Wednesday, November 12, 2014

Anak diare tidak boleh makan sayur? Kapan harus pakai antibiotik?

Benarkah bila anak diare tidak boleh makan sayur dan susunya harus diencerkan?

Beberapa hari terakhir kasus diare lebih sering saya jumpai di poliklinik. Di IGD dan ruang rawat pun, rasanya tiada hari tanpa diare. Bila seluruh orangtua yang datang membawa anaknya yang diare dan ditanyakan: apa yang paling mereka inginkan, jawaban utamanya kemungkinan cuma satu: agar diarenya cepat mampet! Bagaimana cara mempercepat penyembuhan pada diare? Jujur, saya tidak tahu jawabannya. Jadi apabila orangtua bertanya pada saya: apa obatnya agar diare cepat berhenti? Maka jawab saya: tidak tahu.

Diare atau mencret alias muntaber (muntah dan berak-berak) adalah ketika konsistensi tinja lebih cair dan lebih banyak air dibandingkan dengan ampasnya. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari infeksi, keracunan makanan, alergi makanan, hingga intoleransi laktosa. Jadi tidak semua penyebab diare adalah sama. Tetapi, PENYEBAB TERSERING diare pada anak adalah INFEKSI VIRUS.

Apa saja hal-hal yang harus orangtua kenali dari diare?

1. Pada hakekatnya, diare (dengan atau tanpa muntah) adalah upaya tubuh untuk mengeluarkan hal-hal yang seharusnya tidak masuk ke dalam tubuh, misalnya virus dan bakteri. Ini pula mungkin sebabnya tidak ada obat yang efektif menghentikan diare, dan memang diare tidak perlu distop! Karena diare adalah bentuk pertahanan tubuh mengeluarkan kuman. TETAPI, dalam proses mengeluarkan kuman inilah anak dapat mengalami DEHIDRASI alias kekurangan cairan tubuh, bahkan bisa berujung pada kematian. Maka, pada diare, hal TERPENTING adalah mencegah dan mengatasi dehidrasi. Bukan menyetop diare atau muntahnya. Caranya: ya kasih minum, minum, dan minum. Bila tidak terkejar dari minum dan anak sangat sulit diberi minum, pemberian cairan lewat selang lambung (NGT) dan infus mungkin diperlukan.

2. Bolehkah memberi obat penghenti diare pada anak, semisal: kaolin dan pektin, atapulgit, dihidrosmektin, dan loperamid? Jawabannya: mulai dari tidak perlu (karena tidak bermanfaat) sampai tidak boleh (karena efek samping yang membahayakan). Lalu apa obatnya? Cairan, utamanya larutan gula-garam semisal oralit dan cairan rehidrasi oral (CRO) lain yang ujung-ujungnya berakhiran "lyte". Bukankah anak tidak suka karena rasanya aneh? Ya berikan sedikit-sedikit dengan sendok. Tidak suka juga! Perbanyak terus minumnya, yang masih dapat ASI diteruskan ASI-nya.
Tapi anaknya tidak mau makan karena muntah dan mual? Kalaupun menolak makanan sesuap pun, perbanyak terus minumnya. Karena anak yang dehidrasi cenderung lebih haus. Kecuali dehidrasi berat yang sudah sulit minum dan harus dirawat di RS.
Perlukah pemberian probiotik? Sampai saat ini, selain CRO, terapi yang direkomendasikan oleh WHO adalah suplementasi zinc (seng) untuk diare akut. Probiotik belum masuk rekomendasi WHO untuk pengobatan diare akut yang utamanya disebabkan oleh infeksi virus. Probiotik mungkin bermanfaat untuk diare yang disebabkan oleh pemberian antibiotik (antibiotic associated diarrhea).

2. Kata nenek, kalau diare tidak boleh makan sayur. Dan kalau minum susu harus diganti dg yang low lactose milk (LLM) atau free lactose (FL). Kalau masih diberikan susu dan sayurnya diteruskan, maka diarenya berkepanjangan. Padahal anaknya maunya minum susu dan masih mau makan sayur.

Ada yang pernah dengar pernyataan di atas?


Jadi... kalau anak sedang diare itu... tetap boleh diberikan makan sayur dan diteruskan pemberian susunya.

Loh, bukannya nanti tambah mencret? Ingat, di awal posting sebelumnya, saya sampaikan bahwa mayoritas diare akut pada anak disebabkan oleh infeksi virus, bukan intoleransi laktosa atau malabsorpsi karbohidrat/lemak/protein. Bahasan tentang intoleransi, malabsorpsi, dan alergi makanan tidak saya sampaikan di sini, secara umum diarenya melanjut (bukan akut).

Perhatikan, pada anak yang diare, bukan sekedar risiko dehidrasi yang terjadi, tetapi juga malnutrisi (kekurangan zat gizi). Kita perhatikan anak-anak yang diare susah sekali makannya. Bisa karena mual, atau nafsu makan memang turun. Apabila anak-anak ini sudah susah makan/minum dan masih ditambah adanya pantangan makan dari orangtua, bayangkan makin sedikit nutrisi yang mereka dapatkan. Maunya makan nasi, dipaksa makan bubur. Maunya minum susu dan tidak mau air putih, dilarang minum susu. Maunya makan sayur dan sop, dipantang. Jadi, ubahlah paradigma lama ini.
Tentu halnya berbeda ya bila anaknya diare karena intoleransi laktosa. Tapi ciri-cirinya kan beda dengan diare akibat rotavirus.


Kapan diare diberikan antibiotik?

Salah satu yg kadang membuat saya sedih adalah beberapa kali saya mendapatkan anak yang mengalami diare akut, apapun penyebabnya, langsung diresepkan antibiotik oleh dokter. Biasanya jenisnya cotrimoksasol.

Apa kira-kira alasannya?

Perlu ditegaskan lagi bahwa mayoritas diare akut pada anak (dewasa sebenarnya juga kurang lebih sama) yang disebabkan oleh infeksi adalah karena infeksi virus, bukan bakteri. Mayoritas penyebab diare akut pada anak adalah rotavirus, dan sebagian kecil lain seperti norovirus dan adenovirus. Tentunya antibiotik tidak diperlukan. Justru pemberian antibiotik pada diare akibat infeksi virus dapat mematikan bakteri baik di dalam usus besar kita.

Analogi yang diajarkan guru saya adalah: antibiotiknya masuk dan mencari-cari mana bakteri yang bisa dibunuh? Eh, ketemunya bakteri baik. Jadi dibunuhlah si bakteri baik ini dan yang terjadi adalah: diare berkepanjangan. Maka dikenal istilah: antibiotic associated diarrhea (AAD).

Tubuh kita ternyata adalab kebun binatang raksasa. Jumlah bakteri baik penghuni tubuh kita bahkan lebih banyak 10 kali lipat dari jumlah sel penyusun tubuh! Ilmuwan menyebutnya sebagai HUMAN MICROBIOME. Dan sebagian besar bakteri baik penghuni tubuh kita ini bersemayam di usus.

Allah memang menciptakan segala sesuatu dengan tujuan. Termasuk kenapa bakteri baik ini harus ada. Kita sudah belajar biologi sejak SMP dan tahu bakteri Eschericia coli penghuni usus kita ini berfungsi membantu produksi vitamin K dan menjaga pencernaan tetap sehat.

Lalu bagaimana mengetahui diarenya karena infeksi bakteri, bukan infeksi virus?


(bersambung?)

Tanya jawab seputar pemberian obat penurun panas (antipiretik)

1. Benarkah antipiretik diberikan bila suhu badan anak di atas 38 derajat selsius?
Ya, obat pereda demam atau antipiretik semacam parasetamol dapat diberikan ketika anak demam, yaitu suhunya di atas 38. Tetapi banyak ahli bersepakat saat ini pemberian antipiretik sebenarnya lebih bertujuan untuk membuat anak merasa nyaman (tidak rewel), bukan segera menurunkan suhu badan. Artinya: katakanlah suhu anak 39 derajat selsius, tetapi masih bisa bermain dan berjalan-jalan, tidak rewel, maka tidak perlu buru-buru memberikan antipiretik. Toh demam diciptakan untuk memerangi infeksi agar cepat sembuh.

2. Bukankah bila tidak segera diberikan antipiretik, anak akan berisiko mengalami kejang demam?
Untungnya tidak. Tidak ada hubungan antara tingginya suhu tubuh dengan risiko kejang demam. Kejang demam (KD) hanya dialami oleh mereka yg memiliki "bakat" untuk terjadi KD. Bila tidak punya "bakat", suhu di atas 40 derajat selsius pun tidak menjadi KD. Lagipula, kejang demam (bukan meningitis/ensefalitis ya) tidak merusak otak.
Fakta lainnya adalah: antipiretik tidak dapat mencegah terjadinya KD pd mereka yg mempunyai bakat.

3. Bagaimana bila anak tidak mau minum antipiretik saat demam? Haruskah kita memaksanya?
Wah, hal yg serupa ternyata juga terjadi pada anak-anak saya. Jika dipaksa minum, malah dimuntahkan. Lalu ia menangis karena kesal. Terjadilah perang kecil. Hehe. Buat saya, filosofi anak menolak minum obat penurun panas adalah: ia menolak (tanpa disadarinya) tubuhnya segera dinyamankan dengan minum obat. Meskipun seringkali juga antipiretik tidak berhasil menurunkan suhu dan menyamankan anak. Toh, tanpa diberikan antipiretik apapun, tubuh akan menurunkan sendiri suhu tubuhnya. Kita memiliki termostat di hipotalamus yg mengatur suhu tubuh tidak " bablas" ketinggian. Pada suhu maksimal tertentu, tubuh akan menurunkan sendiri demamnya.
Yah...akhirnya selama demam dan ia tidak nyaman plus tidak mau minum obat, kita nyamankan dengan cara menggendongnya, memeluknya, membacakannya cerita, dan memastikan cukup minum. Karena yg dikhawatirkan pd demam sesungguhnya adalah dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) karena terbuang oleh panas.


4. Benarkah pemberian antipiretik dari dubur dibolehkan, apabila anak tidak mau minum obat? Dan benarkah pemberian antipiretik supositoria ini lebih cepat meredakan demam?
Inilah yg namanya FEVER PHOBIA! Takut ya sama demam? Hehe.
Seingat saya, penelitian menunjukkan pemberian antipiretik lewat dubur (supositoria) tidak lebih efektif dibandingkan dengan obat minum dalam meredakan demam. Selain itu, kebanyakan anak tidak suka dan mengalami trauma psikologis bila diberikan obat lewat dubur. Lalu kapan obat seperti ini dapat diberikan? Misalnya pd anak-anak dengan hiperpireksia yg dirawat di RS, dengan kecurigaan infeksi susunan saraf pusat, dan/atau ada kontraindikasi pemberian obat minum, padahal tingginya suhu harus diatasi.


5. Saat anak saya tidur, saya meraba dahinya panas sekali. Lalu saya ukur suhunya 40°C! Bolehkah saya membangunkannya supaya dia minum obat? Atau saya masukkan obat dr dubur saja? Saya takut anak saya kejng saat tidur...
Sudah kita bahas alasan-alasan sebelumnya ya  Anak yg sedang demam karena sakit cenderung kurang istirahat karena tidak nyaman badannya. Maka ketika ia sedang tidur, jangan dibangunkan hanya "sekedar" untuk memaksanya minum obat. Biarkan ia beristirahat. Toh artinya ia sedang tidak rewel juga kan.

6. Benarkah pemberian ibuprofen lebih baik dlm meredakan demam dibandingkan dengan parasetamol?
Ternyata tidak juga. Malah ibuprofen lebih cenderung memberikan efek samping mengiritasi lambung. Parasetamol juga bukannya tanpa risiko. Pemberian yg overdosis dapat merusak hati (liver).

7. Benarkah dosis obat parasetamol diberikan sesuai usia yg tertera di kemasan obat?
Ternyata seharusnya tidak seperti ini! Dosis obat, termasuk parasetamol, diberikan sesuai berat badan, bukan usia. Bisa saja seorang anak mengalami overweight atau sebaliknya underweight, sehingga beratnya tidak sama dengan anak-anak sebayanya. Bisa saja obat yg diberikan malah underdosis atau bahkan overdosis. Sepatutnya orangtua tahu cara menghitung dosis obat secara sederhana, misalnya saja dosis parasetamol adalah 10 sampai 15 miligram per kilogram berat badan per kali pemberian. Lalu tinggal dikonversi kepada mililiter yg berlaku di sediaan obat.
Semoga bermanfaat.

Leukosit tinggi! Apa yang ditakutkan?

"Dok, anak saya tinggi lekositnya. 22 ribu. Saya sudah ke dokter anak lain sebelumnya dan diresepkan antibiotik. Apakah harus diminum?" Ibu di hadapan saya bertanya dengan wajah yang panik.
"Ngomong-ngomong, apa keluhan anaknya Bu?" tanyaku. Ia lalu menjelaskan bahwa anaknya sudah demam 3 hari dan batuk-batuk. Anaknya masih relatif aktif. Tetapi karena demamnya belum pernah selama ini, ia lalu membawa anaknya ke dokter dekat rumah dan diperiksakan darahnya. Hasilnya: lekosit tinggi dan diresepkan antibiotik.
"Ibu sudah bertanya ke dokter sebelumnya, apa alasannya diberikan antibiotik?" tanyaku lagi.
"Sudah, karena lekositnya tinggi." jawabnya

Di lain cerita, ada lagi yang mengeluhkan: "Dok, anak saya demam dan diare sudah 4 hari. Lekositnya 40 ribu. Saya sudah ke dokter di RS dan disarankan untuk dirawat, untuk mendapatkan infus antibiotik. Kata dokter, lekosit setinggi ini harus mendapatkan antibiotik suntik."

Benarkah demikian? Lekosit tinggi berarti infeksi bakteri, dan bakteri harus dibunuh dengan antibiotik? Lalu makin tinggi nilai lekosit, maka makin membahayakan tubuh, sehingga harus dirawat dan mendapat antibiotik suntik?

Ada beberapa hal yang ingin saya komentari.

Pertama, dokter mengobati pasien (baca: orang alias manusia), bukan mengobati hasil laboratorium. Maka yang harus dinilai pertama kali dan yang paling utama adalah: bagaimana keadaan klinis pasien? Tampak sakit berat? Masih aktif, walau lebih lemah? Masih bisa minum? Frekuensi pipis masih normal? Nah, pemeriksaan laboratorium dibutuhkan sebagai penunjang. Untuk makin meyakinkan apa sebenarnya diagnosis pasien. Bahkan, apabila wawancara terhadap pasien ditambah dengan pemeriksaan fisiknya sudah cukup untuk menyimpulkan diagnosis, maka pemeriksaan laboratorium tidak perlu dilakukan. Satu lagi, apabila ada ketidakcocokan antara kondisi klinis pasien dengan hasil laboratorium, maka yang lebih dipercaya adalah orangnya, bukan labnya. Ini yang saya pelajari dari guru-guru saya. Diagnosis adalah formulasi dari anamnesis (wawancara medis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang). Terapi ditentukan oleh diagnosis. Apabila infeksi bakteri, maka membutuhkan antibiotik, dan bila infeksi virus, maka tidak butuh.

Kedua, sayangnya nilai leukosit seringkali tidak mampu membedakan antara infeksi virus dengan bakteri. Nilai lekosit tinggi yang mencapai puluhan ribu bisa disebabkan oleh baik infeksi virus maupun bakteri.
Beberapa pemeriksaan tambahan memang bisa dilakukan untuk membantu membedakan, misalnya hitung jenis yang segmenter, c-reactive protein (CRP), dan prokalsitonin (PCT). Tapi tetap saja masing-masing mempunyai keterbatasannya dan klinis adalah nomor 1.

Ketiga, kembali lagi kepada prinsip mengapa lekosit naik pada infeksi? Leukosit atau sel darah putih dibentuk sebagai tentara pertahanan tubuh kita. Jadi bila tubuh kita diserang kuman, maka sangat wajar tentaranya keluar dalam jumlah banyak untuk memerangi musuh. Lekosit yang naik justru menandakan sistem imun kita masih bekerja.

Terakhir, ada kondisi-kondisi tertentu lekosit yang tinggi menandakan kegawatdaruratan. Namanya: hiperlekositosis. Nilai lekosit naik melebihi 100 ribu sel per mikroliter. Klinis pasiennya dicurigai mengalami leukemia atau kanker sel darah putih. Maka jumlah lekosit yang sangat tinggi ini sesungguhnya didominasi oleh lekosit muda (blast) yang abnormal, alias sel kanker. Tentunya kondisi pasien tidak semata dengan lekosit tinggi saja, tetapi ada pucat disertai hemoglobin yang turun, pembesaran hati dan/atau limpa, dan trombosit turun juga. Ada penekanan terhadap sumsum tulang yang membuat semua fungsi produksi sel darah menurun. Kondisi hiperlekositosis adalah keadaan gawat darurat yang harus segera ditangani.

Jadi, tidak semua lekosit yang tinggi harus dianggap infeksi bakteri kan?

Catatan: ada pula yang mendefisinikan hiperlekositosis sebagai nilai lekosit di atas 50 ribu. Lagi-lagi, yang terpenting adalah: bagaimana kondisi klinis pasien

Croup: Apakah Itu?

Kemarin, untuk kedua kalinya saya mendapatkan kasus croup. Apa pula itu? Saya belum mendapatkan padanannya dalam bahasa Indonesia. Seorang anak laki-laki berusia 1 tahun datang dengan batuk yang terdengar "menggonggong" dan terlihat lebih sesak sejak malam sebelumnya. Anaknya masih aktif, mau makan dan minum, dan mengalami batuk pilek sejak tiga hari sebelumnya. Kebetulan tidak ada demam, tetapi napasnya terlihat cepat.

Bronkiolitis. Diagnosis ini yang terlintas di "snap judgement" saya. Memeriksa anak tidak semudah orang dewasa yang kooperatif. Kadang urutan pemeriksaan dari anamnesis, lalu pemeriksaan fisik di tempat tidur tidak selalu berjalan mulus. Anak yang sesak jangan sampai dibuat menangis, karena akan mengacaukan penilaian hitung frekuensi napasnya dan melihat tarikan dinding dadanya. Apabila direbahkan di tempat pemeriksaan, anak hampir dipastikan akan menangis.

Untuk itu, sambil bertanya-tanya kepada orangtuanya, anak diminta untuk dibukakan bajunya, agar dapat dilihat gerakan napasnya. Mendengarkan bunyi napas dengan stetoskop pun dilakukan sambil menghampiri anak yang masih digendong. Ternyata rapid assessment saya salah. Saya tidak mendengarkan bunyi mengi (wheezing) ataupun ronki. Anak mulai terbatuk-batuk sambil menangis, karena takut diperiksa. Barking cough. Ini croup.

Pemeriksaan lain tidak menunjukkan adanya masalah. Rongga mulutnya lapang, tidak ada "radang tenggorokan". Kelenjar getah bening leher tidak teraba membesar. Tidak ada alasan untuk menyimpulkan ini adalah infeksi bakteri yang membutuhkan antibiotik.

Edukasi kepada orangtua dilakukan sambil sama-sama membacahttp://m.kidshealth.org/parent/infections/lung/croup.html dari ponsel. Artikel ini meyakinkan kepada orangtua bahwa croup murni disebabkan oleh virus (parainfluenza/RSV) dan tidak butuh antibiotik. Karena croup yang dialami anak ini ringan, maka tidak membutuhkan obat tambahan seperti steroid atau inhalasi adrenalin. Gejala diharapkan mereda dalam 3-7 hari mendatang.


diambil dari Fanpage Orangtua Cermat, Anak Sehat di https://www.facebook.com/pages/Orangtua-Cermat-Anak-Sehat/

Wednesday, September 24, 2014

Stop Merokok Demi Anak

Ingin tahu apa lagi kejahatan rokok? Simak tulisan berikut yang memuat wawancara dengan saya di http://health.detik.com/read/2014/03/24/105635/2534413/763/terpapar-residu-asap-rokok-ayahnya-bayi-ini-meninggal-kena-pneumonia

Terpapar Residu Asap Rokok Ayahnya, Bayi Ini Meninggal Kena Pneumonia
M Reza Sulaiman - detikHealth
Senin, 24/03/2014 11:07 WIB
Jakarta, Jangankan menghirup asap rokok, menghirup residu atau endapan racun dari asap rokok juga berbahaya bagi anak. Seorang mantan perokok aktif mengaku telah mengalaminya sendiri, sang anak meninggal meski ia selalu merokok di luar rumah.
Pengakuan tersebut disampaikan seorang pria di sebuah forum online. Pria yang menggunakan akun 05072013 tersebut mengisahkan, anaknya meninggal akibat pneumonia atau radang paru-paru akut di usia yang masih sangat muda, yakni 1 tahun. Sama seperti kisah tentang Keanu, pengakuan pria ini juga tersebar luas di jejaring sosial.
"Gua mantan perokok gan (perokok aktif selama 18 thn). Anak gua cewek hanya bisa genap usianya 1 tahun 10 hari, wafat di vonis radang paru-paru akut (pneumonia) krn ayahnya ngerokok. bukan ngerokok di sebelah anaknya (gua klo ngerokok pasti keluar rumah), tetapi menghirup racun-racun nikotin dari baju ayahnya saat kondisi menggendongnya setelah barusan merokok :sedih," demikian kutipan pengakuan sang ayah, yang kepada detikHealth tidak bersedia mengungkapkan identitas aslinya.
Kisah-kisah semacam ini dinilai tidak terlalu mengejutkan bagi dokter yang juga penulis buku kesehatan anak, dr Arifianto, SpA. Menurut dokter yang akrab disapa dr Apin ini, orang tua yang merokok tetap membuat anak berisiko terkena penyakit paru-paru meski sudah membatasi untuk tidak merokok di dalam rumah.
"Asap rokok itu efeknya sampai 10 meter. Jadi walaupun di luar rumah tetap ada risiko asap masuk ke dalam," kata dr Apin saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Senin (24/3/2014).
Risiko tersebut merupakan efek dari residu racun rokok, yang menempel di baju maupun benda, gorden, seprai, dan sebagainya. Seseorang yang terpapar racun rokok dengan cara demikian disebut sebagai third hand smoker. Bahayanya sama seperti second hand smoker, yang oleh orang awam sering disebut perokok pasif.
"Tetap saja (berisiko) biar merokok di kantor atau di perjalanan tetapi baru masuk rumah langsung peluk, gendong, atau cium anak tanpa mandi, bersih-bersih dan sikat gigi dahulu," ungkap dokter lulusan Universitas Indonesia tersebut.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan prevalensi perokok pada tahun 2007, 2010, dan 2013 berturut-turut meningkat dari 34,2%; 34,7% dan akhirnya 36,3%. Tak hanya itu, dari 92 juta orang perokok pasif, 43 juta di antaranya anak-anak dan yang paling menyedihkan dan memprihatinkan adalah 11,4 juta dari anak-anak ini masih berusia balita.

Sebuah kisah tentang campak

Setelah beberapa bulan tidak menjumpai kasus campak, kemarin saya mendapatinya lagi. Seorang anak berusia 15 bulan yang memeluk ibunya erat. Ia tampak lemah, dengan ruam merah di sekujur tubuhnya. Anak ini memang belum diimunisasi campak saat berusia 9 bulan, bukan karena menolak, tapi ibunya beralasan si ayah mengalami stroke sehingga ia sibuk mengurus ayah dan kurang memperhatikan imunisasi anaknya.
Namun bagaimanapun juga, tidak sepatutnya virus campak menjangkiti anak ini. Apabila cakupan imunisasi campak sudah tinggi, herd immunity yg terbentuk seharusnya melindungi anak-anak yang belum diimunisasi.
Banyak orangtua juga menganggap campak sebagai penyakit ringan. Mereka mengira semua anak akan terkena campak dengan sendirinya. Ketika seorang anak mengalami demam yang berakhir dengan ruam di seluruh badan, orangtua menyimpulkan ini adalah campak. Penyakit ringan. Toh anaknya justru makin aktif setelah ruam muncul dan demam reda. Mereka salah. Ini bukan campak. Kemungkinan ini roseola (eksantema subitum) yang merupakan penyakit ringan dan tanpa komplikasi. Virusnya berbeda dengan campak. Sebagian orang menyebutnya dengan "tampek". Atau mungkin anak-anak ini mengalani rubella, yang jarang menimbulkan komplikasi pada anak.
Ketahuilah bahwa campak penyakit berat. Campak sering menimbulkan komplikasi pneumonia dan ensefalitis, yang berakhir dengan kematian. Kadang-kadang sebagian penderitanya juga mengalami ketulian dan kebutaan (akibat keratitis) sebagai "oleh-olehnya". Dan pada kondisi yang sangat jarang, campak menimbulkan subacute sclerosing panencephalitis atau SSPE. Simaklah kisah di sini:http://www.vaccinestoday.eu/vaccines/how-measles-can-change-a-life/Orangtua ini mengisahkan anaknya yang mengalami SSPE, lebih dari 10 tahun setelah sang anak terkena campak di usia yang sangat muda: 6 bulan, ketika belum masuk usia untuk diimunisasi campak. Selama bertahun-tahun anak ini hidup sehat dan normal, tiba-tiba di suatu saat ia mengalami kejang berulang dan kini hidup dalam kondisi vegetatif: seperti tumbuhan.
Orangtua harus mempelajari gejala-gejala campak. Bagaimanapun juga, program imunisasi campak yang dilakukan sejak tahun 1982 telah berhasil menurunkan kasus campak, sehingga campak sudah jarang ditemui. Riskesdas 2013 menunjukkan cakupan imunisasi campak sebesar 82,1%. Angka yang harus dinaikkan hingga melebihi 90%. Data WHO di bulan November 2013 mencatat lebih dari 6.300 kasus campak sepanjang 2013. Angka yang masih sangat tinggi di Indonesia.
Maka jangan makin bebani penderitaan masyarakat dengan menolak imunisasi dan mengampanyekan penolakannya. Jangan mengajak-ajak orang lain untuk tidak mengimunisasi anaknya. Jangan menjadi beban, jadilah pemecah masalah. Tidak mengimunisasi anak bukan saja merugikan diri sendiri, tetapi juga membahayakan orang-orang di sekitarnya.

diambil dari wall Facebook saya beberapa bulan silam

Tuesday, April 15, 2014

Fever Phobia!

Apa keluhan tersering yg membuat orangtua membawa anaknya ke dokter? Demam. Ya, kebanyakan kita takut dengan yg namanya DEMAM. Takut kejang alias "step" lah, takut "kenapa-kenapa" dengan anaknya (anyway, apa pula kenapa-kenapa itu, harus didefinisikan, hehe), takut Demam Berdarah, dsb.

Ini fakta yg harus diketahui tentang demam:

Segala sesuatu diciptakan dg tujuan, termasuk demam. Nah, demam salah satunya diciptakan sbg respon tubuh menghadapi serangan kuman (virus/bakteri). Sel-sel darah putih selaku tentara pertahanan tubuh kita bekerja optimal pd suhu demam.
Kesimpulannya: DEMAM itu BAIK.

Lalu, apa saja mitos yg sering dibahas ttg demam?

1. Mitos: makin tinggi suhu badan, maka makin berat penyakitnya
Fakta: tidak, belum tentu. Tingginya derajat suhu tidak menggambarkan beratnya penyakit. Bisa saja demamnya tidak tinggi tapi anaknya ternyata kena meningitis lalu meninggal, dan sangat mungkin demamnya tinggi tapi anak hanya kena common cold alias batuk pilek yg sembuh sendiri.

2. Mitos: makin tinggi suhu badan meningkatkan risiko kejang demam.
Fakta: tidak. Kejang demam hanya terjadi pada mereka yg scr genetik mempunyai "gen kejang" dlm dirinya (meskipun kadang tidak dapat diprediksi). Kejang demam hanya terjadi pada 4 dari 100 anak. Bisa saja seorang anak cenderung demam sampai 40-41 derajat selsius tapi seumur umur tidak pernah kejang, dan sangat mungkin seorang anak mengalami kejang dg suhu hanya 38-an karena mempunyai "bakat" kejang.
Toh kejang demam tidak merusak otak.

3. Mitos: demam yg berlangsung lebih dr 3 hari berarti butuh antibiotik.
Fakta: kita sudah pelajari bhw antibiotik HANYA diberikan pd infeksi bakteri. Infeksi virus bisa berlangsung sampai lebih dr 3 hari, bahkan 7 hari dan tentunya tidak butuh antibiotik.

4. Mitos: demam lebih dari 72 jam atau 3 hari harus dibawa ke dokter.
Fakta: demam lebih dr 3 hari yg dibawa ke dokter adalah yg tidak jelas gejala-gejala penyerta lainnya. Misalnya tidak ada batuk pilek, anak cenderung lemah terus menerus. Makanya orangtua harus mempelajari prinsip prinsip penyakit langganan anak.

5. Mitos: pemberian obat penurun panas dapat mencegah kejang demam. Makanya bila suhu di atas 38 harus segera memberikan penurun panas.
Fakta: sayangnya tidak. Pemberian obat penurun panas tidak dapat mencegah kejang demam pd mereka yg "berbakat" mengalaminya. Bahkan terlalu mudah memberi penurun panas pd anak demam yg tidak rewel berarti mengurangi kesempatan tubuh utk memerangi sendiri penyakitnya. Sakit justri berpotensi menjadi lebih lama.
Pemberian obat penurun panas hanya bila anak rewel saja, ketika demam.

Masih ada mitos lain seputar demam?

Monday, March 24, 2014

Apakah Batuk Pilek Perlu Diobati?

"Dok, anak saya batuk grok-grok dan napasnya susah. Saya minta anak saya "diuap"."
"Dok, minta obat untuk batuk dan obat untuk pilek ya. Anak saya sudah seminggu sakit, tapi belum minum obat."
"Dok, saya minta puyer racikan ya. Sudah berobat ke Puskesmas dan diberi obat sirup, tapi belum sembuh."

Pernyataan-pernyataan yang kurang lebih bernada di atas beberapa kali disampaikan kepadaku, langsung oleh orangtua. Dalam hati aku merasa geli, karena mereka sudah menentukan sendiri terapi untuk anak-anaknya. Dokter diminta dapat memenuhi keinginan mereka.

Lalu apa diagnosisnya? Selesma atau common cold. Apa lagi? Pertanyaan berikutnya adalah:
- Perlukah terapi inhalasi atau uap untuk mengatasi selesma? Apalagi jika si anak masih berusia di bawah 1 tahun. Batuknya grok-grok, banyak dahak, dan sukar dikeluarkan. Tidurnya pun terganggu, terutama di malam hari.
- Perlukah pemberian obat batuk pilek untuk mengurangi atau meredakan gejala-gejala seperti sudah disebutkan?

Sebuah artikel yang cukup informatif dari American Academy of Family Physician (AAFP) menjelaskannya di: www.aafp.org/afp/2012/0715/p153.html

Data di Amerika menyatakan obat-obatan pereda gejala batuk-pilek berada di dalam daftar 20 obat tersering yg menyebabkan kematian pd anak balita. Pada tahun 2008, Badan Pengawas Obat dan Makanan di AS (FDA) menyatakan obat-obatan jenis ini yg dijual bebas (OTC) dihindari penggunaannya pada anak berusia di bawah 2 tahun. Para produsen farmasi mengikutinya. Hasilnya adalah: angka kunjungan ke IGD akibat efek samping obat-obatan jenis ini berkurang. Para produsen lalu melabel ulang OTC untuk obat batuk pilek anak tidak boleh digunakan untuk anak berusia di bawah 2 tahun.

Bagaimana dengan Indonesia? Belum ada upaya ke sini sepertinya.

Tetapi terlepas dari potensi efek samping obat batuk pilek utk anak, sebenarnya adakah manfaat obat obatan ini dalam membantu penyembuhan common cold?


1. Antihistamin, ditujukan untuk meredakan bersin-bersin dan ingus meler. Antihistamin lazimnya diberikan untuk menghambat reseptor histamin yang berperan dalam reaksi alergi (gejala alergi memang bisa berupa bersin dan hidung meler, tetapi common cold disebabkan oleh infeksi virus, bukan reaksi alergi). Contohnya adalah: klorfeniramin (CTM), difenhidramin, dan hidroksizin. Satu penelitian yang dimuat di jurnal bergengsi Pediatrics tahun 2004 menyimpulkan difenhidramin tidak lebih baik dibandingkan dengan plasebo (pembanding, digunakan dalam penelitian dan tidak memiliki khasiat apapun) dalam mengurangi batuk di malam hari dan gangguan tidur (akibat common cold) pada anak.
Dua review (ikhtisar berbagai penelitian) dari Cochrane juga menyimpulkan antihistamin tidak lebih baik dibandingkan dengan plasebo dalam mengatasi batuk.
Perlu diketahui, Cochrane Database adalah meta-analisis yang menempati tingkat kesahihan tertinggi di dalam penelitian kedokteran.
Lebih lanjut, kita mengetahui CTM mempunyai efek samping mengantuk, yang dapat merancukan kondisi anak: apakah anak mengantuk karena obat atau karena adanya penyakit yang membuat penurunan kesadaran? Antihistamin juga berefek samping mengurangi produksi lendir (sehingga menjadi lebih kental?) dan membuat mulut kering, yang tentunya menjadikan anak makin tidak nyaman.
Kesimpulannya: antihistamin tidak efektif dalam meredakan gejala common cold.

2. Antitusif, ditujukan untuk menekan refleks batuk, sehingga anak berkurang batuknya. Contohnya adalah dekstrometorfan (DMP). Satu penelitian, masih dari jurnal yang sama, menyimpulkan DMP tidak lebih baik dibandingkan plasebo dalam mengurangi gejala batuk di malam hari yang mengganggu tidur pada anak.
Batuk pada dasarnya adalah upaya tubuh untuk membuang lendir dari saluran napas. Lendir berisi antara lain virus yang justru memang berusaha dibuang ke luar tubuh. Artinya, batuk bertujuan baik, karena merupakan mekanisme pertahanan tubuh. Logikanya, upaya untuk menekan batuk justru berpotensi membahayakan tubuh, karena menghalangi dahak untuk dibuang keluar. Meskipun demikian, toh penelitian menunjukkan DMP tidak berkhasiat dalam mengurangi gejala common cold. Obat ini juga mempunyai efek samping mengantuk dan limbung.

3. Dekongestan, ditujukan untuk melegakan hidung tersumbat. Contohnya adalah: pseudoefedrin, fenilpropanolamin (PPA), dan fenilefrin. Sayangnya dekongestan mempunyai efek samping penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi) yang bisa mengakibatkan peningkatan tekanan darah, dan dampak lain seperti sakit kepala, jantung berdebar-debar, dan gangguan irama jantung. Jurnal Pediatrics in Review di tahun 2011 menyatakan tidak ada bukti yang menyokong efektivitas dekongestan dalam meredakan gejala common cold. Bahkan pernah dilaporkan adanya kematian akibat penggunaan obat jenis ini.

4. Ekspektoran, ditujukan untuk mengencerkan dahak, misalnya: guaifenesin. Pada orang dewasa, penelitian yang ada menunjukkan kegagalannya dalam mengurangi gejala batuk. Penelitian yang menunjukkan efektivitasnya pada anak belum ada.

Lalu apa obat-obatan yang bisa digunakan untuk meredakan gejala batuk-pilek pada anak?


Apa obat yang bisa diberikan untuk mengatasi gejala batuk-pilek pada anak?
Berbagai penelitian telah dilakukan dengan rangkuman sebagai berikut:

- Jurnal AAFP yang pernah saya sebutkan di tulisan pertama membagi beberapa obat yang dikategorikan "mungkin efektif" dalam mengatasi common cold pada anak. Apa artinya? Semua jenis terapi ini tidak secara tegas dinyatakan "pasti" efektif. Apa saja macamnya?

- Produk yang dikategorikan suplemen dan alternatif, misalnya:
-- balsam "vapor rub": dapat mengurangi batuk malam hari, tetapi baunya mungkin tidak disukai anak dan ada risiko alergi kulit pada anak-anak tertentu;
-- zinc sulfate: dapat mengurangi lamanya sakit bila diminum dalam 24 jam pertama sakit, tetapi penelitian lain tidak menunjukkan manfaatnya, sehingga sampai sekarang tidak direkomendasikan;
-- madu: beberapa penelitian menunjukkan khasiatnya dalam meredakan batuk, meskipun Cochrane menunjukkan belum cukup bukti untuk mendukung/menolak penggunaannya dalam common cold. Madu hanya boleh digunakan pada anak berusia dia atas 1 tahun, karena risiko botulisnismus pada bayi;
-- Echinacea: Cochrane menyatakan belum cukup data untuk menyatakan efektivitasnya.

- Irigasi nasal atau semprot hidung dengan NaCl. Penggunaannya dapat mengurangi keluhan hidung tersumbat karena ingus kental dan mencairkan ingus. Pada praktiknya anak-anak tidak suka disemprot hidungnya dan orangtua sulit melakukannya.

- Obat asetilsistein disimpulkan dapat mengurangi batuk setelah enam sampai tujuh hari penggunaan pada anak di atas 2 tahun, tetapi mempunyai efek samping tersering muntah.

- Obat kortikosteroid hirup: mungkin membantu pada batuk yang disertai mengi, tetapi pada dosis tinggi.

Sumber lain menyebutkan obat hirup seperti ipratoprium bromida untuk mengurangi produksi ingus, tetapi terbatas pada anak di atas 5 tahun dan berefek samping mimisan, hidung kering, dan sakit kepala.

Ada beberapa cara penanganan common cold yang dianggap cukup berperan dalam meredakan gejala dan dapat digunakan, seperti:

- Pemberian obat pereda demam/nyeri seperti parasetamol dan ibuprofen. Obat-obatan ini diberikan untuk membuat anak demam dan rewel menjadi lebih nyaman, tetapi dengan dosis yang tidak melebihi seharusnya. Ibuprofen lebih berisiko mengiritasi lambung dan membuat muntah. Silakan baca mengenai "fever phobia" akan penggunaan obat penurun panas.

- Melembabkan udara, misalnya dengan cara meletakkan air panas di kamar mandi dan membuat ruangannya beruap menyerupai sauna, sehingga melakukan "terapi uap" alami. Meskipun demikian, cara ini juga berisiko menyebabkan cedera anak terkena air panas.

- Minum, minum, dan minum. Banyak minum adalah cara terbaik yang dapat dilakukan untuk membantu meredakan batuk pilek, karena membuat dahak menjadi lebih encer dan memudahkan anak menelannya (anak kan belum bisa buang dahak sendiri) dan mencegah kekurangan cairan akibat demam.

Pada akhirnya cara terbaik adalah melakukan upaya pencegahan, misalnya dengan memakai masker pada orang dewasa yang sedang batuk-pilek, dan sering-sering mencuci tangan setelah memegang anak sakit atau sesudah bersin/buang ingus, untuk menghindari penyebaran virus dari satu anak ke anak lain. Anyway, however, common cold adalah infeksi virus yang akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu.


Mayoritas orangtua beralasan anaknya sulit tidur bahkan sesak karena batuknya grok-grok. Mereka menginginkan anaknya "diuap" untuk mengencerkan lendirnya sehingga sesaknya berkurang. Benarkah demikian.

Saya kesulitan mencari referensi yg menunjukkan manfaat terapi inhalasi pada common cold. Bahkan mencari penggunaan terapi inhalasi yg biasa dilakukan di sini saja sulit di jurnal dan kepustakaan berbahasa Inggris. Mengapa demikian? Karena terapi inhalasi dengan nebulizer memang tidak masuk dalam standar penatalaksanaan common cold. Inhalasi atau nebulisasi diberikan pada serangan asma, bukan batuk pilek akibat common cold. Kalapun ada untuk indikasi lain, yg saya dapatkan adalah pada bronkiolitis (dengan NaCl 3%--masih dlm penelitian, dan steroid pd kasus dg mengi--tapi bukan terapi standar) dan croup (inhalasi epinefrin/adrenalin, juga tidak rutin).

Kadang saya sampaikan ke orangtua: "Bu, kalaupun anaknya sekarang diuap dan terlihat enakan, sampai rumah juga kemungkinan batuk grok-grok lagi. Apakah kemudian anaknya harus dibawa untuk diinhalasi tiap kali grok-grok? Enggak juga kan?"

Lalu kenapa anak kadang terlihat lebih nyaman setelah diinhalasi? Pengamatan saya, kebanyakan anak yg diinhalasi menangis, sampai akhirnya muntah, dan menyertakan dahak di muntahannya. Mungkin mereka menjadi lebih nyaman karena dahaknya terbuang, dengan cara muntah! Jadi, buat saja anak menangis sampai muntah? Hehe.

Tenang saja, tubuh manusia dilengkapi dengan rambut-rambut halus yg mengalirkan dahak keluar tubuh, jadi tanpa dimuntahkan pun lendir akan keluar dari saluran napas.

So...sudah jelas ya, selama tidak ada sesak napas, common cold ya aman aman saja.


Anda bisa membaca lebih lanjut mengenai terapi common cold di tautan berikut:
http://www.aafp.org/afp/2012/0715/p153.pdf
http://www.cps.ca/documents/position/treating-cough-cold
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2776795/pdf/0551081.pdf
http://pedsinreview.aappublications.org/content/32/2/47.full.pdf+html

Thursday, February 27, 2014

Memahami Campak dan Dampaknya

Setelah beberapa bulan tidak menjumpai kasus campak, kemarin saya mendapatinya lagi. Seorang anak berusia 15 bulan yang memeluk ibunya erat. Ia tampak lemah, dengan ruam merah di sekujur tubuhnya. Anak ini memang belum diimunisasi campak saat berusia 9 bulan, bukan karena menolak, tapi ibunya beralasan si ayah mengalami stroke sehingga ia sibuk mengurus ayah dan kurang memperhatikan imunisasi anaknya.

Namun bagaimanapun juga, tidak sepatutnya virus campak menjangkiti anak ini. Apabila cakupan imunisasi campak sudah tinggi, herd immunity yg terbentuk seharusnya melindungi anak-anak yang belum diimunisasi.

Banyak orangtua juga menganggap campak sebagai penyakit ringan. Mereka mengira semua anak akan terkena campak dengan sendirinya. Ketika seorang anak mengalami demam yang berakhir dengan ruam di seluruh badan, orangtua menyimpulkan ini adalah campak. Penyakit ringan. Toh anaknya justru makin aktif setelah ruam muncul dan demam reda. Mereka salah. Ini bukan campak. Kemungkinan ini roseola (eksantema subitum) yang merupakan penyakit ringan dan tanpa komplikasi. Virusnya berbeda dengan campak. Sebagian orang menyebutnya dengan "tampek". Atau mungkin anak-anak ini mengalani rubella, yang jarang menimbulkan komplikasi pada anak.

Ketahuilah bahwa campak penyakit berat. Campak sering menimbulkan komplikasi pneumonia dan ensefalitis, yang berakhir dengan kematian. Kadang-kadang sebagian penderitanya juga mengalami ketulian dan kebutaan (akibat keratitis) sebagai "oleh-olehnya". Dan pada kondisi yang sangat jarang, campak menimbulkan subacute sclerosing panencephalitis atau SSPE. Simaklah kisah di sini:http://www.vaccinestoday.eu/vaccines/how-measles-can-change-a-life/ Orangtua ini mengisahkan anaknya yang mengalami SSPE, lebih dari 10 tahun setelah sang anak terkena campak di usia yang sangat muda: 6 bulan, ketika belum masuk usia untuk diimunisasi campak. Selama bertahun-tahun anak ini hidup sehat dan normal, tiba-tiba di suatu saat ia mengalami kejang berulang dan kini hidup dalam kondisi vegetatif: seperti tumbuhan.

Orangtua harus mempelajari gejala-gejala campak. Bagaimanapun juga, program imunisasi campak yang dilakukan sejak tahun 1982 telah berhasil menurunkan kasus campak, sehingga campak sudah jarang ditemui. Riskesdas 2013 menunjukkan cakupan imunisasi campak sebesar 82,1%. Angka yang harus dinaikkan hingga melebihi 90%. Data WHO di bulan November 2013 mencatat lebih dari 6.300 kasus campak sepanjang 2013. Angka yang masih sangat tinggi di Indonesia.

Maka jangan makin bebani penderitaan masyarakat dengan menolak imunisasi dan mengampanyekan penolakannya. Jangan mengajak-ajak orang lain untuk tidak mengimunisasi anaknya. Jangan menjadi beban, jadilah pemecah masalah. Tidak mengimunisasi anak bukan saja merugikan diri sendiri, tetapi juga membahayakan orang-orang di sekitarnya.

Tentang penyakit tangan-kaki-mulut dan cacar air

Beberapa pekan terakhir saya hampir selalu menjumpai kasus Hand Foot Mouth Disease (HFMD) dan cacar air (varisela) tiap minggunya. HFMD yg sering disebut orang flu Singapur ini disebabkan oleh virus, sama halnya dengan varisela, yg sebenarnya akan sembuh dengan sendirinya seiring waktu. Hanya saja HFMD kadang dikesankan "menakutkan", sehingga orangtua menjadi panik dan khawatir anaknya harus dirawat.

HFMD memang dilaporkan mempunyai risiko komplikasi ensefalitis (radang otak), meskipun sangat jarang, dan saya belum pernah menemuinya. HFMD biasanya jadi masalah bila "bintil-bintil" kulitnya menyebar hingga ke dalam mulut menjadikan sariawan dan anak susah makan. Jarang sekali anak menjadi dehidrasi meskipun sudah mengalaminya, sehingga tidak perlu dirawat juga. Yang penting pastikan anak sering minum atau makan makanan yang mudah ditelan, walaupun sedikit-sedikit.

Masalah lainnya bila anak sampai gatal dan cenderung menggaruk bagian-bagian yang dipenuhi bintil. Mandi air dingin atau mengalihkan anak dengan kegiatan bermain bisa mengurangi keluhan ini.

HFMD jg sangat menular. Apabila dalam satu keluarga mempunyai beberapa anak berusia di bawah 9 tahun, satu anak sakit sangat mungkin akan diikuti oleh saudara kandungnya. Begitu juga bila anak-anak ini tetap bersekolah: menularkan ke kawan-kawannya. Bagaimanapun juga, HFMD adalah penyakit ringan akibat infeksi virus yang sembuh dengan sendirinya tanpa obat.

Bagaimana dengan varisela? Beberapa anak yg mengalami cacar air di sekujur tubuhnya ternyata pernah diimunisasi, bahkan hingga 2 kali. Perlu diketahui bahwa tidak ada vaksin yang 100% efektif, termasuk varisela. Efektivitas 1x imunisasi varisela adalah 86% dan 2x adalah 98,3%. Tetap saja vaksin varisela mempunyai efektivitas yang tinggi, artinya mayoritas anak yang sudah diimunisasi tidak sakit sama sekali. Saya yakin banyak orangtua yang bisa menceritakan keberhasilan imunisasinya, yaitu ketika teman-teman si anak banyak yang sakit cacar air, anak yang sudah diimunisasi tidak sakit.

Kemungkinan lainnya adalah munculnya "breakthrough varicella", yaitu anak yang sudah diimunisasi tetap sakit cacar air, tetapi "lenting-lenting"-nya sangat sedikit, tidak mencapai 50 lenting. Anak-anak ini sakitnya lebih ringan, tetapi masih bisa menularkan kepada orang lainnya yang belum punya kekebalan tubuh (karena belum pernah sakit atau belum diimunisasi).

Faktor terakhir adalah cakupan imunisasi yang harus tinggi untuk menciptakan "herd immunity" atau kekebalan lingkungan. Apabila jumlah anak yang sudah diimunisasi melebihi yang tidak diimunisasi, anak-anak yang belum diimunisasi ini akan terlindungi oleh kawan-kawannya.

Varisela memang penyakit ringan untuk anak, karena komplikasinya sangat jarang. Antivirus seperti asiklovir pun jarang dibutuhkan. Tetapi bila anak yang sakit cacar air menularkan kepada orang dewasa yang belum pernah sakit, maka orang dewasa ini lebih berisiko mengalami komplikasi seperti pneumonia (radang paru-paru) dan ensefalitis. Vaksin varisela sangat membantu dalam hal ini.

Friday, December 20, 2013

Selintas Kisah Bakteri dan Virus

Bakteri menghuni tubuh kita sejak beberapa saat kita terlahir ke dunia. Bayi yg lahir secara spontan (persalinan normal), melewati vagina sang ibu yang pastinya penuh dengan bakteri. Bayi yg dilahirkan dengan operasi sesar pun, ketika didekapkan ke dada ibunya atau dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD), segera "berkenalan" dengan bakteri-bakteri baik penghuni kulit ibu, dan terjadilah perpindahan ke tubuh bayi.

Bayi yg awalnya berada di dalam lingkungan steril di dalam rahim ibu, segera pindah ke dunia yg penuh dengan kuman tak terhingga.

Pastilah ini diciptakan Sang Pencipta dengan maksud.

Pada saat bayi berusia 7 hari, milyaran bakteri menjadi penghuni tetap hidung, mulut, kulit, dan ususnya. Apakah kemudian bayi menjadi sakit karenanya?

Kini diketahui bahwa tubub manusia adalah HUMAN MICROBIOME. Apa maksudnya? Ada kurang lebih 10 trilyun sel yg menyusun tubuh manusia, tetapi ada 100 trilyun bakteri yang menghuni tubuh kita! Tubuh manusia lebih merupakan kumpulan bakteri dibandingkan kumpulan sel. Lalu apakah kita menjadi sakit setiap waktu? Tentu saja tidak.

Lalu apakah penggunaan antibiotik berlebihan dan tidak pada tempatnya (digunakan utk infeksi virus) tidak berpotensi membunuh bakteri baik penghuni tubuh kita? Keseimbangan pun akan terganggu dan prinsip survival of the fittest akan membuat bakteri baik bertanya: mengapa kami dimusnahkan?
Lebih jauh lagi, SUPERBUG alias bakteri resisten antibiotik juga ikut tercipta. Masa depan umat manusia ikut terancam...


Sekarang..mari kita bicara tentang virus. Sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa virus bukanlah makhluk hidup. Virus "hanyalah" rangkaian materi genetik DNA/RNA yg dibungkus dengan protein dan polisakarida, yang HANYA bisa hidup di dalam makhluk hidup lainnya.

Jumlah virus di muka bumi amat sangat tak terhingga banyaknya. Virus ada di mana-mana. Tanpa disadari, setiap saat manusia menghirup dan menelan milyaran virus. Tapi apakah manusia menjadi sakit setiap waktu? Lagi-lagi tidak.

Virus menginfeksi tidak hanya manusia, tapi seluruh makhluk hidup di bumi. Bakteri pun diinfeksi oleh virus (virus yg menginfeksi bakteri dinamakan bakteriofag). Jumlah bakteriofag yg ada di lautan (saja), diperkirakan sebanyak 10 pangkat 30 (hitung sendiri ya..). Bila direntangkan rangkaian kepala sampai ekor bakteriofag ini, panjangnya (kalau tidak salah) sekitar 200 tahun cahaya. Ya, tak terbayangkan, jika kita masih ingat seberapa cepatnya kecepatan cahaya. Silakan buka www.virology.ws bila ingin mempelajari betapa luar biasanya virus. Profesor Vincent Racaniello dkk dari Columbia University menjelaskannya dengan mudah.

Kita sudah mengetahui bahwa mayoritas bakteri yang tinggal bersama kita tidak membahayakan, bahkan menguntungkan. Bakteri penghuni usus besar misalnya, membantu pencernaan kita setiap waktu dan berperan dalam pembentukan vitamin K.

Virus diketahui sebagai penyebab tersering penyakit infeksi pada manusia, termasuk anak. Jauh lebih sering dibandingkan dengan infeksi bakteri. Anak-anak adalah kelompok yg sangat sering sakit akibat infeksi virus. Sebagai contoh, dalam setahun seorang anak dapat mengalami 10-12 kali episode selesma (common cold). Apa artinya? Sebulan sekali! Apakah tiap bulan anak kena batuk pilek harus diberikan obat? Apakah tiap bulan kena batuk pilek anak harus dibawa ke dokter? Tentunya tidak. Sebutlah nama-nama seperti respiratory syncytial virus, influenza virus, parainfluenza virus, rinovirus, dan adenovirus sebagai penyebab tersering infeksi saluran napas pada anak. Total ada sekitar 200 strain virus yg bisa membuat common cold.

Inilah kabar buruk dan kabar baik tentang virus. Kabar buruknya adalah: biasanya hampir tidak ada obat yg dapat menyembuhkan infeksi virus lebih cepat. Kabar baiknya: sebagian besar infeksi virus biasanya sembuh sendiri tanpa obat-obatan.

Antibiotik tidak dapat membunuh virus, sehingga pastinya tidak membantu sama sekali membuat anak dengan infeksi virus sembuh lebih cepat.


Saya ingin bercerita sedikit pengalaman bertemu seorang ibu kemarin. Ia membawa anaknya yg berusia 16 bulan dengan riwayat 2x kejang demam, dan mendatangi saya untuk meminta pemeriksaan lengkap anaknya dan beberapa pertanyaan mengenai kejang demam.
Pertanyaan pertama saya adalah: "apa saja yang sudah Ibu baca mengenai kejang demam?" Anaknya sudah 2x mengalami kejang demam, dan...unfortunately..dirawat.
"Belum baca, Dok". Jujur, jawabannya mengejutkan saya. Saya sangat berharap ia sudah belajar tentang kejang demam dan siap mendiskusikannya dengan saya.
Tapi tidak apa-apa. Ini kesempatan bagi saya untuk menyampaikan beberapa poin penting tentang kejang demam dan memberikannya beberapa "PR" bacaan yang harus diselesaikannya di rumah. Semua ini demi kebaikan anaknya, menurut saya.

Buat Ibu yang ternyata membaca tulisan saya ini, mohon maaf bila saya share di sini untuk dijadikan bahan pelajaran. Mohon diijinkan.

Apa pelajaran yg bisa diambil? Ya...lagi-lagi orangtua adalah sosok terpenting pemegang kesehatan anaknya. Dokter hanya sesekali bertemu di ruang praktik, dan maaf, belum tentu dapat diandalkan (kan hanya bertemu saat itu saja). So..belajar terus ya. Sekarang saya tambah satu PR lagi: kuasai demam dan kejang demam.

Kita berlanjut.. Saya sampaikan beberapa kondisi yang seringkali tertukar: infeksi virus atau bakteri ya? Ini saya ambil dr buku Breaking the Antibiotic Habit-nya Paul Offit. Ia dokter anak dan profesor di bidang penyakit infeksi di AS, jadu jenis penyakitnya sebagian mungkin lebih cocok untuk konteks AS.

1. Virus yang menyebabkan produksi CAIRAN di telinga, disalahartikan dengan bakteri yg menyebabkan INFEKSI TELINGA (otitis media).

2. Virus yang menyebabkan NYERI TENGGOROKAN, disalahartikan dengan bakteri yg menyebabkan STREP THROAT.

3. Virus yang menyebakan ingus hijau/kuning kental dari hidung (COMMON COLD), disalahartikan dengan bakteri yg menyebabkan SINUSITIS.

4. Virus yg menyebabkan batuk yg terdengar "berat" (BRONKITIS), disalahartikan dengan bakteri yg menyebabkan PNEUMONIA.

Sekarang saya bahas dalam konteks Indonesia. Saya mohon maaf sebelumnya bila ada yg tidak berkenan. Ini berdasarkan pengamatan subjektif saya di lapangan.

1. Dokter belum tentu rutin melakukan pemeriksaan telinga anak dengan otoskop. Padahal ini adalah pemeriksaan rutin. Jadi bagaimana diagnosis infeksi telinga dibuat tanpa pemeriksaan menggunakan otoskop? Lebih-lebih yg langsung meresepkan antibiotik hanya berdasarkan keluhan subjektif seorang balita.
Hey, tolong ingatkan saya juga ya, bila saya lupa melakukan pemeriksaan telinga anak Anda.

2. Diagnosis "radang tenggorok" adalah salah satu yg tersering dibuat oleh dokter di sini, kemudian diresepkanlah antibiotik. Padahal radang tenggorokan bukanlah diagnosis medis. Antibiotik hanya diberikan pada strep throat, bukan radang tenggorok akibat virus.
Nambah lagi: PR baca ttg strep throat ya.

3. Kalau ingus sudah berubah warna dan menjadi kental, berarti karena infeksi bakteri dong? Antibiotik dong.. Hehe ini lagi-lagi adlh salah kaprah tersering. Sudah saya jelaskan di video saya di youtube ya. Diagnosis sinusitis pun hanya dibuat pada anak besar, jarang sekali pd balita.

4. Jujur, saya jarang buat diagnosis bronkitis (karena kekurangmampuan saya secara klinis untuk membuat diagnosis ini). Tapi toh karena virus yg akan sembuh sendiri kan.. Yg penting, PR lagi: belajar ttg pneumonia. Kapan anak dicurigai pneumonia sehingga dipikirkan antibiotik? Tentunya ada gejala sesak napas.
 

Demam dan Antibiotik

"Dok, anak saya demam sudah tiga hari. Ada batuk pilek. Tadi saya ke dokter dan diresepkan antibiotik. Belum saya tebus. Saya tanya ke dokter, kenapa anak saya dapat antibiotik? Setahu saya batuk-pilek karena infeksi virus. Dokternya menjawab: karena anak ibu demam, jd kemungkinan ini infeksi bakteri.
Apakah antibiotik harus saya tebus dan berikan ke anak saya?"
Pernah mendengar cerita serupa? Dokter mendiagnosis infeksi bakteri berdasarkan gejala demam. Atau biasanya bila demamnya tinggi, di atas 39 derajat selsius, maka dicurigai infeksi bakteri dan diresepkan antibiotik.
Benarkah demikian?

Mari kita bahas terlebih dulu mengenai demam..

Di dalam buku "Breaking the Antibiotic Habit" tulisan Paul Offit dkk, dituliskan data dari 100 anak yg pergi ke dokter karena demam, sekitar 60 akan diresepkan antibiotik. Sebenarnya hanya 10 yg terbukti terdiagnosis infeksi bakteri.

Demam diciptakan Alloh untuk memerangi infeksi (dalam hal adanya infeksi yg terjadi). Ketika kuman (virus/bakteri) masuk, sel-sel sistem imun kita menghasilkan protein bernama pirogen yang merangsang hipotalamus (termostat di otak kita) untuk menaikkan suhu tubuh dan terjadilah DEMAM. Mengapa wujudnya harus demam? Karena pada kondisi demam, sistem imun (pertahanan tubuh) kita bekerja lebih baik dalam melawan infeksi.

Sel darah putih kita yg bernama limfosit B menghasilkan protein bernama antibodi yang "mengikat" dan membunuh virus/bakteri. Limfosit T bekerja dengan mematikan sel-sel yang terinfeksi virus/bakteri, sebelum makin banyak sel yg dirusak oleh kuman. Ada sel-sel lain yg bekerja dg cara menangkap kuman, mencernanya, dan menyerahkannya ke sistem imun (antigen presenting cells). Semua tentara daya tahan tubuh ini bekerja LEBIH BAIK saat demam.

Apa artinya? DEMAM itu BAIK.

Kalau demam baik, mengapa badan kita tidak terus menerus demam saja?
Hehe, demam pastinya terasa tidak nyaman di badan. Demam juga menaikkan kerja jantung kita, meningkatkan pembuangan cairan tubuh, dan kebutuhan energi. Jadi tubuh hanya membuat demam saat dibutuhkan saja.

Lalu apakah demam boleh diobati? Diturunkan dg obat penurun panas?

Nanti anak mengalami kejang dong bila suhunya naik terus? Benarkah demikian?

 Kita tengok dua penelitian yg pernah dilakukan. Pertama di Johns Hopkins School of Medicine di Baltimore. Peneliti membagi dua kelompok anak yg sedang mengalami cacar air (varisela). Kelompok pertama rutin mendapatkan parasetamol 4 kali sehari selama 4 hari. Sedangkan kelompok kedua tidak diberikan obat penurun panas untuk mengatasi demamnya. Apa hasilnya? Ternyata anak-anak yg tidak mendapatkan parasetamol lebih cepat hilang lenting-lenting kulitnya, dibandingkan dengan yg diobati dengan parasetamol.

Penelitian kedua dilakukan di Universitas Adelaide di Australia. Peneliti menginfeksi 60 relawan dewasa sehat dengan rinovirus (penyebab common cold). 15 orang mendapat parasetamol, 15 orang ibuprofen, 15 orang aspirin, dan 15 sisanya tidak mendapat obat. Hasilnya seperti dugaan kita. Kelompok yg tidak diobati sembuh lebih cepat dibandingkan dengan yg diobati, dan membentuk antibodi lebih banyak dibandingkan dengan yg diobati.

Pemberian parasetamol, misalnya, juga bukan tanpa risiko. Banyak anak yg mengalami kerusakan hati akibat overdosis parasetamol atau kekurangpahamanborangtua terhadap dosis obat.

Masalah fever phobia ini demikian mendunianya. Jurnal Pediatrics di tahun 2011 menyimpulkan parasetamol atau obat penurun panas (antipiretik) lainnya diberikan bertujuan untuk membuat anak lebih nyaman ketika demam terus naik. Tidak perlu buru-buru memberikan antipiretik bila anak tidak rewel dan masih aktif.

Nanti kejang dong kalau suhunya naik terus?

Satu, kejang demam hanya terjadi pada 3 dari 100 anak yg mengalami demam. Dua, kejang demam tidak menjadi epilepsi atau menimbulkan kerusakan otak. Tiga, pemberian antipiretik terbukti tidak mencegah kejang demam. Empat, makin tinggi suhu tidak menandakan makin berat penyakit. Lima, hipotalamus kan punya setting suhu sendiri. Pada suhu tertentu, bila "mentok", maka tubuh akan menurunkan sendiri suhunya.

Apakah suhu yg lebih tinggi menandakan penyebabnya adalah bakteri?
Penelitian di Harvard Medical School di akhir 1980-an menunjukkan suhu yg lebih tinggi tidak membedakan penyebabnya virus atau bakteri. Bahkan kadang-kadang infeksi virus bisa menghasilkan suhu lebih tinggi dibandingkan bakteri.

Saturday, December 14, 2013

Mana yang lebih efektif: DPT atau DPaT?

Banyak orangtua khawatir anaknya mengalami demam pasca imunisasi DPT, sehingga mereka lebih memilih DPaT/DaPT/DTaP sebagai vaksin yang "tidak panas". Benarkah demikian? Vaccine information statement dari CDC menyatakan risiko demam pada anak yang mendapatkan vaksin DPaT dapat mencapai 1 dari 4 anak. (sumber: http://www.cdc.gov/vaccines/hcp/vis/vis-statements/dtap.html). Artinya: sebenarnya tidak ada vaksin yang bebas demam 100%.

Lebih lanjut lagi, wabah pertusis yang terjadi di negara lain, Amerika Serikat khususnya, membuat peneliti kembali mengevaluasi efektivitas vaksin DPaT. Perlu diketahui, AS dan banyak negara lain di Eropa dan Australia sudah tidak menggunakan DPT (baca: whole cell pertussis vaccine--menggunakan bakteri pertusis utuh) lagi, tetapi menggunakan DPaT (baca: acellular pertussis vaccine--hanya menggunakan sekitar 3 komponen dari bakteri pertusis). Di AS sendiri, penggantian ini sudah dilakukan sejak tahun 1992, sedangkan di negara kita Indonesia, Bio Farma masih memproduksi DPT (kombinasi dengan Hepatitis B dan Hib) dan tersedia juga alternatif vaksin impor DPaT (tunggal, dan kombinasi dengan Hib, atau Hib-IPV).

Inilah beberapa kesimpulan yang mungkin bisa membantu orangtua membuat keputusan: vaksin mana yang akan digunakan?

- Vaksin DPT (whole cell) lebih melindungi seseorang dari kemungkinan terkena pertusis dibandingkan dengan DPaT (acellular). Fakta ini dibuktikan dari penelitian terbentuknya antibodi terhadap pertusis (pada penderita) menggunakan alat PCR, seperti diungkapkan di jurnal Pediatrics tahun ini (sumber: http://pediatrics.aappublications.org/content/early/2013/05/15/peds.2012-3836.full.pdf). Keunggulan vaksin DPT ini juga disimpulkan di jurnal Clinical infectious Disease tahun ini (sumber: http://cid.oxfordjournals.org/content/early/2013/03/05/cid.cit046.abstract).

- Durasi (jangka/lamanya) proteksi vaksin DPaT lebih singkat dibandingkan DPT dalam mencegah sakit pertusis. Interval waktu dari kapan terakhir mendapatkan imunisasi DPaT juga memengaruhi risiko seorang remaja/dewasa terkena pertusis di kemudian hari. (sumber: http://jama.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=1456072). Untuk itu, pemberian imunisasi booster jangan sampai terlewat. Sejauh ini rekomendasi imunisasi di Indonesia memberikan vaksin DPT/DPaT terakhir di usia 5-6 tahun. Mulai usia 7 tahun ke atas, dan jadwal imunisasi booster/ulangan di usia 10-12 tahun adalah imunisasi dT yang tidak mengandung pertusis. Di AS sendiri sudah menggunakan Tdap sebagai booster untuk usia tersebut/remaja/dewasa. Di Indonesia, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai insidens pertusis pada remaja dan dewasa.

- Bagaimanapun juga, vaksin DPaT tetap efektif melindungi bayi dan balita dari sakit pertusis. Cochrane yang dikenal sebagai sumber meta-analisis menyimpulkannya. (sumber: http://summaries.cochrane.org/CD001478/acellular-vaccines-for-preventing-whooping-cough-in-children).

- Lebih lanjut lagi, penelitian yang terakhir dipublikasikan menunjukkan vaksin pertusis aselular mampu mencegah sakit, tetapi tidak mencegah infeksi (tertular) dan penyebaran kuman Bordetella pertussis. Penelitian ini memang baru dilakukan pada hewan percobaan (sumber: http://www.medscape.com/viewarticle/815247).

Artikel lain yang juga bagus untuk dibaca ada di sini: http://www.medscape.com/viewarticle/777012_1

Nah, kini selaku orangtua, silakan memutuskan vaksin mana yang akan Anda gunakan: DPT atau DPaT. Semoga membantu dan bermanfaat.

Apin

Friday, December 13, 2013

Pandangan Mengenai Status Kehalalan Vaksin

Bismillah...
Karena banyak yg tampaknya bingung dg kabar keharaman vaksin, maka saya coba share pemahaman yg saya punya. Sebagai seorang tenaga kesehatan yg rutin mengimunisasi banyak anak, orangtua, dan anak-anak saya sendiri tentunya, saya kelak akan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan saya di Hari Akhir kelak, termasuk dlm hal mengimunisasi.
Untuk itu saya menggali banyak referensi dan menyimpulkannya:
1. Prinsipnya, hukum kehalalan vaksin berdasarkan 3 hal:
- Istihalah: yaitu sesuatu yg sudah berubah dr sifat aslinya. Yg awalnya haram, menjadi tidak haram. Misal: babi dg seluruh komponennya yg haram, ketika berubah menjadi gelatin yg digunakan sbg stabilizer dlm vaksin (atau cangkang kapsul) menjadi tidak haram, karena sudah berubah dr sifat aslinya. Mengenai hal ini pernah diadakan konferensi ulama internasional yg memutuskannya. Link-nya pernah saya share di grup Gesamun.
- Istihlak: yaitu sesuatu yg najis/haram, ketika tercampur dengan bahan lain yg suci (terlarut) dlm jumlah besar, maka menjadi tidak najis/haram lg. Misal: tripsin dari pankreas babi (porcine) yg digunakan dlm proses awal pembuatan vaksin, akan dibersihkan hingga tidak terdeteksi dlm produk akhir vaksin.
- Dhorurot (darurat): yaitu ketika "terdesak" dan tdk ada pilihan lain. Ini yg paling sering digunakan oleh Komisi Fatwa MUI kita. Dasarnya adlh Quran surat Al Baqoroh 173, Al An'aam 145, dan An Nahl 115.

2. Bagaimana praktiknya dlm vaksin? Bahan bersumber babi digunakan dlm 2 kondisi:
- Sbg tripsin yg digunakan dlm kultur sel (silakan baca ttg vaccine cell culture di google) awal. Tujuannya utk melepaskan virus yg sdh dibiakkan dr wadah "bulk", agar virus dpt digunakan dlm proses selanjutnya. Tripsin ini jg dapat menghasilkan "biakan" bakteri yg banyak, utk digunakan dlm proses selanjutnya.
Berikutnya tripsin harus dicuci sampai bersih, karena bila tdk dicuci, tripsin adlh enzim yg bersifat sbg kataliaator yg akhirnya jg dapat merusak vaksin.
Dlm produk akhir vaksin yg disuntikkan/diteteskan ke dlm tubuh manusia, kandungan tripsin babi ini sudah tidak ada. Prinsipnya istihlak.
Contoh vaksin virus yg menggunakan tripsin porcine: polio dan rotavirus.
Contoh vaksin bakteri: meningokokus. FYI, bakteri meningokokus yg digunakan dlm vaksin pun bukan bakteri utuh, tapi hanya "dinding" polisakaridanya saja.
- Porcine digunakan sbg stabilizer yg ADA dlm produk akhir vaksin yg masuk dlm tubuh manusia. Stabilizer digunakan utk menjaga kualitas dan keawetan vaksin, shg vaksin yg disuntikkan tetap baik dlm memicu respon antibodi.
Produk ini pun tidak dinyatakan haram dan boleh digunakan berdasar fatwa ulama. Prinsipnya istihalah.
Contoh vaksinnya adlh MMR dan varisela produksi Merck (banyak digunakan oleh saudara2 kita di US). Di Indonesia, vaksin MMR produksi Sanofi (Trimovax) dan varisela produksi Sanofi (Okavax) dan GSK (Varilrix), sejauh pengamatan saya tidak menggunakan porcine sbg stabilizer, terapi menggunakan bahan lain. Ini pernah saya bahas jg di grup Gesamun.

3. Dlm wawancara saya dg seorang anggota tim ahli LP POM MUI (doktor di bidang bioteknologi) yg pernah dikirim utk melihat proses pembuatan vaksin meningokokus, beliau mengutip jg bbrp ayat dalil hukum darurat di atas. Bila dilihat konteksnya: ayat tsb digunakan dlm konteks makanan yg dikonsumsi utk menyambung kelangsungan hidup. Vaksin tidak sama dlm hal ini. Vaksin disuntikkan/diteteskan utk memicu respon antibodi dlm jumlah yg sangat sangat sedikit (0,5-1 ml). Maka tidak sepatutnya vaksin dilabelisasi haram.

4. Dari berbagai informasi yg saya dapat dan cerna, saya menyimpulkan tidak semua narasumber dr MUI yg diwawancara media paham masalah ini. Yg terjadi malah meresahkan masyarakat. Padahal sudah banyak ulama berkaliber internasional yg mendukung program imunisasi. Sejawat dr. Raehanul Bahraen sudah membahasnya dlm blognya di www.muslimafiyah.com
Mungkin Komisi Fatwa MUI kita perlu belajar dr negara2 lain yg tidak menggunakan prinsip darurat dlm memberikan sertifikat halal. Tapi kalaupun tetap dg prinsip darurat, toh ini juga diakui dlm fikih Islam.

5. Terakhir, mengapa menggunakan porcine? Dari wawancara dg narasumber lain seorang vaksinolog senior, porcine digunakan karena menghasilkan "biakan" kuman yg baik kualitasnya. Tentunya tujuan akhir imunisasi adalah mengeradikasi (memusnahkan/menghilangkan) penyakit, sehingga butuh vaksin dg kualitas terbaik. Tapi saat ini ilmuwan jg berusaha mengembangkan vaksin yg tidak menggunakan porcine lg. Sementara ini, bila belum ada alternatif lain dan ingin berhukum dg prinsip darurat, maka dibenarkan.

Vaksin adlh produk biologis yg dikembangkan lewat proses ratusan tahun dan memakan biaya sangat besar dlm memproduksinya. Tidak mudah jika tiba-tiba orang-orang asal bicara: "ayo dong, cari penggantinya. Buat yg baru. Bla bla bla".
Sehingga kesimpulan akhir saya: semua vaksin yg ada saat ini halal utk digunakan. Bila ada alternatif lain yg tidak bersentuhan sama sekali dg porcine, maka silakan gunakan.

Islam adlh agama yg menghendaki kemaslahatan dan kebaikan bagi seluruh umat manusia. Imunisasi memberikan kemaslahatan ini. Maka saya yakin, Islam mendukungnya

Wallahu a'lam.Saya mohon maaf atas segala kesalahan. Yg benar datangnya dr Alloh, yg salah dr saya selaku hamba yg lemah dan bodoh.

-ditulis sepanjang Psr Rebo - Ciputat

Thursday, March 14, 2013

Cara Pemesanan Buku


Buku "Orangtua Cermat, Anak Sehat" dapat Anda pesan via online, dan kami akan mengirimkannya langsung ke alamat Anda.

Harga jual di toko buku: Rp. 60.000,-
Harga di sini: Rp.54.000,- per eksemplar (diskon 10%), belum termasuk ongkos kirim

Ongkos Kirim berlaku sebagai berikut :
Ongkos Kirim Jabodetabek Rp. 10.000,-
Ongkos Kirim Pulau Jawa diluar Jabodetabek Rp. 15.000,-
Ongkos Kirim Luar Pulau Jawa Rp. 25.000,-

Ongkos kirim bisa bertambah sesuai dengan banyaknya buku yang dipesan (hitungan berat per kilogram)

Cara pemesanan:
 (harap mengikuti tahap ini dengan lengkap supaya pesanan Anda dapat diproses)

1. Harap mentransfer ke Rekening dahulu:
BCA No. 1651.838.687 a.n. dr. Arifianto (jumlah pembelian buku dan ongkos kirim).

2. Mohon bukti transfer ke:
  • Email ke dokterapin@gmail.com disertai dengan data diri seperti hotline SMS
  • HOTLINE SMS ke 087887834523 dengan format:
    PO_orangtuacermat_[namapemesan]_[exmp]_ [norek]_[nama]_[alamat]_[kota]
Contoh SMS:
PO_orangtuacermat_Ratna_3_1230987456_RatnaSari_Jl.InpresNo.17A,KelurahanTengah,KramatJati_JakartaTimur
Keterangan:
[namapemesan] = nama pemesan
[exmp] = jumlah pesanan
[norek] = nomor rekening pemesan
[nama] = nama sesuai di rekening
[alamat] = alamat pengiriman
[kota] = kota




Setelah sms akan dikirim SMS balasan, seperti berikut “Terima kasih, pesanan Anda segera kami proses. Untuk informasi, SMS ke 087887834523.”

Sunday, December 09, 2012

Second Opinion: Jangan Segan Bertanya

Saat ini, lumrah saja jika Anda “bertanya” kepada situs kesehatan di internet ketika jatuh sakit. Demikian pula mengambil second opinion . Yuk, pahami lebih dalam supaya tak salah kaprah.

Hampir dua minggu Karina kewalahan mengurus Malik yang tak kunjung sembuh dari diare. Selain lemas, Malik susah makan dan malah muntah-muntah. Padahal ia sudah memeriksakan anak­nya ke dokter dan mematuhi semua anjurannya. Rekan kerja Karina menganjurkan ia mencari second opinion . Meski sempat takut dokter langganannya akan tersinggung, akhirnya ia menuruti nasihat temannya.

Kompetensi Sama
Apa yang dialami Karina mungkin pernah Anda alami. Menurut dr. Arifianto, Sp.A.,  dari Yayasan Orangtua Peduli  (YOP), adalah hak pasien atau konsumen kesehatan untuk mendapatkan pendapat dari dokter lain mengenai masalah kesehatan yang dialami Si Pasien tersebut.

“Bisa juga didefinisikan sebagai seorang pasien datang ke dokter A yang memiliki kompetensi di spesialiasi tertentu. Kemudian, karena satu dan lain hal, dia mengunjungi sendiri dokter B yang kompetensinya sama dengan dokter A,” papar dokter spesialis anak yang aktif “berkicau” di Twitter dengan akun @dokterapin ini.

Meski sedikit, second opinion  juga berlaku untuk kasus yang ditangani beberapa dokter spesialis dengan kompetensi berbeda. “Misalnya hernia pada bayi. Dokter A bilang harus operasi tapi dia tidak memberitahu kapan harus dikerjakan atau tidak merujuk,” ujarnya. Ketika pasien berinisiatif berkonsultasi ke dokter bedah, maka ia dianggap telah melakukan second opinion.

Jangan Takut
Meski termasuk hak, tak jarang pasien atau konsumen kesehatan segan atau takut meminta second opinion . Ternyata, fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia. Survei Harvard di tahun 2010 mengungkapkan sebanyak 70 persen orang Amerika Serikat merasa tidak memerlukan second opinion  atau bahkan mencari tahu penyakitnya.

“Sebenarnya tidak perlu merasa enggak enak karena ini sudah diatur undang-undang,” tegas Arifianto. Apalagi, menurut pria yang biasa dipanggil dokter Apin ini, jika kasus yang didiagnosis adalah penyakit berat seperti kanker yang mengharuskan kemoterapi atau lupus. “Sebaiknya jangan percaya dengan satu dokter. Apalagi penyakit berat itu memiliki konsekuensi menentukan sisa hidup yang ada atau akan melibatkan banyak orang lain untuk mengurus dia.”

Second opinion  juga bisa diambil jika Anda ragu dengan diagnosis dokter. “Atau, dokternya ragu-ragu menjelaskan penyakitnya apa. Kita boleh meminta second opinion  terlepas dari apa pun diagnosisnya.” Lalu, ketika diagnosis dan terapi tidak sesuai. “Bilangnya infeksi virus, tapi dikasih antibiotik. Anak kurus karena turunan tapi dikasih susu formula,” papar Arifianto.

Second opinion juga bisa dilakukan bila, “Penyakit membutuhkan pemeriksaan atau pengobatan yang memakan biaya mahal, dalam waktu singkat, dan kalau tidak kasus emergency (darurat). Baik obat maupun pemeriksaan,” tegasnya.

Terakhir, second opinion  bisa diminta jika pengobatan berlangsung dalam jangka panjang. “Misalnya TBC paru. Kan, belum tentu itu TBC paru, bisa saja batuk pilek biasa. Atau, sindrom nefrotik (ginjal bengkak) yang minum obatnya minimal dua bulan,” papar ayah dua anak ini. Walaupun diagnosis dokter jarang meleset, Arifianto menganjurkan second opinion . “Akan memengaruhi kalau dalam jangka waktu panjang.”
Yang jelas, saat melakukan second opinion , usahakan ke dokter yang memiliki kompetensi yang sama. “Jangan turun pangkat. Misalnya ke spesialis enggak yakin, malah ke dokter umum. Tidak disarankan juga second opinion  ke alternatif karena ilmu dokter tidak bisa dibandingkan dengan alternatif,” tegas Arifianto.

Resume Medis
Second opinion , lanjut Arifianto, berbeda dengan rujukan atau merujuk. “Dalam hal ini, justru dokter umum yang merujuk ke dokter spesialis atau dokter spesialis merujuk ke dokter sub spesialis.” Rujukan juga mengharuskan pernyataan tertulis dari dokter pertama kepada dokter kedua.

Contohnya kasus di mana dokter anak umum mendapatkan kasus jantung. “Jantung anak harus di-echo , saya rujuk ke spesialis jantung. Atau, kasus-kasus yang memang butuh pemeriksaan lanjutan seperti USG , CT-scan  atau butuh tindakan intervensif, pembedahan, katerisasi.”

Bagi Anda yang masih awam, Permenkes (Peraturan Menteri Kesehatan) dan Undang-Undang Kedokteran sudah mengatur penggunaan rekam medis. “Berkas rekam medis milik layanan kesehatan dan isinya milik pasien Tapi, rekam medis secara utuh tidak boleh dibawa dari rumah sakit atau tempat praktik pribadi,” papar Arifianto.

Berkas yang merupakan hak pasien atau konsumen kesehatan adalah resume medis. “Pasien boleh minta resume medis dan diberikan saat pulang dari perawatan. Tapi, kenyataannya enggak semua diberikan karena berasumsi pasien akan kontrol di tempat yang sama,” ucap Arifianto. Resume medis sendiri berisi ringkasan rekam medis. Nah, saat meminta resume medis, pastikan dokter atau rumah sakit sudah menandatangani.

Bertanya ke Internet
Fenomena lain yang tak kalah menarik berkaitan dengan second opinion  adalah googling your symptoms . “Ini namanya menjadikan internet sebagai first opinion dan dokter sebagai second opinion  dan ini adalah hal positif,” cetus Arifianto.

Menurutnya, berkat informasi yang bertebaran di dunia maya, hubungan dokter dan pasien sudah setara. “Pertama, dunia sepakat bahwa pasien diposisikan bukan sebagai objek tapi sebagai subjek. Kedua, sekarang pasien itu dianggap sebagai konsumen jadi dokter adalah pemberi jasa,” paparnya.
Ketiga, lanjut Arifianto, fenomena ini menuntut dokter untuk terbuka dan jujur dalam memberikan informasi apa adanya. “Bahkan termasuk bila dokter enggak update  sama ilmunya, dia harus mengakuinya, ‘Saya belum punya ilmunya, saya harus baca, atau mungkin kita bisa berbagi.’ Keempat, dokter mau enggak mau harus update  ilmu,” tegasnya.

Akan tetapi, Arifianto mengingatkan supaya pasien atau konsumen kesehatan memilah dan memilih sumber informasi yang kredibel. Jika keliru, ada dua kerugian. Pertama, underestimate  kondisi kesehatan. Misalnya, ada benjolan di payudara, setelah dicocokkan dengan situs kanker di internet diperkirakan jinak padahal ternyata ganas.

Sedangkan overestimate  bisa juga terjadi gara-gara mendapatkan informasi yang salah. Misalnya, berat badan anak tidak kunjung naik dan makannya susah. Si Ibu ketakutan anaknya TBC lalu dikasih obat padahal bukan TBC.

Diskusi dengan Dokter
Supaya tak terjebak di dua masalah tadi, “Solusinya, ketika dia tidak yakin, ya dia perlu ke dokter. Dokter akan menjelaskan apakah yang selama ini dipahami dari internet benar atau tidak?” jelas Arifianto. Untuk kasus tertentu, pasien atau konsumen kesehatan disarankan terlebih dulu membaca, mengumpulkan, dan mencerna informasi sesuai yang ia mampu.

“Ketika dia pergi ke dokter, dia boleh menceritakan hasil penelusurannya dengan bahasanya sendiri. Kalau perlu dia bawa print out -nya, bahan-bahannya, jadi pasien ke dokter enggak blank .” Atau, pasien hanya menjawab “Ya” dan “Tidak” saat dokter bertanya keluhannya. “Tapi sebaliknya, dua arah. ‘Dok, saya baca gini.’ Fenomena ini adalah salah satu upaya membuat penyetaraan kedudukan antara dokter dan pasien,” papar Arifianto.

Jadi, bolehkah pasien bertanya? “Boleh, itu hak pasien. Cuma supaya konsultasi kesehatan berjalan efektif, ke dokter bukan cuma nunjukin print out  artikel tapi kita udah mengolahnya menjadi sekian pertanyaan yang kira-kira kalau ditanyakan tidak memakan waktu lebih dari lima belas menit,” urainya. Dalam waktu lima belas menit, menurut Arifianto, seorang dokter biasanya sudah bisa mencapai kesimpulan penyakit apa yang diderita hingga terapi, termasuk menjelaskan cara minum obat dan efek samping.
Astrid Isnawati

dimuat di Tabloid Nova edisi 5-11 November 2012
http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Umum/Second-Opinion-Jangan-Segan-Bertanya 

Apakah Vaksin tak Berlabel Halal Sama dengan Haram?

 (tulisan ini pernah dimuat di Republika Online 30 Juli 2018) "Saya dan istri sudah sepakat sejak awal untuk tidak melakukan imunisasi...