Monday, March 24, 2014

Apakah Batuk Pilek Perlu Diobati?

"Dok, anak saya batuk grok-grok dan napasnya susah. Saya minta anak saya "diuap"."
"Dok, minta obat untuk batuk dan obat untuk pilek ya. Anak saya sudah seminggu sakit, tapi belum minum obat."
"Dok, saya minta puyer racikan ya. Sudah berobat ke Puskesmas dan diberi obat sirup, tapi belum sembuh."

Pernyataan-pernyataan yang kurang lebih bernada di atas beberapa kali disampaikan kepadaku, langsung oleh orangtua. Dalam hati aku merasa geli, karena mereka sudah menentukan sendiri terapi untuk anak-anaknya. Dokter diminta dapat memenuhi keinginan mereka.

Lalu apa diagnosisnya? Selesma atau common cold. Apa lagi? Pertanyaan berikutnya adalah:
- Perlukah terapi inhalasi atau uap untuk mengatasi selesma? Apalagi jika si anak masih berusia di bawah 1 tahun. Batuknya grok-grok, banyak dahak, dan sukar dikeluarkan. Tidurnya pun terganggu, terutama di malam hari.
- Perlukah pemberian obat batuk pilek untuk mengurangi atau meredakan gejala-gejala seperti sudah disebutkan?

Sebuah artikel yang cukup informatif dari American Academy of Family Physician (AAFP) menjelaskannya di: www.aafp.org/afp/2012/0715/p153.html

Data di Amerika menyatakan obat-obatan pereda gejala batuk-pilek berada di dalam daftar 20 obat tersering yg menyebabkan kematian pd anak balita. Pada tahun 2008, Badan Pengawas Obat dan Makanan di AS (FDA) menyatakan obat-obatan jenis ini yg dijual bebas (OTC) dihindari penggunaannya pada anak berusia di bawah 2 tahun. Para produsen farmasi mengikutinya. Hasilnya adalah: angka kunjungan ke IGD akibat efek samping obat-obatan jenis ini berkurang. Para produsen lalu melabel ulang OTC untuk obat batuk pilek anak tidak boleh digunakan untuk anak berusia di bawah 2 tahun.

Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada upaya ke sini sepertinya.

Tetapi terlepas dari potensi efek samping obat batuk pilek utk anak, sebenarnya adakah manfaat obat obatan ini dalam membantu penyembuhan common cold?


1. Antihistamin, ditujukan untuk meredakan bersin-bersin dan ingus meler. Antihistamin lazimnya diberikan untuk menghambat reseptor histamin yang berperan dalam reaksi alergi (gejala alergi memang bisa berupa bersin dan hidung meler, tetapi common cold disebabkan oleh infeksi virus, bukan reaksi alergi). Contohnya adalah: klorfeniramin (CTM), difenhidramin, dan hidroksizin. Satu penelitian yang dimuat di jurnal bergengsi Pediatrics tahun 2004 menyimpulkan difenhidramin tidak lebih baik dibandingkan dengan plasebo (pembanding, digunakan dalam penelitian dan tidak memiliki khasiat apapun) dalam mengurangi batuk di malam hari dan gangguan tidur (akibat common cold) pada anak.
Dua review (ikhtisar berbagai penelitian) dari Cochrane juga menyimpulkan antihistamin tidak lebih baik dibandingkan dengan plasebo dalam mengatasi batuk.
Perlu diketahui, Cochrane Database adalah meta-analisis yang menempati tingkat kesahihan tertinggi di dalam penelitian kedokteran.
Lebih lanjut, kita mengetahui CTM mempunyai efek samping mengantuk, yang dapat merancukan kondisi anak: apakah anak mengantuk karena obat atau karena adanya penyakit yang membuat penurunan kesadaran? Antihistamin juga berefek samping mengurangi produksi lendir (sehingga menjadi lebih kental?) dan membuat mulut kering, yang tentunya menjadikan anak makin tidak nyaman.
Kesimpulannya: antihistamin tidak efektif dalam meredakan gejala common cold.

2. Antitusif, ditujukan untuk menekan refleks batuk, sehingga anak berkurang batuknya. Contohnya adalah dekstrometorfan (DMP). Satu penelitian, masih dari jurnal yang sama, menyimpulkan DMP tidak lebih baik dibandingkan plasebo dalam mengurangi gejala batuk di malam hari yang mengganggu tidur pada anak.
Batuk pada dasarnya adalah upaya tubuh untuk membuang lendir dari saluran napas. Lendir berisi antara lain virus yang justru memang berusaha dibuang ke luar tubuh. Artinya, batuk bertujuan baik, karena merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Logikanya, upaya untuk menekan batuk justru berpotensi membahayakan tubuh, karena menghalangi dahak untuk dibuang keluar. Meskipun demikian, toh penelitian menunjukkan DMP tidak berkhasiat dalam mengurangi gejala common cold. Obat ini juga mempunyai efek samping mengantuk dan limbung.

3. Dekongestan, ditujukan untuk melegakan hidung tersumbat. Contohnya adalah: pseudoefedrin, fenilpropanolamin (PPA), dan fenilefrin. Sayangnya dekongestan mempunyai efek samping penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi) yang bisa mengakibatkan peningkatan tekanan darah, dan dampak lain seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, dan gangguan irama jantung. Jurnal Pediatrics in Review di tahun 2011 menyatakan tidak ada bukti yang menyokong efektivitas dekongestan dalam meredakan gejala common cold. Bahkan pernah dilaporkan adanya kematian akibat penggunaan obat jenis ini.

4. Ekspektoran, ditujukan untuk mengencerkan dahak, misalnya: guaifenesin. Pada orang dewasa, penelitian yang ada menunjukkan kegagalannya dalam mengurangi gejala batuk. Penelitian yang menunjukkan efektivitasnya pada anak belum ada.

Lalu apa obat-obatan yang bisa digunakan untuk meredakan gejala batuk-pilek pada anak?


Apa obat yang bisa diberikan untuk mengatasi gejala batuk-pilek pada anak?
Berbagai penelitian telah dilakukan dengan rangkuman sebagai berikut:

- Jurnal AAFP yang pernah saya sebutkan di tulisan pertama membagi beberapa obat yang dikategorikan "mungkin efektif" dalam mengatasi common cold pada anak. Apa artinya? Semua jenis terapi ini tidak secara tegas dinyatakan "pasti" efektif. Apa saja macamnya?

- Produk yang dikategorikan suplemen dan alternatif, misalnya:
-- balsam "vapor rub": dapat mengurangi batuk malam hari, tetapi baunya mungkin tidak disukai anak dan ada risiko alergi kulit pada anak-anak tertentu;
-- zinc sulfate: dapat mengurangi lamanya sakit bila diminum dalam 24 jam pertama sakit, tetapi penelitian lain tidak menunjukkan manfaatnya, sehingga sampai sekarang tidak direkomendasikan;
-- madu: beberapa penelitian menunjukkan khasiatnya dalam meredakan batuk, meskipun Cochrane menunjukkan belum cukup bukti untuk mendukung/menolak penggunaannya dalam common cold. Madu hanya boleh digunakan pada anak berusia dia atas 1 tahun, karena risiko botulisnismus pada bayi;
-- Echinacea: Cochrane menyatakan belum cukup data untuk menyatakan efektivitasnya.

- Irigasi nasal atau semprot hidung dengan NaCl. Penggunaannya dapat mengurangi keluhan hidung tersumbat karena ingus kental dan mencairkan ingus. Pada praktiknya anak-anak tidak suka disemprot hidungnya dan orangtua sulit melakukannya.

- Obat asetilsistein disimpulkan dapat mengurangi batuk setelah enam sampai tujuh hari penggunaan pada anak di atas 2 tahun, tetapi mempunyai efek samping tersering muntah.

- Obat kortikosteroid hirup: mungkin membantu pada batuk yang disertai mengi, tetapi pada dosis tinggi.

Sumber lain menyebutkan obat hirup seperti ipratoprium bromida untuk mengurangi produksi ingus, tetapi terbatas pada anak di atas 5 tahun dan berefek samping mimisan, hidung kering, dan sakit kepala.

Ada beberapa cara penanganan common cold yang dianggap cukup berperan dalam meredakan gejala dan dapat digunakan, seperti:

- Pemberian obat pereda demam/nyeri seperti parasetamol dan ibuprofen. Obat-obatan ini diberikan untuk membuat anak demam dan rewel menjadi lebih nyaman, tetapi dengan dosis yang tidak melebihi seharusnya. Ibuprofen lebih berisiko mengiritasi lambung dan membuat muntah. Silakan baca mengenai "fever phobia" akan penggunaan obat penurun panas.

- Melembabkan udara, misalnya dengan cara meletakkan air panas di kamar mandi dan membuat ruangannya beruap menyerupai sauna, sehingga melakukan "terapi uap" alami. Meskipun demikian, cara ini juga berisiko menyebabkan cedera anak terkena air panas.

- Minum, minum, dan minum. Banyak minum adalah cara terbaik yang dapat dilakukan untuk membantu meredakan batuk pilek, karena membuat dahak menjadi lebih encer dan memudahkan anak menelannya (anak kan belum bisa buang dahak sendiri) dan mencegah kekurangan cairan akibat demam.

Pada akhirnya cara terbaik adalah melakukan upaya pencegahan, misalnya dengan memakai masker pada orang dewasa yang sedang batuk-pilek, dan sering-sering mencuci tangan setelah memegang anak sakit atau sesudah bersin/buang ingus, untuk menghindari penyebaran virus dari satu anak ke anak lain. Anyway, however, common cold adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu.


Mayoritas orangtua beralasan anaknya sulit tidur bahkan sesak karena batuknya grok-grok. Mereka menginginkan anaknya "diuap" untuk mengencerkan lendirnya sehingga sesaknya berkurang. Benarkah demikian.

Saya kesulitan mencari referensi yg menunjukkan manfaat terapi inhalasi pada common cold. Bahkan mencari penggunaan terapi inhalasi yg biasa dilakukan di sini saja sulit di jurnal dan kepustakaan berbahasa Inggris. Mengapa demikian? Karena terapi inhalasi dengan nebulizer memang tidak masuk dalam standar penatalaksanaan common cold. Inhalasi atau nebulisasi diberikan pada serangan asma, bukan batuk pilek akibat common cold. Kalapun ada untuk indikasi lain, yg saya dapatkan adalah pada bronkiolitis (dengan NaCl 3%--masih dlm penelitian, dan steroid pd kasus dg mengi--tapi bukan terapi standar) dan croup (inhalasi epinefrin/adrenalin, juga tidak rutin).

Kadang saya sampaikan ke orangtua: "Bu, kalaupun anaknya sekarang diuap dan terlihat enakan, sampai rumah juga kemungkinan batuk grok-grok lagi. Apakah kemudian anaknya harus dibawa untuk diinhalasi tiap kali grok-grok? Enggak juga kan?"

Lalu kenapa anak kadang terlihat lebih nyaman setelah diinhalasi? Pengamatan saya, kebanyakan anak yg diinhalasi menangis, sampai akhirnya muntah, dan menyertakan dahak di muntahannya. Mungkin mereka menjadi lebih nyaman karena dahaknya terbuang, dengan cara muntah! Jadi, buat saja anak menangis sampai muntah? Hehe.

Tenang saja, tubuh manusia dilengkapi dengan rambut-rambut halus yg mengalirkan dahak keluar tubuh, jadi tanpa dimuntahkan pun lendir akan keluar dari saluran napas.

So...sudah jelas ya, selama tidak ada sesak napas, common cold ya aman aman saja.


Anda bisa membaca lebih lanjut mengenai terapi common cold di tautan berikut:
http://www.aafp.org/afp/2012/0715/p153.pdf
http://www.cps.ca/documents/position/treating-cough-cold
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2776795/pdf/0551081.pdf
http://pedsinreview.aappublications.org/content/32/2/47.full.pdf+html

Thursday, February 27, 2014

Memahami Campak dan Dampaknya

Setelah beberapa bulan tidak menjumpai kasus campak, kemarin saya mendapatinya lagi. Seorang anak berusia 15 bulan yang memeluk ibunya erat. Ia tampak lemah, dengan ruam merah di sekujur tubuhnya. Anak ini memang belum diimunisasi campak saat berusia 9 bulan, bukan karena menolak, tapi ibunya beralasan si ayah mengalami stroke sehingga ia sibuk mengurus ayah dan kurang memperhatikan imunisasi anaknya.

Namun bagaimanapun juga, tidak sepatutnya virus campak menjangkiti anak ini. Apabila cakupan imunisasi campak sudah tinggi, herd immunity yg terbentuk seharusnya melindungi anak-anak yang belum diimunisasi.

Banyak orangtua juga menganggap campak sebagai penyakit ringan. Mereka mengira semua anak akan terkena campak dengan sendirinya. Ketika seorang anak mengalami demam yang berakhir dengan ruam di seluruh badan, orangtua menyimpulkan ini adalah campak. Penyakit ringan. Toh anaknya justru makin aktif setelah ruam muncul dan demam reda. Mereka salah. Ini bukan campak. Kemungkinan ini roseola (eksantema subitum) yang merupakan penyakit ringan dan tanpa komplikasi. Virusnya berbeda dengan campak. Sebagian orang menyebutnya dengan "tampek". Atau mungkin anak-anak ini mengalani rubella, yang jarang menimbulkan komplikasi pada anak.

Ketahuilah bahwa campak penyakit berat. Campak sering menimbulkan komplikasi pneumonia dan ensefalitis, yang berakhir dengan kematian. Kadang-kadang sebagian penderitanya juga mengalami ketulian dan kebutaan (akibat keratitis) sebagai "oleh-olehnya". Dan pada kondisi yang sangat jarang, campak menimbulkan subacute sclerosing panencephalitis atau SSPE. Simaklah kisah di sini:http://www.vaccinestoday.eu/vaccines/how-measles-can-change-a-life/ Orangtua ini mengisahkan anaknya yang mengalami SSPE, lebih dari 10 tahun setelah sang anak terkena campak di usia yang sangat muda: 6 bulan, ketika belum masuk usia untuk diimunisasi campak. Selama bertahun-tahun anak ini hidup sehat dan normal, tiba-tiba di suatu saat ia mengalami kejang berulang dan kini hidup dalam kondisi vegetatif: seperti tumbuhan.

Orangtua harus mempelajari gejala-gejala campak. Bagaimanapun juga, program imunisasi campak yang dilakukan sejak tahun 1982 telah berhasil menurunkan kasus campak, sehingga campak sudah jarang ditemui. Riskesdas 2013 menunjukkan cakupan imunisasi campak sebesar 82,1%. Angka yang harus dinaikkan hingga melebihi 90%. Data WHO di bulan November 2013 mencatat lebih dari 6.300 kasus campak sepanjang 2013. Angka yang masih sangat tinggi di Indonesia.

Maka jangan makin bebani penderitaan masyarakat dengan menolak imunisasi dan mengampanyekan penolakannya. Jangan mengajak-ajak orang lain untuk tidak mengimunisasi anaknya. Jangan menjadi beban, jadilah pemecah masalah. Tidak mengimunisasi anak bukan saja merugikan diri sendiri, tetapi juga membahayakan orang-orang di sekitarnya.

Tentang penyakit tangan-kaki-mulut dan cacar air

Beberapa pekan terakhir saya hampir selalu menjumpai kasus Hand Foot Mouth Disease (HFMD) dan cacar air (varisela) tiap minggunya. HFMD yg sering disebut orang flu Singapur ini disebabkan oleh virus, sama halnya dengan varisela, yg sebenarnya akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu. Hanya saja HFMD kadang dikesankan "menakutkan", sehingga orangtua menjadi panik dan khawatir anaknya harus dirawat.

HFMD memang dilaporkan mempunyai risiko komplikasi ensefalitis (radang otak), meskipun sangat jarang, dan saya belum pernah menemuinya. HFMD biasanya jadi masalah bila "bintil-bintil" kulitnya menyebar hingga ke dalam mulut menjadikan sariawan dan anak susah makan. Jarang sekali anak menjadi dehidrasi meskipun sudah mengalaminya, sehingga tidak perlu dirawat juga. Yang penting pastikan anak sering minum atau makan makanan yang mudah ditelan, walaupun sedikit-sedikit.

Masalah lainnya bila anak sampai gatal dan cenderung menggaruk bagian-bagian yang dipenuhi bintil. Mandi air dingin atau mengalihkan anak dengan kegiatan bermain bisa mengurangi keluhan ini.

HFMD jg sangat menular. Apabila dalam satu keluarga mempunyai beberapa anak berusia di bawah 9 tahun, satu anak sakit sangat mungkin akan diikuti oleh saudara kandungnya. Begitu juga bila anak-anak ini tetap bersekolah: menularkan ke kawan-kawannya. Bagaimanapun juga, HFMD adalah penyakit ringan akibat infeksi virus yang sembuh dengan sendirinya tanpa obat.

Bagaimana dengan varisela? Beberapa anak yg mengalami cacar air di sekujur tubuhnya ternyata pernah diimunisasi, bahkan hingga 2 kali. Perlu diketahui bahwa tidak ada vaksin yang 100% efektif, termasuk varisela. Efektivitas 1x imunisasi varisela adalah 86% dan 2x adalah 98,3%. Tetap saja vaksin varisela mempunyai efektivitas yang tinggi, artinya mayoritas anak yang sudah diimunisasi tidak sakit sama sekali. Saya yakin banyak orangtua yang bisa menceritakan keberhasilan imunisasinya, yaitu ketika teman-teman si anak banyak yang sakit cacar air, anak yang sudah diimunisasi tidak sakit.

Kemungkinan lainnya adalah munculnya "breakthrough varicella", yaitu anak yang sudah diimunisasi tetap sakit cacar air, tetapi "lenting-lenting"-nya sangat sedikit, tidak mencapai 50 lenting. Anak-anak ini sakitnya lebih ringan, tetapi masih bisa menularkan kepada orang lainnya yang belum punya kekebalan tubuh (karena belum pernah sakit atau belum diimunisasi).

Faktor terakhir adalah cakupan imunisasi yang harus tinggi untuk menciptakan "herd immunity" atau kekebalan lingkungan. Apabila jumlah anak yang sudah diimunisasi melebihi yang tidak diimunisasi, anak-anak yang belum diimunisasi ini akan terlindungi oleh kawan-kawannya.

Varisela memang penyakit ringan untuk anak, karena komplikasinya sangat jarang. Antivirus seperti asiklovir pun jarang dibutuhkan. Tetapi bila anak yang sakit cacar air menularkan kepada orang dewasa yang belum pernah sakit, maka orang dewasa ini lebih berisiko mengalami komplikasi seperti pneumonia (radang paru-paru) dan ensefalitis. Vaksin varisela sangat membantu dalam hal ini.

Friday, December 20, 2013

Selintas Kisah Bakteri dan Virus

Bakteri menghuni tubuh kita sejak beberapa saat kita terlahir ke dunia. Bayi yg lahir secara spontan (persalinan normal), melewati vagina sang ibu yang pastinya penuh dengan bakteri. Bayi yg dilahirkan dengan operasi sesar pun, ketika didekapkan ke dada ibunya atau dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD), segera "berkenalan" dengan bakteri-bakteri baik penghuni kulit ibu, dan terjadilah perpindahan ke tubuh bayi.

Bayi yg awalnya berada di dalam lingkungan steril di dalam rahim ibu, segera pindah ke dunia yg penuh dengan kuman tak terhingga.

Pastilah ini diciptakan Sang Pencipta dengan maksud.

Pada saat bayi berusia 7 hari, milyaran bakteri menjadi penghuni tetap hidung, mulut, kulit, dan ususnya. Apakah kemudian bayi menjadi sakit karenanya?

Kini diketahui bahwa tubub manusia adalah HUMAN MICROBIOME. Apa maksudnya? Ada kurang lebih 10 trilyun sel yg menyusun tubuh manusia, tetapi ada 100 trilyun bakteri yang menghuni tubuh kita! Tubuh manusia lebih merupakan kumpulan bakteri dibandingkan kumpulan sel. Lalu apakah kita menjadi sakit setiap waktu? Tentu saja tidak.

Lalu apakah penggunaan antibiotik berlebihan dan tidak pada tempatnya (digunakan utk infeksi virus) tidak berpotensi membunuh bakteri baik penghuni tubuh kita? Keseimbangan pun akan terganggu dan prinsip survival of the fittest akan membuat bakteri baik bertanya: mengapa kami dimusnahkan?
Lebih jauh lagi, SUPERBUG alias bakteri resisten antibiotik juga ikut tercipta. Masa depan umat manusia ikut terancam...


Sekarang..mari kita bicara tentang virus. Sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa virus bukanlah makhluk hidup. Virus "hanyalah" rangkaian materi genetik DNA/RNA yg dibungkus dengan protein dan polisakarida, yang HANYA bisa hidup di dalam makhluk hidup lainnya.

Jumlah virus di muka bumi amat sangat tak terhingga banyaknya. Virus ada di mana-mana. Tanpa disadari, setiap saat manusia menghirup dan menelan milyaran virus. Tapi apakah manusia menjadi sakit setiap waktu? Lagi-lagi tidak.

Virus menginfeksi tidak hanya manusia, tapi seluruh makhluk hidup di bumi. Bakteri pun diinfeksi oleh virus (virus yg menginfeksi bakteri dinamakan bakteriofag). Jumlah bakteriofag yg ada di lautan (saja), diperkirakan sebanyak 10 pangkat 30 (hitung sendiri ya..). Bila direntangkan rangkaian kepala sampai ekor bakteriofag ini, panjangnya (kalau tidak salah) sekitar 200 tahun cahaya. Ya, tak terbayangkan, jika kita masih ingat seberapa cepatnya kecepatan cahaya. Silakan buka www.virology.ws bila ingin mempelajari betapa luar biasanya virus. Profesor Vincent Racaniello dkk dari Columbia University menjelaskannya dengan mudah.

Kita sudah mengetahui bahwa mayoritas bakteri yang tinggal bersama kita tidak membahayakan, bahkan menguntungkan. Bakteri penghuni usus besar misalnya, membantu pencernaan kita setiap waktu dan berperan dalam pembentukan vitamin K.

Virus diketahui sebagai penyebab tersering penyakit infeksi pada manusia, termasuk anak. Jauh lebih sering dibandingkan dengan infeksi bakteri. Anak-anak adalah kelompok yg sangat sering sakit akibat infeksi virus. Sebagai contoh, dalam setahun seorang anak dapat mengalami 10-12 kali episode selesma (common cold). Apa artinya? Sebulan sekali! Apakah tiap bulan anak kena batuk pilek harus diberikan obat? Apakah tiap bulan kena batuk pilek anak harus dibawa ke dokter? Tentunya tidak. Sebutlah nama-nama seperti respiratory syncytial virus, influenza virus, parainfluenza virus, rinovirus, dan adenovirus sebagai penyebab tersering infeksi saluran napas pada anak. Total ada sekitar 200 strain virus yg bisa membuat common cold.

Inilah kabar buruk dan kabar baik tentang virus. Kabar buruknya adalah: biasanya hampir tidak ada obat yg dapat menyembuhkan infeksi virus lebih cepat. Kabar baiknya: sebagian besar infeksi virus biasanya sembuh sendiri tanpa obat-obatan.

Antibiotik tidak dapat membunuh virus, sehingga pastinya tidak membantu sama sekali membuat anak dengan infeksi virus sembuh lebih cepat.


Saya ingin bercerita sedikit pengalaman bertemu seorang ibu kemarin. Ia membawa anaknya yg berusia 16 bulan dengan riwayat 2x kejang demam, dan mendatangi saya untuk meminta pemeriksaan lengkap anaknya dan beberapa pertanyaan mengenai kejang demam.
Pertanyaan pertama saya adalah: "apa saja yang sudah Ibu baca mengenai kejang demam?" Anaknya sudah 2x mengalami kejang demam, dan...unfortunately..dirawat.
"Belum baca, Dok". Jujur, jawabannya mengejutkan saya. Saya sangat berharap ia sudah belajar tentang kejang demam dan siap mendiskusikannya dengan saya.
Tapi tidak apa-apa. Ini kesempatan bagi saya untuk menyampaikan beberapa poin penting tentang kejang demam dan memberikannya beberapa "PR" bacaan yang harus diselesaikannya di rumah. Semua ini demi kebaikan anaknya, menurut saya.

Buat Ibu yang ternyata membaca tulisan saya ini, mohon maaf bila saya share di sini untuk dijadikan bahan pelajaran. Mohon diijinkan.

Apa pelajaran yg bisa diambil? Ya...lagi-lagi orangtua adalah sosok terpenting pemegang kesehatan anaknya. Dokter hanya sesekali bertemu di ruang praktik, dan maaf, belum tentu dapat diandalkan (kan hanya bertemu saat itu saja). So..belajar terus ya. Sekarang saya tambah satu PR lagi: kuasai demam dan kejang demam.

Kita berlanjut.. Saya sampaikan beberapa kondisi yang seringkali tertukar: infeksi virus atau bakteri ya? Ini saya ambil dr buku Breaking the Antibiotic Habit-nya Paul Offit. Ia dokter anak dan profesor di bidang penyakit infeksi di AS, jadu jenis penyakitnya sebagian mungkin lebih cocok untuk konteks AS.

1. Virus yang menyebabkan produksi CAIRAN di telinga, disalahartikan dengan bakteri yg menyebabkan INFEKSI TELINGA (otitis media).

2. Virus yang menyebabkan NYERI TENGGOROKAN, disalahartikan dengan bakteri yg menyebabkan STREP THROAT.

3. Virus yang menyebakan ingus hijau/kuning kental dari hidung (COMMON COLD), disalahartikan dengan bakteri yg menyebabkan SINUSITIS.

4. Virus yg menyebabkan batuk yg terdengar "berat" (BRONKITIS), disalahartikan dengan bakteri yg menyebabkan PNEUMONIA.

Sekarang saya bahas dalam konteks Indonesia. Saya mohon maaf sebelumnya bila ada yg tidak berkenan. Ini berdasarkan pengamatan subjektif saya di lapangan.

1. Dokter belum tentu rutin melakukan pemeriksaan telinga anak dengan otoskop. Padahal ini adalah pemeriksaan rutin. Jadi bagaimana diagnosis infeksi telinga dibuat tanpa pemeriksaan menggunakan otoskop? Lebih-lebih yg langsung meresepkan antibiotik hanya berdasarkan keluhan subjektif seorang balita.
Hey, tolong ingatkan saya juga ya, bila saya lupa melakukan pemeriksaan telinga anak Anda.

2. Diagnosis "radang tenggorok" adalah salah satu yg tersering dibuat oleh dokter di sini, kemudian diresepkanlah antibiotik. Padahal radang tenggorokan bukanlah diagnosis medis. Antibiotik hanya diberikan pada strep throat, bukan radang tenggorok akibat virus.
Nambah lagi: PR baca ttg strep throat ya.

3. Kalau ingus sudah berubah warna dan menjadi kental, berarti karena infeksi bakteri dong? Antibiotik dong.. Hehe ini lagi-lagi adlh salah kaprah tersering. Sudah saya jelaskan di video saya di youtube ya. Diagnosis sinusitis pun hanya dibuat pada anak besar, jarang sekali pd balita.

4. Jujur, saya jarang buat diagnosis bronkitis (karena kekurangmampuan saya secara klinis untuk membuat diagnosis ini). Tapi toh karena virus yg akan sembuh sendiri kan.. Yg penting, PR lagi: belajar ttg pneumonia. Kapan anak dicurigai pneumonia sehingga dipikirkan antibiotik? Tentunya ada gejala sesak napas.
 

Demam dan Antibiotik

"Dok, anak saya demam sudah tiga hari. Ada batuk pilek. Tadi saya ke dokter dan diresepkan antibiotik. Belum saya tebus. Saya tanya ke dokter, kenapa anak saya dapat antibiotik? Setahu saya batuk-pilek karena infeksi virus. Dokternya menjawab: karena anak ibu demam, jd kemungkinan ini infeksi bakteri.
Apakah antibiotik harus saya tebus dan berikan ke anak saya?"
Pernah mendengar cerita serupa? Dokter mendiagnosis infeksi bakteri berdasarkan gejala demam. Atau biasanya bila demamnya tinggi, di atas 39 derajat selsius, maka dicurigai infeksi bakteri dan diresepkan antibiotik.
Benarkah demikian?

Mari kita bahas terlebih dulu mengenai demam..

Di dalam buku "Breaking the Antibiotic Habit" tulisan Paul Offit dkk, dituliskan data dari 100 anak yg pergi ke dokter karena demam, sekitar 60 akan diresepkan antibiotik. Sebenarnya hanya 10 yg terbukti terdiagnosis infeksi bakteri.

Demam diciptakan Alloh untuk memerangi infeksi (dalam hal adanya infeksi yg terjadi). Ketika kuman (virus/bakteri) masuk, sel-sel sistem imun kita menghasilkan protein bernama pirogen yang merangsang hipotalamus (termostat di otak kita) untuk menaikkan suhu tubuh dan terjadilah DEMAM. Mengapa wujudnya harus demam? Karena pada kondisi demam, sistem imun (pertahanan tubuh) kita bekerja lebih baik dalam melawan infeksi.

Sel darah putih kita yg bernama limfosit B menghasilkan protein bernama antibodi yang "mengikat" dan membunuh virus/bakteri. Limfosit T bekerja dengan mematikan sel-sel yang terinfeksi virus/bakteri, sebelum makin banyak sel yg dirusak oleh kuman. Ada sel-sel lain yg bekerja dg cara menangkap kuman, mencernanya, dan menyerahkannya ke sistem imun (antigen presenting cells). Semua tentara daya tahan tubuh ini bekerja LEBIH BAIK saat demam.

Apa artinya? DEMAM itu BAIK.

Kalau demam baik, mengapa badan kita tidak terus menerus demam saja?
Hehe, demam pastinya terasa tidak nyaman di badan. Demam juga menaikkan kerja jantung kita, meningkatkan pembuangan cairan tubuh, dan kebutuhan energi. Jadi tubuh hanya membuat demam saat dibutuhkan saja.

Lalu apakah demam boleh diobati? Diturunkan dg obat penurun panas?

Nanti anak mengalami kejang dong bila suhunya naik terus? Benarkah demikian?

 Kita tengok dua penelitian yg pernah dilakukan. Pertama di Johns Hopkins School of Medicine di Baltimore. Peneliti membagi dua kelompok anak yg sedang mengalami cacar air (varisela). Kelompok pertama rutin mendapatkan parasetamol 4 kali sehari selama 4 hari. Sedangkan kelompok kedua tidak diberikan obat penurun panas untuk mengatasi demamnya. Apa hasilnya? Ternyata anak-anak yg tidak mendapatkan parasetamol lebih cepat hilang lenting-lenting kulitnya, dibandingkan dengan yg diobati dengan parasetamol.

Penelitian kedua dilakukan di Universitas Adelaide di Australia. Peneliti menginfeksi 60 relawan dewasa sehat dengan rinovirus (penyebab common cold). 15 orang mendapat parasetamol, 15 orang ibuprofen, 15 orang aspirin, dan 15 sisanya tidak mendapat obat. Hasilnya seperti dugaan kita. Kelompok yg tidak diobati sembuh lebih cepat dibandingkan dengan yg diobati, dan membentuk antibodi lebih banyak dibandingkan dengan yg diobati.

Pemberian parasetamol, misalnya, juga bukan tanpa risiko. Banyak anak yg mengalami kerusakan hati akibat overdosis parasetamol atau kekurangpahamanborangtua terhadap dosis obat.

Masalah fever phobia ini demikian mendunianya. Jurnal Pediatrics di tahun 2011 menyimpulkan parasetamol atau obat penurun panas (antipiretik) lainnya diberikan bertujuan untuk membuat anak lebih nyaman ketika demam terus naik. Tidak perlu buru-buru memberikan antipiretik bila anak tidak rewel dan masih aktif.

Nanti kejang dong kalau suhunya naik terus?

Satu, kejang demam hanya terjadi pada 3 dari 100 anak yg mengalami demam. Dua, kejang demam tidak menjadi epilepsi atau menimbulkan kerusakan otak. Tiga, pemberian antipiretik terbukti tidak mencegah kejang demam. Empat, makin tinggi suhu tidak menandakan makin berat penyakit. Lima, hipotalamus kan punya setting suhu sendiri. Pada suhu tertentu, bila "mentok", maka tubuh akan menurunkan sendiri suhunya.

Apakah suhu yg lebih tinggi menandakan penyebabnya adalah bakteri?
Penelitian di Harvard Medical School di akhir 1980-an menunjukkan suhu yg lebih tinggi tidak membedakan penyebabnya virus atau bakteri. Bahkan kadang-kadang infeksi virus bisa menghasilkan suhu lebih tinggi dibandingkan bakteri.

Saturday, December 14, 2013

Mana yang lebih efektif: DPT atau DPaT?

Banyak orangtua khawatir anaknya mengalami demam pasca imunisasi DPT, sehingga mereka lebih memilih DPaT/DaPT/DTaP sebagai vaksin yang "tidak panas". Benarkah demikian? Vaccine information statement dari CDC menyatakan risiko demam pada anak yang mendapatkan vaksin DPaT dapat mencapai 1 dari 4 anak. (sumber: http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/dtap.html). Artinya: sebenarnya tidak ada vaksin yang bebas demam 100%.

Lebih lanjut lagi, wabah pertusis yang terjadi di negara lain, Amerika Serikat khususnya, membuat peneliti kembali mengevaluasi efektivitas vaksin DPaT. Perlu diketahui, AS dan banyak negara lain di Eropa dan Australia sudah tidak menggunakan DPT (baca: whole cell pertussis vaccine--menggunakan bakteri pertusis utuh) lagi, tetapi menggunakan DPaT (baca: acellular pertussis vaccine--hanya menggunakan sekitar 3 komponen dari bakteri pertusis). Di AS sendiri, penggantian ini sudah dilakukan sejak tahun 1992, sedangkan di negara kita Indonesia, Bio Farma masih memproduksi DPT (kombinasi dengan Hepatitis B dan Hib) dan tersedia juga alternatif vaksin impor DPaT (tunggal, dan kombinasi dengan Hib, atau Hib-IPV).

Inilah beberapa kesimpulan yang mungkin bisa membantu orangtua membuat keputusan: vaksin mana yang akan digunakan?

- Vaksin DPT (whole cell) lebih melindungi seseorang dari kemungkinan terkena pertusis dibandingkan dengan DPaT (acellular). Fakta ini dibuktikan dari penelitian terbentuknya antibodi terhadap pertusis (pada penderita) menggunakan alat PCR, seperti diungkapkan di jurnal Pediatrics tahun ini (sumber: http://pediatrics.aappublications.org/content/early/2013/05/15/peds.2012-3836.full.pdf). Keunggulan vaksin DPT ini juga disimpulkan di jurnal Clinical infectious Disease tahun ini (sumber: http://cid.oxfordjournals.org/content/early/2013/03/05/cid.cit046.abstract).

- Durasi (jangka/lamanya) proteksi vaksin DPaT lebih singkat dibandingkan DPT dalam mencegah sakit pertusis. Interval waktu dari kapan terakhir mendapatkan imunisasi DPaT juga memengaruhi risiko seorang remaja/dewasa terkena pertusis di kemudian hari. (sumber: http://jama.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=1456072). Untuk itu, pemberian imunisasi booster jangan sampai terlewat. Sejauh ini rekomendasi imunisasi di Indonesia memberikan vaksin DPT/DPaT terakhir di usia 5-6 tahun. Mulai usia 7 tahun ke atas, dan jadwal imunisasi booster/ulangan di usia 10-12 tahun adalah imunisasi dT yang tidak mengandung pertusis. Di AS sendiri sudah menggunakan Tdap sebagai booster untuk usia tersebut/remaja/dewasa. Di Indonesia, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai insidens pertusis pada remaja dan dewasa.

- Bagaimanapun juga, vaksin DPaT tetap efektif melindungi bayi dan balita dari sakit pertusis. Cochrane yang dikenal sebagai sumber meta-analisis menyimpulkannya. (sumber: http://summaries.cochrane.org/CD001478/acellular-vaccines-for-preventing-whooping-cough-in-children).

- Lebih lanjut lagi, penelitian yang terakhir dipublikasikan menunjukkan vaksin pertusis aselular mampu mencegah sakit, tetapi tidak mencegah infeksi (tertular) dan penyebaran kuman Bordetella pertussis. Penelitian ini memang baru dilakukan pada hewan percobaan (sumber: http://www.medscape.com/viewarticle/815247).

Artikel lain yang juga bagus untuk dibaca ada di sini: http://www.medscape.com/viewarticle/777012_1

Nah, kini selaku orangtua, silakan memutuskan vaksin mana yang akan Anda gunakan: DPT atau DPaT. Semoga membantu dan bermanfaat.

Apin

Friday, December 13, 2013

Pandangan Mengenai Status Kehalalan Vaksin

Bismillah...
Karena banyak yg tampaknya bingung dg kabar keharaman vaksin, maka saya coba share pemahaman yg saya punya. Sebagai seorang tenaga kesehatan yg rutin mengimunisasi banyak anak, orangtua, dan anak-anak saya sendiri tentunya, saya kelak akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan saya di Hari Akhir kelak, termasuk dlm hal mengimunisasi.
Untuk itu saya menggali banyak referensi dan menyimpulkannya:
1. Prinsipnya, hukum kehalalan vaksin berdasarkan 3 hal:
- Istihalah: yaitu sesuatu yg sudah berubah dr sifat aslinya. Yg awalnya haram, menjadi tidak haram. Misal: babi dg seluruh komponennya yg haram, ketika berubah menjadi gelatin yg digunakan sbg stabilizer dlm vaksin (atau cangkang kapsul) menjadi tidak haram, karena sudah berubah dr sifat aslinya. Mengenai hal ini pernah diadakan konferensi ulama internasional yg memutuskannya. Link-nya pernah saya share di grup Gesamun.
- Istihlak: yaitu sesuatu yg najis/haram, ketika tercampur dengan bahan lain yg suci (terlarut) dlm jumlah besar, maka menjadi tidak najis/haram lg. Misal: tripsin dari pankreas babi (porcine) yg digunakan dlm proses awal pembuatan vaksin, akan dibersihkan hingga tidak terdeteksi dlm produk akhir vaksin.
- Dhorurot (darurat): yaitu ketika "terdesak" dan tdk ada pilihan lain. Ini yg paling sering digunakan oleh Komisi Fatwa MUI kita. Dasarnya adlh Quran surat Al Baqoroh 173, Al An'aam 145, dan An Nahl 115.

2. Bagaimana praktiknya dlm vaksin? Bahan bersumber babi digunakan dlm 2 kondisi:
- Sbg tripsin yg digunakan dlm kultur sel (silakan baca ttg vaccine cell culture di google) awal. Tujuannya utk melepaskan virus yg sdh dibiakkan dr wadah "bulk", agar virus dpt digunakan dlm proses selanjutnya. Tripsin ini jg dapat menghasilkan "biakan" bakteri yg banyak, utk digunakan dlm proses selanjutnya.
Berikutnya tripsin harus dicuci sampai bersih, karena bila tdk dicuci, tripsin adlh enzim yg bersifat sbg kataliaator yg akhirnya jg dapat merusak vaksin.
Dlm produk akhir vaksin yg disuntikkan/diteteskan ke dlm tubuh manusia, kandungan tripsin babi ini sudah tidak ada. Prinsipnya istihlak.
Contoh vaksin virus yg menggunakan tripsin porcine: polio dan rotavirus.
Contoh vaksin bakteri: meningokokus. FYI, bakteri meningokokus yg digunakan dlm vaksin pun bukan bakteri utuh, tapi hanya "dinding" polisakaridanya saja.
- Porcine digunakan sbg stabilizer yg ADA dlm produk akhir vaksin yg masuk dlm tubuh manusia. Stabilizer digunakan utk menjaga kualitas dan keawetan vaksin, shg vaksin yg disuntikkan tetap baik dlm memicu respon antibodi.
Produk ini pun tidak dinyatakan haram dan boleh digunakan berdasar fatwa ulama. Prinsipnya istihalah.
Contoh vaksinnya adlh MMR dan varisela produksi Merck (banyak digunakan oleh saudara2 kita di US). Di Indonesia, vaksin MMR produksi Sanofi (Trimovax) dan varisela produksi Sanofi (Okavax) dan GSK (Varilrix), sejauh pengamatan saya tidak menggunakan porcine sbg stabilizer, terapi menggunakan bahan lain. Ini pernah saya bahas jg di grup Gesamun.

3. Dlm wawancara saya dg seorang anggota tim ahli LP POM MUI (doktor di bidang bioteknologi) yg pernah dikirim utk melihat proses pembuatan vaksin meningokokus, beliau mengutip jg bbrp ayat dalil hukum darurat di atas. Bila dilihat konteksnya: ayat tsb digunakan dlm konteks makanan yg dikonsumsi utk menyambung kelangsungan hidup. Vaksin tidak sama dlm hal ini. Vaksin disuntikkan/diteteskan utk memicu respon antibodi dlm jumlah yg sangat sangat sedikit (0,5-1 ml). Maka tidak sepatutnya vaksin dilabelisasi haram.

4. Dari berbagai informasi yg saya dapat dan cerna, saya menyimpulkan tidak semua narasumber dr MUI yg diwawancara media paham masalah ini. Yg terjadi malah meresahkan masyarakat. Padahal sudah banyak ulama berkaliber internasional yg mendukung program imunisasi. Sejawat dr. Raehanul Bahraen sudah membahasnya dlm blognya di www.muslimafiyah.com
Mungkin Komisi Fatwa MUI kita perlu belajar dr negara2 lain yg tidak menggunakan prinsip darurat dlm memberikan sertifikat halal. Tapi kalaupun tetap dg prinsip darurat, toh ini juga diakui dlm fikih Islam.

5. Terakhir, mengapa menggunakan porcine? Dari wawancara dg narasumber lain seorang vaksinolog senior, porcine digunakan karena menghasilkan "biakan" kuman yg baik kualitasnya. Tentunya tujuan akhir imunisasi adalah mengeradikasi (memusnahkan/menghilangkan) penyakit, sehingga butuh vaksin dg kualitas terbaik. Tapi saat ini ilmuwan jg berusaha mengembangkan vaksin yg tidak menggunakan porcine lg. Sementara ini, bila belum ada alternatif lain dan ingin berhukum dg prinsip darurat, maka dibenarkan.

Vaksin adlh produk biologis yg dikembangkan lewat proses ratusan tahun dan memakan biaya sangat besar dlm memproduksinya. Tidak mudah jika tiba-tiba orang-orang asal bicara: "ayo dong, cari penggantinya. Buat yg baru. Bla bla bla".
Sehingga kesimpulan akhir saya: semua vaksin yg ada saat ini halal utk digunakan. Bila ada alternatif lain yg tidak bersentuhan sama sekali dg porcine, maka silakan gunakan.

Islam adlh agama yg menghendaki kemaslahatan dan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Imunisasi memberikan kemaslahatan ini. Maka saya yakin, Islam mendukungnya

Wallahu a'lam.Saya mohon maaf atas segala kesalahan. Yg benar datangnya dr Alloh, yg salah dr saya selaku hamba yg lemah dan bodoh.

-ditulis sepanjang Psr Rebo - Ciputat

Thursday, March 14, 2013

Cara Pemesanan Buku


Buku "Orangtua Cermat, Anak Sehat" dapat Anda pesan via online, dan kami akan mengirimkannya langsung ke alamat Anda.

Harga jual di toko buku: Rp. 60.000,-
Harga di sini: Rp.54.000,- per eksemplar (diskon 10%), belum termasuk ongkos kirim

Ongkos Kirim berlaku sebagai berikut :
Ongkos Kirim Jabodetabek Rp. 10.000,-
Ongkos Kirim Pulau Jawa diluar Jabodetabek Rp. 15.000,-
Ongkos Kirim Luar Pulau Jawa Rp. 25.000,-

Ongkos kirim bisa bertambah sesuai dengan banyaknya buku yang dipesan (hitungan berat per kilogram)

Cara pemesanan:
 (harap mengikuti tahap ini dengan lengkap supaya pesanan Anda dapat diproses)

1. Harap mentransfer ke Rekening dahulu:
BCA No. 1651.838.687 a.n. dr. Arifianto (jumlah pembelian buku dan ongkos kirim).

2. Mohon bukti transfer ke:
  • Email ke dokterapin@gmail.com disertai dengan data diri seperti hotline SMS
  • HOTLINE SMS ke 087887834523 dengan format:
    PO_orangtuacermat_[namapemesan]_[exmp]_ [norek]_[nama]_[alamat]_[kota]
Contoh SMS:
PO_orangtuacermat_Ratna_3_1230987456_RatnaSari_Jl.InpresNo.17A,KelurahanTengah,KramatJati_JakartaTimur
Keterangan:
[namapemesan] = nama pemesan
[exmp] = jumlah pesanan
[norek] = nomor rekening pemesan
[nama] = nama sesuai di rekening
[alamat] = alamat pengiriman
[kota] = kota




Setelah sms akan dikirim SMS balasan, seperti berikut “Terima kasih, pesanan Anda segera kami proses. Untuk informasi, SMS ke 087887834523.”

Sunday, December 09, 2012

Second Opinion: Jangan Segan Bertanya

Saat ini, lumrah saja jika Anda “bertanya” kepada situs kesehatan di internet ketika jatuh sakit. Demikian pula mengambil second opinion . Yuk, pahami lebih dalam supaya tak salah kaprah.

Hampir dua minggu Karina kewalahan mengurus Malik yang tak kunjung sembuh dari diare. Selain lemas, Malik susah makan dan malah muntah-muntah. Padahal ia sudah memeriksakan anak­nya ke dokter dan mematuhi semua anjurannya. Rekan kerja Karina menganjurkan ia mencari second opinion . Meski sempat takut dokter langganannya akan tersinggung, akhirnya ia menuruti nasihat temannya.

Kompetensi Sama
Apa yang dialami Karina mungkin pernah Anda alami. Menurut dr. Arifianto, Sp.A.,  dari Yayasan Orangtua Peduli  (YOP), adalah hak pasien atau konsumen kesehatan untuk mendapatkan pendapat dari dokter lain mengenai masalah kesehatan yang dialami Si Pasien tersebut.

“Bisa juga didefinisikan sebagai seorang pasien datang ke dokter A yang memiliki kompetensi di spesialiasi tertentu. Kemudian, karena satu dan lain hal, dia mengunjungi sendiri dokter B yang kompetensinya sama dengan dokter A,” papar dokter spesialis anak yang aktif “berkicau” di Twitter dengan akun @dokterapin ini.

Meski sedikit, second opinion  juga berlaku untuk kasus yang ditangani beberapa dokter spesialis dengan kompetensi berbeda. “Misalnya hernia pada bayi. Dokter A bilang harus operasi tapi dia tidak memberitahu kapan harus dikerjakan atau tidak merujuk,” ujarnya. Ketika pasien berinisiatif berkonsultasi ke dokter bedah, maka ia dianggap telah melakukan second opinion.

Jangan Takut
Meski termasuk hak, tak jarang pasien atau konsumen kesehatan segan atau takut meminta second opinion . Ternyata, fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia. Survei Harvard di tahun 2010 mengungkapkan sebanyak 70 persen orang Amerika Serikat merasa tidak memerlukan second opinion  atau bahkan mencari tahu penyakitnya.

“Sebenarnya tidak perlu merasa enggak enak karena ini sudah diatur undang-undang,” tegas Arifianto. Apalagi, menurut pria yang biasa dipanggil dokter Apin ini, jika kasus yang didiagnosis adalah penyakit berat seperti kanker yang mengharuskan kemoterapi atau lupus. “Sebaiknya jangan percaya dengan satu dokter. Apalagi penyakit berat itu memiliki konsekuensi menentukan sisa hidup yang ada atau akan melibatkan banyak orang lain untuk mengurus dia.”

Second opinion  juga bisa diambil jika Anda ragu dengan diagnosis dokter. “Atau, dokternya ragu-ragu menjelaskan penyakitnya apa. Kita boleh meminta second opinion  terlepas dari apa pun diagnosisnya.” Lalu, ketika diagnosis dan terapi tidak sesuai. “Bilangnya infeksi virus, tapi dikasih antibiotik. Anak kurus karena turunan tapi dikasih susu formula,” papar Arifianto.

Second opinion juga bisa dilakukan bila, “Penyakit membutuhkan pemeriksaan atau pengobatan yang memakan biaya mahal, dalam waktu singkat, dan kalau tidak kasus emergency (darurat). Baik obat maupun pemeriksaan,” tegasnya.

Terakhir, second opinion  bisa diminta jika pengobatan berlangsung dalam jangka panjang. “Misalnya TBC paru. Kan, belum tentu itu TBC paru, bisa saja batuk pilek biasa. Atau, sindrom nefrotik (ginjal bengkak) yang minum obatnya minimal dua bulan,” papar ayah dua anak ini. Walaupun diagnosis dokter jarang meleset, Arifianto menganjurkan second opinion . “Akan memengaruhi kalau dalam jangka waktu panjang.”
Yang jelas, saat melakukan second opinion , usahakan ke dokter yang memiliki kompetensi yang sama. “Jangan turun pangkat. Misalnya ke spesialis enggak yakin, malah ke dokter umum. Tidak disarankan juga second opinion  ke alternatif karena ilmu dokter tidak bisa dibandingkan dengan alternatif,” tegas Arifianto.

Resume Medis
Second opinion , lanjut Arifianto, berbeda dengan rujukan atau merujuk. “Dalam hal ini, justru dokter umum yang merujuk ke dokter spesialis atau dokter spesialis merujuk ke dokter sub spesialis.” Rujukan juga mengharuskan pernyataan tertulis dari dokter pertama kepada dokter kedua.

Contohnya kasus di mana dokter anak umum mendapatkan kasus jantung. “Jantung anak harus di-echo , saya rujuk ke spesialis jantung. Atau, kasus-kasus yang memang butuh pemeriksaan lanjutan seperti USG , CT-scan  atau butuh tindakan intervensif, pembedahan, katerisasi.”

Bagi Anda yang masih awam, Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) dan Undang-Undang Kedokteran sudah mengatur penggunaan rekam medis. “Berkas rekam medis milik layanan kesehatan dan isinya milik pasien Tapi, rekam medis secara utuh tidak boleh dibawa dari rumah sakit atau tempat praktik pribadi,” papar Arifianto.

Berkas yang merupakan hak pasien atau konsumen kesehatan adalah resume medis. “Pasien boleh minta resume medis dan diberikan saat pulang dari perawatan. Tapi, kenyataannya enggak semua diberikan karena berasumsi pasien akan kontrol di tempat yang sama,” ucap Arifianto. Resume medis sendiri berisi ringkasan rekam medis. Nah, saat meminta resume medis, pastikan dokter atau rumah sakit sudah menandatangani.

Bertanya ke Internet
Fenomena lain yang tak kalah menarik berkaitan dengan second opinion  adalah googling your symptoms . “Ini namanya menjadikan internet sebagai first opinion dan dokter sebagai second opinion  dan ini adalah hal positif,” cetus Arifianto.

Menurutnya, berkat informasi yang bertebaran di dunia maya, hubungan dokter dan pasien sudah setara. “Pertama, dunia sepakat bahwa pasien diposisikan bukan sebagai objek tapi sebagai subjek. Kedua, sekarang pasien itu dianggap sebagai konsumen jadi dokter adalah pemberi jasa,” paparnya.
Ketiga, lanjut Arifianto, fenomena ini menuntut dokter untuk terbuka dan jujur dalam memberikan informasi apa adanya. “Bahkan termasuk bila dokter enggak update  sama ilmunya, dia harus mengakuinya, ‘Saya belum punya ilmunya, saya harus baca, atau mungkin kita bisa berbagi.’ Keempat, dokter mau enggak mau harus update  ilmu,” tegasnya.

Akan tetapi, Arifianto mengingatkan supaya pasien atau konsumen kesehatan memilah dan memilih sumber informasi yang kredibel. Jika keliru, ada dua kerugian. Pertama, underestimate  kondisi kesehatan. Misalnya, ada benjolan di payudara, setelah dicocokkan dengan situs kanker di internet diperkirakan jinak padahal ternyata ganas.

Sedangkan overestimate  bisa juga terjadi gara-gara mendapatkan informasi yang salah. Misalnya, berat badan anak tidak kunjung naik dan makannya susah. Si Ibu ketakutan anaknya TBC lalu dikasih obat padahal bukan TBC.

Diskusi dengan Dokter
Supaya tak terjebak di dua masalah tadi, “Solusinya, ketika dia tidak yakin, ya dia perlu ke dokter. Dokter akan menjelaskan apakah yang selama ini dipahami dari internet benar atau tidak?” jelas Arifianto. Untuk kasus tertentu, pasien atau konsumen kesehatan disarankan terlebih dulu membaca, mengumpulkan, dan mencerna informasi sesuai yang ia mampu.

“Ketika dia pergi ke dokter, dia boleh menceritakan hasil penelusurannya dengan bahasanya sendiri. Kalau perlu dia bawa print out -nya, bahan-bahannya, jadi pasien ke dokter enggak blank .” Atau, pasien hanya menjawab “Ya” dan “Tidak” saat dokter bertanya keluhannya. “Tapi sebaliknya, dua arah. ‘Dok, saya baca gini.’ Fenomena ini adalah salah satu upaya membuat penyetaraan kedudukan antara dokter dan pasien,” papar Arifianto.

Jadi, bolehkah pasien bertanya? “Boleh, itu hak pasien. Cuma supaya konsultasi kesehatan berjalan efektif, ke dokter bukan cuma nunjukin print out  artikel tapi kita udah mengolahnya menjadi sekian pertanyaan yang kira-kira kalau ditanyakan tidak memakan waktu lebih dari lima belas menit,” urainya. Dalam waktu lima belas menit, menurut Arifianto, seorang dokter biasanya sudah bisa mencapai kesimpulan penyakit apa yang diderita hingga terapi, termasuk menjelaskan cara minum obat dan efek samping.
Astrid Isnawati

dimuat di Tabloid Nova edisi 5-11 November 2012
http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Umum/Second-Opinion-Jangan-Segan-Bertanya 

Saturday, August 25, 2012

Welcome to The "Batuk-Pilek" Season

Selepas lebaran, pulang dari mudik, bertemu dengan banyak orang, anak-anak pun rentan jatuh sakit. Batuk-pilek menjadi penyakit langganan pasca liburan. Awalnya sehat-sehat saja, bertemulah anak-anak dengan sepupu-sepupunya atau orang dewasa yang sedang batuk-pilek. Sesampainya di rumah, gejala yang muncul akibat tertular mulai tampak. Batuk grok-grok, terkadang sampai muntah, hidung yang mampet atau bahkan meler, sampai gelisah dan sudah tidur yang berlanjut susah makan, menjadi fakta yang harus dihadapi orangtua. Persis dengan yang saya alami saat ini di rumah dan yang saya temui sehari-hari di ruang praktik. Selamat datang di musim batuk-pilek!

Batuk-pileknya anak pertama pun ternyata berbeda dengan anak kedua. Seingat saya, pertama kalinya si sulung sakit common cold yang disertai demam ketika selepas dari ASI eksklusifnya, yaitu saat berumur lebih dari 6 bulan. Tetapi adiknya lebih dini terkena batuk-pilek untuk pertama kalinya, yaitu ketika berumur sekitar 3 bulan. Mengapa begini? Ya, tidak lain sebabnya karena si adik tertular kakaknya yang lebih dulu mengalami common cold. Anak kedua, ketiga, dan seterusnya memang lebih rentan sakit, karena sudah punya saudara yang bisa jadi teman berbagi infeksi.

Apa yang dilakukan kemudian menghadapi anak batuk-pilek? Anak-anak ini bisa jadi mengalami demam, rewel, kesulitan bernapas lega karena banyaknya ingus atau lendir, dan minta digendong terus. Orangtua yang baik ingin menghilangkan semua keluhan ini bukan? Berikan obat penurun panas, obat batuk-pilek, tetes hidung, diuap, dan digendong tentunya.

Dari semua pilihan yang ada, yang bisa saya lakukan adalah memberikan antipiretik bila demam dan... menggendongnya sampai tertidur. Bagaimana dengan terapi yang lain?

Ada beberapa fakta yang ingin saya sampaikan:

1. Batuk pilek alias common cold atau selesma adalah infeksi virus yang akan sembuh sendiri seiring waktu. Pilek dengan ingus yang berubah warna menjadi kuning-hijau-coklat adalah akibat bakteri normal saluran napas atas yang sama sekali tidak membutuhkan antibiotik. Batuk grok-grok hingga muntah tanpa disertai sesak napas juga tidak mengindikasikan pneumonia, sehingga lagi-lagi tidak membutuhkan antibiotik.

2. Tidak ada satupun obat pereda gejala batuk-pilek yang efektif untuk anak. Obat penekan refleks batuk seperti kodein dilarang digunakan, karena menghalangi keluarnya lendir yang berpotensi menyebabkan sesak napas. Obat pilek berisi pseudoefedrin berpotensi menyebabkan jantung berdebar-debar dan anak menjadi gelisah. Obat pengencer dahak semacam ambroksol atau bromheksin percuma saja diberikan, karena sekalipun dahak menjadi encer, anak di bawah 6 tahun umumnya belum bisa membuang dahak secara sengaja. Mereka akan menelan dahak atau kemudian memuntahkannya. Seringkali anak menjadi setelah muntah.
Badan pengawas obat di Amerika (FDA) menekankan penggunaan obat pereda gejala batuk-pilek harus sangat berhati-hati dan diijinkan khususnya di atas usia 6 tahun, meskipun anak usia ini juga tidak terlalu membutuhkan obat batuk-pilek.

3. Penggunaan obat tetes hidung untuk mengencerkan ingus boleh saja diberikan, meskipun tidak lama kemudian anak bisa kembali mampet, dan... tidak ada anak yang merasa nyaman ditetesi/disemprot hidungnya.

4. Tidak jarang anak batuk-pilek pergi ke dokter dan diuap (inhalasi). Niatnya untuk membantu mengencerkan dahak. Bisa jadi beberapa saat setelah diinhalasi, anak merasa nyaman. Tapi sesampainya di rumah, lendir kembali mengumpul dan batuk grok-grok terdengar nyaring. Apakah dengan demikian anak batuk-pilek harus diinhalasi sekian kali per hari. Fakta yang saya punya: terapi inhalasi ditujukan untuk serangan asma, bukan common cold. Saya juga berpendapat anak-anak yang diinhalasi mudah mengeluarkan dahaknya karena muntah akibat menangis ketakutan tidak suka mendengarkan suara bising mesin inhalasi dan asap yang dikeluarkannya. Jadi... buatlah anak menangis supaya muntah dan mengeluarkan dahaknya. Hehe...
Tidak ada anak yang meninggal karena common cold, karena sebanyak-banyaknya lendir, anak tidak sesak. Yang ada adalah anak meninggal karena pneumonia. Terapi pneumonia bukan diinhalasi, tetapi dirawat dan mendapatkan oksigen.

5. Boleh saja memberikan balsam untuk menghangatkan dada, air madu hangat, jeruk nipis atau ramuan rumahan lainnya. Semuanya membantu membuat anak nyaman, tetapi tidak menyembuhkan penyebabnya.

6. Antipiretik sejenis parasetamol sebenarnya lebih bertujuan membuat anak nyaman, bukan menurunkan suhu tubuhnya semata. Jadi jangan panik bila anak memuntahkan parasetamol setelah diberikan. Tubuh akan menurunkan sendiri suhu tubuh, karena punya termostat canggih.

Di balik semua ini, semua gejala yang ada tentunya Alloh ciptakan dengan tujuan. Demam timbul sebagai reaksi tubuh menghadapi infeksi virus agar tidak mudah berkembang biak. Bila saatnya turun, tubuh akan menurunkan sendiri suhunya. Demam baik kan?
Batuk bertujuan mengeluarkan dahak berisi kuman agar tidak menumpuk dan membuat sesak. Ingus berisi kuman yang seharusnya dikeluarkan tubuh juga. Muntah membuang bahan yang tidak seharusnya berada dalam tubuh. Segala sesuatu memang diadakan dengan tujuannya.

Bagi saya pribadi di ruang praktik, batuk-pilek termasuk penyakit yang paling sulit. Tidak jarang saya butuh 30 menit untuk meyakinkan orangtua bahwa common cold akan sembuh sendiri dan tidak butuh obat apapun. Batuk-pilek juga bisa berlangsung lebih dari 2 minggu, terutama bila ada orang lain di rumah yang sakit serupa. Ping-pong istilahnya. Kadang-kadang saya menangkap ekspresi kecewa di wajah orangtua. But the truth must be told. It's my opinion.

Kembali ke kenyataan, saya harus menghadapi si sulung yang batuk dan muntah berulang-ulang, sehingga asupannya sangat berkurang. But it's just a common cold anyway. It's self-limiting. Sembuh sendiri akhirnya, insyaAlloh. Dan... jangan lupa berdoa untuk kesembuhan anak kita. Kesembuhan hanya datang dari Sang Maha Penyembuh.

Monday, July 19, 2010

Obesitas Mengintai Anakku...

Tulisan lain juga yang pernah dimuat di Femina

http://www.femina-online.com/issue/issue_detail.asp?id=617&cid=2&views=27

Faktor nutrisi menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan anak di Indonesia. Di satu sisi, banyak anak menderita kekurangan nutrisi, di sisi lain, banyak pula anak yang kelebihan kalori atau obesitas. Keduanya sama-sama mengalami kondisi tidak sehat. Dari penelitian yang dilakukan Masyarakat Pediatri Indonesia pada anak-anak sekolah dasar di 10 kota besar di Indonesia 2002-2005, angka obesitas rata-rata tergolong tinggi, 10%-12,2%. Penelitian serupa yang dilakukan pada anak-anak sekolah dasar di Jakarta pada 2006, malah menunjukkan angka mengejutkan, 9,8% hingga 37%. Masalah obesitas ini tampaknya tidak hanya terjadi di Indonesia. Badan Kesehatan Dunia, WHO, bahkan sudah menetapkan obesitas sebagai epidemik global yang harus segera diatasi.

Celakanya, masih ada pola pikir yang keliru dari para orang tua. Anak yang gendut, montok, dan berpipi chubby masih menjadi kebanggaan sebagian besar orang tua. Padahal, menurut para ahli kesehatan dunia, anak yang obesitas terancam sederet penyakit berat di masa mereka dewasa.

FAKTOR GENETIS ATAU POLA MAKAN?
Melia (32) cemas bukan main. Anaknya, Jerry (8), tak bisa bergaul dengan teman sebayanya. Penyebabnya, Jerry kerap menjadi sasaran ledekan temannya karena bentuk tubuhnya. Beratnya mencapai 60 kilogram, dengan tinggi badan 148 cm. “Waktu Jerry berusia 2 tahun, posturnya masih bagus. Sejak ia dititipkan di rumah neneknya, berat badannya melambung. Ia terlalu dimanjakan neneknya, makan apa saja dibolehkan. Dari kecil, porsi makan Jerry dibiasakan sebesar orang dewasa,” kenang Melia, yang pernah ‘menitipkan’ anaknya selama 2 tahun kepada orang tua untuk kuliah ke luar negeri.

Kasus Jerry termasuk salah satu kasus obesitas pada anak. Menurut ilmu kedokteran, anak yang mengalami obesitas mempunyai kemungkinan 78% obesitas berlanjut pada saat remaja, dan 25%-50% pada saat dewasa. Seperti yang dikatakan ahli gizi, dr. Carmelita Ridwan, SpGK dari Klinik Primavita, Jakarta, “Orang dewasa yang obesitas mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menderita penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kelebihan berat badan. Antara lain, diabetes melitus, hipertensi, hipokolesterol, stroke, penyakit jantung koroner, kanker usus besar dan payudara, serta risiko kematian dini bila mengalami kegemukan saat remaja dibandingkan dengan orang dewasa yang mengalami obesitas saat dewasa.”

Dokter Arifianto dari Yayasan Orang Tua Peduli, membenarkan hal tersebut. Ia menambahkan, penyakit-penyakit lain karena kondisi obesitas, antara lain saluran napas, asma, sleep apnea (gangguan tidur), dan gangguan ortopedi.

Seperti apa, sih, seorang anak dikatakan obesitas? Cara paling mudah, yakni dengan melihat grafik berat badan yang ada di kartu kesehatan anak. Jika berat anak berdasarkan usia masih berada dalam garis hijau, berarti masih proporsional. Jika sudah di atas garis hijau, berarti menunjukkan kelebihan berat badan yang patut diwaspadai. Definisi WHO menghitung obesitas berdasarkan body mass index (BMI). Rumusnya, berat badan dibagi tinggi badan kuadrat (kg/m²). Disebut obesitas bila dilihat dalam tabel Z score, berdasarkan usia, didapat hasil di atas 3.

Lantas, sejak kapan seorang anak bisa mengalami obesitas? Dokter Arifianto mengatakan, “Bayi baru lahir yang beratnya di atas 4 kilogram bisa dibilang overweight. Jika dirunut, pasti ada yang salah dengan ibunya. Bayi overweight biasanya karena ibunya menderita diebetes melitus tipe 2. Namun, sekarang ada pergeseran tren. Banyak bayi lahir dengan berat di atas 4 kilogram, tapi ibunya tidak terbukti diabetes. Belum ada penelitian lebih lanjut tentang fenomena ini,” ungkapnya. Lebih lanjut, dr. Arifianto menguraikan, anak yang obesitas dari usia 6 bulan, diprediksi akan obesitas pada usia 3 tahun. Anak yang obesitas pada usia 3 tahun, kemungkinan besar akan obesitas di usia remaja.

Baik dr. Arifianto maupun dr. Carmelita mengatakan, faktor genetis memegang peranan dalam menyebabkan obesitas pada anak. Akan tetapi, faktor lingkungan amat besar pengaruhnya. “Kalau faktor lingkungan tidak mencetus, harusnya, meskipun ada faktor genetis, tidak sampai overweight,” ucap dr. Arifianto.

Dokter Carmelita menambahkan, persisnya berapa persen faktor genetis ini berpengaruh, belum diketahui. Tetapi, ada yang menyebut, angkanya kurang lebih 30%. Sisanya, karena faktor lingkungan.

Faktor lingkungan yang dimaksud, kata dr. Carmelita, antara lain pola makan yang mengonsumsi makanan tinggi kalori, misal junk food (burger, french fries, nugget, sosis, dan lainnya), minuman kotak/botol, minuman cepat saji dari sachet, camilan kue dan biskuit manis, serta pola makan yang kurang mengonsumsi buah dan sayur. “Kalau anak makan di restoran fast food, sudah pasti minyaknya banyak. Belum lagi minumnya soda yang bergula tinggi. Terus sayurnya mana? Padahal, sayur dan buah dalam piramida makanan adalah tingkat yang paling besar kedua setelah golongan serealia,” kata dr. Carmelita.

Maka, dr. Carmelita menyarankan, konsumsi sayuran harus selalu ada di menu makan. Begitu juga buah. “Buah yang baik adalah buah potong atau yang di-blender. Bukan hanya sari buah yang berasal dari konsentrat dan tambahan gula,” tutur dr. Carmelita.

WASADA SEJAK ANAK BERUSIA ENAM BULAN
Bagaimana cara mengantisipasi agar anak terhindar dari obesitas? Jawabannya lagi-lagi soal pola makan. Kebiasaan keluarga, pengetahuan serta kepedulian orang tua sangat berperan. “Orang tua harus membiasakan anak makan sayuran dan buah. Untuk itu, orang tua harus memberi contoh. Sebab, anak meniru kebiasaan orang tuanya,” saran dr. Carmelita. Selain itu, orang tua juga sebaiknya membatasi stok jajanan yang terlalu manis, serta snack yang mengandung MSG. Sebagai gantinya, lebih baik menyediakan makanan buatan sendiri, seperti cocktail buah, puding, atau bubur kacang hijau.

Masalah kebiasaan pola makan ini, idealnya, menurut pendapat dr. Arifianto, sudah harus dibentuk sejak anak mulai dikenalkan makanan pendamping ASI (MPASI) di usia 6 bulan. Di usia ini, aktivitas makan bagi anak adalah proses belajar, mengenal berbagai bentuk, tekstur, dan rasa makanan, tanpa perlu sedikit pun memberi tambahan gula atau garam. “Anak belum perlu diberi makan banyak atau nasi 3 kali sehari. Sumber nutrisi utama anak masih dari ASI,” jelas dr. Arifianto.

Kebiasaan memanjakan dan membebaskan anak memilih makanan dan jajanan yang disukai, bukanlah cara bijak. Bukan anak yang menentukan apa yang dimakan, melainkan orang tua. Sayangnya, umumnya para orang tua punya ketakutan berlebihan, jika anak rewel karena permintaan yang tak dituruti atau tak doyan makan sama sekali. Ditambah lagi, adanya dorongan ketidak puasan melihat anak tetangga yang lebih gemuk. Menurut dr. Arifianto, ada fenomena orang tua lebih senang pada anak yang gemuk.

Soal ketidaktegaan ini diakui oleh Rika Martini, ibu dari Azka (4). Menurut Rika, Azka sering minta makan lebih banyak dari yang diberikan. “Kalau Azka minta nambah makan, masa saya larang, kasihan, ‘kan? Biasanya, malah baby sitter-nya yang tega melarang Azka nambah makan,” ujar Rika.

Lain lagi kebiasaan Puti Dewi Oka, ibu dari Redfan (2). Sebagai wirausaha yang punya bisnis sendiri di rumah, kepraktisan terkadang menjadi nomor satu. “Nutrisi memang penting, tetapi menyediakan makanan bernutrisi sehari-hari sangatlah sulit. Apalagi saat di rumah tak ada pembantu yang memasak. Menu anak sama dengan menu untuk orang tuanya, hanya dibuat tidak pedas saja. Kadang-kadang anak menolak sayur. Jadi, kalau dia maunya nasi putih saja, ya, dituruti, yang penting Redfan mau makan,” ujar Puti.

Sisilia Pujiastuti (32) juga pernah menghadapi masalah anak yang tidak mau makan. “Usia 14-16 bulan, Damai pernah susah makan. Saya sampai pusing memilihkan makanan untuknya. Saya sadari, kalau dalam fase itu kita salah mengambil keputusan, mungkin bisa berakibat fatal. Seperti cerita teman saya, ketika dalam fase tersebut anaknya tidak mau makan, dia memberikan fast food. Akhirnya, anak jadi ketagihan sampai sekarang,” ucap Sisil. Pada saat itu, Sisil membelikan Damai sebuah buku dari karakter di serial Sesame Street, Elmo, yang bertema healthy habit, tentang makanan sehat. Perlahan-lahan, Damai pun mau makan sayuran lagi.

PENGARUH TELEVISI DAN VIDEO GAME
Obesitas timbul karena asupan energi dari makanan dan minuman melebihi energi yang dikeluarkan untuk beraktivitas. Dalam hal ini, berlaku hukum termodinamika. “Kalori yang masuk harus sama dengan kalori yang keluar. Obesitas itu akibat dari ketidakseimbangan energi,” kata dr. Arifianto.

Di luar kebiasaan dan pola makan itu, ada faktor penting yang menyebabkan obesitas, yakni kurangnya aktivitas fisik yang membakar kalori. Penelitian di negara maju mendapatkan hubungan antara aktivitas fisik yang rendah dengan obesitas. Keberadaan televisi dan video game yang menjadi ‘berhala’ baru anak zaman sekarang, banyak dituding sebagai faktor pembawa obesitas. Penelitian yang pernah dilakukan oleh G.D. Kopelman terhadap anak Amerika pada tahun 2000 menunjukkan, mereka yang menonton televisi 5 jam per hari mempunyai risiko obesitas sebesar 5,3 kali lebih besar dibanding mereka yang nonton televisi 2 jam per hari.

Apa hubungannya? “Anak jadi malas bergerak karena keasyikan nonton teve. Apalagi, kebanyakan iklan di teve isinya menyuruh anak-anak jajan yang tak sehat,” kata dr. Arifianto. Idealnya, menonton teve cukup 2 jam saja sehari. Belum lagi, jika anak sudah mulai kecanduan video game dan internet, aktivitas fisiknya makin jauh berkurang. Untuk anak yang obesitas bahkan disarankan menonton teve kurang dari sejam per hari.

Mengurangi kebiasaan menonton teve ini memang sangat sulit. Hal ini diakui Rika. Selain di sekolah, Azka jarang main di luar rumah. “Azka lebih suka main di kamar bersama mainannya atau nonton VCD. Malah, kalau sedang susah makan, baby sitter biasanya sengaja memutarkan VCD agar Azka mau makan,” jelasnya.
Masalah yang hampir sama juga dihadapi Melia. Meski sudah mengurangi jam menonton teve, setiap akhir pekan, Jerry lebih senang menghabiskan waktu untuk main game ketimbang diajak main ke tempat wisata. “Hari Minggu, Jerry bisa 5 jam main PS atau game komputer,” ujar Melia.

Lingkungan saat ini yang tidak memungkinkan anak-anak bermain di luar rumah, harus diakui, juga menjadi salah satu pemicu aktivitas anak lari ke televisi. Padahal, anak butuh ruang gerak untuk bermain dengan teman sepermainannya. Hal ini bisa disiasati, misalnya dengan mengikutsertakan anak dalam klub olahraga, atau les menari. Cara lain, “Joging di pagi atau sore hari, mengajak anak membantu beres-beres rumah, juga bisa menjadi alternatif murah dan menyehatkan,” kata dr. Carmelita, memberi saran.

Kebiasaan lain yang membuat penurunan aktivitas anak adalah kenyamanan sarana transportasi. Coba diingat, berapa jam dalam sehari anak Anda berjalan kaki? “Orang tua cenderung mengantar anak sekolah dengan mobil, turun langsung di depan gerbang sekolah. Padahal, ada baiknya membiarkan anak jalan kaki setidaknya 15 menit dari jarak mobil ke sekolah,” kata dr. Arifianto.

Bagaimana dengan anak-anak yang sudah telanjur mengalami obesitas? “ Hal yang perlu dilakukan adalah konseling gizi. Hitung berat badan ideal dan kebutuhan kalorinya. Perlu dijaga agar tidak mengonsumsi makanan yang mengandung kalori tinggi, memperbanyak sayur dan buah. Selain itu, aktivitas fisik juga harus diperbanyak. Usahakan agar berat badan anak tidak bertambah, dipertahankan hingga sesuai dengan usia yang seharusnya,” dr. Arifianto menjelaskan.

Ia menambahkan, kecuali ada hal-hal khusus, misalnya anak yang obesitas disertai penyakit tertentu. “Kalaupun harus turun berat badan, penurunan tidak boleh drastis.”

Penulis: Ficky Yusrini

[Dari femina 19 / 2010]

Batuk Mengamuk

Salah satu tulisan yang mengambil narasumber saya di Femina

http://www.femina-online.com/issue/issue_detail.asp?id=646&cid=2&views=27

Batuk seperti polusi, ada di mana-mana. Di negara empat musim misalnya, batuk terkait dengan musim tertentu. Pada musim semi, batuk terjadi akibat tebaran serbuk bunga. Pada musim dingin, batuk juga terjadi karena banyaknya kasus influenza. Di negara tropis seperti Indonesia, batuk bisa terjadi sepanjang tahun. Cermati batuk yang Anda alami, supaya penanganannya tepat dan tak berlebihan, seperti yang diungkapkan dr. Arifianto dari RSCM dan Yayasan Orang Tua Peduli berikut ini.

TERSEDAK, ALERGI ATAU PENYAKIT?
Batuk, sama halnya seperti lendir yang keluar dari hidung, bersin, air mata yang mengalir ketika mata terkena debu, bahkan kotoran yang keluar dari telinga, merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menghalangi dan mengeluarkan penyebab penyakit (virus, bakteri, kuman), serta benda asing lainnya (debu, kotoran, makanan). Ketika benda asing tersebut masuk, saraf akan memberi sinyal pada otot tubuh untuk mengeluarkan ‘benda’ tersebut. Maka, terjadilah batuk.

Jadi, kalau Anda mengalami batuk, jangan dulu panik kalau-kalau Anda kena flu, atau lainnya. Batuk itu ternyata alami, kok. Batuk tanpa disertai demam atau sesak napas biasanya terjadi karena tersedak, terkena asap rokok, atau alergi. Batuk timbul akibat terangsangnya reseptor batuk yang tersebar di banyak lokasi tubuh, mulai dari saluran napas (hidung, trakea, bronkus), sampai di luar lokasi saluran napas (lambung dan telinga). Batuk pada luar lokasi saluran napas, misalnya, bisa terjadi ketika seseorang sedang membersihkan telinga dengan kapas telinga.

Namun, di sisi lain, batuk juga menjadi tanda atau gejala dari suatu penyakit tertentu. Infeksi virus seperti influenza misalnya, juga memiliki gejala batuk. Bahkan, infeksi bakteri tuberkulosis, infeksi saluran napas seperti pneumonia, juga bergejala batuk. Batuk juga bisa berarti adanya keganasan/kanker yang mendorong reseptor batuk di batang paru-paru.

Anda perlu curiga bahwa batuk yang Anda alami merupakan gejala dari penyakit ketika batuk tersebut disertai tanda lain, seperti sesak napas atau demam. Sesak napas (dyspnea) dapat timbul oleh beberapa sebab, seperti asma, penggumpalan darah pada paru-paru, atau pneumonia. Sementara demam, terjadi karena zat-zat yang merangsang hipotalamus (pusat pengendalian suhu tubuh dan sekresi hormon) menghasilkan pirogen (zat penyebab demam). Bila terjadi infeksi atau zat asing masuk ke dalam tubuh, maka sistem pertahanan tubuh akan melepaskan pirogen. Pelepasan pirogen ini memicu produksi prostaglandin E2 (molekul lemak yang berfungsi sebagai hormon, berperan dalam pengaturan detak jantung), yang kemudian meningkatkan temperatur. Pada penyakit tuberkulosis misalnya, Anda akan mengalami demam di malam hari dan batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu.

Batuk karena alergi merujuk pada reaksi hipersensitivitas yang dimunculkan oleh tubuh. Hipersensitivitas pada setiap orang ini berbeda-beda kadarnya. Sebagai contoh, jika A terpapar 100 debu, maka akan muncul reaksi alergi seperti batuk. Sementara pada B, baru terpapar 10 debu saja sudah langsung batuk-batuk, ditambah bersin-bersin.

“Anda justru harus khawatir ketika ada benda asing masuk ke dalam tubuh dan tubuh tidak memberikan reaksi. Itu tandanya sistem pertahanan tubuh Anda gagal merespons atau menghalau ‘musuh’ ini, dr. Arifianto menjelaskan.

OBAT BATUK, KAPAN PERLU?
Tidak ada orang yang betah mengalami batuk-batuk selama berhari-hari. Leher rasanya tidak nyaman, belum lagi orang-orang di sekitar, rata-rata menjauh karena tidak ingin udara di sekitar mereka tercemar. Tak heran, kalau leher gatal, rasanya ingin, deh, cepet-cepet minum obat.

Tapi, kini, setelah Anda tahu bahwa batuk tak selamanya tanda suatu penyakit, Anda perlu mengubah cara menanganinya. Dalam kasus alergi, yang perlu dilakukan adalah mengenali pencetusnya dan menghindari supaya tidak timbul gejala.

Kalau alergi karena debu atau tungau, ya, Anda harus rajin membersihkan rumah. Pada batuk yang penyebabnya adalah infeksi bakteri seperti tuberkulosis dan pneumonia, maka obatnya adalah antibiotika. Nah, pada influenza yang penyebabnya adalah infeksi virus, batuk ini tidak perlu diobati, karena bisa sembuh sendiri.

Lalu, bagaimana dengan obat batuk yang sangat beragam jenisnya, dan mudah ditemui di apotek maupun toko obat?

Obat batuk masuk dalam kategori over the counter drug, atau dengan kata lain, obat bebas. Menurut dr. Arifianto, produsen obat memang menciptakan label obat batuk untuk berbagai jenis batuk, seperti batuk berdahak, batuk kering, dan batuk alergi. “Padahal, obat ini sama saja, tujuannya adalah untuk menghentikan batuk, kata dr. Arifianto.

Obat anti batuk yang mengandung zat antitusif ditujukan untuk menekan refleks batuk, sehingga setelah minum obat, batuk diharapkan berhenti. Padahal, batuk yang terjadi adalah karena tubuh berusaha mengeluarkan lendir serta bakteri/virus/debu yang masuk. “Dengan adanya zat antitusif, pengeluaran ‘benda berbahaya’ ini akhirnya ikut dihambat. Akibatnya, justru virus/bakteri tersebut masuk ke saluran napas, napas menjadi sesak dan pemulihan penyakit jadi lebih lama, dr. Arifianto menjelaskan.

Konsumsi obat penekan refleks batuk disarankan pada keadaan-keadaan tertentu, misalnya batuk-batuk yang terkait penyakit kanker. Seperti batuk lainnya, batuk jenis ini juga terjadi karena refleks. Obat batuk yang mengandung antitusif akan berperan menekan reseptor batuk. Sehingga, penderita kanker tidak perlu terbatuk-batuk, dan diharapkan akan merasa lebih ringan.

Selain antitusif, Anda mengenal jenis obat batuk mukolitik dan ekspektoran, keduanya merupakan pengencer dahak. Dalam beberapa penelitian yang ditujukan pada anak-anak, ternyata tidak ada bedanya antara anak yang mendapatkan obat batuk ekspektoran dan yang tidak. Yang terjadi justru efek samping obat, serta risiko polifarmasi (mengonsumsi beberapa jenis obat yang sebenarnya tidak perlu).

Jadi, yang perlu dilakukan ketika Anda mengalami batuk adalah mengatasi penyebabnya, bukan mengatasi batuknya. Bayangkan ketika Anda mengalami batuk, pilek, panas, dan diare, lalu Anda dengan bebasnya mengonsumsi berbagai obat,

yaitu obat batuk, obat pilek, obat penurun panas dan obat antidiare. Padahal, penyebabnya ‘hanyalah’ infeksi virus yang akan sembuh sendiri.

Jika batuk disertai demam, yang diizinkan adalah memberi antipiretik (penurun panas) ketika suhu telah mencapai di atas 38,5º C. Setelah itu, minum air putih banyak-banyak untuk mengencerkan dahak. Bila batuk belum juga mereda atau menimbulkan sesak napas dan mengi (khas asma), hubungi dokter untuk mengetahui penyebabnya secara pasti. Jika telah diketahui penyebabnya, dokter akan memberikan antibiotik untuk penyakit tuberkulosis misalnya, atau inhalasi pada asma.


Penulis: Prilia Herawati

[Dari femina 26 / 2010]

Friday, February 05, 2010

"Flek Paru" yang ternyata Sakit Jantung

Bingung membaca judul di atas? Anda mungkin akan berpikir topik salah diagnosis yang akan saya ceritakan. Tidak sepenuhnya salah, namun tidak 100 persen tepat.
Saya akan memulai cerita dari beberapa kasus yang saya temui di poliklinik jantung anak dalam beberapa minggu terakhir.
Beberapa penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak memang tidak terdiagnosis sejak lahir. Sayangnya tidak semua orangtua memahami hal ini, sehingga tidak jarang beberapa kasus PJB non sianotik (tidak menimbuhkan keluhan "biru" pada anak) baru disampaikan dokter pada orangtua, setelah bertahun-tahun mereka melakukan kunjungan pemeriksaan kesehatan rutin ke dokter, dan tidak pernah mendapatkan pernyataan "anak Anda tampaknya mengalami PJB", berdasarkan bunyi jantung yang didengarkan dengan sangat cermat melalui alat sederhana bernama stetoskop itu.
Secara umum PJB dapat dibagi menjadi golongan sianotik (muncul keluhan biru mulai dari sekitar mulut, sampai telapak tangan dan kaki, seringkali disertai sesak napas dan penampilan anak yang menunjukkan kondisi gawat darurat) dan non sianotik. Cukup mudah untuk mencurigai PJB pada jenis sianotik, namun bagaimana dengan golongan non sianotik? Tiga jenis kelainan PJB non sianotik terbanyak adalah duktus arteriosus persisten (browsing saja: PDA/persistent ductus arteriosus), defek septum ventrikel (keywords: VSD/ventricular septal defect), dan defek septum atrial (cari di search engine: ASD/atrial septal defect).
Pada bayi baru lahir sampai dengan usia sekitar delapan minggu, tahanan pembuluh darah yang menuju paru (dari jantung) masih cukup tinggi, sehingga adanya "kebocoran" (sebenarnya istilah ini kurang tepat, karena tiga kelainan PDA-VSD-ASD terjadi bukan akibat bocor, tetapi adanya celah yang seharusnya (sudah) menutup saat bayi lahir) yang menyebabkan adanya aliran/pirau dari bagian kiri ke kanan jantung, tidak akan menyebabkan bunyi "bising", akibat tidak adanya turbulensi. Ini prinsip fisikanya: (1) bising jantung terdengar hanya bila terjadi turbulensi; (2) pirau dari kiri ke kanan yang diimbangi oleh tahanan pembuluh paru yang masih tinggi tidak akan menyebabkan turbulensi.

Paham?? Well... singkat cerita, tahanan pembuluh darah yang menuju paru baru turun pada usia sekitar 8 sampai 12 minggu, sehingga timbul perbedaan tekanan yang cukup bermakna untuk menimbulkan turbulensi dan bermanifestasi sebagai bising jantung.

Maksud saya adalah: bayi baru lahir yang tidak memiliki keluhan sama sekali, tanpa kelainan bunyi jantung, dan dokter segera menyatakan "bayi Anda sehat, tidak ada kelainan, dan semua organnya normal", belum tentu tidak memiliki kelainan jantung bawaan, karena jenis PJB non sianotik bisa jadi paling cepat terdeteksi pada usia 12 minggu, karena bising jantung (murmur) baru dapat didengarkan dengan cermat pada saat ini, tergantung seberapa kecil celahnya. Lho, kok bukan seberapa besar? Semakin besar celah, bisa jadi semakin sulit bising terdengar.

One point I'd like to emphasize is: dokter harus melakukan pemeriksaan fisik jantung dengan cermat, yang kadang-kadang cukup sulit (anak menangis, tidak bisa diam, telinga dokternya belum dibersihkan, hehe), untuk dapat menemukan PJB ini. Satu kasus yang saya temukan beberapa hari silam adalah: usia 15 tahun yang baru diketahui mengalami ASD sekundum, karena keluhan yang tidak berhubungan dengan PJB sebenarnya. Anak ini memiliki perawakan normal (artinya gizinya baik), IQ superb (dia juara olimpiade sains), dan tidak pernah diketahui mengalami PJB sebelumnya. Kebetulan saja dokter yang memeriksanya terakhir kali adalah ahli jantung yang mendengarkan bising yang haammpiirr tidak terdengar, dan segera dilakukan ekokardiografi pada hari itu juga, dan... hasilnya ASD sebesar beberapa belas milimeter, ia sebaiknya segera mencari waktu untuk menutup celah di antara kedua serambi jantungnya.

Hal lain yang ingin saya sampaikan adalah: pada pemeriksaan foto rontgen dada ketiga jenis PJB asianotik/non sianotik tadi, dapat dijumpai gambaran pembuluh darah paru yang meningkat, khususnya pada jenis ASD. Hampir semua kasus ASD yang kami temui pernah mendapatkan pengobatan anti tuberkulosis (OAT), karena didiagnosis dokternya sebagai "flek paru" dan diobati sebagai tuberkulosis (TB) tentunya. Padahal si anak sama sekali tidak pernah terinfeksi kuman TB. Ini sebuah pelajaran lagi bagi dokter untuk lebih cermat dalam mendiagnosis TB.

Well, itulah dua hal yang ingin saya sampaikan. Mudah-mudahan tidak bingung memahaminya.

ditulis di tengah-tengah keributan kamar PPDS dan upaya untuk berkonsentrasi penuh dengan otak mengantuk

Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?

 (tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...