Begitulah kira-kira judul sebuah artikel berita di harian Pos Kota Selasa 28 Juni ini. Seorang wanita muda berusia 23 tahun menunjukkannya padaku, saat praktik sore di LKC kemarin. Isinya menceritakan satu kasus busung lapar yang ditemukan di Bekasi. Tidak hanya itu penyakit yang diderita bocah perempuan berusia dua tahun dua bulan dalam berita ini, anak yang berat badannya hanya 4,5 kilogram ini juga menderita hidrosefalus sejak lahir. Inilah kisah nyata yang dialami perempuan yang menyodorkan potongan koran itu padaku. Dan si bocah terbaring di tempat periksa di hadapanku.
"Waktu itu pintu rumah diketok-ketok. Ada wartawan Pos Kota yang datang. Saya hanya memakai daster saja. Saat mereka mau memotret, saya bilang mau ganti baju dulu. Mereka bilang tidak usah, Bu. Nanti yang masuk cuma gambar anaknya saja. Eh, ternyata foto saya juga masuk. Mereka bohong, " komentar si ibu yang memakai kerudung itu menunjukkan fotonya di koran. Aku hanya tersenyum geli melihat kepolosannya.
"Setelah itu ada banyak wartawan yang datang ke rumah. Kemarin sebelum saya ke sini, diwawancara dulu oleh TransTV, untuk acara 'Jeritan Hati'."
"Untuk yang akan diputar kapan, Bu?" tanyaku.
"Nggak tahu, tapi sepertinya cepat, tidak lama."
"Mereka kasih uang ke Ibu, nggak?" tanyaku lagi.
"Enggak."
"Tahu nggak, Bu," timpalku, "Mereka justru dapat duit dari Ibu lho. Ya, mereka kan jual berita yang memuat Ibu, dan dapat duit dari situ. Tapi mereka nggak kasih duit ke Ibu."
Sekilas kubaca berita yang dimuat di Pos Kota itu memang berkesan 'tidak cerdas'. Ya... khas Pos Kota dan koran-koran semacamnya lah. Dari paragraf pembukanya saja sudah merendahkan. Kurang lebih bunyinya 'malang benar nasib keluarga ini', dan seterusnya (aku tidak bisa mencari link berita ini di website-nya Pos Kota). Mengenai keadaan si balita yang 'tidak bisa menangis, apalagi tertawa' ini, bukan akibat busung laparnya, melainkan hidrosefalus-nya. Dan sebagian penderita hidrosefalus yang tidak disertai gizi buruk pun mengalami keadaan ini, akibat kerusakan di saraf otaknya. Makanya berita di koran ini yang intinya pada kasus gizi buruk jadi berkesan agak menyesatkan. Belum lagi nama si balita dan ayahnya yang salah ditulis.
"Dulu waktu dia dioperasi hidrosefalus di RSUD Bekasi, juga didatangi oleh RCTI. Tapi juga tidak diberikan bantuan," cerita si Ibu lagi.
Mungkin waktu itu memang hanya liputan saja, karena beberapa pasien kami di LKC yang menjalani operasi juga didanai oleh program-program macam Indosiar Peduli Kasih dan Jalinan Kasih RCTI.
"Yang mengoperasi dulu siapa, Bu?" tanyaku lebih lanjut. Si balita memang telah dua kali menjalani operasi untuk hidrosefalusnya, dan satu kali pembukaan selang di kepalanya. Berat badan lahirnya cukup baik, meskipun lahir prematur melalui operasi cesaria, karena janinnya kembar. Sang kembaran meninggal dalam kandungan. Dan sampai umur satu tahunan berat badannya masih normal, kemudian mengalami penurunan drastis. Nampaknya hidrosefalusnya lah salah satu pencetus gizi buruknya.
"Dokternya baik sekali, " komentar si Ibu akan dokter bedah saraf yang pernah mengoperasi anaknya, "waktu saya nangis karena bosan berada di rumah sakit terus-terusan. Terus dia nanya, Ibu kenapa menangis? Dia juga menanyakan Ibu butuh apa. Saya jadi curhat sama dia. Dokternya juga cerita, kalau dia mu'allaf, ikut istrinya yang hajjah."
"Ibu lulusan apa?"
"SMA. Suami saya lulusan SD. Dia cuma bisanya (jadi buruh) bangunan aja. Saya sendiri sudah kenyang di berbagai tempat. Di pabrik, jadi pelayan di Pizza Hut. Pernah juga ditawari kerja di RSUD Bekasi karena saya lama menunggu anak dirawat di sini. Bagian laundry-nya. Tapi saya tolak."
"Terus kenapa berhenti? Kan gajinya lumayan," tanyaku.
"Ya ngurus anak," jawabnya singkat.
"Dulu ketemu suami di mana, Bu?" sambungku mencari bahan pembicaraan, sambil menunggu si anak dinaikkan ke ruang rawat inap kami di lantai dua.
"Wah, dulu kami di kampung. Aneh deh. Nikahnya nggak pakai pacaran dulu."
"Lho, kok aneh?" timpalku, "teman-teman saya di LKC juga kebanyakan nikah tanpa pacaran," lanjutku ngalor-ngidul.
"Ih, dokter, jadi buat saya curhat aja."
Hehehe, tampaknya aku pandai membuat wanita mencurahkan isi hatinya
Inilah kasus gizi buruk kedua dari pinggiran Jakarta yang kami rawat. Yang pertama dari daerah Ciputat, sudah lebih dari dua pekan dirawat. Kasus dalam ceritaku ini berasal dari Bekasi. Menambah deretan kisah busung lapar di kawasan Jabotabek.
Banyak media massa yang memberitakan lambannya pemerintah menangani masalah ini. Makanya banyak lembaga swadaya masyarakat semacam Dompet Dhuafa yang berinisiatif menangani busung lapar. ACT dan LKC sebagai jejaring Dompet Dhuafa bekerja sama memberikan penanganan langsung terhadap penderita gizi buruk yang ditemui. Sebenarnya pasien yang kami tangani ini mendapat jaminan Gakin dari RSUD Bekasi, sehingga bisa berobat untuk penyakitnya. Anak ini pun bisa dioperasi dua kali di RS ini atas jaminan Gakin. Tapi kami tetap merasa perlu untuk begerak membantunya.
Sebuah tulisan di Kompas bertajuk 'Busung Lapar Bukan Kecelakaan'. Isinya menceritakan anggaran kesehatan pemerintah yang tidak mencukupi itu pun, masih ditambah dengan pelaksanaan program promotif dan preventif yang tidak seharusnya. Kejadian gizi buruk ini adalah dampak jangka panjang daripadanya. Dalam tulisan lain pun, audit biaya pada jaminan kesehatan masyarakat miskin juga menjadi masalah.
Gizi buruk bukanlah penyakit infeksi. Melainkan suatu keadaan yang sebenarnya sudah lama ada, namun tersembunyi dari liputan media massa. Akibat rendahnya pengetahuan dan tingkat pendidikan masyarakat kita akan gizi yang harus diberikan pada anak-anaknya, meskipun secara ekonomi berkemampuan, akibat kemiskinan rakyat yang tidak mampu, tidak mau, dan tidak mau tahu untuk membeli makanan tinggi protein, dan akibat pemerintah yang tidak pernah menjadikan sektor kesehatan dan pendidikan sebagai prioritas. Lihat saja berapa besar anggaran kesehatan dan pendidikan dalam APBN. Aku masih ingat kasus gizi buruk yang merebak pasca krisis ekonomi tahun 1997. Media massa mem-blow up-nya. Kemudian pemberitaan kasus ini hilang. Padahal sampai tahun 2002 saat aku masih menjalani pendidikan kedokteran di UI, masih bisa kujumpai kasus gizi buruk di bangsal rawat Anak RSCM.
Behkan satu jam sebelum pasien ini tiba di LKC, ada bayi kecil lainnya berusia enam bulan dengan gizi buruk juga, yang datang dengan keadaan gawat darurat: kejang yang kemudian dicurigai sebagai ensefalitis setelah kami rujuk ke RS Fatmawati, dan harus masuk High Care Unit (HCU) yang biayanya Rp. 80 ribu semalam. Padahal sebelumnya ia pernah berobat ke RS, namun karena dalam sehari sudah keluar Rp. 300 ribu, bayi dari ayah yang bekerja sebagai pengamen jalanan ini minta pulang saja. Keadaan si anak semakin buruk, dan dibawalah ke LKC.
Jika melintas di jalanan Sudirman-Thamrin, dari kaca jendela Patas AC 76 sulit kutemukan mobil yang tidak mewah. Tentunya dalam sehari bisa puluhan ribu mobil yang melintas. Artinya puluhan ribu orang Jakarta berpenghasilan dan berpendidikan menengah ke atas. Namun di luar itu, berkali-kali lipat lagi hanya mampu makan sekali dua kali sehari, tidak mampu berobat ke RS, dan meregang nyawanya akibat mati sakit.
Arifianto,
Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC)
Jl. Ir. H. Juanda no.34,
Ciputat Megamal D-01
Ciputat 15412
(021) 7416262
Wednesday, June 29, 2005
Sunday, June 26, 2005
Coba-coba pakai 'Mandarin Design'
Ini asli langsung copy-paste aja dari Mandarin Design.
Trus ini juga...
Lumayan... Hmmm...
Apalagi niy?
Waduh, aneh jadinya??!
MandarinDesign
BLOG
"For People Who Make Mistakes" ...
Udah ah, tidur dulu aja..
Full instructions
for making the first letter big are in the Drop Cap copy and paste style tutorial. For this one we forced the first big letter to span more than five lines. The font-size is adjusted to exactly 100 pixels while the line height is 80 pixels.
Trus ini juga...
Lumayan... Hmmm...
Apalagi niy?
Waduh, aneh jadinya??!
MandarinDesign
BLOG
"For People Who Make Mistakes" ...
Udah ah, tidur dulu aja..
Monday, May 09, 2005
The Fabric of The Cosmos: Space, Time, and The Texture of Reality
Awalnya membaca resensi buku ini di TIME edisi Maret kalau tidak salah. Edisi tersebut meresensi beberapa buku bestseller tahun 2004, yang awalnya hanya terbit edisi hardcover-nya saja, namun kini sudah ada paperback edition-nya. Tentunya lebih murah. Ada lima buku yang diresensi seingatku. Selain buku ini, sisanya novel fiksi. Kebetulan Tante ada kunjungan beberapa hari ke Amrik awal April kemarin, sekalian saja minta dibelikan. Sepertinya ia membelinya di Barnes and Noble dilihat dari plastik pembungkusnya yang diantar langsung oleh Om ke rumahku.
Buku ini secara umum berisi tentang fisika, suatu hal yang menarik minatku sejak SMP (dulu pernah bercita-cita masuk MIT, tapi tidak kesampaian :(). Kalau melihat dari koleksi buku-buku fisika populerku, mulai dari tiga buku tulisan Stephen Hawking (salah satunya tentunya “Riwayat Sang Kala”—terjemahan “A Brief History of Time” yang pernah menjadi international bestseller), seri terjemahan ‘for beginners’ yang memuat tema biografi Newton, Hawking, Teori Kuantum, sampai Chaos Theory (salah satu ide dalam Jurassic Park-nya Michael Crichton), dan beberapa buku astronomi-kosmologi Carl Sagan, orang tentunya mengira aku adalah penggemar fisika. Ya, sekedar suka dan punya minat saja, tapi tidak jago (dulu waktu kelas 3 SMU pengen banget ikut seleksi TOFI, tapi ga kepilih :(). Hanya seorang pemuda yang masih suka terbawa dengan khayalan masa kecilnya (penggemar serial TV Star Trek—dan punya buku terjemahan Fisika Star Trek-nya Lawrence M. Krauss, suka juga dengan Trilogi Star Wars serta film-film fiksi ilmiahnya Steven Spielberg macam “Close Encounters of The Third Kind” dan “E.T” serta “A.I”).
The Fabric of The Cosmos yang juga national bestseller ini (belum international bestseller macam “Da Vinci Code” lho) mungkin bisa disetarakan dengan ‘A Brief History of Time’-nya versi awal Milenium, dan Brian Greene juga bisa disejajarkan dengan Stephen Hawking. Dengan bahasa yang mudah dipahami oleh awam dan analoginya menggunakan tokoh-tokoh dalam serial TV populer (The Simpsons, The X-Files), buku ini memang benar-benar ditujukan untuk kalangan masyarakat umum, yang bahkan buta fisika sama sekali sebelumnya. Sampai saat ini aku belum selesai membaca buku setebal 569 halaman (termasuk indeks) ini. Tapi dari 100-an halaman yang sudah kubaca, isinya menjelaskan perkembangan ilmu fisika mulai dari jaman fisika klasiknya Newton, dilanjutkan oleh Einstein, Mekanika Kuantum, sampai akhirnya Superstring Theory. Greene yang juga seorang pakar teori adidawai (superstring) ini benar-benar mampu memaparkan ilustrasi yang sangat logis, sehingga pembaca dapat memahami (dalam bahasa Inggris tentunya :)). Fenomena satu keadaan pun dijabarkan mengikuti perkembangan teori fisika. Misalnya bagaimana perbedaan pandangan Newton dan Einstein terhadap sebuah ember yang terikat dalam seutas tali, dan dibiarkan berputar dalam ruang kosong. Newton menanggap ruang dan waktu adalah keadaan terpisah yang statis, dan Einstein memandangnya satu kesatuan space-time. Sampai akhirnya penulis menyimpulkan teori mana yang berlaku saat ini, dengan bukti-bukti ilmiah dan pemahaman logika sederhana yang ada.
Melihat dari beberapa babnya, ada beberapa judul yang cukup menarik para penggemar fiksi ilmiah. Semisal “Teleporters and Time Machines—Traveling Through Space and Time” (jadi ingat novel Timeline-nya Michael Crichton, yang mesin waktunya bisa men-scan manusia jadi semacam gambaran *.jpeg, dan mengirimnya melintasi waktu), dan menantang logika macam “Is Space a Human Abstraction or a Physical Entity”.
Overall, buku ini sangat menarik dan mencerdaskan. Aku masih berharap ada penerbit yang mau menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia (atau sudah ada yang sedang dalam proses ini?). Dari harganya pun lumayan murah, $ US 15.95 dengan stiker 20% off di sampulnya. Setidaknya aku menganggap buku ini birthday present dua hari lagi :).
Penutup, aku kutipkan sedikit pertanyaan menarik dari Brian Greene, yang profilnya bisa dicari di Google: “What is reality? We humans only have access to the internal experiences of perception and thought, so how can we be sure they truly reflect an external world?” Well, bagiku, sebagian jawabannya ada dalam otak kita. The mysterious brain. Lihat saja dalam VCD BBC Series’ “Brain Story”-nya Prof. Susan Greenfield (ini harus diresensi secara terpisah tampaknya :)). Ilmu manusia memang hanya seujung celupan jari ke dalam lautan ilmu Alloh yang tidak terhingga.

http://drarifianto.multiply.com
Buku ini secara umum berisi tentang fisika, suatu hal yang menarik minatku sejak SMP (dulu pernah bercita-cita masuk MIT, tapi tidak kesampaian :(). Kalau melihat dari koleksi buku-buku fisika populerku, mulai dari tiga buku tulisan Stephen Hawking (salah satunya tentunya “Riwayat Sang Kala”—terjemahan “A Brief History of Time” yang pernah menjadi international bestseller), seri terjemahan ‘for beginners’ yang memuat tema biografi Newton, Hawking, Teori Kuantum, sampai Chaos Theory (salah satu ide dalam Jurassic Park-nya Michael Crichton), dan beberapa buku astronomi-kosmologi Carl Sagan, orang tentunya mengira aku adalah penggemar fisika. Ya, sekedar suka dan punya minat saja, tapi tidak jago (dulu waktu kelas 3 SMU pengen banget ikut seleksi TOFI, tapi ga kepilih :(). Hanya seorang pemuda yang masih suka terbawa dengan khayalan masa kecilnya (penggemar serial TV Star Trek—dan punya buku terjemahan Fisika Star Trek-nya Lawrence M. Krauss, suka juga dengan Trilogi Star Wars serta film-film fiksi ilmiahnya Steven Spielberg macam “Close Encounters of The Third Kind” dan “E.T” serta “A.I”).
The Fabric of The Cosmos yang juga national bestseller ini (belum international bestseller macam “Da Vinci Code” lho) mungkin bisa disetarakan dengan ‘A Brief History of Time’-nya versi awal Milenium, dan Brian Greene juga bisa disejajarkan dengan Stephen Hawking. Dengan bahasa yang mudah dipahami oleh awam dan analoginya menggunakan tokoh-tokoh dalam serial TV populer (The Simpsons, The X-Files), buku ini memang benar-benar ditujukan untuk kalangan masyarakat umum, yang bahkan buta fisika sama sekali sebelumnya. Sampai saat ini aku belum selesai membaca buku setebal 569 halaman (termasuk indeks) ini. Tapi dari 100-an halaman yang sudah kubaca, isinya menjelaskan perkembangan ilmu fisika mulai dari jaman fisika klasiknya Newton, dilanjutkan oleh Einstein, Mekanika Kuantum, sampai akhirnya Superstring Theory. Greene yang juga seorang pakar teori adidawai (superstring) ini benar-benar mampu memaparkan ilustrasi yang sangat logis, sehingga pembaca dapat memahami (dalam bahasa Inggris tentunya :)). Fenomena satu keadaan pun dijabarkan mengikuti perkembangan teori fisika. Misalnya bagaimana perbedaan pandangan Newton dan Einstein terhadap sebuah ember yang terikat dalam seutas tali, dan dibiarkan berputar dalam ruang kosong. Newton menanggap ruang dan waktu adalah keadaan terpisah yang statis, dan Einstein memandangnya satu kesatuan space-time. Sampai akhirnya penulis menyimpulkan teori mana yang berlaku saat ini, dengan bukti-bukti ilmiah dan pemahaman logika sederhana yang ada.
Melihat dari beberapa babnya, ada beberapa judul yang cukup menarik para penggemar fiksi ilmiah. Semisal “Teleporters and Time Machines—Traveling Through Space and Time” (jadi ingat novel Timeline-nya Michael Crichton, yang mesin waktunya bisa men-scan manusia jadi semacam gambaran *.jpeg, dan mengirimnya melintasi waktu), dan menantang logika macam “Is Space a Human Abstraction or a Physical Entity”.
Overall, buku ini sangat menarik dan mencerdaskan. Aku masih berharap ada penerbit yang mau menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia (atau sudah ada yang sedang dalam proses ini?). Dari harganya pun lumayan murah, $ US 15.95 dengan stiker 20% off di sampulnya. Setidaknya aku menganggap buku ini birthday present dua hari lagi :).
Penutup, aku kutipkan sedikit pertanyaan menarik dari Brian Greene, yang profilnya bisa dicari di Google: “What is reality? We humans only have access to the internal experiences of perception and thought, so how can we be sure they truly reflect an external world?” Well, bagiku, sebagian jawabannya ada dalam otak kita. The mysterious brain. Lihat saja dalam VCD BBC Series’ “Brain Story”-nya Prof. Susan Greenfield (ini harus diresensi secara terpisah tampaknya :)). Ilmu manusia memang hanya seujung celupan jari ke dalam lautan ilmu Alloh yang tidak terhingga.
http://drarifianto.multiply.com
Sakaratul Maut
Pernahkah Anda mendampingi seseorang yang sedang menghadapi ajalnya?
Saya pernah, dan cukup sering, mendampingi mereka yang menghadapi saat-saat terakhir hidupnya, karena sakit yang dialami.
Pertama kali saya menghadapi kematian seperti ini saat masih kuliah dulu. Ketika dinas di bangsal atau Instalasi Gawat Darurat RS, pemandangan ini mulai menjadi sesuatu yang harus dibiasakan. Bahkan akhirnya menjadi sangat biasa. Dan seringkali—khawatirnya—membuat kita sebagai seorang muslim menjadi terlupa kan satu aspek paling penting: mengingat kematian. Dzikrul Maut. Penghancur segala kesenangan dunia.
Inilah yang paling dikhawatirkan. Ketika melihat orang sekarat dan meninggal menjadi suatu hal yang biasa, dzikrul maut bisa menjadi terlupakan. Padahal sepatutnya orang-orang yang dekat dengan kematian inilah yang paling mudah diingatkan akan kematian, yang kelak akan menjemputnya.
Mungkin ibaratnya sama dengan para penggali kubur. Dalam sehari bisa jadi mereka berulang kali memasukkan jasad kaku tak bernyawa, menjadikannya sebagai rutinitas belaka. Atau bagi mereka di kamar jenazah dan bagian Kedokteran Forensik.
Ketika kami melewati stase Forensik saat ko ass, tugas yang minimal dikerjakan saat jaga malam adalah menerima mayat yang masuk ke Ruang Jenazah RSCM, dan mencatat semua luka-lukanya. Tak jarang di antara kami mengerjakannya dengan perasaan dingin, tanpa perasaan sama sekali bahkan, menghadapi tubuh kaku yang masih segar. Meneliti setiap inci tubuh telanjang itu, membolak-balikkannya, dan sesekali menggoreskan pena di atas clipboard sambil mengeluh dalam hati
“Huh, mengganggu tidurku saja”.
Sama sekali tak terlintas dalam pikiran, mereka dahulunya adalah manusia sama seperti kita, dan kelak kita pun akan menjadi sama seperti mereka.
Karena saking biasanya kah?
Astaghfirullah.
Pernah pula saat aku masih mahasiswa tk. V di RSU Tangerang, saat itu Sabtu siang, seharusnya aku sudah bisa menikmati istirahat di kamar ko ass Rumah Mahasiswa FKUI. Tapi keadaan yang aku hadapi saat itu berkata sebaliknya.
Pasien wanita tua yang tidak sadar selama berhari-hari sejak aku menginjakkan kakiku di bangsal perawatan Penyakit Dalam, mengalami henti napas. Ia meninggal. Sesuai standar penanganan, aku harus melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) terhadapnya. Melakukan kompresi dada, sambil sesekali memberikan napas buatan lewat oxygen mask. Sungguh melelahkan, melakukan hal itu hingga belasan menit, belum bisa dihentikan, karena EKG masih menunjukkan aktivitas listrik jantung.
Tanpa kusadari aku ngedumel dalam hati. Astaghfirullah, aku lupa akan dzikrul maut. Karena aku mulai terbiasa?
Sekitar dua minggu lalu, selama dua malam berturut-turut, aku mendapat giliran jaga malam di LKC. Dan lumayan, tiga kematian dalam dua hari.
Setelah cukup lama tidak menemui kematian, kini aku menghadapinya lagi.
Beberapa hari sebelumnya, seorang perempuan muda yang mengalami komplikasi di paru-parunya—salah satu bagian paru-parunya sudah tidak berfungsi lagi—akibat TB paru, mengalami gagal napas. Kami membuat analisa, tampaknya inilah masa-masa terakhir hidupnya. Tidak ada yang bisa kami lakukan lagi.
Jika Anda pernah menyaksikan orang yang mengalami sakaratul maut dalam keadaan sesak napas, tampaknya sangat berat sekali. Seluruh otot napas tambahannya bekerja. Napasnya memburu, tidak habis-habisnya berusaha mengkompensasi kebutuhan oksigen. Berat sekali.
“Aduuuhh, mendingan mati saja daripada merasakan seperti ini… Capeek..,” erangnya. Astaghfirullah. Aku berdoa kepada Alloh agar menjauhkan dari sekarat seperti ini.
Lainnya adalah seorang pria tua yang kesadarannya menurun, dengan muntah dan BAB darah. Hemoglobinnya rendah. Ia meninggal saat sedang menjalani transfusi kantong darah pertamanya.
Pada malam terakhir, kembali waktu istirahatku diusik oleh kedatangan pria usia 30-an dengan kesadaran menurun dan sesak napas. Wajah dan tubuhnya tampak sianosis, membiru, menunjukkan kadar oksigen yang jauh berkurang. Tekanan darahnya sangat rendah. Ia mengalami syok. Segera kami melakukan tindakan pemberian cairan via infus, sambil memastikan diagnosis pada riwayat kelainan katup jantung.
Istrinya yang tampak tidak begitu panik aku berikan penjelasan.
Inilah masalah yang sering dihadapi dokter. Akibat komunikasi yang kurang baik, atau informed consent, seringkali keluarga pasien menyalahkan jika orang yang mereka cintai meninggal akhirnya. Apalagi terhadap pasien-pasien LKC yang seluruhnya adalah dhu’afa dan mengenyam pendidikan sangat rendah. Harus diberikan penjelasan sampai benar-benar mengerti. Suaminya saat ini sangat kritis.
“Ibu, tolong dibimbing suaminya. Asyhadu allaa ilaaha illallah, laa ilaa ha illallah.”
Perempuan tidak berkerudung yang membawa anak-anaknya yang masih kecil ini tampak ragu membacakan kalimat-kalimat ini di samping telinga suaminya. Suaranya sangat lirih, menyerupai bisikan.
Bagaimana sih ini Ibu, suaminya sedang sekarat kok ragu-ragu untuk dibimbing, gerutuku dalam hati. Aku benar-benar ingin bisa memanfaatkan momen ini sebagai dzikrul maut bagiku, dan membimbing orang lain sesuai Sunnah Rasul dalam menghadapi orang yang sekarat.
Beberapa upaya telah dilakukan. Konsul ke seniorku yang di Penyakit Dalam. Mengguyur dengan NaCl 0,9%, memasukkan dobutamin, oksigen senantiasa terpasang… Ia masih tampak sesak. Ya Alloh, berat sekali orang yang sekarat dalam keadaan sesak napas.
Kateter urin harus dipasang, agar imbang cairan bisa diukur.
Tidak berapa lama kemudian, pasien yang telah bertahun-tahun menderita kelainan jantung ini tiba-tiba memaksakan diri untuk bangkit. Ajaib, keadaan yang sewajarnya tidak terjadi. Ia malah kemudian terus mengoceh dan minta selang kencingnya dilepaskan sambil terus memprotes.
“Ya Alloh, ampun Dok, tolong dilepas, pegal sekali rasanya,” keluh laki-laki ini sambil berdiri.
Sampai kira-kira lebih dari sejam ia terus mengeluhkan masalah ini. Aneh juga, tadi dikira sudah hampir ‘pergi’, eh, kini malah ;menyusahkan’ saja. Astaghfirullah, kembali aku beristighfar. Luruskan niatmu menolong orang. Sudah konsekuensinya jaga malam tidak tidur karena pasien. Memang ini sudah tugasmu.
Detik terus berjalan. Sampai akhirnya ia tiba-tiba tidak sanggup lagi berdiri. Laki-laki ini berusaha keras agar matanya tidak terpejam, dan memaksakan untuk duduk. Tetapi kondisinya memang sudah lemah.
Tiba-tiba napasnya berhenti. O oh, saatnya RJP. Oke, kita mulai bagging dan kompresi dada. Tanpa aku ingat, si perawat membawakan set intubasi. A ha, mari amalkan ilmu ACLS-mu. Kucoba berulang kali memasukkan endotracheal tube ke dalam trakea pasien, mencoba mencari epiglotisnya. Jelas terlihat, tetapi ternyata mandrain-nya tidak ada! Lagi-lagi masuk esofagus, dan selalu regurgitasi tiap kali kompresi dada. Aduh, aspirasi nih. Suction…
Usaha kami tidak mengembalikan pasien. Alloh telah memanggilnya. Meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil, para pengamen cilik jalanan.
Ya Alloh, dengan keadaan seperti apa kelak aku menghadapi sakaratul mautku nanti?
Jadi ingat dengan do’a yang dibaca tiap habis sholat, …“Allohumma hawwin ‘alaina fii sakaarootil mauut, wannajaati minannaar, wal ‘afwi ‘indal hisab”…
Dan do’a Rabithah …”wa amithaa ‘alasysyahaadati fii sabiilik”… Ya Alloh, matikan kami dalam syahid di jalan-Mu.
Kalau tidak salah, pernah membaca hadits yang menceritakan bahwa saat seseorang menghadapi sakaratul maut-nya, maka syaitan akan berusaha mengajaknya kembali kepada kekafiran. Sehingga orang yang sholeh selama hidupnya pun akan bisa terbongkar pertahanan keimanannya.
Dari potongan hadits keempat dalam hadits ‘Arbain:
“Demi Alloh, Dzat yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya setiap kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta (dari siku sampai ke ujung jari). Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka.
Ada juga di antara kalian yang beramal dengan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dia dan neraka hanya sehasta. Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli surga, maka ia pun masuk surga (Riwayat Bukhari-Muslim)
Semoga Alloh swt. memberikan husnul khotimah untuk kita semua. Amin.
http://drarifianto.multiply.com
Saya pernah, dan cukup sering, mendampingi mereka yang menghadapi saat-saat terakhir hidupnya, karena sakit yang dialami.
Pertama kali saya menghadapi kematian seperti ini saat masih kuliah dulu. Ketika dinas di bangsal atau Instalasi Gawat Darurat RS, pemandangan ini mulai menjadi sesuatu yang harus dibiasakan. Bahkan akhirnya menjadi sangat biasa. Dan seringkali—khawatirnya—membuat kita sebagai seorang muslim menjadi terlupa kan satu aspek paling penting: mengingat kematian. Dzikrul Maut. Penghancur segala kesenangan dunia.
Inilah yang paling dikhawatirkan. Ketika melihat orang sekarat dan meninggal menjadi suatu hal yang biasa, dzikrul maut bisa menjadi terlupakan. Padahal sepatutnya orang-orang yang dekat dengan kematian inilah yang paling mudah diingatkan akan kematian, yang kelak akan menjemputnya.
Mungkin ibaratnya sama dengan para penggali kubur. Dalam sehari bisa jadi mereka berulang kali memasukkan jasad kaku tak bernyawa, menjadikannya sebagai rutinitas belaka. Atau bagi mereka di kamar jenazah dan bagian Kedokteran Forensik.
Ketika kami melewati stase Forensik saat ko ass, tugas yang minimal dikerjakan saat jaga malam adalah menerima mayat yang masuk ke Ruang Jenazah RSCM, dan mencatat semua luka-lukanya. Tak jarang di antara kami mengerjakannya dengan perasaan dingin, tanpa perasaan sama sekali bahkan, menghadapi tubuh kaku yang masih segar. Meneliti setiap inci tubuh telanjang itu, membolak-balikkannya, dan sesekali menggoreskan pena di atas clipboard sambil mengeluh dalam hati
“Huh, mengganggu tidurku saja”.
Sama sekali tak terlintas dalam pikiran, mereka dahulunya adalah manusia sama seperti kita, dan kelak kita pun akan menjadi sama seperti mereka.
Karena saking biasanya kah?
Astaghfirullah.
Pernah pula saat aku masih mahasiswa tk. V di RSU Tangerang, saat itu Sabtu siang, seharusnya aku sudah bisa menikmati istirahat di kamar ko ass Rumah Mahasiswa FKUI. Tapi keadaan yang aku hadapi saat itu berkata sebaliknya.
Pasien wanita tua yang tidak sadar selama berhari-hari sejak aku menginjakkan kakiku di bangsal perawatan Penyakit Dalam, mengalami henti napas. Ia meninggal. Sesuai standar penanganan, aku harus melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) terhadapnya. Melakukan kompresi dada, sambil sesekali memberikan napas buatan lewat oxygen mask. Sungguh melelahkan, melakukan hal itu hingga belasan menit, belum bisa dihentikan, karena EKG masih menunjukkan aktivitas listrik jantung.
Tanpa kusadari aku ngedumel dalam hati. Astaghfirullah, aku lupa akan dzikrul maut. Karena aku mulai terbiasa?
Sekitar dua minggu lalu, selama dua malam berturut-turut, aku mendapat giliran jaga malam di LKC. Dan lumayan, tiga kematian dalam dua hari.
Setelah cukup lama tidak menemui kematian, kini aku menghadapinya lagi.
Beberapa hari sebelumnya, seorang perempuan muda yang mengalami komplikasi di paru-parunya—salah satu bagian paru-parunya sudah tidak berfungsi lagi—akibat TB paru, mengalami gagal napas. Kami membuat analisa, tampaknya inilah masa-masa terakhir hidupnya. Tidak ada yang bisa kami lakukan lagi.
Jika Anda pernah menyaksikan orang yang mengalami sakaratul maut dalam keadaan sesak napas, tampaknya sangat berat sekali. Seluruh otot napas tambahannya bekerja. Napasnya memburu, tidak habis-habisnya berusaha mengkompensasi kebutuhan oksigen. Berat sekali.
“Aduuuhh, mendingan mati saja daripada merasakan seperti ini… Capeek..,” erangnya. Astaghfirullah. Aku berdoa kepada Alloh agar menjauhkan dari sekarat seperti ini.
Lainnya adalah seorang pria tua yang kesadarannya menurun, dengan muntah dan BAB darah. Hemoglobinnya rendah. Ia meninggal saat sedang menjalani transfusi kantong darah pertamanya.
Pada malam terakhir, kembali waktu istirahatku diusik oleh kedatangan pria usia 30-an dengan kesadaran menurun dan sesak napas. Wajah dan tubuhnya tampak sianosis, membiru, menunjukkan kadar oksigen yang jauh berkurang. Tekanan darahnya sangat rendah. Ia mengalami syok. Segera kami melakukan tindakan pemberian cairan via infus, sambil memastikan diagnosis pada riwayat kelainan katup jantung.
Istrinya yang tampak tidak begitu panik aku berikan penjelasan.
Inilah masalah yang sering dihadapi dokter. Akibat komunikasi yang kurang baik, atau informed consent, seringkali keluarga pasien menyalahkan jika orang yang mereka cintai meninggal akhirnya. Apalagi terhadap pasien-pasien LKC yang seluruhnya adalah dhu’afa dan mengenyam pendidikan sangat rendah. Harus diberikan penjelasan sampai benar-benar mengerti. Suaminya saat ini sangat kritis.
“Ibu, tolong dibimbing suaminya. Asyhadu allaa ilaaha illallah, laa ilaa ha illallah.”
Perempuan tidak berkerudung yang membawa anak-anaknya yang masih kecil ini tampak ragu membacakan kalimat-kalimat ini di samping telinga suaminya. Suaranya sangat lirih, menyerupai bisikan.
Bagaimana sih ini Ibu, suaminya sedang sekarat kok ragu-ragu untuk dibimbing, gerutuku dalam hati. Aku benar-benar ingin bisa memanfaatkan momen ini sebagai dzikrul maut bagiku, dan membimbing orang lain sesuai Sunnah Rasul dalam menghadapi orang yang sekarat.
Beberapa upaya telah dilakukan. Konsul ke seniorku yang di Penyakit Dalam. Mengguyur dengan NaCl 0,9%, memasukkan dobutamin, oksigen senantiasa terpasang… Ia masih tampak sesak. Ya Alloh, berat sekali orang yang sekarat dalam keadaan sesak napas.
Kateter urin harus dipasang, agar imbang cairan bisa diukur.
Tidak berapa lama kemudian, pasien yang telah bertahun-tahun menderita kelainan jantung ini tiba-tiba memaksakan diri untuk bangkit. Ajaib, keadaan yang sewajarnya tidak terjadi. Ia malah kemudian terus mengoceh dan minta selang kencingnya dilepaskan sambil terus memprotes.
“Ya Alloh, ampun Dok, tolong dilepas, pegal sekali rasanya,” keluh laki-laki ini sambil berdiri.
Sampai kira-kira lebih dari sejam ia terus mengeluhkan masalah ini. Aneh juga, tadi dikira sudah hampir ‘pergi’, eh, kini malah ;menyusahkan’ saja. Astaghfirullah, kembali aku beristighfar. Luruskan niatmu menolong orang. Sudah konsekuensinya jaga malam tidak tidur karena pasien. Memang ini sudah tugasmu.
Detik terus berjalan. Sampai akhirnya ia tiba-tiba tidak sanggup lagi berdiri. Laki-laki ini berusaha keras agar matanya tidak terpejam, dan memaksakan untuk duduk. Tetapi kondisinya memang sudah lemah.
Tiba-tiba napasnya berhenti. O oh, saatnya RJP. Oke, kita mulai bagging dan kompresi dada. Tanpa aku ingat, si perawat membawakan set intubasi. A ha, mari amalkan ilmu ACLS-mu. Kucoba berulang kali memasukkan endotracheal tube ke dalam trakea pasien, mencoba mencari epiglotisnya. Jelas terlihat, tetapi ternyata mandrain-nya tidak ada! Lagi-lagi masuk esofagus, dan selalu regurgitasi tiap kali kompresi dada. Aduh, aspirasi nih. Suction…
Usaha kami tidak mengembalikan pasien. Alloh telah memanggilnya. Meninggalkan istri dan anak-anaknya yang masih kecil, para pengamen cilik jalanan.
Ya Alloh, dengan keadaan seperti apa kelak aku menghadapi sakaratul mautku nanti?
Jadi ingat dengan do’a yang dibaca tiap habis sholat, …“Allohumma hawwin ‘alaina fii sakaarootil mauut, wannajaati minannaar, wal ‘afwi ‘indal hisab”…
Dan do’a Rabithah …”wa amithaa ‘alasysyahaadati fii sabiilik”… Ya Alloh, matikan kami dalam syahid di jalan-Mu.
Kalau tidak salah, pernah membaca hadits yang menceritakan bahwa saat seseorang menghadapi sakaratul maut-nya, maka syaitan akan berusaha mengajaknya kembali kepada kekafiran. Sehingga orang yang sholeh selama hidupnya pun akan bisa terbongkar pertahanan keimanannya.
Dari potongan hadits keempat dalam hadits ‘Arbain:
“Demi Alloh, Dzat yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya setiap kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni surga hingga jarak antara dia dengan surga hanya sehasta (dari siku sampai ke ujung jari). Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka.
Ada juga di antara kalian yang beramal dengan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dia dan neraka hanya sehasta. Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli surga, maka ia pun masuk surga (Riwayat Bukhari-Muslim)
Semoga Alloh swt. memberikan husnul khotimah untuk kita semua. Amin.
http://drarifianto.multiply.com
Wednesday, April 13, 2005
Catatan Perjalanan Nias: 30 Maret -7 April 2005
Kembali terjadi bencana alam di negeri ini. Senin malam 28 Maret lalu, gempa tektonik berkekuatan 8,4-8,6 SR mengguncang Kepulauan Nias di Sumatra Utara dan Pulau Simeuleu di NAD. Aku mengetahui berita ini Selasa paginya di televisi selepas jogging, sesuatu yang amat jarang kulakukan. Segera browsing di situs earthquake.usgs.gov setelah membaca detik dot com, dan memang getaran ini terdeteksi hingga di Amrik sono. Dalam hati sempat terlintas, sepertinya sebentar lagi akan ada yang meminta aku segera pergi ke lokasi bencana. Ya, tiga bulan sebelumnya aku sempat diminta pergi ke NAD tiga hari setelah tsunami. Dan… aku melewati lebih kurang 10 hari melintasi Lhokseumawe-Banda Aceh sebagai tim kesehatan sebuah LSM. Kini, tiga bulan berselang, bencana kembali terjadi, firasat aku akan segera menuju lokasi bencana menguat.
Benar juga. Sekitar pukul 10.00 aku menerima SMS dari LKC, tempat aku bekerja sebagai dokter praktik, menanyakan apakah aku bersedia pergi sebagai relawan medis ke lokasi bencana di Nias. Koordinator Layanan Luar Gedung lembaga ini juga menanyakan apakah aku bisa mencari seorang kawan dokter lagi yang bisa diajak ikut serta.
Keesokan harinya, pergilah aku dan dr. Anjas Asmara, sejawat sejak melewati masa-masa studi di FKUI selama 6 tahun ke Medan, Sumatra Utara, untuk kemudian menuju Pulau Nias. Setelah malamnya aku masih sempat dinas di LKC. Inginnya bisa istirahat agar paginya memiliki cukup energi untuk melakukan perjalanan. Tapi seorang pasien dengan muntah darah cukup menghabiskan waktu, sehingga tidak sempat beristirahat banyak.
Rabu pagi 30 Maret, aku, Anjas, dan Adi seorang perawat LKC, menuju bandara Soekarno-Hatta, untuk lepas landas ke Medan. Sebelumnya, minum klorokuin dua tablet dulu, karena Nias endemi malaria. Sesampainya di Bandara Polonia pukul 09.00, menunggu sebentar jemputan dari kawan-kawan ACT—Aksi Cepat Tanggap—DD Republika, yang mengirim kami bertiga ke tempat ini. Sebenarnya LKC hanyalah lembaga yang menyalurkan tenaga kesehatan saja, sedangkan ACT-lah yang memiliki core competence untuk disaster management. Jadi kami bergerak selaku ACT-Medis. Sebuah mobil kijang ACT dengan plat B menjemput kami hampir sejam sesudahnya. Ikun dan Pak Hendra, dua orang anggota ACT yang sudah berangkat dari Jakarta sehari sebelumnya, menjemput kami. Kami bertiga sudah bertemu saat penanganan bencana di Aceh sejak berangkat dari Jakarta. Pengemudi mobil ini adalah sopir handal dari Medan, Bapak Yono, yang setia menemani kami sejak dari Aceh. Dua orang penumpang lainnya adalah relawan ACT Medan yang bertugas di Sigli dalam program WAKALA (Wanita Kepala Keluarga), ialah Lita, seorang akhwat lulusan Sastra Arab USU. Dia ditemani adiknya Yeni yang masih kuliah di Akuntansi Univ. Muhammadiyah Medan. Dua orang akhwat Padang ini kebetulan lahir dan besar di Nias. Kedua orangtua mereka pun berada di sini. Sejak kejadian bencana dua malam sebelumnya, mereka belum berhasil mengontak sang ayah-ibu. Tapi mereka optimis kedua orangtuanya di Kota Gunung Sitoli selamat dari bencana. Tujuan kami membawa mereka juga untuk mengatasi kendala bahasa dan lokasi nantinya.

Pukul 10.00 segera kami melaju ke arah Sibolga dengan kecepatan tinggi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan laut menuju Pulau Nias. Aku benar-benar menikmati perjalanan darat ini. Inilah untuk pertama kalinya aku melintasi daratan Sumatra Utara. Mulai dari ibukota Medan, terus ke arah Selatan, melewati Danau Toba yang subhanalloh indahnya, lika-liku Tarutung menuju Sibolga yang medannya lumayan berat. Kami harus melewati jalan sempit dengan tikungan terjal diapit jurang dan pegunungan selama hampir dua jam. Sampai salah seorang dari anggota rombongan harus mengeluarkan isi lambungnya (not me, of course). Di daerah Tapanuli dan Batak Karo kami melihat banyak kuburan-kuburan Kristen yang besar-besar di kiri-kanan jalan, gereja-gereja yang dapat ditemui pada hampir setiap kilometernya, dan melewati satu upacara tradisional kematian penduduk Batak Kristen di salah satu tepi jalan, yang tentunya tidak dapat kita temui di kota seperti Jakarta. Sangat menarik. Sampai akhirnya kami tiba agak terlambat dari waktu yang direncanakan sebelumnya, sekitar pukul 19.30 di Sibolga. Kami berencana mengejar keberangkatan kapal laut jam 20.00 dari Pelabuhan Sibolga menuju Pulau Nias, dengan membawa satu mobil kijang yang kami harapkan bisa diangkut dengan kapal feri. Namun ternyata Alloh berkehendak lain. Tidak ada kapal feri yang berlabuh malam itu. Karena situasi bencana yang cukup dahsyat, transportasi laut ke Pulau Nias juga mengalami masalah. Setelah sedikit berembuk, kami putuskan untuk menaiki kapal penumpang saja, yang tidak bisa mengangkut mobil. Terpaksa Pak Yono dan mobilnya harus ditinggal di Sibolga dan kembali ke kantor ACT Medan. Kami mendapatkan tiket keberangkatan kapal kayu—istilah kapal penumpang yang menuju Nias, dan memang benar-benar terbuat dari kayu—yang dijadwalkan berangkat pukul 01.00 dini hari. Tapi katanya kapal akan berangkat jam 23.00, sehingga waktu menunggunya semakin singkat. Adanya sisa waktu ini kami manfaatkan untuk bebelanja kebutuhan pribadi, karena berdasarkan informasi yang kami dapatkan, sulit sekali mendapatkan beras dan bahan bakar di Nias.
Kapal laut ternyata mengalami keterlambatan keberangkatan. Aku sempat khawatir kapal ini tidak jadi berangkat, karena hingga pukul 01.00 masih belum berlayar juga. Sampai-sampai satu rombongan penumpang beretnis Cina meninggalkan kapal ini untuk mencari kapal lain yang katanya pergi lebih dulu. Informasi apakah kapal ini akan berangkat atau tidak benar-benar tidak jelas. Rombongan kami sendiri awalnya tidak mendapatkan ‘kursi’ di kapal ini, meskipun telah membayar karcis normal. Jadi penumpang yang menaiki kapal ini tampaknya memang sedikit melebihi muatan. Dengan adanya sekelompok orang yang pindah dari kapal ini, tanpa pikir panjang kami segera menempati jatah mereka untuk bisa berbaring.
Tiba-tiba sekitar pukul 03.00 kapal kayu ini berangkat. Inilah pengalaman pertamaku naik kapal kayu. Kendaraan ini adalah kapal yang sepenuhnya terbuat dari kayu, tapi cukup besar. Memuat penumpang sekitar 200-an orang. Ruangan terdiri atas ruang atas dan bawah, berupa bilik-bilik tidur berukuran kira-kira satu meter kali 175 cm yang dibatasi dengan nomor di kiri-kanan sisi kapal. Jadi untuk duduk tegak saja sulit di bilik-bilik ini, yang memang khusus dirancang untuk tidur saja, dengan risiko menyenggol penumpang lainnya di sebelah kita. Normalnya kapal memang berlayar malam hari, dan sampai di Pelabuhan Gunung Sitoli, Nias keesokan paginya. Jadi apalagi yang bisa dilewati si kapal penumpang seperti ini selain tidur saja? Di tengah lautan Samudera Hindia ini, goncangan ombak juga sangat terasa. Jadi posisi berbaring jauh lebih nyaman dibandingkan duduk, apalagi berdiri. Khususnya sangat terasa bagi mereka yang mabuk laut. Yah, sesekali terdengar suara orang muntah di satu sisi kapal. Benar-benar perjalanan pertama yang mengesankan.
Bersama kami di kapal ini ada serombongan Polisi BRIMOB berpangkat paling rendah, sekitar 20 orang. Tampaknya mereka diperbantukan dalam bencana di Pulau Nias. Terkadang lantunan lagu-lagu Peterpan dan Doddy Dores terdengar keras dari speaker dan TV karaoke dalam kapal. Hiburan yang tidak begitu menyenangkan. Dan yang paling membuatku muak dan mual adalah: asap rokok yang dihembuskan di mana-mana. Baik oleh penumpang pria maupun polisi-polisi prajurit itu. Hanya bisa bersabar dan beristighfar saja. Kapal ini juga memuat banyak karung beras di dek bawah. Apakah beras-beras ini memang ditujukan sebagai bantuan untuk bencana di sini, atau memang sengaja akan ditimbun dulu, wallahu a’lam.
***
Setelah melewati perjalanan tanpa banyak hal yang bisa dibincangkan, sampailah kami di Pulau Nias pukul 12.00. Tetapi kapal tidak bisa segera merapat. Hujan pun turun cukup deras. Dari kejauhan, kami melihat pinggiran pantai pelabuhan Gunung Sitoli yang subhanalloh indahnya. Dasarnya masih tampak biru, meskipun ada sedikit sampah yang mengambang. Sama sekali tidak bisa dibandingkan pelabuhan Tanjung Priok saat aku pernah mengunjungi Kepulauan Seribu. Sampai akhirnya pukul 13.00 kami merapat, dan ditimpa derasnya hujan, kami menurunkan muatan kami yang agak banyak, baik bekal pribadi maupun obat-obatan yang dibawa dari LKC Ciputat, dengan harus memasuki kapal kayu lain yang merapat di sebelahnya. Di pelabuhan cukup banyak tentara yang terlihat. Mereka berasal dari BRIMOB, ZENI, dan AL. Setelah mendapatkan ojek ‘kereta’, sebutan untuk sepeda motor di sini, untuk mengangkut kami, dan becak kayuh untuk mengangut barang-barang bawaan, kami menuju lokasi rumah Lita, sekitar pukul 13.30.
Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Gunung Sitoli, kehancuran tampak di mana-mana. Sebuah masjid dengan kubah hijau yang besar ambruk ke tanah. Pendopo di kanan jalan hanya tampak atap besanya saja. Sebuah bangunan pertokoan hampir rata dengan tanah, padahal katanya sebelumnya itu adalah bangunan delapan lantai. Masya Alloh, aku tidak bisa membayangkan jika bencana seperti ini menimpa pusat kota Jakarta. Na’uudzu billaahi min dzaalika. Melewati sebuah jembatan besar di Jl. Sudirman, kehancuran besar-besaran tampak lebih nyata. Hanya satu traktor sebagai alat berat yang bekerja mengangkat puing-puing. Upaya pencarian korban baik hidup maupun mati akan sangat sulit dan lama di tengah-tengah kehancuran seperti ini. Bangunan-banguan besar dan banyak, kekurangan alat berat, mempersulit evakuasi korban. Bau mayat masih belum begitu menyengat untuk ukuranku yang pernah terbiasa satu bulan lamanya di Bagian Forensik RSCM. Namun penduduk yang melintas sebagian mengenakan masker. Relawan-relawan dari berbagai LSM lokal maupun asing banyak terlihat. Tidak kalah banyaknya tentara yang memanggul AK-47. Mengevakuasi korban menggunakan AK-47? Oh, ternyata, kabarnya SBY datang ke Nias siang itu.

Kira-kira sejak kemudian sampailah kami di rumah orangtua Lita dan Yeni, setelah sebelumnya sempat singgah di kedai milik abang mereka, Bang Mendra. Ternyata kedua orangtua Lita sudah tidak berada di rumah, yang untungnya selamat dari bencana. Ayah-Ibu Lita ternyata baru saja meninggalkan pulau menuju Medan, untuk bertemu dengan kedua putrinya. Ya, tanpa kami sadari, sebenarnya kami berpapasan di pelabuhan.
Rumah yang dihuni orangtua Lita dan Yeni adalah sebuah rumah petak dengan satu ruang tamu, satu kamar tidur, dan kamar mandi sekaligus tempat mencuci. Rumah kontrakan ini berukuran kira-kira delapan kali 2,5 meter persegi, berada satu deret dengan sekitar total 10 rumah kontrakan berukuran sama lainnya. Semua rumah ini kosong ditinggalkan penghuninya yang mengungsi. Hanya rumah-rumah di seberang jalan yang masih dihuni. Lokasi perumahan ini tepat berbatasan dengan pantai, kira-kira hanya 10 meter dari laut. Jadi, kami sempat membayangkan jika tsunami menerjang, segera tersapulah kami! Tepat sekitar lima meter di hadapan perumahan ini, terdapat sebuah gedung sekolah swasta yang separuhnya sudah ambruk, dan tanah di depannya jelas tampak terbelah.

Sore harinya kami menjamak sholat dzuhur dan ashar. Untuk berwudhu, kami harus menggunakan kamar mandi milik tetangga yang memiliki sumur. Karena rumah yang kami tempati ini menggunakan air PAM, sedangkan instalasi air dan listrik tidak berfungsi sama sekali. Untuk mandi, kami bisa menimba air terlebih dahulu di sebuah sumur milik penduduk yang sebagian dinding ruangannya sudah roboh, namun untungnya sumur tidak tertimbun. Dalam keadaan seperti ini, penduduk desa saling membantu satu sama lain. Siapa saja boleh mengambil air dari sumur ini. Kami bisa mandi menggunakan air sumur, setelah menimba dan membawa air dengan ember, berjalan kaki sekitar 20 meter. Suara helikopter Chinook milik Singapura dan helikopter lain milik PBB tidak henti-hentinya mengusik keheningan.
Malamnya kami semua—laki-laki—beristirahat di lantai ruang tamu, dengan sedikit kekhawatiran jika terjadi gempa besar susulan. Alhamdulillah kami bisa menikmati nasi yang beras dan minyak tanahnya, serta sedikit lauk-pauk, telah kami bawa sejak dari Sibolga. Malam tanpa listrik sama sekali. Langit begitu indah dengan taburan bintangnya yang tampak jelas. Sesuatu yang tidak dapat ditemui di Jakarta. Mudah-mudahan tidak ada nyamuk malaria yang menggigit kami.
***
Jum’at, 1 April 2005
Alhamdulillah, semalam kami semua bisa beristirahat dengan baik. Walaupun sempat satu kali kami merasakan gempa ringan, mungkin sekitar 3-4 SR. Sholat subuh kami pun agak terlambat. Paginya kami kembali bisa menikmati sarapan, yang dimasak oleh kakak-beradik Lita-Yeni. Banyak kisah beredar. Lita menceritakan satu keluarga orang Padang yang seluruhnya meninggal terhimpit bangunan rumahnya. Anak yang selamat karena ia sedang kuliah di UISU. Pak Hendra yang kembali dari berjalan-jalan maghrib sebelumnya mengabarkan satu keluarga yang ditemuinya di tenda pengungsi daerah alun-alun dekat pendopo. Ia menemui seorang ibu dengan bayinya yang berumur 10 hari, dengan total enam anaknya, belum mendapatkan makanan. Padahal ini adalah pusat kota, dengan banyak LSM berkumpul. Apa saja yang telah mereka lakukan? Mungkinkah demikian sulitnya bantuan makanan sampai ke kota ini? Bagaimana dengan berton-ton beras yang kami lihat di kapal kayu? Ditimbun saja?
Bang Mendra datang dengan membawa cerita yang tidak kalah serunya. Kota ini memang sedang mengalami krisis bahan pangan. Gudang beras dijaga tentara bersenjata lengkap, karena khawatir akan dijarah warga. Warga kota tidak membutuhkan pakaian, mereka butuh makanan! Di tengah-tengah masyarakat juga telah tersiar berita, bahwa menurut BMG Jepang, bentuk Pulau Nias ini mirip jamur jika dilihat dari dasar laut. Ditopang oleh ‘tiang’. Jika terjadi satu kali lagi gempa berkekuatan besar seperti sebelumnya, dikhawatirkan ‘tiang’ ini akan patah, dan Nias terperosok ke dalam lautan, tenggelam! Kini posisi Pulau Nias sudah miring. Jadi satu ujungnya semakin tenggelam ke dalam lautan, sedangkan satu ujung lainnya mendangkal. Sehingga kapal-kapal tidak bisa mendekat ke pesisir pantai, karena akan menabrak bebatuan karang pantai yang relatif meninggi. Kabar seperti inilah yang membuat banyak warga memutuskan untuk meninggalkan Nias.
Hujan rintik-rintik terus membasahi. Kami membahas bagaimana cara ideal mendistribusikan beras di sini. Kami memutuskan untuk bergerak aktif ke kantong-kantong penduduk muslim yang bisa dijangkau melalui jalan darat dari daerah ini. Kami memang belum membawa bantuan pangan, karena masih tertahan di Sibolga, menunggu transportasi yang mampu membawa bantuan berton-ton beratnya. Setidaknya kami saat ini membawa obat-obatan, sehingga minimal kami bisa melakukan pengobatan di desa-desa yang membutuhkan. Pukul 10.00 kami berangkat dengan menggunakan mobil carteran L-300 dari penduduk setempat.
Ternyata ACT telah mendapatkan lokasi sebagai posko tetap, yakni di Jl. Patimura, tidak jauh dari kantor DPD PKS. Beberapa terpal yang kami bawa sejak perjalanan Medan-Sibolga disusun menjadi sebuah tenda. Kami berhenti sebentar di Posko untuk mendapatkan relawan lokal yang bersedia menjadi pemandu perjalanan. Sempat pula kami mengambil gambar sesosok mayat yang tertindih separuh tubuhnya di pinggir jalan tidak jauh dari posko. Diiring rintik hujan, kami menuju ke lokasi pertama, di Desa Foa, sekitar 10 km dari Gn. Sitoli. Membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mencapai tempat ini. Di tengah-tengah perjalanan, kami melewati sebuah lokasi wisata indah, yakni Pantai Lao Maru. Tepat di salah satu sudut pesisir pantai, di tebing yang cukup curam, sebagian jalan menjadi sangat sempit, karena sebagiannya runtuh akibat gempa. Lintasan ini hanya bisa dilewati satu mobil saja. Cukup riskan. Bila tidak hati-hati, akan jatuh ke kedalaman yang cukup tinggi. Pemandangan di daerah ini luar biasa indahnya. Namun kini keadaannya sangat sepi. Entah dengan sebelum gempa.
Sepanjang perjalanan menuju Foa ini, terlihat jelas kerusakan banguan yang merata. Tempat-tempat ibadah, baik masjid maupun gereja, tidak luput dari kehancuran. Sekitar pukul 11, kami tiba di lokasi pertama, yakni Desa Tete Hesi, Kecamatan Gido. Lokasi ini bisa dikatakan terbagi dua, yakni penduduk yang mayoritas Kristen, dan mayoritas Islam. Tokoh masyarakat muslim yang kami temui menekankan agar kami melakukan pengobatan di kedua daerah, agar tidak terjadi kecemburuan masyarakatnya. Maka sekitar pukul 11.15, kami melakukan pengobatan pertama di desa berpenduduk mayoritas Nasrani. Kendala utama dalam melakukan pengobatan tentunya adalah bahasa. Peran penerjemah lokal, seperti Lita dan relawan pria lokal yang kami bawa, menjadi sangat penting. Anjas melakukan satu tindakan wound toilet di sini. Sebagian besar penduduk mengeluh jantungnya selalu berdebar-debar sejak kejadian gempa. Tepat satu jam, kami segera pamitan, karena mengejar waktu sholat Jum’at. Kami bergegas menuju masjid di perkampungan pesantren Hidayatullah, Desa Siwalabanua. Untuk mencapai tempat wudhu saja, di sebuah mata air kecil, kami harus menuruni dataran curam yang cukup licin, dengan kemiringan sekitar 45 derajat, 10 meter ke bawah, untuk kemudian bergegas naik lagi. Di dalam ‘masjid’ yang sangat sederhana, sholat Jum’at sudah dimulai. Aku tidak sempat mengikuti khutbah Jum’at. Jumlah jama’ahnya sekitar 20 orang saja. Selepas Jum’atan, kami menggelar pengobatan di depan ruang kelas berukuran delapan kali enam meter persegi yang berperan sebagai masjid. Lagi-lagi Anjas cukup ‘beruntung’ mendapatkan tindakan jahit-menjahit, bahkan sampai dua pasien. Salah satunya luka robek di kepala, dengan dasar luka jaringan lunak. Anjas sudah khawatir saja, tengkorak orang ini tidak menyatu sempurna. Segera saja ia menjahitnya, dibantu Adi. Sekitar dua jam kami melakukan pengobatan di tempat ini. Masyarakatnya lebih baik dalam berbahasa Indonesia. Selepasnya, pimpinan pesantren menjamu kami dengan nasi, mie, tempe, dan air putih hangat. Aku sangat terkesan dengan para asatidz di sini, khas Hidayatullah. Mereka bisa merintis sebuah pusat Islam di daerah yang mayoritas non muslim. Pimpinannya adalah seorang pria Jawa yang sebelumnya lama tinggal di Bengkulu, dan baru dua tahun ditugaskan di pesantren ini. Pesantren ini sendiri baru dirintis dan berdiri tahun 1998. Subhanalloh, perjuangan para da’I Hidayatullah.

Pukul 15.30 sampai 17.30 kami meneruskan pengobatan di Desa Umene Satua. Rasanya pasien di sini tidak habis-habisnya. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa sebagian obat esensial telah habis terpakai. Kami sempat mengunjungi satu masjid lagi, tapi tidak bisa memberikan kontribusi apa-apa, karena persediaan obat sudah tidak memadai lagi. Kami hanya bisa menjanjikan kepada penduduk setempat, bahwa kami akan kembali. Kesimpulan yang kami dapatkan di sini, sebagian besar pasien mengeluhkan sakit ‘jantung’, maksudnya mereka selalu berdebar-debar sejak kejadian gempa. Hal ini aku interpretasikan sebagai semacam stres pasca trauma. Kasus hipertensi juga cukup banyak di sini. Sepertinya hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan kaum pria yang mayoritas perokok berat, dan mengkonsumsi makanan tinggi garam. Ketika aku minta agar mereka mengurangi konsumsi garam, ternyata sulit juga, karena makanan yang tersedia sebagian besar adalah ikan asin sebagai lauk. Penyakit-penyakit tertentu yang membutuhkan terapi jangka panjang di Puskesmas pun, tidak dapat ditindaklanjuti dengan baik, karena Puskesmas yang juga ditinggalkan petugasnya. Menjelang maghrib kami kembali ke Posko di kota.
Hari ini juga kami bertemu dengan kawan-kawan Kepanduan PKS DPW Sumut dan Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI) Sumut, bersama seorang relawan dari Portal Infaq yang sempat kami temui dalam perjalanan pesawat Jakarta-Medan. Seharusnya rombongan ini telah berangkat sejak hari Rabu menggunakan helikopter. Namun Alloh bekehendak lain. Mereka justru menempuh perjalanan laut menggunakan kapal ikan yang berkapasitas kecil, mengangkut sekitar belasan orang, dan mampu membawa muatan total sampai 10 ton. Lama perjalanan mereka 12 jam, diterpa hempasan ombak yang keras terasa, dan dilewati dengan kepasrahan total kepada Alloh saja. Khususnya bagi mereka yang tidak biasa menempuh perjalanan laut, dan tidak bisa berenang! Mereka membawa satu buah gen-set. Sehingga malam itu, kantor DPD PKS Kabupaten Nias di Gunung Sitoli adalah satu dari sedikit bangunan yang bersinar terang oleh cahaya lampu.
Sampai hari ini, transportasi menuju pulau masih demikian sulitnya, sampai-sampai bantuan yang disalurkan swadaya masyarakat seperti PKS menggunakan kapal yang disewa sendiri selama satu bulan, dengan segala keterbatasannya. Pemerintah tampaknya tidak berpikir untuk memudahkan transportasi penyakuran bantuan ke Nias. Justru transportasi udara banyak datang dari asing.
Malam itu kami tidur beratapkan terpal dan beralaskan tikar di posko. Mudah-mudahan kondisi badanku senantiasa terjaga sampai akhir tugas kami di sini.
***
Sabtu, 2 April 2005
Kisah Lita
Persediaan obat menipis, bantuan sembako masih tertahan di Sibolga, entah kapan bisa mencapai Pulau ini. Kabarnya beras beberapa ton, minyak goreng, dan beberapa kebutuhan pokok lain sudah dimasukkan ke dalam truk, tinggal dibawa oleh kapal feri menuju Nias. Tapi sampai hari ini masih belum bisa berangkat juga. Sehingga praktis tidak ada kegiatan yang bisa kami lakukan hari ini. Dengan semangat juang, Lita berangkat seorang diri menuju Medan untuk menemui kedua orangtuanya yang seharusnya sudah berada di sini, sekaligus membeli obat-obatan yang sudah habis. Mantan caleg PKS yang mewakili Pulau Nias untuk daerah pemilihan Sumut ini adalah akhwat tangguh bertenaga ikhwan. Berbekal sebuah ransel 60 liter, satu tas jinjing, dan rompi ACT, anak kelima dari tujuh bersaudara ini diantar abangnya, Bang Mendra, menuju bandara. Sebagai seorang relawan, Lita berpikir selayaknya ia bisa mendapatkan transportasi gratis keluar pulau untuk mendapatkan bantuan. Namun hari itu ia tidak berhasil mendapatkan penerbangan bebas biaya. Lita harus membayar 500 ribu rupiah untuk sebuah tiket pesawat Merpati, yang ternyata diganti dengan pesawat Angkatan berkapasitas 10 orang. Tampaknya ada deal-deal bisnis antara perusahaan penerbangan Merpati dengan Angkatan Darat.
Sesampainya di Medan sekitar pukul 14.00, dengan keluwesannya bergaul, Lita mendapatkan kenalan baru di Polonia, yang menjanjikannya pesawat gratis kembali ke Medan sore itu. Tapi karena belanjaan yang cukup banyak, khususnya obat-obatan, ia baru menyelsaikan berbelanja pukul 18.00. Bawaan yang sangat banyak ini dibawanya dengan becak motor menuju rumahnya. Sempat juga Lita bertemu dengan kawan-kawan KKI Medan. Malam harinya Lita berhasil bertemu dengan kedua orangtuanya, yang ternyata baru tiba dari Sibolga. Alhamdulillah mereka selamat. Hanya saja sang Bunda kurang sehat, karena harus tidur di luar rumah bersama pengungsi lain malam-malam sebelumnya. Kisah Lita selanjutnya diteruskan esok hari.
Aku, Adi, Anjas, Ikun, dan Pak Hendra praktis tidak memiliki kegiatan berarti sejak pagi hingga siang itu. Kecuali menunggu Lita kembali dari Medan membawa obat-obatan. Kebetulan kawan-kawan BSMI pusat datang siang harinya, bersama ketua umumnya dr. Basuki S, SpBO, dan beberapa dokter lainnya dari Aceh dan Surabaya. Aku berkenalan dengan sejawat dari FK Unair yang seangkatan, dr. Fahmi. Mereka mendapatkan rumah sangat berdekatan dengan posko kami, sebagai sekretariat BSMI di Nias. Rombongan ini tiba dengan pesawat dari Medan.
Eksodus Besar-besaran
Untung bagiku, sore harinya ada sebuah peristiwa besar yang bisa aku ikuti. Eksodus besar-besaran penduduk Nias ke luar pulau! Pak Hendra yang mendapatkan informasi ini, sekaligus menunggu bantuan yang akan disalurkan Elshinta, mendahului menuju Pelabuhan G. Sitoli bersama Bapak Yorhamun dengan ‘kereta’ alias motor. Beberapa SMS ditujukan bagiku dan Ikun, meminta agar kami dapat meliput peristiwa ini. Kami berdua bergegas menumpang mobil angkutan umum menuju pelabuhan.

Luar biasa, pelabuhan begitu ramai sora itu. Sebuah kapal kayu dengan jenis sama seperti yang kutumpangi dalam perjalanan Sibolga-Nias, nyaris tenggelam di dermaga karena kelebihan penumpang! Ribuan orang lainnya yang tidak memiliki tiket dengan tidak sabar berusaha memasuki kapal feri besar, Jatra III dari Jakarta, yang memuat puluhan mobil dari berbagai lembaga pembawa bantuan. Termasuk dua mobil ambulans BSMI yang diangkutnya. Berbekalkan sebuah kamera digital Sony Cybershot, handycam Mini DV Sony, dan kamera otomatis berlensa tele Canon, aku dan Ikun mengambil dokumentasi sebanyak-banyaknya. Kami sempat berbincang-bincang dengan beberapa pengungsi. Mereka tidak memiliki biaya sama sekali untuk melakukan perjalanan, sehingga berusaha mencari tumpangan gratis keluar pulau. Isu akan terjadinya gempa susulan yang akan menenggelamkan Nias membulatkan tekad meninggalkan pulau ini.
Banyak sekali ibu-ibu yang membawa anaknya, ditingkahi suara tangisan tidak mengerti, mengiringi pengungsian besar-besaran itu. Setelah semua mobil dan kendaraan bermotor, termasuk alat berat, dikeluarkan dari feri, ribuan orang berlarian merangsek memasuki kapal. Dengan membawa handycam, aku ikuti rombongan ini sampai dalam dek kapal, merekam ekspresi kepanikan dalam wajah para pengungsi. Sampai-sampai jembatan kapal hampir diangkat, aku berlari keluar dari kapal, agar tidak ikut terbawa. Antrian motor di luar yang menunggu diijinkan masuk, dan penduduk yang tidak henti-hentinya berusaha memasuki kapal, terus berlangsung sampai pukul 18.00. Kami berdua akhirnya memutuskan meninggalkan pelabuhan. Semoga mereka semua selamat tiba di tempat tujuan di Sibolga.
Malamnya kami kembali beristirahat di tenda Posko. Terdengar suara anak-anak batuk dari kemah kecil dekat terpal kami. Kemah kecil berukuran sekitar 1,5 kali 1,5 meter persegi ini ditinggali Bapak Yorhamun, relawan kami dari Waspada Peduli Umat yang merelakan madrasahnya sebagai posko, bersama istri dan tiga anaknya yang balita. Semoga anak-anak kecil ini sehat-sehat saja.
***
Ahad, 3 April 2005
Kisah Lita Episode 2
Pagi harinya, Lita mencarikan kontrakan untuk kedua orangtuanya, dengan bantuan biaya dari ACT. Tidak banyak waktu yang ia habiskan bersama ayah-ibunya. Ia harus segera kembali bekerja. Jam 10.00, Pak Hendra menghubungi untuk segera kembali ke Nias. Dengan membawa barang yang sangat banyak untuk dibawa seorang diri, sebuah box besar berisi obat-obatan seberat kira-kira 20 kg, dan satu tas carrier, Lita berangkat menggunakan taksi menuju Polonia. Hanya keyakinan atas pertolongan Alloh sajalah yang menguatkan akhwat ini untuk membawa bantuan yang demikian banyak. Jam 13.00, dengan seseorang yang baru dikenalnya, Lita mengangkasa dengan pesawat CASA TNI AL. Sebelumnya barang bawaan Lita yang terlalu banyak ini sempat dipermasalahkan sebelum naik pesawat. Tetapi ia bersikeras bantuan ini untuk pengobatan. Lagi-lagi di pesawat ia mendapatkan kenalan baru yang menjanjikan akan membantu, jika ada relawan ACT yang membutuhkannya. Jam 14.30 Lita sampai di bandara Binaka, Nias. Selanjutnya ia segera kembali ke Posko.
Pagi itu juga, sambil menunggu kedatangan Lita, kami berbincang-bincang dengan seorang pria Nias di Posko. Ia menjelaskan bahwa Nias adalah pulau yang cukup besar. Panjang pulau ini sekitar 200 km, dan lebarnya antara 80 sampai 120 km. Kami banyak menyebut-nyebut lokasi yang cukup banyak dihuni umat Islam, namun masih sulit dijangkau hingga saat itu, yakni Lahewa di sebelah utara pulau, dan Teluk Dalam di selatan. Jumlah penduduk beragama Islam di pulau ini tidak sampai 10 persen, dan banyak di antara mereka yang menjadi korban. Pria ini juga menjelaskan bahwa Nias adalah daerah yang terdiri dari beragam etnis pendatang sejak dahulu kala. Bugis, Makasar, Aceh, Padang, Cina dan lainnya. Nama marga di pulau ini juga khas, seperti Zebua, Harefa, Zega. Lita pernah menjelaskan bahwa marga asli Nias tidak ada yang berakhiran konsonan, semuanya vokal. Begitu juga dengan kata-katanya. Kata serapan konsonan akan dibuat menjadi vokal, misalnya mobil menjadi mobi. Satu hal yang unik bagiku adalah cara mereka mengucapkan huruf f dan r. Seperti aksen Prancis. Mereka juga tampaknya tidak mengenal huruf p.
Pada pukul 10.13, terjadi gempa yang cukup besar dan lama, sekitar 1 menit. Getarannya sangat terasa. Untungnya tidak ada barang yang jatuh atau bangunan roboh. Kami sedang berada di Posko. Di jalanan tampak sedikit kepanikan. Orang-orang sebagian berlarian, para pengendara motor menghentikan kendaraannya.
Sekitar pukul 10.20, mobil truk tanki air dari PAM datang. Sejak kedatanganku di pulau ini, air dan listrik masih belum berfungsi. Untuk mandi pagi, aku dan kawan-kawan sengaja berjalan agak jauh ke rumah Lita, untuk mengambil air sumur. Dan.. cukup mandi sekali saja sehari. Mobil berhenti tepat di sekretariat BSMI, sekitar 15 meter dari posko kami. Anak-anak perempuan, laki-laki, semuanya mengambil ember dan alat apapun yang bisa menampung air, bolak-balik dari posko ke mobil tanki, menampung air yang dikucurkan dari selang besar. Mereka tampak kepayahan ketika membawa ember menuju rumahnya, namun ekspresi kepuasaan terlihat di wajah. Subhanalloh, inilah rasanya kondisi sulit air. Sekitar 20 menitan mobil memberikan airnya bagi penduduk sekitar yang berdatangan dari segala penjuru, kemudian pergi menuju daerah lain, agar pembagian air merata.
Sore itu kami menjama’ sholat dzuhur dan ashar di Panti Asuhan Al-Washliyah, sekitar 500 meter dari posko kami. Berangkat menggunakan satu becak kayuh dinaiki berempat, sempat becak ini terjungkal. Untungnya tidak ada yang terluka. Kami hanya tertawa saja membayangkan kekonyolan ini. Tidak tega juga sih, melihat para pengayuh becak di kota ini. Medannya sangat berliku-liku, naik-turun, dengan para pengemudi yang kurus-kurus dan selalu tampak kepayahan. Cukup nyaman beristirahat di ruang sholat panti asuhan ini, sambil berkenalan dengan anak-anak SD penghuni panti, sedikit belajar bahasa Nias dengan mereka. Mereka suka sekali difoto. Setelah Lita datang, kami mengadakan pengobatan di satu daerah saja, tidak jauh dari desa yang kami kunjungi dua hari lalu, sampai maghrib tiba.
Malam ini gen-set sudah menyala di posko kami, sehingga lapangan madrasah yang kami tinggali cukup terang. Kami tidak perlu lagi menumpang di tempat lain untuk men-charge batere HP. Tapi instalasi air masih belum berfungsi.
***
Senin, 4 April 2005
Hari ini Pak Hendra harus kembali ke Jakarta, membawa laporan, dan foto-foto yang belum dicetak dalam rol-rol film kamera otomatis. Ia meminta Lita mengurus keberangkatannya, sedangkan Lita juga harus mengurus adiknya Yeni, yang harus kembali ke Medan untuk mengurusi ayah-ibunya. Dengan mengendarai motor, Lita dan Yeni berangkat ke rumah mereka untuk mengemas pakaian orangtuanya. Mereka kemudian menuju bandara. Atas bantuan Bayu, seorang polisi muda baik hati yang dikenal Lita saat di Polonia, Pak Hendra berangkat ke Medan menggunakan pesawat polisi. Yeni berangkat menggunakan pesawat AL atas bantuan Pak Firman, kenalan Lita yang lain.
Dalam perjalanan pulang, Lita kembali menemui sedikit masalah. Ia pulang mengendarai motor sendirian. Di tengah-tengah perjalanan, motornya berhenti karena kehabisan bensin. Untungnya ia berhasil mendapatkan tumpangan untuk minta diantar mendapatkan bensin lima liter. Lita harus mengangkat ember berisi bensin seorang diri. Kemudian ia kembali ke DPD PKS, dan bertemu dengan seorang wanita yang menceritakan desanya sebagian terendam air, dan sebagian lagi belum pernah mendapatkan bantuan. Sore harinya ia menuju posko ACT dan menekankan agar ACT bisa membantunya, dengan membawa peta Nias. Lita bersikeras agar kami semua bisa pergi ke Teluk Dalam yang jaraknya “hanya” 120 km saja. Padahal saat itu untuk mencapai Teluk Dalam di Kabupaten Nias Selatan, belum bisa ditempuh melalui perjalanan darat biasa, setidaknya menggunakan mobil. Akhwat yang pernah berkampanye puluhan kilometer jauhnya menggunakan motor saat Pemilu tahun lalu itu mengatakan kami semua bisa menggunakan beberapa motor untuk mencapai Teluk Dalam bersamanya. Tapi karena pertimbangan lokasi yang terlalu jauh, memakan waktu, dan medan yang berat, rencana itu diurungkan.
Hari itu juga, setelah kepergian Pak Hendra dan Lita ke bandara, kami mengadakan pengobatan ke arah utara, sampai 12 km dari Gunung Sitoli, kalau sebelumnya kami mengarah ke selatan ke Desa Foa, 16 km dari Gn. Sitoli. Inilah medan tersulit yang aku rasakan setelah beberapa hari berada di sini. Menggunakan minibus Suzuki Carry lama dengan pengemudi lokal, kami melewati sekurangnya dua jembatan kayu dan dua jembatan beraspal dengan patahan jalan yang cukup besar. Salah satunya patah tepat di antara jalan mendaki beraspal yang menghubungkan dengan jembatan kayu. Sehingga ban mobil sulit mendapatkan pijakan. Untuk melintasi jembatan ini, kami dibantu beberapa penduduk setempat yang mengatur gundukan tanah, batu-batuan, dan pasir di dalam patahan, sehingga bisa dilewati mobil. Itupun harus didorong juga. Sungguh menegangkan. Belum lagi jalanan desa yang berkerikil dan berlubang-lubang, sejak sebelum gempa. Ditambah lagi satu bagian jalan yang terbelah cukup besar di tengah-tengah jalan. Hanya pengemudi handal saja yang bisa melewati tipe jalanan seperti ini.
Kami menghabiskan hari ini dengan pengobatan di dua tempat sampai sore hari. Desa Mboe, yang kami kunjungi pertama kali, sudah mendapatkan bantuan medis asing beberapa hari sebelumnya. Kemudian kami lanjutkan ke Kec. Tuhemberua, dan Desa Afiat. Lagi-lagi kendala terbesar kami adalah penduduk yang sebagian besar tidak bisa berbahasa Indonesia. Keluhan mereka sama: jantung berdebar-debar, batuk-pilek, lemah, dan gatal-gatal. Pasien yang kami tangani total kira-kira mencapai 200-an. Ingin sekali kami bisa memberikan bantuan makanan ke daerah-daerah ini. Mereka lebih butuh makanan, dibandingkan obat-obatan. Namun apa daya, bantuan makanan kami belum tiba.
Hari ini mobil tanki air tidak datang. Persediaan air di Posko kami menipis. Malamnya kami berempat, aku, Ikun, Lita, dan Anjas mendiskusikan apa yang bisa kami lakukan esok hari.
***
Selasa, 5 April 2005
Tadi malam masih terdengar suara anak kecil terbatuk-batuk dari kemah kecil keluarga Pak Yorhamun. Mungkin itu suara Afni, Rais, atau Akbar, yang berusia 3-4 tahunan. Kasihan sekali mereka, harus merasakan dinginnya udara malam selama berhari-hari, karena tidak berani tidur di dalam rumah.
Pagi ini aku kedatangan seorang laki-laki berusia 30 tahun yang meminta obat-obatan untuk istrinya yang sedang hamil 5 bulan. Ia menceritakan tentang dirinya, seorang tukang kayu keturunan Nias-Jawa yang merantau dari Medan dua tahun silam. Saat ini istrinya sedang mengandung anak ketiganya, dengan anak pertamanya yang meninggal saat usia 7 bulan karena kelainan jantung, dan anak keduanya yang kini masih berusia 8 bulan. Pria ini mengeluhkan minimnya bantuan sampai saat ini. Ia juga menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat muslim Nias, yang menurutnya kurang membantu antara yang kaya dan miskin. Misalnya saat pembagian daging kurban, yang dirasakannya tidak merata.
Selama beberapa hari sejak terjadinya bencana, bapak ini sehari-harinya berkeliling dengan berjalan kaki dari satu posko ke posko lain, mencari bantuan makanan bagi dirinya dan keluarganya. Pernah ia mendapatkan tawaran bantuan makanan dari gereja, namun ia ragu-ragu menerimanya, karena khawatir akan status kehalalannya. Maka bantuan dari sesama muslim sangat ia butuhkan. Pria ini juga pernah mencoba meminta bantuan ke tentara. Bukannya beras yang ia terima, tetapi bentakan dan ancaman untuk segera meninggalkan tempat itu. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apa yang TNI lakukan dengan bantuan sebanyak itu? Bukankah seharusnya mereka menyalurkannya? Atau mereka memperjualbelikannya? Sudah menjadi rahasia umum bahwa bencana seperti ini adalah bisnis bagi tentara.
Kami berbincang-bincang agak lama. Aku memberikan beberapa tablet vitamin dan zat besi bagi istrinya yang hamil di rumah, dan menyampaikan agar ia bisa kembali lagi besok, dengan harapan bantuan kami dari Sibolga sudah tiba. Siang ini bantuan air PAM datang agak terlambat, pukul 11.45. Kemarin air tidak datang sama sekali. Rupanya bantuan air hanya tiap dua hari sekali.
Tampaknya tetangga kami, BSMI, juga tidak banyak melakukan kegiatan pengobatan lapangan beberapa hari ini. Mereka lebih berkonsentrasi untuk mendirikan rumah sakit lapangan. Sedangkan PKS, dari informasi yang kami dapatkan malam harinya, menuju sebuah daerah di Botohaenga. Tim dari Kepanduan DPW PKS bersama dr. Kuspriyadi dari PKPU, seniorku angkatan ’88 yang menemani pengobatan kami dua hari lalu, menempuh perjalanan laut selama empat jam untuk mencapai daerah ini, yang normalnya bisa ditempuh lewat darat. Mereka menggunakan kapal nelayan. Tiba di tempat, sungguh mengenaskan, sebagian daerah ini sudah terendam oleh laut, bukan oleh tsunami, melainkan daratannya yang melesak ke bawah akibat gempa! Tentunya keadaan ini akan bersifat permanen. Kawan-kawan PKS menceritakan sempat terjadi sedikit keributan di sini, antara penduduk dua desa yang terkena musibah. Pasalnya satu desa yang merasa mendapatkan kerusakan lebih parah menginginkan bantuan pangan lebih banyak dibandingkan desa lainnya, sedangkan satu desa lain menginginkan bantuan yang merata antara keduanya. Reaksi mereka bagaikan orang-orang tidak makan selama berhari-hari. Ketika sore menjelang, air laut mulai pasang. Para relawan yang saat datang masih bisa melangkah biasa, saat pulang sudah terendam kakinya sampai sebatas lutut. Mereka kemudian pulang menaiki kapal yang sama, tiba di DPD malam harinya. Aku menemui dr. Kus untuk melakukan kegiatan rutin malam hari: memindahkan gambar dari kamera digital ke laptop-nya.
Sore hari ini aku, Ikun, Anjas, Adi, dan Lita memutuskan berjalan-jalan di sekitar kota mencari suvenir untuk oleh-oleh. Ikun ingin sekali membeli kaos bertuliskan “Nias”. Sekaligus kami ingin mencari tambahan bahan makanan yang bisa disalurkan dari toko lokal, sambil menunggu bantuan yang kabarnya datang dari Sibolga malam ini. Hujan turun agak deras ketika kami menggunakan dua becak kayuh untuk menuju lokasi toko. Sekitar 10 menit, kami tiba di sebuah toko yang menjual beberapa jenis kerajinan khas Nias. Karena harga yang terlalu mahal, Ikun hanya membeli gantungan kunci sebuah saja. Lainnya hanya membeli minuman. Bayangkan saja, harga Aqua botol Rp. 3500 sebuahnya, dan minuman seperti Fanta dan Sprite Rp. 4000. Kami kemudian berjalan kaki menuju pusat pemerintahan. Sempat berhenti sebentar dan melihat-lihat keadaan RSUD Gn. Sitoli. Rumah sakit ini diaktifkan oleh banyak elemen seperti BSMI, Mercy Malaysia, PMI, FK Unhas, IDI, BSB, dan lainnya, sehingga menjadi pusat rujukan pasien-pasien yang membutuhkan perawatan. Instalasi gawat daruratnya juga berfungsi dan penuh oleh pasien. Aku bertemu dengan Fahmi dari BSMI di sini. Ia mendapat giliran dinas RS hari itu. Sampai pusat pemerintahan, kami tidak mendapatkan apa yang kami cari, kemudian kami pulang ke posko menggunakan becak kayuh lagi. Kami juga kesulitan membeli beras di sini. Maksimal katanya hanya dibatasi 50 kg saja. Padahal niat kami semata hanyalah untuk disalurkan lagi.
Malam ini sekitar pukul 21.00, kami mendengar kabar bahwa kapal yang membawa bantuan pangan segera tiba di pelabuhan. Kapal sewaan PKS ini membawa hampir 10 ton beras yang dibeli oleh PKS, PKPU, dan ACT. Belanjaan kami hanya 1 ton saja, meliputi beras satu ton, ditambah ikan asin, susu balita, telor, dan minyak. Sekitar pukul 23.00, aku, Ikun, Anjas, dan Adi meluncur menuju pelabuhan dengan menumpang mobil pick up yang disewa PKS, langsung dari kantor DPD. Udara malam langsung menerpa kami yang duduk di bak belakang. Sementara beberapa anggota Kepanduan PKS menggunakan motor trail mencapai pelabuhan.
Ditunggu sampai pukul 01.00 dini hari, kapal masih belum bisa merapat juga, karena ada feri besar yang belum berangkat, sehingga harus mengantri masuk dermaga. Kami akhirnya pulang, dan langsung tergeletak di lantai ruang utama DPD untuk tidur sebentar.
***
Rabu, 6 April 2005
Dokter Multi Fungsi
Paginya selepas subuh, kami kembali menuju pelabuhan. Alhamdulillah kapal bisa merapat di sini, sekitar pukul 06.00. Terdiri dari dari seorang anggota Kepanduan, dan tiga ABK, kapal membawa berton-ton beras dan barang lainnya, termasuk dua gen set tambahan, dan bensin. Mulailah pekerjaan berat ini: memindahkan hampir seluruh isi muatan kapal ke dua mobil pick up, untuk diangkut ke kantor DPD bolak-balik. Butuh waktu sekitar empat jam untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Dokter Anjas dan Ikun beralih fungsi menjadi kuli pelabuhan, melempar ratusan kilo beras dari kapal ke atas. Beberapa anggota Kepanduan dan relawan dari DPD juga mengerjakan hal ini. Sementara aku mencari yang ringannya saja: mengambil dokumentasi kegiatan. Dokter Kuspriyadi beralih fungsi menjadi sopir pick up yang bolak-balik mengantarkan berton-ton muatan. Kulit kami semua benar-benar terbakar pagi itu.
Sesampainya di Posko, tanpa banyak beristirahat, kami memindahkan satu ton beras dari kantor DPD, kemudian mengepaknya dalam tas-tas kresek, masing-masing seberat 3,5 kg, untuk bisa didistribusikan ke beberapa desa sore itu. Kami benar-benar mengejar target. Karena kalau bisa, besok sudah kembali ke Jakarta!
Sore hari kami menyelesaikan mengemas 70-an kantong beras dan ikan asin, kemudian membersihkan diri di DPD. Menjelang maghrib kami membawa bantuan ke dua desa menuju arah Foa, berisi kantong-kantong beras, ikan asin, dan susu balita. PKS dan PKPU tentunya juga melakukan hal yang sama, dengan distribusi lokasi yang berbeda. Malam hari kami menyelesaikan pekerjaan melelahkan ini. Ya Alloh, senantiasa jagalah niat kami melakukan ini untuk mengharap ridho-Mu semata.
Anjas dan Adi menggunakan motor untuk mengantar kami, sedangkan yang lainnya menggunakan mobil. Saat perjalanan pulang, sudah gelap karena malam, mereka tidak mengetahui bahwa daerah yang mereka lalui di sekitar Lao Maru rawan akan pembunuhan. Pernah terjadi beberapa peristiwa perampokan dan pemenggalan kepala beberapa tahun silam. Saat kami ceritakan di Posko, mereka menjadi demikian paniknya dan mengomel.
Malam itu juga sempat terbersit gagasan untuk kembali ke Sibolga menggunakan feri, agar besoknya bisa kembali ke Jakarta. Namun kemudian Lita mendapat konfirmasi dari Bayu, bahwa besok kami bisa menggunakan pesawat Polisi dari Bandara Binaka untuk menuju Medan. Alhamdulillah. Kami pun beristirahat di bawah terpal malam itu. Malam terakhir kami di pulau indah ini.
***
Kamis, 7 April 2005
Hujan turun deras pagi itu. Aku dan kawan-kawan berwudhu langsung dari curahan hujan yang turun. Air di tempat penampungan di Posko sudah sangat sedikit. Kami bisa mandi di kantor DPD PKS pagi itu, dan diantar oleh dr. Kus menggunakan kijang PKPU sampai bandara Binaka.
Saat berpamitan dengan kawan-kawan di DPD, aku sempat bingung.
“Sampai ketemu… kapan ya?”
“Sampai ketemu di bencana berikutnya,” Aminullah dari Kepanduan DPW menimpali dengan nada gurauan.
Ya, aku sedih juga, pertemuan dengan kawan-kawan ini hanya bisa terjadi pada keadaan yang menyedihkan, yakni bencana. Tentunya tidak ada seorang pun yang menginginkan bencana. Mudah-mudahan Alloh mempertemukan kami kembali pada suasana yang menyenangkan di kesempatan lain.
Perjalanan gratis dengan pesawat Polisi ternyata tidak begitu mulus. Hanya separuh rombongan yang diijinkan masuk pesawat berkapasitas, mungkin, maksimal 20 orang itu plus barang bawaan. Kami memutuskan untuk membagi jumlah enam orang ini menjadi dua. Ikun, kakak ipar Lita yang tengah hamil tua, dan Anjas berangkat duluan. Karena Ikun harus memberi laporan ke kantor Waspada di Medan, dan setidaknya ada seorang dokter seperti Anjas yang ikut seandainya sesuatu terjadi pada wanita yang hamil tua ini. Pesawat berangkat sekitar pukul 10.00.
Bandara Binaka tidak ubahnya bandara internasional. Relawan asing dari berbagai negara, pesawat dan helikopter asing milik PBB, Singapura, dan negara lain, serta pesawat dari TNI AD, AL, AU, dan Polisi, singgah dan pergi di tempat ini. Satu-satunya penerbangan komersial yang ada adalah Merpati, dengan tiket mencapai Rp.500 ribu untuk mencapai Medan saja!
Aku, Lita, dan Adi, tetap menunggu sampai ada penerbangan gratis, khususnya dari pesawat angkatan yang bisa dinaiki. Ternyata sampai pukul 14.00, harapan ini pupus. Kami harus segera kembali ke Medan, karena tiket pesawat Medan-Jakarta sudah dipesan, dan pesawat berangkat sekitar pukul 16.30. Akhirnya kami bertiga memesan tiga tiket Merpati yang mahalnya luar biasa itu, dan dengan pesawat Fokker ini, pada pukul 14.15, kami meninggalkan Nias. Bisa dikatakan, untuk menikmati segelas air putih di pesawat ini, kami harus membayar 500 ribu!
Begitu pesawat mengangkasa, aku bisa melihat lautan Nias yang begitu biru dan indahnya. Satu jam kemudian kami sampai di Polonia. Bergegas mencari rombongan yang telah tiba lebih dulu, dan memastikan keberangkatan kami ke Jakarta.
Untungnya kami mempunyai “orang dalam” di bandara, sehingga bisa memesan tiket tepat sebelum pesawat berangkat. Pesawat Wings Air yang dijadwalkan berangkat pukul 16.40, molor menjadi pukul 17.20, dikarenakan kami baru check in pukul 17 lewat! Aku jadi teringat film Home Alone 2.
Dan… kembalilah kami ke Jakarta.
Benar juga. Sekitar pukul 10.00 aku menerima SMS dari LKC, tempat aku bekerja sebagai dokter praktik, menanyakan apakah aku bersedia pergi sebagai relawan medis ke lokasi bencana di Nias. Koordinator Layanan Luar Gedung lembaga ini juga menanyakan apakah aku bisa mencari seorang kawan dokter lagi yang bisa diajak ikut serta.
Keesokan harinya, pergilah aku dan dr. Anjas Asmara, sejawat sejak melewati masa-masa studi di FKUI selama 6 tahun ke Medan, Sumatra Utara, untuk kemudian menuju Pulau Nias. Setelah malamnya aku masih sempat dinas di LKC. Inginnya bisa istirahat agar paginya memiliki cukup energi untuk melakukan perjalanan. Tapi seorang pasien dengan muntah darah cukup menghabiskan waktu, sehingga tidak sempat beristirahat banyak.
Rabu pagi 30 Maret, aku, Anjas, dan Adi seorang perawat LKC, menuju bandara Soekarno-Hatta, untuk lepas landas ke Medan. Sebelumnya, minum klorokuin dua tablet dulu, karena Nias endemi malaria. Sesampainya di Bandara Polonia pukul 09.00, menunggu sebentar jemputan dari kawan-kawan ACT—Aksi Cepat Tanggap—DD Republika, yang mengirim kami bertiga ke tempat ini. Sebenarnya LKC hanyalah lembaga yang menyalurkan tenaga kesehatan saja, sedangkan ACT-lah yang memiliki core competence untuk disaster management. Jadi kami bergerak selaku ACT-Medis. Sebuah mobil kijang ACT dengan plat B menjemput kami hampir sejam sesudahnya. Ikun dan Pak Hendra, dua orang anggota ACT yang sudah berangkat dari Jakarta sehari sebelumnya, menjemput kami. Kami bertiga sudah bertemu saat penanganan bencana di Aceh sejak berangkat dari Jakarta. Pengemudi mobil ini adalah sopir handal dari Medan, Bapak Yono, yang setia menemani kami sejak dari Aceh. Dua orang penumpang lainnya adalah relawan ACT Medan yang bertugas di Sigli dalam program WAKALA (Wanita Kepala Keluarga), ialah Lita, seorang akhwat lulusan Sastra Arab USU. Dia ditemani adiknya Yeni yang masih kuliah di Akuntansi Univ. Muhammadiyah Medan. Dua orang akhwat Padang ini kebetulan lahir dan besar di Nias. Kedua orangtua mereka pun berada di sini. Sejak kejadian bencana dua malam sebelumnya, mereka belum berhasil mengontak sang ayah-ibu. Tapi mereka optimis kedua orangtuanya di Kota Gunung Sitoli selamat dari bencana. Tujuan kami membawa mereka juga untuk mengatasi kendala bahasa dan lokasi nantinya.
Pukul 10.00 segera kami melaju ke arah Sibolga dengan kecepatan tinggi, untuk kemudian melanjutkan perjalanan laut menuju Pulau Nias. Aku benar-benar menikmati perjalanan darat ini. Inilah untuk pertama kalinya aku melintasi daratan Sumatra Utara. Mulai dari ibukota Medan, terus ke arah Selatan, melewati Danau Toba yang subhanalloh indahnya, lika-liku Tarutung menuju Sibolga yang medannya lumayan berat. Kami harus melewati jalan sempit dengan tikungan terjal diapit jurang dan pegunungan selama hampir dua jam. Sampai salah seorang dari anggota rombongan harus mengeluarkan isi lambungnya (not me, of course). Di daerah Tapanuli dan Batak Karo kami melihat banyak kuburan-kuburan Kristen yang besar-besar di kiri-kanan jalan, gereja-gereja yang dapat ditemui pada hampir setiap kilometernya, dan melewati satu upacara tradisional kematian penduduk Batak Kristen di salah satu tepi jalan, yang tentunya tidak dapat kita temui di kota seperti Jakarta. Sangat menarik. Sampai akhirnya kami tiba agak terlambat dari waktu yang direncanakan sebelumnya, sekitar pukul 19.30 di Sibolga. Kami berencana mengejar keberangkatan kapal laut jam 20.00 dari Pelabuhan Sibolga menuju Pulau Nias, dengan membawa satu mobil kijang yang kami harapkan bisa diangkut dengan kapal feri. Namun ternyata Alloh berkehendak lain. Tidak ada kapal feri yang berlabuh malam itu. Karena situasi bencana yang cukup dahsyat, transportasi laut ke Pulau Nias juga mengalami masalah. Setelah sedikit berembuk, kami putuskan untuk menaiki kapal penumpang saja, yang tidak bisa mengangkut mobil. Terpaksa Pak Yono dan mobilnya harus ditinggal di Sibolga dan kembali ke kantor ACT Medan. Kami mendapatkan tiket keberangkatan kapal kayu—istilah kapal penumpang yang menuju Nias, dan memang benar-benar terbuat dari kayu—yang dijadwalkan berangkat pukul 01.00 dini hari. Tapi katanya kapal akan berangkat jam 23.00, sehingga waktu menunggunya semakin singkat. Adanya sisa waktu ini kami manfaatkan untuk bebelanja kebutuhan pribadi, karena berdasarkan informasi yang kami dapatkan, sulit sekali mendapatkan beras dan bahan bakar di Nias.
Kapal laut ternyata mengalami keterlambatan keberangkatan. Aku sempat khawatir kapal ini tidak jadi berangkat, karena hingga pukul 01.00 masih belum berlayar juga. Sampai-sampai satu rombongan penumpang beretnis Cina meninggalkan kapal ini untuk mencari kapal lain yang katanya pergi lebih dulu. Informasi apakah kapal ini akan berangkat atau tidak benar-benar tidak jelas. Rombongan kami sendiri awalnya tidak mendapatkan ‘kursi’ di kapal ini, meskipun telah membayar karcis normal. Jadi penumpang yang menaiki kapal ini tampaknya memang sedikit melebihi muatan. Dengan adanya sekelompok orang yang pindah dari kapal ini, tanpa pikir panjang kami segera menempati jatah mereka untuk bisa berbaring.
Tiba-tiba sekitar pukul 03.00 kapal kayu ini berangkat. Inilah pengalaman pertamaku naik kapal kayu. Kendaraan ini adalah kapal yang sepenuhnya terbuat dari kayu, tapi cukup besar. Memuat penumpang sekitar 200-an orang. Ruangan terdiri atas ruang atas dan bawah, berupa bilik-bilik tidur berukuran kira-kira satu meter kali 175 cm yang dibatasi dengan nomor di kiri-kanan sisi kapal. Jadi untuk duduk tegak saja sulit di bilik-bilik ini, yang memang khusus dirancang untuk tidur saja, dengan risiko menyenggol penumpang lainnya di sebelah kita. Normalnya kapal memang berlayar malam hari, dan sampai di Pelabuhan Gunung Sitoli, Nias keesokan paginya. Jadi apalagi yang bisa dilewati si kapal penumpang seperti ini selain tidur saja? Di tengah lautan Samudera Hindia ini, goncangan ombak juga sangat terasa. Jadi posisi berbaring jauh lebih nyaman dibandingkan duduk, apalagi berdiri. Khususnya sangat terasa bagi mereka yang mabuk laut. Yah, sesekali terdengar suara orang muntah di satu sisi kapal. Benar-benar perjalanan pertama yang mengesankan.
Bersama kami di kapal ini ada serombongan Polisi BRIMOB berpangkat paling rendah, sekitar 20 orang. Tampaknya mereka diperbantukan dalam bencana di Pulau Nias. Terkadang lantunan lagu-lagu Peterpan dan Doddy Dores terdengar keras dari speaker dan TV karaoke dalam kapal. Hiburan yang tidak begitu menyenangkan. Dan yang paling membuatku muak dan mual adalah: asap rokok yang dihembuskan di mana-mana. Baik oleh penumpang pria maupun polisi-polisi prajurit itu. Hanya bisa bersabar dan beristighfar saja. Kapal ini juga memuat banyak karung beras di dek bawah. Apakah beras-beras ini memang ditujukan sebagai bantuan untuk bencana di sini, atau memang sengaja akan ditimbun dulu, wallahu a’lam.
***
Setelah melewati perjalanan tanpa banyak hal yang bisa dibincangkan, sampailah kami di Pulau Nias pukul 12.00. Tetapi kapal tidak bisa segera merapat. Hujan pun turun cukup deras. Dari kejauhan, kami melihat pinggiran pantai pelabuhan Gunung Sitoli yang subhanalloh indahnya. Dasarnya masih tampak biru, meskipun ada sedikit sampah yang mengambang. Sama sekali tidak bisa dibandingkan pelabuhan Tanjung Priok saat aku pernah mengunjungi Kepulauan Seribu. Sampai akhirnya pukul 13.00 kami merapat, dan ditimpa derasnya hujan, kami menurunkan muatan kami yang agak banyak, baik bekal pribadi maupun obat-obatan yang dibawa dari LKC Ciputat, dengan harus memasuki kapal kayu lain yang merapat di sebelahnya. Di pelabuhan cukup banyak tentara yang terlihat. Mereka berasal dari BRIMOB, ZENI, dan AL. Setelah mendapatkan ojek ‘kereta’, sebutan untuk sepeda motor di sini, untuk mengangkut kami, dan becak kayuh untuk mengangut barang-barang bawaan, kami menuju lokasi rumah Lita, sekitar pukul 13.30.
Sepanjang perjalanan menuju pusat kota Gunung Sitoli, kehancuran tampak di mana-mana. Sebuah masjid dengan kubah hijau yang besar ambruk ke tanah. Pendopo di kanan jalan hanya tampak atap besanya saja. Sebuah bangunan pertokoan hampir rata dengan tanah, padahal katanya sebelumnya itu adalah bangunan delapan lantai. Masya Alloh, aku tidak bisa membayangkan jika bencana seperti ini menimpa pusat kota Jakarta. Na’uudzu billaahi min dzaalika. Melewati sebuah jembatan besar di Jl. Sudirman, kehancuran besar-besaran tampak lebih nyata. Hanya satu traktor sebagai alat berat yang bekerja mengangkat puing-puing. Upaya pencarian korban baik hidup maupun mati akan sangat sulit dan lama di tengah-tengah kehancuran seperti ini. Bangunan-banguan besar dan banyak, kekurangan alat berat, mempersulit evakuasi korban. Bau mayat masih belum begitu menyengat untuk ukuranku yang pernah terbiasa satu bulan lamanya di Bagian Forensik RSCM. Namun penduduk yang melintas sebagian mengenakan masker. Relawan-relawan dari berbagai LSM lokal maupun asing banyak terlihat. Tidak kalah banyaknya tentara yang memanggul AK-47. Mengevakuasi korban menggunakan AK-47? Oh, ternyata, kabarnya SBY datang ke Nias siang itu.
Kira-kira sejak kemudian sampailah kami di rumah orangtua Lita dan Yeni, setelah sebelumnya sempat singgah di kedai milik abang mereka, Bang Mendra. Ternyata kedua orangtua Lita sudah tidak berada di rumah, yang untungnya selamat dari bencana. Ayah-Ibu Lita ternyata baru saja meninggalkan pulau menuju Medan, untuk bertemu dengan kedua putrinya. Ya, tanpa kami sadari, sebenarnya kami berpapasan di pelabuhan.
Rumah yang dihuni orangtua Lita dan Yeni adalah sebuah rumah petak dengan satu ruang tamu, satu kamar tidur, dan kamar mandi sekaligus tempat mencuci. Rumah kontrakan ini berukuran kira-kira delapan kali 2,5 meter persegi, berada satu deret dengan sekitar total 10 rumah kontrakan berukuran sama lainnya. Semua rumah ini kosong ditinggalkan penghuninya yang mengungsi. Hanya rumah-rumah di seberang jalan yang masih dihuni. Lokasi perumahan ini tepat berbatasan dengan pantai, kira-kira hanya 10 meter dari laut. Jadi, kami sempat membayangkan jika tsunami menerjang, segera tersapulah kami! Tepat sekitar lima meter di hadapan perumahan ini, terdapat sebuah gedung sekolah swasta yang separuhnya sudah ambruk, dan tanah di depannya jelas tampak terbelah.
Sore harinya kami menjamak sholat dzuhur dan ashar. Untuk berwudhu, kami harus menggunakan kamar mandi milik tetangga yang memiliki sumur. Karena rumah yang kami tempati ini menggunakan air PAM, sedangkan instalasi air dan listrik tidak berfungsi sama sekali. Untuk mandi, kami bisa menimba air terlebih dahulu di sebuah sumur milik penduduk yang sebagian dinding ruangannya sudah roboh, namun untungnya sumur tidak tertimbun. Dalam keadaan seperti ini, penduduk desa saling membantu satu sama lain. Siapa saja boleh mengambil air dari sumur ini. Kami bisa mandi menggunakan air sumur, setelah menimba dan membawa air dengan ember, berjalan kaki sekitar 20 meter. Suara helikopter Chinook milik Singapura dan helikopter lain milik PBB tidak henti-hentinya mengusik keheningan.
Malamnya kami semua—laki-laki—beristirahat di lantai ruang tamu, dengan sedikit kekhawatiran jika terjadi gempa besar susulan. Alhamdulillah kami bisa menikmati nasi yang beras dan minyak tanahnya, serta sedikit lauk-pauk, telah kami bawa sejak dari Sibolga. Malam tanpa listrik sama sekali. Langit begitu indah dengan taburan bintangnya yang tampak jelas. Sesuatu yang tidak dapat ditemui di Jakarta. Mudah-mudahan tidak ada nyamuk malaria yang menggigit kami.
***
Jum’at, 1 April 2005
Alhamdulillah, semalam kami semua bisa beristirahat dengan baik. Walaupun sempat satu kali kami merasakan gempa ringan, mungkin sekitar 3-4 SR. Sholat subuh kami pun agak terlambat. Paginya kami kembali bisa menikmati sarapan, yang dimasak oleh kakak-beradik Lita-Yeni. Banyak kisah beredar. Lita menceritakan satu keluarga orang Padang yang seluruhnya meninggal terhimpit bangunan rumahnya. Anak yang selamat karena ia sedang kuliah di UISU. Pak Hendra yang kembali dari berjalan-jalan maghrib sebelumnya mengabarkan satu keluarga yang ditemuinya di tenda pengungsi daerah alun-alun dekat pendopo. Ia menemui seorang ibu dengan bayinya yang berumur 10 hari, dengan total enam anaknya, belum mendapatkan makanan. Padahal ini adalah pusat kota, dengan banyak LSM berkumpul. Apa saja yang telah mereka lakukan? Mungkinkah demikian sulitnya bantuan makanan sampai ke kota ini? Bagaimana dengan berton-ton beras yang kami lihat di kapal kayu? Ditimbun saja?
Bang Mendra datang dengan membawa cerita yang tidak kalah serunya. Kota ini memang sedang mengalami krisis bahan pangan. Gudang beras dijaga tentara bersenjata lengkap, karena khawatir akan dijarah warga. Warga kota tidak membutuhkan pakaian, mereka butuh makanan! Di tengah-tengah masyarakat juga telah tersiar berita, bahwa menurut BMG Jepang, bentuk Pulau Nias ini mirip jamur jika dilihat dari dasar laut. Ditopang oleh ‘tiang’. Jika terjadi satu kali lagi gempa berkekuatan besar seperti sebelumnya, dikhawatirkan ‘tiang’ ini akan patah, dan Nias terperosok ke dalam lautan, tenggelam! Kini posisi Pulau Nias sudah miring. Jadi satu ujungnya semakin tenggelam ke dalam lautan, sedangkan satu ujung lainnya mendangkal. Sehingga kapal-kapal tidak bisa mendekat ke pesisir pantai, karena akan menabrak bebatuan karang pantai yang relatif meninggi. Kabar seperti inilah yang membuat banyak warga memutuskan untuk meninggalkan Nias.
Hujan rintik-rintik terus membasahi. Kami membahas bagaimana cara ideal mendistribusikan beras di sini. Kami memutuskan untuk bergerak aktif ke kantong-kantong penduduk muslim yang bisa dijangkau melalui jalan darat dari daerah ini. Kami memang belum membawa bantuan pangan, karena masih tertahan di Sibolga, menunggu transportasi yang mampu membawa bantuan berton-ton beratnya. Setidaknya kami saat ini membawa obat-obatan, sehingga minimal kami bisa melakukan pengobatan di desa-desa yang membutuhkan. Pukul 10.00 kami berangkat dengan menggunakan mobil carteran L-300 dari penduduk setempat.
Ternyata ACT telah mendapatkan lokasi sebagai posko tetap, yakni di Jl. Patimura, tidak jauh dari kantor DPD PKS. Beberapa terpal yang kami bawa sejak perjalanan Medan-Sibolga disusun menjadi sebuah tenda. Kami berhenti sebentar di Posko untuk mendapatkan relawan lokal yang bersedia menjadi pemandu perjalanan. Sempat pula kami mengambil gambar sesosok mayat yang tertindih separuh tubuhnya di pinggir jalan tidak jauh dari posko. Diiring rintik hujan, kami menuju ke lokasi pertama, di Desa Foa, sekitar 10 km dari Gn. Sitoli. Membutuhkan waktu hampir satu jam untuk mencapai tempat ini. Di tengah-tengah perjalanan, kami melewati sebuah lokasi wisata indah, yakni Pantai Lao Maru. Tepat di salah satu sudut pesisir pantai, di tebing yang cukup curam, sebagian jalan menjadi sangat sempit, karena sebagiannya runtuh akibat gempa. Lintasan ini hanya bisa dilewati satu mobil saja. Cukup riskan. Bila tidak hati-hati, akan jatuh ke kedalaman yang cukup tinggi. Pemandangan di daerah ini luar biasa indahnya. Namun kini keadaannya sangat sepi. Entah dengan sebelum gempa.
Sepanjang perjalanan menuju Foa ini, terlihat jelas kerusakan banguan yang merata. Tempat-tempat ibadah, baik masjid maupun gereja, tidak luput dari kehancuran. Sekitar pukul 11, kami tiba di lokasi pertama, yakni Desa Tete Hesi, Kecamatan Gido. Lokasi ini bisa dikatakan terbagi dua, yakni penduduk yang mayoritas Kristen, dan mayoritas Islam. Tokoh masyarakat muslim yang kami temui menekankan agar kami melakukan pengobatan di kedua daerah, agar tidak terjadi kecemburuan masyarakatnya. Maka sekitar pukul 11.15, kami melakukan pengobatan pertama di desa berpenduduk mayoritas Nasrani. Kendala utama dalam melakukan pengobatan tentunya adalah bahasa. Peran penerjemah lokal, seperti Lita dan relawan pria lokal yang kami bawa, menjadi sangat penting. Anjas melakukan satu tindakan wound toilet di sini. Sebagian besar penduduk mengeluh jantungnya selalu berdebar-debar sejak kejadian gempa. Tepat satu jam, kami segera pamitan, karena mengejar waktu sholat Jum’at. Kami bergegas menuju masjid di perkampungan pesantren Hidayatullah, Desa Siwalabanua. Untuk mencapai tempat wudhu saja, di sebuah mata air kecil, kami harus menuruni dataran curam yang cukup licin, dengan kemiringan sekitar 45 derajat, 10 meter ke bawah, untuk kemudian bergegas naik lagi. Di dalam ‘masjid’ yang sangat sederhana, sholat Jum’at sudah dimulai. Aku tidak sempat mengikuti khutbah Jum’at. Jumlah jama’ahnya sekitar 20 orang saja. Selepas Jum’atan, kami menggelar pengobatan di depan ruang kelas berukuran delapan kali enam meter persegi yang berperan sebagai masjid. Lagi-lagi Anjas cukup ‘beruntung’ mendapatkan tindakan jahit-menjahit, bahkan sampai dua pasien. Salah satunya luka robek di kepala, dengan dasar luka jaringan lunak. Anjas sudah khawatir saja, tengkorak orang ini tidak menyatu sempurna. Segera saja ia menjahitnya, dibantu Adi. Sekitar dua jam kami melakukan pengobatan di tempat ini. Masyarakatnya lebih baik dalam berbahasa Indonesia. Selepasnya, pimpinan pesantren menjamu kami dengan nasi, mie, tempe, dan air putih hangat. Aku sangat terkesan dengan para asatidz di sini, khas Hidayatullah. Mereka bisa merintis sebuah pusat Islam di daerah yang mayoritas non muslim. Pimpinannya adalah seorang pria Jawa yang sebelumnya lama tinggal di Bengkulu, dan baru dua tahun ditugaskan di pesantren ini. Pesantren ini sendiri baru dirintis dan berdiri tahun 1998. Subhanalloh, perjuangan para da’I Hidayatullah.
Pukul 15.30 sampai 17.30 kami meneruskan pengobatan di Desa Umene Satua. Rasanya pasien di sini tidak habis-habisnya. Sampai akhirnya kami menyadari bahwa sebagian obat esensial telah habis terpakai. Kami sempat mengunjungi satu masjid lagi, tapi tidak bisa memberikan kontribusi apa-apa, karena persediaan obat sudah tidak memadai lagi. Kami hanya bisa menjanjikan kepada penduduk setempat, bahwa kami akan kembali. Kesimpulan yang kami dapatkan di sini, sebagian besar pasien mengeluhkan sakit ‘jantung’, maksudnya mereka selalu berdebar-debar sejak kejadian gempa. Hal ini aku interpretasikan sebagai semacam stres pasca trauma. Kasus hipertensi juga cukup banyak di sini. Sepertinya hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan kaum pria yang mayoritas perokok berat, dan mengkonsumsi makanan tinggi garam. Ketika aku minta agar mereka mengurangi konsumsi garam, ternyata sulit juga, karena makanan yang tersedia sebagian besar adalah ikan asin sebagai lauk. Penyakit-penyakit tertentu yang membutuhkan terapi jangka panjang di Puskesmas pun, tidak dapat ditindaklanjuti dengan baik, karena Puskesmas yang juga ditinggalkan petugasnya. Menjelang maghrib kami kembali ke Posko di kota.
Hari ini juga kami bertemu dengan kawan-kawan Kepanduan PKS DPW Sumut dan Komite Kemanusiaan Indonesia (KKI) Sumut, bersama seorang relawan dari Portal Infaq yang sempat kami temui dalam perjalanan pesawat Jakarta-Medan. Seharusnya rombongan ini telah berangkat sejak hari Rabu menggunakan helikopter. Namun Alloh bekehendak lain. Mereka justru menempuh perjalanan laut menggunakan kapal ikan yang berkapasitas kecil, mengangkut sekitar belasan orang, dan mampu membawa muatan total sampai 10 ton. Lama perjalanan mereka 12 jam, diterpa hempasan ombak yang keras terasa, dan dilewati dengan kepasrahan total kepada Alloh saja. Khususnya bagi mereka yang tidak biasa menempuh perjalanan laut, dan tidak bisa berenang! Mereka membawa satu buah gen-set. Sehingga malam itu, kantor DPD PKS Kabupaten Nias di Gunung Sitoli adalah satu dari sedikit bangunan yang bersinar terang oleh cahaya lampu.
Sampai hari ini, transportasi menuju pulau masih demikian sulitnya, sampai-sampai bantuan yang disalurkan swadaya masyarakat seperti PKS menggunakan kapal yang disewa sendiri selama satu bulan, dengan segala keterbatasannya. Pemerintah tampaknya tidak berpikir untuk memudahkan transportasi penyakuran bantuan ke Nias. Justru transportasi udara banyak datang dari asing.
Malam itu kami tidur beratapkan terpal dan beralaskan tikar di posko. Mudah-mudahan kondisi badanku senantiasa terjaga sampai akhir tugas kami di sini.
***
Sabtu, 2 April 2005
Kisah Lita
Persediaan obat menipis, bantuan sembako masih tertahan di Sibolga, entah kapan bisa mencapai Pulau ini. Kabarnya beras beberapa ton, minyak goreng, dan beberapa kebutuhan pokok lain sudah dimasukkan ke dalam truk, tinggal dibawa oleh kapal feri menuju Nias. Tapi sampai hari ini masih belum bisa berangkat juga. Sehingga praktis tidak ada kegiatan yang bisa kami lakukan hari ini. Dengan semangat juang, Lita berangkat seorang diri menuju Medan untuk menemui kedua orangtuanya yang seharusnya sudah berada di sini, sekaligus membeli obat-obatan yang sudah habis. Mantan caleg PKS yang mewakili Pulau Nias untuk daerah pemilihan Sumut ini adalah akhwat tangguh bertenaga ikhwan. Berbekal sebuah ransel 60 liter, satu tas jinjing, dan rompi ACT, anak kelima dari tujuh bersaudara ini diantar abangnya, Bang Mendra, menuju bandara. Sebagai seorang relawan, Lita berpikir selayaknya ia bisa mendapatkan transportasi gratis keluar pulau untuk mendapatkan bantuan. Namun hari itu ia tidak berhasil mendapatkan penerbangan bebas biaya. Lita harus membayar 500 ribu rupiah untuk sebuah tiket pesawat Merpati, yang ternyata diganti dengan pesawat Angkatan berkapasitas 10 orang. Tampaknya ada deal-deal bisnis antara perusahaan penerbangan Merpati dengan Angkatan Darat.
Sesampainya di Medan sekitar pukul 14.00, dengan keluwesannya bergaul, Lita mendapatkan kenalan baru di Polonia, yang menjanjikannya pesawat gratis kembali ke Medan sore itu. Tapi karena belanjaan yang cukup banyak, khususnya obat-obatan, ia baru menyelsaikan berbelanja pukul 18.00. Bawaan yang sangat banyak ini dibawanya dengan becak motor menuju rumahnya. Sempat juga Lita bertemu dengan kawan-kawan KKI Medan. Malam harinya Lita berhasil bertemu dengan kedua orangtuanya, yang ternyata baru tiba dari Sibolga. Alhamdulillah mereka selamat. Hanya saja sang Bunda kurang sehat, karena harus tidur di luar rumah bersama pengungsi lain malam-malam sebelumnya. Kisah Lita selanjutnya diteruskan esok hari.
Aku, Adi, Anjas, Ikun, dan Pak Hendra praktis tidak memiliki kegiatan berarti sejak pagi hingga siang itu. Kecuali menunggu Lita kembali dari Medan membawa obat-obatan. Kebetulan kawan-kawan BSMI pusat datang siang harinya, bersama ketua umumnya dr. Basuki S, SpBO, dan beberapa dokter lainnya dari Aceh dan Surabaya. Aku berkenalan dengan sejawat dari FK Unair yang seangkatan, dr. Fahmi. Mereka mendapatkan rumah sangat berdekatan dengan posko kami, sebagai sekretariat BSMI di Nias. Rombongan ini tiba dengan pesawat dari Medan.
Eksodus Besar-besaran
Untung bagiku, sore harinya ada sebuah peristiwa besar yang bisa aku ikuti. Eksodus besar-besaran penduduk Nias ke luar pulau! Pak Hendra yang mendapatkan informasi ini, sekaligus menunggu bantuan yang akan disalurkan Elshinta, mendahului menuju Pelabuhan G. Sitoli bersama Bapak Yorhamun dengan ‘kereta’ alias motor. Beberapa SMS ditujukan bagiku dan Ikun, meminta agar kami dapat meliput peristiwa ini. Kami berdua bergegas menumpang mobil angkutan umum menuju pelabuhan.
Luar biasa, pelabuhan begitu ramai sora itu. Sebuah kapal kayu dengan jenis sama seperti yang kutumpangi dalam perjalanan Sibolga-Nias, nyaris tenggelam di dermaga karena kelebihan penumpang! Ribuan orang lainnya yang tidak memiliki tiket dengan tidak sabar berusaha memasuki kapal feri besar, Jatra III dari Jakarta, yang memuat puluhan mobil dari berbagai lembaga pembawa bantuan. Termasuk dua mobil ambulans BSMI yang diangkutnya. Berbekalkan sebuah kamera digital Sony Cybershot, handycam Mini DV Sony, dan kamera otomatis berlensa tele Canon, aku dan Ikun mengambil dokumentasi sebanyak-banyaknya. Kami sempat berbincang-bincang dengan beberapa pengungsi. Mereka tidak memiliki biaya sama sekali untuk melakukan perjalanan, sehingga berusaha mencari tumpangan gratis keluar pulau. Isu akan terjadinya gempa susulan yang akan menenggelamkan Nias membulatkan tekad meninggalkan pulau ini.
Banyak sekali ibu-ibu yang membawa anaknya, ditingkahi suara tangisan tidak mengerti, mengiringi pengungsian besar-besaran itu. Setelah semua mobil dan kendaraan bermotor, termasuk alat berat, dikeluarkan dari feri, ribuan orang berlarian merangsek memasuki kapal. Dengan membawa handycam, aku ikuti rombongan ini sampai dalam dek kapal, merekam ekspresi kepanikan dalam wajah para pengungsi. Sampai-sampai jembatan kapal hampir diangkat, aku berlari keluar dari kapal, agar tidak ikut terbawa. Antrian motor di luar yang menunggu diijinkan masuk, dan penduduk yang tidak henti-hentinya berusaha memasuki kapal, terus berlangsung sampai pukul 18.00. Kami berdua akhirnya memutuskan meninggalkan pelabuhan. Semoga mereka semua selamat tiba di tempat tujuan di Sibolga.
Malamnya kami kembali beristirahat di tenda Posko. Terdengar suara anak-anak batuk dari kemah kecil dekat terpal kami. Kemah kecil berukuran sekitar 1,5 kali 1,5 meter persegi ini ditinggali Bapak Yorhamun, relawan kami dari Waspada Peduli Umat yang merelakan madrasahnya sebagai posko, bersama istri dan tiga anaknya yang balita. Semoga anak-anak kecil ini sehat-sehat saja.
***
Ahad, 3 April 2005
Kisah Lita Episode 2
Pagi harinya, Lita mencarikan kontrakan untuk kedua orangtuanya, dengan bantuan biaya dari ACT. Tidak banyak waktu yang ia habiskan bersama ayah-ibunya. Ia harus segera kembali bekerja. Jam 10.00, Pak Hendra menghubungi untuk segera kembali ke Nias. Dengan membawa barang yang sangat banyak untuk dibawa seorang diri, sebuah box besar berisi obat-obatan seberat kira-kira 20 kg, dan satu tas carrier, Lita berangkat menggunakan taksi menuju Polonia. Hanya keyakinan atas pertolongan Alloh sajalah yang menguatkan akhwat ini untuk membawa bantuan yang demikian banyak. Jam 13.00, dengan seseorang yang baru dikenalnya, Lita mengangkasa dengan pesawat CASA TNI AL. Sebelumnya barang bawaan Lita yang terlalu banyak ini sempat dipermasalahkan sebelum naik pesawat. Tetapi ia bersikeras bantuan ini untuk pengobatan. Lagi-lagi di pesawat ia mendapatkan kenalan baru yang menjanjikan akan membantu, jika ada relawan ACT yang membutuhkannya. Jam 14.30 Lita sampai di bandara Binaka, Nias. Selanjutnya ia segera kembali ke Posko.
Pagi itu juga, sambil menunggu kedatangan Lita, kami berbincang-bincang dengan seorang pria Nias di Posko. Ia menjelaskan bahwa Nias adalah pulau yang cukup besar. Panjang pulau ini sekitar 200 km, dan lebarnya antara 80 sampai 120 km. Kami banyak menyebut-nyebut lokasi yang cukup banyak dihuni umat Islam, namun masih sulit dijangkau hingga saat itu, yakni Lahewa di sebelah utara pulau, dan Teluk Dalam di selatan. Jumlah penduduk beragama Islam di pulau ini tidak sampai 10 persen, dan banyak di antara mereka yang menjadi korban. Pria ini juga menjelaskan bahwa Nias adalah daerah yang terdiri dari beragam etnis pendatang sejak dahulu kala. Bugis, Makasar, Aceh, Padang, Cina dan lainnya. Nama marga di pulau ini juga khas, seperti Zebua, Harefa, Zega. Lita pernah menjelaskan bahwa marga asli Nias tidak ada yang berakhiran konsonan, semuanya vokal. Begitu juga dengan kata-katanya. Kata serapan konsonan akan dibuat menjadi vokal, misalnya mobil menjadi mobi. Satu hal yang unik bagiku adalah cara mereka mengucapkan huruf f dan r. Seperti aksen Prancis. Mereka juga tampaknya tidak mengenal huruf p.
Pada pukul 10.13, terjadi gempa yang cukup besar dan lama, sekitar 1 menit. Getarannya sangat terasa. Untungnya tidak ada barang yang jatuh atau bangunan roboh. Kami sedang berada di Posko. Di jalanan tampak sedikit kepanikan. Orang-orang sebagian berlarian, para pengendara motor menghentikan kendaraannya.
Sekitar pukul 10.20, mobil truk tanki air dari PAM datang. Sejak kedatanganku di pulau ini, air dan listrik masih belum berfungsi. Untuk mandi pagi, aku dan kawan-kawan sengaja berjalan agak jauh ke rumah Lita, untuk mengambil air sumur. Dan.. cukup mandi sekali saja sehari. Mobil berhenti tepat di sekretariat BSMI, sekitar 15 meter dari posko kami. Anak-anak perempuan, laki-laki, semuanya mengambil ember dan alat apapun yang bisa menampung air, bolak-balik dari posko ke mobil tanki, menampung air yang dikucurkan dari selang besar. Mereka tampak kepayahan ketika membawa ember menuju rumahnya, namun ekspresi kepuasaan terlihat di wajah. Subhanalloh, inilah rasanya kondisi sulit air. Sekitar 20 menitan mobil memberikan airnya bagi penduduk sekitar yang berdatangan dari segala penjuru, kemudian pergi menuju daerah lain, agar pembagian air merata.
Sore itu kami menjama’ sholat dzuhur dan ashar di Panti Asuhan Al-Washliyah, sekitar 500 meter dari posko kami. Berangkat menggunakan satu becak kayuh dinaiki berempat, sempat becak ini terjungkal. Untungnya tidak ada yang terluka. Kami hanya tertawa saja membayangkan kekonyolan ini. Tidak tega juga sih, melihat para pengayuh becak di kota ini. Medannya sangat berliku-liku, naik-turun, dengan para pengemudi yang kurus-kurus dan selalu tampak kepayahan. Cukup nyaman beristirahat di ruang sholat panti asuhan ini, sambil berkenalan dengan anak-anak SD penghuni panti, sedikit belajar bahasa Nias dengan mereka. Mereka suka sekali difoto. Setelah Lita datang, kami mengadakan pengobatan di satu daerah saja, tidak jauh dari desa yang kami kunjungi dua hari lalu, sampai maghrib tiba.
Malam ini gen-set sudah menyala di posko kami, sehingga lapangan madrasah yang kami tinggali cukup terang. Kami tidak perlu lagi menumpang di tempat lain untuk men-charge batere HP. Tapi instalasi air masih belum berfungsi.
***
Senin, 4 April 2005
Hari ini Pak Hendra harus kembali ke Jakarta, membawa laporan, dan foto-foto yang belum dicetak dalam rol-rol film kamera otomatis. Ia meminta Lita mengurus keberangkatannya, sedangkan Lita juga harus mengurus adiknya Yeni, yang harus kembali ke Medan untuk mengurusi ayah-ibunya. Dengan mengendarai motor, Lita dan Yeni berangkat ke rumah mereka untuk mengemas pakaian orangtuanya. Mereka kemudian menuju bandara. Atas bantuan Bayu, seorang polisi muda baik hati yang dikenal Lita saat di Polonia, Pak Hendra berangkat ke Medan menggunakan pesawat polisi. Yeni berangkat menggunakan pesawat AL atas bantuan Pak Firman, kenalan Lita yang lain.
Dalam perjalanan pulang, Lita kembali menemui sedikit masalah. Ia pulang mengendarai motor sendirian. Di tengah-tengah perjalanan, motornya berhenti karena kehabisan bensin. Untungnya ia berhasil mendapatkan tumpangan untuk minta diantar mendapatkan bensin lima liter. Lita harus mengangkat ember berisi bensin seorang diri. Kemudian ia kembali ke DPD PKS, dan bertemu dengan seorang wanita yang menceritakan desanya sebagian terendam air, dan sebagian lagi belum pernah mendapatkan bantuan. Sore harinya ia menuju posko ACT dan menekankan agar ACT bisa membantunya, dengan membawa peta Nias. Lita bersikeras agar kami semua bisa pergi ke Teluk Dalam yang jaraknya “hanya” 120 km saja. Padahal saat itu untuk mencapai Teluk Dalam di Kabupaten Nias Selatan, belum bisa ditempuh melalui perjalanan darat biasa, setidaknya menggunakan mobil. Akhwat yang pernah berkampanye puluhan kilometer jauhnya menggunakan motor saat Pemilu tahun lalu itu mengatakan kami semua bisa menggunakan beberapa motor untuk mencapai Teluk Dalam bersamanya. Tapi karena pertimbangan lokasi yang terlalu jauh, memakan waktu, dan medan yang berat, rencana itu diurungkan.
Hari itu juga, setelah kepergian Pak Hendra dan Lita ke bandara, kami mengadakan pengobatan ke arah utara, sampai 12 km dari Gunung Sitoli, kalau sebelumnya kami mengarah ke selatan ke Desa Foa, 16 km dari Gn. Sitoli. Inilah medan tersulit yang aku rasakan setelah beberapa hari berada di sini. Menggunakan minibus Suzuki Carry lama dengan pengemudi lokal, kami melewati sekurangnya dua jembatan kayu dan dua jembatan beraspal dengan patahan jalan yang cukup besar. Salah satunya patah tepat di antara jalan mendaki beraspal yang menghubungkan dengan jembatan kayu. Sehingga ban mobil sulit mendapatkan pijakan. Untuk melintasi jembatan ini, kami dibantu beberapa penduduk setempat yang mengatur gundukan tanah, batu-batuan, dan pasir di dalam patahan, sehingga bisa dilewati mobil. Itupun harus didorong juga. Sungguh menegangkan. Belum lagi jalanan desa yang berkerikil dan berlubang-lubang, sejak sebelum gempa. Ditambah lagi satu bagian jalan yang terbelah cukup besar di tengah-tengah jalan. Hanya pengemudi handal saja yang bisa melewati tipe jalanan seperti ini.
Kami menghabiskan hari ini dengan pengobatan di dua tempat sampai sore hari. Desa Mboe, yang kami kunjungi pertama kali, sudah mendapatkan bantuan medis asing beberapa hari sebelumnya. Kemudian kami lanjutkan ke Kec. Tuhemberua, dan Desa Afiat. Lagi-lagi kendala terbesar kami adalah penduduk yang sebagian besar tidak bisa berbahasa Indonesia. Keluhan mereka sama: jantung berdebar-debar, batuk-pilek, lemah, dan gatal-gatal. Pasien yang kami tangani total kira-kira mencapai 200-an. Ingin sekali kami bisa memberikan bantuan makanan ke daerah-daerah ini. Mereka lebih butuh makanan, dibandingkan obat-obatan. Namun apa daya, bantuan makanan kami belum tiba.
Hari ini mobil tanki air tidak datang. Persediaan air di Posko kami menipis. Malamnya kami berempat, aku, Ikun, Lita, dan Anjas mendiskusikan apa yang bisa kami lakukan esok hari.
***
Selasa, 5 April 2005
Tadi malam masih terdengar suara anak kecil terbatuk-batuk dari kemah kecil keluarga Pak Yorhamun. Mungkin itu suara Afni, Rais, atau Akbar, yang berusia 3-4 tahunan. Kasihan sekali mereka, harus merasakan dinginnya udara malam selama berhari-hari, karena tidak berani tidur di dalam rumah.
Pagi ini aku kedatangan seorang laki-laki berusia 30 tahun yang meminta obat-obatan untuk istrinya yang sedang hamil 5 bulan. Ia menceritakan tentang dirinya, seorang tukang kayu keturunan Nias-Jawa yang merantau dari Medan dua tahun silam. Saat ini istrinya sedang mengandung anak ketiganya, dengan anak pertamanya yang meninggal saat usia 7 bulan karena kelainan jantung, dan anak keduanya yang kini masih berusia 8 bulan. Pria ini mengeluhkan minimnya bantuan sampai saat ini. Ia juga menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat muslim Nias, yang menurutnya kurang membantu antara yang kaya dan miskin. Misalnya saat pembagian daging kurban, yang dirasakannya tidak merata.
Selama beberapa hari sejak terjadinya bencana, bapak ini sehari-harinya berkeliling dengan berjalan kaki dari satu posko ke posko lain, mencari bantuan makanan bagi dirinya dan keluarganya. Pernah ia mendapatkan tawaran bantuan makanan dari gereja, namun ia ragu-ragu menerimanya, karena khawatir akan status kehalalannya. Maka bantuan dari sesama muslim sangat ia butuhkan. Pria ini juga pernah mencoba meminta bantuan ke tentara. Bukannya beras yang ia terima, tetapi bentakan dan ancaman untuk segera meninggalkan tempat itu. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apa yang TNI lakukan dengan bantuan sebanyak itu? Bukankah seharusnya mereka menyalurkannya? Atau mereka memperjualbelikannya? Sudah menjadi rahasia umum bahwa bencana seperti ini adalah bisnis bagi tentara.
Kami berbincang-bincang agak lama. Aku memberikan beberapa tablet vitamin dan zat besi bagi istrinya yang hamil di rumah, dan menyampaikan agar ia bisa kembali lagi besok, dengan harapan bantuan kami dari Sibolga sudah tiba. Siang ini bantuan air PAM datang agak terlambat, pukul 11.45. Kemarin air tidak datang sama sekali. Rupanya bantuan air hanya tiap dua hari sekali.
Tampaknya tetangga kami, BSMI, juga tidak banyak melakukan kegiatan pengobatan lapangan beberapa hari ini. Mereka lebih berkonsentrasi untuk mendirikan rumah sakit lapangan. Sedangkan PKS, dari informasi yang kami dapatkan malam harinya, menuju sebuah daerah di Botohaenga. Tim dari Kepanduan DPW PKS bersama dr. Kuspriyadi dari PKPU, seniorku angkatan ’88 yang menemani pengobatan kami dua hari lalu, menempuh perjalanan laut selama empat jam untuk mencapai daerah ini, yang normalnya bisa ditempuh lewat darat. Mereka menggunakan kapal nelayan. Tiba di tempat, sungguh mengenaskan, sebagian daerah ini sudah terendam oleh laut, bukan oleh tsunami, melainkan daratannya yang melesak ke bawah akibat gempa! Tentunya keadaan ini akan bersifat permanen. Kawan-kawan PKS menceritakan sempat terjadi sedikit keributan di sini, antara penduduk dua desa yang terkena musibah. Pasalnya satu desa yang merasa mendapatkan kerusakan lebih parah menginginkan bantuan pangan lebih banyak dibandingkan desa lainnya, sedangkan satu desa lain menginginkan bantuan yang merata antara keduanya. Reaksi mereka bagaikan orang-orang tidak makan selama berhari-hari. Ketika sore menjelang, air laut mulai pasang. Para relawan yang saat datang masih bisa melangkah biasa, saat pulang sudah terendam kakinya sampai sebatas lutut. Mereka kemudian pulang menaiki kapal yang sama, tiba di DPD malam harinya. Aku menemui dr. Kus untuk melakukan kegiatan rutin malam hari: memindahkan gambar dari kamera digital ke laptop-nya.
Sore hari ini aku, Ikun, Anjas, Adi, dan Lita memutuskan berjalan-jalan di sekitar kota mencari suvenir untuk oleh-oleh. Ikun ingin sekali membeli kaos bertuliskan “Nias”. Sekaligus kami ingin mencari tambahan bahan makanan yang bisa disalurkan dari toko lokal, sambil menunggu bantuan yang kabarnya datang dari Sibolga malam ini. Hujan turun agak deras ketika kami menggunakan dua becak kayuh untuk menuju lokasi toko. Sekitar 10 menit, kami tiba di sebuah toko yang menjual beberapa jenis kerajinan khas Nias. Karena harga yang terlalu mahal, Ikun hanya membeli gantungan kunci sebuah saja. Lainnya hanya membeli minuman. Bayangkan saja, harga Aqua botol Rp. 3500 sebuahnya, dan minuman seperti Fanta dan Sprite Rp. 4000. Kami kemudian berjalan kaki menuju pusat pemerintahan. Sempat berhenti sebentar dan melihat-lihat keadaan RSUD Gn. Sitoli. Rumah sakit ini diaktifkan oleh banyak elemen seperti BSMI, Mercy Malaysia, PMI, FK Unhas, IDI, BSB, dan lainnya, sehingga menjadi pusat rujukan pasien-pasien yang membutuhkan perawatan. Instalasi gawat daruratnya juga berfungsi dan penuh oleh pasien. Aku bertemu dengan Fahmi dari BSMI di sini. Ia mendapat giliran dinas RS hari itu. Sampai pusat pemerintahan, kami tidak mendapatkan apa yang kami cari, kemudian kami pulang ke posko menggunakan becak kayuh lagi. Kami juga kesulitan membeli beras di sini. Maksimal katanya hanya dibatasi 50 kg saja. Padahal niat kami semata hanyalah untuk disalurkan lagi.
Malam ini sekitar pukul 21.00, kami mendengar kabar bahwa kapal yang membawa bantuan pangan segera tiba di pelabuhan. Kapal sewaan PKS ini membawa hampir 10 ton beras yang dibeli oleh PKS, PKPU, dan ACT. Belanjaan kami hanya 1 ton saja, meliputi beras satu ton, ditambah ikan asin, susu balita, telor, dan minyak. Sekitar pukul 23.00, aku, Ikun, Anjas, dan Adi meluncur menuju pelabuhan dengan menumpang mobil pick up yang disewa PKS, langsung dari kantor DPD. Udara malam langsung menerpa kami yang duduk di bak belakang. Sementara beberapa anggota Kepanduan PKS menggunakan motor trail mencapai pelabuhan.
Ditunggu sampai pukul 01.00 dini hari, kapal masih belum bisa merapat juga, karena ada feri besar yang belum berangkat, sehingga harus mengantri masuk dermaga. Kami akhirnya pulang, dan langsung tergeletak di lantai ruang utama DPD untuk tidur sebentar.
***
Rabu, 6 April 2005
Dokter Multi Fungsi
Paginya selepas subuh, kami kembali menuju pelabuhan. Alhamdulillah kapal bisa merapat di sini, sekitar pukul 06.00. Terdiri dari dari seorang anggota Kepanduan, dan tiga ABK, kapal membawa berton-ton beras dan barang lainnya, termasuk dua gen set tambahan, dan bensin. Mulailah pekerjaan berat ini: memindahkan hampir seluruh isi muatan kapal ke dua mobil pick up, untuk diangkut ke kantor DPD bolak-balik. Butuh waktu sekitar empat jam untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Dokter Anjas dan Ikun beralih fungsi menjadi kuli pelabuhan, melempar ratusan kilo beras dari kapal ke atas. Beberapa anggota Kepanduan dan relawan dari DPD juga mengerjakan hal ini. Sementara aku mencari yang ringannya saja: mengambil dokumentasi kegiatan. Dokter Kuspriyadi beralih fungsi menjadi sopir pick up yang bolak-balik mengantarkan berton-ton muatan. Kulit kami semua benar-benar terbakar pagi itu.
Sesampainya di Posko, tanpa banyak beristirahat, kami memindahkan satu ton beras dari kantor DPD, kemudian mengepaknya dalam tas-tas kresek, masing-masing seberat 3,5 kg, untuk bisa didistribusikan ke beberapa desa sore itu. Kami benar-benar mengejar target. Karena kalau bisa, besok sudah kembali ke Jakarta!
Sore hari kami menyelesaikan mengemas 70-an kantong beras dan ikan asin, kemudian membersihkan diri di DPD. Menjelang maghrib kami membawa bantuan ke dua desa menuju arah Foa, berisi kantong-kantong beras, ikan asin, dan susu balita. PKS dan PKPU tentunya juga melakukan hal yang sama, dengan distribusi lokasi yang berbeda. Malam hari kami menyelesaikan pekerjaan melelahkan ini. Ya Alloh, senantiasa jagalah niat kami melakukan ini untuk mengharap ridho-Mu semata.
Anjas dan Adi menggunakan motor untuk mengantar kami, sedangkan yang lainnya menggunakan mobil. Saat perjalanan pulang, sudah gelap karena malam, mereka tidak mengetahui bahwa daerah yang mereka lalui di sekitar Lao Maru rawan akan pembunuhan. Pernah terjadi beberapa peristiwa perampokan dan pemenggalan kepala beberapa tahun silam. Saat kami ceritakan di Posko, mereka menjadi demikian paniknya dan mengomel.
Malam itu juga sempat terbersit gagasan untuk kembali ke Sibolga menggunakan feri, agar besoknya bisa kembali ke Jakarta. Namun kemudian Lita mendapat konfirmasi dari Bayu, bahwa besok kami bisa menggunakan pesawat Polisi dari Bandara Binaka untuk menuju Medan. Alhamdulillah. Kami pun beristirahat di bawah terpal malam itu. Malam terakhir kami di pulau indah ini.
***
Kamis, 7 April 2005
Hujan turun deras pagi itu. Aku dan kawan-kawan berwudhu langsung dari curahan hujan yang turun. Air di tempat penampungan di Posko sudah sangat sedikit. Kami bisa mandi di kantor DPD PKS pagi itu, dan diantar oleh dr. Kus menggunakan kijang PKPU sampai bandara Binaka.
Saat berpamitan dengan kawan-kawan di DPD, aku sempat bingung.
“Sampai ketemu… kapan ya?”
“Sampai ketemu di bencana berikutnya,” Aminullah dari Kepanduan DPW menimpali dengan nada gurauan.
Ya, aku sedih juga, pertemuan dengan kawan-kawan ini hanya bisa terjadi pada keadaan yang menyedihkan, yakni bencana. Tentunya tidak ada seorang pun yang menginginkan bencana. Mudah-mudahan Alloh mempertemukan kami kembali pada suasana yang menyenangkan di kesempatan lain.
Perjalanan gratis dengan pesawat Polisi ternyata tidak begitu mulus. Hanya separuh rombongan yang diijinkan masuk pesawat berkapasitas, mungkin, maksimal 20 orang itu plus barang bawaan. Kami memutuskan untuk membagi jumlah enam orang ini menjadi dua. Ikun, kakak ipar Lita yang tengah hamil tua, dan Anjas berangkat duluan. Karena Ikun harus memberi laporan ke kantor Waspada di Medan, dan setidaknya ada seorang dokter seperti Anjas yang ikut seandainya sesuatu terjadi pada wanita yang hamil tua ini. Pesawat berangkat sekitar pukul 10.00.
Bandara Binaka tidak ubahnya bandara internasional. Relawan asing dari berbagai negara, pesawat dan helikopter asing milik PBB, Singapura, dan negara lain, serta pesawat dari TNI AD, AL, AU, dan Polisi, singgah dan pergi di tempat ini. Satu-satunya penerbangan komersial yang ada adalah Merpati, dengan tiket mencapai Rp.500 ribu untuk mencapai Medan saja!
Aku, Lita, dan Adi, tetap menunggu sampai ada penerbangan gratis, khususnya dari pesawat angkatan yang bisa dinaiki. Ternyata sampai pukul 14.00, harapan ini pupus. Kami harus segera kembali ke Medan, karena tiket pesawat Medan-Jakarta sudah dipesan, dan pesawat berangkat sekitar pukul 16.30. Akhirnya kami bertiga memesan tiga tiket Merpati yang mahalnya luar biasa itu, dan dengan pesawat Fokker ini, pada pukul 14.15, kami meninggalkan Nias. Bisa dikatakan, untuk menikmati segelas air putih di pesawat ini, kami harus membayar 500 ribu!
Begitu pesawat mengangkasa, aku bisa melihat lautan Nias yang begitu biru dan indahnya. Satu jam kemudian kami sampai di Polonia. Bergegas mencari rombongan yang telah tiba lebih dulu, dan memastikan keberangkatan kami ke Jakarta.
Untungnya kami mempunyai “orang dalam” di bandara, sehingga bisa memesan tiket tepat sebelum pesawat berangkat. Pesawat Wings Air yang dijadwalkan berangkat pukul 16.40, molor menjadi pukul 17.20, dikarenakan kami baru check in pukul 17 lewat! Aku jadi teringat film Home Alone 2.
Dan… kembalilah kami ke Jakarta.
Monday, March 21, 2005
Tentang Perubahan Status RSUD menjadi PT... :(
Tulisan menarik, diambil dari Kompas 21 Maret 2005, memuat wawancara dengan dr. Hasbullah Thabrany:
Bukan Privatisasi untuk RSUD, tapi Otonomi dan Bersihkan Korupsi
BULAN September 2004 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubah status tiga rumah sakit umum daerah menjadi berbentuk perseroan terbatas atau PT. Privatisasi terhadap RSUD Pasar Rebo (Jakarta Timur), RSUD Cengkareng (Jakarta Barat), dan RS Haji di Pondok Gede (Jakarta Timur) itu sebenarnya sudah mendapat persetujuan dari DPRD DKI periode 1999-2004.
NAMUN, privatisasi itu kini mengundang kritik, bahkan dari kalangan dalam rumah sakit sendiri. Tak heran kalau DPRD DKI periode 2004-2009 kemudian akan mengevaluasi kembali privatisasi itu dan bahkan kemungkinan akan membatalkannya.
Pemprov DKI dan DPRD beralasan, perubahan status dari RSUD menjadi PT itu untuk mengurangi anggaran. Sebab selama ini Pemprov DKI harus menyubsidi Rp 400 miliar lebih per tahun untuk tujuh RSUD yang ada. Selain itu, juga ada alasan untuk peningkatan profesionalisme.
Dengan perubahan status ketiga rumah sakit tersebut, sebagian subsidi bisa diberikan langsung kepada masyarakat miskin melalui Program Jaminan Pelayanan Kesehatan bagi Keluarga Miskin (JPK Gakin).
Meski masih banyak ditentang, Pemprov DKI sudah bertekad akan memprivatisasikan empat RSUD lainnya, yakni Tarakan, Budhi Asih, Duren Sawit, dan RSUD Koja. Tetapi belakangan diketahui bahwa keempat RSUD itu akan diubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU), bukan PT.
Menanggapi pro-kontra mengenai privatisasi RSUD di DKI, Kompas mewawancarai Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany. Menurut dia, pelayanan kesehatan dan pembangunan fasilitas kesehatan merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Jika privatisasi terus dilakukan, itu berarti Pemprov DKI telah melemparkan tanggung jawabnya yang sudah diatur dalam undang-undang.
Berikut petikan wawancaranya yang berlangsung di Depok, akhir pekan lalu.
Kenapa Pemprov DKI seperti keberatan menyubsidi RSUD?
Memberi subsidi ke rumah sakit pemerintah itu kewajiban pemerintah. Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Bukan hanya masyarakat miskin saja, tetapi semua lapisan masyarakat. Kenapa begitu, karena orang sakit adalah orang yang terkena musibah atau bencana. Ketika sakit, orang tidak mampu untuk berproduksi atau mendapatkan penghasilan. Yang ada malah mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah jika harus dirawat di rumah sakit. Orang kaya pun bisa jatuh miskin kalau sakit.
Pemerintah daerah berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan karena secara sepihak pemerintah telah menarik pajak dari masyarakat. Masyarakat diwajibkan membayar pajak dan mereka tidak bisa mengelak dari pajak. (Sebagian) Uang pajak itu digunakan untuk menyubsidi rumah sakit pemerintah. Nah, kalau tidak mau mengucurkan dana lagi ke RSUD berarti pemerintah tidak bertanggung jawab. Semua negara mencari dana untuk membiayai rumah sakitnya, Pemprov DKI malah memutus aliran dana pemerintah ke rumah sakit.
Kalau itu kewajiban, kenapa pemerintah menyebutnya subsidi?
Istilah subsidi itu tidak benar. Dinamakan subsidi jika pemerintah memberikan bantuan dana untuk nonpemerintah. Pendanaan yang dilakukan pemerintah karena merupakan kewajibannya bukanlah subsidi. Misalnya saja, saya punya anak kemudian saya menyekolahkan anak saya, apakah itu bisa dibilang subsidi? Terus kalau anak saya sakit dan harus berobat ke dokter, apakah itu juga subsidi? Saya punya anak, jadi saya punya kewajiban menyekolahkan atau mengobatkan anak saya kalau sakit.
Pemda selama ini juga tidak pernah menyebutkan kata "subsidi" jika memberikan dana untuk kantor wali kota/camat. Tetapi kenapa untuk urusan rumah sakit pemda menyebutnya subsidi?
Pemprov DKI beralasan, privatisasi dilakukan agar pelayanan kesehatan di RSUD menjadi lebih profesional.
Rumah sakit menjadi tidak profesional karena persoalan manajemen. Kalau ada tikus di dalam rumah, apakah rumahnya harus dirobohkan terus diganti rumah baru. Kalau sudah ada rumah baru terus tikusnya masih ada bagaimana?
Menjadikan sebuah rumah sakit profesional tidak harus melalui privatisasi. Selama ini memang ada keluhan bahwa RSUD tidak leluasa mengelola keuangannya sendiri. Mau beli alat-alat medik saja harus mengajukan ke APBD yang kemudian menunggu persetujuan DPRD. Itu kelamaan. Kalau mau profesional dan efisien, rumah sakit diberi otonomi untuk mengelola keuangannya sendiri. Tetapi harus diawasi ketat dan akuntabel.
Privatisasi dilakukan karena RSUD dianggap rugi. Apanya yang rugi? RS Pasar Rebo itu tidak pernah merugi. Bahkan tahun 2004 rumah sakit itu bisa meraup untung Rp 40 miliar lebih. Kalaupun tidak diprivatisasi, rumah sakit tidak rugi kan?
HASBULLAH memang tidak setuju jika pemerintah menggunakan istilah "rugi" untuk rumah sakit pemerintah. Sebab, istilah rugi itu mestinya digunakan dalam kerangka bisnis. Padahal, pelayanan RSUD itu dalam rangka kewajiban pemerintah. Seperti halnya membayar gaji aparat negara, membangun fasilitas umum, membiayai DPRD, dan berbagai pendanaan perangkat pemerintah.
Ia juga mempertanyakan kenapa istilah "subsidi" dan "merugi" tidak pernah digunakan pemerintah untuk pembangunan sebuah jembatan, jalan, bahkan untuk pembangunan gedung SD dan puskesmas. Padahal, kalau dihitung secara ekonomi, fasilitas yang dibangun tersebut tidak menghasilkan uang yang bisa menutup biaya operasionalnya. "Kita telah terkecoh, mana yang menjadi kewajiban pemerintah dan mana yang menjadi kewajiban swasta," ujar Hasbullah.
Pemerintah menganggap, dengan privatisasi rumah sakit bisa mandiri secara finansial?
Privatisasi memang bisa membuat rumah sakit mandiri secara finansial. Tetapi duitnya dari mana? Tentu saja dari tarif. Tarif itu yang membayar siapa? Pasien kan? Jadi ujung-ujungnya yang menjadi korban adalah masyarakat. Mereka harus membayar mahal tarif yang telah ditentukan. Terus kalau semua rumah sakit diprivatisasi, apa kewajiban pemerintah?
Katanya, uang subsidi rumah sakit sebesar Rp 400 miliar akan dialihkan ke JPK Gakin. Dengan cara seperti itu, pemerintah memberikan subsidi langsung ke masyarakat dan bukan ke rumah sakit.
Pemda selalu bicara Gakin. Itu berarti Pemprov DKI hanya menjamin penduduk miskin saja. Padahal, kesehatan adalah hak dasar manusia. Dana JPK Gakin yang dimiliki Pemprov DKI sekarang hanya Rp 100 miliar. Apa cukup? Dana tersebut hanya cukup untuk menjamin kesehatan 8,5 persen penduduk DKI. Padahal jumlah penduduk paling mampu (kaya) hanya 20 persen dari penduduk DKI. Itu berarti 80 persen adalah penduduk dengan penghasilan biasa saja. Kalau yang bisa dijamin hanya 8,5 persen, lalu bagaimana dengan yang 71,5 persen?
Kalau orang jatuh sakit, dia bisa mendadak miskin karena seluruh tabungan, bahkan rumahnya, bisa digunakan untuk biaya berobat. Terus kalau duitnya habis dan tidak bisa berobat lagi bagaimana? Di situlah fungsi pemerintah dan rumah sakitnya.
Sebanyak 8,5 persen penduduk termiskin memang dilindungi JPK Gakin. Sedangkan 70-80 persen penduduk dengan tingkat hidup menengah mampu melindungi diri kalau ada pengobatan ringan. Tetapi kalau perlu perawatan rumah sakit dan pengobatan berat, penduduk yang jumlahnya 70-80 persen ini tidak mampu bertahan.
Di Malaysia dan Taiwan bisa terjadi transformasi bentuk rumah sakit karena pemerintah menanggung semua biaya berobat. Di Malaysia, orang berobat ke rumah sakit pemerintah hanya membayar tiga ringgit atau Rp 6.000 per hari. Harga itu sudah termasuk biaya rawat inap, ICU, operasi, dan lain-lain.
Dokter yang praktik di rumah sakit tersebut harus full time. Mereka digaji penuh, nilainya sekitar Rp 10 juta-Rp 20 juta. Tetapi mereka tidak boleh praktik di tempat lain. Ada sanksinya. Sebetulnya Pemprov DKI sanggup membayar dokter sebesar itu. Jumlah dokter yang praktik di satu rumah sakit berapa sih?
Mana yang lebih bagus? Subsidi ke rumah sakit atau langsung ke masyarakat melalui JPK Gakin?
Kalau subsidi langsung ke rumah sakit, cost-nya lebih murah. Tinggal kucurkan dana saja, selesai. Kalau melalui jaminan semacam Gakin, pemerintah harus mengeluarkan uang untuk keperluan survei, pendataan penduduk, pembuatan kartu Gakin, dan sebagainya. Subsidi langsung ke rumah sakit memang bisa dikorupsi, tetapi kenapa bukan koruptornya saja yang ditangkap?
Bentuk apa yang tepat kalau pemerintah tetap ngotot mengubah bentuk RSUD?
Semua ada kelebihan dan kekurangan. Tetapi semuanya tergantung dari manajemen. Untuk rumah sakit pemerintah, menurut saya, paling mudah berbentuk Badan Layanan Umum. Kelebihan BLU, rumah sakit itu masih tetap milik pemerintah. Namun pihak manajemen diberi keleluasaan untuk mengelola keuangannya sendiri. Tentunya dengan pengawasan ketat.
Gubernur (Sutiyoso-Red) sudah mau meninjau ulang pembentukan RSUD menjadi PT. Untuk RSUD lainnya, Pemprov DKI telah setuju menjadi BLU. Namun sekarang Pemprov DKI tengah menunggu peraturan pemerintah (PP) tentang BLU sebagai petunjuk pelaksanaannya.
Apakah pemerintah mampu memberikan jaminan kesehatan bagi semua penduduknya?
Jaminan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat berasal dari masyarakat itu sendiri. Ke depannya, kita akan membuat Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang harus diikuti oleh semua penduduk Indonesia, baik dia kaya maupun miskin. SJSN ini digunakan untuk memberi jaminan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia. Iurannya diperhitungkan secara proporsional. Kemungkinan besarnya adalah lima persen dari pendapatan. Untuk penduduk paling miskin, premi dibayarkan oleh pemerintah. Besarnya Rp 5.000.
Bagaimana dengan masyarakat yang memiliki penghasilan tidak tetap?
Mereka juga harus ikut. Besarnya iuran bisa diperhitungkan dari rata-rata pendapatan harian/bulanan mereka. Semua masih dihitung formulanya. Target awalnya sekarang adalah masyarakat dengan penghasilan tetap terlebih dulu. Jika semua sudah ikut SJSN, seluruh penduduk Indonesia berhak mendapat pelayanan kesehatan gratis atau murah di rumah sakit pemerintah. Dengan mengikutsertakan semua penduduk, ada semacam subsidi silang dari penduduk kaya untuk penduduk miskin.
(LUSIANA INDRIASARI)
Bukan Privatisasi untuk RSUD, tapi Otonomi dan Bersihkan Korupsi
BULAN September 2004 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubah status tiga rumah sakit umum daerah menjadi berbentuk perseroan terbatas atau PT. Privatisasi terhadap RSUD Pasar Rebo (Jakarta Timur), RSUD Cengkareng (Jakarta Barat), dan RS Haji di Pondok Gede (Jakarta Timur) itu sebenarnya sudah mendapat persetujuan dari DPRD DKI periode 1999-2004.
NAMUN, privatisasi itu kini mengundang kritik, bahkan dari kalangan dalam rumah sakit sendiri. Tak heran kalau DPRD DKI periode 2004-2009 kemudian akan mengevaluasi kembali privatisasi itu dan bahkan kemungkinan akan membatalkannya.
Pemprov DKI dan DPRD beralasan, perubahan status dari RSUD menjadi PT itu untuk mengurangi anggaran. Sebab selama ini Pemprov DKI harus menyubsidi Rp 400 miliar lebih per tahun untuk tujuh RSUD yang ada. Selain itu, juga ada alasan untuk peningkatan profesionalisme.
Dengan perubahan status ketiga rumah sakit tersebut, sebagian subsidi bisa diberikan langsung kepada masyarakat miskin melalui Program Jaminan Pelayanan Kesehatan bagi Keluarga Miskin (JPK Gakin).
Meski masih banyak ditentang, Pemprov DKI sudah bertekad akan memprivatisasikan empat RSUD lainnya, yakni Tarakan, Budhi Asih, Duren Sawit, dan RSUD Koja. Tetapi belakangan diketahui bahwa keempat RSUD itu akan diubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU), bukan PT.
Menanggapi pro-kontra mengenai privatisasi RSUD di DKI, Kompas mewawancarai Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany. Menurut dia, pelayanan kesehatan dan pembangunan fasilitas kesehatan merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Jika privatisasi terus dilakukan, itu berarti Pemprov DKI telah melemparkan tanggung jawabnya yang sudah diatur dalam undang-undang.
Berikut petikan wawancaranya yang berlangsung di Depok, akhir pekan lalu.
Kenapa Pemprov DKI seperti keberatan menyubsidi RSUD?
Memberi subsidi ke rumah sakit pemerintah itu kewajiban pemerintah. Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan. Bukan hanya masyarakat miskin saja, tetapi semua lapisan masyarakat. Kenapa begitu, karena orang sakit adalah orang yang terkena musibah atau bencana. Ketika sakit, orang tidak mampu untuk berproduksi atau mendapatkan penghasilan. Yang ada malah mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah jika harus dirawat di rumah sakit. Orang kaya pun bisa jatuh miskin kalau sakit.
Pemerintah daerah berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan karena secara sepihak pemerintah telah menarik pajak dari masyarakat. Masyarakat diwajibkan membayar pajak dan mereka tidak bisa mengelak dari pajak. (Sebagian) Uang pajak itu digunakan untuk menyubsidi rumah sakit pemerintah. Nah, kalau tidak mau mengucurkan dana lagi ke RSUD berarti pemerintah tidak bertanggung jawab. Semua negara mencari dana untuk membiayai rumah sakitnya, Pemprov DKI malah memutus aliran dana pemerintah ke rumah sakit.
Kalau itu kewajiban, kenapa pemerintah menyebutnya subsidi?
Istilah subsidi itu tidak benar. Dinamakan subsidi jika pemerintah memberikan bantuan dana untuk nonpemerintah. Pendanaan yang dilakukan pemerintah karena merupakan kewajibannya bukanlah subsidi. Misalnya saja, saya punya anak kemudian saya menyekolahkan anak saya, apakah itu bisa dibilang subsidi? Terus kalau anak saya sakit dan harus berobat ke dokter, apakah itu juga subsidi? Saya punya anak, jadi saya punya kewajiban menyekolahkan atau mengobatkan anak saya kalau sakit.
Pemda selama ini juga tidak pernah menyebutkan kata "subsidi" jika memberikan dana untuk kantor wali kota/camat. Tetapi kenapa untuk urusan rumah sakit pemda menyebutnya subsidi?
Pemprov DKI beralasan, privatisasi dilakukan agar pelayanan kesehatan di RSUD menjadi lebih profesional.
Rumah sakit menjadi tidak profesional karena persoalan manajemen. Kalau ada tikus di dalam rumah, apakah rumahnya harus dirobohkan terus diganti rumah baru. Kalau sudah ada rumah baru terus tikusnya masih ada bagaimana?
Menjadikan sebuah rumah sakit profesional tidak harus melalui privatisasi. Selama ini memang ada keluhan bahwa RSUD tidak leluasa mengelola keuangannya sendiri. Mau beli alat-alat medik saja harus mengajukan ke APBD yang kemudian menunggu persetujuan DPRD. Itu kelamaan. Kalau mau profesional dan efisien, rumah sakit diberi otonomi untuk mengelola keuangannya sendiri. Tetapi harus diawasi ketat dan akuntabel.
Privatisasi dilakukan karena RSUD dianggap rugi. Apanya yang rugi? RS Pasar Rebo itu tidak pernah merugi. Bahkan tahun 2004 rumah sakit itu bisa meraup untung Rp 40 miliar lebih. Kalaupun tidak diprivatisasi, rumah sakit tidak rugi kan?
HASBULLAH memang tidak setuju jika pemerintah menggunakan istilah "rugi" untuk rumah sakit pemerintah. Sebab, istilah rugi itu mestinya digunakan dalam kerangka bisnis. Padahal, pelayanan RSUD itu dalam rangka kewajiban pemerintah. Seperti halnya membayar gaji aparat negara, membangun fasilitas umum, membiayai DPRD, dan berbagai pendanaan perangkat pemerintah.
Ia juga mempertanyakan kenapa istilah "subsidi" dan "merugi" tidak pernah digunakan pemerintah untuk pembangunan sebuah jembatan, jalan, bahkan untuk pembangunan gedung SD dan puskesmas. Padahal, kalau dihitung secara ekonomi, fasilitas yang dibangun tersebut tidak menghasilkan uang yang bisa menutup biaya operasionalnya. "Kita telah terkecoh, mana yang menjadi kewajiban pemerintah dan mana yang menjadi kewajiban swasta," ujar Hasbullah.
Pemerintah menganggap, dengan privatisasi rumah sakit bisa mandiri secara finansial?
Privatisasi memang bisa membuat rumah sakit mandiri secara finansial. Tetapi duitnya dari mana? Tentu saja dari tarif. Tarif itu yang membayar siapa? Pasien kan? Jadi ujung-ujungnya yang menjadi korban adalah masyarakat. Mereka harus membayar mahal tarif yang telah ditentukan. Terus kalau semua rumah sakit diprivatisasi, apa kewajiban pemerintah?
Katanya, uang subsidi rumah sakit sebesar Rp 400 miliar akan dialihkan ke JPK Gakin. Dengan cara seperti itu, pemerintah memberikan subsidi langsung ke masyarakat dan bukan ke rumah sakit.
Pemda selalu bicara Gakin. Itu berarti Pemprov DKI hanya menjamin penduduk miskin saja. Padahal, kesehatan adalah hak dasar manusia. Dana JPK Gakin yang dimiliki Pemprov DKI sekarang hanya Rp 100 miliar. Apa cukup? Dana tersebut hanya cukup untuk menjamin kesehatan 8,5 persen penduduk DKI. Padahal jumlah penduduk paling mampu (kaya) hanya 20 persen dari penduduk DKI. Itu berarti 80 persen adalah penduduk dengan penghasilan biasa saja. Kalau yang bisa dijamin hanya 8,5 persen, lalu bagaimana dengan yang 71,5 persen?
Kalau orang jatuh sakit, dia bisa mendadak miskin karena seluruh tabungan, bahkan rumahnya, bisa digunakan untuk biaya berobat. Terus kalau duitnya habis dan tidak bisa berobat lagi bagaimana? Di situlah fungsi pemerintah dan rumah sakitnya.
Sebanyak 8,5 persen penduduk termiskin memang dilindungi JPK Gakin. Sedangkan 70-80 persen penduduk dengan tingkat hidup menengah mampu melindungi diri kalau ada pengobatan ringan. Tetapi kalau perlu perawatan rumah sakit dan pengobatan berat, penduduk yang jumlahnya 70-80 persen ini tidak mampu bertahan.
Di Malaysia dan Taiwan bisa terjadi transformasi bentuk rumah sakit karena pemerintah menanggung semua biaya berobat. Di Malaysia, orang berobat ke rumah sakit pemerintah hanya membayar tiga ringgit atau Rp 6.000 per hari. Harga itu sudah termasuk biaya rawat inap, ICU, operasi, dan lain-lain.
Dokter yang praktik di rumah sakit tersebut harus full time. Mereka digaji penuh, nilainya sekitar Rp 10 juta-Rp 20 juta. Tetapi mereka tidak boleh praktik di tempat lain. Ada sanksinya. Sebetulnya Pemprov DKI sanggup membayar dokter sebesar itu. Jumlah dokter yang praktik di satu rumah sakit berapa sih?
Mana yang lebih bagus? Subsidi ke rumah sakit atau langsung ke masyarakat melalui JPK Gakin?
Kalau subsidi langsung ke rumah sakit, cost-nya lebih murah. Tinggal kucurkan dana saja, selesai. Kalau melalui jaminan semacam Gakin, pemerintah harus mengeluarkan uang untuk keperluan survei, pendataan penduduk, pembuatan kartu Gakin, dan sebagainya. Subsidi langsung ke rumah sakit memang bisa dikorupsi, tetapi kenapa bukan koruptornya saja yang ditangkap?
Bentuk apa yang tepat kalau pemerintah tetap ngotot mengubah bentuk RSUD?
Semua ada kelebihan dan kekurangan. Tetapi semuanya tergantung dari manajemen. Untuk rumah sakit pemerintah, menurut saya, paling mudah berbentuk Badan Layanan Umum. Kelebihan BLU, rumah sakit itu masih tetap milik pemerintah. Namun pihak manajemen diberi keleluasaan untuk mengelola keuangannya sendiri. Tentunya dengan pengawasan ketat.
Gubernur (Sutiyoso-Red) sudah mau meninjau ulang pembentukan RSUD menjadi PT. Untuk RSUD lainnya, Pemprov DKI telah setuju menjadi BLU. Namun sekarang Pemprov DKI tengah menunggu peraturan pemerintah (PP) tentang BLU sebagai petunjuk pelaksanaannya.
Apakah pemerintah mampu memberikan jaminan kesehatan bagi semua penduduknya?
Jaminan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat berasal dari masyarakat itu sendiri. Ke depannya, kita akan membuat Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang harus diikuti oleh semua penduduk Indonesia, baik dia kaya maupun miskin. SJSN ini digunakan untuk memberi jaminan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia. Iurannya diperhitungkan secara proporsional. Kemungkinan besarnya adalah lima persen dari pendapatan. Untuk penduduk paling miskin, premi dibayarkan oleh pemerintah. Besarnya Rp 5.000.
Bagaimana dengan masyarakat yang memiliki penghasilan tidak tetap?
Mereka juga harus ikut. Besarnya iuran bisa diperhitungkan dari rata-rata pendapatan harian/bulanan mereka. Semua masih dihitung formulanya. Target awalnya sekarang adalah masyarakat dengan penghasilan tetap terlebih dulu. Jika semua sudah ikut SJSN, seluruh penduduk Indonesia berhak mendapat pelayanan kesehatan gratis atau murah di rumah sakit pemerintah. Dengan mengikutsertakan semua penduduk, ada semacam subsidi silang dari penduduk kaya untuk penduduk miskin.
(LUSIANA INDRIASARI)
Wednesday, March 09, 2005
To Those.. I'd Like to Thank.. in This Virtual World
To those I'd like to thank.. for teaching me a lot.. some new things in the world wide web, since I have my own internet connection at home in 1999.
Buat Hendra (http://www.hdn.uni.cc) yang sudah menginspirasiku untuk membuat website pertama menggunakan PostNuke sebagai CMS di http://www.asysyifaa.uni.cc dan melakukan instalasi awal sehingga website ini bisa online sampai sekarang, menggunakan hosting gratisan.
Untk Agil, yang rela jauh-jauh datang ke rumahku Ramadhan tahun 2003, sekedar untuk mengenalkan apa itu Content Management System (CMS) macam ASPNuke, PHP, dan Macromedia Flash. Kini ia jauh lebih maju dengan http://gawat.com -nya. Gil, jangan lupa belajar ya, antum harus jadi dokter!
Alvi, teman SMA lulusan Fasilkom UI yang punya http://alvifauzan.blogspot.com dan menginspirasiku (secara tidak langsung, tanpa kata-kata) untuk memiliki blogspot sendiri di http://arifianto.blogspot.com
Sudah enam tahun lebih kita nggak ketemu.
Ibu Helvy Tiana Rosa, yang tulisan-tulisannya selalu berakhiran dengan http://helvytr.multiply.com, sehingga akupun memiliki blok di http://drarifianto.multiply.com
Buat Hendra (http://www.hdn.uni.cc) yang sudah menginspirasiku untuk membuat website pertama menggunakan PostNuke sebagai CMS di http://www.asysyifaa.uni.cc dan melakukan instalasi awal sehingga website ini bisa online sampai sekarang, menggunakan hosting gratisan.
Untk Agil, yang rela jauh-jauh datang ke rumahku Ramadhan tahun 2003, sekedar untuk mengenalkan apa itu Content Management System (CMS) macam ASPNuke, PHP, dan Macromedia Flash. Kini ia jauh lebih maju dengan http://gawat.com -nya. Gil, jangan lupa belajar ya, antum harus jadi dokter!
Alvi, teman SMA lulusan Fasilkom UI yang punya http://alvifauzan.blogspot.com dan menginspirasiku (secara tidak langsung, tanpa kata-kata) untuk memiliki blogspot sendiri di http://arifianto.blogspot.com
Sudah enam tahun lebih kita nggak ketemu.
Ibu Helvy Tiana Rosa, yang tulisan-tulisannya selalu berakhiran dengan http://helvytr.multiply.com, sehingga akupun memiliki blok di http://drarifianto.multiply.com
The X-Files: Book of the Unexplained
What’s your favourite all-time movies, or TV series? We all must have at least one, musn’t we? Pastinya kita ingat, saat jaman-jaman TK atau SD dulu, hampir tiap hari, bagi yang tinggal di Jakarta, biasa menyaksikan film-film Jepang, atau yang saat ini dikenal dengan tokusatsu (film eksyen orang) atau anime (film kartun). Goggle Five, Gaban, Sharivan, Voltus Lima, God Sigma, Megaloman, Kamen Rider, Lion Maru, dan lain-lain. Ada pula Candy-candy, Lulu, dan semacamnya. Itu di video, bagi yang memiliki video player. Atau masa-masa TVRI dulu, Setidaknya ada Si Unyil, Scooby Doo, Pacman, Centurions, dan beberapa yang sudah kulupakan. Memasuki masa TV swasta pertama di Indonesia, yakni RCTI, yang masih marus memakai dekoder waktu itu, ada Ninja Si Bayang Merah, Thunder Cats, The Chipmunks. Akhirnya… era TV swasta mengudara gratis pun tiba. Kita semua masih bisa menyaksikan Doraemon setiap Ahad pagi hingga saat ini. Kemudian siapa sih yang tak kenal dengan MacGyver, Airwolf, Knight Rider, My Secret Identity, Growing Pains, sampai Star Trek The Next Generation, The Flash, dan Time Trax. Sampai… saat ini, ketika TV swasta yang mengudara senantiasa bertambah hampir setiap tahun.
Jika ditanya apa serial TV favoritku? Aku akan menjawab, salah satunya adalah The X-Files. Aku menonton film ini sejak episode perdananya di SCTV ketika masih kelas 2 SMP waktu itu, sekitar tahun 1994. Kemudian sempat henti tayang setiap pergantian season, sampai akhirnya episode ini berakhir pada season kesembilannya, aku hampir menyaksikan semua episodenya.
Tahun 1997, saat SMA, aku menemukan buku “The X-Files: Book of The Unexplained” karangan Jane Goldman, buku jilid kesatu dan kedua, diterbitkan oleh Simon and Schuster. Waktu itu belum krismon, jadi buku yang tebalnya ratusan halaman ini masih bisa kubeli dengan harga tidak lebih dari 40 ribu rupiah. Buku ini menerangkan latar belakang cerita-cerita dalam episode The X-Files season 1 sampai 3, dengan penjelasan ilmiahnya. Mulai dari UFO, fenomena-fenomena tak terjelaskan, sampai catatan-catatan Scully dan Mulder yang sering dinarasikan dalam episode-episode filmnya. Foto-foto dari film-nya juga ada.
Kini, 11 tahun setelah aku pertama kali mengenal serial TV ini, koleksi DVD-nya sudah mulai bisa didapatkan di Indonesia. Sebagai orang yang sayang mengeluarkan isi kocek hanya untuk membeli hal-hal semacam ini, misalnya DVD original, aku hanya membeli DVD bajakannya saja. Sayangnya aku baru bisa menemukan season 1, itupun tidak lengkap 24 episode, hanya 21 episode saja. Dengan semua feature yang tidak ada! Ngeselin sih.. Tapi tidak apa-apa, setidaknya bisa sedikit bernostalgia dengan masa muda, sambil mencocokannya dengan isi buku.
Jadi… ada yang punya koleksi lengkap DVD The X-Files season 1 sampai 9? Boleh pinjam? Karena kata temanku ada di Mangga Dua, itupun DVD 9 dengan harga lebih mahal dibandingkan bajakan biasa.
Anyone? :)
Jika ditanya apa serial TV favoritku? Aku akan menjawab, salah satunya adalah The X-Files. Aku menonton film ini sejak episode perdananya di SCTV ketika masih kelas 2 SMP waktu itu, sekitar tahun 1994. Kemudian sempat henti tayang setiap pergantian season, sampai akhirnya episode ini berakhir pada season kesembilannya, aku hampir menyaksikan semua episodenya.
Tahun 1997, saat SMA, aku menemukan buku “The X-Files: Book of The Unexplained” karangan Jane Goldman, buku jilid kesatu dan kedua, diterbitkan oleh Simon and Schuster. Waktu itu belum krismon, jadi buku yang tebalnya ratusan halaman ini masih bisa kubeli dengan harga tidak lebih dari 40 ribu rupiah. Buku ini menerangkan latar belakang cerita-cerita dalam episode The X-Files season 1 sampai 3, dengan penjelasan ilmiahnya. Mulai dari UFO, fenomena-fenomena tak terjelaskan, sampai catatan-catatan Scully dan Mulder yang sering dinarasikan dalam episode-episode filmnya. Foto-foto dari film-nya juga ada.
Kini, 11 tahun setelah aku pertama kali mengenal serial TV ini, koleksi DVD-nya sudah mulai bisa didapatkan di Indonesia. Sebagai orang yang sayang mengeluarkan isi kocek hanya untuk membeli hal-hal semacam ini, misalnya DVD original, aku hanya membeli DVD bajakannya saja. Sayangnya aku baru bisa menemukan season 1, itupun tidak lengkap 24 episode, hanya 21 episode saja. Dengan semua feature yang tidak ada! Ngeselin sih.. Tapi tidak apa-apa, setidaknya bisa sedikit bernostalgia dengan masa muda, sambil mencocokannya dengan isi buku.
Jadi… ada yang punya koleksi lengkap DVD The X-Files season 1 sampai 9? Boleh pinjam? Karena kata temanku ada di Mangga Dua, itupun DVD 9 dengan harga lebih mahal dibandingkan bajakan biasa.
Anyone? :)
Monday, March 07, 2005
Sekali lagi… Articial Intelligence!
Sehabis menonton salah satu eposide The X-Files season 1 yang berjudul “Ghost in The Machine”, aku kembali teringat pada Space Odyssey 2001. Aku yakin pembuat skenario episode ini terinspirasi dari film klasik tahun 60-an tersebut. Ceritanya seorang ilmuwan berhasil membuat perangkat komputer keamanan sebuah gedung yang mampu melakukan pembunuhan, yakni dengan mengatur sistem listrik dan lift dalam gedung. Ama mesinnya Central Operating System (COS). Yaahh… mirip-mirip HAL 9000 dalam Space Odyssey lah.
Bisa jadi pula… episode The X Files dan film Space Odyysey ini mengilhami Michael Crichton menulis novelnya “Prey” yang terbit 2001 lalu. Aku memang belum membaca novel ini, tetapi kalau tidak salah isinya mengenai penggunaan nanoteknologi yang akhirnya menjadi sebuah bencana (disaster). Khas Michael Crichton pokoknya, penulis novel-novel Thriller macam Jurassic Park, Timeline, Sphere, dan Congo (semuanya sudah difilmkan)
Speaking of nanotechnology and artificial intelligence, it seems that there’s relation between both of them.
Apakah nanoteknologi dan kecerdasan buatan itu? Bisa membaca tulisanku di http://arifianto.blogspot.com dan di sini pada judul 2010: The Odyssey Continues. Intinya penelitian-penelitian mengenai hal ini masih dalam pengembangan di banyak pusat penelitian di dunia. Di Indonesia kita sudah memiliki The Mochtar Riady Center for Nanotechnology and Bioengineering. Mungkin suatu saat nanti mereka akan mempublikasikan hasil penelitiannya.
Kalau Anda rajin surfing di internet dan ingin merasakan chatting machine yang menggunakan bahasa AI, coba saja buka http://aimovie.com
Kesimpulan akhir yang ingin kusampaikan adalah: film-film di atas semuanya menceritakan satu hal: mesin buatan yang memiliki kemampuan berpikir dan merasa seperti manusia dikhawatirkan pada suatu titik akan membahayakan manusia, sebagai defence mechanism atau mekanisme pertahanan mereka. Ini adalah satu insting mendasar semua makhluk hidup untuk bertahan dari kepunahan. Yang jelas… pastinya tidak ada satupun ciptaan manusia yang sesempurna ciptaan Sang Pencipta. Maka jika manusia mengkhawatirkan ciptaannya nanti pastilah berbuat kesalahan, itu karena mereka memang tidak sempurna.
Bisa jadi pula… episode The X Files dan film Space Odyysey ini mengilhami Michael Crichton menulis novelnya “Prey” yang terbit 2001 lalu. Aku memang belum membaca novel ini, tetapi kalau tidak salah isinya mengenai penggunaan nanoteknologi yang akhirnya menjadi sebuah bencana (disaster). Khas Michael Crichton pokoknya, penulis novel-novel Thriller macam Jurassic Park, Timeline, Sphere, dan Congo (semuanya sudah difilmkan)
Speaking of nanotechnology and artificial intelligence, it seems that there’s relation between both of them.
Apakah nanoteknologi dan kecerdasan buatan itu? Bisa membaca tulisanku di http://arifianto.blogspot.com dan di sini pada judul 2010: The Odyssey Continues. Intinya penelitian-penelitian mengenai hal ini masih dalam pengembangan di banyak pusat penelitian di dunia. Di Indonesia kita sudah memiliki The Mochtar Riady Center for Nanotechnology and Bioengineering. Mungkin suatu saat nanti mereka akan mempublikasikan hasil penelitiannya.
Kalau Anda rajin surfing di internet dan ingin merasakan chatting machine yang menggunakan bahasa AI, coba saja buka http://aimovie.com
Kesimpulan akhir yang ingin kusampaikan adalah: film-film di atas semuanya menceritakan satu hal: mesin buatan yang memiliki kemampuan berpikir dan merasa seperti manusia dikhawatirkan pada suatu titik akan membahayakan manusia, sebagai defence mechanism atau mekanisme pertahanan mereka. Ini adalah satu insting mendasar semua makhluk hidup untuk bertahan dari kepunahan. Yang jelas… pastinya tidak ada satupun ciptaan manusia yang sesempurna ciptaan Sang Pencipta. Maka jika manusia mengkhawatirkan ciptaannya nanti pastilah berbuat kesalahan, itu karena mereka memang tidak sempurna.
Overweight Problem dan Life Style
Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis opini tentang hal ini. Salah satunya terpicu oleh tayangan satu episode The Oprah Winfrey Show di Metro TV sekitar bulan Oktober lalu, mengenai kisah beberapa orang Amerika yang memiliki problem dengan berat badannya. Beberapa di antaranya, termasuk selebritis Randy Jackson seorang juri American Idol, bahkan menempuh cara operasi, yakni gastric bypass, dengan risiko mortalitas (kematian) di meja operasi cukup tinggi. Seorang lainnya bahkan seorang gadis muda usia SMA yang rela menempuh cara ini karena tidak pede dengan postur tubuhnya agak gemuk. Hasilnya memang memuaskan, terutama dari segi penampilan. Di AS memang jenis operasi ini lebih sering dilakukan dibandingkan dengan negara kita. Aku bahkan belum pernah mendengar jenis operasi semacam ini dilakukan di Indonesia. Mungkin dokter bedah kita tidak banyak yang memiliki keterampilannya, selain biaya operasi yang sangat tinggi, dan risiko operasi cukup besar. Kita di Indonesia masih memiliki cara-cara lain untuk menurunkan berat badan.
Kemudian ada juga sebuah artikel lain di Majalah TIME tahun lalu yang memampangkan judul “How Asia Got Fat”. Ya, memang di banyak negara berkembang di Asia, misalnya Cina dan India, termasuk sebagian kecilnya di Indonesia, obesitas menjadi masalah kesehatan baru. Menariknya, kondisi ini justru tidak hanya mengenai golongan ekonomi menengah ke atas saja, tetapi tidak sedikit golongan ekonomi menengah ke bawah yang mengalami obesitas. Lihat saja ibu-ibu penjual di pasar, atau bapak-bapak penjual rokok di warung, bahkan pemulung, yang jika dilihat dari penghasilan tidak seberapa, tapi memiliki badan cukup, bahkan sangat ‘subur’ (bandingkan saja dengan badanku yang langsing ini :D).
Masalah ini memang sangat terkait dengan gaya hidup, dengan tidak menafikan faktor genetik juga tentunya. Makan tidak terlalu banyak, tetapi isinya karbohidrat sederhana (nasi—makanan pokok masyarakat Indonesia), dengan aktivitas kurang. Belum lagi faktor hormonal pada wanita, lebih-lebih bagi yang mendapatkan hormon dari luar berupa kontrasepsi, yang menunjang pembengkakan volume tubuh dan timbulnya ketidaknyamanan di muka umum. Bicara mengenai gaya hidup memang sangat sulit bagi orang Indonesia. Ambil contoh sederhana, misalnya merokok. Jika Anda seorang dokter dengan pasien tetap penderita hipertensi dengan kebiasaan merokok, Anda akan menemukan sulit sekali bagi mereka menghilangkan kebiasaannya ini. Bahkan bagi yang sudah mendapat stroke ringan (transcient ischemic attack/TIA) sekalipun! Begitu merasa keadaan badannya agak enakan, merokoknya diteruskan. Padahal mereka tahu persis kebiasaan mereka ini ‘memperpendek’ usia mereka.
Well… masih banyak memang masalah dalam karakter masyarakat kita
Kemudian ada juga sebuah artikel lain di Majalah TIME tahun lalu yang memampangkan judul “How Asia Got Fat”. Ya, memang di banyak negara berkembang di Asia, misalnya Cina dan India, termasuk sebagian kecilnya di Indonesia, obesitas menjadi masalah kesehatan baru. Menariknya, kondisi ini justru tidak hanya mengenai golongan ekonomi menengah ke atas saja, tetapi tidak sedikit golongan ekonomi menengah ke bawah yang mengalami obesitas. Lihat saja ibu-ibu penjual di pasar, atau bapak-bapak penjual rokok di warung, bahkan pemulung, yang jika dilihat dari penghasilan tidak seberapa, tapi memiliki badan cukup, bahkan sangat ‘subur’ (bandingkan saja dengan badanku yang langsing ini :D).
Masalah ini memang sangat terkait dengan gaya hidup, dengan tidak menafikan faktor genetik juga tentunya. Makan tidak terlalu banyak, tetapi isinya karbohidrat sederhana (nasi—makanan pokok masyarakat Indonesia), dengan aktivitas kurang. Belum lagi faktor hormonal pada wanita, lebih-lebih bagi yang mendapatkan hormon dari luar berupa kontrasepsi, yang menunjang pembengkakan volume tubuh dan timbulnya ketidaknyamanan di muka umum. Bicara mengenai gaya hidup memang sangat sulit bagi orang Indonesia. Ambil contoh sederhana, misalnya merokok. Jika Anda seorang dokter dengan pasien tetap penderita hipertensi dengan kebiasaan merokok, Anda akan menemukan sulit sekali bagi mereka menghilangkan kebiasaannya ini. Bahkan bagi yang sudah mendapat stroke ringan (transcient ischemic attack/TIA) sekalipun! Begitu merasa keadaan badannya agak enakan, merokoknya diteruskan. Padahal mereka tahu persis kebiasaan mereka ini ‘memperpendek’ usia mereka.
Well… masih banyak memang masalah dalam karakter masyarakat kita
Thursday, March 03, 2005
Doctors are the BEST SECRET KEEPER
Dokter adalah penjaga rahasia paling baik.
Tentu saja. Kami disumpah untuk dapat menjaga rahasia pasien-pasien kami, dan tidak membocorkannya, sesuai dengan kewajiban kami.
Namun tidak hanya itu saja. Dokter adalah tempat engkau bisa mencurahkan rahasia paling aman. Inilah yang kualami sehari-hari dengan para pasien. Kebetulan aku bekerja di sebuah poliklinik sebagai dokter tetap, dengan pasiennya sebagian besar para pengemudi taksi dan keluarganya (istri dan anak-anak mereka). Karena ini adalah klinik perusahaan, yakni para karyawannya bisa berobat dengan gratis, tentu saja rajin mengontrol kesehatannya dengan datang kepadaku. Atau kadang sekedar ‘minta’ obat saja. Sebagai satu-satunya dokter tetap, lama-kelamaan mereka mengenalku.
Konsekuensinya? Kadang mereka tidak segan menceritakan ‘rahasia dapur’ mereka kepadaku. Ya.. aku, si lajang berusia 25 tahun, menghadapi pria-pria beristri, atau istri-istri bersuami, atau pasangan suami –istri. Seringkali memang ini berkaitan dengan masalah kesehatan mereka. Masalah seks adalah masalah kesehatan juga, tentunya. Kesehatan reproduksi. Tidak hanya ‘Bapak-bapak’ saja yang kadang mengadukan masalah seks mereka, ‘Ibu-ibu’ juga ada.
“Dokter udah berkeluarga belum?”
“Memangnya kenapa, Bu?”
Dalam hati aku berkata: hei, aku ini dokter. Mungkin Ibu melihat tampang culun dan badan kurus yang membuat orang kadang meragukan, ini dokternya masih muda banget… (doo, ge-er, sok muda lu). Masalah seks aku pandang sebagai masalah kedokteran tentunya. Bukan suatu hal yang tabu, jika Ibu ingin mendapatkan solusi dari seorang dokter.
Dan… selanjutnya ia pun menceritakan masalah ranjangnya.
Well, I know that I’m not married yet, and of course… haven’t experienced what this women told. But of course.. I’ve studied this in my college years. It’s a SCIENTIFIC thing. Yes.. sex is a SCIENTIFIC thing.
Tidak hanya masalah seks saja yang kadang-kadang keluar dari mulut mereka. Ada yang mengakui bahwa mereka pernah mengaborsi janin si istri, sulitnya kondisi keuangan yang membuat mereka enggan dirujuk ke spesialis, dan cerita-cerita manusiawi lain. Dalam memandang suatu hal, aborsi misalnya, dokter tidak memandangnya sebagai suatu hal yang hitam-putih. Bukan kemudian berkata: “Ibu, Bapak, itu tindakan ilegal yang melanggar hukum!” Tapi harus menyikapinya dengan cara lain.
Akhirnya.. kuakui.. sebagai seorang manusia biasa… dokter pun mengalami banyak godaan juga. Godaan nafsunya sendiri. Aku tak begitu mempedulikan apakah mereka meragukan aku pernah mengalami masalah yang mereka hadapi. Yang jelas mereka menceritakannya padaku. Artinya mereka percaya kepadaku. Dan.. memang itu tugas profesiku. Memberi solusi kesehatan bagi klien. Belum lagi rahasia ‘tubuh’ mereka. Dokter diberi legalitas untuk melihat bagian-bagian yang sangat pribadi, untuk bisa mendiagnosis penyakit, dan memberi terapinya. Namun.. ya.. dokter juga manusia. Punya syahwat juga. Harus banyak-banyak beristighfar. Apalagi buat yang belum menikah. Astaghfirullah…
Dokter juga manusia… (menganalogikan dengan judul lagunya Seurieus Band: “Rocker juga Manusia”). Aku teringat pada sebuah episode film seri Smallville season 2. Si tokoh dokter wanita pacar Lex Luthor mengatakan pada pasiennya, bahwa rahasia pasien tidak akan keluar dari ruang praktiknya. Termasuk kemungkinan menceritakannya kepada.. misalnya suaminya. Ini menegaskan bahwa di Amerika, dokter demikian memegang teguh sumpah profesinya. Nggak tahu ya, dengan di Indonesia.
Kesimpulannya: dokter dituntut untuk menjadi orang yang amanah. Dalam memegang rahasia pasiennya, dalam menjalankan profesinya, dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang dokter muslim juga.
Sudah hampir jam 12 malam. Harus segera istirahat. Mudah-mudahan tulisan ini tidak error gara-gara ngantuk. Tapi emang lagi pengen nulis sih.
Tentu saja. Kami disumpah untuk dapat menjaga rahasia pasien-pasien kami, dan tidak membocorkannya, sesuai dengan kewajiban kami.
Namun tidak hanya itu saja. Dokter adalah tempat engkau bisa mencurahkan rahasia paling aman. Inilah yang kualami sehari-hari dengan para pasien. Kebetulan aku bekerja di sebuah poliklinik sebagai dokter tetap, dengan pasiennya sebagian besar para pengemudi taksi dan keluarganya (istri dan anak-anak mereka). Karena ini adalah klinik perusahaan, yakni para karyawannya bisa berobat dengan gratis, tentu saja rajin mengontrol kesehatannya dengan datang kepadaku. Atau kadang sekedar ‘minta’ obat saja. Sebagai satu-satunya dokter tetap, lama-kelamaan mereka mengenalku.
Konsekuensinya? Kadang mereka tidak segan menceritakan ‘rahasia dapur’ mereka kepadaku. Ya.. aku, si lajang berusia 25 tahun, menghadapi pria-pria beristri, atau istri-istri bersuami, atau pasangan suami –istri. Seringkali memang ini berkaitan dengan masalah kesehatan mereka. Masalah seks adalah masalah kesehatan juga, tentunya. Kesehatan reproduksi. Tidak hanya ‘Bapak-bapak’ saja yang kadang mengadukan masalah seks mereka, ‘Ibu-ibu’ juga ada.
“Dokter udah berkeluarga belum?”
“Memangnya kenapa, Bu?”
Dalam hati aku berkata: hei, aku ini dokter. Mungkin Ibu melihat tampang culun dan badan kurus yang membuat orang kadang meragukan, ini dokternya masih muda banget… (doo, ge-er, sok muda lu). Masalah seks aku pandang sebagai masalah kedokteran tentunya. Bukan suatu hal yang tabu, jika Ibu ingin mendapatkan solusi dari seorang dokter.
Dan… selanjutnya ia pun menceritakan masalah ranjangnya.
Well, I know that I’m not married yet, and of course… haven’t experienced what this women told. But of course.. I’ve studied this in my college years. It’s a SCIENTIFIC thing. Yes.. sex is a SCIENTIFIC thing.
Tidak hanya masalah seks saja yang kadang-kadang keluar dari mulut mereka. Ada yang mengakui bahwa mereka pernah mengaborsi janin si istri, sulitnya kondisi keuangan yang membuat mereka enggan dirujuk ke spesialis, dan cerita-cerita manusiawi lain. Dalam memandang suatu hal, aborsi misalnya, dokter tidak memandangnya sebagai suatu hal yang hitam-putih. Bukan kemudian berkata: “Ibu, Bapak, itu tindakan ilegal yang melanggar hukum!” Tapi harus menyikapinya dengan cara lain.
Akhirnya.. kuakui.. sebagai seorang manusia biasa… dokter pun mengalami banyak godaan juga. Godaan nafsunya sendiri. Aku tak begitu mempedulikan apakah mereka meragukan aku pernah mengalami masalah yang mereka hadapi. Yang jelas mereka menceritakannya padaku. Artinya mereka percaya kepadaku. Dan.. memang itu tugas profesiku. Memberi solusi kesehatan bagi klien. Belum lagi rahasia ‘tubuh’ mereka. Dokter diberi legalitas untuk melihat bagian-bagian yang sangat pribadi, untuk bisa mendiagnosis penyakit, dan memberi terapinya. Namun.. ya.. dokter juga manusia. Punya syahwat juga. Harus banyak-banyak beristighfar. Apalagi buat yang belum menikah. Astaghfirullah…
Dokter juga manusia… (menganalogikan dengan judul lagunya Seurieus Band: “Rocker juga Manusia”). Aku teringat pada sebuah episode film seri Smallville season 2. Si tokoh dokter wanita pacar Lex Luthor mengatakan pada pasiennya, bahwa rahasia pasien tidak akan keluar dari ruang praktiknya. Termasuk kemungkinan menceritakannya kepada.. misalnya suaminya. Ini menegaskan bahwa di Amerika, dokter demikian memegang teguh sumpah profesinya. Nggak tahu ya, dengan di Indonesia.
Kesimpulannya: dokter dituntut untuk menjadi orang yang amanah. Dalam memegang rahasia pasiennya, dalam menjalankan profesinya, dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang dokter muslim juga.
Sudah hampir jam 12 malam. Harus segera istirahat. Mudah-mudahan tulisan ini tidak error gara-gara ngantuk. Tapi emang lagi pengen nulis sih.
Saturday, February 26, 2005
Harokah Jihad Islam: Muqoddimah Surat Al-Anfaal dalam Fi Dzilalil Qur’an
Kebetulan menemukan buku cetakan lama milik kakak kelasku ini. Sebuah buku tanpa nama penerbit, dan penerjemah yang nama-namanya diawali dengan “Abu”. Khas buku-buku pergerakan Islam yang diterbitkan di era orde baru. Tapi kini tulisan-tulisan Sayyid Quthb mudah kita dapatkan di toko-toko buku. Apalagi setelah GIP dan Robbani Press menerjemahkan jilid-jilid Tafsir Fi Dzilali Qur’an.
Muqoddimah alias pengantar (baru sekedar pengantar lho!) Surat Al-Anfaal setebal 210 halaman ini banyak menekankan bahwa jihad Islam adalah masalah akidah.
Antara lain Asy-Syahid menerangkan fase-fase jihad Islam yang terbagi atas beberapa tahapan, mengutip Ibnul Qoyyim dalam “Zaadul Ma’ad”-nya, yakni mulai Rasulullah saw. diangkat menjadi nabi sampai menjadi Rasul, kemudian berda’wah selama 13 tahun di Mekkah tanpa konfrontasi dengan orang-orang yang memerangi Islam, sampai hijrah ke Madinah, kemudian turun perintah diizinkannya berperang. Hingga perintah memerangi orang-orang musyrik “hattaa yakuunaddiinu lillaah”, sampai tiada satupun yang ditaati kecuali Alloh.
Asy-Syahid Sayyid Quthb juga sangat menentang pendapat yang menyebutkan bahwa jihad dalam Islam adalah untuk mempertahankan diri. Pernyataan “laa ikrooha fiddiin” atau tidak ada paksaan dalam (memeluk) Islam, jangan disalahartikan. Karena kekuatan politik dan pemerintahan dalam bentuk apapun yang menghalangi manusia dari Islam, dan kekuatan apapun yang memaksa dan memperbudak manusia dan menghalangi dari pengabdian kepada Alloh harus dihancurkan! Sayyid Quthb membahas panjang lebar perihal ini. Kesimpulannya jihad dalam Islam adalah untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Alloh swt.
Aku akan mengutipkan pendapat Abul A’la Al-Maududi, Amir Jama’ah Islamiyah Pakistan yang telah wafat, mengenai Jihad fi Sabilillah. Hal ini sangat berkesan untukku, menggambarkan Ikhwanul Muslimin Mesir memiliki kesamaan gerakan dan pemikiran dengan Jama’at Islami Pakistan. Al-Maududi menyatakan bahwa terjemahan jihad ke dalam istilah “Holy War” dalam bahasa Inggris adalah tafsiran yang salah. Mereka membungkusnya dalam pakaian yang megah dari makna yang salah. Sehingga kalimat jihad memberikan gambaran kebuasan tabiat dan perilaku, kesadisan dan pertumpahan darah. Sehingga menjadi sama saja dengan “unholy war”.
Inilah yang para orientalis lakukan selama ini, untuk mengaburkan makna jihad sebenarnya. Dan tidak sedikit orang Islam yang termakan dengannya.
Wallahu a’lam.
Muqoddimah alias pengantar (baru sekedar pengantar lho!) Surat Al-Anfaal setebal 210 halaman ini banyak menekankan bahwa jihad Islam adalah masalah akidah.
Antara lain Asy-Syahid menerangkan fase-fase jihad Islam yang terbagi atas beberapa tahapan, mengutip Ibnul Qoyyim dalam “Zaadul Ma’ad”-nya, yakni mulai Rasulullah saw. diangkat menjadi nabi sampai menjadi Rasul, kemudian berda’wah selama 13 tahun di Mekkah tanpa konfrontasi dengan orang-orang yang memerangi Islam, sampai hijrah ke Madinah, kemudian turun perintah diizinkannya berperang. Hingga perintah memerangi orang-orang musyrik “hattaa yakuunaddiinu lillaah”, sampai tiada satupun yang ditaati kecuali Alloh.
Asy-Syahid Sayyid Quthb juga sangat menentang pendapat yang menyebutkan bahwa jihad dalam Islam adalah untuk mempertahankan diri. Pernyataan “laa ikrooha fiddiin” atau tidak ada paksaan dalam (memeluk) Islam, jangan disalahartikan. Karena kekuatan politik dan pemerintahan dalam bentuk apapun yang menghalangi manusia dari Islam, dan kekuatan apapun yang memaksa dan memperbudak manusia dan menghalangi dari pengabdian kepada Alloh harus dihancurkan! Sayyid Quthb membahas panjang lebar perihal ini. Kesimpulannya jihad dalam Islam adalah untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Alloh swt.
Aku akan mengutipkan pendapat Abul A’la Al-Maududi, Amir Jama’ah Islamiyah Pakistan yang telah wafat, mengenai Jihad fi Sabilillah. Hal ini sangat berkesan untukku, menggambarkan Ikhwanul Muslimin Mesir memiliki kesamaan gerakan dan pemikiran dengan Jama’at Islami Pakistan. Al-Maududi menyatakan bahwa terjemahan jihad ke dalam istilah “Holy War” dalam bahasa Inggris adalah tafsiran yang salah. Mereka membungkusnya dalam pakaian yang megah dari makna yang salah. Sehingga kalimat jihad memberikan gambaran kebuasan tabiat dan perilaku, kesadisan dan pertumpahan darah. Sehingga menjadi sama saja dengan “unholy war”.
Inilah yang para orientalis lakukan selama ini, untuk mengaburkan makna jihad sebenarnya. Dan tidak sedikit orang Islam yang termakan dengannya.
Wallahu a’lam.
Thursday, February 24, 2005
LKC: Layanan Kesehatan… CUMA-CUMA (satu-satunya dan pertama di Indonesia)
Bagi yang pernah membaca catatan perjalananku selama di Aceh, setidaknya mengetahui bahwa aku bekerja di lembaga ini: Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhu’afa Republika. Salah satu ‘sayap’ DD yang khusus menangani pasien dari kaum dhu’afa alias tidak mampu atau keluarga miskin (gakin), secara cuma-cuma alias gratis atau tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Aku memang baru bergabung dengan lembaga yang bermarkas di Ciputat Mega Mal ini sekitar 3 bulan. Namun ada beberapa kisah pasien dhu’afa yang ingin kubagi.
Setidaknya di sinilah aku mendapatkan gambaran masyarakat kita yang memang benar-benar dhu’afa. Jika selama masa pendidikanku di RSCM, RS Persahabatan, atau RSU Tangerang aku menemui pasien yang berasal dari golongan ekonomi kurang mampu berobat, meraka harus mengeluarkan biaya dari kocek sendiri, hingga akhirnya tidak mampu menuntaskan masa perawatan karena ketiadaan biaya, dan minta ‘pulang paksa’.
Inilah gambaran masyarakat miskin kita:
Seringkali mereka berobat jika memang kondisi kesehatannya benar-benar sudah parah. Seorang pasien stroke yang sudah terbaring tidak sadar selama 3 hari di rumahnya baru dibawa ke LKC sesuahnya. Alasan suami yang mengantarnya adalah kesulitan kendaraan umum untuk membawa ke LKC, karena lokasi rumah mereka yang cukup jauh dari Ciputat. Dan ia tidak akan membawa istrinya yang sakit ke RS terdekat tentunya, karena tidak memiliki biaya. Toh selama ini mereka berobat terus ke LKC, dan masih menjadi member LKC.
Dalam masa perawatan pun hanya suaminya yang menunggu si istri yang sampai hari ini berbaring tidak sadarkan diri. Mungkin anak-anaknya terlalu sibuk untuk menjenguk orangtua mereka yang sedang sakit, atau tidak mengetahui kabar kedua orangtuanya karena tidak tinggal satu rumah dan tidak memiliki telepon. Mungkin…Si Bapak ini juga agak cuek saat mengurus istrinya yang terbaring di ruang perawatan. Tidak begitu ada ekspresi sedih yang tergambar. Mungkin ia sudah letih menunggui istrinya yang tidak kunjung sadar.
Ada lagi pasien wanita tua lain dengan muntah dan BAB darah, sampai akhirnya meninggal. Suaminya adalah seorang tuna netra, yang pada saat-saat menjelang ajal sang istri, ia sudah keburu merelakannya. Tidak ada kesedihan sama sekali tergambar. Tampaknya ia juga sudah kesal menunggui istrinya yang sakit, dan mungkin ‘merepotkannya’. Astaghfirullah…
Ada juga seorang pria paruh baya yang menderita luka terinfeksi di kakinya karena diabetes melitus, harus melewati hari-hari perawatannya di ruang rawat inap LKC seorang diri. Istrinya seorang pembantu rumah tangga yang tidak bisa menunggui suaminya bermalam di LKC, karena harus bekerja setiap hari dan pulang untuk menemani anak-anak mereka yang masih kecil di rumah.
Untung saja Bapak ini ‘menemukan’ LKC, sehingga ia tidak harus mengeluarkan biaya sepeser pun untuk mendapatkan perawatan lengkap, hingga ampul insulin yang ratusan ribu harganya setiap hari.
Kisah sedih bisa dijumpai hampir setiap minggunya, ialah kematian. Karena pasien yang dirawat sebagian adalah penyakit yang memang sudah terlalu kronik sehingga harapan untuk pulih sangat kecil, atau penyakit keganasan, kematian adalah hal ‘biasa’ di bangsal rawat inap kami.
Kematian pertama yang kujumpai selama tugas dinasku di sini adalah seorang akhwat yang meninggal karena leukemia. Ada catatan yang membuatku cukup terkesan di sini. Akhwat yang sempat mendapat transfusi beberapa kantong darah dari PMI ini, didatangi oleh beberapa ikhwan kader PKS pada suatu malam. Mereka merelakan darahnya didonorkan untuk dapat digunakan oleh si pasien, seandainya persediaan darah di PMI Kramat tidak mencukupi. Mereka datang hampir tengah malam dengan motor, membawakan sampel darah si pasien ke PMI Kramat, dan mengantar kantong darahnya kembali ke LKC tengah malam. Subhanalloh.
Walaupun akhirnya pasien ini meninggal, dengan diiringi sedikit isak tangis sang ibu, karena ukhti yang baru berusia di awal 20-an ini adalah anak satu-satunya. Di saat-saat wafatnya, beberapa akhwat menghibur dan menguatkan ibu paruh baya ini.
Kisah lain, saat praktik malam, seorang ibu membawa anaknya yang demam berobat ke LKC. Ia menceritakan kisahnya padaku. Ibu beranak dua ini beberapa bulan yang lalu adalah seorang pendeta. Dengan kesungguhannya belajar sendiri, dan atas hidayah Alloh, ia masuk Islam. Namun sebagai konsekuensi, keluarganya mengejarnya dan mengancamnya untuk dibunuh. Hingga ia melarikan diri sampai keluar kota. Suatu hari bahkan ia pernah terjatuh dan kepalanya terbentur. Kini ia mengalami kejang beberapa kali, yang sangat dimungkinkan akibat bekas jatuhnya di kepala. Ia pun menjadi dhu’afa, dan otomatis diceraikan oleh suaminya terdahulu. Seorang perawat LKC mengenalkannya kepada lembaga ini, dan Ibu ini menjadi member kami. Katanya seorang pria yang jauh lebih muda insya Alloh akan segera menikahinya. Subhanalloh…
Atau kisah seorang pasangan suami-istri paruh baya dengan anak laki-lakinya usia 8 tahun yang didiagnosis menderita tumor di otaknya, sampai harus menjalani perawatan berminggu-minggu di RSCM. Bapak ini hanyalah seorang penjual mainan keliling di sekolah-sekolah.
Masih banyak cerita lain di tempat ini. Menggambarkan betapa miskin dan rendahnya pendidikan sebagian masyarakat Indonesia, sekalipun tinggal di perkotaan macam Jabotabek.
Kawan-kawan sejawatku yang lebih senior di tempat ini tentunya memiliki cerita yang lebih banyak lagi, dan menggugah perasaan.
Jika Anda berminat menjadi donatur lembaga ini, silakan buka http://www.lkc.or.id
Atau bisa juga dengan me-reply tulisan saya ini.
Sudah dzuhur… siang ini harus berangkat lagi ke LKC
Aku memang baru bergabung dengan lembaga yang bermarkas di Ciputat Mega Mal ini sekitar 3 bulan. Namun ada beberapa kisah pasien dhu’afa yang ingin kubagi.
Setidaknya di sinilah aku mendapatkan gambaran masyarakat kita yang memang benar-benar dhu’afa. Jika selama masa pendidikanku di RSCM, RS Persahabatan, atau RSU Tangerang aku menemui pasien yang berasal dari golongan ekonomi kurang mampu berobat, meraka harus mengeluarkan biaya dari kocek sendiri, hingga akhirnya tidak mampu menuntaskan masa perawatan karena ketiadaan biaya, dan minta ‘pulang paksa’.
Inilah gambaran masyarakat miskin kita:
Seringkali mereka berobat jika memang kondisi kesehatannya benar-benar sudah parah. Seorang pasien stroke yang sudah terbaring tidak sadar selama 3 hari di rumahnya baru dibawa ke LKC sesuahnya. Alasan suami yang mengantarnya adalah kesulitan kendaraan umum untuk membawa ke LKC, karena lokasi rumah mereka yang cukup jauh dari Ciputat. Dan ia tidak akan membawa istrinya yang sakit ke RS terdekat tentunya, karena tidak memiliki biaya. Toh selama ini mereka berobat terus ke LKC, dan masih menjadi member LKC.
Dalam masa perawatan pun hanya suaminya yang menunggu si istri yang sampai hari ini berbaring tidak sadarkan diri. Mungkin anak-anaknya terlalu sibuk untuk menjenguk orangtua mereka yang sedang sakit, atau tidak mengetahui kabar kedua orangtuanya karena tidak tinggal satu rumah dan tidak memiliki telepon. Mungkin…Si Bapak ini juga agak cuek saat mengurus istrinya yang terbaring di ruang perawatan. Tidak begitu ada ekspresi sedih yang tergambar. Mungkin ia sudah letih menunggui istrinya yang tidak kunjung sadar.
Ada lagi pasien wanita tua lain dengan muntah dan BAB darah, sampai akhirnya meninggal. Suaminya adalah seorang tuna netra, yang pada saat-saat menjelang ajal sang istri, ia sudah keburu merelakannya. Tidak ada kesedihan sama sekali tergambar. Tampaknya ia juga sudah kesal menunggui istrinya yang sakit, dan mungkin ‘merepotkannya’. Astaghfirullah…
Ada juga seorang pria paruh baya yang menderita luka terinfeksi di kakinya karena diabetes melitus, harus melewati hari-hari perawatannya di ruang rawat inap LKC seorang diri. Istrinya seorang pembantu rumah tangga yang tidak bisa menunggui suaminya bermalam di LKC, karena harus bekerja setiap hari dan pulang untuk menemani anak-anak mereka yang masih kecil di rumah.
Untung saja Bapak ini ‘menemukan’ LKC, sehingga ia tidak harus mengeluarkan biaya sepeser pun untuk mendapatkan perawatan lengkap, hingga ampul insulin yang ratusan ribu harganya setiap hari.
Kisah sedih bisa dijumpai hampir setiap minggunya, ialah kematian. Karena pasien yang dirawat sebagian adalah penyakit yang memang sudah terlalu kronik sehingga harapan untuk pulih sangat kecil, atau penyakit keganasan, kematian adalah hal ‘biasa’ di bangsal rawat inap kami.
Kematian pertama yang kujumpai selama tugas dinasku di sini adalah seorang akhwat yang meninggal karena leukemia. Ada catatan yang membuatku cukup terkesan di sini. Akhwat yang sempat mendapat transfusi beberapa kantong darah dari PMI ini, didatangi oleh beberapa ikhwan kader PKS pada suatu malam. Mereka merelakan darahnya didonorkan untuk dapat digunakan oleh si pasien, seandainya persediaan darah di PMI Kramat tidak mencukupi. Mereka datang hampir tengah malam dengan motor, membawakan sampel darah si pasien ke PMI Kramat, dan mengantar kantong darahnya kembali ke LKC tengah malam. Subhanalloh.
Walaupun akhirnya pasien ini meninggal, dengan diiringi sedikit isak tangis sang ibu, karena ukhti yang baru berusia di awal 20-an ini adalah anak satu-satunya. Di saat-saat wafatnya, beberapa akhwat menghibur dan menguatkan ibu paruh baya ini.
Kisah lain, saat praktik malam, seorang ibu membawa anaknya yang demam berobat ke LKC. Ia menceritakan kisahnya padaku. Ibu beranak dua ini beberapa bulan yang lalu adalah seorang pendeta. Dengan kesungguhannya belajar sendiri, dan atas hidayah Alloh, ia masuk Islam. Namun sebagai konsekuensi, keluarganya mengejarnya dan mengancamnya untuk dibunuh. Hingga ia melarikan diri sampai keluar kota. Suatu hari bahkan ia pernah terjatuh dan kepalanya terbentur. Kini ia mengalami kejang beberapa kali, yang sangat dimungkinkan akibat bekas jatuhnya di kepala. Ia pun menjadi dhu’afa, dan otomatis diceraikan oleh suaminya terdahulu. Seorang perawat LKC mengenalkannya kepada lembaga ini, dan Ibu ini menjadi member kami. Katanya seorang pria yang jauh lebih muda insya Alloh akan segera menikahinya. Subhanalloh…
Atau kisah seorang pasangan suami-istri paruh baya dengan anak laki-lakinya usia 8 tahun yang didiagnosis menderita tumor di otaknya, sampai harus menjalani perawatan berminggu-minggu di RSCM. Bapak ini hanyalah seorang penjual mainan keliling di sekolah-sekolah.
Masih banyak cerita lain di tempat ini. Menggambarkan betapa miskin dan rendahnya pendidikan sebagian masyarakat Indonesia, sekalipun tinggal di perkotaan macam Jabotabek.
Kawan-kawan sejawatku yang lebih senior di tempat ini tentunya memiliki cerita yang lebih banyak lagi, dan menggugah perasaan.
Jika Anda berminat menjadi donatur lembaga ini, silakan buka http://www.lkc.or.id
Atau bisa juga dengan me-reply tulisan saya ini.
Sudah dzuhur… siang ini harus berangkat lagi ke LKC
Subscribe to:
Posts (Atom)
Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?
(tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...
-
Pernah menjumpai bercak kemerahan, cenderung berwarna oranye (merah-)?bata) di popok bayi Anda? Bahkan muncul berulang kali! 😱 Normalkah ha...
-
Ternyata tidak pada sebagian besar kasus. Infeksi jamur penyebab sariawan terjadi pada anak-anak dengan daya tahan tubuh menurun, seperti m...
-
Pertama, kita harus tahu dulu apa definisi diare. Diare atau gastroenteritis akut adalah buang air besar lebih dari tiga kali dalam 24 jam, ...