Wednesday, April 13, 2005

Catatan Perjalanan Nias: 30 Maret -7 April 2005

Kembali terjadi bencana alam di negeri ini. Senin malam 28 Maret lalu, gempa tektonik berkekuatan 8,4-8,6 SR mengguncang Kepulauan Nias di Sumatra Utara dan Pulau Simeuleu di NAD. Aku mengetahui berita ini Selasa paginya di televisi selepas jogging, sesuatu yang amat jarang kulakukan. Segera browsing di situs earthquake.usgs.gov setelah membaca detik dot com, dan memang getaran ini terdeteksi hingga di Amrik sono. Dalam hati sempat terlintas, sepertinya sebentar lagi akan ada yang meminta aku segera pergi ke lokasi bencana. Ya, tiga bulan sebelumnya aku sempat diminta pergi ke NAD tiga hari setelah tsunami. Dan… aku melewati lebih kurang 10 hari melintasi Lhokseumawe-Banda Aceh sebagai tim kesehatan sebuah LSM. Kini, tiga bulan berselang, bencana kembali terjadi, firasat aku akan segera menuju lokasi bencana menguat.

Benar juga. Sekitar pukul 10.00 aku menerima SMS dari LKC, tempat aku bekerja sebagai dokter praktik, menanyakan apakah aku bersedia pergi sebagai relawan medis ke lokasi bencana di Nias. Koordinator Layanan Luar Gedung lembaga ini juga menanyakan apakah aku bisa mencari seorang kawan dokter lagi yang bisa diajak ikut serta.

Keesokan harinya, pergilah aku dan dr. Anjas Asmara, sejawat sejak melewati masa-masa studi di FKUI selama 6 tahun ke Medan, Sumatra Utara, untuk kemudian menuju Pulau Nias. Setelah malamnya aku masih sempat dinas di LKC. Inginnya bisa istirahat agar paginya memiliki cukup energi untuk melakukan perjalanan. Tapi seorang pasien dengan muntah darah cukup menghabiskan waktu, sehingga tidak sempat beristirahat banyak.

Rabu pagi 30 Maret, aku, Anjas, dan Adi seorang perawat LKC, menuju bandara Soekarno-Hatta, untuk lepas landas ke Medan. Sebelumnya, minum klorokuin dua tablet dulu, karena Nias endemi malaria. Sesampainya di Bandara Polonia pukul 09.00, menunggu sebentar jemputan dari kawan-kawan ACT—Aksi Cepat Tanggap—DD Republika, yang mengirim kami bertiga ke tempat ini. Sebenarnya LKC hanyalah lembaga yang menyalurkan tenaga kesehatan saja, sedangkan ACT-lah yang memiliki core competence untuk disaster management. Jadi kami bergerak selaku ACT-Medis. Sebuah mobil kijang ACT dengan plat B menjemput kami hampir sejam sesudahnya. Ikun dan Pak Hendra, dua orang anggota ACT yang sudah berangkat dari Jakarta sehari sebelumnya, menjemput kami. Kami bertiga sudah bertemu saat penanganan bencana di Aceh sejak berangkat dari Jakarta. Pengemudi mobil ini adalah sopir handal dari Medan, Bapak Yono, yang setia menemani kami sejak dari Aceh. Dua orang penumpang lainnya adalah relawan ACT Medan yang bertugas di Sigli dalam program WAKALA (Wanita Kepala Keluarga), ialah Lita, seorang akhwat lulusan Sastra Arab USU. Dia ditemani adiknya Yeni yang masih kuliah di Akuntansi Univ. Muhammadiyah Medan. Dua orang akhwat Padang ini kebetulan lahir dan besar di Nias. Kedua orangtua mereka pun berada di sini. Sejak kejadian bencana dua malam sebelumnya, mereka belum berhasil mengontak sang ayah-ibu. Tapi mereka optimis kedua orangtuanya di Kota Gunung Sitoli selamat dari bencana. Tujuan kami membawa mereka juga untuk mengatasi kendala bahasa dan lokasi nantinya.

Image hosted by Photobucket.com

Pukul 10.00 segera kami melaju ke arah Sibolga dengan kecepatan tinggi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan laut menuju Pulau Nias. Aku benar-benar menikmati perjalanan darat ini. Inilah untuk pertama kalinya aku melintasi daratan Sumatra Utara. Mulai dari ibukota Medan, terus ke arah Selatan, melewati Danau Toba yang subhanalloh indahnya, lika-liku Tarutung menuju Sibolga yang medannya lumayan berat. Kami harus melewati jalan sempit dengan tikungan terjal diapit jurang dan pegunungan selama hampir dua jam. Sampai salah seorang dari anggota rombongan harus mengeluarkan isi lambungnya (not me, of course). Di daerah Tapanuli dan Batak Karo kami melihat banyak kuburan-kuburan Kristen yang besar-besar di kiri-kanan jalan, gereja-gereja yang dapat ditemui pada hampir setiap kilometernya, dan melewati satu upacara tradisional kematian penduduk Batak Kristen di salah satu tepi jalan, yang tentunya tidak dapat kita temui di kota seperti Jakarta. Sangat menarik. Sampai akhirnya kami tiba agak terlambat dari waktu yang direncanakan sebelumnya, sekitar pukul 19.30 di Sibolga. Kami berencana mengejar keberangkatan kapal laut jam 20.00 dari Pelabuhan Sibolga menuju Pulau Nias, dengan membawa satu mobil kijang yang kami harapkan bisa diangkut dengan kapal feri. Namun ternyata Alloh berkehendak lain. Tidak ada kapal feri yang berlabuh malam itu. Karena situasi bencana yang cukup dahsyat, transportasi laut ke Pulau Nias juga mengalami masalah. Setelah sedikit berembuk, kami putuskan untuk menaiki kapal penumpang saja, yang tidak bisa mengangkut mobil. Terpaksa Pak Yono dan mobilnya harus ditinggal di Sibolga dan kembali ke kantor ACT Medan. Kami mendapatkan tiket keberangkatan kapal kayu—istilah kapal penumpang yang menuju Nias, dan memang benar-benar terbuat dari kayu—yang dijadwalkan berangkat pukul 01.00 dini hari. Tapi katanya kapal akan berangkat jam 23.00, sehingga waktu menunggunya semakin singkat. Adanya sisa waktu ini kami manfaatkan untuk bebelanja kebutuhan pribadi, karena berdasarkan informasi yang kami dapatkan, sulit sekali mendapatkan beras dan bahan bakar di Nias.

Kapal laut ternyata mengalami keterlambatan keberangkatan. Aku sempat khawatir kapal ini tidak jadi berangkat, karena hingga pukul 01.00 masih belum berlayar juga. Sampai-sampai satu rombongan penumpang beretnis Cina meninggalkan kapal ini untuk mencari kapal lain yang katanya pergi lebih dulu. Informasi apakah kapal ini akan berangkat atau tidak benar-benar tidak jelas. Rombongan kami sendiri awalnya tidak mendapatkan ‘kursi’ di kapal ini, meskipun telah membayar karcis normal. Jadi penumpang yang menaiki kapal ini tampaknya memang sedikit melebihi muatan. Dengan adanya sekelompok orang yang pindah dari kapal ini, tanpa pikir panjang kami segera menempati jatah mereka untuk bisa berbaring.

Tiba-tiba sekitar pukul 03.00 kapal kayu ini berangkat. Inilah pengalaman pertamaku naik kapal kayu. Kendaraan ini adalah kapal yang sepenuhnya terbuat dari kayu, tapi cukup besar. Memuat penumpang sekitar 200-an orang. Ruangan terdiri atas ruang atas dan bawah, berupa bilik-bilik tidur berukuran kira-kira satu meter kali 175 cm yang dibatasi dengan nomor di kiri-kanan sisi kapal. Jadi untuk duduk tegak saja sulit di bilik-bilik ini, yang memang khusus dirancang untuk tidur saja, dengan risiko menyenggol penumpang lainnya di sebelah kita. Normalnya kapal memang berlayar malam hari, dan sampai di Pelabuhan Gunung Sitoli, Nias keesokan paginya. Jadi apalagi yang bisa dilewati si kapal penumpang seperti ini selain tidur saja? Di tengah lautan Samudera Hindia ini, goncangan ombak juga sangat terasa. Jadi posisi berbaring jauh lebih nyaman dibandingkan duduk, apalagi berdiri. Khususnya sangat terasa bagi mereka yang mabuk laut. Yah, sesekali terdengar suara orang muntah di satu sisi kapal. Benar-benar perjalanan pertama yang mengesankan.

Bersama kami di kapal ini ada serombongan Polisi BRIMOB berpangkat paling rendah, sekitar 20 orang. Tampaknya mereka diperbantukan dalam bencana di Pulau Nias. Terkadang lantunan lagu-lagu Peterpan dan Doddy Dores terdengar keras dari speaker dan TV karaoke dalam kapal. Hiburan yang tidak begitu menyenangkan. Dan yang paling membuatku muak dan mual adalah: asap rokok yang dihembuskan di mana-mana. Baik oleh penumpang pria maupun polisi-polisi prajurit itu. Hanya bisa bersabar dan beristighfar saja. Kapal ini juga memuat banyak karung beras di dek bawah. Apakah beras-beras ini memang ditujukan sebagai bantuan untuk bencana di sini, atau memang sengaja akan ditimbun dulu, wallahu a’lam.

***

Setelah melewati perjalanan tanpa banyak hal yang bisa dibincangkan, sampailah kami di Pulau Nias pukul 12.00. Tetapi kapal tidak bisa segera merapat. Hujan pun turun cukup deras. Dari kejauhan, kami melihat pinggiran pantai pelabuhan Gunung Sitoli yang subhanalloh indahnya. Dasarnya masih tampak biru, meskipun ada sedikit sampah yang mengambang. Sama sekali tidak bisa dibandingkan pelabuhan Tanjung Priok saat aku pernah mengunjungi Kepulauan Seribu. Sampai akhirnya pukul 13.00 kami merapat, dan ditimpa derasnya hujan, kami menurunkan muatan kami yang agak banyak, baik bekal pribadi maupun obat-obatan yang dibawa dari LKC Ciputat, dengan harus memasuki kapal kayu lain yang merapat di sebelahnya. Di pelabuhan cukup banyak tentara yang terlihat. Mereka berasal dari BRIMOB, ZENI, dan AL. Setelah mendapatkan ojek ‘kereta’, sebutan untuk sepeda motor di sini, untuk mengangkut kami, dan becak kayuh untuk mengangut barang-barang bawaan, kami menuju lokasi rumah Lita, sekitar pukul 13.30.

Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Gunung Sitoli, kehancuran tampak di mana-mana. Sebuah masjid dengan kubah hijau yang besar ambruk ke tanah. Pendopo di kanan jalan hanya tampak atap besanya saja. Sebuah bangunan pertokoan hampir rata dengan tanah, padahal katanya sebelumnya itu adalah bangunan delapan lantai. Masya Alloh, aku tidak bisa membayangkan jika bencana seperti ini menimpa pusat kota Jakarta. Na’uudzu billaahi min dzaalika. Melewati sebuah jembatan besar di Jl. Sudirman, kehancuran besar-besaran tampak lebih nyata. Hanya satu traktor sebagai alat berat yang bekerja mengangkat puing-puing. Upaya pencarian korban baik hidup maupun mati akan sangat sulit dan lama di tengah-tengah kehancuran seperti ini. Bangunan-banguan besar dan banyak, kekurangan alat berat, mempersulit evakuasi korban. Bau mayat masih belum begitu menyengat untuk ukuranku yang pernah terbiasa satu bulan lamanya di Bagian Forensik RSCM. Namun penduduk yang melintas sebagian mengenakan masker. Relawan-relawan dari berbagai LSM lokal maupun asing banyak terlihat. Tidak kalah banyaknya tentara yang memanggul AK-47. Mengevakuasi korban menggunakan AK-47? Oh, ternyata, kabarnya SBY datang ke Nias siang itu.

Image hosted by Photobucket.com

Kira-kira sejak kemudian sampailah kami di rumah orangtua Lita dan Yeni, setelah sebelumnya sempat singgah di kedai milik abang mereka, Bang Mendra. Ternyata kedua orangtua Lita sudah tidak berada di rumah, yang untungnya selamat dari bencana. Ayah-Ibu Lita ternyata baru saja meninggalkan pulau menuju Medan, untuk bertemu dengan kedua putrinya. Ya, tanpa kami sadari, sebenarnya kami berpapasan di pelabuhan.

Rumah yang dihuni orangtua Lita dan Yeni adalah sebuah rumah petak dengan satu ruang tamu, satu kamar tidur, dan kamar mandi sekaligus tempat mencuci. Rumah kontrakan ini berukuran kira-kira delapan kali 2,5 meter persegi, berada satu deret dengan sekitar total 10 rumah kontrakan berukuran sama lainnya. Semua rumah ini kosong ditinggalkan penghuninya yang mengungsi. Hanya rumah-rumah di seberang jalan yang masih dihuni. Lokasi perumahan ini tepat berbatasan dengan pantai, kira-kira hanya 10 meter dari laut. Jadi, kami sempat membayangkan jika tsunami menerjang, segera tersapulah kami! Tepat sekitar lima meter di hadapan perumahan ini, terdapat sebuah gedung sekolah swasta yang separuhnya sudah ambruk, dan tanah di depannya jelas tampak terbelah.

Image hosted by Photobucket.com

Sore harinya kami menjamak sholat dzuhur dan ashar. Untuk berwudhu, kami harus menggunakan kamar mandi milik tetangga yang memiliki sumur. Karena rumah yang kami tempati ini menggunakan air PAM, sedangkan instalasi air dan listrik tidak berfungsi sama sekali. Untuk mandi, kami bisa menimba air terlebih dahulu di sebuah sumur milik penduduk yang sebagian dinding ruangannya sudah roboh, namun untungnya sumur tidak tertimbun. Dalam keadaan seperti ini, penduduk desa saling membantu satu sama lain. Siapa saja boleh mengambil air dari sumur ini. Kami bisa mandi menggunakan air sumur, setelah menimba dan membawa air dengan ember, berjalan kaki sekitar 20 meter. Suara helikopter Chinook milik Singapura dan helikopter lain milik PBB tidak henti-hentinya mengusik keheningan.

Malamnya kami semua—laki-laki—beristirahat di lantai ruang tamu, dengan sedikit kekhawatiran jika terjadi gempa besar susulan. Alhamdulillah kami bisa menikmati nasi yang beras dan minyak tanahnya, serta sedikit lauk-pauk, telah kami bawa sejak dari Sibolga. Malam tanpa listrik sama sekali. Langit begitu indah dengan taburan bintangnya yang tampak jelas. Sesuatu yang tidak dapat ditemui di Jakarta. Mudah-mudahan tidak ada nyamuk malaria yang menggigit kami.

***

Jum’at, 1 April 2005

Alhamdulillah, semalam kami semua bisa beristirahat dengan baik. Walaupun sempat satu kali kami merasakan gempa ringan, mungkin sekitar 3-4 SR. Sholat subuh kami pun agak terlambat. Paginya kami kembali bisa menikmati sarapan, yang dimasak oleh kakak-beradik Lita-Yeni. Banyak kisah beredar. Lita menceritakan satu keluarga orang Padang yang seluruhnya meninggal terhimpit bangunan rumahnya. Anak yang selamat karena ia sedang kuliah di UISU. Pak Hendra yang kembali dari berjalan-jalan maghrib sebelumnya mengabarkan satu keluarga yang ditemuinya di tenda pengungsi daerah alun-alun dekat pendopo. Ia menemui seorang ibu dengan bayinya yang berumur 10 hari, dengan total enam anaknya, belum mendapatkan makanan. Padahal ini adalah pusat kota, dengan banyak LSM berkumpul. Apa saja yang telah mereka lakukan? Mungkinkah demikian sulitnya bantuan makanan sampai ke kota ini? Bagaimana dengan berton-ton beras yang kami lihat di kapal kayu? Ditimbun saja?

Bang Mendra datang dengan membawa cerita yang tidak kalah serunya. Kota ini memang sedang mengalami krisis bahan pangan. Gudang beras dijaga tentara bersenjata lengkap, karena khawatir akan dijarah warga. Warga kota tidak membutuhkan pakaian, mereka butuh makanan! Di tengah-tengah masyarakat juga telah tersiar berita, bahwa menurut BMG Jepang, bentuk Pulau Nias ini mirip jamur jika dilihat dari dasar laut. Ditopang oleh ‘tiang’. Jika terjadi satu kali lagi gempa berkekuatan besar seperti sebelumnya, dikhawatirkan ‘tiang’ ini akan patah, dan Nias terperosok ke dalam lautan, tenggelam! Kini posisi Pulau Nias sudah miring. Jadi satu ujungnya semakin tenggelam ke dalam lautan, sedangkan satu ujung lainnya mendangkal. Sehingga kapal-kapal tidak bisa mendekat ke pesisir pantai, karena akan menabrak bebatuan karang pantai yang relatif meninggi. Kabar seperti inilah yang membuat banyak warga memutuskan untuk meninggalkan Nias.

Hujan rintik-rintik terus membasahi. Kami membahas bagaimana cara ideal mendistribusikan beras di sini. Kami memutuskan untuk bergerak aktif ke kantong-kantong penduduk muslim yang bisa dijangkau melalui jalan darat dari daerah ini. Kami memang belum membawa bantuan pangan, karena masih tertahan di Sibolga, menunggu transportasi yang mampu membawa bantuan berton-ton beratnya. Setidaknya kami saat ini membawa obat-obatan, sehingga minimal kami bisa melakukan pengobatan di desa-desa yang membutuhkan. Pukul 10.00 kami berangkat dengan menggunakan mobil carteran L-300 dari penduduk setempat.

Ternyata ACT telah mendapatkan lokasi sebagai posko tetap, yakni di Jl. Patimura, tidak jauh dari kantor DPD PKS. Beberapa terpal yang kami bawa sejak perjalanan Medan-Sibolga disusun menjadi sebuah tenda. Kami berhenti sebentar di Posko untuk mendapatkan relawan lokal yang bersedia menjadi pemandu perjalanan. Sempat pula kami mengambil gambar sesosok mayat yang tertindih separuh tubuhnya di pinggir jalan tidak jauh dari posko. Diiring rintik hujan, kami menuju ke lokasi pertama, di Desa Foa, sekitar 10 km dari Gn. Sitoli. Membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mencapai tempat ini. Di tengah-tengah perjalanan, kami melewati sebuah lokasi wisata indah, yakni Pantai Lao Maru. Tepat di salah satu sudut pesisir pantai, di tebing yang cukup curam, sebagian jalan menjadi sangat sempit, karena sebagiannya runtuh akibat gempa. Lintasan ini hanya bisa dilewati satu mobil saja. Cukup riskan. Bila tidak hati-hati, akan jatuh ke kedalaman yang cukup tinggi. Pemandangan di daerah ini luar biasa indahnya. Namun kini keadaannya sangat sepi. Entah dengan sebelum gempa.

Sepanjang perjalanan menuju Foa ini, terlihat jelas kerusakan banguan yang merata. Tempat-tempat ibadah, baik masjid maupun gereja, tidak luput dari kehancuran. Sekitar pukul 11, kami tiba di lokasi pertama, yakni Desa Tete Hesi, Kecamatan Gido. Lokasi ini bisa dikatakan terbagi dua, yakni penduduk yang mayoritas Kristen, dan mayoritas Islam. Tokoh masyarakat muslim yang kami temui menekankan agar kami melakukan pengobatan di kedua daerah, agar tidak terjadi kecemburuan masyarakatnya. Maka sekitar pukul 11.15, kami melakukan pengobatan pertama di desa berpenduduk mayoritas Nasrani. Kendala utama dalam melakukan pengobatan tentunya adalah bahasa. Peran penerjemah lokal, seperti Lita dan relawan pria lokal yang kami bawa, menjadi sangat penting. Anjas melakukan satu tindakan wound toilet di sini. Sebagian besar penduduk mengeluh jantungnya selalu berdebar-debar sejak kejadian gempa. Tepat satu jam, kami segera pamitan, karena mengejar waktu sholat Jum’at. Kami bergegas menuju masjid di perkampungan pesantren Hidayatullah, Desa Siwalabanua. Untuk mencapai tempat wudhu saja, di sebuah mata air kecil, kami harus menuruni dataran curam yang cukup licin, dengan kemiringan sekitar 45 derajat, 10 meter ke bawah, untuk kemudian bergegas naik lagi. Di dalam ‘masjid’ yang sangat sederhana, sholat Jum’at sudah dimulai. Aku tidak sempat mengikuti khutbah Jum’at. Jumlah jama’ahnya sekitar 20 orang saja. Selepas Jum’atan, kami menggelar pengobatan di depan ruang kelas berukuran delapan kali enam meter persegi yang berperan sebagai masjid. Lagi-lagi Anjas cukup ‘beruntung’ mendapatkan tindakan jahit-menjahit, bahkan sampai dua pasien. Salah satunya luka robek di kepala, dengan dasar luka jaringan lunak. Anjas sudah khawatir saja, tengkorak orang ini tidak menyatu sempurna. Segera saja ia menjahitnya, dibantu Adi. Sekitar dua jam kami melakukan pengobatan di tempat ini. Masyarakatnya lebih baik dalam berbahasa Indonesia. Selepasnya, pimpinan pesantren menjamu kami dengan nasi, mie, tempe, dan air putih hangat. Aku sangat terkesan dengan para asatidz di sini, khas Hidayatullah. Mereka bisa merintis sebuah pusat Islam di daerah yang mayoritas non muslim. Pimpinannya adalah seorang pria Jawa yang sebelumnya lama tinggal di Bengkulu, dan baru dua tahun ditugaskan di pesantren ini. Pesantren ini sendiri baru dirintis dan berdiri tahun 1998. Subhanalloh, perjuangan para da’I Hidayatullah.

Image hosted by Photobucket.com

Pukul 15.30 sampai 17.30 kami meneruskan pengobatan di Desa Umene Satua. Rasanya pasien di sini tidak habis-habisnya. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa sebagian obat esensial telah habis terpakai. Kami sempat mengunjungi satu masjid lagi, tapi tidak bisa memberikan kontribusi apa-apa, karena persediaan obat sudah tidak memadai lagi. Kami hanya bisa menjanjikan kepada penduduk setempat, bahwa kami akan kembali. Kesimpulan yang kami dapatkan di sini, sebagian besar pasien mengeluhkan sakit ‘jantung’, maksudnya mereka selalu berdebar-debar sejak kejadian gempa. Hal ini aku interpretasikan sebagai semacam stres pasca trauma. Kasus hipertensi juga cukup banyak di sini. Sepertinya hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan kaum pria yang mayoritas perokok berat, dan mengkonsumsi makanan tinggi garam. Ketika aku minta agar mereka mengurangi konsumsi garam, ternyata sulit juga, karena makanan yang tersedia sebagian besar adalah ikan asin sebagai lauk. Penyakit-penyakit tertentu yang membutuhkan terapi jangka panjang di Puskesmas pun, tidak dapat ditindaklanjuti dengan baik, karena Puskesmas yang juga ditinggalkan petugasnya. Menjelang maghrib kami kembali ke Posko di kota.

Hari ini juga kami bertemu dengan kawan-kawan Kepanduan PKS DPW Sumut dan Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI) Sumut, bersama seorang relawan dari Portal Infaq yang sempat kami temui dalam perjalanan pesawat Jakarta-Medan. Seharusnya rombongan ini telah berangkat sejak hari Rabu menggunakan helikopter. Namun Alloh bekehendak lain. Mereka justru menempuh perjalanan laut menggunakan kapal ikan yang berkapasitas kecil, mengangkut sekitar belasan orang, dan mampu membawa muatan total sampai 10 ton. Lama perjalanan mereka 12 jam, diterpa hempasan ombak yang keras terasa, dan dilewati dengan kepasrahan total kepada Alloh saja. Khususnya bagi mereka yang tidak biasa menempuh perjalanan laut, dan tidak bisa berenang! Mereka membawa satu buah gen-set. Sehingga malam itu, kantor DPD PKS Kabupaten Nias di Gunung Sitoli adalah satu dari sedikit bangunan yang bersinar terang oleh cahaya lampu.

Sampai hari ini, transportasi menuju pulau masih demikian sulitnya, sampai-sampai bantuan yang disalurkan swadaya masyarakat seperti PKS menggunakan kapal yang disewa sendiri selama satu bulan, dengan segala keterbatasannya. Pemerintah tampaknya tidak berpikir untuk memudahkan transportasi penyakuran bantuan ke Nias. Justru transportasi udara banyak datang dari asing.

Malam itu kami tidur beratapkan terpal dan beralaskan tikar di posko. Mudah-mudahan kondisi badanku senantiasa terjaga sampai akhir tugas kami di sini.

***

Sabtu, 2 April 2005

Kisah Lita
Persediaan obat menipis, bantuan sembako masih tertahan di Sibolga, entah kapan bisa mencapai Pulau ini. Kabarnya beras beberapa ton, minyak goreng, dan beberapa kebutuhan pokok lain sudah dimasukkan ke dalam truk, tinggal dibawa oleh kapal feri menuju Nias. Tapi sampai hari ini masih belum bisa berangkat juga. Sehingga praktis tidak ada kegiatan yang bisa kami lakukan hari ini. Dengan semangat juang, Lita berangkat seorang diri menuju Medan untuk menemui kedua orangtuanya yang seharusnya sudah berada di sini, sekaligus membeli obat-obatan yang sudah habis. Mantan caleg PKS yang mewakili Pulau Nias untuk daerah pemilihan Sumut ini adalah akhwat tangguh bertenaga ikhwan. Berbekal sebuah ransel 60 liter, satu tas jinjing, dan rompi ACT, anak kelima dari tujuh bersaudara ini diantar abangnya, Bang Mendra, menuju bandara. Sebagai seorang relawan, Lita berpikir selayaknya ia bisa mendapatkan transportasi gratis keluar pulau untuk mendapatkan bantuan. Namun hari itu ia tidak berhasil mendapatkan penerbangan bebas biaya. Lita harus membayar 500 ribu rupiah untuk sebuah tiket pesawat Merpati, yang ternyata diganti dengan pesawat Angkatan berkapasitas 10 orang. Tampaknya ada deal-deal bisnis antara perusahaan penerbangan Merpati dengan Angkatan Darat.

Sesampainya di Medan sekitar pukul 14.00, dengan keluwesannya bergaul, Lita mendapatkan kenalan baru di Polonia, yang menjanjikannya pesawat gratis kembali ke Medan sore itu. Tapi karena belanjaan yang cukup banyak, khususnya obat-obatan, ia baru menyelsaikan berbelanja pukul 18.00. Bawaan yang sangat banyak ini dibawanya dengan becak motor menuju rumahnya. Sempat juga Lita bertemu dengan kawan-kawan KKI Medan. Malam harinya Lita berhasil bertemu dengan kedua orangtuanya, yang ternyata baru tiba dari Sibolga. Alhamdulillah mereka selamat. Hanya saja sang Bunda kurang sehat, karena harus tidur di luar rumah bersama pengungsi lain malam-malam sebelumnya. Kisah Lita selanjutnya diteruskan esok hari.

Aku, Adi, Anjas, Ikun, dan Pak Hendra praktis tidak memiliki kegiatan berarti sejak pagi hingga siang itu. Kecuali menunggu Lita kembali dari Medan membawa obat-obatan. Kebetulan kawan-kawan BSMI pusat datang siang harinya, bersama ketua umumnya dr. Basuki S, SpBO, dan beberapa dokter lainnya dari Aceh dan Surabaya. Aku berkenalan dengan sejawat dari FK Unair yang seangkatan, dr. Fahmi. Mereka mendapatkan rumah sangat berdekatan dengan posko kami, sebagai sekretariat BSMI di Nias. Rombongan ini tiba dengan pesawat dari Medan.

Eksodus Besar-besaran
Untung bagiku, sore harinya ada sebuah peristiwa besar yang bisa aku ikuti. Eksodus besar-besaran penduduk Nias ke luar pulau! Pak Hendra yang mendapatkan informasi ini, sekaligus menunggu bantuan yang akan disalurkan Elshinta, mendahului menuju Pelabuhan G. Sitoli bersama Bapak Yorhamun dengan ‘kereta’ alias motor. Beberapa SMS ditujukan bagiku dan Ikun, meminta agar kami dapat meliput peristiwa ini. Kami berdua bergegas menumpang mobil angkutan umum menuju pelabuhan.

Image hosted by Photobucket.com

Luar biasa, pelabuhan begitu ramai sora itu. Sebuah kapal kayu dengan jenis sama seperti yang kutumpangi dalam perjalanan Sibolga-Nias, nyaris tenggelam di dermaga karena kelebihan penumpang! Ribuan orang lainnya yang tidak memiliki tiket dengan tidak sabar berusaha memasuki kapal feri besar, Jatra III dari Jakarta, yang memuat puluhan mobil dari berbagai lembaga pembawa bantuan. Termasuk dua mobil ambulans BSMI yang diangkutnya. Berbekalkan sebuah kamera digital Sony Cybershot, handycam Mini DV Sony, dan kamera otomatis berlensa tele Canon, aku dan Ikun mengambil dokumentasi sebanyak-banyaknya. Kami sempat berbincang-bincang dengan beberapa pengungsi. Mereka tidak memiliki biaya sama sekali untuk melakukan perjalanan, sehingga berusaha mencari tumpangan gratis keluar pulau. Isu akan terjadinya gempa susulan yang akan menenggelamkan Nias membulatkan tekad meninggalkan pulau ini.

Banyak sekali ibu-ibu yang membawa anaknya, ditingkahi suara tangisan tidak mengerti, mengiringi pengungsian besar-besaran itu. Setelah semua mobil dan kendaraan bermotor, termasuk alat berat, dikeluarkan dari feri, ribuan orang berlarian merangsek memasuki kapal. Dengan membawa handycam, aku ikuti rombongan ini sampai dalam dek kapal, merekam ekspresi kepanikan dalam wajah para pengungsi. Sampai-sampai jembatan kapal hampir diangkat, aku berlari keluar dari kapal, agar tidak ikut terbawa. Antrian motor di luar yang menunggu diijinkan masuk, dan penduduk yang tidak henti-hentinya berusaha memasuki kapal, terus berlangsung sampai pukul 18.00. Kami berdua akhirnya memutuskan meninggalkan pelabuhan. Semoga mereka semua selamat tiba di tempat tujuan di Sibolga.

Malamnya kami kembali beristirahat di tenda Posko. Terdengar suara anak-anak batuk dari kemah kecil dekat terpal kami. Kemah kecil berukuran sekitar 1,5 kali 1,5 meter persegi ini ditinggali Bapak Yorhamun, relawan kami dari Waspada Peduli Umat yang merelakan madrasahnya sebagai posko, bersama istri dan tiga anaknya yang balita. Semoga anak-anak kecil ini sehat-sehat saja.

***

Ahad, 3 April 2005

Kisah Lita Episode 2
Pagi harinya, Lita mencarikan kontrakan untuk kedua orangtuanya, dengan bantuan biaya dari ACT. Tidak banyak waktu yang ia habiskan bersama ayah-ibunya. Ia harus segera kembali bekerja. Jam 10.00, Pak Hendra menghubungi untuk segera kembali ke Nias. Dengan membawa barang yang sangat banyak untuk dibawa seorang diri, sebuah box besar berisi obat-obatan seberat kira-kira 20 kg, dan satu tas carrier, Lita berangkat menggunakan taksi menuju Polonia. Hanya keyakinan atas pertolongan Alloh sajalah yang menguatkan akhwat ini untuk membawa bantuan yang demikian banyak. Jam 13.00, dengan seseorang yang baru dikenalnya, Lita mengangkasa dengan pesawat CASA TNI AL. Sebelumnya barang bawaan Lita yang terlalu banyak ini sempat dipermasalahkan sebelum naik pesawat. Tetapi ia bersikeras bantuan ini untuk pengobatan. Lagi-lagi di pesawat ia mendapatkan kenalan baru yang menjanjikan akan membantu, jika ada relawan ACT yang membutuhkannya. Jam 14.30 Lita sampai di bandara Binaka, Nias. Selanjutnya ia segera kembali ke Posko.

Pagi itu juga, sambil menunggu kedatangan Lita, kami berbincang-bincang dengan seorang pria Nias di Posko. Ia menjelaskan bahwa Nias adalah pulau yang cukup besar. Panjang pulau ini sekitar 200 km, dan lebarnya antara 80 sampai 120 km. Kami banyak menyebut-nyebut lokasi yang cukup banyak dihuni umat Islam, namun masih sulit dijangkau hingga saat itu, yakni Lahewa di sebelah utara pulau, dan Teluk Dalam di selatan. Jumlah penduduk beragama Islam di pulau ini tidak sampai 10 persen, dan banyak di antara mereka yang menjadi korban. Pria ini juga menjelaskan bahwa Nias adalah daerah yang terdiri dari beragam etnis pendatang sejak dahulu kala. Bugis, Makasar, Aceh, Padang, Cina dan lainnya. Nama marga di pulau ini juga khas, seperti Zebua, Harefa, Zega. Lita pernah menjelaskan bahwa marga asli Nias tidak ada yang berakhiran konsonan, semuanya vokal. Begitu juga dengan kata-katanya. Kata serapan konsonan akan dibuat menjadi vokal, misalnya mobil menjadi mobi. Satu hal yang unik bagiku adalah cara mereka mengucapkan huruf f dan r. Seperti aksen Prancis. Mereka juga tampaknya tidak mengenal huruf p.

Pada pukul 10.13, terjadi gempa yang cukup besar dan lama, sekitar 1 menit. Getarannya sangat terasa. Untungnya tidak ada barang yang jatuh atau bangunan roboh. Kami sedang berada di Posko. Di jalanan tampak sedikit kepanikan. Orang-orang sebagian berlarian, para pengendara motor menghentikan kendaraannya.

Sekitar pukul 10.20, mobil truk tanki air dari PAM datang. Sejak kedatanganku di pulau ini, air dan listrik masih belum berfungsi. Untuk mandi pagi, aku dan kawan-kawan sengaja berjalan agak jauh ke rumah Lita, untuk mengambil air sumur. Dan.. cukup mandi sekali saja sehari. Mobil berhenti tepat di sekretariat BSMI, sekitar 15 meter dari posko kami. Anak-anak perempuan, laki-laki, semuanya mengambil ember dan alat apapun yang bisa menampung air, bolak-balik dari posko ke mobil tanki, menampung air yang dikucurkan dari selang besar. Mereka tampak kepayahan ketika membawa ember menuju rumahnya, namun ekspresi kepuasaan terlihat di wajah. Subhanalloh, inilah rasanya kondisi sulit air. Sekitar 20 menitan mobil memberikan airnya bagi penduduk sekitar yang berdatangan dari segala penjuru, kemudian pergi menuju daerah lain, agar pembagian air merata.

Sore itu kami menjama’ sholat dzuhur dan ashar di Panti Asuhan Al-Washliyah, sekitar 500 meter dari posko kami. Berangkat menggunakan satu becak kayuh dinaiki berempat, sempat becak ini terjungkal. Untungnya tidak ada yang terluka. Kami hanya tertawa saja membayangkan kekonyolan ini. Tidak tega juga sih, melihat para pengayuh becak di kota ini. Medannya sangat berliku-liku, naik-turun, dengan para pengemudi yang kurus-kurus dan selalu tampak kepayahan. Cukup nyaman beristirahat di ruang sholat panti asuhan ini, sambil berkenalan dengan anak-anak SD penghuni panti, sedikit belajar bahasa Nias dengan mereka. Mereka suka sekali difoto. Setelah Lita datang, kami mengadakan pengobatan di satu daerah saja, tidak jauh dari desa yang kami kunjungi dua hari lalu, sampai maghrib tiba.

Malam ini gen-set sudah menyala di posko kami, sehingga lapangan madrasah yang kami tinggali cukup terang. Kami tidak perlu lagi menumpang di tempat lain untuk men-charge batere HP. Tapi instalasi air masih belum berfungsi.

***

Senin, 4 April 2005

Hari ini Pak Hendra harus kembali ke Jakarta, membawa laporan, dan foto-foto yang belum dicetak dalam rol-rol film kamera otomatis. Ia meminta Lita mengurus keberangkatannya, sedangkan Lita juga harus mengurus adiknya Yeni, yang harus kembali ke Medan untuk mengurusi ayah-ibunya. Dengan mengendarai motor, Lita dan Yeni berangkat ke rumah mereka untuk mengemas pakaian orangtuanya. Mereka kemudian menuju bandara. Atas bantuan Bayu, seorang polisi muda baik hati yang dikenal Lita saat di Polonia, Pak Hendra berangkat ke Medan menggunakan pesawat polisi. Yeni berangkat menggunakan pesawat AL atas bantuan Pak Firman, kenalan Lita yang lain.

Dalam perjalanan pulang, Lita kembali menemui sedikit masalah. Ia pulang mengendarai motor sendirian. Di tengah-tengah perjalanan, motornya berhenti karena kehabisan bensin. Untungnya ia berhasil mendapatkan tumpangan untuk minta diantar mendapatkan bensin lima liter. Lita harus mengangkat ember berisi bensin seorang diri. Kemudian ia kembali ke DPD PKS, dan bertemu dengan seorang wanita yang menceritakan desanya sebagian terendam air, dan sebagian lagi belum pernah mendapatkan bantuan. Sore harinya ia menuju posko ACT dan menekankan agar ACT bisa membantunya, dengan membawa peta Nias. Lita bersikeras agar kami semua bisa pergi ke Teluk Dalam yang jaraknya “hanya” 120 km saja. Padahal saat itu untuk mencapai Teluk Dalam di Kabupaten Nias Selatan, belum bisa ditempuh melalui perjalanan darat biasa, setidaknya menggunakan mobil. Akhwat yang pernah berkampanye puluhan kilometer jauhnya menggunakan motor saat Pemilu tahun lalu itu mengatakan kami semua bisa menggunakan beberapa motor untuk mencapai Teluk Dalam bersamanya. Tapi karena pertimbangan lokasi yang terlalu jauh, memakan waktu, dan medan yang berat, rencana itu diurungkan.

Hari itu juga, setelah kepergian Pak Hendra dan Lita ke bandara, kami mengadakan pengobatan ke arah utara, sampai 12 km dari Gunung Sitoli, kalau sebelumnya kami mengarah ke selatan ke Desa Foa, 16 km dari Gn. Sitoli. Inilah medan tersulit yang aku rasakan setelah beberapa hari berada di sini. Menggunakan minibus Suzuki Carry lama dengan pengemudi lokal, kami melewati sekurangnya dua jembatan kayu dan dua jembatan beraspal dengan patahan jalan yang cukup besar. Salah satunya patah tepat di antara jalan mendaki beraspal yang menghubungkan dengan jembatan kayu. Sehingga ban mobil sulit mendapatkan pijakan. Untuk melintasi jembatan ini, kami dibantu beberapa penduduk setempat yang mengatur gundukan tanah, batu-batuan, dan pasir di dalam patahan, sehingga bisa dilewati mobil. Itupun harus didorong juga. Sungguh menegangkan. Belum lagi jalanan desa yang berkerikil dan berlubang-lubang, sejak sebelum gempa. Ditambah lagi satu bagian jalan yang terbelah cukup besar di tengah-tengah jalan. Hanya pengemudi handal saja yang bisa melewati tipe jalanan seperti ini.

Kami menghabiskan hari ini dengan pengobatan di dua tempat sampai sore hari. Desa Mboe, yang kami kunjungi pertama kali, sudah mendapatkan bantuan medis asing beberapa hari sebelumnya. Kemudian kami lanjutkan ke Kec. Tuhemberua, dan Desa Afiat. Lagi-lagi kendala terbesar kami adalah penduduk yang sebagian besar tidak bisa berbahasa Indonesia. Keluhan mereka sama: jantung berdebar-debar, batuk-pilek, lemah, dan gatal-gatal. Pasien yang kami tangani total kira-kira mencapai 200-an. Ingin sekali kami bisa memberikan bantuan makanan ke daerah-daerah ini. Mereka lebih butuh makanan, dibandingkan obat-obatan. Namun apa daya, bantuan makanan kami belum tiba.

Hari ini mobil tanki air tidak datang. Persediaan air di Posko kami menipis. Malamnya kami berempat, aku, Ikun, Lita, dan Anjas mendiskusikan apa yang bisa kami lakukan esok hari.

***

Selasa, 5 April 2005

Tadi malam masih terdengar suara anak kecil terbatuk-batuk dari kemah kecil keluarga Pak Yorhamun. Mungkin itu suara Afni, Rais, atau Akbar, yang berusia 3-4 tahunan. Kasihan sekali mereka, harus merasakan dinginnya udara malam selama berhari-hari, karena tidak berani tidur di dalam rumah.

Pagi ini aku kedatangan seorang laki-laki berusia 30 tahun yang meminta obat-obatan untuk istrinya yang sedang hamil 5 bulan. Ia menceritakan tentang dirinya, seorang tukang kayu keturunan Nias-Jawa yang merantau dari Medan dua tahun silam. Saat ini istrinya sedang mengandung anak ketiganya, dengan anak pertamanya yang meninggal saat usia 7 bulan karena kelainan jantung, dan anak keduanya yang kini masih berusia 8 bulan. Pria ini mengeluhkan minimnya bantuan sampai saat ini. Ia juga menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat muslim Nias, yang menurutnya kurang membantu antara yang kaya dan miskin. Misalnya saat pembagian daging kurban, yang dirasakannya tidak merata.

Selama beberapa hari sejak terjadinya bencana, bapak ini sehari-harinya berkeliling dengan berjalan kaki dari satu posko ke posko lain, mencari bantuan makanan bagi dirinya dan keluarganya. Pernah ia mendapatkan tawaran bantuan makanan dari gereja, namun ia ragu-ragu menerimanya, karena khawatir akan status kehalalannya. Maka bantuan dari sesama muslim sangat ia butuhkan. Pria ini juga pernah mencoba meminta bantuan ke tentara. Bukannya beras yang ia terima, tetapi bentakan dan ancaman untuk segera meninggalkan tempat itu. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apa yang TNI lakukan dengan bantuan sebanyak itu? Bukankah seharusnya mereka menyalurkannya? Atau mereka memperjualbelikannya? Sudah menjadi rahasia umum bahwa bencana seperti ini adalah bisnis bagi tentara.

Kami berbincang-bincang agak lama. Aku memberikan beberapa tablet vitamin dan zat besi bagi istrinya yang hamil di rumah, dan menyampaikan agar ia bisa kembali lagi besok, dengan harapan bantuan kami dari Sibolga sudah tiba. Siang ini bantuan air PAM datang agak terlambat, pukul 11.45. Kemarin air tidak datang sama sekali. Rupanya bantuan air hanya tiap dua hari sekali.

Tampaknya tetangga kami, BSMI, juga tidak banyak melakukan kegiatan pengobatan lapangan beberapa hari ini. Mereka lebih berkonsentrasi untuk mendirikan rumah sakit lapangan. Sedangkan PKS, dari informasi yang kami dapatkan malam harinya, menuju sebuah daerah di Botohaenga. Tim dari Kepanduan DPW PKS bersama dr. Kuspriyadi dari PKPU, seniorku angkatan ’88 yang menemani pengobatan kami dua hari lalu, menempuh perjalanan laut selama empat jam untuk mencapai daerah ini, yang normalnya bisa ditempuh lewat darat. Mereka menggunakan kapal nelayan. Tiba di tempat, sungguh mengenaskan, sebagian daerah ini sudah terendam oleh laut, bukan oleh tsunami, melainkan daratannya yang melesak ke bawah akibat gempa! Tentunya keadaan ini akan bersifat permanen. Kawan-kawan PKS menceritakan sempat terjadi sedikit keributan di sini, antara penduduk dua desa yang terkena musibah. Pasalnya satu desa yang merasa mendapatkan kerusakan lebih parah menginginkan bantuan pangan lebih banyak dibandingkan desa lainnya, sedangkan satu desa lain menginginkan bantuan yang merata antara keduanya. Reaksi mereka bagaikan orang-orang tidak makan selama berhari-hari. Ketika sore menjelang, air laut mulai pasang. Para relawan yang saat datang masih bisa melangkah biasa, saat pulang sudah terendam kakinya sampai sebatas lutut. Mereka kemudian pulang menaiki kapal yang sama, tiba di DPD malam harinya. Aku menemui dr. Kus untuk melakukan kegiatan rutin malam hari: memindahkan gambar dari kamera digital ke laptop-nya.

Sore hari ini aku, Ikun, Anjas, Adi, dan Lita memutuskan berjalan-jalan di sekitar kota mencari suvenir untuk oleh-oleh. Ikun ingin sekali membeli kaos bertuliskan “Nias”. Sekaligus kami ingin mencari tambahan bahan makanan yang bisa disalurkan dari toko lokal, sambil menunggu bantuan yang kabarnya datang dari Sibolga malam ini. Hujan turun agak deras ketika kami menggunakan dua becak kayuh untuk menuju lokasi toko. Sekitar 10 menit, kami tiba di sebuah toko yang menjual beberapa jenis kerajinan khas Nias. Karena harga yang terlalu mahal, Ikun hanya membeli gantungan kunci sebuah saja. Lainnya hanya membeli minuman. Bayangkan saja, harga Aqua botol Rp. 3500 sebuahnya, dan minuman seperti Fanta dan Sprite Rp. 4000. Kami kemudian berjalan kaki menuju pusat pemerintahan. Sempat berhenti sebentar dan melihat-lihat keadaan RSUD Gn. Sitoli. Rumah sakit ini diaktifkan oleh banyak elemen seperti BSMI, Mercy Malaysia, PMI, FK Unhas, IDI, BSB, dan lainnya, sehingga menjadi pusat rujukan pasien-pasien yang membutuhkan perawatan. Instalasi gawat daruratnya juga berfungsi dan penuh oleh pasien. Aku bertemu dengan Fahmi dari BSMI di sini. Ia mendapat giliran dinas RS hari itu. Sampai pusat pemerintahan, kami tidak mendapatkan apa yang kami cari, kemudian kami pulang ke posko menggunakan becak kayuh lagi. Kami juga kesulitan membeli beras di sini. Maksimal katanya hanya dibatasi 50 kg saja. Padahal niat kami semata hanyalah untuk disalurkan lagi.

Malam ini sekitar pukul 21.00, kami mendengar kabar bahwa kapal yang membawa bantuan pangan segera tiba di pelabuhan. Kapal sewaan PKS ini membawa hampir 10 ton beras yang dibeli oleh PKS, PKPU, dan ACT. Belanjaan kami hanya 1 ton saja, meliputi beras satu ton, ditambah ikan asin, susu balita, telor, dan minyak. Sekitar pukul 23.00, aku, Ikun, Anjas, dan Adi meluncur menuju pelabuhan dengan menumpang mobil pick up yang disewa PKS, langsung dari kantor DPD. Udara malam langsung menerpa kami yang duduk di bak belakang. Sementara beberapa anggota Kepanduan PKS menggunakan motor trail mencapai pelabuhan.

Ditunggu sampai pukul 01.00 dini hari, kapal masih belum bisa merapat juga, karena ada feri besar yang belum berangkat, sehingga harus mengantri masuk dermaga. Kami akhirnya pulang, dan langsung tergeletak di lantai ruang utama DPD untuk tidur sebentar.

***

Rabu, 6 April 2005

Dokter Multi Fungsi
Paginya selepas subuh, kami kembali menuju pelabuhan. Alhamdulillah kapal bisa merapat di sini, sekitar pukul 06.00. Terdiri dari dari seorang anggota Kepanduan, dan tiga ABK, kapal membawa berton-ton beras dan barang lainnya, termasuk dua gen set tambahan, dan bensin. Mulailah pekerjaan berat ini: memindahkan hampir seluruh isi muatan kapal ke dua mobil pick up, untuk diangkut ke kantor DPD bolak-balik. Butuh waktu sekitar empat jam untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Dokter Anjas dan Ikun beralih fungsi menjadi kuli pelabuhan, melempar ratusan kilo beras dari kapal ke atas. Beberapa anggota Kepanduan dan relawan dari DPD juga mengerjakan hal ini. Sementara aku mencari yang ringannya saja: mengambil dokumentasi kegiatan. Dokter Kuspriyadi beralih fungsi menjadi sopir pick up yang bolak-balik mengantarkan berton-ton muatan. Kulit kami semua benar-benar terbakar pagi itu.

Sesampainya di Posko, tanpa banyak beristirahat, kami memindahkan satu ton beras dari kantor DPD, kemudian mengepaknya dalam tas-tas kresek, masing-masing seberat 3,5 kg, untuk bisa didistribusikan ke beberapa desa sore itu. Kami benar-benar mengejar target. Karena kalau bisa, besok sudah kembali ke Jakarta!

Sore hari kami menyelesaikan mengemas 70-an kantong beras dan ikan asin, kemudian membersihkan diri di DPD. Menjelang maghrib kami membawa bantuan ke dua desa menuju arah Foa, berisi kantong-kantong beras, ikan asin, dan susu balita. PKS dan PKPU tentunya juga melakukan hal yang sama, dengan distribusi lokasi yang berbeda. Malam hari kami menyelesaikan pekerjaan melelahkan ini. Ya Alloh, senantiasa jagalah niat kami melakukan ini untuk mengharap ridho-Mu semata.

Anjas dan Adi menggunakan motor untuk mengantar kami, sedangkan yang lainnya menggunakan mobil. Saat perjalanan pulang, sudah gelap karena malam, mereka tidak mengetahui bahwa daerah yang mereka lalui di sekitar Lao Maru rawan akan pembunuhan. Pernah terjadi beberapa peristiwa perampokan dan pemenggalan kepala beberapa tahun silam. Saat kami ceritakan di Posko, mereka menjadi demikian paniknya dan mengomel.

Malam itu juga sempat terbersit gagasan untuk kembali ke Sibolga menggunakan feri, agar besoknya bisa kembali ke Jakarta. Namun kemudian Lita mendapat konfirmasi dari Bayu, bahwa besok kami bisa menggunakan pesawat Polisi dari Bandara Binaka untuk menuju Medan. Alhamdulillah. Kami pun beristirahat di bawah terpal malam itu. Malam terakhir kami di pulau indah ini.

***

Kamis, 7 April 2005

Hujan turun deras pagi itu. Aku dan kawan-kawan berwudhu langsung dari curahan hujan yang turun. Air di tempat penampungan di Posko sudah sangat sedikit. Kami bisa mandi di kantor DPD PKS pagi itu, dan diantar oleh dr. Kus menggunakan kijang PKPU sampai bandara Binaka.

Saat berpamitan dengan kawan-kawan di DPD, aku sempat bingung.
“Sampai ketemu… kapan ya?”
“Sampai ketemu di bencana berikutnya,” Aminullah dari Kepanduan DPW menimpali dengan nada gurauan.
Ya, aku sedih juga, pertemuan dengan kawan-kawan ini hanya bisa terjadi pada keadaan yang menyedihkan, yakni bencana. Tentunya tidak ada seorang pun yang menginginkan bencana. Mudah-mudahan Alloh mempertemukan kami kembali pada suasana yang menyenangkan di kesempatan lain.

Perjalanan gratis dengan pesawat Polisi ternyata tidak begitu mulus. Hanya separuh rombongan yang diijinkan masuk pesawat berkapasitas, mungkin, maksimal 20 orang itu plus barang bawaan. Kami memutuskan untuk membagi jumlah enam orang ini menjadi dua. Ikun, kakak ipar Lita yang tengah hamil tua, dan Anjas berangkat duluan. Karena Ikun harus memberi laporan ke kantor Waspada di Medan, dan setidaknya ada seorang dokter seperti Anjas yang ikut seandainya sesuatu terjadi pada wanita yang hamil tua ini. Pesawat berangkat sekitar pukul 10.00.

Bandara Binaka tidak ubahnya bandara internasional. Relawan asing dari berbagai negara, pesawat dan helikopter asing milik PBB, Singapura, dan negara lain, serta pesawat dari TNI AD, AL, AU, dan Polisi, singgah dan pergi di tempat ini. Satu-satunya penerbangan komersial yang ada adalah Merpati, dengan tiket mencapai Rp.500 ribu untuk mencapai Medan saja!

Aku, Lita, dan Adi, tetap menunggu sampai ada penerbangan gratis, khususnya dari pesawat angkatan yang bisa dinaiki. Ternyata sampai pukul 14.00, harapan ini pupus. Kami harus segera kembali ke Medan, karena tiket pesawat Medan-Jakarta sudah dipesan, dan pesawat berangkat sekitar pukul 16.30. Akhirnya kami bertiga memesan tiga tiket Merpati yang mahalnya luar biasa itu, dan dengan pesawat Fokker ini, pada pukul 14.15, kami meninggalkan Nias. Bisa dikatakan, untuk menikmati segelas air putih di pesawat ini, kami harus membayar 500 ribu!

Begitu pesawat mengangkasa, aku bisa melihat lautan Nias yang begitu biru dan indahnya. Satu jam kemudian kami sampai di Polonia. Bergegas mencari rombongan yang telah tiba lebih dulu, dan memastikan keberangkatan kami ke Jakarta.

Untungnya kami mempunyai “orang dalam” di bandara, sehingga bisa memesan tiket tepat sebelum pesawat berangkat. Pesawat Wings Air yang dijadwalkan berangkat pukul 16.40, molor menjadi pukul 17.20, dikarenakan kami baru check in pukul 17 lewat! Aku jadi teringat film Home Alone 2.

Dan… kembalilah kami ke Jakarta.

Monday, March 21, 2005

Tentang Perubahan Status RSUD menjadi PT... :(

Tulisan menarik, diambil dari Kompas 21 Maret 2005, memuat wawancara dengan dr. Hasbullah Thabrany:

Bukan Privatisasi untuk RSUD, tapi Otonomi dan Bersihkan Korupsi

BULAN September 2004 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubah status tiga rumah sakit umum daerah menjadi berbentuk perseroan terbatas atau PT. Privatisasi terhadap RSUD Pasar Rebo (Jakarta Timur), RSUD Cengkareng (Jakarta Barat), dan RS Haji di Pondok Gede (Jakarta Timur) itu sebenarnya sudah mendapat persetujuan dari DPRD DKI periode 1999-2004.

NAMUN, privatisasi itu kini mengundang kritik, bahkan dari kalangan dalam rumah sakit sendiri. Tak heran kalau DPRD DKI periode 2004-2009 kemudian akan mengevaluasi kembali privatisasi itu dan bahkan kemungkinan akan membatalkannya.

Pemprov DKI dan DPRD beralasan, perubahan status dari RSUD menjadi PT itu untuk mengurangi anggaran. Sebab selama ini Pemprov DKI harus menyubsidi Rp 400 miliar lebih per tahun untuk tujuh RSUD yang ada. Selain itu, juga ada alasan untuk peningkatan profesionalisme.

Dengan perubahan status ketiga rumah sakit tersebut, sebagian subsidi bisa diberikan langsung kepada masyarakat miskin melalui Program Jaminan Pelayanan Kesehatan bagi Keluarga Miskin (JPK Gakin).

Meski masih banyak ditentang, Pemprov DKI sudah bertekad akan memprivatisasikan empat RSUD lainnya, yakni Tarakan, Budhi Asih, Duren Sawit, dan RSUD Koja. Tetapi belakangan diketahui bahwa keempat RSUD itu akan diubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU), bukan PT.

Menanggapi pro-kontra mengenai privatisasi RSUD di DKI, Kompas mewawancarai Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany. Menurut dia, pelayanan kesehatan dan pembangunan fasilitas kesehatan merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Jika privatisasi terus dilakukan, itu berarti Pemprov DKI telah melemparkan tanggung jawabnya yang sudah diatur dalam undang-undang.

Berikut petikan wawancaranya yang berlangsung di Depok, akhir pekan lalu.

Kenapa Pemprov DKI seperti keberatan menyubsidi RSUD?

Memberi subsidi ke rumah sakit pemerintah itu kewajiban pemerintah. Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Bukan hanya masyarakat miskin saja, tetapi semua lapisan masyarakat. Kenapa begitu, karena orang sakit adalah orang yang terkena musibah atau bencana. Ketika sakit, orang tidak mampu untuk berproduksi atau mendapatkan penghasilan. Yang ada malah mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah jika harus dirawat di rumah sakit. Orang kaya pun bisa jatuh miskin kalau sakit.

Pemerintah daerah berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan karena secara sepihak pemerintah telah menarik pajak dari masyarakat. Masyarakat diwajibkan membayar pajak dan mereka tidak bisa mengelak dari pajak. (Sebagian) Uang pajak itu digunakan untuk menyubsidi rumah sakit pemerintah. Nah, kalau tidak mau mengucurkan dana lagi ke RSUD berarti pemerintah tidak bertanggung jawab. Semua negara mencari dana untuk membiayai rumah sakitnya, Pemprov DKI malah memutus aliran dana pemerintah ke rumah sakit.

Kalau itu kewajiban, kenapa pemerintah menyebutnya subsidi?

Istilah subsidi itu tidak benar. Dinamakan subsidi jika pemerintah memberikan bantuan dana untuk nonpemerintah. Pendanaan yang dilakukan pemerintah karena merupakan kewajibannya bukanlah subsidi. Misalnya saja, saya punya anak kemudian saya menyekolahkan anak saya, apakah itu bisa dibilang subsidi? Terus kalau anak saya sakit dan harus berobat ke dokter, apakah itu juga subsidi? Saya punya anak, jadi saya punya kewajiban menyekolahkan atau mengobatkan anak saya kalau sakit.

Pemda selama ini juga tidak pernah menyebutkan kata "subsidi" jika memberikan dana untuk kantor wali kota/camat. Tetapi kenapa untuk urusan rumah sakit pemda menyebutnya subsidi?

Pemprov DKI beralasan, privatisasi dilakukan agar pelayanan kesehatan di RSUD menjadi lebih profesional.

Rumah sakit menjadi tidak profesional karena persoalan manajemen. Kalau ada tikus di dalam rumah, apakah rumahnya harus dirobohkan terus diganti rumah baru. Kalau sudah ada rumah baru terus tikusnya masih ada bagaimana?

Menjadikan sebuah rumah sakit profesional tidak harus melalui privatisasi. Selama ini memang ada keluhan bahwa RSUD tidak leluasa mengelola keuangannya sendiri. Mau beli alat-alat medik saja harus mengajukan ke APBD yang kemudian menunggu persetujuan DPRD. Itu kelamaan. Kalau mau profesional dan efisien, rumah sakit diberi otonomi untuk mengelola keuangannya sendiri. Tetapi harus diawasi ketat dan akuntabel.

Privatisasi dilakukan karena RSUD dianggap rugi. Apanya yang rugi? RS Pasar Rebo itu tidak pernah merugi. Bahkan tahun 2004 rumah sakit itu bisa meraup untung Rp 40 miliar lebih. Kalaupun tidak diprivatisasi, rumah sakit tidak rugi kan?

HASBULLAH memang tidak setuju jika pemerintah menggunakan istilah "rugi" untuk rumah sakit pemerintah. Sebab, istilah rugi itu mestinya digunakan dalam kerangka bisnis. Padahal, pelayanan RSUD itu dalam rangka kewajiban pemerintah. Seperti halnya membayar gaji aparat negara, membangun fasilitas umum, membiayai DPRD, dan berbagai pendanaan perangkat pemerintah.

Ia juga mempertanyakan kenapa istilah "subsidi" dan "merugi" tidak pernah digunakan pemerintah untuk pembangunan sebuah jembatan, jalan, bahkan untuk pembangunan gedung SD dan puskesmas. Padahal, kalau dihitung secara ekonomi, fasilitas yang dibangun tersebut tidak menghasilkan uang yang bisa menutup biaya operasionalnya. "Kita telah terkecoh, mana yang menjadi kewajiban pemerintah dan mana yang menjadi kewajiban swasta," ujar Hasbullah.

Pemerintah menganggap, dengan privatisasi rumah sakit bisa mandiri secara finansial?

Privatisasi memang bisa membuat rumah sakit mandiri secara finansial. Tetapi duitnya dari mana? Tentu saja dari tarif. Tarif itu yang membayar siapa? Pasien kan? Jadi ujung-ujungnya yang menjadi korban adalah masyarakat. Mereka harus membayar mahal tarif yang telah ditentukan. Terus kalau semua rumah sakit diprivatisasi, apa kewajiban pemerintah?

Katanya, uang subsidi rumah sakit sebesar Rp 400 miliar akan dialihkan ke JPK Gakin. Dengan cara seperti itu, pemerintah memberikan subsidi langsung ke masyarakat dan bukan ke rumah sakit.

Pemda selalu bicara Gakin. Itu berarti Pemprov DKI hanya menjamin penduduk miskin saja. Padahal, kesehatan adalah hak dasar manusia. Dana JPK Gakin yang dimiliki Pemprov DKI sekarang hanya Rp 100 miliar. Apa cukup? Dana tersebut hanya cukup untuk menjamin kesehatan 8,5 persen penduduk DKI. Padahal jumlah penduduk paling mampu (kaya) hanya 20 persen dari penduduk DKI. Itu berarti 80 persen adalah penduduk dengan penghasilan biasa saja. Kalau yang bisa dijamin hanya 8,5 persen, lalu bagaimana dengan yang 71,5 persen?

Kalau orang jatuh sakit, dia bisa mendadak miskin karena seluruh tabungan, bahkan rumahnya, bisa digunakan untuk biaya berobat. Terus kalau duitnya habis dan tidak bisa berobat lagi bagaimana? Di situlah fungsi pemerintah dan rumah sakitnya.

Sebanyak 8,5 persen penduduk termiskin memang dilindungi JPK Gakin. Sedangkan 70-80 persen penduduk dengan tingkat hidup menengah mampu melindungi diri kalau ada pengobatan ringan. Tetapi kalau perlu perawatan rumah sakit dan pengobatan berat, penduduk yang jumlahnya 70-80 persen ini tidak mampu bertahan.

Di Malaysia dan Taiwan bisa terjadi transformasi bentuk rumah sakit karena pemerintah menanggung semua biaya berobat. Di Malaysia, orang berobat ke rumah sakit pemerintah hanya membayar tiga ringgit atau Rp 6.000 per hari. Harga itu sudah termasuk biaya rawat inap, ICU, operasi, dan lain-lain.

Dokter yang praktik di rumah sakit tersebut harus full time. Mereka digaji penuh, nilainya sekitar Rp 10 juta-Rp 20 juta. Tetapi mereka tidak boleh praktik di tempat lain. Ada sanksinya. Sebetulnya Pemprov DKI sanggup membayar dokter sebesar itu. Jumlah dokter yang praktik di satu rumah sakit berapa sih?

Mana yang lebih bagus? Subsidi ke rumah sakit atau langsung ke masyarakat melalui JPK Gakin?

Kalau subsidi langsung ke rumah sakit, cost-nya lebih murah. Tinggal kucurkan dana saja, selesai. Kalau melalui jaminan semacam Gakin, pemerintah harus mengeluarkan uang untuk keperluan survei, pendataan penduduk, pembuatan kartu Gakin, dan sebagainya. Subsidi langsung ke rumah sakit memang bisa dikorupsi, tetapi kenapa bukan koruptornya saja yang ditangkap?

Bentuk apa yang tepat kalau pemerintah tetap ngotot mengubah bentuk RSUD?

Semua ada kelebihan dan kekurangan. Tetapi semuanya tergantung dari manajemen. Untuk rumah sakit pemerintah, menurut saya, paling mudah berbentuk Badan Layanan Umum. Kelebihan BLU, rumah sakit itu masih tetap milik pemerintah. Namun pihak manajemen diberi keleluasaan untuk mengelola keuangannya sendiri. Tentunya dengan pengawasan ketat.

Gubernur (Sutiyoso-Red) sudah mau meninjau ulang pembentukan RSUD menjadi PT. Untuk RSUD lainnya, Pemprov DKI telah setuju menjadi BLU. Namun sekarang Pemprov DKI tengah menunggu peraturan pemerintah (PP) tentang BLU sebagai petunjuk pelaksanaannya.

Apakah pemerintah mampu memberikan jaminan kesehatan bagi semua penduduknya?

Jaminan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat berasal dari masyarakat itu sendiri. Ke depannya, kita akan membuat Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang harus diikuti oleh semua penduduk Indonesia, baik dia kaya maupun miskin. SJSN ini digunakan untuk memberi jaminan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia. Iurannya diperhitungkan secara proporsional. Kemungkinan besarnya adalah lima persen dari pendapatan. Untuk penduduk paling miskin, premi dibayarkan oleh pemerintah. Besarnya Rp 5.000.

Bagaimana dengan masyarakat yang memiliki penghasilan tidak tetap?

Mereka juga harus ikut. Besarnya iuran bisa diperhitungkan dari rata-rata pendapatan harian/bulanan mereka. Semua masih dihitung formulanya. Target awalnya sekarang adalah masyarakat dengan penghasilan tetap terlebih dulu. Jika semua sudah ikut SJSN, seluruh penduduk Indonesia berhak mendapat pelayanan kesehatan gratis atau murah di rumah sakit pemerintah. Dengan mengikutsertakan semua penduduk, ada semacam subsidi silang dari penduduk kaya untuk penduduk miskin.

(LUSIANA INDRIASARI)

Wednesday, March 09, 2005

To Those.. I'd Like to Thank.. in This Virtual World

To those I'd like to thank.. for teaching me a lot.. some new things in the world wide web, since I have my own internet connection at home in 1999.

Buat Hendra (http://www.hdn.uni.cc) yang sudah menginspirasiku untuk membuat website pertama menggunakan PostNuke sebagai CMS di http://www.asysyifaa.uni.cc dan melakukan instalasi awal sehingga website ini bisa online sampai sekarang, menggunakan hosting gratisan.

Untk Agil, yang rela jauh-jauh datang ke rumahku Ramadhan tahun 2003, sekedar untuk mengenalkan apa itu Content Management System (CMS) macam ASPNuke, PHP, dan Macromedia Flash. Kini ia jauh lebih maju dengan http://gawat.com -nya. Gil, jangan lupa belajar ya, antum harus jadi dokter!

Alvi, teman SMA lulusan Fasilkom UI yang punya http://alvifauzan.blogspot.com dan menginspirasiku (secara tidak langsung, tanpa kata-kata) untuk memiliki blogspot sendiri di http://arifianto.blogspot.com
Sudah enam tahun lebih kita nggak ketemu.

Ibu Helvy Tiana Rosa, yang tulisan-tulisannya selalu berakhiran dengan http://helvytr.multiply.com, sehingga akupun memiliki blok di http://drarifianto.multiply.com

The X-Files: Book of the Unexplained

What’s your favourite all-time movies, or TV series? We all must have at least one, musn’t we? Pastinya kita ingat, saat jaman-jaman TK atau SD dulu, hampir tiap hari, bagi yang tinggal di Jakarta, biasa menyaksikan film-film Jepang, atau yang saat ini dikenal dengan tokusatsu (film eksyen orang) atau anime (film kartun). Goggle Five, Gaban, Sharivan, Voltus Lima, God Sigma, Megaloman, Kamen Rider, Lion Maru, dan lain-lain. Ada pula Candy-candy, Lulu, dan semacamnya. Itu di video, bagi yang memiliki video player. Atau masa-masa TVRI dulu, Setidaknya ada Si Unyil, Scooby Doo, Pacman, Centurions, dan beberapa yang sudah kulupakan. Memasuki masa TV swasta pertama di Indonesia, yakni RCTI, yang masih marus memakai dekoder waktu itu, ada Ninja Si Bayang Merah, Thunder Cats, The Chipmunks. Akhirnya… era TV swasta mengudara gratis pun tiba. Kita semua masih bisa menyaksikan Doraemon setiap Ahad pagi hingga saat ini. Kemudian siapa sih yang tak kenal dengan MacGyver, Airwolf, Knight Rider, My Secret Identity, Growing Pains, sampai Star Trek The Next Generation, The Flash, dan Time Trax. Sampai… saat ini, ketika TV swasta yang mengudara senantiasa bertambah hampir setiap tahun.

Jika ditanya apa serial TV favoritku? Aku akan menjawab, salah satunya adalah The X-Files. Aku menonton film ini sejak episode perdananya di SCTV ketika masih kelas 2 SMP waktu itu, sekitar tahun 1994. Kemudian sempat henti tayang setiap pergantian season, sampai akhirnya episode ini berakhir pada season kesembilannya, aku hampir menyaksikan semua episodenya.

Tahun 1997, saat SMA, aku menemukan buku “The X-Files: Book of The Unexplained” karangan Jane Goldman, buku jilid kesatu dan kedua, diterbitkan oleh Simon and Schuster. Waktu itu belum krismon, jadi buku yang tebalnya ratusan halaman ini masih bisa kubeli dengan harga tidak lebih dari 40 ribu rupiah. Buku ini menerangkan latar belakang cerita-cerita dalam episode The X-Files season 1 sampai 3, dengan penjelasan ilmiahnya. Mulai dari UFO, fenomena-fenomena tak terjelaskan, sampai catatan-catatan Scully dan Mulder yang sering dinarasikan dalam episode-episode filmnya. Foto-foto dari film-nya juga ada.

Kini, 11 tahun setelah aku pertama kali mengenal serial TV ini, koleksi DVD-nya sudah mulai bisa didapatkan di Indonesia. Sebagai orang yang sayang mengeluarkan isi kocek hanya untuk membeli hal-hal semacam ini, misalnya DVD original, aku hanya membeli DVD bajakannya saja. Sayangnya aku baru bisa menemukan season 1, itupun tidak lengkap 24 episode, hanya 21 episode saja. Dengan semua feature yang tidak ada! Ngeselin sih.. Tapi tidak apa-apa, setidaknya bisa sedikit bernostalgia dengan masa muda, sambil mencocokannya dengan isi buku.

Jadi… ada yang punya koleksi lengkap DVD The X-Files season 1 sampai 9? Boleh pinjam? Karena kata temanku ada di Mangga Dua, itupun DVD 9 dengan harga lebih mahal dibandingkan bajakan biasa.

Anyone? :)

Image hosted by Photobucket.com

Monday, March 07, 2005

Sekali lagi… Articial Intelligence!

Sehabis menonton salah satu eposide The X-Files season 1 yang berjudul “Ghost in The Machine”, aku kembali teringat pada Space Odyssey 2001. Aku yakin pembuat skenario episode ini terinspirasi dari film klasik tahun 60-an tersebut. Ceritanya seorang ilmuwan berhasil membuat perangkat komputer keamanan sebuah gedung yang mampu melakukan pembunuhan, yakni dengan mengatur sistem listrik dan lift dalam gedung. Ama mesinnya Central Operating System (COS). Yaahh… mirip-mirip HAL 9000 dalam Space Odyssey lah.

Bisa jadi pula… episode The X Files dan film Space Odyysey ini mengilhami Michael Crichton menulis novelnya “Prey” yang terbit 2001 lalu. Aku memang belum membaca novel ini, tetapi kalau tidak salah isinya mengenai penggunaan nanoteknologi yang akhirnya menjadi sebuah bencana (disaster). Khas Michael Crichton pokoknya, penulis novel-novel Thriller macam Jurassic Park, Timeline, Sphere, dan Congo (semuanya sudah difilmkan)

Speaking of nanotechnology and artificial intelligence, it seems that there’s relation between both of them.
Apakah nanoteknologi dan kecerdasan buatan itu? Bisa membaca tulisanku di http://arifianto.blogspot.com dan di sini pada judul 2010: The Odyssey Continues. Intinya penelitian-penelitian mengenai hal ini masih dalam pengembangan di banyak pusat penelitian di dunia. Di Indonesia kita sudah memiliki The Mochtar Riady Center for Nanotechnology and Bioengineering. Mungkin suatu saat nanti mereka akan mempublikasikan hasil penelitiannya.

Kalau Anda rajin surfing di internet dan ingin merasakan chatting machine yang menggunakan bahasa AI, coba saja buka http://aimovie.com

Kesimpulan akhir yang ingin kusampaikan adalah: film-film di atas semuanya menceritakan satu hal: mesin buatan yang memiliki kemampuan berpikir dan merasa seperti manusia dikhawatirkan pada suatu titik akan membahayakan manusia, sebagai defence mechanism atau mekanisme pertahanan mereka. Ini adalah satu insting mendasar semua makhluk hidup untuk bertahan dari kepunahan. Yang jelas… pastinya tidak ada satupun ciptaan manusia yang sesempurna ciptaan Sang Pencipta. Maka jika manusia mengkhawatirkan ciptaannya nanti pastilah berbuat kesalahan, itu karena mereka memang tidak sempurna.

Overweight Problem dan Life Style

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis opini tentang hal ini. Salah satunya terpicu oleh tayangan satu episode The Oprah Winfrey Show di Metro TV sekitar bulan Oktober lalu, mengenai kisah beberapa orang Amerika yang memiliki problem dengan berat badannya. Beberapa di antaranya, termasuk selebritis Randy Jackson seorang juri American Idol, bahkan menempuh cara operasi, yakni gastric bypass, dengan risiko mortalitas (kematian) di meja operasi cukup tinggi. Seorang lainnya bahkan seorang gadis muda usia SMA yang rela menempuh cara ini karena tidak pede dengan postur tubuhnya agak gemuk. Hasilnya memang memuaskan, terutama dari segi penampilan. Di AS memang jenis operasi ini lebih sering dilakukan dibandingkan dengan negara kita. Aku bahkan belum pernah mendengar jenis operasi semacam ini dilakukan di Indonesia. Mungkin dokter bedah kita tidak banyak yang memiliki keterampilannya, selain biaya operasi yang sangat tinggi, dan risiko operasi cukup besar. Kita di Indonesia masih memiliki cara-cara lain untuk menurunkan berat badan.

Kemudian ada juga sebuah artikel lain di Majalah TIME tahun lalu yang memampangkan judul “How Asia Got Fat”. Ya, memang di banyak negara berkembang di Asia, misalnya Cina dan India, termasuk sebagian kecilnya di Indonesia, obesitas menjadi masalah kesehatan baru. Menariknya, kondisi ini justru tidak hanya mengenai golongan ekonomi menengah ke atas saja, tetapi tidak sedikit golongan ekonomi menengah ke bawah yang mengalami obesitas. Lihat saja ibu-ibu penjual di pasar, atau bapak-bapak penjual rokok di warung, bahkan pemulung, yang jika dilihat dari penghasilan tidak seberapa, tapi memiliki badan cukup, bahkan sangat ‘subur’ (bandingkan saja dengan badanku yang langsing ini :D).

Masalah ini memang sangat terkait dengan gaya hidup, dengan tidak menafikan faktor genetik juga tentunya. Makan tidak terlalu banyak, tetapi isinya karbohidrat sederhana (nasi—makanan pokok masyarakat Indonesia), dengan aktivitas kurang. Belum lagi faktor hormonal pada wanita, lebih-lebih bagi yang mendapatkan hormon dari luar berupa kontrasepsi, yang menunjang pembengkakan volume tubuh dan timbulnya ketidaknyamanan di muka umum. Bicara mengenai gaya hidup memang sangat sulit bagi orang Indonesia. Ambil contoh sederhana, misalnya merokok. Jika Anda seorang dokter dengan pasien tetap penderita hipertensi dengan kebiasaan merokok, Anda akan menemukan sulit sekali bagi mereka menghilangkan kebiasaannya ini. Bahkan bagi yang sudah mendapat stroke ringan (transcient ischemic attack/TIA) sekalipun! Begitu merasa keadaan badannya agak enakan, merokoknya diteruskan. Padahal mereka tahu persis kebiasaan mereka ini ‘memperpendek’ usia mereka.
Well… masih banyak memang masalah dalam karakter masyarakat kita

Thursday, March 03, 2005

Doctors are the BEST SECRET KEEPER

Dokter adalah penjaga rahasia paling baik.
Tentu saja. Kami disumpah untuk dapat menjaga rahasia pasien-pasien kami, dan tidak membocorkannya, sesuai dengan kewajiban kami.

Namun tidak hanya itu saja. Dokter adalah tempat engkau bisa mencurahkan rahasia paling aman. Inilah yang kualami sehari-hari dengan para pasien. Kebetulan aku bekerja di sebuah poliklinik sebagai dokter tetap, dengan pasiennya sebagian besar para pengemudi taksi dan keluarganya (istri dan anak-anak mereka). Karena ini adalah klinik perusahaan, yakni para karyawannya bisa berobat dengan gratis, tentu saja rajin mengontrol kesehatannya dengan datang kepadaku. Atau kadang sekedar ‘minta’ obat saja. Sebagai satu-satunya dokter tetap, lama-kelamaan mereka mengenalku.

Konsekuensinya? Kadang mereka tidak segan menceritakan ‘rahasia dapur’ mereka kepadaku. Ya.. aku, si lajang berusia 25 tahun, menghadapi pria-pria beristri, atau istri-istri bersuami, atau pasangan suami –istri. Seringkali memang ini berkaitan dengan masalah kesehatan mereka. Masalah seks adalah masalah kesehatan juga, tentunya. Kesehatan reproduksi. Tidak hanya ‘Bapak-bapak’ saja yang kadang mengadukan masalah seks mereka, ‘Ibu-ibu’ juga ada.

“Dokter udah berkeluarga belum?”
“Memangnya kenapa, Bu?”
Dalam hati aku berkata: hei, aku ini dokter. Mungkin Ibu melihat tampang culun dan badan kurus yang membuat orang kadang meragukan, ini dokternya masih muda banget… (doo, ge-er, sok muda lu). Masalah seks aku pandang sebagai masalah kedokteran tentunya. Bukan suatu hal yang tabu, jika Ibu ingin mendapatkan solusi dari seorang dokter.
Dan… selanjutnya ia pun menceritakan masalah ranjangnya.

Well, I know that I’m not married yet, and of course… haven’t experienced what this women told. But of course.. I’ve studied this in my college years. It’s a SCIENTIFIC thing. Yes.. sex is a SCIENTIFIC thing.

Tidak hanya masalah seks saja yang kadang-kadang keluar dari mulut mereka. Ada yang mengakui bahwa mereka pernah mengaborsi janin si istri, sulitnya kondisi keuangan yang membuat mereka enggan dirujuk ke spesialis, dan cerita-cerita manusiawi lain. Dalam memandang suatu hal, aborsi misalnya, dokter tidak memandangnya sebagai suatu hal yang hitam-putih. Bukan kemudian berkata: “Ibu, Bapak, itu tindakan ilegal yang melanggar hukum!” Tapi harus menyikapinya dengan cara lain.

Akhirnya.. kuakui.. sebagai seorang manusia biasa… dokter pun mengalami banyak godaan juga. Godaan nafsunya sendiri. Aku tak begitu mempedulikan apakah mereka meragukan aku pernah mengalami masalah yang mereka hadapi. Yang jelas mereka menceritakannya padaku. Artinya mereka percaya kepadaku. Dan.. memang itu tugas profesiku. Memberi solusi kesehatan bagi klien. Belum lagi rahasia ‘tubuh’ mereka. Dokter diberi legalitas untuk melihat bagian-bagian yang sangat pribadi, untuk bisa mendiagnosis penyakit, dan memberi terapinya. Namun.. ya.. dokter juga manusia. Punya syahwat juga. Harus banyak-banyak beristighfar. Apalagi buat yang belum menikah. Astaghfirullah…

Dokter juga manusia… (menganalogikan dengan judul lagunya Seurieus Band: “Rocker juga Manusia”). Aku teringat pada sebuah episode film seri Smallville season 2. Si tokoh dokter wanita pacar Lex Luthor mengatakan pada pasiennya, bahwa rahasia pasien tidak akan keluar dari ruang praktiknya. Termasuk kemungkinan menceritakannya kepada.. misalnya suaminya. Ini menegaskan bahwa di Amerika, dokter demikian memegang teguh sumpah profesinya. Nggak tahu ya, dengan di Indonesia.

Kesimpulannya: dokter dituntut untuk menjadi orang yang amanah. Dalam memegang rahasia pasiennya, dalam menjalankan profesinya, dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang dokter muslim juga.
Sudah hampir jam 12 malam. Harus segera istirahat. Mudah-mudahan tulisan ini tidak error gara-gara ngantuk. Tapi emang lagi pengen nulis sih.

Saturday, February 26, 2005

Harokah Jihad Islam: Muqoddimah Surat Al-Anfaal dalam Fi Dzilalil Qur’an

Kebetulan menemukan buku cetakan lama milik kakak kelasku ini. Sebuah buku tanpa nama penerbit, dan penerjemah yang nama-namanya diawali dengan “Abu”. Khas buku-buku pergerakan Islam yang diterbitkan di era orde baru. Tapi kini tulisan-tulisan Sayyid Quthb mudah kita dapatkan di toko-toko buku. Apalagi setelah GIP dan Robbani Press menerjemahkan jilid-jilid Tafsir Fi Dzilali Qur’an.

Muqoddimah alias pengantar (baru sekedar pengantar lho!) Surat Al-Anfaal setebal 210 halaman ini banyak menekankan bahwa jihad Islam adalah masalah akidah.

Antara lain Asy-Syahid menerangkan fase-fase jihad Islam yang terbagi atas beberapa tahapan, mengutip Ibnul Qoyyim dalam “Zaadul Ma’ad”-nya, yakni mulai Rasulullah saw. diangkat menjadi nabi sampai menjadi Rasul, kemudian berda’wah selama 13 tahun di Mekkah tanpa konfrontasi dengan orang-orang yang memerangi Islam, sampai hijrah ke Madinah, kemudian turun perintah diizinkannya berperang. Hingga perintah memerangi orang-orang musyrik “hattaa yakuunaddiinu lillaah”, sampai tiada satupun yang ditaati kecuali Alloh.

Asy-Syahid Sayyid Quthb juga sangat menentang pendapat yang menyebutkan bahwa jihad dalam Islam adalah untuk mempertahankan diri. Pernyataan “laa ikrooha fiddiin” atau tidak ada paksaan dalam (memeluk) Islam, jangan disalahartikan. Karena kekuatan politik dan pemerintahan dalam bentuk apapun yang menghalangi manusia dari Islam, dan kekuatan apapun yang memaksa dan memperbudak manusia dan menghalangi dari pengabdian kepada Alloh harus dihancurkan! Sayyid Quthb membahas panjang lebar perihal ini. Kesimpulannya jihad dalam Islam adalah untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Alloh swt.

Aku akan mengutipkan pendapat Abul A’la Al-Maududi, Amir Jama’ah Islamiyah Pakistan yang telah wafat, mengenai Jihad fi Sabilillah. Hal ini sangat berkesan untukku, menggambarkan Ikhwanul Muslimin Mesir memiliki kesamaan gerakan dan pemikiran dengan Jama’at Islami Pakistan. Al-Maududi menyatakan bahwa terjemahan jihad ke dalam istilah “Holy War” dalam bahasa Inggris adalah tafsiran yang salah. Mereka membungkusnya dalam pakaian yang megah dari makna yang salah. Sehingga kalimat jihad memberikan gambaran kebuasan tabiat dan perilaku, kesadisan dan pertumpahan darah. Sehingga menjadi sama saja dengan “unholy war”.

Inilah yang para orientalis lakukan selama ini, untuk mengaburkan makna jihad sebenarnya. Dan tidak sedikit orang Islam yang termakan dengannya.
Wallahu a’lam.

Thursday, February 24, 2005

LKC: Layanan Kesehatan… CUMA-CUMA (satu-satunya dan pertama di Indonesia)

Bagi yang pernah membaca catatan perjalananku selama di Aceh, setidaknya mengetahui bahwa aku bekerja di lembaga ini: Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhu’afa Republika. Salah satu ‘sayap’ DD yang khusus menangani pasien dari kaum dhu’afa alias tidak mampu atau keluarga miskin (gakin), secara cuma-cuma alias gratis atau tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Aku memang baru bergabung dengan lembaga yang bermarkas di Ciputat Mega Mal ini sekitar 3 bulan. Namun ada beberapa kisah pasien dhu’afa yang ingin kubagi.

Setidaknya di sinilah aku mendapatkan gambaran masyarakat kita yang memang benar-benar dhu’afa. Jika selama masa pendidikanku di RSCM, RS Persahabatan, atau RSU Tangerang aku menemui pasien yang berasal dari golongan ekonomi kurang mampu berobat, meraka harus mengeluarkan biaya dari kocek sendiri, hingga akhirnya tidak mampu menuntaskan masa perawatan karena ketiadaan biaya, dan minta ‘pulang paksa’.

Inilah gambaran masyarakat miskin kita:
Seringkali mereka berobat jika memang kondisi kesehatannya benar-benar sudah parah. Seorang pasien stroke yang sudah terbaring tidak sadar selama 3 hari di rumahnya baru dibawa ke LKC sesuahnya. Alasan suami yang mengantarnya adalah kesulitan kendaraan umum untuk membawa ke LKC, karena lokasi rumah mereka yang cukup jauh dari Ciputat. Dan ia tidak akan membawa istrinya yang sakit ke RS terdekat tentunya, karena tidak memiliki biaya. Toh selama ini mereka berobat terus ke LKC, dan masih menjadi member LKC.

Dalam masa perawatan pun hanya suaminya yang menunggu si istri yang sampai hari ini berbaring tidak sadarkan diri. Mungkin anak-anaknya terlalu sibuk untuk menjenguk orangtua mereka yang sedang sakit, atau tidak mengetahui kabar kedua orangtuanya karena tidak tinggal satu rumah dan tidak memiliki telepon. Mungkin…Si Bapak ini juga agak cuek saat mengurus istrinya yang terbaring di ruang perawatan. Tidak begitu ada ekspresi sedih yang tergambar. Mungkin ia sudah letih menunggui istrinya yang tidak kunjung sadar.

Ada lagi pasien wanita tua lain dengan muntah dan BAB darah, sampai akhirnya meninggal. Suaminya adalah seorang tuna netra, yang pada saat-saat menjelang ajal sang istri, ia sudah keburu merelakannya. Tidak ada kesedihan sama sekali tergambar. Tampaknya ia juga sudah kesal menunggui istrinya yang sakit, dan mungkin ‘merepotkannya’. Astaghfirullah…

Ada juga seorang pria paruh baya yang menderita luka terinfeksi di kakinya karena diabetes melitus, harus melewati hari-hari perawatannya di ruang rawat inap LKC seorang diri. Istrinya seorang pembantu rumah tangga yang tidak bisa menunggui suaminya bermalam di LKC, karena harus bekerja setiap hari dan pulang untuk menemani anak-anak mereka yang masih kecil di rumah.
Untung saja Bapak ini ‘menemukan’ LKC, sehingga ia tidak harus mengeluarkan biaya sepeser pun untuk mendapatkan perawatan lengkap, hingga ampul insulin yang ratusan ribu harganya setiap hari.

Kisah sedih bisa dijumpai hampir setiap minggunya, ialah kematian. Karena pasien yang dirawat sebagian adalah penyakit yang memang sudah terlalu kronik sehingga harapan untuk pulih sangat kecil, atau penyakit keganasan, kematian adalah hal ‘biasa’ di bangsal rawat inap kami.

Kematian pertama yang kujumpai selama tugas dinasku di sini adalah seorang akhwat yang meninggal karena leukemia. Ada catatan yang membuatku cukup terkesan di sini. Akhwat yang sempat mendapat transfusi beberapa kantong darah dari PMI ini, didatangi oleh beberapa ikhwan kader PKS pada suatu malam. Mereka merelakan darahnya didonorkan untuk dapat digunakan oleh si pasien, seandainya persediaan darah di PMI Kramat tidak mencukupi. Mereka datang hampir tengah malam dengan motor, membawakan sampel darah si pasien ke PMI Kramat, dan mengantar kantong darahnya kembali ke LKC tengah malam. Subhanalloh.
Walaupun akhirnya pasien ini meninggal, dengan diiringi sedikit isak tangis sang ibu, karena ukhti yang baru berusia di awal 20-an ini adalah anak satu-satunya. Di saat-saat wafatnya, beberapa akhwat menghibur dan menguatkan ibu paruh baya ini.

Kisah lain, saat praktik malam, seorang ibu membawa anaknya yang demam berobat ke LKC. Ia menceritakan kisahnya padaku. Ibu beranak dua ini beberapa bulan yang lalu adalah seorang pendeta. Dengan kesungguhannya belajar sendiri, dan atas hidayah Alloh, ia masuk Islam. Namun sebagai konsekuensi, keluarganya mengejarnya dan mengancamnya untuk dibunuh. Hingga ia melarikan diri sampai keluar kota. Suatu hari bahkan ia pernah terjatuh dan kepalanya terbentur. Kini ia mengalami kejang beberapa kali, yang sangat dimungkinkan akibat bekas jatuhnya di kepala. Ia pun menjadi dhu’afa, dan otomatis diceraikan oleh suaminya terdahulu. Seorang perawat LKC mengenalkannya kepada lembaga ini, dan Ibu ini menjadi member kami. Katanya seorang pria yang jauh lebih muda insya Alloh akan segera menikahinya. Subhanalloh…

Atau kisah seorang pasangan suami-istri paruh baya dengan anak laki-lakinya usia 8 tahun yang didiagnosis menderita tumor di otaknya, sampai harus menjalani perawatan berminggu-minggu di RSCM. Bapak ini hanyalah seorang penjual mainan keliling di sekolah-sekolah.

Masih banyak cerita lain di tempat ini. Menggambarkan betapa miskin dan rendahnya pendidikan sebagian masyarakat Indonesia, sekalipun tinggal di perkotaan macam Jabotabek.

Kawan-kawan sejawatku yang lebih senior di tempat ini tentunya memiliki cerita yang lebih banyak lagi, dan menggugah perasaan.

Jika Anda berminat menjadi donatur lembaga ini, silakan buka http://www.lkc.or.id
Atau bisa juga dengan me-reply tulisan saya ini.

Sudah dzuhur… siang ini harus berangkat lagi ke LKC

Wednesday, January 12, 2005

Catatan Perjalanan Aceh: 29 Desember 2004-10 Januari 2005

Rabu, 29 Desember 2004

Kira-kira pukul 9 pagi. Pulang dari mengantar ibu ke bandara, kegiatan rutinku hampir setiap pagi adalah mengecek e-mail yang masuk. Telepon rumah tiba-tiba berbunyi. Seorang perawat LKC (Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhu’afa Republika)—tempat aku bekerja—yang menelepon.
“Dokter Apin, kata Dokter Joe, antum berminat pergi ke Aceh. Bisa pergi?”
“Kapan?”
“Sore ini.”
Setelah menerima informasi “gagal” pergi ke Nangroe Aceh Darussakam dengan sebuah lembaga non pemerintah (NGO), muncul tawaran ini. Tanpa butuh berpikir lama, aku terima saja.
“Kita pergi dengan apa?”
“Dengan ambulans, lewat jalan darat.”

Sore itu, tepat sebelum maghrib, LKC melepas kepergian kami. Sebuah tim gabungan yang terdiri atas tim LKC dan tim ACT (Aksi Cepat Tanggap) DD REPUBLIKA. LKC dan ACT memang lembaga yang berada di bawah bendera DD REPUBLIKA. Tim LKC terdiri atas empat orang: 1 dokter—aku sendiri, seorang perawat, satu orang driver, dan seorang relawan, yang aku kenal kemudian sebagai kader DPC Kebayoran Baru. Sedangkan tim ACT terdiri atas 5 orang. Mereka menggunakan satu buah kijang hijau yang bercatkan nama lembaga ini. Sebuah spanduk lebar dipasang di atas kap mobil “Bantuan Kemanusiaan Gempa dan Tsunami Aceh-Sumut”.

Aku mulai saja dengan hal menarik pertama yang kudapatkan. Akh relawan kami ternyata meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua, dan diperkirakan anak keduanya akan lahir tanggal 7 Januari lalu. Pasangan suami-istri mujahid ini rela saling mengikhlaskan kepergian sang suami untuk sebuah misi kemanusiaan. Ikhwan satu ini memang sudah mempersiapkan dirinya untuk tidak melihat kelahiran si bayi, karena merencakan kepergiannya di Aceh memakan waktu beberapa pekan. Subhanalloh.

Malam harinya kami menyeberang dari Merak hingga Belawan, Lampung. Melewati waktu subuh di sekitar Bandar Lampung, kami segera meneruskan perjalanan setelah beristirahat sejenak.

Kamis, 30 Desember 2004

Saat kami beristirahat di sebuah rumah makan di Lampung, kami bertemu dengan rombongan 30 mobil polisi pengangkut yang dibawa beriringan langsung dari Kelapa Dua, Jakarta. Kami meminta izin kepada beberapa personil polisi untuk bisa melakukan perjalanan konvoi dengan mereka, dengan alasan keamanan (melewati jalan-jalan lintas Sumatra) dan memang kami belum merencanakan rute perjalanan dengan baik. Kami pun menjadi rombongan ekor mereka. Dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam, kami mengikuti rombongan panjang mobil polisi ini. Beberapa kali kami memang sengaja memisahkan diri dengan mereka, untuk makan dan istirahat, namun segera bisa menyusulnya begitu mendengar suara sirine panjang di kejauhan. Sampai akhirnya sore hari kami terpisah di daerah Sumatra Selatan. Jalur yang kami tempuh adalah Lintas Timur.

Jum’at 31 Desember 2004

Tidak banyak hal istimewa yang bisa diceritakan dalam perjalanan darat menuju NAD selama 3 hari 3 malam ini. Yang jelas pada tanggal ini kami melewati Jambi, Riau, hingga Sumatra Utara di malam harinya. Alhamdulillah perjalanan kami aman-aman saja. Tidak sampai menemui begal di tengah-tengah perjalanan, walaupun kami tetap meneruskan perjalanan sekalipun malam hari. Untungnya dari dua mobil yang kami bawa ini, kami mempunyai 4 orang driver yang saling bergantian mengemudi, sehingga perjalanan tidak banyak terhenti. Buatku pribadi, ini adalah perjalanan pertama kalinya melintasi Pulau Sumatra dari ujung ke ujung via jalan darat. Aku bisa merasakan panjangnya jalan di pinggir hutan Sumsel dan Jambi, jalanan naik-turun sepanjang Riau, kilang dan pipa-pipa minyak besar milik Caltex di sepanjang Riau, dan banjir yang cukup menegangkan di daerah Sei Rokan. Pengalaman menyenangkan lain untukku adalah bisa mencicipi masakan khas daerah bersangkutan setiap kali kami berhenti untuk makan. Malamnya kami melewatkan pergantian tahun baru masehi menuju kota Medan.

Sabtu, 1 Januari 2005

Pagi hari kami tiba di Medan. Kota yang utamanya menjadi transit bagi para relawan sebelum memasuki Aceh. Kami beristirahat sebentar di sebuah rumah yang katanya sekretariat HMI, sambil membersihkan diri dan membeli beberapa kebutuhan logistik untuk dibawa ke Aceh. Karena informasi yang kami terima menyebutkan sulitnya mendapatkan bahan bakar dan makanan di sana.

Selepas waktu dzuhur, kami melaju menuju Aceh. Melewati perbatasan Sumut-NAD, kami mulai memasuki Aceh Timur. Subhanalloh, sepanjang perjalanan di kiri-kanan jalan, mudah sekali ditemui masjid besar di pinggir jalan yang tampaknya sudah lama berdiri. Jika dirata-rata, mungkin setiap 5 kilometer. Inilah daerah seribu masjid, demikian yang terlintas dalam benakku. Aceh adalah daerah yang luar biasa subur, dengan sawah menghijau terhampar di kiri-kanan, dan di kejauhan dikelilingi oleh barisan pegunungan. Namun rakyatnya miskin-miskin, rawan konflik, dan penuh dengan militer. Adalah pemandangan yang amat biasa melihat panser-panser melintasi jalanan dengan senapan mesin yang diacungkan lurus ke depan. Setiap beberapa kilometer mudah ditemui posko-posko angkatan darat di pinggir jalan, dengan beberapa orang berseragam hijau-hijau berkelompok berjalan-jalan dengan senapan laras panjang terisi. Untungnya kami tidak mendapatkan inspeksi-inspeksi yang mengharuskan berhenti sejenak di pinggir jalan. Ada sedikit perasaan tidak nyaman pula melewati jalanan sepanjang Aceh Timur ini. Sering kita dengar dari media massa, tidak mustahil GAM muncul tiba-tiba.

Syari’at Islam memang tampak dijalankan dari penampakan luar Aceh. Para wanitanya mengenakan kerudung atau jilbab. Tidak satu pun wanita mengenakan pakaian pendek. Di beberapa papan billboard pinggir jalan dijelaskan bahwa mereka yang tidak berbusana Islam akan dikenai hukuman ta’dzir. Jadi tampaknya masyarakat Aceh menjalankan syari’at dengan setengah hati, karena paksaan. Sebelum bencana, razia pakaian ini diketatkan, sehingga wanita takut terkena. Namun setelah bencana menjadi lebih longgar. Sehingga masih ada wanita yang tidak mengenakan kerudung. Nuansa Islami lainnya adalah tulisan-tulisan Arab gundul berbahasa Indonesia yang menyertai setiap nama tempat-tempat umum.

Malamnya, sekitar ba’da maghrib, kami tiba di kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, tempat posko ACT DD REPUBLIKA berada. Kami menempati beberapa kamar dalam sebuah wisma di tengah kota. Mulai beristirahat, besok pagi misi akan dimulai.

Ahad, 2 Januari 2005

Kami mulai perjalanan menggunakan mobil ACT menuju kota Sigli, Kabupaten Pidie. Waktu yang ditempuh sekitar 3 jam perjalanan. Rute perjalanannya adalah: Lhokseumawe, Kab. Aceh Utara—Kab. Bireuen—Sigli, Kab.Pidie. Memasuki daerah Bireuen, tampak tenda-tenda pos pengungsi tersebar di kiri-kanan jalan. Mereka kebanyakan menggunakan masjid dan sekolah, atau lapangan besar sebagai tempat pengungsian. Tidak sedikit tentara yang menjaga pos-pos pengungsi tersebut. Di beberapa ruas jalan tampak retakan yang menandakan bekas gempa tektonik. Namun jalanan masih mudah untuk dilalui. Memasuki Kabupaten Pidie, tampak pinggir laut berada beberapa kilometer di sebelah kanan. Kerusakan bekas Tsunami terlihat begitu nyata. Rumah-rumah yang rata dengan tanah, sawah-sawah dan tambak yang rusak, bahkan kapal nelayan yang terlempar melintasi jalan raya hingga ke seberangnya! Namun kebesaran Alloh masih tampak di sini. Tidak satu pun jembatan-jembatan yang menghubungkan jalan utama rusak. Terlintas di benakku, Alloh memerintahkan kepada para malaikat untuk menjaga jalan-jalan penghubung utama ini, agar kelak memudahkan mengirim bantuan.

Pemandangan lain adalah iring-iringan truk dan mobil PKS yang bergantian melintasi membawa bantuan di sepanjang jalan. PKS memang raja jalanan!

Setibanya di Posko ACT di Sigli, tepat di seberang Posko Darurat Bantuan Aceh DPD PKS Kota Sigli, tim LKC menggabungkan diri dengan tim kesehatan DPD yang juga gabungan dengan ikhwah BSMI Sumatra Utara, untuk segera mengadakan bakti sosial kesehatan di pos-pos pengungsi. Kawan-kawan dari BSMI Sumut ini sudah tiba sejak sehari pasca bencana. Menariknya, tidak satu pun dari mereka adalah dokter. Pemimpin pasukannya bahkan seorang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat USU yang mengaku sebagai dokter. Pasukannya adalah 5 orang akhwat dari berbagai fakultas di USU. Tapi pasukan ini sudah melewati perjalanan cukup berat mengadakan baksos di tempat pengungsian sebelumnya. Salah satu yang paling rawan adalah mereka pernah mengadakan perjalanan menuju pos pengungsi untuk mengadakan baksos di sebuah daerah pegunungan yang rawan GAM, yakni di derah Batee. Akhwatnya harus jatuh bangun mendaki gunung yang cukup licin. Subhanalloh. Mereka tim yang cukup berani. Pos pengungsian yang ada memang berada dekat Posko Marinir. Tetapi seharusnya lebih rawan kontak senjata dengan demikian.

Tim dari DPD Kota Sigli sendiri dipimpin oleh sang istri Ketua DPD, seorang mahasiswa kedokteran Unsyiah Banda Aceh. Mereka pasangan baru menikah. Rumah pasangan suami-istri ini sendiri sebenarnya rusak terkena bencana, namun mereka tidak larut dalam kesedihan itu, dan segera bergerak mengkoordinir bantuan untuk daerah mereka. Tim gabungan ini bergerak menggunakan ambulans LKC dan mobil kijang ACT menuju pos-pos pengungsian di Kecamatan Ulim, Kabupaten Pidie. Navigator kami adalah sang ketua DPC Kec. Meureudu, seorang Bapak berusia 45 tahun yang tidak kenal lelah mengantarkan para relawan setiap harinya.

Kami memulai mendirikan posko untuk pemeriksaan kesehatan di sebuah sekolah di Kecamatan Ulim, sekitar pukul 11.00 WIB. Jumlah pasien yang dilayani sekitar 50-60 orang, mulai dari balita hingga dewasa. Untungnya kami membawa ambulans LKC dari Ciputat. Sehingga kami bisa membawa pasien untuk dirujuk ke RSUD Sigli yang alhamdulillah tetap berfungsi penuh. Mayoritas penghuni ini berasal dari daerah tepat di pinggir pantai, dan sebagian berprofesi sebagai nelayan. Latar belakang ekonomi dan pendidikan mereka memang kurang. Sedikit sekali yang bisa berbahasa Indonesia. Untungnya kami membawa kader-kader PKS yang bisa menjadi penerjemah. Berbekalkan pendidikan yang minim, mereka juga tidak mengetahui kesehatan dengan baik. Kami merujuk seorang anak berusia sekitar 6 tahun yang terkena tetanus. Kerana ketidaktahuan si Ibu, anaknya yang sudah mengalami kejang hingga leher dan tidak dapat menggerakan mulutnya ini, dibiarkan saja. Untungnya kami bisa membawanya ke RS. Pasien lain yang kami rujuk adalah kakak anak laki-laki ini yang menderita gejala serupa namun tidak khas, dan anak lain yang mengalami kesulitan buang air kecil karena penyakit batu di saluran kemihnya.

Sebenarnya kami tidak puas dengan pelayanan kesehatan macam ini, karena sifatnya hit and run. Selesai mengadakan baksos sementara, kami meninggalkan tempat ini untuk mencari titik lain yang belum tersentuh pelayanan kesehatan. Idealnya dalam satu pos pengungsian terdapat satu posko kesehatan yang standby setiap harinya. Tugasnya tidak hanya mengobati pasien dengan penyakit khas seperti infeksi saluran napas atas (ISPA), diare, atau penyakit kulit saja, tetapi juga memberikan penyuluhan higiene dan sanitasi lingkungan yang baik, agar tidak terjadi wabah penyakit setelah beberapa lama berada di pengungsian. Kami juga tidak membawa persediaan susu bayi dan balita yang sesuai umur. Padahal mereka sangat membutuhkannya.

Titik kedua yang kami tuju adalah sebuah Sekolah Dasar yang dijadikan tempat pengungsian. Kegiatan kami tidak berbeda dengan pos sebelumnya. Sebagai titik terakhir hari itu kami mendatangi satu pos di Kecamatan Jangkabuya, masih di Pidie. Alhamdulillah, dua orang perawat dari Puskesmas setempat telah mendirikan posko kesehatan dan tinggal hingga sore hari. Kami sangat bersyukur, akhirnya ada kader kesehatan setempat yang telah bergerak. Kami tidak mengadakan pengobatan. Hanya mengunjungi seorang pengungsi yang berada di sebuah rumah penduduk, dan menjanjikan untuk dapat dirujuk keesokan harinya. Sudah hampir maghrib. Aku hanya teringat ketika menjumpai seorang bapak tua saat pengobatan di SD Kec. Ulim, ia menyampaikan dengan nada haru bahwa mungkin saat itu adalah saat pertama sekaligus terakhir kami bertemu.

Malam hari sekitar pukul 22.00, dengan sebuah perjalanan yang tidak direncanakan sebelumnya, kami bergerak menuju kota Banda Aceh. Ditemani tiga orang kader Kepanduan DPW Sumut yang telah direkrut ACT, kami melaju dalam mobil kijang di tengah kegelapan malam. Lewat tengah malam kami tiba di Lambaro, sekitar 3 km menuju Banda Aceh. Inilah tempat hampir semua relawan dari berbagai daerah berkumpul. Posko-posko berserakan di ruko-ruko yang ada. Mulai dari DPD PKS setempat yang menampung ratusan kader dari berbagai daerah termasuk dari Jakarta yang diberangkatkan dengan Hercules sore harinya, tenda-tenda BSMI yang berada di lapangan samping DPD tempat sekitar seratusan pengungsi berada, posko BAZNAS, PKPU, ACT, dan banyak lagi. Tidak lama berdiam diri, kami meneruskan perjalanan ke RS KESDAM Banda Aceh, satu-satunya RS di kota Banda yang berfungsi saat itu, untuk menemui pimpinan LKC yang sudah berada di sini sejak beberapa hari sebelumnya. Ia adalah seorang spesialis anak yang berangkat bersama rombongan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Depkes. Kembali ke Lambaro, kami melepas lelah di tenda posko PKS di lapangan.

Senin, 3 Januari 2005


Bangun saat subuh, kami melaksanakan sholat berjama’ah di masjid tepat di lapangan. Ba’da subuh, Ust. Zufar Bawazier memberikan kultum. Saat matahari telah bersinar cukup terang, kami mulai menyusuri kota Banda Aceh.

Itulah saat pertama kalinya aku melihat keadaan kota Banda yang rusak berat. Seminggu setelah bencana, Masjid Baiturrahman sudah bersih dari jenazah. Sehingga kami tidak mencium bau mayat. Memang Alloh menjaga masjid ini. Tidak tampak satu kerusakan pun pada masjid. Hanya menara yang berjarak kira-kira 20 meter di depannya yang retak seakan hendak runtuh karena gempa tektonik, dan tempat wudhu tidak bisa digunakan. Masjid ini sudah agak sepi. Mereka yang menempati bagian dalam masjid adalah kawan-kawan FPI. Mereka juga mengadakan apel pagi di depan masjid. Beberapa tenda terletak di samping kanan masjid, namun tidak ada satu pengungsi pun, hanya relawan. Tepat di samping kiri masjid terdapat kompleks Pasar Atjeh yang belum dibersihkan. Puing-puing masih memenuhi jalan sepanjang pasar ini.

Aku tidak mencatat jalan-jalan yang kami lalui. Yang jelas kami meneruskan perjalanan ke arah timur masjid, melewati kompleks ruko di kiri jalan. Satu deretan ruko yang terdiri atas tiga rumah bahkan tampak amblas ke tanah. Sehingga yang telihat hanya mulai lantai dua dan tiganya saja. Mudah-mudahan tidak ada yang terkurung di dalam lantai satu yang masuk ke tanah itu. Kami melewati Plaza Pante Perak, satu-satunya mal terbesar di kota Banda, yang runtuh terkena gempa tektonik. Kami juga melintasi jalanan di depan RSU Zainal Abidin yang saat itu masih belum berfungsi, PLN Kota Banda, sampai daerah Asrama BRIMOB yang terletak di pinggir pantai. Memang kami tidak menemukan mayar berserakan di pinggir jalan, dan jalan-jalan yang kami lalui relatif mudah karena sudah dibersihkan. Sekitar dua jam kami berputar-putar, akhirnya kami memutuskan kembali ke Sigli.

Melewati jalan berliku-liku tajam di Pegunungan Seulawah, memasuki batas dengan Pidie, kami dicegat oleh TNI AD bersenjata. Ereka mengadakan razia dan meminta setiap orang yang berada dalam mobil untuk keluar, dan mereka mencoba menggeledah seisi tubuh untuk mencari adakah barang-barang berbahaya. Rupanya baru terjadi kontak senjata antara GAM dengan TNI di daerah tersebut. Lolos melewati pemeriksaan, kami meluncur menuju posko yang berseberangan dengan DPD. Hari ini kami kembali melakukan pengobatan di Kec. Meureudu, tempat asal Ketua DPC sang navigator kami. Seperti sehari sebelumnya, hanya hit and run di sebuah lokasi panti asuhan yatim-piatu. Hal menggembirakan yang kami temui adalah banyak pos pengungsi yang tidak jadi kami lakukan pengobatan di dalamnya, karena telah terisi oleh Posko Kesehatan lain, khususnya dari Puskesmas setempat. Sepertinya mulai hari Senin ini, Dinas Kesehatan telah mengerahkan perangkat-perangkat Puskesmasnya untuk aktif bergerak di pos-pos pengungsian. Alhamdulillah. Malamnya kami kembali ke Posko Utama ACT di kota Lhokseumawe.

Perjalananku sejauh ini cukup menarik, karena ditemani orang-orang yang “unik”. Ada seorang fotografer khas “peliputan konflik dan bencana” juara pertama lomba foto Suara Surabaya. Ia telah menemani perjalanan ACT saat konflik di Ambon, gempa Nabire, dan tempat-tempat lain. Sehingga Akhi satu ini bisa bercerita pengalamannya di tengah-tengah hujan peluru kota Ambon, gempa berulang di Nabire, informasi dari rekan-rekan wartawan, dan bagaimana cara membedakan senapan terisi peluru karet atau tajam. Lainnya adalah beberapa orang pemuda kepanduan terlatih dari DPW Sumut. Kemudian markas kami yang cukup canggih, dilengkapi dua perangkat komputer lengkap, peta daerah yang cukup mendetil, penguasaan navigasi lapangan, perangkat komunikasi, dan transportasi “cepat-tanggap” yang menunjang.

Selasa, 4 Januari 2005

Kali ini kami menyusuri daerah sekitar Lhokseumawe, yakni menuju Lok Sukan, Aceh Utara. Kebetulan tim kami telah diperkuat oleh dua orang dokter spesialis anak dari IDAI yang tiba dari RS KESDAM malam sebelumnya. Kami menuju pos pengungsi yang terkonsentrasi di Kec. Seunuddon. Lokasi ini berada tepat di depan Puskesmas dan beberapa kantor instansi pemerintahan lain, sehingga pendataan dan bantuan cukup baik. Dokter-dokter anak kami sempat membantu seorang balita yang menderita diare akut dengan dehidrasi sedang-berat. Alhamdulillah, akhirnya infus bisa terpasang. Setelah memberikan bantuan dari IDAI beberapa dus sarung, pembalut wanita, dan pakaian lain, kami menuju pantai Seunuddon.

Di sepanjang kiri-kanan jalan, banyak ditemui bendera merah-putih terpasang. Sepertinya ini adalah hasil ‘pemaksaan’ TNI kepada penduduk setempat untuk memasang bendera. Meneruskan perjalanan, Masya Alloh, daerah penduduk yang berada di sekitar pantai ini memang rusak dan sepi. Kami masih mencium bau busuk di beberapa tempat, namun tidak melihat adanya mayat. Jalan menuju daerah ini memang dijaga marinir, tetapi kami diijinkan lewat. Saat menyentuh pasir pantai, kawan navigator dari kepanduan menjelaskan bahwa ini bukanlah pasir pantai, tetapi pasir yang berasal dari laut dalam. Hal unik lain yang kami temukan adalah banyaknya kucing lucu berkeliaran di tempat ini. Tampaknya mereka kehilangan majikannya. Dan… jangan-jangan mereka makan mayat manusia selama ini?

Hingga menjelang maghrib, kami meninggalkan tempat ini. Namun sebelum pulang, seorang pria berkendaraan motor meminta kami menuju rumahnya, untuk menjemput seorang kerabatnya yang terkena musibah dan saat ini tidak sadarkan diri. Sampai di rumahnya, kami agak sulit mendiagnosis penyakit sesungguhnya yang diderita, antara tetanus tidak khas dengan stroke hemoragik. Yang jelas ditemukan adalah penurunan kesadaran dan ileus paralitik. Ini adalah kegawatan. Ambulans segera meluncur membawa pasien menuju RS Cut Meutia Lhokseumawe yang berfungsi penuh. Sayangnya sesampai di IGD, tidak satu pun dokter nampak, baik triase, apalagi spesialisnya. Akhirnya kami merujuk untuk pemeriksaan radiologi, dan setiba dokter triase, seorang wanita, kami pamit dari IGD RS. Kabar yang kami terima keesokan harinya, pasien laki-laki berusia sekitar 60 tahun ini meninggal dunia dini hari. Tidak jelas apa diagnosisnya.

Rabu, 5 Januari 2005

Tidak banyak yang kami lakukan hari ini. Pagi hari hanya mengunjungi lokasi pengungsi yang terpusat di pusat Kota Lhokseumawe, yakni Lapangan Hiraq. Tampak satu Posko Kesehatan melayani pasien mengantri yang umumnya terdiri dari wanita dan anak-anak. Dua dokter anak kami membantu melayani beberapa puluh pasien anak. Posko ini dibuka oleh Dinas Kesehatan setempat. Kondisi pengungsi juga sudah berangsur-angsur kembali ke daerahnya masing-masing, sehingga lapangan tidak sepadat hari-hari sebelumnya. Dua hari sesudahnya lapangan ini sudah bersih dari pengungsi. Kami hanya mendapatkan fakta dari seorang pengungsi yang mengeluh ketika kerabatnya dibawa ke RS Militer setempat, ia harus menebus obat dengan sejumlah uang. Padahal kebijakan saat itu di seluruh Aceh (seharusnya), semua pengungsi mendapatkan pelayanan kesehatan dan pengobatan gratis di RS. Ini yang kami jumpai di RS Sigli dan Cut Meutia. Seharusnya RS Militer memberlakukan hal serupa. Berarti masih ada oknum nakal yang berkeliaran.

Sampai malam hari kami tidak melakukan banyak aktivitas berarti. Hanya makan siang, makan malam, dan beristirahat di kota Lhokseumawe.

Kamis, 6 Januari 2005

Kami kembali bergerak! Paginya kami menuju lokasi masih di sekitar Lhokseumawe, tepatnya di sebuah penjara tidak terpakai. Kami bertemu dengan tim fresh graduated doctors dari Universitas Trisakti Jakarta yang siap mengadakan pengobatan di tempat itu. Kami pun meneruskan perjalanan ke Kabupaten Bireuen, siap untuk mengadakan pengobatan untuk pertama kalinya di daerah ini. Sesampai di Posko ACT di Kec. Matanggleumpang Dua, kami meminta data-data pos pengungsi dari DPD PKS setempat, dan meminta salah seorang kader untuk menjadi navigator perjalanan menuju kecamatan terujung sebelum Pidie. Setibanya di sebuah posko yang cukup besar, kami turun dan mendapati Posko Kesehatan terbesar yang pernah kami temui untuk ukuran sebuah pos pengungsi. Di posko ini, sudah dibagi-bagi poli untuk dewasa dan anak-anak. Saat itu relawan kesehatan yang mengisi berasal (tampaknya) dari Taiwan. Seorang laki-laki dan wanita menghibur pasien yang sedang mengantri giliran dengan lagu-lagu berbahasa Mandarin. Mereka membawa penerjemah untuk mengadakan pengobatan tentunya. Beberapa hari kemudian, aku melihat relawan kesehatan dari Palang Merah Prancis. Posko ini mungkin menjadi favorit relawan asing.

Setelah fotografer kami mengambil beberapa foto, kami menuju pos pengungsi yang tidak terisi tim medis di sebuah lumbung padi tidak terpakai. Kami melayani sekitar 80 pasien sore itu. Dilakukan rujukan ke RS Sigli terhadap pasien anak laki-laki dengan abses terinfeksi di lengan dan tangannya, dan anak perempuan dengan kelenjar getah bening leher membentuk abses.

Malamnya kami kembali ke Posko.

Jum’at, 7 Januari 2005

Hari ini kami sangat santai. Kami merasa nanggung jika harus bepergian, karena ingin melaksanakan sholat Jum’at di masjid. Kami hanya menginventaris obat yang tersisa, dan membuat form resep baru yang sudah habis, juga mendata penyakit pasien dalam pengobatan-pengobatan sebelumnya.

Namun kami punya kisah menarik malam harinya. Relawan kami yang di awal ceritaku ini meninggalkan istrinya tengah hamil tua, melahirkan dengan selamat lewat tengah malam di Puskesmas Manggarai, Jakarta Selatan. Sang suami yang berada ribuan kilometer jauhnya membimbing sang istri. Untungnya pulsa SIMPATI TELKOMSEL digratiskan selama beberapa hari di kawasan Aceh ini, menelepon kemanapun. MENTARI SATELINDO hanya memberikan diskon hingga 75% sampai akhir Januari 2005.

Ternyata bukan relawan kami saja yang mendapatkan buah hati baru saat berada di sini. Seorang anggota Kepanduan yang menjadi relawan ACT juga dikaruniai seorang bayi wanita pada Selasa malam. Dan ia baru mengetahui bahwa istrinya telah melahirkan pada hari Jum’atnya, dengan telepon genggam yang dipinjamkan kawannya, karena Akh Kepanduan DPW Sumut ini tidak memiliki ponsel. Sama-sama anak kedua, sama-sama anak perempuan. Subhanalloh, alhamdulillah. Mereka adalah pasangan da’I-da’iyah yang saling merelakan kepergian sang suami untuk tujuan da’wah. Pelajaran sangat berharga bagiku.

Sabtu, 8 Januari 2005

Mengikuti rombongan ACT, kami singgah sebentar di Kota Sigli, dan meneruskan perjalanan hingga Banda Aceh. Tidak ada aksi sosial yang kami lakukan. Bagiku hanya mengunjungi Kota Banda untuk kedua kalinya. Tidak ada yang istimewa. Namun aku senang bisa bertemu kawan-kawan sejawatku dari FKUI angkatan ’98 yang pergi bersama PMI, di jalanan kota Lambaro. Malamnya menginap di Posko DD di Banda Aceh.

Ahad, 9 Januari 2005

Kembali ke Lhokseumawe. Siap-siap kembali ke Jakarta keesokan harinya dengan pesawat dari Medan. Maka aku dan seorang kawan kepanduan yang rumahnya di Medan menempuh perjalanan ke Medan menggunaan minibus L-300 carteran. Sampai malam hari di Medan, aku menginap di rumah. Keesokannya aku bisa melihat anak keduanya yang baru lahir Selasa lalu.

Senin, 10 Januari 2005

Mengambil tiket yang dititipkan pada salah seorang aleg DPRD Prov. Sumut. Pengalaman bisa mengunjungi kantor Fraksi PKS DPRD Sumut, dan bertemu para ikhwah pejuang. Menuju Bandara Polonia, terbang dengan Adam Air, sampai di Soekarno-Hatta pukul 14 lewat. Alhamdulillah.

Rancananya tim dokter LKC akan diteruskan oleh dr. Yahmin Setiawan.

Beberapa Pesan untuk Perjalanan ke Depan

Bisa dikatakan fase emergency telah terlalui. Kini kita memasuki fase recovery di NAD. Butuh waktu cukup lama untuk fase ini. Masalah koordinasi dan komunikasi antar elemen bantuan di Aceh belum terlaksana baik sampai saat ini. Satu hal yang menjadi perhatian kami adalah terpusatnya para relawan di kota Banda Aceh dan sekitarnya (Kab. Aceh Besar). Padahal para pengungsi justru menyebar keluar Kota Banda, khususnya di Pidie dan Bireuen. Sehingga diharapkan para lembaga baik pemerintah maupun NGO bisa melakukan pemerataan bantuan. Kami dari LKC-ACT DD REPUBLIKA bersyukur memiliki kendaraan sendiri, yang sangat memudahkan dalam menjelajahi ratusan kilometer setiap harinya, sebagai mobile medical unit. Kami pun mengisi kekosongan daerah-daerah yang tidak terjelajah oleh kawan-kawan di Banda Aceh, bekerja sama dengan ikhwah setempat.

PKS memegang peranan penting dalam hal ini. Jaringan PKS tersebar sangat rapi dan meratanya di seluruh daerah NAD, mulai dari Aceh Timur, Utara, sampai Aceh Besar. Dalam sebuah kolom khusus Harian Serambi Jum’at lalu, dijelaskan bahwa banyak lembaga yang mengirimkan bantuannya ke Aceh akhirnya menyalurkan bantuannya untuk sampai langsung ke tangan masyarakat lewat PKS. Jika melintasi jalan lintas Sumatra mulai dari Medan sampai Banda Aceh, akan terlihat jenis kendaraan terbanyak yang lewat adalah yang menggunakan bendera PKS. Adanya kader-kader yang asli daerah setempat juga memudahkan komunikasi denagn penduduk.

Kini tinggal disusun langkah jangka panjang ke depan. Khusus untuk masalah kesehatan yang menjadi profesi saya, mengusulkan untuk mengaktifkan kembali semua infrastruktur kesehatan yang ada, dan alhamdulillah pada kenyataan di lapangan berangsur-angsur mulai pulih. Upaya pencegahan wabah masih harus menjadi prioritas pada saat ini, sampai fase kritis terlalui.

Di masyarakat Aceh sendiri, lebih aman dikenali oleh GAM sebagai PKS, dibandingkan sebagai pro-RI. GAM tidak akan menyerang PKS, karena mereka tahu siapa PKS. Ini adalah keunggulan tersendiri.

Wallahu a’lam.
Penulis adalah Kader DPC Cempaka Putih, saat ini tinggal di Serpong, Tangerang. Memiliki blog pribadi di http://arifianto.blogspot.com dan administrator pada website http://www.asysyifaa.uni.cc

Saturday, November 20, 2004

Rumitnya Jadi Dokter di Indonesia…

Dokter pelit bicara? Terlalu sibuk dan menerima pasien terlalu banyak?

Seorang dokter mengajak kita menggunakan teropong yang lebih jernih dengan perspektif yang lebih luas. Mari mulai dengan sekolah dokter saja dulu. Seorang profesional pada usia 31 tahun mungkin sudah jadi lawyer sukses, manager di posisi kunci, atau konsultan di international firm yang jam bicaranya dibayar sudah dalam hitungan ratusan dolar. Diperlukan waktu 6 hinnga 7 tahun untuk menamatkan sekolah dokter. Ditambah dengan wajib kerja sosial untuk dokter umum sebelum buka praktik sendiri.

Kalau dia mau melanjutkan ke spesialis, perlu biaya tingi dan mungkin akan selesai dalam waktu 4 sampai 6 tahun. Rata-rata waktu yang dibuang untuk ‘membeli’ ilmu spesialis adalah 12 tahun.

Berapa tarif bicara ketika ia lulus? Bergantung tempatnya praktik. Dokter umum paling-paling menetapkan Rp20.000 hingga Rp25.000, bahkan hanya Rp5.000 di klinik-klinik kecil di pinggiran kota atau kota kecil. Untuk spesialis, sekitar Rp40.000 hingga termahal Rp250.000 per pasien untuk suatu konsultasi yang memakan waktu bervariasi dari 5 menit hingga 1 jam bicara. Konon, ini adalah tarif termurah di Asia. Belum lagi bila Anda memilih jadi dokter spesialis tertentu yang membutuhkan waktu pemeriksaan relatif lama, mendalam, dan menghadapi penyakit berisiko tinggi seperti spesialis penyakit dalam, jantung, atau saraf. Tarifnya akan sama saja dengan spesialis lain yang bersifat lebih ‘enteng’ dalam hal risiko namun ‘basah’ dalam hal jumlah pasien yang membutuhkan seperti dokter spesialis kulit kosmetik. Dokter penyakit dalam, yang sekolahnya lebih lama, ilmunya lebih kompleks, serta memerlukan waktu lebih lama untuk memeriksa, akan sama saja dihargai dengan dokter spesialis kulit kosmetik atau dokter gigi spesialis yang mendapat honor dua sekaligus: konsultasi dan tindakan.

Pendek cerita, bila seorang dokter spesialis hendak menampung honor konsultasi yang memadai, dia harus banyak menerima konsultasi. Tidak mungkin ia praktik 24 jam sehari. “Menerima 6 sampai 7 pasien saja sudah lelah bukan main,” ujar seorang dokter spesialis penyakit dalam. Dapat dimaklumi bila ada oknum dokter yang seolah-olah dikejar setoran dan kemudian kehilangan kontak intim dengan pasiennya.

Namun, minimnya waktu untuk berkomunikasi bukan satu-satunya masalah. Mahalnya harga obat pun ditudingkan kepada dokter (konon 245% dari harga obat adalah untuk komisi dokter) dan harga obat di Indonesia dihitung tertinggi di Asia Tenggara. Namun, berapa pun mahalnya, konsumen tetap menebusnya. Sementara di sisi lain, proses panjang untuk mendapatkan profesi dokter jarang dimaklumi dan tarif mereka rentan kritikan.

Padahal, yang juga perlu dikritisi adalah regulasi yang membuat harga obat melangit. Jarang ada pihak yang menyadari mengapa sampai terjadi situasi yang keruh ini. “Regulasi pemerintah membiarkan perusahaan farmasi bebas memproduksi berbagai jenis obat membuat setiap perusahaan bersaing ketat untuk setiap brand. Usaha mereka tidak akan jalan tanpa usaha-usaha komisi kepada siapa lagi kalau bukan kepada dokter yang meresepkan obat,” tambah dokter di atas.

Sebab, beda dengan obat bebas (OTC), larangan beriklan bagi obat-obat yang diresepkan membuat para pemasar mengincar dokter sebagai media untuk memperkenalkan brand mereka. Untuk satu jenis antibiotik saja, jumlah brand yang beredar sampai belasan. Beda dengan regulasi di negara seperti Australia dan Belanda, misalnya, yang hanya memberikan izin kepada satu perusahaan (satu brand) untuk memproduksi satu jenis obat sehingga persaingan tidak sehat dengan memberi komisi kepada dokter tidak perlu terjadi.
Padahal, masalah klasik yang masih berlaku di masyarakat adalah tetap memiliki harapan tinggi terhadap profesi ini. Dokter diharapkan bisa menjadi guru, mitra, sekaligus pelindung konsumen dari penyakit dan berbagai risiko medis. Dokter adalah manusia biasa, bukan dewa, yang juga punya keterbatasan sebagaimana manusia lain. Mereka tidak kebal terhadap godaan-godaan untuk memenuhi harapan lingkungannya. “Apakah masyarakat bisa menerima bila dokter naik bus? Bisa-bisa mereka dikira tidak pintar sehingga tidak laku.”

Diketik ulang dari artikel dalam rubrik “Healthy Trend” Majalah HEALTHY LIFE edisi 5/III, Mei 2004, dengan ijin tertulis dari pihak redaksi majalah Healthy Life via e-mail.

Monday, November 01, 2004

2010: The Odyssey Continues

Bagi yang pernah membuka blog-ku sebelumnya di http://spaceodyssey.blogspot.com (blog ini sudah tidak pernah di-update lagi sejak berbulan-bulan lalu), mungkin bisa menebak arah pembahasan judul di atas. Ini adalah kelanjutan atau sekuel dari film arahan Stanley Kubrick, “2001: A Space Odyssey”. Sebuah film klasik produksi MGM tahun 195.. Film yang sangat menakjubkan dalam pandanganku, karena aku tidak pernah membayangkan sebelumnya, Amerika sudah mampu membuat film dengan teknologi seperti ini pada tahun lima puluhan. Sedikit menceritakan, film yang diangkat dari novel karya Arthur C. Clarke ini berkisah tentang perjalanan pesawat luar angkasa “Discovery” menuju planet Jupiter. Pengarang cerita ini membayangkan (waktu itu) pada tahun 2001, manusia sudah mampu menerbangkan pesawat berawak manusia ke planet Jupiter. Sedangkan kita tahu sendiri, saat ini untuk mendarat di Mars saja, NASA hanya mampu menurunkan robot dalam pesawat tanpa awak. Sedangkan pesawat tanpa awak “Voyager” yang diluncurkan 40-an tahun lalu, kalau tidak salah, sudah melewati Jupiter. Inilah impian manusia sejak puluhan tahun lalu.

Film “2001: A Space Odyssey” sudah mampu memperlihatkan efek spesial visualisasi tokoh utama cerita yang melakukan jogging dalam 360 derajat ruang gravitasi. Aku membayangkan tekniknya mungkin dibuat dengan ruang berputar seperti “roda sangkar tikus” (rat race). Hanya saja kameranya dibuat berputar mengikuti si tokoh. Bisa membayangkan, kan? Imajinasi-imajinasi fiksi ilmiah dalam film ini antara lain perjalanan ruang angkasa yang sudah dibuat komersial pada masa itu, stasiun ruang angkasa yang menjadi pemberhentian sementara para penumpang yang sedang mengadakan perjalanan antar planet, komunikasi antar planet melalui telepon dan layar monitor yang memvisualisasikan orang-orang yang bercakap-cakap, dan last but not least: artificial intelligence.

Tokoh utama dalam cerita fiksi ini memang bukan sekedar sang awak yang salah satunya bernama David Bowman, diperankan oleh Keir Dullea, yang akhirnya diceritakan menghilang dalam perjalanan dengan kata-kata terakhirnya: “My God, it’s full of stars”. Tapi juga superkomputer dengan kecerdasan buatan yang mengendalikan seluruh sistem dan perjalanan “Discovery”, bernama: HAL-9000. O iya, sebelum lupa, karena perjalanan dari bumi menuju Jupiter yang memakan waktu dua tahunan, dan keterbatasan cadangan energi dan oksigen dalam pesawat, maka seluruh awaknya dibuat mengalami hibernasi, dan akan dibangunkan oleh HAL-9000 saat sudah mendekati Jupiter. Tokoh utama adalah dua orang yang dibangunkan terlebih dahulu. Sedangkan tiga awak lainnya mengalami pemutusan sistem kehidupan oleh HAL-9000 saat mereka dalam hibernasi. Satu hal menarik lagi dalam cerita ini: Arthur C. Clarke membayangkan suatu saat ini akan ditemukan teknologi untuk membuat makhluk hidup seperti manusia mengalami hibernasi buatan. Yakni dengan menekan serendah-rendahnya seluruh metabolisme, namun seluruh sistem vital tubuh masih dalam kendali.

HAL-9000 menjadi tokoh cerita yang sangat penting, karena artificial intelligence-nya digambarkan memiliki perasaan juga. Akhirnya HAL jugalah yang membunuh hampir seluruh awak manusia.

Film ini masuk dalam posisi teratas top ten film science fiction yang digemari oleh para ilmuwan, dalam sebuah polling di Inggris tahun ini. Posisi kedua adalah film Blade Runner yang dibintangi Harrison Ford (aku belum pernah menontonnya).

Nah, itu tadi “2001: A Space Odyssey”. Sedangkan “2010: The Odyssey Continues”, atau yang ada yang menuliskan juga “2010: The Year We Make Contact”, dibuat beberapa dekade sesudahnya, yakni pada tahun 1984. Film ini menceritakan perjalanan pesawat Rusia (di film ini masih disebut Uni Soviet, karena mereka belum membayangkan USSR akan pecah pada tahun 1991, dan tidak lagi menjadi negara adidaya menyamai USA) “Leonov” yang membawa tiga awak astronot: si pemimpin program perjalanan Discovery sembilan tahun sebelumnya, pencipta HAL-9000, dan seorang teknisi yang memahami seluk beluk Discovery yang digambarkan hilang dalam lintasan dekat Jupiter pada tahun 2001.

Misi pasukan ini adalah menemukan Discovery, mengaktifkan kembali HAL-9000 yang sempat dimatikan oleh astronot David Bowman pada perjalanan tahun 2001, dan mencari tahu sebab-sebab kejanggalan yang terjadi. O iya, satu faktor cerita yang masih menghubungkan dua sekuel ini adalah sebuah materi menyerupai batu hitam bernama monolith. Mengenai hal ini, aku tidak bercerita lebih dalam.

Pada akhirnya. Penonton bisa menyimpulkan sisi-sisi perasaan yang dimiliki artificial intelligence bisa sangat menyerupai manusia. Ketika akan dimatikan fungsi dan sistemnya, HAL dan SAL (satu komputer lagi yang dimiliki Dr. Chandra, pembuat HAL-9000, di ruang kantornya), bisa mengajukan pertanyaan, “Dr. Chandra, will I dream?”.

Inilah satu impian manusia yang masih terus dikembangkan hingga saat ini, yakni menciptakan kecerdasan buatan yang bisa menyamai pikiran manusia, lengkap dengan respon dan perasaannya. Dalam film buatan tahun 2001, lagi-lagi diinspirasikan oleh mendiang Stanley Kubrick sang sutradara Space Odyssey yang keburu meninggal, Steven Spielberg menyutradarai “AI: Artificial Intelligence”. Film yang menceritakan masa depan saat manusia mampu menciptakan robot-robot dengan kecerdasan buatan, bahkan memiliki bentuk fisik dan perasaan yang sangat mirip dengan manusia. Tokoh utamanya Haley Joel Osment yang terkenal pada awalnya melalui “The Sixth Sense”, adalah robot berwujud anak berumur 6-7 tahun, tinggal dalam sebuah keluarga pasangan yang telah kehilangan anak laki-laki satunya. Film ini akhirnya menyimpulkan “his love is real, but he is not”. Dan jika berbicara mengenai robot, aku juga teringat dengan film “The Animatrix”, yang menceritakan di masa depan bumi akan diisi oleh robot-robot berdampingan dengan manusia.
Tidak habis-habisnya memang membicarakan kecerdasan buatan. Dan jika Anda mengunjungi situs AI, di http://www.aimovie.com, pengunjung akan menikmati chatting dengan chatbot yang menggunakan artificial intelligence language yang sudah bisa dikembangkan saat ini, yaitu ALICE.

Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?

 (tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...