. Pekan ini si bungsu mulai batuk juga. Tidak berhenti di sini, Anda pun mulai merasakan tidak nyaman di tenggorokan. Apa penyebab batuk ping-pong yang hampir tiap bulan dialami anak-anak ini? Tidak lain dan tidak bukan: infeksi VIRUS yang akan SEMBUH SENDIRI seiring waktu. Ya. Infeksi virus jelas sama sekali tidak membutuhkan antibiotik.
Lalu bagaimana mengobatinya?
Jika dibuat daftar, berikut adalah penyebab batuk pada anak:
1. Selesma/common cold (rinovirus, adenovirus, RSV, dll)
2. Flu (virus influenza)
3. Alergi
4. Asma
5. Post-viral cough
6. Aspirasi benda asing
7. Pneumonia (virus/bakteri/jamur)
8. Bronkiolitis (RSV)
9. Pertusis (bakteri)
10. Croup
11. Tuberkulosis/TB (bakteri)
12. Psikogenik/stres psikologis
13. Dan lain-lain
Saya tidak akan membahas semua itu, tapi yang sering terjadi saja.
Pertama, selesma. Ya ternyata penyebab tersering batuk pada anak adalah selesma yang MURNI disebabkan oleh infeksi virus. Ada sekitar lebih dari 100 jenis virus yang dapat menyebabkan selesma. Sayangnya: selesma tidak ada obat anti-virus-nya. Ya, tidak ada satupun obat yang efektif dapat menyembuhkan selesma, padahal ini adalah penyebab tersering batuk pada anak. Kabar baiknya adalah: penyakit ini ringan dan sembuh sendiri seiring daya tahan tubuh (waktu).
Dulu pernah diusahakan menciptakan suatu vaksin yang dapat mencegah penyakit ini. Sayangnya tidak berhasil. Apa sebabnya? Terlalu banyak virus yang dapat menyebabkan common cold, dan uji klinisnya selalu gagal.
Apakah vaksin flu yang masuk dalam jadwal rutin imunisasi pada anak dapat membantu mengurangi terjadinya selesma? Ternyata tidak. Ya, jelas saja, vaksin flu membantu mencegah sakit influenza (penyebabnya HANYA VIRUS influenza saja) berat yang bisa menjadi pneumonia, tapi tidak mencegah selesma, karena virusnya beda.
Apakah obat-obatan pereda gejala seperti antitusif (penekan refleks batuk) dan pengencer dahak (mukolitik) dapat membantu meredakan gejala? Silakan baca tulisan terdahulu saya tentang batuk-pilek.
Sampai kapan selesma dapat berlangsung? Kalau sudah batuk dan pilek lebih dari seminggu, bukankah harus ke dokter?
Ya, umumnya selesma sembuh sendiri dalam 1-2 minggu. Dengan syarat: TIDAK ADA orang lain di sekitarnya yang sakit selesma juga. Masalahnya adalah, pada kebanyakan kasus tidak seperti ini. Ambil contoh, anak kita yang berusia 4 tahun mendapatkan selesma dari kawannya di sekolah. Tidak lama kemudian, adiknya yang berumur 2 tahun tertular juga. Si kakak sudah hilang demamnya dan mulai mereda batuk-pileknya, eh si adik mulai mengalami demam. Lusanya si ayah dan ibu yang ikutan selesma. Satu rumah sakit selesma! Ketika si kakak seharusnya sudah sembuh, jadi berkepanjangan karena virus dari adik dan ayah-ibu kembali menyerang dirinya. Batuk pun berkepanjangan menjadi 2-3 minggu, bahkan 1 bulan. Kedua orangtua sudah bolak-balik ke dokter dengan sekian obat yang saya ceritakan di awal kisah 3 hari yang lalu. Tapi kok tidak sembuh juga? Jelas saja, virusnya masih ada dan berputar-putar di rumah. Antibiotik yang diberikan tidak mempan, karena yang seharusnya dibunuh adalah virus, bukan bakteri. Malahan anak mendapatkan antibiotik yang seharusnya tidak ia dapatkan. Inhalasi alias terapi uap yang isinya obat asma pun tidak manjur, karena memang si anak tidak sakit asma.
Lalu apa obatnya? Sabar. Ini obatnya.
Benarkah bila batuk yang berkepanjangan ini bisa jadi pneumonia? Atau "flek" paru?
Apakah selesma alias batuk pilek infeksi saluran napas akut atas akibat infeksi virus yang tidak diobati dapat berlanjut menjadi pneumonia?
Kita kenali dulu, apa itu pneumonia? Yaitu peradangan di jaringan paru-paru, tepatnya di alveoli (kantong-kantong udara kecil tempat bertukarnya gas oksigen masuk ke pembuluh darah), sehingga alveoli terisi cairan.
(Anyway, mungkin ini asal muasal istilah paru-paru basah. Padahal paru-paru kering enak dimakan rasanya).
Akibatnya pertukaran oksigen terganggu dan anak mengalami sesak napas. Ya, jadi beberapa kesimpulan:
- Selesma adalah ISPA atas, dan pneumonia adalah ISPA bawah
- Gejala pneumonia adalah sesak napas. Terlihat dari tarikan dalam di sela-sela iga, napas cepat, dan napas cuping hidung. Kondisi ini tidak dijumpai pada selesma/common cold
Pneumonia memang berawal dari ISPA atas. Anak mengalami selesma terlebih dahulu. Dalam 1-2 hari atau bisa juga lebih dari 1 minggu kemudian, anak mengalami sesak napas. Saat inilah anak dicurigai terkena pneumonia.
Jadi...selesma memang bisa berlanjut menjadi pneumonia. Tapi tidak semua selesma akan menjadi pneumonia. Dan ini tidak ada hubungannya dengan "diobati" atau tidak. (Lagipula apa obatnya selesma yang merupakan infeksi virus yang sembuh sendiri?)
Selesma yang berlangsung berminggu-minggu bisa saja tidak akan pernah menjadi pneumonia. Dan selesma yang berlangsung 1-2 hari bisa saja menjadi pneumonia.
Kesimpulannya: kenali gejala pneumonia. Kalau jelas selesma ya ditangani sebagai selesma. Kalau diagnosisnya pneumonia ya diobati sebagai pneumonia.
Badan kesehatan dunia alias WHO memang menganjurkan pemberian antibiotik pada pneumonia, meskipun tidak semua penyebab pneumonia adalah infeksi bakteri. Tetapi karena pada kondisi fasilitas kesehatan terbatas sulit membedakan pneumonia virus dengan bakteri, dan angka kematian akibat pneumonia cukup tinggi, maka pemberian antibiotik dibenarkan.
Apa saja memangnya kuman tersering penyebab pneumonia?
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pneumonia seringkali berawal dari infeksi saluran napas akut seperti selesma. Maka virusnya pun sama: rinovirus, adenovirus, dan RSV. Kita pahami bahwa infeksi virus, pneumonia sekalipun, sembuh dengan sendirinya dan tanpa antibiotik. Nah, pada kasus pneumonia berat yang merenggut banyak nyawa, antibiotik diberikan karena kemungkinan infeksi bakteri sebagai penyebab. Kuman terseringnya adalah Haemophilus influenzae tipe b (Hib) dan streptokokus pneumoniae alias pneumokokus. Obatnya tentu pemberian antibiotik. Menyadari pneumonia adalah penyakit infeksi yang menyebabkan kematian paling sering pada balita (bersama dengan diare), maka upaya pencegahan harus dilakukan. Salah satunya adalah pemberian imunisasi Hib yang alhamdulillah sudah tercakup dalam program imunisasi cuma-cuma dari pemerintah (kombinasi dengan vaksin DPT dan hepatitis B). Vaksin lainnya adalah pneumokokus konjugat (PCV) yang sayangnya masih mahal harganya (belum disubsidi pemerintah) dan serotipe kuman yang terkandung di dalam vaksin masih kadang diperdebatkan efektivitasnya.
Penyebab lain yang patut dipertimbangkan di masa ketika jumlah orangtua yang menolak anak-anaknya diimunisasi adalah pertusis. Ya pertusis alias batuk rejan kini diduga mengalami peningkatan kasus dan komplikasinya adalah pneumonia yang berujung kematian. Padahal penyakit ini bisa dicegah dengan vaksin DPT. Obat pertusis adalah antibiotik golongan makrolid.
Lalu bagaimana dengan kecurigaan batuk kronik lain akibat asma dan alergi? Apa petunjuk yang dapat mengarahkannya?

Merokok Menyebabkan Anemia!

Percaya dengan pernyataan di atas? Selama ini bahaya rokok dikaitkan dengan efek langsung dari kandungan asapnya yang terhirup masuk ke dalam saluran napas, baik oleh si perokoknya langsung, perokok pasif, second-hand atau third hand smoker. Tapi ada efek tidak langsung lain yang sering saya temui di lapangan.
Anemia, yang didefinisikan sebagai kadar hemoglobin darah di bawah 11 mg/dL, adalah kondisi yang dialami oleh banyak anal Indonesia. Jenis yang tersering dialami oleh anak Indonesia, maupun anak-anak di dunia, adalah anemia defisiensi besi. Jadi penyebab utama anemia pada anak di dunia adalah kekurangan zat besi, yang sebenarnya didapatkan dari makanan sehari-hari. Dengan kata lain, kondisi ini sangat terkait dengan asupan nutrisi.
Berdasarkan pengamatan sehari-hari, apalagi pada kelompok masyarakat menengah ke bawah, saya memperkirakan sekurang-kurangnya 50 persen anak balita yang saya temui mengalami anemia.
Kembali ke masalah nutrisi, sumber makanan kaya zat besi terutama didapatkan dari hewan, misalnya daging merah (red meat) dari sapi/kambing, dan hati ayam. Dan...umumnya harga daging lebih mahal daripada ikan dan sayuran. Sepanjang pengamatan saya, mayoritas masyarakat kurang mampu di negeri ini menomorduakan konsumsi daging. Mereka lebih mampu membeli sayur, telur, dan ikan. Tidak heran banyak anak Indonesia mengalami anemia.
"Bu, anaknya mengalami " anemia" karena kurang makan daging." Saya jelaskan pada si Ibu apa anemia itu dan hubungannya dengan daging.
"Ya elah Dokter. Boro-boro makan daging. Paling dapat jatah daging kurban setahun sekali udah alhamdulillah." tanggap si Ibu polos.
"Bu, suaminya merokok tidak?" tanyaku.
"Iya Dok. Sehari bisa sampai sebungkus." Ia menceritakan kebiasaan suaminya yang hanya seorang buruh bangunan.
"Bu, bayangkan seandainya sebulan aja uang yang bapaknya pakai buat beli rokok dipakai untuk beli daging, mungkin anak Ibu nggak anemia seperti sekarang."
Inilah fenomena yang bisa dijumpai pada cukup banyak pria berkeluarga di kalangan ekonomi menengah ke bawah. Uangnya dihamburkan untuk beli rokok, sedangkan anak-anaknya kurang gizi dan mengalami anemia.
Sedih.

Friday, April 03, 2015

Pemberian Suplemen dan Antibiotik

Dok, anak saya usianya hampir 5 tahun, tapi malas mengunyah sehingga setiap kali makan bisa sampai satu jam. Dia pun enggan minum susu. Padahal saya sudah berusaha telaten menyuapi dan rajin mengingatkan untuk minum susu. Untuk meningkatkan staminanya, saya berikan dia biofos, madu, dan sari kurma. Benarkah tindakan saya ini?
Sejak kecil anak saya juga sering batuk, Dok. Mungkinkah ini pengaruh dari asma yang saya idap? Jika batuknya agak berat, dokter selalu memberi antibiotik. Apa pemberian antibiotik suatu keharusan atau adakah cara lain? Terima kasih.
Retno, Bojonegoro

Ibu Retno, ada empat hal yang akan saya jawab. Pertama, anak Ibu sudah cukup besar, bukan bayi lagi. Coba amati mengapa ia membutuhkan waktu makan yang lama dan mengunyah lambat. Kondisi tersering adalah anak bosan makan nasi. Orangtua pun cenderung memberi label anak “susah makan” karena tidak mau makan nasi (mengingat nasi adalah makanan utama kebanyakan orang Indonesia).
Sebagian anak adalah pemilih makanan (picky eater), maka orangtua harus menyesuaikan keinginan dan selera makan anak, tanpa mengurangi kualitas nutrisinya. Tawarkan jenis makanan pengganti karbohidrat yang variatif, misalnya beras merah, kentang, gandum, jagung, dan sagu. Jangan lupa, lauk berupa protein dan lemak, serta pendamping sayur dan buah di tiap porsi makan.
Satu hal penting yang perlu kita pahami, minum susu tidaklah wajib. Maka jangan paksa anak untuk minum susu tiap hari bila ia tidak menyukainya. Susu dibutuhkan sebagai sumber kalsium, dan Ibu dapat mengganti kalsium dari sumber makanan hewani lainnya. Pemberian makanan yang bervariasi diharapkan dapat meningkatkan selera makan anak.
Kedua, penyebab batuk berulang harus ditelusuri, salah satunya dengan konsultasi ke dokter. Asma mungkin saja salah satu penyebabnya, namun orangtua yang asma tidak secara langsung menurunkannya pada anak. Apa ada orang dewasa yang merokok di sekeliling anak? Faktor ini sering terlupakan sebagai penyebab batuk anak, yaitu sebagai second-hand bahkan third-hand smoker.
Ketiga, sampai saat ini belum ada satu pun suplemen yang terbukti dapat meningkatkan daya tahan tubuh atau stamina anak. Prinsipnya, berikan makanan sesuai kebutuhan nutrisi anak, yang mencakup makronutrien (karbohidrat, protein, dan lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral). Ibu bisa membuka situs www [dot] choosemyplate [dot] gov untuk melihat contoh-contohnya.
Yakinlah, selama anak Ibu tidak mengalami penyakit yang menekan daya tahan tubuh seperti HIV, leukemia, dan kanker lain, atau minum obat-obatan steroid jangka panjang, maka daya tahan anak baik-baik saja. Sering mengalami batuk pilek tidak berarti daya tahan tubuh lemah. Anak yang sudah bersekolah jadi sering sakit karena tertular infeksi virus berulang dari kawan-kawannya. Perlu diingat, infeksi virus dapat sembuh sendiri seiring waktu.
Terakhir, antibiotik hanya diberikan untuk mengatasi infeksi bakteri. Sebagian besar penyakit infeksi pada manusia, termasuk anak-anak, disebabkan infeksi virus yang sama sekali tidak membutuhkan antibiotik. Pemberian antibiotik berulang justru dapat membunuh bakteri-bakteri baik di tubuh anak dan menjadikannya makin rentan sakit. Batuk “agak berat” belum tentu butuh antibiotik, apabila penyebabnya bukan infeksi bakteri. Ibu bisa mempelajari masalah bahaya antibiotik di situs www [dot] react-yop [dot] or [dot] id, www [dot] milissehat [dot] web [dot] id, dan blog saya, www [dot] arifianto [dot] blogspot [dot] com.

*Rubrik ini diasuh oleh dr. Arifianto, SpA atau akrab dipanggil Dokter Apin. Ia juga menulis buku "Orangtua Cermat Anak Sehat" dan Buku Pro Kontra Imunisasi

Belajar dari Orangtua Shalih

Menjadi seorang dokter anak adalah sebuah nikmat untuk saya. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari saya bertemu dengan anak-anak yang sakit dalam berbagai bentuk. Mulai dari yang paling ringan, sekedar batuk-pilek saja, sampai dengan yang berat, semacam infeksi susunan saraf pusat atau radang paru-paru berat yang membutuhkan perawatan di ruang rawat intensif. Tidak hanya ini, kondisi keseharian anak-anak ini pun bermacam-macam. Tidak sedikit yang berasal dari keluarga miskin papa, sehingga ketika menghadapi anaknya yang harus dirawat, orangtuanya harus meninggalkan pekerjaannya untuk sementara dan otomatis kehilangan sumber penghasilannya, yang sebenarnya dalam kondisi sehari-harinya pun belum tentu mencukupi untuk hidup esok hari. Kondisi ini kadang diperumit dengan anak-anak mereka yang mengalami keterlambatan perkembangan atau palsi serebral. Mereka harus disuapi, dimandikan, diawasi sepanjang waktu, kadang mengalami episode kejang berulang, yang semuanya membutuhkan banyak waktu dan perhatian. Kondisi ini berlangsung bertahun-tahun, karena anak-anak ini memanh tidak dapat berkembang layaknya anak-anak normal lainnya. Semua ini selalu membuat saya bersyukur dengan kondisi yang saya dan keluarga alami. Kami memiliki anak-anak yang sehat tidak kurang suatu apa pun.
Hal lain yang membuat saya bersyukur adalah beberapa orangtua pasien yang saya jumpai. Ya, mereka memberikan banyak pelajaran kepada saya selaku sesama orangtua. Mereka adalah para orangtua yang shalih. Ada beberapa kisah.
Beberapa tahun yang lalu saat masih menjalani pendidikan spesialisasi, saya merawat seorang anak berusia 2 tahun dengan kanker di otaknya. Awalnya gadis kecil ini secara bertahap menurun kemampuan berjalannya. Singkat cerita, tumor ganas menghuni lokasi yang dekat dengan batang otaknya, dan ia dirawat di ruang rawat intensif dengan bantuan ventilator karena tumot menekan batang otak yang merupakan pusat napas.
Ibu gadis kecil ini adalah seorang hafidzah--hafal Quran 30 juz. Ayah si gadis adalah pria shalih yang meskipun tidak berlatar pendidikan khusus agama, tetapi kadang menjadi imam shalat berjamaah di masjid dengan hafalan Quran yang cukup baik. Allah memang mengasihi hamba-hamba-Nya yang shalih dan mengujinya. Saya terkesan dengan ketabahan dan kepasrahan mereka menghadapi anak tercintanya, hingga sang gadis menemui ajalnya. Tidak ada kesedihan berlebihan atau penyesalan menghadapi ujian itu. Hanya ayat-ayat Quran yang senantiasa terlantun dari lisan sang Ayah saat menemani gadis ciliknya. Bocah ini meninggal di hari Jumat. A good day to die.
Beberapa pekan lalu, saya menjumpai lagi pasangan orangtua shalih. Curahan hati sang bunda saya ceritakan di bawah. Saya sudah mendapatkan ijin darinya. Yang membuat saya terkesan adalah kepasrahan total sang bunda ketika saya harus menceritakan hasil CT Scan putrinya. Wahai Ibu, saya belajar banyak dari Ibu dan suami. Semoga Allah memberikan kesembuhan untuk ananda dan mengangkat derajat Ibu dan keluarga. Terima kasih atas pelajaran yang sudah diberikan kepada saya, akan arti hidup yang sesungguhnya adalah penyerahan diri kepada Allah semata.
Inilah curahan hatinya...
"Sofiyyah Qurrota Aini
Dalam nama ada doa, begitu juga dengan namamu,kami berharap engkau menjadi perempuan seperti Sofiyyah binti Huyay.ummul mukminin dari kalangan yahudi yang mungil, cantik dan cerdas.lalu menjadi penyejuk mata ummi dan abah.
"Aini tau ga? Kamu itu Hadiah terindah dari Allah", itulah yang selalu kubisikkan padamu di malam-malam kau jelang berbaring.dan matamu yang indah akan berkejab kejab dengan sesungging senyum yang lebar.aku tau kamu bahagia.
Seperti namamu, engkau menjadi anak yg mungil,cantik,cerdas, ceria dan sholehah. Bukan hanya yg ummi rasakan, tapi juga dirasakanoleh teman dan guru-gurumu.harapan besar terbentang di hadapanmu. Apalagi ketika 3 bulan lalu kau meminta untuk tidak meneruskan sekolah. "Aini mau apa?",tanyaku. "Aku mau belajar tahfidz dan bahasa arab aja Mi". Jawabmu tegas.
Dan seperti di sekolah TK dan SD mu,di tempat kau mondok pun engkau jadi penyejuk mata ustadz dan ustadzahmu.
Namun itu semua hanya berlangsung sekitar 3minggu. Bermula ketika muntahmu makin menghebat dan fisikmu yang semakin melemah."ada apa dengan anakku?dokter hanya mendiagnosis dia menderita gastritis dan typhus,tp kenapa kondisinya semkin melemah? Semakin sering tidur? Penglihatan yang kabur dan gelisah setiap malam.ada apa dengan dirimu cintaku?.tapi, subhanallah, tak pernah ku dengar satu kata keluhan pun dari bibirmu.kau hanya meringkuk sambil memeluk kedua lututmu."pusing nak?",dan kau hanya mengangguk.
Atau kau pijat pijat sendiri tangan dan kakimu. "Kenapa mba?pegel ya?",dankamu hanya menjawab "iya". Ketika setiap malam kau gelisah tidak bisa tidur dan ummi berusaha nemenin,kamu cuma bilang,"ummi ga usah bangun, tidur aja". Pada umurmu yang baru 7 tahun,kau simpan sendiri penderitaan sakitmu.Subhanallah
3 minggu sudah sejak vonis itu ummi dan abah dengar. Medulla Blastoma. Nama asing yang meluluhkan lantakkan hati ummi dan abah. Mengguncang gunung harapan, mengaburkan mimpi indah dan menciptakan sungai sungai di kedua mata kami.
Sofiyyah Qurrota Aini
Perempuan mungil,cantik dan cerdas penyejuk mata kami. Engkau memang hadiah terindah dari Allah. Tiap kali ummi membopongmu,menyuapimu,memandikanmu,menyelimutimu, ummi rasakan kebahagiaan dibalik hati ummi yang menangis. Engkaulah anak pilihan Allah di antara jutaan anak lain di dunia ini.Allah pilihkan engkau untuk menjadi ladang pahala ummi dan abah.Allah pilihkan engkau untuk mengajari ummi dan abah arti kesabaran dan keikhlasan.Engkau memang bukan milik kami,engkau hanya titipan yang harus kami jaga demi kebahagiaan akhirat kami.
Ketegaranmu adalah ketegaran kami juga nak.
Perjuangan kita di dunia ini baru dimulai nak ,mari kita berjuang bersama-sama untuk meraih janji Allah terhadap orang-orang yang sabar.Surga Firdaus.
Amiin.."

Bagaimana membentuk habit agar tidak mudah memberikan antibiotik?

Saya terinspirasi untuk menulis ini selagi membaca buku How to Master Your Habits tulisan Ustadz Felix Y. Siauw. Habits alias kebiasaan, ternyata memegang peran penting dalam kehidupan kita. Bahkan habits, yg dibentuk oleh latihan (exercise) dan pengulangan (repetition), dapat mengendalikan hidup kita. Salah satunya adalah habit dalam peresepan obat oleh dokter.
Kita tahu mayoritas dokter di Indonesia masih mudah meresepkan antibiotik (AB), meskipun bisa jadi tidak ada indikasinya. Batuk pilek karena infeksi virus diberi AB. Diare tanpa darah karena infeksi virus diberikan AB. Demam lebih dari 3 hari karena infeksi virus, diresepkan AB juga. Apa kira-kira alasan dokter yg meresepkan?
"Kuman di Indonesia sebagai negara berkembang berbeda dengan kuman di negara maju. Di sini banyak infeksi bakteri, jadi harus diberi AB."
"Waduh, Indonesia beda dengan luar negeri. Sudah banyak kuman yg kebal karena pemberian AB selama ini, nanti tidak sembuh kalau tidak dikasih AB."
Dan masih banyak alasan lainnya. Begitu juga dengan pasiennya sendiri, terkadang bila tidak diresepkan AB, malah meminta. "Saya sudah berobat ke bidan, ke dokter 2 kali, tapi kok anak saya masih belum sembuh batuknya. Saya sekarang ke dokter spesialis kok sama saja, tidak dikasih AB." (Padahal dari dokter dan bidan sebelumnya malah sudah diberi AB segala rupa tapi belum sembuh juga. Ya iyalah, banyak yg batuk pilek di rumahnya jadi mudah tertular dan belum sembuh).
Seorang kawan bahkan pernah memberikan sarannya pada saya, yg kurang lebih seperti ini: "Pin, nanti kalo ente di RSUD, tidak sama dengan pasien-pasien yg kelasnya menengah ke atas. Kalo pasien dirawat dan tidak dapat AB, bisa makin lama pulihnya."
Well, let's see. I have my own "habit". Not just a habit, of course. But how to make a diagnosis and treat patient, based on years of training, facing patients, and SHOULD BE based on Evidence-based guidelines, of course.
Habit yg dibentuk atas kepercayaan terhadap guidelines, EBM, dan jam terbang pemantauan pasien dengan terapi yg sudah diberikan tentunya berbeda dengan habit mudahnya memberi AB karena ke-tidak-pede-an bila tidak meresepkannya.
Contoh lain adalah diagnosis menentukan perlu tidaknya cek laboratorium. Tentunya tidak semua demam lebih dari 3 hari harus dicek lab, bukan? Karena tidak semua demam lebih dari 3 hari dicurigai DBD.
Saya tipe orang yg mudah percaya dengan teori yg diberikan. Bukankah dokter harus percaya dengan teori yg didapatkannya saat belajar? Bukankah guideline dan EBM disusun berdasarkan banyak penelitian dan dapat dikritisi setting penelitiannya, untuk dapat dicocokkan dengan ke-mampu-laksana-annya di tempat praktik kita? Selama bertahun-tahun saya mencoba "mempercayai" guidelines dan melaksanakannya. Kalau tidak butuh AB ya jangan diberikan. Ini habit yg coba dibentuk.
Saya lalu coba menerapkannya di setting tempat dg banyak pasien low-socioeconomic class seperti di RSUD. Hey, ternyata sama saja. Mau pasiennya kaya atau miskin, kumannya sepertinya sama saja. Jadi semua back to guidelines. Habit yg dibentuk sesuai guidelines akan melahirkan outcome sesuai yg diperkirakan. Pasien tidak lebih lama juga length of stay di RS. Sembuhnya sama juga. Well, meskipun harus diakui, ada sebagian kecil kasus yg di luar dugaan. Nggak nyangka kalo ini DBD, padahal awalnya batuk pilek. Atau ternyata infeksi bakteri yg butuh AB, padahal awalnya yakin banget infeksi virus. Kasus-kasus "kecolongan" seperti ini tentunya jarang. Berlaku hukum percaya dulu dengan yg mayoritas, baru ke yg minoritas.
Sebaliknya, habit yg dibentuk untuk mudah meresepkan AB untuk kasus-kasus yg sebenarnya infeksi virus akan melahirkan outcome "pasien susah sembuh bila tidak dapat AB". Patokan ini berlaku juga untuk pasien ya: jangan minta AB kalo tidak terindikasi. Makanya, belajar dulu mengenai AB.
Mohon maaf bila tidak berkenan. Mohon koreksi

Tulisan yang tak saya masukkan ke dalam buku Pro Kontra Imunisasi

Pada bulan Januari 1925, wabah difteri merebak di Alaska. Beberapa anak suku Inuit di Nome, Alaska terdiagnosis difteri, penyakit mematikan yang masih cukup banyak menjangkiti warga di berbagai belahan dunia. Satu-satunya upaya mengatasi difteri adalah menyuntikkan anti-toksin kepada seluruh penderitanya. Tanpa obat ini, difteri akan makin menyebar luas dan menginfeksi lebih banyak orang, membahayakan seluruh penduduk Nome. Telegraf permohonan bantuan dikirimkan ke berbagai kota di sekitar yang mungkin menyediakan anti-toksin, tetapi hanya satu RS di Anchorage, berjarak 1.000 mil dari Nome, yang menyediakan obat ini. Kendala terbesar adalah transportasi. Kereta api hanya mampu membawa obat-obatan sampai kota Nenana. Perjalanan udara yang seharusnya menjadi andalan selanjutnya harus terhenti di hanggar pesawat, akibat cuaca ganas di musim dingin. Jalan keluarpenyaluran anti-toksin dari Nenana ke Nome (sejauh 674 mil) harus segera ditemukan.
Tersebutlah nama Balto, seekor anjing Siberian husky yang namanya dikenal saat ini sebagai sosok yang berhasil membawa anti-toksin difteri hingga ke Nome. Ya, akhirnya diputuskan upaya tercepat dan paling memungkinkan membawa anti-toksin menggunakan pasukan anjing (dog sled team). Lebih dari 20 orang pengendali anjing dan pasukan anjing-anjingnya terlibat dalam perjalanan heroik ini. Membawa paket anti-toksin difteri, mereka melawan dinginnyadatarankutub utarayang dapat mencapai minus 40 derajat fahrenheit, ditambah dengan kuatnya hembusan angin dingin yang dengan mudahnya melumpuhkan pasukan anjing dan pengendalinya.
Pada tanggal 1 Februari 1925, paket berisi anti-toksin diserahkan untuk yang terakhir kalinya kepada Gunnar Kassen di desa Bluff. Pasukan anjing Kassen dipimpin oleh anjing bernama Balto, yang harus berhasil mencapai Nome dan menyerahkan paket dalam keadaan baik. Di dalam perjalananmenuju titik akhir, pasukan Balto menghadapi suhu ekstrem minus 50 derajat dan harus melawan angin berkecepatan 50 mph. Kassen tak mampu menentukan arah perjalanan. Dalam kondisi kritis, Balto mampu menentukan arah perjalanan dengan tepat mengikuti nalurinya. Setelah melalui perjalanan melelahkan selama 20 jam, Balto berhasil mencapai tujuanpada tanggal 2 Februari. Anti-toksin difteri mencapai tujuan dengan selamat setelah 7 hari meninggalkan Anchorage dan 127,5 jam pasca keberangkatan dari Nenana.
Kisah heroik Balto menunjukkan upaya penyelamatan nyawa manusia menggunakan vaksin dan anti-toksin sebagai salah satu keberhasilan besar manusia di bidang kemanusiaan. Berbagai upaya telah dikerahkan oleh banyak orang di berbagai negara, termasuk Indonesia, selama puluhan tahun, untuk mendukung keberhasilan program imunisasi. Karena mereka semua memahami: imunisasi terbukti menyelamatkan nyawa.
Simak kisah Ewan McGregor melintasi berbagai belahan dunia untuk mengantarkan vaksin polio, bagaimana polio akhirnya dapat dimusnahkan dari bumi Indonesia, dan pengakuan seorang muslim Nigeria yang menyesal telah menolak imunisasi hanya di Buku Pro Kontra Imunisasi
Arifianto, Juli 2014

Korban Serangan Iklan

Orang Indonesia tidak bisa lepas dari kudapan. Bahkan, kita orang dewasa, menggemari jajanan, apa pun jenisnya. Hidup tanpa jajan, rasanya seperti misi yang mustahil. Kita kerap menilai jajanan kemasan pabrikan lebih aman dan sehat. Padahal, menurut dokter spesialis anak, dr. Arifianto SpA, tidak demikian. Kalaupun jenis makanan itu aman, menggunakan gula, garam, pewarna, dan pengawet sesuai dengan batas yang ditentukan, makanan itu bisa disebut ‘safe’, tapi belum tentu ‘healthy’.
Untuk itu, kita perlu menelisik lebih jauh, apa sebetulnya yang disebut jajanan sehat. Para praktisi kedokteran merujuk pola makan yang baik menurut food plate (di situs choosemyplate dot gov), yaitu makanan yang seimbang karbohidrat kompleks, protein, sayuran, dan buah.
Buat anak-anak, ada meal time dan snack time. “Snack time sehat itu berupa jajanan rendah kalori dan tinggi serat. Ujung-ujungnya banyak sayur dan buah juga. Memang itu diet yang benar,” jelas dr. Arifianto, yang mengatakan, gemuk dan kurusnya anak belum tentu karena faktor makanan, bisa juga karena faktor genetis.
Mengenai berapa banyak dan berapa kali sehari anak mengonsumsi snack, dr. Arifianto berpendapat, “Prinsipnya, tiga kali makan, dua kali camilan. Tapi, namanya anak, dia makan kalau dia lapar. They eat what they see. Bisa jadi makan snack-nya cuma sekali karena keasyikan main. Selama kurva berat/tinggi badannya mengikuti kurva standar WHO, dia tumbuh normal.”
Hal yang patut diwaspadai juga, menurut dr. Arifianto, adalah keberadaan iklan makanan yang berkali-kali muncul di layar televisi. Jingle-nya yang catchy langsung ‘kena’ di kepala anak. “Selain kebijakan pengawasan makanan, mungkin perlu ada kebijakan penayangan iklan yang berkaitan dengan makanan. Jangan cuma iklan rokok yang diatur. Ada iklan seperti jelly, sosis, dan snack-snack kemasan yang ditayangkan ke anak-anak. Banyak dari makanan itu tinggi gula, pengawet, dan garam,” cetus dr. Arifianto.
Ditambahkannya, jika mengonsumsi makanan itu, sebaiknya sesekali saja. Tapi, praktiknya untuk anak-anak memang susah. Apalagi di mana-mana lihat iklan. Tak heran jika saat ini angka obesitas dan penyakit degeneratif terus meningkat. “Dengan menerapkan pola makan dan jajan sehat pada anak, diharapkan di masa mendatang penderita penyakit degeneratif menurun.”
Sekarang, tantangannya bisakah kita, orang tua, mengubah paradigma dan gaya makannya? Sebab, harus diakui, orang tua juga bisa disebut sebagai korban dari serangan asing yang masuk lewat media, yang membuat kebanyakan pola makan dan kudapan kita jauh dari sehat. Sulit untuk mengubah begitu saja.
Untuk menerapkan pola makan sehat di keluarga, tentu harus dimulai dari kita. Para orang tua haruslah menjadi role model bagi anaknya. “Kalau anak makanannya diatur, disuruh-suruh, tetapi orang tuanya makan mi instan, fast food, dan gorengan, percuma saja. Jika orang tuanya bagus pola makannya, anak tidak akan terpengaruh dengan beragam jajanan tidak sehat yang dijajakan di luar,” ujar dr. Arifianto.
Langkah awal untuk memulai hidup sehat adalah dengan memahami, seperti apa gaya hidup sehat itu. Selain mengenali jenis makanan sehat, kebersihan juga harus menjadi bagian dari gaya hidup. “Jika sulit menemukan jenis jajanan sehat, tidak ada cara lain kecuali membawa bekal sendiri dari rumah,” ujar dr. Arifianto.
Tulisan ini adalah sub artikel dari Majalah Femina edisi 8 Februari 2014 dengan topik "Jajanan Sekolah Sehat", hasil wawancara Ficky Yusrini dengan saya.

Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?

 (tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...